Anda di halaman 1dari 102

PENUNTUN PRAKTIKUM

KIMIA FARMASI KUALITATIF


D3 Analis Farmasi Dan Makanan

DISUSUN OLEH:
YADE METRI PERMATA, S.Farm., M.Si., Apt.
Dra. TUTY ROIDA PARDEDE, M.Si., Apt.
Prof.Dr. MASFRIA, MS., Apt.
Prof.Dr. MUCHLISYAM, M.Si., Apt.

LABORATORIUM KIMIA FARMASI KUALITATIF


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2019
KATA PENGANTAR

Buku ini disusun untuk melengkapi pengetahuan tentang identifikasi berbagai bahan
obat dengan cepat secara reaksi kimia sesuai dengan pengalaman kami di laboratorium Kimia
Farmasi Kualitatif. Buku ini dapat dijadikan pegangan bagi mahasiswa sebagai bahan ajar
dalam kimia analisis kualitatif. Hal ini dilakukan atas kesadaran bahwa identifikasi kimia
obat-obatan secara konvensional masih dibutuhkan, walaupun dengan kemajuan tingkat
teknologi identifikasi kualitatif yang modern, tetapi terbatas terutama untuk mengidentifikasi
bahan-bahan yang tidak diketahui. Karena jika menggunakan teknologi identifikasi dengan
alat yang modern dan canggih membutuhkan biaya yang besar dan waktu yang lama. Hal ini
kami alami ketika menerima beberapa permintaan untuk mengidentifikasi beberapa bahan
yang tidak diketahui, tetapi identifikasi dengan menggunakan beberapa reaksi kimia dan
dalam waktu yang singkat telah dapat diketahui kandungan bahan tersebut.
Kami menyadari bahwa buku ini masih jauh dari sempurna dan akan berkembang
dengan perkembangan obat baru. Kami mengharapkan saran dan kritik pembaca dalam
kesempurnaan bahan ajar ini. Semoga buku ajar ini bermanfaat bagi kita semua. Terima
kasih.

Medan, September 2019


Penulis

dilarang mengcopy atau memperbanyak isi


buku ini tanpa izin tertulis dari penyusun.

2
DAFTAR ISI

ANALISIS GUGUS FUNGSI


ANALISIS INFRA MERAH
ANALISIS SENYAWA GOLONGAN ALKOHOL
ANALISIS SENYAWA GOLONGAN FENOL
ANALISIS SENYAWA GOLONGAN ASAM KARBOKSILAT
ANALISIS ALKALOIDA DAN SENYAWA NITROGEN
ANALISIS SULFONAMIDA
ANALISIS BARBITURAT
ANALISIS ANTIHISTAMIN
ANALISIS VITAMIN
ANALISIS ANTIBIOTIKA
DAFTAR PUSTAKA

3
ANALISIS GUGUS FUNGSI

Gugus fungsionil adalah gugus yang terdapat dalam suatu senyawa organic yang
berperan pada analisa senyawa tersebut.
Yang termasuk gugus fungsionil antara lain:

Gugus Fungsi Rumus


1. Ikatan tidak jenuh
C C

(Alkena)
2. Gugus Alkohol OH

R CH2
(R: rantai C alifatis, siklis, aromatis)
3. Hydrokarbon Aromatis

4. Inti Piridin

5. Gugus Fenol Ar OH
(Ar : rantai C aromatis)
O O O O
6. Gugus Enol
H2 H2
C C C C C C

7. Gugus Karbonil O O

R CH R C R
(Aldehid) (Keton)
8. Gugus metoksi - O – CH3
9. Etoksi - O – C2H5
10. Gugus Asam Karboksilat O

R C OH
(R: rantai C alifatis, aromatis, siklis)
11. Gugus amina R – NH2
(R: rantai C alifatis, siklis, atau aromatis)
12. Gugus Nitro R – NO2
(R: rantai C alifatis, siklis, atau aromatis)
13. Gugus Sulfon R – SO2
(R: rantai C alifatis, siklis, atau aromatis)
14. Gugus Sulfonat R–SO2–OH
(R: rantai C alifatis, siklis, atau aromatis)

4
15. Gugus Guanidin NH2

HN C NH2
16. Gugus Asam α Amino: H
R C C H

NH2 O

1.1 Ikatan Tidak Jenuh


Reaksi pengenal:
1. Reaksi addisi terhadap Aqua Brom
0,1 g sampel padat atau 0,2 ml sampel cair ditambahkan larutan Brom 5% dalam CHCl 3
setetes demi setetes sambil dikocok. Warna Brom hilang dan larutan tidak terbentuk HBr.
-C=C– + Br2 → - HCBr - BrCH –
Adanya gugus yang bermuatan negatif yang terikat pada atom C tidak jenuh dapat memperlambat atau
menghalangi terjadinya reaksi, misalnya pada reaksi:
C6H5CH=CHCOOH + Br2 → C6H5CHBr - BrHCCOOH (lambat)
Pada beberapa senyawa (phenol, amin primer aromatis) penghilangan warna Brom dapat terjadi karena
reaksi substitusi; Senyawa-senyawa reduktor juga dapat menghilangkan warna Brom (terbentuk HBr).
2. Reaksi terhadap larutan KmnO4 (Reaksi Baeyer).
Pada larutan sampel tambahkan larutan KmnO4 2% setetes demi setetes sambil dikocok,
warna ungu akan hilang. Tambahkan KmnO4 sampai sedikit berlebih (berwarna rosa). Jika
ada ikatan tidak jenuh, mula-mula terbentuk glikol, jika dipanaskan terjadi oksidasi lebih
lanjut dan terbentuk asam karboksilat.

2 KmnO4 + H2O → 2 KOH + 2 MnO2 + 3 (O)


C C C O C
C O
C
+ (O) + H2O → OH OH → OH + OH

Reaksi Baeyer ini tidak spesifik untuk ikatan tidak jenuh, karena senyawa-senyawa yang
mudah teroksidasi seperti: Alkohol, Fenol, Aldehid, dan lain-lain juga memberi hasil
positif.

1.2 Gugus Alkohol


Reaksi umum:
1. Reaksi warna Azo
Pereaksi:
Diazo A: larutan asam sulfanilat 0,5% dalam (30 ml HCl 4N dan 70 ml air).
Diazo B: larutan NaNO2 0,5% dalam air.

5
Cara melakukan:
Masukkan 2 tetes etanol atau larutan sampel dalam air ke dalam tabung reaksi,
tambahkan Diazo A dan Diazo B (4:1 atau 1:1) dan 1-2 tetes NaOH 2N sampai bereaksi
basa, kocok, panaskan di penangas air maka akan terbentuk warna kuning kemerahan
sampai coklat kemerahan. Warna tidak dapat tertarik dengan amil alkohol.
2. Reaksi esterifikasi. (untuk alkohol monovalen)
Pereaksi:
Asam salisilat, asam benzoat atau asam asetat.
Asam sulfat pekat sebagai katalisator.
Cara melakukan:
3 tetes etanol dimasukkan ke dalam tabung reaksi, tambahkan sedikit kristal asam salisilat
dan 1-2 tetes H2SO4 pekat, tutup mulut tabung dengan kapas basah, panaskan dalam
penangas air selama 5 menit. Angkat dan encerkan dengan 1 ml air. Cium baunya maka
akan tercium bau ester (wangi).

R – CH2 – OH + R’ – COOH → R’ – COO- CH2 – R + H2O

Beberapa ester dengan bau spesifik:


Metanol dengan Asam Salisilat → Metil salisilat (bau gandapura)
Metanol dengan Asam Benzoat → Metil Benzoat (bau pisang ambon).
Etanol dengan Asam Salisilat → Etil Salisilat (bau gandapura)
Etanol dengan Asam Benzoat → Etil Benzoat (bau pisang ambon).
Etanol dengan Asam Asetat → Etil Asetat (bau pembersih kutex).

Reaksi untuk Alkohol polivalen.


1. Test dengan Borat/ dapat menaikkan keasaman dari larutan Borat. (untuk alkohol
polivalen)
Pereaksi:
Larutan borat 1% dan larutan fenolftalein 0,2% dalam etanol 70%.
Cara melakukan:
Ke dalam tabung reaksi masukkan 1-2 tetes larutan borat dan 1-2 tetes larutan fenolftalein
dan tambahkan beberapa tetes NaOH sampai larutan menjadi berwarna merah rosa.
Kedalamnya tambahkan 2 tetes gliserin/alkohol polivalen lainnya maka warna merah
akan berkurang atau hilang.

6
Disini terjadi reaksi antara Alkohol polivalen dengan Borat membentuk asam yang lebih
kuat. Reaksi hanya terjadi pada alkohol polivalen yang mempunyai ikatan cis diol.
2. Reaksi cuprifil (untuk alkohol polivalen)
Pereaksi :
larutan CuSO4 2%, larutan NaOH 2 N
Cara melakukan:
Masukkan sedikit gliserin (atau larutan sampel dalam air) ke dalam tabung reaksi,
tambahkan 1-2 tetes NaOH dan 1 tetes larutan CuSO4, akan terbentuk larutan berwarna
biru tua jernih.

1.3 Gugus Phenol


Reaksi Umum:
1. Reaksi warna Azo
Pereaksi:
Diazo A: larutan asam sulfanilat 0,5% dalam HCl 2%.
Diazo B: larutan NaNO2 0,5% dalam air.

Cara melakukan:
Campur 1 tetes larutan A dan 1 tetes larutan B dalam tabung, lalu tambahkan 1 tetes
NaOH 2N, akan terbentuk warna kuning kemerahan sampai coklat merah (tanpa
pemanasan). Jika dikocok dengan Amil alkohol, warna merah tertarik oleh amil alkohol.
Hasil reaksi beberapa senyawa antara lain:
Phenol → kuning kemerahan
Resorcinol → coklat kemerahan
α Naphtol → coklat kemerahan
β Naphtol → kuning
2. Reaksi dengan FeCl3.
Pereaksi: Larutan FeCl3 1 %.
Cara melakukan:
Sedikit sampel padat atau 1 tetes larutan sampel dalam air atau alkohol (pada plat tetes),
tambahkan 1 tetes pereaksi, akan terbentuk warna-warna( merah ungu, ungu, biru atau
hijau dll).
Beberapa hasil yang spesifik antara lain:
Turunan Salisilat → ungu
Vitamin B6 → merah

7
3. Reaksi Le Rosen (= reaksi Marquis)
Pereaksi dan cara: sama dengan Hidrokarbon Aromatis.
Catatan: Bandingkan pereaksi ini dengan pereaksi Formaldehyd-Asam sulfat (Clark – 1988).
Marquis : 1bagian Formaldehyd dengan 9 bagian H2SO4 pekat.
Formaldehyd – H2SO4 pekat : 6 bagian Formaldehyd dengan 4 bagian H2SO4 pekat.
Beberapa hasil reaksi antara lain:
Benzen → merah Metil salisilat → merah
Adrenalin → merah → ungu Asam gallat → hijau kuning
Phenol → merah ungu Amphetamin → coklat
Asam salisilat → merah Phloroglucin→ coklat merah
Oxytetracyclin → jingga β Naphtol → coklat
Pyrogallol → merah Phetidin → jingga
Hydroquinon → hitam Resorcinol → merah
Tetracyclin → jingga
4. Reaksi dengan Aqua Brom
Atom H pada inti benzen dari senyawa Phenol dapat disubstitusi dengan Halogen. Jumlah
dan posisi substituen tergantung pada senyawa Phenol yang diperiksa.
Pereaksi:
Larutan Brom jenuh dalam air.
Cara melakukan:
Larutan phenol dalam air (pada plat tetes) tambahkan pereaksi setetes demi setetes
sampai warna kuning muda, akan terbentuk endapan putih atau kuning muda.
Catatan: untuk Phenol Polivalen (mempunyai daya reduksi), warna Brom hilang karena
direduksi, diikuti dengan terbentuknya warna yang berbeda-beda tergantung dari
phenolnya.

Reaksi terhadap Polihidroksi Phenol (phenol polivalen)


1. Dengan Aqua Brom
akan terbentuk warna atau endapan yang berwarna, tergantung pada senyawa Phenol
yang diperiksa.
2. Mempunyai daya reduksi
yang dapat ditest dengan pereaksi Fehling atau dengan Ag amoniakal.
a. Reduksi terhadap Fehling.
Pereaksi:

8
Fehling A; larutkan 34,64 g CuSO4 dalam air yang mengandung beberapa tetes
H2SO4 encer, tambahkan air sampai 500 ml.
Fehling B: larutkan 60 g NaOH dan 173 g garam Rochell (K Na Tartrat) dalam air,
tambahkan air sampai 500 ml.
Cara melakukan: beberapa tetes larutan Phenol dalam tabung reaksi ditambahkan 1
bagian Fehling A dan 1 bagian Fehling B, bila perlu panaskan, akan terbentuk
endapan kuning sampai merah CuO.
b. Reduksi terhadap Ag Amoniakal.
Pereaksi: 3 ml larutan AgNO3 0,1 N ditambahkan larutan NH4OH yang sangat encer,
setetes demi setetes sampai endapan yang pertama terbentuk, larut kembali.
Cara melakukan: Beberapa tetes larutan Phenol dalam tabung, tambahkan beberapa
tetes pereaksi, akan terbentuk cermin perak pada dinding tabung.

1.4 Gugus Karbonil


Reaksi umum untuk Aldehyda
1. Reaksi Schiff.
Pereaksi:
0,2 g p. Rosanilin HCl (Fuchsin) dilarutkan dalam 2 ml HCl pekat, encerkan dengan 200
ml air dan kedalamnya dilarutkan 2 g NaHSO3 (pereaksi tidak berwarna; jika disimpan
lama dan telah berwarna rosa, pereaksi tidak dapat dipakai).
Cara melakukan:
Dalam tabung masukkan 2 ml air dan 1 tetes Aldehyda, lalu tambahkan 1-2 tetes
pereaksi, akan terbentuk warna merah sampai merah ungu.
Catatan: Beberapa aldehyd aromatis (misalnya; Vanilin, p-dimetil amino benzaldehyd)
memberi hasil negatif.
2. Reaksi reduksi
a. Reduksi terhadap pereaksi Tollens
Aldehyd akan mereduksi pereaksi Tollens atau Ag Amoniakal dan membentuk
cermin perak pada dinding tabung reaksi.
Pereaksi Tollen’s:
Larutan A: 3 g AgNO3 dilarutkan dalam 30 ml air
Larutan B: 3 g NaOH dilarutkan dalam 30 ml air.
Jika akan dipakai, campur sama banyak larutan A dan B dalam tabung, lalu
tambahkan NH4OH encer setetes demi setetes sampai endapan Ag2O larut kembali
(hati-hati jangan dipanaskan).

9
Cara melakukan: dalam tabung masukkan beberapa tetes pereaksi dan larutan
sampel, bila perlu panaskan dalam penangas air, terbentuk cermin perak pada
dinding tabung.
Reaksi:
RCHO + 2 [Ag(NH3)2]OH → RCOONH4 + 2Ag ↓ + NH3 ↑ + H2O
b. Reduksi terhadap Fehling
Sama pada phenol polivalen
3. Reaksi dengan Phloroglucin dan HCl.
Ploroglucin dapat berkondensasi dengan Aldehyd aromatis menghasilkan senyawa
berwarna rosa jingga.
Cara melakukan:
Pada plat tetes dimasukkan 2 tetes sampel ditambahkan 1 tetes larutan jenuh Phloroglucin
dalam HCl pekat, terbentuk warna rosa jingga.

Reaksi khusus untuk Acetaldehyd


Jika Acetaldehyd ditambahkan kepada larutan Na nitroprussid yang mengandung Piperazin,
Piperidin atau Morpholin (senyawa Amin alifatis sekunder), akan terbentuk warna biru.
Pereaksi:
Larutan Natrium Nitroprussid 5% dalam air
Larutan Morpholin 20% dalam air
Jika akan dipakai kedua larutan dicampur sama banyak.
Cara melakukan:
1 tetes sampel pada plat tetes atau kertas saring ditambahkan 1 tetes pereaksi, terbentuk warna
biru.

Reaksi khusus untuk Formaldehyd


Jika Formaldehyd dipanaskan dengan Asam Chromatropat dalam H2SO4 pekat, akan
terbentuk warna rosa ungu.
Cara melakukan:
1 tetes sampel dicampur dengan 2 ml H2SO4 12 N dalam tabung, tambahkan sedikit kristal
asam / garam natrium chromatropat, panaskan 10 menit pada penangas air (60 oC) terbentuk
warna rosa ungu.

Reaksi terhadap gugus Keton


1. Reaksi dengan Na. Nitroprussid (Reaksi Legal Rothera).

10
Jika Aceton direaksikan dengan Na Nitroprussid, akan terbentuk warna kuning merah:
jika diasamkan dengan asam asetat, warna berubah menjadi rosa ungu.
Pereaksi:
Larutan Na Nitroprussid 5%
Cara melakukan:
1 tetes larutan sampel (dalam air atau etanol) dicampur dengan 1 tetes pereaksi dan 1
tetes NaOH 30%, akan terbentuk warna kuning sampai merah. Jika diasamkan dengan 1-
2 tetes Asam Asetat glasial, warna berubah menjadi merah sampai biru.
Reaksi:
[Fe(CN)5NO]-2 + CH3COOH+2OH- → [Fe(CN)5ON=CH3COOH]-4 + 2H2O
Reaksi warna ini terjadi karena gugus Nitro (-NO) dari Nitro prussida bereaksi dengan
Aceton membentuk iso nitroso aseton (kompleks anion), sedangkan Fe +3 tereduksi
menjadi Fe+2.
Beberapa hasil reaksi:
Aceton → rosa
Acetophenol → biru
Metil etil keton → rosa
2. Reaksi Iodoform
Pereaksi:
- Aqua Iod (larutkan 2 g I2 kedalam larutan 20 g KI dalam air, lalu tambahkan air
sampai 100 ml)
- larutan NaOH 5 %.
Cara melakukan:
Encerkan sampel dengan 1 ml air, tambahkan 1 ml NaOH dan Aqua Iod setetes demi
setetes sambil dikocok sampai berwarna kuning. Biarkan 2 – 3 menit, bila perlu
panaskan diatas tangas air (60°). Hilangkan kelebihan I2 dengan penambahan NaOH
encer sambil dikocok. Encerkan dengan air sama banyak. Biarkan 10 manit.
Akan terbentuk endapan 11ristal kuning. Jika dilihat dimikroskop berbentuk seperti
bunga sakura. Hasil positif untuk Aceton, Etanol, Iso Propanol dan Asam Laktat.
Catatan: Reaksi ini adalah reaksi pengenal untuk Aceton (metil keton; CH3COR). Reaksi
ini juga positif untuk senyawa-senyawa yang dapat teroksidasi menjadi Metil keton pada
kondisi reaksi (seperti: CH3-CH2OH, CH3CRHOH) dan senyawa-senyawa yang
mempunyai gugus CH3-CH=O yang terikat pada – H, - R, -Ar atau ester (-CH2)nCOOR.
Reaksi:
RCH(OH)- CH3 + 2NaOH + I2 → R-COCH3 + 2NaI + 2H2O

11
RCOCH3 + 3I2 + 3NaOH → RCO- CI3 + 3NaI + 3 H2O
RCOCI3 + NaOH → RCOONa + CHI3 Iodoform (kuning)

1.5 Gugus Karboksilat


Reaksi Identifikasi:
1. Reaksi Esterifikasi.
Campur sedikit sampel dengan 2 bagian Etanol dan beberapa tetes H2SO4 pekat dalam
tabung. Tutup tabung dengan kapas, panaskan dalam penangas air selama 2 menit, lalu
encerkan dengan air. Akan tercium bau ester yang wangi.
Hasil positif untuk asam karboksilat alifatis dan aromatis (mis: asam asetat, asam
benzoat, asam salisilat).
2. Dengan FeCl3, memberikan warna yang berbeda-beda untuk beberapa asam.

1.6 Gugus Amin


Gugus amin dibedakan atas:
1. Amin alifatis primer : R- NH2
Sekunder : R- NHR’
Tersier : R- NR’R”
2. Amin aromatis primer: Ar- NH2
Sekunder : Ar- NHR
Tersier : Ar- NRR’
Reaksi umum:
1. Jika dipanaskan dengan NaOH akan melepaskan gas NH3↑ yang dapat ditest dengan
lakmus merah basah menjadi biru.
2. Reaksi dengan p-DAB HCl
Cara melakukan:
2 tetes sampel dimasukkan dalam plat tetes lalu ditambahkan 1 tetes pereaksi akan
terbentuk warna atau endapan kuning (pada amin alifatis); warna kuning jingga sampai
merah jingga (pada amin aromatis).
3. Reaksi dengan batang korek api.
Cara melakukan:
Batang korek api (mengandung lignin) yang sudah dibasahi dengan HCl encer,
dicelupkan kedalam larutan sampel (amin) dalam HCl maka batang korek api akan
berwarna jingga.

12
4. Reaksi Indofenol
Cara melakukan:
Panaskan sedikit sampel dengan 2 ml air (dalam tabung) sampai mendidih, tambahkan 2
tetes NaOH (NH4OH) dan beberapa tetes larutan NaOCl, kemudian tambahkan 1 tetes
Phenol cair, akan terbentuk warna-warna yang berbeda. Jika dikocok dengan eter, lapisan
eter umunya akan berwarna merah.
5. Reaksi dengan CuSO4
Cara melakukan:
Sedikit sampel (dalam tabung) ditambahkan 2 ml air dan 2 tetes NaOH, panaskan pada
api kecil sampai mendidih. Dinginkan lalu tambahkan 1-2 tetes larutan CuSO4 dan
beberapa tetes HCl encer sampai netral atau asam lemah, akan terbentuk endapan yang
berwarna, tergantung pada senyawa amin yang diperiksa.

1.7 Gugus Nitro


Gugus Nitro dibedakan atas: Nitro alifatis R- NO2
Nitro aromatis Ar-NO2
Reaksi umum:
1. Reaksi dengan basa NaOH atau KOH
Senyawa nitro alifatis akan menghasilkan warna kuning jika direaksikan dengan NaOH,
bila diasamkan dengan asam asetat pekat, senyawa nitro akan terbentuk kembali.
Senyawa nitro aromatis yang mengandung 2 atau lebih gugus nitro, jika dilarutkan dalam
alkohol atau aseton dan direaksikan dengan NaOH 10% akan menghasilkan warna merah
atau rosa (purple).
2. Reduksi dalam suasana asam menjadi amin primer.
Senyawa nitro direduksi dalam suasana asam menjadi senyawa amin primer. Sebagai
reduktor dapat dipakai Zn dan HCl atau Sn dan HCl.
Amin yang terbentuk dapat ditest dengan reaksi Azo dan pDAB HCl.
Cara melakukan: sampel dilarutkan dalam etanol, tambahkan 3 ml HCl encer, masukkan
serbuk Zn dan sedikit air, panaskan dipenangas air selama 10 menit.
Sampel dibagi 2:
a. pada filtrat ditambahkan 2 tetes larutan NaNO2 dan larutan ß naftol dalam NaOH
akan terbentuk warna atau endapan jingga.
b. Pada filtra ditambahkan 2 tetes p DAB HCl akan terbentuk warna kuning.

13
1.8 Gugus Sulfon dan Sulfonat
Senyawa Sulfon dan Sulfonat, jika dioksidasi dengan oksidator kuat (H2O2 30%) akan
teroksidasi menjadi sulfat dan dapat ditest dengan larutan BaCl2 sehingga terbentuk endapan
putih BaSO4 .

1.9 Gugus Guanidin


Reaksi identifikasi:
1. Sampel dimasukkan dalam tabung, keringkan pada 180 o (pada penangas gliserin) selama
10 menit, mulut tabung ditutup dengan kertas saring yang sudah dibasahi dengan pereaksi
Nessler maka akan terbentuk warna kuning sampai coklat.
2. Reaksi Sakaguchi
Cara melakukan:
Kedalam larutan sample ditambahkan beberapa tetes NaOH 10% dan beberapa tetes
larutan αnaftol dalam etanol, dinginkan (15o)
Tambahkan 3 tetes larutan NaOCl akan terbentuk warna merah ungu.

