Anda di halaman 1dari 20

BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA JOURNAL READING

FAKULTAS KEDOKTERAN SEPTEMBER 2019


UNIVERSITAS PATTIMURA

Pterigium: Epidemiology, Prevention, And Treatment

OLEH:

Miraj A J hasanusi

2018-84-037

PEMBIMBING​:

dr. Carmila Tamtelahitu, Sp.M

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK

PADA BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH dr. M. HAULUSSY

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PATTIMURA

AMBON

2019
BAB I

LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PASIEN

Nama : Ny. GP

Jenis Kelamin : Perempuan

Umur : 24 tahun

Alamat : Bere- bere

Pekerjaaan : karyawan swasta

No, Rekam medik : 00 44 99

Tempat Pemeriksaan : Klinik Mata Utama Maluku

Tanggal Pemeriksaan : 10 Agustus 2019

B. ANAMNESIS

1. Keluhan Utama:

Bulu mata yang menusuk mata kiri.

2. Anamnesis Terpimpin (autoanamnesis):

Keluhan dirasakan ± 1 minggu yang lalu sebelum Os datang berobat ke klinik

mata. Os mengeluh mata kirinya terasa perih saat bulu matanya tersebut

menempel ke matanya. Ada rasa mengganjal dan mata sering berair juga

dikeluhkan oleh pasien. Adanya rasa gatal dan penglihatan yang buram

oleh pasien. Os juga mengaku bahwa mata kanannya tidak ada keluhan
sama sekali . Jika melihat cahaya, Os merasa mata perih. Tidak ada

riwayat trauma pada mata

3. Riwayat Penyakit Terdahulu:

Keluhan serupa sebelumnya (-), Hipertensi (-)

4. Riwayat Penyakit Keluarga:

Tidak ada

5. Riwayat Pengobatan:

Pasien sama sekali belum diobati

6. Riwayat Pemakaian Kacamata:

Tidak ada

C. PEMERIKSAAN FISIK

1. Status Generalis

Kesadaran : Compos mentis

Tekanan darah : 120/80 mmhg

Nadi : 75 x/menit

Pernpasan : 20 x/mnt

Suhu : 37​0​ C

2. ​Status Oftalmologi:

a. Visus

VOD : 6/7

VOS : 6/50
b. Segmen Anterior ODS dengan menggunakan ​pen light
OD men Anterior OS
Bola Mata
bra Superior Palpebra bra Superior
(-), blefarospasme (-), (-), blefarospasme(-), eritema(-),
eritema(-), ektropion (-), ektropion (-), entropion (-),
entropion (-), hematom (-) hematom (-)

bra inferior bra inferior


(-), eritema (-), (-), ​eritema (+),​ blefarospasma
blefarospasma (-), (-),ektropion (-), entropion (-),
ektropion (-), entropion (-), hematom (-) , ​trikiasis (+)
hematom (-)
is (-), subkonjungtival Konjungtiva is (-), subkonjungtival bleeding
bleeding (-), anemis (-), (-), anemis (-), pterigium (-),
pterigium (-), injeksi injeksi konjungtiva (-)
konjungtiva (-)
infiltrat (-), arcus senilis (-), Kornea infiltrat (-), arcus senilis (-),
edema (-), ulkus (-) edema (-), ulkus (-)
, hipopion (-), k Mata depan , hipopion (-), hifema (-)
(-)
, sinekia (-) Iris , sinekia (-)
3 mm Pupil 3 mm
Lensa

Gambaran Skematik:

OD OS

c​. ​Tekanan Intraokular


OD : 17 mmHg OS : 18 mmHg

d. Pergerakan bola mata: Pergerakan ODS normal (dapat digerakan ke segala

arah).

