Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA

DENGAN KASUS DIABETES MELITUS

BAB I
PENDAHULUAN

I. Konsep Lansia
A. Definisi Lansia
Menua adalah suatu keadaan yang terjadi di dalam kehidupan manusia. Proses
menua merupakan proses sepanjang hidup yang hanya di mulai dari satu waktu
tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan kehidupan. Menua merupakan proses
alamiah, yang berarti seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya, yaitu anak,
dewasa, dan tua. Tiga tahap ini berbeda, baik secara biologis, maupun psikologis.
Memasuki usia tua berarti mengalami kemunduran, misalnya kemunduran fisik
yang ditandai dengan kulit mengendur, rambut memutih, gigi mulai ompong,
pendengaran kurang jelas, penglihatan semakin memburuk, gerakan-gerakan
lambat, dan postur tubuh yang tidak proforsional (Nugroho, 2008).

B. Penyebab terjadinya penuaan pada lansia


Banyak faktor yang menyebabkan setiap orang menjadi tua melalui proses
penuaan. Pada dasarnya berbagai faktor tersebut dapat dikelompokkan menjadi
faktor internal dan faktor eksternal. Beberapa faktor internal adalah radikal bebas,
hormon yang menurun kadarnya, proses glikosilasi, sistem kekebalan tubuh yang
menurun dan juga faktor genetik. Sedangkan faktor eksternal adalah gaya hidup
yang tidak sehat, diet yang tidak sehat, kebiasaan hidup yang salah, paparan polusi
lingkungan dan sinar ultraviolet, stres dan penyebab sosial lain seperti kemiskinan.
Kedua faktor ini saling terkait dan memainkan peran yang besar dalam penyebab
proses penuaan (Uchil Nissa, 2014).

C. Perubahan lansia pada sistem endokrin


Sekitar 50% lansia menunjukka intoleransi glukosa, dengan kadar gula puasa
yang normal. Penyebab dari terjadinya intoleransi glukosa ini adalah faktor diet,
obesitas, kurangnya olahraga, dan penuaan. Frekuensi hipertiroid pada lansia yaitu
sebanyak 25%, sekitar 75% dari jumlah tersebut mempunyai gejala, dan
sebagian menunjukkan “apatheic thyrotoxicosis”. Berikut ini merupakan
perubahan yang terjadi pada sistem endokrin akibat proses menua:
1. Kadar glukosa darah meningkat. Implikasi dari hal ini adalah glukosa
darah puasa 140 mg/dL dianggap normal.
2. Ambang batas ginjal untuk glukosa meningkat. Implikasi dari hal ini adalah
kadar glukosa darah 2 jam PP 140-200 mg/dL dianggap normal.
3. Residu urin di dalam kandung kemih meningkat. Implikasi dari hal ini adalah
pemantauan glukosa urin tidak dapat diandalkan.
4. Kelenjar tiroad menjadi lebih kecil, produksi T3 dan T4 sedikit menurun, dan
waktu paruh T3 dan T4 meningkat. Implikasi dari hal ini adalah serum T3
dan T4 tetap stabil.

