Anda di halaman 1dari 98

 

THE ART OF 

CONTRACT DRAFTING 
NOW EVERYONE CAN DRAFT THEIR OWN CONTRACT 
 
 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
written wholeheartedly by: 
MICHAEL SUGIJANTO, B.A., S.H., M.H. 
 
KATA PENGANTAR 
 
WAJIB DIBACA! ​Setidaknya untuk halaman pertama, karena ini akan 
mempengaruhi seberapa banyak ilmu dan pengalaman saya yang dapat anda 
serap melalui buku ini. Bagi sebagian (calon) pembaca, buku ini mungkin nampak 
seperti buku panduan di bidang hukum, khususnya dalam ranah hubungan 
kontraktual.1 Hal ini tidak salah, karena judul dan tujuannya memang demikian. 
Namun pandangan tersebut tidak 100% (seratus persen) tepat, karena biasanya 
buku hukum sifatnya serius, banyak kutipannya, penuh ​warning ​dan sanksi. Saya 
sendiri pun seringkali habis baca buku hukum malah jadi ​parno​ seperti habis 
nonton film ​horror​.  
 
Nah impresi seperti itu lah yang tidak mau saya tularkan melalui buku ini. 
Mengapa? Karena bagi saya pribadi, buku ini adalah hasil curahan hati dan 
uneg-uneg saya sejak bersentuhan dengan dunia hukum sejak tujuh tahun silam, 
baik di luar negeri maupun dalam negeri, dan baik secara akademis maupun 
praktis. Bagi saya, buku ini tidak ubahnya dengan ​postingan​ dan balasan-balasan 
saya di Instagram, maupun video saya di Youtube. Bagi saya, buku ini mungkin 
lebih cocok dipandang dan dibaca layaknya sebuah buku cerita yang dikonsepkan 
dan ditulis secara sistematis, sehingga dapat berfungsi ganda sebagai panduan.  
 
Maka dari itu, izinkan saya sebagai penulis menularkan perspektif (ya perspektif, 
bukan penyakit) tersebut kepada anda sebagai (calon) pembaca. Dengan begitu, 
anda akan mendapatkan fungsi ganda dari buku, yakni sebagai panduan praktis 
yang dapat diakses kapan saja DAN sebagai sarana komunikasi pribadi antara 
saya dengan anda. Diharapkan dengan perspektif tambahan tersebut, segala ilmu 
dan pengalaman yang saya tuangkan ke dalam buku ini dapat lebih mudah 
menancap di kepala anda dan dapat bermanfaat bagi kehidupan anda sehari-hari. 
 

1
“Calon” karena kalau anda sedang membaca bagian ini berarti anda belum mulai baca isinya. Kalau
baca isinya dulu baru ke sini ​ya​ sudah telat, berarti anda harus membacanya kembali dari awal :).

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 1 out of 94 


“THANK GOD!”​. Itu adalah kata yang pertama kali muncul di benak saya pada hari 
Jumat, 17 Januari 2020 pada saat saya menyelesaikan BAB V buku ini. ​For only 
because of His eternal grace and everlasting mercy that I can stand (or sit) with you as 
who I am today. ​Saya juga berterima kasih kepada orang-orang yang selalu 
mendukung saya, termasuk orang tua, saudara, kawan-kawan dan calon saya yang 
anda sudah pasti tahu namanya ​(cieeee).​   
 
Saya banyak belajar mengenai cara pebisnis kelas atas dari pengalaman saya 
bekerja di perusahaan ayah saya. Dia juga merupakan orang yang paling teliti 
mengenai kontrak yang saya pernah kenal. Saya juga banyak belajar dari ibu saya 
mengenai bagaimana kita mengandalkan tuntunan ​Holy Spirit ​sehingga akhirnya 
membentuk moral dan karakter saya menjadi seperti sekarang ini.  
 
THANK GOD for the lessons I have learned​ dari mentor saya, Dr. Teddy Reiner 
Sondakh, S.Psi., S.H., M.Hum., beserta rekan-rekan di Law Offices of TEDDY & 
PARTNERS, di mana saya telah sedikit banyak belajar mengenai bagaimana cara 
menangani klien dan mengoperasikan sebuah firma hukum.  
 
THANK GOD ​buat mantan​ ​klien dan rekan-rekan saya di salah satu perusahaan 
manajemen keuangan berbasis Surabaya, di mana saya dipercayai banyak hal 
yang berfungsi sebagai saluran untuk mengkonfirmasi segala keahlian saya, mulai 
dari penerapan hukum di lapangan bersama dengan pengacara-pengacara senior, 
penyusunan strategi bisnis yang baik dan benar serta ilmu psikologi untuk 
menangani segala permasalahan yang timbul, baik internal maupun eksternal. 
Maaf saya belum bisa untuk mendampingi anda sekalian ke taraf internasional, 
karena masih banyak misi yang Tuhan percayakan bagi saya di tanah air. ​My 
blessing and my prayer will always be with all of you. 
 
THANK GOD​ untuk kehadiran Bpk. Anthonius Adhi Soedibyo, S.H., M.Hum., 
mantan pengajar sekaligus rekan saya yang saat ini mengajar di UPH Surabaya. 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 2 out of 94 


Beliau selalu siap sedia mem​back-up​ segala perkara yang telah dipercayakan oleh 
Para Klien. Pendampingan dan pengawasan beliau sungguh banyak membantu, 
baik di dalam maupun di luar pekerjaan. 
 
THANK GOD​ karena akhirnya saya sudah bisa memenuhi ​deadline​ yang saya ​setel 
sendiri (nulis buku dari nol berani janji cuma tiga minggu, memang asli ​bonek 
Surabaya). Karena keterbatasan waktu, mohon dimaafkan apabila ada kata-kata 
yang salah ketik atau kurang pas di hati anda.  
 
THANK GOD ​karena sekarang buku sudah selesai dan sudah saya serahkan ​editing 
dan finalisasi-nya kepada tim kreatif Dr. Contract di JDCG Group. ​They’ve been an 
amazing team who’s responsible for all the changes that we have made today​. Karena 
ingin melunasi utang budi saya kepada mereka lah saya berusaha untuk terus 
berkarya lebih dari sekedar menulis bebas ​from post to post. M
​ ereka juga lah yang 
telah mengajarkan kepada saya bagaimana cara membuat konten yang enak 
dipandang dan mudah dicerna oleh sebanyak mungkin pemirsa. Tanpa bantuan 
mereka, buku ini tidak akan lebih dari sebuah karya tulis biasa.  
 
THANK GOD​ karena jika anda mengenal saya dari 15 (lima belas) tahun silam, anda 
pun tidak akan mengira bahwa saya bisa menjadi saya yang sekarang ini. Karena 
didikan dari keluarga dan masyarakat ini lah saya bisa menentukan kehidupan 
seperti apa yang saya inginkan, dan menggunakan Dr. Contract sebagai sarana 
untuk memperoleh ​IKIGAI ​saya.2 ​All glory belongs to Jesus who puts these amazing 
support systems for me.  
 
THANK GOD​ karena akhirnya ribuan ​followers ​setia Dr. Contract dapat menerima 
dan menyerap ilmu yang sudah dari lama ingin saya bagi-bagikan kepada mereka 
yang berani berinvestasi untuk ilmu. Itu kenapa saya mau mematok harga awal di 

2
​Ikigai adalah istilah Jepang untuk menjelaskan kesenangan dan makna kehidupan. Kata itu secara harfiah 
meliputi iki, yang berarti kehidupan dan gai, yang berarti nilai. Ikigai kadang diekspresikan sebagai “alasan 
untuk bangun di pagi hari”. 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 3 out of 94 


angka yang relatif rendah; karena saya mau memberikan apresiasi bagi mereka 
yang, dari sekian banyaknya sumber ilmu, memilih untuk berinvestasi pada ilmu 
yang berada di tangan saya.  
 
Bahkan ada seorang ​followers d
​ i Jakarta yang sampai rela berhutang demi 
membeli buku saya pada saat peluncuran ​pre-order ​perdana. Bagi saya, investasi 
seperti ini lebih dari sekedar​ ​jual beli dan patut diberi apresiasi.3 Saya ucapkan 
banyak terima kasih kepada anda yang telah berinvestasi kepada saya. Hal itu 
memotivasi saya untuk pada akhirnya bisa menyelesaikan buku ini tepat waktu. 
 
THANK GOD​ karena saya lega akhirnya ilmu dan tanggung jawab itu sekarang 
berada di tangan anda. Saya percaya bahwa ilmu merupakan suatu komoditas dan 
sumber penghidupan yang layak bagi para profesional, termasuk konsultan 
hukum4. Namun saya juga percaya bahwa akses terhadap ilmu juga merupakan 
suatu hak asasi setiap manusia5.  
 
Terlebih dari itu, saya juga percaya terhadap prinsip tabur tuai, di mana apa yang 
kita tabur, pasti akan kita tuai. Kalau kita menabur sesuatu yang sifatnya 
setengah-setengah dengan prioritas ingin jualan, kita pasti akan menuai 
setengah-setengah. Followers pun juga akhirnya melihat kita sebagai toko ilmu 
saja, bukan sesama manusia yang bisa saling berkomunikasi dan bisa saling 
membina hubungan.  
 
Saya memilih buku karena buku merupakan sebuah media komunikasi yang dapat 
disebarluaskan dengan biaya yang relatif murah. Bayangkan saja, pada saat saya 
menulis buku ini, rate saya sudah di angka USD $149/jam. Tinggal dikurskan saja 

3
​Investasi merupakan membeli sesuatu dan diharapkan pada masa yang akan datang dapat dijual kembali 
dengan nilai yang lebih tinggi dari semula, sedangkan jual-beli sudah terlihat jelas nilai produknya di depan. 
4
[​Pasal 27 ayat (2) UUD 1945] “Bahwa tiap-tiap warga Negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang 
layak bagi kemanusiaan” 
5
[​Pasal 28F UUD 1945] “Bahwa setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi serta 
berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan 
menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.” 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 4 out of 94 


kira-kira berapa biayanya bagi pengusaha kecil untuk merancang suatu gameplan 
dan kontraknya. Apakah semua pengusaha di tanah air MAU (bukan mampu, 
karena sebenarnya pasti mampu cuma belum biasa profesional saja) membayar 
rate segitu​ hanya untuk menimba ilmu dari saya? Kalau mereka MAU pun, apakah 
saya MAMPU untuk menangani anda semuanya? Saya kira tidak.  
 
Namun saya percaya bahwa mereka pun berhak untuk mendapatkan akses 
terhadap informasi hukum, khususnya mengenai kontrak apa yang ingin mereka 
buat. Apalagi semua orang dipandang tahu hukum, jadi sudah seyogyanya ilmu 
hukum dapat diakses oleh semua orang.6 Sudah merupakan mandat sebagai 
warga negara Indonesia dan seorang sarjana hukum untuk menyebarluaskan ilmu 
saya seluas-luasnya.7  
 
Untuk alasan-alasan diatas itu lah saya memutuskan untuk membebaskan isi buku 
saya dari perlindungan Hak Cipta.8 Jika buku ini sekarang sudah berada di tangan 
anda, berarti tanggung jawab saya untuk menyebarluaskan ilmu tadi sudah 
beralih ke anda. Jangan kuatir, ​e-book ​sama dengan ilmu kok; sama-sama tidak 
akan habis jika dibagikan. Selamatkanlah keluarga, sanak saudara dan 
teman-teman anda dari jeratan kontrak-kontrak​ ​di luar sana. Mereka akan 
berterimakasih kepada anda suatu hari nant, dan mungkin juga kepada saya ;). 
 
Sekali lagi saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada pelanggan setia 
Dr. Contract. Saya akan terus berusaha untuk mengupdate konten IG, Youtube 
dan Website di tengah-tengah kesibukan saya. Saya juga sedang mempersiapkan 

6
​Fiksi hukum adalah asas yang menganggap semua orang tahu hukum (​presumptio iures de iure​). Semua orang 
dianggap tahu hukum, tak terkecuali petani yang tak lulus sekolah dasar, atau warga yang tinggal di 
pedalaman. Dalam bahasa Latin dikenal pula adagium ​ignorantia jurist non excusat​, ketidaktahuan hukum tidak 
bisa dimaafkan. Seseorang tidak bisa mengelak dari jeratan hukum dengan berdalih belum atau tidak 
mengetahui adanya hukum dan peraturan perundang-undangan tertentu. Fiksi hukum sejatinya membawa 
konsekuensi bagi Pemerintah. Setiap aparat pemerintah berkewajiban menyampaikan adanya hukum atau 
peraturan tertentu kepada masyarakat. Kalau warga yang tak melek hukum lantas diseret ke pengadilan 
padahal ia benar-benar tidak tahu hukum, aparat penyelenggara negara juga mestinya ikut merasa bersalah.  
7
​Mandat terjadi ketika organ pemerintahan mengizinkan kewenangan dijalannya oleh organ lain atas 
namanya. ​Not really the case, but you get the point. 
8
​Dalam artian anda bebas membagi-bagikan buku ini secara GRATIS kepada siapa saja ya, bukan lalu 
mengganti nama saya dengan nama paman anda lalu anda jual kembali. Kalau gitu ntar bukan bagi-bagi ilmu 
lagi namanya, tapi jadi ​reseller ​atau d
​ ropshipper :​ D. 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 5 out of 94 


two-days seminar eksklusif untuk DELAPAN pengusaha franchise yang berjudul 
“THE PRINCIPLES OF SWORDSMANSHIP IN CONTRACT DRAFTING” pada 
tanggal 13-14 Februari 2020 nanti di OURA Malang. Harganya di angka Rp 
10,010,000,- (sepuluh juta sepuluh ribu rupiah) per kursi. 
 
Kenapa tanggal 13-14 Februari? Supaya anak-anak yang barusan lulus dari luar 
negeri, pengen buka franchise tapi masih bingung mulai dari mana, lalu MASIH 
JOMBLO pula, bisa punya alasan untuk tidak merayakan Valentine’s day :P (untuk 
yang sudah punya atau sudah berkeluarga, tenang saja, acara di hari kedua akan 
selesai pukul tiga sore kok). Jika anda adalah salah satu pengusaha ​franchise​, baik 
franchisee​ atau ​franchisor,​ saya sarankan segera daftarkan diri anda melalui DM 
Instagram kami di @dr.contract atau email ke ​dr.contract@outlook.com​. Saya 
jamin anda akan belajar SANGAT banyak (sudah saya ​test run​ di Surabaya) dan 
tidak ada artinya dibandingkan dengan kontrak ​franchise​ yang akan anda buat dan 
perdagangkan PLUS pendampingan yang akan saya berikan secara personal.9  
 
Akhir kata, saya ingin menegaskan visi dan misi Dr. Contract melalui buku ini. Saya 
prihatin melihat kerugian-kerugian yang diderita oleh masyarakat kita, baik 
kalangan bawah maupun kalangan atas, hanya karena salah dalam mengambil 
langkah hukum. Melalui tingginya ketidaktahuan dan tingginya keinginan untuk 
mengobati ketidaktahuan tersebut, saya ingin melihat bahwa suatu hari semua 
orang Indonesia punya konsultan hukum, seperti di Amerika Serikat, di mana saya 
sempat menimba ilmu selama kurang lebih empat tahun. Saya ingin terus hidup 
untuk melihat bahwa suatu hari, hukum semakin ditegakkan dan masyarakat 
Indonesia semakin melek hukum, sehingga dapat melihat manfaat serta tidak ragu 
untuk memanfaatkan jasa rekan-rekan saya yang bergerak di bidang hukum.  
 
Bukan karena saya ingin meningkatkan pamor profesi saja, namun terlebih karena 
melihat respons-respons dari klien saya setelah menggandeng kantor saya 

9
Jaminannya bukan omong doang, melainkan ​money back guarantee.​ Iya, saya tidak mau mencuri dari anda. 
Kalau anda rasa topik ini bukan buat anda, ​feel free to leave your bank account number and leave. 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 6 out of 94 


sebagai konsultan hukumnya. Bahkan ada klien saya yang kebetulan merupakan 
warga negara asing dan LEBIH KEBETULAN lagi juga berprofesi sebagai 
pengacara di negara asalnya, yang TIDAK SECARA KEBETULAN berkata ​“I wish 
we had you five years ago”​ hanya dalam ​satu kali ​pertemuan. Kepuasan yang luar 
biasa karena telah berani untuk menggunakan jasa seorang konsultan hukum 
seperti inilah yang ingin saya tularkan melalui Dr. Contract.10 Dalam hal ini, tentu 
saja saya membutuhkan partisipasi aktif dari rekan-rekan sejawat untuk 
memperkenalkan hukum dan pentingnya keberadaan konsultan hukum di 
tengah-tengah masyarakat. 
 
I really wish to see that day, and I hope we could see that day together, 
 
 
 
 
MICHAEL SUGIJANTO, B.A., S.H., M.H. 
Founder of DR. CONTRACT 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

10
Meskipun tidak bisa dipungkiri uang juga perlu, supaya saya tidak perlu balik kucing jadi pengusaha lagi 
untuk hidup enak ;). 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 7 out of 94 


DAFTAR ISI 
 
KATA PENGANTAR 1 
 
BAB I UNDERSTANDING THE RULE OF THE GAME 10 
Prinsip Kebebasan Terbatas dalam Berkontrak 
Syarat Sahnya Perjanjian 
Tata Bahasa Dalam Berkontrak 
Kewajiban Penggunaan Bahasa Indonesia 
Kewajiban Penggunaan Rupiah 
 
BAB II SEEING THROUGH THE RIGHT LENSES 21 
Latar Belakang dan Kacamata Ahli Hukum 
Latar Belakang dan Kacamata Pengusaha 
Latar Belakang dan Kacamata Pengamat Perilaku 
Kacamata Terbaik 
 
BAB III 7R OF CONTRACT DRAFTING 41 
[RECOGNIZING] Memahami Identitas, Peran dan Kepentingan 
[RESEARCHING] Melakukan Studi Kelayakan dan Manajemen Resiko 
[RENEGOTIATING] Mengadakan Jual-Beli Kepentingan 
[REFRAMING] Menyusun Anatomi Kontrak Secara Sistematis 
[REVIEWING] Melakukan Kajian Bersama 
[READY FOR X FACTORS] Mengantisipasi Munculnya Faktor X  
[REALIZING]​ ​Melakukan Finalisasi dan S​ igning 
 
BAB IV NAVIGATING THROUGH COMMON MISTAKES 67 
Uji Tuntas yang Tidak Memadai atau Tidak Dilakukan 
Tidak Adanya Konsep di Awal 
Penggunaan Istilah yang Tidak Jelas dan Tidak Konsisten 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 8 out of 94 


Tidak Ada Rincian Mengenai Mekanisme untuk Hal-Hal Tertentu 
Tidak Ada Pembatasan Tanggung Jawab 
Kurangnya Waktu untuk Melakukan Review 
Lalai untuk Menentukan Sanksi Atas Segala Kemungkinan Wanprestasi 
Mekanisme Pembayaran Tidak Jelas 
Mekanisme Pemenuhan Kewajiban dalam ​Force Majeur T
​ idak Diatur 
Kewajiban Pasca Pengakhiran Tidak Jelas 
Menetapkan Klausul yang Mustahil untuk Dilaksanakan 
Gagal Membedakan Antara Jaminan Pernyataan dan Jaminan Konkrit 
Kontrak Sulit Dibaca atau Tidak ​Skimmable 
Melupakan Aspek Hukum dalam Berkontrak 
Melupakan Aspek Bisnis dalam Berkontrak 
Melupakan Aspek Psikologis dalam Berkontrak 
Tidak Mengerti Apa Yang Dibuat 
 
BAB V NON-LITIGATION DISPUTE RESOLUTION 84 
Musyawarah dan Mufakat 
Mediasi 
Arbitrase 
 
PENUTUP 94 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 9 out of 94 


BAB I  
UNDERSTANDING THE RULE OF THE GAME 
 
Bab ini akan membahas mengenai teori-teori yang perlu dipahami sebelum anda 
terjun ke dalam kontrak. Mengapa teori-teori ini perlu dipelajari? Karena setiap 
klausul dalam perjanjian yang akan anda tandatangani itu berlaku sebagai 
undang-undang (UU) bagi Para Pihak yang mengikatnya, dan ini berarti termasuk 
anda! Jika anda tidak bisa berdalih dengan menggunakan alasan “Saya tidak tahu 
hukumnya, Yang Mulia!” di muka pengadilan, dan anda juga tidak dapat 
menghindari kewajiban dalam kontrak anda dengan alasan “Saya tidak tahu kalau 
di sana ditulis demikian!”.  
 
Saya mengerti bahwa biasanya sebuah teori tidak seberapa diminati karena sering 
membuat pusing para pengusaha dan bikin mabok para mahasiswa. Karena itu 
saya akan mencoba membuat teori yang membosankan tersebut jadi paling tidak 
bearable​ (baca: dapat ditoleransi) dengan gaya yang lugas dan sistematis. Paling 
tidak diharapkan setelah membaca bab ini, anda dapat paham dasar-dasar dari 
hubungan kontraktual. Tenang kok, teori hanya satu bab saja. Sisanya kita akan 
bahas hubungan kontraktual dari sudut pandang praktis. Saya juga telah 
menyelipkan berbagai macam ​brainteasers ​khusus di bab ini supaya anda bisa 
benar-benar paham pondasinya dan supaya anda tidak memabukkan.  
 
1.1. Prinsip Kebebasan Terbatas dalam Berkontrak 
 
Hukum perjanjian di Indonesia menganut beberapa asas, antara lain: 
● Asas kebebasan mengadakan perjanjian/berkontrak;  
● Asas konsensualisme (adanya kesepakatan); 
● Asas kebiasaan (aturan umum yang hidup di masyarakat); 
● Asas kekuatan mengikat (berlaku sebagai UU bagi yang mengikatnya);  
● Asas persamaan di depan hukum (​equality before the law)​; 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 10 out of 94 


● Asas keseimbangan (proporsionalitas, tidak berat sebelah); 
● Asas moral (hukum selalu melindungi orang yang beritikad baik); 
● Asas kepentingan umum (kontrak tidak boleh merugikan pihak ketiga); 
● Asas kepatuhan (Kontrak < UU); 
● Asas perlindungan bagi golongan yang lemah;  
● Asas sistem terbuka (transparansi); 
 
Untuk detailnya, kalian bisa mempelajari dari buku-buku hukum kontrak lainnya 
maupun dari ​Mbah Google. D
​ alam kesempatan kali ini, kita akan bicara lebih dalam 
mengenai asas kebebasan berkontrak. Hukum perjanjian mendefinisikan asas ini 
sebagai kebebasan seseorang untuk membuat perjanjian dengan macam dan isi 
apa pun sesuai dengan kepentingannya. Menurut Prof. Sutan Remy Sjahdeini, asas 
kebebasan berkontrak menekankan pada kebebasan ​para pihak untuk 
mengadakan kontrak​ dan ​kebebasan untuk menyetujui setiap klausulnya tanpa 
adanya intervensi dari pihak lain​.11  
 
Berdasarkan pengertian ini, ada dua unsur yang dapat kita jadikan patokan. 
Pertama, kebebasan untuk mengadakan kontrak dan menyetujui segala klausul 
dalam kontrak.​ Unsur ini menyatakan bahwa bahwasannya tidak seseorang pun 
boleh dipaksa untuk mengadakan kontrak atau menyetujui seluruh klausul di 
dalam kontrak. Penting untuk dipahami bahwa pada prakteknya, banyak sekali 
orang yang masuk ke dalam suatu kontrak dengan perasaan terpaksa dan tak 
berdaya.  
 
Metode-metode yang dilakukan untuk memaksa orang-orang seperti ini pun turut 
berkembang seiring dengan perkembangan jaman. Contohnya, pada tahun 1940 
hingga akhir 1990, banyak orang, perusahaan atau sindikat yang menjanjikan 
pinjaman tanpa jaminan dengan syarat-syarat yang sepihak dan mutlak kepada 
orang-orang yang mereka sangat tahu sedang berada di dalam posisi terdesak.  

Sutan Remy Sjahdeini, Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan yang Seimbang Bagi Para Pihak 
11

Dalam Perjanjian, Jakarta, Institut Indonesia, 1993, hal. 11. 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 11 out of 94 


Metode kasar seperti ini agaknya susah diterapkan dengan cara yang sama di 
tahun 2010 ke atas. Jadi para oknum-oknum ini memanfaatkan berbagai platform 
dalam dunia maya untuk melakukan pinjaman online secara ilegal seperti yang 
baru saja digrebek oleh pihak Kepolisian di Mall Pluit Village Jakarta Utara pada 
hari Senin, 23 Desember 2019 lalu. Meskipun para oknum bisa berdalih bahwa 
nasabah sendiri yang menyetujui syarat-syarat yang mereka ajukan, namun pada 
kenyataannya para nasabah sebenarnya tidak dalam kondisi bebas yang 
sebenar-benarnya karena keadaannya yang terjepit.  
 
