Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PENDAHULUAN

STROKE NON HEMORAGIK

Disusun oleh :
ERNY PADU LEMBA
NIM : SN191044

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


STIKES KUSUMA HUSADA SURAKARTA
TAHUN AJARAN 2019/2020

1
LAPORAN PENDAHULUAN STROKE NON HEMORAGIK

A. KONSEP PENYAKIT
1. DEFINISI
Stroke atau cedera cerebrovaskuler adalah kehilangan fungsi otak yang
diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak (Suzanne, 2010).
Stroke atau cedera cerebrovaskuler adalah gangguan neurologik mendadak
yang terjadi akibat pembatasan atau terhentinya aliran darah melalui system
suplai arteri otak (Price, 2011)
Stroke non hemoragik adalah sindroma klinis yang awalnya timbul
mendadak, progresi cepat berupa deficit neurologis fokal atau global yang
berlangsung 24 jam atau lebih atau langsung menimbul kematian yang
disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak non straumatik (Mansjoer,
2010).
Stroke non hemoragik merupakan proses terjadinya iskemia akibat
emboli dan trombosis serebral biasanya terjadi setelah lama beristirahat, baru
bangun tidur atau di pagi hari dan tidak terjadi perdarahan. Namun terjadi
iskemia yang menimbulkan hipoksia dan selanjutnya dapat timbul edema
sekunder. (Muttaqin, 2010).
2. ETIOLOGI
Pada tingkatan makroskopik, stroke non hemoragik paling sering
disebabkan oleh emboli ekstrakranial atau trombosis intrakranial. Selain itu,
stroke non hemoragik juga dapat diakibatkan oleh penurunan aliran serebral.
Pada tingkatan seluler, setiap proses yang mengganggu aliran darah menuju
otak menyebabkan timbulnya kaskade iskemik yang berujung pada terjadinya
kematian neuron dan infark serebri.
1) Emboli
a. Embolus yang dilepaskan oleh arteria karotis atau vertebralis, dapat
berasal dari “plaque athersclerotique” yang berulserasi atau dari
trombus yang melekat pada intima arteri akibat trauma tumpul pada
daerah leher.

2
b. Embolisasi kardiogenik dapat terjadi pada:
1) Penyakit jantung dengan “shunt” yang menghubungkan bagian
kanan dan bagian kiri atrium atau ventrikel.
2) Penyakit jantung rheumatoid akut atau menahun yang meninggalkan
gangguan pada katup mitralis.
3) Fibrilasi atrium
4) Infarksio kordis akut
5) Embolus yang berasal dari vena pulmonalis
6) Kadang-kadang pada kardiomiopati, fibrosis endrokardial, jantung
miksomatosus sistemik
c. Embolisasi akibat gangguan sistemik dapat terjadi sebagai:
1) Embolia septik, misalnya dari abses paru atau bronkiektasis
2) Metastasis neoplasma yang sudah tiba di paru.
3) Embolisasi lemak dan udara/gas N (seperti penyakit “caisson”).
Emboli dapat berasal dari jantung, arteri ekstrakranial, ataupun
dari right-sided circulation (emboli paradoksikal). Penyebab
terjadinya emboli kardiogenik adalah trombi valvular seperti pada
mitral stenosis, endokarditis, katup buatan), trombi mural (seperti
infark miokard, atrial fibrilasi, kardiomiopati, gagal jantung
kongestif) dan atrial miksoma. Sebanyak 2-3 persen stroke emboli
diakibatkan oleh infark miokard dan 85 persen di antaranya terjadi
pada bulan pertama setelah terjadinya infark miokard.
2) Thrombosis
Stroke trombotik dapat dibagi menjadi stroke pada pembuluh darah
besar (termasuk sistem arteri karotis) dan pembuluh darah kecil (termasuk
sirkulus Willisi dan sirkulus posterior). Tempat terjadinya trombosis yang
paling sering adalah titik percabangan arteri serebral utamanya pada
daerah distribusi dari arteri karotis interna. Adanya stenosis arteri dapat
menyebabkan terjadinya turbulensi aliran darah (sehingga meningkatkan
resiko pembentukan trombus aterosklerosis (ulserasi plak), dan
perlengketan platelet.

