Anda di halaman 1dari 21

Erwin Nugroho Indhi, S.

KH 061913143004
Satya Alysa Cahya Putri, S.KH 061913143058
Umi Mufida, S.KH 061823143045
Nur Zayn Narulita, S.KH 061913143056 LAPORAN
Tanika Putri Hasanah, S.KH 061913143087 PEMERIKSAAN
Fristi Sintya Herawati, S.KH 061913143072
HASIL NEKROPSI
Dinda Jelita Jauharah, S.KH 061913143019
Ramadhana Yoga Prabawa, S.KH 061913143172 DOMBA
Azizah Bilqis Nurkarimah, S.KH 061913143082
Astarina Wili Martha, S.KH 061913143093
Pavithra A/P Santhara Morgan, S.KH 061913143095
Muhamad Agung Prabowo 061913143006

Oleh:
DEPARTEMEN PATOLOGI VETERINER
PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN XXXIII
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA

2020

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Nekropsi merupakan suatu prosedur untuk melakukan pemeriksaan yang cepatdan


rinci secara patologi anatomi untuk mengetahui sebab-sebab kematian seekor
atausekelompok hewan yang dalam hal ini adalah domba sehingga dapat
dilakukan penanggulangan.Pada nekropsi yang dilakukan adalah mengamati beberapa
organdalam yang mengalami perubahan atau kelainan sehingga dapat dijadikan
sumber dugaan bahwa hewan tersebur terserang suatu penyakit dengan melakukan
pembedaan (Tabbu, 2002).

Kerugian akibat infeksi parasit khususnya cacing pada ternak di Indonesia sangat
besar. Hal ini akibat cacing parasit menyerap zat-zat makanan, menghisap darah
/cairan tubuh, atau makan jaringan tubuh ternak. Cacing parasit juga menyebabkan
kerusakan pada sel-sel epitel usus sehingga dapat menurunkan kemampuan usus
dalam proses pencernaan dan penyerapan zat-zat makanan serta produksi enzim-
enzim yang berperanan dalam proses pencernaan. Selain itu berkumpulnya parasit
dalam jumlah besar di usus atau lambung ternak dapat menyebabkan penyumbatan
atau obstruksi sehingga proses pencernaan makanan terganggu.

Helminth adalah istilah umum yang berarti cacing. Cacing adalah invertebrata
yang ditandai dengan tubuh memanjang, rata atau bundar. Dalam skema yang
berorientasi medis, cacing pipih atau platyhelminths (platy dari akar kata bahasa
Yunani yang berarti "flat") termasuk cacing dan cacing pita. Cacing gelang adalah
nematoda (nemato dari akar kata bahasa Yunani yang berarti "utas"). Kelompok-
kelompok ini dibagi lagi untuk kenyamanan sesuai dengan organ inang tempat
mereka tinggal, misalnya cacing paru-paru, cacing pita ekstraintestinal, dan cacing
gelang usus. Bab ini membahas struktur dan pengembangan tiga kelompok utama
cacing.

Domba dan domba muda paling rentan terhadap infeksi cacing. Dua parasit
paling serius adalah cacing Haemonchus contortus dan cacing Oesophagostomum
columbianum. Untuk tingkat yang lebih rendah cacing perut yang lebih kecil
(Ostertagia spp.) Dan kompleks "diare cacing" (Trichostrongyles) di usus kecil
berkontribusi terhadap penyakit. Semua cacing ini muncul bersamaan untuk
menghasilkan penyakit yang parah pada hewan yang sangat terinfeksi. Bukti
menunjukkan peran patogen yang relatif kecil oleh cacing pita pada domba.

Tanda-tanda helminthiasis dapat bervariasi dengan spesies parasit yang


berbeda. Terjadinya parasit bervariatif cenderung tumpang tindih selama musim
penggembalaan. Gambaran yang hampir konstan tentang kawanan domba yang
terkena dampak adalah gambaran di mana domba dan anak muda tidak menunjukkan
kondisi sehat yang normal tetapi menunjukkan penurunan progresif dalam kebugaran
dan kecenderungan untuk menyerah pada berbagai penyakit. Wol bagian belakang
tampak gelap bernoda yang mengindikasikan "gerusan" kronis.