Bisa diperdebatkan memang, bahwa banyak alasan yang dapat membenarkan 
tindakan nasabah untuk memilih para penyedia jasa pinjaman ilegal ini. Namun 
perlu diingat yang kita bahas di sini adalah unsur absennya kebebasan untuk 
menyetujui klausul-klausul apa yang ingin nasabah setujui dan melakukan 
renegosiasi terhadap klausul mana yang tidak disetujui. Bukankah dapat 
dipastikan bahwa setiap perjanjian pasti ada pihak yang lebih membutuhkan? 
Apakah ini dapat juga dianggap sebagai tidak adanya kebebasan berkontrak? 
Kondisi-kondisi di lapangan inilah yang sebenarnya membuat hampir 
mustahilnya dicapai suatu perjanjian yang menerapkan asas kebebasan 
berkontrak yang mutlak dan tanpa batas. 
 
Unsur kedua adalah unsur ​kebebasan untuk menyetujui setiap klausulnya tanpa 
adanya intervensi dari pihak lain. ​Artinya selain para pihak sendiri, tidak ada 
pihak lain yang boleh mengatur atau menentukan apa yang boleh dan tidak boleh 
untuk diperjanjikan. Namun pada penerapannya, unsur ini mengalami kegagalan 
karena adanya bukti-bukti campur tangan parlemen melalui peraturan 
perundang-undangan terhadap kebebasan berkontrak. Bahkan Pasal 1320 Kitab 
Undang-Undang Hukum Perdata (BW) pun menentukan bahwa salah satu syarat 
sahnya perjanjian adalah tidak boleh mengandung klausul yang haram atau 
melanggar UU yang berlaku, seperti perjanjian semacam ketenagakerjaan dengan 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 12 out of 94 


upah di bawah Upah Minimum Kota (UMK) hingga perjanjian ekspor-impor 
barang ilegal.  
 
Dari uraian di atas, menunjukkan bahwa berlakunya asas ini tidak dapat 
diterapkan secara mutlak. ​Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa asas 
filosofis dari kebebasan berjanji ini pun dibatasi oleh pemerintah melalui 
peraturan-peraturannya. 
 
 
BRAINTEASER I 
Akan tetapi, tidak selalu kesepakatan “kalah” dengan peraturan pemerintah. Ada 
kalanya dimana BW menentukan bahwa kesepakatan dapat mengenyampingkan 
UU yang bersifat mengatur (​regelend​). Coba pikirkan kira-kira apa contohnya!12 
 
 
1.2. Syarat Sahnya Kontrak 
 
Syarat-syarat sahnya suatu hubungan kontraktual sebenarnya sangat mudah 
untuk dipahami, terutama bagi mahasiswa hukum perdata yang pasti sudah 
ditempa secara terus menerus oleh dosen-dosennya. Pasal 1320 BW menentukan 
bahwa suatu kontrak hanya dapat dianggap sah apabila: 
 
1. Ada ​kesepakatan​ dari para pihak yang membuatnya; 
2. Ada ​kecakapan​ dari para pihak yang membuatnya; 
3. Ada ​objek tertentu​ yang diperjanjikan; 
4. Hanya mengandung ​klausul-klausul yang halal​. 
 
Syarat pertama dan kedua yakni sepakat (tidak adanya paksaan/dwang, 
penipuan/bedrog dan/atau kesilapan/dwaling) dan cakap (tidak cacat mental dan 

12
Pasal 1266-1267, 1460, 1155, 1831, 1837, 1847 BW 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 13 out of 94 


cukup umur) merupakan ​unsur subjektif​ di dalam perjanjian, dengan akibat 
hukum berupa ​“dapat dibatalkan”​. Dapat dibatalkan di sini berarti bahwa kontrak 
tetap efektif berlaku selama kontrak tidak dimintakan pembatalan kepada hakim 
Pengadilan Negeri (PN).  
 
Mengapa seperti ini? Karena syarat subjektif kembali lagi berbicara mengenai 
kebebasan setiap orang untuk mengadakan perjanjian. Orang-orang yang tidak 
cakap hukum seperti mereka yang memiliki wali yang diangkat secara resmi, 
orang gila/tidak waras/tidak mampu menyatakan kehendaknya karena penyakit 
tertentu atau faktor usia, hingga anak di bawah umur (dibawah 21 tahun menurut 
UU Perkawinan) merupakan orang yang secara hukum dipandang tidak dapat 
menyatakan kehendaknya secara sempurna karena kurangnya informasi atau 
kurangnya kemampuan untuk mengelola informasi.  
 
Mereka ini yang seringkali dirugikan karena dipaksa atau dibujuk untuk masuk ke 
dalam sebuah perjanjian dengan oknum-oknum yang secara hukum dipandang 
cakap, seperti orang tua yang sudah terkena penyakit gangguan ingatan atau 
alzheimer​ dipaksa untuk membuat perjanjian jual beli aset-asetnya dengan harga 
terlampau murah13. Namun Negara juga tidak dapat merampas hak mereka untuk 
mengadakan perjanjian, seperti jika orang tua tersebut ternyata memang ingin 
menjual aset-asetnya agar bisa diwariskan ke anak cucunya. ​Jadi pelanggaran 
akan syarat subjektif tidak serta merta mengakibatkan pada batalnya perjanjian 
secara hukum, namun hanya berakibat pada dapat dibatalkannya suatu 
perjanjian (istilahnya perjanjian tersebut dapat di​ challenge).  
 
Syarat ketiga dan keempat yakni kausa yang halal dan objek tertentu merupakan 
unsur objektif ​di dalam perjanjian, dengan akibat hukum berupa ​“batal demi 
hukum”​. Batal demi hukum di sini disebabkan oleh dua alasan. Alasan pertama 
dianggap batalnya perjanjian adalah tidak adanya atau kaburnya objek yang 

13
Jangan kaget, hal ini sering dijumpai di lapangan. Bahkan pelaku utamanya paling sering adalah para
ahli waris sendiri.

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 14 out of 94 


diperjanjikan, misalnya jika A melakukan service tertentu kepada B, maka B 
berjanji akan memberikan kepada A uang yang banyak. Perjanjian seperti ini 
tentunya bersifat non-enforceable, atau dengan kata lain mustahil untuk 
dieksekusi. Akibatnya, hakim biasanya memutuskan untuk membatalkan 
perjanjian tersebut dan meminta B untuk memberi ganti kerugian kepada A atas 
service yang telah diberikan.  
 
Alasan yang kedua adalah perjanjian mengandung klausul yang tidak halal atau 
melanggar hukum, seperti perjanjian ekspor-impor tanpa membayar bea cukai 
dan pajak-pajak terkait. Selain melanggar aturan yang berlaku, perjanjian seperti 
ini juga melanggar asas konsensual perjanjian, karena pada pembuatannya, pihak 
ketiga yang dirugikan yakni pemerintah tidak dilibatkan atau tidak dimintai 
persetujuan sama sekali. ​Perjanjian yang melanggar syarat objektif seperti ini 
dianggap sebagai perjanjian yang non-enforceable, sehingga perjanjian 
dianggap tidak pernah ada. 
 
Selain itu, ada juga kontrak-kontrak jika dilanggar akan berakibat lain di luar 
menjadi “dapat dibatalkan” dan “batal demi hukum”. Salah satunya adalah 
perjanjian kerja berdasarkan UU Ketenagakerjaan. ​Dalam UU Ketenagakerjaan, 
pekerja yang dipekerjakan dengan kontrak kerja putus (PKWT) harus 
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku. Apabila 
dilanggar, maka pegawai ​demi hukum akan berubah statusnya​ dari PKWT 
menjadi pekerja tetap (PKWTT) yang juga berhak atas hak dan tunjangan 
layaknya seorang pegawai tetap.14  
 
Jadi jika anda menemukan suatu kejanggalan atau pelanggaran hukum dalam 
kontrak anda, ada baiknya untuk berkonsultasi dengan kuasa hukum kenal supaya 
anda dapat mengambil keputusan yang berdasarkan informasi yang tepat 
(​informed decision). 

14
Pasal 59 ayat (7) UU Ketenagakerjaan

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 15 out of 94 


 
BRAINTEASER II 
A adalah Direktur di PT. XYZ yang diangkat berdasarkan RUPS pada tahun 2012, 
untuk periode 5 (lima) tahun. Pada tahun 2019, A menandatangani perjanjian 
kredit dengan Bank ABC selaku Direktur di PT. XYZ dan bagi kepentingan PT. 
XYZ. A tidak pernah ditunjuk ulang secara resmi oleh RUPS sejak masa 
jabatannya habis pada tahun 2017.  
 
Apakah A berhak mewakili PT. XYZ? Lalu bagaimana nasib perjanjian kredit yang 
terlanjur dikucurkan dananya oleh Bank ABC?15 
 
 
1.3. Tata Bahasa Dalam Berkontrak 
Tata bahasa sangat penting dalam kontrak karena kesalahan tata letak bahasa 
dapat menimbulkan penafsiran yang berbeda. Selain itu, ketidakrapian bahasa 
juga bisa menyebabkan sulitnya kontrak untuk dapat digunakan sebagai alat 
referensi yang baik pada saat terjadinya sengketa. Ketentuan-ketentuan dasar 
mengenai tata bahasa dapat disimpulkan sebagai berikut: 
 
Jelas dan Tidak Ambigu 
Bahasa harus jelas dan tidak menimbulkan penafsiran ganda. Contoh “PIHAK 
PERTAMA ​wajib​ untuk mengembalikan pinjamannya dari PIHAK KEDUA dan 
dari PIHAK KETIGA ​sebelum​ ​25 Desember 2019​” akan jauh lebih baik daripada 
“PIHAK PERTAMA ​dapat/akan​ mengembalikan ​pinjamannya​ ​tujuh hari 
kemudian​”. Frasa “dapat” atau “akan” mengindikasikan suatu pilihan atau 
kemungkinan, bukan kewajiban yang jika dilanggar dapat dikenai sanksi. Frasa 

15
Secara hukum, perjanjian dianggap tidak sah karena A sudah tidak memiliki kapasitas untuk mewakili
PT. XYZ. Namun pada prakteknya, Bank ABC dapat men-​challenge h ​ al tersebut di PN dengan alasan
bahwa siapapun yang tanda tangan, faktanya adalah PT. XYZ yang menikmati dana utang yang
dikucurkan Bank ABC. Kalau tidak dikabulkan, Bank ABC dapat menggugat PT. XYZ dengan PMH atau
bahkan penipuan (sengaja menggunakan direktur palsu), sehingga sulit bagi PT. XYZ untuk mangkir dari
kewajiban pembayaran utangnya dengan alasan ketidakabsahan tanda-tangan direktur. Meskipun bisa
dimenangkan, namun dari sini perancang kontrak harus belajar jeli untuk menentukan kapasitas dari para
pihak yang menandatangani perjanjian.

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 16 out of 94 


“pinjamannya” juga tidak mengindikasikan secara pasti pinjaman yang diperoleh 
dari siapa saja yang wajib dikembalikan, apalagi jika perjanjian mengikat lebih dari 
dua pihak. Frasa “lima hari kemudian” terlihat wajar di awal namun dapat memicu 
masalah di belakang.  
 
Mengapa? Karena definisi “lima hari” dapat ditafsirkan sebagai tujuh hari kalender 
atau lima hari kerja. Frasa “kemudian” juga tidak kalah ambigu karena tidak jelas 
terhitung sejak kapan; sejak perjanjian ditandatangani atau sejak pinjaman 
diberikan. ​Frasa-frasa ini terlihat sepele dan bisa diberi kelonggaran pada saat 
jatuh tempo, namun kelonggaran-kelonggaran kecil ini bisa menjadi​ snowball 
effect16, a
​ palagi jika dengan sengaja dimanfaatkan oleh pihak yang berutang. 
Tidak jarang perbedaan akan sanksi yang​ fair​ ini berujung pada adu ego di 
pengadilan dan memakan biaya yang fantastis. 
 
Penggunaan Bahasa Formal 
Bukannya saya anti bahasa ​gaul, n
​ amun faktanya bahasa g​ aul ​atau bahasa 
sehari-hari ini memiliki beberapa kelemahan. Pertama, bahasa sehari-hari adalah 
berbeda penafsirannya dari satu daerah dengan daerah lainnya. Kedua, bahasa 
sehari-hari memiliki sifat yang sangat dinamis dan terus berubah dengan cepat 
seiring dengan berkembangnya teknologi. Hal-hal ini tentu saja positif bagi dunia 
digital seperti media sosial, namun negatif apabila diterapkan kepada kontrak 
yang bisa terjadi antar daerah dan memiliki masa berlaku hingga beberapa tahun.  
 
Dengan adanya kebutuhan ini, maka bahasa Indonesia yang baku, baik dan benar 
adalah lebih tepat untuk digunakan. Ibaratnya bahasa ​gaul i​ tu seperti makan di 
restoran; kalau dibawa pulang beberapa jam saja sudah tidak enak atau bahkan 
tidak bisa dimakan. Sedangkan bahasa baku itu seperti mie instan, yang meskipun 
terlihat tidak ​fancy ​namun memiliki ​shelf life ​atau ​expiry date y
​ ang lama. ​Jadi 
pastikan kontrak anda sudah ditulis dengan menggunakan bahasa yang baku, 

16
Semakin lama semakin menjadi-jadi dan semakin sulit untuk diatasi.

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 17 out of 94 


baik dan benar agar bisa dijadikan referensi yang juga baku, baik dan benar 
selama jangka waktu kontrak masih berlaku. 
 
Hindari Kalimat Pasif 
Kalimat pasif seperti “Nominal tersebut akan dibayarkan secara bertahap oleh 
PIHAK KEDUA” memang tidak salah secara tata bahasa. Namun kontrak bukan 
hanya karya tulis semata; ​kontrak harus bisa menimbulkan kesan psikologis 
yang menandakan adanya suatu kewajiban yang harus segera dituangkan ke 
dalam tindakan nyata.​ Jadi disarankan menggunakan kalimat aktif seperti 
“PIHAK KEDUA wajib membayarkan nominal tersebut secara bertahap dengan 
skema sebagai berikut..”. 
 
Siapkan Pasal Definisi 
Dalam kontrak sederhana (aturan umumnya di bawah 10 (sepuluh) halaman), 
memang terkesan agak aneh dan terlalu formal apabila kita memasukkan klausul 
definisi. Namun jika kontrak tersebut memiliki objek perjanjian yang ​sifatnya 
tidak umum​ dan banyak menggunakan​ istilah atau jargon khusus​ seperti kontrak 
repo pasar modal, maka sebaiknya dicantumkan ​satu pasal yang khusus 
membahas mengenai definisi​ dari istilah-istilah yang banyak bertebaran dalam 
perjanjian. Untuk pelaksanaannya bisa mencontoh format UU kita, di mana Pasal 
1 nya selalu berisi tentang definisi. 
 
1.5. Kewajiban Penggunaan Bahasa Indonesia 
Pasal 31 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 menentukan bahwa: 
1. Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam nota kesepahaman atau 
perjanjian yang melibatkan lembaga negara, instansi pemerintah Republik 
Indonesia, lembaga swasta Indonesia atau perseorangan warga negara 
Indonesia. 
2. Nota kesepahaman atau perjanjian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) 
yang melibatkan pihak asing ditulis juga dalam bahasa nasional pihak asing 
tersebut dan/atau bahasa Inggris. 
 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 18 out of 94 


Dari pasal ini, dapat disimpulkan bahwa bahasa Indonesia wajib digunakan jika 
suatu Memorandum of Understanding (MoU) atau perjanjian dibuat dengan 
melibatkan WNI, baik instansi pemerintahan maupun perorangan swasta. Jika ada 
pihak asing yang terlibat, maka kontrak juga ditulis dalam bahasa nasional pihak 
asing tersebut dan/atau bahasa Inggris. 
 
Dalam hal terjadi perbedaan penafsiran, Pasal 26 ayat (4) Peraturan Presiden 
Nomor 63 Tahun 2019 (PP No. 63/2019) menentukan bahwa dalam hal terjadi 
perbedaan penafsiran terhadap padanan atau terjemahan, bahasa yang digunakan 
adalah bahasa yang disepakati dalam nota kesepahaman atau perjanjian. Jadi 
dengan adanya PP No. 63/2019 ini, maka penafsiran yang dijadikan padanan tidak 
harus dari versi bahasa Indonesia, namun sesuai dengan yang disepakati oleh para 
pihak sebelumnya. Jadi jika berkontrak dengan pihak asing, jangan lupa atau 
merasa tidak enak untuk mengatur dari awal bahasa apa yang akan dijadikan 
acuan utama dalam hal terjadinya suatu sengketa. Hal ini akan sangat membantu 
para pihak di kemudian hari. 
 
 
BRAINTEASER III 
Apabila disepakati padanan bahasa dalam suatu kontrak adalah versi bahasa 
Inggris, namun penyelesaian sengketa harus diadakan di PN Surabaya di mana 
hakimnya hanya bisa menafsirkan versi bahasa Indonesia, bahasa mana yang 
harus digunakan?17 
 
 
 
 
 

17
Jika timbul perbedaan makna antar bahasa, maka versi Bahasa Inggris yang akan digunakan. Versi
tersebut nantinya akan ditranslasikan ulang agar dapat dijadikan referensi bagi Majelis Hakim PN
Surabaya, terutama pada pasal-pasal yang menjadi acuan dalam sengketa tersebut.

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 19 out of 94 


1.6. Kewajiban Penggunaan Rupiah 
 
Pada prinsipnya, di dalam perjanjian tidak boleh dituliskan bahwa transaksi akan 
dilakukan dengan mata uang asing (paling umum adalah USD). Selain itu, ​Invoice 
juga tidak boleh dalam bentuk USD. Jika memang harus menggunakan USD 
karena misalnya jenis pekerjaan merupakan industri pioneer atau terhadap 
pekerjaan barang atau jasa yang unsur pembentuk biayanya (bahan baku, tenaga 
kerja, dan lain-lain) adalah USD, para pihak harus mengajukan surat ke BI. Disitu 
BI mempunyai ​assessment system d
​ an otoritas untuk memberikan penundaan 
kewajiban pelaksanaan penggunaan rupiah, sehingga para pihak dapat 
memperoleh kelonggaran dalam hal kewajiban penggunaan rupiah sebagai mata 
uang dalam transaksi tersebut. 
 
 
BRAINTEASER IV 
Apabila suatu transaksi yang unsur pembentuk biayanya adalah USD, namun BI 
menolak untuk memberikan penundaan kewajiban pelaksanaan penggunaan 
rupiah, bagaimana cara anda sebagai konsultan kontrak untuk mengatasinya?18 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

18
Masukkan nominal pembayaran dengan mata uang USD, namun pembayaran wajib dilakukan dalam
mata uang Rupiah yang nominalnya akan disesuaikan dengan nilai tukar IDR-USD pada hari pembayaran
harus dilaksanakan.

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 20 out of 94 


BAB II 
SEEING THROUGH THE RIGHT LENSES 
 
Perspektif? Merancang kontrak aja ada perspektifnya? Memang ini pelajaran seni 
rupa? Jawabannya adalah semacam iya! Karena mau dibilang seni rupa secara 
pemahaman umum, ya tentu saja tidak. Namun jika kita bedah unsurnya, maka 
proses merancang kontrak memang seperti sebuah seni, di mana perancang 
menjahit (menjahit = kata kerja) segala informasi dan pengetahuan (informasi dan 
pengetahuan = kata benda) yang didapat ke dalam suatu bentuk karya seni rupa 
yang dinamakan sebuah kontrak. 
 
Jadi kalau ada yang tanya “apa bedanya menggunakan jasa konsultan kontrak 
dengan mengunduh draft kontrak dari internet?” Itu sama dengan bertanya “apa 
bedanya menggunakan jasa penjahit baju profesional dengan beli kain lalu 
menjahit sendiri baju saya?”. Apa hasil menjahit sendiri bisa bagus? Bisa iya, bisa 
tidak. Namun faktanya, hampir semua dari anda pasti tidak meresikokan hal 
tersebut memilih untuk membeli baju jadi atau menggunakan jasa penjahit baju. 
Teman-teman saya yang punya pabrik konveksi saja tidak ada yang menjahit 
bajunya sendiri! Sama halnya dengan kontrak, pasti hasilnya berbeda antara 
kontrak yang dibuat sendiri dengan dibuatkan oleh desainer kontrak profesional. 
 
“Bagaimana jika perusahaan saya punya tim legal sendiri?” Nah bagus kalau anda 
sudah punya tim legal sendiri. Berarti perusahaan anda sudah satu langkah 
didepan saingan anda dalam hal kepatuhan dan manajemen resiko. Jawabannya 
adalah kembali lagi ke seberapa pentingnya kontrak tersebut bagi anda. Kembali 
lagi ke contoh teman-teman saya yang memiliki pabrik konveksi, kalau kita pergi 
sehari-hari ya mereka terkadang pakai baju buatan pabriknya. Itungannya 
sekalian promosi.  
 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 21 out of 94 


Tapi kalau untuk ke acara-acara penting, mereka pasti mengeluarkan 
pakaian-pakaian mewah yang mereka beli dari luar negeri. Kalau acaranya lebih 
penting lagi, mereka bahkan tidak segan-segan untuk membayar mahal ke 
penjahit profesional dan terpercaya hanya untuk setelan jas atau batik yang 
mewah. Tidak ada yang ke pesta atau meeting dengan pejabat lalu menggunakan 
polo shirt buatan pabriknya sendiri.  
 
Mengapa bisa begitu? Karena jika anda sudah teredukasi mengenai fashion dan 
merasakan bedanya kualitas hasil jahitan anda dengan penjahit kepercayaan 
anda, perspektif anda pasti jauh berbeda. Apresiasi anda terhadap baju tersebut 
sudah pasti berbeda. Apalagi jika baju tersebut bisa digunakan berulang kali untuk 
acara yang berbeda-beda dan mendapat banyak apresiasi dari orang lain. Kalau 
sudah begitu, jangankan minta anak buah yang menjahitkan, menurunkan level ke 
penjahit profesional yang lebih murah saja susahnya minta ampun.  
  
Sama halnya dengan kontrak. Begitu anda sudah teredukasi dan bisa memahami 
perbedaan hasil rancangan kontrak sendiri dengan hasil rancangan profesional 
terpercaya, anda akan lebih mengapresiasi dan memahami taraf kepentingan 
kontrak tersebut bagi kelangsungan usaha anda. Apalagi jika profesional tersebut 
tidak pelit ilmu dan dengan senang hati mengajarkan kepada anda alasan-alasan 
di tiap penulisan pasalnya, plus diberikan bocoran mengenai teknik rahasia untuk 
mengkomunikasikannya pada pihak seberang yang merupakan hasil pendidikan 
dan pengalaman yang tidak murah. Sudah garansi pasti tidak mau ganti konsultan.  
 
Jika kedepannya anda memutuskan sudah siap untuk merancang sendiri pun, 
anda sudah bisa melakukannya dengan lebih baik. Tapi kalau sudah semakin 
paham, ujung-ujungnya pasti kembali lagi ke konsultan yang sama. Alasannya 
adalah anda sudah “ketagihan” dengan cara orang memandang anda. Dengan 
pemahaman yang menyeluruh dan mendalam, wibawa anda pun akan naik. Pihak 
seberang akan berpikir puluhan kali untuk macam-macam! 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 22 out of 94 


Oke cukup basa-basinya. Sebelum kita membahas mengenai teknik-teknik 
berkontrak di bab-bab selanjutnya, mari kita mulai pembahasan dengan 
mengenali perspektif-perspektif orang dalam berkontrak, baik saat merancang 
atau mengkaji. Kuncinya, kenali tipe yang mana yang paling sesuai dengan anda, 
lalu cobalah menggunakan kacamata-kacamata lainnya. Diharapkan nantinya 
anda akan mampu untuk melihat sebuah kontrak dari segala sudut pandang.  
 
DISCLAIMER:​ ​ INI HANYA MERUPAKAN SEBUAH KONSEP YANG BERSUMBER 
DARI PENGALAMAN PRIBADI. TIDAK ADA NIATAN SAMA SEKALI UNTUK 
MENDISKREDIT PROFESI TERTENTU. JIKA ANDA TETAP MEMAKSAKAN DIRI 
ANDA UNTUK MERASA DIDISKREDITKAN, SILAHKAN TULIS DAN PASARKAN 
BUKU ANDA SENDIRI SEBAGAI SEBUAH TANGGAPAN DARI BUKU YANG 
SAYA TULIS. LUMAYAN, BISA JADI PROMOSI GRATIS BUAT KITA SEMUA, 
SINCE​ MASIH ADA YANG SUKA HEBOH KARENA HAL BEGITUAN :D 
 
2.1. Latar Belakang dan Kacamata Ahli Hukum 
Ahli hukum di sini adalah profesi-profesi hukum di sekeliling kita yang seringkali 
kita tidak sadari keberadaannya dan tidak kita manfaatkan sesuai dengan 
kapasitasnya. Namun pada kesempatan kali ini kita akan membahas 
profesi-profesi hukum yang sifatnya non-government, seperti notaris, pengacara 
hingga akademisi. Mengapa? Karena profesi-profesi ini lah yang seringkali kita 
temui dan dapat dengan mudah kita akses kalamana kita membutuhkan bantuan 
hukum. Dengan profesi-profesi inilah kebetulan saya sering berkutat, jadi saya 
rasa tidak pada tempatnya jika saya membahas profesi hukum lain di luar itu 
karena kurangnya pengalaman pribadi saya. 
 