3
Penyebab lain terjadinya trombosis adalah polisetemia, anemia sickle
sel, defisiensi protein C, displasia fibromuskular dari arteri serebral, dan
vasokonstriksi yang berkepanjangan akibat gangguan migren. Setiap
proses yang menyebabkan diseksi arteri serebral juga dapat menyebabkan
terjadinya stroke trombotik (contohnya trauma, diseksi aorta thorasik,
arteritis).
Silvya (2010).
3. MANIFESTASI KLINIS
Tanda dan gejala dari stroke adalah (Baughman,2012):
a. Kehilangan motorik: Disfungsi motorik paling umum
adalah hemiplegia (paralisis pada salah satu sisi)
dan hemiparesis (kelemahan salah satu sisi) dan disfagia
b. Kehilangan komunikasi:Disfungsi bahasa dan komunikasi
adalah disatria (kesulitan berbicara) atau afasia (kehilangan berbicara).
c. Gangguan persepsi: Meliputi disfungsi persepsi visual humanus,
heminapsia atau kehilangan penglihatan perifer dan diplopia, gangguan
hubungan visual, spesial dan kehilangan sensori
d. Kerusakan fungsi kognitif parestesia (terjadi pada sisi yang berlawanan).
e. Disfungsi kandung kemih meliputi: inkontinensiaurinarius transier,
inkontinensia urinarius peristen atau retensi urin (mungkin simtomatik
dari kerusakan otak bilateral), Inkontinensia urinarius dan defekasiyang
berlanjut (dapat mencerminkan kerusakan neurologi ekstensif).
Tanda dan gejala yang muncul sangat tergantung dengan daerah otak yang
terkena:
1) Penngaruh terhadap status mental: tidak sadar, konfus, lupa tubuh
sebelah
2) Pengaruh secara fisik: paralise, disfagia, gangguan sentuhan dan
sensasi, gangguan penglihatan
3) Pengaruh terhadap komunikasi, bicara tidak jelas, kehilangan bahasa.
Dilihat dari bagian hemisfer yang terkena tanda dan gejala dapat
berupa:

4
Hemisfer kiri Hemisfer kanan
Mengalami hemiparese kanan Hemiparese sebelah kiri tubuh
Perilaku lambat dan hati-hati Penilaian buruk
Kelainan lapan pandang kanan Mempunyai kerentanan terhadap sisi
Disfagia global kontralateral sehingga
Afasia memungkinkan terjatuh ke sisi yang
Mudah frustasi berlawanan tersebut

4. KOMPLIKASI
Setelah mengalami stroke pasien mungkin akan mengalami
komplikasi,komplikasi ini dapat dikelompokan berdasarkan:
1. Berhubungan dengan immobilisasi infeksi pernafasan, nyeri pada daerah
tertekan, konstipasi dan thromboflebitis.
2. Berhubungan dengan paralisis nyeri pada daerah punggung, dislokasi
sendi, deformitas dan terjatuh
3. Berhubungan dengan kerusakan otak epilepsi dan sakit kepala.
4. Hidrocephalus Individu yang menderita stroke berat pada bagian otak
yang mengontrol respon pernapasan atau kardiovaskuler dapat
meninggal.
Baughman, 2012
5. PATOFISIOLOGI
Infark ischemic cerebri sangat erat hubungannya
dengan aterosklerosis dan arteriosklerosis. Aterosklerosis dapat
menimbulkan bermacam-macam manifestasi klinis dengan cara:
a. Menyempitkan lumen pembuluh darah dan mengakibatkan insufisiens
aliran darah.
b. Oklusi mendadak pembuluh darah karena terjadinya thrombus dan
perdarahan aterm.
c. Dapat terbentuk thrombus yang kemudian terlepas sebagai emboli.

