Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Makanan sangat penting bagi tubuh kita. Tubuh kita membutuhkan asupan nutrisi

berupa karbohidrat, lemak, protein dan senyawa-senyawa gizi penting lainnya. Asupan

makanan ini harus didukung dengan pola makan yang sesuai. Pola makan yang teratur

sangat penting bagi kesehatan tubuh kita, sedangkan pola makan yang tidak teratur dapat

menyebabkan gangguan di sistem pencernaan. Permasalahan dalam sistem pencernaan tidak

boleh dibiarkan. Ada berbagai gangguan sistem pencernaan atau penyakit yang mungkin

terjadi dan sering dibiarkan oleh banyak orang, salah satunya adalah penyakit Gastritis atau

biasa kita sebut penyakit maag.

Penyakit Gastritis atau maag merupakan penyakit yang sangat kita kenal dalam

kehidupan sehari-hari. Penyakit ini sering ditandai dengan nyeri ulu hati, mual, muntah,

cepat kenyang, nyeri perut dan lain sebagainya. Penyakit maag sangat mengganggu karena

sering kambuh akibat pengobatan yang tidak tuntas. Sebenarnya kunci pengobatan penyakit

maag adalah dapat mengatur agar produksi asam lambung terkontrol kembali.

B. Rumusan Masalah

1. Apakah pengertian keluarga?

2. Apa saja tipe keluarga?

3. Bagaiman struktur keluarga?

4. Apa saja fungsi keluarga?

5. Apa saja tahap-tahap perkembagan keluarga?

1
6. Apa saja konsep gastritis?

7. Apa konsep keperawatan keluarga dengan gastritis?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian keluarga

2. Untuk mengetahui tipe - tipe keluarga

3. Untuk mengetahui struktur keluarga

4. Untuk mengetahui fungsi keluarga

5. Untuk mengetahui tahap-tahap perkembagan keluarga

6. Untuk mengetahui konsep gastritis

7. Untuk mengetahui konsep keperawatan keluarga dengan gastritis

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Konsep Keluarga

1. Pengertian keluarga

Menurut WHO dalam Sulistyo Andarmoyo (2012), keluarga adalah kumpulan

anggota rumah tangga yang saling berhubungan melalui

pertalian darah, adopsi atau perkawinan.

Menurut Raisaner dalam Jhonson (2010), keluarga adalah sebuah kelompok yang

terdiri dari dua orang atau lebih yang masing-masing mempunyai hubungan kekerabatan

yang terdiri dari bapak, ibu, adik, kakak dan nenek.

2. Tujuan Pembentukan Keluarga

Tujuan dasar pembentukan keluarga adalah :

a. Keluarga merupakan unit dasar yang memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan

individu

b. Keluarga sebagai perantara kebutuhan dan harapan anggota keluarga dengan

kebutuhan dan tuntutan masyarakat

c. Keluarga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan anggota keluarga dengan

menstabilkan kebutuhan kasih sayang, sosio-ekonomi dan kebutuhan seksual.

d. Keluarga memiliki pengaruh yang penting terhadap pembentukan identitas seseorang

individu dan perasaan harga diri (Andarmoyo,

2012)
3
3. Sasaran Asuhan Keperawatan

Sasaran dari asuhan keperawatan adalah keluarga sehat, keluarga resiko tinggi yang

rawan kesehatan dan keluarga yang memerlukan tindak

lanjut.

a. Keluarga sehat

Jika seluruh anggota keluarga dalam kondisi sehat tetapi memerlukan antisipasi

terkait dengan siklus perkembangan manusia dan tahapan tumbuh kembang keluarga.

Fokus intervensi keperawatan terutama pada promosi kesehatan dan pencegahan

penyakit.

b. Keluarga resiko tinggi dan rawan kesehatan

Keluarga resiko tinggi termasuk keluarga yang memiliki kebutuhan untuk

menyesuaikan diri terkait siklus perkembangan anggota keluarga, keluarga dengan

faktor resiko penurunan status kesehatan.

c. Keluarga yang memerlukan tindak lanjut

Keluarga yang anggota keluarganya mempunyai masalah kesehatan dan memerlukan

tindak lanjut pelayanan keperawatan/kesehatan misalnya: klien pasca hospitalisasi penyakit

kronik, penyakit degeneratif, tindakan pembedahan, penyakit terminal.(Muslihin,2012 ) 4.

Struktur keluarga

Menurut Muslihin ( 2012) , struktur keluarga menggambarkan bagaimana keluarga

melaksanakan fungsi keluarga di masyarakat ada beberapa struktur keluarga yang ada di

Indonesia yang terdiri dari bermacam - macam, diantaranya adalah :

4
a. Patrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam

beberapa generasi, dimana hubungan itu disususn melalui jalur ayah.

b. Matrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam

beberapa generasi, dimana hubungan itu disususn melalui jalur ibu.

c. Matrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama

keluarga sedarah istri.

d. Patrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah

suami.

e. Keluarga kawin adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi pimpinan keluarga,

dan beberapa sanak saudara yang bagian keluarga karena adanya hubungan dengan

suami atau istri.

5. Fungsi keluarga

a. Fungsi afektif

Fungsi afektif berhubungan dengan fungsi internal keluarga yang merupakan basis

kekuatan dari keluarga. Fungsi afektif berguna untuk pemenuhan kebutuhan

psikososial.

b. Fungsi sosialisasi

Fungsi sosialisasi adalah proses perkembangan dan perubahan yang dialami individu

yang menghasilkan interaksi sosial dan belajar berperan dalam lingkungan sosial.

