Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan cara untuk mencapai salah satu tujuan negara

Indonesia yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana tercantum dalam

Pembukaan Undang- Undang Dasar alinea ke-4. Pendidikan adalah pengalaman

belajar terprogram dalam bentuk pendidikan formal dan non formal yang

berlangsung seumur hidup, bertujuan untuk mengoptimalisasi perkembangan

kemampuan individu, agar kemudian hari dapat memainkan peranan hidup secara

tepat.

Pendidikan itu harusnya dikelola secara baik dan ditingkatkan dari segi

kualitas dan kuantitas untuk mengembangkan cara berpikir, karena itu perlu

pembekalan kemampuan kepada siswa berupa mata pelajaran dengan beberapa

disiplin ilmu yang harus dikuasai salah satunya adalah matematika. Banyak siswa

yang merasa terbebani jika harus berhadapan dengan matematika di sekolah. Mata

pelajaran matematika telah menjadi sesuatu yang menakutkan bagi sebagian besar

siswa, mereka beranggapan bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang

sulit untuk dikuasai sehingga menjadi mata pelajaran yang kurang disenangi,

sedangkan matematika salah satu pelajaran penting dan diajarkan pada jenjang

pendidikan yang merupakan cabang ilmu untuk mengembangkan kemampuan

berpikir matematis siswa khususnya berpikir tingkat tinggi. Kemampuan ini

diperlukan siswa untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan

sehari-hari. Sesuai dengan isi dari Permendiknas No 23 Tahun 2006 tentang

1
2

standar kelulusan siswa di SMA/MA program IPA untuk pelajaran matematika

yaitu:

1. Memahami pernyataan dalam matematika dan ingkarannya,


menentukan nilai kebenaran pernyataan majemuk dan
pernyataan berkuantor, serta menggunakan prinsip logika
matematika dalam pemecahan masalah.
2. Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan aturan pangkat,
akar dan logaritma, fungsi aljabar sederhana, fungsi kuadrat,
fungsi eksponen dan grafiknya, fungsi komposisi dan fungsi
invers, persamaan dan pertidaksamaan kuadrat, persamaan
lingkaran dan persamaan garis singgungnya, suku banyak,
algoritma pembagian dan teorema sisa, program linear, matriks
dan determinan, vektor, transformasi geometri dan
komposisinya, barisan dan deret, serta menggunakannya dalam
pemecahan masalah.
3. Menentukan kedudukan, jarak dan besar sudut yang
melibatkan titik, garis dan bidang di ruang dimensi tiga serta
menggunakannya dalam pemecahan masalah.
4. Memahami konsep perbandingan, fungsi, persamaan dan
identitas trigonometri, rumus sinus dan kosinus jumlah dan
selisih dua sudut, rumus jumlah dan selisih sinus dan kosinus,
serta menggunakannya dalam pemecahan masalah.
5. Memahami limit fungsi aljabar dan fungsi trigonometri di
suatu titik dan sifat-sifatnya, turunan fungsi, nilai ekstrem,
integral tak tentu dan integral tentu fungsi aljabar dan
trigonometri, serta menerapkannya dalam pemecahan masalah.
6. Memahami dan mengaplikasikan penyajian data dalam bentuk
tabel, diagram, gambar, grafik, dan ogive, ukuran pemusatan,
letak dan ukuran penyebaran, permutasi dan kombinasi, ruang
sampel dan peluang kejadian dan menerapkannya dalam
pemecahan masalah.
7. Memiliki sikap menghargai matematika dan kegunaannya
dalam kehidupan.
8. Memiliki kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis,
dan kreatif, serta mempunyai kemampuan bekerjasama.

Standar kelulusan tersebut ditetapkan sebagai tolak ukur kemampuan

siswa dalam belajar matematika, sesuai Permendiknas No 23 Tahun 2006 adalah

berpikir kritis. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang telah peneliti lakukan

pada tanggal 21 Januari 2019 di MAN Tapanuli Selatan lokasi Situmba dengan

memberikan latihan soal trigonometri. Fakta yang ada kemampuan berpikir kritis
3

matematis siswa sangat rendah, karena jawaban pada latihan soal trigonometri

yang diberikan kurang memuaskan. Siswa tidak mampu memahami masalah yang

ditunjukkan dengan menuliskan yang diketahui dan ditanyakan soal dengan tepat,

ini terlihat dalam lembar jawaban siswa berikut.

Gambar 1.1 Lembar Jawaban Siswa

Berdasarkan hasil tes diatas dapat dilihat bahwa masih rendahnya

kemampuan berpikir kritis matematis siswa pada materi trigonometri. Pada tes

yang diberikan dari 38 siswa tidak dapat mencapai nilai KKM, setelah diadakan

wawancara dengan Bapak Syarifuddin, S.Pd. selaku guru matematika hasil ini

diakibatkan pembelajaran yang bersifat konvensional yang dominan metode

ceramah.
4

Menyikapi kenyataan yang terjadi diatas perlu dilakukan inovasi

pembelajaran yang dirancang agar siswa terbiasa mengkontruksi pengetahuannya

dan dapat menumbuh kembangkan kemampuan berpikir kritis matematis siswa.

