Anda di halaman 1dari 12

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 MAKP
Model asuhan keperawatan profesional yang digunakan di Ruang Sahadewa RSUD
Sanjiwani Gianyar adalah metode MAKP Primer yang terdiri dari tiga Perawat Primer
dan tiga sampai enam sebagai Perawat Associate sebagai intergral dari pelayanan
kesehatan, dituntut untuk memiliki manajerial yang tangguh, sehingga yang diberikan
mampu memuaskan kebutuhan pasien.
Pembagian tugas dilakukan oleh Perawat Primer dan sekaligus bertanggung jawab
dalam mengarahkan Perawat Associate. Selain itu Perawat Primer bertugas memberi
pengarahan dan menerima laporan kemajuan pelayanan keperawatan klien serta
membantu Perawat Associate dalam menyelesaikan tugas apabila menjalani kesulitan
dan selanjutnya Perawat Primer melaporkan pada Kepala Ruang tentang kemajuan
pelayanan / asuhan keperawatan terhadap klien. Dibawah pimpinan perawat
professional, kelompok perawat akan dapat bekerja bersama untuk memenuhi sebagai
perawat fungsional. Penugasan terhadap pasien dibuat untuk tim yang terdiri dari
Perawat Primer dan Perawat Associate. Model Primer didasarkan pada keyakinan
bahwa setiap anggota tim mempunyai kontribusi dalam merencanakan dan memberikan
asuhan keperawatan sehingga timbul motivasi dan rasa tanggung jawab perawat yang
tinggi. Setiap anggota tim akan merasakan kepuasan karena diakui kontribusmnya di
dalam mencapai tujuan bersama yaitu mencapai kualitas asuhan keperawatan yang
bermutu. Potensi setiap anggota tim saling melengkapi menjadi suatu kekuatan yang
dapat meningkatkan kemampuan kepemimpinan serta menimbulkan rasa kebersamaan
dalam setiap upaya dalam pemberian asuhan keperawatan.
Tim medis Kepala ruangan Sarana RS

PP 1 PP 2

PA 1 PA 1

PA 2 PA 2

PA 3

PA 4
Pasien Pasien

Model asuhan keperawatan professional yang digunakan mahasiswa praktik klinik


keperawatan profesi ners STIKes Wira Medika Bali di Ruang Sahadewa RSUD
Sanjiwani Gianyar adalah metode MAKP Primer yang mana terdiri dari 1 kepala
ruangan, 1 perawat primer (PP), dan 8 perawat asossiate, dalam satu shift terdiri dari 1
PP dengan 2 PA dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap pasien di kamar 1
yang terdiri dari 4 kapasitas bed yang terisi…. pasien. Kami memulai role play pada
tanggal 19 Februari 2020 sampai 29 Februari 2020. Berikut ini merupakan struktur
organisasi yang telah disusun yaitu :
Strukutur organisasi….

Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab oleh kelompok masih banyak kekurangan, hal
ini dikarenakan belum adanya pengalaman dalam bidang manajemen sehingga
kelompok masih bingung dan banyak hal yang kurang dimengerti. Akan tetapi berkat
bimbingan dari Pembimbing Klinik dan Akademik, peran dan tanggung jawab masing
– masing orang dapat terlaksana, walaupun belum maksimal.
3.2 Timbang Terima (SBAR)
Lembar timbang terima..
Penerapan timbang terima pasien dengan metode SBAR di Ruang Sahadewa RSUD
Sanjiwani Gianyar telah dilaksanakan setiap harinya dimulai dari tanggal 19 Februari
2020 sampai 29 Februari 2020, dimana penanggung jawab dalam timbang terima yaitu
Ni Putu Sekardianti Putri dan I Komang Yoki Kirawan. Timbang terima pasien dengan
metode SBAR dilaksanakan tiga kali sehari dimana pada pagi hari yaitu jam 07.30 wita
dimana perawat jaga malam akan melaporkan kondisi pasien kepada perawat ang
bertugas pada pagi hari, kemudian perawat jaga pagi akan melaporkan kondisi pasien
kepada perawat yang bertugas pada sore hari pada pukul 13.30 wita, begitu pula
perawat jaga sore akan melaporkan kondisi pasien kepada perawat yang bertugas pada
malam hari pukul 19.30 wita. Timbang terima pasien telah dilaksanakan secara
berkesinambungan setiap harinya, dimana perawat akan melaporkan kondisi pasien
berdasarkan poin- poin SBAR yaitu Situational (S), Background (B), Assesment (A),
dan Recommendation (R).
Timbang terima pasien dengan metode SBAR yang dilakukan oleh mahasiswa profesi
NERS STIKes Wira Medika Bali di Ruang Sahadewa RSUD Sanjiwani Gianyar sudah
berjalan sesuai dengan teori. Pelaksanaan timbang terima dengan metode SBAR
dilakukan setiap hari sebanyak tiga kali secara berkesinambungan selama praktek di
ruangan yaitu dari tanggal 19 Februari 2020 sampai 29 Februari 2020. Format SBAR
yang dipergunakan juga sesuai dengan format SBAR yang dipergunakan di ruangan.

3.3 RDK
1. Tahap Persiapan
Tiga hari sebelum diadakan kegiatan diskusi refleksi kasus, kami memilih
masalah yang menarik dan dirasa perlu untuk didiskusikan dalam DRK. Setelah
kami memilih masalah yang ada pada pasien dan asuhan yang diberikan, selanjutnya
kami melakukan konsultasi dengan pembimbing klinik mengenai laporan yang
sudah disusun agar disempurnakan kembali. Proposal dan perlengkapan diskusi
refleksi kasus disiapkan 3 hari sebelum pelaksanaan. Dimana penanggung jawab
dari DRK yaitu Made Cahya Nugraheni dan Indra Darma. Pada hari pelaksanaan
mahasiswa berkumpul bersama dengan pembimbing klinik.
2. Tahap Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan diskusi refleksi kasus di Ruang Sahadewa RSUD
Sanjiwani Gianyar yang dipimpin oleh fasilitator dengan susunan acara sebagai
berikut:
a. Pembukaan
1) Menjelaskan tujuan kegiatan
2) Pembacaan aturan main
3) Kontrak waktu
4) Pelaksanaan diskusi refleksi kasus
5) Mengevaluasi dan menjelaskan rencana tindak lanjut dari issue – issue
yang ditemukan
6) Memberikan pujian atas keberhasilan pelaksanaan DRK
7) Ramah tamah serta sesi masukan – masukan
8) Laporan hasil observasi oleh fasilitator
9) Penutup
b. Acara inti
1) Pelaksanaan Kegiatan
Pelaksanaan diskusi refleksi kasus dipimpin oleh fasilitator pada pukul
12.00 wita. Pelaksanaan kegiatan diskusi refleksi kasus dibagi menjadi 4
sesi yaitu sesi pertama pembukaan selama 5 menit, sesi kedua penyajian
selama 15 menit, sesi ketiga tanya jawab selama 30 menit, dan sesi
keempat penutup selama 10 menit.
2) Tim
Fasilitator : I Putu Indra Darma Putra
Penyaji : Made Cahaya Nugraheni
Anggota : Koming Anik Suyastarini
Anggota : Ni Putu Riastini
Anggota : I Komang Yoki Kirawan
Anggota : Ni Ketut Noviyanti
Anggota : Indah Sari
Anggota : Ni Putu Sekardianti Putri
Anggota : Tri Widianto
Anggota : Ni Luh Made Yunita Agustini
c. Kelemahan
Kelemahan yang kami dapatkan dalam melakukan diskusi refleksi kasus
adalah terlalu formalnya diskusi yang dilakukan, serta tidak adanya ramah
tamah seperti berjabat tangan diakhir diskusi.
d. Kekuatan
Kasus yang dipilih dan dijadikan topik untuk diskusi sudah sesuai dan
menarik, sehingga antara pembahasan dan diskusi sudah berjalan sesuai
dengan rencana.
3. Evaluasi
a. Evaluasi Struktur
1) Pada tanggal 03 Februari 2020, seluruh peserta menghadiri kegiatan
diskusi refleksi kasus, yakni terdiri dari mahasiswa profesi ners STIKes
Wira Medika Bali dan Pembimbing Klinik.
2) Waktu pelaksanaan kegiatan diskusi refleksi kasus tepat sesuai jadwal
yang telah disepakati sebelumnya.
3) Persiapan tempat, sarana dan prasarana telah tersedia
4) Meteri dan media tentang diskusi refleksi kasus telah siap untuk
disajikan.
b. Evaluasi Proses
1) Jumlah peserta yang hadir sesuai dengan rencana
2) Fasilitator menjelaskan aturan main dengan jelas
3) Observasi dilakukan oleh fasilitator yang menempatkan diri di tempat
yang memungkinkan untuk dapat mengawasi jalannya kegiatan
4) Hasil penilaian observer disampaikan oleh fasilitator