5
c. Fungsi reproduksi

Keluarga berfungsi untuk meneruskan kelangsungan keturunan dan meningkatkan

sumber daya manusia. Dengan adanya program

keluarga berencana maka fungsi ini sedikit terkontrol.

d. Fungsi ekonomi

Untuk memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti makanan, pakaian dan rumah,

maka keluarga memerlukan sumber keuangan.

Fungsi ini sulit dipenuhi oleh keluarga dibawah garis kemiskinan

(gakin atau pra keluarga sejahtera).

e. Fungsi perawatan kesehatan

Keluarga juga berfungsi melakukan asuhan kesehatan terhadap anggotanya baik

untuk mencegah terjadinya gangguan maupun merawat anggota yang sakit.

6. Tugas keluarga

Pada dasarnya tugas kelurga ada delapan tugas pokok sebagai berikut:

a. Pemeliharaan fisik keluarga dan para anggotanya.

b. Pemeliharaan sumber–sumber daya yang ada dalam keluarga.

c. Pembagian tugas masing–masing anggotanya sesuai dengan

kedudukannya masing–masing.

d. Sosialisasi antar anggota keluarga.

e. Pengaturan jumlah anggota keluarga.

f. Pemeliharaan ketertiban anggota keluarga.

6
g. Membangkitkan dorongan dan semangat para anggotanya

7. Ciri-ciri keluarga

a. Keluarga merupakan hubungan perkawinan.

b. Keluarga berbentuk suatu kelembagaan yang berkaitan dengan hubungan perkawinan

yang sengaja dibentuk atau dipelihara.

c. Keluarga mempunyai suatu sistem tata nama (nomen clatur) termasuk perhitungan

garis keturunan.

d. Keluarga mempunyai fungsi ekonomi yang dibentuk oleh anggotaanggotanya

berkaitan dengan kemampuan untuk mempunyai keturunan dan

membesarkan anak.

e. Keluarga merupakan tempat tinggal bersama, rumah atau rumah tangga.

8. Tipe keluarga

Tipe keluarga menurut (Padila, 2012).

a. Keluarga tradisional
1) Keluarga inti, yaitu terdiri dari suami, istri dan anak. Biasanya keluarga yang

melakukan perkawinan pertama atau keluarga dengan

orangtua tiri.

2) Pasangan istri, terdiri dari suami dan istri saja tanpa anak, atau tidak ada anak yang

tinggal bersama mereka. Biasanya keluarga dengan karier keduanya.

3) Keluarga dengan orangtua tunggal, biasanya sebagai konsekuensi dari perceraian.

4) Bujangan dewasa sendiri


7
5) Keluarga besar, terdiri dari keluarga inti dan orang-orang yang berhubungan.

6) Pasangan usia lanjut, keluarga inti dimana suami istri sudah tua anak-anaknya

sudah terpisah.

b. Keluarga non tradisional

1) Keluarga dengan orang tua beranak tanpa menikah, biasanya ibu dan anak.

2) Pasangan yang memiliki anak tapi tidak menikah, didasarkan pada hukum tertentu.

3) Pasangan kumpul kebo, kumpul bersama tanpa menikah.

4) Keluarga gay atau lesbian, orang-orang yang berjenis kelamin yang sama hidup

bersama sebagai pasangan yang menikah.

5) Keluarga komunis, keluarga yang terdiri dari lebih dari satu pasangan monogamy

dengan anak-anak secara bersama menggunakan fasilitas, sumber yang sama.

9. Tahap perkembangan keluarga

a. Pasangan baru (keluarga baru), keluarga baru dimulai saat masingmasing individu

laki-laki dan perempuan membentuk keluarga melalui perkawinan yang sah dan

meninggalkan (psikologis) keluarga masingmasing:

1) Membina hubungan intim yang memuaskan

2) Membina hubungan dengan keluarga lain, teman, kelompok sosial

3) Mendiskusikan rencana memiliki anak

8
b. Keluarga child-bearing (kelahiran anak pertama), keluarga yang menantikan

kelahiran, dimulai dari kehamilan sampai kelahiran anak pertama dan berlanjut sampai

anak pertama berusia 30 bulan:

1) Persiapan menjadi orang tua

2) Adaptasi dengan perubahan anggota keluarga, peran, interaksi, hubungan seksual

dan kegiatan keluarga

3) Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan

c. Keluarga dengan anak pra-sekolah. Tahap ini dimulai saat kelahiran anak pertama (2,5

bulan) dan berakhir saat anak berusia 5 tahun:

1) Memenuhi kebutuhan anggota keluarga, seperti kebutuhan tempat tinggal, privasi

dan rasa aman

2) Membantu anak untuk bersosialisasi


3) Beradaptasi dengan anak yang baru lahir, sementara kebutuhan anak yang lain

juga harus terpenuhi

4) Mempertahankan hubungan yang sehat, baik di dalam maupun

diluar keluarga (keluarga lain dan lingkungan sekitar)

5) Pembagian waktu untuk individu, pasangan dan anak (tahap yang paling repot)

6) Pembagian tanggung jawab anggota keluarga

7) Kegiatan dan waktu untuk stimulasi tumbuh dan kembang anak

d. Keluarga dengan anak sekolah

9
Tahap ini dimulai saat anak masuk sekolah pada usia enam tahun dan berakhir pada

usia 12 tahun. Umumnya keluarga sudah mencapai jumlah anggota keluarga

maksimal, sehingga keluarga sangat sibuk:

1) Membantu sosialisasi anak: tetangga, sekolah dan lingkungan

2) Mempertahankan keintiman pasangan

3) Memenuhi kebutuhan dan biaya kehidupan yang semakin meningkat, termasuk

kebutuhan untuk meningkatkan kesehatan anggota keluarga

e. Keluaraga dengan anak remaja

Dimulai pada saat anak pertama berusia 13 tahun dan biasanya berakhir sampai 6-7

tahun kemudian, yaitu pada saat anak meninggalkan rumah orang tuanya. Tujuan

keluarga ini adalah melepas anak remaja dan memberi tanggung jawab serta kebebasan

yang lebih besar untuk mempersiapkan diri menjadi lebih dewasa:

1) Memberikan kebebasan yang seimbang dengan tanggung jawab, mengingat remaja

sudah bertambah dewasa dan meningkat otonominya

2) Mempertahankan hubungan yang intim dalam keluarga

3) Mempertahankan komunikasi terbuka antara anak dan orang tua.

