Anda di halaman 1dari 102

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

REPUBLIK INDONESIA
2018

Success Story
Pengawas Sekolah
SMA

Edisi-1
Editor:
Prof. Supardi, M.Pd
• Success Story •
Pengawas Sekolah
SMA
Edisi-1

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


REPUBLIK INDONESIA
2018
• Success Story •
Pengawas Sekolah
SMA
Edisi-1

Penulis:
• Agus Adisantoso, M.Pd • Made Saputra, S.Pd. M.Si
• Akh Hidayat, M.Pd • Putu Arimbawa, M.Pd
• Arifin, M.Pd • Toto Raharjo, S.Pd, M.Pd
• Ernesta Dwi Winasis Pujiastuti • Warsono, M.Pd
• I Made Arya Maharyadi, M.Pd • Yudhi Saparudin, M.Pd

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


REPUBLIK INDONESIA
2018
Judul Buku:
Succses Story Pengawas Sekolah SMA
Edisi-1
Penulis:
Agus Adisantoso, M.Pd
Akh Hidayat, M.Pd
Arifin, M.Pd
Ernesta Dwi Winasis Pujiastuti
I Made Arya Maharyadi, M.Pd
Made Saputra, S.Pd. M.Si
Putu Arimbawa, M.Pd
Toto Raharjo, S.Pd, M.Pd
Warsono, M.Pd
Yudhi Saparudin, M.Pd
Editor:
Prof. Supardi, M.Pd
Desain Sampul:
Andreas Levi Aladin
Penata Isi:
Andreas Levi Aladin
Korektor:
Dwi Murti Nastiti
Jumlah Halaman:
90 + 10 halaman romawi
Edisi/Cetakan:
Cetakan 1, Agustus 2018

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan


Kompleks Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Gedung A Lt. 2,
Jl. Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta Pusat
Telp. (021) 5733353

ISBN: 978-602-52537-2-0

Dicetak oleh Percetakan IPB, Bogor - Indonesia


Isi di Luar Tanggung Jawab Percetakan

© 2018, HAK CIPTA DILINDUNGI OLEH UNDANG-UNDANG

Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku


tanpa izin tertulis dari penerbit
KATA PENGANTAR

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta
alam yang telah mencurahkan hidayah dan inayah-Nya yang tiada henti-
hentinya sehingga penulisan buku ini dapat dilakukan dengan baik.
Buku Success Story edisi-1 ini merupakan kumpulan naskah para finalis
kegiatan Best Practice yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan
Tenaga Kependidikan Dikdasmen Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga
Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Peserta kegiatan
adalah Kepala Sekolah/Pengawas Sekolah jenjang pendidikan dasar dan
menengah seluruh Indonesia. Kegiatan ini merupakan kegiatan tahunan
yang bertujuan: (1) Memberikan penghargaan dan pengakuan kepada Kepala
Sekolah/Pengawas Sekolah jenjang pendidikan dasar dan menengah yang
secara nyata berprestasi dalam meningkatkan mutu sekolah yang menjadi
binaan dan mutu pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah yang
telah berhasil melewati tahapan-tahapan seleksi pada Lomba Best Practices
Nasional Pengawas Sekolah Tahun 2018; (2) Menyediakan wadah/wahana
bagi para pengawas sekolah untuk menunjukkan kemampuan melakukan
perubahan dalam tata kelola sekolah melalui praktik-praktik baik (best
practices); (3) Meningkatkan motivasi pengawas sekolah secara berkelanjutan
untuk menciptakan kinerja yang lebih produktif; (4) Menumbuhkan
kebanggaan di kalangan pengawas sekolah jenjang pendidikan dasar dan
menengah dalam melaksanakan tugas dan fungsinya; (5) Mendiseminasikan
praktik-praktik baik kepada teman sejawat sebagai model pengembangan
diri pengawas sekolah, Kegiatan Best Practice yang dilakukan oleh Kepala
Sekolah/Pengawas Sekolah tersebut dituliskan dalam bentuk naskah ilmiah
popular, Beberapa naskah terbaik disajikan pada buku ini dengan harapan
vi
Success Story
Pengawas Sekolah SMA

bisa dimanfaatkan oleh Kepala Sekolah/Pengawas Sekolah lainnya. Buku ini


diharapkan dapat menjadi contoh hal baik bagi Kepala Sekolah/Pengawas
Sekolah di seluruh Indonesia.
Kami menyadari bahwa setiap karya manusia tentu tidak lepas dari
kelemahan dan kekurangan. Untuk itu kritik dan saran membangun
demi kesempurnaan buku ini dapat disampaikan melalui email http://
tendikdikdasmen.kemdikbud.go.id/bestpractice2018
Terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah
memberikan dukungan dan bantuannya sehingga Buku Success Story edisi-1
Direktorat Pembinaan Tenaga Kependidikan Dikdasmen Direktorat Jenderal
Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Edisi-1 tahun 2018 ini dapat disajikan.
Salam
Kasubdit Kesharlindung Direktorat Pembinaan Tenaga Kependidikan
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Dra. Anies Mucktiany, MM


SAMBUTAN
DIREKTUR PEMBINAAN TENAGA
KEPENDIDIKAN

Saya sangat mengapresasi upaya kepala sekolah dan pengawas


sekolah untuk mengaktualisasikan gagasan-gagasan maupun praktik-
praktik baik mereka dalam bentuk tulisan. Demikian pula saya menyambut
baik diterbitkannya kumpulan tulisan mereka dalam bentuk buku sehingga
menjadi aset intelektual yang sekaligus memperkaya literatur pendidikan di
tanah air. Aktivitas penulisan buku ataupun karya ilmiah lainnya di kalangan
tenaga kependidikan merupakan suatu jalur strategis untuk membangun
semangat saintifik yang pada gilirannya akan berdampak secara signifikan
bagi peserta didik khususnya dan hasil-hasil pendidikan pada umumnya.
Terimakasih kepada semua pihak yang telah terlibat dalam proses
penerbitan buku ini. Semoga dedikasi yang mulia ini bermanfaat untuk dunia
pendidikan di tanah air.
Jakarta, Agustus 2018

Dr. Drs. Bambang Winarji, M.Pd


(Direktur Pembinaan Tenaga Kependidikan,
Ditjen GTK, Kemendikbud)
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ........................................................................................... v


Sambutan Direktur Pembinaan Tenaga Kependidikan.............................. vii
Daftar Isi..................................................................................................... ix
Agus Adisantoso, M.Pd . ............................................................................. 1
Akh Hidayat, M.Pd . .................................................................................... 9
Arifin, M.Pd .............................................................................................. 17
Ernesta Dwi Winasis Pujiastuti ................................................................. 25
I Made Arya Maharyadi, M.Pd ................................................................. 35
Made Saputra, S.Pd. M.Si ......................................................................... 45
Putu Arimbawa, M.Pd .............................................................................. 53
Toto Raharjo, S.Pd, M.Pd . ........................................................................ 61
Warsono, M.Pd . ....................................................................................... 71
Yudhi Saparudin, M.Pd.............................................................................. 81
Pembinaan Guru Melalui
Teknik Supervisi Akademik
Berkesinambungan

Agus Adisantoso, M.Pd


SMAN 3 Kuala Kapuas
Kalimatan Tengah

Pendahuluan
Persoalan yang kerap ditemukan dalam pembinaan guru yaitu bahwa
sebagian guru masih rendah kemampuannya dalam penyusunan Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). RPP dibuat oleh guru hanya sebatas
administrasi semata yang tidak berdampak positif dalam pembelajaran.
Akibatnya pelaksanaan pembelajaran di kelas kurang berkembang dan
kurang kreatif, sehingga pada ujungnya siswa menjadi kurang terlibat dalam
kegiatan pembelajaran.
Pembinaan guru dalam penyusunan RPP dan pelaksanaan pembelajaran
yang dilaksanakan oleh pengawas sekolah sering kali merupakan kegiatan
yang terpisah. RPP yang sudah dibuat guru tidak terlalu bermanfaat dalam
kegiatan pembelajaran. Agar RPP yang dibuat oleh guru ini sesuai dengan
apa yang dilakukan oleh guru dalam pembelajaran maka diperlukan tehnik
pembinaan guru dalam menyusun RPP dan pelaksanaan pembelajaran secara
berkesinambungan.
2
Success Story
Pengawas Sekolah SMA

Tehnik yang ditawarkan adalah pembinaan guru dalam penyusunan RPP


bersamaan dengan pembinaan guru dalam pelaksanaan pembelajaran. Teknik
ini bertujuan agar guru lebih memiliki kemampuan menyusun RPP yang sesuai
dengan kondisi siswa dan daya dukung sekolah. Teknik pembinaan ini juga
diharapkan dapat meningkatkan kemampuan guru dalam mengembangkan
kegiatan pembelajaran

RPP dan Pembelajaran


Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 22 tahun 2016
menyebutkan, bahwa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah
rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau
lebih, dikembangkan berdasarkan silabus untuk mengarahkan kegiatan
pembelajaran dan penilaian peserta didik dalam mencapai Kompetensi Dasar
(KD). Setiap guru di setiap satuan pendidikan wajib menyusun RPP untuk
kelas di mana guru tersebut mengajar. Penyusunan RPP dilakukan sebelum
awal semester atau awal tahun pelajaran. Perencanaan pembelajaran
merupakan langkah yang sangat penting sebelum pelaksanaan pembelajaran.
Perencanaan yang matang diperlukan supaya pelaksanaan pembelajaran
berjalan secara efektif.
RPP tersusun dari 8 (delapan) komponen terdiri atas: (1) Identitas dan
kelengkapan Komponen; (2) Kompetensi Inti; (3) Kompetensi Dasar (KD)
dan Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK); (4) Materi Pembelajaran; (5);
Metode/model Pembelajaran; (6) Media, alat dan sumber belajar; (7) Langkah
Kegiatan Pembelajaran; dan (8) Penilaian.
Guru memegang peranan sentral dalam kegiatan pembelajaran di
kelas. Untuk itu mutu pendidikan di suatu sekolah sangat ditentukan oleh
kemampuan yang dimiliki seorang guru dalam menjalankan tugasnya.
Guru adalah faktor penentu bagi keberhasilan pendidikan di sekolah.
Guru merupakan sentral serta sumber kegiatan belajar mengajar. Hal ini
menunjukkan bahwa kemampuan atau kompetensi dari seorang guru sangat
menentukan mutu pendidikan. Kompetensi guru memang bervariasi, ada
guru yang memiliki kompetensi profesional yang sangat baik namun ada juga
yang rendah.
Bilamana seorang guru memiliki sikap positif terhadap profesinya
sebagai guru, maka sudah barang tentu guru akan menjalankan tugasnya
di sekolah dengan penuh rasa tanggung jawab. Demikian pula sebaliknya
3
Pembinaan Guru Melalui Teknik
Supervisi Akademik Berkesinambungan

seorang guru yang memiliki sikap negatif terhadap profesinya, pastilah dia
hanya menjalankan tugasnya sebatas rutinitas belaka. Untuk itu perlu kiranya
ditanamkan sikap positif guru terhadap profesi guru, mengingat peran guru
dalam lingkungan pendidikan amatlah penting.
Untuk melaksanakan tugas profesi guru ini, seorang guru tidak bisa
hanya masuk kelas membawa buku seadanya kemudian melaksanakan
pembelajaran begitu saja. Guru perlu melakukan persiapan yang sistematis
dan terencana agar pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan tujuan yang
ingin dicapai. Untuk itu sebelum melaksanakan pembelajaran guru harus
mempersiapkan perencanaan proses pembelajaran dengan baik.
Kegiatan pembelajaran di kelas yang terkait dengan pelaksanaan
pembelajaran merupakan beban kerja sebagaimana Peraturan Pemerintah
74 Tahun 2008 Pasal 52 ayat (1) Beban kerja Guru mencakup kegiatan
pokok: a. merencanakan pembelajaran; b. melaksanakan pembelajaran; c.
menilai hasil pembelajaran; d. membimbing dan melatih peserta didik; dan
e. melaksanakan tugas tambahan yang melekat pada pelaksanaan kegiatan
pokok sesuai dengan beban kerja Guru. Kegiatan pembelajaran merupakan
kegiatan yang dilakukan oleh guru agar terjadi proses pembelajaran untuk
mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Kegiatan pembelajaran
tersusun dari 4 (empat) komponen, yaitu (1) Kegiatan Pendahuluan; (2)
Kegiatan Inti; (3) Kegiatan Penutup; dan (4) Kegiatan lainnya.

Pembinaan Guru dengan Supervisi Akademik


Berkesinambungan
Tehnik pembinaan guru dalam penyusunan RPP dan pelaksanaan
pembelajaran perlu dilaksanakan secara berkesinambungan. Pengawas
sekolah membina guru menyusun RPP sesuai dengan kelas yang
dibimbing. Setelah RPP tersusun sesuai dengan pedoman selanjutnya guru
melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan RPP tersebut. Selesai
kegiatan pembelajaran guru bersama pengawas sekolah mendiskusikan hasil
pembelajarannya tadi serta mengevaluasi RPP yang dibuat.
4
Success Story
Pengawas Sekolah SMA

Sebelum pembimbingan secara berkelanjutan


I Penilaian RPP dengan Pelaksanaan pembelajaran
instrumen

Pembimbingan RPP dan Pembelajaran secara


berkesinambungan

II Penyusunan RPP Pelaksanaan pembelajaran

Review RPP dan Pelaksanaan Pembelajaran

III Penyusunan RPP secara Pelaksanaan Pembelajaran


mandiri secara mandiri

Gambar 1. Diagram
pembimbingan berkesinambungan
Teknik Penyusunan
pembimbingan Penyusunan pelaksanaan pembelajaran RPP dan Pelaksanaan
IV
RPP dengan RPP yang telah Pembelajaran
disusun Berkesinambungan

Pengawas memberikan pembimbimbingan dengan menggunakan


instrumen yang telah disiapkan. Dari hasil pembinaan ini selanjutnya
guru didampingi pengawas untuk menyusun RPP lagi dan melaksanakan
pembelajaran. Demikian seterusnya sehingga selanjutnya guru akan terampil
dan mampu membuat RPP dan melaksanakan pembelajaran dengan baik.
Penjelasan diagram teknik penyusunan RPP dan Pelaksanaan
pembelajaran secara berkesinambungan:
I. Pembimbingan penyusunan RPP dan pelaksanaan pembelajaran
secara mendiri oleh guru tanpa pembimbingan akan menghasilkan
RPP yang tidak berdampak positip terhadap pembelajaran
II. Penyusunan RPP dan pelaksanaan pembelajaran secara
berkesinambungan, penyusunan RPP dibimbing oleh pengawas
selanjutnya langsung dilanjutkan dengan pelaksanaan
pembelajaran.
5
Pembinaan Guru Melalui Teknik
Supervisi Akademik Berkesinambungan

III. Review RPP dan pelaksanaan pembelajaran. Dari hasil pembimbingan


penyusunan RPP dan pelaksanaan pembelajaran dievaluasi
pengawas pembina bersama guru, namun RPP dan pelaksanaan
pembelajaran ini perlu perbaikan lagi.
IV. Pembimbingan berkesinambungan seperti langkah II untuk
menghasilkan RPP dan Pelaksanaan pembelajaran yang lebih baik
lagi.
Dari hasil pembinaan guru di SMAN 3 Kuala Kapuas dengan teknik ini
diperoleh hasil yang cukup baik dan ada perubahan yang signifkan. Penilaian
kompetensi guru dalam menyusun RPP dan pelaksanaan pembelajaran
dilakukan oleh pengawas sekolah menggunakan 2 (dua) macam kuesioner,
yaitu kuesioner untuk menilai RPP dan kuesioner pelaksanaan pembelajaran

Gambar 2. Foto
Kegiatan Pelaksanaan
Pembelajaran

.Kriteria penilaian kualitas RPP yaitu:


1. Skor ≥ 90 maka RPP layak digunakan untuk pembelajaran.
2. 80< skor <90 maka RPP layak digunakan dengan perbaikan.
3. Skor < 80 maka RPP tidak layak digunakan untuk pembelajaran.
6
Success Story
Pengawas Sekolah SMA

Hasil penilaian kualitas RPP sebelum dan sesudah dilakukan pembinaan


secara berkesinambungan diperoleh data seperti tabel berikut.
Kulaitas RPP
No Komponen Sebelum Sesudah
Pembinaan Pembinan
1 Identitas dan kelengkapan Komponen 100 100
2 Kompetensi Inti 90 95
3 KD dan IPK 80 100
4 Materi Pembelajaran 85 100
5 Metode/model Pembelajaran 57 73
6 Media, alat dan sumber belajar 87 100
7 Langkah Kegiatan Pembelajaran 73 92
8 Penilaian 83 100
Skor 74 95
Tdk layak layak
Kesimpulan hasil telaah
digunakan digunakan

1
100 100 1100 100
0 100 100
95
100 92
90
85 87
90 3
83
80
80 73 73

70
57

Gambar 3.
60

50

40 Diagram Hasil
30
Penilaian
Kualitas RPP
20

10

0
Id
dentitas Kompetensi Inti KD dan P
PK Materi Metode/model Media, alat & Langkah Pen
nilaian
Sebelum
Pembelajaran Pembelj sumber belajar Keggiatan Pembj
dan Sesudah
sebelum
m sesudah Pembinaan

Sedangkan kriteria penilaian pelaksanaan pembelajaran dikategorikan


sebagai berikut.
1. Skor ≥ 75 Kegiatan pembelajaran sudah baik.
2. Skor < 75 Kegiatan pembelajaran perlu perbaikan dan pembinaan
lebih lanjut.
Hasil penilaian kualitas pelaksanaan pembelajaran sebelum dan sesudah
dilakukan pembinaan secara berkesinambungan diperoleh data seperti tabel
berikut.
7
Pembinaan Guru Melalui Teknik
Supervisi Akademik Berkesinambungan

Skor Kualitas Pembelajaran


No Komponen
Sebelum Pembinaan Sesudah Pembinaan
1 Kegiatan Pendahuluan 68 96
2 Kegiatan Inti 74 88,75
3 Kegiatan penutup 90 100
4 Kegiatan lainnya 88 100
Skor 66 79
Kesimpulan Hasil Perlu pembimbingan dan Pembelajaran sudah
Telaah pembinaan lebih lanjut baik

96 00
10 100
100 88,75 90 88
8
Gambar 4. 90
80 68
7
74

Diagram Hasil 70
60
Penilaian 50
40
Pelaksanaan 30

Pembelajaran
20
10

Sebelum 0
Kegiatan
n Kegiiatan inti Kegiatan Lain
n-lain
dan Sesudah Pedahuluaan Penutup

Pembinaan Sebelum Sesudah


8
Success Story
Pengawas Sekolah SMA

Penutup
Dari uraian diatas dapat disimpulkan: (1) Supervisi akademik pembinaan
guru dalam penyusunan RPP dan mempraktikkannya dalam pembelajaran
secara berkesinambungan sangat efektif dan membantu guru melaksanakan
tugasnya dengan baik; (2) RPP yang disusun guru sangat cocok dalam
kegiatan pembelajaran; (3) Kegiatan pembelajaran lebih variatif dan guru
bisa mengembangkan pembelajaran sesuai dengan kondisi siswa dan daya
sekolah; (4) Guru lebih percaya diri dalam melaksanakan pembelajaran.
Rekomendasi yang dapat disampaikan bahwa supervisi akademik
pembinaan guru dalam penyusunan RPP dan kegiatan pembelajaran
secara berkesinambungan bisa dikembangkan lagi oleh pengawas. Perlu
adanya pembinaan guru secara berkala agar guru selalu dapat mengikuti
perkembangan pembelajaran dan mengembangkan pengetahuannya,
sehingga kegiatan pembelajaran lebih variatif dan menyenangkan siswa.
Ucapan terima kasih setinggi-tingginya disampaikan kepada Direktur
Pembinaan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar dan Menengah yang telah
memberikan kesempatan penulis untuk menyusun Tulisan Ilmiah Populer
dari best practice Pengawas Sekolah.

Daftar Pustaka
Dimyati. (2006). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 tentang
Guru.
Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 pengganti Peraturan Pemerintah
Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 22
Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah.
Cara Sederhana Mengentaskan
Kemiskinan Berliterasi dengan
“Baba Boba”

Akh Hidayat, M.Pd


SMA Negeri 1 Gerung
Nusa Tenggara Barat

Pendahuluan
Kegiatan untuk pengembangan kemampuan berliterasi sangat
diperlukan di sekolah. Hal ini dilatarbelakangi oleh rendahnya posisi bangsa
kita Indenesia di urutan yang nomor dua dari 65 negara di dunia menurut
hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA)
menyebutkan bahwa budaya literasi masyarakat Indonesia pada tahun 2012
terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia. Indonesia menempati
urutan ke 64 dari 65 negara tersebut. Sementara Vietnam justru menempati
urutan ke-20 besar. Dengan adanya kegiatan pengembangan literasi di
sekolah diharapkan bangsa Indonesia dapat mengejar ketertinggalannya dari
beberapa negara tersebut.
Dari keinginan untuk mengembangkan kemampuan berliterasi di atas,
pemerintah telah mencanangkan kegiatan GLS yaitu Gerakan Literasi Sekolah,
yang tentunya membutuhkan bahan bacaan yang banyak namun sekolah
secara umum, termasuk juga di SMA Negeri 1 Gerung belum memiliki bahan
bacaan yang cukup untuk memenuhi kegiatan tersebut. Maka sekolah harus
mempunyai ide atau gagasan yang cemerlang agar kegiatan GLS tersebut
dapat berjalan dan dapat mencapai tujuan yang diharapkan.
10
Success Story
Pengawas Sekolah SMA

Sebagai seorang pengawas bina sekolah di atas dan untuk mendukung


program pemerintah maka dicetuskan sebuah ide yaitu menyiapkan BABA
BOBA (Bahan Bacaan Bolak Balik) untuk dapat mencapai tujuan yang
dimaksud di atas.

