Anda di halaman 1dari 9

pHmeter

Skema Kerja

Instrumen pH meter adalah peralatan laboratorium yang digunakan untuk menentukan


pH atau tingkat keasaman/kebasaan dari suatu larutan. Tingkat keasaman/kebasaan dari
suatu zat, ditentukan berdasarkan keberadaan jumlah ion hidrogen dan ion hodroksida
dalam larutan.
Yang dapat dinyatakan dengan persamaan:
pH = - log [H+]
pOH = - log [OH-]
pH = 14 – pOH

Pengertian pH
pH adalah suatu satuan ukur yang menguraikan derajat tingkat kadar keasaman atau
kadar alkali dari suatu larutan. Unit pH diukur pada skala 0 sampai 14. Istilah pH berasal
dari "p", lambang matematika dari negatif logaritma, dan " H", lambang kimia untuk unsur
Hidrogen. Definisi yang formal tentang pH adalah negative logaritma dari aktivitas ion
Hydrogen.

Sejarah pH meter
Sejarah dalam mengukur kadar keasaman cairan secara elektris dimulai pada tahun 1906
ketika Max Cremer di dalam studinya tentang hubungan cairan (interaksi antara zat cair
dan zat padat) dan ditemukan ternyata hubungan antara cairan bisa dipelajari dengan
bertiupnya suatu gelembung dari kaca tipis satu cairan yang di tempatkan di dalam dan di
luar. Itu membuat suatu tegangan elektrik yang bisa diukur. Gagasan ini telah diambil
lebih lanjut oleh Fritz Haber (yang menemukan sintese amoniak dan tiruan fertiliser) dan
Zygmunt Klemsiewicz yang menemukan bahwa bohlam/gelembung kaca (yang ia
namakan elektrode kaca) bisa digunakan untuk mengukur aktivitas ion hidrogen yang
diikuti suatu fungsi logaritmis.
Kemudian ahli biokimia Denmark Soren Sorensen menemukan skala pH pada tahun 1909.
Karena kepekaan di dalam dinding gelas sangat tinggi, berkisar antara 10 sampai 100
Mega-Ohm, voltase elektrode kaca tidak bisa diukur dengan teliti sampai tabung elektron
telah ditemukan. Kemudian, penemuan transistor efek medan (field-effect transistors FETs)
dan integrated sirkit ( ICs) dengan meringankan temperatur, membuatnya mungkin untuk
mengukur voltase elektrode kaca itu dengan teliti. Voltase yang diproduksi oleh satu pH
unit (misalnya saja dari pH=7.00 - 8.00) secara khas sekitar 60 mV ( mili volt). Kini Ph
Meter yang terdiri atas mikro prosesor yang diperlukan untuk koreksi temperatur dan
kalibrasi. Meskipun demikian, pH meter modern masih mempunyai kekurangan, yaitu
perubahan yang lambat, yang merupakan masalah penting dalam menentukan skala yang
valid.

pH meter untuk penggunaan komersial pertama kali diproduksi oleh Radiometer pada
tahun 1936 di Denmark dan Arnold Orville eckman dari Amerika Serikat. Penemuan
tersebut dilakukan ketika Beckman menjadi assisten professor kimia di California Institute
of Technology, dia mekatakan untuk mendapatkan metoda yang cepat dan akurat untuk
pengukuran asam dari jus lemon yang diproduksi oleh California Fruit Growers Exchange
(Sunkist). Hasil penemuannya tersebut membawa dia untuk mendirikan Beckman
Instruments Company (sekarang Beckman Coulter).

Pengukuran sifat keasaman dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:


a. Kertas Lakmus
adalah suatu kertas dari bahan kimia yang akan berubah warna jika dicelupkan ke
dalam larutan asam/basa. Warna yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh kadar pH
dalam larutan yang ada.
Terdapat dua jenis kertas lakmus, yaitu kertas lakmus merah dan kertas lakmus biru.
Penggunaan kertas lakmus hanya sekali pakai. Nilai pH yang terukur hanya bersifat
pendekatan, jika suatu senyawa merubah warna kertas lakmus merah menjadi biru,
maka dia bersifat basa, sedangkan jika suatu senyawa merubah warna kertas lakmus
biru menjadi merah, maka ia bersifat asam. Pengukuran hanya bersifat kualitatif, hasil
yang diperoleh relatif tidak begitu akurat. Kertas lakmus dengan kombinasi beberapa
indikator ada yang dapat digunakan yakni dengan pencocokan kala, kertas lakmus
jenis ini mengkombinasikan 4 indikator yang berbeda warna. Kombinasi warna yang
berbeda diberi skala 1-14 sesuai dengan pH sistem yang diukur.
Warna kertas lakmus dalam larytan asam, larytan basa, dan larutan bersifat netral
berbeda. Sifat dari masing-masing ertas lakmus sebagai berikut :
1. Lakmus merah dalam larutan asam berwarna merah dan dalam larutan basa
berwarna biru dan dalam larutan netral berwarna merah.
2. Lakmus biru dalam larutan asam berwarna merah dan dalam larutan basa
berwarna biru dan dalam larutan netral berwarna biru.
3. Metil merah dalam larutan asam berwarna merah dan dalam larutan basa
berwarna kuning dan dalam larutan netral berwarna kuning.
4. Metil Jingga dalam larutan asam berwarna merah dan dalam larutan basa
berwarna kuning dan dalam larutan netral berwarna kuning.
5. Fenolftalin dalam larutan asam berwarna - dan dalam larutan basa berwarna
merah dan dalam larutan netral berwarna -

b. pHmeter
Keuntungan dari penggunaan pHmeter dalam menentukan tingkat keasaman suatu
senyawa adalah:
- Pemakaiannya bisa berulang-ulang
- Nilai pH terukur relatif cukup akurat
Instrumen yang digunakan dalam pHmeter dapat bersifat analog maupun digital.
Sebagaimana alat yang lain, untuk mendapatkan hasil pengukuran yang baik, maka
diperlukan perawatan dan kalibrasi pHmeter. Pada penggunaan pHmeter, kalibrasi alat
harus diperhatikan sebelum dilakukan pengukuran. Seperti diketahui prinsip utama
pHmeter adalah pengukuran arus listrik yang tercatat pada sensor pH akibat suasana ionik
di larutan. Stabilitas sensor harus selalu dijaga dan caranya adalah dengan kalibrasi alat.
Kalibrasi terhadap pHmeter dilakukan dengan: Larutan buffer standar : pH = 4,01 ; 7,00 ;
10,01
Penentuan kalibrasinya dapat dilakukan dengan cara:
a. Teknik satu titik
Yaitu pada sekitar pH yang akan diukur, yakni kalibrasi dengan buffer standar pH 4,01
untuk sistem asam, buffer standar pH 7,00 untuk sistem netral, dan buffer standar pH
10,01 untuk sistem basa.
b. Teknik dua titik (diutamakan)
Apabila sistem bersifat asam, maka digunakan 2 buffer standar berupa pH 4,01 dan
7,00. dan apabila sistem bersifat basa, digunakan 2 buffer standar berupa pH 7,00 dan
10,01
c. Teknik multi titik
Kalibrasi dilakukan dengan menggunakan 3 buffer standar.Untuk system dengan pH <
2,00 atau > 12,00, sering terjadi ketidaknormalan elektroda, kelemahan ini
dipengaruhi oleh jenis alat yang digunakan. Untuk pengukuran yang dilakukan dalam
waktu yang lama, maka diperlukan proses kalibrasi secara periodik selang 1,5 – 2 jam,
Hal ini untuk menjaga kestabilan dari alat pHmeter yang digunakan, sehingga tetap
dapat diperoleh hasil pengukuran yang bagus. Untuk keperluan kalibrasi ini dapat
menggunakan buffer pH yang ada di pasaran, skala yang biasa digunakan adalah : pH
= 4,01 merah; pH = 7,00 hijau; pH = 10,00 biru Selain itu, untuk lebih menjaga
keawetan sensor, maka perlakuan sensor apabila tidak dipakai harus
direndam/tercelup dalam aquades. Proses kalibrasi dan perlakuan pHmeter seperti
yang diterangkan di atas akan dapat memberikan hasil pengukuran pH yang akurat
dan presisi.
Secara umum, faktor yang menjadi sumber kesalahan dalam pengukuran sehingga
menimbulkan variasi hasil, antara lain adalah:
1. Perbedaan yang terdapat pada obyek yang diukur.
Hal ini dapat diatasi dengan:
 Obyek yang akan dianalisis diperlakukan sedemikian rupa sehingga diperoleh
ukuran kualitas yang homogen
 Menggunakan teknik sampling yang benar
2. Perbedaan situasi pada saat pengukuran
Perbedaan ini dapat diatasi dengan cara mengenali persamaan dan perbedaan
suatu obyek yang terdapat pada situasi yang sama. Dengan demikian sifat-sifat dari
obyek dapat diprediksikan.
3. Perbedaan alat dan instrumentasi yang digunakan
Cara yang digunakan untuk mengatasinya adalah dengan menggunakan alat
pengatur yang terkontrol dan telah terkalibrasi.
4. Perbedaan penyelenggaraan/administrasi
Kendala ini diatasi dengan menyelesaikan permasalahan non-teknis dengan baik
sehingga keadaan peneliti selalu siap untuk sehingga melakukan kerja.
5. Perbedaan pembacaan hasil pengukuran
Kesalahan ini dapat diatasi dengan selalu berupaya untuk mengenali alat atau
instrumentasi yang akan digunakan terlebih dahulu.
Dari lima faktor penyebab kesalahan dalam bidang analitik maka peralatan dan
instrumentasi sangat berpengaruh. Peralatan pada dasarnya harus dikendalikan oleh
pemakainya. Untuk peralatan mekanis yang baru relatif semua sistem sudah berjalan
dengan optimal, sebaliknya untuk alat yang sudah berumur akan banyak menimbulkan
ketidak optimuman karena komponen aus, korosi dan sebagainya. Demikian juga
peralatan elektrik, pencatatan harus selalu dikalibrasi dan dicek ulang akurasinya. Untk
peralatan yang menggunakan sensor atau detektor maka perawatan dan kalibrasi akan
berperan penting.
Berikut disajikan contoh peranan kalibrasi pada pHmeter DERAJAT KEASAMAN
LARUTAN
Besarnya konsentrasi ion H+ dalam larutan disebut derajat keasaman. Untuk menyatakan
derajat keasaman suatu larutan dipakai pengertian pH.
• Untuk air murni (25oC): [H+] = [OH - ] = 10 -7 mol/L
• pH = - log 10 -7 = 7 dan pOH = - log [OH-]
• pOH = - log 10-7 = 7
Atas dasar pengertian ini, ditentukan untuk setiap larutan:
- Jika nilai pH = pOH = 7, maka larutan bersifat netral
- Jika nilai pH < 7, maka larutan bersifat asam
- Jika nilai pH > 7, maka larutan bersifat basa
- Pada suhu kamar: pKw = pH + pOH = 14