Hindari perdebatan, kecurigaan dan permusuhan

4) Perubahan sistem peran dan peraturan untuk tumbuh kembang

keluarga.

f.Keluarga dengan anak dewasa (pelepasan)

Tahap ini dimulai pada saat anak pertama meninggalkan rumah dan berakhir pada saat

anak terakhir meninggalkan rumah. Lamanya tahap ini tergantung dari jumlah anak

10
dalam keluarga, atau jika ada anak yang belum berkeluarga dan tetap tinggal bersama

orang tua:

1) Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar

2) Mempertahankan keintiman pasangan

3) Membantu orangtua suami/istri yang sedang sakit dan memasuki masa tua

4) Membantu anak untuk mandiri di masyarakat

5) Penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga

g. Keluarga usia pertengahan

Tahap ini dimulai pada saat anak yang terakhir meninggalkan rumah dan berakhir saat

pensiun atau salah satu pasangan meninggal:

1) Mempertahankan kesehatan
2) Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan teman sebaya dan anak-anak

3) Meningkatkan keakraban pasangan

h. Keluarga usia lanjut

Tahap terakhir perkembangan keluarga ini dimulai pada saat salah satu pasangan

pensiun, berlanjut saat salah satu pasangan meninggal sampai keduanya meninggal:

1) Mempertahankan suasana rumah yang menyenangkan

2) Adaptasi dengan perubahan kehilangan pasangan, teman, kekuatan fisik dan

pendapatan

3) Mempertahankan keakraban suami istri dan saling merawat

4) Mempertahankan hubungan dengan anak dan sosial masyarakat

11
5) Melakukan life review (menurunkan hidupnya)

B. Konsep Asuhan Keperawatan Keluarga

Asuhan keperawatan keluarga adalah suatu rangkaian kegiatan yang diberikan

melalui praktik keperawatan kepada keluarga, untuk membantu menyelesaikan masalah

kesehatan keluarga tersebut dengan menggunakan keperawatan yang meliputi pengkajian

keluarga, diagnosa keperawatan keluarga, perencanaan, implementasi keperawatan dan

evaluasi tindakan keperawatan. (Abi Muslihin, 2012)

Tahap-tahap proses keperawatan keluarga adalah sebagai berikut :

1. Pengkajian

Pengkajian adalah suatu tahapan dimana seorang perawat mengambil informasi secara

terus menerus terhadap anggota keluarga yang dibinanya.

(Andarmoyo, 2012)

Padila (2012), hal-hal yang perlu dikumpulkan datanya dalam pengkajian keluarga

adalah:

a. Data Umum

Pengkajian terhadap data umum keluarga meliputi :

1) Kepala Keluarga (KK)

2) Alamat dan telepon

3) Pekerjaan kepala keluarga

4) Pendidikan kepala keluarga

5) Komposisi keluarga dan genogram

12
Komposisi keluarga yaitu menjelaskan anggota keluarga yang di identifikasi

sebagai bagian dari keluarga mereka. Bentuk komposisi keluarga dengan

mencatat terlebih dahulu anggota keluarga yang sudah dewasa, kemudian diikuti

dengan anggota keluarga yang lain sesuai dengan susunan kelahiran mulai dari

yang lebih tua, kemudian mencantumkan jenis kelamin, hubungan setiap anggota

keluarga tersebut, tempat tinggal lahir/umur, pekerjaan dan pendidikan.

Genogram keluarga merupakan sebuah diagram yang

menggambarkan konstelasi keluarga (pohon keluarga)


6) Tipe keluarga

Menjelaskan mengenai jenis/tipe keluarga beserta kendala atau masalah-masalah

yang terjadi dengan jenis/tipe keluarga

7) Suku Bangsa

Mengkaji asal suku bangsa keluarga serta mengidentifikasi budaya suku bangsa

keluarga yang terkait dengan kesehatan.

8) Agama

Mengkaji agama yang dianut oleh keluarga serta kepercayaan yang dapat

mempengaruhi kesehatan

9) Status sosial ekonomi keluarga

Status sosial ekonomi keluarga ditentukan oleh pendapatan baik dari kepala

keluarga maupun anggota keluarga lainnya. Selain itu status sosial ekonomi

keluarga ditentukan pula oleh kebutuhankebutuhan yang dikeluarkan oleh

keluarga serta barang-barang yang dimiliki oleh keluarga.

13
10) Aktivitas rekreasi keluarga

Rekreasi keluarga tidak hanya dilihat dari kapan saja keluarga pergi bersama-

sama untuk mengunjungi tempat rekreasi tertentu, namun dengan menonton

televisi dan mendengarkan radio juga merupakan aktivitas rekreasi.

b. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga

1) Tahap perkembangan keluarga saat ini

Tahap perkembangan keluarga ditentukan oleh anak tertua dari

keluarga inti.
2) Tugas perkembangan keluarga yang belum terpenuhi

Menjelaskan perkembangan keluarga yang belum terpenuhi menjelaskan mengenai

tugas perkembangan keluarga yang belum terpenuhi oleh keluarga serta kendala-

kendala mengapa tugas perkembangan tersebut belum terpenuhi

3) Riwayat keluarga inti.