14
ANALISIS INFRAMERAH

Spektoskopi inframerah merupakan salah satu metode yang umum digunakan, dan
merupakan salah satu metode penting dalam teknik analisis suatu senyawa yang ada saat ini.
Salah satu keuntungan besar dari spektroskopi inframerah adalah hamper semua sampel di
hamper setiap negara dapat dipelajari, baik itu merupaka cairan, larutan, pasta, serbuk, film,
serat, gas dapat diperiksa.
Spektrofotometer inframerah telah dipakai secara komersial sejam tahun 1940-an.
Pada saat itu, instrument mengandalkan prisma untuk bertindak sebagai elemen dispersive.
Kemajuan paling signifikan dalam spektroskopi inframerah terjadi setelah pengenalan Fourier
Transform Spektrometer.
Instrumen ini menggunakan interferometer dan memanfaatkan model matematis
fourier transform. Fourier Transform Inframerah (FTIR) spektroskopi memaksimalkan
spectrum inframerah dan meminimalkan waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh data.
Selain itu, sejalan dengan perkembangan zaman, peningkatan FTIR sudah didukung dengan
adanya software yang mudah untuk dijalankan.
Spektroskopi inframerah adalah suatu teknik yang didasarkan pada getaran dari atom-
atom molekul. Spektrum inframerah umumnya diperoleh dengan melewatkan radiasi
inframerah melalui sampel dan menentukan sebagian kecil dari energi radiasi tertentu yang
diserap, yaitu energi dimana setiap puncak dalam spektrum absorbsi muncul sesuai dengan
frekuensi getaran bagian tertentu dari suatu molekul sampel.

2.1 Absorpsi Inframerah


Suatu molekul dapat menunjukkan absorbsi inframerah harus memiliki momen dipole
listrik yang berubah selama getaran, seperti yang ditunjukkan pada gambar berikut:

merupakan suatu molekul diatomik heteronukleus. Momen dipol akan berubah saat suatu
molekul merenggang atau mengkerut. Berbeda dengan molekul homonucleus, karena

15
keelektronegatifannya sama, maka momen dipol-nya tidak mengalami perubahan atau tetap
nol tidak peduli seberapa panjang ikatan.

2.2 Model Vibrasi


Interaksi radiasi inframerah dengan sampel dapat dipahami berdasarkan perubahan
momen dipol yang dipengaruhi oleh getaranatau vibrasi dan rotasi. Salah satu contoh yang
sederhana adalah molekul diatomik, molekul ini memiliki tiga derajat kebebasan translasi dan
dua derajat kebebasan rotasi. Atom atom dalam molekul juga dapat bergerak relatif terhadap
yang lain.
Model vibrasi yang terjadi adalah sebagai berikut:

Stretching Bending Stretching


1. Streching (rengangan)
Dalam vibrasi ini, atom bergerak terus sepanjang ikatan yang menghubungkannya
sehingga akan terjadi perubahan jarak antara keduanya, walaupun sudut ikatan tidak
berubah. Vibrasi regangan ada dua macam, yaitu:
- Regangan simetris, yaitu unit struktur bergerak bersamaan dan searah dalam satu
bidang datar.
- Regangan asimetris, yaitu unit struktur bergerak tidak bersamaan.

Regangan simetris Regangan asimetris


2. Bending (lenturan)
Jika pada sistem tiga atom merupakan bagian dari sebuah molekul yang lebih besar, maka
dapat menimbulkan vibrasi ini.
- Scissoring
Unit struktur bergerak mengayun simetris dan masih dalam satu bidang datar.

16
- Rocking
Unit struktur bergerak mengayun asimetris tetapi masih dalam satu bidang datar.

- Wagging
Unit struktur bergerak mengibas keluar dari bidang datar.

- Twisting
Unit struktur berputar mengelilingi ikatan yang menghubungkan dengan molekul
induk dan berada di dalam satu bidang datar.

2.3 Kegunaan dan Aplikasi Spektoskopi Inframerah


Spektroskopi inframerah secara umum digunakan untuk mengidentifikasi semua jenis
senyawa organik dan sebagian senyawa anorganik, untuk menentukan gugus fungsi yang
terdapat pada senyawa organik, dan untuk menentukan komposisi molecular pada suatu
permukaan. Metode ini juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi fraksi dari kromatografi,
untuk menentukan kuantitas dari suatu campuran senyawa, untuk menentukan orientasi
molekul (palomer dan larutan) dan untuk mengetahui konformasi molekul (isomer stuktur)
dan stereokimia (isomer geometri) suatu senyawa. Keunggulan metode ini adalah tidak
merusak senyawa yang diperiksa.
Spektroskopi inframerah dapat diaplikasikan didalam penelitian untuk:
- Identifikasi suatu senyawa dengan membandingkan spektrum yang diperoleh dari
suatu senyawa yang tidak diketahui dengan spektrum senyawa yang telah
diketahui (standar).
- Identifikasi gugus fungsi dari suatu senyawa yang tidak diketahui.
- Identifikasi komponen reaksi, dalam mempelajari laju kinetik reaksi.

17
- Identifikasi orientasi molekul dalam sebuah polimer.
- Deteksi kemurnian suatu senyawa.
- Identifikasi polimer, plastik, dan resin.
- Analisis formulasi seperti insektisida dan kopolimer

2.4 Analisis Sampel Cairan


1. Disiapkan seperangkat sealed liquid cell (lihat Gambar di bawah ini).

Gambar Sealed Liquid Cell


Keterangan: 1. Lead packing
2. Cell plate (with holes)
3. Lead spacer
4. Cell plate (without holes)
5. Lead cushion
6 . Rubber cushion
7. Plug
8. Sample inlet
9. Fitting screw
10. Cell plate holder
11. Cell plate base

2. Diletakkan cell plate holder dengan posisi terbalik.


3. Dipasang lead packing di atasnya lalu diletakkan cell plate yang berlubang.
4. Diletakkan lead spacer, cell plate yang tidak berlubang dan lead cushion.
5. Diletakkan rubber cushion di atas lead cushion.
6. Ditempelkan cell plate holder yang telah dipasang seperti di atas dengan cell plate
base.
7. Dikencangkan dengan empat screw yang tersedia secara perlahan-lahan dan
diagonal.
8. Diambil sampel cairan dengan bantuan injektor yang telah disediakan lalu
disuntikkan ke lubang sample inlet.

18
9. Diletakkan ke dalam tempat sampel kemudian dianalisis spektrumnya (sebelumnya
lakukan pembuatan background terlebih dahulu dengan tempat sampel dalam
keadaan kosong).

2.5 Analisis Sampel Padatan


Metode Pasta
1. Dihaluskan sampel padatan kira-kira 10 mg dalam lumpang dan dicampurkan
bersama cairan parafin/nujol.
2. Diletakkan spacer di atas cell plate kemudian diletakkan pasta ke bagian tengah
dengan menggunakan spatula.
3. Diletakkan cell plate lain lalu ditutup dengan metal plate di atasnya. Diusahakan agar
tidak terdapat gelembung.
4. Dikencangkan plate dengan empat screw yang tersedia secara perlahan dan diagonal
(tapi jangan terlalu kencang).
5. Diletakkan ke dalam tempat sampel kemudian dianalisis spektrumnya (sebelumnya
lakukan pembuatan background terlebih dahulu dengan tempat sampel dalam
keadaan kosong).

Metode Film
1. Dilarutkan sampel padat dengan pelarut yang mudah menguap, kemudian letakkan
pada cell plate.
2. Setelah pelarut menguap, diukur sisa film yang terdapat di permukaan cell plate
(ikuti langkah dari no. 2 – 5 seperti di atas).

Menggunakan DRS-8000 (Diffuse Reflectance Measuring)


1. Dicampur sampel dengan serbuk KBr (5 – 10% sample dalam serbuk KBr).
2. Dipasang DRS-8000 pada tempat sampel.
3. Dimasukkan campuran sampel KBR ke sample pan.
4. Diletakkan ke tempat dudukan sample pan.
5. lakukan pembuatan background terlebih dahulu dengan hanya menggunakan serbuk
KBr.
6. Alat IR di running,untuk mendapatkan spektrum sampel dan spectra yang muncul
/dihasilkan dicetak
7. Spektra yang dihasilkan di analisa untuk mengetahui gugus-gugus yang terdapat
pada sampel

19
2.6 Penafsiran Spektrum Inframerah
Delapan daerah terpenting dan telah ditentukan dengan baik yang digunakan pada
pemeriksaan pendahuluan spektrum inframerah tertera pada tabel berikut ini.

Daerah Spektrum
Panjang Bilangan Ikatan yang Menyebabkan
Gelombang Gelombang Absorpsi
(mikrometer) ( v cm-1)
2,7 – 3,3 3750 – 3000 Regang O–H, N–H
–C≡C–H, =C=CH–, Ar–H
3,0 – 3,4 3300 – 2900
(regang C–H)
CH3–, –CH2–, ≡C–H, O=C–H
3,3 – 3,7 3000 – 2700
(regang C–H)
4,2 – 4,9 2400 – 2100 Regang C≡C, C≡N
Regang C=O
5,3 – 6,1 1900 – 1650 (asam, aldehida, keton, amida, ester,
anhidrida)
Regang =C=C= , =C=N–
5,9 – 6,2 1675 – 1500
(alifatik dan aromatik)
6,8 – 7,7 1475 – 1300 Lentur ≡C–H
Lentur =C=CH–, Ar–H
10,0 – 15,4 1000 – 650
(luar bidang)

Berbagai jenis ikatan C–H menunjukkan absorpsi di bagian tertentu dari daerah regang C–H
(3300 – 2700 cm-1). Posisi kira-kira pita C–H untuk berbagai jenis gugus adalah sebagai
berikut:
Jenis H v cm-1 Intensitas Pita
Ar–H 3030 Sedang
C≡C–H 3300 Tinggi
C=C–H 3040 – 3010 Sedang
–CH3 2960 & 2870 Tinggi
–CH2– 2930 & 2850 Tinggi
≡CH 2890 Rendah
–CH=O 2720 Rendah

20
Berikut ini ikhtisar daerah regang simetrik ikatan rangkap tiga
Jenis Ikatan Rangkap Tiga v cm-1 Intensitas Pita

H–C≡C–R 2140 – 2100 Kuat


R–C≡C–R’ 2260 – 2190 Variabel
R–C≡C–R Tidak ada absorpsi
R–C≡N 2260 – 2240 Kuat

Pita penting yang terdapat di daerah karbonil


Jenis Karbonil v cm-1 Intensitas Pita
R–CO–H (jenuh) 1740 – 1720 Kuat
COOH (jenuh) 1705 – 1725 Kuat
R–CO–R (jenuh) 1705 – 1725 Kuat
R–CO–OR 1750 – 1730 Kuat
(lakton beranggota 6 & 7)

Lakton beranggota 5 1780 – 1760 Kuat


Ester (tak lingkar) 1740 – 1710 Kuat
Halida Asam 1815 – 1720 Kuat
Anhidrida Dua pita terpisah dengan kira-kira 60
cm-1 pada 1850 – 1800 cm-1 dan
1780 – 1740 cm-1
Amida 1700 – 1640 Kuat

Pita daerah regang ikatan rangkap simetrik pada 1680 – 1600 cm-1 disebabkan oleh gugus
sebagai berikut
Jenis Ikatan Rangkap v cm-1 Intensitas Pita
=C=C= 1680 – 1620 Variabel
=C=N– 1690 – 1640 Variabel
–N=N– 1630 – 1575 Variabel

21
Absorpsi khas yang berguna pada daerah lentur C–H (1000 – 650 cm-1) alkena.
Jenis Alkena v cm-1 Intensitas Pita
RCH=CH2 990 dan 910 Kuat
RCH=CRH (cis) 690 Sedang sampai kuat
RCH=CRH (trans) 970 Sedang sampai kuat
R2C=CH2 890 Sedang sampai kuat
R2C–CRH 840 – 790 Sedang sampai kuat

Benzena tersubstitusi:
Jenis Substitusi v cm-1 Intensitas Pita
Aromatik monosubstitusi 750 dan 700 Biasanya sedang
(5 H berdampingan) sampai kuat
Aromatik orto 750 Biasanya sedang
(4 H berdampingan) sampai kuat
Aromatik meta 780 – 810 Biasanya sedang
(3 H berdampingan) sampai kuat
Aromatik para 850 – 800 Biasanya sedang
(2 H berdampingan) sampai kuat

22
ANALISIS SENYAWA GOLONGAN ALKOHOL

Tujuan:
Agar mahasiswa mampu melakukan reaksi identifikasi golongan alkohol,serta mampu
membedakan alkohol yang satu dengan yang lainnya (terutama yang digunakan/berkaitan
dengan bidang farmasi), dengan menggunakan pereaksi kimia tertentu.

Beberapa contoh senyawa golongan alkohol antara lain:


1. Alkohol monovalen yang cair, misalnya: metanol, etanol, propanol, iso propanol,
butanol, iso butanol, amil alkohol.
2. Alkohol monovalen yang berbentuk padat, misalnya mentol, klor butanol, kloral
hidrat.
3. Alkohol polivalen yang cair, misalnya etilen glikol, propilen glikol, gliserol (gliserin).
4. Alkohol polivalen yang padat, misalnya: manitol dan sorbitol.

Reaksi umum:
1. Reaksi azo (untuk alkohol mono dan polivalen).
Pereaksi:
Diazo A: larutan asam sulfanilat 0,5% dalam (30 ml HCl 4N + 70 ml air).
Diazo B: larutan NaNO2 9% dalam air.
Cara melakukan percobaan:
Masukkan 2 tetes etanol atau larutan sampel dalam air ke dalam tabung reaksi,
tambahkan Diazo A dan Diazo B (4:1 atau 1:1) dan 1-2 tetes NaOH 2N sampai
bereaksi basa, kocok, panaskan di penangas air maka akan terbentuk warna kuning
kemerahan sampai merah. Tambahkan 4 tetes amil alkohol, kocok, warna tidak
tertarik amil alkohol. (lapisan tidak berwarna). (untuk golongan alkohol).
Lakukan percobaan yang sama untuk gliserin, amati dan catat hasilnya. Bandingkan
hasil yang terjadi pada semua sampel yang diperiksa.
2. Reaksi esterifikasi (untuk alkohol monovalen)
Pereaksi:
Asam salisilat, asam benzoat atau asam asetat.
Asam sulfat pekat sebagai katalisator.
Cara melakukan percobaan:
3 tetes etanol dimasukkan ke dalam tabung reaksi, tambahkan sedikit kristal asam
salisilat dan 1-2 tetes H2SO4 pekat, tutup mulut tabung dengan kapas basah, panaskan
dalam penangas air selama 5 menit. Angkat dan encerkan dengan 1 ml air. Cium
baunya maka akan tercium bau gandapura (untuk etanol dan metanol).
Percobaan diulangi dengan menggunakan asam benzoat atau asam asetat. Amati dan
catat baunya.
3. Reaksi cuprifil (untuk alkohol polivalen)
Pereaksi:
Larutan CuSO4 2%, larutan NaOH 2 N
Cara melakukan percobaan:

23
Masukkan sedikit gliserin (atau larutan sampel dalam air) ke dalam tabung reaksi,
tambahkan 1 larutan CuSO4 dan 2 -3 tetes larutan NaOH, akan terbentuk larutan
berwarna biru tua jernih. Panaskan, tidak terbentuk endapan merah bata.
Lakukan percobaan yang sama terhadap etanol, amati dan catat hasilnya.
Bandingkan hasil yang terjadi pada semua sampel yang diperiksa.
4. Test dengan Borax (untuk alkohol polivalen)
Pereaksi:
Larutan borax 1% dan larutan fenolftalein 0,2% dalam etanol 70%.
Cara melakukan percobaan :
Ke dalam tabung reaksi masukkan 1 tetes larutan borax dan 1tetes larutan fenolftalein
(larutan menjadi berwarna merah). Tambahkan 2 tetes gliserin. Amati dan catat
hasilnya.
Lakukan percobaaan yang sama terhadap etanol, amati dan catat hasilnya; bandingkan
hasil pada semua sampel.
5. Reaksi Carletty (untuk alkohol polivalen)
Pereaksi:
asam oksalat (kristal)
Resorsin (kristal)
H2SO4 pekat
Cara melakukan percobaan:
2 tetes gliserin bebas air (atau sedikit sampel padat) diletakkan pada plat tetes,
tambahkan sedikit kristal asam oksalat dan sedikit kristal resorsin, aduk dengan batang
pengaduk, lalu tambahkan 1 tetes H2SO4 pekat, aduk, amati dan catat hasil nya.
Lakukan percobaan yang sama terhadap etanol, amati dan catat hasilnya. Bandingkan
hasil pada semua sampel.

Test pendahuluan dan reaksi umum yang perlu dilakukan untuk identifikasi alkohol antara
lain:
1. Test organoleptis (bentuk, bau, rasa dan warna)
2. Test kelarutan (dalam air atau dalam pelarut organik), kemudian uapkan di atas
penangas air.
3. Test nyala Beilstein: positif untuk kloreton, kloral hidrat
4. Reaksi Azo: positif untuk alkohol yang larut dalam air.
5. Reaksi esterifikasi dengan asam asetat, benzoat atau salisilat. Cium dan bedakan
baunya; positif untuk metanol dan etanol.
6. Reaksi Cuprifil: positif untuk alkohol polivalen.
7. Reaksi Carletty: positif untuk alkohol polivalen.
8. Reaksi dengan borax: positif untuk alkohol polivalen.
9. Reaksi Iodoform: positif untuk etanol
Pemeriksaan selanjutnya dilakukan berdasarkan hasil yang diperoleh pada test di atas,
sesuai dengan monograf masing-masing alkohol yang diduga.

24
METANOL
OH
Cairan bersifat racun, mudah terbakar. Dapat bercampur dengan air, alkohol cair, dan pelarut
organik lain.
Identifikasi:
1. Jika 0,2 ml larutan sampel ditambahkan beberapa tetes KmnO 4 1% dan 2-3 tetes
H2SO4 pekat, aduk, setelah 15menit tambahkan 2-3 tetes asam oksalat 5% dalam
H2SO4 50% (sampai warna ungu hilang), lalu tambahkan 2 tetes pereaksi Schiff akan
terbentuk warna merah atau rosa.
2. Jika 1 tetes sampel ditambahkan 1 tetes larutan K2Cr2O7 dan 1 tetes H2SO4 akan
terbentuk warna hijau.
3. Esterifikasi:
- Dengan penambahan asam benzoat dan H2SO4 pekat akan terbentuk metil benzoat
diidentifikasi dengan aroma pisang.
- Dengan penambahan asam salisilat dan H2SO4 pekat akan terbentuk ester dengan
aroma minyak gandapura.
4. Dioksidasi dengan KmnO4 / H2SO4 pekat formaldehid
Formaldehid dapat ditentukan dengan asam kromatropat. Menghasilkan warna ungu.
Cara melakukan:
Jika 1 tetes sampel ditambahkan 1 tetes H3PO4 5% dan 1 tetes KmnO4 5% dalam
tabung reaksi, setalah 1 menit kemudian ditambahkan sedikit kristal NaHSO 3, kocok
sampai warna larutan hilang (bila perlu ditambahkan 1 tetes H3PO4 dan NaHSO3).
Lalu ditambahkan 4 ml H2SO4 12 N dan sedikit kristal asam kromatropat, kocok dan
panaskan di atas penangas air (600 selama 10 menit) akan terbentuk warna ungu.
Reaksi ini negatif untuk etanol, propanol, iso propanol, normal propanol, tertier
butanol. Reaksi ini positif untuk gliserin yang akan menghasilkan warna kuning
berflorosensi hijau dan jika ditambahkan furfural warna akan berubah menjadi
kecoklatan.

ETANOL

HO
Cairan tidak berwarna, mudah menguap, bau khas. Dapat bercampur dengan air, alkohol cair
lainnya dan pelarut organik lain.
Identifikasi:
1. Dengan penambahan 1 ml H2SO4 pekat dan 2 tetes K2Cr2O7 akan terbentuk warna
hijau dan tercium bau asetaldehida. Asetaldehida dapat ditest dengan penambahan
natrium nitroprusid yang mengandung piperidin atau piperazin akan menghasilkan
warna biru. Jika dibasakan dengan NaOH warna berubah menjadi merah.
2. Reaksi Simon
Cara: campurkan 5 tetes zat dalam tabung reaksi dengan 1 ml larutan KMnO 4 1% dan
5 tetes H2SO4 encer, tutup tabung dengan kertas saring yang sudah dibasahi dengan
pereaksi (100 mg natrium nitroprusid dan 500 mg piperazin dilarutkan dalam 5 ml air,
dibuat segar) akan terjadi pewarnaan biru pada kertas
(Dalam praktek, aldehid yang terbentuk ditest dengan kertas saring yang sudah
dibasahi dengan reagen Schiff, akan terbentuk warna merah ungu).

25
3. Reaksi Iodoform: positif.
Cara melakukan:
5 ml larutan zat 0,5% ditambahkan 1 ml NaOH 0,1 N dan 2 ml aqua iod setetes demi
setetes (bila perlu panaskan di atas penangas air), terbentuk endapan kuning dan
tercium bau iodoform.

4. Esterifikasi :
- Dengan asam benzoat/H2SO4 pekat → bau pisang ambon
- Dengan asam salisilat/H2SO4 pekat → bau gandapura
- Dengan asam asetat/H2SO4 pekat → bau pembersih cutex

CHLORAL HIDRAT
HO OH

Cl Cl

Cl
Kristal tidak berwarna, bau merangsang, rasa pahit dan panas. Mudah larut dalam air, etanol
dan eter, dalam 3 bagian CHCl3.

Identifikasi:
1. Larutan zat ditambahkan larutan natrium hidroksida akan terjadi kekeruhan karena
terbentuknya CHCl3.
2. Larutan zat ditambahkan larutan Na2S akan terjadi pewarnaan kuning yang lama
kelamaan menjadi merah selanjutnya terbentuk endapan merah.
3. Campur 1 ml larutan natrium hidroksida dengan 1 ml piridin, kocok lalu panaskan
dalam penangas air selama 2 menit (pereaksi tidak boleh berwarna). Ke dalam
pereaksi ini ditambahkan 1 ml larutan zat, kocok, panaskan di atas penangas air maka
pada lapisan piridin akan berwarna rosa atau merah. Hasil positif untuk klor butanol,
CHCl3, triklor etana, triklor etanol, dan triklor etilena.
4. Dipanaskan dengan beberapa tetes natrium hidroksida dan anilin akan tercium bau
isonitrtil.
5. Test Beilstein positif: terbentuk nyala hijau.
6. Larutan dalam air ditambahkan larutan AgNO3, tidak terbentuk endapan. Pada
campuran ditambahkan beberapa tetes larutan KOH dalam etanol, panaskan di atas
penangas air, asamkan dengan asam HNO 3 akan terbentuk endapan putih.

26
(larutan KOH / etanol dibuat dengan melarutkan 4 g KOH dalam 2 ml air dan
tambahkan etanol 75% sampai 100 ml; biarkan 1 malam, gunakan cairan yang
jernih).

GLYCEROL
OH

HO

OH
(Glycerin = propana triol)
Cairan jernih, kental seperti sirop, tidak berbau, rasa manis diikuti rasa panas. Dapat
bercampur dengan air dan etanol, hampir tidak larut dalam eter dan CHCl3. Jika diuapkan
tidak dapat kering.
Identifikasi:
1. Pada cawan porselin panaskan 3 tetes zat dengan 0,1 g asam borat atau KHSO 4 akan
terbentuk uap akrolein (baunya merangsang).
Uap akrolein dapat ditest dengan kertas saring yang sudah dibasahi dengan 1 tetes
natrium nitro prussid 5% dan 1 tetes piperidin 20% makan kertas saring akan berwarna
biru gentian.
2. Campur 1 ml zat dengan 10 ml HNO3, hati-hati tambahkan 10 tetes larutan K2Cr2O7
melalui dinding tabung maka pada batas larutan terbentuk cincin biru, yang tidak
berdifusi ke lapisan bawah.
3. Reaksi Cuprifil: 500 mg zat ditambahkan 1 ml natrium hidroksida 10% dan beberapa
tetes larutan CuSO4 akan terbentuk pewarnaan biru jernih (biru tua). Pada pemanasan
tidak terjadi endapan Cu2O.
4. Reaksi Carletty positif: yaitu zat bebas air ditambahkan sedikit kristal asam oksalat,
kristal resorsin dan teteskan beberapa tetes H2SO4 pekat makan akan terjadi warna
ungu kemerahan, jika diencerkan dengan air warna hilang.
5. Reaksi Muliken: yaitu 1 ml larutan zat ditambahkan 3 tetes larutan pirogalol dan 1 ml
H2SO4 pekat, panaskan di atas penangas air selama 2 menit, dinginkan segera (di
bawah aliran air) maka akan terbentuk ungu merah, jika ditambahkan etanol maka
warna akan beruba menjadi merah rosa dan lama kelamaan menjadi tidak berwarna.

