Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN CEDERA MEDULA SPINALIS

DI RUANG INSTALASI RAWAT DARURAT (IRD)


RSUD. PROF. DR. H. ALOE SABOE
KOTA GORONTALO

LIYANOVITASARI A. AMALI, S.Kep


NIM. C03118023

MENGETAHUI :

Ns. Pipin Yunus, M.Kep TTD

Ns. Arifin Umar, M.Kep TTD

1. Tgl :
TANGGAL PENGUMPULAN 2. Tepat Waktu
3. Terlambat

SARAN PRESEPTOR
KLINIK/AKADEMIK

PROGRAM STUDI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GORONTALO
2019
LAPORAN PENDAHULUAN
CEDERA MEDULLA SPINALIS

A. Konsep Dasar Medis


1. Definisi
Cedera medulla spinalis (CMS) atau ciedera spinal adalah cedera pada
tulang belakang yang menyebabkan penekanan pada medulla spinalis
sehingga menimbulkan myelopati dan merupakan keadaan darurat neurologi
yang memerlukan tindakan yang cepat, tepat dan cermat untuk mengurangi
kecacatan, (Budiman, 2013).
Cedera medulla spinalis adalah suatu kerusakan fungsi neurologis yang
disebabkan seringkali oleh kecelakaan lalu lintas. Apabila cedera itu
mengenai daerah L1-2 atau dibawahnya maka dapat mengakibatkan
hilangnya fungsi motorik dan sensorik serta kehilangan fungsi defekasi dan
berkemih. Cedera medulla spinalis diklasifikasikan sebagai komplit,
kehilangan sensasi fungsi motorik volunteer total dan tidak komplit,
campuran kehilangan sensasi dan fungsi motorik volunter, (Bararah, 2013)
2. Etiologi
a. Kecelakaan mobil, industry
b. Terjatuh, olahraga, menyelam
c. Luka tusuk, tembak
d. Tumor, (Bararah, 2013)
3. Manifestasi Klinik
a. Timbul rasa nyeri di daerah tengkuk. Dapat disertai tetraplegi yaitu
kelumpuhan keempat anggota gerak.
b. Foto rontgen daerah servikal dibuat antero-posterior dan lateral. Foto
lateral untuk melihat adanya kompresi korpus vertebra, (Purwadianto,
2017).
c. Nyeri akut pada belakang leher, yang menyebar sepanjang saraf yang
terkena
d. Paraplegia
e. Tingkat neurologic
f. Paralisis sensorik motorik total
g. Kehilangan control kandung kemih (refensi urine, distensi kandung
kemih)
h. Penurunan keringat dan tonus vasomotor
i. Penurunan fungsi pernapasan
j. Gagal nafas, (Bararah, 2013)
4. Patofisiologi
Kerusakan medulla spinalis berkisar dari komosio sementara (pasien
sembuh sempurna) sampai kontusio, laserasi dan kompresi sebstansi medulla,
(lebih salah satu atau dalam kombinasi) sampai transaksi lengkap medulla
(membuat pasien paralisis). Bila hemoragi terjadi pada daerah medulla
spinalis, darah dapat merembes ke ekstradul subdural atau daerah suaranoid
pada kanal spinal, segera sebelum terjadi kontusio atau robekan pada cedera,
serabut-serabut saraf mulai membengkak dan hancur. Sirkulasi darah ke
medulla spinalis menjadi terganggu, tidak hanya ini saja tetapi proses
patogenik menyebabkan kerusakan yang terjadi pada cedera medulla spinalis
akut. Suatu rantai sekunder kejadian-kejadian yang menimbulkan iskemia,
hipoksia, edema, lesi, hemoragi.
Cedera medulla spinalis dapat terjadi pada lumbal 1-5
- Lesi 11-15, kehilangan sensorik yaitu sama menyebar sampai lipat paha
dan bagian dari bokong.
- L2, ekstermitas bagian bawah kecuali 1/3 atas dari anterior paha
- Lesi L3, ekstermitas bagian bawah
- Lesi L4, Ekstermitas bagian bawah kecuali anterior paha
- Lesi L5, bagian luar kaki dan pergelangan kaki, (Bararah, 2013)
5. Pathways

