Anda di halaman 1dari 12

ANALISIS FONEMIK DALAM BAHASA INDONESIA

Disusun oleh :

Kelompok 10
Nurafiqah Yahya (1951041023)
Ridha Nur Nabila (1951042016)
Amanda (1951042028)
Rahmawati (1951041020)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA


DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2019-2020

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan rahmat dan
hidayahNya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk yang
sangat sederhana.

Dalam kelompok ini kami menyadari bahwa dalam menyelesaikan makalah ini tidak
terlepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada
mereka yang telah memberikan dorongan kepada kami serta teman-teman sekelompok yang
telah berjuang dalam proses pembuatan makalah ini dari awal pembuatan hingga selesainya
makalah.

Makalah ini begitu banyak terdapat kekurangan, untuk itu kami mengharapkan kritik
serta saran yang membangun, demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi pengembangan pembelajaran khususnya fonologi.

Makassar, 23 Agustus 2019

Kelompok 10

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................. i

KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii

DAFTAR ISI .......................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang ............................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah .......................................................................................... 1

1.3 Tujuan Penulisan ........................................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................... 3

2.1 Pengertian Analisis Fonemik ......................................................................... 3

2.2 Jangkauan Analisis Fonemik ......................................................................... 5

2.3 Objek yang Dikaji dalam Analisis Fonemik .................................................. 7

BAB III PENUTUP ............................................................................................... 9

3.1 Kesimpulan ................................................................................................................... 9

3.2 Saran ............................................................................................................................. 9

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................ 10

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Bangsa Indonesia terdiri dari bermacam-macam suku bangsa yang masing-masing


memiliki bahasa daerahnya. Bahasa merupakan bagian kebudayaan sehingga bahasa daerah
merupakan bagian yang penting dari kebudayaan Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari
masih banyak masyarakat yang memakai bahasa Indonesia tetapi tuturan atau ucapan
daerahnya terbawa ke dalam tuturan bahasa Indonesia. Tidak sedikit seseorang yang
berbicara dalam bahasa Indonesia, tetapi dengan lafal atau intonasi Jawa, Batak, Bugis,
Sunda dan lain-lain. Hal ini dimungkinkan karena sebagian besar bangsa Indonesia
memposisikan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua. Sedangkan bahasa pertamanya adalah
bahasa daerah masing-masing. Bahasa Indonesia hanya digunakan dalam komunikasi
tertentu, seperti dalam kegiatan-kegiatan resmi.
Selain itu, dalam pembelajaran bahasa Indonesia khususnya di Sekolah-sekolah, istilah
yang dikenal dan lazim digunakan guru adalah istilah “huruf” walaupun yang dimaksud
adalah “fonem”. Mengingat keduanya merupakan istilah yang berbeda, untuk efektifnya
pembelajaran, tentu perlu diadakan penyesuaian dalam segi penerapannya. Oleh karena itu,
untuk mencapai suatu ukuran lafal atau fonem baku dalam bahasa Indonesia, sudah
seharusnya lafal-lafal atau intonasi khas daerah itu dikurangi jika mungkin diusahakan
dihilangkan.
DenganDengan demikian, Fonemik hadir dalam bidang ilmu linguistik untuk
mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi
sebagai makna atau tidak.Sebagai mana diketahui bahwa fonemik sacara fungsional
dipertentangkan dengan fonetik, karena fonemik mengkhususkan perhatianya pada makna
yang ditimbulkan oleh sebuah bunyi bahasa ketika dituturkan sedangkan fonetik hanya
memfokuskan bagaimana bunyi bahasa dapat dituturkan secara benar baik dari segi cara
maupun dari segi tempat artikulasinya.
Dalam bidang fonemik kita akan mempelajari tentang perbedaan makna yang
ditimbulkan oleh perbedaan cara penuturan dalam suatu bunyi bahasa. Hal ini sangat penting
karena dalam pembelajaran bahasa khususnya bahasa Indonesia kita akan dihadapkan pada
berbagai masalah bunyi-bunyi bahasa yang secara sepintas sama akan tetapi sangat berbeda
dari segi makna yang ditimbulkannya.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apa yang dimaksud dengan analisis fonemik?
2. Hal apa saja yang ada dalam jangkauan analisis fonemik?
3. Apa saja objek yang dikaji dalam analisis fonemik?