II. Konsep Diabetes Melitus


A. Definisi Diabetes Melitus
Diabetes Melitus adalah sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh
kenaikan kadar gula dalam darah atau hiperglikemia (Brunner & Suddart, 2002 :
1220). Diabetes Melitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang
disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar glukosa darah akibat kekurangan
insulin baik absolut maupun relatif (Soegondo, 2009).
Diabetes Mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan
karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja
insulin atau kedua-duanya ( ADA, 2005).
Menurut kriteria diagnostik PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi
Indonesia) 2006, seseorang dikatakan menderita diabetes jika memiliki kadar gula
darah puasa >126 mg/dL dan pada tes sewaktu >200 mg/dL. Kadar gula darah
sepanjang hari bervariasi dimana akan meningkat setelah makan dan kembali
normal dalam waktu 2 jam.
Diabetes Melllitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang
yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat
kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Arjatmo, 2002).
B. Klasifikasi diabetes melitus
Klasifikasi diabetes melitus dan penggolongan glukosa menurut Riyadi (2007
:70) antara lain :
1. Insulin Dependent Diabetes Melitus ( IDDM ) atau DM Tipe 1
Defisiensi insulin karena kerusakan sel-sel langerhans yang berhubungan
dengan tipe HLA (Human Leucocyte Antigen) spesifik, predisposisi pada
insulin fenomena autoimun (cenderung ketosis dan terjadi pada semua usia
muda). Kelainan ini terjadi karena kerusakan sistem imunitas (kekebalan tubh)
yang kemudian merusak pulau Langerhans di pankreas. Kelainan berdampak
pada penurunan fungsi insulin.
2. Non Insulin Dependent Diabetes Melitus ( NIDDM ) atau DM Tipe 2
Diabetes resisten, lebih sering pada dewasa, tapi dapat terjadi pada semua
umur. Kebanyakan penderita kelebihan berat badan, ada kecenderungan
familiar, mungkin perlu insulin pada saat hiperglikemik selama stres.
3. Diabetes melitus tipe lain
DM yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom tertentu
hiperglikemik terjadi karena penyakit lain : penyakit pankreas, hormonal, alat/
bahan kimia, endrokrinopati, kelainan reseptor insulin, sindrom genetik tertentu.
4. Impaired Glukosa Tolerance (gangguan toleransi glukosa)
Kadar glukosa antara normal dan diabetes, dapat menjadi normal atau
tetap tidak berubah.
5. Gestational Diabetes Melitus ( GDM )
Merupakan intoleransi glukosa yang terjadi selama kehamilan. Dalam
kehamilan terjadi perubahan metabolisme endokrin dan karbohidrat yang
menunjang pemanasan makanan bagi janin serta persiapan menyusui.
Menjelang aterm, kebutuhan insulin meningkat sehingga mencapai 3 kali lipat
dari keadaan normal. Bila seorang ibu tidak mampu meningkatkan produksi
insulin sehingga relatif hipoinsulin maka mengakibatkan hiperglikemi. Resisten
insulin juga disebabkan oleh adanya hormon estrogen, progesteron, prolaktin
dan plasenta laktogen. Hormon tersebut mempengaruhi reseptor insulin pada sel
sehingga mengurangi aktivitas insulin.
C. Etiologi diabetes melitus
Banyak faktor yang menyebabkan setiap orang menjadi tua melalui proses
penuaan. Pada dasarnya berbagai faktor tersebut dapat dikelompokkan menjadi
faktor internal dan faktor eksternal. Beberapa faktor internal adalah radikal bebas,
hormon yang menurun kadarnya, proses glikosilasi, sistem kekebalan tubuh yang
menurun dan juga faktor genetik. Sedangkan faktor eksternal adalah gaya hidup
yang tidak sehat, diet yang tidak sehat, kebiasaan hidup yang salah, paparan polusi
lingkungan dan sinar ultraviolet, stres dan penyebab sosial lain seperti kemiskinan.
Kedua faktor ini saling terkait dan memainkan peran yang besar dalam penyebab
proses penuaan (Uchil Nissa, 2014).
1. Diabetes tipe I:
a. Faktor genetik
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri; tetapi mewarisi
suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya DM tipe I.
Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe
antigen HLA.
b. Faktor-faktor imunologi
Adanya respons otoimun yang merupakan respons abnormal dimana
antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap
jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing.
Yaitu otoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen.
c. Faktor lingkungan
Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan
destruksi selbeta.

2. Diabetes Tipe II
Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan
sekresi insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui. Faktor genetik
memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin. Faktor-faktor
resiko :
a. Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 th)
b. Obesitas
c. Riwayat keluarga
D. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinik yang sering dijumpai pada pasien diabetes melitus menurut
Riyadi (2007) yaitu :
1. Poliuria ( Peningkatan pengeluaran urin)
2. Polidipsia ( Peningkatan rasa haus) akibat volume urin yang sangat besar dan
keluarnya air menyebabkan dehidrasi ekstrasel. Dehidrasi intrasel mengikuti
dehidrasi ekstrasel karena air intrasel akan berdifusi keluar sel mengikuti
penurunan gradien konsentrasi ke plasma yang hipertonik (sangat peka).
Dehidrasi intrasel merangsang pengeluaran ADH (antidiuretik hormone) dan
menimbulkan rasa haus.
3. Rasa lelah dan kelemahan otot akibat gangguan aliran darah pada pasien
diabetes lama, katabolisme protein di otot dan ketidakmampuan sebagian besar
sel untuk menggunakan glukosa sebagai energi.
4. Polifagia (Peningkatan rasa lapar)
5. Peningkatan angka infeksi akibat penurunan protein sebagai bahan
pembentukan antibodi, peningkatan konsentrasi glukosa disekresi mukus,
gangguan fungsi imun, dan penurunan aliran darah pada penderita diabetes
kronik.
6. Kelainan kulit : gatal – gatal , bisul Kelaianan kulit berupa gatal – gatal,
biasanya terjadi didaerah ginjal. Lipatan kulit seperti di ketiak dan dibawah
payudara. Biasanya akibat tumbuhnya jamur.
7. Kelaianan ginekologis
8. Keputihan dengan penyebab tersering yaitu jamur terutama candida.
9. Kesemutan rasa baal akibat terjadinya neuropati.
10. Pada penderita diabetes melitus regenerasi sel persarafan mengalami gangguan
akibat kekurangan bahan dasar utama yang berasal dari unsur protein.
Akibatnya banyak sel persarafan terutama perfifer mengalami kerusakan.
11. Kelemahan tubuh, terjadi akibat penurunan produksi energi metabolik yang
dilakukan oleh sel melalui proses glikolisis tidak dapat berlangsung secara
optimal.
12. Luka/ bisul yang tidak sembuh-sembuh
Proses penyembuhan luka membutuhkan bahan dasar utama dari protein
dan unsur makanan yang lain. Pada penderita diabetes melitus bahan protein
banyak diformulasikan untuk kebutuhan energi sel sehingga bahan yang
dipergunakan untuk penggantian jaringan yang rusak mengalami gangguan.
Selain itu luka yang sulit sembuh juga dapat diakibatkan oleh pertumbuhan
mikroorganisme yang cepat pada penderita diabetes melitus.

