Anda di halaman 1dari 27

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Remaja
Remaja pada umumnya didefinisikan sebagai orang-orang yang

mengalami masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa.

Menurut WHO remaja (adolescence) adalah mereka yang berusia 10 – 19

tahun. Sementara dalam terminologi lain menyebutkan anak muda (youth)

untuk mereka yang berusia 15 -24 tahun. Ini kemudian disatukan dalam

sebuah terminologi kaum muda (young people) yang mencakup usia 10-24

tahun. Sementara itu dalam program BKKBN disebutkan bahwa remaja

adalah mereka yang berusia 10-24 tahun (Marmi, 2013).


Masa remaja adalah masa yang penuh dengan kegoncangan taraf

mencari identitas diri dan merupakan periode yang paling berat. Selain itu

remaja juga dapat didefinisikan dengan mereka yang telah meninggalkan

masa kanak-kanak yang penuh dengan ketergantungan dan menuju masa

pembentukan tanggung jawab (Hurlock dalam Marmi, 2013).


Remaja atau adolescence , berasal dari bahasa latin adolescence yang

berarti tumbuh kearah kematangan. Kematangan yang dimaksud adalah

bukan hanya kematangan fisik saja tetapi juga kematangan sosial dan

psikologis (Marmi, 2013).

Remaja merupakan fase kehidupan manusia yang spesifik. Pada saat usia

remaja terjadi peningkatan hormon-hormon seksual. Peristiwa ini berdampak

macam-macam pada fisik dan jiwa remaja. Secara fisik akan muncul apa yang

9
10

disebutsebagai tanda-tanda seks sekunder seperti payudara membesar, bulu-

bulu kemaluan tumbuh, menstruasi pada perempuan dan mimpi basah pada

laki-laki. Secara psikologis muncul dorongan birahi yang besar tetapi juga

secara psikologis mereka masaih dalam peralihan dari anak-anak kedewasa.

Secara biologis aktivitas organ dan fungsi reproduksi mereka meningkat pesat

tetapi secara psikoloogis aktivitas organ dan fungsi reproduksi mereka

meningkat pesat tetapi secara psikologis dan sosiologis mereka dianggap

belum siap menjadi dewasa. Konflik yang terjadi antara berbagai

perkembangan tersebut membuat mereka juga beresiko mengalami masalah

kesehatan seksual dan kesehatan reproduksi tersendiri (Mahfina, et al 2009).

B. Menstruasi
1. Definisi
Menstruasi atau mens atau haid atau datang bulan adalah perdarahan

yang terjadi secara berulang setiap bulannya (kecuali saat kehamilan) pada

uterus seorang wanita dikarenakan adanya proses deskuamasi atau

peluruhan dinding rahim (endometrium). Menstruasi biasanya terjadi

selama 3-5 hari, tetapi ada juga yang mengalami perdarahan selama 1-2

hari yang diikuti terjadinya perdarahan kembali sedikit demi sedikit.

Bahkan ada juga yang sampai 7-8 hari, tetapi biasanya lama terjadinya

perdarahan menstruasi itu pada setiap wanita bersifat menetap. Saat

menstruasi seseorang dapat kehilangan darah rata-rata 33,2 atau kurang

lebih 16 ml. Pada wanita yang usianya lebih tua biasanya jumlah darah haid

yang keluar akan lebih banyak menstruasi yang terjadi pertama kali,
11

disebut menarche, paling sering terjadi pada usia 11 tahun tetapi bisa juga

terjadi pada usia 8 tahun atau 16 tahun (Irianto, 2015).


2. Fisiologi Menstruasi menurut Kusmiran (2011) yaitu :
a. Stadium menstruasi
Stadium ini berlangsung selam 3-7 hari. Pada saat itu, endometrium

(selaput rahim) dilepaskan sehingga timbul perdarahan. Hormon-hormon

ovarium berada pada kadar-kadar yang paling rendah .


b. Stadium proliferasi
Stadium ini berlangsung pada 7-9 hari. Dimulai sejak berhentinya darah

menstruasi sampai hari ke-14. Setelah menstruasi berakhir, dimulailah

fase proliferasi dimana terjadi pertumbuhan dari desidua fungsionalis

yang mempersiapkan rahim untuk perlekatan janin. Pada fase ini

endometrium tumbuh kembali. Antara hari ke-12 sampai 14 dapat terjadi

pelepasan sel telur dari indung telur (ovulasi).


c. Stadium sekresi
Stadium sekresi berlangsung11 hari. Masa sekresi adalah masa sesudah

terjadinya ovulasi. Hormon progesteron dikeluarkan dan memengaruhi

pertumbuhan endometrium untuk membuat kondisi rahim siap untuk

implantasi (perlekatan janin ke rahim).


d. Stadium premenstruasi
Stadium yang berlangsung selama 3 hari. Ada infiltrasi sel-sel darah

putih, bisa sel bulat. Stroma mengalami disintegrasi dengan hilangnya

cairan dan sekret sehingga akan terjadi kolaps dari kelenjar dan arteri.

Pada saat ini terjadi vasokontriksi, kemudian pembuluh darah itu

berelaksasi dan akhirnya pecah.