Literasi
Pengertian literasi secara sempit adalah ditujukan dalam kemampuan
membaca, namun kemudian ditambahkan juga dengan kemampuan menulis.
Pada abad pertengahan, sebutan literatus ditujukan kepada orang yang dapat
membaca, menulis dan bercakap-cakap dalam bahasa Latin. Namun sekarang
ini literasi memiliki arti luas, sehingga keberaksaraan bukan lagi bermakna
tunggal melainkan mengandung beragam arti (multi literacies).
Literasi juga bermakna praktik dalam hubungan sosial yang terkait
dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya. Education Development Center
menjelaskan bahwa literasi lebih dari sekedar kemampuan membaca dan
menulis. Literasi adalah kemampuan individu untuk menggunakan segenap
potensi dan skill yang dimiliki dalam hidupnya sehingga pengertian literasi
mencakup kemampuan membaca kata dan membaca dunia.
Dari kutipan-kutipan di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa
literasi ini sangat berkaitan erat dengan pengembangan empat keterampilan
bahasa yaitu keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.
Keempat keterampilan inilah yang perlu dikembangkan dengan berbagai cara
untuk mengentaskan kemiskinan berliterasi.
Ada keinginan guru agar semua siswa di sekolah memiliki kemampuan
literasi yang tinggi untuk mendukung lancarnya kegiatan belajar mengajar,
untuk memudahkan pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan,
dan untuk menjadikan waktu lebih efektif dan efisien dalam pembelajaran.
Namun keinginan itu belum sempat dapat diraih karena 180 derajat terbalik.
Kenyataan yang ada adalah kemampuan dalam empat keterampilan berbahasa
itu masih rendah dibuktikan dengan sulitnya siswa dalam memahami bacaan,
sulitnya siswa dalam mengungkapkan ide atau gagasannya secara sistematis
baik secara lisan ataupun tulisan.
Sebelum mengatasi kesulitan tersebut, perlu dicari alasan mengapa
kemampuan berliterasi ini masih rendah. Ada beberapa faktor yang
menyebabkan rendahnya budaya literasi tersebut, antara lain:
11
Cara Sederhana Mengentaskan Kemiskinan Berliterasi
dengan “Baba Boba”

1. Kebiasaan membaca yang tidak ditanamkan sejak dini. Role model


anak di keluarga adalah orang tua dan anak-anak biasanya mengikuti
kebiasaan orang tua.
2. Belum merata dan minimnya kualitas sarana pendidikan terutama
buku-buku di perpustakaan.
3. Kurang minat baca adalah penyebab rendahnya budaya literasi di
Indonesia.
4. Sikap Malas untuk Mengembangkan Gagasan. Literasi tidak hanya
membaca, tetapi dilanjutkan dengan menulis. Setelah memiliki bahan
untuk menulis, tantangan selanjutnya adalah mengembangkan
gagasan. Hal tersebut membutuhkan waktu yang cukup untuk
pengendapan ide. Proses itulah yang biasanya membuat orang
malas menulis.
Itulah beberapa alasan penyebab budaya literasi di Indonesia rendah.
Kita mengetahui bahwa membaca akan membuka wawasan baru. Sesuatu
yang belum ditemukan di lingkungan, belum diajarkan oleh orang tua, dan
belum dijelaskan oleh guru bisa didapatkan dengan membaca. Oleh karena
itulah maka kebiasaan membaca perlu ditumbuhkan di sekolah sehingga
sekolah perlu memiliki banyak bahan bacaan.

BABA BOBA (Bahan Bacaan Bolak Balik)


Dalam rangka membudayakan kebiasaan membaca, Direktorat
Pembinaan SMA memprogramkan pembinaan peningkatan minat membaca
siswa SMA melalui gerakan literasi sekolah. Pada program tersebut,
sekolah bersama dengan pemangku kepentingan lainnya memfasilitasi dan
menggerakkan budaya membaca siswa. Demikian juga di SMA Negeri 1
Gerung sebagai sekolah binaan penulis mengadakan juga program Gerakan
Literasi Sekolah.
Adapun tujuan khusus dari Gerakan Literasi Sekolah adalah:
1. Menumbuhkembangkan budaya literasi membaca dan menulis
siswa di sekolah.
2. Meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah agar literat.
3. Menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan
ramah anak agar warga sekolah mampu mengelola pengetahuan.
4. Menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan
beragam buku bacaan dan mewadahi berbagai strategi membaca.
12
Success Story
Pengawas Sekolah SMA

Agar tujuan tersebut


dicapai maka sekolah harus
menyediakan bahan bacaan yang
cukup jumlahnya dan bervariasi
jenisnya. Seperti yang dikatakan
sebelumnya bahwa tidak semua
sekolah memiliki cukup dana
untuk menyediakan buku sebagai
bahan bacaan terutama bahan
bacaan non-pelajaran, maka ada
cara yang cukup sederhana dan
murah untuk memenuhi bahan
Gambar 1. BABA BOBA (Bahan Bacaan bacaan tersebut dan sekaligus
Bolak Balik) dapat mencapai tujuan Gerakan
Literasi Sekolah di atas.
Cara yang disarankan di sini adalah dengan menyediakan BABA BOBA
(Bahan Bacaan Bolak Balik) yaitu bahan bacaan yang terdiri dari hanya dua
halaman saja, dicetak pada selembar kertas bolak balik, yang berisi sebuah
tulisan utuh yang tidak bersambung sehingga dalam waktu yang singkat
misalnya 15 menit siswa telah mendapatkan informasi yang lengkap dari
bacaan tersebut.
Pada saat ini, bahan bacaan tidak saja dapat diperoleh dari surat kabar
ataupun majalah, namun di internetpun bisa kita peroleh dan bahkan
cukup bervariatif, yang penting adalah bisa dijadikan dua halaman saja dan
dicantumkan sumbernya. Bahan-bahan bacaan tersebut bisa berbentuk:
1. Artikel singkat tentang hasil penelitian, penemuan, atau inovasi
baru,
2. Berita yang spektakuler,
3. Ilmu-ilmu pengetahuan
4. Tips and trik,
5. Resep masakan, resep obat herbal,
6. Cerita pendek, Cerita rakyat, Cerita lucu,
7. Kisah-kisah inspiratif,
8. Biografi singkat orang-orang sukses, para pahlawan, para nabi, dll.
13
Cara Sederhana Mengentaskan Kemiskinan Berliterasi
dengan “Baba Boba”

Bahan-bahan bacaan ini kemudian dicetak di atas selembar kertas


kemudian dibungkus/dilapisi plastik (laminating) sehingga kedua halaman
bisa terbaca bolak balik. Bahan bacaan ini sangat sesuai dengan program GLS
yang diprogramkan dengan pembiasaan membaca hanya 15 menit setiap
hari.

Strategi Pelaksanaan BABA BOBA di Sekolah

Gambar 2. Skema strategi


pelaksanaan BABA BOBA di Sekolah

Untuk meningkatkan kemampuan berliterasi dengan Bahan Bacaan


Bolak Balik tersebut diperlukan strategi agar tujuan dapat dicapai dengan
efektif dan efisien (Lihat Gambar 2). Adapun langkah-langkahnya adalah
sebagai berikut:
1. Pengawas sekolah
mensosialisasikan program
pengembangan Literasi
dengan BABA BOBA (Bahan
Bacaan Bolak Balik) di
SMAN 1 Gerung kepada
Tim Pengembang sekolah.
Sekolah membentuk Tim
Literasi. Tim ini bisa diketuai
oleh Wakil Kepala Sekolah Gambar 3. Sosialisasi program
bidang akademik atau guru pembiasaan membaca dengan BABA
yang ditunjuk dan setiap BOBA kepada TIM Pengembang
wali kelas masuk menjadi Sekolah
anggota Tim Literasi
tersebut. Ini bertujuan agar semua wali kelas dapat mengetahui
dan mengontrol perkembangan kemampuan berliterasi dari setiap
siswanya.
14
Success Story
Pengawas Sekolah SMA

2. Masing-masing wali kelas mencari dan mengumpulkan maksimal 40


macam bahan bacaan seperti yang dijelaskan sebelumnya kemudian
melapisinya dengan plastik (laminating) agar menjadi lebih kuat
dan tidak mudah lecek. Bahan bacaan tersebut diberikan kode
berdasarkan kelompok kelas misalnya di kelas A kodenya A1, A2, A3
dst. Demikian juga halnya dengan di kelas B, C, D dst.
3. Sekolah melaksanakan program GLS dengan menyiapkan waktu
15 menit untuk membaca setiap hari di awal waktu sebelum jam
pertama dimulai. Kegiatan ini dapat didampingi oleh guru yang
bertugas pada jam pertama di kelas yang bersangkutan agar dapat
menumbuhkan kebiasaan membaca pada diri siswa. Program ini
harus didukung oleh seluruh guru khususnya guru yang mengajar
jam pertama. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada
langkah ini yaitu:
a. Setiap siswa hanya membaca satu bahan bacaan setiap hari.
b. Setiap siswa mencatat kode dan judul dalam jurnal literasi
mereka.
c. Bila bahan bacaan di kelas sudah habis terbaca maka ketua tim
mengatur pertukaran bahan bacaan dengan kelas yang lain.
d. Kegiatan selanjutnya adalah pengembangan kemampuan
berbicara siswa. Guru meminta siswa secara berpasangan saling
menceritakan isi bacaannya dengan menyisihkan waktu selama
lima menit. Atau dengan menunjuk seseorang siswa untuk ke
depan kelas menyampaikan materi bacaannya secara klasikal.
Kemudian memberikan kesempatan kepada siswa lain untuk
bertanya kepadanya.
4. Tim Literasi mengadakan evaluasi pelaksanaan kegiatan GLS tentang
perkembangan kemampuan literasi sekolah.
5. Sebagai tindak lanjut tim literasi sekolah mengadakan lomba menulis
satu kali dalam sebulan dengan materi terbaik yang telah dibacanya
dengan menggunakan kata-kata sendiri. Wali kelas mencari tiga
tulisan terbaik untuk diseleksi di tingkat sekolah. Sepuluh tulisan
terbaik dipajang di majalah dinding sekolah.
Bila langkah ketiga di atas dilakukan dengan terus menerus tanpa henti,
maka keempat keterampilan berbahasa sebagai dasar pengembangan literasi
dapat berkembang dengan pesat.
15
Cara Sederhana Mengentaskan Kemiskinan Berliterasi
dengan “Baba Boba”

Aska dimega
Aska dimega adalah istilah yang penulis gunakan untuk pembinaan
terutama pada pengembangan keterampilan mendengar, membaca,
berbicara, dan menulis. Ini adalah kerangka berpikir singkatan dari enam
kata tanya yaitu apa, siapa, kapan, dimana, mengapa dan bagaimana.
Jawaban dari kata-kata tanya inilah yang harus ada dalam benak siswa dalam
mendengar, membaca, berbicara atau menulis untuk dapat mengambil dan
atau mengembangkan setiap tema atau topik BABA BOBA.
Dengan menguasai aska dimega ini, kita akan terbiasa dan akan terbentuk
dalam pikiran kita bahwa ketika kita dalam proses membaca, misalnya, kita
harus mendapatkan informasi-informasi yang berhubungan dengan jawaban
dari kata-kata tanya ini. Atau ketika kita sedang menulis sesuatu maka kita
harus tuangkan informasi-informasi terkait dengan jawaban aska dimega
itu ke dalam tulisan kita. Sehingga aska dimega ini menjadi pedoman dan
tuntunan dalam membaca atau menulis agar lebih efektif dan efisien.
Dari kegiatan pembiasaan yang dilakukan dengan BABA BOBA ini dapat
dinyatakan bahwa Kepala sekolah dapat meniru strategi pelaksanaan kegiatan
pengembangan sebuah ide di sekolah, sementara guru bersama siswa dapat
menambah wawasan pengetahuan, motivasi serta rasa percaya diri dengan
sangat menyenangkan.

Penutup
Miskinnya berliterasi dapat mempengaruhi kualitas diri, cara
mengatasinya dengan membangun budaya baca dan menulis yang baik
di sekolah. Perlu adanya pembiasaan dan pengembangan membaca dan
menulis di sekolah melalui program GLS yang direncanakan dengan matang
dan dilaksanakan dengan baik. Salah satu cara yang sederhana dan murah
adalah dengan menyiapkam BABA BOBA yaitu Bahan Bacaan Bolak Balik,
dimana dengan bahan ini, kita bisa melaksanakan kegiatan pembiasaan bagi
siswa untuk membaca dan menulis yang dibantu dengan kerangka berpikir
aska dimega di pikiran mereka.
Dengan membiasakan siswa membaca dan menulis, siswa akan memiliki
penambahan wawasan pengetahuan sedikit demi sedikit dan kelak pada
akhirnya siswa akan dapat menghidupi dirinya dan dapat bertahan hidup
pada zamannya dengan bekal pengetahuannya sendiri.
16
Success Story
Pengawas Sekolah SMA

Berdasarkan kesimpulan di atas, maka dapat disampaikan rekomendasi


sebagai berikut. (1) Kegiatan peningkatan kemampuan berliterasi harus
dilaksanakan secara terus menerus dan menjadi perhatian kepala sekolah
dan seluruh warga sekolah. (2) BABA BOBA yang sudah habis dibaca maka
dapat ditukar dengan kelas yang lain sampai dengan semua bacaan habis
dibaca. (3) Agar lebih berkembang terus dapat dilaksanakan lomba-lomba
membaca, berpidato, dan menulis.

Daftar Pustaka
Aminah, Andi Nur. 2014. (online). http://www.republika.co.id/berita/ koran/
didaktika/ 14/12/15/ngm3g840-literasi-indonesia-sangat-rendah.
diakses tanggal 24 September 2017.
Amran. 2017. Rendahnya Tingkat Literasi Indonesia. (Online), http://www.
spotsatu.com/ index.php/rendahnya-tingkat-literasi-indonesia. diakses
tanggal 24 September 2017
Husniati, Nia. 2017. Gerakan Literasi Sekolah. (Online). http://literasi.
jabarprov.go.id/baca-artikel-1065-gerakan-literasi-sekolah.html.
diakses tanggal 24 September 2017
Jessica. 2017. 5 Penyebab Rendahnya Budaya Literasi di Indonesia. (Online).
http://www.educenter.id/5-penyebab-rendahnya-budaya-literasi-di-
indonesia. diakses tanggal 24 September 2017.
Kemendikbud. 2016. Buku saku Gerakan Literasi Sekolah. Menumbuhkan
Budaya Literasi di Sekolah, Jakarta: Sekretariat Negara
Kemendikbud. 2016. Panduan Gerakan Literasi di Sekolah Menengah Atas,
Jakarta: Sekretariat Negara.
Pemanfaatan Wattmeter Sederhana
dalam Meningkatkan Sikap Jujur
Siswa

Arifin, M.Pd

Pendahuluan
Definisi Penguatan Pendidikan Karakter menurut Peraturan Presiden No.
87 tahun 2017 adalah “Gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan
pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi
olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan pelibatan dan kerja
sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat sebagai bagian
dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM)” (Pasal 1 ayat 1). Selanjutnya
pada Pasal 3 PPK dilaksanakan dengan menerapkan nilai-nilai pancasila dalam
pendidikan karakter terutama meliputi nilai-nilai religius, jujur, toleran,
disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat
kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai,
gemar membaca, peduli lingkungan,pedulisosial,dan bertanggungjawab.(Tim
PPK Kemendikbud,16:2018).
Tidak dapat dipungkiri bahwa peningkatan kualitas pendidikan dapat
dicapai melalui peningkatan kualitas pembelajaran dan pengelolaan.
Peningkatan kualitas pembelajaran memiliki makna strategis dan berdampak
positif berupa (1) peningkatan kemampuan dalam menyelesaikan masalah
pendidikan dan pembelajaran yang dihadapi secara nyata, (2) peningkatan
kualitas masukan, proses, dan hasil belajar, (3) peningkatan profesionalitas
pendidik, dan (4) penerapan prinsip pembelajaran berbasis penelitian.
18
Success Story
Pengawas Sekolah SMA

Sedangkan peningkatan kualitas pengelolaan pendidikan akan menciptakan


pendidikan yang transparan, akuntabel, berdaya saing tinggi dan menghasilkan
pencitraan yang positif.
Pengawas harus aktif dalam meningkatkan kualitas mengajar guru baik
secara langsung maupun tidak langsung sehingga dapat mempengaruhi
dan berimbas pada kualitas pembelajaran khususnya dan kualitas satuan
pendidikan pada umumnya termasuk di dalamnya mendampingi guru dalam
PBM memakai alat peraga sederhana yang jarang dilakukan. Sehingga muncul
masalah apakah sikap jujur siswa dapat meningkat dengan pemakaian
wattmeter sederhana dalam pembelajaran. Peran strategis guru menuntut
pembimbingan, pembinaan dan pengembangan yang terus-menerus melalui
supervisi atau pengawasan baik akademik dalam bentuk pembimbingan,
pembinaan dan pendampingan maupun supervisi manajerial. Supervisi
pengajaran perlu diarahkan pada upaya-upaya yang sifatnya memberikan
kesempatan kepada para guru untuk berkembang secara profesional, sehingga
mereka lebih mampu melaksanakan tugas pokoknya, yaitu memperbaiki dan
meningkatkan proses dan kualitas hasil belajar.
Guru Fisika sebagai ujung tombak keberhasilan dalam pendidikan
dituntut untuk mencari, menggunakan, dan mengembangkan teknik atau
metode yang sesuai dengan materi serta lebih efektif dan efisien dalam
mengajarkan materi fisika diintegrasikan dengan pendidikan karakter agar
tercapai tujuan pembelajaran seoptimal mungkin. Dengan penjelasan di atas
diharapkan tulisan ini dapat memberikan gambaran wattmeter sederhana
dalam meningkatkan sikap jujur siswa dalam proses belajar mengajar (PBM).

Pemanfaatan Wattmeter Sederhana untuk


Meningkatkan Sikap Jujur Siswa
Hasil observasi nilai PPK sikap jujur siswa pada pembelajaran tanpa alat
peraga wattmeter berada pada nilai 63,75 atau kategori rendah, sedangkan
pada saat PBM memakai wattmeter menjadi 85,00 atau kategori sangat tinggi
sehingga terjadi peningkatan sebesar 21,25 (21,25%) berdasarkan kategorisasi
(Azis, 2007). PBM dengan alat peraga wattmeter sangat mempengaruhi sikap
jujur siswa.
19
Pemanfaatan Wattmeter Sederhana
dalam Meningkatkan Sikap Jujur Siswa

Tabel 1. Distribusi frekuensi dan persentase sikap jujur siswa pada PBM
tanpa memakai wattmeter
Nilai Frekuensi Persentase (%) Kategori
1 2 10,00 Tidak jujur
2 8 40,00 Kurang jujur
3 7 35,00 Cukup jujur
4 3 15,00 Jujur
Jumlah 20 100
Pada tabel 1 di atas menunjukkan bahwa nilai yang termasuk kategori
tidak jujur 2 (10,00 %) siswa, terdapat 8 orang (40,00 %) berada pada kategori
kurang jujur, 7 orang (35,00 %) berada pada kategori cukup jujur, dan 3 orang
(15 %) berada pada kategori jujur. Nilai rata - rata sikap jujur 63,75, sehingga
dapat dikatakan bahwa nilai kejujuran yang dicapai oleh siswa pada PBM
tanpa memakai wattmeter berada pada kategori rendah.

Tabel 2. Distribusi frekuensi dan persentase sikap jujur siswa pada PBM
dengan memakai wattmeter
Nilai Frekuensi Persentase (%) Kategori
1 1 5,00 Tidak jujur
2 2 10,00 Kurang jujur
3 5 25,00 Cukup jujur
4 12 60,00 Jujur
Jumlah 20 100
Pada tabel 2 di atas menunjukkan bahwa nilai yang termasuk kategori
tidak jujur 1 orang (5,00 %), terdapat 2 orang (10,00 %) berada pada kategori
kurang jujur, 5 orang (25,00 %) berada pada kategori cukup jujur, dan 14
orang (60,00 %) berada pada kategori jujur. Nilai rata - rata sikap jujur 85,00,
sehingga dapat dikatakan bahwa nilai kejujuran yang dicapai siswa pada PBM
memakai wattmeter berada pada kategori sangat tinggi.
20
Success Story
Pengawas Sekolah SMA

Gambar 1.Kegiatan
Pembelajaran Tanpa
Wattmeter dan
dengan menggunakan
Wattmeter

Hasil belajar fisika siswa dengan pembelajaran tanpa wattmeter sebesar


66,75 atau kategori sedang dan pembelajaran memakai alat peraga wattmeter
sebesar 75,10 dengan kategori tinggi. Sehingga pembelajaran memakai
wattmeter yang diterapkan sudah berhasil, karena terjadi peningkatan hasil
belajar fisika yang cukup signifikan pada pembelajaran tanpa memakai alat
peraga wattmeter dibanding pembelajaran memakai alat peraga wattmeter
sebesar 8,35 atau mengalami peningkatan sebesar 8,35%.
Nilai hasil supervisi pelaksanaan pembelajaran guru yang didampingi
pengawas memakai alat peraga wattmeter berada pada nilai 86,70 kategori
amat baik, berkorelasi dengan nilai PPK sikap jujur dan hasil belajar fisika
siswa pada pembelajaran menggunakan alat peraga wattmeter. Maka dari
data-data tersebut di atas penggunaan alat wattmeter pada PBM fisika sangat
berimplikasi juga pada pada kemampuan mengajar guru dan hasil belajar
fisika siswa, sehingga pendampingan yang dilakukan oleh pengawas sekolah
pada PBM guru memakai wattmeter berhasil.
1. Observasi Sikap Jujur pada PBM tanpa Wattmeter

Frekuensii
8 7
2 3

tidak jujur kurang jujur cuku


up jujur jujur
21
Pemanfaatan Wattmeter Sederhana
dalam Meningkatkan Sikap Jujur Siswa

2. Observasi Sikap Jujur pada PBM memakai Wattmeter

F rekuensi

12
5
1 2

tidakk jujur kurang jujur cukup jujur jujur

3. Perbandingan Hasil Belajar Fisika Siswa tanpa dan dengan memakai


Wattmeter

Tanpa Waattmeter
75,1 66,75
Memakaii Wattmeter

4. Supervisi Pelaksanaan PBM Guru Fisika


Keg.P
Pendahulua n Keg.Inti Keg
g.Penutup

85 90

86,25
22
Success Story
Pengawas Sekolah SMA

Uraian hasil analisis data dan pembahasan di atas menunjukkan bahwa


nilai sikap jujur siswa pada PBM tanpa memakai wattmeter sebesar 63,75
atau kategori rendah. Sedangkan nilai sikap jujur siswa pada PBM memakai
wattmeter sebesar 85,00 atau kategori sangat tinggi, sehingga terjadi
kenaikan nilai sikap jujur sebesar 21,25 pada siswa. Hasil belajar fisika siswa
pada PBM tanpa memakai alat peraga wattmeter berada pada kategori sedang
dengan rata-rata 66,75. Hasil belajar fisika siswa pada PBM dengan memakai
alat peraga wattmeter berada pada kategori tinggi dengan rata-rata 75,10.
Hasil supervisi pelaksanaan PBM terhadap guru fisika yang mengajar dengan
memakai wattmeter didampingi pengawas sekolah berada pada kategori
amat baik pada nilai 86,70, terjadi korelasi dengan peningkatan sikap jujur
dan hasil belajar siswa.