1.2 TUJUAN
1. Mengetahui cara nekropsi, mengambil sampel, pembuatan preparat
histopatoloi, dan interpretasi hasil diagnosis yang baik dan benar.
2. Mengetahui perubahan makroskopis dan mikroskopis dari organ –organ yang
mengalami perubahan patologis dari suatu penyakit.
3. Mengetahui diagnose suatu penyakit akibat perubahan patologi anatomi.

1.3 MANFAAT
1. Dapat lebih menguasai hasil diagnose penyakit yang ditemui saat nekropsi
2. Dapat mengedukasi peternak tentang menajemen mereka dengan baik.
3. Agar dapat menghindari penyakit

BAB II

IDENTITAS

2.1 Anamnesa

Hewan : Domba
Ras : Domba Sapudi
Jenis kelamin : Betina
Pemilik : Bapak Roby
Alamat : Ketosono
2.2 METODE NEKROPSI

Cara bedah kadaver ruminansia:

1. Amati keadaan umum hewan saat masih hidup


2. Domba disembelih menurut kaidah ASUH
3. Rebahkan kiri left lateral rekumbency dengan kepala di sebelah kiri secan
4. Buat irisan dari mandibula sampai arcus ischiadichuis, hindari ambing dan
penis /irisan kulit digaris median tubuh mulai dari leher, dada, perut.
5. Lepaskan keempat tungkai (kaki) dari tubuh dengan cara membuat irisan
pada ketiak dan dilipat paha sambil mematahkan sendi pangkal paha.
Dengan demikian hewan lebih mudah terlentang.
6. Kuliti bagian ventral dan lateral , amati jaringan otot dan kelenjar limfe
bawah kulit
7. Membuka rongga perut :
 insisi otot sepanjang garis median perut (peritoneum ditusuk),
 iris menyamping mulai dari ujung proc. Xipoideus mengikuti tulang
rusuk terakhir sampai ditepi muka panggul.
 Buat irisan tegak lurus terhadap irisan memanjang yang pertama,
diantara tulang rusuk terakhir dan tubercoxae.
 Potong otot dinding perut dan dilepaskan.
 Selanjutnya amati diafragma, peritoneum dan organ viscera hewan,
letak alat-alat tubuh di dalam rongga perut)
8. Membuka rongga dada :
 Periksa diafragma (normal: melengkung kearah rongga dada)
 Dinding rongg dada ditusuk diantara dua tulang rusuk
 Potong costae pada daerah costochondral kanan dan kiri
 Iris muskulus. Intercostalis
 Patahkan costae satu per satu
 Dinding thorak di buka
 rongga dada dengan memeriksa adanya cairan di dalamnya
 Amati letak organ.
9. Mengeluarkan isi rongga dada :
 Isi rongga dada (jantung, paru2) dikeluarkan bersama-sama dengan
lidah dan trachea
 Keluarkan lidah, tulang lidah dipotong pada sendi rawan0
 Trachea dilepaskan dari pertautan otot2 leher dan esophagus
 Aorta dipotong pada tempat ia menyilang esophagus, kerongkongan
dikeluarkan dan dipotong dipertengahan leher.
 Paru-paru dilepaskan, mulut dari belakang vena cava dipotong
 Paru-paru, jantung trachea dan lidah dikeluarkan bersama
 Pada dugaan pneumonia dilakukan uji apung pada paru-pari
 Periksa keadaan dan isi pericardium
 Amati jantung (normal: ujung meruncing), bandingkan dengan besar
hewan
BAB III

HASIL NEKROPSI

Organ : Pulmo Deskripsi Lesi :


Makroskopis  Terdapat bentukan impresio
costalis pada permukaan pulmo.
 Warna pulmo tampak keabu-
abuan
 Ukuran pulmo membesar.
 Konsistensipulmo elastis.
 Apabila disayat konsistensinya
mirip daging.

Mikroskopis  Lumen alveoli tampak kosong


 Septa alveoli menebal.
 Terdapat infiltrasi sel radang
PMN pada septa alveoli.
 Terdapat kongesti pada septa
alveoli.
Organ : Usus Deskripsi Lesi
Makroskopis  Organ tampak pucat
 Terdapat hemoragi pada usus
 Terdapat infestasi cacing
Moniezia sp. pada organ

Mikroskopis  Terdapat proliferasi sel goblet


 Terdapat bentukan vakuola
lemak
 Inti sel terdesak ketepi

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Diagnosa

Domba yang dinekropsi diduga mengalami Helminthiasis.