13. Pada laki-laki terkadang mengeluh impotensi


Penderita diabetes melitus mengalami penurunan produksi hormon seksual
akibat kerusakan testosteron dan sistem yang berperan.
14. Mata kabur
Disebabkan oleh katarak/ gangguan refraksi akibat perubahan pada lensa oleh
hiperglikemia, mungkin juga disebabkan kelainan pada korpus vitreum.

Kriteria diagnostik WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2 kali


pemeriksaan :
1. Glukosa plasma sewaktu >200 mg/dl (11,1 mmol/L)
2. Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7,8 mmol/L)
3. Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah
mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post prandial (pp) > 200 mg/dl

E. Komplikasi
1. Komplikasi akut
a. Ketoasidosis diabetik
Adalah keadaan dekompensasi kekacauan metabolik yang ditandai oleh
trias, terutama diakibatkan oleh defisiensi insulin absolut atau insulin relatif.
b. Hipoglikemi
Adalah penurunan kadar glukosa dalam darah. Biasanya disebabkan
peningkatan kadar insulin yang kurang tepat atau asupan karbohidrat
kurang.
c. Hiperglikemia hiperosmolar non ketotik
Adalah suatu dekompensasi metabolik pada pasien diabetes tanpa disertai
adanya ketosis. Gejalanya pada dehidrasi berat, tanpa hiperglikemia berat
dan gangguan neurologis.

2. Komplikasi kronis
Mikroangiopati
a. Retinopati diabetikum disebabkan karena kerusakan pembuluh darah retina.
Faktor terjadinya retinopati diabetikum : lamanya menderita diabetes, umur
penderita, kontrol gula darah, faktor sistematik (hipertensi, kehamilan).
b. Nefropati diabetikum yang ditandai dengan ditemukannya kadar protein
yang tinggi dalam urin yang disebabkan adanya kerusakan pada glomerulus.
Nefropati diabetikum merupakan faktor resiko dari gagal ginjal kronik.
c. Neuropati diabetikum biasanya ditandai dengan hilangnya reflex. Selain itu
juga bisa terjadi poliradikulopati diabetikum yang merupakan suatu sindrom
yang ditandai dengan gangguan pada satu atau lebih akar saraf dan dapat
disertai dengan kelemahan motorik, biasanya dalam waktu 6-12 bulan.

Makroangiopati
a. Penyakit jantung koroner dimana diawali dari berbagai bentuk dislipidemia,
hipertrigliseridemia dan penurunan kadar HDL. Pada DM sendiri tidak
meningkatkan kadar LDL, namun sedikit kadar LDL pada DM tipe II
sangat bersifat atherogeni karena mudah mengalami glikalisasi dan oksidasi.
b. Kaki Diabetik
Terdapat 4 faktor utama yang berperan pada kejadian kaki diabetes melitus :
1) Kelainan vaskular : Angiopati, contoh : aterosklerosis
2) Kelainan saraf : Neuropati otonom dan perifer
3) Infeksi
4) Perubahan biomekanika kaki

