Anda di halaman 1dari 11

TASK READING

SISTEM SARAF SIMPATIS

Iskandar Aprian 12.06.0037


Husnaini Hawari 12.06.0041
Widya Azhar 12.06.0042

Tutor : Dr. Rahmania

UNIVERSITAS ISLAM AL-AZHAR MATARAM

FAKULTAS KEDOKTERAN

2012
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah Task
Reading kami yang berjudul “SISTEM SARAF SIMPATIS” Dimana dalam penyusunan
makalah ini bertujuan agar mahasiswa Kedokteran Unizar dapat memahami isi dari makalah
ini sehingga dapat bermanfaat bagi mahasiswa.

Ucapan terinma kasih tak lupa kami sampaikan kepada para dosen yang telam
membimbing kami dalam menyusun makalah ini.

Dalam penyusunan makalah ini kami menyadari bahwa masih banyak kekurangannya
sehingga kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dalam menyempurnakan
makalah ini.

Mataram, 25 Oktober 2012

Penyusun

Kelompok 8
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………………………………
Daftar Isi…………………………………………………………………………………….
BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………………….
1.1 Latar Belakang……………………………………………………………………...
BAB II PEMBAHASAN......................................................................................................
2.1 Definisi.......................................................................................................................
2.2 Bagian-bagian saraf simpatis......................................................................................
2.3 Efek Perangsangan Simpatis......................................................................................
2.4 Anatomi Fisiologi Sistem Saraf Simpatis..................................................................

BAB III PENUTUP…………………………………………………………………………


Kesimpulan…………………………………………………………………….........
Daftar Pustaka……………………………………………………………………………….
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ada dua subdivisi besar sistem saraf otonom yaitu : sistem saraf simpatis dan parasimpatis.
Sistem saraf otonom mensarafi organ visceral, kelenjar, pembuluh darah dan otot polos.
Sistem saraf otonom juga berperan pada sistem penglihatan normal seperti cabang
parasimpatis berperan pada fungsi lakrimasi,dan ukuran pupil dikontrol oleh keseimbangan antara
persarafan simpatis untuk otot dilator iris dan parasimpatis untuk otot sfingter iris.

Perbedaan struktur antara saraf simpatik dan parasimpatik terletak pada posisi
ganglion. Saraf simpatis mempunyai ganglion yang terletak di sepanjang tulang belakang
menempel pada sumsum tulang belakang ( medula spinalis ) sehingga mempunyai urat pra
ganglion pendek, sedangkan saraf parasimpatis mempunyai urat pra ganglion yang panjang
karena ganglion menempel pada organ yang dibantu.

Sistem saraf simpatis dan sistem saraf parasimpatis bekerja secara antagonis
(berlawanan) dalam mengendalikan kerja suatu organ. Organ atau kelenjar yang dikendalikan
oleh sistem saraf simpatis dan sistem saraf parasimpatis disebut sistem pengendalian ganda.
Tetapi aksi kedua sistem ini tidak selalu antagonis tetapi bisa saling mendukung seperti pada
sekresi kelenjar ludah.

Berikut akan dibahas mengenai definisi sistem saraf simpatis, bagian- bagian saraf
simpatis, efek perangsangan simpatis dan anatomi fisiologi sistem saraf simpatis.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi

Sistem saraf simpatis adalah sistem dua neuron. Neuron yang meninggalkan medula
spinalis bukan merupakan neuron yang mempersarafi alat sasarannya. Di suatu tempat dalam
perjalanannya, neuron pertama bersinap dengan neuron kedua, yang akan menyampaikan
impuls ke alat yang dituju. Serat-serat saraf simpatis berasal dari daerah torakal dan lumbal
korda spinalis. Sebagian serat praganglion simpatis berukuran sangat pendek, bersinaps
dengan badan sel neuron pascaganglion didalam ganglion yang terdapat di rantai ganglion
simpatis yang terletak di kedua sisi korda spinalis.
Menurut fungsinya, sistem saraf simpatis berhubungan erat dengan reaksi stress
tubuh. ketika saraf ini dirangsang, terjadi pupil dilatasi, konstraksi pembuluh darah perifer,
penigkatan pemakaian oksigen dan denyut jantung, dilatasi bronkus, menurunkan aktivitas
viseral dengan menghambat peristaltik dan peningkatan kekuatan sfingter, proses
glikogenolisis dihati dan menstimulasi medula supradrenal.
Sistem saraf simpatis mempersarafi pembuluh darah, kelenjar keringat, kelenjar
sebasea, dan otot di bawahnya, sehingga dapat menyebabkan kulit merinding. Pada bagian
tertentu dimana banyak organ memerlukan suplai saraf terdapat ganglia tambahan antara dua
rantai, yang dihubungkan oleh saraf yang menghubungkan satu ganglia dengan ganglia lain,
kemudian menghantarkan impuls saraf ke organ sekitarnya. Daerah tersebut disebut pleksus,
misalnya pleksuskardia yang terletak di belakang jantung di rongga dada dan pleksus solar
yang terletak di bawah diafragma, tempat gaster, hati, limpa, dan pangkreas.
2.2 Bagian-bagian saraf simpatis

