Anda di halaman 1dari 18

PRAKTIKUM PPMPM

KANDUNGAN NAPHATALENE DALAM AVTUR

Oleh

Nama : Titus Yempori

Nim : 191450054

Kelas : PDN IA

Kelompok : 4

POLITEKNIK ENERGI DAN MINERAL AKAMIGAS

KEMENTRIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

Cepu, Februari 2020

1
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ------------------------------------------------------------- 1

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ----------------------------------------------- 3
1.2 Maksud dan Tujuan ---------------------------------------- 4
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Teori Naphthalene ------------------------------------------ 5
2.2. Teori Avtur ---------------------------------------------------- 6
2.3. UV-Vis ------------------------------------------------------ 12
2.4. Aplikasi Instrumen --------------------------------------- 14
III. METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat praktikum -------------------------- 16
3.2 Alat dan Bahan --------------------------------------------- 16
3.2 Cara Kerja --------------------------------------------------- 16

Daftar Pustaka

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Pendahuluan

Avtur (aviation turbin ) salah satu bahan bakar yang dihasilkan adalah
minyak tanah dengan spesifikasi yang diperketat, terutama mengenai titik
uap, dan titik beku. Bahan bakar minyak ini merupakan BBM jenis khusus
yang dihasilkan dari fraksi minyak bumi[1]. Bahan bakar pesawat terbang
ada dua, yaitu avtur dan avgas. Avtur adalah singkatan dari Aviation
Turbine Fuel (bahan bakar yang digunakan untuk pesawat yang
menggunakan mesin turbine gas atau jet engine). Avgas adalah Aviation
Gasoline (bahan bakar pesawat terbang untuk piston engine). Oleh
sebagian orang, avgas ini disebut sebagai bensol. Jadi avtur bukan bensol,
yang bensol adalah avgas. Asal mula avtur dan avgas adalah crude oil
atau minyak mentah, sama seperti bahan bakar fosil lainnya. Dari minyak
mentah itulah dilakukan proses refining sehingga terbentuklah berbagai
macam bahan bakar dan beberapa diantaranya adalah avtur dan avgas
untuk pesawat terbang. juga tentang ASTM (American Standard Testing
Material). ASTM adalah standar uji dan penamaan untuk sebuah material
dimana avgas dan avtur ketika dalam standar testing. Kalau di Amerika
bukan lagi disebut avtur atau avgas, tetapi menggunakan nama ASTM
diikuti kode angkanya dan untuk standar inggris menggunakan DEF-STAN
lalu diikuti kode angkanya. Untuk mengetahui mutu dan manfaat minyak
bumi ada beberapa parameter analisa minyak bumi yang digunakan yang
terbagi dalam 2 parameter yaitu parameter kimia dan parameter fisik.
Parameter kimia tersebut seperti : kandungan sulfur, kandungan air dan
kandungan garam,semntara parameter fisiknya antara lain : berat jenis
(specific gravity),tekanan uap reid, warna, viskositas kinematis, temperatur
distilasi, titik nyala, titik tuang dan titik sambar[4].

3
1.2 Tujuan

Maksud dan tujuan dari praktikum ini, yaitu:


1. Praktikan memahami konsep spektrometri UV - Vis.
2. Praktikan dapat menentukan kadar phosphor dalam pelumas.
3. Praktikan dapat memahami cara menggunakan dan mengoperasikan
alat spektrometri UV - Vis.