F. Pemeriksaan Penunjang
1. Glukosa darah sewaktu
2. Kadar glukosa darah puasa
3. Tes toleransi glukosa

Kriteria diagnostik WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2 kali


pemeriksaan :
1. Glukosa plasma sewaktu >200 mg/dl (11,1 mmol/L)
2. Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7,8 mmol/L)
3. Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah
mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post prandial (pp) > 200 mg/dl.
G. Penatalaksanaan
Dalam jangka pendek penatalaksanaan DM bertujuan untuk menghilangkan
keluhan atau gejala sedangkan tujuan jangka panjangnya adalah untuk mencegah
komplikasi. Tujuan tersebut dilaksanakan dengan cara menormalkan kadar glukosa.
Penatalaksanaan pada diabetes melitus yaitu :
1. Perencanaan makan
Pada diet DM harus memperhatikan jumlah kalori, jadwal makan, dan jenis
makan yang harus dihindari adalah gula. Menurut Tjokro Prawiro (1999),
penentuan gizi penderita dilakukan dengan menghitung prosentase Relatif Body
Weigth dan dibedakan menjadi:

a. Kurus : berat badan relatif : <90%


b. Normal : berat badan relatif : 90-110%
c. Gemuk : berat badan relatif : >110 %
d. Obesitas : berat badan relatif : >120 %
1) Obesitas ringan 120 – 130 %
2) Obesitas sedang 130 – 140 %
3) Obesitas berat 140 – 200 %
4) Obesitas morbid > 200 %
Apabila sudah diketahui relatif body weigthnya maka jumlah kalori yang
diperlukan sehari-hari untuk penderita DM adalah sebagai berikut :
a. Kurus : BB x 40-60 kalori / hari
b. Normal ; BB x 30 kalori / hari
c. Gemuk : BB x 20 kalori / hari
d. Obesitas : BB x 10-15 kalori / hari

2. Latihan jasmani
Dianjurkan latihan jasmani secar teratur 3 -4 x tiap minggu selama ½ jam.
Latihan dapat dijadikan pilihan adalah jalan kaki, joging, lari, renang, bersepeda
dan mendayung. Tujuan latihan fisik bagi penderita DM :
a. Insulin dapat lebih efektif
b. Menambah reseptor insulin
c. Menekankenaikan berat badan
d. Menurunkan kolesterol trigliseriid dalam darah
e. Meningkatkan aliran darah

3. Terapi Obat (jika diperlukan)


1) Obat Hipoglikemik Oral (OHO)
a. Golongan sulfonilurea seringkali dapat menurunkan kadar gula darah
secara adekuat pada penderita diabetes tipe II, tetapi tidak efektif pada
diabetes tipe I. Contohnya adalah glipizid, gliburid, tolbutamid dan
klorpropamid. Obat ini menurunkan kadar gula darah dengan cara
merangsang pelepasan insulin oleh pankreas dan meningkatkan
efektivitasnya.
b. Obat lainnya, yaitu metformin, tidak mempengaruhi pelepasan insulin
tetapi meningkatkan respon tubuh terhadap insulinnya sendiri. Akarbos
bekerja dengan cara menunda penyerapan glukosa di dalam usus.
c. Obat hipoglikemik per-oral biasanya diberikan pada penderita diabetes
tipe II jika diet dan oleh raga gagal menurunkan kadar gula darah dengan
cukup.Obat ini kadang bisa diberikan hanya satu kali (pagi hari),
meskipun beberapa penderita memerlukan 2-3 kali pemberian.
d. Jika obat hipoglikemik per-oral tidak dapat mengontrol kadar gula darah
dengan baik, mungkin perlu diberikan suntikan insulin.