Saya sudah berkutat dengan dunia hukum mulai sejak saya pertama kali pulang ke 
Surabaya dan bekerja pada perusahaan keluarga. Karena background perusahaan 
kami di bidang property, perkenalan saya dengan konsultan hukum dimulai dari 
notaris-notaris. Hingga saat ini, jika saya ketik kata “notaris” di buku kontak saya, 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 23 out of 94 


dapat ditemukan lebih dari dua puluh notaris yang saya pernah berhubungan 
langsung. Belum termasuk rekan-rekan sejawat yang sekarang sudah menjadi 
notaris. Dari mereka ini lah saya banyak menarik kesimpulan tentang bagaimana 
cara notaris-notaris yang saya temui memandang sebuah kontrak. 
 
Setiap notaris akan selalu memandang kontrak anda sebagai barang generik. 
Setiap kali kita berkonsultasi kepada mereka, mereka akan menanyakan 
pertanyaan-pertanyaan baku yang hampir sama; sampai ada yang punya ​draft 
pertanyaan mengenai data-data yang diperlukan. Kalau kita menyebutkan 
adanya klausul-klausul khusus, mereka akan memasukkan itu juga. Semuanya 
dapat selesai dalam waktu kurang dari 30 menit.  
 
Apa itu berarti notaris kurang ilmu? Apakah itu berarti mereka tidak sepenuh hati 
mengerjakan pekerjaannya? Tentu saja tidak! Justru itu lah intisari dari profesi 
notaris; mereka hanya bertugas membuatkan dan mengesahkan akta perjanjian 
sesuai permintaan anda. Tidak kurang, tidak lebih. Anda mau membuat perjanjian 
jual beli? Mereka sudah memiliki ​draft-n
​ ya. Anda mau jual beli tersebut dilakukan 
dengan cicilan tiga bulan? Mereka tinggal ganti jangka waktunya. Anda mau 
perjanjian dinotariskan supaya terkesan sah dan mengikat? Mereka punya 
kewenangannya.  
 
Perlu dipahami bahwa notaris adalah pejabat negara yang memang disumpah dan 
dibayar untuk memastikan bahwa seluruh perjanjian atau akta yang dibuat di 
bawah pengawasan mereka tidak mengandung cacat hukum formil. Hal ini karena 
hampir semua dari dokumen yang dikeluarkan dari kantor mereka akan 
dipandang sebagai dokumen negara. Maka dari itu setiap notaris pasti memulai 
perjanjiannya dengan frasa “dibuat dan ditandatangani oleh para pihak sendiri 
tanpa diwakilkan di hadapan saya, notaris kenal..”. Bayangkan betapa pentingnya 
berkas-berkas yang menumpuk di atas meja notaris langganan anda. 
 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 24 out of 94 


Karena dalam hal perjanjian-perjanjian tertentu orang mau tidak mau harus 
mengesahkan di hadapan notaris, para notaris memang bermain di layanan 
masyarakat. Jadi mereka ini sebenarnya jualan quantity, bukan quality. Bukan 
karena mereka tidak punya quality, tapi memang bukan itu yang mereka jual. 
Selain perbedaan tuntutan profesi, kebanyakan notaris selalu kejar-kejaran 
dengan waktu. Tidak ada kantor notaris yang pernah sepi pada saat saya datang. 
Paling tidak, pegawainya pasti selalu sibuk mengurus tumpukan akta yang 
rasanya tidak kunjung habis.  
 
Jadi kalau notaris anda menyempatkan diri untuk menerima konsultasi anda dan 
memberi petuah-petuah lebih, itu hanya merupakan bonus saja; berarti notaris 
anda peduli dengan bisnis anda. Jangan setelah diberi banyak bonus lalu anda 
menuntut beliau untuk memberi lebih dari yang anda rela bayarkan. Saya rasa 
profesi notaris terlalu mulia untuk perlakuan tidak etis seperti itu. 
 
Mengetahui hal ini, mendatangi kantor notaris untuk mengkonsultasikan satu per 
satu klausul perjanjian dan meminta pendapat-pendapat hukum agaknya kurang 
tepat. Mereka juga akan merasa tidak enak untuk menarik biaya konsultasi dari 
anda, apalagi notaris kenal. Pada akhirnya, anda hanya akan memberikan 
penghargaan berupa honorarium kurang lebih sebesar Rp 3,500,000,- (tiga juta 
lima ratus ribu rupiah) setelah berjam-jam dan bahkan berhari-hari konsultasi 
dengan mereka. Itupun kalau anda jadi membuat akta melalui mereka. Kalau 
tidak? Anda hanya akan membuang-buang waktu mereka (​guilty as charged, s​ aya 
juga sering begitu dulu). Plus klien yang lain sudah antri semua untuk dibacakan 
aktanya sejak pagi hari.  
 
Lain halnya dengan pengacara. Kantor pengacara kadang tidak terlihat se ​hectic 
kantor notaris. Bukan berarti mereka tidak laku, namun natur pekerjaan mereka 
mengharuskan mereka untuk ​mobile.​ Kalau tidak janjian meeting dengan klien, ​ya 
bersidang di pengadilan untuk kepentingan klien. Kalau tidak begitu, ​ya​ kerja di 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 25 out of 94 


kantor untuk membuat dokumen-dokumen yang diperlukan oleh klien. Maka dari 
itu, dari perspektif orang awam kelihatannya agak susah bertemu dengan 
pengacara daripada bertemu dengan notaris. Bukan karena apa, namun karena 
memang natur kerja mereka saja yang memang tidak memungkinkan untuk 
tinggal di kantor dari pagi sampai sore setiap harinya.  
 
Mengapa bisa begitu? Rahasianya terletak pada kualitas klien dan kualitas jasa 
yang diberikan. Kualitas klien karena klien yang datang hampir sudah pasti sadar 
kalau mereka butuh bantuan hukum yang sifatnya cukup penting dan jangka 
panjang untuk dibawa ke pengacara. Kualitas layanan karena kebutuhan hukum 
yang diminta klien pun lebih dari sekedar membuat dan menandatangani 
perjanjian. Tergantung pada jenis layanan yang dibeli, pengacara bisa bertugas 
dari hulu ke hilir; mulai dari merancang kontrak hingga mendampingi klien untuk 
bernegosiasi dengan pihak seberang hingga mencapai kata sepakat.  
 
Belum lagi jika klien meminta pengawalan dalam hal pelaksanaan jika 
sewaktu-waktu terjadi wanprestasi. Tentunya pengacara tersebut adalah orang 
pertama mendeteksi dan berusaha menyelesaikan sengketa yang terjadi sebagai 
mediator. Jika mediasi gagal, besar kemungkinan pengacara bisa ditunjuk untuk 
mendampingi klien di meja pengadilan, baik pn atau arbitrase. Tidak jarang 
mereka lembur berhari-hari karena banyaknya dokumen klien yang harus 
diperiksa. Kenapa komitmen pengacara berbeda dengan notaris? Karena natur 
profesi dan juga besaran honorarium yang diberikan sebagai lambang dari 
komitmen klien terhadap masing-masing profesi. Jika anda paham natur dari 
sebuah hubungan bisnis, semuanya akan terlihat semudah dan se​simpel​ itu. 
 
Dari sini bisa dilihat bahwa berbeda dengan notaris, suatu kantor pengacara 
dapat hidup dari segelintir klien tetap karena kualitas klien itu sendiri dan ruang 
lingkup layanan yang diberikan. Intinya, klien selalu punya komitmen dengan 
pengacaranya, dan begitu juga sebaliknya. Jadi jika layanan seperti ini yang anda 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 26 out of 94 


butuhkan, datang ke kantor pengacara merupakan hal yang menurut hemat saya 
lebih tepat. 
 
Bagaimana cara tahu kapan waktu yang tepat untuk mengunjungi kantor 
pengacara, baru disahkan ke notaris? Kapan hanya perlu datang ke kantor notaris 
saja? Jawabannya adalah seberapa besar dampak dari adanya masalah pada 
perjanjian anda? Kalau perjanjian itu hanya bernilai kecil bagi anda, mungkin tidak 
ada masalah tanpa bantuan pengacara. Tapi kalau perjanjian itu menyangkut 
hidup matinya arus kas perusahaan anda misalnya, tentunya sangat tidak bijak 
apabila anda memilih untuk melakukan semuanya sendiri. Tidak semua jasa 
pengacara mahal, semua tergantung kasusnya. Kantor yang sama bisa mematok 
harga dua puluh juta rupiah untuk kasus kontrak A, tapi mematok harga tiga ratus 
juta rupiah untuk kasus kontrak B. Semua kasus ada tempatnya.  
 
Ada lagi golongan profesi hukum yang seringkali dilupakan dalam perdebatan 
antara fungsi notaris v. pengacara. Mereka adalah akademisi hukum, yang mana 
termasuk di dalamnya pengajar dan pelajar. Para akademisi selalu mengkaji dari 
segi teorinya; apakah kontrak tersebut secara formil dan materiil sesuai dengan 
peraturan yang berlaku? Pasal-pasal pendukungnya apa saja? Pendapat para 
akademisi ini tidak bisa diabaikan, karena mereka memegang peranan penting 
dalam perkembangan hukum di tanah air.  
 
Sebut saja tokoh-tokoh seperti Yahya Harahap, Mahfud M.D., Sutan Remy 
Sjahdeini, Hikmahanto Juwana dan rekan-rekan sejawatnya. Pendapat-pendapat 
mereka adalah pondasi dari penafsiran hukum Indonesia, yang selalu menjadi 
daftar kutipan dalam berbagai kasus dan dipandang pengacara, jaksa dan hakim 
layaknya hukum itu sendiri. Tidak ada salahnya kita meminta pendapat dari para 
akademisi hukum di sekeliling kita untuk mendapatkan pencerahan mengenai 
bagaimana idealnya suatu perkara diselesaikan. Kita tidak pernah tahu 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 27 out of 94 


akademisi-akademisi di sekeliling kita yang mungkin beberapa tahun ke depan 
akan menjadi the next Yahya Harahap.  
 
Seperti mantan dosen S2 saya Pak Hikmahanto Juwana, seorang akademisi 
sekaligus praktisi kaliber internasional yang terakhir sempat diisukan akan 
diangkat menjadi salah satu menteri dari kabinet Presiden Jokowi. Percaya saya, 
tidak ada ruginya jika anda membelikan mereka segelas kopi sembari belajar dari 
mereka. Saya saja sedikit menyesal kenapa pada saat ia menjadi dosen saya, saya 
tidak membangun hubungan yang lebih baik lagi dengan beliau. 
 
Setelah memahami latar belakang perbedaan masing-masing profesi, mari kita 
bahas kesamaan mereka, yang secara bersama-sama akan saya sebut sebagai ahli 
hukum, dalam memandang suatu kontrak. Pertama, mereka tentunya memiliki 
prioritas untuk memastikan bahwa perjanjian yang mereka buat tidak keluar dari 
koridor hukum. Karena reputasi dan nama baik mereka sangat dipertaruhkan di 
sini.  
 
Sekali notaris diundang ke pengadilan, akan banyak muncul isu-isu mengenai 
ketidakcakapan mereka dalam bidangnya, meskipun hanya dipanggil sebagai saksi 
misalnya. Sekali akademisi salah dalam menerapkan teori, mereka pasti akan 
menerima cemoohan dan sindiran dari rekan sejawat. Sekali pengacara gagal 
untuk memperjuangkan kepentingan kliennya, ia akan mendapatkan ​street cred 
yang kurang bagus. Mulai dari dipandang kurang hati-hati, kurang belajar hingga 
tidak becus dalam bidangnya. Bahkan pengacara pun akan berhenti menerima 
referensi dari dunia usaha apabila mereka terbukti salah menerapkan hukum 
dalam suatu kontrak. Apalagi jika kasus sampai di ​blow-up ​di media. 
 
Maka dari itu, ahli hukum biasanya sangat berhati-hati dalam hal kesesuaian 
kontrak dengan koridor-koridor hukum yang ada. Jadi tidak heran kalau para ahli 
hukum ini sifatnya sangat amat hati-hati sebelum, pada saat dan sesudah tanda 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 28 out of 94 


tangan kontrak. Karena susunan prioritas tersebut, biasanya seorang ahli hukum 
memiliki cara pandang dan karakter sebagai berikut: 
 
● Strong theoretical foundation; 
● Detail-oriented;​  
● Memprioritaskan upaya meminimalisir resiko; 
● Selalu memikirkan kemungkinan terburuk; 
● Keputusan relatif lambat; 
 
Apakah karakter ini salah? Tidak juga, karena memang kewajiban seorang ahli 
hukum ada di penjagaan dan pengamanan. Apakah karakter ini sepenuhnya 
benar? Daripada dijabarkan satu-satu, lebih baik kita menggunakan sebuah 
contoh gaya bicara atau gaya penulisan kontrak seorang pengacara mengenai jual 
beli buah apel, yang kebetulan adalah salah satu buah favorit saya: 
 
“Anda wajib memberikan Apel tersebut kepada saya sebelum tanggal 31 Januari 2020. 
Dengan pemberian Apel tersebut, anda juga memberikan hak kepada saya untuk 
menikmati (1) kulit Apel, (2) biji Apel dan (3) daging buah Apel tersebut. Anda juga 
memberikan hak kepada saya untuk mengolah Apel tersebut sesuai dengan selera saya, 
termasuk namun tidak terbatas pada langsung memakan, dibuat sebagai jus, dilempar 
ke rumah tetangga yang selalu bikin saya kesal atau cara-cara lainnya. Anda juga 
menjamin bahwa Apel tersebut sebelumnya adalah milik anda secara penuh dan 
diperoleh dengan cara-cara dan izin yang sah menurut hukum. Apel juga harus 
merupakan Apel jenis Washington yang diperjanjikan sebelumnya.  
 
Jika ada satu saja ketentuan di atas yang dilanggar oleh anda, maka anda akan 
dianggap telah melakukan wanprestasi dan anda wajib mengganti kerugian kepada 
saya 100 (seratus) buah Apel atau uang tunai yang memiliki nilai yang setara. Jika anda 
menolak atau berusaha mangkir dari kewajiban tersebut, anda akan dianggap telah 
berusaha melakukan penggelapan dan akan saya proses sesuai dengan ketentuan 
perundang-undangan yang berlaku, baik secara perdata maupun pidana.” 
 
Jika anda berperan sebagai penjual Apel, coba anda temukan celah atau jalan 
keluar bagaimana anda dapat lari dari kewajiban tersebut tanpa menanggung 
konsekuensinya. Susah bukan? Saya jamin setelah membacanya anda akan 
tertawa dan berpikir bagaimana seorang konsultan hukum bisa memenjarakan 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 29 out of 94 


orang hanya karena sebuah apel. Tapi ini lah kelebihan dan kelemahan kacamata 
konsultan hukum. Kelebihannya, apabila benar terjadi sesuatu maka anda akan 
sangat bersyukur bahwa konsultan hukum anda telah memprediksi dan mengatur 
konsekuensinya dengan sedemikian rupa.  
 
Kelemahannya, para ​supplier ​mungkin akan melakukan negosiasi yang alot atau 
bahkan langsung kabur setelah membaca perjanjian semacam ini. Mau jual beli 
apel aja ribet amat. Jika supplier bersedia tanda tangan pun, pasti ada kesan yang 
kurang enak karena mereka merasa dipandang seperti seorang kriminal yang 
terhadapnya anda harus ekstra hati-hati. Tentunya perasaan seperti ini sangat 
dihindari oleh para pelaku usaha, sehingga seringkali pengusaha tidak cocok atau 
tidak sepandang dengan konsultan hukumnya, lalu memutuskan untuk mengambil 
resiko dengan melakukan semuanya sendiri. 
 
Jika anda merasa bahwa cara pandang yang penuh pertimbangan terhadap 
potensial resiko ini adalah cara pandang yang biasa anda gunakan, jangan 
terburu-buru meninggalkan cara pandang ini! Ini adalah cara pandang yang 
sangat langka, yang biasanya hanya dimiliki oleh para ahli hukum dan 
pengusaha-pengusaha yang sudah puluhan tahun pengalaman ditipu orang. Yang 
perlu anda lakukan sekarang adalah mencoba kacamata lain yang akan kita bahas 
di sub bab selanjutnya guna menyempurnakan kelebihan yang anda telah miliki. 
 
 
BRAINTEASER V 
Apakah ada karakteristik lain dari Ahli Hukum yang saya lewatkan?  
DM akun Instagram kami di @dr.contract to let us know! 
 
 
 
 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 30 out of 94 


2.2 Latar Belakang dan Kacamata Pengusaha 
Selain ahli hukum, ada lagi satu jenis orang yang jauh lebih sering saya temui 
selama petualangan saya di ​marketplace​. Benar, mereka adalah Para Pengusaha. 
Dari yang baru lulus sekolah hingga sudah hampir lulus ujian kehidupan, mereka 
selalu punya satu kesamaan; pertimbangan untung-rugi. Meskipun terkadang cara 
pandang dan cara berbisnis masing-masing pengusaha adalah berbeda, tapi 
mereka selalu punya prediksi untung-rugi.  
 
Jika saya mengikuti tren ini, apa untungnya buat saya? Bagaimana cara untuk 
memastikan bahwa menjual makanan dengan metode bisnis ini adalah yang paling 
menguntungkan bagi saya? Mindset atau cara pikir ini tentunya sangat berbeda 
dengan cara pikir ahli hukum yang saya bahas sebelumnya. Makanya seringkali 
mereka tidak cocok dan memilih untuk bergerak secara eksklusif. Lupa bahwa 
kenyataannya dua profesi ini saling berkaitan dan saling membutuhkan. 
 
Selain pertimbangan untung-rugi, karakter pengusaha juga terlalu subjektif. 
Kenapa saya bilang subjektif? Bukankah mereka selalu berorientasi pada 
perhitungan untung-rugi? Iya, tapi pertimbangan untung-rugi mereka hampir 
selalu eksklusif hanya benar di kepala mereka! Jika mereka merasa perhitungan 
mereka masuk akal lalu bertemu dengan calon partner yang tepat, mereka akan 
dengan penuh semangat berusaha untuk secepatnya mengadakan kontrak untuk 
mengikat calon partner tersebut.  
 
Tujuannya, supaya usaha segera berjalan dengan mengandalkan kemahiran dan 
pengalaman calon partner tersebut. Selama kontrak dirasa ​fair, ​pengusaha 
biasanya tidak berpikir dua kali untuk tanda tangan. Terutama bagi para 
entrepreneur​ muda yang sudah tidak sabar untuk segera meraih kebebasan 
finansial mereka. Mereka khawatir kalau ditunda-tunda atau menggunakan jasa 
profesional untuk menghandle kontraknya, kesempatan keburu hilang atau 
direbut orang. Atau versi yang sedikit lebih baiknya, kontrak diserahkan pada 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 31 out of 94 


profesional, tapi kegiatan di lapangan sudah mulai jalan dulu. Masalah kontrak 
detailnya bagaimana itu urusan belakang, yang penting bisa segera punya mesin 
uang. Para pengusaha muda mana suaranya?? 
 
Karena orientasi untung-rugi dan kinerja yang serba cepat tersebut, para 
pengusaha biasanya memiliki cara pandang dan karakter sebagai berikut: 
 
● Little to no theoretical foundation; 
● Execution-oriented;​  
● Memprioritaskan biaya minimal dengan hasil yang maksimal; 
● Selalu memikirkan kemungkinan terbaik dan pura-pura buta terhadap 
kemungkinan gagal; 
● Keputusan relatif cepat, bahkan kadang terlalu cepat; 
 
Ada satu kekuatan yang sangat besar dari pengusaha yang jarang dimiliki oleh tipe 
orang lainnya. Kekuatan ini dinamakan kecepatan untuk melihat hasil. Dengan 
proses perhitungan hingga eksekusi yang serba cepat, pengusaha akan dengan 
mudah menikmati hasil dari usahanya dibandingkan dengan profesi lain. 
Ditambah lagi, pengusaha tidak terikat oleh batasan-batasan yang dimiliki oleh 
profesi lain seperti ahli hukum. 
 
Dr. Contract sendiri juga bisa mencapai titik keberhasilan seperti hari ini juga 
karena saya sebagai ​founder l​ angsung mengaktivasikan kacamata bisnis saya pada 
saat saya memutuskan untuk berkomitmen secara penuh di bidang ini pada tujuh 
bulan silam. Kemampuan untuk melihat hasil dengan cepat sungguh merupakan 
hal yang paling luar biasa yang saya pernah rasakan! 
 
Kabar buruknya, “hasil” yang dimaksud di sini tidak melulu bicara tentang 
kesuksesan, namun juga kegagalan. Karena pengusaha selalu bergerak cepat, 
otomatis mereka juga selalu cepat menemui kegagalan. Kabar baiknya, kegagalan 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 32 out of 94 


ini dapat menjadi pembelajaran yang cepat bagi pengusaha. Kalau profesi lain 
membutuhkan waktu tiga hingga lima tahun untuk belajar dan menerapkan ​the 
best practice, ​pengusaha bisa melakukannya dalam kurun waktu kurang dari satu 
tahun. Bukan berarti cara mereka akan langsung sempurna, namun paling tidak 
sudah bisa kelihatan hasilnya. Begitu masuk tahun kedua pasti sudah tahu mana 
yang harus diterapkan dan dihindari.  
 
Meskipun kemampuan untuk belajar dari kegagalan adalah kunci sebuah 
kesuksesan, namun bukan berarti kita sebagai pengusaha lalu maju pantang 
mundur menghadapi resiko. Tidak semua pengusaha yang gagal bisa bangkit 
kembali. Jika anda kehilangan separuh dari aset anda, mungkin anda bisa 
mendirikan usaha baru dengan pelajaran dari kegagalan bisnis pertama.  
 
Bagaimana jika kegagalan tersebut merenggut seluruh harta kekayaan dan masa 
depan keluarga anda? Bagaimana jika sudah usaha tutup karena sepi, lalu tanah 
masih diambil alih oleh rekan anda karena kontrak menentukan demikian? “​Ah 
bapak bisa saja. Kalau perjanjiannya seperti itu saya mana mau tandatangan?”  
 
Jangan salah, perjanjian semacam itu banyak saya temui. Pihak pertama 
memasukkan tanahnya sebagai modal kerjasama dalam objek perjanjian (​inbreng)​ , 
lalu pihak kedua menggelontorkan modal untuk bangunan. Pada saat bisnis 
merugi dan para pihak memutuskan untuk membubarkan perjanjian tersebut, 
pihak kedua bisa memaksa pihak pertama untuk menjual lalu membagi hasilnya 
karena dalam klausul perjanjian dimuat demikian.  
 
Memang kalau dinalar sebenarnya klausul ini cukup adil, namun jika anda sebagai 
pihak pertama memahami ketentuan ini dari awal maka jalan alternatifnya pasti 
dapat dicari, misalnya pihak kedua dapat memanfaatkan gedung dengan 
modalnya tersebut hingga lima tahun ke depan (dianggap seperti biaya sewa). 
Kegagalan untuk memahami hal seperti ini di depan inilah yang menyebabkan PN 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 33 out of 94 


tidak pernah sepi akan perkara perdata yang melibatkan jaminan tanah dan bank 
tidak pernah kehabisan stok tanah hasil sita jaminan. 
 
Pengusaha juga memiliki karakteristik tidak mau rugi. Hal ini sah-sah saja dan 
justru merupakan esensi dari berusaha. Bahkan Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang 
No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UU PT) pun menentukan bahwa 
tujuan pendirian PT adalah untuk melakukan kegiatan usaha, di mana suatu 
kegiatan usaha pasti berusaha memperoleh keuntungan, bukan kerugian.  
 
Akan tetapi, dalam upaya memperoleh keuntungan tersebut, seringkali 
pengusaha kurang bijaksana dalam menerapkan adagium “memperoleh hasil 
semaksimal mungkin dengan modal seminimal mungkin.” Di mana letak 
ketidakbijaksanaannya? 
 
Pertama, pengusaha sering salah menerapkan tolak ukur dalam menentukan 
perbandingan untung-rugi. Saya ambil contoh dari pengalaman pribadi saya 
sebagai seorang developer perumahan. Pada tahun 2016 silam, saya dan dua 
orang kawan memutuskan untuk membeli sebidang tanah, dipecah menjadi 
beberapa sertifikat, lalu dibangun rumah di atas masing-masing bidang tanah yang 
sudah dipecah untuk dijual. Contoh perhitungan sederhana supaya lebih mudah 
dipahami adalah sebagai berikut: 
 
 
Total Modal : 2M 
Harga Jual Total : 4.5M 
Net Profit : 2.5M (>100%) 
 
Wow, terlihat seperti angka yang bombastis bukan? Siapa yang tidak tergiur akan 
potensial keuntungan lebih dari 100% di jaman sekarang? Apalagi anak muda 
yang ingin semuanya serba instan? Kami pun langsung jatuh cinta pada bisnis 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 34 out of 94 


properti dan menolak peluang usaha di bidang lainnya, bahkan cenderung 
merendahkan kawan-kawan lain yang bergerak di bidang yang berbeda. Senjata 
kami selalu “bisa nggak usahamu menghasilkan keuntungan lebih dari 100%?”. Di 
sinilah kami belajar banyak. Faktanya, dalam perjalanan menuju 100% tersebut, 
banyak faktor lain yang kita lupakan. Saya ambil satu yang paling krusial, yaitu 
time atau waktu: 
 
Profit Percentage : 100% 
Jangka Waktu : 36 bulan 
Actual Net Profit : 2.7%/bulan 
 
Di sinilah banyak pengusaha menghadapi suatu titik buta (​blindspot​). Keuntungan 
sebanyak 2.7% per bulan tentu saja relatif kecil dibandingkan dengan usaha 
lainnya. Dengan melupakan time, kita telah melupakan ​cash flow.​ Uang kita mati 
dan tidak dapat diputar kembali selama properti belum habis terjual. Belum lagi 
kesempatan-kesempatan lain yang dilewatkan karena matinya modal tersebut 
(opportunity cost)​. Belum lagi jika terjadi sengketa dengan pihak luar atau antar 
pihak internal. Kontrak pun tidak mengatur mengenai apa yang harus dilakukan 
para pihak ketika dalam 36 bulan properti belum habis terjual.  
 