3. Tanda dan gejala menstruasi yang dirasakan oleh remaja saat menstruasi

menurut Sinaga (2017) dalam manajemen kesehatan menstruasi adalah:


a. Pembengkakan dan rasa nyeri pada payudara
b. Timbul jerawat
c. Nafsu makan meningkat, terutama terhadap cemilan yang manis dan asin
12

d. Berat badan bertambah


e. Perut terasa mulas dan kembung, bahkan kadang-kadang keram
f. Konstipasi (sembelit)
g. Sakit kepala
h. Pegal linu, keram
i. Kadang-kadang terjadi pembengkakan di ujung-ujung jari, tangan, atau

kaki
j. Nyeri punggung
k. Lemas atau lesu
l. Mudah lelah
m. Mudah cemas dan tersinggung, uring-uringan, depresi
n. Sulit berkonsentrasi
o. Gangguan tidur (insomnia)
4. Gangguan menyertai menstruasi, yaitu :
a. Premenstrual Tension
Merupakan gangguan menstruasi yang menyertai menstruasi yang biasa

di jumpai pada wanita reproduktif. Hal ini diakibatkan oleh kejiwaan

yang labil dan ketidakseimbangan estrogen dan progesterondi dalam

tubuh.
b. Mastalgia
Ada nya keluhan berupa bengkak dan berat pada payudara ketika

menstruasi. Ini diakibatkan oleh hormon estrogen yang menyebabkan

retensi air dan natrium pada payudara.


c. Mittelschmerz
Merupakan rasa nyeri yang terjadi pada masa ovulasi.
d. Dismenore
Merupakan haid yang nyeri yang diakibatkan oleh penimbunan kadar

prostaglandin di uterus.

C. Dismenore
1. Pengertian
Dismenore adalah nyeri sewaktu haid. Dismenore terdiri dari gejala

yang kompleks berupa kram perut bagian bawah yang menjalar ke


13

punggung atau kaki dan biasanya disertai gejala gastrointestinal dan gejala

neurologis seperti kelemahan umum (Irianto, 2015).


Dismenore adalah nyeri haid yang terasa sebelum atau selama

menstruasi yang biasanya bersifat kramdan berpusat pada perut bagian

bawah dan terkadang sampai parah sehingga mengganggu aktivitas (Chang

et al, 2010).
Dismenore nyeri kram atau tegang di daerah perut, mulai terjadi pada

24 jam sebelum terjadinya pendarahan menstruasi dan dapat bertahan 24-36

jam meskipun beratnya hanya berlangsung 24 jam pertama (Hendrik, 2006).

Dismenore adalah haid yang nyeri yang terjadi tanpa tanda-tanda infeksi

atau penyakit panggul (Corwin , 2009).


Dari beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa dismenore

merupakan suatu ketidaknyamanan yang dirasakan wanita pada saat

menstruasi yang terjadi tanpa tanda – tanda infeksi atau pun penyakit

panggul yang ditandai dengan nyeri kram pada abdomen bagian bawah

yang dialami selama hari – hari pertama atau kedua saat menstruasi terjadi.
2. Klasifikasi Dismenore
Dalam buku Prawirohardjo (2011), dismenore dapat diklasifikasikan

menjadi:
a. Dismenore Primer yaitu nyeri haid tanpa ditemukan keadaan patologi

pada panggul.
b. Dismenore Sekunder yaitu nyeri haid yang berhubungan dengan

berbagai keadaan patologis di organ genitalia, misalnya endometriosis,

adenomiosis, mioma uteri, stenosis serviks, penyakit radang panggul,

perlekatan panggul, atau irritable bowel syndrome

Selain itu menurut (Biben dalam Suarbawa, 2009) menjelaskan

pembagian derajat dismenore ada 3 derajat, yaitu:


14

a. Ringan : Berlangsung beberapa saat, sembuh dengan istirahat, hilang

tanpa pengobatan , tidak mengganggu aktifitas harian, rasa nyeri tidak

menyebar tetapi berlokasi di perut bagian bawah.


b. Sedang : Nyeri menyebar di bagian perut bawah, memerlukan obat

penghilang rasa nyeri tanpa perlu meinggalkan aktivitas sehari-hari.


c. Berat : Perlu istirahat beberapa hari dan dapat disertai sakit kepala, sakit

pinggang, diare dan rasa tertekan.


3. Etiologi Dismenore Primer
Dismenore primer disebabkan oleh faktor hormonal, sedangkan

dismenore sekunder tidak disebabkan faktor hormonal (Manuaba, 2007).

Adapun faktor penyebab pada dismenore, yaitu a) Terjadi akibat kontraksi

yang kuat atau lama dinding Rahim; b) Hormon prostaglandin yang tinggi;

c) Pelebaran leher rahim saat keluarnya darah haid; d) Adanya infeksi

daerah panggul; f) Endometriosis; g) Tumor jinak pada Rahim; h) Postur

tubuh yang kurang baik (sikap yang salah); i) Rahim tidak berkembang

secara optimal; j) Diperberat jika mengkonsumsi kopi dan stress

(Wratsongko & Budisulistyo, 2006).


Pada dismenore sekunder dikaitkan dengan patologi pelvis dan lebih

sering dialami wanita yang berusia diatas 20 tahun. Dismenore sekunder

terjadi akibat penyakit panggul organik seperti adenomiosis, leiomiomata,

polip endometrium, malformasi kongenital, stenosis servikal,

endometriosis, PRP, mioma uterus,sindrom kongesti pelvis, kista atau

tumor ovarium, sindrom asherman (perlekatan intrauterus), prolaps uterus,

penggunaan AKDR atau trauma (Sinclair, 2011).