ETILEN GLIKOL
HO
OH
Cairan agak kental, tidak berwarna, tidak berbau, rasa manis. Dapat bercampur dengan air dan
allkohol.
Identifikasi:
Reaksi-reaksi yang berlaku untuk alkohol Alifatis polivalen umumnya positif.
1. Reaksi Carletty: zat bebas air ditambahkan kristal asam oksalat, kristal resorsin dan
beberapa tetes H2SO4 pekat akan terbentuk warna ungu.
2. Reaksi Muliken: positif
3. Dioksidasi dengan penambahan KmnO4 dan H2SO4 maka akan dihasilkan glikol
aldehid yang dapat ditunjukkan dengan:

27
- pereaksi Schiff
- ditambah resorsin dalam H2SO4 dan dipanaskan di atas penangas air akan
terbentuk warna merah.

PROPILEN GLIKOL
(Trimetilen glikol)

OH
HO
Cairan kental, tidak berbau, rasa manis agak pedas. Dapat bercampur dengan air alkohol cair
lain.
Identifikasi:
Reaksi yang berlaku untuk senyawa alkohol polivalen umumnya postif.
1. Reaksi Cuprifil: positif.
2. Reaksi Akrolein: positif.
3. Reaksi Muliken: positif.
4. Reaksi Carletty: menghasilkan warna jingga coklat, lebih muda daripada etilen glikol.
5. Dioksidasi dengan HNO3 5% akan menghasilkan keton/asam keto propionat yang
dapat ditunjukkan dengan pereaksi Legal Rothera.

MANNITOL dan SORBITOL


HO OH HO HO OH HO

HO HO

HO OH HO OH
Mannitol Sorbitol
Keduanya berupa kristal putih, tidak berbau, rasa manis.
Mannit: larut dalam 6 bagian air, sukar larut dalam Gugus fungsi C, H dan O Alifatis, tidak
dalam eter.
Sorbit: larut dalam 1 bagian air, 25 bagian Gugus fungsi C, H dan O Alifatis, tidak larut
dalam eter dan CHCl3.
Identifikasi:
Keduanya memberikan reaksi-reaksi terhadap Gugus fungsi C, H dan O Alifatis polivalen
positif (reaksi azo, Cuprifil, Carletty dan Mulliken).
Sorbitol agak higroskopis, jika larutan masing-masing zat diuapkan di atas penangas air:
mannit meninggalkan sisa (kristal kering), sorbitol meninggalkan sisa cairan kental.
1. Reaksi Carletty: keduanya menghasilkan warna ungu tua.
2. Larutan sorbitol ditambahkan larutan KmnO4 berlebih dan 5 tts NaOH, kemudian
dipanaskan sebentar, kedalam larutan ditambahkan 5 tts larutan α naftol dalam etanol
dan perlahan-lahan ditetesi asam sulfat pekat, akan terbentuk cincin berwarna ungu.

28
ANALISIS SENYAWA GOLONGAN FENOL

Tujuan:
1. Agar mahasiswa mampu melakukan reaksi-reaksi untuk mengidentifikasi senyawa
golongan fenol.
2. Agar mahasiswa mampu membedakan antara senyawa fenol yang satu dengan lainnya
berdasarkan hasil reaksi yang terjadi.

Senyawa golongan fenol adalah senyawa yang mempunyai gugus –OH yang terikat pada
ring aromatis.

Rumus umum: OH
Senyawa fenol dibedakan atas:
1. fenol monovalen: yang mempunyai 1gugus –OH terikat pada ring.
2. fenol polivalen: yang mempunyai lebih dari 1gugus –OH terikat pada ring.

Beberapa contoh senyawa golongan fenol, antara lain:


- Fenol monovalen, misalnya: Fenol, kresol,timol, α naftol, β naftol, guaiakol, tiokol,
nipagin ,nipasol, salol, vanilin, vioform , dll .
- Fenol polivalen, misalnya: hidrokinon, resorsinol (2 gugus –OH), dermatol,
floroglusin, pirokatekol, pirogalol (3 gugus –OH).
Percobaan yang perlu dilakukan pada analisis senyawa golongan fenol, antara lain:
I. Test pendahuluan, antara lain:
1. Test organoleptis: bentuk , bau ,warna , rasa .
2. Kelarutan: ditest kelarutannya dalam air atau dalam pelarut organik (etanol atau
aseton dll)
3. Test nyala Beilstein: positif untuk vioform
Test nyala nichrom: positif untuk tiokol.
4. Floresensi: dilihat floresensi zat (dalam bentuk padat ,larutan air atau dalam larutan
NaOH) dibawah sinar UV.
5. Sublimasi: dilakukan terhadap zat padat. jika sampel berupa larutan , lebih dahulu
harus diuapkan sampai kering.
6. Pirolisa: yang meninggalkan sisa pijar: tiokol (sisa putih), dermatol (sisa kuning
jingga)
II. Reaksi umum terhadap gugus fenol:
1. Reaksi Azo (sama dengan pada alkohol, tetapi warna merah dapat terbentuk dalam
keadaan dingin, jika dikocok dengan amil alkohol, umumnya warna merah dapat
tertarik kedalam amil alkohol), (untuk golongan fenol).
2. Reaksi dengan FeCl3
Pada plat tetes, sedikit sampel atau larutan sampel netral dalam air atau etanol
ditambahkan 1 tetes larutan FeCl3, akan terbentuk warna tergantung pada sampel yang
diperiksa. (amati perubahan warna yang terjadi).
3. Reaksi dengan aqua brom

29
Dalam tabung reaksi (atau plat tetes) letakkan sedikit larutan sampel (dalam air atau
etanol), ditambahkan aqua brom setetes demi setetes, (amati hasil reaksi pada
penambahan sedikit aqua brom, dan pada penambahan aqua brom berlebihan).
4. Reaksi Lieberman (reaksi dengan NaNO2 dan H2SO4 pekat).
Pereaksi : larutan NaNO2 1% dalam H2SO4 pekat (di buat baru)
Cara : masukkan sedikit sampel atau larutan sampel kedalam tabung reaksi,,
tambahkan 1 – 2 tetes pereaksi, biarkan beberapa menit, lalu encerkan dengan
beberapa tetes air, akan terbentuk warna merah, basakan dengan NaOH atau NH 4OH,
warna berubah menjadi biru.
5. Reaksi Marquis:
Pereaksi: campuran 1 bagian formaldehid dengan 9 bagian H2SO4pekat (dibuat baru).
Cara: pada plat tetes sedikit sampel padat ditambahkan 1 tetes pereaksi, akan terbentuk
warna.
6. Reaksi dengan pereaksi Fehling (untuk fenol polivalen).
Dalam tabung reaksi masukkan 2 – 3 tetes larutan sampel dalam air, tambahkan 2 tetes
fehling A dan 2 tetes fehling B, bila perlu panaskan dipenangas air, akan terbentuk
endapan kuning sampai merah bata.
7. Reaksi dengan Perak amoniakal (untukfenol polivalen)
Pereaksi: 0,5 ml AgNO3 0.1N ditambahkan amoniak encer setetes demi setetes sampai
endapan yang terbentuk larut kembali.
Cara: beberapa tetes sampel dalam tabung ditambahkan beberapa tetes pereaksi, bila
perlu panaskan pada penangas air,terbentuk cermin perak pada dinding tabung.
8. Reaksi dengan floroglusin dan NH4OH atau NaOH (untuk fenol polivalen), pereaksi
floroglusin dan NaOH 0,5 N atau NH4OH pekat.
Cara: 1 tetes larutan sampel + sedikit kristal floroglusin + beberapa tetes air + 1 tetes
NaOH, aduk akan terbentuk warna.
atau NH4OH pekat, aduk akan terbentuk warna.

PHENOL

HO

Kristal tidak berwarna, lama-lama menjadi merah sampai coklat, bau spesifik. Larut dalam 15
bagian air, mudah larut dalam pelarut organik.
Identifikasi:
1. Reaksi azo akan menghasilkan warna merah.
2. Larutan zat dalam air ditambahkan larutan FeCl 3 akan menghasilkan endapan ungu
tua, jika ditambah etanol berubah menjadi kuning.
3. Larutan zat dalam air ditambahkan aqua brom akan menghasilkan endapan putih yang
mula-mula larut, tetapi mengendap kembali jika pereaksi berlebih.
4. Dengan p DAB – H2SO4 (0,5 g p DAB dilarutkan dalam 60 ml etanol dan 40 ml
H2SO4), bila perlu panaskan akan terbentuk warna jingga, jika diencerkan dengan air
akan berubah menjadi ungu.
5. Dipanaskan dengan hexamin dan asam oksalat akan berflorosensi kuning jika dilihat
dibawah sinar UV .

30
6. Dengan pereaksi Lieberman akan menghasilkan warna hijau (dengan perubahan warna
dari biru menjadi merah lama kelamaan menjadi hijau).
7. Dengan K2Cr2O7 (larutan zat dalam 0,5ml HCL 2N ditambahkan sedikit kristal
K2Cr2O7) akan terbentuk warna kuning yang kama kelamaan menjai coklat.
8. Reaksi Marquis menghasilkan warna merah ungu.

NIPAGIN (Metil p hidroksi benzoat) pengawet

HO COOCH3

Serbuk kristal putih, tidak berbau, rasa agak membakar. Larut dalam 500 bagian air, 3,5
bagian etanol, 3 bagian aseton, larut dalam 20 bagian air mendidih, larut dalam eter dan alkali
hidroksida .

NIPASOL
(Propil p-hidroksi benzoat) Pengawet

HO COOC3H7

Serbuk kristal putih, tidak berbau dan tidak berasa. Kelarutan sama seperti Nipagin.

Identifikasi: untuk nipagin dan nipasol


1. 100 mg zat ditambahkan 2 ml etanol 95 %, didihkan kemudian tambahkan larutan
Hg(NO3)2 akan terbentuk cairan berwarna merah.
2. Didihkan zat dengan air lau tambahkan larutan FeCl3 akan terbentuk warna ungu
merah (untuk nipagin).
larutan nipasol dalam etanol ditambahkan FeCl 3 akan terbentuk warna ungu yang lama
kelamaan menjadi rosa muda (nipasol).
3. Panaskan dengan NaOH, dinginkan, asamkan, lalu tambahkan NH4OH, uapkan
sampai kering. Larutkan sisa dengan air dan tambahkan larutan CuSO 4, maka untuk
nipagin akan terbantuk kristal jarum warna biru sedangkan pada nipasol akan
terbentuk kristal jarum biru muda.
4. Larutkan zat dalam air dengan pemanasan, tambahkan 2-3 tetes aqua brom:
- nipagin akan terbtnuk endapan putih
- nipasol tidak terjadi perubahan
6. Reaksi kristal:
- Sublimasi
- aseton air
Cara melakukan:
Larutkan sedikit sampel dengan beberapa tetes aseton, letakkan pada objek glas
yang telah ditetesi 1-2 tetes air. Biarkan aseton menguap, terbentuk kristal dan
diamati di bawah mikroskop.

31
Kristal aseton air untuk Nipagin

Kristal aseton air untuk Nipasol

RESORSINOL
(m-dioksi benzolum) Keratolitik

HO OH
Hablur tidak berwarna atau putih atau abu-abu kemerahan, jika kena cahaya menjadi merah
dan akhirnya menjadi coklat sampai hitam. Rasa manis, mudah larut dalam air dan etanol,
sedikit larut dalam CHCl3, larut dalam eter.
Identifikasi:
1. Larutan zat ditambahkan larutan FeCl3 akan terbentuk warna ungu kebiruan, jika
dibasakan dengan NH4OH encer warna akan berubah menjadi kuning kecoklatan.
2. Dengan penambahan aqua brom akan terbentuk warna kuning citrun, yang lama-lama
terbentuk endapan putih.
3. Larutan zat dalam NaOH dipanaskan dengan 1 tetes CHCl3 akan terbentuk warna
merah tua, jika diasamkan dengan HCl akan menjadi kuning pucat.
4. Reaksi Lieberman menghasilkan warna ungu.
5. Larutan zat ditambahkan pirokatekol dan 2 ml NaOH encer sampai alkali akan
terbentuk warna hijau biru yang berubah menjadi ungu merah pada permukaan
larutan. Jika dibiarkan lama, warnanya turun kebawah dan larutan berwarna ungu
merah.
6. Reduksi Fehling positif setelah dipanaskan.

32
7. Reaksi Carletty positif: sedikit zat ditambahkan kristal asam oksalat dan gliserin bebas
air lalu teteskan H2SO4 pekat akan terbentuk warna merah ungu.
8. Reaksi Marquis: lapisan bawah akan berwarna ungu muda, lapisan atas seperti susu.
9. Sedikit zat ditambahkan asam ftalat anhidrat dalam H2SO4 p, panaskan pada api kecil
akan terbentuk warna kuning merah atau coklat, dinginkan lalu tambahkan NaOH 4 N
akan terbentuk warna kuning jingga berflorosensi hijau.
10. Sedikit zat dimasukkan kedalam tabung reaksi, tambahkan larutan 50 mg asam oksalat
dalam 2 ml air dan tambahkan perlahan beberapa tetes asam sulfat pekat sampai
terbentuk lapisan, pada pemanasan perlahan-lahan terbentuk cincin biru pada batas
kedua larutan.

HIDROQUINON
(p-dioxy benzolum)
OH

HO
Kristal jarum halus, warna putih,kena cahaya dan udara menjadi Larut dalam 17 bagian air, 4
bagian etanol, 51 bagian kloroform.
Identifikasi:
1. Dengan penambahan FeCl3 akan terbentuk warna hijau yang berubah menjadi biru
hijau.
2. Dengan penambahan aqua brom akan terbentuk warna kuning muda yang berubah
menjadi jingga.
3. Dengan penambahan perak amoniakal akan terbentuk warna kuning abu-abu lalu
berubah menjadi coklat lama kelamaan menjadi hitam.
4. Reduksi terhadap Fehling akan terbentuk endapan merah bata.
5. Reaksi Lieberman menghasilkan warna merah hijau yang berubah menjadi merah
darah.
6. Zat ditambahkan larutan floroglusin dan NaOH akan menghasilkan warna kuning
merah sampai jingga merah.
7. Zat ditambahkan larutan floroglusin dan NH4OH akan terbentuk warna kuning.

DERMATOL
(Bismuth sub gallat ) Antiseptik
COOH

HO O

O BiOH
Serbuk kuning, tidak berbau. Tidak larut dalam air, etanol, dan eter, mudah larut dalam asam
mineral panas disertai peruraian, larut dalam alkali hidroksida membentuk larutan kuning
yang segera berubah menjadi merah gelap.

33
Identifikasi:
1. Sisa pijar memberikan reaksi terhadap bismuth positif.
- sisa pirolisa berwarna jingga diwaktu panas, kuning setelah dingin.
- larutkan sisa pirolisa dalam asam nitrat encer, pada sebagian larutan tambahkan
beberapa tetes larutan KI, terbentuk larutan hitam yang larut jika pereaksi berlebih
menghasilkan larutan jingga.
2. Dengan penambahan FeCl3 akan terbentuk warna hitam kebiruan/hijau kotor.
3. Dengan penambahan NaOH (atau basa lain) menghasilkan warna merah.

GUAIPHENESIN
(Glyceril Guaiacol) Ekspektoran
O CH3

H
O CH2 C CH2

OH OH

Kristal putih atau keabu-abuan. Larut dalam 33 bagian air, 11 bagian etanol, 11 bagian
CHCl3 dan 100 bagian eter.
Identifikasi:
1. Dengan penambahan FeCl3 menghasilkan warna hijau biru yang berubah menjadi
hijau lama kelamaan menjadi coklat kehijauan.
2. Reaksi marquis menghasilkan warna ungu (dari merah kersen menjadi ungu).
3. Reaksi Mandelin menghasilkan warna hijau abu-abu.
4. Raksi Lieberman menghasilkan warna hitam.
5. Test terhadap gliserin positif yaitu Cuprifil, Carletty dan Mulliken positif.

VIOFORM
OH

I N

Cl

Serbuk putih kekuningan atau kuning kecoklatan, jika kena cahaya warna makin gelap. Tidak
larut dalam air dan etanol, larut dalam 43 bagian etanol panas, 120 Bagian CHCl3 , sangat
sukar larut dalam eter.
Identifikasi:
1. Test Beilstein positif.
2. Panaskan dengan spritus KOH lalu diasamkan dengan HNO 3, larutan memberikan
reaksi positif terhadap ion I- dan Cl-.
3. Didihkan dengan HCl encer, lama–lama akan larut dan mengeluarkan bau iodium.
4. Panaskan dengan H2SO4 pekat akan menghasilkan uap iodium (coklat).
5. Larutan zat dalam etanol ditambahkan larutan FeCl 3 akan menghasilkan warna biru
hijau.
6. Reaksi kristal: Sublimasi

34
ANALSIS SENYAWA GOLONGAN ASAM KARBOSILAT

Tujuan:
1. Agar mahasiswa mampu melakukan reaksi-reaksi untuk mengidentifikasi senyawa
asam karboksilat, berdasarkan gugus fungsi yang terdapat pada tiap senyawa.
2. Agar mahasiswa mampu membedakan senyawa asam karboksilat yang satu dengan
lainnya berdasarkan reaksi yang terjadi.
Asam karboksilat adalah senyawa organik yang mengandung gugus –COOH yang
terikat pada rantai C alifatis, aromatis, siklis atau heterosiklis. Ada yang mempunyai gugus
hidroksi alifatis (Gugus fungsi C, H dan O Alifatis), hidroksi aromatis (fenol), amin dll.
Beberapa contoh senyawa asam karboksilat antara lain:
1. Asam bermartabat (valensi) satu;
- Yang berbentuk cair, misal: asam asetat, asam formiat, asam laktat, asam undesilinat,
dll.
- Yang berbentuk padat, misal: asam benzoat, asam salisilat, asetosal, asam galat, asam
tannat (tannin), asam glukonat, dll.
2. Asam bermartabat (valensi) banyak: mempunyai lebih dari 1 gugus –COOH, misal: asam
oksalat, asam suksinat, asam glutamat, asam tartrat, asam sitrat, dll.

Sifat-sifat umum senyawa asam karboksilat:


Umumnya bersifat asam, dapat bereaksi dengan basa membentuk garam yang mudah larut
dalam air.
Asam bermartabat 1 yang mempunyai rantai C pendek, berbentuk cairan yang mudah
bercampur/larut dalam air. Makin panjang rantai C makin sukar larut dalam air.
Asam aromatis umumnya sukar larut dalam air.
Asam bermartabat banyak umumnya mudah larut dalam air.

Identifikasi senyawa asam karboksilat.


Mengingat tidak adanya reaksi umum terhadap asam karboksilat, reaksi identifikasi dilakukan
terhadap gugus fungsional yang mungkin terdapat pada senyawa karboksilat yang diperiksa.
Reaksi/test yang perlu dilakukan pada analisis asam karboksilat
1. Test organoleptis:
- Bentuk: ada yang cair atau yang padat.
- Bau: yang mempunyai bau chas; misal : asam asetat; asam undesilinat, asam laktat.
- Rasa: umumnya berasa asam, dalam bentuk garam rasanya asin.
2. Kelarutan: asam-asam yang larut dalam air mempunyai pH asam, garam-garamnya
bereaksi netral atau basa lemah.
3. Test nyala NiCr: positif untuk asam-asam dalam bentuk garam.
4. Florosensi: beberapa asam organik berflorosensi di bawah sinar ultraviolet.
5. Sublimasi: beberapa asam aromatis dapat menyublim menghasilkan kristal sublimasi
yang spesifik bentuknya.
6. Pirolisa: positif untuk garam-garam karboksilat, misal: garam natrium (Na benzoat, Na
salisilat, K Na tartrat), garam kalsium (Ca laktat, Ca glukonat), garam Pb (Pb asetat),
garam Zn (Zn asetat, Zn undesilinat) dll.

35
7. Reaksi Baeyer, atau dengan aqua brom: untuk ikatan tidak jenuh, misal: pada asam
undesilinat.
8. Reaksi Azo terhadap asam yang mengandung gugus hidroksi, misal: asam hidroksi
alifatis (sitrat, tartrat, laktat, glukonat); dan asam hidroksi aromatis/mengandung gugus
fenol, (asam salisilat, Bi sub galat, asam tannat).
9. Reaksi Cuprifil: untuk asam polihidroksi alifatis, misal: asam glukonat, asam
gliseroposfat).
10. Reaksi esterifikasi dengan etanol dan H2SO4 pekat: untuk asam asetat, salisilat, dan
benzoat.
11. Reaksi Iodoform: untuk asam laktat.
12. Reaksi dengan FeCl3, aqua brom untuk asam-asam yang mengandung gugus fenol.
13. Test daya reduksi terhadap pereaksi Fehling atau Tollen’s, untuk asam-asam mereduksi,
misal: asam tartrat, asam askorbat.
14. Reaksi Marquis untuk asam yang mempunyai ring aromatis.

36
ASAM ASETAT
(Asam cuka)

HO

O
Cairan jernih tidak berwarna, bau khas menusuk. Dapat bercampur dengan air, etanol dan
gliserin.
Identifikasi:
1. Reaksi esterifikasi dengan etanol dan H2SO4 pekat menghasilkan etil asetat yang dapat
diidentifikasi dari baunya yaitu bau pembersih kutek.
2. Jika dipanaskan dengan CaO akan menghasilkan aseton, yang dapat diidentifikasi
dengan kertas saring yang sudah dibasahi dengan o-nitro benzaldehid dalam etanol
dan dibasakan dengan NaOH, menghasilkan warna biru indigo.
Pereaksi: larutan o-nitro benzaldehid 2% dalam etanol 95%, dan larutan NaOH 1N.
3. Ke dalam larutan zat 5% tambahkan 5 tetes larutan nitrat, 2 tetes larutan iodium 0,1 N
dan 1 tetes NH4OH encer, panaskan hati-hati pada api kecil menghasilkan warna biru.
4. Jika 1 ml zat yang telah dinetralkan ditambahkan 1 ml FeCl 3 10% akan terbentuk
warna merah tua│Fe3(OH)2(CH3COO)6│+, yang jika dipanaskan terbentuk warna
coklat merah, karena terurai menjadi besi asetat basa│Fe(OH) 2CH3COO│.
5. Larutan garam asetat yang pekat dan netral ditambahkan larutan AgNO 3 akan
terbentuk endapan putih.

ASAM BENZOAT

COOH

Kristal putih, tidak berbau. Larut dalam 350 bagian air, 3 bagian etanol (95%), 3 bagian eter,
dan 8 bagian CHCl3.
Identifikasi:
1. Esterifikasi dengan etanol dan H2SO4 menghasilkan etil benzoat yang dapat
diidentifikasi dari baunya yaitu bau pisang ambon.
2. Didihkan 100 mg zat dengan CaCO3 dan 5 ml air, saring, pada filtrat ditambahkan
larutan FeCl3 akan terbentuk endapan kuning coklat atau jingga kekuningan, jika
dikocok dengan eter, maka lapisan eter akan berwarna merah coklat.
3. Reaksi kristal:
- Aseton air

37
- sublimasi keping-keping berpelangi.

NATRIUM BENZOAT

COONa

Butiran atau serbuk putih, tidak berbau. Larut dalam 2 bagian air, 90 bagian etanol (95%).
Identifikasi:
1. Reaksi terhadap natrium positif.
2. Larutan dalam air (1:20) ditambahkan larutan FeCl 3 akan menghasilkan endapan
coklat kemerahan, bila diasamkan dengan HCl encer mengendap sebagai kristal putih.
3. Larutan dalam air diasamkan dengan HCl encer menghasilkan endapan putih karena
terbentuk asam benzoat yang tidak larut dalam air, yang memberikan test positif
terhadap benzoat.
4. Larutan garam benzoat netral ditambahkan larutan AgNO 3 menghasilkan endapan
putih yang dapat larut dalam amonia encer.

ASAM SALISILAT
OH

COOH

Kristal jarum, ringan, warna putih, tidak berbau, rasa agak tajam dan manis. Larut dalam 550
bagian air, 4 bagian etanol, mudah larut dalam eter dan CHCl 3.
Identifikasi:
1. Larutan dalam etanol ditambahkan aqua brom akan terbentuk endapan putih
kekuningan.
2. Reaksi Azo positif, dapat ditarik dengan amil.
3. Dengan penambahan larutan FeCl3 akan terbentuk warna ungu (ungu tua kemerahan).
4. Esterifikasi dengan metanol dan H2SO4 pekat akan menghasilkan metil salisilat yang
dapat diidentifikasi dengan baunya yaitu bau gandapura.
5. Reaksi Marquis menghasilkan warna merah.
6. Larutannya dalam basa (NaOH atau KOH) berflorosensi biru.
7. Reaksi Vitali-Morin menghasilkan endapan merah-jingga.