Hal ini tentu saja berpotensi menimbulkan perbedaan pendapat berdasarkan 
perbedaan kebutuhan pada 36 bulan ke depan. Satu mungkin mau menjual murah 
karena butuh uang, yang lain mungkin mau menggunakan strategi menaikkan 
harga, sampai ada yang bermain pasif dengan memutuskan untuk ​wait and see.​  
Padahal ​wait and see ​pun ada biayanya, seperti biaya perawatan, pajak bumi dan 
bangunan (PBB) dan iuran-iuran lainnya. Hal ini tentu saja bertentangan dengan 
prinsip memaksimalkan keuntungan, karena ada faktor yang berada di luar 
perhitungan. 
 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 35 out of 94 


Kedua, pengusaha tidak menyadari akan tidak disinggungnya faktor resiko dalam 
adagium “memaksimalkan keuntungan dan meminimalkan kerugian”. Sebagai 
seseorang yang matanya selalu tertuju pada peluang, banyak pengusaha 
terjangkit dengan optimisme yang semu; seakan-akan semua akan terjadi sesuai 
dengan perhitungan di kepalanya. Mereka memandang upaya perlindungan 
seperti asuransi atau jasa pendampingan sebagai suatu tindakan yang 
berlawanan dengan upaya untuk memaksimalkan keuntungan. Padahal hal-hal 
seperti itu nilainya kadang tidak sampai 10% (sepuluh persen) dari nilai 
perjanjian.  
 
Selain berfungsi untuk mencegah kerugian, penggunaan jasa seperti ini akan 
memudahkan eksekusi dan waktu istirahat anda, sehingga anda dapat 
menggunakan ​extra​ waktu dan energi anda untuk mengembangkan usaha anda 
atau mengadakan kontrak dengan pihak lain guna menutupi “kerugian” yang 
ditimbulkan dari penggunaan jasa-jasa profesional tersebut. pihak pertama yang 
tanahnya dijual secara paksa oleh pihak kedua tadi. Karena dijual dengan tujuan 
asal cukup untuk menutupi kerugian pihak kedua, pihak pertama lah yang 
dirugikan karena sebenarnya nilai tanahnya jauh melebihi nilai jualnya. Hitung 
saja berapa kerugian yang diderita oleh pihak pertama jika tanah tersebut adalah 
rumah yang anda tempati saat ini.  
 
Dengan adanya latar belakang cara pandang dan karakter seperti ini, kita dapat 
menyimpulkan bahwa pengusaha cenderung memandang hal-hal yang sifatnya 
memitigasi resiko sebagai hal yang remeh-temeh dan merepotkan. Mengapa? 
Karena seringkali mereka gagal untuk memandang kemungkinan terjadinya 
hal-hal diluar dari yang diperjanjikan dan diperkirakan sebelumnya. Tidak 
selamanya optimisme dan kecepatan gerak itu baik. Namun jika digunakan 
dengan tepat, maka ini akan menjadi kekuatan yang besar bagi perkembangan 
bisnis anda. Yang perlu anda lakukan adalah menambah layer kacamata yang 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 36 out of 94 


anda gunakan, sehingga segala resiko yang anda ambil dapat diukur dan dapat 
diantisipasi sejak awal. 
 
BRAINTEASER VI 
Sebagai seorang pengusaha, apakah ada memiliki pengalaman serupa yang ingin 
anda ceritakan kepada kami?  
 
DM akun Instagram kami di @dr.contract to let us know!  
Siapa tahu bisa diulas dan anda bisa di-​mention!​  
 
 
2.3. Latar Belakang dan Kacamata Pengamat Perilaku 
Pengamat Perilaku Manusia di sini tidak hanya bicara mengenai psikiater atau 
sarjana psikologi, tapi semua orang yang mendedikasikan hidupnya untuk 
mempelajari perilaku manusia. Orang marketing belajar ​market behavior​ agar 
dapat menentukan bahkan memanipulasi target pasar. Pengusaha belajar 
mengenai tipikal karakter orang-orang yang dengannya ia mengadakan hubungan 
bisnis agar dapat bernegosiasi dengan efektif. Ahli hukum belajar membaca klien 
dan lawan guna memanfaatkan dinamika tersebut dalam menyelesaikan suatu 
perkara. Psikolog pun belajar karakter dan permasalahan pasien guna membantu 
pasien pulih dari beban psikologisnya. Agaknya semua profesi yang ​worth their salt 
pasti sedikit banyak paham karakter dan tipikal orang.  
 
Bagi orang-orang yang memiliki kecenderungan untuk menggunakan kacamata 
ini, mereka selalu mengandalkan kepercayaan atau ​trust. ​Mengapa ​trust​? Karena 
observasi, evaluasi dan ​judgment ​yang mereka simpulkan terhadap lawan 
berkontrak pada akhirnya bertujuan untuk menentukan apakah orang ini dapat 
dipercaya atau tidak. Jika tidak dapat dipercaya, mereka akan super berhati-hati 
layaknya orang hukum. Mereka juga tidak segan untuk mencari lawan berkontrak 
baru apabila mereka tidak bisa menemukan cara untuk mengamankan posisinya.  

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 37 out of 94 


 
Namun jika orang ini dapat dipercaya, mereka akan cenderung untuk ​overly 
enthusiastic, k
​ arena mereka jarang bisa percaya dengan orang. Dalam keadaan 
seperti ini, mereka akan mudah menyetujui syarat dan kondisi yang diajukan 
pihak seberang karena mereka percaya bahwa apa yang ditentukan pasti adil, dan 
kalau terjadi apa-apa orang ini pasti akan memiliki kesadaran diri yang baik 
sehingga kecil kemungkinan terjadi sengketa.  
 
Anehnya, pandangan ini seringkali tidak salah! Menurut saya, selama para pihak 
dapat memastikan bahwa pihak yang lain bertujuan memperoleh keuntungan dan 
bertahan lama di dunia usaha, mereka pasti berpikir puluhan kali untuk main 
kotor. Bahayanya adalah fakta bahwa keadaan dapat dengan mudah mengubah 
seseorang. Ambil contoh seorang klien yang kebetulan bekerja di bidang 
ekspor-impor. Klien telah berhasil menjalin hubungan kerja yang saling 
menguntungkan dengan pihak seberang, sebut saja berinisial CJ. CJ bertugas 
untuk mendatangkan klien sekaligus mengurus pengiriman produk. Hubungan ini 
bahkan telah berjalan lintas generasi.  
 
Suatu hari, produk CJ ditahan karena dianggap tidak membayar pajak. Pembeli 
dari klien saya pun ikut ditahan untuk dimintai keterangan dan pertanggung 
jawaban. Dalam keadaan genting seperti ini, ​meeting​ antara klien dan CJ yang 
biasanya dipenuhi asas kekeluargaan pun berubah total karena masing-masing 
pihak ingin mengamankan posisi masing-masing. Di satu sisi mereka sama-sama 
ingin pembeli mereka dibebaskan. Disisi lain, mereka sama-sama tidak mau 
menjadi pihak yang mengurus karena takut akan diperas atau dipidanakan oleh 
pihak yang berwajib.19 
 
Karena di awal tidak dibangun sebuah kesepakatan yang jelas, mulailah terjadi 
saling lempar tanggung jawab antara klien dan CJ. Update terakhir yang saya 

19
Saya tidak bilang aparat penegak hukum kita pasti memeras, hanya memang pada saat itu klien TAKUT
diperas oleh oknum-oknum tertentu. Mohon dibedakan.

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 38 out of 94 


terima adalah klien sudah menggelontorkan beberapa milyar rupiah untuk 
perkara ini. Tidak tahu siapa yang menerima kucuran dana tersebut. CJ sudah 
menghilang entah kemana dan pembeli pun masih tidak jelas nasibnya bagaimana.  
 
Pertanyaan saya, jika ternyata klien asing ini nantinya berhasil bebas, kira-kira 
apakah ia masih mau menjalin hubungan kerjasama dengan klien saya? Tentu saja 
tidak! Dengan menghemat uang puluhan juta di awal untuk suatu kontrak dan 
pendampingan yang jelas, klien telah kehilangan uang satu milyar lebih ​PLUS 
kepercayaan dari satu pembeli yang tidak bisa diukur nilainya. Inilah masalah yang 
sering terjadi apabila seseorang menganggap bahwa ia telah ahli dalam membaca 
orang sehingga tidak perlu mengadakan hubungan kontraktual yang jelas di awal.  
 
Meskipun kemampuan membaca orang lahir dari pengalaman dan pengetahuan 
serta seringkali benar, namun kita tidak dapat menebak kejadian apa yang akan 
merubah tingkah laku seseorang. Ada baiknya jika keahlian ini dilengkapi dengan 
layer ​atau lapisan kacamata yang lain. 
 
2.4. Kacamata Terbaik 
Setelah memahami tiga jenis kacamata di atas, sudah jelas bahwa kesimpulan 
yang dapat kita tarik adalah gabungkan perspektif ketiganya. Semua kacamata 
memiliki kelebihan tersendiri; kacamata hukum berfokus pada keamanan, 
kacamata bisnis berbicara mengenai kepraktisan serta keuntungan dan kacamata 
psikologis mengambil sudut pandang pemahaman orang.  
 
Dengan kacamata psikologis anda dapat memahami kepentingan anda dan lawan 
berkontrak anda, lalu merancang suatu kontrak yang berisi klausul-klausul yang 
menguntungkan kedua belah pihak dengan menggunakan kacamata bisnis dan 
mengantisipasi faktor-faktor X di luar sana dengan mengambil sudut pandang ahli 
hukum. Hal ini tidak ada bedanya dengan kacamata trifokal, di mana anda bisa 
mengakses lensa mana yang anda butuhkan hanya dengan gerakan mata saja. 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 39 out of 94 


 
Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana cara memperoleh kacamata trifokal 
dalam waktu singkat? Sedangkan kontrak saya harus memasuki tahap finalisasi 
dalam tiga bulan ke depan? Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa ilmu dan 
keahlian praktek seperti ini tidak dapat diperoleh dalam semalam, dan biaya 
untuk menjadi seseorang yang menguasai berbagai macam disiplin ilmu tidaklah 
murah. Di sinilah konsultan kontrak mengambil peranan, di mana anda dapat 
didampingi dan dibimbing oleh mereka yang berpengalaman dengan biaya yang 
jauh lebih kecil dibandingkan uang sekolah dan waktu anda.20  
 
Jika keahlian anda adalah mendirikan dan mengelola suatu usaha, maka 
gunakanlah sumber daya anda seperti uang, tenaga dan waktu untuk berusaha. 
Serahkan masalah lain kepada ahlinya. Percayalah, anda akan jauh lebih cepat 
berhasil dengan minim resiko pada saat anda memutuskan untuk berhenti 
menjadi ​Superman ​dan berani mendelegasikan tugas-tugas anda kepada mereka 
yang lebih ahli dan berpengalaman. 
 
 
BRAINTEASER VII 
Apakah ada tugas-tugas yang selama ini anda masih ragu untuk delegasikan? 
Kira-kira dalam hal apa saja dan apa alasannya? DM akun Instagram kami di 
@dr.contract to let us know! Siapa tahu bisa diulas dan anda bisa di ​mention​! 
 
 
 
 
 
 
 

20
Jangan lupa bahwa kerugian senilai milyaran rupiah tadi juga merupakan uang sekolah yang bisa jadi terlalu 
mahal bagi anda. 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 40 out of 94 


 
BAB III 
7R OF CONTRACT DRAFTING 
 
Pada kesempatan kali ini, kita akan masuk ke dalam tahapan-tahapan penting 
dalam upaya perancangan kontrak. Tahapan-tahapan ini tidak perlu dihafal; anda 
hanya perlu memahami apa saja yang dimaksud dengan 7R dan membuat catatan 
kecil di ​handphone a
​ tau ​notebook a​ nda sesuai dengan daftar sub-bab yang tertera 
di daftar isi. Karena tahapan-tahapan merancang kontrak bukan dimulai pada saat 
anda duduk dan membuka laptop anda, melainkan pada saat anda merencanakan 
untuk bertemu tatap muka dengan pihak seberang.  
 
Banyak orang merasa bahwa merancang kontrak itu merupakan hal yang sulit, 
rumit dan membutuhkan imajinasi yang cukup tinggi untuk membayangkan pasal 
apa saja yang diperlukan dan risiko apa saja yang dapat muncul. Hal ini dapat 
terjadi karena banyak orang gagal paham; mereka berpikir bahwa 
tahapan-tahapan merancang kontrak bukan dimulai pada saat anda duduk dan 
membuka laptop anda.  
 
Padahal, anda seharusnya sudah punya gambaran tentang kontrak seperti apa 
yang akan anda buat ​pada saat anda belum bertemu dengan pihak seberang​. 
Dengan mengenali 7R ini, anda akan dibantu untuk merancang kontrak secara 
step-by-step dengan bahasa yang lugas, sehingga anda tidak perlu khawatir akan 
gagal paham apabila anda belum pernah mengenyam pendidikan hukum. Mari kita 
mulai dari pembahasan 7R: 
 
3.1. [RECOGNIZING] Memahami Kepentingan, Identitas, dan Peran Para Pihak 
Pada dasarnya, pengusaha tidak akan berpikir untuk mengadakan kontrak jika 
tidak ada kepentingan. Jadi jika anda sudah mulai berpikir tentang kontrak, 
pastinya anda sudah merasakan adanya kebutuhan yang hanya bisa diselesaikan 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 41 out of 94 


dengan bantuan dari pihak lain. Contohnya, anda tidak akan berpikir untuk 
menyusun kontrak kerja apabila anda tidak merasa anda butuh pegawai baru, 
atau anda tidak mungkin bisa mulai merancang kontrak kemitraan apabila anda 
tidak merasa membutuhkan seorang mitra yang mampu membawa anda kepada 
level yang berikutnya. Dapat disimpulkan bahwa pada esensinya kontrak adalah 
sebuah alat yang dapat membantu anda untuk mencapai suatu tujuan tertentu 
yang melibatkan orang lain.  
 
Identitas | ​Identitas disini dimulai dari identitas anda sendiri. Pastikan bahwa 
anda adalah pihak yang mempunyai wewenang untuk menunjuk supplier dan 
berkontrak dengannya. Meskipun anda adalah pemilik perusahaan, bisa jadi anda 
tidak memiliki wewenang untuk itu, misalnya masa jabatan anda sebagai direktur 
sudah kadaluarsa, atau posisi anda sebenarnya hanyalah seorang komisaris.  
 
Untuk perusahaan dengan skala cukup besar, anda sangat membutuhkan bantuan 
konsultan hukum untuk memastikan hal tersebut. Jika anda tidak memiliki 
wewenang untuk itu, libatkan pihak yang berwenang dari awal, supaya usaha anda 
nantinya tidak sia-sia jika tiba-tiba ditolak oleh pihak yang berwenang pada tahap 
finalisasi, seperti orangtua, ​manager​ atau direktur anda. 
 
Identitas diakhiri dengan menentukan identitas pihak seberang. Pastikan 
perwakilan yang datang dari pihak supplier adalah perwakilan yang mempunyai 
hak untuk melakukan negosiasi syarat dan ketentuan. Percuma jika anda telah 
menghabiskan waktu berjam-jam untuk merundingkan syarat dan ketentuan, 
namun tiga hari kemudian pihak supplier menganulir segala kesepakatan yang 
sudah tertuang dalam ​Memorandum of Understanding (​ MoU).  
 
Selain berpotensi dianulir, kontrak bisa saja dipermasalahkan dalam 
perjalanannya jika hal itu dapat menguntungkan posisi supplier tersebut. 
Tanyakan kepada para pihak yang hadir dalam presentasi atau ​meeting s​ iapa 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 42 out of 94 


mereka dan apa posisinya. Waktu anda terlalu berharga untuk dibuang-buang 
hanya karena salah identitas. Jika saya saja bisa meluangkan waktu untuk menulis 
buku ini guna menghemat waktu belajar anda, saya rasa seharusnya anda juga 
berpikir demikian. 
 
Peran | ​Anda mungkin penasaran tentang apa bedanya identitas dengan peran. 
Identitas bicara tentang kewenangan; siapa dan apa dasar kewenangan pihak 
tersebut untuk berkontrak mewakili perusahaan. Sedangkan peran bicara tentang 
siapa serta apa hak dan kewajiban pihak tersebut ​di dalam kontrak. ​Untuk 
mempermudah, mari kita lanjutkan contoh di atas. “Identitas” berbicara mengenai 
identitas Pak Tony sebagai Sales Executive yang diberi kuasa oleh Direktur PT. 
XYZ untuk berkontrak dengan perusahaan lain atas nama PT. “Peran” berbicara 
mengenai peran PT. XYZ di dalam kontrak, yakni sebagai supplier.  
 
Sepintas memang terlihat sudah jelas dari awal, tapi untuk kontrak-kontrak 
tertentu, bisa jadi peran para pihak berubah-ubah tergantung keadaan. Contoh, 
PT. XYZ adalah ​supplier​ PT anda. Namun di dalam kontrak, PT. XYZ juga berperan 
sebagai ​installer d
​ ari barang yang dijual. Ini dapat mengaburkan ruang lingkup 
tugas dan tanggung jawab PT. XYZ terhadap PT anda. Saran saya, jika semua 
syarat dan ketentuan dapat dimuat dengan jelas dalam sebuah kontrak sederhana 
(dibawah sepuluh halaman), anda dapat menggabungkan peran mereka dengan 
frasa “PT. XYZ selaku PIHAK KEDUA, yang berperan sebagai ​supplier​ dan ​installer​.  
 
Dalam kasus kontrak cukup kompleks dan lebih dari sepuluh halaman, saya 
sarankan untuk memisahkan antara kedua kontrak tersebut. Terlihat merepotkan 
di depan memang, tapi percaya saya bahwa ini akan jauh memudahkan di depan. 
Pengalaman saya, jika kontrak terlalu rumit, maka para pihak akan malas untuk 
menggunakannya sebagai alat referensi jika terjadi masalah. Alih-alih efektif, 
kontrak yang dirangkap seperti itu akan menjadi hiasan lemari saja. 
 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 43 out of 94 


Kepentingan | Identifikasi kepentingan anda. Bila perlu, buat suatu daftar 
kepentingan yang menjadi latar belakang mengapa anda mau mengadakan atau 
menerima ajakan untuk berkontrak. Misalnya, sebagai seorang pengusaha, 
mengapa anda ingin mengadakan kontrak dengan supplier baru? Bisa jadi karena 
supplier lama sering tidak tepat waktu dalam hal pengiriman, atau harganya sudah 
terlampau mahal. Jika ini adalah alasan-alasannya, maka buatlah daftar yang 
berisi “pengiriman harus tepat waktu” dan “harga harus di bawah X rupiah”.  
 
Setelah mengetahui apa saja kepentingan anda, maka anda dapat menentukan 
kira-kira supplier mana yang dikenal dapat memenuhi kepentingan tersebut. 
Anda bisa memulai dari mendaftar kontak kenalan-kenalan lama anda atau 
menggunakan ​google u
​ ntuk mencari supplier murah dan terpercaya. Setelah 
memiliki beberapa kandidat, berbicaralah lewat telepon dan cari tahu bagaimana 
cara kerja mereka. Mintalah website atau company profile mereka jika ada. Saya 
sarankan pada tahap ini anda menghindari pertemuan tatap muka terlebih dahulu, 
karena pertemuan tatap muka seringkali mengecoh anda dan menimbulkan rasa 
“sungkan” yang bisa mengakibatkan hilangnya objektivitas anda dalam 
menentukan supplier terbaik.  
 
Jika anda sudah paham kira-kira supplier mana saja yang sesuai dengan kriteria 
cepat dan murah tadi, baru anda bisa mengadakan pertemuan terpisah dengan 
para supplier tersebut. Anda juga memiliki opsi untuk menentukan jadwal khusus 
bagi para calon supplier untuk datang dan presentasi di kantor anda. Sebisa 
mungkin tentukan hari yang sama dan biarkan mereka mengantri terlebih dahulu. 
Selain meningkatkan ​prestige​ anda, taktik ini juga dapat memacu mereka untuk 
dapat memberikan syarat dan ketentuan terbaik untuk anda.  
 
Mengapa? Karena anda tidak perlu lagi mengatakan “saya akan pertimbangkan 
dulu, karena ada penawaran dari supplier lain”. Tidak perlu banyak bicara, mereka 
sudah melihat dan mengukur sendiri seberapa ketat persaingannya untuk 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 44 out of 94 


mendapatkan kontrak dari anda. Pastikan anda menyatakan dengan tegas 
kepentingan-kepentingan anda, dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan kritis 
yang mengarah ke sana.  
 
Setelah itu, baru anda dapat menganalisis apakah sebenarnya kepentingan pihak 
sebelah. Apakah benar kepentingan perusahaannya yang diutamakan? Atau 
tersirat keinginan direktur tersebut untuk main di dalamnya? Saya paham bahwa 
tidak semua dari anda adalah ​psychic (​ baca: dukun), tapi hal-hal seperti itu 
sebenarnya dapat diidentifikasi dari banyak hal. Contohnya, dia mensyaratkan 
pembayaran tanpa nota untuk hal-hal tertentu, atau mensyaratkan adanya 
pembayaran dari anda di awal padahal anda adalah penjual yang seharusnya 
menerima bayaran. Bisa jadi dia bermain sedikit lebih halus, misalnya anda hanya 
akan mendapatkan tender tersebut apabila salah satu bahan material produksi 
anda dibeli dari pabrik tertentu (yang bisa jadi milik dia atau saudaranya). Sudah 
beberapa kali saya menebak hal-hal tersebut hanya dari ​review k
​ ontrak klien 
secara digital dan akhirnya klien mengaku memang ada indikasi seperti itu.  
 
Masalah apakah anda tetap akan deal dengan dia itu adalah urusan dan 
pertimbangan anda. Urusan saya adalah memastikan bahwa anda mengenali hal 
tersebut sebelum terlambat. 
 
 
BRAINTEASER VIII 
Coba anda ingat kembali; di lubang manakah anda sering terjerembab dalam 
proses pembuatan kontrak. Apakah itu di Identitas, Peran atau Kepentingan? 
Kira-kira dalam hal apa saja dan apa alasannya? Langkah apa yang anda ambil 
untuk menghindari lubang tersebut di kemudian hari?  
 
We can’t wait to listen and share your story on @dr.contract! 
 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 45 out of 94 


 
3.2. [RESEARCHING] Melakukan Studi Kelayakan dan Manajemen Resiko 
Sebelum anda menentukan kandidat-kandidat lawan berkontrak, pastikan anda 
telah melakukan studi kelayakan terhadap mereka. Di era yang serba digital ini, 
penelitian dapat dilakukan dengan mudah. Anda juga bisa menanyakan langsung 
kepada klien-klien perusahaan tersebut yang tertera di websitenya; jadikan 
mereka informan anda. Buatlah tolak ukur yang sesuai dengan kebutuhan anda 
sebagai alat untuk respons dari klien-klien tersebut, contohnya tanyakan 
pertanyaan seperti “Pengirimannya sering terlambat atau tidak?” dan “Apakah 
harganya relatif lebih murah?”. Dari sana anda akan mendapatkan gambaran 
khusus mengenai calon supplier.  
 
Jangan lupa untuk konfirmasi kepada calon supplier pada saat mereka 
mengatakan hal yang sebaliknya​ tanpa m
​ embuka identitas perusahaan dan 
informan anda. Meskipun kita telah melakukan ​background check, ​namun tidak fair 
apabila kita hanya mendengarkan suatu cerita dari satu sisi saja. Apabila 
penjelasan mereka masuk akal, mungkin memang ada miskomunikasi saja antara 
calon supplier dengan informan anda.  
 
Apabila memang benar bahwa mereka telah melakukan wanprestasi mengenai 
jadwal pengiriman namun anda untuk suatu alasan harus tetap memilih mereka, 
mereka pun akan ekstra hati-hati dengan anda dan memprioritaskan anda. 
Dengan kata lain, studi kelayakan selalu akan berguna kalau anda paham 
bagaimana caranya untuk menggunakan informasi tersebut. 
 
