Anda di halaman 1dari 7

PENCERNAAN PROTEIN

Friska Novia Upriana/ 1714041016

Abstrak
Adapun tujuan praktikum yaitu: 1). Untuk mengetahui proses pencernaan protein 2). Untuk mengetahui
aktivitas enzim lipase. Untuk kegiatan I alat dan bahan yang digunakan yaitu alatnya tabung reaksi 6
buah, rak tabung, penangas air, dan spoit, sedangkan bahannya keping albumin telur yang terkoagulasi,
larutan pepsin1%, larutan sodium karbonat 0,5%, asam klorida 0,8%, akuades dan reagent biuret. Untuk
kegiatan II alat dan bahan yang digunakan yaitu, alatnya tabung reaksi 4 buah, rak tabung, mortar dan
alu, sedangkan bahannya larutan tributiran, NaOH 1N, fenol merah, pancreas katak, duodenum katak,
lambung katak, empedu katak. Metode yang dilakukan yaitu kegiatan I pertama atur tabung dan
tambahkan pada masing masing tabung larutan pepsin, akuades, asam klorida, sodium karbonat, setelah
itu masukkan dalam penangas air, lalu periksa disteiap 15 menit selama 45 menit dan dimenit terakhir
tambahkan 4 tetes biuret dan lihat perubahan warnyanya. Kegiatan II pertama siapkan tabung reaksi
masing-masing isi tributiran dan NaOH 1N supaya suasana menjadi basa, dan tambahkan hasil gerusan
dan perhatikan perubahan warnanya. Adapun hasil praktikum yang didapat yaitu pada uji protein didapat
pada semua tabung menunjukkan adanya polipeptidase.
Kata Kunci: Protein dan Enzim Lipase

