Anda di halaman 1dari 7

sesuatu yang sangat menarik di dalam Sarasehan Nasional yang diselenggarakan oleh Penyiar Shalawat

Wahidiyah (PSW) di Pondok Pesantren At Tahdzib, Rejoagung, Ngoro, Jombang, 26/06/2010. Selain
pesertanya yang memang berasal dari seluruh Indonesia, juga terdapat pembicaraan menarik tentang
bagaimana membangun Indonesia di masa depan. Di antara perbincangan menarik tersebut terkait dengan
pendidikan karakter bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasar pada Pancasila dan UUD
1945.

Di dalam kesempatan ini, KH. Ruhan Sanusi, Ketua Umum DPP Penyiar Shalawat Wahidiyah menyatakan
bahwa di dalam pembangunan bangsa ini seharusnya berdasar atas prinsip Lillah Billah. Prinsip tersebut
merupakan ajaran pokok yang mendasar dari Penyiar Shalawat Wahidiyah. Jadi, melalui prinsip Lillah Billah
ini, maka akan dihasilkan orang yang memiliki pengabdian kepada Allah, Rasulullah dan juga pengabdian
kepada umat manusia.

Pendidikan karakter bangsa memang sangat dibutuhkan di tengah era semakin menurunnya semangat dan
rasa cinta kebangsaan yang dialami oleh bangsa Indonesia. Selain itu juga dirasakan semakin menurunnya
kerukunan, keharmonisan dan keselamatan sebagai prinsip kehidupan bangsa. Hal ini bisa dilihat dari semakin
semaraknya aksi kekerasan atas nama agama, suku, ras dan etnis di Indonesia. Selain itu juga terjadinya
gerakan-gerakan yang mengusung semangat gerakan khilafah Islamiyah dan syariah kaffah di Indonesia.
Tentang penerapan syariah Islam tentu tidak ada masalah, hanya ketika penerapan syariah tersebut hanya
berdasar atas satu penafsiran –gerakan Salafi—maka hal ini tentu akan menimbulkan masalah.

Pentingnya pendidikan berbasis pada karakter bangsa memang sudah menjadi tawaran solutif bagi bangsa
ini. Misalnya Prof. Dr. Muhammad Nuh, Mendiknas, ketika memberikan sambutan di dalam acara pertemuan
Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) di Makasar juga menyatakan bahwa sudah
saatnya melakukan revitalisasi pendidikan karakter di Indonesia. Bahkan juga disampaikan agar perguruan
tinggi melakukan hal ini. Di dalam banyak kesempatan juga disampaikan oleh para tokoh pendidikan, seperti
Ki Supriyoko, Hasyim Muzadi, A. Syafi’i Ma’arif, Said Aqil Siraj dan sebagainya yang menginginkan agar
pendidikan karakter bangsa dijadikan sebagai tolok ukur keberhasilan pendidikan di Indonesia.

Pendidikan akan berhasil, jika selain pintar atau cerdas juga kompetitif dan bermoral. Cerdas dan kompetitif
saja tidak cukup tanpa didasari oleh moralitas yang baik. Makanya, visi pendidikan Indonesia tentu harus
mengusung tiga ranah penting itu di dalamnya. Tidak hanya kemampuan intelektual yang akan diasah, akan
tetapi juga sikap dan perilakunya. Pendidikan perilaku atau budi pekerti inilah yang rasanya memang harus
dikedepankan. Tolok ukur kelulusan siswa dan mahasiswa bukan hanya pada kemampuannya untuk
menghafal dan menganalisis berdasarkan logika dan intelektual, akan tetapi juga bagaimana tingkah laku dan
sikap-sikapnya.

Perdebatan tentang bagaimanakah ukuran untuk kelulusan ini tentu sudah sangat lama diperbincangkan.
Akan tetapi, hingga sekarang belumlah memperoleh solusi yang memadai. Sebab memang dirasakan
terdapat tingkat kesulitan tertentu dalam menyelesaikann problem evaluasi pendidikan berbasis sikap dan
perilaku ini. Ada kekhawatiran subyektivitas di dalam penilaian tersebut.

