Anda di halaman 1dari 9

PELINDIAN TITANIUM DARI PASIR BESI PANTAI TEGAL BULEUD

DALAM LARUTAN ASAM KLORIDA

PROPOSAL TUGAS AKHIR

Oleh :
M. Ikbal Trismana NIM : 2613141114

JURUSAN TEKNIK METALURGI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
BANDUNG
2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Titanium adalah sebuah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki
simbol Ti dan nomor atom 22. Unsur ini merupakan logam transisi yang
ringan, kuat, berkilau, tahan korosi (termasuk tahan terhadap air laut, aqua
regia, dan klorin) dengan warna putih-metalik-keperakan.

Titanium ditemukan di Cornwall, Kerajaan Britania Raya pada tahun 1791


oleh William Gregor dan dinamai oleh Martin Heinrich Klaproth dari mitologi
Yunani Titan. Elemen ini ada di antara deposit-deposit berbagai mineral,
diantaranya rutile dan ilmenit, yang banyak terdapat pada kerak
bumi dan litosfer, serta pada hampir semua makhluk hidup, batuan, air, dan
tanah. Logam ini diekstrak dari bijih mineralnya melalui proses
Kroll atau proses Hunter. Senyawanya yang paling umum, titanium dioksida,
adalah fotokatalisator umum dan digunakan dalam pembuatan pigmen
putih.[4] Senyawa lainnya adalah titanium tetraklorida(TiCl4), komponen layar
asap dan katalis; dan titanium triklorida (TiCl3), digunakan sebagai katalis
dalam produksi polipropilena.

Titanium dapat digunakan sebagai aloi dengan besi, aluminium, vanadium,


dan molybdenum, untuk memproduksi aloi yang kuat namun ringan untuk
penerbangan (mesin jet, misil, adan wahana antariksa), militer, proses industri
(kimia dan petrokimia, pabrik desalinasi, pulp, dan kertas), otomotif, agro
industri, alat kedokteran, implan ortopedi, peralatan dan instrumen dokter
gigi, implan gigi, alat olahraga, perhiasan, telepon genggam, dan masih banyak
aplikasi lainnya.

Dua sifat yang paling berguna pada titanium adalah ketahanan korosi dan
rasio kekuatan terhadap densitasnya yang paling tinggi di antara semua logam
lain. Pada kondisi murni, titanium sama kuat dengan beberapa baja, namun
lebih ringan. Ada dua bentuk alotropi dan lima isotop alami dari unsur ini, 46Ti
sampai 50Ti, dengan 48Ti adalah yang paling banyak terdapat di alam
(73,8%). Meski memiliki jumlah elektron valensi dan berada pada golongan

1
tabel periodik yang sama dengan zirkonium, keduanya memiliki banyak
perbedaan pada sifat kimia dan fisika.

1.2 Rumusan Masalah


Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana pengaruh pre-heat terhadap proses pelindian titanium pasir besi?
2. Bagaimana pengaruh perbedaan konsentrasi asam klorida sebagai larutan
leaching dalam proses pelindian titanium?
3. Bagaimana pengaruh temperature pada proses pelindian titanium dari pasir
besi?
4. Bagaimana pengaruh kecepatan pengadukan terhadap efektivitas proses
pelindian titanium dari pasir besi?
5. Bagaimana pengaruh besar ukuran butir pasir besi terhadap proses pelindian
titanium dari pasir besi?

1.3 Tujuan Penelitian


Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui pengaruh pre-heat terhadap proses pelindian titanium pasir
besi.
2. Mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi asam klorida sebagai larutan
leaching dalam proses pelindian titanium.
3. Mengetahui pengaruh temperature pada proses pelindian titanium dari pasir
besi.
4. Mengetahui pengaruh kecepatan pengadukan terhadap efektivitas proses
pelindian titanium dari pasir besi.
5. Mengetahui pengaruh besar ukuran butir pasir besi terhadap proses
pelindian titanium dari pasir besi.