PENDAHULUAN
Sistem pencernaan adalah penghancuran bahan makanan (mekanisme/enzimatis, kimia
dan mikroba) dari bentuk komplek (molekul besar) menjadi sederhana (bahan penyusun) dalam
saluran cerna. Tujuan dari pencernaan itu sendiri adalah untuk mengubah bahan komplek
menjadi sederhana. Dan kegunaanya adalah untuk mempermudah penyerapan oleh vili usus
(Manalu dan Mu’nisa, 2015).
Protein diet diperlukan untuk pertumbuhan, pemeliharaan dan perbaikan jaringan,
sintesis protein enzim, protein pengangkut nutrisi, dan protein yang dibutuhkan untuk proses
kekebalan atau mekanisme pertahanan tubuh. Legum menyimpan sejumlah besar protein dalam
bijinya dengan bantuan bakteri yang hidup di akar tanaman. Meskipun protein kacang-
kacangan tidak berkualitas tinggi seperti protein hewani, itu adalah pengganti yang memadai
ketika dimakan dalam kombinasi dengan diet campuran, terutama jika mengandung produk
gandum atau jagung (Sinaga et al., 2015).
Hewan mempunyai 4 aktivitas makanan, yaitu: prehensi (mengambil makanan),
mastikasi (mengunyah), salivasi (mensekresikan air ludah), dan deglutisi (menelan). Dalam hal
ini deglutisi dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain : peristaltic (peristaltic esophagus
mendorong bolus kea rah lambung), tekanan buccopharyngeal (mendorong bolus ke sofagus),
dan gravitasi (membantu memudahkan jalannya bolus) (Manalu dan Mu’nisa, 2015).
Pencernaan manusia dimulai di mulut, pada tahap pertama pencernaan ini, makanan
yang dikunyah air melembabkan makanan dan air liur (memiliki air sebagai pelarut)
memainkan peran penting. Kemudian makanan melewati faring dan kerongkongan ke perut,
didorong oleh peristaltik. Di perut makanan dicampur dengan cairan asam lambung yang sangat
asam yang dikeluarkan ke dalam perut. Hormon gastrin menstimulasi sekresi jus ini, yang
mengandung air, garam anorganik, asam klorida, musin, dan beberapa enzim, yang paling
melimpah di antaranya adalah pepsin. Pepsin memecah molekul protein menjadi molekul kecil
yang disebut polipeptida. Perut membutuhkan air dalam dua cara penting yang berhubungan
dengan asam klorida. Pertama, air dalam tubuh diperlukan untuk menghasilkan asam klorida
itu sendiri pada pH yang tepat (mendekati 3) untuk memulai pencernaan, tetapi itu terlalu asam
untuk jaringan lambung, dan itu membawa kita ke fungsi penting kedua air, menghasilkan
lapisan lendir perut. Tanpa selaput lendir ini, asam hidroklorik bersentuhan langsung dengan
jaringan lambung yang mengakibatkan tukak lambung dan komplikasi lainnya (Mu’nisa et
al.,2019).
Kandungan protein bahan organik dapat ditentukan dengan dua cara: (1) langsung
dengan menggunakan spesifik tertentu sifat kimia atau fisik yang unik untuk protein, atau (2)
secara tidak langsung dengan menentukan kandungan nitrogennya. Itu Metode Kjeldahl adalah
salah satu metode penentuan nitrogen yang umum digunakan, namun, kuantifikasi protein
menggunakan spektrofotometri juga telah digunakan secara luas karena lebih cepat, lebih
sederhana dan tidak terlalu melelahkan prosedur (Sinaga et al., 2015).
Makanan dari kelompok karbohidrat akan dicerna oleh amylase menjadi disakarida.
Disakarida kemudian diuraikan oleh disakaridase menjadi monosakarida, yaitu glukosa.
Glukosa hasil pencernaan kemudian diserap usus halus dan diedarkna ke seluruh tubuh oleh
peredaran darah. Makanan dari kelompok protein setelah dilambung dicerna menjadi pepton,
maka pepton akan diuraikan oleh enzim tripsin, kimotripsin, dan erepsin menjadi asam amino.
Asam amino kemudian diserap usus dan diedarkan ke seluruh tubuh oleh peredaran darah.
Makanna dari kelompok lemak, pertam-tama akan dilarutkan (diemulsifikasi) oleh cairan
empedu menjadi butiran-butiran lemak(dropletlemak). Droplet lemak kemudian diuraikan oleh
enzim lipase menjadi asam lemak dan gliserol. Asam lemak kemudian diserap usus dan
diedarkan menuju jantung oleh pembuluh limfa (Mu’nisa et al.,2019).
Adapun tujuan praktikum yaitu: 1). Untuk mengetahui proses pencernaan protein 2).
Untuk mengetahui aktivitas enzim lipase.

METODE
Praktikum ini dilakukan pada 12 April 2019 di Laboratorium Zoologi FMIPA UNM.
Kegiatan I, alat yang digunakan yaitu, tabung reaksi 6 buah, rak tabung, kaki tiga, bunsen dan
kasa, spoit dan gelas kimia, bahan yang digunakan yaitu, keping albumin telur yang
terkoagulasi, larutan pepsin 1%, larutan sodium karbonat 0,5 %, asam klorida 0,8%, aquadest
dan reagen biuret. Kegiatan II, alat yang digunakan yaitu tabung reaksi 4 buah, rak tabung,
mortar dan alu, bahan yang digunakan yaitu larutan tributiran, NaOH 1N, Fenol merah,
pancreas katak, duodenum katak, lambung katak, dan empedu katak.
Ada 2 kegiatan yang dilakukan yaitu, Kegiatan I atur tabung reaksi dan beri label nomor
urut. Kemudian tambahkan ke dalam masing-masing tabung bahan, tabung 1: 5ml pepsin + 5ml
akuades, tabung 2: 5ml pepsin + 5ml sodium karbonat, tabung 3 : 5ml pepsin + 5ml asam
klorida, tabung 4 : 5ml akuades + 5ml sodium karbonat, tabung 5: 5ml akuades + 5ml asam
klorida, tabung 6 : 5ml akuades. Lalu tambahkan beberapa keping albumin telur terkoagulasi
pada masing-masing tabung. Kocok dan letakkan pada rak tabung kemudian masukkan dalam
penangas air bersuhu 37ºC. Periksalah pencernaan albumin telur dalam maisng-maisng tabung
setiap 15 menit selama jangka waktu 45 menit. Macam reaksi ditunjukkan dengan adanya
desintegrasi protein dan kejernian larutan. Pada akhir saat 45 menit tambahkan 4 tetes larutan
biuret kedalam tabung reaksi. Uji ini untuk mengetahui adanya sisa protein yang belum
tercerna. Warna merah muda sampai ungu menunjukkan adanya polipeptidas dalam larutan.
Catat hasilnya. Kegiatan II, siapkan 4 tabung reaksi masing-masing isi dengan ½ ml larutan
tributiran + 5 buah tetes larutan NaOH 1 N (Supaya suasana menjadi basa). Tambahkan 5 tetes
larutan fenol merah sebagai indikator. Pada tabung reaksi 1 masukkan cacahan gerusan
pankreas katak. Pada tabung 2 masukkan cacahan gerusan duodenum katak. Pada tabung 3
masukkan cacahan gerusan lambung katak. Pada tabung 4 masukkan cacahan gerusan empedu
katak. Perhatikan adanya perubahan warna pada masing-masing larutan dalam tabung reaksi
diatas.