5
d. Menyebabkan aneurisma yaitu lemahnya dinding pembuluh darah atau
menjadi lebih tipis sehingga dapat dengan mudah robek.
Faktor yang mempengaruhi aliran darah ke otak:
a. Keadaan pembuluh darah.
b. Keadan darah : viskositas darah meningkat, hematokrit meningkat, aliran
darah ke otak menjadi lebih lambat, anemia berat, oksigenasi ke otak
menjadi menurun.
c. Tekanan darah sistemik memegang peranan perfusi otak. Otoregulasi otak
yaitu kemampuan intrinsik pembuluh darah otak untuk mengatur agar
pembuluh darah otak tetap konstan walaupun ada perubahan tekanan
perfusi otak.
d. Kelainan jantung menyebabkan menurunnya curah jantung dan karena
lepasnya embolus sehingga menimbulkan iskhemia otak.
Suplai darah ke otak dapat berubah pada gangguan fokal (thrombus,
emboli, perdarahan dan spasme vaskuler) atau oleh karena gangguan
umum (Hypoksia karena gangguan paru dan
jantung). Arterosklerosissering/cenderung sebagai faktor penting terhadap
otak. Thrombus dapat berasal dari flak arterosklerotik atau darah dapat
beku pada area yang stenosis, dimana aliran darah akan lambat atau
terjadi turbulensi. Oklusi pada pembuluh
darah serebral oleh embolus menyebabkan oedema dan nekrosis diikuti t
hrombosis dan hypertensi pembuluh darah. Perdarahan intraserebral yang
sangat luas akan menyebabkan kematian dibandingkan dari keseluruhan
penyakit cerebrovaskuler. Anoksia serebral dapat reversibel untuk jangka
waktu 4-6 menit. Perubahan irreversible dapat anoksia lebih dari 10 menit.
Anoksia serebral dapat terjadi oleh karena gangguan yang bervariasi, salah
satunya cardiac arrest.
Baughman, 2011.

6
7
Pathway

8
6. Penatalaksanaan Medis
a. Perawatan umum
1) Jalan nafas dibebaskan dari lendir dan lidah
2) Tensi dipertahankan pada tingkat optimal
3) Masukan kalori dan keseimbangan cairan elektrolit dipertahankan
b. Tindakan medis terhadap pasien stroke meliputi:
1) Diuretik untuk menurunkan edema serebral, yang mencapai tingkat
maksimum 3- 5 hari setelah infrak serebral.
2) dapat diresepkan untuk mencegah terjadinya atau memberat trombosis
atau embolisasi dari tempat lain dalam sistem kardiovaskuler.
3) Medikasi antitrombosit dapat diresepkan karena trombosit memainkan
peran sangat penting dalam pembentukan trombus dan embolisasi.

9
ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
a) Riwayat
1. Meliputi identitas klien nama, umur, (kebanyakan terjadi pada usia
tua), jenis kelamin, pendidikan, alamat, perkerjaan, agama, suku
bangsa, tanggal dan jam masuk rumah sakit, nomor register, diagnosa
medis.
2. Keluhan utama
Biasa didapatkan anggota gerak sebelah badan, bicara pelo, dan tidak
dapat berkomunikasi.
3. Riwayat Penyakit sekarang
Serangan stroke, sering kali serangannya sangat mendadak pada saat
klien sedang melakukan aktifitas, biasanya terjadi nyeri kepala,
pusing, mual, bahkan kejang sampai tidak sadar, gejala kelumpuhan
separuh badan, atau gangguan pungsi otak lainnya.
4. Riwayat penyakit dahulu
Adanya riwayat hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung,
anemia, riwayat trauma kepala, kontraksi oral yang lama, pengunaan
obat anti koanggulan, aspirin dan kegemukan.
5. Riwayat penyakit keluarga
Biasanya ada riwayat keluarga yang menderita hipertensi dan diabetes
melitus.
b) Pola Gordon
1. Pola persepsi dan tata laksana hidup
Bagaimana pola hidup orang atau klien yang mempunyai penyakit
batu ginjal dalam menjaga kebersihan diri klien perawatan dan tata
laksana hidup sehat.

10
2. Pola nutrisi dan metabolism

Makanan/Cairan : gejalanya adalah nafsu makan hilang, mual


muntah selama fase akut (peningkatan TIK) kehilangan sensasi (rasa
kecap) pada lidah, pipi, dan tenggorakan, disfagia. Adanya riwayat
diabetes, peningkatan lemak dalam darah. Tandanya adalah kesulitan
menelan ( gangguan pada refleks palatum dan faringeal), obesitas
(faktor risiko)