MENGHITUNG pH LARUTAN ASAM


1. pH Asam Kuat
Bagi asam-asam kuat (á = 1), maka menyatakan nilai pH larutannya dapat dihitung
langsung dari konsentrasi asamnya (dengan melihat valensinya). Yaitu, [H+] = n.Ma,
dimana n valensi asam dan Ma konsentrasi asam.
Contoh:
1. Hitunglah pH dari 100 ml larutan 0.01 M HCl
Jawab: HCl (aq) _ H+ (aq) + Cl- (aq)
[H +] = [HCl] = 0.01 = 10 -2 M
pH = - log 10 -2 = 2
2. Hitunglah pH dari 2 liter larutan 0.1 mol asam sulfat (H2SO4)
Jawab: H2SO4 (aq) _ 2 H+(aq) + SO42-(aq)
[H+] = 2[H2SO4] = 2 x 0.1 mol/2.0 liter = 2 x 0.05 = 10-1 M
pH = - log 10-1 = 1

2. pH Asam Lemah
Bagi asam-asam lemah, karena harga derajat ionisasinya á _ 1, yaitu (0 < á < 1) maka
besarnya konsentrasi ion H+ tidak dapat dinyatakan secara langsung dari konsentrasi
asamnya (seperti halnya asam kuat). Langkah awal yang harus ditempuh adalah
menghitung besarnya [H+] dengan rumus :
[H+] = _ ( Ma . Ka)
• Dimana : Ma = konsentrasi asam lemah & Ka = tetapan ionisasi asam lemah
• Contoh: Hitunglah pH dari 0.025 mol CH3COOH dalam 250 ml larutannya, jika
diketahui Ka = 10-5
• Jawab: Ma = 0.025 mol/0.025 liter = 0.1 M = 10-1 M
[H+] = _ (Ma . Ka) = _10-1 . 10-5 = 10 -3 M
Jadi pH = -log [H+] = -log 10-3 = 3

MENGHITUNG pH LARUTAN BASA.