OD OS

e.​ ​Funduskopi:​ ​Tidak dilakukan pemeriksaan

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan tidak dilakukan saat ini

Foto sebelum di lakukan pengobatan pada pasien:

E. DIAGNOSIS KERJA

OS Trikiasis

F. DIAGNOSIS BANDING

1) Epiblefaron

2) Distikiasis
G. PERENCANAAN

1. Terapi (tata laksana) :

a. Pro epilasi (pencabutan bulu mata yang salah tumbuh).

b. Pemberian obat tetes mata yang mengandung antibiotik.

2. Monitoring :

a. Keluhan pasien

b. Status oftalmologi (visus, segmen anterior mata)

3. Edukasi :

a. Kondisi mata pasien sekarang

b. Terapi yang akan dilakukan pada pasien

c. Penggunaan obat dan perawatan mata

d. Kontrol dokter mata

e. Prognosis

H. PROGNOSIS

Quo ad vitam : ​ad bonam

Quo ad visam : dubia ad bonam

Que ad sanationam : dubia ad bonam


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 ANATOMI PALPEBRA

Gambar 2.1 Anatomi Palpebra.​1

Palpebra adalah lipatan tipis yang terdiri dari kulit, otot, dan

jaringan fibrosa, yang berfungsi melindungi struktur-struktur mata yang

rentan. Palpebra superior dan inferior adalah modifikasi lipatan kulit yang

dapat menutup dan melindungi bola mata bagian anterior. Berkedip

melindungi kornea dan konjungtiva dari dehidrasi. Palpebra superior

berakhir pada alis mata; palpebra inferior menyatu dengan pipi. Palpebra

terdiri atas lima bidang jaringan utama. Dari superfisial ke dalam terdapat
lapis kulit, lapis otot rangka (orbikularis okuli), jaringan areolar, jaringan

fibrosa (tarsus), dan lapis membran mukosa (konjungtiva palpebra).​1

Struktur palpebra :​2

1. Lapisan Kulit

Kulit pada palpebra berbeda dari kulit bagian lain tubuh karena tipis, longgar, dan

elastis, dengan sedikit folikel rambut, tanpa lemak subkutan.

2. Musculus Orbikularis Okuli

Fungsi otot ini adalah untuk menutup palpebra. Serat ototnya mengelilingi fissura

palpebra secara konsentris dan meluas sedikit melewati tepian orbita.

Sebagian serat berjalan ke pipi dan dahi. Bagian otot yang terdapat di

dalam palpebra dikenal sebagai bagian pratarsal; bagian diatas septum

orbitae adalah bagian praseptal. Segmen luar palpebra disebut bagian

orbita. Orbikularis okuli dipersarafi oleh nervus facialis.

3. Jaringan Areolar

Terdapat di bawah musculus orbikularis okuli, berhubungan dengan lapis

subaponeurotik dari kulit kepala.

4. Tarsus

Struktur penyokong utama dari palpebra adalah lapi jaringan fibrosa padat yang

disebut tarsus superior dan inferior. Tarsus terdiri atas jaringan

penyokong kelopak mata dengan kelenjar Meibom (40 buah di kelopak

atas dan 20 buah di kelopak bawah)


5. Konjungtiva Palpebra

Bagian posterior palpebra dilapisi selapis membran mukosa, konjungtiva

palpebra, yang melekat erat pada tarsus.

TEPIAN PALPEBRA

Panjang palpebra adalah 25-30mm dan lebarnya 2mm. Tepian ini

dipisahkan oleh garis kelabu (batas mukokutan) menjadi tepian anterior

dan posterior.

1. Tepian anterior

Tepian anterior terdiri dari bulu mata, glandula Zeiss dan Moll. Glandula Zeiss

adalah modifikasi kelenjar sebasea kecil yang bermuara dalam folikel

rambut pada dasar bulu mata.glandula Moll adalah modifikasi kelenjar

keringat yang bermuara ke dalam satu baris dekat bulu mata.

2. Tepian posterior

Tepian posterior berkontak dengan bola mata, dan sepanjang tepian ini terdapat

muara-muara kecil dari kelenjar sebasea yang telah dimodifikasi

(glandula Meibom atau tarsal).