Penutup
Berdasarkan paparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
pembelajarn Fisika dengan memanfaatkan Wattmeter sederhana dapat
meningkatkan sikap Jujur Siswa. Nilai sikap jujur siswa pada pembelajaran
tanpa memakai wattmeter sebesar 63,75 (kategori rendah), sedangkan nilai
sikap jujur siswa pada pembelajaran yang memakai wattmeter sebesar 85,00
(kategori sangat tinggi).

Daftar Pustaka
Arifin. 2014. Pelaksanaan Kegiatan On The Job Learning (OJL) Palopo: Dinas
Pendidikan.
Azis, A. 2007. Pembelajaran dengan Pendekatan Problem Posing dalam
Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa SMP. Jurnal Ilmu
Kependidikan. Vol. 4 No. 2. Hal 101 - 111. Makassar: LPMP.
Budiarsih, Dyah. 2010. Berkat HP, Guru Bangga, dan Supervisiku Berhasil.
Banyumas: Best Practice Pengawas Sekolah.
Lie, Anita. 2002 . Cooperative Learning. Jakarta: PT. Grasindo.
Team. 2015. Buku Kerja Pengawas Sekolah. Jakarta: Departemen Pendidikan
Nasional. Team. 2018. Pedoman Pelaksanaan Lomba Best Practice Bagi
Pengawas Sekolah. Jakarta: Kemendikbud.
Team. 2017. Silabus Mata Pelajaran Fisika SMA Kelas XI IPA. Jakarta:
Kemendikbud.
23
Pemanfaatan Wattmeter Sederhana
dalam Meningkatkan Sikap Jujur Siswa

Team. 2018. Kebijakan Penguatan Pendidikan Karakter.Jakarta: Kemendikbud


Republik Indonesia
Tiro, Arif. 2008. Menulis Karya Ilmiah untuk Pengembangan Profesi Guru.
Makassar: Andira Publisher.
“BIMKEL-BIMPER” Strategi
Mendorong “KS” Melaksanakan
dan Menyusun Laporan Supervisi
Akademik

Ernesta Dwi Winasis Pujiastuti

Pendahuluan
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang
Standar Kepala Sekolah/Madrasah menyatakan bahwa Kepala Sekolah
memiliki 5 (lima) kompetensi, yakni kepribadian, manajerial, kewirausahaan,
supervisi, dan sosial. Dari kelima kompetensi tersebut kompetensi supervisi
merupakan ujung tombak kepala sekolah untuk memantau kinerja guru dalam
melaksanakan pembelajaran di kelas. Bisa dikatakan bahwa kompetensi
supervisi seorang kepala sekolah merupakan penentu kualitas pendidikan di
sekolah. Sayangnya hasil Uji Kompetensi Kepala Sekolah (UKKS) tahun 2015,
diperoleh hasil nilai rata-rata tertinggi 55,90 dan terendah 45,92. Sedangkan
untuk nilai rata-rata setiap kompetensi yaitu: (a) kepemimpinan pembelajaran
43,96; (b) kewirausahaan 48,52; (c) manajerial 48,87; (d) supervisi 36,45; dan
(e) usaha pengembangan sekolah 47,67. Dari hasil UKKS kelima kompetensi
tersebut, kompetensi supervisi yang menempati urutan terbawah.
Data tersebut menunjukkan bahwa kompetensi supervisi ini belum
dipahami secara optimal oleh para kepala sekolah (KS). Hal ini terbukti dengan
banyaknya KS yang tidak memiliki administrasi pelaksanaan supervisi. Supervisi
meliputi tiga tahapan yakni: (1) tahap pra observasi, (2) tahap observasi, dan (3)
tahap pasca observasi. Glickman (1981), mendefinisikan supervisi akademik
26
Success Story
Pengawas Sekolah SMA

(supak) adalah serangkaian kegiatan untuk membantu guru mengembangkan


kemampuannya mengelola proses pembelajaran demi pencapaian tujuan
pembelajaran. Supervisi akademik merupakan upaya membantu guru-
guru mengembangkan kemampuannya mencapai tujuan pembelajaran.
Dengan demikian, berarti, esensi supervisi akademik itu sama sekali bukan
menilai unjuk kerja guru dalam mengelola proses pembelajaran, melainkan
membantu guru mengembangkan kemampuan profesionalismenya.
Kekuatan kepala sekolah mengoptimalkan kegiatan supervisi dapat
memotivasi guru untuk meningkatkan kinerjanya. Melalui supervisi kepala
sekolah akan membuat guru memahami sepenuhnya tentang tugas pokok
dan fungsinya mulai penyusunan perangkat pembelajaran, pelaksanaan
pembelajaran hingga evaluasi pembelajaran. Dengan supervisi, kepala
sekolah dapat membantu guru mengatasi berbagai masalah terkait
pengadministrasian pelaksanaan pembelajaan hingga pelaksanaannya.
Sayangnya, kepala sekolah baru melakukan pemantauan pembelajaran
di kelas tanpa pembinaan terlebih dulu apalagi ditindaklanjuti, sehingga
supervisi yang seharusnya menjadi obat bagi guru dalam memperbaiki
kinerjanya belum dapat terwujud.

Bimkel - Bimper
Ada dua model bimbingan pengawas pada kepala sekolah, yakni:
Bimbingan Kelompok (Bimkel) dan Bimbingan Personal (Bimper). Bimkel
berbentuk workshop dan bimper dilakukan saat pelaksanaan supak KS
pada guru, saat penyusunan laporan supervisi akademik (supak) dan saat
presentasi laporan supak.
27
“BIMKEL-BIMPER” Strategi Mendorong “KS”
Melaksanakan dan Menyusun Laporan Supervisi Akademik

.
WORKSHOP
WORKKSHOP
SUPAK
SU
UPAK
BIMK
KEL

PELAK
KSANAAN
SU
UPAK

PENYU
USUNAN BIM
MPER
LAP
PORAN

EV
VALUASI
PRESENTASI PEM
MENUHAN N PENGUM
MPULAN
LAP
PORAN K
KRITERIA Ya
Y ORAN
LAPO

Tidak
k

Gambar 1. Bagan Proses REVISI


LAPORAN N
BIMKEL-BIMPER

Langkah-langkah Bimkel-Bimper sebagai berikut


Workshop Supak. Pengawas melakukan pembinaan kelompok
dalam bentuk workshop mengundang seluruh kepala sekolah binaan yang
didampingi oleh wakil kepala sekolah urusan kurikulum atau salah satu
anggota supervisor di salah satu sekolah yang disepakati sebagai tempat
pertemuan. Pengawas menjelaskan konsep supervisi kepada kepala sekolah,
dari tahapan pra observasi, observasi, dan pasca observasi. Bimbingan
kelompok ini lebih efektif dalam memahamkan konsep supervisi, pengawas
tidak perlu menjelaskan satu per satu, selain hemat pembiayaan.
Pelaksanaan Supak. Setelah pemahaman konsep supervisi akademik
dikuasai, kepala sekolah melaksanakan supervisi dengan tiga tahapan, yakni:
pra observasi, observasi, dan pasca observasi. Pengawas menyiapkan lembar
instrumen untuk tahap pra observasi dan observasi. Untuk keperluan pra
observasi dan observasi disiapkan instrumen untuk memudahkan pencatatan
data/informasi. Kepala sekolah melaksanakan supervisi minimal 5 (lima) guru
dengan menggunakan instrumen yang sudah diberikan dalam waktu satu
bulan.
28
Success Story
Pengawas Sekolah SMA

Penyusunan Laporan Supak. Pelaporan hasil supervisi akademik


merupakan bagian yang amat penting dari kegiatan supervisi. Terlaksana
tidaknya supervisi akademik pada satuan pendidikan teraktualisasi dalam
laporan. Selain itu, laporan merupkan bentuk pertanggungjawaban pengelola
pendidikan tehadap pemangku kepentingan. Hal yang tidak dapat diabaikan
yaitu menyusun dan menyampaikan laporan sebagai kewajiban bagi setiap
orang yang diberi kepercayaan untuk melakukan kegiatan.
Substansi laporan meliputi: hasil pemantauan, hasil supervisi, dan hasil
evaluasi. Dalam laporan juga harus ada data atau informasi yang bermakna.
Data atau informasi yang dilaporkan merupakan informasi yang telah
diberi makna oleh kepala sekolah. Data dan informasi itu diharapkan dapat
dijadikan landasan untuk mengambil keputusan bagi pemangku kepentingan
pendidikan. Tentu saja, laporan ditata dalam bentuk sistematika yang sesuai
dengan kaidah-kaidah laporan formal. Secara garis besar, sistematika laporan
supervisi meliputi: (1) Kata pengantar, (2) Abstrak, (3) Daftar Isi, (4) Daftar
Bagan, (5) Daftar Tabel, (6) Daftar Lampiran, (7) Bab 1. Pendahuluan; meliputi
(a) Latar Belakang atau Dasar Pemikiran Penyusunan Laporan, (b) Dasar
Hukum, (c) Tujuan, (d) Sasaran, (e) Hasil yang diharapkan, (8) Bab 2 Metode
Supervisi, (9) Bab 3 Pengelolaan Kegiatan Supervisi, (10) Bab 4 Penilaian
Supervisi, (11) Bab 5 Hasil Supervisi, serta (12) Bab 6 Kesimpulan dan Tindak
Lanjut.
Komponen isi laporan dituangkan pada instrumen penilaian laporan
Supak, dan diberikan kepala sekolah agar saat menyusun dapat digunakan
sebagai rambu-rambu isi laporan.
Presentasi Laporan Supak. Kepala sekolah (KS) dikumpulkan kembali di
salah satu sekolah dengan agenda mempresentasikan isi laporan supak dalam
bentuk power point. Ada waktu tanya-jawab pada kepala sekolah yang sedang
presentasi dari KS yang tidak presentasi. Kegiatan presentasi ini merupakan
strategi pengawas agar KS menyusun laporan sebab dengan presentasi
berarti laporan supak sudah terselesaikan. Disamping itu ada beban psikologi
KS untuk membuat laporan tidak asal jadi, mungkin akan malu jika laporan
jauh tidak sesuai dengan instrumen atau kriteria yang ditentukan.
Evaluasi Pemenuhan Kriteria. Laporan supak yang dipresentasikan
dievaluasi dengan menggunakan instrumen penilaian laporan Supak.
Evaluasi dilakukan dengan maksud untuk mengetahui sejauhmana isi laporan
sesuai dengan kriteria yang ditentukan. Laporan yang belum sesuai kriteria
dikembalikan dan diminta untuk direvisi, sedangkan laporan yang sudah
sesuai kriteria dapat dikumpulkan.
29
“BIMKEL-BIMPER” Strategi Mendorong “KS”
Melaksanakan dan Menyusun Laporan Supervisi Akademik

Implementasi Bimkel – Bimper


Bimkel konsep supervisi akademik dikemas dalam bentuk workshop
yang diselenggarakan pada tanggal 2 Februari 2018 mulai pukul 07.30 sampai
dengan 11.30 di Hotel EDOTEL milik SMK Negeri 2 Buduran Sidoarjo. Paparan
Bimkel dilakukan dengan menggunakan media power point. Peserta bimkel
yaitu seluruh KS binaan dan wakil kepala sekolah urusan kurikulum dari
setiap sekolah binaan. Menghadirkan wakil kepasa sekolah urusan kurikulum
dimaksudkan agar apabila kepala sekolah saat melaksanakan dan menyusun
laporan supak ada kendala, maka kegiatan tidak terhenti tetapi ada yang
membantu menyelesaikannya

Gambar 2. Workshop Supak Gambar 3. Presentasi Laporan Supak

Setelah bimkel pemahaman konsep supak, pengawas melakukan bimper


pada masing-masing KS dalam melaksanakan supak dengan memberikan
instrumen administrasi perangkat pembelajaran yang meliputi: program
tahunan, program semester, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan
instrumen pelaksanaan pembelajaran di kelas dan pada lima guru (sebagai
sampel). Setelah selesai pelaksanaan supak, pengawas melaksanakan bimper
penyusunan laporan supak dengan memberikan instrumen penilaian laporan
supak yang memuat seluruh komponen isi laporan dengan skor 1, 2, dan 3.
Skor 1 jika komponen laporannya ada namun tidak sesuai kriteria; skor 2 jika
komponen ada dan sebagian memenuhi kriteria, serta skor 3 jika komponen
sudah sesuai kriteria.
Untuk menentukan keberhasilan supak digunakan pedoman sebagai
berikut.
30
Success Story
Pengawas Sekolah SMA

Tabel 1. Pedoman Penilaian Keberhasilan


Persentase Skor Perolehan Perolehan Kualifikasi Tingkat
Keberhasilan Nilai Skor Nilai Keberhasilan
85 – 100 % 3 41 – 48 84 – 100 Baik Berhasil
67 – 84 % 2 32 – 40 66 – 83 Cukup Berhasil
0 – 66 % 1 0 – 31 0 – 65 Kurang Tidak Berhasil
Hasil penilaian laporan supak dapat dirangkum pada tabel berikut.

Tabel 2. Hasil Penilaian Laporan Supervisi Akademik


No. Nama Sekolah Hasil Tahap 1 Hasil Tahap 2
SMAN A 60,4 (kurang) 79 (cukup)
SMAN B 33,3 (kurang) 71 (cukup)
SMAS C 47,9 (kurang) 92 (baik)
SMASK D 33,3 (kurang) 69 (cukup)
SMASK E 52,1 (kurang) 71 (cukup)
SMAS F 33,3 (kurang) 75 (cukup)
SMAS G 52,1 (kurang) 71 (cukup)
SMAS H 54,2 (kurang) 69 (cukup)
SMAS I 47,9 (kurang) 69 (cukup)
SMAS J 68,8 (cukup) 85 (baik)
Dari kriteria keberhasilan yang tercantum tabel di atas menunjukkan
bahwa pada tahap pertama sepuluh sekolah yang sudah berhasil menyusun
laporan sesuai dengan kriteria dan pedoman penilaian yang sudah ditetapkan
belum ada atau dengan kata lain baru mencapai 0%. Hal ini disebabkan:
(1) Ada sekolah yang sudah membuat laporan namun tidak menyusunnya
sendiri melainkan copy paste dari internet, sehingga setelah diperiksa yang
diceritakan tidak sesuai dengan data yang ada. Contoh: pada kata pengantar
tertera nama sekolahnya SMPN X Semarang, atau muncul istilah supervisi guru
yunior. Sedangkan tugas supervisi akademik yang dimaksud adalah supervisi
semua guru yang ada di sekolahnya dengan diwakili 5 (lima) orang, dan (2)
Ada 3 (tiga) sekolah yang sama sekali belum menyusun laporan pada saat
yang ditentukan dengan alasan tidak mengerti, dengan hanya menunjukkan
lembar instrumen supervisi yang sudah terisi tanpa mengolah perolehan skor
yang didapat saat supervisi, sehingga seluruh aspek yang dinilai mendapat
nilai 1 (satu) atau tidak ada bukti penyusunan laporan.
31
“BIMKEL-BIMPER” Strategi Mendorong “KS”
Melaksanakan dan Menyusun Laporan Supervisi Akademik

Oleh karena semua laporan belum memenuhi kriteria, kepala sekolah


diminta untuk merevisi, dan hasilnya seperti tabel di atas. Pengawas
melakukan pembimbingan personal di masing-masing sekolah dengan jadwal
yang telah disepakati bersama melalui media Whatsapp grup sekolah binaan
yang sudah terbentuk. Saat bimbingan kepala sekolah didampingi wakilnya.
Kegiatan yang dilakukan adalah memverifikasi laporan supervisi akademik
dengan menggunakan lembar penilaian yang sama pada tahap pertama.
Berdasarkan tabel 3 dapat dikatakan bahwa melalui bimkel-bimper
supervisi dari tahap pertama dan kedua ada peningkatan dalam perolehan
keberhasilannya mencapai 100% sekalipun predikatnya lebih banyak yang
ketegori cukup sebesar 80% dan kategori baik sebesar 20%. Ada peningkatan
yang signifikan dari tahap pertama ke tahap kedua.

Dampak Bimkel Bimper Pelaksanaan dan


Penyusunan Laporan Supak
Berdasarkan hasil bimbingan supervisi akademik pengawas pada kepala
sekolah, ada dampak internal dan eksternal. Dampak internal antara lain:
(1) Kepala sekolah memahami konsep supervisi akademik secara utuh yang
tentunya berdampak pada pemberian bantuan guru dalam memperbaiki
perangkat pembelajaran serta pelaksanannya di dalam kelas, (2) Kepala
sekolah menyadari bahwa KS sendirilah yang merupakan ahli pengajaran dan
ahli kurikulum di sekolah yang dipimpinnya, sehingga KS dapat membantu
memperbaiki perangkat pembelajaran guru yang sesuai dengan standar
nasional pendidikan, (3) Administrasi perangkat pembelajaran guru lebih
lengkap dan lebih baik, (4) Kepala sekolah dapat memiliki laporan supervisi
yang selama ini belum dimilikinya, dan (5) Sekolah memiliki dokumen laporan
supervisi akademik yang sangat dibutuhkan untuk akreditasi. Dampak
eksternal antara lain: (1) Dinas Pendidikan malalui pengawas mendapat
informasi tentang peningkatan kompetensi supervisi kepala sekolah,
(2) Dengan meningkatnya kompetensi supervisi kepala sekolah dapat
meningkatkan kompetensi guru melaksanakan pembelajaran.
32
Success Story
Pengawas Sekolah SMA

Penutup
Dapat disimpulkan bahwa program Bimkel-Bimper dapat meningkatkan
kompetensi supervisi akademik (supak) para kepala sekolah. Hasil pelaksanaan
program Bimkel-Bimper berdampak positif pada kinerja para guru pada
di masing-masing sekolah binaan dalam menyiapkan dan melaksanakan
administrasi perangkat pembelajaran. Pada saat sebelum dilaksanakan
program Bimkel-Bimper KS; hasil supervisi akademik dari 10 sekolah binaan
hanya ada 2 sekolah yang dinlai kategori cukup, dan sisanya 8 sekolah masuk
kategori kurang. Hal ini jauh berbeda setelah dilakukan program Bimkel-
Bimper; hasil supervisi akademik dari 10 sekolah binaan diperoleh ada 2
sekolah masuk kategori baik, dan 8 sekolah masuk kategori cukup.
Berdasarkan hasil pembahasan dan kesimpulan best practice ini, maka
dapat direkomendasikan bahwa metode Bimkel-Bimper Kompetensi supak KS
ini dapat digunakan untuk peningkatan kinerja para guru dalam menyiapkan
dan melaksanakan administrasi perangkat pembelajaran secara efisien dan
efektif. Untuk itu, semoga karya best practice ini dapat memberikan inspirasi
bagi rekan-rekan pengawas sekolah khususnya, dan khalayak pada umumnya
dalam rangka meningkatkan mutu proses pembelajaran di sekolah.

Ucapan Terima Kasih


Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada yang terhormat Direktur
Pembinaan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat
Jenderal guru dan Tenaga kependidikan Kemdikbud beserta seluruh jajaran
yang telah memfasilitasi kegiatan ini, serta juga ucapan terimakasih yang
tuls penulis sampaikan untuk seluruh Dewan Juri atas semua arahan dan
masukkannya untuk penyempurnaan artikel ini.

Daftar Pustaka
Glickman, C.D. 1981. Developmental Supervision. Washington: Association
for Supervision and Curriculum Development.
Moleong, Lexy J. 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi Revisi. Bandung:
Rosda.
Natawidjaja, Rochman. 1988. Peranan Guru dalam Bimbingan di Sekolah.
Bandung: Abirdin.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 65 Tahun
33
“BIMKEL-BIMPER” Strategi Mendorong “KS”
Melaksanakan dan Menyusun Laporan Supervisi Akademik

2013 tentang Standar Proses, Jakarta, 2013.


Sudjana, Nana. 2011. Supervisi Pendidikan, Konsep dan Aplikasinya bagi
Pengawas Sekolah. Bekasi: Binamitra Publishing.
Sumarno. 1997. Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas:
Pemantauan dan Evaluasi. Bagian Ketiga. Jakarta: Depdikbud.
Supervisi Akademik
dengan Whats-App

I Made Arya Maharyadi, M.Pd


Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara

Pendahuluan
Pengawas sekolah memiliki peran yang signifikan dan strategis dalam
proses dan hasil pendidikan yang bermutu di sekolah. Peran tersebut
berkaitan dengan tugas pokok pengawas sekolah dalam melakukan supervisi
akademik dan manajerial serta pembinaan, pemantauan, dan penilaian. Salah
satu kompetensi yang harus dimiliki dan dikuasai pengawas sekolah sebagai
supervisor pendidikan adalah kompetensi supervisi akademik. Supervisi
akademik dapat diartikan sebagai bantuan profesional/keahlian kepada guru
agar dapat mempertinggi kualitas pembelajaran dalam mata pelajaran yang
diampu (Sudjana 2012b: 16).
Untuk menghasilkan guru yang profesional diperlukan kegiatan
pembinaan guru untuk meningkatkan kompetensinya. Guru perlu dibekali
dengan kompetensi yang unggul dan kaya pengalaman. Terkait dengan ini,
pengawas sekolah memiliki peran penting dalam melakukan pendampingan/
pembinaan melalui supervisi akademik.
Pada umumnya guru binaan memiliki keengganan untuk menyampaikan
permasalahan/kendala yang mereka hadapi dalam merencanakan,
melaksanakan maupun penilaian pembelajaran pada pengawas sekolah.
Sebenarnya banyak dijumpai guru yang memiliki kendala/hambatan dalam
36
Success Story
Pengawas Sekolah SMA

membuat perencanaan pembelajaran, misalnya guru belum mampu


merumuskan indikator pencapaian kompetensi yang dapat mewakili
Kompetensi Dasar, dan lainnya. Demikian pula dengan aspek pelaksanaan
pembelajaran, kelemahan umum yang ditemukan pada penentuan metode
pembelajaran yang kurang sesuai dengan tuntutan materi.
Upaya pembinaan sudah dilakukan terutama untuk membantu
kelemahan-kelemahan sesuai dengan temuan tersebut. Tetapi karena
guru yang dibina jumlahnya sangat banyak maka untuk bisa memberikan
layanan yang maksimal secara perorangan tentu sangat susah. Hal ini karena
terkendala oleh jarak serta jadwal pembinaan untuk guru-guru di sekolah
yang lain.
Untuk mengatasi masalah ini, penulis mencoba membuat suatu upaya
pemecahan masalah tersebut. Penulis memanfaatkan teknologi informasi
media sosial yang sedang trend saat ini yaitu aplikasi WhatsApp. Penulis
membentuk grup komunitas guru MIPA di Kabupaten Konawe Selatan yang
anggotanya adalah seluruh guru pengampu mata pelajaran Matematika dan
IPA melalui aplikasi WhatsApp. Dengan grup komunitas WhatsApp diharapkan
akan dapat dilakukan proses pembinaan guru MIPA dengan efisien dan efektif
sehingga dapat meningkatkan kompetensi para guru binaan.