HASIL PENGAMATAN
Kegiatan 1 “Pencernaan protein”
No. Larutan 15 Menit 30 Menit 45 Menit
I 5 ml pepsin + 5 ml aquades

Kuning, buih Merah bata

diatas, gumpal pekat, buih


Kuning buih
dibawah diatas, gumpal
diatas
dibawah
II 5 ml pepsin + 5 ml sodium
karbonat

Kuning jeruk,
Merah bata,
buih diatas
Kuning buih buih diatas
diatas
III 5ml pepsin + 5 ml As.
Klorida

Kuning jeruk,

Kuning buih buih diatas, Ungu tua, buih

diatas, gumpal gumpal diatas, gumpal

dibawah dibawah dibawah

IV 5 ml aquades + 5 ml sodium
karbonat

Bening buih
Merah bata buih
Bening buih diatas, gumpal
diatas
diatas, dibawah

V 5 ml aquades + 5 ml As.
Klorida

Bening buih Bening buih


Merah bata buih
diatas, gumpal diatas, gumpal
diatas
dibawah dibawah
VI 5 ml aquades

Keruh, buih
Bening buih
diatas, gumpal Merah bata buih
diatas, gumpal
dibawah diatas
dibawah
Kegiatan 2 “aktivitas enzim lipase”
Tambahan Perubahan Warna
No Larutan
Organ Sebelum Sesudah