38
8. Reaksi kristal:
- Sublimasi

- Aseton air

NATRIUM SALISILAT
OH

COONa

Berbentuk sisik-sisik tidak berwarna atau serbuk putih, tidak berbau, rasa manis asin, tidak
enak. Larut dalam 1 bagian air, 11 bagian etanol (95%).
Identifikasi:
1. Reaksi terhadap natrium dan salisilat positif.
2. Larutan zat dalam air ditambahkan asam seperti HCl encar akan terbentuk endapan
putih karena terbentuk asam salisilat yang tidak larut dalam air.

ASAM ASETIL SALISILAT


OH

O C CH3

Kristal serbuk putih, tidak berbau, rasa asam. Agak sukar laruta dalam air, mudah larut dalam
etanol, larut dalam eter dan CHCl3.

39
Identifikasi:
1. Panaskan 200 mg zat dengan 4 ml NaOH akan menguraikan asetosal menjadi natrium
asetat dan natrium salisilat; asamkan, terbentuk asam asetat dan asam salisilat
(endapan putih). Saring residu memberi test terhadap salisilat positif; filtrat memberi
test terhadap asetat positif.
2. Sedikit zat ditambahkan larutan FeCl 3, tidak terjadi reaksi atau terbentuk titik-titik
ungu karena telah terurai sebagian menjadi asam asetat dan asam salisilat.
3. Dipanaskan dengan 2 ml etanol dan 2 ml H2SO4 akan tercium bau etil asetat.
4. Dengan pereaksi Frohde menghasilkan warna biru ungu.
Pereaksi: 0,1 g amonium molibdat dalam 10 ml H2SO4 pekat.
5. Reaksi kristal: sublimasi mirip seperti asam salisilat.
Kristal aseton air:

Kristal sublimasi:

ASAM GLUTAMAT
NH2

HO OH

O O
Kristal bentuk belah ketupat, rasa agak asam. Larut di dalam air 1 : 150, tidak larut di dalam
etanol,acetone, eter dan kloroform.
Identifikasi:
1. Reaksi Ninhidrin

40
Kedalam 1 ml larutan asam glutamat yang netral ditambahkan ninhidrin 1% dalam air,
kemudian dipanaskan sampai mendidih, terbentuk warna biru.
2. Asam glutamat sebanyak 20 mg direaksikan dengan 20 mg resorsin dan 5 tetes asam
sulfat pekat. Campuran ini dipanaskan sampai terbentuk warna biru hijau. Sesudah
dingin ke dalam campuran ditambahkan 30 ml air dan 10 ml larutan ammonia pekat,
larutan berwarna ungu dan berflouresceinsi hijau tua.

ASAM MEFENAMAT
COOH

NH

CH3

CH3

Kristal halus berwarna putih, rasa pahit. Tidak larut didalam air, larut di dalam 200 bagian
etanol, 75 bagian aseton dan 100 bagian eter.
Identifikasi:
1. Asam mefenamat ditambahkan asam sulfat pekat, lalu panaskan di api langsung maka
akan terjadi flouresnsi putih biru, dinginkan, ditambahkan 1 tetes kalium bikromat 0,1
N 1 tetes maka akan terbentuk warna hijau biru.
2. Asam mefenamat dilarutkan didalam etanol lalu ditambahkan FeCl 3 di dalam etanol
maka akan terbentuk warna biru.
3. Reaksi Vitalli Morin: Asam Mefenamat ditambahkan asam nitrat pekat, lalu
dipanaskan di api langsung sampai kering, larutkan di dalam aceton lalu ditambahkan
larutan KOH di dalam aseton maka akan terbentuk warna ungu.
4. Reaksi Lieberman Asam mefenamat dilarutkan didalam HCl 3N sebanyak 2 ml
didinginkan pada suhu 5o C kemudian direaksikan dengan NaNO2 1%. Diamkan
selama 5 menit lalu diencerkan dengan air ml dan dikocok 2 kali dengan eter.
Pisahkan lapisan eter, uapkan sampai kering. Kepada sisa penguapan ditambahkan 50
mg fenol, dipanaskan sebentar, didinginkan, dan direaksikan dengan 1 ml H2SO4
terbentuk warna biru hijau, pekat yang bila hasil reaksi dituangkan kedalam air
berubah merah, jika dibasakan warna hijau biru akan muncul kembali.

ASAM NIKOTIN
N

COOH

Kristal putih. Larut di dalam air dan etanol tidak larut di dalam aseton, eter dan kloroform
Identifikasi:
1. Asam nikotin sejumlah 1 mg dicampur dengan 1 klor 2,4 dinitro benzol lalu
dipanaskan hingga mencair, lalu dinginkan setelah dingin tambahkan KOH etanol 0,5
N maka akan terbentuk warna merah tua.

41
2. Asam nikotin sebanyak 100 mg ditambahkan asam sitrat 10 mg dan 3 tetes asam asetat
anhidrid dipanaskan di penangas air maka akan terbentuk warna merah karmin (ungu
muda).
3. Asam nikotin dilarutkan di dalam air dinetralkan dengan NaOH 0,1 N dan
ditambahkan larutan tembaga sulfat 2%, terbentuk endapan kristal biru terang.

ASAM p-AMINO SALISILAT


(PAS Na)
COOH

OH

NH2

Serbuk putih, voluminus, tidak berbau, rasa agak asam (garam natrium: berasa manis asin).
Larut dalam 700 bagian air, 20 bagian etanol, eter, 10 bagian aseton (garam natrium: larut
dalam 2 bagian air, 30 bagian etanol, 100 bagian aseton, tidak larut dalam eter dan CHCl 3).
Identifikasi:
1. Dengan FeCl3:
- Larutan air menghasilkan warna merah (coklat kemerahan).
- Larutan etanol menghasilkan warna biru ungu.
2. Test terhadap amin primer aromatis positif, yaitu dengan penambahan p-DAB HCl
menghasilkan warna jingga.
3. Sedikit zat dalam 1 ml air ditambahkan 2 tetes NaOH 30% dan 10 tetes larutan
K3 Fe(CN)6 2% menghasilkan warna biru.
4. Dipanaskan dengan Na2CO3 menghasilkan piridin (bau khas).
5. Sedikit zat dipanaskan dengan 2,4 dinitroklor benzen sampai meleleh, dinginkan,
larutkan dalam spiritus KOH 0,5 N akan menghasilkan warna merah anggur tua.
6. Sedikit zat dipanaskan dengan 10 mg asam sitrat dan 3 tetes asam asetat anhidrat,
panaskan di penangas air terbentuk warna ungu muda atau merah karmin.
7. Larutan zat dalam air ditambahkan NaOH 0,1 N sampai netral, lalu tambahkan larutan
CuSO4 2% akan terbentuk kristal biru terang.
8. Larutan zat dalam air ditambahkan sublimat menghasilkan endapan kristal jarum roset.
9. Jika 1 ml larutan zat 0,1% ditambahkan 3 ml larutan sianogen bromida dan 0,5 ml
anilin 2,5% akan terbentuk warna kuning emas (atau jingga).

42
ASAM SITRAT
O OH

HO

HO OH

O
Kristal tidak berwarna atau serbuk putih, tidak berbau, rasa sangat asam, higroskopis. Mudah
larut dalam air, larut dalam 1,5 bagian etanol, sukar larut dalam eter.
Identifikasi:
1. Larutan zat netral ditambahkan larutan CaCl 2 berlebih, tidak terbentuk endapan, tetapi
jika dididihkan terbentuk endapan putih (kalsium sitrat) yang larut dalam asam asetat.
2. Larutan zat ditambahkan pereaksi Deniges (larutan HgSO 4) berlebihan, lalu didihkan,
kemudian ditambahkan beberapa tetes larutan KmnO4 akan menyebabkan warna ungu
hilang dan terbentuk endapan putih susu.
3. Sedikit zat ditambahkan 3,5 ml piridin dan 1,5 ml asam asetat anhidrat, panaskan di
penangas air selama 2-3 menit akan menghasilkan warna merah karmin.
4. Dengan penambahan larutan CuSO4 dan NaOH terbentuk warna biru tua.
5. Asam sitrat tidak mereduksi Fehling dan perak amoniakal tetapi mereduksi KMnO 4
dalam suasana H2SO4 pada pemanasan.
6. Zat dipanaskan dengan H2SO4 pekat akan menghasilkan warna kuning muda lemah.

NATRIUM SITRAT
Kristal tidak berwarna atau serbuk putih, tidak berbau, rasa asin dan dingin. Mudah larut
dalam air, tidak larut dalam etanol.
Identifikasi:
1. Pijar hingga menjadi abu, sisa pijar larutkan dalam air bereaksi basa dan jika ditambah
asam timbul gelembung gas.
2. Reaksi terhadap natrium dan terhadap sitrat positif.

ASAM TARTRAT
OH O

HO
OH

O OH
Kristal tidak berwarna/serbuk putih, tidak berbau, rasa asam. Larut dalam 1 bagian air, 3
bagian etanol, sukar larut dalam eter dan CHCl3.
Identifikasi:
1. Larutan dalam air ditambahkan sedikit kristal resorsin dan teteskan asam sulfat pekat
hati-hati melalui dinding tabung sehingga terbentuk 2 lapisan cairan. Panaskan pada
api kecil pada batas larutan terbentuk warna ungu. Jika pemanasan diteruskan, lapisan

43
asam sulfat berwarna ungu (reaksi Mohler). Jika diencerkan dengan air warnanya
hilang.
2. Sedikit zat ditambahkan piridin dan asam asetat anhidrat, panaskan pada penangas air
2-5 menit akan menghasilkan warna hijau berflorosensi kuning jika dilihat di bawah
sinar UV (untuk garam-garam tartrat reaksi ini negatif).
3. Larutan zat dalam air ditambahkan 1 tetes FeSO4 3% dan 1 tetes H2O2 3% akan
menghasilkan warna kuning. Tambahkan NaOH 3 N setetes demi setetes sampai
berlebihan (warna hilang), akhirnya terbentuk warna biru sampai ungu (reaksi
Fenton).
4. Larutan zat netral ditambahkan larutan AgNO3 akan menghasilkan endapan putih
seperti dadih susu. Endapan dapat larut dalam tartrat berlebih, dalam amonia encer
atau asam nitrat encer.
5. Dapat mereduksi perak amoniakal. Larutan zat ditambahkan larutan AgNO 3, dan
endapan yang terbentuk dilarutkan dengan amonia encer, panaskan di atas penangas
air, terbentuk cermin perak pada dinding tabung.

KALIUM HIDROGEN TARTRAT


(Cream of tartar).
Kristal tidak berwarna atau serbuk putih, rasa asam, larutan pekat bereaksi asam terhadap
lakmus.
Identifikasi:
1. Test terhadap kalium positif (nyala Nichrom, dengan asam pikrat dan dengan natrium
kobalt nitrat).
2. Jika dipijar, tercium bau gula terbakar.
3. Test terhadap tartrat positif.

44
ANALISIS ALKALOIDA DAN SENYAWA NITROGEN

Yang dimaksud dengan alkaloida pada mulanya adalah senyawa-senyawa nitrogen


yang bersifat basa (mirip alkali = alkali oida); yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, yang
dapat mempengaruhi fungsi faal tubuh manusia.
Dengan makin berkembangnya obat-obatan yang dibuat secara sintesis, defenisi alkaloida
menjadi semakin kabur. Pada percobaan ini dilakukan reaksi identifikasi terhadap senyawa
nitrogen yang merupakan alkaloida alam dan senyawa nitrogen yang tidak tergolong pada
sulfonamida, antihistamin dan lain-lain yang dianalisis sendiri.

Sifat-sifat alkaloida:
1. Mempunyai ikatan nitrogen, dapat berupa ami primer, sekunder atau tersier, baik
alifatis, aromatis atau heterosiklis.
2. Dalam bentuk basa umumnya sukar larut dalam air, larut dalam pelarut organik.
3. Dengan asam-asam umumnya dapat bereaksi membentuk garam yang larut dalam air.

Penggolongan alkaloida sangat sukar dilakukan, umumnya dibedakan atas:


Alkaloida alam
Alkaloida sintesis/semi sintesis

Alkaloida alam:
1. Alkaloida opium (misal: morphin, kodein, papaverin).
2. Alkaloida solanaceae (misal: atropin, hiosiamin, skopolamin).
3. Alkaloida kina (misal: kinin, kinidin).
4. Alkaloida dari radix Rauwolfia (misal: reserpin).
5. Alkaloida turunan xantin (misal: kofein, teobromin, teofilin).
6. Alkaloida dari semen Strichni (misal: strikinin).

Alkaloida sintesis/semi sintesis, antara lain:


1. Turunan pirazolon (misal: antipirin, amidopirin, novalgin).
2. Turunan amino benzoat (misal: benzokain, prokain, tetrakain).
3. Turunan akridin (misal: akriflavin, aterbin, rivanol).
4. Senyawa amin alifatis dengan inti aromatis (misal: efedrin, amfetamin, adrenalin).
5. Turunan pirazolidin-dion (misal: fenilbutazon).

Pembagian alkaloida berdasarkan rumus kimia (struktur intinya):


1. Turunan piridin
Misal: nikotin, nikotinamid.
2. Turunan tropan
Misal: skopolamin, atropin dan hiosiamin.
3. Turunan kinolin
Misal: kinin, klorokin.
4. Turunan isokinolin
Misal: papaverin, noskapin

45
5. Turunan xantin
Misal: kofein, teofilin.
6. Turunan fenantrena
Misal: morfin, kodein.
7. Turunan pirazolon
Misal: piramidon, novalgin, antipirin.

Cara isolasi alkaloida dan senyawa-senyawa nitrogen basa.


Cara Stass Otto.
Prinsip pemisahan didasarkan kelarutan zat dalam air atau dalam pelarut organik yang tidak
dapat bercampur dengan air. Dalam bentuk garam, suatu zat lebih mudah larut dalam air,
sedang dalam bentuk basa atau asam, lebih mudah larut dalam pelarut organik.
Cara kerja: sampel dibasakan dengan amonia, lalu dikocok dengan CHCl 3, ambil lapisan
CHCl3, uapkan diperoleh alkaloida basa.

Reaksi-reaksi umum untuk alkaloida/senyawa nitrogen:


1. Reaksi pengendapan/reaksi kristal
2. Reaksi warna.

I. Reaksi pengendapan:
Alkaloida akan menghasilkan endapan (umumnya berupa kristal) jika direaksikan dengan
pereaksi-pereaksi pengendap tertentu.
Cara melakukan reaksi:
Sedikit sampel padat (hasil isolasi) diletakkan pada objek glass, tambahkan 1 tetes HCl 0,5 N
dan 1 tetes pereaksi, akan terbentuk endapan, biarkan beberapa waktu, akan terbentuk kristal,
amati dimikroskop.
Jika endapan yang terbentuk amorf, lakukan rekristalisasi : pada endapan tambahkan 1 atau 2
tetes etanol 90% sampai endapan larut. Biarkan etanol menguap (endapan terbentuk kembali),
dan setelah beberapa waktu amati kembali di bawah mikroskop.
1. Dengan pereaksi Mayer terbentuk endapan putih atau kekuningan.
2. Dengan pereaksi Bouchardat terbentuk endapan kuning coklat.
3. Dengan peraksi Dragendorff akan terbentuk endapan merah jingga sampai merah
coklat.

Pereaksi-pereaksi pengendap lain, antara lain:


1. Larutan K3Fe(CN)6 (1% dalam air).
2. Larutan K4Fe(CN)6 (5% dalam air).
3. Larutan asam pikrat (1% dalam air).
4. Larutan asam pikrolon [jenuh (0,5%) dalam etanol 20%].
5. Larutan HgCl2 5% dalam air (atau HgCl2 padat).
6. Dengan pereaksi Fe kompleks.

Cara: sedikit sampel padat atau hasil isolasi dengan CHCl 3 diletakkan pada objek glass;
tambahkan 1 atau 2 tetes pereaksi. Tutup dengan deck glass (kaca tutup), panaskan pada api
kecil sampai mendidih (jangan sampai kering !). Segera angkat dan biarkan beberapa menit.
Amati di bawah mikroskop.

46
Kristal yang terbentuk umumnya berwarna merah jingga sampai jingga coklat.

II. Reaksi warna


Reaksi warna untuk alkaloida umumnya didasarkan pada gugus fungsional yang terdapat pada
senyawa tersebut.Reaksi umum untuk beberapa golongan senyawa alkaloida, antara lain:
1. Reaksi umum untuk alkaloida Opium:
a. Yang mempunyai inti Phenantrena
Reaksi terhadap gugus phenol:
- Reaksi King (reaksi warna Azo).
- Reaksi dengan FeCl3.
Reaksi terhadap ring aromatis/senyawa Nitrogen:
- Reaksi Marquis.
- Reaksi Frohde.
Pereaksi: larutkan 0,5 g Amonium molibdat dalam 1,5 ml air tambahkan H 2SO4
pekat sampai 100 ml (dibuat baru).
Cara (1): pada plat tetes letakkan sedikit sampel padat, tambahkan 1 tetes pereaksi,
akan terbentuk warna.
Cara (2): 1 tetes larutan sampel ditambahkan 1 tetes larutan Amonium molibdat
0,5%, uapkan sampai kering, lalu tambahkan 1 tetes H2SO4 pekat terbentuk warna.
- Reaksi Mandelin.
Pereaksi: larutkan 0,5 g Amonium vanadat dalam 1,5 ml air, tambahkan H2SO4
pekat sampai 100 ml (dibuat baru).
Cara (1): pada plat tetes letakkan sedikit sampel padat, tambahkan 1 tetes pereaksi,
akan terbentuk warna.
Cara (2): 1 tetes larutan sampel ditambahkan 1 tetes larutan amonium vanadat
0,5%,uapkan sampai kering, lalu tambahkan 1 tetes H2SO4 pekat, terbentuk warna.
b. Yang mempunyai inti isoquinolin
Reaksi terhadap ring aromatis/senyawa nitrogen, antara lain:
Reaksi Marquis; reaksi Frohde dan reaksi Mandelin.
Husemann: asam sulfat (p) dan asam nitrat (p) sama banyak

2. Reaksi umum terhadap alkaloida Solanaceae.


- Reaksi Vitalli-Morin
Sedikit zat pada cawan penguap ditambahkan 1 tetes HNO 3 pekat, panaskan di
penangas air sampai kering. Pada residu (larutan residu dalam aseton) ditambahkan
beberapa tetes larutan KOH 3% dalam etanol, terbentuk warna ungu tua atau biru
ungu.
- Reaksi Wasicky
Sedikit zat pada cawan penguap tambahkan beberapa tetes larutan p DAB 1% dalam
H2SO4 pekat, panaskan di penangas air, akan terbentuk warna ungu.

3. Reaksi umum terhadap alkaloida Kina


- Dalam H2SO4 encer berflorosensi biru.
- Reaksi Thallequin:
1 tetes larutan zat ditambahkan beberapa tetes aqua brom sampai berwarna kuning
muda, lalu tambahkan beberapa tetes NH4OH pekat terbentuk wrna hijau.

47
- Reaksi Erythrocyn:
Beberapa tetes larutan zat dalam tabung reaksi ditambahkan beberapa tetes aqua brom
sampai berwarna kuning, lalu tambahkan beberapa tetes larutan K4Fe(CN)6 dan
NH4OH, kocok dengan CHCl3, lapisan CHCl3 berwarna merah.

4. Reaksi umum untuk alkaloida Xantin.


- Reaksi Murexid (Amalic acid test)
Sedikit zat dalam cawan penguap ditambahkan beberapa tetes HCl atau H2SO4 pekat,
tambahkan beberapa tetes oksidator (H2O2 atau HNO3 pekat atau FeCl3) panaskan di
penangas air sampai kering. Tambahkan uap NH3 atau 1 tetes NH4OH pekat, terbentuk
warna ungu. Jika ditambahkan 1-2 tetes NaOH warna hilang.
- Larutan zat jenuh dalam air dengan penambahan larutan tannin akan menghasilkan
endapan putih, yang larut dalam pereaksi berlebihan.
- Larutan zat dalam air dengan larutan AgNO3 menghasilkan endapan putih (positif
untuk teofilin dan teobromin).

5. Reaksi umum untuk alkaloida turunan Pyridin.


- Sedikit zat dipanaskan dengan Na2CO3 dalam keadaan kering akan menghasilkan
piridin (dikenal dari baunya).

Percobaan pendahuluan dan reaksi umum yang perlu dilakukan pada analisis alkaloida antara
lain:
1. Test pendahuluan:
- Test organoleptis: rasa; umumnya pahit, yang sangat pahit misal: kinin dan
striknin.
- Kelarutan: dalam bentuk garam larut dalam air, pH larutan netral atau asam lemah.
- Test nyala beilstein: untuk garam HCl atau HBr dari alkaloida.
- Test nyala NiCr; misal: untuk novalgin.
- Sublimasi
2. Reaksi umum/reaksi golongan:
- Reaksi Azo, untuk alkaloida yang mengandung gugus hidroksi (alifatis atau
aromatis).
- Dilakukan reaksi warna/reaksi umum untuk menentukan golongan alkaloida yang
diperiksa (sesuai urutan di atas).
- Reaksi Marquis, Frohde, Mandelin, untuk alkaloida yang mengandung ring
aromatis.
- Reaksi dengan p DAB HCl untuk alkaloida yang mengandung gugus amin primer
(misal: alkaloida turunan amino benzoat).
- Reaksi dengan FeCl3 dan aqua brom untuk zat yang mengandung gugus fenol.
- Reaksi dengan AgNO3, untuk mentest adanya garam Cl- atau Br-.
- Dengan BaCl2atau Ba(NO3)2 untuk test garam-garam sulfat.
- Test anion oksidator untuk mentest adanya garam nitrat.
- Reaksi kristal.
3. Reaksi penetapan: Berdasarkan hasil yang diperoleh pada percobaan pendahuluan dan
reaksi umum, dilakukan reaksi khusus terhadap senyawa yang diduga terdapat dalam
sampel. (sesuai monograpf zat yang diduga).

48
MORPHINE
CH3
N

O
HO OH

Serbuk kristal halus, rasa pahit. Biasanya dalam bentuk garam HCl, larut di dalam air, etanol
dan benzen.
Identifikasi:
1. Dengan HNO3 akan terbentuk warna kuning jingga.
2. Reaksi Marquis terbentuk warna ungu.
3. Reaksi Kieffers: Sejumlah 5 mg morphin dilarutkan di dalam air ditambahkan larutan
kalium feri sianida yang mengandung 1 tetes FeCl 3 maka akan terbentuk warna biru
hijau.
4. Reaksi dengan H2O2, NH4OH dan CuSO4 akan terbentuk warna merah.

KODEIN
CH3
N

O
H3CO OH

Serbuk berbentuk kristal, rasa pahit. Dalam bentuk garam HCl dan garam pospat. Larut di
dalam air dingin dan panas, sukar larut di dalam etanol.
Identifikasi:
Kedalam 5 mg zat ditambahkan 5,0 ml asam sulfat dan 1 tetes FeCl3 10%, dan
campuran ini dipanaskan, terbentuk warna hijau yang berubah menjadi biru yang
lama-lama menjadi biru ungu. Setelah larutan dingin, ditambahkan 2 tetes asam nitrat,
warna berubah menjadi merah.

ETIL MORFIN
(Dionin)

HO

O N

H
HO

49
Kristal putih, rasa pahit. Biasanya dalam bentuk garam HCl larut di dalam air, etanol dan
kalau dalam bentuk basa tidak larut didalam air tetapi larut didalam etanol, aseton, eter dan
kloroform.
Identifikasi:
Kedalam 5 mg zat ditambahkan 5,0 ml asam sulfat dan 1 tetes FeCl 3 10%, dan
campuran ini dipanaskan dipenangas air, terbentuk warna biru. Ditambahkan 4 tetes
asam nitrat 3N, warna berubah menjadi merah coklat.

DEXTROMETHROPHAN HBr

Serbuk putih, tidak berbau, rasa pahit. Larut dalam 60 bagian air, 10 bagian etanol, mudah
larut dalam CHCl3, tidak larut dalam eter.
Identifikasi:
1. Zat ditambahkan dengan H2SO4 encer, larutan Hg(NO3)2 dan NaNO2, kemudian
disaring, tidak terjadi warna merah, jika dipanaskan selama 15 menit akan
menghasilkan warna kuning sampai merah.
2. Larutan zat ditambahkan dengan 1 tetes HCl encer dan larutan K3Fe(CN)6 yang
mengandung FeCl3, tidak terjadi warna hijau atau hijau kebiruan.
3. Reaksi Frohde akan menghasilkan warna biru yang berubah menjadi hijau.
4. Zat ditambahkan 2 tetes HNO3 panaskan di penangas air selama 1 menit 100 0C, lalu
dinginkan, kemudian diteteskan 8 tetes air, basakan dengan NaOH akan menghasilkan
warna merah jingga.