Pemanfaatan WhatsApp Dalam Supervisi


Aademik
Pelaksanaan pembinaan terhadap pendidik melalui supervisi akademik
secara langsung dan melalui grup komunitas guru MIPA di WhatsApp (online)
dilakukan mengikuti tahapan-tahapan sebagai berikut.
37
Supervisi Akademik dengan Whats-App

!. Pemantaauan Perenncanaan
Pemmbelajarann

2. Pemerikksaan Admiinistrasi
Pem mbelajarann
PEMBIINAAN
SUPERVIS
S I
DALLAM BERHASIL
B L
SUPERRVISI
Gambar AKADDEMIK
3. Pemanntauan Pelaaksanaan
Peembelajarann
1. Bagan
langkah-
langkah dalam 4. Pembiinaan Langsung dan
pembinaan Online

guru

1. Pemantauan Perencanaan Pembelajaran


Kegiatan ini dilaksanakan di awal semester yakni pada bulan Juli dan
Januari, yang diawali dengan pertemuan awal dengan seluruh guru binaan
di sekolah yang bersangkutan untuk menginformasikan hal-hal apa saja
yang akan menjadi fokus pemantauan serta menyepakati limit waktu untuk
penyelesaian administrasi pembelajaran para guru.

2. Pemeriksaan Perangkat Pembelajaran Guru


Setelah perangkat administrasi pembelajaran para guru terkumpul maka
yang dilakukan selanjutnya yaitu memeriksa kesesuaiannya berdasarkan
instrumen pemantauan perencanaan pembelajaran. Instrumen tersebut
melihat susunan RPP mulai dari unsur identitas mata pelajaran, rumusan
indikator pencapaian kompetensi, sumber belajar hingga penilaian.
38
Success Story
Pengawas Sekolah SMA

Gambar 2. Pemeriksaan
Dokumen Adminisatrasi
Pembelajaran Guru

3. Pemantauan Pelaksanaan Pembelajaran


Langkah selanjutnya setelah pemeriksaan perangkat administrasi
pembelajaran, dibuat kesepakatan dengan para guru untuk memantau
pelaksanaan pembelajaran yang tujuannya untuk melihat apakah perencanaan
yang telah disusun dapat dilaksanakan dengan baik. Dalam pemantauan ini
digunakan instrumen pemantauan pelaksanaan pembelajaran.

4. Pembinaan langsung dan pembinaan online


melalui komunitas WhatsApp
Kegiatan ini merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dengan
kegiatan pemantauan perencanaan pembelajaran ataupun pemantauan
pelaksanaan pembelajaran. Artinya pembinaan serta merta diberikan
ketika hasil pemantauan menunjukkan adanya kelemahan-kelemahan
dalam perencanaan maupun pelaksanaan pembelajaran. Misalnya ketika
dalam perencanaan ada kekurangan dalam merumuskan indikator maka
penulis langsung memberikan masukan atau arahan sebagaimana mestinya.
Atau ketika dalam RPP ditemukan metode yang belum tepat maka penulis
menanyakan kepada guru apakah tidak ada kemungkinan menggunakan
strategi dan pendekatan yang lebih efektif sehingga dapat melibatkan peserta
didik dalam pembelajaran.
39
Supervisi Akademik dengan Whats-App

Gambar 3. Pembinaan Langsung dan Pembinaan


Melalui Grup Komunitas WhatsApp Guru MIPA

Pada semester genap tahun pelajaran 2016/2017 pembinaan terhadap


guru yang dilakukan secara langsung tidak berjalan maksimal karena adanya
kendala teknis seperti ketika melakukan kunjungan ke sekolah binaan guru
yang bersangkutan tidak berada di sekolah. Oleh karena itu penulis berinisiatif
membentuk group komunitas guru binaan, kemudian mengundang semua
guru binaan untuk menjadi anggota grup tersebut. Setelah grup terbentuk
melalui media WhatsApp, dilakukan pembinaan kepada guru dengan cara
memberikan arahan-arahan umum tentang penyusunan perencanaan
pembelajaran disertai dengan meng-upload contoh-contoh RPP untuk
kurikulum 2013. Dalam grup komunikasi WhatsApp juga kadang terjadi
diskusi antara pengawas dengan guru binaan maupun diskusi antar sesama
guru dalam anggota grup.
Setelah dilakukan pembinaan selama kurang lebih satu semester melalui
grup komunitas WhatsApp guru MIPA, hasil observasi dengan melihat
fenomena yang ada serta melakukan pengukuran menggunakan instrumen
pemantauan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran diperoleh hasil-
hasil sebagai berikut.

1. Hubungan yang Harmonis antara Guru dan Pengawas


Kondisi sebelum dilakukan pembinaan memanfaatkan media WhatsApp,
terkesan ada jarak antara guru dengan pengawas. Bahkan beberapa guru
sengaja menghindar agar tidak bertemu ketika hendak di supervisi. Menurut
Hendarman (2015: 1) dalam membangun hubungan dengan berbagai unsur
40
Success Story
Pengawas Sekolah SMA

dalam konteks persekolahan, yang dilakukan pengawas sekolah masih


bernuansa top-down, searah, dan tidak dialogis. Padahal di masa depan
dituntut pengawas yang kaya ide, terbuka dan bisa melakukan pengawasan
secara partisipatif.
Pasca terbentuknya komunitas WhatsApp guru MIPA, ada pendekatan
melalui chat non formil terhadap para guru, seperti sekedar menanyakan
kabar hari ini. Kemudian mencoba lebih pro aktif menanyakan kendala-
kendala yang dihadapi guru ketika menyusun perencanaan pembelajaran
sesuai kurikulum 2013, ataupun kendala dalam pelaksanaan pembelajaran
seperti penerapan strategi dan metode yang sesuai dengan kompetensi
dasar yang mau diajarkan. Sehingga dapat dikatakan hubungan yang lebih
harmonis mulai terbina antara guru dengan pengawas.

2. Motivasi Guru Meningkat untuk Membuat Perangkat


Administrasi Pembelajaran
Pada awal semester sebelumnya, ketika dilakukan pemantauan
perencanaan pembelajaran terhadap para guru binaan, maka sebagian guru
belum bisa menunjukkan perangkat administrasi pembelajaran yang mereka
susun. Padahal sebelumnya kami sudah membuat kesepakatan untuk
kegiatan pemantauan yang akan dilaksanakan.
Mewajibkan para guru mengirimkan perangkat administrasi pembelajaran
melalui aplikasi WhatsApp, merupakan solusi yang tepat agar semua guru
berupaya membuat dan menyelesaikan perencanaan pembelajarannya
sesuai yang telah dijadwalkan. Penulis merasa bahwa dengan perlakuan
seperti itu guru menjadi lebih mendapat perhatian dan merasa lebih dituntut
untuk menyelesaikan administrasinya sebelum melaksanakan pembelajaran
di kelas. Hal ini berarti bahwa para guru menjadi lebih termotivasi untuk
menunaikan kewajibannya membuat administrasi perangkat pembelajaran.

3. Jarak dan Waktu Bukan Menjadi Kendala dalam Pelaksanaan


Supervisi
Melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah binaan di kabupaten Konawe
Selatan yang meliputi 7 sekolah dan 46 orang guru binaan bukan merupakan
pekerjaan yang mudah. Jarak terdekat sekolah binaan 15 km, sedangkan
sekolah lainnya memerlukan jarak tempuhnya mencapai 80 km. Bahkan ada
sekolah binaan yang belum memiliki akses jalan darat sehingga jika akan
melakukan kunjungan dalam rangka melakukan supervisi harus menempuh
41
Supervisi Akademik dengan Whats-App

jalur laut. Perjalanan jalur laut sangat tergantung dengan musim dan arah
angin. Ketika musim timur, ombak akan menjadi sangat besar dan perjalanan
ke sekolah binaan akan tertunda sampai keadaan kembali normal sehingga
kunjungan yang bisa dilakukan ke sekolah ini paling banyak dua kali dalam
satu semester.
Dengan adanya grup komunitas WhatsApp guru MIPA, benar-benar
membantu karena pembinaan masih dapat dilaksanakan tanpa harus
menempuh jarak yang jauh dan tidak membutuhkan waktu yang lama,
terutama untuk kegiatan pemantauan perencanaan pembelajaran. Penulis
tinggal meminta kepada guru binaan untuk meng-upload perangkat
administrasi selengkapnya, lalu diperiksa/dibandingkan dengan instrumen
pemantauan. Selanjutnya diberikan catatan-catatan kekurangan untuk
perbaikan, dan dikirim kembali untuk disempurnakan oleh guru yang
bersangkutan.

4. Peningkatan Skor Hasil Pemantauan Perencanaan dan


Pelaksanaan Pembelajaran
Berdasarkan hasil pemantauan dengan menggunakan instrumen
pemantauan perencanaan pembelajaran, diperoleh hasil sebagaimana grafik
berikut.
120
97,91
100 89,58 87,5
81,25 81,25 83,33
80 72,91 72,9 70,8
68,7
Semester I
60

Grafik 1. Hasil 40 Semster II


Pemantauan 20
Perencanaan
Pembelajaran 0

Kondisi sebelum dilakukan pembinaan supervisi akademik, diperoleh


data hanya 1 (satu) orang yang mencapai skor 81,25 dengan kategori “baik”
dari 5 orang guru yang dibina, selebihnya berada di bawah 75,00 yakni kategori
“cukup”, dengan rerata skor 73,72. Kelemahan yang umum penulis temukan
yaitu pada perumusan Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK), metode yang
dipilih, media yang digunakan, dan pada perencanaan penilaian kebanyakan
42
Success Story
Pengawas Sekolah SMA

instrumen tidak dilampirkan atau belum dibuat, dan ada juga yang sudah
melampirkan instrumen penilaiannya tetapi belum sesuai dengan IPK nya.
Setelah dilakukan pembinaan baik secara langsung maupun tak
langsung melalui grup komunitas WhatsApp guru MIPA, di semester genap
tahun pelajaran 2017/2018 penulis kembali melakukan pemantauan dan
memperoleh hasil rerata skor untuk perencanaan mencapai 87,91 yang
berarti kategori “baik” dan jika dilihat secara perorangan, semua guru sudah
mencapai skor di atas 80 yang berarti kategori “baik”.
Sementara data hasil pemantauan terhadap pelaksanaan pembelajaran
ditampilkan sebagaimana grafik berikut.

120
98,75
100 92,5 93,75
88,75
83,75 83,75
77,5 77,5
80 72,5 71,25

60
Semester I
40
Semester II
20 Grafik 2. Hasil
0 Pemantauan
Sudarsono, Sabaruddin ,
S.Pd, M.Pd S.Pd, M.Pd
Niluh E.
Setiawati,
Safari B, S.Pd La Ode
Sanando,
Pelaksanaan
S.Pd S.Pd Pembelajaran

Sebelum dilakukan pembinaan hasil pemantauan pelasanaan


pembelajaran 5 (lima) orang yang dipantau hanya satu yang mencapai skor
83,75 dengan kategori “baik”, rerata skor secara keseluruhan 76,50 berarti
ada pada kategori “baik” pula. Kelemahan yang masih banyak ditemukan
pada pelaksanaan pembelajaran yaitu: orientasi kegiatan pembelajaran
yang masih sebagian besar di dominasi oleh guru, sehingga sepanjang
proses pembelajaran siswa hanya menjadi penonton (pasif). Jadi, proses
pembelajaran belum dapat dikatakan berpusat kepada siswa. Hal ini berkaitan
dengan strategi, pendekatan dan metode yang dipilih oleh guru dalam
pembelajarannya. Selain itu, pemilihan media juga masih perlu mendapat
perhatian, pada umumnya mereka masih menggunakan media terbatas pada
papan tulis dan alat tulis menulis konvensional lainnya.
Setelah dilakukan pembinaan baik secara langsung maupun tak
langsung melalui grup komunitas WhatsApp guru MIPA, di semester genap
tahun pelajaran 2017/2018 penulis kembali melakukan pemantauan dan
memperoleh hasil rerata skor mencapai 91,50 berada dalam kategori “sangat
43
Supervisi Akademik dengan Whats-App

baik”. Kenyataan ini menunjukkan bahwa ada peningkatan kemampuan


guru dalam menyusun perencanaan pembelajaran serta kemampuan dalam
mengimplementasikannya dalam kegiatan pembelajaran. Secara individual
skor terendah yang dicapai oleh guru adalah 83,75 yang berarti sudah berada
pada kategori “baik”.

Penutup
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembinaan supervisi
akademik melalui memanfaatkan teknologi informasi dengan media sosial
WhatsApp pada guru-guru MIPA di Kabupaten Konawe sangat efektif dan
diperoleh hasil sebagai berikut.
1. Hubungan antara guru dengan pengawas menjadi lebih harmonis,
guru tidak merasa segan bertemu dan berkonsultasi untuk
menyampaikan kendala dan permasalahan yang dihadapi di
sekolah.
2. Guru termotivasi untuk membuat kelengkapan administrasi
pembelajaran sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran
3. Jarak dan letak geografis tidak lagi menjadi hambatan dalam
pelaksanaan tugas pembinaan terhadap para guru binaan.
4. Ada peningkatan skor hasil pemantauan perencanaan pembelajaran
dari rata-rata 73,72 menjadi 87,91 pasca pembinaan dengan
WhatsApp; dan juga diperoleh peningkatan hasil pemantauan
pelaksanaan pembelajaran dari rerata 76,50 menjadi 91,50.
5. Berdasarkan simpulan di atas, direkomendasikan hal-hal sebagai
berikut:
6. Pengawas hendaknya melakukan pembinaan terhadap guru tidak
saja melalui tatap muka, akan lebih baik jika dilakukan juga secara
online memanfaatan media sosial WhatsApp atau sejenisnya,
terutama untuk sekolah-sekolah yang jaraknya jauh, dan/atau
jumlah guru binaan banyak.
7. Komunikasi yang intens perlu dibina antara pengawas dengan guru,
agar guru tidak lagi merasa bahwa pengawas merupakan oknum
yang patut dihindari, melainkan harus dijadikan sebagai sosok yang
dibutuhkan sebagai tempat untuk berkonsultasi tentang masalah-
masalah yang dihadapi dalam melaksanakan tugas-tugas guru.
44
Success Story
Pengawas Sekolah SMA

Ucapan Terima Kasih


Melalui kesempatan ini kami menyampaikan terimakasih yang setinggi-
tingginya kepada para narasumber, Direktur Pembinaan Tenaga Kependidikan
Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga
Kependidikan Kemdikbud beserta jajaran, atas kesempatan yang diberikan,
sehingga kami dapat ikut ambil bagian dalam penyusunan buku karya kreatif
pengawas sekolah dan kepala sekolah tahun 2018. Kiranya kegiatan seperti
ini dapat berkelanjutan pada masa yang akan datang.

Daftar Pustaka
Hendarman. 2015. Revolusi Mental Pengawas Sekolah. Bandung. PT Remaja
Rosdakarya.
Sudjana. 2011b. Supervisi Pendidikan Konsep dan Aplikasinya Bagi Pengawas
Sekolah. Bekasi: Binamitra Publising.
Bantuan Briefing 10 Menit untuk
Menegakkan Disiplin Siswa

Made Saputra, S.Pd. M.Si


SMA Negeri 1 Sawan
Bali

Pendahuluan
Pendidikan adalah sebuah proses, yang di dalamnya terdapat proses
penanaman budi pekerti, nilai-nilai kehidupan, kecakapan hidup, nilai-
nilai keagamaan dan pengetahuan. Proses pendidikan melibatkan orang
tua di rumah, sahabat, atau guru sebagai orang yang berkompeten.
Dengan kompetensi guru, maka akan lebih mudah dalam menangani
kasus-kasus yang berkembang dan terjadi. Pendidikan bukan
semata untuk mencari nilai (skor) tertinggi secara akademis namun
yang lebih utama yaitu mengembangkan nilai-nilai esensial (nilai
keagamaan, budi pekerti, seni dan budaya) yang dimiliki oleh siswa.

Salah satu nilai yang harus dikembangkan dalam proses pendidikan yaitu
karakter kedisiplinan siswa. Penanaman karakter kedisiplinan siswa bukan
semata merupakan tanggung jawab kepala sekolah, wakil kepala sekolah
kesiswaan, dan guru bimbingan konseling. Proses penanaman karakter
kedisiplinan siswa harus melibatkan semua guru warga sekolah.
Dalam peningkatan mutu pendidikan peranan Pengawas Sekolah sangat
diperlukan. Pengawas sekolah memiliki beberapa peran dan fungsi dalam
membina sekolah. Di samping menjalankan fungsinya sebagai supervisor
akademik, namun pengawas sekolah dapat pula berperan sebagai supervisor
46
Success Story
Pengawas Sekolah SMA

Manajerial pada sekolah bersangkutan.


Setelah mengadakan beberapa kali observasi, komunikasi dengan guru,
satpam, tukang kebun, dan siswa, diperoleh informasi yang menjadi kendala
di SMA Negeri 1 Sawan dalam penegakan karakter disiplin siswa. Tingkat
kedisiplinan siswa di SMA Negeri 1 Sawan masih tergolong lemah. Penyebab
utama tingkat disiplin siswa rendah terjadi karena kontrol para guru belum
maksimal sehingga ada celah atau kesempatan siswa untuk melakukan
pelanggaran.
Dari hasil wawancara dan pengamatan yang penulis lakukan dapat
diidentifikasi beberapa permasalahan yang menyebabkan tingkat kedisiplinan
siswa di SMA Negeri 1 Sawan masih rendah. Di antara penyebab rendahnya
tingkat kedisiplinan siswa tersebut sebagai berikut. (1) Bagian kesiswaan
sekolah masih lemah dalam menegakan disiplin sekolah. (2) Para guru
kurang kompak dalam menegakan disiplin sekolah. (3) Warga sekolah dalam
melaksanakan penegakkan disiplin siswa terkesan berjalan sendiri-sendiri. (4)
Program kerja dan pelaksanaan monitoring dalam menegakan disiplin siswa
belum terlaksana dengan maksimal. (5) Program tindak lanjut kedisiplinan
siswa setelah diadakan monitoring dan evaluasi belum pernah dilakukan.
Dari beberapa tata tertib sekolah yang ada, penulis memandang perlu
dan penting untuk menindak lanjuti masalah kedisiplinan yang terkait dengan
pemakaia make-up (lipstik dan eyes shadow) oleh siswa putri dan penataan
rambut bagisiswa putra. Pemakaian make-up yang dilakukan oleh siswa putri
dan rambut yang tidak tertata pada siswa putra berdampak pada lingkungan
sekolah menjadi kurang nyaman dan kurang kondusif. Penggunaan lipstik/
make-up dan kebiasaan rambut yang tidak tertata sejak dini di sekolah akan
membuat efek tidak baik dalam pergaulan sosial.
Berangkat dari permasalahan tersebut, penulis mempunyai sebuah
gagasan (ide) untuk mencoba mengajak serta seluruh warga sekolah dalam
menegakkan karakter disiplin siswa. Penulis mengajak seluruh warga sekolah
untuk menegakan disiplin siswa di SMA Negeri 1 Sawan melalui pendekatan
bantuan briefing 10 menit. Penulis yakin bahwa untuk mencapai mutu
pendidikan yang baik harus dimulai dengan penegakkan kedisiplinan siswa.
47
Bantuan Briefing 10 Menit untuk Menegakkan Disiplin Siswa

