Anda di halaman 1dari 2

Integrated Pest Management

Upaya menanggulangi masalah hama selama ini berevolusi pula selaras dengan perkembangan
peradaban manusia berikut penguasaan teknologinya. Apa yang terjadi kemudian adalah
terciptanya berbagai metode, teknik, alat, serta senyawa-senyawa kimia yang amat efektif
melawan hama. Dengan penemuan- penemuan itu dunia kesehatan terhindar dari malapetaka
wabah penyakit asal-vektor yang ganas seperti malaria dan dunia pertanian dapat
menghasilkan bahan pangan cukup sehingga tidak sampai terjadi malapetaka kelaparan.

Sayang, upaya melawan hama yang dilakukan amat intensif dengan menggunakan pestisida itu
ternyata telah menimbulkan akibat samping yang merugikan pula, antara lain terjadinya
keracunan baik yang akut maupun kronis, pencemaran dan terbentuknya galur-galur hama
yang resisten terhadap pestisida. Kenyataan itu telah menyadarkan segenap pakar hama di
seluruh dunia untuk lebih berhati-hati dalam melakukan upaya melawan hama. Melalui
berbagai tinjauan, perbincangan maupun percobaan akhirnya sampailah mereka pada sebuah
konsep yang disebut Integrated Pest Management (IPM).

Sebelum dicetuskannya konsep IPM, istilah yang digunakan adalah pest control (PC). Meskipun
PC ini dapat diterjemahkan sebagai "pengendalian hama" dan kata "pengendalian" itu sendiri
sebenarnya memberikan konotasi fleksibel yaitu kurang lebih : "menjaga agar populasi hama
tidak meningkat terlalu tinggi sehingga merugikan", namun karena dalam kenyataannya
praktek PC terlalu berat bergantung kepada pestisida, maka PC diartikan sebagai chemical
control. Banyak pemakaian pestisida, misalnya penyemprotan, dilakukan secara "terjadwal"
atau "berkala" baik sebagai tindakan represif maupun preventif. Akibatnya seperti disebut di
awal tadi, terjadi akibat-akibat samping yang kurang menguntungkan, baik bagi kelangsungan
ekosistem bersangkutan maupun bagi keberhasilan upaya pengendaliannya sendiri. Untuk
mengurangi citra penggunaan pestisida secara berlebihan, maka diajukanlah istilah pest
management yang menyiratkan pendekatan pengendalian hama secara bijaksana dalam arti
melakukan tindakan sejauh yang diperlukan serta penuh kehati-hatian dan perhitungan.

Konsep pest management sebenarnya sudah dikenal semenjak lama, bahkan tanpa disadari
telah sering dilaksanakan dalam praktek pengendalian hama, tidak terkeeuali hama
permukiman. Namun dengan semakin kritisnya pandangan masyarakat terhadap penggunaan
pestisida, maka cara-cara "non-pestisida" semakin memperoleh perhatian, sementara
pengertian pest management diangkat ke permukaan sebagai alternatif untuk pest control.
Pengertian pest management awalnya dirumuskan sebagai "pemanfaatan semua teknik yang
ada dalam suatu program terpadu untuk mengendalikan populasi hama sedemikian rupa
sehingga hama itu tidak menimbulkan kerugian, sementara akibat samping terhadap
lingkungan ditekan seminimal mungkin" (Smith & Reynolds, 1966; NAS, 1969). Pengertian itu
dipertajam oleh Rabb (1972) yang menyatakan bahwa pest management adalah pendekatan
pengendalian hama secara bijaksana dengan menggunakan cara-cara yang menjamin akan
memberikan hasil yang memuaskan dipandang dari segi ekonomi, ekologi maupun sosial.

Pengertian pest management tersebut jelas berasal dari situasi pengendalian hama di
lingkungan pertanian. Sebagai batasan terkendalinya populasi hama adalah apabila populasi itu
berada di bawah tingkat "ambang ekonomi", yaitu tingkat populasi hama yang kerusakan yang
diakibatkannya masih dapat ditoleransi dari segi ekonomi. Maksudnya adalah selama kerusakan
atau kerugian yang diakibatkan oleh hama itu sedemikian keeil sehingga tidak seimbang dengan
besarnya biaya pengendalian, maka populasi hama itu masih disebut terkendali. Dengan filosofi
ini pestisida hanya digunakan bilamana dipandang perlu, sementara cara-cara pengendalian
non-pestisida tepat-guna diterapkan sejauh mungkin. Penambahan kata integrated di depan
kata pest management sebenarnya hanya merupakan penekanan saja, untuk mengingatkan
agar berbagai macam pendekatan pengendalian itu diikat dalam satu program terkoordinasi
dengan tujuan dan sasaran yang jelas.

Produk dari konsep IPM ini adalah harapan agar:

1. populasi hama dapat terus ditekan di bawah ambang,


2. penggunaan pestisida dikurangi sehingga mengurangi bahaya dan akibat samping,
3. penggunaan metode non-pestisida ditingkatkan sejauh mungkin dan
4. keseluruhan program pengendalian itu efektif, efisien, aman, tidak berbiaya tinggi dan
herterima di kalangan masyarakat.

Dalam hal ini, perlu sekali lagi ditekankan bahwa agar program IPM dapat mencapai hasil
maksimal, ada beberapa hal yang harus dipahami dengan benar, yaitu :
1. Perihal hamanya khususnya mengenai biologi, ekologi dan perilakunya,
2. Perihal strategi pengendalian yang akan ditempuh : siapa sasarannya, bagaimana
melaksanakannya, dimana dan kapan waktunya yang paling tepat,
3. Perihal materi pengendaliannya, apakah itu pestisida (toksikologi dan presistensinya),
organisme musuh alami (biologi, ekologi dan perilakunya) ataupun cara-cara non-
pestisida lainnya dan
4. Perihal lingkungan yang dihadapi, khususnya kondisi struktural dan tata ruangnya.

Dari uraian di atas, maka jelas bahwa IPM adalah suatu pendekatan pengendalian yang amat
konsepsional dan dengan demikian menuntut dasar pengetahuan yang cukup luas untuk para
pelaksananya