Anda di halaman 1dari 14

TUGAS PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER

EVALUASI KESESUAIAN PERESEPAN DI IGD DAN IBS


RSUD Prof. Dr. MARGONO SOEKARJO PURWOKETO
DENGAN FORNAS DAN FORMULARIUM RUMAH SAKIT.

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 4

1. Ninda Pratiwi K11019R197 UMS


2. Fitriani W Alani I4C019009 UNSOED

PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER


RSUD PROF. Dr. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO
PERIODE DESEMBER 2019-JANUARI 2020
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Formularium nasional merupakan daftar obat terpilih yang dibutuhkan dan tersedia
di fasilitas pelayanan kesehatan sebagai acuan dalam pelaksanaan JKN (Dirjen Binfar
& Alkes, 2014). Obat yang dibutuhkan dan tidak tercantum di dalam formularium
nasional dapat digunakan dengan persetujuan komite medik dan direktur rumah sakit
setempat (Depkes RI, 2013). Peresepan yang baik akan meningkatkan penggunaan
obat secara rasional sehingga pasien menerima obat yang sesuai dengan kebutuhan
klinisnya, dalam dosis yang tepat untuk jangka waktu yang cukup dengan biaya yang
rendah (WHO, 2004).
Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto, telah
memiliki Formularium Rumah Sakit yang disusun oleh Tim Farmasi dan Terapan
(TFT). Formularium Rumah Sakit seharusnya dijadikan acuan dalam peresepan yang
dilakukan oleh dokter. Sehingga pengadaan dan pengeluaran obat dapat dilakukan
dengan sesuai sehingga tidak ada masalah obat macet maupun kosong. Namun di
lapangan masih menjumpai peresepan yang diluar formularium rumah sakit. Sehingga
hal ini dapat menjadi bahan evaluasi agar pengelolaan obat kedepannya lebih baik.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini yaitu
1. Bagaimana persentase kesesuaian peresepan di satelit farmasi IGD dan
IBS RSUD prof. dr. Margono Soekarjo Purwokerto dengan Formularium
Nasional?
2. Bagaimana persentase kesesuaian peresepan di satelit farmasi IGD dan
IBS RSUD prof. dr. Margono Soekarjo Purwokerto dengan Formularium
Rumah Sakit?
C. Tujuan
Tujuan dari makalah adalah mengetahui persentase kesesuaian peresepan obat
untuk pasien di IGD dan IBS RSUD prof. dr. Margono Soekarjo Purwokerto
dengan Formularium Rumah Sakit dan Formularium Nasional.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Rumah Sakit
Rumah sakit Rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan yaitu kegiatan yang
dilakukan tenaga kesehatan untuk memelihara, mencegah dan menyembuhkan
penyakit secara paripurna dengan menyediakan pelayanan rawat inap, rawat
jalan, dan gawat darurat. Rumah sakit memiliki tujuan salah satunya
mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
Pelayanan secara paripurna merupakan tugas rumah sakit dengan memberikan
pelayanan kesehatan yang meliputi peningkatan kesehatan (promotif),
pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif), dan
pemulihan kesehatan (rehabilitatif) (Depkes RI, 2009b).