1. pH Basa Kuat
Untuk menentukan pH basa-basa kuat ( á = 1), maka terlebih dahulu dihitung nilai
pOH larutan dari konsentrasi basanya, yaitu: [OH-] = n.Mb dimana n= valensi basa
& Mb=konsentrasi basa.
pOH = - log [OH- ]
pH = pKw – pOH = 14 – pOH
Contoh:
a. Tentukan pH dari 100 ml larutan KOH 0.1 M
b. Hitunglah pH dari 500 ml larutan Ca(OH)2 0.01 M
Jawab:
a. KOH(aq) _ K+ (aq) + OH- (aq)
[OH- ] = [KOH] = 0.1 = 10-1 M
pOH = - log [OH- ] = - log 10-1 = 1
pH = 14 - pOH = 14 - 1 = 13
b. Ca(OH)2 (aq) _ Ca2+ (aq) + 2 OH– (aq)
[OH-] = 2[Ca(OH)2] = 2 x 0.01 = 2.10-2 M
pOH = - log [OH- ] = - log 2.10-2 = 2 - log 2
Jadi pH = 14 - pOH = 14 - (2 - log 2) = 12 + log 2
2. pH Basa Lemah
Bagi basa-basa lemah, karena harga derajat ionisasinya á _ 1, maka untuk menyatakan
konsentrasi ion OH - digunakan rumus:
[OH - ] = _ (Mb . Kb)
• Dimana : Mb = konsentrasi basa lemah & Kb = tetapan ionisasi basa lemah.
Contoh: Hitunglah pH dari 100 ml 0.001 M larutan NH4OH, jika diketahui tetapan
ionisasinya = 10-5
Jawab:
[OH- ] = _ (Mb . Kb) = _10-3 . 10-5 = 10-4 M
pOH = - log [OH-] = - log 10-4 = 4
Jadi pH = 14 - pOH = 14 - 4 = 10
Larutan buffer adalah:
a. Campuran asam lemah dengan garamnya (garam dari asam lemah tersebut/basa
konjugasinya).
Contoh:
- CH3COOH dengan CH3COONa
- H3PO4 dengan NaH2PO4
b. Campuran basa lemah dengan garamnya (garam dari basa lemah tersebut / asam
konjugasinya).
Contoh:
- NH4OH dengan NH4Cl
Sifat larutan buffer:
 pH larutan tidak berubah jika diencerkan.
 pH larutan relatif tidak berubah jika ditambahkan ke dalamnya sedikit asam kuat
atau basa kuat.

CARA MENGHITUNG pH LARUTAN BUFFER


1. Untuk larutan buffer yang terdiri atas campuran asam lemah dengan garamnya
(larutannya akan selalu mempunyai pH < 7) digunakan rumus:
[H + ] = Ka. [a] / [g]
• pH = pKa + log [g] / [a]
dimana:
[a] = konsentrasi asam lemah atau mol asam lemah dalam campuran.
[g] = konsentrasi garamnya atau mol garam dalam campuran.
Ka = tetapan ionisasi asam lemah
Contoh
Hitunglah pH larutan yang terdiri atas campuran 0.01 mol asam asetat dengan 0.1 mol
natrium Asetat dalam 1 1iter larutan, Ka asam asetat = 10-5
Jawab :
[a] = 0.01 mol/liter = 10-2 M dan [g] = 0.10 mol/liter = 10-1M
pH= pKa + log [g] / [a] = -log 10-5 + log 10-1 / 10 -2 = 5 + 1 = 6
2. Untuk larutan buffer yang terdiri atas campuran basa lemah dengan garamnya
(larutannya akan selalu mempunyai pH > 7), digunakan rumus:
[OH - ] = Kb . [b] / [g]
• pOH = pKb + log [g] / [b]
dimana:
[b] = konsentrasi basa lemah (mol basa lemah) dalam campuran.
[g] = konsentrasi garamnya (mol garam atau asam konjugasinya dalam campuran).
Kb = tetapan ionisasi basa lemah
Contoh
Hitunglah pH campuran 1 liter larutan yang terdiri atas 0.2 mol NH4OH dengan 0.1
mol HCl (Kb.NH4OH = 10-5)
Jawab
NH4OH(aq) + HCl(aq) _ NH4Cl(aq) + H2O(l)
mol NH4OH yang bereaksi = mol HCl yang tersedia = 0.1 mol
mol NH4OH sisa = 0.2 - 0.1 = 0.1 mol
mol NH4Cl yang terbentuk = mol NH40H yang bereaksi = 0.1 mol
Karena basa lemahnya bersisa dan terbentuk garam (NH4Cl) maka campurannya akan
membentuk Larutan Buffer.
[b] (sisa) = 0.1 mol/liter = 10-1 M
[g] (yang terbentuk) = 0.1 mol/liter = 10-1 M
pOH = pKb + log [g] / [b] = -log 10-5 + log 10-1/10-1 = 5 + log 1 = 5
Jadi pH = 14 - p0H = 14 - 5 = 9

Walaupun teori Arrhenius berhasil mengungkapkan beberapa kasus, tetapi memiliki


beberapa keterbatasan. Selain hanya memandang aspek reaksi asam basa di dalam pelarut
air, juga pembentukan ion OH- atau ion H+ merupakan kekhasan teori asam basa
Arrhenius. Artinya jika suatu reaksi tidak membentuk ion OH- atau ion H+ tidak dapat
dikatakan sebagai asam atau basa.