3. Punktum lakrimal

Terletak pada ujung medial dari tepian posterior palpebra. Punktum ini berfungsi

menghantarkan air mata ke bawah melalui kanalikulus terkait ke sakus

lakrimalis.
FISURA PALPEBRA

Fisura palpebrae adalah ruang elips diantara kedua palpebra yang terbuka.

Fisura ini berakhir di kanthus medialis dan lateralis. Kanthus lateralis kira-kira 0,5

cm dari tepian lateral orbita dan membentuk sudut tajam. Kanthus medialis lebih

elips dari kanthus lateralis dan mengelilingi lakus lakrimalis. Lakus lakrimalis

terdiri atas dua buah struktur yaitu karunkula lakrimalis, peninggian kekuningan

dari modifikasi kulit yang mengandung modifikasi kelenjar keringat dan kelenjar

sebasea sebesar-besar yang bermuara ke dalam folikel yang mengandung

rmbut-rambut halus dan plica seminularis.

SEPTUM ORBITALE

Septum orbitale adalah fascia di belakang bagian muskularis orbikularis

yang terletak di antara tepian orbita dan tarsus dan berfungsi sebagai sawar antara

palpebra orbita. Septum orbitale superius menyatu dengan tendo dari levator

palpebra superior dan tarsus superior; septum orbilae inferius menyatu dengan

tarsus inferior.

REFRAKTOR PALPEBRA

Refraktor palpebrae berfungsi membuka palpebra. Di palpebra superior,

bagian otot rangka adalah levator palpebra superior, yang berasal dari apeks orbita

dan berjalan ke depan dan bercabang menjadi sebuah aponeurosis dan bagian

yang lebih dalam yang mengandung serat-serat otot polos dari muskulus Muller

(tarsalis superior). Di palpebra inferior, refraktor utama adalah muskulus rektus


inferior, yang menulurkan jaringan fibrosa untuk membungkus muskulus obliqus

inferior dan berinsersio ke dalam batas bawah tarsus inferior dan orbikularis okuli.

Otot polos dari refraktor palpebrae disarafi oleh nervus simpatis. Levator dan

muskulus rektus inferior dipasok oleh nervus okulomotorius. Pembuluh darah

yang memperdarahi palpebrae adalah a.Palpebra. Persarafan sensorik kelopak

mata atas didapatkan dari ramus frontal nervus V, sedang kelopak mata bawah

oleh cabang kedua nervus V (n. Trigeminus).​3

Pada kelopak terdapat bagian-bagian :​3

1. Kelenjar

a. Kelenjar sebasea

b. Kelenjar Moll atau kelenjar keringat

c. Kelenjar Zeiss pada pangkal rambut, berhubungan dengan folikel rambut dan

menghasilkan sebum

d. Kelenjar Meibom (kelenjar tarsalis)

Terdapat di dalam tarsus. Kelenjar ini menghasilkan sebum(minyak).

2. Otot-otot palpebra

a. M. Orbikularis Okuli

Berjalan melingkar di dalam kelopak atas dan bawah, dan terletak di bawah

kuit kelopak. Pada dekat tepi margo palpebra terdapat otot orbikularis okuli

disebut sebagai M. Rioland. M. Orbikularis berfungsi menutup bola mata

yang dipersarafi N.fasialis.


b. M. Levator Palpebra

Berorigo pada anulus foramen orbbita dan berinsersi pada tarsus atas dengan

sebagian menembus M.orbikularis okuli menuju kulit kelopak bagian

tengah. Otot ini dipersarafi oleh N. III yang berfungsi untuk mengangkat

kelopak mata atau membuka mata.