Menjelaskan mengenai riwayat kesehatan pada keluarga inti, meliputi riwayat

penyakit keturunan, riwayat kesehatan masing-masing anggota keluarga, perhatian

keluarga terhadap pencegahan penyakit termasuk status imunisasi, sumber

pelayanan kesehatan yang biasa digunakan keluarga serta pengalaman terhadap

pelayanan kesehatan.

4) Riwayat kesehatan keluarga sebelumnya.

Menjelaskan mengenai riwayat kesehatan pada keluarga dari pihak suami dan istri.

c. Pengkajian Lingkungan

1) Karakteristik rumah

14
Karakteristik rumah diidentifikasi dengan melihat luas rumah, tipe rumah, jumlah

ruangan, jumlah jendela, jarak septic tank dengan sumber air, sumber air minum

yang digunakan serta dilengkapi dengan denah rumah.

2) Karakteristik tetangga dan komunitas Rukun Warga (RW)

Menjelaskan mengenai karakteristik dari tetangga dan komunitas setempat,

meliputi kebiasaan, lingkungan fisik, aturan atau kesepakatan penduduk setempat

serta budaya setempat yang mempengaruhi kesehatan.

3) Mobilitas geografis keluarga

Mobilitas geografi keluarga ditentukan dengan melihat kebiasaan keluarga

berpindah tempat

4) Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat. Menjelaskan mengenai

waktu yang digunakan keluarga untuk berkumpul serta perkumpulan keluarga

yang ada dan sejauh mana interaksi keluarga dengan masyarakat.

5) Sistem pendukung keluarga

Termasuk sistem pendukung keluarga adalah jumlah anggota

keluarga yang sehat, fasilitas-fasilitas yang dimiliki keluarga untuk menunjang

kesehatan mancakup fasilitas fisik, fasilitas psikologis atau dukungan dari anggota

keluarga dan fasilitas sosial atau dukungan dari masyarakat setempat.

d. Struktur keluarga

1) Pola komunikasi keluarga

Menjelaskan mengenai cara berkomunikasi antar anggota keluarga

15
2) Struktur kekuatan keluarga

Kemampuan anggota keluarga mengendalikan dan mempengaruhi orang lain untuk

mengubah perilaku.

3) Struktur peran menjelaskan peran dari masing-masing anggota keluarga baik

secara formal maupun informal

4) Nilai atau norma keluarga

Menjelaskan mengenai nilai dan norma yang dianut oleh keluarga yang

berhubungan dengan kesehatan.

e. Fungsi keluarga

1) Fungsi Efektif

Hal yang perlu dikaji yaitu gambaran diri anggota keluarga, perasaan memiliki dan

dimiliki dalam keluarga, dukungan keluarga terhadap anggota keluarga lainnya,

bagaimana kehangatan tercipta pada anggota keluarga dan bagaimana keluarga

mengembangkan sikap saling menghargai

2) Fungsi sosialisasi

Dikaji bagaimana interaksi atau hubungan dalam keluarga, sejauh mana anggota

keluarga belajar disiplin, norma, budaya serta

perilaku.

3) Fungsi perawatan kesehatan

Menjelaskan sejauh mana keluarga menyediakan makanan, pakaian, perlindungan

serta merawat anggota keluarga yang sakit, sejauh mana pengetahuan keluarga

mengenai sehat sakit.


16
4) Fungsi reproduksi

Hal yang perlu dikaji mengenai fungsi reproduksi keluarga adalah:

a) Berapa jumlah anak ?

b) Apakah rencana keluarga berkaitan dengan jumlah anggota keluarga ?

c) Metode yang digunakan keluarga dalam upaya mengendalikan jumlah anggota

keluarga ?

5) Fungsi Ekonomi

Hal yang perlu dikaji mengenai fungsi ekonomi keluarga adalah:

a) Sejauh mana keluarga memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan ?

b) Sejauh mana keluarga memanfaatkan sumber yang ada di masyarakat dalam

upaya peningkatan status kesehatan keluarga ?

f. Stress dan koping keluarga

1) Stressor jangka pendek dan panjang

a) Stressor jangka pendek yaitu stressor yang dialami keluarga yang memerlukan

penyelesaian dalam waktu kurang dari 6 bulan

b) Stressor jangka panjang yaitu stressor yang dialami keluarga yang memerlukan

penyelesaian dalam waktu lebih dari 6 bulan

c) Kemampuan keluarga dalam berespon terhadap stressor yang dikaji sejauh mana

keluarga berespon terhadap stressor

2) Strategi koping yang digunakan

Dikaji strategi koping yang digunakan keluarga bila menghadapi permasalahan/stress


17
3) Strategi adaptasi disfungsional

Dijelaskan mengenai strategi adaptasi disfungsional yang digunakan keluarga bila

menghadapi permasalahan/stress

g. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik dilakukan pada semua anggota keluarga. Metode yang digunakan

sama dengan pemeriksaan fisik klinik.

h. Harapan Keluarga

Pada akhir pengkajian, perawat menanyakan harapan keluarga terhadap keluarga

terhadap petugas kesehatan yang ada.

2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan keluarga adalah keputusan tentang respon keluarga tentang

masalah kesehatan aktual atau potensial, sebagai dasar seleksi intervensi keperawatan

untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan keluarga sesuai dengan kewenangan perawat,

(Setiadi, 2008).