Penyebab dari dismenore primer adalah karena terjadinya peningkatan

atau produksi yang tidak seimbang dari prostaglandin endometrium selama


15

menstruasi. Prostaglandin akan meningkatkan tonus uteri dan kontraksi

sehingga timbul rasa sakit (Bavil et al, 2016).


Penyebab dismenore dalam Wiknjosastro (2007) dibedakan menjadi 2,

yaitu penyebab dismenore primer dan penyebab dismenore sekunder.

a. Penyebab Dismenore Primer

Faktor yang mempengaruhi terjadinya dismenore primer yaitu : faktor

kejiwaan, faktor konstitusi, faktor obstruksi kanalis servikalis dan

faktor endokrin.

1) Faktor Kejiwaan
Gadis remaja yang belum stabil secara emosional, apalagi jika

kurang mendapatkan pengetahuan tentang proses menstruasi sangat

nudah mengalami dismenore.


2) Faktor Konstitusi
Seperti anemia, penyakit menahun dapat menimbulkan dismenore.
3) Faktor Obstruksi kanalis servikalis
Salah satu teori yang paling tua untuk menerangkan dismenore

adalah stenosis kanalis servikalis, dimana dismenore yang terjadi

pada wanita yang memiliki uterus posisi hiperantefleksi dengan

stenosis pada kanalis servikalis.


4) Faktor Endokrin
Kejang yang terjadi pada dismenore primer disebabkan oleh

kontraksi uterus yang berlebihan. Hal ini disebabkan karena

endometrium dalam fase sekresi memproduksi prostaglandin F2

alfa yang menyebabkan kontraksi otot polos. Jika prostaglandin F2

alfa berlebih dilepaskan dalam peredaran darah, maka terjadilah

dismenore serta efek umum seperti diare dan nausea.


b. Penyebab Dismenore Sekunder
16

Dismenore sekunder berhubungan dengan kelainan congenital atau

kelainan organik di pelvis. Rasa nyeri yang timbul pada dismenore

sekunder ini biasanya berhubungan dengan gangguan ginekologis

seperti endometriosis , radang pelvis, kista ovarium, dan kongesti

pelvis.
4. Faktor Resiko
Penyebab pasti dismenore belum diketahui secara pasti, pada

dismenore primer nyeri timbul akibat tingginya kadar prostaglandin.

Sedangkan pada dismenore sekunder diduga penyebab terbanyak adalah

endometriosis. Adapun faktor-faktor risiko dari dismenore primer yaitu

wanita yang belum pernah melahirkan, obesitas, perokok, dan memiliki

riwayat keluarga dengan dismenore (Nanang Winarto Astarto, et all, 2011).

Sedangkan faktor yang dapat memperburuk keadaan adalah rahim yang

menghadap ke belakang, kurang berolahraga dan stres psikis atau stres

sosial (Icemi & Wahyu, 2013). Timbulnya rasa nyeri pada menstruasi

biasanya disebabkan karena seseorang sedang mengalami stres yang dapat

menggangu kerja sistem endokrin,sehingga dapat menyebabkan menstruasi

yang tidak teratur dan menimbulkan rasa sakit pada saat menstruasi

(Hawari, 2008).
Faktor-faktor yang mempengaruhi dismenore penyebab terjadinya

dismenore yaitu keadaan psikis dan fisik seperti stres, shock, penyempitan

pembuluh darah, penyakit menahun, kurang darah, dan kondisi tubuh yang

menurun (Diyan, 2013). Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi

dismenore menurut Arulkumaran (2006) antara lain:


a. Faktor menstruasi
17

1) Menarche dini, gadis remaja dengan usia menarche dini insiden

dismenorenya lebih tinggi.


2) Masa menstruasi yang panjang, terlihat bahwa perempuan dengan

siklus yang panjang mengalami dismenore yang lebih parah.


3) Paritas, insiden dismenore lebih rendah pada wanita multiparitas. Hal

ini menunjukkan bahwa insiden dismenore primer menurun setelah

pertama kali melahirkan juga akan menurun dalam hal tingkat

keparahan.
4) Olahraga, berbagai jenis olahraga dapat mengurangi dismenore. Hal

itu juga terlihat bahwa kejadian dismenore pada atlet lebih rendah,

kemungkinan karena siklus yang anovulasi. Akan tetapi, bukti untuk

penjelasan itu masih kurang.


5) Pemilihan metode kontrasepsi, jika menggunakan kontrasepsi oral

sebaiknya dapat menentukan efeknya untuk menghilangkan atau

memperburuk kondisi. Selain itu, penggunaan jenis kontrasepsi

lainnya dapat mempengaruhi nyeri dismenore.


6) Riwayat keluarga, mungkin dapat membantu untuk membedakan

endometriosis dengan dismenore primer.


7) Faktor psikologis (stres)
Pada gadis-gadis yang secara emosional tidak stabil, apalagi jika

mereka tidak mendapat penjelasan yang baik tentang proses haid,

mudah timbul dismenore. Selain itu, stres emosional dan ketegangan

yang dihubungkan dengan sekolah atau pekerjaan memperjelas

beratnya nyeri.
5. Patofisiologi
Dismenore biasanya terjadi pada saat fase pramenstruasi (sekresi).

Pada fase ini terjadi peningkatan hormon prolaktin dan hormon estrogen.