3. Pola aktivitas dan latihan


Aktivitas : gejalanya adalah merasa kesulitan melakukan aktivitas
karena kelemahan, kehilangan sensasi atau paralisis (hemiplegia).
Merasa mudah lelah, susah untuk beristirahat (nyeri/kejang otot).
Tandanya adalah ganguan tonus otot (flaksid, spastis), paralitik
(hemiplegia), dan terjadi kelemahan umum. Ganguan penglihatan dan
gangguan tingkat kesadaran.
4. Pola eliminasi
Eliminasi : gejalanya adalah perubahan pola berkemih, seperti
inkontinensia urine, anuria. Distensi abdomen (distensi kandung
kemih berlebihan), bising usus negatif (ileus paralitik).
5. Pola tidur dan istirahat
Klien batu ginjal biasanya tidur dan istirahat kurang atau terganggu
karena adanya penyakitnya.
6. Pola persepsi dan konsep diri
gejalanya adalah peasaan tidak berdaya , putus asa. Tandanya adalah
emosi yang labil dan ketidaksiapan untuk marah, sedih, dan gembira.
Kesulitan untuk mengekspresikan diri.
7. Pola sensori dan kognitif
Keamanan : tandanya adalah motorik/ sensorik : maslah
dengan penglihatan. Kesulitan dalam menelan, tidak mampu untuk
memenuhi kebutuhan nutrisi sendiri (mandiri).

11
8. Pola reproduksi sexual
Apakah klien dengan nefrolitiasis dalam hal tersebut masih dapat
melakukan dan selama sakit tidak ada gangguan yang berhubungan
dengan produksi sexual.
9. Pola hubungan peran
Interaksi Sosial : Tandanya adalah maslah berbicara,
ketidakmampuan untuk berkomunikasi.
10. Pola penaggulangan stress
Klien dengan nefrolitiasis tetap berusaha dan selalu melakukan hal
yang positif jika stress muncul.
11. Pola nilai dan kepercayaan
Apakah Klien tetap berusaha dan berdo’a supaya penyakit yang di
derita ada obat dan dapat sembuh.
c) Pemeriksaan Fisik
a. Status Kesehatan
Tingkat kesadaran umumnya klien sadar penuh/compos mentis,
ekspresi wajah tampak menahan sakit.
b. Integumen
Apakah terdapat oedema, sianosis, kulit terlihat pucat.
d) Torax dan Paru
Infeksi bentuknya simetris atau tidak, apakah ada tidaknya sumbatan
jalan nafas, gerakan cuping hidung, apakah menggunakan alat bantu
dalam bernafas.
e) Abdomen
apakah ada pristaltik pada usus ditandai dengan distensi abdomen, nyeri
tekan atau adanya nyeri lepas, kekakuan, adanya penurunan bising usus.
f) Ekstremitas
Apakah ada keterbatasan dalam beraktivitas/bergerak lantaran adanya
nyeri yg dirasakan, juga apakah ada kekakuan.

12
6. Sirkulasi : gejalanya adalah riwayat jantung (MI, reumatik/penyakit
jantung vaskuler, GJK, endokarditis bakterial), polisitemia, riwayat
hipertensi postural. Tandanya adalah hipertensi arterial sehubungan
dengan adanya emboli/malformasi vaskuler. Nadi : frekuensi dapat
bervariasi (karena ketidakstabilan fungsi jantung/kondisi jantung,
obat – obatan, efek stroke pada pusat vasomotor). Disritmia,
perubahan EKG, desiran pada karotis, femoralis dan arteri iliaka oarta
yang abnormal.
7. Neurosensori : gejalanya adalah pusing/sinkope (sebelum serangan
/selama TIA), sakit kepala; akan sangat berat dengan adanya
perdarahan intraserebral atau suarakhnoid, kelemahan /kesemutan
/kebas (biasanya terjadi selama serangan TIA, yang ditemukan dalam
berbagai derajat pada stroke jenis yang lain); sisi yang terkena terlihat
seperti ”mati/lumpuh”. Penglihatan menurun, seperti buta total,
kehilangan daya lihat sebagian, (kebutaan monokuler), penglihatan
ganda(diplopia), dan gangguan yang lain. Sentuhan: hilangnya
rangsang sensorik kontralateral (pada sisi tubuh yang berlawanan)
pada ekstremitas dan kadang – kadang pada ipsilateral (yang satu sisi)
pada wajah. Ganguan rasa pengecapan dan penciuman. Tandanya
adalah status mental/ tingkat kesadaran: biasanya terjadi koma pada
tahap awal hemoragik : ketidaksadaran biasanya akan tetap sadar jika
penyebabnya adalah trombosis yang bersifat alami. Ekstremitas :
kelemahan/paralisis (kontralateral pada semua jenis stroke),
genggaman tidak sama, refleks tendon melemah secara kontralateral.
Afasia: gangguan atau kehilangan fungsi bahasa mungkin afasia
motorik (kesulitan untuk mengungkapkan kata), reseptif (afasia
sensorik), yaitu kesulitan untuk memahami kata – kata secara
bermakna, atau afasia global yaitu gabungan dari kedua hal dua hal
diatas. Kehilangan kemampuan menggunakan motorik saat pasien
ingin menggerakkan motorik saat pasien ingin menggerakkannya (