Tahapan dalam diagnosa keperawatan keluarga antara lain :

a. Analisa data

Analisa data yaitu mengaitkan data dan menghubungkan dengan konsep teori dan

prinsip yang relevan untuk membuat kesimpulan dalam menentukan masalah

kesehatan dan keperawatan keluarga. Cara analisa data yaitu: validasi data,
18
mengelompokkan data, membandingkan dengan standart dan membuat kesimpulan

tentang kesenjangan yang diketemukan. Dalam menganalisa data ada 3 norma yang

diperlukan diperhatikan dalam melihat perkembangan kesehatan keluarga yaitu :

1) Keadaan kesehatan yang normal bagi setiap anggota keluarga yang meliputi :

a) Keadaan kesehatan fisik, mental, sosial anggota keluarga.

b) Keadaan pertumbuhan dan perkembangan anggota keluarga.


c) Keadaan gizi anggota keluarga.

d) Status imunisasi anggota keluarga.

e) Kehamilan dan KB.

2) Keadaan rumah dan sanitasi lingkungan, yang meliputi :

a) Rumah yang meliputi ventilasi, penerangan, kebersihan, kontruksi, luas rumah

dan sebagainya.

b) Sumber air minum.

c) Jamban keluarga.

d) Tempat pembuangan air limbah.

e) Pemanfaatan pekarangan yang ada dan sebagainya.

3) Karakteristik keluarga, yang meliputi :

a) Sifat-sifat keluarga.

b) Dinamika dalam keluarga.

c) Komunikasi dalam keluarga.

d) Interaksi antara anggota keluarga.

e) Kesanggupan keluarga dalam membawa perkembangan anggota

19
keluarga.

f) Kebiasaan dan nilai-nilai yang berlaku dalam keluargab. Perumusan masalah

1) Masalah (Problem) suatu istilah yang digunakan untuk mendefinisikan masalah

(tidak terpenuhinya kebutuhan dasar keluarga atau anggota keluarga) yang

diidentifikasi oleh perawat melalui pengkajian. Tujuan penulisan pernyataan

masalah adalah menjelaskan status kesehatan secara jelas dan sesingkat mungkin,

Diagnosa keprawatan keluarga pada masalah lingkungan

(1) Kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan rumah (Higienis lingkungan)

(2) Resiko terhadap cidera

(3) Resiko terjadi infeksi (penularan penyakit)

b) Diagnosa keperawatan keluarga pada masalah struktur

komunikasi

(1) Komunikasi keluarga disfungsional

c) Diagnosa keperawatan keluarga pada masalah struktur peran

(1) Berduka dan antisipasi

(2) Berduka disfungsional

(3) Isolasi sosial

(4) Perubahan dalam proses keluarga (dampak adanya orang yang sakit

terhadap keluarga)

(5) Potensial peningkatan menjadi orang tua (krisis menjadi orang tua)

(6) Perubahan penampilan peran

20
(7) Kerusakan pentalaksanaan pemeliharaan rumah

(8) Gangguan citra tubuh

d) Diagnosa keperawatan keluarga pada masalah fungsi afektif

(1) Perubahan proses keluarga

(2) Perubahan menjadi orang tua

(3) Potensial peningkatan menjadi orang tua

(4) Berduka dan diantisipasi

(5) Koping keluarga tidak efektif, menurun

(6) Koping keluarga tidak efektif, ketidakmampuan

(7) Resiko terhadap tindakan kekerasan

e) Diagnosa keperawatan pada masalah fungsi sosial

(1) Perubahan proses keluarga

(2) Perilaku mencari bantuan kesehatan

(3) Konflik peran orang tua

(4) Potensial peningkatan menjadi orang tua

(5) Perubahan pemeliharaan kesehatan

(6) Kurang pengetahuan

(7) Isolasi sosial

(8) Kerusakan interaksi sosial

(9) Resiko terhadap tindakan kekerasan

(10) Ketidakpatuhan
f) Diagnosa keperawatan keluarga pada masalah fungsi perawatan kesehatan

(1) Perubahan pemeliharaan kesehatan

21
(2) Potensial peningkatan pemeliharaan kesehatan

(3) Perilaku mencari pertolongan kesehatan

(4) Ketidakefektifan penatalaksanaan aturan terapeutik keluarga

(5) Resiko terhadap penularan penyakit

g) Diagnosa keperawatan keluarga pada masalah koping

(1) Potensial peningkatan koping keluarga

(2) Koping keluarga tidak efektif, menurun (3) Koping keluarga tidak

efektif, ketidakmampuan

(4) Resiko terhadap tindakan kekerasan.

2) Penyebab (etiologi)

Suatu pernyataan yang dapat menyebabkan masalah dengan

mengacu kepada lima tugas keluarga, yaitu sebagai berikut :

(a) Mengenal masalah keluarga

(b) Membuat keputusan tindakan kesehatan yang tepat

(c) Memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit

(d) Mempertahankan suasana rumah yang sehat

Secara umum faktor-faktor yang berhubungan atau etiologi dari diagnosis

keperawatan keluarga adalah adanya :

(1) Ketidaktahuan (kurangnya pengetahuan, pemahaman, dan

kesalahan persepsi).

(2) Ketidakmauan (sikap dan motivasi).


Sedangkan menurut Komang (2010) mengacu pada 5 tugas

keluarga yaitu:
22
1. Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah

2. Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan

3. Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga

yang sakit

4. Ketidakmampuan keluarga memelihara lingkungan

5. Ketidakmampuan keluarga menggunakan fasilitas

keluarga

3) Diagnosa keperawatan yang sering muncul pada keluarga dengan Gastritis

menurut NANDA NIC-NOC 2015 adalah:

a) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

masukan nutrien yang tidak adekuat

b) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan masukan cairan yang tidak

cukup dan kehilangan cairan berlebihan karena muntah

c) Nyeri akut berhubungan dengan mukosa lambung teriritasi

d) Defesiensi pengetahuan berhubungan dengan penatalaksanaan diit dan proses

penyakit.