Akibat suatu trauma mengenai tulang belakang, jatuh dari ketinggian, kecelakaan lalu lintas, kecelakaan olahraga

Mengakibatkan patah tulang belakang, paling banyak cervikalis da lumbalis

Fraktur dapat berupa patah tulang sederhana, kompresi,


kominutif dan dislokasi, sedangkan sumsum tulang belakang
dapat berupa memar, kontusio, kerusakan melintang, laserasi
dengan atau tanpa gangguan peredaran darah

Cedera Medulla Spinalis

Blok syaraf simpatis Pelepasan mediator kimia Kelumpuhan

Kelumpuhan otot pernafasan Respon nyeri hebat dan akut anestesi

Iskemia dan hipoksemia Syok spinal rektum, kandung kemih Gangguan fungsi

Gangguan kebutuhan oksigen Gangguan rasa nyaman nyeri dan potensial Gangguan eliminasi
komlikasi hipotensi, bradikardi
5. Pemeriksaan Diagnostik
a. Sinar X spinal : menentukan lokasi dan jenis cedera tulang (fraktur atau
dislokasi)
b. CT Scan untuk menentukan tempat luka/jejas
c. MRI untuk mengidentifikasi kerusakan syaraf spinal
d. Foto rongent thoraks mengetahui keadaan paru
e. AGD menunjukkan keefektifan pertukaran gas dan upaya ventilasi,
(Padila, 2012)
6. Komplikasi
a. Syok hipovolemik akibat perdarahan dan kehilangan cairan ekstrasel ke
jaringan yang rusak sehingga terjadi kehilangan darah dalam jumlah besar
akibat trauma.
b. Mal union, gerakan ujung patahan akibat imobilisasi yang jelek
menyebabkan mal union, sebab-sebab lainnya adalah infeksi dari jaringan
lunak yang terjepit diantara fragmen tulang, akhirnya ujung patahan dapat
saling beradaptasi dan membentuk sendi palsu dengan sedikit gerakan
(non union).
c. Non union adalah jika tulang tidak menyambung dalam waktu 20 minggu.
Hal ini diakibatkan oleh reduksi yang kurang memadai.
d. Delayed union adalah penyembuhan fraktur yang terus berlangsung dalam
waktu lama dari proses penyembuhan fraktur.
e. Tromboemboli, infeksi, koagulopati intravaskuler diseminata (KID).
Infeksi terjadi karena adanya kontaminasi kuman pada fraktur terbuka
pada saat pembedahan dan mungkin pula disebabkan oleh pemasangan
alat seperti plate, paku pada fratur.
f. Emboli lemak saat fraktur, globula lemak masuk kedalam darah karena
tekanan sumsum tulang lebih tinggi dari tekanan kapiler.
g. Globula lemak akan bergabung dengan trombosit dan membentuk emboli
yang kemudian menyumbat pembuluh darah kecil, yang memasok ke otak,
paru, ginjal, dan organ lain.
h. Sindrom kompartemen masalah yang terjadi saat perfusi jaringan dalam
otot kurang dari yang dibutuhkan untuk kehidupan jaringan. Berakibat
kehilangan fungsi ekstermitas permanen jika tidak ditangani segera,
(Padila, 2012).
7. Penatalaksanaan
a. Pada saat mengangkat atau memindahkan penderita, diusahakan agar
tidak banyak dilakukan gerakan, sebab dapat memperberat trauma pada
sum – sum tulang belakang. Usahakan supaya kepala tidak berputar dan
dipertahankan dalam posisi lurus terhadap tulang belakang atau lebih baik
penderita dibaringkan telungkup di usungan. Penderita dibaringkan pada
alas yang datar dank eras. Hal serupa dilakukan pula pada saat dibuat foto
rontgen.
b. Terhadap fraktur yang tidak memerlukan reposisi, dipasang gipskraag
atau kerah kapur tahu untuk fiksasi terhadap fraktur yang perlu reposisi,
dilakukan traksi pada kepala mulai dengan beban 5 kg bila lesi pada atas,
dan selanjutnya untuk setiap lesi di korpus vertebra dibawahnya diberi
tambahan beban 2 kg.
c. Pengobatan untuk mengurangi eodema dengan menggunkan
kortikosteroid, (Purwadianto, 2017)
B. Konsep Dasar Keperawatan
1. Pengkajian
a. Aktivitas/istirahat
Kelumpuhan otot (terjadi kelemahan selama syok pada bawah lesi.
Kelemahan umum/kelemahan otot (trauma dan adanya kompresi
saraf).
b. Sirkulasi
Hipotensi, hipotensi posturak, bradikardi, ekstermitas dingin dan pucat.
c. Eliminasi
Retensi urine, distensi abdomen, peristaltik usus hilang, melena,
emisis berwarna seperti kopi tanah,/hematemesis.
d. Integritas ego
e. Takut, cemas, gelisah, menarik diri
f. Makanan/cairan
Mengalami distensi abdomen, peristaltic usus hilang (ileus paralitik)
g. Hygiene
Sangat ketergantungan dalam melakukan aktivitas sehari-hari
h. Neurosensori
1) Kelumpuhan, kelemahan (kejang, dapat berkembang saat terjadi
perubahan pada syok spinal)
2) Kehilangan sensasi (derajat bervariasi dapat kembali normal
setelah syok spinal sembuh).
3) Kehilangan tonus otot /vasomotor, kehilangan refleks/refleks
asimetris termasuk tendon dalam. Perubahan reaksi pupil, ptosis,
hilangnya keringat bagian tubuh yang terkena karena pengaruh
trauma spinal.
i. Nyeri/kenyamanan
Mengalami deformitas, postur, nyeri tekan vertebral
j. Pernapasan
Pernapasan dangkal/labored, periode apnea, penurunan bunyi napas,
ronkhi, pucat, sianosis
k. Keamanan
Suhu yang berfluktasi (suhu tubuh ini diambil dalam suhu kamar)
l. Seksualitas
Ereksi yang terkendali (priapisme), menstruasi tidak teratur (Bararah,
2013).
2. Penyimpangan KDM