Namun demikian, kita tentu tidak boleh menyerah dengan berbagai keruwetan ini. Pendidikan karakter
bangsa harus menjadi bagian mendasar dari sistem pendidikan di Indonesia. Kita tidak boleh kalah dengan
Jepang, di mana mereka menjadi bangsa yang modern tetapi tetap menjaga tradisinya yang bernilai
adiluhung. Kita menjadi agak prihatin ketika bangsa ini menginjakkan kakinya dalam modernitas. Banyak
kemudian yang melupakan tradisi-tradisinya yang sangat baik. Orang lebih suka pergi ke KFC untuk makan
dari pada ke warung nasi tradisional. Jepang sebaliknya bisa mensinergikan antara modernitas dan lokalitas
dalam suatu ungkapan: “Think Globally Act Locally”. Sebuah ungkapan yang sangat baik dalam merespon
globalisasi dan modernisasi.

Pendidikan karakter tentu memiliki tujuan agar meskipun menapaki dunia modern dan global akan tetapi
tetap memiliki karakter sebagai bangsa Indonesia. Di dalam Sarasehan Nasional DPP PSW tersebut, maka
saya mengusulkan suatu konsep yang saya sebut sebagai “Pendidikan Karakter Bangsa Berbasis Lillah Billah”.
Konsep ini mungkin bukan baru dalam jajaran konseptual pendidikan nasional, akan tetapi rasanya memang
perlu revitalisasi.

Pendidikan karakter ini, tentunya memiliki tiga prinsip mendasar, yaitu: Pertama, prinsip keagamaan ialah
prinsip ketauhidan yang bercorak “Lillah Billah” dan “Lirrasul Birrasul”. Dua konsep tersebut merupakan
perwujudan dari kalimat tauhid, La ilaha Illallah, Muhammadur Rasulullah”. Konsep ini kemudian dapat
diimplementasikan dalam konsep Ibadah dan akhlak yang merupakan prinsip dasar di dalam ajaran Islam.

Kedua, prinsip kebangsaan, yaitu: penegakan terhadap empat pilar kebangsaan, yang terdiri dari Pancasila,
UUD 1945, NKRI dan Kebhinekaan. Pilar kebangsaan ini menjadi sangat penting, sebab bagaimanapun juga
bahwa bangsa ini tentu harus tetap eksis di tengah pergaulan bangsa-bangsa. Negara ini harus tetap
berdasarkan Pancasila, sebab telah teruji sebagai pengikat dasar bagi bangsa ini. Apa yang telah ditetapkan
oleh para founding fathers negeri ini tentu tidak boleh ditinggalkan sampai kapanpun. Tidak boleh ada
ideologi lain selain Pancasila di negeri ini.

Kemudian, UUD 1945. Kita juga beruntung bahwa negeri ini memiliki UUD yang bisa menjamin terhadap
ketatanegaraan, kebangsaan, politik dan tata pemerintahan yang cocok bagi bangsa Indonesia. UUD yang
khas keindonesiaan ini juga harus menjadi dasar bagi penyelenggaraan negara dan pemerintahan. Lalu, NKRI
juga telah menjadi pilihan yang paling tepat bagi bangsa Indonesia. Dengan 17.000 lebih pulau, 300 lebih
suku dan bahasa, maka pilihan NKRI juga sangat cocok bagi bangsa ini.

Dan yang tidak kalah pentingnya adalah kebinekaan atau multikulturalisme. Bangsa yang plural dan
multikultural sebagaimana bangsa Indonesia juga sangat relevan memiliki prinsip binneka tunggal ika.
University in diversity. Kita memiliki kesatuan akan tetapi berbasis atas kebinekaan. Prinsip kebinekaan
merupakan asas yang sangat tepat bagi bangsa ini untuk terus melangkah ke depan dalam relasinya dengan
dunia internasional.

Ketiga, prinsip implementatif. Di dalam prinsip ini, maka semua konsep pendidikan Lillah Billah yang
dicerminkan di dalam konsep kejujuran, keikhlasan, tanggungjawab, keterpercayaan dan keterbukaan dan
akuntalibitas akan dapat dijabarkan ke dalam indikator-indikator yang dapat dinilai dan diuji. Melalui proses
pembelajaran yang terukur, materi yang terukur dan evaluasi yang terukur, maka akan dapat dilihat seberapa
pendidikan tersebut berhasil.

Hanya saja bahwa pendidikan karakter tersebut memang melibatkan tidak saja kehebatan intelektual akan
tetapi juga sikap dan tindakan, maka tentunya harus dirumuskan standart-standart penilaian yang jelas.
Dengan demikian standart kompetensi lulusasannya juga dapat dievaluasi sesuai dengan prinsip-prinsip
pendidikan.

Dengan demikian, konsep pendidikan karakter bangsa berbasis Lillah Billah akan berhasil jika semua
komponen di dalamnya berlaku dinamis sebagai sebuah ssstem yang saling menopang dan membutuhkan.