Sesuai dengan sifatnya, prolaktin dapat meningkatkan kontraksi uterus.


18

Hormon yang juga terlibat dalam dismenore adalah hormon

prostaglandin (Manuaba, 2007).


Dismenore biasanya terjadi akibat pelepasan berlebihan

prostaglandin tertentu yaitu Prostaglandin – F2 alfa, dari sel sel

endometrium uterus. Prostaglandin – F2 alfa adalah suatu perangsang

kuat kontraksi otot polos miometrium dan konstriksi pembuluh darah

uterus. Hal ini memperparah hipoksia uterus yang secara normal terjadi

pada haid, sehingga timbul rasa nyeri hebat (Corwin, 2009).


6. Pengukuran Derajat Dismenore
Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat

nyeri pada dismenore, salah satunya adalah Numeric Rating Scale

(NRS). Pada NRS responden diminta untuk menyatakan intensitas nyeri

yang dirasakannya pada skala 0-10 (Douglas, 2012).


Metode yang umumnya digunakan untuk memeriksa intensitas

nyeri yaitu dengan skala penilaian numerik ini lebih digunakan sebagai

pengganti alat pendeskripsi kata. Dalam hal ini, klien menilai nyeri

dengan menggunakan skala 0-10. Skala ini paling efektif digunakan saat

mengkaji intensitas nyeri sebelum dan setelah intervensi terapeutik.

Numerik

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Tidak Nyeri Sangat Nyeri

Gambar 1. Numeric Rating Scale (NRS)


(Sumber : National Initiative on Pain Control)

Keterangan :
19

1 : Tidak Nyeri
1.3 : Nyeri Ringan
4.6 : Nyeri Sedang
7.9 : Nyeri Berat Terkontrol
10 : Nyeri Berat Tidak Terkontrol

7. Penanganan Dismenore
Penanganan dismenore dalam buku Wiknjonosastro (2007) pada

umumnya dibagi menjadi 2 yaitu penanganan secara farmakologis

maupun secara non farmakologis.

a. Penanganan Farmakologis

Penanganan secara farmakologis yang dapat digunakan pada

dismenore antara lain adalah :


1) Pemberian Analgetik
Adapun obat-obatan analgetik yang sering digunakan adalah

preparat kombinasi aspirin, fenasetin, dan kafein. Obat yang

sering beredar di pasaran seperti novalgin, ponstan, Acet-

aminophen dan yang lainnya.


2) Terapi Hormonal
Tujuan dari terapi hormonal adalah menekan ovulasi . Tindakan

ini bersifat sementara dengan tujuan untuk membuktikan bahwa

gangguan benar-benar dismenore primer, atau untuk

memungkinkan penderita melaksanakan pekerjaan penting pada

waktu haid tanpa gangguan. Tujuan ini dapat dicapai dengan

pemberian salah satu jenis pil kombinasi kontrasepsi. Selain itu

hal ini juga bertujuan untuk mencegah terjadinya ovulasi dan

menurunkan produksi prostaglandin karena atrofi endometrium

desidual.

3) Terapi Dengan Obat Nonsteroid Antiprostaglandin


20

Terapi ini memegang peranan yang penting terhadap penangan

dismenore primer. Obat – obatan termasuk disini seperti

indometasin, ibuprofen, dan naproksen, dalam kurang lebih 70%

penderita dapat disembuhkan atau mengalami perbaikan.

Sebaiknya obat ini diberikan sebelum haid dimulai misalnya satu

sampai tiga hari sebelum haid dan pada saat hari petama haid.

b. Penanganan Non Farmakologis

Beberapa cara untuk mengatasi nyeri non farmakologis dalam buku

Laila (2011), yaitu :


1) Kompres Hangat
Suhu panas dapat meminimalkan ketegangan otot. Setelah otot

rileks, rasa nyeri pun akan berkurang. Kompres hangat dapat

menggunakan kompres handuk atau pun botol yang berisi air

hangat. Pengompresan dapat dilakukan pada daerah yang terasa

kram seperti pada perut atau pun pinggang bagian belakang.


2) Istirahat
Istirahat pada saat menstruasi dapat dilakukan dengan berbagai

cara seperti tidur, duduk sambil menenangkan diri atau pun

bersantai sambil menonton TV. Beristirahat ketika menstruasi

diperlukan untuk merilekskan otot-otot yang tegang saat

berkontraksi meluruhkan lapisan endometrium.

3) Olahraga
Berolahraga secara teratur dapat mengurangi stress yang timbul

ketika menstruasi. Selain itu berolahraga juga dapat

meningkatkan produksi hormone endorphin otak yang

merupakan penawar rasa sakit yang alami dalam tubuh.


21

4) Minum Air Putih


Minum air putih sebanyak 8 gelas sehari mampu mengurangi rasa

nyeri saat menstruasi. Minum air putih saat menstruasi dilakukan

untuk mencegah terjadinya penggumpalan darah dan melancarkan

peredaran darah
5) Melakukan Pemijatan
Pemijatan dipercaya dapat mengurangi rasa nyeri yang dirasakan.