0,5 ml tributiran + 5 NaOH + 5


1 Lambung
tetes fenol merah

Merah bata Cokelat pucat

0,5 ml tributiran + 5 NaOH + 5


2 Duodenum
tetes fenol merah

Merah bata Cokelat pucat

0,5 ml tributiran + 5 NaOH + 5


3 Empedu
tetes fenol merah

Merah bata Hijau tua

0,5 ml tributiran + 5 NaOH + 5


4 Pankreas
tetes fenol merah

Merah bata Cokelat pekat

PEMBAHASAN
Percobaan pertama adalah pencernaan protein. Pada percobaan ini, hal yang ingin
diketahui yakni proses pencernaan protein. Uji biuret merupakan uji umum untuk protein
(ikatan peptida) tetapi tidak dapat menunjukkan asam amino bebas. Jika terbentuk warna ungu,
berarti zat itu mengandung protein (Almatsier, 2003). Pada pratikum ini, perlakuaan untuk
pembuktian adanya enzim proteinase pada putih telur dengan pemanasan agar mengalami
percepatan reaksi dan merusak proteinnya sehingga lebih cepat terlihat hasilnya. Selain tu, putih
telur di encerkan agar memaksimalkan protein yang terdapat didalamnya. Di dalam usus,
kelanjutan dari pencernaan protein dalam lambung, peptid akan mengalami hidrolisis dimana
prosesnya dilakukan oleh enzim karboksipeptidase, tripsin, khimotripsin, elastase sebagai
katalisatornya menjadi polipeptid, tripeptid, dan dipeptid. Selanjutnya oligopeptid tersebut akan
dihidrolisis oleh enzim peptidase menjadi bentuk tripeptid dan dipeptid hingga akhirnya
menjadi asam amino (Fujaya, 2004). Dalam percobaan ini didapatkan hasil positif yang
ditunjukkan dengan perubahan warna pada putih telur menjadi ungu pekat, hal ini sesuai dengan
teori bahwa uji biuret untuk protein akan positif bila menghasilkan warna ungu. Ini
membuktikan bahwa di dalam usus terdapat enzim protease.
Biuret merupakan reagen yang bersifat basa, sehingga gugus amin dari asam amino
bertindak sebagai asam dengan membentuk NH4+. Reaksi menghasilkan senyawa basa
NH4OH yang menyebabkan larutan berwarna ungu. Telur ayam mempunyai struktur yang
sangat khusus yang mengandung zat gizi yang cukup untuk mengembangkan sel yang telah
dibuahi menjadi seekor anak ayam. Albumin mengandung protein, glukosa, lemak, garam dan
air.
Pada percobaan kedua untuk mengetahui aktivitas enzim lipase. Digunakan larutan
tributiran dan NaOH 1N berfungsi membuat suasana menjadi basa. Larutan fenol merah sebagai
indikator. Enzim lipase atau lengkapnya triasilgliserol lipase adalah enzim yang menghidrolisis
ester karboksilat. Enzim ini mempunyai substrat alami berupa trigliserida dari asam lemak yang
mana reaksinya memerlukan air, dan lipase ekstraseluler berhasil diisolasi dari Pseudomonas
aeruginosa pada tahun 1986. Enzim lipase memiliki sub unit berupa glikoprotein dan
lipoprotein. Sub unit tersebut dapat sebagai monomer, dimer, oligomer atau polimer. Enzim
lipase stabil pada suhu optimumnya yaitu 30o C, walaupun masih aktif pada 51o C. Dan
menurut penelitian Abigor dkk (2002) wijen digunakan sebagai katalis enzim lipase dan dapat
bekerja dengan baik dan bertahan hidup pada pH 7-7,5. Pada banyak mikroorganisme, bagian
yang kuat dari lipase ekstraseluler sebagian masih terikat pada dinding sel. Karena adanya
ikatan antara enzim dan dinding sel mungkin menghambat ekskresi lipase berikutnya dalam
media pertumbuhan dan dengan demikian menurunkan hasil lipase ekstraseluler. Zat yang
dapat menstimulai pelepasan lipase dari dinding sel sehingga dapat meningkatkan pembentukan
lipase yaitu dengan menambahkan ion magnesium kedalam media pertumbuhan.

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut, 1). Uji
biuret untuk protein akan positif bila menghasilkan warna ungu. Ini membuktikan bahwa di
dalam usus terdapat enzim protease. 2). Enzim lipase atau lengkapnya triasilgliserol lipase
adalah enzim yang menghidrolisis ester karboksilat. Enzim ini mempunyai substrat alami
berupa trigliserida dari asam lemak yang mana reaksinya memerlukan air, dan lipase
ekstraseluler
Saran
Adapun saran yang ingin saya sampaikan yaitu sebaiknya dalam praktikum ini praktikan
harus memahami prosedur kerja dengan baik sebelum melakukan praktikum.

REFERENSI
Manalu, Wasmen., dan A, Mu’nisa. 2015. Fisiologi Hewan. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA
UNM.

Mu’nisa. 2014. Penuntun Praktikukm Fisiologi Hewan. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA
UNM.

Sinaga, S.M., Maria, I., & Jansen, S. 2015. Protein Analysis of Canned Legumes by using
Visible Spectrophotometry and Kjeldahl Method. International Journal of PharmTech
Research. 8(6).