Anda di halaman 1dari 8

Hasil dan pembahasan

Pengambilan data dilakukan selama bulan Desember 2019 di daerah


Banjarmasin Timur. Penetapan subyek penelitian diawali dengan pemilihan kriteria
pasien yang mengalami hipertensi dengan atau tanpa komplikasinya yang berada
didaerah Banjarmasin Timur yang diduga masih banyak menggunakan obat herbal
sebagai pengobatan utamanya.
Sebanyak 30 subyek penelitian yang diambil pada pengamatan retrospektif
pada bulan Desember 2019 menunjukan bahwa ada 15 subyek yang mengalami
hipertensi namun hanya sebagian yang menggunakan obat herbal sebagai terapi
antihipertensi dan 15 subyek lainnya menggunakan obat herbal untuk mengobati
penyakit lainnya.

Distribusi karaktristik subyek penelitian.


Tabel 1. Distribusi demografi subyek yang menggunakan obat herbal di wilayah
Banjarmasin Timur pada tahun 2019.
Karakteristik Total (n (%))
Umur
- 20-55 Tahun 21 (70%)
- 56-90 Tahun 9 (30%)

Jenis kelamin
- Laki-laki 13 (43,33)
- Perempuan 17 (56,66)

Berdasarkan table 1 menunjukan hasil bahwa karakteristik umur yang


dominan pada umur 20-55 tahun sebanyak 21 orang (70%). Hasil distribusi dari
jenis kelamin menunjukan proporsi laki laki sebanyak 13 orang (43,33%) dan
perempuan sebanyak 17 orang (56,66%). Hasil pengamatan yang dilakukan secara
retrospektif menunjukan bahwa umur < 55 tahun telah mengalami penurunan
kesehatan dibandingkan dengan umur > 55 tahun dan proporsi jenis kelamin
perempuan lebih banyak menggunakan obat dari pada laki-laki.
Hal ini menunjukan bahwa perubahan kualitas hidup perempuan lebih
rendah dibandingkan dengan laki-laki dan pola hidup yang tidak sehat yang banyak
dilakukan oleh pasien dengan umur < 55 tahun menyebabkan tingginya angka
kejadian penyakit pada umur tersebut.

Persentase penggunaan obat herbal.


Table 2. persentase penggunaan obat herbal pada pasien yang ada di daerah
Banjarmasin Timur.
Nama obat Kandungan Total (n (%))
Tolakangin Foeniculi fructus (Adas)
Isorae fructus (Kayu
ules)
Caryophyli folium (Daun
cengkeh)
14 (46,66%)
Zingiberis rhizoma
(Jahe)
Menthae arvensitis herba
(Daun mint)
Meldepuratum (Madu)
OBH Zingiberis officinalis
rhizoma
Citrus aurantifoliae
fructus
Kaempferiae galanga
rhizoma
Thymus vulgaris herba 4 (13,33%)
Menthae arvensidis folia
Myristicae fragrancia
semen
Madu
Glycirrhizae glabra
radix
Oleum menthae piperitae
Diapet Attapulgit
Karbon aktif
Daun jambu biji
3 (10%)
Kunyit
Buah mojokeling
Kulit buah delima
Alang sari Imperatea rhizoma
(Alang-alang)
Benincasa hispidia
fructus (Labu putih)
1 (3,33%)
Ekstrak pandan
Gula tebu
Madu
Garam
Nutrinext Malus domestica
Oryza nivara 1 (3,33%)
Coffea canephora pierre
Tensigard Apii herba
1 (3,33%)
Orthosiphon folium
Kunyit asam sirih Kunyit
sidomuncul Asam
Jahe 1 (3,33%)
Sukrosa
Garam
Tolak linu sidomuncul Laos
Lempuyung
Cabe
Temulawak 1 (3,33%)
Teki
Meniran
Daun sambung
Jahe
Kencur
Pulasari
Adas
Madu
Kiranti Curcuma domesticoe
rhizoma (Kunyit)
Tamarindi pulpa (Asam
jawa)
Caempferice rhizoma
(Kencur)
Arengue pinnata fructose
(Gula jawa)
1 (3,33%)
Zingiberis rhizoma
(Jahe)
Paulinia cupana
Cinnamoni cortex (Kayu
manis)
Orange concentrate
(Konsentrat jeruk)
Curcuminoid
Ambefen Graphtophyllum picatum
Sophora jamponica
Rubia cardifolia
Coleus atropurpureus 1 (3,33%)
Saugisorba officinalis
Kaemferiae angustifoliae
Curcuma heynaenae
Gamat emas Protein
Kolagen 1 (3,33%)
Mineral
Mukopolisakarida
glucasamin (GAGs)
Antiseptik alamiah
Chondroitin
Omega 3, 6, 9
Asam amino
Vitamin A, C, E
Curcuma borneo Temulawak 1 (3,33%)