Pemijatan dilakukan ringan dengan jari telunjuk membuat gerakan

melingkar pada perut bagian bawah


6) Melakukan Yoga
Yoga merupakan salah satu tradisi India kuno yang telah lama

dikenal dan mampu memberikan efek yang baik untuk kesehatan

terutama asana yoga yang identik dengan pengaktifan seluruh

bagian tubuh. Asana yoga mampu mempercepat dan menstimulasi

sistem pertahanan tubuh, serta mengubah pola penerimaan rasa

sakit ke fase yang lebih menenangkan.

7) Teknik relaksasi
Relaksasi merupakan metode alami dalam mengatasi nyeri. Cara

melakukannya pun mudah yaitu dengan menenangkan pikiran lalu

mengambil nafas dalam-dalam selama lima detik kemudian

menghembuskan secara perlahan-lahan. Dengan demikian tubuh

akan menjadi lebih rileks. Dalam kondisi rileks, tubuh akan

menghentikan produksi hormone adrenalin dan hormone – hormone

yang menyebabkan stress. Karena hormone seks yaitu progesterone

dan estrogen serta hormone stress yaitu adrenalin berasal dari blok
22

kimiawi yang sama maka dengan mengurangi stress, produksi dari

kedua hormone seks tersebut juga berkurang.


8) Melakukan Akupunktur atau pun Akupresure

Tujuan dari pengobatan nyeri dismenore dengan teknik akupunktur

akupresure adalah untuk menyeimbangkan hormone yang

berlebihan karena pada dasarnya dismenore merupakan sakit yang

berhubungan dengan ketidakseimbangan hormone.

Menurut penelitian terdahulu terapi non farmakologi

menggunakan proses fisiologis dari tubuh. Menurut Bobak, et al.(2004)

ada berberapa cara untuk meredakan disminore yaitu dengan kompres

hangat, mandi air hangat, pijat, distraksi, latihan fisik exercise (salah

satunya abdominal stretching exercise), tidur cukup, diet rendah garam,

dan peningkatan penggunaan deuretik alami seperti daun sup, semangka

sedangkan dalam Nathan (2005) yang dapat dilakukan untuk mengatasi

dismenore adalah mandi air hangat, meletakkan botol hangat di perut,

exercise/latihan, dan menghindari merokok.

Memodifikasi gaya hidup yaitu dengan diet rendah lemak,

exercise, dan hentikan merokok dan dapat juga dengan pemberian

suplemen pengobatan herbal ala jepang, akupuntur, akupresur, terapi

bedah, Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation dan terapi horison

(Anurogo, 2011).
Untuk mengurangi atau mencegah dismenore, dianjurkan untuk

mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung kalsium dan


23

makanan segar, seperti sayuran, buah-buahan, ikan, daging, dan

makanan yang mengandung vitamin B6 karena berguna untuk

metabolisme estrogen (Medicastore 2006).

D. Abdominal stretching exercise


Menurut Thermacare (2010) ada latihan fisik yang dapat digunakan

untuk menurunkan dismenore pada saat menstruasi yaitu dengan melakukan

abdominal stretching exercise yang merupakan latihan fisik peregangan otot

terutama pada area perut yang dilakukan kurang lebih selama 10-15 menit

latihan fisik ini ditujukan untuk meningkatkan kekuatan otot, daya tahan dan

fleksibilitis otot, sehingga diharapkan dapat menurunkan nyeri dismenore.


Hasil penelitian Ratnaningsih (2011) abdominal stretching exercise

memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat keletihan otot, seseorang

yang mengalami proses menstruasi akan mengalami kram pada bagian perut

bagian bawah yang dikarenakan kontraksi dindng uterus yang kuat dan lama

sehingga terjadi kelemahan otot maka diperlukan exercise atau peregangan

untuk mengurangi nyeri haid tersebut.


Stretching (peregangan) adalah aktivitas fisik yang paling sederhana.

Manfaat dari streching yaitu meningkatkan kebugaran tubuh, meningkatkan

daya tahan tubuh serta mental, merelaksasikan diri, meningkatkan daya

tangkap dan pikir, mengurangi ketegangan otot dan mengurangi nyeri saat

menstruasi (Anurogo, 2011).


Menurut Wong, et al (2002) dalam Ratnaningsih (2011) latihan

peregangan fisik degan menggerakkan panggul dengan posisi lutut hingga dada

dan disertai latihan pernapasan dapat bermanfaat mengurangi dismenore dan

dalam abdominal stretching exercise terdapat tahap – tahap sebagai berikut :


1. Cat stretch
24

Posisi awal : tangan dan lutut di lantai, tangan di bawah bahu, lutut dibawah

pinggul, kaki relaks, mata menatap lantai.


a. Pertama punggung anda dilengkungkan dan perut di gerakkan kearah

lantai berlahan serta dagu dan mata menatap lantai, tahan kondisi ini

dalam hitungan 10 setelah itu rileks dan tarik nafas.

Gambar 2.2
Sumber : Wong, et al (2002)
b. Kedua punggung anda digerakkan ke atas dan kepala menunduk kearah

lantai, tahan kondisi ini dalam hitungan 10 setelah itu rileks.

Gambar 2.3
Sumber : Wong, et al (2002)
c. Ketiga posisi anda duduk di atas tumit, rentangkan lengan ke depan

menjauhi badan dan sejauh mungkin hingga terasa tarikannya, tahan

kondsi ini dalam hitungan 2x10 lalu rileks dan ambil nafas dalam

melalui hitung dan keluar melalui mulut.