Pendidikan Karakter

Pencetus pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-spiritual dalam proses


pembentukan pribadi ialah pedagog Jerman FW Foerster (1869-1966). Pendidikan karakter
merupakan reaksi atas kejumudan pedagogi natural Rousseauian dan instrumentalisme
pedagogis Deweyan.

Lebih dari itu, pedagogi puerocentris lewat perayaan atas spontanitas anak-anak (Edouard
Claparède, Ovide Decroly, Maria Montessori) yang mewarnai Eropa dan Amerika Serikat awal
abad ke-19 kian dianggap tak mencukupi lagi bagi formasi intelektual dan kultural seorang
pribadi.

Polemik anti-positivis dan anti-naturalis di Eropa awal abad ke-19 merupakan gerakan
pembebasan dari determinisme natural menuju dimensi spiritual, bergerak dari formasi
personal dengan pendekatan psiko-sosial menuju cita-cita humanisme yang lebih integral.
Pendidikan karakter merupakan sebuah usaha untuk menghidupkan kembali pedagogi ideal-
spiritual yang sempat hilang diterjang gelombang positivisme ala Comte.
Tujuan pendidikan adalah untuk pembentukan karakter yang terwujud dalam kesatuan
esensial si subyek dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya. Bagi Foerster, karakter
merupakan sesuatu yang mengualifikasi seorang pribadi. Karakter menjadi identitas yang
mengatasi pengalaman kontingen yang selalu berubah. Dari kematangan karakter inilah,
kualitas seorang pribadi diukur.

Empat karakter

Menurut Foerster ada empat ciri dasar dalam pendidikan karakter. Pertama, keteraturan
interior di mana setiap tindakan diukur berdasar hierarki nilai. Nilai menjadi pedoman normatif
setiap tindakan.

Kedua, koherensi yang memberi keberanian, membuat seseorang teguh pada prinsip, tidak
mudah terombang-ambing pada situasi baru atau takut risiko. Koherensi merupakan dasar
yang membangun rasa percaya satu sama lain. Tidak adanya koherensi meruntuhkan
kredibilitas seseorang.

Ketiga, otonomi. Di situ seseorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi
nilai-nilai bagi pribadi. Ini dapat dilihat lewat penilaian atas keputusan pribadi tanpa
terpengaruh atau desakan pihak lain.

Keempat, keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna
mengingini apa yang dipandang baik. Dan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan
atas komitmen yang dipilih.

Kematangan keempat karakter ini, lanjut Foerster, memungkinkan manusia melewati tahap
individualitas menuju personalitas. ”Orang-orang modern sering mencampuradukkan antara
individualitas dan personalitas, antara aku alami dan aku rohani, antara independensi
eksterior dan interior.” Karakter inilah yang menentukan forma seorang pribadi dalam segala
tindakannya.

Pengalaman Indonesia

Di tengah kebangkrutan moral bangsa, maraknya tindak kekerasan, inkoherensi politisi atas
retorika politik, dan perilaku keseharian, pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-
religius menjadi relevan untuk diterapkan.

Pendidikan karakter ala Foerster yang berkembang pada awal abad ke-19 merupakan
perjalanan panjang pemikiran umat manusia untuk mendudukkan kembali idealisme
kemanusiaan yang lama hilang ditelan arus positivisme. Karena itu, pendidikan karakter tetap
mengandaikan pedagogi yang kental dengan rigorisme ilmiah dan sarat muatan
puerocentrisme yang menghargai aktivitas manusia.
Tradisi pendidikan di Indonesia tampaknya belum matang untuk memeluk pendidikan
karakter sebagai kinerja budaya dan religius dalam kehidupan bermasyarakat. Pedagogi aktif
Deweyan baru muncul lewat pengalaman sekolah Mangunan tahun 1990-an.

Kebiasaan berpikir kritis melalui pendasaran logika yang kuat dalam setiap argumentasi juga
belum menjadi habitus. Guru hanya mengajarkan apa yang harus dihapalkan. Mereka
membuat anak didik menjadi beo yang dalam setiap ujian cuma mengulang apa yang
dikatakan guru.

Loncatan sejarah

Apakah mungkin sebuah loncatan sejarah dapat terjadi dalam tradisi pendidikan kita?
Mungkinkah pendidikan karakter diterapkan di Indonesia tanpa melewati tahap-tahap
positivisme dan naturalisme lebih dahulu?