Sebanyak 14 subyek yeng menggunakan obat herbal tersetandar


Tolakangin, persentase penggunaan Tolakangin lebih tinggi dibandingkan obat
herbal lainnya. Hal ini dikarenakan banyaknya pasien yang berusia muda yang
kurang memperhatikan kesehatannya disertai dengan pada bulan desember ini
mulai memasuki musim penghujan sehingga penggunaan obat Tolakangin lebih
banyak.
Tolakangin merupakan obat herbal tersetandar yang mempunyai komposisi
dari Adas, Kayu ules, Daun cengkeh, Jahe, Daun mint dan Madu, yang dapat
digunakan untuk mengatasi gejala masuk angin seperti perut kembung, mual,
demam, dan sakit kepala. Tolakangin juga terbukti efektif menjaga daya tahan
tubuh serta mampu meningkatkan sel T sebagai daya tahan tubuh yang telah di uji
khasiatnya oleh fakultas kedokteran universitas diponegoro. Tolakangin juga telah
lulus uji toksisitas yang telah dilakukan oleh fakultas farmasi universitas sanata
dharma serta aman digunakan dalam jangka panjang.

Profil kejadian ROTD


Subyek yang meyatakan adanya kejadian ROTD terhadap penggunaan obat
herbal sebanyak 3 orang (10%) di tunjukan pada tabel 3 dan tabel 4.

Tabel 3. Persentase kejadian ROTD pada subyek yang menggunakan obat herbal di
daerah Banjarmasin Timur pada bulan Desember 2019.
Kategori (n) %
Ada ROTD 3 10
Tidak ada ROTD 27 90
Total 30 100

Tabel 4. Profil kejadian ROTD pada subyek yang menggunakan obat herbal di
daerah Banjarmasin Timur pada bulan Desember 2019.
Kejadian ROTD Obat yang
Subyek Terapi
Manifestasi Skor Kategori diduga
Dada terasa
S001 OBH 7 Probable OBH
panas
Dada terasa
S007 OBH panas, 7 Probable OBH
ngantuk
Curcuma Air seni Curcuma
S009 5 Probable
borneo berbuih borneo

Hasil yang diperoleh berdasarkan tabel 3 menunjukan bahwa sebanyak 3


subyek penelitian yang dilakukan secara retrospektif mengeluhkan bahwa telah
mengalami ROTD dengan penggunaan OBH dan curcuma borneo dan dari ketiga
subyek ini termasuk kedalam kategori probable (mungkin). Hal ini menunjukan
bahwa ROTD tersebut mungkin terjadi pada pasien yang menggunakan obat herbal
tersebut.
ROTD yang dialami oleh subyek penelitian meliputi dada terasa panas,
ngantuk dan air seni berbuih. Sebanyak 3 subyek penelitian di wawancara dengan
pertanyaan yang merujuk pada alogaritma Naranjo mengenai dugaan kejadian
ROTD tersebut. ROTD yang di alami oleh subyek seperti dada terasa panas,
ngantuk dan air seni berbuih dapat berhenti setelah subyek tidak mengkonsumsi
OBH dan curcuma borneo.
Peneliti mengasumsikan bahwa kejadian ROTD tersebut setelah di
korelasikan dengan alogaritma Naranjo merupakan kategori probable. Efek
samping atau kejadian ROTD dari ekstrak jahe biasanya adalah mual dan diare bila
penggunaan atau mengkonsumsinya secara berlebihan. Efek samping atau kejadia
ROTD dari ekstrak temulawak adalah memicu iritasi lambung, masalah
pencernaan, detak jantung lebih cepat, mual, muntah, memperparah gangguan liver,
memeprparah kerusakan ginjal, meningkatkan resiko infeksi kandung kemih karena
kerja ginjal yang terlalu berat, obesitas dan perdarahan.
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan maka dapat disimpulkan dari tabel 3


menunjukan bahwa sebanyak 3 subyek penelitian yang dilakukan secara
retrospektif mengeluhkan bahwa telah mengalami ROTD dengan penggunaan OBH
dan curcuma borneo dan dari ketiga subyek ini termasuk kedalam kategori probable
(mungkin). Hal ini menunjukan bahwa ROTD tersebut mungkin terjadi pada pasien
yang menggunakan obat herbal tersebut. Adapun asumsi dari peneliti terkait dengan
kejadian ROTD yang memiliki kolerasi dengan alogaritma Naranjo merupakan
kategori probable.