NOSCAPIN
(Narcotin, Neocodin)

Serbuk putih, tidak berbau, tidak berasa. Tidak larut dalam air, sukar larut dalam alkohol dan
eter, larut dalam CHCl3. (garam HCl : larut dalam 4 bagian air).
Identifikasi:
1. Dalam cawan porselen 100 mg zat ditambahkan beberapa tetes H2SO4 pekat,
kemudian diaduk akan menghasilkan warna kuning kehijauan, jika dihangatkan akan
menghasilkan warna merah yang berubah menjadi ungu (ungu kotor).

50
2. Larutan zat dalam HCl ditambahkan campuran sama banyak etanol 95% dan larutan
Na Asetat jenuh, setelah 15 menit terbentuk kristal berkilat.
3. Reaksi Mandelin akan menghasilkan warna merah coklat.
4. Reaksi Frohde akan menghasilkan warna hijau yang berubah menjadi merah.
5. Reaksi Marquis akan menghasilkan warna ungu biru.

BRUCIN

Alkaloid sangat pahit yang merupakan turunan dari striknin. Diperoleh dari pohon nux-
vomica Strychnos.
Identifikasi:
1. Dengan reaksi mandelin akan menghasilkan warna jingga.
2. Dengan reaksi frohde akan menghasilkan warna rosa.
3. Dengan reaksi marquis akan menghasilkan warna rosa.
4. Dengan penambahan sam nitrat pekat akan menghasilkan warna merah darah, jika
dipanaskan berubah menjadi kuning dan jika di encerkan dan ditambahkan SnCl 2
berubah menjadi ungu.
5. Reaksi kristal:
- Bouchatdat
- Kalium ferrocyanida
- HgCl2

QUININE
N

H
OH

Biasanya dalam bentuk garam HCl dan garam Sulfat, larut di dalam air, etanol dan kloroform.
Identifikasi:
1. Larutan zat di dalam air atau alkohol berflouresciensi dengan asam sulfat 3N, Asam
nitrat dan asam fosfat encer serta tidak berflouresciensi dengan asam klorida.

51
2. Reaksi Thalleiochin: sejumlah 10 mg zat basa diberikan 1 tetes asam sulfat 3N dan 0,3
ml air brom 2%, kemudian dilarutkan dalam 10 ml air, satu menit kemudian campuran
direaksikan dengan 2 ml amoniak; larutan berwarna hijau.
3. Reaksi Erytrochin: Sejumlah 10 mg zat ditambahkan sedikit asam klorida, kemudian
dilarutkan dalam 1 ml air. Selanjutnya tambahkan 1 ml larutan brom 0,8%, kocok.
Tambahkan 0,5 ml larutan kalium ferri sianida 5%, teteskan 1 ml 0,1 N NaOH dan
tuangkan 2 ml kloroform maka pada lapisan kloroform terbenuk warna merah.

EUCHININ
H2C
CH
H
H

C2H5OOCO N

H
H3CO

Kristal jarum putih ringan, tidak berasa. Larut dalam air, alkohol, kloroform dan asam encer.
Berfluoresensi biru kehijauan dalam asam sulfat encer.
Identifikasi:
1. Zat jika ditambah asamakan menghasilkan gas.
2. Zat dalam air ditambahakan H2SO4 encer, aqua brom dan NH4OH (basakan) akan
menghasilkan warna hijau jernih.

PAPAVERIN
OCH3

H3CO

OCH3

H3CO

Biasanya dalam bentuk garam HCl, kristal putih, tidak berbau rasa agak pahit. Larut di dalam
air dan eter tidak larut di dalam aseton.
Identifikasi:
1. Papaverin padat dilihat di bawah sinar UV akan terlihat flourescienci biru.
2. Reaksi Coralyn Sejumlah 10 mg zat di tambahkan 1 ml asam asetat anhidrid dan 3
tetes asam sulfat pekat, kemudian dipanaskan maka akan terbentuk warna kuning
hijau.
3. Papaverin dipanaskan bersama-sama asam sulfat pekat akan terbentuk warna violet.

52
COFFEIN

O N

N
N

O
Kristal powder, larut di dalam air panas dan chloroform, sedikit larut di etanol dan ether.
Identifikasi:
1. Caffein ditambahkan pereaksi mayer akan membentuk kristal yang spesifik.
2. Caffein ditambahkan Solutio Iodii dan HCl akan membentuk kristal coklat yang larut
dengan NaOH.
3. Caffein ditambahkan NaOH 10 % akan membentuk derivate Imidazol yang bila
ditambahkan acetyl acetone akan terjadi kondensasi dengan 2 mol 4 Dimetylamino
benzaldehyde didalam suasana asam akan membentuk warna biru.
4. Reaksi Kristal:
- Aseton air

- Fe kompleks

53
THEOHYLLINE
O

N
NH

O
N
N

Kristal putih sedikit larut di dalam air panas, larut dalam acetone.
Identifikasi:
1. Reaksi Murexide positif.
2. Sejumlah zat dilarutkan di dalam air panas lalu ditambahkan beberpa tetes perak nitra
maka akan terbentuk endapan gelatin.
3. Reaksi Teofilidin: Sejumlah zat ditambahkan NaOH dipanaskan sampai mendidih lalu
ditambahkan asam sulfanilat terdiazotasi maka akan terbentuk warna merah.
4. Reaksi kristal:
- Fe kompleks

THEOBROMIN
O

HN
N

O
N
N

Granul halus, rasa manis yang kemudian agak pahit. Tidak larut didalam air larut didalam air
panas tidak larut didalam eter.
Identifikasi:
1. Reaksi Murexide positif.
2. Sejumlah 2 mg teobromin di larutkan didalam air panas sebanyak 1 ml lalu
ditambahkan perak nitrat 5% maka akan terbentuk endapan kental yang tembus
cahaya, endapan mudah larut di dalam ammonia.
3. Reaksi kristal:
- Fe kompleks

54
AMINOPHYLLIN

Serbuk berwarna kuning, rasa pahit, dan larut dalam air.


1. Zat bila dibakar bau pandan.
2. Zat bila dipanaskan dengan NaOH, kan menghasilkan gas NH3.
3. Berfluoresensi biru lemah dalam air atau dalam asam sulfat encer.
4. Larutan zat dalam air jika ditambahkan HCl, maka akan mengasilkan endapan putih
teofilin.
5. Reaksi Murexide positif.
6. Reaksi Parri positif.
7. Dengan pereaksi meyer akan menghasilkan endapan ungu.
8. Dengan pereaksi ROUX akan menghasilkan warna coklat.
9. Reaksi kristal:
- Fe kompleks

EMETIN
H3CO
OCH3

NH OCH3
H3CO

N
C2H5

Biasanya di dalam garam HCl. Serbuk putih, tidak berbau, rasa pahit. Sedikit larut di dalam
air, larut di dalam etanol dan aseton.
Identifikasi:
Sejumlah 50 mg Emetin HCl dilarutkan di dalam air lalu diteteskan Merkuri asetat,
Kalium asetat dan 2 tetes asam asetat dalam 1 ml air dipanaskan dipenangas air dalam
waktu setengah jam terbentuk warna jingga dan disertai endapan.

55
BENZOCAIN
O

H2N C

O C2H5
Kristal yang berasa anaestesi, sukar larut di dalam air, etanol, eter dan Chloroform. Larut di
dalam aseton
Identifikasi:
1. Reaksi Simon; Benzocain dipanaskan bersama-sama KHSO4 lalu akan terbentuk
acrolein lalu ditambahkan Na2Fe(CN)5 dan piperidine akan terbentuk warna biru
2. Reaksi untuk Amine primer aromatis: Reaksi Erlich, Reaksi Azo.
3. Zat ditambahkan 0,1 ml asam asetat dan 0,25 ml H2SO4 pekat, panaskan di atas
penangas air akan terbentuk etil asetat yang diidentifikasi dari baunya.
4. Larutan zat dalam HCl encer ditambahkan aqua iod maka akan terbentuk endapan
kuning coklat.
5. Ditambah NaOH dan aqua iod, terbentuk endapan kuning (iodoform).
6. Zat ditambahkan dengan HCl encer dan formalin akan terbentuk endapan putih yang
larut dalam HCl berlebih, panaskan dan dinginkan kemudian tambahkan pereaksi
Mayer akan terbentuk endapan putih (beda dengan anestesi lokal lain).
7. Reaksi kristal:
- Larutan HgCl2
- Asam pikrat
- p DAB HCl
- Dragendorf
- Aseton air
- Fe kompleks

PROCAIN
O

H2N C

O (CH2)2 N(C2H5)2
Dalam bentuk garam HCl, kristal tidak berwarna dengan rasa anaestesi pada lidah.
Identifikasi:
1. Reaksi dengan vitally morin akan terbentuk warna merah, Tetracain warna merah
violet sedangkan lidocain berwarna hijau.
2. Procain dioksidasi dengan KMnO4 dan H2SO4 akan terbentuk warna kuning jingga.
3. Reaksi Amine primer aromatis: Reaksi Erlich, Reaksi Azo.
4. Larutan zat ditambahkan HCl, NaNO2 dan larutan β naftol dalam NaOH terbentuk
warna merah menyala (merah jingga).
5. Zat ditambahkan 2 tetes HCl 7%, 1 ml air dan 2 tetes pereaksi Mayer akan terbentuk
endapan putih kekuningan.
6. Larutkan 5 mg zat dalam 1 ml air ditambahkan 1 ml HCl 3 N, 1 ml fenol 1% dan 2
tetes K2Cr2O7 0,3% akan terbentuk warna merah ungu.
7. Dipanaskan dengan NaOH akan melepaskan uap NH3.

56
8. Test terhadap Cl- positif.
9. Larutan zat dalam air ditambahkan 5 tetes H2SO4 encer dan 2 tetes KMnO4 0,1%
panaskan selama 2 menit akan menghilangkan warna ungu.
10. Zat pada plat tetes ditambahkan serbuk Hg2Cl2 dan 1 tetes air, aduk dan pisahkan
endapan. Endapan akan berubah menjadi abu-abu (Hg) (=kalomel reduksi).
11. Reaksi kristal:
- Asam pikrat
- Meyer

LIDOCAIN
CH3
CH2 N(C2H5)2

NH C

CH3
Lidocain lebih basa dibandingkan dengan procain, biasanya dalam bentuk garama HCl,
Kristal HCl dapat mengabsorpsi air dari udara, larut di dalam air dan etanol, chloroform dan
air tidak larut di dalam eter.
Identifikasi:
1. Pembentukan kompleks dengan kobalt nitrat di dalam suasana alkali membentuk
warna hijau.
2. Pembentukan komplek dengan Cupri sulfat di dalam suasana basa akan membentuk
larutan warna biru tua.
3. Lidocain di hidrolisa dengan Asam sulfat 80% dipanaskan hingga terbentuknya SO 3
yang tercium dari baunya dan terbentuk 2,6 dimetilaniline yang dapat dengan reaksi
Erlich dan reaksi Azo.
4. Reaksi pembentukan garam Meisenheimer.
Lidocain ditambahkan HNO3 maka akan terbentuk derivat dinitro lalu ditambahkan
larutan KOH di dalam aseton/metanol maka akan terbentuk acetonyl anion maka akan
terbentuk warna merah ungu.

PARACETAMOL
OH
O

N
H
Serbuk tidak berwarna, dalam temperature kamar sukar larut di dalam air, larut di dalam
etanol dan larut di dalam air panas.
Identifikasi:
1. Larutan zat ditambahkan dengan larutan FeCl 3 akan menghasilkan warna biru ungu.
2. Campur 100 mg zat dengan 1 ml HCl pekat, didihkan selama 3 menit, kemudian
ditambahkan 10 ml air, lalu didinginkan maka tidak terbentuk endapan, selanjutnya

57
jika ditambahkan 1 tetes K2Cr2O7 0,1 N akan menghasilkan warna ungu yang tidak
berubah menjadi merah (merupakan reaksi perbedaan dengan phenacetin).
3. Larutan zat ditambahkan 2-3 tetes HCl 10%, lalu dinginkan di es, kemudian
ditambahkan 2 atau 3 tetes larutan NaNO2 1% dan 2-3 tetes larutan (r.p) 1% a naftol
dalam NaOH 10% akan terbentuk warna merah atau jingga merah.
4. Reaksi lieberman akan menghasilkan warna ungu.
5. Dengan penambahan pereaksi nessler akan menghasilkan warna coklat kekuningan
(lambat terbentuk).
6. Dengan penambahan perak amoniakal (pereaksi Tollens) akan menghasilkan warna
cermin perak.
7. Zat ditambahkan dengan HNO3 pekat akan menghasilkan warna merah coklat disertai
gas.
8. Zat ditambahkan dengan H2SO4 pekat dan HNO3 akan menghasilkan endapan kuning
jingga disertai gas.
9. Zat ditambahkan dengan aqua brom akan menghasilkan warna kuning jingga.
10. Reaksi Kristal:
- Fe Kompleks

PHENACETIN
H
N

O
O
Phenacetin berbentuk kristal, sukar larut di dalam air larut di dalam etanol dan chloroform.
Identifikasi;
1. Phenacetin di panaskan dengan asam sulfat pekat maka akan terbentuk etanol dan
asam asetat dan akan tercium bau ethyl acetate karena terjadi esterifikasi.
2. Phenacetin dipanaskan dengan K2Cr2O7 maka akan terbentuk warna ungu dan berubah
menjadi merah anggur.
3. Phenacetin dipanaskan bersama-sama asam nitrat encer kemudian didinginkan maka
akan terbentuk warna kuning yang mempunyai titik lebur 102 oC.

58
PHENAZONE
(Antipirin)

O
Kristal halus berwarna putih, higroskopik, tidak berbau dan tidak berwarna, rasa sedikit
manis, sangat mudah larut didalam air, etanol dan kloroform tetapi praktis tidak larut di dalam
ether.
Identifikasi:
1. Antipirin dengan Natrium nitrit dan HCl akan terbentuk 4-nitrosophenazone yang
berwarna hijau pada sinar tampak pada lamda maksimum 660 nm.
2. Antipirin dengan FeCl3 akan terbentuk warna merah darah warna akan hilang bila
ditambahkan asam sulfat encer.
3. Antipirin dihidrolisa dengan asam mineral encer lalu ditambahkan selenium oksid
akan terbebtuk suatu garam diazonium lalu ditambahkan 1 naphthylamin akan
terbentuk warna merah kekuningan yang lamda maksimum 520 nm.
4. Reaksi kristal
- Asam pikrat

AMINOFENAZON
(Pyramidon)

NH2

O
Kristal tidak berwarna, rasa pahit, larut di dalam air, etanol, aseton dan pelarut organik
lainnya.
Identifikasi:

59
1. Pyramidon dilarutkan di dalam air ditambahkan dengan FeCl 3 maka akan terbentuk
warna biru ungu.
2. Pyramidon dilarutkan di dalam air lalu ditambahkan asam sulfat 3 N dan NaNO 3 1%
terbentuk warna biru ungu yang selanjutnya akan memucat.
3. Pyramidon dilarutkan didalam air ditambahkan 1 tetes larutan perak nitrat 5%
terbentuk warna ungu yang lama lama akan hilang dan terbentuk endapan abu-abu dari
logam perak.

PHENYL BUTAZONE

Kristal putih, tidak berwarna, tidak berbau rasa sedikit manis lama lama pahit. Tidak larut di
dalam air, larut di dalam etanol dan ether, larut di dalam kloroform dan NaOH.
Identifikasi:
1. Phenylbutazone dihidrolisis dengan KMnO4 dan asam sulfat maka akan terbentuk
Hydrazobenzen kemudian asamkan dengan HCl maka akan terbentuk benzidine dan
azotasi dengan asam klorida dan natrium nitrit lalu ditambahkan 2-Naphtol maka akan
terbentuk warna biru ungu.
2. Phenylbutazone dilarutkan di dalam asam klorida lalu ditanmbahkan aqua brom maka
akan terbentuk endapan dari 4 bromo phenylbutazone.
3. Phenil butazon ditambahkan asam asetat dan HCl kemudian dipanaskan selama 30
menit dalam air mendidih, sesudah dingin, ditambahkan 10 ml air dan 2 ml pereaksi
Diazo A, terbentuk larutan keruh berwarna hijau lalu ditambahkan diazo B maka akan
terbentuk warna endapan merah coklat.

EPHEDRINE

NH

OH
Ephedrine

Ephedrine terdiri dari 3 monograph yaitu :


a. Ephedrine Base
b. Ephedrine 1/2 H2O
c. Ephedrine HCl

60
Ephedrine di dalam bentuk garam HCl larut di dalam air, etanol tetapi sedikit larut di dalam
CHCl3 dan di dalam ether.
Identifikasi:
1. Reaksi Chen & Kao
Ephedrine ditambahkan Cupri sulfat dan di alkaliskan dengan NaoH akan terbentuk
warna ungu yang bila ditarik dengan Iso butanol akan terbentuk warna ungu
sedangkan pada lapisan air berwarna biru.
2. Larutan Ephedrin 0,2% ditambahkan NaOH 3N 3 tetes dan kalium ferri sianida 5%
sebanyak 3 tetes dipanaskan dipenangas air maka akan tercium bau benzaldehyd, gas
yang menguap akan membirukan lakmus merah.
3. Reaksi Lieberman akan menghasilkan warna merah jingga.
4. Reaksi Marquis akan menghasilkan warna coklat.

ATROPIN
OH

O N

Biasa dalam bentuk garam sulfat, kristal tidak berwarna, dan tidak berbau, rasa pahit. Larut
dalam air panas, dan kloroform.
Identifikasi:
Reaksi Vitalli
Sedikit zat ditambahkan asam nitrat pekat, kemudian diupakan sampai kering, sesudah
dingin ditambahkan spiritus KOH akan menghasilkan warna ungu-merah kersen.

ADRENALIN
(Epinerin)
HO

NH

HO

OH
Adrenalin
Berbentuk kristal putih atau coklat kemerahan, larut didalam asam maupun basa dengan
membentuk garam. Di pasaran adrenalin dalam bentuk garam tartrat berbentuk kristal yang
larut di dalam air 3 banding 1, sedikit larut di dalam etanol dan praktis tidak larut di dalam
ether maupun kloroform.
Identifikasi:
1. Adrenalin ditambahkan larutan iodium dan kelebihan yodium ditambahkan natrium
thio sulfat, maka akan terbentuk warna merah intensif, karena iodium akan
mengoksidasi adrenalin membentuk adrenochrom. Reaksi ini terjadi pada pH 3 – 4.

61
2. Reaksi Rosenthaler
Adrenalin ditambahkan HCl dan Larutan Natrium Nitrit maka akan terbentuk warna
merah.
3. Adrenalin dengan FeCl3 akan terbentuk warna hijau dan akan berubah menjadi merah
bila ditambahkan ammonia.

NIKOTINAMIDA
H2N

O N
Nicotinamide
Kristal tidak berwarna, rasa pahit. Larut di dalam air, etanol, aseton dan tidak larut di dalam
eter.
Identifikasi:
1. Nikotinamid sebanyak 100 mg ditambahkan natrium karbonat dan dipanaskan maka
tercium bau piridin.
2. Nikotinamida dengan penambahak p-DAB HCl akan menghasilkan warna hijau.
3. Nikotinamid ditambah FeCl3 terbentuk warna coklat.
4. Dengan penambahan liguid Nessler terbentuk warna jingga coklat.
5. Dengan Cyanogen bromida menghasilkan warna jingga.
Pereaksi:
- Aqua brom ditambahkan sedikit kristal KCN sampai warnanya hilang, lalu
ditambahkan beberapa tetes aqua brom sampai berwarna kuning pucat.
- Larutan jenuh anilin dalam air.
Cara melakukan:
1 tetes sampel ditambahkan 1 tetes pereaksi terbentuk warna jingga (reaksi ini juga
diberikan oleh asam nikotinat, nikotin, INH, CTM, dan nikotinamid).
6. Sedikit zat didihkan dengan NaOH, dinginkan, tambahkan 1 tetes phenolftalein dalam
etanol lalu tambahkan H2SO4 encer sampai netral, kemudian tambahkan 1-2 tetes
larutan CuSO4 16% terbentuk endapan biru terang.
7. Reaksi kristal:
- Sublimasi
- Fe kompleks
- Dragendorf
- Bouchardat

ISONIAZID
(INH) Anti TBC
H2N

NH

O
Serbuk kristal putih atau tidak berwarna, rasa mula-mula manis diikuti rasa pahit. Larut dalam
8 bagian air, 45 bagian etanol, sukar larut dalam eter dan CHCl 3.

62
Identifikasi:
1. Dengan penambahan reagen nessler akan menghasilkan warna hitam.
2. Dengan penambahan sianogen bromida akan menghasilkan warna jingga.
3. Larutan zat dalam air ditambahkan larutan hangat vanilin dalam air akan
menghasilkan endapan kuning.
4. Jika sedikit zat dipanaskan dengan NaOH, akan tercium bau piridin.
5. Dapat mereduksi Fehling, perak amoniakal dan KMnO4 dalam keadaan dingin.
6. Reaksi kristal:
- Fe Kompleks

SALISILAMID

Kristal putih, rasa pahit dan tidak berbau. Larut dalam air, eter, kloroform, dan alcohol.
Identifikasi:
1. Zat ditambahkan dengan FeCl3 menghasilkan warna ungu yang stabil.
2. Zat ditambahkan dengan NaOH lau dipanaskan akan menghasilan gas NH 3.
3. Reaksi kristal:
- Sublimasi
- Asam pikrat
- Fe Kompleks

63
DIURETIN
(Salisilat Na cum Teobromin Na)
Serbuk putih tidak berbau, rasa manis, asin, pahit. Larut dalam air.
1. Berfluoresensi biru baik padat maupun dalam air.
2. Reaksi Mayer positif.
3. Reaksi murexid positif
4. Reaksi untuk salisilat positif.
5. Reaksi untuk teobromin positif.
6. Reaksi uji nyala dan asam pikrat untuk Na positif.

HEKSAMIN

Serbuk atau kristal putih, rasa pahit.


Identifikasi:
1. Jika dipanaskan (pirolisa) akan tercium bau udang.
2. Zat dipanaskan dengan NaOH akan menghasilkan gas NH3.
3. Zat jika ditambah FeCl3 akan menghasilkan warna coklat.
4. Reaksi kristal:
- Fe Kompleks

METAMPIRON

H3C

N
N
H3C

CH3
Na+-O3S
Serbuk putih atau kekuningan, rasa agak pahit. Larut dalam 1,5 bagian air, 30 bagian etanol,
tidak larut dalam eter, CHCl3 dan aseton.
Identifikasi:
1. Reaksi Frohde akan menghasilkan cincin merah ungu pucat.
2. Reaksi Vitalli akan menghasilkan warna coklat terang / jingga.
3. Reaksi Mandelin akan menghasilkan warna coklat.
4. Reaksi Lieberman akan menghasilkan warna biru.
5. Dengan penambahan lartuan FeCl3 akan menghasilkan warna ungu.
6. Dengan penambahan HNO2 (NaNO2 dan HCl) akan menghasilkan warna biru yang
tidak stabil. Jika dipanaskan pada suhu 1500 akan menghasilkan warna biru ungu.

64
7. Zat ditambahkan oksidator (misal: NaNO2; FeCl3; AgNO3, reagen Millon, dll) akan
menghasilkan warna merah sampai biru.
8. Jika 3 ml larutan zat 10% ditambahkan 1 ml HCl encer dan 1 ml FeCl 3 10% akan
menghasilkan warna biru merah tidak berwarna.
9. Zat ditambahkan KMnO4 dan H2SO4 pekat akan menghilangkan warna ungu dari
permanganat.
10. Larutan zat ditambahkan AgNO3 akan menghasilkan endapan kristal ungu.
11. Dengan penambahan HNO2 (NaNO2 dan HCl) serta β-naftol akan menghasilkan
endapan jingga - coklat hijau.
12. Nyala NiCr akan menghasilkan warna nyala kuning.
13. Test terhadap sulfonat positif.
14. Reaksi kristal:
- Asam pikrat

ETHAMBUTOL
H H
N N

OH OH
Biasanya dalam bentuk garam HCl yang larut di dalam air dan sukar larut di dalam ether.
Identifikasi:
1. Ethambutol di larutkan di dalam air lalu ditambahkan CuSO 4 dan ditambahkan NaOH
sampai alkalis maka akan terbentuk warna biru.