4
BAB II
TEORI DASAR

2.1 Naftalen

Naftalen merupakan salah satu senyawa hidrokarbon aromatis


polisiklik (HAP) yang banyak dijumpai dalam mrnyak bumi, batu bara dan
hasil alam lainnya. Meskipun bukan senyawa xenobiotik, naftalen dapat
menjadi persoalan yang serius karena penggunaannya yang luas dan
penanganan yang tidak hati-hati. Naftalen diketahui bersifat mutagenik.
Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan isolat bakteri yang dapat
merombak naftalen dan mempelajari kemampuannya merombak naftalen
kadar tinggi dalam medium mineral (MM) cair. Tanah yang tercemari

minyak bumi dan sumber isolat diperoleh dari unit pengolah minyak
Pertamina, Cilacap. Isolat dipreroleh melalui kultur diperkaya
menggunakan naftalen. Jumlah naftalen yang ditambahkan ke dalam MM
cair sebesar 907,1362 dan 1813 ppm. Inkubasi dilakukan selama 28 hari
dalam keadaan gelap. Parameter yang diamati meliputi: jumlah sel hidup
dengan metode drop plate dan kadar naftalen sisa dengan menggunakan
GC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat bakteri yang dipilih,
teridentifikasi sebaga\ Pseudomonas NY-1[2].

5
2.2 Avtur

Avtur didesain khusus untuk bahan bakar pesawat udara dengan tipe
mesin turbin (external combution)[3]. Performa atau nilai mutu jenis bahan
bakar avtur ditentukan oleh karakteristik kemurnian, model pembakaran
turbin, dan daya tahan struktur pada suhu yang rendah . Disamping
sebagai sumber energi penggerak mesin pesawat terbang juga berfungsi
sebagai cairan hidrolik didalam sistem kontrol mesin dan sebagai
pendingin bagi beberapa komponen sistem pembakaran. Hanya terdapat
satu jenis bahan bakar jet yakni tipe kerosine yang digunakan untuk
keperluan penerbangan sipil diseluruh dunia[2].

Avtur merupakan bahan bakar yang di peroleh darihasil


pengolahan minyak bumi, yang mempunyai trayek didih antara
150-300°C, terdiri dari molekul hydrocarbon (C11-C 15) dan titik
beku (freezing point) dibatasi maksimum -47°C[6].

Avtur dengan trayek titik didih antara 150 – 300 0C, terdiri dari
molekul hydrokarbon dan titik beku (freezing point) dibatasi maksimum –

47 0C. Avtur yang digunakan sebagai bahan bakar pesawat terbang


bermesin turbine (jet) dengan resiko keselamatan yang tinggi,
mempunyai persyaratan sangat ketat jika dibandingkan dengan bahan
bakar yang lainnya[8].

6
2.2.1 Jenis Avtur
Jenis – jenis Avtur sebagai bahan bakar pada pesawat terbang adalah
sebagai berikut :

1. Avtur Versi Sipil/ Pesawat Komersial/ Untuk Maskapai


Avtur versi sipil ini dibagi menajdi tiga yaitu Jet A – 1, Jet – A, dan
Jet – B. Jet A – 1 merupakan avtur yang paling banyak digunakan
untuk pesawat komersil seperti pesawat Garuda, Lion Air, Sriwijaya,
dan lain – lain. Avtur jenis ini memiliki kelebihan titik bekunya hingga
– 47°C. Hal ini sangat mendukung operasi penerbangan pesawat
ketika terbang cruising atau terbang jelajah pada ketinggian 30.000
– 40.000 feet dan pada ketinggian jelajah tersebut, suhu ambient atau
freestream mencapai – 45°C. Avtur Jet – A dipakai untuk pesawat
latih ataupun pesawat bermesin jet yang tidak terbang tinggi karena
memiliki flash point – 40°C. Avtur Jet – B digunakan pada daerah
cuaca ekstrem seperti di Eropa dan Amerika bagian Utara yang
memiliki temperatur sangat tinggi karena avtur jenis ini memiliki
flammability yang sangat tinggi[5].
2. Avtur Versi Pesawat Militer
Avtur versi militer menggunakan simbol JP (Jet Propellant) yaitu
JP – 4, JP – 5, JP – 8. JP – 4 adalah avtur yang memiliki titik beku
yang sangat rendah dan dalam versi sipil JP – 4 ini adalah Jet – B.
JP – 5 adalah avtur berwarna kuning dan memiliki titik beku - 46°C.
JP – 8 adalah avturyang banyak digunakan karena JP – 8 adalah
Jet A – 1[5].