II.2. ANATOMI BULU MATA

Bulu mata (dalam bahasa Yunani : blepharo) adalah rambut-rambut pendek,


halus dan melengkung yang terdiri dari 2 sampai 3 lapisan yang tumbuh pada tepi
kelopak mata. Bulu mata berfungsi melindungi bola mata dari debris dan benda
asing​3,5​. Bulu mata kelopak mata bagian atas lebih panjang, lebih banyak, dan
melengkung keatas dimana bulu mata kelopak mata bagian bawah lebih pendek,
lebih sedikit dan melengkung ke bawah sehingga tidak saling bertemu dan
mengganggu ketika kedua kelopak mata ditutup​5​.

Pada fase embryo, bulu mata tumbuh dari jaringan ektoderm pada umur
kehamilan 22 sampai 26 minggu. Bulu mata membutuhkan waktu 7 sampai 8
minggu untuk tumbuh kembali setelah dicabut tetapi penyabutan bulu mata secara
terus-menerus dan konstan dapat menyebabkan kerusakan permanen. Warna bulu
mata dapat berbeda dari rambut pada umumnya, walaupun mereka dapat berwarna
lebih gelap pada seseorang dengan rambut warna gelap dan berwarna lebih terang
pada orang dengan rambut warna terang​3,5​.

Beberapa penyakit dan kelainan pada bulu mata yaitu​3,5​ :

- Madarosis, adalah kehilangan bulu mata dapat merupakan kelainan


kongenital atau akibat infeksi seperti leprosy, alopecia totalis dll.
- Blepharitis, adalah peradangan kronik pada kelopak mata dengan tingkat
keparahan yang bervariasi. Kelopak mata menjadi merah dan gatal, kulit
kelopak mata menjadi menebal dan dapat menyebabkan bulu mata rontok​3,5,6​.
- Distichiasis, adalah pertumbuhan abnormal dari bulu mata pada beberapa area
dari kelopak mata.
- Trichiasis, adalah pertumbuhan bulu mata ke dalam yang dapat menggosok
kornea dan konjunctiva dapat menyebabkan iritasi.
- Hordeolum eksterna, adalah peradangan purulen folikel bulu mata, kelenjar
Zeis dan kelenjar Moll sekitar pada kelopak mata.
- Trikotilomania, adalah kelainan berupa keinginan untuk mencabut rambut
kepala, bulu mata, dll.
- Demodex folliculorum​, adalah sejenis tungau yang hidup di bulu mata dan
folikel rambut, dan sekitar 98 % orang mempunyai tungau ini. Terkadang,
tungau ini dapat menyebabkan blepharitis.

II.3. TRIKIASIS
Trikiasis merupakan suatu keadaan dimana bulu mata mengarah pada bola
mata yangakan menggosok kornea atau konjungtiva. Biasanya terjadi bersama
penyakit lain seperti trakoma, sikatrisial, pemfigoid, trauma kimia biasa, dan
trauma kelopak lainnya.

II. 4. EPIDEMIOLOGI

Trikiasis dapat terjadi pada semua usia, namun lebih sering ditemukan pada
orang dewasa. Belum ditemukan bukti adanya predileksi pada ras-ras tertentu
ataupun jenis kelamin.​1

II. 5. ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI TRIKIASIS

Setiap orang dapat terjadi trikiasis, namun umumnya lebih sering terjadi
pada orang dewasa. Trikiasis dapat disebabkan oleh infeksi pada mata,
peradangan pada palpebra, kondisi autoimun, dan trauma. Proses penuaan juga
merupakan penyebab umum terjadinya trikiasis, karena kulit yang kehilangan
elastisitas.​9

Beberapa kondisi yang dapat meningkatkan resiko terjadinya trikiasis sebagai


berikut​1,2,9​ :