SALBUTAMOL
OH

OH H
N C(CH3)3

OH

Salbutamol
Kristal putih, sukar larut didalam air, sedikit larut di dalam eter dan larut di dalam etanol.
Identifikasi:
1. Reaksi Emerson
Cara kerja: Salbutamol dioksidasi dengan NaOH 10 % lalu ditambahkan Kalium Ferri
Cyanida kemudian dibasakan sampai pH 8 dan tambahkan buffer Na 2HPO4 maka
akan terbentuk warna ungu merah.

65
ANALISIS SULFONAMIDA

Adalah senyawa yang bersifat anti mikroba yang merupakan turunan sulfanilamid (4
amino benzena sulfonamida), dimana 1 atom H pada gugus sulfonamida diganti (disubstitusi
dengan gugus lain.
Rumus umum:
R1 : H atau sisa asam.
R2 : rantai alifatis atau hetero siklis.

Sifat-sifat umum:
1. Senyawa sulfonamida bersifat amfoter, dengan asam mineral (HCl) akan membentuk
garam HCl yang larut dalam air, dalam suasana basa (NaOH) akan membentuk garam
yang larut dalam air.
2. Kelarutan: dalam bentuk bebas umumnya tidak larut/sangat sukar larut dalam air, eter
dan CHCl3. Sedikit larut dalam etanol dan aseton, mudah larut dalam asam mineral
encer dan larutan alkali hidroksida. Dalam bentuk garam natrium, mudah larut dalam
air, sukar larut dalam pelarut dalam pelarut organik.

Reaksi umum:
1. Reaksi terhadap gugus amin primer aromatis positif, (kecuali sulfa-sulfa yang amin
primer aromatisnya telah tersubstitusi, misalnya: ftalil sulfatiazol, suksinil sulfatiazol)
antara lain:
- Reaksi dengan p DAB HCl (reaksi Erlich)
Pereaksi:
1 g p DAB dilarutkan dalam 20 ml HCl 2 N ditambahkan air sampai 100 ml.
Cara melakukan:
Sedikit sampel (padat atau larutan dalam HCl) pada plat tetes ditambahkan 1 tetes
pereaksi, terbentuk warna kuning jingga sampai merah jingga (dapat dilakukan
pada objek glass untuk melihat bentuk kristalnya).
- Reaksi dengan batang korek api
Cara melakukan:
Zat dilarutkan dalam HCl encer, lalu ke dalamnya dicelupkan batang korek api
yang telah dibasahi dengan HCl, maka batang korek api berwarna jingga.
- Reaksi diazotasi (dengan HNO2 dan β naftol)
Pereaksi:
larutan NaNO2 1% dalam air.
larutan β naftol 4% dalam NaOH 2 N.
Cara melakukan: larutkan sedikit sampel dalam HCl 2 N (bila perlu dengan
pemanasan), ditambahkan 1 tetes larutan NaNO2 dan 1 tetes larutan β naftol akan
menghasilkan warna merah terang atau merah jingga.
- Reaksi Indofenol
Sedikit zat dilarutkan dalam NaOH 2 N ditambahkan 1 atau 2 ml air dan sedikit
fenol kristal, lalu dididihkan, dan didinginkan, kemudian ditambahkan sedikit
kaporit atau larutan NaOCl encer, terbentuk warna tergantung pada zat yang
diperiksa.

66
- Reaksi dengan CuSO4
Pereaksi: larutkan CuSO4 1% dalam air.
Cara melakukan:
Zat dilarutkan dalam sedikit larutan NaOH 0,1 N, lalu tambahkan 1-2 tetes
pereaksi dengan warna-warna tergantung pada sulfa yang diperiksa.
2. Reaksi Roux (pereaksi dibuat baru)
Pereaksi:
10 g Na nitroprussid dilarutkan dalam 100 ml air (roux I), ditambahkan 5 ml larutan
NaOH 12% (roux II) dan 5 ml larutan KMnO4 5% (roux III), setelah dicampur
terbentuk endapan warna hijau kotor, saring, gunakan filtrat sebagai pereaksi.
Cara melakukan:
Sedikit sampel pada plat tetes ditambahkan 1 atau 2 tetes pereaksi warna (tergantung
pada sulfa yang diperiksa).
(Catatan : dalam praktek, setiap grup (4 orang ) membuat pereaksi Roux dengan
mencampur 1 ml Roux I dengan 1 tetes Roux II dan 1 tetes Roux III).
3. Reaksi dengan kalium bromat
10 mg zat dalam tabung kecil ditambahkan 1 ml asam sulfat 4 N dan 1 tetes larutan
kalium bromat jenuh warna kuning sampai coklat ungu.
4. Reaksi vanilin dan H2SO4
Untuk sulfa-sulfa yang mempunyai gugus metil pirimidin, misal: sulfamerazin,
sulfamezatin).
Cara melakukan:
Zat pada cawan porselin ditambahkan 1-2 tetes H2SO4 dan sedikit kristal vanilin,
panaskan di atas api kecil warna jingga sampai merah.
5. Pirolisa
Sulfa (dalam bentuk murni) dipanaskan di atas titik lelehnya akan terurai dengan
warna-warna yang berbeda, seperti:
- Sulfanilamid: warna ungu
- Sulfathiazol : warna coklat merah
- Sulfadiazin : warna merah
- Sulfaguanidin: warna ungu
6. Reaksi terhadap gugus sulfon positif.
Zat dioksidasi dengan H2O2 30% atau HNO3 p, lalu ditambahkan larutan garam
barium (BaCl2 atau Ba(NO3)2 putih.
7. Reaksi kristal.
Sulfonamida dengan pereaksi-pereaksi pengendap tertentu akan menghasilkan
endapan yang berupa kristal yang berbeda-beda untuk setiap senyawa, yang dapat
dilihat di bawah mikroskop.
- Sublimasi
- Aseton air atau alkohol air (untuk sulfa-sulfa yang tidak larut dalam air).
Prinsip: sulfonamida larut dalam aseton/alkohol, tidak larut dalam air.
Cara melakukan:
Sampel dilarutkan dalam aseton atau alkohol. Pada objek glass diletakkan 1 tetes
air, lalu di atasnya teteskan 2 tetes larutan sampel dalam aseton, biarkan beberapa
waktu sampai aseton menguap, terbentuk kristal, amati di mikroskop.
- Fe kompleks

67
Cara melakukan:
Sedikit sampel atau isolasi diletakkan pada objek glass, tambahkan 1-2 tetes
pereaksi, tutup dengan kaca tutup, panaskan pada api kecil sampai mendidih
(jangan sampai kering), angkat, dinginkan. Amati di bawah mikroskop.
- Dragendorf
- Asam pikrat
- p DAB HCl
- K4 Fe(CN)6
- Bouchardat
- Asam pikrolon
- Sublimat
- K3 Fe(CN)6
Cara melakukan:
Sedikit sampel dilarutkan dalam HCl encer, letakkan 1-2 tetes larutan pada objek
glass,tambahkan 1-2 tetes pereaksi, biarkan beberapa waktu sampai terbentuk
kristal, amati di bawah mikroskop.

SULFACETAMID
(Albucid)
O

H
H2N S N COCH3

O
Serbuk kristal putih atau putih kekuningan. Larut dalam 150 bagian air, 15 bagian etanol, 7
bagian aseton, sukar larut dalam eter dan CHCl3.
Garam natrium: larut dalam 1,5 bagian air, agak sukar larut dalam etanol dan aseton, tidak
larut dalam eter dan CHCl3.
Identifikasi:
1. Dipanaskan dalam etanol dan H2SO4 pekat akan menghasilkan etil asetat.
Reaksi terhadap amin primer aromatis positif.
2. Larutkan zat dalam HCl encer (bila perlu dengan pemanasan), dinginkan dalam es,
ditambahkan 4 ml larutan NaNO2 1% dan larutan naftol yang mengandung Na asetat
akan menghasilkan warna kuning jingga sampai merah jingga.
3. Dengan penambahan CuSO4 akan menghasilkan endapan biru (hijau kekuningan,
kocok coklat).
4. Reaksi Koppanyi Zwikker akan menghasilkan warna ungu biru.
5. Dengan penambahan p-DAB HCl akan menghasilkan warna jingga merah.
6. Reaksi Indofenol akan menghasilkan warna hijau tua.
7. Reaksi Roux akan menghasilkan warna hijau zamrud (coklat hijau → hijau muda).
8. Test terhadap gugus sulfon: posoitif.
9. Reaksi azo akan menghasilkan warna merah.
10. Dengan penambahan Kalium bromat akan menghasilkan warna kuning yang berubah
menjadi coklat tua.
11. Pirolisa: 500 mg zat dipanaskan dalam tabung, terbentuk cairan warna kuning, terurai
menjadi anilin dan NH3.

68
12. Esterifikasi dengan etanol dan H2SO4 akan menghasilkan etil asetat yang dapat
diidentifikasi dari baunya.
13. Reaksi kristal:
- Aseton air
- Fe kompleks
- Asam pikrolon
- p DAB HCl
- asam pikrat

SULFADIMIDIN
(Sulfamezatin = Sulfametazin)
= sulfadimetil diazin
CH3

O N
H
H2N S N

O N

CH3

Serbuk kristal atau kuning gading, tidak berbau, rasa agak pahit. Sukar larut dalam air, larut
dalam 120 bagian etanol, tidak larut dalam eter, larut dalam 30 bagian aseton, larut dalam
asam mineral encer, larutan alkali hidroksida dan karbonat.
Identifikasi:
1. Reaksi terhadap amin primer aromatis positif.
2. Dengan penambahan CuSO4 akan menghasilkan warna hijau pucat keruh yang
berubah menjadi suspensi abu-abu kecoklatan lalu menjadi endapan coklat kemerahan
(hijau → coklat merah).
3. Kopannyi Zwikker akan menghasilkan warna rosa ungu.
4. Dengan penambahan HgNO3 akan menghasilkan warna hitam
5. Dengan penambahan HNO2 (reaksi Lieberman) akan menghasilkan warna kuning.
6. Reaksi Roux akan menghasilkan warna ungu merah - ungu coklat - hijau tua kotor
(ungu hijau kotor).
7. Dengan penambahan vanilin dan H2SO4 akan menghasilkan warna merah jingga
(merah).
8. Dengan penambahan p-DAB HCl akan menghasilkan warna kuning jingga.
9. Dengan penambahan KBrO3 akan menghasilkan warna ungu coklat - coklat kuning
(ungu lemah).
10. Reaksi Indofenol akan menghasilkan warna merah (hijau tua/hijau biru).
11. Reaksi Parri positif.
12. Reaksi Diazo akan menghasilkan endapan merah.
13. Reaksi kristal:
- Sublimasi
- Bouchardat
- p DAB HCl
- Dragendorf
- Aqua iod
- Fe kompleks

69
- Aseton air

SULFADIAZIN
(Sulfapyrimidin)
O N
H
H2N S N

O N

Serbuk putih atau kekuningan atau agak rosa, tidak berbau dan tidak berasa, jika kena cahaya
menjadi makin gelap. Tidak larut dalam air, eter dan CHCl 3, agak sukar larut dalam asam
mineral encer dan alkali hidroksida.
Identifikasi:
1. Test terhadap amin primer aromatis positif: (dengan NaNO 2 dan β naftol akan
menghasilkan endapan merah jingga).
2. Zat murni ditambahkan larutan resorsinol 5% dalam etanol (95%) dan H2SO4 pekat
akan menghasilkan warna merah tua, encerkan dengan air es, dan dinetralkan dengan
NH4OH encer akan menghasilkan warna biru kemerahan atau biru (= reaksi Raybin).
3. Dengan penambahan NaOH dan CuSO4 akan menghasilkan endapan coklat ungu
(hijau zaitun - abu-abu ungu).
4. Reaksi Koppanyi Zwikker akan menghasilkan warna rosa ungu (Parri : ungu).
5. Reaksi dengan raksa (I) nitrat (HgNO3) akan menghasilkan warna hitam.
6. Reaksi Roux akan menghasilkan warna ungu - hijau - hijau biru.
7. Reaksi Indofenol akan menghasilkan warna merah rosa (hijau kuning - hijau tua).
8. Dengan penambahan p-DAB HCl akan menghasilkan warna jingga kuning.
9. Jika zat dipanaskan akan meleleh dengan warna coklat kemerahan, dan uap yang
dihasilkan bersifat asam (test dengan indikator pH) (test dengan kertas Pb asetat akan
menghasilkan warna hitam).
10. Dengan penambahan KBrO3 akan menghasilkan warna kuning jingga.
11. Reaksi kristal:
- Aseton Air

70
- Fe kompleks
- Asam pikrat
- Sublimasi
- Bouchardat
- Dragendorf
- Aqua iod
- Larutan Na2HPO4

SULFAGUANIDIN
O NH

H
H2N S N C NH2

O
Serbuk putih, tidak berbau, rasa agak pahit, kena cahaya lama-lama agak gelap. Mudah larut
dalam air mendidih (1:10) dan asam mineral e, sukar larut dalam etanol, larut dalam 150
bagian aseton, sukar larut dalam air, tidak larut dalam alkali hidroksida.
Identifikasi:
1. Sedikit zat ditambahkan larutan NaOH 20%, jika tidak larut lakukan pemanasan
sampai larut maka akan tercium bau amoniak.
2. Dengan penambahan HNO2 dan β naftol akan menghasilkan endapan seperti jeli
merah cerah (merah).
3. Dengan penambahan larutan CuSO4 akan menghasilkan warna biru.
4. Reaksi Kopannyi Zwikker akan menghasilkan warna ungu yang segera hilang.
5. Dipanaskan kering dengan hati-hati akan menghasilkan warna ungu (merah ungu)
disertai uap NH3.
6. Dengan penambahan p-DAB HCl akan menghasilkan warna jingga.
7. Reaksi Roux akan menghasilkan warna kuning hijau - hijau coklat - hijau kotor.
8. Reaksi Indofenol akan menghasilkan warna kuning coklat - hijau kuning.
9. Dengan penambahan KBrO3 akan menghasilkan warna ungu - coklat tua.
10. Sedikit zat ditambahkan beberapa tetes HCl encer dan beberapa tetes NaNO 2 dan
beberapa tetes difenilamin dalam spritus akan menghasilkan warna merah ungu,
kocok dengan CHCl3, lapisan CHCl3 hijau kuning.
11. Reaksi Burkat: Zat dilarutkan dalam NaOH encer ditambahkan 1 tetes FeCl 3 0,5 N dan
1 tetes H2O2, kocok dan larutan dibagi 2 :
- Kocok dengan eter, pada lapisan eter tidak berwarna sedangkan lapisan air
berwarna merah.
- Kocok dengan amil alkohol, pada lapisan amil alkohol rosa, sedangkan lapisan air
berwarna merah.
12. Reaksi kristal:
- Aseton air
- Dragendorf
- Asam pikrat
- Fe kompleks
- Asam pikrolon
- p DAB HCl

71
SULFAMERAZIN
(Metil sulfadiazin)

O N
H
H2N S N

O N

CH3

Serbuk putih kekuningan, tidak berbau, rasa agak pahit, jika kena cahaya, lama-lama menjadi
gelap. Sukar larut dalam air, CHCl3 dan eter, agak sukar larut dalam etanol dan aseton, mudah
larut dalam asama mineral encer dan larutan alkali hidroksida.
Identifikasi:
1. Reaksi terhadap amin primer aromatis positif.
2. Dengan penambahan CuSO4 akan menghasilkan endapan hijau zaitun - abu-abu tua -
coklat.
3. Reaksi Koppanyi Zwikker akan menghasilkan warna rosa (pink).
4. Dengan penambahan HgNO3 akan menghasilkan warna hitam
5. Reaksi dengan Vanilin dan H2SO4 akan menghasilkan warna merah.
6. Dengan penambahan p-DAB HCl akan menghasilkan warna jingga merah.
7. Reaksi Indofenol akan menghasilkan warna rosa - hijau.
8. Reaksi Raybin (dengan resorsin dan H2SO4) positif.
9. Reaksi Roux akan menghasilkan warna ungu - biru - hijau.
10. Reaksi Diazo akan menghasilkan warna merah jingga.
11. Reaksi dengan KBrO3 akan menghasilkan warna kuning - jingga.
12. Reaksi kristal:
- Aseton Air

- Sublimasi
- Fe kompleks
- Asam pikrat
- Bouchardat
- Dragendorf
- DAB HCl
- Asam pikrolon

72
SULFASOMIDIN
(Elkosin - Aristamid)
CH3

H
H2N S N N

O
CH3

(isomer sulfamezatin)
Serbuk putih kekuningan, tidak berbau, rasa agak pahit kemudian manis. Tidak larut dalam
air, etanol, eter dan CHCl3, larut dalam 750 bagian aseton, larut dalam asam mineral encer
dan larutan alkali hidroksida.
Identifikasi:
1. Dengan penambahan CuSO4 akan menghasilkan endapan kehijauan (hijau terang).
2. Dengan penambahan HNO2 dan β naftol akan menghasilkan endapan merah jingga
(merah).
3. Reaksi Kopannyi Zwikker akan menghasilkan warna ungu biru yang cepat hilang.
4. Reaksi dengan HNO2 akan menghasilkan warna kuning.
5. Zat dikocok dalam campuran 2,5 ml asam asetat 6 N dan 2,5 ml air, lalu pada filtrat
ditambahkan beberapa tetes pereaksi Mayer akan menghasilkan endapan kuning
terang.
6. Dengan penambahan p-DAB HCl akan menghasilkan warna kuning jingga.
7. Reaksi Roux akan menghasilkan warna ungu coklat - hijau hitam.
8. Reaksi Indofenol akan menghasilkan warna hijau biru.
9. Reaksi dengan KBrO3 akan menghasilkan warna kuning coklat.
10. Vanilin-asam sulfat negatif.
11. Sedikit zat dalam asam asetat 30% ditambahkan reagen Mayer akan menghasilkan
endapan putih (khas untuk elkosin).
12. Reaksi kristal:
- Dragendorf
- Asam pikrat
- Bouchardat
- Sublimasi
- Fe kompleks
- Asam pikrolon
- Aseton air

73
SULFANILAMID
O

H2N S NH2

O
p-aminobenzol sulfonamida.
Serbuk kristal putih, tidak berbau, rasa agak pahit kemudian manis, kena cahaya menjadi
kekuningan, lama-lama menjadi gelap. Larut dalam 200 bagian air, sangat mudah larut dalam
air mendidih, larut dalam 30 bagian etanol, 4 bagian aseton, tidak larut dalam eter dan CHCl 3.
Identifikasi:
1. Jika sedikit zat dipanaskan akan menghasilkan warna biru ungu, pada pemanasan
selanjutnya akan tercium bau anilin dan NH3.
2. Dengan penambahan larutan CuSO4 akan menghasilkan warna biru (endapan putih).
3. Reaksi Kopannyi Zwikker akan menghasilkan warna ungu biru.
4. Dengan penambahan p-DAB HCl akan menghasilkan warna kuning jingga.
5. Reaksi Indofenol akan menghasilkan warna biru langit (biru tinta).
6. Dengan penambahan vanilin dan H2SO4 akan menghasilkan warna kuning hijau.
7. Reaksi Roux akan menghasilkan warna hijau coklat - hijau ungu - hijau kotor.
8. Reaksi Diazo akan menghasilkan warna merah.
9. Reaksi dengan KBrO3 akan menghasilkan warna ungu.
10. Reaksi kristal:
- Sublimasi
- K2CrO4
- Asam pikrat
- p DAB HCl
- Fe kompleks
- Aseton air
- Asam pikrolon

SULFATIAZOL
(Sulfanil Amidothiazol)
O

H2N S NH2

O
Serbuk kristal putih, lama-lama menjadi gelap jika kena cahaya. Sukar larut dalam air, tidak
larut dalam CHCl3 dan eter, larut dalam 120 bagian etanol, larut dalam asam mineral encer
dan larutan alkali hidroksida.
Identifikasi:
1. Reaksi terhadap gugus amin primer aromatis positif.
2. Dengan penambahan larutan CuSO4 akan menghasilkan warna coklat ungu.
3. Reaksi Kopanyi Zwikker akan menghasilkan warna ungu merah.
4. Dengan penambahan HgNO3 akan menghasilkan warna hitam.
5. Reaksi Lieberman akan menghasilkan warna kuning.
6. Dengan penambahan p-DAB HCl akan menghasilkan warna jingga.

74
7. Reaksi Roux akan menghasilkan warna hijau kuning.
8. Dengan penambahan KBrO3 akan menghasilkan warna ungu lemah - coklat.
9. Reaksi Indofenol akan menghasilkan warna hijau muda.
10. Pirolisa akan menghasilkan warna coklat merah yang disertai lepasnya gas NH3 dan
bau anilin.
11. Reaksi Parri akan menghasilkan warna ungu.
12. Reaksi kristal :
- Aseton air
- Bouchardat
- Fe kompleks
- Asam pikrat
- Aqua iod
- Dragendorf

SULFAMETOXAZOL
Serbuk putih atau kekuningan, tidak berbau, mula-mula tidak berasa lalu agak manis.
Tidak larut dalam air, eter dan CHCl 3, larut dalam 20 bagian etanol, 5 bagian aseton, larut
dalam asam mineral (e) dan larutan alkali hidroksida.

Identifikasi:
1. Dengan penambahan HNO2 dan β naftol akan menghasilkan endapan merah jingga.
2. Reaksi Indofenol akan menghasilkan warna kuning emas.
3. Dengan penambahan larutan CuSO4 akan menghasilkan warna hijau.
4. Reaksi Lieberman akan menghasilkan warna kuning.
5. Reaksi Koppanyi Zwikker akan menghasilkan warna ungu biru.
6. Reaksi kristal:
- Larutan Na2HPO4

75
ANALISIS BARBITURAT

Senyawa barbiturat (barbital) adalah golongan obat tidur (hipnotik/sedatif yang


merupakan turunan asam barbiturat ureida siklis).
Rumus umum:
O
NH
R1
R4
R2
N
O
R3
Umumnya: R1 atau R2 adalah alkil atau aril.
R3 adalah H atau CH3.
R4 adalah O (barbiturat) atau S (tio berbiturat).
Ada juga hipnotika yang merupakan senyawa turunan ureum (ureida alifatis), yang kerjanya
sama dengan barbiturat; yaitu adalin dan bromural.
Di samping itu ada senyawa lain yang bukan turunan asam barbiturat, tetapi mempunyai sifat
yang sama dengan turunan asam barbiturat; yaitu senyawa hidantoin, yang digunakan sebagai
anti epilepsi (ayan).

Rumus dasar:
R1
H
R2 N

R5

R3 N
R4

Sifat-sifat umum:
Senyawa barbiturat umumnya berupa serbuk putih, tidak berbau dan rasanya pahit. Bersifat
asam lemah karena dapat bertautomeri menjadi bentuk keto-enol. Bentuk enol bersifat asam
karena dapat terionisasi.
O O O
NH NH NH
R1 R1 R1
O OH O- + H+
R2 R2 R2
N N N
O O O
R3 R3 R3

Kelarutan: senyawa barbiturat hampir tidak larut dalam air, agak mudah larut dalam etanol
dan aseton, agak sukar larut dalam eter dan chloroform. Larut dalam alkali hidroksida
membentuk garam. Garam barbiturat mudah larut dalam air; larutannya dalam air tidak stabil
dan mudah terhidrolisa.