2.2.2 Karakteristik produk

1. Komposisi
Komposisi senyawa kimia seperti jumlah keasaman (Total

7
Acidity), jumlah senyawa aromatic, senyawa olefin, jumlah
sulfur, merchaptan sulfur dibatasi keberadaannya dalam
bahan bakar Avtur. Pembatasan ini erat hubungannya
dengan mutu bakar, stabilitas pada penyimpanan dan
pemakaian, serta sifat korosifitas Avtur tersebut.
Avtur ini mempunyai persyaratan komposisi hidrokarbon yang terdiri
dari :
1. Parafin : 33-61% vol.
2. Olefin : 0,5-5% vol.
3 Naften : 10-45% vol.
4. Aromatic : 12-25% vol.

2. Volatilitas
Volatilitas adalah tingkat kecenderungan suatu bahan bakar
untuk menguap. Dua sifat fisika yang digunakan sebagai ukuran
volatilitas suatu bahan bakar adalah tekanan uap dan profil distilasi.
Semakin volatil suatu zat, maka semakin tinggi tekanan uapnya dan
semakin rendah suhu mula-mula distilasinya. Volatilitas sangat
penting dikarenakan bahan bakar harus menguap
sebellum ia dapat terbakar. Namun, volatilitas yang terlalu
tinggi dapt mengakibatkan kehilangan evaporatif atau fuel system
vapor lock. Sifat penguapan Avtur ditujukan oleh hasil
pemeriksaan terhadap titik nyala (flash Point) dan distilasinya.
Sedangkan distilasi pada 10 % volume dibatasi maksimum,
dimaksudkan agar bahan bakar tersebut tidak terlalu lambat
terbakar pada saat pesawat terbang melakukan Start Up.

d. Fluidity
Fluiditas istilah umum yang berkaitan dengan kemampuan

8
suatu zat untuk mengalir, tetapi bukan sebagai sifat fisika.
Viskositas dan titik beku merupakan sifat fisika yang
digunakan untuk menggambarkan tingkat fuliditas suatu bahan
bakar. Titik beku didefinisikan sebagai suhu dimana kristal wax
(hidrokarbon) terakhir mencair, ketika menghangatkan bahan
bakar yang sebelumnya telah didinginkan hingga terbentuk
wax. Titik beku dari suatu bahan bakar berada di atas
temperatur dimana seluruhnya berubah menjadi padatan. Titik
beku juga dibatasi untuk menjamin agar bahan bakar masih
dapat mengalir dengan lancar pada kondisi suhu yang sangat
rendah dan memiliki batasan maksimum -47°C.
Mengingat Avtur digunakan sebagai bahan bakar pesawat
terbang yang beroperasi dalam berbagai suhu, maka sifat
pengalirannya perlu dibatasi maksimum. Sebagai petunjuk
untuk mengetahui sifat pengaliran dari Avtur dilakukan
pemeriksaan terhadap titik beku (Freezing point) dan
kekentalan (viscosity kinematiknya).

e. Combustion
Kalor pembakaran merupakan kalor yang dilepaskan ketika
sejumlah bahan bakar dibakar pada kondisi yang spesifik.
Jumlah kalor yang dilepas bergantung pada banyaknya air yang
terbentuk dalam fasa uap ketika pembakaran atau ketika
berkondensasi menjadi cairan. Jika air berkondensasi menjadi
cairan dan melepaskan kalor penguapan dalam prosesnya,
energi yang dilepaskan disebut energi spesifik gross. Energi
spesifik net bernilai lebih rendah karena air menetap dalam
fasa gas (uap). Karena air hasil keluaran mesin berfasa gas,
maka energi spesifik net lebih cocok digunakan sebagai nilai
pembanding.