Bantuan Briefing 10 Menit untuk Menegakan


Disiplin Siswa
Untuk menegakkan disiplin siswa yang terkait dengan pemakaian lipstik/
make-up oleh siswa putri dan penataan rambut oleh siswa putra di SMA
Negeri 1 sawan di lakukan beberapa langkah pemecahan sebagai berikut.
1. Pemecahan masalah pertama, bahwa dalam setiap kegiatan
monitoring atau infeksi mendadak (sidak) kedisiplinan siswa yang
terkait pemakaian lipstik/make-up oleh siswa putri dan penataan
rambut bagi siswa putra di dalamnya selalu disisipkan pembinaan
komunikasi dengan siswa melalui briefing sekitar 10 menit.
2. Pemecahan masalah kedua, bahwa setelah setiap tiga (3) atau
empat (4) kali kegiatan sidak dilakukan tindak lanjut melalui kegiatan
pemberian materi dan diskusi tentang kedisiplinan. Kegiatan ini
dilakukan untuk menyamakan persepsi akan pentingnya untuk taat,
patuh, dan menjalankan sebuah tata tertib sekolah.
3. Pemecahan masalah ketiga, penulis mengumpulkan wakil kepala
sekolah bidang kesiswaan beserta para pembina kesiswaan lainnya
untuk membicarakan atau membahas perkembangan disiplin
siswa. Pemecahan masalah ini sangat memegang penting untuk
mendiskusikan tantang “apa dan bagaimana” cara selanjutnya
dalam menegakkan disiplin siswa.
Kegiatan pembinaan kedisiplinan siswa ini merupakan salah satu praktek
pengalaman nyata atau best practice penulis sebagai Pengawas Sekolah di
Provinsi Bali. Landasan yuridis penulis sebagai Pengawas Sekolah mengacu
pada Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Bali Nomor: 800/40811/
Disdik. Sesuai tugas pokok sebagai pengawas sekolah, selanjutnya penulis
membuat program kepengawasan dengan perencanaan yang terkait dengan
penegakan kedisiplinan siswa.
Program kerja dalam penyusunan program kepengawasan disesuaikan
dengan Peraturan menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 143 Tahun
2014 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Pengawas
Sekolah dan Angka Kreditnya. Penulis sebagai pengawas manajerial pada
tahun pelajaran 2017/2018 memprogramkan khusus di sekolah binaan SMA
Negeri 1 Sawan tentang menegakan disiplin siswa. Dalam merealisasikan
program pembinaan kedisiplinan siswa ini, penulis awali melalui pengumpulan
sejumlah data dan informasi. Melalui data dan informasi yang terkumpul
48
Success Story
Pengawas Sekolah SMA

kemudian dilakukan analisis dan validasi melalui cross-chek dengan sejumlah


stakeholder sekolah. Selanjutnya dibuat sebuah rancangan penanganan
masalah dan mengimplementasikannya, serta dilakukan pengamatan
dampak dari implementasi penanganan masalah terhadap perubahan tingkat
kedisplinan siswa.
Proses pengamatan atau observasi dilaksanakan untuk memenuhi
atau meyakinkan hal-hal yang terjadi dilapangan atau sebagai fakta yang
terjadi di lapangan. Penulis mengadakan observasi partisipatif dengan
kekeluargaan. Dalam melaksanakan
tahapan observasi, penulis benar-
benar memerlukan kesabaran dan
mencermati setiap masalah yang
ada atau disampaikan oleh para
pemberi informasi. Dalam kaitannya
mengobservasi di sini melibatkan
beberapa warga sekolah meliputi:
kepala sekolah, wakil kepala sekolah
bidang kesiswaan beserta pembina
kesiswaan lainnya, guru, tenaga
administrasi sekolah, satpam, dan
tukang kebun/pembersihan.
Gambar 1. Hasil Awal Sidak
Memakai Lipstik/Make-Up Pelaksanaan program, penulis
memfokuskan diri kepada kelas X
dan XI. Hal ini karena siswa kelas X
dan XI merupakan warga yang elatif
baru mengenal lingkungan. Dengan
demikian kelas X dan XI penting
ditekankan dalam penegakan disiplin
agar tidak mudah kena pengaruh
dari luar dirinya sendiri. Pelaksanaan
program dilaksanakan secara
bertahap, mulai dari siswa kelas X
dan baru selanjutnya diteruskan pada
siswa kelas XI. Dalam menangani
penegakkana kedisiplinan siswa
harus benar-benar dilakukan secara
Gambar 2. Hasil Akhir Sidak fokus dan detail dilakukan.
Memakai Lipstik/Make-Up
49
Bantuan Briefing 10 Menit untuk Menegakkan Disiplin Siswa

Setiap kali selesai diadakan


sidak kami selalu mengadakan
evaluasi hasil sidak dengan maksud
untuk mengetahui kemajuan tingkat
kedisiplinan siswa. Bila ada atau tidak
ada peningkatan disiplin siswa kami
selalu mengadakan evaluasi untuk
tindak lanjut ke depannya. Langkah-
langkah atau tindakan apa yang perlu
yang dilakukan selalu didasarkan
hasil evaluasi. Program yang penulis
rencanakan akan ditindak lanjuti
secara berkesinambungan. Bila Gambar 3. Hasil Awal Sidak
Tahun Pelajaran 2017/2018 belum Penataan Rambut
maksimal atau terpenuhi maka akan
ditindak lanjuti pada Tahun Pelajaran
selanjutnya. Tentu saja program
ini akan berhimbas pada adik kelas
selanjutnya.
Dalam meningkatkan mutu
pendidikan di sekolah tidak lepas pula
dari peningkatan karakter disiplin
siswa. Karakter disiplin sebagai
fundamen siswa untuk melangkah
kedepan dalam setiap memutuskan
suatu permasalahan yang mereka
hadapi. Memang belakangan ini
karakter disiplin tersebut belum Gambar 4. Hasil Akhir Sidak
mendapat perhatian secara maksimal Penataan Rambut
masih di atas permukaan alias batas
teori-teori.
Membangun karakter siswa sejak dini sungguh diperlukan dengan
penuh ketekunan dan kesabaran. Penulis memaparkan bahwa karakter
siswa penting untuk dibangun karena dalam karakter tersurat moral dan
kerja. Moral meliputi iman, takwa, jujur, dan rendah hati, dan Kerja meliputi
kerja keras, ulet, tidak mudah menyerah dan tangguh. Dari paparan tersebut
penulis bisa jabarkan dan dalami, bahwa untuk mendapatkan yang unggul
adalah bermuara dari moral dan dibarengi dengan kerja. Kalau sudah moral
50
Success Story
Pengawas Sekolah SMA

yang baik tentu mengarahkan siswa lebih gampang dan mudah. Dengan moral
yang kuat tentu ada keinginan untuk maju dengan melalui proses bekerja
lebih giat ulet dan seterusnya.
Kami melaksanakan sidak dengan program acak agar tidak diketahui
kapan diadakan sidak. Dengan kehadiran yang diacak tentu siswa tidak
akan mempersiapkan diri untuk berbuat pelanggaran. Dari hasil sidak
dan pengelohan data khususnya pengguna lipstik/make-up dapat penulis
paparkan sebagai berikut.
• Kelas X jumlah siswa 116 orang, saat sidak pada bulan Januari 2018
yang melanggar 36 siswa, selanjutnya pada bulan Pebruari 24 siswa,
bulan Maret 0 siswa dan terakhir bulan Mei 0 siswa.
• Kelas XI jumlah siswa 113 orang, saat sidak pada bulan Januari 2018
yang melanggar 48 siswa, selanjutnya pada bulan Pebruari 40 siswa,
bulan Maret 16 siswa dan terakhir bulan Mei 0 siswa.
Sidak selanjutnya berlanjut kepada siswa putra. Fokus kedisiplinan pada
siswa putra yaitu terkait masalah penataan rambut. Dalam kesempatan
ini dapat dipaparkan data siswa dalam hal pelanggaran masalah penataan
rambut sebagai berikut.
• Kelas X jumlah siswa 156 orang, saat sidak pada bulan Januari 2018
yang melanggar 37 siswa, selanjutnya pada bulan Pebruari 22 siswa,
bulan Maret naik 43 siswa dan terakhir bulan Mei sisa 3 siswa.
• Kelas XI jumlah siswa 101 orang, saat sidak pada bulan Januari 2018
yang melanggar 68 siswa, selanjutnya pada bulan Pebruari 56 siswa,
bulan Maret 39 siswa dan terakhir bulan Mei 0 siswa.
Pelanggaran yang dilakukan oleh siswa dalam hal penggunaan lipstik/
make-up dan pelanggaran penataan rambut dapat digolongkan fase menengah
ke bawah. Namun hal tersebut jika tidak segera ditanggulangi justru menjadi
pembiasaan yang buruk. Suatu pembiasaan tentunya lambat laun akan
menjadi tradisi. Pembiasaan buruk yang sudah mentradisi sebetulnya tidak
layak disebut budaya. Akan tetapi disebut buadaya ataupun tidak, setiap
sesuatu yang sudah mentradisi akan sulit atau setidaknya perlu waktu lama
dan kesabaran yang tinggi untuk menghilangkannya.
51
Bantuan Briefing 10 Menit untuk Menegakkan Disiplin Siswa

Penutup
Dapat disimpulkan bahwa pembinaan kolaborasi di SMA Negeri 1 Sawan
dengan bantuan briefing 10 menit dapat meningkatkan karakter disiplin siswa.
Tingkat pelanggaran pemakaian lipstik/make-up siswa putri kelas X dan XI
yang awalnya berjumlah 84 dari 229 siswa (37%), akhirnya menurun menjadi
0% setelah pembinaan selama 4 bulan. Demikian halnya terkait pelanggaran
kedisiplinan penataan rambut yang dilakukan siswa pura kelas X dan XI, yang
pada awalnya berjumlah 105 dari 257 orang (41%) menurun menjadi 3 siswa
(1%) setelah pembinaan selama 4 bulan.
Berdasarkan hasil pembahasan dan simpulan dari best practice ini,
dapat direkomendasikan bahwa metode kolaborasi dengan bantuan briefing
10 menit dapat digunakan sebagai pedoman dan sebagai metode alternatif
dalam melaksanakan tugas kepengawasan bagi pengawas sekolah untuk
pembinaan karakter kedisiplinan siswa.
Dari kesimpulan ini dapat dikemukakan saran sebagai berikut. (1) Bahwa
dalam memilih sebuah metode atau pendekatan pembinaan harus disesuaikan
dengan objek dan kondisi yang akan di bina. (2) Buatkan program pembinaan
sesuai dengan juknis yang ada dan dapat menyelesaikan permasalahan
secara meyeluruh.

Ucapan Terima Kasih


Terima kasih kepada Direktorat Tenaga Kependidikan Pendidikan
Dasar dan Menengah, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan,
Kemdikbud yang telah berbaik hati menyelenggarakan Lomba Best Practice
Tingkat Nasional dan memfasilitasi kegiatan Pelatihan Penulisan Karya Kreatif
bagi Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah.

Daftar Pustaka
Arizona, Setian Trio. 2016. Pentingnya Breafing Sebelum Memulai Kegiatan.
Beranibicaracoid.http://beranibicara.co.id/pentingnya-briefing-
sebelum-memulai-kegiatan/. Tanggal akses 20 April 2018.
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 143 Tahun 2014.
Tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Pengawas
Sekolah dan Angka Kreditnya.
Jurnal Kelas Berbasis Time Line
untuk Meningkatkan Efektivitas
Pemenuhan Waktu Mengajar

Putu Arimbawa, M.PD


SMAN 1 Sukasada
Bali

Pendahuluan
Memulai dan mengakhiri pembelajaran di kelas secara tepat waktu masih
merupakan hal yang tersembunyi (masuk di wilayah hidden curriculum) yang
jarang menjadi objek perhatian para pengelola pendidikan; padahal dimensi
waktu di lembaga manapun lebih-lebih di lembaga pendidikan merupakan
besaran yang sangat strategis. Jadi yang “hidden” itu perlu diungkap ke
permukaan. Waktu menjadi strategis dapat dilihat dari beberapa perspektif
antara lain: (1) Dalam konteks bagaimana menciptakan suasana lingkungan
belajar yang kondusif. Sesuai pengalaman penulis, suasana kondusif di sekolah
akan terganggu jika guru dalam memulai dan mengakhiri pembelajaran di
kelas tidak secara bersamaan; (2) Dari perspektif administrasi perencanaan
guru, mulai dari kalender pendidikan sampai dengan program semester,
perhitungan waktu betul-betul menjadi pencermatan guru; oleh karena itu
dalam pelaksanaannya alokasi waktu yang sudah direncanakan hendaknya
dilakukan dengan seefektif mungkin; (3) Dari perspektif penentuan nilai
kompleksitas suatu materi ajar dalam rangka menentukan Kriteria Ketuntasan
Minimal (KKM), dimensi waktu juga menjadi pertimbangan yang sangat
penting. Dengan demikian pemenuhan waktu yang efektif oleh guru menjadi
sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar lagi, lebih-lebih jika dihubungkan
dengan tuntutan guru sebagai model dalam menanamkan sikap disiplin
kepada siswanya.
54
Success Story
Pengawas Sekolah SMA

Memperhatikan kondisi tersebut di atas, penulis selaku Pengawas


Manajerial menawarkan satu strategi untuk bisa lebih mengefektifkan
pemenuhan jam belajar di kelas melalui pengembangan sebuah model
Jurnal Pembelajaran di Kelas yang dilengkapi dengan Time Line memulai dan
mengakhiri pembelajaran, selanjutnya penulis sebut Jurnal Kelas Berbasis
Time Line (JKBTL).
Tujuan Pelaksanaan Best Practice ini untuk mengetahui apakah
pengembangan jurnal kelas berbasis time line dapat meningkatkan efektivitas
pemenuhan waktu mengajar guru-guru di kelas?

Jurnal Kelas Berbasis Time Line (JKBTL)


JKBTL penulis maksudkan adalah buku catatan harian yang dipakai untuk
mencatat transaksi atau kegiatan pembelajaran di kelas yang dilengkapi
dengan garis waktu dalam skala 5 (lima) menitan. Time Line memulai dan
mengakhiri pembelajaran, wujudnya berupa garis waktu berskala satuan
waktu terkecil 5 menit sebanyak 9 (sembilan) buah. Jadi setiap Time Line
berdurasi 45 menit sesuai ketentuan waktu satu jam pelajaran pada jenjang
SMA (Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 22 tahun 2016).
Garis waktu tersebut digunakan untuk merekam kapan seorang guru memulai
dan mengakhiri pembelajaran. Jadi Jurnal model ini penulis fungsikan sebagai
instrument audit efektivitas pemenuhan waktu mengajar guru. Contoh model
jurnal yang dimaksudkan di atas seperti di bawah ini.
JURNAL KELAS

KELAS:________ HARI/TGL: ____________


Tanda
Jam Mata Nama Uraian Siswa
Timeline Tangan
Ke Pelajaran Guru Materi Absen
Guru
1 1 2 3 4 5 6 7 8 9
2 1 2 3 4 5 6 7 8 9
3 1 2 3 4 5 6 7 8 9
4 1 2 3 4 5 6 7 8 9
5 1 2 3 4 5 6 7 8 9
6 1 2 3 4 5 6 7 8 9
7 1 2 3 4 5 6 7 8 9
Gambar Contoh Jurnal Kelas Berbasis Time Line
55
Jurnal Kelas Berbasis Time Line untuk
Meningkatkan Efektivitas Pemenuhan Waktu Mengajar

Dalam hubungan best practice ini maka efektivitas waktu pembelajaran


dimaksudkan adalah perbandingan antara lamanya waktu riil pembelajaran
yang dilaksanakan oleh guru dikelas dalam satuan menit dengan lamanya
waktu pelajaran dalam kelipatan 45 menit yang sudah terjadwal untuk
guru pada mata pelajaran yang diampu dikalikan 100%. Selanjutnya dapat
dirumuskan sebagai berikut.

Tef = Tr x 100%
Ti
Keterangan:
Tef = waktu efektif pembelajaran guru di kelas
Tr = waktu riil yang dugunakan oleh guru dalam pembelajaran
Ti = waktu ideal yang sesuai dengan jadwal mengajar.

Tahapan Pelaksanaan JKBTL


Tahapan pelaksanaan JKBTL secara diagram ditunjukkan seperti di
bawah ini.

Sosialiisasi Tindaak
Penyebaaran Pelaksanaan
Pelakssanaan Lanjuut
Instrumeen Best Practice
P
Best Prractice

1 2 3 4

1. Penyebaran Instrumen
Penyebaran instrumen berupa kuesioner tentang ketepatan pemenuhan
waktu oleh guru mata pelajaran dalam memulai dan mengakhiri pembelajaran
di kelas. Respondennya adalah pengurus kelas (Ketua Kelas, Wakil Ketua
Kelas, dan Sekretaris Kelas) di semua tingkat. Penyebaran instrument ini
bertujuan untuk memperoleh data awal kondisi efektivitas pemenuhan waktu
guru mata pelajaran ketika mengajar di kelas baik saat memulai maupun
mengakhiri pelajaran.

2. Sosialisasi pelaksanaan Best Practice


Sosialisasi dimaksudkan untuk meminta persetujuan kepada warga
sekolah untuk pelaksanaan JKBTL. Kegiatan ini menjadi hal yang sangat
penting karena audit kehadiran yang dilakukan oleh siswa harus menjadi
kesepakatan/komitmen bersama. Konsep yang ditanamkan dari kegiatan
56
Success Story
Pengawas Sekolah SMA

ini yaitu: (1) semua warga harus


bersikap terbuka; (2) keterbukaan
harus dimaknai dalam konteks yang
lebih luas (tidak hanya menyangkut
keuangan saja); (3) ketika waktu
kehadiran guru di kelas diaudit oleh
siswa, itu harus dimaknai sebagai
bentuk keterbukaan.
Model JKBTL juga diperkenalkan/
ditampilkan ketika sosialisasi (sudah
disiapkan sebelumnya oleh pihak
sekolah).
Sosialisasi teknis pengisian
time line juga diberikan kepada
pengurus kelas, karena pengurus
kelaslah yang akan mengisi jurnal
khusus di time line-nya. Di samping
itu juga meyakinkan siswa bahwa
apa yang mereka lakukan sudah
Gambar 1. Sosialisasi
menjadi kesepakatan semua warga
pelaksanaan JKBTL kepada
sekolah terutama guru yang diaudit
Dewan Pendidik dan Pengurus
pemenuhan jam mengajarnya. Ini
Kelas
penting agar mereka tidak merasa
terancam/terdampak akibat
mengaudit guru mata pelajarannya.

3. Pelaksanaan Best Practice


Alur kerja yang dilakukan oleh guru, siswa, Litbang, kepala sekolah, dan
pengawas adalah:
a. Guru mengajar sesuai dengan jadwal definitif yang sudah dibuat
oleh lembaga.
b. Ketika guru masuk/memulai pembelajaran petugas (salah satu
pengurus kelas) mencatat selang waktu antara waktu mulai
pembelajaran dengan bel penanda memulai pembelajaran.
c. Ketika guru mengakhiri pembelajaran, siswa mencatat selang waktu
antara berakhirnya pembelajaran dengan bel tanda berakhirnya
pembelajaran.
57
Jurnal Kelas Berbasis Time Line untuk
Meningkatkan Efektivitas Pemenuhan Waktu Mengajar

d. Diakhir tatap muka siswa memberi tanda bulatan pada jurnal (time
line) dan guru menanda tangani jurnal yang berarti apa yang tertuang
di time line sudah atas persetujuan guru pengajar.
e. Setiap akhir pekan (Hari Sabtu) petugas Litbang merekap jurnal
kelas untuk seluruh kelas pada masing-masing tingkat dituangkan
ke dalam Form Rekap Efektivitas Pemenuhan Waktu Mengajar
Mingguan (F-1), selanjutnya dianalisis.
f. Setelah kegiatan nomor 1 sampai 5 di atas berlangsung selama
sebulan atau 4 (empat) minggu, rekapan per minggu di pindahkan
ke Form Rekap Efektivitas Pemenuhan Waktu Mengajar Bulanan
(F-2). Selanjutnya di analisis.
Pada minggu terakhir bulan September digunakan sebagai minggu
percobaan, dimana pada minggu ini pengawas bersama kepala sekolah
melakukan pembinaan baik kepada siswa maupun kepada guru. Pembinaan
kepada siswa bertujuan untuk meyakinkan bahwa apa yang mereka lakukan
betul-betul tidak berisiko atau berdampak pada nilai yang mereka peroleh.
Kepada guru kita memberi penguatan bahwa model keterbukaan ini sekaligus
merupakan tuntutan bagi seorang guru untuk mampu menjadi teladan
khususnya tentang disiplin waktu.
Hasil pelaksanaan Best Practice dilihat dari kuesioner ditampilkan seperti
pada tabel di bawah ini.
Rekapitulasi persentase jumlah guru yang mengajar, memulai, dan
mengakhiri proses pembelajaran tepat waktu menurut responden.

NO SEKOLAH BEFORE AFTER PENINGKATAN

1 2 3 4 5
1 SMA N 1 SUKASADA 48,72 % 79,49 % 30,77 %
2 SMA N 1 SAWAN 45,24 % 71,43 % 26,19 %
3 SMA N 1 KUBUTAMBAHAN 21,62 % 67,57 % 45,95 %
RATA-RATA 38,53 % 72,83 % 34,30 %
Keterangan:
Before = persepsi anak terhadap pemenuhan waktu guru mengajar di kelas (dari
kuesioner) sebelum JKBTL dilaksanakan
After = persepsi anak terhadap pemenuhan waktu guru mengajar di kelas (dari
kuesioner) setelah JKBTL dilaksanakan

Sementara hasil pelaksanaan Best Practice dilihat dari rekapitulasi


58
Success Story
Pengawas Sekolah SMA

data rata-rata efektivitas pemenuhan waktu mengajar di kelas antara bulan


Oktober 2016 dan November 2016 seperti tabel berikut.

Efektivitas Pemenuhan Waktu mengajar di kelas antara bulan Oktober


2016 dan November 2016
EFEKTIVITAS
PEMENUHAN KENAIKAN Efektivitas
NO SEKOLAH WAKTU (%) PEMENUHAN
OKT. NOP. WAKTU (%)
2016 2016
1 2 3 4 5
1 SMA N 1 SUKASADA 98,46 99,87 1,41
2 SMA N 1 SAWAN 96,62 97,96 1,34
3 SMA N 1 KUBUTAMBAHAN 72,61 83,00 10,39
RATA-RATA 89,23 93,61 4,38
Berdasarkan data di atas dapat dilihat bahwa:
1. Perbandingan data awal (sebelum best practice dilaksanakan)
dengan data akhir (setelah best practice dilaksanakan selama 2
bulan) dari instrument kuesioner adalah meningkat dari 38,53%
menjadi 72,83%. Data ini menunjukkan bahwa jumlah anak yang
memiliki persepsi atau pendapat bahwa antara 95% sampai dengan
100% dari keseluruhan guru mengajar tepat waktu meningkat
dengan peningkatan 34,30% dalam rentang waktu 2 (dua) bulan
yakni dari awal bulan Oktober 2016 sampai dengan akhir November
2016, baik di masing-masing sekolah maupun secara rata-rata.
2. Perbandingan rekap data efektivitas pemenuhan guru mengajar
pada pulan Oktober 2016 dengan rekap data efektivitas pemenuhan
guru mengajar pada bulan November 2016 rata-rata meningkat dari
89,23% menjadi 93,61%, baik di masing-masing sekolah maupun
secara rata-rata.
3. Kegiatan best practice ini berdampak positif secara meyakinkan
karena dua jenis data yaitu data akhir dari kuesioner dan data dari
jurnal kelas berbasis time line sama-sama mengalami peningkatan.
4. Dampak positif best practice ini juga dikuatkan dari hasil testimoni
yang diberikan oleh kepala sekolah, guru, dan siswa di masing-
masing sekolah tempat kegiatan best practice ini dilaksanakan.
59
Jurnal Kelas Berbasis Time Line untuk
Meningkatkan Efektivitas Pemenuhan Waktu Mengajar

Dari kegiatan best practice ini penulis melihat ada hal yang menarik
sebagai dampak ikutnya yaitu:
1. Di best practice, respons guru terhadap kegiatan best practice ini
sangat tinggi, tertinggi di antara 2 sekolah yang lainnya. Hal ini
dapat dilihat dari nilai efektivitas pemenuhan mengajar pada bulan
Oktober langsung sangat tinggi mencapai nilai rata-rata 98,46%;
padahal menurut responden dari siswa di awal hanya 48,72% guru
yang mampu mengajar tepat waktu, berbeda dengan dua sekolah
yang lainnya.
2. Kegiatan best practice ini awalnya memang agak sulit diterima,
namun setelah berjalan selama 2 (dua) bulan guru menjadi terbiasa.
Sekaligus menjadi pembiasaan untuk melaksanakn tugas tepat
waktu/disiplin waktu.
3. Semua warga sekolah mulai memaknai konsep keterbukaan dalam
arti yang lebih luas, tidak sekadar masalah-masalah keuangan saja.
4. Tindak Lanjut
Hasil analisis Rekap Efektivitas Pemenuhan Waktu Mengajar
Bulanan dilaporkan kepada Kepala Sekolah untuk mendapatkan tindak
lanjut berupa :
1. Pembinaan bagi guru-guru yang efektivitas pemenuhan waktunya
masih rendah, 2. Motivasi bagi guru-guru yang efektivitas pemenuhan
waktunya sudah bagus, dan 3. Evaluasi kemajuan secara umum yang
disampaikan dalam rapat Dewan Pendidik. Kepala sekolah bersama-
sama Pengawas (Penulis) melakukan supervise implementasi JKBTL dan
menemukan sekaligus mencari solusi dari hambatan yang ada.