76
Reaksi umum:
1. Jika dipanaskan dengan NaOH akan membebaskan NH3 yang dapat di test dengan
lakmus merah basah.
2. Reaksi Parri
Pereaksi: larutan CoCl2 atau Co(NO3)2 1% dalam metanol absolut
Cara melakukan:
letakkan sedikit sampel padat pada cawan penguap, tambahkan 1 tetes pereaksi, uapkan
di atas penangas air sampai kering. Tambahkan 1 tetes amoniak pekat atau uap NH 3;
terbentuk warna ungu.
3. Reaksi Kopannyi Zwikker (Prinsip reaksi = reaksi Parri)
Pereaksi:
larutan Co(NO3)2 1% dalam etanol.
Cara melakukan:
1 tetes larutan sampel dalam etanol diletakkan pada plat tetes, ditambahkan 1 tetes
pereaksi dan 1 tetes piridin atau pirolidin, terbentuk warna ungu.
4. Reaksi Zwikker (= reaksi Parri, di sini digunakan CuSO4 dengan basa piridin).
Pereaksi:
4 ml larutan CuSO4 10% dicampur dengan 1 ml piridin dan 5 ml air.
Cara melakukan:
Sedikit sampel padat atau larutan sampel dalam etanol diletakkan pada plat tetes
ditambahkan 1 tetes pereaksi; akan terbentuk warna ungu atau ungu biru.
Catatan: sebagai basa, selain piridin dapat juga digunakan larutan borax
(Na2B4O7).
5. Reaksi-reaksi terhadap rantai samping pada barbital.
- Adanya ikatan tidak jenuh: dengan penambahan aqua brom atau larutan KMnO4
dan asam sulfat; akan menghilangkan warna pereaksi.
- Adanya rantai aromatis (ring benzena).
- Reaksi Ekkert (=reaksi Marquis).
Cara melakukan:
10 mg sampel ditambahkan 4 tetes asam sulfat pekat dan 1 tetes formalin,
panaskan di atas penangas air, terbentuk warna merah anggur. Reaksi ini positif
untuk luminal.
- Reaksi nitrasi
Cara melakukan: sedikit sampel ditambahkan 20 mg KNO 3 atau NaNO3 dan 1 ml
asam sulfat pekat, biarkan, akan terbentuk warna kuning.
6. Reaksi warna yang lain untuk barbital :
- Dengan asam sulfat pekat akan menghasilkan warna yang berbeda-beda.
- Dengan vanilin dan asam sulfat pekat.
- Cara melakukan:
Pada plat tetes sedikt sampel dicampur dengan sedikit kristal vanilin dan asam
sulfat pekat, akan terbentuk warna.
- Dengan α naftol dan asam sulfat pekat.
Cara melakukan:
Sedikit sampel pada plat tetes dicampur dengan sedikit kristal a naftol dan 1 tetes
asam sulfat, akan terbentuk warna.
7. Reaksi kristal untuk senyawa barbital:

77
- Sublimasi
- Aseton - air: sedikit sampel dilarutkan dalam aseton, lalu teteskan pada setetes air
di atas objek glass. Biarkan aseton menguap, akan terbentuk kristal.
- Dragendorf: larutkan sedikti sampel dalam etanol atau NaOH, teteskan pada objek
glass dan tambahkan 1-2 tetes pereaksi, biarkan beberapa waktu, akan terbentuk
kristal berwarna jingga merah sampai jingga coklat.
- Bouchardat: cara sama dengan reaksi Dragendorf, terbentuk kristal berwarna putih
kekuningan.
- Zwikker: cara sama dengan reaksi Dragendorff, terbentuk kristal berwarna biru
ungu.
- Fe kompleks: sedikit sampel padat atau larutan dalam etanol diletakkan pada objek
glass, tambahkan 1-2 tetes pereaksi, tutup dengan deck glass, panaskan pada api
kecil sampai mendidih (jangan sampai kering), angkat, biarkan dingin, terbentuk
kristal jingga merah sampai coklat.

PHENOBARBITAL
(Luminal)
O

HN

HN

Serbuk kristal putih, tidak berbau, rasa agak pahit.


Sukar larut dalam air, larut dalam 8 bagian etanol, 15 bagian aseton, 20 bagian eter dan 70
bagian chloroform (garam natriumnya mudah larut dalam air, larut dalam 10 bagian etanol,
tidak larut dalam eter dan aseton).
Identifikasi:
1. Reaksi Parri akan menghasilkan warna ungu terang.
2. Sedikit zat dilarutkan dalam H2SO4 pekat tambahkan sedikit natrium nitrit, hangatkan,
terbentuk warna kuning jingga sampai jingga merah (reaksi Lieberman).
3. Larutkan 20 mg zat dalam 1 ml air dan 2 tetes NaOH 8%, pada larutan jernih
tambahkan 4 tetes larutan asam sitrat 9%, terbentuk endapan putih (beda dengan
veronal).
4. Larutkan 10 mg zat dalam 10 ml air dengan pemanasan, dinginkan, tuangkan ke dalam
campuran (0,5 ml KBrO3 1,5%, 50 mg KBr, 1 ml HCl 7% dan 5 ml air), kocok,
terbentuk warna kuning kemerahan (beda dengan heksobarbital).
5. Larutan sampel dalam metanol ditambahkan larutan kobalt asetat, panaskan,
tambahkan sedikit larutan borax, panaskan sampai mendidih terbentuk warna biru
ungu (=reaksi Parri).
6. Dengan penambahan K2Cr2O7 akan menghasilkan warna hijau.
7. Dengan penambahan α naftol dan asam sulfat pekat akan menghasilkan warna ungu.
8. Garam natrium: memberi test positif terhadap natrium (nyala Nichrom, asam pikrat
dan zink uranil asetat).
9. Reaksi kristal:

78
- Aseton air
- Fe kompleks
- Zwikker
- Dragendorf
- Bouchardat

DIPHENILHIDANTOIN NATRIUM
(Phenitoin natrium) anti epilepsi

+
Na -N

NH

O
Serbuk kristal putih, higroskopis. Jika kena udara mengabsorpsi CO2 dan melepaskan
phenitoin.
Identifikasi:
1. Sedikit zat ditambahkan 4 ml chloroform dan 0,1 ml CoCl 2 3% lalu dikocok, akan
terbentuk endapan voluminus dalam larutan yang berwarna ungu biru. Jika
ditambahkan uap NH4OH akan menghasilkan warna biru.
2. Larutan 10 mg zat dalam 1 ml air ditambahkan 1 ml NH4OH 10%, panaskan pada api
kecil sampai mendidih, kemudian dinginkan tambahkan 1 tetes larutan CuSO 4 16%,
lalu dikocok, maka akan terbentuk larutan ungu biru disertai endapan hijau biru, jika
dibiarkan selama 3 menit, endapan akan berubah menjadi jarum-jarum rosa (= reaksi
Zwikker).
3. Reaksi Zwikker akan menghasilkan endapan biru.
10 mg zat dilarutkan dalam 1 ml piridin 10% ditambahkan 2 tetes pereaksi Zwikker
akan menghasilkan endapan biru atau biru ungu.
4. Reaksi Lieberman akan menghasilkan warna jingga merah.
5. Sampel ditambah 1 tetes NaOH, akan terbentuk warna merah keunguan tidak stabil
disertai bintik-bintik merah ungu.
6. Pada 1 tetes larutan sampel diteteskan pada kertas saring yang sudah dibasahi dengan
larutan natrium orto fosfat, tambahkan 1 tetes larutan HgNO3 terbentuk warna hitam.
7. Reaksi kristal:
- Zwikker

BROMURAL
(Bromvaleton = Bromeval)
H3C O O
H H
CH C C N C NH2
H3C
Br

79
Hablur putih, ringan, tidak berbau dan tidak berasa. Larut dalam 400 bagian air, dalam 8
bagian etanol, 10 bagian aseton, 15 bagian eter. Larut dalam larutan NaOH, asam klorida dan
asam nitrat, mengendap jika diencerkan.
Identifikasi:
1. Dipanaskan dengan NaOH 3 N menghasilkan NH3 (membirukan lakmus merah).
Larutan dibagi 2:
- Bagian pertama diasamkan dengan 1 ml H2SO4 3 N, lalu ditambahkan 1 ml CHCl3
dan 1 ml larutan kloramin T 3%, kemudian dikocok, lapisan CHCl3 berwarna
coklat.
- Bagian kedua diasamkan dengan asam sulfat encer, lalu dipanaskan, tercium bau
khas (asam valerat), dan jika larutannya diasamkan dengan HNO3 dan
ditambahkan AgNO3, terbentuk endapan kuning pucat AgBr, yang dapat larut
dalam NH4OH pekat.
2. Sedikit zat ditambahkan larutan KBrO3 dan H2SO4 akan menghasilkan warna coklat.
3. Jika 100 mg zat ditambahkan 500 mg natrium karbonat anhidrat, panaskan pada api
kecil, larutkan dalam 5 ml air panas, setelah dingin tambahkan asam asetat, saring,
filtrat ditambahkan aqua klor, terbentuk warna kuning coklat. Larutan dibagi 2:
- Bagian 1 dikocok dengan CHCl3, lapisan CHCl3 berwarna coklat.
- Bagian 2 ditambahkan beberapa tetes larutan fenol, terbentuk endapan putih.
4. Reaksi kristal:
- Sublimasi
- Aseton air

80
ANALISIS SENYAWA TIOL DAN DISULFAN

Senyawa tiol dianggap sebagai analog alkohol dimana atom O diganti dengan S.
senyawa tiol umumnya berupa cairan atau zat padat yang mudah menguap, berbau busuk
(khas); Dalam larutan pekat berada dalam bentuk dimer, tetapi dalam larutan encer berupa
monomer. Tiol bersifat asam lemah, tetapi lebih kuat dari alcohol yang sesuai, perbedaannya
5-6 satuan pKa. Keasamannya berkurang dengan bertambahnya panjang rantai dan
bertambahnya cabang. Spektrum IR disebabkan oleh vibrasi S-H, C-S atau S=O / S-O.
Sebagai garam lemah, tiol dapat membentuk garam yang sukar larut dengan ion-ion
logam berat seperti timbal, merkuri, perak dan tembaga. Pereaksi yang umum digunakan
adalah Pb(CH3COO)2 dan Hg(CN)2.

Reaksu Umum:
1. Beberapa tetes tiol ditambahkan larutan Pb asetat jenuh dalam etanol menghasilkan
endapan kuning.
2. Reaksi Nitrosasi: dengan HONO akan menghasilkan warna merah atau hijau pucat,
tergantung pada senyawa yang diperiksa.
Cara melakukan: ke dalam 1 ml eter larutkan 10 mg senyawa yang mengandung S,
tambahkan 1 tetes HCl 6 N dan beberapa tetes larutan NaNO 2, kocok. Amati warna
yang terbentuk. Alkil merkaptan primer dan sekunder menghasilkan warna merah;
alkil merkaptan tersier (R3CSH), tio eter dan disulfide menghasilkan warna hijau pucat
sampai kuning pada lapisan eter. Sulfoksida, sulfon, sulfinat, dan sulfonat tidak
bereaksi.
Catatan: selain HONO, juga dapat digunakan n-butyl nitrit atau etil nitrit.
3. Reaksi dengan aqua brom atau aqua iod. Merkaptan teroksidasi menjadi disulfide
(RSSR) dan menghilangkan warna aqua brom/ aqua iod.
4. Reaksi dengan pereaksi Benedict. Merkaptan (R-SH) dan tiofenol (Ar-SH) dapat
bereaksi dengan pereaksi benedict menghasilkan endapan kuning. Alkil merkaptan
tersier hanya menghasilkan warna biru, seperti yang dihasilkan oleh senyawa yang
mengandung gas sulfisa atau disulfida.
Cara melakukan:
0,2 g senyawa tiol disuspensikan dalam 3 ml larutan NaHCO3 10% ditambahkan 2 ml
larutan Benedict, bila perlu didihkan selama 1 menit, merkaptan alifatis dan aromatis
menghasilkan endapan kuning. Alkil merkaptan tersier menghasilkan warna biru.
5. Reaksi dengan 2,6 diklorofenol indofenol, tiol menghilangkan warna pereaksi.
Larutan tiol ditambahkan larutan 2,6 diklorofenol indofenol (biru) akan
menghilangkan warna biru karena terbentuk senyawa fenolamin dan tiol teroksidasi
menjadi disulfisa R-S-S-R.
6. Tiol juga dapat mereduksi garam tetrazolinum dalam suasana basa menghasilkan
formazan yang tidak berwarna.
7. Reaksi dengan Palladium Klorida (PdCl2) akan menghasilkan warna merah, jingga,
kuning, coklat, atau hitam.
Pereaksi:
Larutkan dengan pemanasan 0,1 g PdCl2 dalam 5 ml HCl 2N, encerkan dengan air
samapi 100 ml. campur larutan ini sama banyak denagn NaOH 2N.

81
Cara melakukan:
Campur sampel dalam 1 ml pereaksi, panaskan dalam penangas air (100 oC) selama 2
menit. Lakukan percobaan blanko.
8. Reaksi dengan natrium nitroprusida dalam suasana basa akan menghasilkan warna
warna ungu.
Pereaksi:
Larutan Natrium nitroprusida 1%
Cara melakukan:
Campur sampel dengan sedikit mungkit NaOH 2N, uapkan sampai kering. Larutkan
residu dalam 2 tetes air, dan tambahkan 0,5 ml pereaksi.

METIL TIO URASIL


H
H3C N S

NH

O
Serbuk Kristal putih. Hampir tidak larut dalam air, larut dalam 150 bag air mendidih, 800 bag
etanol, sukar larut dalam kloroform dan eter, larut dalam NH4OH dan NaOH.
Identifikasi:
1. Kedalam larutan jenuh mendidih ditambahkan sama banyak larutan segar yang
mengandung 0,4 % natrium nitroprusida, 0,4 % hidroksilamin clorida dan 0,8 %
Na2CO3 akan menghasilkan warna warna biru kehijauan.
2. Kedalam 25 mg zat ditambahkan aqua brom tetes demi tetes samapi larut sempurna,
lalu didinginkan, selanjutnya ditambahkan larutan BaCl2 akan menghasilkan endapan
putih, dan pada penambahan NaOH tidak berubah menjadi ungu.
3. Zat dilarutkan dalam NH4OH encer kemudian tambahkan larutan AgNOs akan
menghasilkan warna hijau kotor (putih keabuan).
4. Zat dilarutkan dalam NH4OH encer ditambahkan larutan CuSO4 10 % akan
menghasilkan warna hijau disertai dengan endapan abu-abu.
5. Reaksi Kristal:
- Aseton air
- Fe-Kompleks

PROPIL TIO URASIL


H
H3C N S

NH

O
Serbuk Kristal putih atau krem pucat, rasa pahit. Sangat sukar larut dalam air, 60 bagian
aseton, sukar larut dalam kloroform dan eter, larut dalam larutan alkali hidroksida dan
NH4OH.

82
Identifikasi:
1. Kedalam larutan jenuh mendidih ditambahkan sama banyak larutan segar yang
mengandung 0,4 % natrium nitroprusida, 0,4 % hidroksilamin clorida dan 0,8 %
Na2CO3 akan menghasilkan warna warna biru kehijauan.
2. Kedalam 25 mg zat ditambahkan aqua brom tetes demi tetes samapi larut sempurna,
lalu didinginkan, selanjutnya ditambahkan larutan BaCl 2 akan menghasilkan endapan
putih, dan pada penambahan NaOH tidak berubah menjadi ungu.
3. Zat dilarutkan dalam NH4OH encer ditambahkan larutan AgNO3 akan menghasilkan
warna hijau kotor (putih keabuan).
4. Zat dilarutkan dalam NH4OH encer ditambahkan larutan CuSO4 10 % akan
menghasilkan warna hijau disertai dengan endapan abu-abu.
5. Reaksi Kristal:
- Fe-Kompleks
- Aseton air

KAPTOPRIL
COOH H SH

N CH3

Serbuk Kristal putih atau hamper putih, bau seperti sulfida. Larut dalam air, etanol, kloroform
dan metanol.
Identifikasi:
1. Dengan penambahan larutan Palladium klorida akan menghasilkan warna jingga.
2. Dengan penambahan Natrium nitroprusid akan menghasilkan warna ungu.

83
ANALISIS SENYAWA DERIVAT ASAM SULFONAT

KLORAMIN T
NCl

H3C NaOS

O
Serbuk Kristal putih atau agak kuning. Terurai di udara dan kehilangan klor menjadi berwana
kuning dan sukar larut dalam air. Berbau klor dan rasa pahit. Larut dalam 7 bagian air, 2
bagian air mendidih, 12 bagian etanol, dan perlahan-lahan terurai. Tidak larut dalam
kloroform dan eter. Lartan 5% mempunyai pH 8-10.
Identifikasi:
1. Larutan dalam air membirukan lakmus merah, dan akhirnya menjadi putih, dalam hal
ini lakmus mula-mula dihidrolisis, kemudian dioksidasi.
2. Larutan 500 mg zat dalam 10 ml air ditambahkan 10 ml H2SO4 encer (3%) akan
menghasilkan endapan putih yang larut jika campuran dipanaskan. Saring larutan
panas dan biarkan mendingin akan menghasilkan endapan Kristal putih, setelah dicuci
dengan air dan dikeringkan mempunyai TL 137 oC.
3. Jika zat dipijar akan terurai dan residu dapat di uji terhadap Na+ dan SO4-2
4. Larutan zat ditambahkan H2O2 akan menghasilkan endapan putih (p-toluen
sulfinamida), yang meleleh pada 137-140oC.
5. Reaksi Kristal:
- Asam pikrat

HIDROKLOROTIAZID
O O O O

S S
H2N NH

Cl N
H
Serbuk kristal putih, tidak berbau, rasa agak pahit. Tidak larut dalam air, kloroform dan eter,
larut dalam 200 bagian etanol, 20 bagian aseton, dapat larut dalam larutan alkali hidroksida.
Identifikasi:
1. Reaksi dengan asam kromatropat akan menghasilkan warna ungu
Cara melakukan:
- Kedalam 10 mg zat ditambahkan 10 mg asam chromatropat, 1 ml air dan 5 ml
H2SO4, kemudian diaduk akan menghasilkan warna merah ungu.
- Jika 10 mg zat dicampur dengan 1 ml H2SO4 yang mengandung 2 mg Na
Chromatropat, aduk selama 2 menit akan menghasilkan warna ungu.
2. Reaksi Koppanyi Zwikker akan menghasilkan warna ungu.
3. Reaksi Lieberman akan menghasilkan warna hijau biru.
4. Test terhadap –NH2, -Cl organik dan sulfon (-SO2-) positif.
Sedikit zat dipanaskan dengan larutan NaOH akan menghasilkan gas (NH 3) yang
membirukan lakmus merah. Larutan dibagi 2:

84
Bagian 1: diasamkan dengan HNO3 ditambahkan larutan AgNO3 akan menghasilkan
endapan putih yang larut dalam NH4OH encer.
Bagian 2: menghilangkan warna aqua iod, dan jika larutan ini ditambahkan larutan
BaCl2 akan menghasilkan endapan putih.
5. Larutkan zat dalam larutan NaCO3 5% ditambahkan larutan KMnO4 1% akan
menghasilkan warna coklat, jika dibiarkan terbentuk endapan koloid warna coklat.
6. Campur 50 mg zat dengan 2 ml HCl 3N, panaskan pada penangas air selama 30 menit
sambil tetap ditambah HCl. Kedalam larutan ditambahkan 2 tetes diazo A, lalu
dituangkan kedalam diazo B akan menghasilkan warna jingga.
7. Reaksi Kristal:
- Aseton air

85
ANALISIS ANTIHISTAMIN

Antihistamin adalah larutan bahan obat yang digunakan untuk menghambat efek histamin
terhadap tubuh. Merupakan senyawa nitrogen yang bersifat basa, sebagian besar dapat
bereaksi dengan asam membentuk garam yang larut dalam air.

Sifat Umum:
Umumnya berupa serbuk putih, tidak berbau, rasa pahit. Garam antihistamin umumnya larut
dalam air, sukar larut dalam pelarut organik.

Reaksi Umum:
Dengan asam-asam pekat umunya menghasilkan warna, jika diendapkan dengan air warna
berubah atau hilang.
Percobaan pendahuluan dan reaksi umum yang perlu dilakukan pada analisis antihitamin
antara lain:
- Test nyala Beilstein, untuk garam HCl.
- Reaksi dengan larutan AgNO3.
- Reaksi dengan asam-asam pekat (mis: H2SO4 p, HNO3 p), pereaksi Erdman (campuran
H2SO4 dan HNO3), pereaksi Merquis, pereaksi Frohde, pereaksi Mandelin (amonium
vanadat 0,1% dalam H2SO4 pekat).
- Reaksi dengan pereaksi Lieberman.
- Reaksi dengan aqua brom
- Reaksi dengan FeCl3
- Reaksi dengan pereaksi Roux
- Reaksi dengan larutan p DAB HCl

Cara melakukan percobaan:


Sedikit sampel padat diletakkan pada plat tetes, tambahkan 1-2 tetes pereaksi, bila perlu
diaduk. Amati warna yang terbentuk.

Reaksi kristal untuk antihistamin:


- Sublimasi
- Sublimat (HgCl2)
- Asam pikrat
- Asam pikrolon
- Kalium Ferrosianida
- Kalium Ferrisianida
Berdasarkan hasil yang diperoleh, dilakukan reaksi khusus terhadap antihistamin yang diduga.

86
DIPHENHYDRAMIN HCl
(Benadril)

Serbuk kristal putih, tidak berbau, rasa pahit disertai rasa tebal. Mudah larut dalam air, etanol,
CHCl3, agak sukar dalam aseton, sangat sukar larut dalam eter.
Identifikasi:
1. Reaksi Frohde akan menghasilkan warna kuning terang.
2. Reaksi Mandelin akan menghasilkan warna kuning terang (kuning kenari – kuning
jingga).
3. Reaksi Marquis akan menghasilkan warna kuning (kuning kenari – kuning jingga).
4. Dengan penambahan H2SO4 pekat akan terbentuk warna jingga yang berubah menjadi
jingga merah.
5. Reaksi Lieberman akan menghasilkan warna jingga coklat.
6. Jika 5 mg zat ditambahkan campuran 0,5 ml HNO3 p dan 0,5 ml H2SO4 p akan
menghasilkan warna ungu yang segera berubah menjadi merah lama kelamaan
menjadi kuning.
7. Dengan penambahan HNO3 pekat akan menghasilkan warna coklat ungu yang
berubah menjadi merah rosa dan lama kelamaan menjadi hijau.
8. Reaksi Erdman akan menghasilkan warna kuning jingga.
9. Dengan penambahan Aqua Brom akan menghasilkan warna kuning disertai endapan.
10. Reaksi kristal:
- Asam pikrat
- Asam pikrolon
- K3 Fe(CN)6
- K4 Fe(CN)4
- HgCl2

CHLOR PHENIRAMIN MALEAT


(CTM)

Serbuk kristal putih, tidak berbau, rasa agak pahit. Larut dalam 4 bagian air, 10 bagian etanol,
10 bagian CHCl3, sangat sukar larut dalam eter.

87
Identifikasi:
1. Larutan 5 mg dalam 2 ml air ditambahkan reagen Nessler (K2HgI4 basa) akan
menghasilkan endapan putih.
2. Larutan 5 mg dalam 2 ml air ditambahkan dengan 3 tetes FeCl3, kemudian dididihkan
akan menghasilkan warna jingga kuning.
3. Larutan dalam 10 mg dalam 1 ml NaNO2 1% ditambahkan 1 ml asam sulfanilat (0,5 g
dalam 150 ml Hac 30%), dipanaskan sampai mendidih akan menghasilkan warna
jingga kuning.
4. Larutan 5 mg dalam 2 ml air ditambahkan 1 tetes larutan KMnO4 1%, warna ungu
akan hilang.
5. Dengan penambahan aqua brom akan menghasilkan warna kuning disertai endapan.
6. Dengan penambahan p-DAB HCl akan menghasilkan warna biru hijau lemah.
7. Dengan penambahan larutan FeCl3 akan menghasilkan warna coklat merah.
8. Reaksi Kristal:
- Asam pikrolon
- NH4 reinekat
- Asam pikrat

ANTAZOLIN HCl
(Antistin)

Serbuk kristal putih, rasa pahit. Larut dalam 50 bagian air, 16 bagian etanol, sangat sukar larut
dalm CHCl3 dan eter.

Identifikasi:
1. Reaksi Mandelin akan menghasilkan warna purlpe kemerahan (ungu merah).
2. Reaksi Vitallin akan menghasilkan warna merah tua/coklat kuning/jingga coklat.
3. Rekasi Lieberman akan menghasilkan warna merah.
4. Larutan 50 mg dalam 5 ml air ditambahkan 0,5 ml asam nitrat pekat, terbentuk warna
merah yang berubah menjadi hijau tua.
5. Pada 10 mg zat ditambahkan 0,5 ml air dan 0,5 ml p DAB HCl, lalu dididihkan,
terbentuk warna ungu.
6. Reaksi Vitalli-Morin akan menghasilkan warna merah.
7. Dengan penambahan HNO3 pekat akan menghasilkan warna merah hitam sampai
merah terang.
8. Dengan penambahan Aqua Brom akan menghasilkan warna kuning disertai endapan.
9. Dengan penambahan CeSO4 akan menghasilkan warna merah darah yang berubah
menjadi hijau biru (hijau kotor), lama kelaman menjadi ungu.
10. Reaksi kristal:

88
- Larutan Na2CO3 → kristal jarum
- Larutan KCN → kristal jarum dan batang
- Asam pikrat / HCl 0,5 N
- Asam pikrolon / HCl 0,5 N
- K4 Fe(CN)6 / HCl 0,5 N

MEBHIDROLIN NAPADISYLATE
(Incidal)

Serbuk putih, sangat sukar larut dalam air, etanol, CHCl 3 dan eter.
Identifikasi:
1. Reaksi Marquis akan menghasilkan warna biru abu-abu.
2. Reaksi Frohde akan menghasilkan warna biru terang.
3. Reaksi Mandelin akan menghasilkan warna biru terang.
4. Reaksi Vitalli akan menghasilkan warna hijau kuning.
5. Reaksi Kristal:
- Larutan HgCl2 → jarum-jarum roset.
- Larutan KCN → roset.