9
Flash point adalah temperatur terendah dimana uap yang
berada diatas cairan yang dapat menyala akan menyala bila
dikenakan sumber api. Pada temperatur flash point, terdapat
tepat cukup uap bahan bakar untuk menghasilkan campuran
uap bahan bakar-udara diaas lower flammability limit. Flash
point bahan bakar jet memiliki batasan minimum 38 C.
(Annual Book ASTM Standard 2008). Dalam penggunaannya,
bahan bakar Avtur harus mempunyai syarat pembakaran yang
sempurna. Salah satu analisis yang dapat dijadikan sebagai
petunjuk adalah Smoke Point nya. Apabila Smoke Point nya
tinggi berarti Avtur memiliki sifat pembakaran yang sempurna
(baik) dan sebaliknya jika Smoke Point nya rendah berarti
Avtur mempunyai sifat pembakaran yang kurang sempurna
(kurang baik). Untuk itu Avtur tidak boleh mengandung
senyawa-senyawa yang sulit terbakar dalam jumlah besar,
dalam hal ini senyawa hidrokarbon jenis aromatic berupa
Naphtalene dibatasi keberadaannya maksimum 3%
volume. Sedang senyawa hidrokarbon jenis paraffin
diharapkan cukup banyak terdapat dalam Avtur.

f. Corrosion
Avtur mengalami kontak dengan berbagai macam
material dalam proses pengunaannya. Oleh karena itu perlu
dipastikan bahwa avtur tidak mengandung bahan-bahan
penyebab korosi agar tidak menimbulkan kerusakan-
kerusakan pada sistem distribusi bahan bakar maupun pada
bagian yang lain dari mesin pesawat. Zat-zat kimia yang
berpotensi berada dalam avtur adalah asam organik dan
mercaptan. Sifat pengkaratan ini ditimbulkan adanya senyawa
belerang reaktif. S ifat pengkaratan dapat ditunjukkan dengan

10
pemeriksaan : Copper Corrostion.

g. Thermal Stability
Merupakan sifat kestabilan Avtur selama penyimpanan
maupun pemakaian. Syarat kestabilan yang dimiliki Avtur
sangat diperlukan, sebab adanya perbedaan suhu yang cukup
tinggi dalam pemakaian akan cenderung menimbulkan
deposite. Deposite ini hasil dekomposisi hidrokarbon Avtur
pada alat penukar panas, pada saringan bahan bakar, maupun
pada pipa penyemprotan bahan bakar pada sistem pembakaran
selama mesin beroperasi.

h. Contaminant
Kontaminasi yang dimaksudkan adalah adanya senyawa-
senyawa pengotor yang
keberadaannya tidak diinginkan yang disebabkan adanya
existent gum serta kandungan air yang teremulasi dalam Avtur.
Apabila pengotor – pengotor ini dibiarkan keberadaannya dalam
jumlah besar (diatas batas yang ditentukan), maka hal ini
dapat mengganggu kerja mesin pesawat dan dapat
membahayakan keselamatan penerbangan. Kebersihan
avtur berarti tingkat ketidakberadaan solid partikulat dan bebas
dari kandungan air. Air akan membeku pada suhu rendah yang
akan muncul ketika pesawat berada pada ketinggian tertentu.
Es yang terbentuk akan mengangganggu penyaringan dan
menyebabkan tumpahan avtur. Air juga dapat menyebabkan
korosi pada beberapa logam dan pertumbuhan
mikroorganisme.

i. Viscosity

11
Viskositas merupakan suatu ukuran ketahanan cairan
untuk mengalir di bawah tekanan, dipengaruhi oleh gravitasi
atau sumber mekanis. Cairan “tipis” seperti air atau
gasoline
memiliki viskositas rendah; cairan “tebal” seperti sirup maple
atau minyak motor memiliki viskositas yang lebih tinggi.
Viskositas suatu cairan meningkat seiring dengan menurunnya
temperatur[7].