1.3 TUJUAN
1 Memahami pengertian analisis fonemik.
2 Mengetahui jangkauan analisis fonemik.
3 Mengetahui objek kajian analis fonemik.

1
2

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN ANALISIS FONEMIK

Menurut lingustik Generatif Transformatif dari Chomsky sistem tata bahasa


terbangun dari tiga komponen, yaitu: komponen sintaksis (sistem kalimat), komponen
semantik (sistem makna) dan komponen fonologi (sistem bunyi). Chomsky membagi
kemampuan berbahasa itu menjadi dua bagian, yakni kompetesi (al-Kafa:’ah) dan
performansi (al-Ada:’). Komponen fonologi ini termasuk dalam kemampuan berbahasa
yang kompetensi yaitu kemampuan ideal yang dimiliki oleh seorang penutur.Fonologi
adalah subdisiplin linguistik yang mempelajari bunyi bahasa secara umum, baik yang
mempelajari bunyi bahasa tanpa menghiraukan arti maupun yang tidak. Ilmu bahasa yang
mempelajari bunyi bahasa tanpa menghiraukan arti disebut fonetik. Sedangkan ilmu bahasa
yang mempelajari bunyi bahasa yang membedakan arti disebut fonemik. Hal tersebut
merupakan definisi dari aliran Amerika.

Fonem kita pelajari dalam fonologi. Fonologi merupakan salah satu tataran dalam kajian
linguistik yang mempelajari, menganalisis, dan membahas tuntunan bunyi-bunyi bahasa
Menurut hierarki satuan bunyi yang menjadi objek studinya, fonologi dibagi menjadi dua
bagian yaitu Fonetik dan Fonemik. Secara umum fonetik biasa dijelaskan sebagai cabang
studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi tersebut
sebagai pembeda makna atau tidak. Sedangkan, Fonemik adalah cabang studi fonologi yang
mempelajari bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi tersebut sebagai pembeda makna.

Fonemik adalah ilmu yang mempelajari bunyi bahasa tanpa dengan memperhatikan
apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak.Sebagaimana
diketahui bahwa dibekuk secara fungsional dipertentangkan dengan fonetik,karena
fonemik mengkhususkan perhatiannya pada makna yang ditimbulkan oleh sebuah bunyi
bahasa ketika dituturkan sedangkan fonetik hanya menggunakan bagaimana bunyi bahasa
dapat dituturkan secara benar baik dari segi cara manapun dari segi tempat artikulasinya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, fonem adalah satuan bunyi yang terkecil yang
mampu menunjukkan kontras makna. Fonem juga merupakan sebuah istilah linguistik dan
merupakan satuan terkecil dalam sebuah bahasa terkecil yang masih bias menunjukkan
perbedaan makna. Fonem berbentuk bunyi. Adapun ilmu yang mempelajari tentang fonem
disebut fonemik. Fonemik merupakan bagian dari fonologi.

Fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang dapat membedakan arti. Fonologi ini
khusus mempelajari bunyi bahasa. Untuk mengetahui suatu fonem harus diperlukan
pasangan minimal.

Contoh:
3

harus-arus? /h/ adalah fonem karena membedakan arti kata harus dan arus

Fonem dalam Bahasa Indonesia terdiri atas vokal dan konsonan. Vokal adalah bunyi
ujaran yang tidak mendapatkan rintangan saat mengeluarkan dari paru-paru.

Perubahan fonem Bahasa Indonesia bisa terjadi karena pengucapan bunyi ujaran
memiliki pengaruh timbal baik antara fonem yang satu dengan fonem yang lain.

Dalam bidang fonemik dipelajari tentang perbedaan makna yang ditimbulkan oleh
perbedaan cara penuturan dalam suatu bunyi bahasa. Hal ini sangat penting karena dalam
pembelajaran bahasa khususnya Bahasa Indonesia kita akan dihadapkan pada berbagai
masalah bunyi-bunyi bahasa yang secara sepintas sama akan tetapi sangat berbeda dari
segi makna yang d Fonemik adalah cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa
dengan memperhatikan fungsi bunyi tersebut sebagai pembeda makna. Untuk jelasnya
kalau kita perhatikan baik-baik ternyata bunyi [i] yang terdapat pada kata-kata [intan],
[angin], dan [baik] adalah tidak sama.