Identitas
 Nama :
 Umur :
 Jenis kelamin :
 Alamat :
 No.RM :
 Status :
 Diagnosa :
 MRS :

Kronologi
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………..
No. Diagnosa Tujuan dan Intervensi
Keperawatan Kriteria Hasil
1. Kerusakan integritas NOC : O : Monitor aktivitas
jaringan b.d nekrosis dan mobilisasi pasien
a. Tissue integrity :
kerusakan jaringan serta observasi luka :
skin and mucous
(nekrosis luka lokasi, kedalaman,
b. Wound healing :
gangrene) dimensi, jaringan
primary and
nekrotik, tanda-tanda
secondary intention
infeksi lokal, formasi
Kriteria Hasil :
traktus
1. Perfusi jaringan
N : Mobilisasi pasien
normal
(ubah posisi pasien)
2. Tidak ada tanda-
setiap dua jam sekali
tanda infeksi
dan oleskan lotion
3. Ketebalan dan
atau minyak/baby oil
tekstur jaringan
pada daerah yang
normal
tertekan
4. Menunjukkan
E : Edukasi kepada
pemahaman dalam
pasien dan keluarga
proses perbaikan
mengenai mobilisasi
kulit dan mencegah
pasien setiap dua jam
terjadinya cidera
sekali dan pemberian
berulang
lotion atau
5. Menunjukkan
minyak/baby oil pada
terjadinya proses
daerah yang tertekan
penyembuhan luka
C : Kolaborasi
dengan ahli gizi
pemberian diet TKTP
(tinggi kalori tinggi
protein)

Laporan DRK
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………..

3.4 Pre – Post Conference


1. Pre conference
a Tahap persiapan
Satu hari sebelum diadakan kegiatan Pre conference, kami memilih dan
memprioritaskan pasien untuk dibahas dalam Pre conference, sehingga diperoleh
kesimpulan akan dibahas satu pasien, yang pasien kelolaan PP 1. Setelah
melakukan konsultasi dan diberikan ijin umtuk melakukan Pre conference sesuai
rencana, maka kami selanjutnya mempersiapkan cek list pre conference,
mengkonfirmasi ulang terkait jadwal pelaksanaan pre conference. Pada hari
pelaksanaan mahasiswa berkumpul di Nurse Station Ruang Sahadewa pukul 07.30
WITA.