● Idiopatik
● Blefaritis kronik : Margo palpebra meradang, menebal, berkrusta, erythem
dengan secret ringan dan telangiektasis pembuluh darah
● Sikatriks : Dapat diakibatkan oleh luka palpebra oleh trauma.
● Epiblepharon, penyakit kongenital yang terjadi dimana jaringan longgar di
sekitar mata membentuk lipatan yang abnormal kulit dan otot pretarsal,
menyebabkan bulu mata mengarah ke dalam.
● Trachoma, suatu konjunctivitis folikular kronik yang berkembang hingga
terbentuknya jaringan parut. Pada kasus yang berat, trikiasis dapat terjadi
akibat jaringan parut yang berat.
● Penyakit-penyakit lainnya yang dapat mengenai kulit dan membran
mukosa seperti ​Steven Johnson Syndrome​ dan ​cicatrical pemphigoid​.
Selain dari penyakit-penyakit diatas, pentingnya membedakan tipe-tipe kelainan
dari bulu mata yang dapat menyebabkan trikiasis, dimana penatalaksanaannya
dapat berbeda tergantung dari penyebabnya. Pembagian trikiasis berdasarkan
kelainan bulu mata yaitu sebagai berikut​10,11​ :

- Acquired metaplastic eyelashes.​ Biasanya disebabkan peradangan kelopak


mata seperti meibomitis atau trauma akibat pembedahan, dimana epitel
kelenjar meibom mengalami perubahan metaplastik menjadi folikel rambut.
Hal ini menyebabkan pertumbuhan bulu mata lebih posterior daripada
normal dimana dapat mengarah ke belakang.
- Congenital metaplastic eyelashes.​ Kelainan kongenital dimana kelenjar
meibom menjadi multipoten berkembang menjadi folikel-folikel rambut.
Barisan kedua dari bulu mata tumbuh dari permukaan kelenjar meibom.
Bulu mata yang tumbuh tersebut mengarah secara vertikel, dan pada
anak-anak dapat ditoleransi dikarenakan oleh adanya tear film yang bagus
dan sedikit mengurangi sensasi kornea.
- ​ ​. Pertumbuhan bulu mata yang normal, namun akibat
Misdirected eyelashes12
dari sedikit jaringan parut pada margin kelopak mata menyebabkan
perubahan arah dari bulu mata ke dalam.
- Marginal entropion. Pembalikan dari margin kelopak mata akibat dari
proses parut dari lamela posterior kelopak mata.

II. 6. GAMBARAN KLINIK TRIKIASIS

Pasien dapat mengeluhkan sensasi benda asing, iritasi pada


permukaan bola mata yang kronik, lesi pada kelopak mata, gatal, nyeri pada mata,
dan mata bengkak. Abrasi kornea sampai dapat terjadi ulkus kornea, injeksi
konjungtiva, keluarnya cairan mucus, dan pandangan menjadi kabur dapat
menyertai penyakit ini.​1,7

II. 7. DIAGNOSIS BANDING TRIKIASIS

Trikiasis dapat didiagnosis banding dengan entropion. Entropion


adalah pelipatan kelopak mata ke arah dalam yang dapat disebabkan oleh involusi,
sikatrik, atau congenital. Gangguan ini selalu mengenai kelopak mata bawah dan
merupakan akibat gabungan kelumpuhan otot-otot retractor kelopak mata ,
mikrasi ke atas muskulus orbikularis preseptal, dan melipatnya tarsus ke atas.​1


II. 8. PENATALAKSANAAN TRIKIASIS 1,4,13

Jika hanya sedikit bulu mata yang terlibat, trikiasis dapat diterapi dengan
mechanical epilation​, yaitu membuang bulu mata yang tumbuh ke dalam dengan
forcep pada slit lamp. Karena pertumbuhan kembali dapat terjadi, epilasi berulang
diperlukan setelah 3-8 minggu.

Electrolysis dapat digunakan untuk menatalaksana trikiasis. Akan tetapi


tingkat rekurensinya tinggi, selain itu bulu mata normal yang berdekatan dapat
menjadi rusak dan jaringan parut pada jaringan margin palpebra dapat
menyebabkan trikiasis lebih lanjut.

Radiosurgery dapat memperbaiki bulu mata yang abnormal dengan


menggunakan ujung jarum yang dimasukkan dari ujung silia ke basis silia. Sinyal
radiosurgery dikirimkan kurang lebih selama 1 detik dengan tenaga yang lemah
untuk menghancurkan folikel rambut. Ketika ujung jarum dipindahkan, maka bulu
mata dapat diangkat dengan mudah.