Kemungkinan diagnosa keperawatan yang muncul pada keluarga yang mengalami

Gastritis pada (NANDA NIC-NOC 2015) dan etiologi (Komang, 2010) adalah:

(1) Nyeri akut berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam mengenal

masalah.

23
(2) Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang

sakit.

Untuk menentukan prioritas terhadap diagnosa keperawatan keluarga yang

ditemukan dihitung dengan menggunakan skala prioritas (skala

Baylon dan Maglaya).

Tabel 2.1 Skala Bailon dan Maglaya

Kriteria Skor Bobot


1. Sifat Masalah
a. Aktual (tidak/kurang sehat) 3 1
b. Ancaman kesehatan 2
c. Keadaan sejahtera 1
2. Kemungkinan masalah yang dapat di
ubah 2 2
a. Mudah 1
b. Sebagian 0
c. Tidak dapat
3. Potensi masalah untuk dicegah
a. Tinggi 3 1
b. Cukup 2
c. Rendah 1
4. Menonjolnya masalah
a. Masalah berat harus segera 2 1
ditangani
b. Ada masalah tetapi tidak perlu 1
segera ditangani
c. Masalah tidak dirasakan 0
Sumber : Setiadi (2008)Skoring :
a. Tentukan skor untuk setiap kriteria
b. Skor dibagi dengan angka tertinggi dan kalikan dengan bobot
Skor
X Bobot Angka
Tertinggi

24
c. Jumlah skor untuk semua kriteria

d. Skor tertinggi adalah 5 dan sama untuk seluruh bobot


Menurut Padila (2012) Dalam menentukan prioritas, banyak faktor yang

mempengaruhi untuk kriteria yang pertama yaitu sifat masalah, skor yang lebih besar

3, diberikan pada tidak/kurang sehat karena kondisi ini biasanya disadari dan

dirasakan oleh keluarga, ancaman kesehatan skor 2 dan keadaan sejahtera skor 1

Untuk kriteria kedua yaitu kemungkinan masalah dapat di ubah, perawat perlu

memperhatikan faktor – faktor berikut :

a. Pengetahuan yang ada sekarang, teknologi dan tindakan untuk menangani

masalah.

b. Sumber daya keluarga baik dalam bentuk fisik, keuangan maupun tenaga.

c. Sumber daya perawat dalam bentuk pengetahuan, keterampilan dan waktu.

d. Sumber daya masyarakat dalam bentuk fasilitas, organisasi masyarakat dan

dukungan masyarakat.

Untuk kriteria ketiga yaitu potensi masalah dapat dicegah, perawat perlu

memperhatikan faktor – faktor berikut :

a. Kepelikan masalah yang berhubungan dengan penyakit atau masalah.

b. Lamanya masalah yang berhubungan dengan jangka waktu

masalah itu ada.

25
c. Tindakan yang sedang dijalankan, yaitu tindakan–tindakan yang tepat dalam

memperbaiki masalah.

d. Adanya kelompok high risk atau kelompok yang sangat peka menambah masalah.

Untuk kriteria keempat yaitu menonjolnya masalah, perawat perlu menilai persepsi

atau bagaimana keluarga melihat masalah kesehatan tersebut.

3. Perencanaan

Perencanaan adalah bagian dari fase pengorganisasian dalam proses keperawatan

keluarga yang meliputi penentuan tujuan perawatan (jangka panjang/pendek), penetapan

standart kriteria serta menentukan perencanaan untuk mengatasi masalah keluarga.

Perencanaan keperawatan keluarga terdiri dari penetapan tujuan, mencakup tujuan umum

dan khusus, rencana intervensi serta dilengkapi dengan rencana evaluasi yang memuat

kriteria dan standar. Selanjutnya intervensi keperawatan keluarga diklasifikasikan

menjadi intervensi yang mengarah pada aspek kognitif, efektif dan psikomotor (prilaku).

Semua intervensi baik berupa pendidikan kesehatan, terapi modalitas ataupun terapi

komplementer pada akhirnya ditujukan untuk meningkatkan kemampuan keluarga

melaksanakan lima tugas keluarga dalam kesehatan. Kriteria dan standar merupakan

rencana evaluasi, berupa pertanyaan spesifik tentang hasil yang diharapakan dari setiap

tindakan berdasarkan tujuan khusus yang ditetapkan. Kriteria dapat berupa respon verbal,

sikap atau psikomotor, sedangkan standar berupa patokan/ukuran yang kita tentukan

berdasarkan kemampuan keluarga, sehingga dalam mementukan standar antara klien satu

dengan klien yang lainnya walaupun masalahnya sama, standarnya bisa jadi berbeda,

(Padila, 2012)

26
4. Implementasi

Implementasi atau tindakan adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana

keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan, pada tahap ini, perawat yang

mengasuh keluarga sebaiknya tidak bekerja sendiri, tetapi perlu melibatkan secara

integrasi semua profesi kesehatan yang menjadi tim perawatan kesehatan di rumah.

5. Evaluasi

Tahap penilaian atau evaluasi adalah perbandingan yang sistimatis dan terencana tentang

kesehatan keluarga dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara

berkesinambugan dengan melibatkan klien dan tenaga kesehatan lainnya. Tujuan evaluasi

adalah untuk melihat kemampuan keluarga dalam mencapai tujuan.

C. Konsep Dasar Teori Gastritis

1. Pengertian.

Gastritis adalah suatu istilah kedokteran untuk suatu keadaan inflamasi jaringan

mukosa (jaringan lunak) lambung. Gastritis atau yang lebih dikenal dengan maag berasal

dari bahasa yunani yatiu gastro yang berarti perut atau lambung dan titis yang berarti

inflamasi atau peradangan. Gastritis bukan berarti penyakit tunggal, tetapi berbentuk dari

beberapa kondisi yang kesemuanya itu mengakibatkan peradangan pada lambung.