Pendidikan karakter yang digagas Foerster tidak menghapus pentingnya peran metodologi
eksperimental maupun relevansi pedagogi naturalis Rousseauian yang merayakan
spontanitas dalam pendidikan anak-anak. Yang ingin ditebas arus ”idealisme” pendidikan
adalah determinisme dan naturalisme yang mendasari paham mereka tentang manusia.

Bertentangan dengan determinisme, melalui pendidikan karakter manusia mempercayakan


dirinya pada dunia nilai (bildung). Sebab, nilai merupakan kekuatan penggerak perubahan
sejarah. Kemampuan membentuk diri dan mengaktualisasikan nilai-nilai etis merupakan ciri
hakiki manusia. Karena itu, mereka mampu menjadi agen perubahan sejarah.

Jika nilai merupakan motor penggerak sejarah, aktualisasi atasnya akan merupakan sebuah
pergulatan dinamis terus-menerus. Manusia, apa pun kultur yang melingkupinya, tetap agen
bagi perjalanan sejarahnya sendiri. Karena itu, loncatan sejarah masih bisa terjadi di negeri
kita. Pendidikan karakter masih memiliki tempat bagi optimisme idealis pendidikan di negeri
kita, terlebih karena bangsa kita kaya akan tradisi religius dan budaya.

Manusia yang memiliki religiusitas kuat akan semakin termotivasi untuk menjadi agen
perubahan dalam masyarakat, bertanggung jawab atas penghargaan hidup orang lain dan
mampu berbagi nilai-nilai kerohanian bersama yang mengatasi keterbatasan eksistensi
natural manusia yang mudah tercabik oleh berbagai macam konflik yang tak jarang malah
mengatasnamakan religiusitas itu sendiri.

Doni Koesoema, A, Mahasiswa Jurusan Pedagogi Sekolah dan Pengembangan Profesional Fakultas Ilmu Pendidikan

Universitas Kepausan Salesian, Roma

Saat ini mulai marak dibicarakan mengenai pendidikan karakter. Tetapi yang masih
umum diterapkan mengenai pendidikan karakter ini masih pada taraf jenjang
pendidikan pra sekolah (taman bermain dan taman kanak-kanak). sementara pada
jenjang sekolah dasar dan seterusnya masih sangat-sangat jarang sekali. kurikulum
pendidikan di Indonesia masih belum menyentuh aspek karakter ini, meskipun ada
pelajaran pancasila, kewarganegaraan dan semisalnya, tapi itu masih sebatas teori dan
tidak dalam tataran aplikatif. Padahal jika Indonesia ingin memperbaiki mutu SDM
dan segera bangkit dari ketinggalannya, maka indonesia harus merombak istem
pendidikan yang ada saat ini.