2.2.3 Syarat avtur


1. Syarat kenampakan.
2. Syarat komposisi senyawa-senyawa kimia.
3. Syarat penguapan.
4. Syarat pengaliran.
5. Syarat pembakaran.
6. Syarat pengkaratan.
7. Syarat kintaminasi.
8. Syarat kestabilan
9. Syarat hantar listrik.
10. Syarat pelumasan.

2.3 UV-Vis

Spektroskopi UV-Vis adalah teknik analisis spektroskopi yang


menggunakan sumber radiasi elektromegnetik ultraviolet dan sinar
tampak dengan menggunakan instrumen spektrofotometer.
Prinsip dari spektrofotometer UV-Vis adalah penyerapan sinar
tampak untuk ultra violet dengan suatu molekul dapat
menyebabkan terjadinya eksitasi molekul dari tingkat energi dasar
(ground state) ketingkat energi yang paling tinggi (excited stated).

12
Pengabsorbsian sinar ultra violet atau sinar tampak oleh suatu
molekul umumnya menghasilkan eksitasi elektron bonding,
akibatnya panjang absorbsi maksimum dapat dikolerasikan
dengan jenis ikatan yang ada didalam molekul[9].

Sumber sinar tampak yang umumnya dipakai pada spektro


visible adalah lampu Tungsten. Tungsten yang dikenal juga
dengan nama Wolfram merupakan unsur kimia dengan simbol W
dan no atom 74. Tungsten mempunyai titik didih yang tertinggi
(3422 ºC) dibanding logam lainnya. karena sifat inilah maka ia
digunakan sebagai sumber lampu. Sample yang dapat dianalisa
dengan metode ini hanya sample yang memilii warna. Hal ini
menjadi kelemahan tersendiri dari metode spektrofotometri visible.
Oleh karena itu, untuk sample yang tidak memiliki warna harus
terlebih dulu dibuat berwarna dengan menggunakan reagent
spesifik yang akan menghasilkan senyawa berwarna. Reagent
yang digunakan harus betul-betul spesifik hanya bereaksi dengan
analat yang akan dianalisa. Selain itu juga produk senyawa
berwarna yang dihasilkan harus benar-benar stabil[13].

2.3.1 Spesifikasi Spektrometer

a. Spesifikasi spektrometer Berkas Tunggal


 Sinar monokromatis keluar hanya melewati satu celah.
 Hanya satu kuvet yang dapat dilalui sinar monokromatis.
 Pada setiap perubahan panjang gelombang, absorban harus
dinolkan.
b. Spesifikasi spektrometer Berkas Rangkap
 Sinar monokromatis keluar melalui dua celah.
 Sinar monokromatis melewati 2 kuvet sekaligus.

13
 Absorban cukup satu kali dinolkan, dengan cara mengisi kedua
kuvet larutan blanko[11].

2.4 Aplikasi Instrumen

Instrumen pada spektroskopi UV-Vis, yaitu:

1. Sumber radiasi

 Lampu deuterium (λ= 190nm-380nm, umur pemakaian 500


jam)
 Lampu tungsten, merupakan campuran dari flamen tungsten
dan gas iodine. Pengukurannya pada daerah visible 380-
900nm.
 Lampu merkuri, untuk mengecek atau kalibrasi panjang
gelombang pada spectra UV-VIS pada 365 nm.

2. Sistem dispersi

 Filter
Hanya digunakan pada colorimeter murah pita ± 25-50 nm,
tidak umum digunakan dalam instrumen modern

 Prisma
Prisma kwarsa memiliki karakteristik dispersi lemah pada
daerah sinar tampak (380-780) dispersi bervariasi sesuai
panjang gelombang labih mahal daripada grating.

 Difractions gratings

14
Dispersi kontan dengan panjang gelombang yang lebih besar
daripada yang biasa digunakan.

3. Sel kuvet

Syarat kuvet yaitu tidak menyerap sinar yang digunakan.