Akibat suatu trauma mengenai tulang belakang, jatuh dari ketinggian, kecelakaan lalu lintas, kecelakaan olahraga

Mengakibatkan patah tulang belakang, paling banyak cervikalis da lumbalis

Fraktur dapat berupa patah tulang sederhana, kompresi,


kominutif dan dislokasi, sedangkan sumsum tulang belakang
dapat berupa memar, kontusio, kerusakan melintang, laserasi
dengan atau tanpa gangguan peredaran darah

Cedera Medulla Spinalis

Pelepasan mediator kimia


Blok syaraf simpatis Kelumpuhan
Respon nyeri hebat dan akut
Kelumpuhan otot pernafasan anestesi
Syok spinal rektum, kandung kemih
Iskemia dan hipoksemia Gangguan fungsi
Gangguan rasa nyaman nyeri dan potensial
Gangguan kebutuhan oksigen komlikasi hipotensi, bradikardi Gangguan eliminasi

Pola Nafas Tidak Efektif Nyeri Akut Gangguan Eliminasi Urine


3. Diagnosa Keperawatan
1) Pola Nafas Tidak Efektif (D.0005)
2) Nyeri Akut (D.0077)
3) Gangguan Eliminasi Urin (D.0040)
4. Rencana Intervensi
Diagnosa Nursing Outcome Nursing Intervention
No.
Keperawatan (NOC) (NIC)
1. Pola Nafas Tidak Setelah dilakukan Airway Management
Efektif (D.0005) tindakan keperawatan 1. Buka jalan nafas,
selama …. x 24 jam, gunakan tehnik chin
diharapkan masalah lift atau jaw trust bila
dapat teratasi dengan perlu
kriteria hasil : 2. Posisikan pasien untuk
1. Mendemonstrasikan memaksimalkan
batuk efektif dan ventilasi
suara nafas yang 3. Identifikasi pasien
bersih, tidak ada perlunya pemasangan
sianosis dan alat jalan nafas buatan
dypsneu (mampu 4. Pasang mayo bila perlu
mengeluarkan 5. Lakukan fisioterapi
sputum, mampu dada jika perlu
bernafas dengan 6. Keluarkan secret
mudah, tidak ada dengan batuk atau
pursed lips) suction
2. Menunjukkan jalan 7. Auskulatasi suara
nafas yang paten nafas, catat adanya
(klien merasa tidak suara tambahan
tercekik, irama 8. Lakukan suction pada
nafas, frekuensi mayo
pernafasan dalam 9. Berikan bronkodilator
rentang normal, bila perlu
tidak ada suara 10. Berikan pelembab
nafas abnormal) udara kasa basal NaCL
3. Tanda-tanda vital lembab
dalam rentang 11. Atur intake untuk
normal (tekanan cairan mengoptimalkan
darah, nadi, keseimbangan
pernafassan. 12. Monitor status respirasi
dan status O2
Oksigen terapi
1. Bersihkan mulut,
hidung dan secret
trakea
2. Pertahankan jalan
nafas yang paten
3. Atur peralatan
oksigenasi
4. Monitor aliran oksigen
5. Pertahankan posisi
pasien
6. Observasi adanya
tanda-tanda
hipoventilasi
7. Monitor adanya
kecemasan pasien
terhadap oksigenasi
Vital sign monitoring
1. Monitor tekanan darah,
nadi, suhu dan
pernafasan
2. Catat adanya fluktuasi
tekanan darah
3. Auskultasi tekanan
darah pada kedua