Rumah sakit juga harus memiliki kemampuan pelayanan sekurang-
kurangnya pelayanan medik umum, gawat darurat, pelayanan keperawatan,
rawat jalan, rawat inap, operasi/ bedah, pelayanan medik spesialis dasar,
penunjang medik, farmasi, gizi, sterilisasi, rekap medik, pelayanan administrasi
dan manajemen, penyuluhan kesehatan masyarakat, pemulasaran jenazah,
laundry dan ambulan, pemeliharaan sarana rumah sakit, serta pengolahan
limbah (Kemenkes RI, 2010b). Rumah sakit dapat dibagi berdasarkan jenis
pelayanan dan pengelolaannya. Berdasarkan jenis pelayanan rumah sakit dibagi
menjadi rumah sakit umum dan rumah sakit khusus (Depkes RI, 2009b).
Sedangkan berdasarkan pengelolaannya rumah sakit dibagi menjadi rumah
sakit publik dan rumah sakit privat (Depkes RI, 2009b).
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 44 tahun 2009 disebutkan
bahwa setiap rumah sakit memiliki kewajiban antara lain, memberikan
informasi yang benar mengenai pelayanan rumah sakit kepada masyarakat dan
mengutamakan kepentingan pasien dengan memberikan pelayanan yang aman,
bermutu, anti diskriminasi, dan efektif serta sesuai dengan standar pelayanan
rumah sakit (Depkes RI, 2009b).
B. Definisi Formularium Nasional
Formularium Nasional adalah daftar obat terpilih yang dibutuhkan dan
digunakan sebagai acuan penulisan resep pada pelaksanaan pelayanan
kesehatan dalam penyelenggaraan program jaminan kesehatan. Obat yang
dibutuhkan dan tidak tercantum di dalam formularium nasional dapat digunakan
dengan persetujuan komite medik dan direktur rumah sakit setempat (Depkes
RI, 2013).
C. Tujuan Formularium Nasional
Pengaturan penyusunan dan penerapan Formularium Nasional dalam
penyelenggaraan program jaminan kesehatan bertujuan untuk:
1. Meningkatkan pemahaman tentang proses penyusunan dan kriteria
pemilihan obat dalam Formularium Nasional;
2. Meningkatkan penerapan Formularium Nasional di Fasilitas Kesehatan oleh
dokter, dokter gigi, dokter spesialis dan dokter gigi spesialis dalam memilih
obat yang aman, berkhasiat, bermutu, terjangkau, dan berbasis bukti ilmiah;
3. Mengoptimalkan penerapan Formularium Nasional sebagai acuan dalam
perencanaan dan penyediaan obat di Fasilitas Kesehatan;
4. Meningkatkan peran tenaga kesehatan dalam melakukan pemantauan dan
evaluasi penggunaan obat dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional
berdasarkan Formularium Nasional.
D. Manfaat Formularium Nasional
Manfaat Pedoman Penyusunan dan Penerapan Formularium Nasional
Dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan dimaksudkan agar dapat
memberikan manfaat baik bagi Pemerintah maupun Fasilitas Kesehatan dalam:
1. Menetapkan penggunaan obat yang aman, berkhasiat, bermutu, terjangkau,
dan berbasis bukti ilmiah dalam JKN.
2. Meningkatkan penggunaan obat rasional.
3. Mengendalikan biaya dan mutu pengobatan.
4. Mengoptimalkan pelayanan kesehatan kepada pasien.
5. Menjadi acuan untuk perencanaan kebutuhan obat.
6. Meningkatkan efisiensi anggaran pelayanan kesehatan.