Manajemen risiko perlu dilakukan pada saat atau setelah anda bertemu dengan 
calon supplier. Manajemen risiko tidak selalu harus rumit. Jika mereka memang 
ada kecenderungan untuk terlambat namun mampu berjanji untuk berusaha yang 
terbaik bagi anda, maka ajukan pengenaan sanksi apabila mereka mengingkari 
janji tersebut. Contohnya, setiap keterlambatan pengiriman akan dikenakan 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 46 out of 94 


potongan pembayaran sebesar satu persen setiap harinya. Hal ini juga dapat 
menjadi alasan bagi anda untuk membayar ​setelah ​barang tiba di lokasi yang anda 
tentukan.  
 
Dalam hal mereka berani menjamin bahwa tidak akan terjadi keterlambatan, 
mintalah agar jaminan tersebut memiliki bentuk yang nyata, seperti barang atau 
aset tertentu. Dengan model negosiasi yang berdasar seperti ini, pastinya mereka 
akan tidak sembarangan bicara dengan anda. Apa yang mereka sampaikan harus 
selalu ada pertanggungjawabannya. Tindakan-tindakan preventif seperti ini akan 
membantu anda memanajemen resiko jika terjadi wanprestasi di kemudian hari. 
 
 
BRAINTEASER IX 
Perhatikan sekali lagi kontrak yang sedang atau terakhir anda buat. Apakah sudah 
terlihat dengan jelas bahwa anda telah melakukan PR anda? Atau anda hanya 
membuatnya secara asal-asalan?  
 
Sudah saatnya anda membenahi pondasi hubungan bisnis anda.  
If you won’t have us to help you, then at least do it yourself.  
You owe it to the future of your business and your employees!
 
 
3.3. [RENEGOTIATING] Mengadakan Jual-Beli Kepentingan 
Renegotiating merupakan hal yang cukup kompleks, jadi sebaiknya hanya 
dilakukan jika anda telah menyaring potensial supplier hingga satu atau dua 
kandidat saja. Mengapa kompleks? Karena dalam tahapan ini, kita 
membandingkan kepentingan-kepentingan dari para pihak yang kita dapatkan 
dari proses identifikasi kepentingan sebelumnya. Perbandingan ini bisa dilakukan 
di depan kandidat melalui presentasi ​power point ​atau ditulis di papan tulis jika 
ada. Ini akan memudahkan proses pertukaran kepentingan. 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 47 out of 94 


Mari kita gunakan contoh “pengiriman harus tepat waktu” dan “harga harus di 
bawah X rupiah” sebelumnya. Anggaplah kepentingan dari pihak mereka adalah 
“pembayaran harus lancar” dan “kontrak harus jangka panjang”. Dengan 
memahami kepentingan para pihak, tidak menutup kemungkinan bagi kita untuk 
berunding dan mencetuskan ide-ide brilian untuk mengotak-atik syarat dan 
ketentuan yang ada guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang ada. Contoh, jika 
masalah anda terletak di jadwal pengiriman, mereka mungkin dapat 
merestrukturisasi jadwal pengiriman supaya dikirim lebih pagi atau lebih banyak 
sehingga dapat anda pakai sebagai stok. Bisa juga satu solusi digunakan untuk 
menyelesaikan dua masalah.  
 
Jika mereka berani memberikan diskon habis-habisan, mungkin kondisi 
perusahaan sedang lemah di arus kas. Anda dapat memanfaatkan hal ini untuk 
meminta diskon tambahan jika anda dapat membayar lebih cepat dari yang 
mereka minta. Bisa juga kita memperpanjang jangka waktu kontrak dan sebagai 
gantinya mereka harus memberikan harga terbaik bagi kita dengan fluktuasi yang 
minimal. Banyak sekali kemungkinan-kemungkinan pertukaran kepentingan yang 
saling menguntungkan, namun sulit untuk dilihat secara kasat mata. Untuk 
mengenali hal-hal seperti ini, sebaiknya anda menunjuk tim negosiasi yang sudah 
berpengalaman di bidangnya. 
 
Dapat dilihat bahwa Renegotiating dapat sangat menguntungkan kedua belah 
pihak jika dilakukan secara sistematis dan terstruktur. Sayangnya, kekuatan ini 
jarang dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang berkontrak tanpa bantuan 
pendampingan dari seorang konsultan kontrak. Biaya yang dikeluarkan pasti jauh 
di bawah potensial keuntungan yang dapat anda dapatkan jika konsultan anda 
mampu menyusun ​deal s​ emacam ini. Jika anda tidak memiliki budget khusus 
untuk konsultan kontrak, paling tidak anda harus mendelegasikan tugas ini 
kepada tim internal khusus supaya hasil pertukaran kepentingan ini bisa 
dimaksimalkan. 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 48 out of 94 


 
BRAINTEASER X 
Apakah ada penyesalan yang anda rasakan setelah membaca mengenai 
Renegotiating? Apakah ada poin-poin negosiasi yang seharusnya dapat anda 
mainkan untuk mendapatkan apa yang anda inginkan?  
 
We can’t wait to listen and share your story on @dr.contract! 
 
 
3.4. [RESTRUCTURING] Menyusun Anatomi Kontrak Secara Sistematis 
Oxford Dictionary menjabarkan ​Restructuring​ sebagai “​a reorganization of a 
company with a view to achieving greater efficiency and profit, or to adapt to a 
changing market.” ​Dalam bahasa Indonesianya, Restructuring dapat diartikan 
sebagai penataan ulang terhadap suatu perusahaan dengan tujuan untuk 
meningkatkan efisiensi dan keuntungan, atau menyesuaikan diri di dalam pasar 
yang dinamis.  
 
Lalu apa kaitannya dengan kontrak? Sama halnya dengan perusahaan, sebuah 
draft kontrak baku yang mungkin anda dapat dari internet juga dapat ditata ulang 
guna mencapai suatu efisiensi sesuai dengan kebutuhan para pihak. Namun 
sebelum kita membahas teknik restrukturisasi, ada baiknya jika kita paham 
anatomi dasar kontrak terlebih dahulu.  
 
Dengan memahami anatomi kontrak, diharapkan anda dapat mengenali 
pasal-pasal mana yang sekiranya wajib untuk dimasukkan ke dalam kontrak anda. 
Setelah anda paham mengenai anatomi kontrak, barulah anda bisa melakukan 
restrukturisasi terhadap anatomi kontrak. Kontrak yang benar harus mampu 
menjadi jawaban bagi kebutuhan para pihak. 
 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 49 out of 94 


Karena suatu kontrak berfungsi untuk menjawab suatu permasalahan antar 
pihak yang terlibat, maka jelas bahwa setiap kontrak adalah berbeda dan tidak 
bisa disamaratakan.​ Namun ada beberapa klausul pakem yang dapat digunakan 
pada saat anda menyusun sebuah kontrak. Klausul-klausul pakem ini disebut 
dengan nama ​boilerplate clauses, y
​ ang jika disusun layaknya sebuah kontrak akan 
menjadi kurang lebih seperti ini: 
 
IDENTITAS PARA PIHAK 
 
PIHAK PERTAMA 
Nama Lengkap :   
TTL  :   
Jenis Kelamin :  
Alamat  :   
Status Perkawinan :   
Kewarganegaraan  :   
No. KTP :   
 
PIHAK KEDUA 
Nama Lengkap :   
TTL  :   
Jenis Kelamin :  
Alamat  :   
Status Perkawinan :   
Kewarganegaraan  :   
No. KTP :   
 
[Siapa yang berwenang untuk mewakili masing-masing pihak untuk masuk ke 
dalam hubungan kontraktual ini?] 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 50 out of 94 


[Siapa yang harus dimintai pertanggung jawaban dalam hal terjadinya sengketa?] 
[Warga Negara mana calon rekan berkontrak kita? Apa sudah menikah? Kalau 
meninggal kontrak hangus atau jadi bagian dari harta waris?] 
 
Di mana secara bersama-sama disebut sebagai PARA PIHAK, menyatakan bahwa 
dengan itikad baik telah mengikatkan dirinya masing-masing ke dalam ​suatu 
hubungan kerjasama di bidang jasa salon dan kecantikan dengan merek dagang 
“ABCD”​ yang berbentuk ​badan usaha perorangan ​(selanjutnya disebut BUP), 
dengan tujuan untuk mengembangkan BUP dan melindungi langkah-langkah 
hukum yang diambil oleh PARA PIHAK. 
 
KONSIDERANS 
[PENTING BUAT MEREKA YANG TIDAK ENAK KALAU LANGSUNG 
NYODORIN KONTRAK] 
 
a. Bahwa  segala  bentuk  perikatan  yang  dibuat  dalam  wilayah  Negara 
Kesatuan  Republik  Indonesia  (selanjutnya  disebut  NKRI),  baik  dalam 
bentuk lisan, tertulis maupun elektronik, adalah suatu tindakan hukum; 
b. Bahwa  karena  perikatan  merupakan  suatu  tindakan  hukum,  maka 
perikatan  dalam  bentuk  apapun  akan  berlaku sebagai undang-undang bagi 
PARA PIHAK yang mengikatnya; 
c. Bahwa  adalah  pengetahuan  umum  bahwa  banyak  hal  yang  dapat  terjadi, 
baik  di  dalam  maupun  di  luar  kendali  PARA  PIHAK,  yang  mampu 
mempengaruhi  pelaksanaan  suatu  perikatan  dan  dinamika  hubungan 
PARA PIHAK; 
d. Bahwa  meskipun  kekuatan  hukum  dari  perikatan  lisan  dan  tertulis  adalah 
sama,  namun  dipandang  baik  bagi  PARA  PIHAK  untuk  menuangkan 
kehendaknya  ke  dalam  bentuk  tertulis  sebagai  suatu  alat  penyelesaian 
masalah  guna  mengantisipasi  kemungkinan  masalah  yang  terjadi  dan 
menjaga hubungan yang telah dijalin dengan baik di antara PARA PIHAK; 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 51 out of 94 


e. Bahwa  selain  daripada  argumentasi  di  atas,  perikatan  lisan juga dipandang 
tidak  lagi  mampu  untuk  mengakomodasi  kebutuhan  usaha  dan  tujuan 
pengembangan  usaha  yang  memerlukan  suatu  sistem  usaha  yang  jelas, 
baku serta tersistematisasi dengan baik.  
f. Bahwa  berdasarkan  pertimbangan-pertimbangan  di  atas,  dibuatlah 
PARTNERSHIP  AGREEMENT  (selanjutnya  disebut  PERJANJIAN)  ini 
dengan  maksud  dan  tujuan  yang  mulia,  yakni  untuk  menghindari  dan 
mengantisipasi  masalah  yang  terjadi  serta  menjaga  hubungan  yang  telah 
dijalin dengan baik di antara PARA PIHAK. 
g. Bahwa  sehubungan  dengan  urgensi  akan  kebutuhan  PERJANJIAN, 
PERJANJIAN  ini  akan  berlaku  hingga  diperbaharui  di  kemudian  hari  oleh 
PARA PIHAK. 
 
PASAL 1 
DEFINISI DAN PENAFSIRAN 
 
1.1. Penting untuk membahas penafsiran yang disepakati mengenai hal-hal 
yang rentan multitafsir, seperti “hari kerja” dan “jam kerja”. Selalu 
digunakan dalam penulisan UU; 
1.2. Bisa dihindari supaya tidak ribet, dengan catatan anda mampu menihilkan 
potensi penafsiran ganda. Contoh, daripada pakai istilah “hari kerja”, anda 
dapat mengatur ​deadline​ “hingga tanggal X”. Tidak semua kontrak bisa 
dijalankan tanpa menyinggung “hari kerja” dan “jam kerja” seperti ini, 
contohnya kontrak dengan pegawai. Namun untuk kontrak lain seharusnya 
bisa. Semua bergantung pada kasusnya dan kreativitas anda! 
 
PASAL 2 
OBJEK PERJANJIAN 
 
2.1. Apa saja yang diperjanjikan dalam perjanjian? 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 52 out of 94 


2.2. Apa saja yang TIDAK diperjanjikan dalam perjanjian? 
2.3. Berapa nominal yang harus dibayarkan sebagai ganti objek yang diberikan? 
2.4. Bagaimana prosedur pembayarannya? Melalui cara apa? Kepada siapa? 
2.5. Bagaimana pengaturan konfirmasi dan bukti pembayarannya? 
2.6. Mata uang apa yang akan digunakan/dijadikan acuan? 
 
PASAL 3 
PROSEDUR PELAKSANAAN 
 
3.1. NARASI BERJALANNYA KONTRAK. Fokus pada eksekusinya nanti di 
lapangan, bukan hanya konsepnya. Konsep berarti A memberikan barang 
kepada B. Eksekusi berarti melengkapi konsep dengan A memberikan 
barang kepada B melalui jasa pengiriman X tanggal Y setelah pembayaran 
dilaksanakan. 
3.2. Aksi apa yang harus dipenuhi oleh satu pihak guna memperoleh reaksi 
yang diinginkan dari pihak lain? Contohnya seperti tadi, bayar dulu baru 
barang dikirim, dan lain-lain. 
3.3. WHAT IF SCENARIO. Selalu mulai dengan kata “apabila” atau “bilamana”. 
Pikirkan kemungkinan-kemungkinan terbaik yang dapat terjadi, seperti 
“apabila usaha sudah memiliki omzet diatas 2M, maka para pihak harus 
mengadakan perjanjian pembaharuan”. Banyak yang ketika bisnis melejit, 
lalu para pihak rebutan “kue” (baca: keuntungan pribadi). Tentukan dengan 
jelas di awal agar tidak terjadi perbedaan pandangan. 
3.4. Pikirkan juga kemungkinan-kemungkinan TERBURUK yang dapat terjadi, 
seperti “bilamana omzet usaha turun selama 3 (tiga) bulan berturut-turut, 
maka para pihak sepakat untuk menutup/melanjutkan usaha dengan 
skema ____________”. Banyak yang ketika bisnis jatuh, satu mau berhenti, 
satunya mau tetap jalan. Akhirnya pihak yang berhenti memutuskan untuk 
membebankan biaya operasional ke pihak yang mau terus jalan. Tidak bisa 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 53 out of 94 


dibilang tidak fair, karena pihak yang mau berhenti mungkin punya 
prioritas lain terhadap dana yang ada. Maka dari itu atur di awal. 
 
PASAL 4 
JAMINAN DAN EKSEKUSI 
 
4.1. Apa bentuk dari jaminan? Barang, atau hanya pernyataan? Pernyataan 
bersedia menanggung akibatnya atau pernyataan kosong? Semua dapat 
diterima asal anda paham resikonya di awal. 
4.2. Jika ada jaminan yang terlibat, siapa yang memegang jaminan tersebut 
selama kontrak berjalan?  
4.3. Dalam keadaan seperti apa jaminan dapat dieksekusi?  
4.4. Bagaimana cara mengeksekusinya? 
4.5. Upaya apa saja yang dapat dilakukan oleh pemberi jaminan guna 
menyelamatkan jaminan dari eksekusi? 
 
PASAL 5 
JANGKA WAKTU DAN BERAKHIRNYA PERJANJIAN 
 
5.1. Berapa lama masa berlaku perjanjian?  
5.2. Selain pada saat waktu perjanjian habis, dalam hal apa saja perjanjian dapat 
diakhiri secara sepihak dan/atau para pihak?  
5.3. Bagaimana prosedur pengakhirannya?  
5.4. Siapa yang harus menanggung konsekuensinya? 
5.5. Bagaimana pembagian aset-asetnya? 
 
PASAL 6 
KERAHASIAAN INFORMASI 
 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 54 out of 94 


6.1. Informasi apa saja yang dikategorikan sebagai informasi yang sifatnya 
rahasia; hanya nominal jual beli saja atau identitas para pihak secara 
keseluruhan?  
6.2. Tindakan apa saja yang dapat dianggap sebagai pembocoran informasi 
rahasia tersebut?  
6.3. Bagaimana prosedur pembuktian adanya kerugian dari kebocoran 
informasi?  
6.4. Setelah diklasifikasikan, atur batasan penggunaannya serta penerapan 
sanksinya atas pelanggaran. 
 
PASAL 7 
PAJAK DAN RETRIBUSI 
 
7.1. Siapa yang menanggung pajak apa? 
7.2. Bagaimana prosedur pembayarannya? 
7.3. Bagaimana cara para pihak bertukar bukti pemotongan pajaknya? 
 
PASAL 8 
WANPRESTASI, SANKSI DAN PROSEDUR GANTI RUGI 
 
8.1. Bilamana salah satu pihak dianggap wanprestasi?  
8.2. Apa saja sanksi yang dapat diterapkan?  
8.3. Prosedur ganti rugi nya bagaimana? 
 
PASAL 9 
FORCE MAJEUR 
 
9.1. Kejadian apa saja yang dimaksud dengan ​force majeur​? ​Act of God, s​ eperti 
bencana alam​? A
​ tau juga termasuk ​Act of Man, ​seperti lesunya pasar atau 
kerusuhan​? 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 55 out of 94 


9.2. Bilamana wanprestasi akan ditoleransi dalam hal terjadinya​ force majeur?​  
9.3. Antisipasi hingga tahap mana yang perlu dilakukan oleh para pihak untuk 
meminimalisir kerugian?  
9.4. Tindakan apa saja yang harus dilaksanakan para pihak dalam hal terjadinya 
force majeur​ yang dideskripsikan tadi? 
9.5. Berapa lama waktu toleransi dalam hal terjadinya ​force majeur? ​Kalau 
nantinya perjanjian tidak dapat dijalankan, para pihak sepakat untuk 
bagaimana? Tetap dilanjut atau diakhiri? Prosedurnya bagaimana? 
 
PASAL 10 
PENYELESAIAN SENGKETA 
 
10.1. Bahasa apa saja yang digunakan dan disepakati para pihak sebagai sumber 
penafsiran di kala terjadi sengketa? 
10.2. Hukum mana yang digunakan untuk mengadili unsur substantif dalam hal; 
terjadinya sengketa? 
10.3. Bagaimana prosedur penyelesaian sengketanya?  
10.4. Siapa saja yang berhak mengadili segala sengketa yang mungkin timbul 
dari kontrak ini? Biasanya prosedur yang digunakan adalah: 
10.5. (1) musyawarah dan mufakat, jika gagal mencapai kata mufakat akan 
masuk ke; 
10.6. (2) mediasi oleh pihak ketiga, dan jika masih belum dapat menciptakan 
perjanjian perdamaian maka akan dilakukan; 
10.7. (3) arbitrase melalui forum nasional atau internasional. Contoh, pengadilan 
arbitrase akan menggunakan hukum Indonesia, namun pelaksanaannya 
akan diadakan di Singapore International Arbitration Centre (SIAC). 
 
Seluruh ​boilerplate clauses d
​ iatas bukanlah merupakan rumusan anatomi yang 
kaku. Anatomi tersebut dapat direstrukturisasi sesuai dengan kebutuhan dengan 
berbagai macam teknik restrukturisasi. Pertama adalah restrukturisasi reduktif. 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 56 out of 94 


Misalnya, kontrak yang anda ambil memiliki pasal yang mengatur mengenai 
definisi. Tapi kenyataannya, kontrak anda sebenarnya merupakan kontrak 
sederhana yang setiap definisinya sudah dijelaskan dalam pasal yang membahas 
tentang hal tersebut.  
 
Tidak menghapuskan pasal definisi berarti akan mempertebal kontrak anda akan 
hal-hal yang bersifat pengulangan (​redundancy). ​Ini baru satu pasal. Belum jika ada 
pasal-pasal lain yang tidak disesuaikan. Jika kontrak semakin tebal karena 
mengandung hal-hal yang tidak perlu, maka orang akan semakin kesulitan untuk 
menggunakannya sebagai sumber referensi. Ujung-ujungnya, kontrak hanya akan 
mengumpulkan debu setelah ditandatangani. Untuk menghindari pengulangan 
yang tidak perlu, ada baiknya kontrak yang anda ambil dari berbagai sumber bisa 
direduksi menjadi seefektif mungkin. 
 
Selain restrukturisasi dengan cara simplifikasi, ada juga restrukturisasi adaptasi. 
Restrukturisasi adaptasi merupakan penyusunan ulang tata urutan pasal-pasal 
dengan tujuan untuk mengubah kontrak dari sebuah dokumen deskriptif menjadi 
dokumen naratif yang sesuai dengan situasi dan kondisi para pihak serta praktek 
di lapangan. Manusia cenderung mengikuti sebuah pola, sehingga sangat mudah 
bagi kita untuk menghafal sebuah cerita dibandingkan penjelasan deskriptif yang 
tidak berpola. Contoh yang paling sering ditemukan adalah kontrak mengenai 
ekspor impor barang. Daripada kita menstruktur kontrak dengan pola standar 
yang mengambil perspektif masing-masing pihak seperti:  
 
“Pasal 2: Hak dan Kewajiban PIHAK PERTAMA” 
“Pasal 3: Hak dan Kewajiban PIHAK KEDUA” 
 
Kita dapat menyusun kontrak dengan pola yang bersudut pandang naratif, 
seperti: 
 
“Pasal 2: Pemesanan”, di mana di dalamnya termasuk hak PIHAK KEDUA untuk 
memesan dan membayar lewat ​Letter of Credit ​(LC); 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 57 out of 94 


“Pasal 3: Pengiriman”, di mana di dalamnya termasuk siapa yang bertanggung 
jawab sebelum barang tiba di gudang PIHAK KEDUA; 
“Pasal 4: Penerimaan”, di mana di dalamnya termasuk siapa yang berwenang 
untuk menerima, mengecek dan memberikan ​approval t​ erhadap barang, serta; 
“Pasal 5: Pencairan”, di mana di dalamnya termasuk pada saat kapan PIHAK 
PERTAMA dapat mencairkan LC yang telah dibayarkan oleh PIHAK KEDUA. 
 
Jika anda memahami fungsi kontrak sebagai alat referensi, maka anda akan 
paham bagaimana konflik selalu terjadi pada suatu tahapan tertentu, misalnya 
pada saat pencairan. Apabila anda menyusun kontrak dengan format yang 
sebelumnya, maka para pihak akan kesulitan untuk mencari pihak mana yang 
seharusnya bertanggung jawab. Belum lagi biasanya dalam struktur kontrak yang 
sudah mencakup tanggung jawab masing-masing pihak, ada juga pasal yang 
berbicara mengenai pencairan. Ini berpotensi menimbulkan sumber referensi 
ganda dalam satu kontrak, dan bisa berujung pada penafsiran ganda terhadap 
bagaimana para pihak menyikapi suatu masalah. Alih-alih mendatangkan solusi, 
kontrak yang rancu justru akan memperparah konflik yang ada. Maka dari itu, 
struktur kontrak tidak bisa asal main comot dari internet saja, melainkan harus 
diadaptasikan berdasarkan kebutuhan yang nyata. 
 
Restrukturisasi yang ketiga adalah restrukturisasi progresif. Progresif berbicara 
tentang kemajuan atau perkembangan. Jika diaplikasikan pada contoh 
sebelumnya, dalam pasal pengiriman ternyata banyak sekali tahapan yang 
diperlukan, seperti dalam pajak tidak hanya melibatkan pajak bea cukai saja, 
namun juga pajak pertambahan nilai (PPN) dan Pajak Barang Mewah (PPNBM). 
Dengan berpikir jauh ke depan, kita dapat berdiskusi terlebih dahulu terhadap 
kawan berkontrak mengenai pembagian tanggung jawab, lalu menambahkan 
persetujuan mengenai pihak mana yang bertanggung jawab terhadap pajak yang 
mana. Ini merupakan tambahan yang sifatnya tidak ​redundant.  
 
Mengapa? Karena masing-masing pihak akan selalu berasumsi bahwa pihak 
seberang yang akan menanggung biayanya jika tidak ada persetujuan yang jelas di 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 58 out of 94 


awal. Karena belum pernah diatur dalam pasal sebelumnya, penambahan pasal ini 
sangat berguna untuk menghindari peristiwa saling lempar tanggung jawab pada 
saat hal tersebut benar-benar terjadi. 
 
Bukanlah jaminan bahwa dengan memahami anatomi perjanjian dan bagaimana 
cara merestrukturisasinya sesuai kebutuhan, maka proses berjalannya perjanjian 
akan 100% (seratus persen) lancar. Namun paling tidak para pihak telah 
mengetahui siapa yang bertanggung jawab akan apa, dapat menghitung kembali 
resiko untung-rugi perjanjian dan pada akhirnya meningkatkan kesiapan para 
pihak dalam menghadapi permasalahan yang mungkin timbul karena banyaknya 
faktor X di lapangan. 
 
 
BRAINTEASER XI 
Apakah ada hubungan usaha tertentu yang ingin anda jalin?  
Mulailah merancang sebuah kontrak sederhana!  
Terkadang dari proses merancang itu lah anda semakin mengenal apa yang 
sebenarnya anda ingin capai dari hubungan kontraktual tersebut!
 
 
3.5. [REVIEWING] Melakukan Kajian Bersama 
Setelah pihak perancang kontrak selesai menyusun kontraknya, para pihak dapat 
bertemu untuk bersama-sama mengkaji isi-isi kontrak secara mendetail. Ada 
beberapa hal yang perlu dipersiapkan oleh kedua belah pihak dalam tahapan ini: 
 
Pendampingan tim negosiasi dan pihak yang terlibat 
Menurut pengalaman saya, ini merupakan hal yang paling krusial terhadap 
produktivitas pertemuan. Dengan dibarengi oleh tim negosiasi dari 
masing-masing pihak, dapat dipastikan bahwa pembicaraan tidak akan keluar dari 
batasan yang ada, para pihak dapat mengkomunikasikan dan mendapatkan 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 59 out of 94 


kepentingannya dengan maksimal, serta meeting akan lebih mudah untuk dimulai 
dan diselesaikan tepat waktu.  
 