Gambar 2.4

Sumber : Wong, et al (2002)

2. Lower Trunk Rotation


Posisi awal : Posisi tubuh berbaring terlentang, lutut ditekuk, kaki di lantai

dan kedua lengan di bentangkan keluar menjauhi tubuh,


25

a. Pertama kondisi lutut yang tertekuk di putar ke arah kanan menempel

ke lantai dan pertahankan kedua bahu tetap menempel di lantai dengan

tangan yang membetang ke luar menjauhi tubuh, tahan kondisi ini

dalam hitungan 2x10 dengan suara lantang.

Gambar 2.5
Sumber : Wong, et al (2002)
b. Kedua dengan posisi yang sama putar lutut ke arah kiri hingga

menempel ke lantai pertahan kanbahu tetap menampel dilantai, tahan

kondisi ini dalam hitungan 2x10 dengan suara lantanglatihan dilakukan

selama 3 kali.

Gambar 2.6
Sumber : Wong, et al (2002)
3. Buttock/Hip stretch
Posisi awal : Berbaring terlentang lutut dalam keadaan di tekuk.
a. Pertama meletakkan bagian luar pergelangan kaki kanan pada paha kiri

diatas lutut
b. Kedua tangan memegang area belakang paha lalu tarik ke arah dada

hingga ada tarikan otot lakukan senyaman mungkin, tahan kondisi ini

dalam hitungan 2x10 kemudian kembali ke posisi awal dan rileks.

Latihan ini dilakukan sebanyak 3 kali.


26

Gambar 2.7

Sumber : Wong, et al (2002)

4. Abdominal Strengthening : Curl Up


Posisi awal : Badan dalam keadaan berbaring terlentang, lutut ditekuk, kaki

di lantai, dan kedua tangan di bawah kepala.


a. Melengkungkan punggung dari lantai dan dorong ke arah depan

menjauhi lantai hingga terasa penarikannya hitung dengan 2x10

hitungan lalu rileks.

Gambar 2.8

Sumber : Wong, et al (2002)

b. Ratakan punggung sejajar lantai dengan mengencangkan otot-otot perut

dan bokong.
c. Melengkungkan sebagian tubuh bagian atas anda ke arah lutut, tahan

kondisi ini dalam hitungan 2x10 hitungan sebanyak 3 kali.

Gambar 2.9

Sumber : Wong, et al (2002)


27

5. Lower Abdomen Strengthening.


Posisi awal : Berbaring terlentang, lutut ditekuk, lengan dibentangkan

sebagian keluar.
a. Letakkan bola antara tumit dan bokong. Ratakan punggung bawah ke

lantai dengan mengncangkan otot- otot perut dan bokong

Gambar 2.10

Sumber : Wong, et al (2002)

Pertahankan posisi tarik kedua lutut ke arah dada sambil menarik

tumit dan bola, kencangkan otot bokong dan jangan melengkungkan

punggung, dilakukan sebanyak 15 kali

Gambar 2.11

Sumber : Wong, et al (2002)

6. The Bridge Position


Posisi awal : Berbaring terlentang, lutut ditekuk, kaki dan siku dilantai,

lengan dibentangkan sebagian keluar menjauhi tubuh.


28

a. Ratakan punggung di lantai dengan mengencangkan otot- otot perut dan

bokong.
b. Angkat panggul dan punggung bawah untuk membentuk garis lurus

dari lutut ke dada, tahan posisi ini dalam hitungan 2x10 hitungan lalu

kembali ke posisi awal dan rileks dilakukan sebanyak 3 kali.

Gambar 2.12

Sumber : Wong, et al (2002)

E. Air
Dalam Yosephin (2018) Air merupakan zat gizi dan unsur yang paling

berlimpah dalam tubuh. Makin muda seseorang, makin banyak kandungan air

dalam tubuhnya. Janin mengandung kira-kira 98%, tubuh bayi sekitar 75% dan

tubuh orang dewasa 50-65%. Kebutuhan air dipengaruhi oleh umur, aktivitas

fisik, suhu, pola makan, dan status kesehatan (seperti saat hamil dan

menyusui), serta demam. Pada masyarakat umum, jumlah air yang dikonsumsi

minimum 2 liter atau 8 gelas per hari. Namun, dalam kondisi beraktivitas berat

pada suasana panas, kebutuhan konsumsi air dapat meningkat. Menurut

pendapat Muhammad (2011) menyatakan bahwa terapi minum air putih dapat

mengatasi berbagai masalah kesehatan termasuk dismenore. Terapi minum air

putih bertujuan untuk menjaga kesehatan dan keutuhan setiap sel dalam tubuh;

menjaga tingkat cair aliran darah agar lebih mudah mengalir/lancar termasuk

membantu mencairkan stolsel; melumasi dan melindungi persendian; dapat


29

melarutkan dan membawa nutrisi, oksigen, dan hormone ke seluruh sel tubuh;

melarutkan dan mengeluarkan zat-zat sampah sisa metabolisme dari dalam

tubuh dan juga elektrolit yang berlebihan; sebagai katalisator dalam tubuh;

dapat menghasilkan tenaga; menstabilkan suhu tubuh; dan meredam benturan

bagi organ vital di dalam tubuh. Hal ini sejalan dengan penelitian yang

dilakukan oleh Indriastuti (2008) di Panti Asuhan Nurul Huda Az-Zuhdi

Kelurahan Meteseh Kecamatan Tembalang yang membuktikan bahwa terapi air

putih dapat menurunkan skala nyeri dismenore.