1.4 Batasan Masalah


Agar penelitian terfokus pada maksud dan tujuan yang telah diuraikan, maka
penelitian ini dibatasi permasalahan sebagai berikut:

2
1. Pasir besi yang digunakan berasal dari pesisir pantai Tegal Buleud
Kabupaten Sukabumi.
2. Asam yang digunakan untuk pelindian menggunakan asam klorida dengan
konsentrasi asam 6 M, 7 M, dan 8 M
3. Variasi temperatur pelindian yang dipakai adalah 80oC, 100oC dan 110oC.
4. Fraksi ukuran butir pasir besi ±200 mesh, ±300 mesh, dan ±350 mesh.
5. Kecepatan pengadukan dalam pelindian sebesar 250 rpm, 300 rpm, 350
rpm.
6. Proses pengujian yang dilakukan yaitu :
a. Athomic Absorbtion Spectrometri (AAS)
b. X-ray Flurosence (XRF)
c. X-Ray Diffraction (XRD)

1.5 Sistematika Penulisan


Sistematika penulisan yang digunakan pada penelitian ini terbagi dalam
beberapa kerangka penulisan, sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Menjelaskan mengenai latar belakang, rumusan masalah, tujuan
penelitian, batasan masalah dan sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Menjelaskan mengenai teori dasar yang mendukung penelitian dengan
meninjau beberapa pustaka.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Menjelaskan mengenai metodologi penelitian, skema proses penelitian,
serta jadwal pelaksanaan penelitian.
BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN
Memuat dan menjelaskan seluruh data yang diperoleh dari hasil penelitian,
mulai dari persiapan, pelaksanaan, pemeriksaan dan pengujian yang kemudian
dibahas dengan membandingkan data awal dengan data hasil penelitian.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Menjelaskan mengenai beberapa kesimpulan dari hasil penelitian dan
beberapa saran untuk memperbaiki penelitian berikutnya.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Titanium dan Pasir Besi


Titanium merupakan elemen Kesembilan yang paling banyak menyusun
litosfer (Kerak bumi dengan ketebalan 10 mile) atau 0,62 % dari total elemen di
kerak bumi. Di alam, Titanium dapat ditemukan dalam bentuk oksida atau silikat.
Mineral titanium dan komposisi kimia titanium yang terdapat di lihat di tabel.
Konsentrasi
Mineral Komposisi
TiO2
Rutile TiO2 (Tetragonal, twinned) ± 95%
Anatese TiO2 (Tetragonal, near octahedral) ± 95%
Brookite TiO2 (Orthorombic) ± 95%
Ilmenite FeO.TiO2 ± 40 – 65%
Leucoxene Fe2O3.TiO2 >65 %
Arizonite Fe2O3.nTiO2.mTiO2 -
Pervskite CaTiO3 -
Giekielite MgTiO3 -
Titane or sphene CaTiSiO5 -
Titanniferous Magnetite (Fe,Ti)2O3 -

Titanium lebih banyak diproduksi dalam bentuk titanium oksida. Hanya 6%


dari total produksi titanium digunakan untuk produksi logam titanium.
Pasir besi memiliki mineral utama titanomagnetit (Fe2+(Fe3+, Ti)2O4).
Titanomagnetite merupakan mineral oksida kompleksa yang terdiri dari solid
magnetit, ulvospinel, dan magnesium ulvospinel.

4
2.2 Proses pengolahan Titanomagnnetit
Proses ekstraksi titanium sangan bervariasi, baik untuk memproduksi logam
Ti maupun TiO2. Proses telah dikembangkan melalui jalur hidrometalurgi dan piro
metalurgi. Proses pengolahan ini dibagi menjadi 4 bagian utama yaitu : Proses
pelindian sulfat, pelindian asam klorida, proses kausatik, dan reduksi pelarutan
secara elektrokimia.
2.3 Termodinamika Pelindian Pasir Besi
Termodinamika memprdiksi apakah suatu reaksi dapat terjadi atau tidak
proses pelindian pasir besi dapat ditinjau secara termodinamika melalui diagram
potensial-pH (Diagram Pourbaix) sistem Fe-H2O dan Ti-H2O. Diagram potensial-
pH memetakan fasa stabil logam dan senyawanya dalam larutan degan pelarut air,
yang berada dalam kesetimbangan termodinamika, sebgai fungsi dari potensial
elektroda dan pH larutan.
Titanium terdapat sebagai titanomagnetit pada pasir besi. Reaksi
titanomagnetit dengan HCl berlangsung :