Tim negosiasi yang handal pasti mampu untuk mengerucutkan tiap-tiap pasal, 
memprediksi prakteknya di lapangan dan mengurus proses tukar-menukar 
kepentingan dengan baik. Contohnya A mengirim barang dengan biaya mahal. 
Selidik demi selidik, ternyata pengiriman yang digunakan adalah pengiriman 
ekspress. Jika B lebih berorientasi pada harga dan bukan kecepatan, maka tim 
negosiasi B akan dengan sigap menawarkan kepada pihak A untuk mengganti 
kecepatan pengiriman barang untuk menurunkan harganya.  
 
Banyak contoh lain yang mustahil disebutkan satu persatu di sini, namun saya 
harap anda bisa paham betapa pentingnya memiliki tim negosiasi, terutama bagi 
kontrak yang sifatnya kompleks.   
 
Lokasi yang netral dan kondusif 
Seperti yang sudah sering saya sebutkan, setiap permasalahan hukum adalah 
permasalahan hubungan antar manusia. Dalam negosiasi, kadang orang bisa 
emosi atau salah bicara, sehingga menyebabkan negosiasi sudah bukan lagi 
merupakan ajang adu kepentingan, namun sudah menjadi ajang adu gengsi.  
 
Selain dengan merekrut tim negosiasi yang handal, hal ini dapat diminimalisir 
dengan pemilihan tempat yang netral dan kondusif, sehingga para pihak dapat 
dengan nyaman mengutarakan pendapatnya. Contoh, jika meeting dilakukan di 
tempat umum maka mungkin ada pihak yang tidak enak untuk menjadi terlalu 
vokal akan pendapatnya karena takut jadi pusat perhatian. Tetapi jika diadakan di 
kantor A, maka B akan menjadi “kalah hawa” dan tetap saja tidak mengutarakan 
kepentingannya yang sebenarnya. Akhirnya B mungkin memutuskan untuk tetap 
tanda tangan, namun dalam prakteknya B akan menyimpan rasa tidak puas 
terhadap A yang bisa meledak ke mana saja.  

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 60 out of 94 


Biasanya saya akan menyewakan suatu ruangan meeting yang berlokasi tepat di 
tengah domisili para pihak dan memiliki fasilitas yang memadai. Ini terbukti 
meningkatkan produktivitas, dan tidak jarang berakhir dengan makan malam yang 
menyenangkan di antara para pihak. 
 
Pemimpin Acara 
Bukankah sudah ada tim negosiasi? Mengapa harus ada pemimpin acara lagi? Ada 
dua faktor yang dapat saya temukan. Pertama, pemimpin acara cenderung 
menguasai ruangan dan mampu mengatur ​flow​ negosiasi. Karena seringkali tidak 
ada pemimpin acara, saya selalu mengambil alih situasi dan memposisikan diri 
saya sebagai pemimpin acara guna menguasai atmosfer ruangan dan flow dari 
perbincangan. Tidak heran bahwa pihak saya hampir selalu “menang” dalam setiap 
acara negosiasi. Dalam keadaan apapun, setiap kali saya buka suara pasti semua 
diam dan mendengarkan.  
 
Namun ini juga berbahaya, karena tidak jarang pemimpin acara kebablasan dan 
mengambil peran sebagai mediator, padahal dia hanya memiliki kewajiban untuk 
membela kepentingan kliennya saja, bukan kepentingan semua pihak. 
 
Kedua, pemimpin acara yang netral tidak akan memiliki kepentingan apa-apa, 
karena dia akan dibayar dengan nominal yang sama terlepas dari kesepakatan apa 
yang dicapai. Maka dari itu, ia akan memprioritaskan selesainya acara agar bisa 
cepat pulang. Jadi tiap kali negosiasi menjadi panas atau melenceng, ia pasti akan 
menenangkan para pihak dan move on ke poin berikutnya. Nanti kalau sudah 
tidak panas baru kembali ke poin yang ditinggal tadi.  
 
Ketiga, pemimpin acara bisa langsung melakukan perubahan atau menyuruh 
sekretaris rapat untuk mengubah poin-poin yang telah diubah dan disepakati para 
pihak. Ketiga alasan ini saya rasa cukup untuk menekankan pentingnya posisi 
pemimpin acara dalam proses negosiasi kontrak. 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 61 out of 94 


Layar Proyektor/LCD 
Negosiasi kontrak akan jauh lebih cepat dengan adanya Layar Proyektor. 
Mengapa? Karena para pihak tidak perlu repot untuk membolak balik kontrak 
yang sedemikian tebal guna melihat poin-poin yang sedang dibahas (saya 
asumsikan kontrak yang diadakan dengan cara seperti ini adalah kontrak 
kompleks yang berpuluh-puluh halaman). Tidak jarang poin satu dengan yang 
lainnya saling terkait, sehingga perubahan pada poin tertentu harus diikuti 
dengan mengkaji poin yang lain. Dengan adanya layar LCD, para pihak juga dapat 
menempatkan fokus pada poin yang sama. 
 
Mungkin anda bertanya, mengapa proses ini tidak dilakukan sejak awal? Ada 
baiknya jika dilakukan sejak awal, tapi akan sulit bagi para pihak untuk 
mengerjakan sesuatu yang belum ada bentuknya. Maka dari itu saya sarankan 
agar proses ini dimulai pada saat para pihak sudah memiliki rough draft.  
 
 
BRAINTEASER XII 
Sudah kelihatan belum bahwa berkontrak pun ada seninya?  
Share your AHA moment with us through our Instagram account @dr.contract!
 
 
3.6. [READY FOR X FACTORS] Mengantisipasi Munculnya Faktor X  
Manusia bisa berencana, namun hasil Tuhan yang mengatur. Adagium ini agaknya 
tepat apabila diaplikasikan ke dalam fakta-fakta berkontrak. Saya akan mulai 
sub-bab ini dengan menceritakan sedikit pengalaman saya. Ingat cerita di mana 
saya menyewakan meeting room yang kondusif bagi para pihak? Rencana awal 
saya adalah ruang meeting tersebut akan kami gunakan untuk tahap Reviewing 
bersama dengan tim kuasa hukum para pihak TANPA kehadiran para pihak. 
 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 62 out of 94 


Kenapa harus begitu? Karena pada saat itu saya sadar bahwa situasi yang telah 
terbangun dari beberapa bulan lalu sudah kurang bagus. Maka dari itu saya tidak 
mau melibatkan para pihak terlebih dulu; cukup tim kuasa hukum yang akan 
berdiskusi masalah poin per poin. Setelah kami sepakat dan tata bahasa sudah 
dipastikan tidak akan memancing emosi para pihak, barulah kami undang mereka 
untuk bergabung.  
 
Jadi untuk ementara waktu, saya minta mereka untuk bersantai dan 
berbincang-bincang di ​lobby​ guna membangun ​trust​ dan komunikasi di antara 
mereka. Mereka pun setuju dan kami semua menghabiskan waktu bersama 
sembari menunggu asisten saya untuk menyiapkan ruangan tersebut. 
 
Pada saat asisten saya menghubungi saya untuk menginformasikan bahwa 
ruangan sudah siap, saya pun berdiri dan mengajak tim kuasa hukum untuk naik 
dengan saya. Di sini lah faktor X pertama dimulai. Tiba-tiba para pihak yang 
terkait memutuskan untuk naik bersama dengan kami. Mungkin mereka takut 
nanti kalau ditinggal suasana jadi aneh. Mungkin mereka sudah kehabisan topik 
basa-basi. Mungkin mereka penasaran dengan proses negosiasi tim kuasa hukum. 
Akhirnya saya pun mengizinkan dengan catatan mereka hanya duduk sebagai 
penonton dan tidak ikut terlibat dalam negosiasi antar kuasa hukum. 
 
Pada saat saya membuka meeting dan berdiskusi dengan tim kuasa hukum, tidak 
tahu sejak kapan mulainya, tiba-tiba pada waktu saya “sadar”, para pihak sudah 
terlibat ke dalam adu argumentasi yang cukup sengit. Meskipun sedikit terbawa 
emosi karena kepentingan klien saya diinjak-injak, namun saya berulang kali 
menegaskan bahwa perdebatan seperti inilah yang sudah saya prediksi akan 
terjadi di awal, maka itu saya terus menerus menegaskan bahwa rapat ini adalah 
khusus bagi tim kuasa hukum, jadi tim kuasa hukum yang boleh berbicara.  
 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 63 out of 94 


Tim kuasa hukum pihak seberang mengatakan bahwa permintaan saya itu 
sebenarnya agak sulit dilakukan, karena tim kuasa hukum mengaku sama sekali 
tidak tahu menahu mengenai perkara ini sebelumnya. Jadi pihak seberang harus 
turut hadir untuk mendampingi. Di situ saya sangat kaget. Pertama, saya harus 
ganti taktik untuk membuat meeting ini tetap produktif. Kedua, saya 
terheran-heran bagaimana tim kuasa hukum yang jauh lebih senior dari saya 
bisa-bisanya mau maju untuk bernegosiasi tanpa meminta kejelasan ataupun 
mempersiapkan kliennya untuk itu.  
 
Menurut hemat saya, sudah menjadi kewajiban kuasa hukum untuk paham, 
sehingga alasan tersebut sebenarnya tidak valid. Kalau begini kan jadinya klien 
yang mendampingi kuasa hukum, bukan sebaliknya? Tapi ya inilah kenyataan. 
Tidak semua hal bisa berada di bawah kontrol kita. Kalau bisa ya tidak akan 
pernah terjadi masalah hukum. Akhirnya saya pun menggunakan momentum 
tersebut untuk menyediakan forum bagi para pihak untuk berdebat 
sepuas-puasnya pasal per pasal hingga terjadi suatu kesepakatan.  
 
Faktor X kedua datang pada saat ada ​new challenger ​yang tiba-tiba masuk ke 
dalam ruangan meeting, lengkap dengan timnya yang salah satunya masih 
mengenakan seragam dinas TNI. Jika anda jadi saya, apa yang akan anda lakukan? 
Terus bicara? Kaget? Tidak bisa bergerak? Tentu saja ini wajar, namun bukan itu 
yang saya lakukan. Saya langsung ​break​ acaranya dan menggunakan kesempatan 
tersebut untuk meminta kejelasan dari klien; apakah tamu ini ada kepentingan 
atau tidak? Kalau ada, apakah posisinya ​hostile​ atau ​friendly​ terhadap kita?  
 
Ternyata memang tamu adalah salah satu kreditor lawan, dan klien saya sengaja 
mengundang para tamu tersebut untuk memberikan tekanan psikologis terhadap 
lawan. Taktik yang bagus, namun seharusnya dia mengkomunikasikan hal 
tersebut kepada saya di depan. Dengan adanya kartu baru ini, akhirnya saya 
berhasil memanfaatkan emosi dan wibawa tamu untuk menggertak pihak lawan. 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 64 out of 94 


Analogi saya adalah tamu itu seperti kudanya; dia sudah berlari kencang untuk 
mendobrak pertahanan lawan. Saya hanya seperti penunggang yang mengulurkan 
goloknya dari atas kuda yang berlari kencang, sehingga otomatis menebas leher 
lawan. Ini adalah salah satu contoh bagaimana anda harus mampu menyesuaikan 
diri dengan faktor X di lapangan, dan menemukan jalan untuk menggunakan 
faktor X itu sebagai kekuatan anda, bukan alasan untuk lari. 
 
 
BRAINTEASER XIII 
Apakah anda pernah dibuat terkejut oleh adanya faktor X?  
We’d love to hear your story! 
Never hesitate to DM us on our Instagram account @dr.contract!
 
 
3.7. [REALIZING]​ ​Melakukan Finalisasi dan ​Signing 
Self-explanatory​. Tidak perlu dibahas lebih lanjut. Pesan saya hanya satu; pastikan 
proses berkontrak ini berakhir dengan nuansa bagus antara kedua belah pihak. 
Hal ini sangatlah penting, mengingat proses ini bukanlah akhir melainkan awal 
dari hubungan kerjasama berkelanjutan yang saling menguntungkan. Pastikan 
para pihak puas dan tidak menimbun kekecewaan atau emosi negatif lainnya yang 
belum diluruskan. Sekali lagi, permasalahan hukum adalah permasalahan orang. 
Luruskan orangnya, dan kalau sudah lurus, pastikan semampu anda bahwa 
mereka akan selalu demikian lurus.  
 
 
BRAINTEASER XIV 
Sebagian besar orang yang sudah mengintip isi dari bab ini mengatakan bahwa 
sekarang mereka sudah percaya diri untuk membuat dan menjalankan kontrak 
sendiri.  
 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 65 out of 94 


Bagaimana dengan anda? ​Kalau belum, coba baca kembali, sambil mengisi ​brain 
teasers​ dan mencoba merancang kontrak sederhana anda sendiri. Kalau anda 
belum mampu, berarti anda harus menyimpan buku ini, karena saya yakin ​one day 
you’ll need it.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 66 out of 94 


BAB IV 
NAVIGATING THROUGH COMMON MISTAKES 
 
Jika anda sudah sampai kepada BAB IV ini, CONGRATULATIONS! Saya 
asumsikan bahwa anda telah lolos ujian BAB III dan sudah mampu merancang 
sendiri kontrak sederhana yang bisa digunakan untuk keperluan usaha anda. 
 
Kabar buruknya, memahami Tahapan 7R di bab sebelumnya tidak akan membuat 
anda terlepas dari kesalahan. Tidak peduli seberapa tinggi ilmu dan jam terbang 
anda, anda akan terus dihantui oleh ​ketidaksempurnaan manusia​ dan 
ketidaksempurnaan keadaan​, seperti adanya faktor X yang telah dibahas 
sebelumnya. Meskipun​ tidak bisa selalu dihindari​, namun kesalahan-kesalahan 
tersebut dapat ​sering dihindari​ dengan adanya kerendahan hati untuk ​mau 
belajar dari kesalahan​, baik kesalahan diri sendiri maupun kesalahan orang lain. 
 
Pada bab ini, kita akan membahas mengenai apa saja bentuk kesalahan yang 
umum terjadi beserta akibatnya, dengan kode ​Common Mistakes No. X [CM #X]:​  
 
CM#1: Uji Tuntas yang Tidak Memadai atau Tidak Dilakukan 
Apa yang dimaksud dengan uji tuntas? Simpelnya, uji tuntas adalah Research dari 
7R yang kita bahas di bab sebelumnya. Adalah penting untuk mengenali dengan 
siapa anda berkontrak. Pelajari bagaimana kesehatan usahanya. Tanyakan ke 
orang-orang yang sudah kenal atau sudah pernah berhubungan bisnis dengan 
calon kawan berkontrak anda. Apakah ia punya reputasi baik atau buruk di luar. 
Kalau buruk, kenali seberapa buruknya dan identifikasikan dengan jelas mengapa 
banyak pihak yang memberikan label negatif kepadanya. Selain sebagai tindakan 
manajemen risiko, uji tuntas juga berguna untuk memastikan apakah tindakan 
anda untuk berkontrak dengan calon kawan berkontrak sesuai dengan tujuan 
yang ingin anda capai atau ​pain points​ yang ingin anda atasi. 
 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 67 out of 94 


Setiap orang memiliki tujuan dan ​pain points​ yang berbeda-beda. Bisa jadi masalah 
orang-orang yang anda wawancarai bukanlah masalah buat anda. Contoh, banyak 
yang menilai bahwa harga jasa yang dipatok oleh calon kawan berkontrak anda 
terlalu mahal, bahkan terkesan mencari kesempatan. Kalau memang harga adalah 
isu utama anda, maka tawar harganya serendah mungkin. Kalau masih tidak 
cocok, berikan alasan yang jelas dan tinggalkan calon kawan berkontrak anda, 
sehingga anda tidak terkesan menggantung dan nantinya dijadikan bahan 
pembicaraan di luar.  
 
Pengalaman saya, kalau memang mau cari harga murah, pasti ada saja di luar sana 
yang bisa memberikan penawaran demikian. Tetapi kalau perhatian anda terletak 
pada kecepatan dan kesempurnaan, mungkin calon adalah kawan berkontrak 
yang tepat untuk anda karena jam terbang yang sudah tinggi atau memang sedang 
tidak banyak klien. Pahami apa yang menjadi ​pain points​ anda, dan pastikan calon 
kawan berkontrak adalah jawaban untuk mengatasi kesakitan tersebut. Jika tidak, 
jangan ragu untuk berpamitan dan mencari calon kawan berkontrak yang lain.   
 
Waktu anda terlalu berharga untuk ditanamkan kepada orang yang salah. 
 
CM#2: Tidak Adanya Konsep di Awal 
Kontrak adalah sebuah karya seni. Sama seperti membuat karya seni lainnya, 
konsep merupakan hal yang penting. Jika anda melihat suatu lukisan yang bagus, 
anda pasti dapat memperkirakan sebenarnya pesan apa yang ingin disampaikan 
pelukis melalui karyanya. Bahkan banyak perguruan tinggi di Amerika 
menawarkan kelas-kelas yang secara khusus membahas mengenai pesan-pesan 
terselubung di balik sebuah lukisan.  
 
Kontrak juga seperti itu. Kontrak yang berkonsep jelas akan membuat 
pembacanya paham apa sebenarnya yang menjadi prioritas anda sebagai 
perancang kontrak. Jangan sampai apa yang anda tekankan di awal dengan calon 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 68 out of 94 


kawan berkontrak menjadi berbeda pada saat anda menuangkannya ke dalam 
kontrak. Misalnya, pada pertemuan-pertemuan sebelumnya, anda menekankan 
bahwa anda tidak masalah dengan persentase profit yang minim, asalkan 
perputaran bisa sepuluh hingga dua belas kali dalam sebulan (prioritas terletak 
pada kuantitas). Lalu pada saat kawan berkontrak membaca kontrak anda, anda 
mematok harga dengan perkiraan profit hingga 120% (seratus dua puluh persen) 
tanpa membicarakan konsekuensinya terhadap jumlah perputaran (prioritas 
berubah ke kualitas). 
 
Ini tentu dapat membingungkan calon kawan berkontrak anda. Pastikan 
semuanya terkonsep secara jelas di awal, dan pastikan bahwa konsep tersebut 
adalah yang terbaik untuk memenuhi tujuan para pihak. 
 
CM#3: Penggunaan Istilah yang Tidak Jelas dan Tidak Konsisten 
Ini merupakan kesalahan yang paling sering dilakukan oleh pengusaha, terutama 
bagi mereka yang tidak paham istilah-istilah di dunia pendidikan. Meskipun 
semuanya kembali lagi kepada karakter masing-masing individu, tapi biasanya 
kesalahan ini dilakukan oleh pengusaha yang sudah berumur di atas 50 (lima 
puluh) tahun dan/atau pengusaha yang, oleh karena sebab suatu hal, tidak 
memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi.  
 
Bagi mereka, kepastian mengenai peristilahan tidaklah penting selama para pihak 
sama-sama paham. Jadi mereka sering menggunakan sistem TST (Tau Sama Tau), 
dan menganggap bahwa orang yang ribet di bidang peristilahan merupakan kaum 
akademis yang tidak tahu bagaimana praktek bisnis di lapangan. Sudah menjadi 
pengetahuan umum bahwa pemikiran akademisi dan praktisi susah untuk sejalan.  
 
Tapi sebagai seorang akademisi sekaligus praktisi, saya mengamati ada dua 
kesalahan dalam pandangan ini. Pertama, orang yang ribet di peristilahan hanya 
berbeda tipis dengan mereka yang tidak mau ribet dalam bidang tersebut; yang 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 69 out of 94 


satu rela repot di awal, yang satu berani ambil resiko di belakang. Kedua, cara 
pandang TST ini sudah pasti berisiko di belakang. Mengapa? Karena definisi 
seseorang tentang apa yang wajar dan umum belum tentu sepenuhnya sama. Jika 
bisa sama pun, belum tentu akan tetap sama enam bulan atau satu tahun ke 
depan, apalagi jika definisi yang lama berpotensi merugikan posisi salah satu 
pihak. Antara “perjanjian” dan “kontrak” mungkin tidak terlalu berbahaya untuk 
digunakan secara bergantian, karena para ahli pun masih memperdebatkan hal ini, 
terutama pada negara-negara civil law.21 
 
Tetapi dalam hal seperti “perjanjian” dengan “MoU”, hal ini bisa jadi masalah jika 
tidak disepakati di awal. Beberapa waktu yang lalu ada seorang klien yang datang 
ke kantor kami karena ingin melakukan suatu hal, takut dianggap melakukan 
wanprestasi. Setelah saya baca perjanjiannya, ternyata judul dan isinya hanyalah 
sebuah MoU yang tidak mengikat. Selain itu, MoU dibuat pada tahun 2007 dan 
pelaksanaannya sudah dibubarkan sejak 2010. Saya langsung informasikan 
bahwa MoU ini tidak mengikat dan hal yang anda hendak lakukan adalah sah-sah 
saja di mata hukum. 
 
Namun bayangkan apabila anda merupakan pihak yang dirugikan atas tindakan 
tersebut. Bisa jadi anda tergoda untuk menafsirkan MoU yang telah anda 
tandatangani tersebut secara berbeda. Jika anda bisa menjamin bahwa anda 
punya integritas yang cukup untuk tidak melakukan hal sekonyol itu, bisakah anda 
juga menjamin bahwa pihak lain tidak akan melakukan tindakan yang serupa? 
Apalagi jika ia memutuskan untuk melibatkan seorang Advokat untuk 
memperkarakan hal tersebut? Kemungkinan menang kita memang tinggi, secara 
hukum selalu berorientasi untuk melindungi orang yang beritikad baik.  
 

21
Di negara-negara common law, telah disepakati secara umum bahwa perjanjian adalah
kesepakatan yang tidak selalu berbentuk tertulis, sedangkan kontrak merupakan bentuk tertulis
dari perjanjian.

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 70 out of 94 


Tapi berapa biaya, waktu dan tenaga yang harus anda luangkan untuk 
menghadapi perkara tersebut? Saya melihat banyak pengusaha rela 
mengeluarkan uang ratusan juta bahkan milyaran rupiah untuk menutup suatu 
masalah hukum, namun sangat perhitungan dan bahkan menolak dengan tegas 
perlindungan dari konsultan senilai puluhan juta yang ahli di bidangnya. Ini 
merupakan fenomena psikologis yang sangat menarik untuk dibahas di lain waktu. 
 
Terlepas dari bagaimana prosedur penyelesaian masalahnya, argumentasi 
mengenai perbedaan penafsiran yang sepele ini bisa menimbulkan rasa tidak 
saling percaya di dalam hubungan kontraktual. Kalau sudah begini, bagaimana 
kontrak mau dilanjutkan? Sama seperti dua sejoli yang sedang menjalin hubungan; 
kalau Hubungan Tanpa Status (HTS) memang seideal itu karena tidak 
merepotkan, mengapa istilah pacaran dan perselingkuhan dalam masa pacaran 
harus ada? Mengapa tidak kita bubarkan saja institusi sakral seperti pernikahan? 
Analogi demikian akan memudahkan anda untuk memahami betapa pentingnya 
definisi yang jelas akan suatu hubungan di awal.  
 
Jadi penyamaan pengertian definisi yang tertuang ke dalam kontrak yang tidak 
bisa diubah tanpa persetujuan para pihak akan menjadi acuan terbaik dalam 
mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan ini. 
 
CM#4: Tidak Ada Rincian Mengenai Mekanisme untuk Hal-Hal Tertentu 
Kesalahan ini terjadi karena perspektif yang kurang tepat mengenai kontrak. Dari 
pengalaman konsultasi dan tanya jawab yang pernah saya lakukan, hampir 
seluruh klien maupun ​followers s​ aya mengirimkan sinyal secara implisit bahwa 
proses berkontrak akan selesai pada saat para pihak tanda tangan. Ini merupakan 
pengertian yang sangat berbahaya. Dimana letak bahayanya? Bahayanya terletak 
di ​mindset​ anda. Karena alotnya proses negosiasi dan proses lainnya yang 
mungkin sudah anda lakukan dalam 7R, anda merasa bahwa anda telah 
melakukan segalanya dengan baik dan mulai berpuas diri.  

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 71 out of 94 


 
Pada saat anda mulai lengah, pengawasan pun akan ​kendor.​ Pada saat pengawasan 
mulai ​kendor,​ secara sadar atau tidak anda akan mulai melakukan banyak toleransi 
terhadap penyimpangan, baik penyimpangan dari pihak anda maupun pihak 
seberang. Jika para pihak sudah mulai biasa saling bertoleransi, maka ini akan 
menimbulkan lunturnya disiplin prestasi.  
 
Jadi jangan heran jika suatu hari nanti pihak seberang berhenti memprioritaskan 
anda atau berhenti untuk menanggapi keluhan anda dengan serius. Jangan heran 
juga kalau suatu saat nanti mungkin kantor anda yang akan dikunjungi oleh surat 
somasi. Jangan heran kalau sampai habis masa kontrak, anda merasa masih jauh 
dari tujuan anda berkontrak di awal.  
 