2) Terapi Sulih Insulin


Pada diabetes tipe 1, pankreas tidak dapat menghasilkan insulin
sehingga harus diberikan insulin pengganti. Pemberian insulin hanya dapat
dilakukan melalui suntikan, insulin dihancurkan di dalam lambung sehingga
tidak dapat diberikan per-oral (ditelan).
Bentuk insulin yang baru (semprot hidung) sedang dalam penelitian.
Pada saat ini, bentuk insulin yang baru ini belum dapat bekerja dengan baik
karena laju penyerapannya yang berbeda menimbulkan masalah dalam
penentuan dosisnya. Insulin disuntikkan dibawah kulit ke dalam lapisan
lemak, biasanya di lengan, paha atau dinding perut. Digunakan jarum yang
sangat kecil agar tidak terasa terlalu nyeri. Insulin terdapat dalam 3 bentuk
dasar, masing-masing memiliki kecepatan dan lama kerja yang berbeda:
1. Insulin kerja cepat.
Contohnya adalah insulin reguler, yang bekerja paling cepat dan paling
sebentar. Insulin ini seringkali mulai menurunkan kadar gula dalam
waktu 20 menit, mencapai puncaknya dalam waktu 2-4 jam dan bekerja
selama 6-8 jam. Insulin kerja cepat seringkali digunakan oleh penderita
yang menjalani beberapa kali suntikan setiap harinya dan disutikkan 15-
20 menit sebelum makan.
2. Insulin kerja sedang.
Contohnya adalah insulin suspensi seng atau suspensi insulin isofan.
Mulai bekerja dalam waktu 1-3 jam, mencapai puncak maksimun dalam
waktu 6-10 jam dan bekerja selama 18-26 jam. Insulin ini bisa
disuntikkan pada pagi hari untuk memenuhi kebutuhan selama sehari dan
dapat disuntikkan pada malam hari untuk memenuhi kebutuhan
sepanjang malam.
3. Insulin kerja lambat.
Contohnya adalah insulin suspensi seng yang telah dikembangkan.
Efeknya baru timbul setelah 6 jam dan bekerja selama 28-36 jam.
Sediaan insulin stabil dalam suhu ruangan selama berbulan-bulan
sehingga bisa dibawa kemana-mana.

Pemilihan insulin yang akan digunakan tergantung kepada:


a. Keinginan penderita untuk mengontrol diabetesnya
b. Keinginan penderita untuk memantau kadar gula darah dan menyesuaikan
dosisnya
c. Aktivitas harian penderita
d. Kecekatan penderita dalam mempelajari dan memahami penyakitnya
e. Kestabilan kadar gula darah sepanjang hari dan dari hari ke hari

Sediaan yang paling mudah digunakan adalah suntikan sehari sekali dari
insulin kerja sedang. Tetapi sediaan ini memberikan kontrol gula darah yang
paling minimal. Kontrol yang lebih ketat bisa diperoleh dengan menggabungkan
2 jenis insulin, yaitu insulin kerja cepat dan insulin kerja sedang. Suntikan kedua
diberikan pada saat makan malam atau ketika hendak tidur malam.
Kontrol yang paling ketat diperoleh dengan menyuntikkan insulin kerja
cepat dan insulin kerja sedang pada pagi dan malam hari disertai suntikan insulin
kerja cepat tambahan pada siang hari. Beberapa penderita usia lanjut memerlukan
sejumlah insulin yang sama setiap harinya; penderita lainnya perlu menyesuaikan
dosis insulinnya tergantung kepada makanan, olah raga dan pola kadar gula
darahnya. Kebutuhan akan insulin bervariasi sesuai dengan perubahan dalam
makanan dan olah raga.
Beberapa penderita mengalami resistensi terhadap insulin. Insulin tidak
sepenuhnya sama dengan insulin yang dihasilkan oleh tubuh, karena itu tubuh
bisa membentuk antibodi terhadap insulin pengganti. Antibodi ini mempengaruhi
aktivitas insulin sehingga penderita dengan resistansi terhadap insulin harus
meningkatkan dosisnya.

H. Pencegahan
1. Mengontrol Gula Darah
Dengan kontrol gula darah yang baik, risiko komplikasi makrovaskular dapat
dikurangi. Kontrol gula darah ini tidak perlu terlalu ketat pada lansia mengingat
risiko hipoglikemia pada lansia penderita DM. Target kontrol gula darah
ditentukan oleh status kesehatan serta kemampuan fisik dan mental.
2. Mengontrol Tekanan Darah
Hipertensi merupakan salah satu faktor yang berperan dalam terjadinya
komplikasi makrovaskular dan mikrovaskular pada DM. Studi The UK
Prospective Diabetes Study menunjukkan bahwa kontrol tekanan darah yang
baik dengan antihipertensi manapun dapat menurunkan risiko komplikasi
makrovaskular dan mikrovaskular.
3. Mengontrol Lemak Darah
DM dianggap sebagai faktor risiko yang setara dengan penyakit jantung koroner,
sehingga penanganan DM harus dikelola secara disiplin, yaitu harus mencapai
target kadar kolesterol LDL <100 mg/dl. Pada pasien yang juga menderita
penyakit pembuluh koroner atau mempunyai komponen sindrom metabolis lain,
maka dianjurkan kadar kolesterol LDL <70 mg/dl. Banyak studi memperlihatkan
bahwa penurunan kadar kolesterol dapat mengurangi kejadian kardiovaskular
pada lansia dengan DM. https://mynurz.com/blog/pencegahan-diabetes-kronis-
pada-lansia-panggil-jasa-perawat-untuk-mendampingi/