Prinsip kerja dari alat ini yaitu semakin banyak elektron pada sampel maka akan semakin
bernilai asam begitu pun sebaliknya, karena batang pada pH meter berisi larutan elektrolit
lemah. alat ini ada yang digital dan juga analog. pH meter banyak digunakan dalam
analisis kimia kuantitatif.
Pada prinsipnya pengukuran suatu pH adalah didasarkan pada potensial elektro
kimia yang terjadi antara larutan yang terdapat di dalam elektroda gelas yang telah
diketahui dengan larutan yang terdapat di luar elektroda gelas yang tidak diketahui. Hal
ini dikarenakan lapisan tipis dari gelembung kaca akan berinteraksi dengan ion hidrogen
yang ukurannya relatif kecil dan aktif.
Elektroda gelas tersebut akan mengukur potensial elektrokimia dari ion hidrogen
atau diistilahkan dengan potential of hidrogen. Untuk melengkapi sirkuit elektrik
dibutuhkan suatu elektroda pembanding. Sebagai catatan, alat tersebut tidak mengukur
arus tetapi hanya mengukur tegangan. Skema elektroda pH meter akan mengukur
potensial listrik antara Merkuri Klorid (HgCl) pada elektroda pembanding dan potassium
chloride (KCl) yang merupakan larutan di dalam gelas elektroda serta petensial antara
larutan dan elektroda perak. Tetapi potensial antara sampel yang tidak diketahui dengan
elektroda gelas dapat berubah tergantung sampelnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan
kalibrasi dengan menggunakan larutan yang equivalent yang lainnya untuk menetapkan
nilai pH. Elektroda pembanding calomel terdiri dari tabung gelas yang berisi potassium
kloride (KCl) yang merupakan elektrolit yang berinteraksi dengan HgCl diujung larutan
KCl. Tabung gelas ini mudah pecah sehingga untuk menghubungkannya digunakan
keramik berpori atau bahan sejenisnya. Elektroda semacam ini tidak mudah
terkontaminasi oleh logam dan unsure natrium.
Elektroda gelas terdiri dari tabung kaca yang kokoh dan tersambung dengan
gelembung kaca yang tipis. Di dalamnnya terdapat larutan KCl yang buffer ph 7.
Elektroda perak yang ujungnya merupakan perak kloride (AgCl2) dihubungkan ke dalam
larutan tersebut. Untuk meminimalisir pengaruh elektrik yang tidak diinginkan, alat
tersebut dilindungi oleh suatu lapisan kertas pelindung yang biasanya terdapat di bagian
dalam elektroda gelas. Pada kebanyakan pH meter modern sudah dilengkapi dengan
thermistor temperature, yakni suatu alat untuk mengkoreksi pengaruh temperature.
Antara elektroda pembanding dengan elektroda gelas sudah disusun dalam satu kesatuan.

Cara pengukuran larutan adalah sebagai berikut:


1. Siapkan sampel larutan yang akan dicheck pH-nya.
2. Jika larutan panas, biarkan larutan mendingin sampai dengan suhunya sama dengan
suhu ketika kalibrasi. Contohnya jika kalibrasi dilakukan pada suhu 20°C maka
pengukuranpun dilakukan pada suhu 20°C.
3. Buka penutup plastic elektroda, bilas dengan air DI dan keringkan dengan
menggunakan kertas tisu.
4. Nyalakan pH meter dengan menekan tombol ON/OFF.
5. Masukan elektroda kedalam sampel, kumudian putar agar larutan homogen.
6. Tekan tombol MEAS untuk memulai pengukuran, pada layar akan muncul tulisan
HOLD yang kelap kelip.
7. Biarkan sampai tulisan HOLD pada layar berhenti kelap-kelip.
8. Nilai pH yang ditunjukkan pada layar adalah nilai pH larutan yang di check
9. Matikan pH meter dengan menekan kembali tombol ON/OFF