1. Kornu anterior segmen torakalis


Di kornu anterior segmen torakalis terdapat nucleus vegetative yang berisi
kumpulan-kumpulan sel saraf simpatis. Sel saraf simpatis ini mempunyai serabut-
serabut preganglion yang keluar dari kornu anterior bersama-sama dengan radiks
anterior dannucleus spinalis. Setelah keluar dari foramen intervertebralis, serabut-
serabut preganglion ini segera memusnahkan diri dari nucleus spinalis dan masuk ke
trunkus simpatikus serabut. Serabut preganglion ini membentuk sinap terhadap sel-
sel simpatis yang ada dalam trunkus simpatikus.Tetapi ada pula serabut-serabut
preganglion setelah berada di dalam trunkus simpatikus terus keluar lagi dengan
terlebih dahulu membentuk sinaps menuju pleksus simpatikus.
2. Trunkus simpatikus beserta cabang-cabangnya.
Di sebelah kiri dan kanan vertebra terdapat barisan ganglion saraf simpatikus
yang membujur disepanjang vertebra. Barisan ganglion-ganglion saraf simpatikus ini
disebut trunkus simpatikus. Ganglion-ganglion ini berisi sel saraf simpatis. Antara
ganglion satu dengan ganglion lainnya dihubungkan oleh saraf simpatis yang keluar
masuk ke dalam ganglion-ganglion itu. Hali ini menyebabkan sepasang trunkus
simpatikus juga menerima serabut-serabut saraf yang datang dari kornu anterior.
Trunkus simpatikus di bagi menjadi 4 bagian, yaitu:

A. Trunkus simpatikus servikalis. Terdiri dari 3 pasang ganglion. Dari ganglion-ganglion ini
keluar cabang-cabang saraf simpatis yang menuju ke jantung dari arteri karotis. Disekitar
arteri karotis membentuk pleksus. Dari pleksus ini keluar cabang cabang yang
menuju ke atas cabang lain mempersarafi pembuluh darah serta organ-organ yang
terletak di kepala. Misalnya: faring, kelenjar ludah, kelenjar lakrimalis, otot-otot
dilatators, pupilmata, dan sebagainya.
B. Trunkus simpatikus torakalis. Terdiri dari 10 sampai 11 ganglion. Dari ganglion
ini keluar cabang-cabang simpatis seperti cabang yang mensyarafi organ-organ di
dalam toraks dan cabang-cabang yang menembus diafragma dan masuk ke dalam abdomen.
C. Trunkus simpatikus lumbalis. .Bercabang-cabang menuju ke dalam abdomen, juga
ikut membentuk pleksus solare.
D. Trunkus simpatikus pelvis. Bercabang-cabang ke dalam pelvis untuk membentuk
pleksus pelvini.
3. Pleksus simpatikus beserta cabang-cabangnya
Di dalam abdomen, pelvis, toraks, serta di dekat organ-organ yang dipersarafi
oleh saraf simpatis umumnya terdapat pleksus-pleksus yang dibentuk oleh saraf
simpatis yaitu ganglion simpatikus.