Gastritis merupakan penyakit yang menyerang daerah lambung. Penyakit ini sering

menyerang pada orang yang terbiasa makan makanan yang terlalu asam, pedas atau bahkan

27
sering telat makan. Gastritis bisa bertambah parah jika tidak segera disembuhkan. Gastritis

atau lebih dikenal sebagai maag berasal dari bahasa yunani yaitu gastro, yang berarti perut

atau lambung dan itis yang berarti inflamasi atau peradangan. Gastritis bukan merupakan

penyakit tunggal, tetapi terbentuk dari beberapa kondisi yang kesemuanya itu

mengakibatkan peradangan pada lambung.

Gastritis adalah proses inflamasi pada lapisan mukosa dan submukosa lambung.

Secara histopatologi dapat dibuktikan dengan adanya infiltrasi selsel radang daerah

tersebut. Gastritis merupakan salah satu penyakit dalam pada umumnya. Secara garis

besar, gastritis dapat dibagi menjadi beberapa macam: Gastritis akut adalah suatu

peradangan permukaan mukosa lambung yang akut dengan kerusakan-kerusakan erosi.

Gastritis kronis adalah inflamasi lambung yang lama dapat disebabkan oleh ulkus benigna

atau maligna dari lambung, atau oleh bakteri Helicobacter pylory.

2. Etiologi.

Infeksi kuman Helicobacter pylori merupakan penyebab gastritis yang amat penting.

Di negara berkembang prevalensi infeksi H. pylori pada orang dewasa mendekati 90%.

Sedangkan pada anak-anak prevalensi infeksi H. pylori lebih tinggi lagi. Hal ini

menunjukkan pentingnya infeksi pada masa balita. Di Indonesia, prevalensi infeksi kuman

H. pylori menunjukkan tendensi menurun. Di negara maju, prevalensi infeksi kuman H.

pylori pada anak sangat rendah. Diantara orang dewasa infeksi kuman H. pylori lebih

tinggi dari pada anak-anak tetapi lebih rendah dari pada di negara berkembang, yakni

sekitar 30%

28
Penggunaan antibiotik dicurigai mempengaruhi penularan kuman di komunitas karena

mampu mengeradiksi infeksi kuman tersebut, walaupun presentase keberhasilannya

rendah. Pada awal infeksi mukosa lambung akan menunjukkan respon inflamasi akut.

Gastritis akut akibat H. pylori sering diabaikan sehingga penyakitnya berlanjut menjadi

kronik. Hal yang berpengaruh pada timbulnya gastritis, diantaranya pengeluaran asam

lambung yang berlebihan, Pertahanan dinding lambung yang lemah, Infeksi H. pylori

ketika asam lambung yang dihasilkan lebih banyak sehingga pertahanan dinding lambung

melemah, Gangguan gerakan saluran cerna, Stress psikologis

Penyebab terjadinya gastritis obat analgetik antiinflamasi, terutama aspirin, Bahan kimia,

misalnya lisol, Merokok, Alkohol, Stres fisis yang disebabkan luka bakar, sepsis trauma,

pembedahan, kerusakan saraf, Refluk usus – lambung, Endotoksin.

Obat analgetik antiinflamasi terutama aspirin, bahan kimia missal lisol, merokok, alcohol,

sress fisis yang disebabkan oleh luka bakar, sepsis, trauma, pembedahan, gagal pernafasan,

gagal ginjal, kerusakan susunan syaraf pusat, refluk usus lambung, endotoksin.

3. Patofisiologi.

Erosi mukosa lambung adalah penyebab utama perdarahan

gastrointestinal bagian atas. Salisilat dalam tingkat yang lebih kecil obatobat anti

peradangan bukan steroid dapat merusak sawar mukosa lambung merangsang difusi balik

ion hidrigen dan akhirnya menimbulkan perdarahan. Kebanyakan lesi terjadi pada pasien

dengan kelainan berat, Kerusakan mukosa barier sehingga difusi balik ion H+ meningkat,

Perfusi mukosa lambung terganggu, Jumlah asam lambung, Faktor ini saling berhubungan,

29
misalnya stres fisik yang dapat menyebabkan perfusi mukosa lambung terganggu sehingga

timbul infark kecil, disamping itu sekresi asam lambung juga terpacu ( Inayah, 2004 ).

Aspirin dan obat antiinflamasi nonsteroid merusak mukosa lambung melalui

beberapa mekanisme. Obat-obat ini dapat menghambat aktivitas siklooksigenase mukosa.

Siklooksigenase merupakan enzim yang penting untuk pembentukan prostaglandin dari

asam arakidonat. Prostaglanding merupakan salah satu factor defensif mukosa lambung

yang amat penting. Selain menghambat produksi prostaglanding mukosa, aspirin dan obat

anti inflamasi nonsteroid tertentu dapat merusak mukosa secara topikal.

4. Manifestasi klinis.
30
Sindrom dyspepsia berupa nyeri epigastrium, mual, kembung, muntah, merupakan

salah satu keluhan yang sering muncul. Ditemukan pula perdarahan saluran cerna berupa

hematemisis dan melena, kemudian disusul dengan tanda-tanda anemia pasca perdarahan.