A. Etiologi dan Patogenesis

Berdasarkan pembedahan domba cacing yang ditemukan adalah


Moniezia expansa. Umumnya dikenal sebagai cacing pita domba atau cacing
pita ruminansia berpori ganda .Moniezia expansa cacing pita besar yang
menghuni usus kecil hewan pemamah biak seperti domba , kambing , dan sapi.
M. expansa memiliki tubuh berbentuk cestode yang khas, terdiri dari skoleks
anterior, diikuti oleh leher dan tubuh yang sangat panjang berbentuk
strobilus . Cacing ini dapat mencapai panjang hingga 6-10 m. Dengan
bentukan yang khas yakni tidak mempunyai kait dan rostellum pada scolex
serta mempunyai alat reproduksi ganda pada setiap proglotid.

Pada uumnya anak kambing,domba dan sapi dibawah umur 6


bulanpaling sering terinfeksi. Infeksi yang hebat pada kambing dan domba
berhubungan erat dengan jumlah oribated mites yang ada di padang rumput.
Bila pengembalaan dilakukan pada padang rumput yang sama/tetap maka
jumlah mites akan banyak sekali baik pada rumput maupun tanah. Mites ini
mempunyai kebiasaan pada malam hari / senja naik ke ujung rumput atau
bagian rumput yang gelap pada siang hari bersembuyi di dasar rumput yang
tidak tercapai oleh sinar atau permukaan tanah ( bersifat fototropisme
negatif). Cacing muda maupun dewasa dapat menimbulkan iritasi pada usus
sehingga menyebabkan gangguan pencernaan pada usus.

B. Gejala Klinis
Infeksi M.
expansa umumnya
tidak berbahaya dan
tidak bergejala ,
bahkan ketika cacing
pita ada dalam jumlah besar pada domba muda. Namun infeksi berat
dapat menyebabkan obstruksi usus, diare dan penurunan berat badan.
Bentuk akut dapat terjadi intoksikasi akibat dari racun yang dihasilkan
(dieksresi) oleh cacing dewasa. Pada infeksi ringan menyebabkan
gangguan pencernaan dan pertumbuhan lambat, Gejala klinis pada
umumnya tidak jelas dan biasanya terlihat kelemahan dan kekurusan,
Pada infeksi yag berat menimbulkan anemia, diare profus,
pertumbuhan lambat, kekurusan, kelemahan dan bisa bersifat fatal
terutama sering terjadi pada anak sapi.

4.2 Patologi Anatomi

Organ : Hepar
Deskripsi Lesi :
1. Organ tampak normal
2. Ukuran organ
normal

Deskripsi Lesi :
1. Organ tampak normal pada sayatan
2. Konsistensi organ normal

Organ : Kantong Empedu


Deskripsi Lesi :
1. Organ tampak normal
Organ : Pulmo
Deskripsi Lesi :
1. Ukuran organ masih normal
2. Terdapat endapan yang berwarna hitam pada permukaan
organ
3. Konsistensi organ mengeras
Organ : Lien
Deskripsi Lesi :
1. Organ tampak normal
2. Organ tampak normal pada sayatan

Organ : Jantung
Deskripsi Lesi :
1. Ukuran organ normal
2. Organ tampak normal pada sayatan
Organ : Ginjal
Deskripsi Lesi :
1. Ukuran ginjal normal
2. Organ tampak normal pada sayatan

Organ : Oesophagus
Deskripsi Lesi :
1. Organ tampak normal
Organ :
Trakea
Deskripsi Lesi :
1. Organ tampak normal

Organ : Usus halus


Deskripsi Lesi :
1. Organ tampak normal
2. Terdapat infestasi cacing Moniezia sp. pada organ
Organ : Lambung (Rumen)
Deskripsi Lesi :
1. Organ tampak normal

Organ : Lambung (Abomasum)


Deskripsi Lesi :
1. Organ tampak normal
Organ : Lambung (Omasum)
Deskripsi Lesi :
1. Organ tampak normal

Organ : Lambung (Retikulum)


Deskripsi Lesi :
1. Organ tampak normal
Organ : Otak
Deskripsi Lesi :
1. Organ tampak normal