Mungkin banyak yang bertanya-tanya sebenarnya apa sih dampak pendidikan


karakter terhadap keberhasilan akademik? Beberapa penelitian bermunculan untuk
menjawab pertanyaan ini. Ringkasan dari beberapa penemuan penting mengenai hal
ini diterbitkan oleh sebuah buletin, Character Educator, yang diterbitkan oleh
Character Education Partnership. Dalam buletin tersebut diuraikan bahwa hasil studi
Dr. Marvin Berkowitz dari University of Missouri- St. Louis, menunjukan
peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-
sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Kelas-kelas yang secara komprehensif
terlibat dalam pendidikan karakter menunjukan penurunan drastis pada perilaku
negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik.Pendidikan karakter
adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan
(cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona,
tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif, dan
pelaksanaannya pun harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Dengan
pendidikan karakter, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi
adalah bekal terpenting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan,
karena dengannya seseorang akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macam
tantangan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis. Sebuah buku yang
baru terbit berjudul Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins, et.al,
2001) mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif
kecerdasan emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah. Dikatakan bahwa ada
sederet faktor-faktor resiko penyebab kegagalan anak di sekolah. Faktor-faktor resiko
yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak, tetapi pada karakter,
yaitu rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan bergaul, kemampuan
berkonsentrasi, rasa empati, dan kemampuan berkomunikasi. Hal ini sesuai dengan
pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat, ternyata 80
persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi, dan hanya 20 persen ditentukan oleh
kecerdasan otak (IQ). Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan
emosinya, akan mengalami kesulitan belajar, bergaul dan tidak dapat mengontrol
emosinya. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah,
dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. Sebaliknya para remaja
yang berkarakter atau mempunyai kecerdasan emosi tinggi akan terhindar dari
masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan, tawuran,
narkoba, miras, perilaku seks bebas, dan sebagainya. Pendidikan karakter di sekolah
sangat diperlukan, walaupun dasar dari pendidikan karakter adalah di dalam keluarga.
Kalau seorang anak mendapatkan pendidikan karakter yang baik dari keluarganya,
anak tersebut akan berkarakter baik selanjutnya. Namun banyak orang tua yang lebih
mementingkan aspek kecerdasan otak ketimbang pendidikan karakter. Selain itu
Daniel Goleman juga mengatakan bahwa banyak orang tua yang gagal dalam
mendidik karakter anak-anaknya entah karena kesibukan atau karena lebih
mementingkan aspek kognitif anak. Namun ini semua dapat dikoreksi dengan
memberikan pendidikan karakter di sekolah. Namun masalahnya, kebijakan
pendidikan di Indonesia juga lebih mementingkan aspek kecerdasan otak, dan hanya
baru-baru ini saja pentingnya pendidikan budi pekerti menjadi bahan pembicaraan
ramai. Ada yang mengatakan bahwa kurikulum pendidikan di Indonesia dibuat hanya
cocok untuk diberikan pada 10-20 persen otak-otak terbaik. Artinya sebagian besar
anak sekolah (80-90 persen) tidak dapat mengikuti kurikulum pelajaran di sekolah.
Akibatnya sejak usia dini, sebagian besar anak-anak akan merasa “bodoh” karena
kesulitan menyesuaikan dengan kurikulum yang ada. Ditambah lagi dengan adanya
sistem ranking yang telah “memvonis” anak-anak yang tidak masuk “10 besar”,
sebagai anak yang kurang pandai. Sistem seperti ini tentunya berpengaruh negatif
terhadap usaha membangun karakter, dimana sejak dini anak-anak justru sudah
“dibunuh” rasa percaya dirinya. Rasa tidak mampu yang berkepanjangan yang akan
membentuk pribadi yang tidak percaya diri, akan menimbulkan stress
berkepanjangan. Pada usia remaja biasanya keadaan ini akan mendorong remaja
berperilaku negatif. Maka, tidak heran kalau kita lihat perilaku remaja kita yang
senang tawuran, terlibat kriminalitas, putus sekolah, dan menurunnya mutu lulusan
SMP dan SMU. Jadi, pendidikan karakter atau budi pekerti plus adalah suatu yang
urgent untuk dilakukan. Kalau kita peduli untuk meningkatkan mutu lulusan SD, SMP
dan SMU, maka tanpa pendidikan karakter adalah usaha yang sia-sia. Kami ingin
mengutip kata-kata bijak dari pemikir besar dunia. Mahatma Gandhi memperingatkan
tentang salah satu tujuh dosa fatal, yaitu “education without character”(pendidikan
tanpa karakter). Dr. Martin Luther King juga pernah berkata: “Intelligence plus
character….that is the goal of true education” (Kecerdasan plus karakter….itu adalah
tujuan akhir dari pendidikan sebenarnya). Juga Theodore Roosevelt yang mengatakan:
“To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society”
(Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah
ancaman mara-bahaya kepada masyarakat)..

Mengetahui Keberhasilan Pendidikan Karakter (Suplemen


Kedisiplinan)
Bagaimana cara kita untuk mengetahui keberhasilan atas program pendidikan karakter yang telah
diterapkan pada peserta didik?

Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang
meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-
nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun
kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil

Keberhasilan program pendidikan karakter dapat diketahui melalui pencapaian indikator oleh
peserta didik sebagaimana tercantum dalam Standar Kompetensi Lulusan SMP, yang antara lain
meliputi sebagai berikut:

1. Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan remaja;
2. Memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri;
3. Menunjukkan sikap percaya diri;
4. Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas;
5. Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam
lingkup nasional;
6. Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan sumber-sumber lain secara
logis, kritis, dan kreatif;
7. Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif;
8. Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya;
9. Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-
hari;
10. Mendeskripsikan gejala alam dan sosial;
11. Memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab;
12. Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara demi terwujudnya persatuan dalam negara kesatuan Republik Indonesia;
13. Menghargai karya seni dan budaya nasional;
14. Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya;
15. Menerapkan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang dengan baik;
16. Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun;
17. Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat; Menghargai
adanya perbedaan pendapat;
18. Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis naskah pendek sederhana;
19. Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa
Indonesia dan bahasa Inggris sederhana;
20. Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan menengah;
21. Memiliki jiwa kewirausahaan.

Pada tataran sekolah, kriteria pencapaian pendidikan karakter adalah terbentuknya budaya sekolah,
yaitu perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga
sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah harus berlandaskan nilai-nilai tersebut.