Penutup
Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa: (1)
Pengembangan jurnal kelas berbasis time line dapat meningkatkan efektivitas
pemenuhan waktu mengajar guru di kelas; (2) Pelaksanaan Best Practice ini
sekaligus memberikan dampak pengiring bagi guru untuk mampu menjadi
teladan terutama dalam hal disiplin waktu, sebagai salah satu cara untuk
menanamkan sikap disiplin kepada siswa.
Rekomendasi yang dapat penulis sampaikan sebagai penggagas
sekaligus sebagai pengawas sekolah yaitu: (1) Pelaksanaan Best Practice ini
60
Success Story
Pengawas Sekolah SMA

diharapkan dapat dikembangkan lagi untuk melihat efektivitas pemenuhan


mengajar bagi guru yang mendapat tugas tambahan. Ada sinyalemen bahwa
guru terkadang lebih memprioritaskan tugas tambahannya dibandingkan
dengan tugas pokok untuk mengajar di kelas; (2) Karena model Jurnal kelas
ini terbukti efektif untuk meningkatkan pemenuhan waktu guru mengajar,
diharapkan kepada seluruh kepala sekolah untuk mencoba sistem ini, tentu
dengan segala improvisasinya.

Ucapan Terima Kasih


Melalui tulisan ini penulis sampaikan ucapan terima kasih dan
penghargaan kepada Direktur Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan
atas ruang dan kesempatan yang telah diberikan kepada penulis untuk
menuangkan hasil kegiatan Best Practice ini. Ucapan yang sama juga penulis
sampaikan kepada para nara sumber yang telah memberikan pembinaan,
saran dan arahan dalam penyempurnaan artikel ini. Semoga kegiatan ini
dapat menginspirasi para pembaca sekaligus juga memberi masukan dalam
rangka lahirnya karya-karya tulis yang baru yang lebih inovatif dalam rangka
meningkatan kualitas layanan pendidikan di Indonesia.

Daftar Pustaka
Departemen Pendidikan Nasional. Manajemen Sekolah. 2006. Depok: Pusat
Pendidikan dan Pelatihan Pegawai.
Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2016
Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah.
Rohinah. 2012. The Hidden Curriculum, Membangun Karakter Melalui
Kegiatan Ekstrakurikuler. Yogyakarta: Insan Madani.
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Journal of Education and Practice www.iiste.org ISSN 2222-1735 (Paper) ISSN
2222-288X (Online) Vol.6, No.33, 2015 125.
Harniati. 2014. Hidden Curriculum (Kurikulum Tersembunyi).
Bersamadiamewarnaidunia.http://bersamadiamewarnaidunia.
blogspot.co.id/2014/09/hidden-curriculum-kurikulum-tersembunyi.
html. Diakses tanggal 26 Des 2016.
Model Supervisi Akademik
Berbasis Pendampingan Guru

Toto Raharjo,S.Pd.,M.Pd.
Kabupaten Lombok Timur
Nusa Tenggara Barat

Pendahuluan
Kabupaten Lombok Timur memiliki 60 SMA yang terdiri dari 23 SMA
Negeri dan 37 SMA Swasta. Guru matematika berjumlah 150 orang. Sementara
pengawas matematika SMA hanya satu orang.
Dalam pembagian tugas melakukan supervisi, pengawas sekolah
melaksanakan supervisi akademik sesuai mata pelajaran/rumpun mata
pelajaran yang diampunya dan supervisi manajerial pada empat (4) sekolah.
Untuk melaksanakan supervisi akademik dibentuk 2 (dua) tim. Masing-masing
tim melaksanakan supervisi pada 30 SMA dengan frekuensi kunjungan yang
hanya 1 atau 2 kali per semester.
Oleh karena itu untuk meningkatkan layanan supervisi akademik
pengawas sekolah, perlu dikembangkan suatu model supervisi yang dapat
meningkatkan layanan supervisi akademik bagi semua guru matematika.
Layanan supervisi akademik tersebut dapat dilakukan oleh rekan sejawat
(guru pendamping) dan diharapkan sesuai dengan situasi, kondisi, dan
kebutuhan guru.
62
Success Story
Pengawas Sekolah SMA

Model Supervisi Akademik Berbasis


Pendampingan Guru
Setiap guru memiliki pengalaman, kelebihan dan kekurangan masing-
masing. Ada kalanya seorang guru mengalami kesulitan atau kekurangan
dalam beberapa hal terkait pelaksanaan pembelajaran. Sebaliknya, ada guru
yang memiliki kemampuan yang baik sehingga dapat membantu pelaksanaan
supervisi dalam meningkatkan kemampuan guru yang mengalami kesulitan
atau kekurangan dalam melaksanakan pembelajaran. Agar supervisi akademik
yang dilakukan berhasil dengan baik pengawas sekolah harus merealisasikan
prinsip-prinsip supervisi akademik modern. Prinsip-prinsip tersebut yaitu:
mampu membangun hubungan yang harmonis, demokratis, terprogram
dan berkesinambungan, terintegrasi
dengan program pendidikan lainnya,
komprehensif, konstruktif, dan
objektif (Sudjana, 2012: 59-60).
Pengawas sekolah juga harus
mengetahui permasalahan ataupun
potensi yang ada pada guru-guru
binaannya. Guru yang memiliki
kemampuan yang baik, dapat
diberdayakan untuk membantu
pelaksanaan supervisi. Menurut
Atmodiwiryo (2011: 265) model
supervisi sebaya yang dilaksanakan
oleh guru senior kepada guru yunior,
dapat membantu pelaksanaan
supervisi dalam meningkatkan
kemampuan guru melaksanakan
proses pembelajaran.
Glickman, et al. dalam Daryanto
dan Rachmawati (2015:192)
mengartikan bahwa supervisi
akademik adalah serangkaian
kegiatan membantu guru
mengembangkan kemampuannya
Gambar 1 dan 2. Kegiatan Uji coba mengelola proses pembelajaran
Pendampingan Guru untuk mencapai tujuan
63
Model Supervisi Akademik Berbasis Pendampingan Guru

pembelajaran. Sementara itu, supervisi akademik yang mampu memperbaiki


kualitas mengajar guru adalah yang dilaksanakan dengan berpijak pada
prinsip-prinsip sistematis, berencana, dan kontinu (Sahertian, 2008:20).
Proses pembimbingan/pemberian bantuan pada teman
sejawatnya yang dilakukan oleh guru yang memiliki kemampuan
yang lebih baik dan telah yang telah mengikuti pembinaan pengawas
sekolah dinamakan pendampingan guru. Adapun manfaat kegiatan
pendampingan adalah: kegiatan pendampingan bermanfaat bagi upaya
peningkatan kemampuan guru melaksanakan pembelajaran, kegiatan
pendampingan bermanfaat bagi peningkatan kualitas pendidikan di sekolah,
kegiatan pendampingan dapat dijadikan acuan bagi pengawas sekolah
meningkatkan akses layanan supervisi akademik, kegiatan pendampingan
bermanfaat membantu kepala sekolah menilai kemampuan profesional guru
melaksanakan pembelajaran.
Prinsip-prinsip pelaksanaan pendampingan adalah: profesional, kolegial,
sikap saling percaya, dan berkelanjutan. Sedangkan langkah-langkah
implementasi pendampingan adalah: penyiapan pendamping dan guru
sasaran, bimbingan teknis/pembekalan bagi guru pendamping, pelaksanaan
pendampingan, monitoring, dan evaluasi.

Prosedur Penelitian
Untuk mengembangkan model supervisi akademik berbasis
pendampingan guru, penulis melakukan penelitian melalui tiga tahap, yaitu:
1) Tahap Studi Pendahuluan, 2) Tahap Pengembangan, dan 3) Tahap Evaluasi.
Prosedur penelitian yang penulis lakukan ditunjukkan pada Gambar 3.
64
Success Story
Pengawas Sekolah SMA

TAHAP STUDI PENDAHULUAN

Studi Studi lapangan tentang Deskripsi dan


Pustaka pelaksanaan supervisi Temuan
akademik (Model Faktual)

TAHAP PENGEMBANGAN

Uji Kesesuaian Penyusunan


(Validasi) Model Model Konseptual
Konseptual Supak Supervisi Akademik
Berbasis Berbasis pendampingan
Pendampingan guru guru

Revisi Model Hipotetik


Model Konseptual Supervisi Akademik
Supervisi Akademik Berbasis Pendampingan
Berbasis guru
Pendampingan guru

TAHAP EVALUASI

Ujicoba
x Kepraktisan

Model Final Supervisi


Akademik Berbasis Penyempurnaan Model
Pendampingan guru

Gambar 3. Tahap Kegiatan Penelitian dan Pengembangan Model Supervisi


Akademik Berbasis Pendampingan guru (Disadur dari Sugiyono, 2013: 434)

Tahap Studi Pendahuluan


Tahap studi pendahuluan dilakukan untuk mengungkapkan model
faktual. Pada tahap ini penulis menelaah dokumen pengawasan milik
pengawas sekolah dan hasil penelitian terdahulu. Selain itu melakukan
wawancara dengan kepala sekolah (SMA) dan guru di Kabupaten Lombok
Timur.
Berdasarkan hasil penelitian pendahuluan, pelaksanaan tugas
pengawasan sekolah ditandai dengan Surat Keputusan Pembagian Tugas
Supervisi Akademik dan Manajerial. Sebagai lampiran SK tersebut adalah
pembagian tugas pengawasan mata pelajaran/rumpun mata pelajaran dan
pengawasan sekolah binaan.
65
Model Supervisi Akademik Berbasis Pendampingan Guru

Pembagian tugas supervisi akademik untuk SMA dilaksanakan dengan


cara membentuk 2 (dua) Tim. Jumlah SMA di Kabupaten Lombok Timur ada
60 SMA sehingga masing-masing Tim mengawasi 30 sekolah. Permasalahan
muncul karena jumlah pengawas mata pelajaran matematika hanya 1 orang,
yaitu penulis yang hanya dapat mengawas pada satu tim. Jumlah guru
matematika SMA di Kabupaten Lombok Timur adalah 150 orang. Berarti di
tiap tim ada sekitar 75 guru matematika. Jumlah sebanyak itu berdasarkan
pengalaman pelaksanaan supervisi tahun-tahun sebelumya tidak dapat
dijangkau semua. Keterbatasan waktu, frekuensi kunjungan yang terbatas,
yaitu 2 kali untuk SMA Negeri dan 1 kali untuk SMA Swasta dan kesesuaian
dengan waktu mengajar/keberadaan guru di sekolah, sehingga pelaksanaan
supervisi akademik tidak dapat menjangkau semua guru.

Tahap Pengembangan
Untuk mengetahui apakah model supervisi akademik berbasis
pendampingan guru yang dikembangkan dapat diterapkan dalam pelaksanaan
supervisi maka perlu dilakukan validasi. Validasi model konseptual dilakukan
oleh para ahli dan praktisi yang sesuai dengan penelitian ini. Dari validasi
tersebut akan diperoleh data validasi model yang akan dijadikan dasar
pertimbangan merevisi atau memperbaiki model. Hasil validasi model selain
digunakan untuk menyusun model hipotetik, juga untuk menentukan valid
atau tidak validnya model. Penilaian dari ahli ditunjukkan pada Tabel 1.

Tabel 1 Persentasi Hasil Validasi Model Konseptual oleh Ahli dan Praktisi
Persentase Skor Persentase Skor Item
Interval Skala
No Item oleh Ahli oleh Praktisi
Nilai Penilaian
Model Panduan Model Panduan
1 1 - 1.75 Kurang 0% 0% 0% 0%
2 1.76 – 2.49 Cukup Baik 18,7% 25% 0% 12,5%
3 2.50 – 3.28 Baik 43,7% 62,5% 50% 37,5%
4 3.25 – 4.00 Sangat Baik 47,6% 12,5% 50% 50%
Sumber: Data primer yang diolah

Berdasarkan Tabel 1, penilaian dari validator ahli dan praktisi berkaitan


dengan supervisi akademik berbasis PG adalah sebagai berikut. (1) Untuk
indikator/pernyataan berkaitan dengan model supervisi, 47,6% dan 50,0%
menyatakan kategori sangat baik, 43,7% dan 50% menyatakan kategori
66
Success Story
Pengawas Sekolah SMA

baik, dan 18,7% dan 0% menyatakan cukup baik. Revisi yang disarankan
oleh validator ahli adalah tujuan dan indikator hasil yang diharapkan perlu
dipertajam. Kriteria guru pendamping dan hubungan guru sasaran dengan
pengawas dan kepala sekolah perlu diperjelas; (2) Untuk indikator/pernyataan
berkaitan dengan panduan supervisi, 12.5% dan 50% menyatakan kategori
sangat baik, 62.5% dan 37,5% menyatakan kategori baik, dan 25% dan 16,5%
kategori cukup baik. Revisi yang disarankan oleh validator ahli adalah langkah-
langkah pendampingan guru pada panduan pelaksanaan perlu diperbaiki.
Pengawas sekolah harus tetap berperan menindaklanjuti laporan dari guru
pendamping. Sedangkan revisi yang disarankan oleh validator praktisi adalah
perencanaan supervisi antara pengawas sekolah dan guru pendamping perlu
diperjelas, apakah sama atau berbeda.
Model hipotetik diperoleh dari desaian model konseptual yang telah
divalidasi oleh ahli dan praktisi. Hasil validasi oleh ahli dan praktisi digunakan
untuk merevisi model konseptual. Revisi model konseptual, selaian dari para
ahli dan praktisi juga didukung oleh sumber-sumber bacaan literatur yang
dianggap relevan.

Tahap Evaluasi
Model hipotetik yang diperoleh dari revisi model konseptual selanjutnya
diujicobakan di lapangan. Tujuan pelaksanaan uji coba model adalah untuk
menguji kelayakan model dan kepraktisan dalam tataran implementasi
secara nyata di lapangan. Model hipotetik diujicobakan pada 9 SMA negeri
dan 1 SMA swasta di Kabupaten
Lombok Timur. Uji coba dilakukan
oleh 12 guru pendamping dan 21
guru sasaran.
Setelah pelaksanaan ujicoba,
pengawas sekolah meminta
pendapat/respons dari kepala
sekolah, guru pendamping, dan guru
sasaran melalui angket tertutup.
Angket respons terdiri tiga aspek
yaitu: kemanfaatan, kemudahan
Gambar 3. Buku Panduan menggunakan, dan kemungkinan
Supervisi AkademikBerbasis penerapan. Pada angket respons
Pendampingan Guru tersebut juga disediakan tempat
67
Model Supervisi Akademik Berbasis Pendampingan Guru

untuk menuliskan saran dan masukan terhadap model supervisi akademik


berbasis pendampingan guru.

Tabel 2 Respons Kepala Sekolah dan Guru Terhadap Supervisi Akademik


Berbasis Pendampingan Guru
Respons (%)
No. Aspek Guru Guru
Kepala Sekolah
Pendamping Sasaran
1 Kemanfaatan A=37,5% A=40% A=23,53%
B=62,5% B=60% B=68,63%
C=7,84%
2 Kemudahan A=37,5% A=22,86% A=17,65%
Menggunakan B=50,5% B=74,29% B=68,23%
C=12,0% C=2,85% C=12,94%
D=1,18%
3 Kemungkinan A=43,75% A=50% A=29,41%
Penerapan B=43,75% B=50% B=55,88%
C=12,5% C=11,76%
2,95%

Sumber: Data primer yang diolah

Berdasarkan angket respons, disimpulkan bahwa respons kepala sekolah


dan guru terhadap supervisi akademik berbasis PG pada aspek kemanfaatan,
97.39% responden menyatakan bemanfaat sepenuhnya/sebagian besar.
Pada aspek kemudahan menggunakan, 90,34% responden menyatakan
mudah digunakan sepenuhnya/sebagian besar. Pada aspek kemungkinan
penerapan, 90,93% responden menyatakan dapat diterapkan sepenuhnya/
sebagian besar.
Selain memberikan jawaban dengan cara memilih respons yang sesuai,
responden juga memberikan saran dan masukan secara tertulis yang
ditulis di bagian terakhir angket respons. Berdasarkan saran dan masukan
disimpulkan bahwa kepala sekolah dan guru sama-sama menyatakan bahwa
supervisi akademik berbasis pendampingan guru sangat penting dan perlu
dilakukan secara rutin dan berkelanjutan untuk meningkatkan kemampuan
guru melaksanakan pembelajaran.
Model final adalah model hipotetik yang telah direvisi berdasarkan hasil
uji coba. Berdasarkan pelaksanaan uji coba kemudian dilakukan uji kepraktisan
model dengan meminta penilaian dari kepala sekolah dan guru. Hasil uji
coba dan uji kepraktisan digunakan untuk menyempurnakan model supervisi
68
Success Story
Pengawas Sekolah SMA

akademik berbasis pendampingan guru. Produk final hasil pengembangan


model supervisi akademik berbasis pendampingan guru berupa panduan
pelaksanan supervisi akademik berbasis pendampingan guru.

Pengawas Kepala
Sekolah Sekolah

Pembinaan Supervisi Akademik Berbasis


Pendampingan Guru

Guru Pendamping

Perencanaan Pelaksanaan Tindaklanjut Pelaporan

Guru Sasaran

Analisis Meningkatkan
Kebutuhan Kinerja Guru

Gambar 6. Model Final Supervisi Akademik Berbasis PG

Kerangka model supervisi akademik berbasis pelayanan prima


dijabarkan dalam fungsi-fungsi manajemen perencanaan, pengorganisasian,
pelaksanaan, dan pelaporan.
Perencanaan. Perencanaan dalam model supervisi akademik berbasis
pendampingan guru meliputi: (1) penyusunan program, (2) visi dan misi, (3)
tujuan, (4) aspek supervisi, (5) instrumen supervisi, dan (6) jadwal supervisi.
Pengawas dan guru pendamping merencanakan program supervisi, namun
untuk guru pendamping hanya merencanakan aspek yang disupervisi,
instrumen supervisi, an jadwal supervisi. Dalam menyusun jadwal supervisi,
guru pendamping sangat perlu saling berkoordinasi dengan guru sasaran
guna menyesuaikan jadwal mengajar yang ada. Aspek yang disupervisi
berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran
dengan instrumen supervisi yang digunakan telah disiapkan oleh pengawas
pembina.
Pelaksanaan. Prosedur pelaksanaan supervisi akademik berbasis
pendampingan guru, yaitu: (1) observasi, (2) refleksi, (3) pencarian
alternatif solusi. Melalui tahap observasi awal supervisor dapat melakukan
69
Model Supervisi Akademik Berbasis Pendampingan Guru

identifikasi terhadap kekuatan dan kelemahan suatu proses pembelajaran.


Pada tahap observasi terkandung prinsip objektif, yaitu tindakan supervisi
harus disesuaikan dengan kebutuhan guru (Sudjana, 2012: 60). Tahap
refleksi dalam supervisi akademik berbasis pendampingan guru merupakan
tahap dialog untuk mencari solusi atas kelemahan-kelemahan guru dalam
pembelajaran. Selanjutnya pada tahap mencari alternatif solusi, merupakan
bentuk penerapan prinsip konstruktif dalam supervisi akademik. Pada tahap
ini supervisor mendiskusikan alternatif penyelesaian masalah pembelajaran.
Tindak Lanjut. Temuan-temuan hasil pelaksanaan supervisi akademik
oleh guru pendamping kemudian ditindaklanjuti, baik oleh guru pendamping
maupun oleh guru sasaran. Tindak lanjut ini digunakan untuk menentukan
kegiatan berikutnya, apakah akan mengulangi kegiatan atau melangkah ke
kegiatan berikutnya.
Pelaporan. Penyusunan laporan hasil supervisi akademik merupakan
tugas akhir seorang supervisor dalam melaksanakan supervisi. Dalam hal ini,
guru pendamping melaporkan hasil supervisi beserta catatannya ke kepala
sekolah dan pengawas pembina. Profil kinerja guru hasil supervisi akademik
menjadi dasar untuk bentuk pendampingan pada periode berikutnya.