E. Definisi Formularium Rumah Sakit


Menurut Kementrian Kesehatan RI melalui Peraturan Menteri Kesehatan RI
Nomor 58 tahun 2014, Formularium rumah sakit merupakan penerapan konsep
obat esensial di rumah sakit yang berisi daftar obat dan informasi
penggunaannya. Obat yang termasuk dalam daftar formularium merupakan obat
pilihan utama (drug of choice) dan juga obat-obat alternatifnya.
Menurut Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementrian
Kesehatan RI (2010) Formularium merupakan suatu dokumen yang secara terus
menerus direvisi, memuat sediaan obat dan informasi penting lainnya yang
merefleksikan keputusan klinik mutakhir dari staf medik rumah sakit. Permenkes
RI nomor 58 tahun 2014, menyatakan bahwa evaluasi terhadap Formularium
Rumah Sakit harus secara rutin dan dilakukan revisi sesuai kebijakan dan
kebutuhan Rumah Sakit.
Formularium Rumah Sakit disusun mengacu kepada Formularium Nasional
dimana formularium ini merupakan daftar obat yang disepakati oleh staf medis
dan disusun oleh Tim Farmasi dan Terapi (TFT) yang ditetapkan oleh Pimpinan
Rumah Sakit. Definisi Formularium (Pedoman Penyusunan Formularium
Rumah Sakit, Depkes (2010) yaitu: Formularium merupakan suatu dokumen
yang secara terus menerus direvisi, memuat sediaan obat dan informasi penting
lainnya yang merefleksikan keputusan klinik mutakhir dari staf medik rumah
sakit.
Sistem Formularium menurut buku Pedoman Penyusunan Formularium
Rumah Sakit, Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan
Kementerian Kesehatan RI bekerjasama dengan Japan International Cooperation
Agency 2010 terdiri atas Evaluasi penggunaan obat, Penilaian dan Pemilihan
Obat. Evaluasi penggunaan obat bertujuan untuk menjamin penggunaan obat
yang aman dan cost effective, dilakukan dengan dua cara yaitu pengkajian
dengan mengambil data dari pustaka dan pengkajian dengan mengambil data
sendiri. Penilaian, setiap obat baru yang diusulkan untuk masuk dalam
formularium harus dilengkapi dengan informasi tentang kelas terapi, indikasi
terapi, bentuk sediaan dan kekuatan, kisaran dosis, efek samping dan efek toksik.
Pemilihan obat dengan memperhatikan faktor kelembagaan yaitu kebijakan
rumah sakit, faktor obat dan faktor biaya.
Isi Formularium berdasarkanbuku Pedoman Penyusunan Formularium
Rumah Sakit, Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan
Kementrian Kesehatan RI bekerjasama dengan Japan Internasional Cooperation
Agency 2010 yaitu Formularium berisi tiga bagian utama :
1. Informasi kebijakan dan prosedur rumah sakit tentang obat. Kebijakan
mencakup antara lain: tentang pemberlakuan formularium, tatalaksana obat
(kebijakan umum dalam penulisan resep, kebijakan penulisan obat generik,
prosedur pengusulan obat untuk ditambahkan atau dihapus dari
formularium, SK tentang TFT, dll.
2. Daftar Obat. Bagian ini merupakan inti dari formularium yang berisi
informasi dari setiap obat disertai satu atau lebih indeks untuk memudahkan
penggunaan formularium.
3. Informasi khusus. Informasi khusus tergantung pada kebutuhan masing-
masing rumah sakit.
F. Ketidakpatuhan peresepan terhadap formularium nasional dan formularium RS
Kepatuhan/ Ketidakpatuhan terhadap Standar Menurut Wambrauw (2006),
ketidakpatuhan adalah pengukuran pelaksanaan kegiatan yang tidak sesuai
dengan langkah-langkah yang telah ditetapkan dalam bentuk standar.
Ketidaksesuaian proses pelayanan kesehatan dengan standar yang telah
ditentukan berkaitan dengan pengukuran mutu teknis pelayanan kesehatan.
Penulisan resep yang tidak berdasarkan pada formularium rumah sakit yang ada
akan berdampak:
1. Mempengaruhi persediaan obat, di satu sisi terjadi kekurangan atau
kekosongan obat, di sisi lain adanya stok obat yang berlebihan.
2. Mempengaruhi mutu pelayanan, waktu pelayanan menjadi lama karena obat
sering kosong, adanya pergantian obat, adanya resep yang ditolak,
mahalnya harga obat, obat tidak bisa dibeli, terganggunya kesinambungan
pengobatan serta pembiayaan total pengobatan menjadi tinggi.
3. Rendahnya mutu pengobatan, berupa over prescribing, multiple prescribing,
under prescribing, incorrect prescribing dan extravagant prescribing.
Disamping itu juga beresiko terjadinya efek samping yang lebih besar
(Wambrauw, 2006).
BAB III
METODE
A. Metode Evaluasi
Evaluasi kesesuaian peresepan dengan formularium nasional dan
formularium rumah sakit dilakukan secara non eksperimental yang bersifat
deskriptif dengan data yang dikumpulkan secara retrospektif. Periode analisis
dilakukan selama 1 minggu dan frekuensi pengumpulan data selama 1 minggu
dengan jumlah resep yang diambil sebagai sampel dalam 1 hari yaitu ⅓ dari
jumlah resep per hari.
B. Tempat dan Waktu evaluasi
Evaluasi dilakukan di satelit farmasi IGD dan IBS RSUD Prof. dr. Margono
Soekarjo Purwokerto yang dilakukan pada tanggal 10 Januari 2020 - 16 Januari
2020.
C. Sampel
Sampel yang digunakan dalam evaluasi kesesuaian peresepan dengan
formularium nasional dan formularium rumah sakit adalah resep per hari di
satelit farmasi IGD dan IBS RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo.
D. Analisis Data
Setelah mengumpulkan resep kemudian tiap resep dicatat obat-obat apa saja
yang diresepkan dan disesuaikan dengan formularium nasional dan
formularium rumah sakit
Data yang didapatkan kemudian dianalisis dengan menggunakan rumus persen
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑜𝑏𝑎𝑡 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑎𝑖 𝑓𝑜𝑟𝑛𝑎𝑠
% kesesuaian peresepan dengan FORNAS = 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑘𝑒𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑜𝑏𝑎𝑡
x 100%

𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑜𝑏𝑎𝑡 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑎𝑖 𝑓𝑜𝑟. 𝑅𝑆


% kesesuaian peresepan dengan FOR. RS = 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑘𝑒𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑜𝑏𝑎𝑡
x 100%
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil dari satelit farmasi di IBS


No Tanggal Total Jumlah item Jumlah item obat %kesesuaian %Kesesuaian
obat obat yang yang sesuai peresepan peresepan
sesuai dengan dengan For. RS dengan Fornas dengan For.
Fornas RS
1 10 januari 2020 – 102 102 102 100% 100%
16 januari 2020

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa jumlah item obat di IBS yaitu
sebanyak 102 item obat dengan jumlah obat yang sesuai dengan formularium
nasional sebanyak 102 item obat dan yang sesuai dengan formularium rumah
sakit sebanyak 102 item obat. Jika dilihat dari tabel maka presentasi obat yang
sesuai dengan formularium nasional dan formularium rumah sakit adalah 100%.
Dari hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa peresepan telah sesuai dengan
formularium nasional maupun formularium rumah sakit.

B. Hasil dari satelit farmasi di IGD


No Tanggal Total Jumlah item Jumlah item obat %kesesuaian %Kesesuaian
obat obat yang yang sesuai peresepan peresepan
sesuai dengan dengan For. RS dengan Fornas dengan For.
Fornas RS
1 10 januari 2020 – 114 111 114 97,36% 100%
16 januari 2020

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa jumlah item obat di IGD yaitu
sebanyak 114 item obat dengan jumlah obat yang sesuai dengan formularium
nasional sebanyak 111 item obat dan yang sesuai dengan formularium rumah
sakit sebanyak 113 item obat. Jika dilihat dari tabel maka presentasi obat yang
sesuai dengan formularium nasional adalah 97,36% dan yang sesuai dengan
formularium rumah sakit adalah 100%.
Dari hasil yang didapatkan ketidaksesuaian item obat dengan
formularium nasional yaitu sebanyak 2 item obat dengan jenis obat yaitu
cucurma tab, dan ambroxol syrup.
Berdasarkan hasil presentase kesesuaian peresepan disatelit farmasi
IGD dan IBS RSUD. Prof. dr. Margono Soekarjo dengan formularium rumah
sakit dan formularium nasional maka dapat dikatakan tidak memenuhi
persyaratan dimana menurut Surat Keputusan Republik Insonesia No.
129/Menkes/SK/II/2008 tentang standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit
penulisan resep seluruhnya harus mengacu pada fomularium dengan standar
100%.
Dampak dari ketidaksesuaian peresepan dengan formularium
nasional dan formularium rumah sakit yaitu dapat mempengaruhi persediaan
obat, di satu sisi terjadi kekurangan atau kekosongan obat, di sisi lain adanya
stok obat yang berlebihan, mempengaruhi mutu pelayanan, waktu pelayanan
menjadi lama karena obat sering kosong, adanya pergantian obat, adanya resep
yang ditolak, mahalnya harga obat, obat tidak bisa dibeli, terganggunya
kesinambungan pengobatan serta pembiayaan total pengobatan menjadi tinggi
dan rendahnya mutu pengobatan, berupa over prescribing, multiple prescribing,
under prescribing, incorrect prescribing dan extravagant prescribing.Disamping
itu juga beresiko terjadinya efek samping yang lebih besar
BAB V
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa kesesuain