Pada dasarnya, setiap kata atau kalimat uang diucapkan manusia itu berupa runtutan
bunyi bahasa. Pengubahan suatu bunyi dalam deretan itu dapat mengakibatkan perubahan
makna. Perubahan makna yang dimaksud bisa berganti makna atau kehilangan makna.

Contoh:

b a b i 'binatang berkaki empat'

p a p i 'sebutan lain untuk ayah'

Pada contoh di atas, kata babi memiliki dua konsonan [b] yang menjadi awal suku
kata pertama dan kedua sedangkan kata papi memiliki konsonan [p] sebagai awal suku
kata pertama dan keduanya. Selain kedua bunyi itu,bunyi lainnnya dan posisi/urutan bunyi
yang lain itu sama. Perbedaan bunyi [b] dan [p] pada posisi/urutan yang sama. Dapat
mengubah makna kata, inilah yang dikaji dalam fonemik.
2.2 JANGKAUAN ANALISIS FONEMIK

Jangkauan analisis fonemik adalah dasar-dasar analisis fonemik yang


merupakan pokok-pokok pikiran yang dipakai sebagai pegangan untuk
menganalisis fonem-fonem suatu bahasa.Pokok –pokok pikiran tentang bunyi
berbentuk pernyataan-pernyataan yang lumrah atau maklum sehingga tidak
perlu dipersoalkan lagi, maka pokok-pokok pikiran itu bisa disebut premis-
premis. Dasar-dasar analisis fonemik adalah berisi pokok-pokok pikiran yang
dipakai

Berikut jangkauan yang di kaji dalam analisis fonemik:

1. Bunyi-bunyi suatu bahasa cenderung dipengaruhi oleh


lingkungannya.
2. Sistem bunyi suatu bahasa cenderung bersifat simetris.
3. Bunyi-bunyi suatu bahasa cenderung berfluktuasi.
4. Bunyi-bunyi yang mempunyai kesamaan fonetis digolongkan tidak
berkontras apabila berdistribusi komplomenter dan/ atau berfariasi
bebas.
5. Bunyi-bunyi yang mempunyai kesamaan fonetis digolongkan ke
dalam fonem yang berbeda apabila berkontras dalam lingkungan
yang sama atau mirip.

Dan berikut penjelasan dari poin-poin di atas:

1. Bunyi-Bunyi Suatu Bahasa Cenderung Dipengaruhi oleh


llingkungannya.

Premis ini bisa dibuktikan dengan deretan bunyi pada kata-kata


bahasa Indonesia berikut:
[nt] pada [tinta] dan [ṇḍ] pada [tuṇḍa]
[mp] pada [mampu] dan [mb] pada [kәmbar]
[ñc] pada [piñcaƞ] dan [ƞg] pada [taƞga]
[ƞk] pada [nanka] dan [ñj] pada [panjaƞ]
Deretan bunyi tersebut saling mempengaruhi dan saling
menyesuaikan demi kemudahan pengucapan. Deretan bunyi tersebut
mempunyai kesamaan fonetis. Bunyi [n], [t], dan [d] sama-sama bunyi
dental, bunyi [m], [p] dan [b] sama-sama bunyi bilabial, bunyi [ñ], [c],
dan [j] sama-sama bunyi palatal, sedangkan bunyi [ƞ], [k], dan [g]
sama-sama bunyi velar.

2. Sistem Bunyi Suatu Bahasa Berkecenderungan Bersifat Simetris

4
5

Kesimetrisan sistem bunyi ini bisa dilihat pada bunyi-bunyi bahasa


Indonesia berikut.Selain ada bunyi hambat bilabial[p]dan [b],juga ada
nasal bilabial[m].Selain ada bunyi hambat dental[t] dan [d],juga ada
bahasa nasal dental [n].Pemikiran pola simetris ini bisa dikembangkan
pada sistem bunyi lain ketika menemukan fonem-fonem yang menyangkut
bunyi-bunyi bahasa yang diteliti,baik pola-pola atau sistem pengucapan
maupun pola-pola atau sistem fonemnya.

3. Bunyi-Bunyi Suatu Bahasa Cenderung Berfluktuasi

Gejala fluktuasi bunyi ini sering dilakukan penutur


bahasa,tetapi dalam batas-batas wajar,yaitu tidak sampai membedakan
makna.
Contoh: Untuk makna yang sama,selain [papaya]juga
diucapkan[pәpaya],selain
[sәkadar] juga diucapkan [sәkәdar].