Pemeliharaan pH Meter
pH meter harus dirawat secara berkala untuk menjaga umur pakai dari alat tersebut.
Pemeliharaannya meliputi:
 Batterey ; Penggantian batere dilakukan jika pada layer muncul tulisan low battery
 Elektroda ; Pembersihan elektroda bisa dilakukan berkala setiap minimal 1 minggu
sekali. Pembersihannya menggunakan larutan HCl 0.1 N (encer) dengan cara direndam
selama 30 menit kemudian dibersihkan dengan air DI.
 Penyimpanan ; Ketika tidak dipakai, elektroda utama bagian gelembung gelasnya
harus selalu berada pada keadaan lembab. Oleh karena itu, penyimpanan elektroda
disarankan selalu direndam dengan menggunakan air DA. Penyimpanan pada posisi
kering akan menyebabkan membran gelas yang terdapat pada gelembung elektroda
akan mudah rusak dan pembacaannya tidak akurat.
 Suhu penyimpanan ; Ketika disimpan, pH meter tidak boleh berada pada suhu
ruangan yang panas karena akan menyebabkan sensor suhu pada alat cepat rusak.

Untuk terus menjamin keakuratan dalam pengukuran derajat keasaman, maka perlu
dilakukan kalibrasi pH meter secara periodik.
pH meter biasanya dikalibrasi pada titik2 pada rentang dimana pH digunakan
menggunakan suatu standar yang telah tertelusur / biasa disebut larutan buffer. Saat ini
sudah banyak larutan buffer dari berbagai pabrikan yang dijual di pasaran.

Untuk penggunaan pH meter dengan rentang ukur antara asam dan basa, tak jarang
sebuah ph meter dikalibrasi pada 5 titik yaitu pH 2, 4, 7, 9 dan 12. Tapi ada kalanya juga
pH meter dikalibrasi hanya 3 titik yaitu pH 4, 7, dan 9 atau 10.

Dari hasil kalibrasi pH meter tersebut akan didapatkan suatu slope yang menunjukkan
tingkat keakuratan dari suatu pH meter. Jika nilai dari slope tersebut masih masuk atau
diantara spesifikasi slope yang ditetapkan dalam manual alat pH meter yang bersangkutan
berarti menunjukkan bahwa pH meter tersebut masih akurat dan layak digunakan.

Namun terkadang bisa juga kita gunakan dua buffer saja, cara ini khusus untuk sample
yang harga pH nya berada dalam rentang buffer standar, contohnya pH 5, maka
digunakan buffer pH 4 dan buffer pH 7, kalau yang harganya belum diketahui atau
berada diluar range standar sangat lebih baik gunakan 3 buffer.

Prosedur kalibrasi pH meter digital.


1. Tekan tombol “mode” untuk memilih pH
2. Tekan tombol Setup dua kali, lalu tekan tombol Enter untuk menghapus standardisasi
yang sudah ada sebelumnya
3. Tekan tombol STD untuk memulai kalibrasi yang baru.
4. Keluarkan elektroda dari wadah larutan. Bilas dengan air suling.
5. Celupkan elektroda buffer pH 4, yang merah jambu. Aduk larutan supaya elektroda
dapat mendeteksi dengan baik pH sebenarnya.
6. Tekan tombol STD lagi. Setelah membaca stabil, meteran akan kembali ke layar
pengukur.Tekan tombol STD lagi untuk melakukan kalibrasi dengan larutan buffer
kedua
7. Keluarkan larutan buffer pH 4 dan bilas elektroda
8. Celupkan elektroda di buffer pH 10 dan aduk memutar. Tekan STD lagi untuk
melakukan kalibrasi dengan buffer tersebut. Meteran akan menampilkan slope
kalibrasi dan kembali ke layar pengukur

Bagian – bagian pH meter

Keterangan gambar dan tombol pH meter

1. Body pH meter
2. Body elektroda
3. Layar
4. Kabel elektroda
5. Kabel sensor suhu
6. Tombol MEAS untuk pengukuran
7. Tombol MODE untuk pemilihan mode pengukuran
8. Tombol Set untuk setting pengukuran
9. Tombol CAL untuk proses kalibrasi
10.Tombol CAL DATA untuk mereview data kalibrasi yang telah dilaukan
11.Tombol ON/OFF
12.Tombol Data OUT untuk mengeluarkan data yang sudah di input
13.Tombol ENTER
14.Elektroda gelas
15.Elektroda pembanding (reference)

Macam – Macam pH meter