Biasanya, jika dilakukan anamnesis lebih dalam, terdapat riwayat penggunaan obat-obatan

atau bahan kimia tertentu. Pada gastritis kronik kebanyakan pasien tidak mempunyai

keluhan, hanya sebagian kecil mengeluh nyeri ulu hati, anoreksia, nausea, dan pada

pemeriksaan fisik tidak dijumpai kelainan

5. Komplikasi

Perdarahan saluran cerna bagian atas (SCBA) berups hematemesis dan melena, dan

berakhir sebagai syok hemoragik. Khusus untuk perdarahan SCBA, perlu dibedakan

dengan tukak peptik. Gambaran yang diperlihatkan hampir sama. Namun pada tukak

peptik penyebab utamanya adalah infeksi Helicobacter pylori, sebesar 100 % pada tukak

duodenum dan 6o-90 % pada tukak lambung. Diagnosis pasti dapat ditegakkan dengan

endoskopi.

6. Patogenesis.

Faktor yang dapat menyebabkan kerusakan pada mukosa lambung adalah sebagai

berikut : Kerusakan mukosa barier sehingga difusi balik ion H+ meninggi, perfusi jaringan

lambung yang tergaggu, jumlah asam

lambung. Faktor ini saling berhubungan, misalnya stress fisik yang dapat menyebabkan

perfusi mukosa lambung terganggu, sehingga timbul daerahdaerah infark kecil.

31
Disamping itu sekresi asam lambung juga terpacu. Suasana asam yang terdapat pada

lumen lambung akan mempercepat kerusakan mukosa barier oleh cairan.

7. Pengobatan

Penyakit gastritis dapat ditangani sejak awal, yaitu mengkonsumsi makanan lunak

dalam porsi kecil, berhenti mengkonsumsi makanan pedas dan asam, berhenti merokok dan

minuman beralkohol, mengkonsumsi antasida sebelum makan (Misnadiarly, 2009)

Yang perlu dilakukan dalam pengobatan gastritis yaitu mengatasi kedaruratan medis yang

terjadi, mengatasi dan menghindari penyebab apabila dijumpai, serta pemberian obat-obat

H2 blocking, antasid atau obatobat ulkus lambung lainnya. Pengobatan gastritis akibat

infeksi kuman H. pylori bertujuan untuk mengeradikasi kuman tersebut. ( Inayah 2004

). Pada saat ini indikasi yang telah disetujui secara universal untuk melakukan eradiksi

adalah infeksi kuman H. pylori yang ada hubungannya dengan tukak peptik. Antibiotik

yang dianjurkan adalah klaritomisin, amoksisilin, metronidazol dan tetrasiklin (Hirlan,

2006).

8. Penatalaksanaan

Gastritis diatasi dengan menginstruksikan pasien untuk menghindari alkohol dan


makanan sampai gejala berukurang. Bila pasien mampu makan melalui mulut, diet
mengandung gizi dianjurkan. Bila gejala menetap, cairan perlu diberikan secara
parenteral. Bila perdarahan terjadi, maka penatalaksanaan adalah serupa dengan prosedur
yang dilakukan untuk hemoragi saluran gastrointestinal atas. Bila gastritis diakibatkan
oleh mencerna makanan yang sangat asam atau alkali, pengobatan terdiri dari
pengenceran dan penetralisasian agen penyebab. Terapi pendukung mencakup intubasi,
analgesik dan sedatif, antasida serta cairan intravena. Endoskopi fiberoptik mungkin

32
diperlukan. Pembedahan darurat mungkin diperlukan untuk mengangkat jaringan
perforasi.

BAB II

KESIMPULAN

A. Simpulan

Makanan sangat penting bagi tubuh kita. Tubuh kita membutuhkan asupan nutrisi

berupa karbohidrat, lemak, protein dan senyawa-senyawa gizi penting lainnya.

Asupan makanan ini harus didukung dengan pola makan yang sesuai. Pola makan

yang teratur sangat penting bagi kesehatan tubuh kita, sedangkan pola makan yang

tidak teratur dapat menyebabkan gangguan di sistem pencernaan. Permasalahan

dalam sistem pencernaan tidak boleh dibiarkan. Ada berbagai gangguan sistem

pencernaan atau penyakit yang mungkin terjadi dan sering dibiarkan oleh banyak

orang, salah satunya adalah penyakit Gastritis atau biasa kita sebut penyakit maag.

Penyakit Gastritis atau maag merupakan penyakit yang sangat kita kenal dalam

kehidupan sehari-hari. Penyakit ini sering ditandai dengan nyeri ulu hati, mual,

33
muntah, cepat kenyang, nyeri perut dan lain sebagainya. Penyakit maag sangat

mengganggu karena sering kambuh akibat pengobatan yang tidak tuntas. Sebenarnya

kunci pengobatan penyakit maag adalah dapat mengatur agar produksi asam lambung

terkontrol kembali.

DAFTAR PUSTAKA

Andarmoyo, Sulistyo (2012).Keperawatan Keluarga : Konsep Teori, Proses dan Praktik


Keperawatan.Yogyakarta: Graha Ilmu

Dinas Kesehatan Kolaka (2016), Profil kesehatan kabupaten Kolaka, Kolaka

Gustin, R.K (2011). Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian gastritis pada pasien
yang berobat jalan di Puskesmas Gulai Gancah Kota Bukit Tinggi tahun 2011.

Jhonson, (2010). Keperawatan Keluarga Plus Contoh Askep Keluarga. Yogyakarta : Nuha
Medika
Muslihin, (2012). Keperawatan Keluarga. Yogyakarta : Gosyen Publishing
Padila, (2012). Buku Ajar Keperawatan Keluarga. Yogyakarta : Nuha Medika
Puskesmas Wundulako (2017), Profil Puskesmas Kecamatan Wundulako, Wundulako

Sulastri (2012), Gambaran pola makan penderita gastritis di wilayah kerja puskesmas kampar
kiri hulu kecamatan kampar kiri hulu kabupaten Riau: Skripsi: Sumatra Fakultas
Kesehatan Masyarakat USU

Wijaya, (2013). Keperawatan Medikal Bedah. Yogyakarta : Nuha Medika

34