lengan dan bandingkan
4. Monitor tekana darah,
nadi, pernafasan,
sebelum, selama dan
setelah aktivitas
5. Monitor kualtas dari
nadi
6. Monitor frekuensi dan
irama pernafasan
7. Monitor suara paru
8. Monitor pola
pernafasan abnormal
9. Monitor suhu, warna,
dan kelembapan kulit
10. Monitor sianosis
perifer
11. Monitor adanya
cushing triad (tekanan
nadi yang melebar,
bradikardi,
peningkatan sistolik)
12. Identifikasi penyebab
dari perubahan vital
sign
2. Nyeri Akut Setelah dilakukan Pain Management
(D.0077) tindakan keperawatan 1. Lakukan pengkajian
selama …. x 24 jam, nyeri secara
diharapkan masalah komprehensif termasuk
dapat teratasi dengan lokasi, karakteristik,
kriteria hasil : durassi, frekuensi,
1. Mampu mengontrol kualitas dan faktor
nyeri (tahu penyebab presipitasi
nyeri, mampu 2. Observasi reaksi
menggunakan tehnik nonverbal dari
nonfarmakologi ketidaknyamanan
untuk mengurangi 3. Gunakan tehnik
nyeri, mencari komunikasi terapeutik
bantuan) untuk mengetahui
2. Melaporkan bahwa pengalaman nyeri
nyeri berkurang pasien.
dengan 4. Kaji kultur yang
menggunakan mempengaruhi respon
manajemen nyeri nyeri
3. Mampu mengenali 5. Evaluasi pengalaman
nyeri (skala, nyeri masa lampau
intensitas, frekuensi 6. Evaluasi bersama
dan tanda nyeri) pasien dan tim
4. Menyatakan rasa kesehatan lain tentang
nyaman setelah nyeri kedikefektifan komtrol
berkurang nyeri masa lampau
7. Bantu pasien dan
keluarga untuk
mencari dan
menemukan dukungan
8. kontrol lingkungan
yang dapat
mempengaruhi nyeri
seperti suhu ruangan,
pencahayaan dan
kebisingan.
9. Kurangi faktor
preipitasi nyeri
10. Pilih dan lakukan
penanganan nyeri
(farmakologi,
nonfarmakologi dan
interpersonal)
11. Kaji tipe dan sumber
nyeri untuk
menentukan
intervensi
12. Ajarkan tentang
tehnik non
farmakologi
13. Berikan analgetik
untuk mengurangi
nyeri
14. Evaluasi keefektifan
kontrol nyeri
15. Tingkatkan istirahat
16. Kolaborasi degan
dokter jika ada
keluhan dan tindakan
nyeri tidak berhasil
17. Monitor penerimaan
pasien tentang
manajemen nyeri
Analgesik Adminitration
1. Tentukan lokasi,
karakteristik, kualitas
dan derajat nyeri
sebelum pemberian
obat
2. Cek instruksi dokter
tentang jenis obat,
dosis, dan frekuensi
3. Cek riwayat alergi
4. Pilih aalgesik yang
diperlukan atau
kombinasi dari
analgesik ketika
pemberian lebih dari
Satu
5. Tentukan pilihan
aalgesik tergantung
tipe dan beratnya
nyeri
6. Tentukan analgeik
pilihan, rute
pemberian, dan dosis
optimal
7. Pilih rute pemberian
secara IV, IM untuk
pengobatan nyeri
secara teratur
8. Monitor vital sign
sebelum dan sesudah
pemberian analgesic
pertama kali
9. Berikan analgesic