b Tahap Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan Pre conference di Ruangan Sahadewa RSUD Sanjiwani
Gianyar, yang dibuka oleh Kepala Ruangan dan selanjutnya dipimpin oleh Perawat
Primer dengan susunan acara sebagai berikut :
a) Pre conference dibuka terlebih dahulu oleh Kepala Ruangan Ruangan
Sahadewa RSUD Sanjiwani Gianyar.
"Om Swastyastu". Selamat pagi dan terimakasih saya ucapkan untuk seluruh
anggota yang hadir pada acara Pre conference pagi ini. Baiklah untuk
memulai aktivitas, kita awali dengan doa sesuai dengan agama dan
kepercayaan masing-masing. Selanjutnya saya serahkan kepada perawat
"Widi" untuk memandu Pre conference kita pada pagi hari ini.
b) Semua anggota hadir dalam diskusi awal. Perawat Primer membuka acara.
"Terimakasih kepada Ibu Riastini selaku kepala ruangan. Selamat pagi kepada
rekan-rekan semua. Pada kesempatan Pre conference pagi ini tanggal 3
Februari 2020 di Nurse Station, kita akan membahas kondisi dan asuhan
keperawatan pada pasien dengan pasien kelolaan PP 1. Sebelum kita mulai
acara Pre conference ini, saya akan memeriksa dan melakukan absensi untuk
mengetahui apakah seluruh anggota hadir pagi ini".
c) Memberi pengarahan kepada anggota tentang rencana asuhan pasien pada hari
tersebut berdasarkan hasil evaluasi kemarin dan kondisi klien yang dilaporkan
oleh dinas malam, hal-hal yang disampaikan oleh PP meliputi :
Keadaan umum klien
1) Keluhan klien
2) Tanda-tanda vital dan kesadaran
3) Masalah keperawatan
4) Rencana keperawatan hari ini
5) Perubahan terapi medis
6) Rencana medis
"Ketua tim PP 1 menjelaskan kondisi pasien:
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………