Penutup
Supervisi akademik yang sekarang dilaksanakan oleh pengawas SMA
belum dapat dijadikan dasar pembinaan yang berkelanjutan. Hal ini disebabkan
supervisi akademik dilaksanakan hanya berdasarkan pembagian dan surat
tugas dari atasan, dilaksanakan hanya sebanyak dua kali untuk sekolah negeri
dan hanya satu kali untuk swasta, perencanaan dan pelaksanaan supervisi
akademik hanya dilaksanakan oleh pengawas sekolah, tidak berkelanjutan
dan tanpa melibatkan potensi/teman sebaya guru senior dalam membantu
pelaksanaan supervisi akademik.
Model supervisi akademik berbasis pendampingan guru yang
dikembangkan adalah supervisi akademik yang dilaksanakan secara terencana
dan terprogram melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan, tindak lanjut dan
pelaporan, supervisi akademik dilaksanakan dengan bantuan guru senior/
sebaya, yang akan mendampingi guru sasaran di sekolah yang sama, hasil
pendampingan akan ditindaklanjuti dan dilaporkan kepada kepala sekolah
dan pengawas sekolah.
70
Success Story
Pengawas Sekolah SMA

Berdasarkan hasil uji kesesuaian (validasi) dan hasil uji kepraktisan,


model supervisi akademik berbasis pendampingan guru adalah valid, memiliki
tingkat kepraktisan yang tinggi, dan layak digunakan oleh pengawas sekolah
dalam melaksanakan supervisi akademik.
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka dapat disampaikan rekomendasi
sebagai berikut. Kemampuan profesional guru dalam melaksanakan tugas
perlu terus ditingkatkan agar kinerja guru semakin baik. Pengawas sekolah
dapat meningkatkan kinerja guru melalui pelaksanaan supervisi akademik
berbasis pendampingan guru. Pengawas sekolah dapat melakukan penelitian
lanjutan guna mengetahui efektivitas pelaksanaan supervisi akademik
berbasis pendampingan guru.

Ucapan Terima Kasih


Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah
membantu selama proses penyelesaian tulisan ini, di antaranya:
1. Direktur Pembinaan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar dan
Menengah Direktorat Jenderal Guru dan tenaga Kependidikan
Kemdikbud beserta jajaran;
2. Panitia Lokakarya Penulisan Buku Kreatif Kepala Sekolah dan
Pengawas Sekolah pada Jenjang Dikdasmen;
3. Bapak dan Ibu Pembimbing pada Lokakarya Penulisan Buku Kreatif
Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah pada Jenjang Dikdasmen;

Daftar Pustaka
Atmodiwiryo, S. 2011. Manajemen Pengawasan dan Supervisi Sekolah, Teori
dan Praktiknya. Jakarta: Ardadizya Jaya.
Daryanto dan Rachmawati, T. 2015. Supervisi Pembelajaran. Yogyakarta:
Penerbit Gava Media.
Sahertian, P. 2008. Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan. Jakarta:
Rineka Cipta.
Sudjana, N. 2012. Supervisi Pendidikan Konsep dan Aplikasinya bagi Pengawas
Sekolah. Bekasi: Binamitra Publising.
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta.
“Supak” dengan Model Cooperative
Professional Development (CPD)
untuk Meningkatkan Kompetensi
Guru Menerapkan Pembelajaran
Discovery

Warsono, M.Pd

Pendahuluan
Permendikbud nomor 22 tahun 2016 tentang standar proses, menekankan
bahwa guru disarankan menggunakan pendekatan ilmiah (scientific) dalam
kegiatan pembelajaran. Model pembelajaran yang sesuai dengan pendekatan
ilmiah (scientific) di antaranya: discovery learning (penyingkapan), inquiry
learning (penemuan), problem based learning (berbasis masalah), dan project
based learning (berbasis projek). Pemilihan model pembelajaran ini tentu
disesuaikan dengan kompetensi dasar yang akan dibelajarkan dan kondisi
peserta didik.
Mengacu pada standar proses di atas, tugas guru tidaklah mudah. Pada
setiap kegiatan pembelajaran guru secara komprehensif wajib menghasilkan
kompetensi sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan pada
peserta didik. Agar capaian kompetensi peserta didik sesuai dengan tuntutan
kompetensi inti maka guru harus melakukan proses pembelajaran yang
berkualitas.
72
Success Story
Pengawas Sekolah SMA

Ukuran kualitas guru bisa dilihat dari hasil nilai kompetensinya.


Kompetensi merupakan seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan
perilaku yang dimiliki, dihayati, dikuasai dan diaktualisasikan oleh guru dalam
tugas keprofesionalan yang meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi
kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional. Secara empirik
profesionalisme guru dapat diamati dari perencanaan pembelajaran,
pelaksanaan pembelajaran dan penilaian pembelajaran serta tindak
lanjutnya.
Berdasarkan hasil pemantauan Standar Nasional Pendidikan
(SNP) standar proses pada guru-guru binaan tahun 2016 masih banyak
ditemukan permasalahan yang dihadapi guru. Masalah-masalah yang
dihadapi guru dalam pembelajaran mulai dari perencanaan pembelajaran,
pelaksanaan pembelajaran dan penilaian pembelajaran. Pada perencanaan
pembelajaran, masih dijumpai Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
yang komponen-komponennya tidak lengkap, penjabaran kompetensi dasar
(KD) menjadi indikator pencapaian komptensi (IPK) belum sesuai harapan,
juga pemilihan model pembelajaran belum variatif yang umumnya masih
dominan menggunakan pendekatan saintifik 5M (Mengamati, Menanya,
Mengumpulkan Data, Mengolah Data, Mengomunikasikan).
RPP yang kurang baik akan berimplikasi pada pelaksanan pembelajaran
yang kurang baik pula. Penggunaan pendekatan saintifik 5M yang terus
menerus mengakibatkan pembelajaran berlangsung monoton. Tampak
muncul kebosanan pada peserta didik. Mereka tidak fokus selama
mengikuti proses pembelajaran. Di samping itu, kualitas tahapan-tahapan
pembelajaran juga belum optimal. Misalnya pada kegiatan pendahuluan,
pemberian motivasi masih terkesan seadanya, guru tidak menyampaikan
langkah-langkah pembelajaran yang akan dilakukan peserta didik. Keadaan
yang demikian pada akhirnya berakibat pada rendahnya capaian kompetensi
peserta didik.
Berdasarkan hasil analisis kesesuaian Kompetensi Dasar (KD) dengan
model pembelajaran, lebih dari 70% pasangan KD pada mata pelajaran
fisika cocok menggunakan model pembelajaran discovery. Selebihnya
cocok menggunakan model pembelajaran problem based learning (PBL),
project based learning (PjBL) dan inquiry learning. Di samping itu bisa juga
menggunakan pendekatan lain di luar pendekatan saintifik.
73
“Supak” dengan Model Cooperative Professional Development (CPD)
untuk Meningkatkan Kompetensi Guru Menerapkan Pembelajaran Discovery

Model Pembelajaran Discovery


Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang melukiskan
prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar
untuk mencapai tujuan belajar (Depdikbud, 2017: 3). Sementara dalam
Permendikbud nomor 103 tahun 2014 tentang Pembelajaran, dinyatakan
bahwa model pembelajaran adalah kerangka konseptual dan operasional
pembelajaran yang memiliki nama, ciri, urutan logis, pengaturan, dan
budaya. Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, maka dapat
disintesakan bahwa model pembelajaran adalah kerangka konseptual dan
operasional yang memiliki ciri dan urutan logis yang disebut sintaks dalam
mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Model pembelajaran sebagaimana dimaksud yaitu model pembelajaran yang
menonjolkan aktivitas dan kreativitas, menginspirasi, menyenangkan dan
berprakarsa, berpusat pada siswa, otentik, kontekstual, dan bermakna bagi
kehidupan siswa sehari-hari.
Salah satu pendekatan pembelajaran yang disarankan pada kurikulum
2013 adalah pendekatan ilmiah/saintifik. Salah satu model pembelajaran
dengan pendekatan saintifik yaitu model pembelajaran penyingkapan
(discovery learning). Dalam pertunjuk teknis Model-model Pembelajaran yang
dikeluarkan oleh Direktorat Pembinaan SMA (2017: 11-12) dijelaskan bahwa
model discovery learning memberikan kesempatan kepada siswa untuk
menyingkap atau mencari tahu tentang sesuatu permasalahan atau sesuatu
yang sebenarnya ada namun belum mengemuka dan menemukan solusinya
berdasarkan hasil pengolahan informasi yang dicari dan dikumpulkannya
sendiri sehingga siswa memiliki pengetahuan baru yang dapat digunakannya
dalam memecahkan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Alur
pembelajarannya sebagai berikut.

Gambar 1. Alur Pembelajaran Discovery


74
Success Story
Pengawas Sekolah SMA

(1) Memberi stimulus (stimulation): guru memberikan stimulus


berupa masalah untuk diamati dan disimak siswa melalui kegiatan
membaca, mengamati situasi atau gambar, dan lain-lain;
(2) Mengidentifikasi masalah (problem statement): siswa menemukan
permasalahan, mencari informasi terkait permasalahan, dan
merumuskan masalah;
(3) Mengumpulkan data (data collecting): siswa mencari dan
mengumpulkan data/informasi yang dapat digunakan untuk
menemukan solusi pemecahan masalah yang dihadapi (mencari
atau merumuskan berbagai alternatif pemecahan masalah,
terutama jika satu alternatif mengalami kegagalan);
(4) Mengolah data (data processing): siswa mencoba dan
mengeksplorasi kemampuan pengetahuan konseptualnya untuk
diaplikasikan pada kehidupan nyata (melatih keterampilan berpikir
logis dan aplikatif);
(5) Memverifikasi (verification): siswa mengecek kebenaran atau
keabsahan hasil pengolahan data melalui berbagai kegiatan, atau
mencari sumber yang relevan baik dari buku atau media, serta
mengasosiasikannya sehingga menjadi suatu kesimpulan; dan
(6) Menyimpulkan (generalization): siswa digiring untuk
menggeneralisasikan hasil berupa kesimpulan pada suatu kejadian
atau permasalahan yang sedang diuji.

RPP dan Pelaksanaan Pembelajaran


RPP adalah rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu
pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan
kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai KD. Berdasarkan
Permendikbud No. 22 tahun 2016, komponen RPP terdiri atas: (1) Identitas
sekolah yaitu nama satuan pendidikan; (2) Identitas mata pelajaran atau
tema/subtema; (3) Kelas/semester; (4) Materi pokok; (5) Alokasi waktu
ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KD dan beban belajar
dengan mempertimbangkan jumlah jam pelajaran yang tersedia dalam
silabus dan KD yang harus dicapai; (6) Tujuan pembelajaran yang dirumuskan
berdasarkan KD dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat
diamati dan diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan;
(7) Kompetensi dasar dan indikator pencapaian kompetensi; (8) Materi
75
“Supak” dengan Model Cooperative Professional Development (CPD)
untuk Meningkatkan Kompetensi Guru Menerapkan Pembelajaran Discovery

pembelajaran, memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan,


dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator
pencapaian kompetensi; (9) Metode pembelajaran, digunakan oleh pendidik
untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta
didik mencapai KD yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan
KD yang akan dicapai; (10) Media pembelajaran, berupa alat bantu proses
pembelajaran untuk menyampaikan materi pelajaran; (11) Sumber belajar,
dapat berupa buku, media cetak dan elektronik, alam sekitar, atau sumber
belajar lain yang relevan; (12) Langkah-langkah pembelajaran dilakukan
melalui tahapan pendahuluan, inti, dan penutup; (13) Penilaian hasil belajar.
Pelaksanaan pembelajaran merupakan implementasi dari RPP, meliputi
kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup. Berdasarkan Permendikbud No. 22
tahun 2016, pelaksanaan pembelajaran meliputi tahapan: (1) Pendahuluan
dengan kegiatan guru: menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk
mengikuti proses pembelajaran; memberi motivasi belajar peserta didik
secara kontekstual sesuai manfaat dan aplikasi materi ajar dalam kehidupan
sehari-hari, dengan memberikan contoh dan perbandingan lokal, nasional,
dan internasional, serta disesuaikan dengan karakteristik dan jenjang peserta
didik; mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan
sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari; menjelaskan tujuan
pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai; menyampaikan
cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus. (2) Kegiatan
Inti, yang di dalamnya menggunakan model pembelajaran, metode
pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar yang disesuaikan
dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran. Kompetensi peserta
didik yang wajib dikembangkan mencakup: Sikap, sesuai dengan karakteristik
sikap, maka salah satu alternatif yang dipilih adalah proses afeksi mulai dari
menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, hingga mengamalkan;
Pengetahuan, dimiliki melalui aktivitas mengetahui, memahami, menerapkan,
menganalisis, mengevaluasi, hingga mencipta; Keterampilan, diperoleh
melalui kegiatan mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan
mencipta. Seluruh isi materi (topik dan subtopik) mata pelajaran diturunkan
dari keterampilan harus mendorong peserta didik untuk melakukan proses
pengamatan hingga penciptaan. (3) Penutup dengan kegiatan guru dan
peserta didik, baik secara individual maupun kelompok melakukan refleksi
untuk mengevaluasi: Seluruh rangkaian aktivitas pembelajaran dan hasil-
hasil yang diperoleh untuk selanjutnya secara bersama menemukan
manfaat langsung maupun tidak langsung dari hasil pembelajaran yang
telah berlangsung; Memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil
76
Success Story
Pengawas Sekolah SMA

pembelajaran; Melakukan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pemberian


tugas, baik tugas individu maupun kelompok; Menginformasikan rencana
kegiatan pembelajaran untuk pertemuan berikutnya.

Supervisi Akademik Model CPD


Supervisi akademik secara umum merupakan bantuan profesional
kepada guru dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran sehingga
guru dapat membantu peserta didik untuk belajar lebih aktif, kreatif, inovatif,
efektif, efisien dan menyenangkan. Masaong (2013: 49) meyebutkan ada lima
macam model supervisi, yaitu: model cooperative professional development
(CPD), model individualized professional development (IPD), model clinical
supervision (CS), model informal supervision (IP), dan model supportive
supervision (SS). Selanjutnya Glatthorn (1984: 39) menyebutkan “Cooperative
professional development is a moderately formalized process by which two
or more teachers agree to work together for their own professional growth,
usually by observing each other’s classes, giving each other feedback about
the observation, and discussing shared professional concern”. Terjemahannya
sebagai berikut: Cooperative professional development adalah proses yang
dilakukan secara moderat oleh dua atau lebih orang guru yang bersepakat
bekerja sama untuk mengembangkan profesionalisme mereka sendiri,
biasanya dengan saling mengunjungi kelas, saling memberikan umpan balik
dari hasil observasi, dan mendiskusikan yang menjadi perhatian profesi
bersama. Heller dalam Imron (Masaong 2013: 50) mengemukakan model
CPD memiliki keuntungan antara lain: (1) Merupakan wahana bagi guru untuk
mengetahui pekerjaan guru lainnya; (2) Mengembangkan suatu mekanisme
bagi tim CPD untuk saling berkomunikasi mengenai pembelajaran; (3)
Kegiatannya yang bersifat kontinyu sehingga meningkatkan motivasi
belajar bagi guru-guru; (4) Interaksi intelektual dapat memberikan efek
induksi, karena terjalin sikap saling menerima dan saling memberi informasi
tentang perkembangan pengetahuan dan teknologi; (5) Melalui CPD akan
menimbulkan kesan adanya upaya perbaikan perilaku inovatif, disiplin, self
control dalam pelaksanaan tugas-tugas mengajar; (6) Menunjukkan bahwa
guru-guru banyak belajar dari teman guru lain dan saling mempercayai antara
satu dengan yang lain sebagai sumber ide-ide baru, membagi masalah yang
mereka hadapi, sehingga merasa cocok dengan pengembangan profesinya.
Kegiatan supervisi akademik dengan model CPD dilaksanakan pada tujuh
guru binaan berasal dari tiga sekolah, yaitu: SMAN 3 Bantul, SMAN 1 Imogiri
77
“Supak” dengan Model Cooperative Professional Development (CPD)
untuk Meningkatkan Kompetensi Guru Menerapkan Pembelajaran Discovery

dan SMAN 1 Pleret, bulan September hingga November 2017. Prosedur


kegiatan dilaksanakan dengan tahapan: (1) Pengawas melaksanakan
supervisi kunjungan kelas sehingga diperoleh permasalahan-permasalahan
yang dihadapi guru. (2) Pengawas mengumpulkan guru sasaran di SMAN 3
Bantul pada hari Jumat, 15 September 2017. Isi pertemuan adalah:
Membuat kesepakatan untuk melaksanakan supervisi model CPD; Menjelaskan
tentang CPD, RPP dan model pembelajaran discovery; Mencermati intrumen
telaah RPP dan penilaian pembelajaran; dan Menyepakati jadwal kegiatan di
sekolah dan pertemuan refleksi. (3) Pelaksanaan supervisi model CPD.

Tabel 1. Kegiatan ke-1 Pelaksanaan CPD


Waktu dan
Kegiatan Guru Kegiatan pengawas
tempat
16-28 Sept. Menyusun RPP, Memastikan bahwa kegiatan
2017 saling menelaah guru menyusun RPP dan
di sekolah RPP, melaksanakan mengimplementasikan
masing- pembelajaran, saling di dalam pembelajaran
masing menilai pembelajaran. berlangsung dengan baik.
29 Sept. 2017 Menyampaikan hasil Memandu diskusi
Di SMAN 1 telaah RPP dan berdasarkan hasil telaah
Imogiri pengamatan pembelajaran RPP dan pengamatan
serta permasalahan yang pembelajaran serta
ditemukan, mengumpulkan memberikan solusi atas
intrumen telaah RPP dan permasalahan yang ditemui
pengamatan pembelajaran guru, merekap nilai hasil
yang telah terisi. telaah RPP dan nilai
pengamatan pembelajaran.

Kegiatan ke-2 dilaksanakan pada 30 September sampai dengan 6 Oktober


2017 diakhiri dengan pertemuan evaluasi di Kantor Balai Dikmen Kabupaten
Bantul.
Kegiatan ke-3 dilaksanakan pada 7 sampai dengan 12 Oktober 2017
diakhiri dengan pertemuan evaluasi di SMAN 3 Bantul.
Kegiatan ke-4 dilaksanakan pada 13 Oktober sampai dengan 11
November 2017 diakhiri dengan evaluasi di SMAN 1 Imogiri.
Tahapan pelaksanaan supervisi akademik model CPD yang dilakukan
pengawas: (1) Tahap persiapan mencakup kegiatan: Membuat kesepakatan
dengan guru bahwa mereka akan meningkatkan kompetensinya dalam
78
Success Story
Pengawas Sekolah SMA

menerapkan model pembelajaran discovery yang akan difasilitasi pengawas


melalui supervisi model CPD; Menyiapkan bahan tayang tentang: supervisi
akademik model CPD, model pembelajaran discovery, RPP kurikulum 2013;
Mencermati instrumen telaah RPP dan instrumen pengamatan pembelajaran
kurikulum 2013 yang dikembangkan oleh direktorat pembinaan SMA
tahun 2017; Memahamkan kepada guru sasaran tentang: CPD, RPP, model
pembelajaran discovery, instrumen telaah RPP, dan instrumen pengamatan
pembelajaran; Menyusun jadwal pelaksanaan supervisi. (2) Tahap
pelaksanaan, kegiatan yang dilakukan: Semua guru menyusun RPP dengan
model pembelajaran discovery sesuai materi yang akan dibelajarkan. Sesuai
jadwal yang telah disepakati RPP dicetak dan diberikan kepada teman sejawat
untuk ditelaah dan digunakan untuk panduan penilaian pembelajaran di
kelas; Setelah semua guru saling melakukan telaah RPP dan mengamati
pembelajaran teman sejawatnya, dilakukan pertemuan evaluasi semua guru
sasaran dengan pengawas; Diskusi hasil telaah RPP dan hasil pengamatan
pembelajaran. Setiap guru menyampaikan hasil penilaian terhadap teman
sejawat kemudian ditanggapi oleh teman yang dinilai; Pengawas memberikan
tanggapan dan memberikan solusi atas permasalahan masing-masing guru.
Selanjutnya data dikumpulkan menggunakan dua macam instrumen,
yaitu instrumen telaah RPP dan instrumen pelaksanaan pembelajaran.
Berdasarkan hasil pengolahan data, nilai RPP dan pembelajaran pada
kondisi awal guru-guru masih cukup rendah. Hal ini karena ketiga sekolah
belum lama mengimplementasikan kurikulum 2013. SMAN 3 Bantul baru
memasuki tahun ketiga, SMAN 1 Imogiri dan SMAN 1 Pleret baru memasuki
tahun kedua. Meskipun guru-guru sudah mengikuti diklat kurikulum 2013
tetapi pada kenyataannya pengetahuan tentang RPP dan bagaimana
mengimplementasikan RPP di dalam pembelajaran masih banyak kesulitan.
Setelah dilakukan supervisi
akademik menggunakan model CPD
beberapa kali ternyata peningkatan
nilai RPP dan pembelajaran cukup
signifikan. Dengan model CPD mereka
saling berdiskusi dengan teman guru
dalam satu sekolah maupun teman
guru dari sekolah lain. Bersama
teman guru satu sekolah mereka
Gambar 2. Diskusi evaluasi semua saling memberi masukan karena
guru dengan pengawas sekolah mereka saling menilai RPP dan saling
79
“Supak” dengan Model Cooperative Professional Development (CPD)
untuk Meningkatkan Kompetensi Guru Menerapkan Pembelajaran Discovery

menilai pembelajaran. Sementara bersama teman guru antar sekolah bisa


saling sharing pengalaman sehingga wawasan mereka semakin luas. Hal
inilah yang membuat kompetensi guru lebih cepat meningkat. Peningkatan
kompetensi rata-rata mereka dalam menyusun RPP dari kondisi awal hingga
akhir kegiatan dan peningkatan rata-rata nilai pembelajaran tampak pada
tabel berikut:

Tabel 2. Peningkatan Rata-rata Nilai RPP dan Pelaksanaan Pembelajaran


Rata-rata Nilai RPP Rata-rata Rata-rata nilai pembelajaran Rata-rata
K0 K1 K2 K3 K4 Peningkatan K0 K1 K2 K3 K4 peningkatan
64.1 69.8 76.8 91.1 91.9 (91.1–64.1) = 27 56.8 78.0 80.4 87.5 90.4 (90.4-56.8) = 33.6

Secara grafis seperti berikut.