Pendapat ini didukung juga oleh Batmanghelidj (2007) yang menyatakan

minum air dapat mengurangi nyeri menstruasi, air dapat mengencerkan darah

dan mencegah penggumpalan darah ketika ia beredar ke seluruh tubuh serta

sumber utama energi bagi tubuh. Menurut Bobak, et al. (2005) juga

menyatakan penggunaan diuretik alami, seperti daun seledri, semangka dapat

mengatasi dismenorea. Penggunaan diuretik alami ini diharapkan dengan

seringnya seseorang berkemih maka tubuh akan merespon terhadap

keseimbangan/balance cairan tubuh agar minum air yang banyak, sehingga

aliran darah menjadi lancar.


Selama menstruasi rahim berkontraksi untuk meluruhkan lapisannya,

yang keluar sebagai darah haid. Hal tersebut membuat pengeluaran cairan lebih

banyak dan memungkinan terjadinya dehidrasi sel yang lebih besar, salah

satunya pada sel-sel endometrium. Cairan yang hilang dari tubuh terutama

pada otot dapat menyebabkan ketegangan sehingga mengganggu proses

kontraksi otot rahim. Ketika otot rahim berkontraksi, pembuluh darah yang

melapisi rahim menjadi tertekan, apabila pembuluh darah tersebut terlalu lama
30

mengalami penekanan akan mengakibatkan putusnya suplai darah serta

oksigen ke dalam rahim. Tanpa oksigen yang memadai, jaringan di dalam

rahim melepaskan hormon prostaglandin secara berlebihan yang memicu

terjadinya rasa nyeri saat haid. Prostaglandin membuat otot rahim berkontraksi

lebih kuat dan rasa nyeri menjadi semakin berat. Jika prostaglandin dilepaskan

dalam jumlah yang berlebihan ke dalam darah, maka selain mengalami

dismenore, dapat juga terjadi beberapa gejala sistemik antara lain seperti mual,

muntah, diare, demam, nyeri kepala (Harel, 2002).


Upaya mencegah terjadinya dehidrasi pada sel yang menyebabkan nyeri

haid (dismenore) maka perlu dilakukan terapi air putih dengan baik dan teratur

agar bisa memberikan efek penurunan intensitas nyeri (dismenore) secara

nyata. Diharapkan dengan mengkonsumsi air secara teratur maka tidak akan

terjadi dehidrasi sel terutama pada sel-sel endometrium yang dapat

menyebabkan ketegangan pada otot sehingga mengganggu proses kontraksi

otot rahim. Penelitian ini peneliti menggunakan air putih sebagai terapi untuk

menurunkan dismenore karena di dalam air putih mengandung tujuh mineral

alami yang sangat dibutuhkan oleh tubuh diantaranya fluorida, natrium,

kalium, magnesium, kalsium, zinc, dan silika, dimana ada beberapa dari tujuh

mineral tersebut yang berperan penting dalam menurunkan nyeri haid

(dismenore), yakni magnesium dan kalsium.


Menurut Dean (2010) magnesium berguna untuk merelaksasikan otot dan

dapat memberikan rasa rileks yang dapat mengendalikan suasana hati yang

murung (Hill, 2002). Selain itu magnesium juga berfungsi untuk memperbesar

pembuluh darah sehingga mencegah terjadinya ketegangan otot dan dinding


31

pembuluh darah. Oleh sebab itu magnesium berfungsi untuk mengurangi rasa

sakit saat mentruasi atau dismenore primer (Sinaga, 2011). Hill (2002) juga

menyatakan bahwa kalsium merupakan mineral yang sangat penting bagi

tubuh manusia, antara lain untuk metabolisme tubuh, penghubung antar saraf,

kerja jantung, dan pergerakan otot. Kalsium dan magnesium juga berperan

dalam transmisi saraf. Jika otot tidak mempunyai cukup kalsium, maka otot

tidak dapat mengendur dan megalami ketegangan sehingga dapat

mengakibatkan kram (Sinaga, 2011).

F. Pisang raja
Pisang merupakan salah satu komoditas pertanian yang sangat digemari

masyarakat, dan menjadi salah satu komoditas tanaman buah yang mulai

dikebunkan. Tanaman pisang (Musa spp) telah diproklamirkan sejak sebelum

masehi (SM). Nama Musa diambil dari nama seorang dokter bernama Antonius

Musa pada zaman Kaisar Romawi Octavianus Augustus (63 SM-14 M), beliau

menganjurkan pada kaisarnya untuk makan pisang setiap harinya agar tetap

kuat, sehat dan segar ( Mudjajanto & Lilik, 2008).