peresepan disatelit farmasi IGD dan IBS RSUD prof. dr. Margono Soekarjo
Purwokerto masih dibawah standar yang telah ditetapkan yaitu dengan hasil
presentasi:
1. Presentasi obat yang sesuai dengan formularium nasional dan yang sesuai
dengan formularium rumah sakit di IBS adalah 100%
2. Presentasi obat yang sesuai dengan formularium nasional adalah 97,36% dan
yang sesuai dengan formularium rumah sakit di IGD adalah 100%.
DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI, 2009b, Undang-undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009


tentang Rumah Sakit, Sekretariat Negara RI, Jakarta.

Depkes RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar. Jakarta: Badan Penelitian dan
pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan RI.

Kemenkes RI, 2010b, Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 340
tahun 2010 tentang Klasifikasi Rumah Sakit, Departemen Kesehatan RI,
Jakarta.

Kemenkes RI, 2014, Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 58


42 tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit,
Direktorat Bina Farmasi Komunikasi dan Klinik, Depkes RI, Jakarta

Kemenkes RI. 2010. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2010. Jakarta :


Kemenkes RI

Wambrauw J., 2006, Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ketidakpatuhan


Dokter Dalam Penulisan Resep Sesuai dengan Formularium Rumah Sakit
Umum R.A. Kartini Jepara Tahun 2006, Thesis, Program Pasca Sarjana,
Universitas Diponegoro, Semarang.

World Health Organization. 2004. International Statistical Classification of Disease


and Related Health Problems Tenth Revision Volume 2 second edition.
Geneva: World Health Organization.
LAMPIRAN

A. Lampiran data IBS


No.
Resep Jumlah R/ Fornas For. RS Diluar Keterangan
1 2 2 2
2 2 2 2
3 6 6 6
4 2 2 2
5 4 4 4
6 2 2 2
7 3 3 3
8 5 5 5
9 3 3 3
10 1 1 1
11 3 3 3
12 3 3 3
13 3 3 3
14 2 2 2
15 4 4 4
16 3 3 3
17 2 2 2
18 2 2 2
19 3 3 3
20 3 3 3
21 6 6 6
22 3 3 3
23 5 5 5
24 3 3 3
25 5 5 5
26 5 5 5
27 5 5 5
28 6 6 6
29 2 2 2
30 4 4 4
B. Lampiran data IGD
No.
Resep Jumlah R/ Fornas For. RS Diluar Keterangan
1 2 2 2
2 3 2 3 1 cucurma tab
3 8 8 8
4 3 3 3
5 2 1 2 1 amboxol syr
6 3 3 3
7 2 2 2
8 6 6 6
9 4 4 4
10 6 6 6
11 3 3 3
12 4 4 4
13 3 3 3
14 4 4 4
15 3 3 3
16 3 3 3
17 5 5 5
18 4 4 4
19 2 2 2
20 4 4 4
21 4 4 4
22 2 2 2
23 2 2 2
24 1 1 1
25 6 5 6 curcuma tab
26 2 2 2
27 5 5 5
28 6 6 6
29 9 9 9
30 3 3 3