Fe2TiO4 + 6HCl  TiOCL2 + 2 FeCl2 + 2H2O

Pada proses pelindian pasir besi, kondisi di sesuikan datur sedemikian rupa
sehingga titanium berada di daerah kestabilan TiO2+. Daerah kestabilan Ti akan
bergeser menjadi TiO22+ dalam keadaan pelindian oksidatif, sementara pada
pelindian reduktif titanium stabil sebagai Ti3+. Titanium sulit laut dalam asam non-
oksidator (HCl atau H2SO4) degan membentuk Ti3+ dan TiO2+

5
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metodologi Penelitian


FAKTA :
1. Pada pasir besi terdapat titanium dalam jumlah tertentu.
2. Proses pelindian lebih ramah lingkungan daripada pyro metalurgi.
3. Beberapa referensi dan publikasi ilmiah menyebutkan bahwa ilmenite dan
titanomagnetic dapat dilindi menggunakan HCl.

PROBLEM STATEMENT :
Perbedaan variasi dari waktu praheat, konsentrasi asam, temperatur pelindian, fraksi ukuran
dan kecepatan pengadukan dapat mempengaruhi efektifitas dari proses pelindian.

STUDI LITERATUR : PERCOBAAN :


1. Karakterisasi bijih dengan XRF, XRD, 1. Karakterisasi bijih dengan XRF, XRD,
dan AAS. dan AAS.
2. Pelindian dengan variasi : waktu,
konsentrasi HCl, fraksi ukuran,
kecepatan pengadukan, pre-treatment.

PERUMUSAN DATA & HASIL PENGUJIAN LAB :


1. Persen ekstraksi 1. Kadar Ti
% Eks = ppm terlarut/ppm awal * 100% 2. Mineral yang dominan pada pasir besi.
2. Selektivitas Fe 3. Kadar konsentrai Ti
STi/Fe= % Eks Ti/(%Eks Ti + % Eks Fe)

ANALISIS :
Titanium yang terlalut saat pelindian menggunakan AAS, Spektrofotmtri UV-Visible.

KRITERIA : NO
%Ti > 50%

YES
PEMBAHASAN
1. Persen ekstraksi Ti
2. Efektivitas pelindian

KESIMPULAN

Gambar 3.1 Metodologi penelitian.

6
3.2 Skema Proses Penelitian

Ilmenite ore

Cloride leach

S/L separation

Residue to rutile
FeCl3 hydrolysis Fe solvent extraction recovery
Pyro-hydrolysis
Reffinate ( HCl +
Ti solvent extraction CaCl2 ) soln

Reffinate
bled
Iron pigment Ti hydrolysis
Iron residue

TiO2 pigment
Acid recovery
& impority
removal

Residue

Gambar 3.2 Diagram Alir Penelitian.

3.3 Jadwal Pelaksanaan Penelitian

7
Jadwal penelitian yang direncanakan dengan perincian kegiatan tiap
bulannya yaitu sebagai berikut :

Tabel 3.1 Jadwal Pelaksanaan Penelitian


Kegiatan Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus
Studi Literatur
Seminar Proposal
Persiapan alat & bahan
Percobaan
Pengujian
Penyusunan TA
Seminar
Sidang

3.4 Lokasi Penelitian


Rencana lokasi penelitian bertempat di:
1. Laboratorium Kimia Korosi Universitas Jenderal Achmad Yani Bandung
Jl. Ters. Jend. Gatot Subroto PO Box 807
Tlp. 7312741, 73109433 Bandung
2. Laboratorium Teknik Produksi Universitas Jenderal Achmad Yani
Jl. Ters. Jend. Gatot Subroto PO Box 807
Tlp. 7312741, 73109433 Bandung
3. Laboratorium Tekmira
Jl. Jenderal Sudirman No. 623, Wr. Muncang, Bandung, Jawa Barat
40211.