Biasakan untuk disiplin prestasi, lalu pastikan bahwa pihak seberang selalu 
melakukan hal yang sama. Tegakkanlah diri anda untuk menerapkan sanksi-sanksi 
kecil guna membentuk mentalitas pihak seberang. Masalah hukum adalah 
masalah orang. Kalau memang prosedur dianggap terlalu rumit dan tidak penting, 
lalu mengapa harus dibahas, diperdebatkan dan ditulis ke dalam kontrak?  
 
Kenali kontrak yang ingin anda buat dan pastikan para pihak menghidupi kontrak 
tersebut demi tujuan bersama. 
 
CM#5: Tidak Ada Pembatasan Tanggung Jawab 
Pembatasan tanggung jawab yang jelas adalah salah satu kunci dari kebebasan 
berkontrak. Untuk kontrak sederhana memang biasanya prestasi yang harus 
dilakukan oleh para pihak cukup dijabarkan melalui satu atau dua pasal. Namun 
untuk kontrak kompleks, sekiranya perlu untuk ditambahkan pasal yang 
menegaskan sampai sejauh mana tanggung jawab para pihak. Contohnya, jika 
dalam pasal sebelumnya telah disebutkan bahwa pihak pertama bertanggung 
jawab atas pengiriman, maka di pasal berikutnya bisa dipertegas bahwa tanggung 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 72 out of 94 


jawab pihak pertama dalam pengiriman hanya terbatas pada saat barang tiba di 
lokasi dan detail-detail lain mengikutinya.  
 
Jumlah pasal yang sesuai sangatlah bergantung pada kasusnya. Intinya, jangan 
sampai tidak ada batasan yang jelas lalu masing-masing pihak dibiarkan dengan 
bebas berasumsi sendiri-sendiri. Bisa jadi anda harus menambah orang untuk 
melakukan pengawasan apabila pihak seberang bersikeras meminta anda untuk 
menjaga barang tersebut hingga diambil oleh kuasanya.  
 
Penafsiran bebas seperti ini akan berujung pada konflik dan melesetnya 
perhitungan untung rugi di awal. 
 
CM#6: Kurangnya Waktu untuk Melakukan ​Review 
Luangkan waktu untuk melakukan pengkajian ulang. Setiap manusia tidak ada 
yang bisa lepas dari kesalahan. Tidak peduli seberapa profesional tim yang 
menangani kontrak anda, anda lah yang harus melakukan review terakhir. 
Mengapa? Karena jika terjadi kesalahan dalam bentuk apapun dalam kontrak 
tersebut, maka anda akan menjadi penanggung resiko terbesar.  
 
Contoh yang paling umum adalah beda jumlah 0 (nol) dalam rupiah dan salah 
mengaitkan pihak terhadap suatu kewajiban tertentu. Aturan yang saya pakai 
terhadap diri saya sendiri adalah lakukan dua kali, lalu sekali lagi untuk pada pada 
hari yang berbeda jika kontrak itu anda sendiri yang membuat.  
 
Dengan melakukan ​review​ pada hari yang berbeda, pikiran anda akan ter-reset 
secara otomatis, sehingga anda dapat membaca kontrak buatan anda tersebut 
dari perspektif pembaca. 
 
CM#7: Lalai untuk Menentukan Sanksi Atas Segala Kemungkinan Wanprestasi 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 73 out of 94 


SANKSI, SANKSI dan SANKSI. Hampir seluruh kontrak yang saya review selalu 
tidak memiliki sanksi yang jelas. Karena pengusaha secara umum selalu berpikiran 
optimis dan positif (kalau tidak berpikir positif terhadap kawan berkontrak ya 
mana mau berkontrak dengan pihak tersebut). Kekuatannya adalah banyak ​deal 
yang anda buat. Kekurangannya, banyak ​deal y
​ ang tidak jelas di awal masalah 
sanksi, sehingga kalau banyak yang meletus dan jadi perkara akan pusing dan 
banyak membuang waktu di negosiasi sanksi. Kurangnya sanksi juga memicu 
itikad buruk dari kawan berkontrak untuk menghindari atau mengurangi 
tanggung jawabnya.  
 
Hargai waktu dan itikad baik para pihak dengan mengatur sanksi terhadap segala 
kemungkinan wanprestasi. 
 
CM#8: Mekanisme Pembayaran Tidak Jelas 
Baik pembayaran objek perjanjian maupun pembayaran ganti rugi, semua harus 
ada mekanismenya. Jika anda menentukan bahwa kawan berkontrak harus 
membayar satu milyar rupiah namun tidak menentukan mekanismenya, bisa jadi 
dia membayar ke rekening yang tidak seharusnya sehingga merepotkan admin 
anda dan perpajakan anda. Bisa jadi dia membayar dengan termin dua belas bulan 
dengan dasar asumsi sendiri. Kalau sudah begini, tidak mungkin juga deal 
dibatalkan. Belum lagi mekanisme pembayaran sanksi keterlambatan yang 
ditunda-tunda bahkan dilupakan.  
 
Sering saya menjumpai kawan berkontrak yang pura-pura ​blo’on​ seperti ini. 
Percaya saya, hal ini sangat menjengkelkan dan sangat menurunkan respect serta 
trust anda terhadap kawan berkontrak. Dampaknya tentu saja akan menjurus ke 
operasional transaksi bisnis anda dengan dia. Bisa jadi anda akan berusaha 
mengganti kerugian tersebut dengan berbuat sedikit curang kepada hak-haknya. 
Jika ketahuan, alih-alih memperoleh keadilan dengan cara anda, bisa jadi anda lah 
yang akan dibawa ke pengadilan. 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 74 out of 94 


 
Maka dari itu, sebaiknya perjelas mekanisme pembayaran di awal dan jangan 
ragu untuk memaksakannya di jalan. 
 
CM#9: Mekanisme Pemenuhan Kewajiban dalam ​Force Majeur T
​ idak Diatur 
Jika bicara tentang kontrak, pasti orang akan selalu ingat untuk menulis klausul 
tentang ​force majeur.​ Dengan adanya klausul ini, biasanya orang merasa sudah 
mahir berkontrak, karena sudah bisa berpikir sejauh itu dan sudah bisa 
menggunakan jargon-jargon umum dalam berkontrak. Kenyataannya, klausul ini 
harus dibarengi dengan tindakan-tindakan apa yang harus dilakukan dalam hal 
terjadinya ​force majeur,​ seperti kalau ada kerusakan karena bencana alam (act of 
God), kerugian ditanggung sama rata. Dalam hal terjadinya kerugian karena krisis 
ekonomi yang berkepanjangan atau kerusuhan (act of man), para pihak harus 
melakukan apa. 
 
Menurut hemat saya, sebuah kontrak tidak mengatur tentang penanganan dalam 
hal ​force majeur​, sama saja dengan berkata “kalau ada bencana ya dipikir dan 
dirundingkan nanti saja”. Kalau begitu ya saya sarankan sekalian tidak usah ditulis 
saja klausul tentang ​force majeur-​nya.  
 
CM#10: Kewajiban Pasca Pengakhiran Tidak Jelas 
Berhenti berasumsi bahwa pada saat anda menuliskan frasa “kontrak akan 
berakhir pada tanggal..” akan menyelesaikan masalah anda. Luangkan waktu 
untuk membahas dan mengatur mekanisme pengakhiran kontrak. Sering terjadi 
dalam suatu kontrak kerjasama, lima tahun tidak ada masalah. Namun saat 
perjanjian berakhir, para pihak ribut karena pembagian harta gono-gini (baca: aset 
bersama). Saya paham betul bahwa kita tidak dapat memprediksi apa yang akan 
terjadi di depan. Misalnya, para pihak sepakat bahwa inventaris akan diambil oleh 
pihak pertama, dan pihak kedua berhak atas masa sewa yang belum berakhir. Jika 
pada hari H pihak kedua mau ambil inventarisnya juga, maka pihak pertama dapat 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 75 out of 94 


meminta ganti rugi karena jelas bahwa pihak kedua sudah berhak atas sisa masa 
sewa (jelas apa yang mau ditukarkan konsesinya).  
 
Jelas bahwa jika semua sudah ditentukan di depan, maka perubahan-perubahan 
tersebut dapat tetap dibuat dengan menggunakan perjanjian sebagai acuan.  
 
CM#11: Menetapkan Klausul yang Mustahil untuk Dilaksanakan 
Perjanjian tidak hanya harus indah di kertas saja, namun juga harus indah di 
lapangan. Sering saya jumpai dalam kasus kontraktor borongan. Pengguna jasa 
bersikeras untuk kontraktor borongan menggunakan truk trontonnya untuk 
pengiriman material guna menghemat biaya. Padahal untuk mencapai lokasi 
pembangunan, dibutuhkan mobil L300 yang lebih kecil karena jalan tidak cukup 
lebar untuk truk tronton.  
 
Ada lagi kasus mengenai bagaimana pengusaha memaksa peserta-peserta 
tendernya untuk menghemat biaya dengan mengirim melalui kapal besar, padahal 
kedalaman laut dan fasilitas di daerah pelabuhan yang menjadi tempat tujuan 
tidak memadai. Kalau sudah begin,i mau ikut ​tender​ berapa kali pun ya tidak akan 
ada hasilnya.  
 
Pastikan bahwa apa yang anda tetapkan merupakan hasil riset yang memadai dari 
keadaan di lapangan, agar apa yang anda lakukan masuk akal dan tidak 
mempermalukan diri sendiri. 
 
CM#12: Gagal Membedakan Antara Pernyataan Jaminan dan Jaminan Konkrit 
Ini sebenarnya berkaitan dengan sanksi, karena berbicara tentang sebab akibat. 
Perbedaan terbesar antara pernyataan jaminan dengan jaminan konkrit terletak 
pada ada atau tidaknya sesuatu yang dijaminkan di awal. Pernyataan jaminan 
biasanya hanya berbunyi, “PIHAK PERTAMA menjamin bahwa tanah yang dijual 
tidak sedang dalam kondisi sengketa”, sedangkan jaminan konkrit akan 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 76 out of 94 


melanjutkan frasa tersebut dengan, “.. dengan jaminan berupa sebidang tanah 
dengan SHM No. XXX, yang dapat dieksekusi melalui ____ dalam hal ____”. Bisa juga 
ditambahkan, “Dalam hal tanah ternyata berada di dalam kondisi sengketa, maka 
PIHAK PERTAMA wajib menyelesaikan sengketa tersebut baik secara langsung 
maupun melalui kuasanya atas biaya PIHAK PERTAMA”.  
 
Dengan memaksa PIHAK PERTAMA untuk memberikan jaminan konkrit, maka 
PIHAK PERTAMA akan membuka segala kartunya berkaitan dengan tanah 
tersebut yang mungkin secara sengaja atau tidak disembunyikan. 
 
CM#13: Kontrak Sulit Dibaca atau Tidak ​Skimmable 
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa kebanyakan orang tidak membaca 
kontraknya secara mendetail. Maka itu diperlukan penekanan-penekanan pada 
frasa-frasa tertentu yang dianggap penting. Memang seyogyanya setiap kata 
dalam kontrak haruslah penting, namun penting yang saya maksud ini adalah frasa 
yang memiliki kekuatan untuk ​make or break the deal (deal breaker clause)​. Jangan 
memasukkan frasa-frasa yang sifatnya menjebak, lalu merasa bangga karena 
berhasil mengakali kawan berkontrak. 
 
Ingat, UU selalu melindungi pihak yang beritikad baik. Segala hal yang dilakukan 
dengan itikad buruk tidak akan bertahan lama dan akan merusak reputasi anda 
sebagai pengusaha. Jika nantinya tidak ada yang mau untuk berkontrak dengan 
anda, maka usaha anda pun dipastikan tidak akan mampu berkembang.Ujungnya, 
anda dan anak cucu anda yang akan menanggung segala konsekuensinya. 
 
CM#14: Melupakan Aspek Hukum dalam Berkontrak 
Benar bahwa asas paling mendasar dalam setiap hubungan kontraktual adalah 
asas kebebasan berkontrak. Namun jangan terlalu terbuai dengan kata 
“kebebasan” itu. Ingatlah bahwa salah satu syarat sahnya perjanjian adalah tidak 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 77 out of 94 


mengandung klausul yang melanggar UU. Pastikan anda memahami UU mana saja 
yang mengatur hubungan kontraktual anda.  
 
Jika anda bukan sarjana hukum atau belum berpengalaman di bidang yang akan 
anda geluti, jangan ragu untuk menggunakan jasa konsultan hukum yang mampu 
memahami kepentingan anda dan mampu untuk menjadi bagian dari solusi, bukan 
bagian dari masalah. Tabungan masa depan anda akan berterima kasih pada diri 
anda sendiri. 
 
CM#15: Melupakan Aspek Bisnis dalam Berkontrak 
Selain aspek hukum, anda juga harus memperhatikan aspek bisnis dalam 
berkontrak. Hal ini sering dilupakan oleh konsultan hukum, sama halnya dengan 
pengusaha yang seringkali mengabaikan aspek hukum dalam berkontrak. Banyak 
pengusaha yang kapok menggunakan jasa konsultan hukum karena 
pandangan-pandangannya dirasa mempersulit pengusaha untuk mendapatkan 
deal-deal ​penting. 
 
Dalam kasus-kasus di mana kontrak memiliki risiko rendah, konsultan hukum 
sebaiknya tidak terlalu keras dalam bernegosiasi dengan pihak seberang. Sebagai 
contoh, jika klien anda adalah pemilik usaha kemitraan (baca: “franchisor”), maka 
anda harus memasukkan klausul-klausul yang fair dan tidak terlalu berat sebelah 
agar ​acceptance rate b
​ isa meningkat. Namun jika klien anda adalah penerima 
kontrak (baca: “​franchisee​”), maka kemungkinan besar isi kontrak bersifat 
non-negotiable ​(baca: tandatangan atau tinggal)​.  
 
Jadi sebagai konsultan hukum, anda hanya perlu mengklarifikasi saja pasal-pasal 
yang dirasa kurang jelas. Sebagai seseorang yang sudah melek hukum, yang 
penting anda tahu kalau sampai dalam praktek anda atau klien anda ditekan, anda 
bisa menantang keabsahan kontrak tersebut pada tahap sebelum maupun pada 
saat pengadilan.  

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 78 out of 94 


 
Penting untuk diingat bahwa hubungan kontraktual timbul dari keinginan untuk 
saling memperoleh keuntungan, bukan dari keinginan untuk adu kekuatan atau 
kebenaran dasar hukum. Prinsip saya, minimal saya bisa membantu klien untuk 
menekan biaya, meningkatkan profit margin atau meminimalisir resikonya yang 
senilai atau lebih dari biaya jasa saya, itu sudah cukup. Tidak perlu menekan 
kawan berkontrak sampai kepada tahap kontrak menjadi batal. Banyak orang 
merasa sudah jadi pebisnis yang handal dengan menekan lawan sedemikian rupa 
untuk memaksimalkan keuntungan.  
 
Bagi orang yang berpengalaman di dunia kerja dan mengoleksi gelar seperti saya, 
orang yang saya pandang sebagai pebisnis yang handal adalah orang yang paham 
bahwa kunci kesuksesan terletak pada hubungan DAN berhasil memaksimalkan 
hubungan bisnis yang baik di atas keuntungan (lihat kisah Raja Salomo dengan 
Raja Hiram)22.  

22
1 Raja-Raja 5:1-12 ​5:1​ Hiram,​ ​z​ ​ raja Tirus, mengutus pegawai-pegawainya kepada Salomo, karena
didengarnya, bahwa Salomo telah diurapi menjadi raja menggantikan ayahnya, sebab Hiram senantiasa
bersahabat dengan Daud. ​5:2​ Lalu Salomo mengutus orang kepada Hiram dengan pesan: ​5:3​ "Engkau
tahu bahwa Daud, ayahku, tidak dapat mendirikan​ ​a​ ​ sebuah rumah bagi nama TUHAN, Allahnya, oleh
karena musuh-musuhnya memerangi​ ​b​ ​ dia dari segala jurusan, sampai TUHAN menyerahkan mereka ke
bawah telapak kakinya.​ ​c​ ​ ​5:4​ Tetapi sekarang, TUHAN, Allahku, telah mengaruniakan keamanan​ ​d
kepadaku di mana-mana, tidak ada lagi lawan​ ​e​ ​ dan tidak ada lagi malapetaka menimpa. ​5:5​ Dan
ketahuilah, aku berpikir-pikir hendak mendirikan sebuah rumah​ ​f​ ​ bagi nama TUHAN​ ​1​ ​, Allahku, seperti
yang dijanjikan TUHAN kepada Daud, ayahku, demikian: Anakmu yang hendak Kududukkan nanti di atas
takhtamu menggantikan engkau, dialah yang akan mendirikan rumah itu bagi nama-Ku.​ ​g​ ​ ​5:6​ Oleh sebab
itu, perintahkanlah orang menebang bagiku pohon-pohon aras​ ​h​ ​ dari gunung Libanon, dan biarlah
hamba-hambaku membantu hamba-hambamu, dan upah hamba-hambamu akan kubayar kepadamu
seberapa juga kauminta, sebab engkau tahu, bahwa di antara kami tidak ada seorangpun yang pandai
menebang pohon sama seperti orang Sidon." ​5:7​ Maka segera sesudah Hiram mendengar pesan dari
Salomo itu, ia sangat bersukacita serta berkata: "Terpujilah TUHAN​ ​i​ ​ pada hari ini, karena Ia telah
memberikan kepada Daud seorang anak yang bijaksana untuk mengepalai bangsa yang besar ini." ​5:8
Lalu Hiram mengutus orang kepada Salomo mengatakan: "Aku telah mendengar pesan yang kausuruh
sampaikan kepadaku. Tentang kayu aras dan kayu sanobar aku akan melakukan segala yang
kaukehendaki. ​5:9​ Hamba-hambaku akan membawanya turun dari gunung Libanon ke laut​ ​j​ ​ dan aku akan
mengikatnya menjadi rakit-rakit di laut untuk dibawa sampai ke tempat yang akan kautunjukkan kepadaku;
kemudian akan kusuruh bongkar semuanya di sana, sehingga engkau dapat mengangkutnya. Sementara
itu engkau hendaknya menyediakan makanan​ ​k​ ​ bagi seisi istanaku seberapa yang kukehendaki." ​5:10
Demikianlah Hiram memberikan kayu aras dan kayu sanobar kepada Salomo seberapa yang
dikehendakinya. ​5:11​ Lalu Salomo memberikan kepada Hiram dua puluh ribu kor gandum, bahan
makanan​ ​l​ ​ bagi seisi istananya dan dua puluh kor minyak tumbuk; demikianlah diberikan Salomo kepada
Hiram tahun demi tahun. ​5:12​ Dan TUHAN memberikan hikmat​ ​m​ ​ kepada Salomo seperti yang
dijanjikan-Nya kepadanya; maka damaipun ada antara Hiram dan Salomo, lalu mereka berdua
mengadakan perjanjian.

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 79 out of 94 


Percayalah, dengan membiasakan diri menghargai hubungan, anda akan terus 
dicari orang. Sedikitnya keuntungan di kontrak awal akan diganti dengan berlipat 
kali ganda dari kontrak-kontrak orang yang rebutan untuk berbisnis dengan anda.  
 
CM#16: Melupakan Aspek Psikologis dalam Berkontrak 
Bagi saya pribadi, ini merupakan aspek yang paling penting. Anda harus ingat 
bahwa hukum diciptakan oleh manusia untuk mengatur perilaku manusia. Apabila 
kontrak mengikat sebagai UU bagi para pembuatnya, itu berarti intisari kontrak 
adalah untuk mengatur perilaku para pihak dalam sebuah hubungan kerjasama.  
 
Jika calon kawan berkontrak anda beritikad baik, maka kontrak minimalis pun 
sudah cukup. Bahkan dalam kasus-kasus tertentu, kontrak bisa jadi tidak 
dibutuhkan. Namun ada kalanya kita membutuhkan kontrak dari mereka yang 
dari awal adalah beritikad kurang baik. Jika demikian, maka mau sekompleks dan 
sesempurna apapun kontrak anda, ia akan selalu berusaha mencari celah untuk 
mangkir sebagian atau seluruhnya dari kewajibannya. Lebih parah lagi, banyak 
pihak-pihak yang sudah merasa diatas angin akan dengan gamblang mangkir dari 
tanggung jawabnya dan menuntut pengertian anda. Hal ini tidak selalu dilakukan 
oleh perusahaan besar; orang yang berhutang pun kadang jauh lebih jahat 
daripada yang mempiutangi. 
 
Dengan fakta-fakta lapangan yang cukup mengenaskan ini, bagaimana cara saya 
untuk menghadapinya? Ada beberapa hal yang perlu anda pelajari. Satu, anda 
harus mampu membedakan kontrak DENGAN SIAPA yang perlu diadakan dan 
yang tidak. Contohnya, piutang dagang dengan vendor-vendor besar dan 
terpercaya seringkali perlu diberikan guna mencapai target tertentu.  
 
Meskipun mereka bayarnya lama, namun anda bisa memanfaatkan hubungan 
tersebut untuk meningkatkan kredibilitas anda. Namun piutang perorangan, 
terutama dengan orang-orang yang sudah jelas beritikad buruk dan/atau tidak 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 80 out of 94 


mampu mengelola keuangannya, tidak harus dilakukan dan tidak ada faedahnya 
buat anda.  
 
Jika anda benar-benar paham dan mau untuk mengutamakan kepentingan anda, 
anda harus mampu mengatasi rasa sungkan atau tidak enak anda terhadap orang 
lain. Jika memang harus memiutangi, berikan bukan nominal yang diminta namun 
nominal yang anda siap untuk relakan. Simpan perasaan anda yang berharga bagi 
orang tertentu saja. Anda akan berterima kasih kepada saya di kemudian hari. 
 
Hal kedua, belajar membaca itikad orang. Tidak ada buku psikologi yang dapat 
membantu anda lebih daripada pengalaman. Pengalaman butuh pengorbanan dan 
waktu, namun tidak berarti bahwa anda harus mencapai usia tertentu untuk 
mampu membaca orang. Pengusaha muda yang sering bertemu dan bernegosiasi 
dengan orang akan jauh lebih baik dalam hal ini ketimbang pengusaha senior yang 
sudah lima tahun kerjaannya hanya duduk-duduk di kantor saja.  
 
Jika anda masih ragu dengan kemampuan anda, jangan ragu untuk berinvestasi 
terhadap jasa pendampingan. Anda akan terkejut bagaimana ​respect​ dan itikad 
orang akan berubah dengan cepat manakala anda melibatkan konsultan hukum 
anda. Anda pun akan lebih terkejut bagaimana pengorbanan akan gaya hidup dan 
gaya belanja tertentu akan membuat anda memiliki budget khusus untuk 
konsultan hukum. Anda akan jauh lebih terkejut lagi jika nantinya anda berhasil 
menghitung sudah berapa juta atau bahkan milyar uang yang berhasil 
diselamatkan, sehingga anda bisa ​shopping​ lagi dan masih memiliki konsultan 
hukum di samping anda.  
 
Taraf atau kelas dari seorang pengusaha akan terlihat dari bagaimana mereka 
berinvestasi pada pengembangan dan pengamanan bisnis mereka. Calon rekan 
anda pasti akan melihat dan menghargai itu. 
 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 81 out of 94 


CM#17: Tidak Mengerti Apa Yang Dibuat 
Jangan keburu tertawa dulu. Ini merupakan kasus yang paling sering terjadi di 
antara semua kesalahan yang lain, terutama di kalangan pengusaha. Banyak 
pengusaha pintar baca laporan keuangan, tapi begitu disuruh membuat pasti 
hasilnya malu-maluin (kecuali kalau pernah menerima pendidikan mengenai 
akuntansi sebelumnya). Maka dari itu hampir semua pengusaha pasti punya tim 
atau orang akuntansi di kantornya. Itu pun kadang mereka juga menggunakan jasa 
akuntan profesional, terutama terkait dengan perpajakan.  
 
Sama halnya dengan kontrak. Banyak pengusaha yang jago baca kontrak, namun 
tidak bisa membuat kontrak. Parahnya, dalam hal ini biasanya pengusaha masih 
cenderung meremehkan dan memilih untuk membuat kontraknya sendiri atau 
menyuruh karyawan yang tidak pernah mengenyam pendidikan khusus tentang 
kontrak.Apakah anda berani menyerahkan keperluan perpajakan anda kepada 
sarjana akuntansi yang belum mengikuti Brevet A & B? Atau mungkin kepada 
mereka yang bahkan bukan merupakan sarjana akuntansi? Pastinya tidak 
mungkin. Bisa jadi masalah di belakang.  
 
Sama halnya dengan kontrak. Menggarap sendiri kontrak anda atau menyuruh 
anak buah anda yang tidak memiliki latar belakang maupun spesialisasi dalam 
bidang hubungan kontraktual sangat berpotensi menjadi bom waktu. Jika anda 
belum memiliki budget khusus untuk profesional, saya sarankan berinvestasilah 
kepada diri anda sendiri dengan mengikuti pelatihan-pelatihan yang ada di luar 
sana. Saya sendiri sebagai konsultan kontrak belajar banyak dari pelatihan 
semacam itu. Saya yakin anda pun akan menikmati keuntungan serupa.  
 