CHLORPROMAZIN HCl
(Largactil)

Serbuk kristal putih, kena cahaya lama-lama berubah menjadi kuning - rosa - ungu. Sangat
mudah larut dalam air, larutan dalam 1,3 bagian etanol, 1 bagian CHCl 3, tidak larut dalam
eter.
Identifikasi:
1. Reaksi lieberman akan menghasilkan warna coklat merah.
2. Reaksi Mandelin akan menghasilkan warna hijau - ungu - merah ungu.
3. Reaksi Marquis akan menghasilkan warna ungu merah.
4. Reaksi Frohde akan menghasilkan warna ungu biru - merah ungu (purple).
5. Larutan 5 mg zat ditambah 2 ml H2SO4, setelah 5 menit terbentuk akan menghasilkan
warna warna merah.

89
6. Larutan zat 1% dengan HNO3 pekat akan menghasilkan warna merah tua dan berubah
menjadi kekuningan.
7. Dengan penambahan larutan FeCl3 akan menghasilkan warna merah.
8. Reaksi Vitallin-Morin akan menghasilkan warna jingga.
9. Pada 5 mg zat ditambahkan beberapa tetes H2SO4 pekat akan menghasilkan warna
merah muda - merah tua - coklat.

PROMETHAZIN HCl
H3C CHY3

CH3

S
Serbuk putih atau kekuningan, kena udara lama-lama teroksidasi menjadi berwarna biru, rasa
pahit agak membakar, anestesi. Larut dalam 6 bagian air, 9 bagian etanol, 2 bagian CHCl 3,
tidak larut dalam eter.
Identifikasi:
1. Reaksi Mendalin akan menghasilkan warna hijau - ungu.
2. Reaksi Marquis akan menghasilkan warna ungu.
3. Jika 5 mg zat ditambahkan 2 ml H2SO4 pekat, setelah 5 menit menjadi merah.
4. Larutan zat dalam air ditambahkan 50 mg PbO, lama-lama menjadi biru.
5. Dengan asam nitrat pekat akan menghasilkan warna merah tua lama-lama menjadi
kekuningan.
6. Reaksi Frohde akan menghasilkan warna ungu hitam - merah ungu.
7. Reaksi Vitalli akan menghasilkan warna merah ungu - kuning.
8. Jika 1 mg zat ditambahkan 1 ml asam sulfat pekat akan menghasilkan warna merah
muda, kemudian ditambahkan 1 tetes HNO3 akan menghasilkan warna hijau tua.

90
ANALISIS VITAMIN

VITAMIN C
(Ascorbic Acid)
OH HO
HO

O OH
O
Serbuk kristal putih atau kekuningan. Tidak berbau, rasa asam. Larut dalam 3,5 bagian air, 25
bagian etanol, tidak larut dalam eter, CHCl3 dan benzen.
Identifikasi:
1. Jika 1 ml larutan zat 2% ditambahkan 1 ml fehling, terbentuk endapan kuning jingga
yang berubah menjadi endapan merah kecoklatan (reduksi positif).
2. Larutan 50 mg dalam 2 ml air ditambahkan 4 tetes larutan metil biru, hangatkan
sampai 40o akan terjadi perubahan warna dari biru tua menjadi tidak berwarna.
3. Larutan 50 mg dalam 2 ml air ditambahkan 1 tetes larutan natrium nitropssid 5% (r.p),
2 ml NaOH encer lalu 0,6 ml HCl, kemudian diaduk, akan menghasilkan warna
kuning yang berubah menjadi biru.
4. Larutan 40 mg zat dalam 4 ml air ditambahkan 0,1 g NaHCO3 dan 20 mg FeSO4,
kemudian dikocok, akan menghasilkan warna ungu tua. Jika ditambahkan 5 ml H2SO4
10%, warna ungu akan hilang.
5. Larutan dalam air ditambahkan 1-2 tetes HNO3 13% dan 1-2 tetes AgNO3 4% akan
menghasilkan endapan abu-abu tua.
6. Mempunyai daya reduksi kuat (terhadap aqua brom, KMnO4, perak amoniakal, 2,6-
diklorfenol indofenol natrium, dll).
7. Vitamin C dinetralkan sampai pH 6-8 kemudian ditambahkan larutan FeCl3 akan
menghasilkan warna ungu.

VITAMIN B6
(Pyridoxin HCl)
HO OH

HO N HCl
Serbuk kristal putih, tidak berbau, rasa asam pahit. Larut dalam 5 bagian air, 100 bagian
etanol, tidak larut dalam aseton, eter dan CHCl 3.
Identifiasi:
1. Dengan penambahan larutan FeCl3 akan menghasilkan warna merah coklat, jika
ditambahkan dengan HCl ence, warna merah akan hilang menjadi warna kuning.
2. Jika 0,5 ml larutan asam sulfanilat (0,1 g dalam 30 ml asam asetat) ditambahkan 3
tetes larutan NaNO2 1%, 1 ml NaOH 3N dan larutan sampel akan menghasilkan warna

91
kuning tua sampai jingga, lalu jika ditambahkan 2 ml asam asetat 3N akan
menghasilkan warna jingga sampai merah.
3. Larutan zat ditambahkan 1 tetes larutan CuSO4 2% dan 1 ml NaOH 3N akan
menghasilkan warna biru ungu.
4. Larutan zat ditambahkan 1 ml larutan diklorokinon klorimida 0,04% dalam etanol
absolut dan 1 tetes NH4OH akan menghasilkan warna biru.
5. Jika percobaan dilakukan dengan lebih dahulu menambahkan larutan asam borat 3%
kedalam larutan zat, tidak terbentuk warna biru.
6. Test terhadap klorida positif (dengan beilstein dan AgNO3)
7. Reaksi Frohde akan menghasilkan warna biru pucat
8. Reaksi Mandelin akan menghasilkan warna biru yang berubah menjadi hijau abu-abu
lama kelamaan menjadi hijau.
9. Reaksi kristal:
- Bouchardat
- Dragendorf
- Fe Komplek
- Asam pikrat.

VITAMIN M
(Asam Folat = Asam Pteroil Glutamat)
HO

HN

N HN

N O O

H2N N HO

HN

Serbuk kristal kuning jingga, tidak berbau dan tidak berasa. Sangat sukar larut dalam air, tidak
larut dalam etanol, eter, CHCl3, aseton dan benzen; mudah larut dalam HCl e panas dan
H2SO4 e panas menghasilkan larutan kuning pucat,; larutan coklat jingga jenih.
Identifikasi:
1. Larutkan 20 mg zat dalam 2 ml HCl 7% ditambahkan 2 tetes fenol liq dan 3 tetes
larutan KBrO3 1,5% akan menghasilkan warna merah tua.
2. Larutkan 20 mg zat dalam campuran 18 ml air, dan 2 ml NH4OH 10%. Larutan dibagi
dua:
- Pada tabung 1 : 5 ml larutan zat ditambahkan 0,5 ml KMnO4 1%.
- Pada tabung 2 : 1 ml larutan zat ditambahkan 5 ml air.
Lalu pada kedua tabung ditambahkan 2 ml NaNO2 1% dan 2,5 ml HCl 7%, campur,
biarkan selama 2 menit, lalu ditambahkan 3 ml larutan (0,25 g B naftol dalam 15 ml
NaOH 8%); pada tabung 1 akan menghasilkan warna merah, tabung 2 akan
menghasilkan warna kekuningan.
3. Larutan dalam NaOH berfloresensi hijau biru.

92
VITAMIN B2
(Riboflavin; Lactoflavin)
OH

OH

OH
OH

N N O

NH
N

Serbuk kristal kuning sampai kuning jingga, rasa agak pahit. Sangat sukar larut dalam air dan
etanol, tidak larut dalam eter dan CHCl 3, mudah larut dalam basa encer.
Identifikasi:
1. Larutan 1 mg dalam 100 ml berwarna kuning pucat kehijauan, berfloresensi hijau
kekuningan, jika ditambahkan asam, basa atau reduktor, floresensi hilang.
2. Larutan zat ditambahkan larutan AgNO3 akan menghasilkan warna merah yang
berubah menjadi merah jingga (merah kersen)
3. Zat ditambahkan H2SO4 pekat akan menghasilkan warna larutan merah cherry.
4. Zat ditambahkan Zn dan HCl akan menyebabkan warna kuning hilang.
5. Reaksi Iodoform positif.

VITAMIN B1
(Thiamin HCl)
Cl-

N
N+

HO
S H2N N

Serbuk putih, bau lemah mirip ragi, rasa pahit.


Mudah larut dalam air, sukar larut dalam etanol, tidak larut dalam eter.
Identifikasi:
1. Reaksi thiochrom: 10 mg zat ditambahkan 3 ml NaOH 1N, 2 tetes larutan K 3Fe(CN)6
5% (dibuat baru) dan iso butanol, kocok-kuat selama 2 menit, setelah terpisah, lapisan
iso butanol berfloresensi biru ungu. Jika diasamkan akan hilang, dan jika dibasakan
akan muncul kembali.
2. Zat ditambahkan larutan NaOH 3N akan menghasilkan warna kuning.
3. Zat ditambahkan 1 ml larutan Pb Asetat 10% dan 2 ml NaOH 6N akan menghasilkan
endapan kuning, jika dipanaskan mejadi coklat dan terbentuk endapan hitam PbS.
4. Reaksi Vitalli: zat dalam cawan porselin ditambahkan 1 tetes HNO3 pekat, uapkan di
atas penangas air dan tambahkan 1 tetes spritus KOH (r.p) akan menghasilkan warna
kuning pucat.
5. Uji Belstein positif.
6. Larutan zat dalam air ditambahkan 1 tetes larutan AgNO 3 akan menghasilkan endapan
putih.

93
7. Reaksi kristal:
- Mayer
- Bouchardat
- Dragendort
- Asam pikrat
- Fe komplek s

94
ANALISIS ANTIBIOTIKA

Antibiotika adalah senyawa yang bersifat anti mikroba. Ditinjau dari rumus kimia, antibiotika
mempunyai struktur kimia yang berbeda-beda, yang menyebabkan reaksi indentifikasi juga
berbeda.

Antibiotika dibagi atas beberapa golongan, antara lain :


1. Turunan amino glikosida, misalnya: gentamisin, kanamisin, neomisin, netilmisin, dan
lain-lain.
2. Turunan klorafenicol, misalnya:
Chloramphenicol alcohol dan ester-esternya (ester palmitat, stearat, dan suksinat).
Tiamfenikol.
3. Senyawa makrolida, misalnya:
Erithromisin dan ester-esternya (ester etil suksinat, stearat) medikamisin.
4. Turunan penisilin, misalnya:
Amoksilin, ampisilin, benzilin penisilin, fenoksi metil penisilin, kloksalin, penisilillin
G, dll.
5. Turunan sephalosporin, ,misalnya
Sefadroksil, sefalotin, (Na), sefazolin (Na), Sefotaksim.
6. Turunan Tetrasiklin, misalnya:
Chlor tetrasiklin, oksi tetrasiklin, tetrasiklin (HCl, posfat komplek), dll.
7. lain-lain, misalnya: dihidrostreptomisin, Nistatin, Polimiskin, Streptomisin, Basitrasin
(Zn). Rifampisin.

Percobaan / test yang perlu dilakukan pada analisa senyawa antibiotika, antara lain:
1. Test organoleptis:
Bau: beberapa antibiotika mempunyai bau yang chas, misalnya : turunan penisilin,
Warna: putih, kuning (turunan tertracyclin), merah (rifampisin).
Rasa umumnya pahit, sangat pahit: kloramfenikol.
2. kelarutan: sebagian larut dalam air, terutama yang berada dalam bentuk grama
(dengan basa ataupun dengan asam).
3. Test nyala: Test Beilstein untuk garam halogenida atau mengandung halogen. Test
nyala Nichrom: untuk garam kalium atau natrium.
4. Reaksi azo: untuk senyawa yang mengandung gugus alcohol (mis: streptomisin,
kanamisin, dll) dan gugus fenol (mis: turunan tetrasiklin).
5. Dengan FeCl3: untuk senayawa yang mengandung gugus fenol (mis: turunan
tetrasiklin).
6. Reaksi Marquis, Frohde, Madelin: untuk senyawa yang mengandung cincin aromatis
atau senyawa nitrogen.
7. Reaksi dengan asam sulfat pekat; asam nitrat pekat atau campuran asam sulfat pekat
dengan sedikit asam nitrat pekat: untuk senyawa yang mengangung cincin aromatis.
8. Reaksi Fehling : untuk senyawa – senyawa mereduksi.
9. Reaksi dengan asam kromotropat dan asam sulfat pekat: untuk senyawa penisilin.

95
Cara: dalam tabung reaksi masukkan 2 mg penisilin, tambahkan 2 mg natrium
kromotropat dan 2 ml asam sulfat pekat, panaskan dalam penangas air, terbentuk
warna yang berbeda untuk tiap senyawa, dan tergantung pada lama pemanasan.
10. Reaksi pembentukan asam hidroksamat, untuk turunan penisilin
11. Reaksi Sakaguchi: untuk senyawa yang mengandung gugus guanidine
12. Reaksi Maltol: untuk streptomisin dan dihidrostreptomisin.
13. Reaksi kristal:
- Aseton air (untuk yang tidak larut dalam air)

CHLORAMPHENICOL
(Kemicetin; Chloromycetin)
OH OH

O NH O-
N+

O
Cl Cl

Serbuk putih sampai putih keabuan atau kristal putih keuningan berbentuk jarum. Rasa sangat
pahit. Larut dalam 400 bagian air, 2,5 bagian etanol, 7 bagian propilen glikol, larut dalam
asseton, sangat sukar larut dalam eter.
Identifikasi:
1. Test Belstein positif.
2. Dipanaskan dengan 2 ml spiritus KOH diatas penangas air selama 15 menit, saring,
filtrat memberi test terhadap Cl positif (dengan larutan endapan putih AgNO3).
3. Direduksi dengan Zn dan H2SO4 encer atau HCl encer, test terhadap amin primer
aromatis positif.
4. Dengan penambahan 3 tetes HCl encer, 3 tetes NaN02 10% dan 5 tetes larutan β-naftol
(10 mg dalam 5 ml NaOH 15%) akan menghasilkan warna merah jingga.
5. Larutan zat dalam piridin ditambahkan 2 ml larutan KOH 5%, panaskan 1000C selama
3 menit, lalu didinginkan, maka lapisan piridin akan berwarna merah dan lapisan air
berwarna kuning.
6. Reaksi kristal:
- aseton air

- alkohol air

96
CHLORAMPHENICOL Palmitat
Serbuk putih, licin, bau lemah, hampir tidak berasa. Tidak larut dalam air, larut dalam 45
bagian etanol 95%, 6 bagian CHCl3, 14 bagian eter.
Identifikasi:
1. Test terhadap chloramphenicol positif

CHLORAMPHENICOL Stearat
Serbuk putih, tidak berasa, tidak larut dalam air.
Identifikasi:
1. Test terhadap chloramphenicol positif
2. Test terhadap stearat: panaskan 100 mg zat dengan 5 ml HCl encer dan 10 ml air pada
api kecil hingga mendidih, berbentuk tetesan minyak yang naik kepermukaan,
dinginkan, pisahkan lapisan lemak, panaskan dengan NaOH 0,1 N dinginkan, larutan
menjadi gudir (kental).
3. Reaksi kristal:
- Aseton air

CHLORAMPHENICOL Natrium Suksinat


Serbuk putih atau kekuningan, tidak berbau.
Mudah larut dalam air dan alcohol, tidak larut dalam CHCl 3.
Identifikasi:
1. Larutkan zat dalam piridin ditambahkan 2 ml larutan KOH 5%, panaskan 1000C
selama 3 menit, dan didinginkan, lapisan piridin berwarna merah dan lapisan air
berwarna kuning.
2. Jika 100 mg zat ditambahkan 200 mg resorsin dan 4 tetes H2S04, panaskan diatas
penangas air sampai terbentuk warna merah, tuangkan larutan hati-hati kedalam cawan
berisi air akan menghasilkan larutan berwarna kuning jingga dengan floresensi hijau.
3. Test terhadap chloramphenicol positif.

STREPTOMISIN

Serbuk putih, tidak beerbau, rasa agak pahit, higroskopis. Larut dalam air, sangat sukar larut
dalam alcohol, eter dan CHCl3.
Identifikasi:
1. Reaksi terhadap gugus guanidine: zat dipanaskan kering pada penangas gliserin
sebesar sampai 2500, akan menghasilkan NH3.

97
2. Zat dipanaskan dengan diacetil dan kalsium oksida menghasilkan warna merah jingga.
3. Reaksi sakaguchi: pada larutan 1 mg zat dalam 5 ml air ditambahkan 1 ml larutan
NaOH 10% dan 1 ml larutan a naftol 0,05% dalam etanol. Dinginkan pada + 150,
tambahkan 3 tetes larutan natrium hipoklorit encer, terbentuk warna merah/merah
ungu.
4. Maltol test: ½ mg zat dilarutkan dalam beberapa tetes air, tambahkan 1 tetes NaOH 1
N, panaskan diatas penangas air selama 5 menit, kemudian didinginkan, selanjutnya
ditambahkan 1 tetes larutan (100 mg besi (III) ammonium sulfat dalam 5 ml asam
sulfat 1N atau HCl 1N yang dibuat baru); terbentuk warna merah ungu atau merah tua.
5. Pada 1 tetes larutan zat 5% ditambahkan 1 ml air dan 1 tetes pereaksi Roux, terbentuk
warna merah delima; tambahkan 1 tetes asam asetat 2 N, warna berubah menjadi
kuning.
(Pereaksi Roux: 1 g Natrium nitroprussid dilarutkan dalam 4 ml air, ditambahkan 1 ml
NaOH 1 N dan 5 ml KMnO4 0,3 %, diamkan 24 jam ditempat gelap, lalu disaring).
6. Pada 10 mg zat ditambah 1 ml NaOH 1N, panaskan di penangas air 5 menit, kemudian
didinginkan, lalu ditambahkan 1,5 ml HCl 7% dan 1 tetes larutan FeCl3, terbentuk
warna ungu intensif (=modifikasi Maltol test).
7. Larutkan 10 mg zat dalam 2 ml pereaksi (0,1245 g DAB dilarutkan air, dan
ditambahkan 0,2 ml FeCl3 (dibuat baru)), kemudian dipanaskan diatas penangas air 2
menit, akan menghasilkan warna ungu.
8. Test terhadap sulfat positif yaitu dengan penambahan BaCl 2 akan terbentuk endapan
putih.

TETRACYCLIN HCl
(Achromycin)

Serbuk kristal kuning, tidak berbau. Larut dalam 10 bagian air, 100 bagian etanol, tidak larut
dalam aseton, eter dan CHCl3.
Identifikasi:
1. Reaksi azo akan menghasilkan warna merah, dapat ditarik dengan amil alcohol.
2. Jika 0,5 mg zat ditambahkan 2 ml H2SO4 pekat akan menghasilkan warna ungu
sampai merah ungu, jika dencerkan dangan air atau dibiarkan akan berubah menjadi
kuning.
3. Larutan zat ditambahkan dengan 1 tetes larutan FeCl3 1% akan menghasilkan warna
coklat atau merah coklat.
4. Reaksi Marquis akan menghasilkan warna jingga lemah.
5. Reaksi Frohde akan menghasilkan warna ungu hitam.
6. Reaksi Mandelin akan menghasilkan warna ungu yang berubah menjadi merah dan
lama kelamaan menjadi jingga.
7. Reaksi vitally akan menghasilkan warna kuning / kuning / coklat.

98
8. Reaksi kristal:
- Dengan larutan Natrium karbonat
- Dengan larutan natrium posfat

OKSITETRASIKLIN HCl
(Terramycin).
Serbuk kristal kuning, tidak berbau, rasa pahit, hidgroskopis. Larutan dalam 2 bagian air
menghasilkan jernih, dan jika dibiarkan menjadi keruh.
Identifikasi:
1. Dengan asam sulfat pekat akan menghasilkan warna merah tua, jika diencerkan
dengan air, berubah menjadi kuning.
2. Reaksi Marquis akan menghasilkan warna jingga lemah
3. Reaksi Frohde akan menghasilkan warna ungu hitam
4. Reaksi Mendelin akan menghasilkan warna merah ungu yang berubah menjadi merah,
lama kemalaan menjadi jingga.

AMOKSISILLIN
H2N O O

HN N
OH

H
S

HO
Serbuk kristal putih, bau spesifik. Larut dalam 400 bagian air, 1000 bagian alkohol, 200
bagian metanol, sangat sukar larut dalam eter, kloroform dan minyak.
Identifikasi:
1. Reaksi dengan asam chromatropat, panaskan pada 150o selama 4 menit, mula-mula
tidak berwarna kuning - ungu - merah bara.
2. Dengan pereaksi fehling akan menghasilkan warna warna lembayung (magenta).
3. Larutkan 2 tetes aniline dalam campuran (1 ml HCl dalam 3 ml air), dinginkan dalam
es, lalu tambahkan larutan 200 mg NaNO2 dalm 1 ml air. Tambahkan campuran ini
setetes demi setetes ke dalam larutan 100 mg zat dalam 2 ml NaOH akan
menghasilkan warna merah cheri tua dan endapan coklat tua.
4. Dengan pereaksi millon akan menghasilkan larutan merah dan endapan yang lebih
merah, ini merupakan test untuk fenol yang posisi ortho-nya bebas, (Ampisillin
menghasilkan endapan putih dengan larutan yang berwarna kuning).

AMPISILLIN
H2N O O

HN N
OH

H
S

99
Serbuk kristal putih, rasa pahait. Bentuk bebas: larut dalam 170 bagian air, sangat sukar larut
dalam alkoho, eter, CHCl3, aseton dan minyak. Bentuk garam natrium: larut dalam 2 bagian
air, 50 bagian aseton, sangat sukar larut dalam CHCl 3, tidak larut dalam eter, paraffin cair dan
minyak.
Identifikasi:
1. Test chromotropat: mulat-mula tidak berwarna, berubah menjadi ungu, akhrinya
menjadi merah bara.
2. Dengan larutan Fehling akan menghasilkan warna ungu megenta (merah ungu).
3. Reaksi Lieberman akan menghasilkan warna jingga.
4. Letakkan 2 tetes larutan 0,1 % ninhidrin pada kertas saring, keringkan pada 105 0C,
tambahkan 2 tetes larutan 0,1% sampel, panaskan pada 1050C selama 5 menit, akan
terbentuk warna merah kebiruan.
5. Larutkan zat ditambahkan 0,1 g hidroksilamin HCl dan 1 ml NaOH, setelah 5 menit
asamkan dengan HCl, tambahkan 10 tetes larutan FeCl 3, terbentuk warna merah ungu
(merah ungu kotor).
6. Larutkan 5 mg zat dalam 1 ml air, tambahkan 1-2 tetes FeCl3 2,5%, larutan berwarna
kekuningan jernih.
7. Reaksi Marquis: mula-mula tidak berwarna, panaskan diatas penangas air selama 2
menit, dinginkan, terbentuk warna kuning.

TIAMFENIKOL
OH Cl

H
N
Cl

O
H3CO2S OH

Serbuk kristal putih atau kekuningan, sukar larut dalam air, eter dan etil asetat, larut dalam
asetonitril dan DMF
Identifikasi:
Tes terhadap sulfon, klorida, amin dan hidroksi positif.

100
DAFTAR PUSTAKA

Auterhoff. H, Kovar. K.A., 1987. Identifikasi Obat. Terjemahan oleh Sugiarso. N.C., penerbit
ITB Bandung.
Clarke’s. 1986. Isolation and Identification of Drug. 2nd edition. The Pharmaceutical Press.
London.
Ebel. S. 1992. Obat Sintetik. Terjemahan oleh Mathilda. B.W. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
Feigl.F. 1966. Spot Test in Organic Analysis. 7th English edition. Amsterdam. Oxford. New
York.
Shriner.R.L, Fuson. R.C, et all. 1980. The Systematic Identification of Organic Compound.
Sixth edition. John Willey & Son. New York.
Clark.E.G.C. 1969. Isolation and Identification of Drug. 1st edition. The Pharmaceutical
Press. London.
DepKes RI. 1979. Farmakope Indonesia. Edisi III.
The Pharmaceutical Codex. 11th edition. The Pharmaceutical Press. University Press.
Cambridge. London.
Basic Test For Pharmaceutical Substance. 1986. WHO. Geneva.
Basic Test For Pharmaceutical Dosage Form. 1992. WHO. Geneva.

101
1