Trikiasis segmental dapat diperbaiki dengan ​cryotherapy​. ​Cryotherapy


hanya membutuhkan anestesia lokal infiltratif. Folikel dari bulu mata sangat
sensitif terhadap dingin dan dapat dihancurkan pada suhu -20​o ​C. Area yang
terlibat dibekukan kurang lebih selama 25 detik dan kemudian dibiarkan mencair.
Kemudian dibekukan kembali selama 20 detik (​double freeze-thaw technique)​ .
Beberapa sumber menyebutkan, membutuhkan 45 detik membekukan dengan 4
menit mencairkan secara lambat untuk ​double freeze-thaw technique​14.​ Bulu mata
yang abnormal dapat diangkat dengan forcep. Kekurangan dari ​cryotherapy
adalah edema yang dapat bertahan selama beberapa hari, kehilangan pigmen kulit
melanosit yang dapat hancur pada suhu -10​o C sehingga dapat hancur terlebih
dahulu sebelum folikel rambut dihancurkan, penebalan margin palpebra, dan
kemungkinan gangguan fungsi sel goblet. Metode ini dapat dikombinasi dengan
berbagai tehnik pembedahan dan dapat diulangi jika persisten atau berulang.

Penggunaan ​Argon Laser pada trikiasis tidak se-efektif seperti


menggunakan ​cryotherapy,​ tetapi dapat sangat berguna ketika hanya sedikit dari
bulu mata yang tersebar membutuhkan ablasi atau ketika stimulasi dari area
peradangan yang lebih besar tidak dibutuhkan. Beberapa pigmen dibutuhkan pada
dasar bulu mata untuk menyerap energi laser dan mengablasi bulu mata,
menyebabkan tehnik ini sensitif terhadap warna rambut. Ablasi menggunakan
argon laser membutuhkan sinar dengan lebar 200_m untuk kelopak mata bawah,
dan 250 _m untuk kelopak mata atas, untuk kedalaman yang sama dengan
​ ​.
electrolysis15

Dari semua tehnik yang telah disebutkan, tingkat keberhasilan dapat


bervariasi, dan penatalaksanaan tambahan biasanya diperlukan. ​Full thickness
pentagonal resection ​dengan penutupan primer dapat dipertimbangkan ketika
trikiasis terbatas pada segmen palpebra.

Tingkat keberhasilan ablasi bulu mata dapat ditingkatkan dengan


transconjunctival eyelash bulb extirpation di bawah mikroskop​16​. Hal ini dapat
digunakan sebagai prosedur primer atau ketika upaya elektrolisis atau modalitas
ablasi lainnya telah gagal dan pengobatan lebih lanjut berisiko terbentuknya
jaringan parut.

II.9. KOMPLIKASI

Apabila tidak ditangani dengan segera trikiasis dapat menyebabkan


komplikasi seperti iritasi pada permukaan bola mata yang kronik, abrasi kornea,
terjadi ulkus kornea, perforasi, sampai terjadinya infeksi bola mata. Komplikasi
lebih lanjut dapat menyebabkan kebutaan.

II. 10. PROGNOSIS

Prognosis umumnya baik. Tindak lanjut perawatan berkala dan perhatian


terhadap komplikasi, kekambuhan, atau komplikasi kornea dapat
meningkatkankan prognosis jangka panjang.​16
BAB III

DISKUSI

Berdasarkan pada kasus pasien, diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil

anamnesis dan pemeriksaan oftalmologi. Dari hasil anamnesis pasien berusia 24

tahun datang dengan keluhan bulu mata yang menusuk mata kiri sejak 1 minggu

yang lalu. Os mengeluh mata kirinya terasa perih saat bulu matanya tersebut

menempel ke matanya. Ada rasa mengganjal dan mata sering berair juga

dikeluhkan oleh pasien. Adanya rasa gatal dan penglihatan yang buram oleh

pasien. Os juga mengaku bahwa mata kanannya tidak ada keluhan sama sekali .