Peninggkatan rata-rata nilai RPPP Penin


ngkatan rataa-rata nilai
pembelaja ran
91,1 91,99
100 76,,8
4,1 69,8
64 78 80,44 87,5 90,4
100
56,8
50
50

0 0
K0
0 K1 K2 K3 K4 K0 K1 K2 K3 K4

Gambar 2. Grafik Peningkatan Rata-rata nilai RPP dan Pembelajaran

Penutup
Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan: (1) Langkah-
langkah supervisi akademik model CPD adalah: Guru-guru bersepakat untuk
meningkatkan profesionalisme dengan cara bekerja sama secara moderat
dalam hal tertentu yang menjadi concern mereka. Dalam kegiatan ini
adalah penyusunan RPP dengan model pembelajaran discovery sekaligus
implementasinya di dalam pembelajaran; Pengawas memfasilitasi guru-guru
dengan menyiapkan bahan tayang tentang: RPP, CPD, model pembelajaran
discovery, instrumen telaah RPP dan instrumen pembelajaran kemudian
didiskusikan dengan guru; Guru-guru dalam satu sekolah menyusun RPP
untuk saling ditelaah satu dengan yang lain kemudian diimplementasikan
di dalam pembelajaran dan saling menilai pembelajaran satu dengan
yang lain; Guru-guru dari tiga sekolah berkumpul dengan pengawas untuk
mendiskusikan hasil penilaian RPP dan penilaian pembelajaran. Pengawas
80
Success Story
Pengawas Sekolah SMA

memandu jalannya evaluasi dengan cara: masing-masing guru menyampaikan


hasil penilaiannya kemudian ditanggapi oleh guru yang dinilai hingga menemukan
solusi dari permasalahan yang ditemui masing-masing guru; Mengulangi langkah
sebelumnya hingga permasalahan yang menjadi concern guru-guru dianggap telah
bisa dipecahkan. (2) Setelah dilakukan empat kali kegiatan supervisi akademik
model CPD terjadi peningkatan rata-rata nilai RPP dengan model pembelajaran
discovery sebesar 27 dari keadaan awal dengan nilai 64.1 menjadi 91.1 di akhir
kegiatan. (3) Setelah dilakukan empat kali kegiatan supervisi akademik model
CPD terjadi peningkatan rata-rata nilai pembelajaran sebesar 33.6 dari keadaan
awal dengan nilai 56.8 menjadi 90.4 di akhir kegiatan.
Selanjutnya mengacu pada kesimpulan di atas maka dapat direkomendasikan:
(1) Pengawas atau kepala sekolah dapat melaksanakan supervisi akademik
model CPD untuk meningkatkan profesionalisme guru. (2) Guru-guru secara
berkelompok dapat bekerja sama dengan model CPD untuk meningkatkan
kompetensi yang masih dipandang perlu di bawah bimbingan kepala sekolah
atau pengawas sekolah.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada Direktur Pembinaan Tenaga
Kependidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga
Kependidikan Kemdikbud beserta jajaran yang telah memfasilitasi kegiatan ini.

Daftar Pustaka
Direktorat Pembinaan SMA. 2017. Model-Model Pembelajaran. Jakarta:
Depdikbud.
Glatthorn, Allan A. 1984. Differentiated Supervision. Alexandria: Association for
Supervision and Curriculum Development.
Masaong, Abdul Kadim. 2013. Supervisi Pembelajaran Dan Pengembangan.
Kapasitas Guru Memberdayakan Pengawas Sebagai Gurunya Guru. Bandung:
Alfabeta.
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 103 Tahun 2014 tentang
Pembelajaran.
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 22 Tahun 2016 tentang
Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah.
Model “SUKKSESST-ME’S”
dalam Membangun
Generasi Emas Abad 21

Yudhi Saparudin, M.Pd


Bandung, Jawa Barat

Pendahuluan
Data demografi jumlah siswa Indonesia sangat tinggi sekitar 49.186.236,
termasuk tujuh terbesar dunia (Budiman, 2017). Jumlah yang sangat besar
tersebut, apabila dididik melalui sistem pendidikan yang berbasis standar,
yaitu pola pendidikan pengembangan keterampilan abad 21, keterampilan
berpikir tingkat tinggi (HOTS), serta berbasis Penguatan Pendidikan Karakter
(PPK), diharapkan akan menghasilkan generasi emas pada tahun 2045.
Generasi yang siap bersaing secara global, dan berkarakter. Proses pendidikan
tersebut, harus dimulai dari sekarang.
Berdasarkan data dan fakta pada kondisi saat ini: (1) hasil tes PISA
tahun 2012 mayoritas siswa Indonesia usia 15 tahun belum memiliki literasi
dasar (membaca, matematika dan sains) yang baik (OECD, 2012), dan (2)
peringkat indeks daya saing global Indonesia urutan 41 dari 138 negara (WEF,
2016 dalam Budiman, 2017). Hasil deskripsi sebelum implementasi model
Supervisi (Akademik dan Manajerial), Supervisi Klinis, Kolaborasi, Penilaian
Sendiri, Sejawat, Atasan, Monitoring, Evaluasi serta Solusi yang disingkat
(“SUKKSESST-ME’S”) menunjukkan bahwa: (a) rata-rata pengembangan
keterampilan abad 21 dan HOTS, dalam silabus dan RPP setiap mapel baru
82
Success Story
Pengawas Sekolah SMA

mencapai 53,56%; (b) pengembangan PPK berbasis kelas pada silabus dan
RPP baru mencapai 61,28%; (c) penguatan pendidikan karakter berbasis
budaya pada kegiatan ko kurikuler sudah baik sebesar 75,00%; pada kegiatan
ekstrakurikuler sebesar 71,25%, dan pada kegiatan non kurikuler sebesar
73,00%, serta (d) pengembangan keterampilan abad 21 dan PPK pada proses
pembelajaran di dalam kelas baru mencapai 62,58%.
Sistem pendidikan di Indonesia saat ini sudah berbasis standar,
mengembangkan keterampilan abad 21, HOTS, serta berbasis PPK, untuk
menghasilkan generasi emas pada tahun 2045. Sistem pendidikan tersebut
sudah sejalan dan dilandasi regulasi sebagai berikut: (1) Undang-Undang No
20 Tahun 2003 (2) Permendikbud No 20-21 tahun 2016, dan (3) RPJM 2015-
2019 dalam (Budiman, 2017).
Sekolah sebagai ujung tombak proses pendidikan harus menjalankan
amanah ke tiga regulasi di atas. Sekolah harus melaksanakan fungsi pendidikan
yang bermutu, mengembangkan keterampilan abad 21, HOTS, serta berbasis
PPK. Untuk menghasilkan generasi emas tahun 2045 yang siap bersaing
secara global, dan berkarakter. Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan
peranan pengawas sekolah untuk melaksanakan supervisi akademik dan
manajerial.
Pengawas sekolah harus menjamin proses pendidikan yang berlangsung
di sekolah mengacu pada pencapaian 8 Standar Nasional Pendidikan,
mengembangkan keterampilan abad 21, HOTS, serta berbasis PPK yang
bermutu. Oleh karena itu, penulis telah mengimplementasikan model
“SUKKSESST-ME’S” untuk meningkatkan keterampilan abad 21, HOTS, dan
PPK di lima sekolah binaan.
Implementasi model “SUKKSESST-ME’S” diintegrasikan pada struktur
kurikulum (silabus dan RPP), struktur kegiatan sekolah (pendidikan berbasis
kelas, berbasis budaya sekolah, dan masyarakat), serta pelaksanaan proses
pembelajaran di dalam kelas.

Model “SUKKSESST-ME’S”
Konsep model “SUKKSESST-ME’S” telah diimplementasikan pada lima
sekolah binaan di wilayah Bandung, yaitu SMA Negeri 27, SMA Kalam Kudus,
SMA Nugraha, SMA YPKKP, dan SMA Jenderal Sudirman. Implementasi
model “SUKKSESST-ME’S”dilaksanakan dari tanggal 22 Maret – 21 April 2018,
dilakukan melalui kegiatan-kegiatan dengan rincian sebagai berikut:
83
Model “SUKKSESST-ME’S” dalam Membangun Generasi Emas Abad 21

Implementasi Model “SUKKSESST-ME’S”


Hasil deskripsi sebelum implementasi model “SUKKSESST-ME’S” pada
Tabel 1 menunjukkan masih ada tiga aspek yang belum memenuhi harapan
yaitu: (1) pengembangan keterampilan abad 21 dan HOTS dalam silabus
dan RPP setiap mapel masih di bawah 60%; (2) pengembangan PPK berbasis
kelas pada RPP masih di bawah 60% yaitu baru mencapai 58.93%; dan (3)
pengembangan keterampilan abad 21 dan PPK pada proses pembelajaran
yang masih di bawah 60% adalah pengembangan HOTS pada kegiatan inti
baru mencapai 56.36% dan penutup baru mencapai 59.62%. Ketiga aspek
yang belum memenuhi harapan tersebut, harus dicari solusinya dengan
menerapakan model “SUKKSESST-ME’S”.
Pengaruh implementasi model “SUKKSESST-ME’S” terhadap peningkatan
keterampilan abad 21, HOTS dan PPK di lima sekolah binaan, ditunjukkan
pada Tabel 1.
84
Success Story
Pengawas Sekolah SMA

Tabel 1 Pengaruh Implementasi Model “SUKKSESST-ME’S” terhadap


Peningkatan Keterampilan abad 21, HOTS dan PPK Sebelum dan
Sesudah Implementasi Model “SUKKSESST-ME’S” di Lima Sekolah
Binaan
Prosentase
Aspek Keterampilan abad 21 dan Penguatan Rerata Rerata
No
Pendidikan Karakter Sebelum Sesudah
implementasi Implementasi
A 1. Struktur Kurikulum (KTSP): Mengembangkan
Keterampilan Abad 21
a. Mengembangkan keterampilan abad 21: 57.88 70.09
kritis & terampil memecahkan masalah,
kreatif & inovatif, komunikasi, kolaborasi)
dalam silabus setiap mapel
b. Mengandung keterampilan abad 21: 53.56 69.77
kritis & terampil memecahkan masalah,
kreatif & inovatif, komunikasi, kolaborasi)
terintegarasi dalam RPP setiap mapel
c. Mengembangkan keterampilan berpikir 54.24 70.09
tingkat tinggi (HOTS): dalam silabus
setiap mapel
d. Mengembangkan keterampilan berpikir 48.55 65.77
tingkat tinggi (HOTS): terintegarasi dalam
RPP setiap mapel
Rata-rata 53,56 68,93
2. Struktur Kurikulum (KTSP): Mengembangkan
Pendidikan Karakter Berbasis Kelas
a. PPK terintegarasi dalam Silabus setiap 63.62 70.90
mapel
b. PPK terintegarasi dalam RPP setiap mapel 58.93 66.78
Rata-rata 61,28 68,84
B Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya
Sekolah
1. Implementasi PPK dalam kegiatan Ko-kurikuler: 75.00 100.00
(studi lapangan/karya wisata)
2. Implementasi PPK dalam kegiatan
ekstrakurikuler:
a. Kegiatan OSIS 75.00 75.00
b. Kegiatan PMR 70.00 75.00
c. Pramuka 70.00 75.00
d. Paskibra 70.00 75.00
Rata-rata 71,25 75,00
85
Model “SUKKSESST-ME’S” dalam Membangun Generasi Emas Abad 21

Tabel 1 Pengaruh Implementasi Model “SUKKSESST-ME’S” terhadap


Peningkatan Keterampilan abad 21, HOTS dan PPK Sebelum dan
Sesudah Implementasi Model “SUKKSESST-ME’S” di Lima Sekolah
Binaan (lanjutan)
Prosentase
Aspek Keterampilan abad 21 dan Penguatan Rerata Rerata
No
Pendidikan Karakter Sebelum Sesudah
implementasi Implementasi
3. Non Kurikuler
a. Membersihkan lingkungan sekolah 65.00 100.00
b. Kegiatan Ko-kurikuler lainnya (Upacara 65.00 75.00
bendera/lagu nasional/daerah/membaca
buku bersama)
4. Perayaan Hari Keagamaan 85.00 100.00
5. Kegiatan Kerohanian 85.00 100.00
6. Bakti sosial 65.00 80.00
Rata-rata 73,00 91,00
C Pengembangan Keterampilan abad 21 dan PPK
pada proses pembelajaran
1. Kegiatan pendahuluan:
a. Mengembangkan Keterampilan abad 21 64.40 66.09
b. Mengembangkan HOTS 60.50 62.09
c. PPK 65.08 70.09
2. Kegiatan inti:
d. Mengembangkan Keterampilan abad 21 60.50 65.41
e. Mengembangkan HOTS 56.36 61.40
f. PPK 64.72 69.77
3. Kegiatan penutup:
g. Mengembangkan Keterampilan abad 21 65.08 70.90
h. Mengembangkan HOTS 59.62 66.78
i. PPK 63.03 71.51
Rata-rata 62,58 69,73

Berdasarkan data pada Tabel 1 menunjukkan bahwa, setelah implementasi


model “SUKKSESST-ME’S”: (a) rata-rata pengembangan keterampilan abad
21 dan HOTS dalam silabus dan RPP setiap mapel meningkat dari 53,56%
menjadi 68,93%; (b) pengembangan PPK berbasis kelas pada silabus dan RPP
meningkat dari 61,28% menjadi 68,84%; (c) penguatan pendidikan karakter
berbasis budaya pada kegiatan ko kurikuler meningkat dari 75,00% menjadi
100,00%; pada kegiatan ekstrakurikuler meningkat dari 71,25% menjadi
75,00%, dan pada kegiatan non kurikuler meningkat dari 73,00% menjadi
86
Success Story
Pengawas Sekolah SMA

91,00%; serta (d) pengembangan keterampilan abad 21 dan PPK pada proses
pembelajaran di dalam kelas meningkat dari 62,58% menjadi 69,73%.
Data pada Tabel 1 menunjukkan bahwa penerapan model “SUKKSESST-
ME’S” meningkatkan keterampilan abad 21 dan HOTS dalam silabus dan RPP
setiap mapel, serta penguatan pendidikan karakter pada kegiatan kokurikuler,
ekstrakurikuler, non kurikuler, perayaan hari keagamaan, kegiatan kerohanian,
dan bakti sosial. Hal ini terlihat dari peningkatan prosentase sebelum dengan
sesudah implementasi model pada semua aspek pertanyaan B 1 s.d B 6.
Peningkatan pemahaman tersebut terjadi karena para wakasek sudah mulai
memahami kekurangan-kekurangan dari hasil penilaian sendiri dan penilaiaan
dari atasan/kepsek serta verifikasi pengawas sebelum implementasi model.
Sehingga pada saat wakasek dan stafnya melaksanakan focus group discusion
akan mudah untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan tersebut baik pada
program, maupun penyusunan laporan program. Pemahaman akan lebih baik
jika ada arahan dari atasan/kepsek dan pengawas melalui hubungan yang
bersifat kolegial, dengan cara kolaborasi yang harmonis dibawah bimbingan
dan arahan dari kepala sekolah dan pengawas. Di bawah ini, sampel foto
kegiatan penguatan pendidikan karakter pada kegiatan kerohanian:
Peningkatan terjadi juga pada pengembangan keterampilan abad 21,
HOTS dan PPK pada proses pembelajaran. Data pada Tabel 1 menunjukkan
bahwa penerapan model “SUKKSESST-ME’S” meningkatkan keterampilan
guru untuk mengembangkan keterampilan abad 21, HOTS dan PPK pada
proses pembelajaran di kelas. Hal ini terlihat dari adanya peningkatan
prosentase sebelum dengan sesudah implementasi model pada semua
aspek pertanyaan C 1 s.d C 3, mulai dari kegiatan pendahuluan, kegiatan
inti, dan kegiatan penutup. Kondisi
tersebut menunjukkan bahwa
guru sudah mulai memahami cara
mengembangkan keterampilan
abad 21, HOTS dan PPK pada proses
pembelajaran di kelas.
Peningkatan tersebut terjadi
karena guru sudah mulai memahami
kekurangan-kekurangan dari hasil
penilaian sendiri, penilaian sejawat,
penilaiaan dari wakasek kurikulum,
penilaian atasan/kepsek serta
pengawas, pada saat melaksanakan
87
Model “SUKKSESST-ME’S” dalam Membangun Generasi Emas Abad 21

proses pembelajaran di kelas sebelum


implementasi model. Sehingga
pada saat guru melaksanakan
focus group discusion akan mudah
untuk memperbaiki kekurangan-
kekurangan tersebut, baik pada
upaya memperbaiki silabus dan
RPP, maupun melaksanakan proses
pembelajarannya. Kondisi-kondisi
di atas, menunjukkan bahwa untuk
memahami tingkatan kognitif paling kompleks, kemudian melakukan action,
perlu adanya thinking skills, attitude, dan psikomotor tertentu. Pemahaman
terjadi karena adanya pengalaman yang dialami sebelumnya, bisa juga
melalui bimbingan dan arahan yang intensif dan harmonis dari orang lain
yang sudah lebih dahulu memahaminya (Dewey, 1938; Duch, 1996; Johnson,
2002; Lazear, 2004; Matlin, 2009; Michael, 2007; Palinscar et al, 2000 &
Valanides, 1997). Pengaruh lainnya dari penerapan model “SUKKSESST-
ME’S”, menyebabkan semua komponen yang ada di organisasi pendidikan,
mulai melaksanakan kegiatan pendidikan berbasis standar dan regulasi,
untuk mencapai hasil yang bermutu (Berk, 1995; Creech, 1996; Sallis, 1994;
dan Spenbauer, 1992). Kegiatan pendidikan tersebut, telah melalui hubungan
yang bersifat kolegial, dengan cara kolaborasi yang harmonis, kondusif,
saling menunjang, saling mengisi, dan melengkapi di antara guru – wakasek -
kepala sekolah – komite - pengawas untuk mencapai tujuan tertentu (Cascio,
1991; Castetter, 1991; Freeman, 1995; Mukhopadhyay, 2005; ERIC, 2002;
Harris, 1996; dan Pettigrew, 1999), secara bertahap, berkesinambungan dan
berkelanjutan dalam rangka meningkatkan keterampilan abad 21, HOTS dan
PPK pada diri siswa. Di bawah ini, sampel foto kegiatan proses pembelajaran
di dalam kelas:

Penutup
Model “SUKKSESST-ME’S” efektif dapat meningkatkan keterampilan
abad 21, HOTS dan PPK di lima sekolah binaan, baik pada struktur kurikulum
(silabus dan RPP), struktur kegiatan sekolah (pendidikan berbasis kelas,
berbasis budaya sekolah, dan masyarakat), serta pelaksanaan proses
pembelajaran di dalam kelas.
88
Success Story
Pengawas Sekolah SMA

Berdasarkan pembahasan dan kesimpulan di atas, dapat disampaikan


beberapa saran sebagai berikut.
1) Model “SUKKSESST-ME’S” perlu diimplementasikan di SMA lainnya,
baik negeri maupun swasta, agar upaya meningkatkan keterampilan
abad 21, HOTS, dan PPK pada struktur kurikulum (silabus dan RPP),
struktur kegiatan sekolah (pendidikan berbasis kelas, berbasis
budaya sekolah, dan masyarakat), serta pelaksanaan proses
pembelajaran di dalam kelas dapat memberikan imbas secara
menyeluruh.
2) Supaya penerapan model “SUKKSESST-ME’S” ini optimal, maka
harus dilakukan secara berkelanjutan dan berkesinambungan mulai
siswa masuk sampai lulus.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada Direktur Pembinaan Tenaga
Kependidikan Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Jenderal Guru
dan Tenaga Kependidikan Kemdikbud beserta seluruh jajaran yang telah
memfasilitasi terselenggaranya kegiatan ini.

Daftar Pustaka
Berk, J. B. S. (1995). Total Quality Management: Implementing Continuous
Improvement. Kuala Lumpur: S. Abdul Madjeed & Co.
Budiman, A. (2017). Penguatan Pendidikan Karakter. Pada Acara Workshop
Pengembangan Perangkat Pelatihan dan Pendampingan Kurikulum
2013. Bogor.
Cascio, W. F. (1991). Managing Human Resource, Productivity, Quality of
Work Life. New York;McGraw Hill.
Castetter, W.B. (2004). The Human Resource Function in Educational
Adminitration (Sixth Edition). New Jersey: Prentice Hall, Inc Erglewood
Cliffs.
Creech, B. (1996). The Five Pillars of TQM (terjemahan). Jakarta: Bina Rupa
Aksara.
Dewey, J. (1938). Experince and Education. New York: Macmillan.
Duch, B. J. (1996). The power of teaching students, Journal of Culinary Science
Technology, Maret/April, p. 326-329.
89
Model “SUKKSESST-ME’S” dalam Membangun Generasi Emas Abad 21

ERIC. Clearinghouse on Educational Management, Trends and Issues: The Role


of School Leader. Downloaded April 2002. http://eric.uoregon.edu
Freeman, R. E. (1995) “Strategic Management A Stakeholder Approach”,
dalam Rochmulyati Hamzah (penerjemah). Manajemen Strategik
Pendekatan terhadap Pihak-pihak Berkepentingan. Jakarta: Pustaka
Binaman Pressindo
Harris, O.J., JR (1996). Managing People at Work. Canada: Publisher Simultan
Bously
Johnson, E. B. (2002). Contextual Teaching and Learning, California: Corwin
Press
Lazear, D. (2004). Higher-order Thinking: The Multiple Intelligences Way.
Chicago: Zephyr Press
Matlin, M. E. (2009). Cognitive Psychology. Seventh Edition. International
Version. Jhon Wiley & Sons, Inc
Michael, J. (2007). What makes physiology hard for to learn? Result of a
faculty survey. Advancephysiology Education, (31), p. 34-40
Mukhopadhyay, M. (2005). Total Quality Management in Education. SAGE
Publications. New Delhi
OECD, (2012). Pisa 2012 Results in Focus: What Students Know and What
They Can Do With What They Know. World Bank. Rodrigo
Palinscar, A.S., Collins, K.M., Marano, N.L., & Magnusson, S.J. (2000).
Investigation the engagement and learning of students with learning
in guided inquirí teaching, Language, Speech, and Hearing services in
Schools, 31. 240-251
Permendikbud No. 20 Tahun 2016 tentang Standar Kompetensi Lulusan
Permendikbud No. 21 Tahun 2016 tentang Standar Isi
Permendikbud No. 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses
Pettigrew, A.M. (1999). On Studying Organizational Cultures. Dalam
Administrative Science Quarterly. Vol 24
Sallis, E. (1994). Total Quality Management In Education, London: Koganpage
Limited
Spenbauer, S. (1992). Quality System for Education. Sydney: New York:
McGraw-Hill Company
90
Success Story
Pengawas Sekolah SMA

Undang-Undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional


Valanides, N. C., (1997). Cognitive abilities among twelfth-grade; implications
for teaching. Educational Research and Evaluation. 3, 160-186
Success Story
Pengawas Sekolah
SMA

Edisi-1

KEMENTERIAN
PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
REPUBLIK INDONESIA
Pendidikan
www.kemdikbud.go.id ISBN : 978-602-52537-2-0
Kementerian
Pendidikan dan Kebuudayaan RI
@Kemendikbud_RI