Pisang memiliki kandungan gizi seperti mineral dan vitamin yang sangat

berlimpah, yaitu seperti : kalium, magnesium, zat besi, fosfor, energi dan

kalsium, vitamin B, B6, E, A, B1 dan C yang dapat meningkatkan daya tahan

tubuh) (Mudjajanto & Kustiyah, 2006). Selain itu, Noormindhawati & Wahyu

(2016) mengatakan pisang juga mengandung nutrisi Vitamin (A, B, C, D, K),

kalium, kalsium, fosfor, magnesium, tembaga, mangan dan seng. Dimana

nutrisi ini berfungsi untuk menjaga kesehatan jantung, mata dan sistem
32

pencernaan sertah mencegah anemia. Berikut kandungan-kandungan gizi

dalam berbagai jenis pisang :


Tabel 2.1 Komposisi zat gizi beberapa jenis buah pisang per 100g

Jenis pisang
Kandungan Zat
Pisang Pisang Pisang Pisang Pisang
Gizi
Ambon Nangka Kepok Raja Siam
Air (gram) 73,8 68,9 70,7 69,3 62,0
Energi (kal) 92 121 115 108 268
Karbohidrat 24,0 28,9 26,8 28,2 58,1

(gram)
Protein (gram) 1,0 1,0 1,2 1,3 4,3
Lemak (gram) 0,3 0,1 0,4 0,3 12,6
Mineral :
Kalsium (mg) 20 9 11 16 20,4
Fosfor (mg) 42 37 4,3 38 44,2
Besi (mg) 0,5 0,9 1,2 5 1,6
Vitamin C (mg) 3,0 13,4 2,0 2 0,01
Vitamin B1 (Mg) 0,05 0,13 0,10 0,02 20,4
Vitamin A (RE) 0 0 0 0 17
Bagian yang dapat 70 72 62 86 75

dimakan (%)
Sumber : Mudjajanto & Kustiyah, 2006

Tabel 2.2 Mineral dalam Pisang Raja 100 Gram

Mineral Jumlah
Kalium (K) 422 mg
Kalsium (Ca) 8,56 mg
Natrium (Na) 10 mg
Fosfor (P) -
Magnesium (Mg) 30 mg
Sumber : Yuwono, 2011

Berdasarkan teori kandungan gizi yang dikemukakan Endra (2006) pada

150 g buah pisang raja mengandung 174 kkal energi, 46,72 g karbohidrat, 1,19

g protein, 1,17 g lemak, 697,5 mg kalium dan 100,95 g air.

Kandungan gizi pada pisang raja yang berpengaruh pada tekanan darah

saat dismenore primer yaitu kalium. Satu buah pisang berukuran sedang dapat

mengandung sekitar 422 mg kalium, atau hampir 10% dari kebutuhan harian
33

kalium untuk remaja (Selby, 2008). Kalium mempunyai efek dalam pompa,

yaitu kalium dipompa dari cairan ekstra selular ke dalam sel, dan natrium

dipompa keluar, sehingga kalium dapat menurunkan tekanan darah pada

penderita dismenore primer (Guyton & Hall, 2008).

Uji proksimat yang dilakukan di Balai Penelitian Mutu dan Keamanan

Pangan Fakultas Teknologi Pertanian UNIKA Soegijapranata Semarang dan uji

vitamin B6 di Laboratorium Saraswanti Indo Genetech Bogor. Dari hasil uji

kandungan jus pisang raja dan jus pisang ambon terdapat perbedaan yang

signifikan dimana kandungan B6 yang terdapat pada pisang ambon sebesar

0,15 mg dan pisang raja sebesar 0,17. Pada uji kandungan ini hanya dipilih

vitamin B6 dan kalium saja karena merupakan zat gizi yang menonjol pada

pisang dan berpengaruh terhadap kelelahan otot (Galuh, 2011).


Kandungan zat besi dalam pisang raja juga cukup besar, sekitar 5 mg per

100 gram pisang. Untuk mengatasi anemia, para penderita anemia bisa

mengkonsumsi pisang raja maupun pisang yang lainnya sebanyak dua buah per

hari, zat besi berfungsi dalam pembentukan sel darah merah (Mudjajanto &

Kustiyah, 2006).
Menurut Sulistyanto (2018) bahwa pisang raja memiliki kandungan

kalium yang tinggi, yaitu lebih dari 400 mg kalium per buah pisang ukuran

sedang. Menurut para ahli gizi, kalium sangat diperlukan saraf, membantu

fungsi otot dan menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh. Kalium dalam

pisang bisa membantu mencegah kram otot setelah latihan. Hal ini dibuktikan

dengan penelitian yang dilakukan oleh Edo, Erma dan Ririn (2016) di SMA
34

Muhammadiyah 01 Malang pada siswi remaja menunjukkan konsumsi pisang

raja efektif terhadap penurunan nyeri haid pada dismenore primer.


35

G. Kerangka Teori

Remaja

Perubahan fisik : Tanda


primer Penanganan dismenore
(Menstruasi) 1. Farmakologis
2. Non farmakologis

Gangguan menstruasi :

Dismenore:
Non farmakologi Farmakologi :
1. Kompres hangat 1. Pemberian
2. Terapi air putih analgetik
3. Isirahat 2. Terapi hormonal
4. Olahraga 3. Terapi dengan obat
5. Melakukan pemijatan nonsteroid
6. Melakukan yoga antiprostaglandin
7. Abdominal
stretching exercise
8. Tekhnik relaksasi
9. Akupuntur/akupressu
r
10. Kompres hangat
11. Makan-makanan
yang mengandung
B6 dan tinggi
kalium (Buah :
Pisang raja)
Bagan 2.1 Kerangka Teori

Sumber : Thermacare (2010); Progestian (2010); Anderson (2010); Lo’pez


(2010); polat, et al. (2010); Wong et al. (2009); Celik et al. (2009); Alter
(2008); Potter & Perry (2006); Wratsongko & Budisulistyo (2006);
Hendrik (2006); French (2005); Taber (2005); Pillitteri (2003); douglas
(2012).