2.3 Efek Perangsangan Simpatis

1. Efek perangsangan simpatis pada mata


Perangsangan simpatis membuat serabut-serabut meridional iris berkontraksi
sehingga pupil menjadi dilatasi. Selama periode eksitasi, saraf simpatis akan
terangsang dan pada saat yang bersamaan akan menambah pembukaan pupil.
2. Efek perangsangan simpatis pada kelenjar-kelenjar tubuh
Perangsangan simpatis mempunyai pengaruh langsung pada sel-sel kelenjar
pencernaan dalam menyebabkan pembentukan sekresi pekat yang mengandung enzim
dan mucus dalam kadar tinggi. Namun, perangsangan simpatis ini juga menyebabkan
vasokonstriksi pembuluh darah yang menyuplai kelenjar-kelenjar sehingga kadang
mengurangi kecepatan sekresinya. Bila saraf simpatis terangsang, kelenjar keringat
menyekresikan banyak sekali keringat. Namun serabutnya yang menuju ke sebagian
besar kelenjar keringat bersifat kolinergik (kecuali beberapa serabu adrenergic yang
ke telapak tangan dan kaki), berbeda dengan hamper semua serabut saraf simpatis
lainnya, yang bersifat adrenergic. Berkeringat dapat dianggap fugsi parasimpatis,
walaupun hal ini dikendalikan oleh serabut-serabut saraf yang secara anatomis
tersebar melalui system saraf simpatis.
Kelenjar apokrin di aksila menyekresikan secret yuang kental dan berbau sebagai
akibat dari perangsangan simpatis. Sekresi tersebut sebenarnya berfungsi sebagai
pelumas untuk memudahkan gerakan bergeser pada permukaan dalam dibawah sendi
bahu.
Kelenjar apokrin, walaupun embriologisnya berkaitan erat dengan kelenjar keringat,
tetapi lebih banyak diatur oleh pusat simpatis.
3. Efek perangsangan simpatis pada Jantung
Pada umumnya perangsangan simpatis akan meningkatakan seluruh aktifitas jantung.
Keadaan ini tercapai dengan naiknya frekuensi dan kekuatan kontraksi jantung.
Perangsangan simpatis akan meningkatkan keefektifan jantung sebagai pompa, yang
diperlukan selama kerja berat.
4. Efek perangsangan simpatis pada pembuluh darah sistemik
Sebagian besar pembuluh darah sistemik, khususnya yang terdapat di visera abdomen
dan kulit anggota tubuh, akan berkontraksi bila ada perangsangan simpatis. Pada
beberapa keadaan, fungsi rangsangan simpatis pada reseptor beta akan menyebabkan
dilatasi pembuluh darah, kebalikan dari efek konstriksi pembuluh darah pada
rangsangan simpatis yang biasa, tetapi hal ini jarang terjadi, kecuali setelah diberi bat-
obatan yang dapat melumpuhkan reseptor alfa simpatis yang memberi pengaruh
vasokonstriktor, yang pada pembuluh darah, biasanya lebih merupakan efek reseptor
beta.
5. Efek perangsangan simpatis pada tekanan arteri
Perangsangan simpatis meningkatakan daya dorong oleh jantung dan tahanan tehadap
aliran darah, yang biasanya menyebabkan peningkatan segera yang bermakna pada
tekanan arteri, namun jarang sekali terjadi perubahan tekanan dalam waktu lama
kecuali simpatis merangsang ginjal untuk menahan garam dan air pada saat
bersamaan.

6. Efek perangsangan simpatis terhadap fungsi tubuh


pada umumnya, sebagian besar struktur endotermal seperti hati, kandung empedu,
ureter, kandung kemih dan bronkus dihambat oleh perangsangan simpatis namun
dirangsang olek perangsangan parasimpatis. Perangsangan simpatis juga mempunyai
bebrapa pengaruh metabolic, seperti menyebabkan pelepasan glukosa dari hati,
meningkatkan konsentrasi glukosa darah, meningkatkan proses glikogenolisis dalam
hati dan otot, meningkatkan kekuatan otot rangka, meningkatkan kecepatan
metabolism basal, dan meningkatkan aktivitas mental. Akhirnya kedua saraf otonom
juga terkibat dalam tindakan seksual antara laki-laki dan perempuan.
2.4 Anatomi Fisiologi Sistem Saraf Simpatis

Sistem saraf simpatis terdiri dari urat kembar yang bermuatan ganglion-
ganglion. Urat itu bergerak dari dasar tengkorak yang terletak didepan kolumna
vertebra, lantas berakhir dalam pelvis didepan koksigis, sebagai ganglion koksigis.
Ganglion-ganglion ini bersambung erat dengan sistem saraf pusat melalui sum-sum
tulang belakang, dengan mempergunakan cabang-cabang penghubung, yang bergerak
keluar dari sum-sum tulang belakang menuju ganglion, dan dari ganglion masuk
menuju sum-sum tulang belakang.
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

sistem saraf simpatis berhubungan erat dengan reaksi stress tubuh. ketika saraf ini
dirangsang, terjadi pupil dilatasi, konstriksi pembuluh darah perifer, penigkatan pemakaian
oksigen dan denyut jantung, dilatasi bronkus, menurunkan aktivitas viseral dengan
menghambat peristaltik dan peningkatan kekuatan sfingter, proses glikogenolisis dihati dan
menstimulasi medula supradrenal. Saraf simpatis terdiri dari 3 bagian yaitu: Komu anterior
segmen torakalis, trunkus simpatikus beserta cabang-cabangnya dan pleksus simpatikus
beserta cabang-cabangnya.
DAFTAR PUSTAKA

- Guyton dan Hall.2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, edisi 11. Jakarta:Buku
Kedokteran.
- Watson, Roger. 2002. Anatomi dan Fisiologi, edisi 10. Jakarta: Buku kedokteran.
- Anonymous. Sistem Saraf Simpatis. http://www.psychologymania.com. Akses 26
Oktober 2012.
- Ramadhan. Sistem Saraf Otonom. http://forbetterhealth.wordpress.com. Akses 26 Oktober
2012.