tepat waktu terutama
saat nyeri hebat
10. Evaluasi efektivitas
analgesik, tanda dan
gejala
3. Gangguan Setelah dilakukan Urinary Retentation Care
Eliminasi Urin tindakan keperawatan 1. Lakukan penilaian
(D.0040) selama …. x 24 jam, kemih yang
diharapkan masalah komprehensif berfokus
dapat teratasi dengan pada inkontinensia
kriteria hasil : (misalnya output urine,
1. Kandung kemih pola berkemih, fungsi
kosong secara penuh kognitif, dan masalah
2. Tidak ada residu praeksisten)
urine >100-200 cc 2. Memantau penggunaan
3. Intake cairan dalam obat dengan sifat
rentang normal antikolinergik atau
4. Bebas dari ISK propertialpha agonis
5. Tidak ada spassme 3. Memonitor efek dari
blader obat-obatan yang
6. Balance cairan diresepkan seperti
seimbang kalsium channe
blockers dan
antikolinergik
4. Menyediakan
penghapusan privasi
5. Gunakan kekuatan
sugesti dengan
menjalankan air atau
disiram ditoilet
6. Merangsang refleks
kandung kemih dengan
menerapkan dingin
untuk perut, membelai
tinggi batin, atau air
7. Sediakan waktu yang
cukup untuk
pengosongan kandung
kemih (10 Menit)
8. Gunakan spirit
wintergreen di pispot
atau urinal
9. Menyediakan
maneuver crede, yang
diperlukan
10. Gunakan double-void
teknik
11. Masukan kateter
kemih, sesuai
12. Anjurkan
pasien/keluarga untuk
merekam output
urine, sesuai
13. Instruksikan cara-cara
untuk menghindari
konstipasi atau
impaksi tinja
14. Memantau asupan
dan keluaran
15. Memantau tingkat
distensi kandung
kemih dan palpasi
dan perkusi
16. Membantu dengan
toilet secara berkala,
sesuai
17. Memasukkan pipa
kedalam lubang
tubuh untuk sisa,
sesuai
18. Menerapkan
katerisasi intermiten,
sesuai
19. Merujuk ke spesialis
kontinensia
kemih,sesuai
DAFTAR PUSTAKA
Ikatan Apoteker Indonesia. 2016. ISO Informasi Spesialite Obat Indonesia.
Penerbit PT. ISFI. Jakarta Barat

Naga S. Soleh. 2014. Buku Panduan lengkap ilmu Penyakit Dalam. Penerbit
DIVA Press (Anggota IKAPI). Jogjakarta

Nurarif. Kusuma. 2015. NANDA NIC-NOC. Penerbit Mediaction Jogja.


Jogjakarta.

Padila. 2012. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Penerbit Nuha Medika.
Yogyakarta.

Purwadianto A. Sampurna B. 2017. Kedaruratan Medik Pedoman


Penatalaksanaan Praktis. Penerbit Binapura Aksara Publisher. Edisi
Revisi. Tanggerang Selatan.

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia.
Penerbit DPP PPNI. Jakarta Selatan.

Bararah T. Jauhar M. 2013. Asuhan Keperawatan Panduan Lengkap Menjadi


Perawat Profesional. Jilid 2. Prestasi Pustaka Raya. Jakarta

Budiman Yoseph. 2013. Pedoman Standar Pelayanan Medik dan Standar Prosedur
Operasional Neurologi. Refika Aditama. Bandung.