Bahan kuvet biasanya terbuat dari kaca, plastik, atau bahan
kwarsa. Pada pengukuran di daerah tampak, kuvet kaca atau
kuvet kaca corex dapat digunakan, tetapi untuk pengukuran pada
daerah UV kita harus menggunakan sel kuasa, karena gelas
tidak tembus cahaya pada daerah ini. Tebal kuvetnya umumnya
10 mm, tetapi yang lebih kecil ataupun yang lebih besar dapat
digunakan. Sel yang biasa digunakan berbentuk persegi, tetapi
bentuk silinder dapat juga digunakan. Sel yang baik adalah
kuarsa atau gelas hasil leburan serta seragan keseluruhannya[9].

4. Monokromator

Alat yang paling umum dipakai untuk menghasilkan berkas


radiasi dengan satu panjang gelombang. Monokromator untuk UV-
VIS dan IR serupa, yaitu mempunyai celah, lensa, cermin dan
prisma atau grating. Fungsi detektor ialah sebagai penyeleksi
panjang.

5. Detektor
Detektor berfungsi untuk mengubah tenaga radiasi menjadi
arus listrik atau perubah panas lainnya dan biasanya terintegrasi
dengan pencatat (printer). Tenaga cahaya yang diubah menjadi
tenaga listrik akan mencatat secara kuantitatif tenaga cahaya
tersebut[12].

15
BAB III
METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat

Waktu: Senin, 17 Februari 2020. Pukul 13:30-17:20

Tempat: Laboratorium QC Logistik Pem Akamigas.

3.2 Alat dan bahan

Alat:

1. Vitreous silica sel 0,005 cm

2. Pipet kelas A

3. Kertas lensa

4. Penyeimbang dengan berat 100g dengan ketelitian 0,0001g

Bahan:

1. Pelarut spektroskopi 2,2,4 trimetil pentane

2. Pelarut etil alkohol

3.3 Cara kerja

1. Siapkan tiga pengenceran sampel sebagai berikut:

2. Pengenceran pertama : tambahkan 10 hingga 15 mL isooktana

spektroskopi ke dalam labu volumentrik 25 mL.

3. Timbang sekitar 1 g sampel dalam labu lalu encerkan ke volume

dengan pelarut spektroskopi, aduk hingga rata.

16
4. Pengenceran kedua : encerkan 5 mL dari pengenceran pertama

kedalam labu volumentrik 50mL

5. Encerkan dengan isooctane spektroskopi, aduk hingga rata.

6. Pengenceran ketiga : encerkan 5 mL pengenceran kedua menjadi

50mL dengan cara yang sama dengan pengenceran kedua.

7. Ukur dan catat absorbansi sel sampel yang diisi isooctane

spektroskopi dibandingkan dengan sel pelarut yang diisi isooctane

spektroskopi.

8. Pengukuran Absorbansi — Pindahkan bagian-bagian dari

pengenceran akhir ke dalam sel sampel spektrofotometer.

9. Tutupi sel segera untuk mencegah transfer hidrokarbon aromatik

dari sel sampel ke sel pelarut.

10. Periksa jendela sel penyerapan dan pastikan semuanya bersih.

11. Ukur absorbansi seperti yang direkomendasikan.

12. Catat absorbansi sampel dibandingkan dengan isooctane

spektroskopi pada 285 nm.

17
DAFTAR PUSTAKA

Achmad, H. 2001. Elektrokimia Dan Kinetika Kimia. Citra Aditya. Bandung.


Anshory, Irfan. 1999. Kimia. Jakarta: Erlangga
Pangestu, A., 2011, Spektrofotometer UV-Vis dan Refraktometer,
[spektrofotometer-uv-vis-dan.html], Diakses Tanggal 21/12/2012, Pukul 22.15
WITA.
Sastrohamidjojo, H, 1985, Kromatografi, Edisi Pertama, Penerbit Liberty,
Yogyakarta.
Skoog, D.A., 1996, Penyidikan Spektrometrik Senyawa Organik Edisi ke-4,
Penerbit Erlangga, Jakarta.

18