Perlu ditekankan sekali lagi bahwa kontrak berlaku sebagai UU bagi mereka yang 
mengikatnya. Sehingga dengan atau tanpa konsultan, jangan sampai anda 
membuat kontrak yang anda pun hanya asal comot dan tidak memahami isinya. 
Itu tidak jauh berbeda dengan menandatangani surat kematian anda sendiri. 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 82 out of 94 


 
Ingatlah, investasi terbaik dan anti-maling adalah investasi kepada diri anda 
sendiri. Jika anda sudah berhasil membaca sampai tahap ini, maka saya jamin 
tidak ada yang bisa mencuri pengetahuan di buku ini dari anda. Anda bagi-bagikan 
pun akan memperkaya dan memperdalam pengetahuan anda sendiri. 
 
 
BRAINTEASER XV 
Apakah ada salah satu kesalahan dari 17 CM ini yang seringkali anda buat?  
Apakah ada kesalahan lain di luar 17 CM ini yang dapat anda temukan? 
Apakah ada orang yang ingin anda ingatkan?  
 
Kirimkan ​copy d
​ ari ​e-book ​ini kepada orang-orang terdekat anda, agar mereka 
tidak melakukan kesalahan yang sama! 
 
PS. We would love to hear your story as well!
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 83 out of 94 


BAB V  
NON-LITIGATION DISPUTE RESOLUTION 
 
Bagi anda yang baru saja memulai sebuah usaha, saya rasa anda hanya perlu 
membaca mengenai Musyawarah dan Mufakat (selanjutnya saya singkat M&M) 
saja. Bukan karena sisanya tidak penting, namun alur proses bab ini agaknya 
terlalu kompleks untuk dikonsumsi oleh non-praktisi. Khusus untuk M&M, anda 
perlu resapi karena kita tidak pernah tahu kapan hubungan kontraktual anda akan 
dirundung masalah, baik internal maupun eksternal. Dengan memahami 
dasar-dasar penyelesaian sengketa, setidaknya anda akan memahami tentang apa 
yang boleh dan tidak boleh dilakukan jika ingin sengketa cepat selesai. 
 
Saya paham banyak buku di luar sana yang sudah mengajarkan mengenai Mediasi 
dan Arbitrase secara lebih komprehensif, dan sebagai akademisi maupun praktisi 
anda pasti sudah kenyang akan hal tersebut. Namun izinkan saya untuk 
menyegarkan memori anda dan membumbuinya dengan pengetahuan serta 
pengalaman pribadi saya di bidang penyelesaian sengketa. 
 
5.1. Musyawarah dan Mufakat 
Karena M&M merupakan langkah pertama yang harus diambil oleh para pihak 
yang bersengketa, maka metode ini menjadi metode yang paling sering dijumpai. 
Selain sesuai dengan prinsip kekeluargaan di Indonesia, perundingan melalui 
musyawarah untuk mencapai kata mufakat adalah cara yang paling efektif untuk 
menjaga kerahasiaan sengketa dan menjaga hubungan baik antara para pihak. 
 
Opsi penyelesaian sengketa melalui M&M ini sifatnya wajib dilakukan. Mengapa 
wajib? Karena Pengadilan selalu menanyakan terlebih dahulu sebelum mengadili 
berkas perkara; apakah sudah ada upaya perdamaian atau tidak? Bukan hanya 
pada saat berkas pertama kali dibawa ke persidangan, namun pertanyaan ini terus 
menerus ditanyakan kepada masing-masing pihak setiap kali sidang perkara 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 84 out of 94 


dimulai. Jadi jika satu perkara sedang dalam tahap sidang keempat, berarti 
rekomendasi halus ini telah diutarakan oleh majelis hakim paling tidak tiga kali. 
Perlu diperhatikan bahwa ini hanya berlaku untuk kasus yang sifatnya perdata. 
 
Dalam tahapan ini, dibutuhkan pendekatan yang sifatnya seimbang antara 
personal dan profesional. Karena yang akan anda konfrontasi ini adalah kawan 
berkontrak, di mana hubungan telah dibangun dan sedang berjalan dengan baik. 
Jika anda salah pendekatan, maka akibatnya bisa menjalar ke operasional harian 
bisnis anda.  
 
Maka dari itu, pastikan unsur personal dari pendekatan anda mampu untuk 
membukakan pintu bagi telinga dan pikiran mereka. Contohnya, untuk hal-hal 
yang sifatnya teguran, minimal saya lakukan lewat telepon untuk mencegah 
terjadinya salah tangkap. Untuk hal-hal yang lebih serius seperti permintaan ganti 
rugi, saya akan mengajak mereka untuk bertemu di tempat yang sekiranya 
kondusif dan private.  
 
Prinsipnya, segala tindakan yang sifatnya negatif dan berpotensi membuat 
suasana menjadi tidak enak jangan dilakukan di depan umum. Ini merupakan soft 
skill yang terlihat sepele, namun besar dampaknya untuk kelangsungan hubungan 
anda. Hampir seluruh klien saya yang bertekad untuk menggugat rekan maupun 
karyawannya, selalu dilakukan pada saat mereka berada di titik marah, 
tersinggung, gengsi dan emosi-emosi negatif lainnya.  
 
Karena itu saya berani menyimpulkan bahwa kecuali dari awal itikad pihak 
tersebut sudah tidak baik, maka semua masalah akan selesai di tahap musyawarah 
dan mufakat jika kita dapat menguasai pendekatan personal ini. 
 
Setelah anda mampu untuk membuka pintu mereka dan berada satu meja dengan 
mereka, barulah anda menggunakan pendekatan profesional sebagai dasar 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 85 out of 94 


pembicaraan anda dengan calon tergugat. Jelaskan mengapa perbuatan mereka 
anda nilai merugikan kepentingan anda, seberapa besar dan panjang dampak dari 
kerugian tersebut, serta jalan apa saja yang dapat ditempuh guna merestorasi 
kerugian tersebut. Contohnya, kontrak dapat mengatur bahwa rekan mempunyai 
kewajiban di bidang ​quality control, ​sehingga ia harus masuk minimal lima jam 
dalam seminggu.  
 
Dalam hal banyak customer yang protes karena hasil masakan restoran anda 
tidak konsisten, anda baru diberi info oleh pegawai anda bahwa rekan anda dalam 
satu bulan terakhir hanya masuk dua kali dalam seminggu. Jika anda hanya ingin 
menegur, maka langkah yang tepat untuk anda lakukan adalah menghubungi 
rekan anda adalah memberikan laporan-laporan mengenai komplain pelanggan 
selama sebulan terakhir (profesional) dan menjelaskan kepada rekan mengapa 
tanggung jawabnya itu sangat penting bagi kelangsungan usaha anda (personal). 
Jika anda ingin meminta ganti rugi karena kerugian yang diderita cukup fantastis, 
maka sebaiknya anda memanggil dia untuk bertemu empat mata, memberikan 
laporan perhitungan kerugian yang disebabkan oleh kelalaiannya, lalu 
memberikan opsi ganti rugi kepadanya.  
 
Perlu diperhatikan bahwa opsi-opsi ganti rugi ini tidak harus berkaitan dengan 
uang. Bisa saja untuk mengganti itu anda meminta dia untuk membuat sistem 
quality control d
​ an/atau masuk tujuh hari seminggu selama sebulan. Ini merupakan 
solusi yang cukup win-win, karena sistem yang ia akan buat dan jam lembur yang 
diberikan juga memiliki nilai finansial yang bisa dibandingkan dengan kerugian 
yang ia telah timbulkan.  
 
Di sini sebenarnya letak pentingnya kontrak yang dari awal sudah memiliki 
perhitungan sanksi yang jelas. Dengan begitu, segala alternatif ganti rugi dapat 
memiliki acuan yang jelas serta tidak mengada-ngada. Percayalah, pada saat anda 
berkonflik, semua pasti ingin menyelamatkan diri sendiri. Jika kontrak anda tidak 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 86 out of 94 


mengandung sanksi yang jelas karena anda merasa sungkan untuk membicarakan 
sanksi di awal, menurut saya itu berarti anda bukan rekan yang baik.  
 
Mengapa bisa begitu? Pertama, berarti anda secara tidak langsung memberikan 
banyak celah bagi dia untuk mangkir dari tanggung jawabnya. Hal ini akan 
membuat dia tidak disiplin dan merusak mentalnya. Mau terima keuntungannya 
tapi tidak mau kerja. Kedua, bisa jadi anda memang sengaja membuat sanksi yang 
kabur supaya pada saat kejadian anda dapat memaksa mereka untuk memberi 
nilai ganti rugi yang fantastis sesuai kebutuhan keuangan anda pada saat itu. 
Jangan khawatir untuk menyinggung perasaan kawan berkontrak karena anda 
bicara tentang sanksi.  
 
Dengan komunikasi yang baik, kontrak dengan sanksi yang jelas justru akan 
melindungi hubungan, bukan malah menghancurkan. 
 
MEDIASI 
Mediasi sebenarnya hanya merupakan sebuah upgrade dari M&M, karena ada 
penambahan peran yang masuk di dalamnya guna menetralisir tegangnya 
hubungan di antara para pihak, yakni mediator. Bisa dibilang upgrade juga karena 
adanya penambahan biaya yang harus dikeluarkan sebagai tanda balas jasa 
seorang mediator. Semakin besar nilai sengketa dan semakin kredibel seorang 
mediator, tentu semakin mahal harganya dan semakin efektif fungsinya. 
 
Mengapa saya harus mengeluarkan biaya lebih untuk menggunakan jasa seorang 
mediator? Karena mediator bisa melakukan hal-hal yang perlu anda lakukan di 
atas dengan konsekuensi yang jauh lebih minim. Daripada anda menghubungi 
sendiri rekan untuk menegur, mengapa tidak meminta sang mediator yang 
menghubungi dan menegur? Karena jika memang terdapat suatu prestasi yang 
lalai dicairkan, kewajiban mediator adalah memastikan bahwa pihak tersebut 
paham dan mau bertanggung jawab terhadap adanya wanprestasi. Jika ada hal 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 87 out of 94 


yang kurang enak yang ingin disampaikan, misalnya anda ingin mengeluarkan 
salah satu dari partner anda karena dirasa tidak pernah menjalankan 
kewajibannya, maka mediator dapat merencanakan rapat untuk evaluasi kinerja 
dan memberi penilaian secara objektif apakah benar bahwa pihak tersebut layak 
untuk dikeluarkan atau ada solusi yang lebih baik lagi berdasarkan hasil evaluasi 
tersebut. Jika ada kesalahan langkah dari pihak mediator pun, mediator yang 
berintegritas pasti akan berusaha memperbaikinya atas biayanya sendiri. 
Sungguh mudah bagi anda dan rekan-rekan bukan? 
 
Biasanya yang disepakati sebagai mediator adalah orang kepercayaan badan 
usaha, seperti kuasa hukum mereka. Namun tidak semua kuasa hukum akan 
mengutamakan kepentingan badan usaha anda. Bisa jadi mereka merancang 
suatu sistem penyelesaian masalah yang memanfaatkan karakter dan gejolak 
emosi para pihak guna mengarahkan perkara ke pengadilan.  
 
Apa keuntungannya bagi kuasa hukum? Tentu saja dengan masuknya perkara ke 
pengadilan, biaya akan jauh membengkak. Dia pun bisa merekomendasikan 
rekannya untuk bertindak sebagai kuasa hukum pihak yang terpecah ini. Nanti dia 
dapat komisi lagi dari situ. Belum lagi jika mereka main kotor dengan pengadilan. 
Ujung-ujungnya, para kuasa hukum ini dapat merencanakan skenario pendamaian 
yang akan dilaksanakan pada saat mereka kenyang dengan biaya yang telah 
digelontorkan oleh para pihak. 
 
Karena itu, pastikan anda memilih mediator yang kredibel. Cara mengukur 
kredibilitas sebenarnya mudah sekali. Tanyakan pada diri anda, siapa yang akan 
lebih rugi apabila mediator ini ternyata main kotor karena punya kepentingan 
pribadi? Saya atau dia? Seberapa bagus reputasi yang dia punya? Seberapa banyak 
orang yang telah mempercayakan perkara mereka pada dia? Berapa klien yang 
akan kabur apabila anda mengatakan sesuatu yang tidak sedap tentang dia? Tidak 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 88 out of 94 


mungkin seorang Hotman Paris main kotor di belakang anda untuk usaha kedai 
kopi anda, bukan?  
 
Berhati-hatilah dalam memilih kuasa hukum. Manusia adalah makhluk yang 
gampang sekali diberi insentif. Begitu perhitungan untung-rugi tidak cocok, tidak 
akan seseorang berani memasuki bisnis tertentu atau mengambil perkara 
tertentu. Pastikan kalau sampai dia memutuskan untuk beritikad buruk, dia yang 
lebih rugi.  
 
ARBITRASE 
Arbitrase adalah cara penyelesaian suatu sengketa perdata diluar peradilan 
umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis 
oleh para pihak yang bersengketa. Perjanjian Arbitrase ini biasa ditulis sebagai 
salah satu dari pasal penutup dari perjanjian induk. Arbitrase pada dasarnya 
dirancang untuk menjadi opsi yang bisa dipilih untuk menangani masalah 
hukum. Mengapa opsi ini penting? Karena sudah menjadi rahasia umum bahwa 
penyelesaian sengketa melalui PN minimal memakan waktu setahun hingga 
dua tahun atau lebih, melibatkan banyak adu koneksi dan biaya yang tidak bisa 
diperkirakan. Bagi pengusaha yang selalu mengambil sudut pandang 
perhitungan untung-rugi, penyelesaian sengketa melalui Pengadilan Negeri 
tentu saja menjadi hal yang amat sangat dihindari. 
 
Arti arbitrase seringkali disamakan dengan mediasi, yang merupakan proses 
informal dimana pihak ketiga akan menjadi penengah pihak-pihak yang berselisih 
untuk membantu mereka menyelesaikan perselisihan. Gampangnya, arbitrase ini 
adalah versi resmi dari mediasi, karena selain dilaksanakan oleh Hakim Arbiter 
yang bersertifikasi, arbitrase ini memiliki badan tersendiri seperti Badan 
Arbitrase Nasional Indonesia (BANI), Badan Arbitrase Pasar Modal Indonesia 
(BAPMI) dan lain sebagainya sehingga terjamin kualitas dan wewenangnya. 
  

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 89 out of 94 


 
Untuk bisa melakukan arbitrase, diperlukan kesepakatan antara kedua pihak yang 
bersengketa. Dengan kata lain, arbitrase hanya bisa dilaksanakan ketika dua pihak 
menyetujuinya, baik sebelum atau setelah sengketa hukum muncul. Untuk alasan 
ini, Hakim Arbiter biasanya meminta bukti adanya kesepakatan ini dalam suatu 
perjanjian tertulis sebelum memutuskan untuk menerima atau menolak suatu 
perkara yang diajukan kepadanya.   
 
Meskipun klausul arbitrase berdasarkan kesepakatan tertulis memiliki kekuatan 
hukum yang mengikat Para Pihak, ada jalan yang dapat ditempuh untuk 
membatalkan klausul tersebut dan membawa sengketa ke Pengadilan Negeri 
(PN). Contohnya, menambah pihak yang bersengketa. Dengan ini, perjanjian 
dianggap tidak dapat mengikat pihak ketiga tersebut sehingga perkara tidak harus 
dibawa ke forum arbitrase.  
 
Ada lagi yang menggunakan cara melayangkan gugatan dengan dasar Perbuatan 
Melawan Hukum (PMH) dan bukan wanprestasi. Hal ini menyebabkan 
terbukanya kembali pilihan untuk maju ke PN karena dasar gugatan sudah berada 
di luar klausula perjanjian. 
 
5.2. Arbitrase Bersifat Tertutup 
Tidak seperti proses persidangan PN yang terbuka untuk umum dengan irah-irah 
transparansi keadilan, proses persidangan arbitrase bersifat tertutup atau tidak 
terbuka untuk umum. Dengan demikian, rahasia bisnis dan informasi penting 
dapat dilindungi dari publik, media, dan atau pesaing. Selain itu, dalam PN 
biasanya Para Pihak malu untuk melanjutkan hubungan bisnis dengan mantan 
lawan sengketanya karena informasi mengenai panasnya proses persidangan 
sudah terlanjur menjadi konsumsi publik. Dengan sifat tertutup dari arbitrase, 
Para Pihak tidak perlu malu untuk melanjutkan atau memulai kembali hubungan 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 90 out of 94 


bisnis apabila hubungan tersebut masih dapat menguntungkan kedua belah pihak 
yang pernah bersengketa. 

5.3. Arbitrase Bersifat Netral dan Memprioritaskan Win-Win Solution 


Karena arbitrase bisa melibatkan sampai dengan 3 (tiga) Hakim Arbiter, Para 
Pihak dapat dengan bebas memilih Hakim Arbiter yang disukai selama Hakim 
Arbiter yang dipilih tidak memihak alias independen. Aturan umumnya, 
masing-masing pihak dapat memilih satu Hakim Arbiter, lalu sisanya dipilih 
berdasarkan kesepakatan. Selain itu, fokus dari persidangan arbitrase adalah 
untuk mengambil keputusan terbaik bagi Para Pihak (win-win solution). Hal ini 
tentu saja berbeda 180 (seratus delapan puluh) derajat dibandingkan dengan hasil 
putusan PN yang bersifat menang kalah (win-lose). 
 
5.4. Hakim Arbiter Berkeahlian Khusus 
Tidak seperti Hakim PN yang berkeahlian umum karena harus mampu menangani 
perkara dari A sampai Z, Para Hakim Arbiter dikategorikan berdasarkan keahlian 
dan pengalamannya serta dipilih berdasarkan bidang yang disengketakan. 
Contohnya, dalam suatu sengketa pertambangan, Hakim Arbiter yang dipilih 
adalah hakim yang memiliki pengalaman dan keahlian khusus di bidang 
pertambangan. Ini adalah jaminan bahwa Hakim Arbiter akan mampu untuk 
menangani sengketa pertambangan tidak hanya berdasarkan undang-undang 
saja, namun juga dapat menutup kekosongan dan celah hukum yang ada 
berdasarkan aturan umum yang berlaku di bidang terkait. 
 
5.5. Arbitrase Dapat Menghemat Waktu Dan Biaya 
Biaya arbitrase akan ditentukan di depan setelah badan arbitrase yang dipilih 
menentukan biaya penyelesaian sengketa. Jadi biaya juga dapat diperkirakan di 
depan. Selain itu, karena ditangani oleh badan arbitrase yang kasusnya tidak 
sepadat PN, prosedur arbitrase hanya memakan waktu maksimal 6 (enam) bulan, 
di mana hal ini juga diatur dalam UU Arbitrase. Prosedur yang dibuat khusus dan 
tidak adanya proses banding (ada mekanisme bandingnya sih, namun jarang 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 91 out of 94 


dilakukan dibandingkan dengan putusan PN karena sifat putusannya​ win-win​) juga 
mencegah berlarut-larutnya suatu perkara. Putusan arbitrase juga mengikat 
layaknya putusan PN sehingga tidak bisa dibatalkan.  
 
5.6. Peradilan Arbitrase Dapat Dilaksanakan di mana saja 
Layaknya PN, setiap badan arbitrase pasti memiliki ruang persidangan khusus 
untuk mengadili suatu sengketa. Jika tidak adapun, pintu PN terbuka lebar bagi 
badan arbitrase yang mengajukan pinjaman ruangan pengadilan di lokasi PN. 
Namun terkadang ruangan ini tidak cocok secara lokasi maupun kondisi bagi para 
pihak yang bersengketa. Nah disinilah letak kelebihan forum arbitrase; lokasi 
persidangan bisa ditentukan di tempat lain, seperti di hotel bintang lima sehingga 
lebih kondusif bagi para pihak yang notabene sedang “panas”. Tentunya opsi 
semacam ini dilaksanakan atas biaya para pihak yang bersengketa. 
 
Ketentuan-Ketentuan Lain 
Sayangnya, tidak semua sengketa perdata bisa diselesaikan melalui arbitrase. Ada 
kasus-kasus tertentu yang sudah pasti ditolak oleh badan arbitrase, seperti 
kasus-kasus PMH, kasus Akta Jual Beli (AJB) tanah, kasus perburuhan, kasus 
perceraian dan lain-lain. Namun secara umum, selama sengketa tersebut ada 
perjanjian tertulisnya dan para pihak sepakat untuk diselesaikan melalui 
arbitrase, kasus pasti dapat diterima. Biasanya saya selalu menganjurkan klien 
agar memasukkan klausul arbitrase dalam SEMUA perjanjian. Nantinya kalau 
memang melanggar hukum dan ditolak, otomatis perkara harus diselesaikan 
lewat PN. Jadi untuk amannya dicantumkan klausula arbitrase dulu saja. 
 
Dalam hal arbitrase internasional, prosesnya kurang lebih sama dengan badan 
arbitrase nasional, hanya beda lokasi dan beda bahasa saja. Untuk hasil putusan 
arbitrase internasional yang mengandung putusan eksekusi aset di Indonesia, 
harus dieksekusi dengan persetujuan PN. Hal ini terkadang susah dalam 
pelaksanaannya, terutama bagi putusan-putusan yang (1) melanggar hukum 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 92 out of 94 


prosedural di tanah air, (2) menyangkut kepentingan nasional atau (3) merugikan 
pihak Warga Negara Indonesia (WNI) sehingga tidak ditolak oleh PN karena 
adanya permainan politik. 
 
Terlepas dari kesulitan-kesulitan eksekusi putusan tadi, pihak asing biasanya 
memaksa para pihak untuk memilih forum arbitrase internasional seperti 
Singapore International Arbitration Chamber (SIAC) dikarenakan kurangnya 
kepercayaan terhadap sistem peradilan Indonesia. Sebagai pihak yang beritikad 
baik, sebaiknya pengusaha meminta konsultan hukumnya untuk memberikan 
penjelasan bagi pihak asing mengenai perkara apa saja yang bisa diselesaikan 
melalui SIAC dan mana yang harus melalui BANI atau PN. Jika pihak asing 
bersikukuh untuk memaksakan kehendaknya, maka konsultan hukum anda dapat 
meminta pihak asing untuk membuat surat pernyataan bahwa mereka sudah 
diberi pemahaman dari pihak kita namun tetap memutuskan untuk memilih forum 
arbitrase internasional dan siap untuk menanggung segala akibat hukumnya. 
Dengan adanya surat tersebut, Hakim Arbiter Internasional dan pihak-pihak lain 
tidak dapat memandang anda sebagai pihak yang beritikad buruk dengan 
menyembunyikan kebenaran dan fakta hukum yang berlaku di Indonesia. 
 
 
BRAINTEASER XVI 
Metode penyelesaian sengketa mana yang akan menjadi andalan anda? M&M, 
Mediasi atau Arbitrase? Kenapa anda memilih apa yang anda pilih? 
 
Share your thoughts with us on @dr.contract!
 
 
 
 
 
 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 93 out of 94 


PENUTUP 
 
Bagaimana? ​Apakah buku yang ditulis hanya dalam jangka waktu sebulan ini 
sudah sesuai ekspektasi kalian? Saya dan tim sudah melakukan cek dan ​recheck 
belasan kali untuk memastikan bahwa tidak ada kesalahan format penulisan 
dalam buku ini. Semoga hasilnya tidak mengecewakan. Kalau sampai 
mengecewakan, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya dan mohon berikan 
saya kesempatan untuk memperbaikinya lewat karya-karya saya selanjutnya.  
 
Ingat, ilmu ini sekarang sudah berada di tangan anda. Bagikan dan sebar luaskan 
dengan cara yang sesuai dengan selera anda, selama tidak melanggar kaidah 
umum yang berlaku dan tidak merugikan diri anda sendiri. 
 
Jangan ragu untuk memberi masukan ATAU mengutarakan keinginan untuk 
menggunakan jasa kami melalui email atau DM Instagram. Selama ada waktu, 
pasti saya balas. Selama ini sesibuk apapun saya, belum pernah​ sih​ ada DM masuk 
yang tidak saya balas. Semoga kedepannya bisa terus demikian. 
 
Sekali lagi, saya ingin menegaskan visi dan misi Dr. Contract melalui buku ini. Saya 
ingin melihat bahwa suatu hari semua orang Indonesia punya konsultan hukum. 
Dalam hal ini, tentu saja saya tidak mampu untuk menjadi konsultan hukum 
seantero nusantara; saya membutuhkan partisipasi aktif dari rekan-rekan sejawat 
untuk memperkenalkan hukum dan menjaga harkat serta martabat konsultan 
hukum di tengah-tengah masyarakat. 
 
Sudah ​ah, s​ aya sudah capek ​ngetik.​ Sekarang giliran anda untuk ​ngetik ​saran dan 
komentar anda mengenai buku ini ke saya. ​See you on my next book! 
 
MICHAEL SUGIJANTO, B.A., S.H., M.H. 
Founder of DR. CONTRACT 

The Art of ​ ​CONTRACT DRAFTING 94 out of 94