13
apraksia). Kekakuan nukal (biasanya karena pendarahan), kejang
(biasnya karena adanya pencetus pendarahan.
8. Nyeri/Ketidaknyamanan : gejalanya adalah sakit kepala dengan
intensitas berbeda – beda ( karena arteri karotis terkena). Tandanya
adalah tingkah laku yang tidak stabil, gelisah, ketegangan pada
otot/fasia.
9. Pernapasan ; gejalanya adalah merokok (faktor risiko). Tandanya
ketidakmampuan menelan/batuk/hambatan jalan nafas. Timbulnya
pernafasan sulit dan/atau tak teratur. Suara nafas terdengar/ronki
(aspirasi sekresi).p)
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ketidakefektifan Perfusi jaringan serebral berhubungan dengan aliran
darah ke otak terhambat
2. Defisit perawatan diri: makan, mandi, berpakaian, toileting
berhubungan kerusakan neurovaskuler
3. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan
neurovaskuler
4. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan immobilisasi
fisik

14
C. RENCANA KEPERAWATAN
N Diagnosa Tujuan Intervensi Ttd
o Keperawatan
1 Ketidakefektif Setelah dilakukan tindakan Monitoring neurologis
. an Perfusi keperawatan diharapkan  Monitor
jaringan suplai aliran darah keotak ukuran
serebral b.d lancar dengan kriteria hasil:  kesimetrisan,
aliran darah ke  Nyeri kepala / vertigo reaksi dan
otak berkurang sampai de-ngan bentuk pupil
terhambat. hilang  Monitor
 Berfungsinya saraf dengan tingkat
baik kesadaran
 Tanda-tanda vital stabil klien
 Monitr tanda-
tanda vital
 Monitor
keluhan nyeri
kepala, mual,
muntah
 Monitor
respon klien
terhadap
pengobatan
 Hindari
aktivitas jika
TIK
meningkat
 Observasi
kondisi fisik
klien

15
Terapi oksigen
 Bersihkan
jalan nafas
dari sekret
 Pertahankan
jalan nafas
tetap efektif
 Berikan
oksigen
sesuai intruksi
 Monitor
aliran
oksigen,
kanul oksigen
dan sistem
humidifier
 Beri
penjelasan
kepada klien
tentang
pentingnya
pemberian
oksigen
 Observasi
tanda-tanda
hipo-ventilasi
 Monitor
respon klien
terhadap

16
pemberian
oksigen
 Anjurkan
klien untuk
tetap
memakai
oksigen
selama
aktifitas dan
tidur

2 Defisit Setelah dilakukan tindakan  Kaji kamampuan klien


perawatan diri; keperawatan, diharapkan untuk perawatan diri
mandi,berpaka kebutuhan mandiri klien  Pantau kebutuhan
ian, makan, terpenuhi, dengan kriteria klien untuk alat-alat
hasil: bantu dalam makan,
 Klien dapat makan mandi, berpakaian dan
dengan bantuan orang toileting
lain / mandiri  Berikan bantuan pada
 Klien dapat mandi de- klien hingga klien
ngan bantuan orang lain sepenuhnya bisa
 Klien dapat memakai mandiri
pakaian dengan bantuan  Berikan dukungan
orang lain / mandiri pada klien untuk
 Klien dapat toileting menunjukkan aktivitas
dengan bantuan alat normal sesuai
kemampuannya
 Libatkan keluarga
dalam pemenuhan
kebutuhan