Meningkatkan kemampuan berpikir kritis secara maksimal, tidak cukup

pembelajaran bersifat konvensional yang dominan metode ceramah dan

memberikan soal-soal tertutup yang terdapat dalam buku pelajaran matematika

yang selama ini dipakai di sekolah. Pemberian soal open-ended yang bisa

mengembangkan kemampuan berpikir kritis matematis siswa melalui

permasalahan-permasalahan matematika yang diberikan oleh guru, yang selama ini

tidak terdapat dalam buku pelajaran dan diharapkan juga jika diberi soal open-

ended maka akan mampu mengerjakan soal sesuai dengan indikator berpikir kritis

matematis.

Pendekatan open-ended merupakan suatu cara penyajian pelajaran dimana

dalam hal kegiatan pembelajarannya siswa diberikan pertanyaan terbuka yang

diselesaikan secara individu dan kemudian mendiskusikan penyelesaian secara

berkelompok. Selanjutnya jawaban dikemukakan secara begantian yang kemudian

dianalisis dan disimpulkan. Berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik untuk

melakukan penelitian dengan judul “ Efektivitas Penggunaan Pendekatan

Open-Ended Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa di

Kelas X MAN Tapanuli Selatan”.


5

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya,

rendahnya kemampuan berpikir kritis matematis siswa materi pokok trigonometri

di kelas X MAN Tapanuli Selatan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor,

diantaranya:

1. Siswa sulit memahami materi pelajaran matematika karena beranggapan

matematika itu sulit.

2. Kemampuan berpikir kritis matematis siswa saat penyelesaian soal

matematika masih rendah.

3. Pembelajaran masih bersifat konvensional dan dominan pada metode

ceramah sehingga pembelajaran tidak efektif.

4. Keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran kurang maksimal karena

selama pembalajaran hanya berpusat pada guru saja.

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah banyak sekali permasalahan yang

ditemukan dilapangan, karena terbatasnya waktu untuk membahas permasalahn

secara bersamaan. Peneliti membuat batasan masalah yang harus dibahas, yaitu:

1. Kemampuan berpikir kritis matematis siswa saat penyelesaian soal

matematika masih rendah.

2. Pembelajaran masih bersifat konvensional dan dominan pada metode

ceramah sehingga pembelajaran tidak efektif.


6

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah tersebut maka, perumusan masalah pada

penelitan ini sebagai berikut:

1. Bagimanakah gambaran penggunaan Pendekatan Open-Ended di Kelas X

MAN Tapanuli Selatan?

2. Bagaimanakah gambaran kemampuan berpikir kritis matematis siswa

sebelum dan sesudah penggunaan Pendekatan Open-Ended di Kelas X

MAN Tapanuli Selatan?

3. Apakah penggunaan Pendekatan Open-Ended efektif untuk meningkatkan

kemampuan berpikir kritis matematis siswa di Kelas X MAN Tapanuli

Selatan?

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan perumusan masalah di atas maka, yang menjadi tujuan

penelitian ini adalah untuk mengetahui:

a. Untuk mengetahui gambaran penggunaan Pendekatan Open-Ended di

Kelas X MAN Tapanuli Selatan.

b. Untuk mengetahui gambaran kemampuan berpikir kritis matematis siswa

sebelum dan sesudah penggunaan Pendekatan Open-Ended di Kelas X

MAN Tapanuli Selatan.

c. Untuk mengetahui Efektivitas penggunaan Pendekatan Open-Ended

terhadap kemampuan berpikir kritis matematis siswa di Kelas X MAN

Tapanuli Selatan.
7

2. Manfaat Penelitian

Dari tujuan penelitian yang diuraikan diatas maka, manfaat yang

diharapkan dalam penelitian ini adalah:

a. Bagi Guru

Sebagai masukan khususnya pemilihan dan penggunaan model

pembelajaran yang tepat untuk materi tertentu agar tercapai suatu

keberhasilan dan ketuntasan dalam proses pembelajaran.

b. Bagi Siswa

Sebagai motivasi Untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis

matematis siswa.

c. Bagi Peneliti

Untuk menambah pengalaman dan wawasan baik dalam bidang penelitian

pendidikan maupun penulisan karya ilmiah.

d. Bagi Sekolah

Sebagai bahan pertimbangan dalam rangka meningkatkan kemampuan

lainnya dalam pembelajaran matematika agar dapat membantu siswa lebih

aktif dalam pembelajaran.

e. Bagi Peneliti Selanjutnya

Bagi peneliti lain, mahasiswa atau pihak yang akan mengadakan penelitian

lanjutan di masa yang akan datang diharapkan hasil penelitian ini dapat

menjadi bahan awal atau tambahan dalam melakukan pengkajian terhadap

masalah–masalah kemampuan berpikir kritis matematis siswa dalam

mengikuti pembelajaran, terutama pada pelajaran matematika.