4.3 Pembahasan Histopatologi

4.4 Pengendalian dan Pencegahan


Pengendalian penyakit cacingan merupakan salah satu usaha untuk mendapatkan
hasil peternakan yang optimal. Cara yang dilakukan agar peternakan terhindar dari
penyakit cacingan adalah dengan dilakukannya pencegahan yaitu:
 Pemberian obat cacing. Pengobatan akan sia-sia jika penyakit cacingan
sudah parah. Sebaiknya dilakukan pengobatan secara rutin untuk
memotong siklus hidup cacing.
 Pemberian pakan berkualitas dengan kandungan nutrisi dan jumlah yang
cukup. Kualitas pakan, baik rumput maupun konsentrat, yang baik dapat
membantu meningkatkan daya tahan ternak karena nutrisi yang diperlukan
tercukupi.
 Melakukan sanitasi kandang dan peralatan peternakan meliputi kandang
dibersihkan, dicuci dan disemprot dengan desinfektan serta memotong
rumput disekitar area peternakan. Melakukan sanitasi kandang sehingga
telur Moniezia expansa tidak dapat berkembang baik.
 Ternak sapi sebaiknya tidak digembalakan terlalu pagi karena pada waktu
tersebut larva cacing biasanya dominan berada di permukaan rumput yang
masih basah. Guna memutus siklus hidup cacing, sebaiknya sistem
penggembalaan dilakukan secara bergilir. Artinya sapi tidak terus-menerus
digembalakan di tempat yang sama. Pemberian rumput hijauan segar
sangat tidak dianjurkan pada ternak sapi yang dipelihara secara intensif.
Sebaiknya rumput dilayukan terlebih dahulu sebelum diberikan pada sapi
guna menghindari termakannya larva cacing yang menempel pada rumput
 Monitoring telur dan larva cacing perlu dilakukan secara rutin (2-3 bulan
sekali) melalui uji feses. Uji feses ini bertujuan untuk menemukan telur
cacing baik secara kualitatif (jenis telur cacing) dan secara kuantitatif
(jumlah telur cacing tiap 1 gram feses).
 Mengurangi kepadatan kandang, karena dapat memberi peluang yang
tinggi bagi infestasi cacing.
 Melakukan pemeriksaan kesehatan dan program pemberian obat cacing
secara teratur. Pemberian obat cacing merupakan langkah utama dalam
upaya pengendalian dan penanganan cacingan baik pada pedet maupun
sapi dewasa. Program pemberian anthelmintika/ obat cacing sebaiknya
dilakukan sejak masih muda (umur 7 hari) dan diulang secara berkala
setiap 2-3 bulan sekali guna membasmi cacing secara tuntas dan memutus
siklus hidup parasit tersebut. Produk anthelmintika Medion yang dapat
digunakan untuk memberantas cacing gilig, cacing daun dan cacing pita
pada sapi yaitu Wormectin Plus dan Wormzol-B.
 Pemberian ransum dengan kandungan mineral dan protein yang cukup
untuk menjaga daya tahan tubuh tetap baik.
 Mencegah kandang becek, seperti menjaga litter tetap kering, tidak
menggumpal dan tidak lembab.
 Cara untuk mencegah masuknya cacing ini adalah dengan memperhatikan
kebersihan pakan, sehingga tidak terdapat tungau yang bisa membawa
Moniezia expansa masuk kedalam tubuh hospes.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pemeriksaan makroskopis dan mikroskopis dari nekropsi
ini dijumpai adanya gangguan pada sistem pencernaan. Bila dilihat berdasarkan
gangguan tersebut, ayam yang dinekropsi ini menuju pada penyakit
helminthiasis. Untuk mengetahui lebih lanjut perlu dilakukan pemeriksan
laboratorium.
5.2. Saran atau Rekomendasi
Saran yang dapat diberikan kepada peternak adalah perlu memperhatikan
manajemen sanitasi kandang dan lingkungan agar tidak terkontaminasi dengan
parasit ataupun bakteri, serta pemberian pakan yang baik.

DAFTAR PUSTAKA

Bendryman S. S., Koesdarto S., Sosiawati S. M., Kusnoto 2014. BUKU TEKS
Helmintiasis Veteriner. Global Persada Press - Surabaya.

Tabbu C.R. 2002. Penyakit Ayam dan Penanggulangannya.Kanisius;Yogyakarta.


https://en.wikipedia.org/wiki/Moniezia_expansa
https://www.medion.co.id/id/pengendalian-cacingan-pada-ternak-sapi-2/
https://ariputuamijaya.wordpress.com/2011/12/10/moneizia-expansa/