Jika melihat cahaya, Os merasa mata perih. Berdasarkan gejala-gejala ini pasien

didiagnosis menderita penyakit Trikiasis. Trikiasis merupakan suatu keadaan

dimana bulu mata mengarah pada bola mata yangakan menggosok kornea atau

konjungtiva.

Penatalaksanaan yang diberikan pada pasien ini adalah berupa pengobatan

topikal dan pembedahan. Pembedahan berupa tindakan epilasi yaitu tindakan

pencabutan bulu mata yang salah tumbuh. Biasanya kejadian ini akan berulang
akibat pertumbuhan bulu mata dalam 6-8 minggu. Pengobatan topikal yang

diberikan adalah antibiotik topikal berupa obat tetes mata floxa untuk profilaksis

infeksi. Sedangkan pemberian obat tetes mata cendo lyteers 4 tetes sehari

bertujuan untuk mengurangi iritasi pada mata, melembabkan dan melindungi

permukaan bola mata dari rasa tidak nyaman. Prognosis pada pasien ini

umumnya baik.

DAFTAR PUSTAKA

1. Lang G. ​Ophthalmology: a pocket textbook atlas Ed 2. New York:

Thieme, 2006

2. Vaughan, D. G. Oftalmologi Umum, Edisi 14, Cetakan I, Widya Medika,


Jakarta, 2000
3. Sidarta, I. Ilmu Penyakit Mata Edisi III Cetakan I. Balai Penerbit FK UI,
Jakarta, 2004
4. AAO. 2007. Orbit, Eyelid, and Lacrimal System.American Academy of
Ophtalmology.
5. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, et al. Fetal growth and
development. In: Cunnigham FG, Leveno KL, Bloom SL, et al, eds.
Williams Obstetrics.​ 23rd ed. New York, NY: McGraw-Hill; 2010:chap 4
6. Frank J. Weinstock. Eyelid Inflammation. [diakses dari : http://
http://www.emedicinehealth.com/eyelid_inflammation_blepharitis/
7. Manners, Ruth. 2011. Information factsheet : ingrowing eyelashes
(trichiasis & distichiasis). [diakses dari : ​http://www.uhs.nhs.uk/
8. Ilyas, Sidharta. 2008. Ilmu Penyakit Mata Edisi Ketiga. Jakarta : Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
9. The Eye M. D. association. 2014. Trichiasis. American Academy of
Ophtalmology. [diakses dari :
http://www.geteyesmart.org/eyesmart/diseases/trichiasis-symptoms.cfm
10. Unknown. 2012. Clinical Management Guidelines Trichiasis. The College
of Optometrists. [diakses dari : ​http://www.college-optometrists.org/
11. Khooshabeh, Ramona. 2002. Focus ​On : The Unwanted Eyelash. The
Royal College of Ophthalmologist issue 24.​
12. Barber K, Dabbs T. ​Morphological observation on patients with
presumed trichiasis.​ Br J Ophthalmol 1988; 72(1): 17-22.
13. Collin, R dan Rose, G. 2001. Fundamentals of Clinical Ophthamology
Plastic and Orbital Surgery. Malaysia : BMJ group.
14. Delaney MR, Rogers PA. ​A simplified cryotherapy technique for
trichiasis and distichiasis.​ Aust J Ophthalmology 1984; 12(2): 163-6.
15. Elder MJ. ​Anatomy and physiology of eyelash follicles: relevance to lash
ablation procedures. ​Ophthalmology Plastic Reconstruction Surgery.
1997; 13(1): 21-5.
16. Dutton JJ, Tawfik HA, DeBaker CM, Lipham WJ. ​Direct internal eyelash
bulb extirpation for trichiasis. Ophthalmology Plastic Reconstruction
Surgery 2000; 16(2): 142-5.