17
4 Kerusakan Setelah dilakukan tindakan  Ajarkan klien untuk
mobilitas fisik keperawatan selama, latihan rentang gerak
b.d kerusakan diharapkan klien dapat aktif pada sisi
neurovas-kuler melakukan pergerakan fisik ekstrimitas yang
dengan kriteria hasil : sehat
 Tidak terjadi kontraktur  Ajarkan rentang
otot dan footdrop gerak pasif pada sisi
 Pasien berpartisipasi ekstrimitas yang
dalam program latihan parese / plegi dalam
 Pasien mencapai toleransi nyeri
keseimbangan saat duduk  Topang ekstrimitas
 Pasien mampu dengan bantal untuk
menggunakan sisi tubuh mencegah atau
yang tidak sakit untuk mangurangi bengkak
kompensasi hilangnya  Ajarkan ambulasi
fungsi pada sisi yang sesuai dengan
parese/plegi tahapan dan
kemampuan klien
 Motivasi klien untuk
melakukan latihan
sendi seperti yang
disarankan
 Libatkan keluarga
untuk membantu
klien latihan sendi

5 Resiko Setelah dilakukan tindakan  Beri penjelasan pada


kerusakan perawatan selama, diharapkan klien tentang: resiko
integritas kulit pasien mampu mengetahui adanya luka tekan,
b.d tanda dan gejala luka

18
immobilisasi dan mengontrol resiko tekan, tindakan
fisik dengan kriteria hasil : pencegahan agar tidak
 Klien mampu menge- terjadi luka tekan)
nali tanda dan  Berikan masase
gejala adanya resiko sederhana
luka tekan  Ciptakan lingkungan
 Klien mampu berpartisi- yang nyaman
pasi dalam pencegahan  Gunakan lotion,
resiko luka tekan (masase minyak atau bedak
sederhana, alih ba-ring, untuk pelicin
manajemen nutrisi,  Lakukan masase
manajemen tekanan). secara teratur
 Anjurkan klien untuk
rileks selama masase
 Jangan masase pada
area kemerahan utk
menghindari
kerusakan kapiler
 Evaluasi respon klien
terhadap masase
 Lakukan alih baring
 Ubah posisi klien
setiap 30 menit- 2 jam
 Pertahankan tempat
tidur sedatar mungkin
untuk mengurangi
kekuatan geseran
- Batasi posisi semi
fowler hanya 30 menit

19
 Observasi area yang
tertekan (telinga, mata
kaki, sakrum, skrotum,
siku, ischium, skapula)
 Berikan manajemen
nutrisi
 Kolaborasi dengan
ahli gizi
 Monitor intake nutrisi
 Tingkatkan masukan
protein dan
karbohidrat untuk
memelihara ke-
seimbangan nitrogen
positif
 Berikan manajemen
tekanan
 Monitor kulit adanya
kemerahan dan pecah-
pecah
 Beri pelembab pada
kulit yang kering dan
pecah-pecah
 Jaga sprei dalam
keadaan bersih dan
kering
 Monitor aktivitas dan
mobilitas klien

20
 Beri bedak atau
kamper spritus pada
area yang tertekan
D. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan dan
diarahkan untuk respons klien terhadap intervensi keperawatan serta
sebatas mana tujuan / kriteria hasil sudah tercapai. Tujuan perawat
melakukan evaluasi adalah menentukan kemampuan klien dalam
mencapai tujuan yang telah di tentukan dan menilai efektivitas rencana
keperawatan
a. Perfusi jaringan cerebral adekuat
b. Pola nafas efektif
c. Peningkatan mobilitas sampai dengan maksimal
d. Kebutuhan nutrisi terpenuhi
e. Klien dapat tetap berkomunikasi
f. Klien dan keluarga tahu dan mengerti tentang informasi yang diberikan.
Nanda,2018-2020.

21
DAFTAR PUSTAKA

Docterman et all. (2016). Nursing Invention Classifications (NIC). Edisi keenam.


Elsevier Singapore Pte Ltd Academic.

Mansjoer, A dkk. 2011. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid Kedua. Jakarta: Media
Aesculapius FKUI

Muttaqin, Arif. 2012. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem


Persarafan. Jakarta: Salemba Medika

Maas et all. (2016). Nursing Out Comes (NOC). Edisi Kelima. Elsevier Singapore
Pte Ltd Academic.

Nanda International . Diagnosis Keperawatan: definisi & Klasifikasi. 2018-2020.


Edisi 11. Jakarta : EGC

Price, A. Sylvia.2010 Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit edisi 4.


Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Smeltzer, dkk. 2010. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth
Edisi 8 Vol 2. alih bahasa H. Y. Kuncara, Andry Hartono, Monica Ester,
Yasmin asih. Jakarta: EGC

22

Anda mungkin juga menyukai