Sekian yang dapat saya sampaikan waktu saya kembalikan ke ibu kepala
ruangan.
d) Memberi penugasan kepada anggota bila ada pasien baru.
"Ya, baiklah terima kasih kepada rekan-rekan yang sudah menyampaikan
tindakan yang akan dilakukan kepada pasien. Dilihat dari hasil laporan teman-
teman, pasien memerlukan penanganan lebih. Jadi diharapkan, untuk
kerjasama antara rekan-rekan baik itu dalam melakukan asuhan pada pasien
kelolaan ataupun pada pasien baru".
e) Memberi penugasan kepada anggota untuk bertanya
"Baik, untuk rekan-rekan semua, ada yang ingin ditanyakan atau mungkin
masih ada yang belum jelas mengenai kondisi dan tindakan pasien yang sudah
kita bahas bersama tadi?"
f) Memberi penekanan pada hal-hal yang perlu diperhatikan
"…………………………………………………………………………………
Jadi, kita sebagai perawat harus tetap berusaha memberikan pelayanan terbaik
kepada pasien. Jadi diharapkan, untuk kerjasama antara rekan-rekan dalam
memberikan asuhan keperawatan profesional, untuk mewujudkan kesembuhan
pasien".
g) Memberi kesempatan pada pendidikan pasien
"Untuk rekan-rekan, jangan lupa untuk selalu menyediakan waktu
memberikan pendidikan terkait kesehatan pada pasien dan keluarga, tentunya
untuk membantu mempercepat kesembuhan pasien".
h) Membahas pasien-pasien yang menjadi prioritas pada shift tersebut
i) Menanyakan kesiapan fisik, mental anggota dalam melakukan asuhan
"Bagaimana rekan-rekan semuanya, apakah sudah siap secara fisik dan mental
untuk memberikan asuhan yang sudah direncanakan tadi?"
j) Semua anggota menyepakati pertemuan diskusi akhir
"Terima Kasih kepada rekan-rekan semua atas laporannya. Langsung saja kita
melakukan tindakan-tindakan yang sudah direncanakan. Sekali lagi
diharapkan, kerjasamanya dari semua rekan-rekan sekalian. Untuk nanti
tanggal 3 Februari 2020 pukul 13.30 kita berkumpul kembali untuk
melaporkan Post conference"
k) Mengucapkan selamat bekerja kepada anggota tim
"Selamat bekerja untuk rekan-rekan, terapkan komunikasi terapeutik,
profesional kerja, senyum, salam, dll."
c Kelemahan
Kelemahan yang kami dapatkan dalam melakukan pre conference ini adalah
banyak kekurangan dan terutama dalam hal pelaporan kondisi pasien. Kelemahan
dan rencana keperawatan perlu diperjelas lagi mulai dari jam pemberian asuhan,
apa saja yang harus diobservasi sebelum dan setelah pemberian asuhan
keperawatan. Pada intinya disarankan oleh Pembimbing Klinik, harus ditingkatkan
lagi komunikasi dan kelengkapan pelaporan saat pre conference dengan
berpedoman pada komunikasi SBAR.
d Kekuatan
a) Penerimaan yang baik terkait pelaksanaan Pre conference ini dari Pembimbing
Kinik (Ruang Cempaka RSU Bangli) dan seluruh mahasiswa sehingga acara
Pre conference ini dapat berlangsung dengan baik.
b) Tersedianya tempat, sarana dan prasarana yang memadai untuk pelaksanaan
kegiatan Pre conference, sehingga kegiatan berjalan dengan lancar.
c) Pelaksanaan Pre conference sudah disesuaikan dengan susunan dalam cek list
yang ditentukan.
e Evaluasi
1) Evalusi Struktur
a) Pada tanggal 3 Februari 2020, pasien priontas yang akan dibahas atau
dipaparkan dalam kegiatan pre conference sudah ditentukan
b) Waktu pelaksanaan kegiatan pre conference tepat sesuai jadwal yang telah
disepakati sebelumnya yakni dilaksanakan pada Senin, 3 Februari 2020.
c) Persiapan tempat, sarana dan prasarana telah tersedia.
d) Materi dan media tentang pre conference telah siap untuk disajikan.
f Evaluasi proses
a) Jumlah pasien yang dipaparkan pada kegiatan pre conference sudah sesuai
rencana yakni satu pasien kelolaan dari PP 1 atas nama Tn. K dengan Diabetes
Mellitus tipe II + Diabetic Foot Dextra Digiti 5. Kepala ruangan telah
membuka pre conference dan selanjutnya dipimpin oleh PP1
b) PA atau anggota telah aktif bertanya mengenai rencana keperawatan yang
akan dilakukan nantinya
c) Pelaksanaan pre conference sudah sesuai dengan cek list yang ditentukan.