4. Bunyi-Bunyi yang mempunyai kesamaan fonetis digolongkan tidak


berkontras apabila berdistribusi komplementer dan atau bervariasi
bebas.

Tidak berkontras adalah tidak membedakan makna.bunyi-bunyi


dikatakan berdistribusi komplementer apabila bunyi yang mempunyai
kesamaan fonetis itu saling mengekslusifkan.
Contoh:Bunyi[k]dan [?]adalah bunyi yang mempunyai kesamaan
fonetis.Dalam bahasa indonesia,kedua bunyi itu saling
mengekslusifkan.bunyi [k]tak pernah menduduki posisi[?]dan bunyi[?] tak
pernah menduduki

5. Bunyi-bunyi yang mempunyai kesamaan fonetis digolongkan ke


dalam fonem yang berbeda apabila berkontras dalam lingkungan
yang sama atau mirip.

Mengetahui kontras tidaknya bunyi-bunyi suatu bahasa dilakukan


dengan cara pasangan minimal,yaitu penjajaran dua atau lebih bentuk bahasa
terkecil dan bermakna dalam bahasa tertentu yang secara
ideal(berbunyi)sama,kecuali satu bunyi yang berbeda.
Contoh:[tari] -[dari]
[paku]-[baku]

Untuk memperoleh analisis fonik dari suatu bahasa, penerapan


tempat premis pokok tersebut dilengkapi dengan prosedur yang diusulkan,
yaitu: merekam data, mengasumsikan bahwa data yang direkam dan akan
dianalisis itu sudah lengkap dan tepat,membuat daftar pasangan bunyi yang
dicurigai, akhirnya membuat deskripsi semua bunyi yang ada. Pasangan
bunyi yang dicurigai.
6

/p/ dan /b/

/t/ dan /d/

/i/ dan /l/

/n/ dan /m/ dan /n/

/e/ dan /E/

/o/ dan /O/

Dengan premis dan prosedur yang dimiliki itu fonemik hanya


mendeksripsikan fonem yang ada yang dimiliki oleh bahasa tertentu terhadap
data yang tersedia. Itu pun terbatas pada representasi fonetik yang dapat dia
analogikan dengan struktur akhir dalam bidang sintaksis.

Pada bidang fonemik, bunyi-bunyi yang telah dideskripsikan


tersebut, dianalisis berdasarkan konteks tertentu pada suku kata maupun pada
kata sehingga dapat membedakan arti secara jelas. Untuk mengetahui
perbedaan masing-masing bunyi bahasa yang dituliskan ke dalam
simbol/lambang tersebut harus dibandingkan dengan simbol-simbol yang
lain. Perbandingan ini ada suku kata atau pada kata. Pendeskripsian bunyi-
bunyi yang dapat membedakan arti disebut transkripsi fonemis pada masing-
masing simbol baik fonem, suku kata, maupun kata yang dibatasi tanda /../,
misalnya fonem /r/ berbeda dengan /t/ setelah dipasangkan pada pasangan
minimal berupa kata /hari/ dan /hati/.

2.3. HAL YANG DIKAJI DALAM ANALISIS FONEMIK

Objek kajian fonemik adalah fonem dalam fungsinya sebagai


pembeda makna kata. Jika di dalam fonetik kita meneliti bunyi /l/ dan /r/
yang berbeda seperti terdapat pada kata laba dan raba maka dalam Fonemik
kita meneliti apakah perbedaan bunyi-bunyi itu berfungsi sebagai pembeda
makna atau tidak.

Kajian fonemik ini merupakan kelanjutan dari kajian fonetik, sebab


data-data yang dibutuhkan berasal dari data yang masih mentah yang belum
berfungsi. Data mentah ini dikumpulkan berkat kajian fonetik. Sehingga,
semua bunyi bahasa bisa dibedakan dengan bunyi-bunyi non bahasa. Di
dalam kajian fonemik perlu diperhatikan bahwa satu fonem hendaknya dapat
membedakan dengan fonem yang lain cara yang termudah untuk mengetahui
perbedaan fonem yang dimaksud adalah melalui pasangan minimal. Pasangan
ini sengaja di susun dengan tujuan memilih antara fonem yang satu dengan
fonem yang lain dalam satuan linguistik yang lebih kompleks, misalnya:

kapas dengan kapan


7

panggang dengan panggung

curi dengan juri

Di antara pasangan minimal tersebut dapat kita ketahui daya


pembedanya. Setiap fonem yang diperkirakan sama malah malu mengubah
arti pada struktur fonem dalam kata lainnya. Ternyata fonem /s/, /n/, /a/, /u/,
/k/, /l/, /r/, /s/, /c/, /j/ masing -masing mampu mengubah makna sebuah kata.
Cara semacam i i dalam Fonemik tidak ragu dalam mengatakan satu bunyi
satu arti.

Untuk menentukan sebuah bunyi itu fonem atau bukan, proses


pengkajian harus mencari sebuah kata yang mengandung bunyi tersebut
dilakukan dengan membandingkannya dengan kata lain yang mirip. Jika
proses pengkajian tersebut menemukan perbedaan maka bunyi tersebut
merupakan sebuah fonem. Dasar bukti identitas sebuah fonem adalah apa
yang disebut fungsi pembeda makna yang terkandung dalam satuan bunyi
bahasa. Semisal pembedaan fonem dalam Bahasa Indonesia merupakan
fonem yang berbeda identitas untuk membedakan makna dari kata lupa dan
kata rupa.

Dalam Bahasa Indonesia, secara resmi ada 32 buah fonem, ada yang
terdiri atas:

1. Fonem vokal 6 buah: /a/, /i/, /u/, /e/, /o/


2. Fonem digiring 3 buah : /oy/, /ay/, dan /ou/
3. Fonem konsonan 23 buah : /p/, /b/, /m/, /t/, /d/, /n/, /c/, /j/, /n/, /k/,
/g/, /n/, /y/, /r/, /l/, /w/, s/, /z/, /f/, /h/, /xl/, dan /?/.
8

BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Fonem adalah kesatuan bunyi terkecil suatu bahasa yang befungsi


membedakan makna. Cara mengetahui bahwa kesatuan bunyi terkecil
tersebut berfungsi sebagai pembeda makna, yaitu dengan membandingkan
bentuk-bentuk linguistic bahasa yang diteliti. Pengertian fonem juga bias
diarahkan pada distribusinya, yaitu perilaku bentuk linguistic dalam bentuk
linguistic yang lebih besar. Wujud fonem tidak hanya berupa bunyi-bunyi
segmental (baik vocal maupun konsonan), tetapi bias juga berupa unsur-
unsur suprasegmental (baik nada, tekanan, durasi, maupun jeda). Walaupun
kehadiran unsur supra segmental ini tidak bias dipisahkan dengan bunyi-
bunyi segmental, selama bisa dibuktikan secara empiris sebagai unsur yang
bias membedakan makna.

Dasar- dasar analisis fonemik ini ada lima, antara lain:

1. Bunyi-bunyi suatu bahasa cenderung dipengaruhi oleh


lingkungannya.

2. Sistem bunyi suatu bahasa cenderung bersifat simetris.

3. Bunyi-bunyi suatu bahasa cenderung berfluktuasi.

4. Bunyi-bunyi yag mempunyai kesamaan fonetis digolongkan tidak


berkontras apabila berdistribusi komplomenter dan/ atau berfariasi bebas.

5. Bunyi-bunyi yang mempunai kesamaan fonetis digolongkan ke


dalam fonem yang berbeda apabila berkontras dalam lingkungan yang sama
atau mirip.

3.2 SARAN

Di era globalisasi ini, kita perlu mengkaji bahasa Indonesia sedalam-


dalamnya agar bahasa kita dapat terjaga dari proses westernisasi dll. Adapun
hal yang ingin saya sampaikan yaitu kita sebagai calon pendidik, harus selalu
menggali potensi yang ada pada diri kita. Cara menggali potensi dapat
dilakukan salah satunya dengan cara mempelajari makalah ini. Mudah-
mudahan makalah ini dapat bermanfaat untuk kita ke depannya. Amiin.
9

DAFTAR PUSTAKA

http://blog.unnes.ac.id/ellenyolla/2015/11/19/contoh-makalah-
struktur-fonologi-bahasa-indonesia-2/

Aziz,Abdul.2018.fonologi suatu pengantar.Makassar:Universitas Negeri


Makassar