3.5 Supervisi
Supervisi adalah bagian dari fungsi directing pengarahan dimana dalam fungsi
manajemen berperan untuk mempertahankan agar segala kegiatan yang telah
direncanakan dapat terlaksana dengan baik. Supervisi secara langsung memungkinkan
manajer keperawatan menemukan berbagai hambatan atau permasalahan dalam
pelaksanaan asuhan keperawatan di ruangan dengan mencoba memandang secara
menyeluruh faktor-aktor yang mempengaruhi dan bersama dengan staf keperawatan
untuk mencari jalan penyelesaianya (Mamik, 2015).
Menurut Mugianti (2016) supervisi merupakan bagian dari fungsi pengarahan
yang dalam fungsi manajemen sebagai cara yang efektif untuk mencapai tujuan
pelayanan disuatu rumah sakit termasuk tatanan keperawatan. supervisi adalah kegiatan
terencana seorang manajer yang dilakukan dalam bentuk bimbingan, pengarahan,
observasi, motivasi dan evaluasi pada staff dalam melaksanakan tugas sehari-hari.
Supervisi keperawatan merupakan proses pemberian bantuan yang dibutuhkan perawat
agar mereka dapat menyelesaikan tugas dengan baik. Dengan supervisi seorang
manajer dapat menemukan berbagai kendala dalam melaksanakan asuhan keperawatan
dan dapat menghargai potensi setiap anggotanya.
Supervisi sebagai suatu kegiatan pembinaan, bimbingan atau pengawasan oleh
pengelola (manajer) terhadap pelaksanaan dari tingkat terendah, menengah, atas dalam
rangka menetapkan kegiatan sesuai dengan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan.
Di rumah sakit, manajer keperawatan yang melakukan tugas supervisi adalah
atasan/pihak yang dianggap memiliki kelebihan/keahlian dalam organisasi seperti ketua
tim, kepala ruangan, pengawas keperawatan, kepala seksi, kepala bidang, dan wakil
direktur keperawatan.
Menurut Gunawan & Sukarna (2016) Proses supervisi keperawatan terdiri dari 3
elemen kelompok, yaitu: mengacu pada standar asuhan keperawatan, fakta pelaksanaan
praktik keperawatan sebagai pembanding untuk menetapkan pencapaian, tindak lanjut
dalam upaya memperbaiki dan mempertahankan kualitas asuhan. Area supervisi
keperawatan mencakup pengetahuan dan pengertian tentang asuhan keperawatan pada
klien, keterampilan yang dilakukan sesuai dengan standar, sikap penghargaan terhadap
pekerjaan seperti kejujuran dan empati. Secara aplikasi, area supervisi keperawatan
meliputi kinerja perawat, pendokumentasian asuhan keperawatan, pendidikan kesehatan
melalui perencanaan pulang, pengelolaan logistik dan obat, penerapan metode ronde
keperawatan dalam menyelesaikan masalah keperawatan klien, dan pelaksanaan
operan.
Pelaksanaan supervisi di Ruang Sahadewa RSUD Sajniwani Gianyar dilakukan
oleh kepala ruang kepada kepala tim. Pelaksanaan supervisi tidak rutin dilaksanakan,
dan biasanya dilaksanakan pada akhir tahun dibulan Desember.
Pelaksanaan supervisi oleh mahasiswa profesi praktik manajemen di Ruang
Sahadewa RSUD Sajniwani Gianyar adalah supervisi klinis yang dilakukan oleh
perawat primer terhadap perawat associate yaitu pada tindakan perawatan luka yang
dilaksanakan pada tanggal 1 Februari 2020. Penanggung jawab pelaksanaan supervisi
adalah Ni Luh Made Yunita Agustini yang berperan juga sebagai perawat primer dan
perawat associate diperankan oleh Ni Putu Sekardianti Putri. Persiapan yang dilakukan
oleh perawat primer adalah menyiapkan formulir check list standart prosedur
operasional yang sesuai untuk menilai pelaksanaan tindakan. Perawat primer dan
perawat associate berada dalam satu ruangan dan saling berhadapan. Perawat primer
menanyakan langkah-langkah prosedure, prinsip-prinsip tindakan, critical thinking, dan
hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan tindakan. Perawat associate
menjelaskan prosedure dan langkah-langkah yang dilakukan dalam melaksanakan
tindakan dan menjawab pertanyaan yang diberikan oleh perawat primer. hasil supervisi
diperoleh data pada tahap persiapan perawat associate tidak menyiapkan 4 dari 15 item
yang harus dipersiapkan. Pada tahap orientasi perawat associate melakukan semua item
tindakan. Pada tahap kerja perawat associate mampu melakukan 18 dari 20 item
tindakan, sedangkan pada tahap terminasi perawat associate melakukan semua item
tindakan sesuai dengan checklist SOP. Hasil supervisi perawat associate mendapatkan
nilai 87 (41 YA dari total 47 item) yang artinya perawat associate kompeten dalam
melakukan perawatan luka.
Hasil supervisi yang diperoleh digunakan untuk menilai kompetensi klinis
perawat asociate dan digunakan sebagai bahan evaluasi terhadap kebutuhan sarana dan
prasarana penunjang tindakan klinis. Pelaksanaan tindakan supervisi oleh Mahasiswa
Praktik Profesi Ners tidak menemukan kendala yang berarti dalam pelaksanaanya baik
pada saat persiapan maupun pada saat pelaksanaan supervisi.