Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK DAN PENERAPANNYA


DALAM PEMBELAJARAN PAI

Untuk memenuhi tugas mata kuliah Perencanaan dan Desain


Pembelajaran Kelas yang diampu oleh :

M. Lukman Haris, M.Pd

Disusun oleh:

M. Adib Nur Huda (2017.5501.01.04289)

Kelas: 6 – B

PRODI : PAI

FAKULTAS : TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM SUNAN GIRI BOJONEGORO

2020
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN

Dalam Al-Qur’an Surah Al-‘Alaq ayat 1-5 Alloh SWT berfirman yang
artinya : Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah
menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang
tidak diketahuinya.1
Al Qur’an memerintahkan kepada umat manusia untuk belajar, sejak ayat pertama kali
diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Perintah untuk membaca dalam ayat itu disebut
dua kali, perintah kepada Rasulullah SAW. Dan selanjutnya perintah kepada seluruh umat
manusia. Membaca adalah sarana untuk belajar dan kunci ilmu pengetahuan, baik secara
etimologis berupa membaca huruf – huruf yang tertulis dalam buku – buku maupun
terminologis, yakni membaca dalam arti yang lebih luas. Maksudnya, membaca alam semesta
(ayatul-kaun).2 Terminologis kalam disebut dalam ayat itu lebih memperjelas makna hakiki
membaca, yaitu sebagai alat belajar.
Belajar merupakan aktifitas individu yang melakukan belajar, yaitu proses kerja faktor
internal. Belajar adalah proses penyesuaian atau adaptasi melalui asimilasi dan akomodasi
antara stimulasi dengan unit dasar kognisi seseorang. Menurut pandangan psikologi
behavioristik merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang
dianggap telah belajar sesuatu jika yang bersangkutan dapat menunjukkan perubahan
perilakunya. Menurut teori ini yang penting dalam belajar adalah input yang berupa
stimulus dan output yang berupa respon.
Teori behavioristik memandang bahwa belajar adalah mengubah tingkah laku siswa dari
tidak bisa menjadi bisa, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dan tugas guru adalah
mengontrol stimulus dan lingkungan belajar agar perubahan mendekati tujuan yang diinginkan,
dan guru pemberi hadiah siswa yang telah mampu memperlihatkan perubahan bermakna
sedangkan hukuman diberikan kepada siswa yang tidak mampu memperlihatkan perubahan
makna.

1 http://makalahmajannaii.blogspot.com/2012/02/hakikat-pembelajaran-efektif.html

2 http://blog.umy.ac.id/sitirahmahwati/2011/12/01/pembelajaran-efektif-pendekatan-strategi-
metode-teknik-taktik-dan-model-pembelajaran/
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian belajar menurut pandangan teori behavioristik?
2. Bagaimana teori belajar menurut Thorndike, Watson, Clark Hull, Edwin Gutrie dan Skiner?
3. Bagaiamana aplikasi teori belajar behavioristik dalam kegiatan pembelajaran PAI di
sekolah/madrasah?
C. PEMBAHASAN
1. Pengertian belajar menurut pandangan teori behavioristik
Pandangan tentang belajar menurut aliran tingkah laku, tidak lain adalah perubahan
dalam tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respons. Atau dengan kata
lain, belajar adalah perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah
laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respons.[3]
Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap
arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai
aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai
hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan
orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan
menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin
kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respons. Seseorang
dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut
teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa
respons. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pembelajar, sedangkan respon
berupa reaksi atau tanggapan pembelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut.
Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak
dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh
karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pembelajar
(respon) harus dapat diamati dan diukur.
Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu
hal yang penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut. Faktor
lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik ini adalah faktor penguatan
(reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan
semakin kuat. Begitu pula bila penguatan dikurangi/dihilangkan (negative reinforcement)
maka respon juga semakin kuat.[4]
Istilah imbalan (reward) dan penguatan (reinforcement) kerap dianggap sama, namun
setidaknya ada dua alasan mengapa anggapan itu kurang tepat. suatu penguat (reinforcer)
didefinisikan sebagai unconditioned stimulus, yakni setiap stimulus yang menimbulkan reaksi
alamiah dan otomatis dari suatu organisme. Stimulus ini bisa disebut sebagai penguat, namun
sulit untuk dianggap sebagai imbalan, jika imbalan itu dianggap sebagai suatu yang
diinginkan. Penganut Skinnerian juga tidak mau menyamakan penguat dengan imbalan.
Menurut mereka, penguat akan memperkuat setiap perilaku yang secara langsung mendahului
kejadian penguat. Sebaliknya, imbalan biasanya dianggap sebagai sesuatu yang diberikan atau
diterima hanya untuk prestasi yang layak pencapaiannya membutuhkan waktu dan energi, atau
diberikan untuk tindakan yang dianggap diinginkan oleh masyarakat. Lebih jauh, karena
perilaku yang diinginkan itu biasanya sudah lama ada sebelum perilaku tersebut diakui lewat
pemberian imbalan, maka imbalan itu tidak bisa dikatakan memperkuat perilaku itu. Jadi
menurut penganut Skinnerian, penguat akan memperkuat perilaku, namun imbalan tidak.[5]
2. Teori belajar menurut Thorndike, Watson, Clark Hull, Edwin Gutrie, dan Skiner
a. Teori Belajar Menurut Thorndike
Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus
adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal
lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang
dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau
gerakan/tindakan. Jadi perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit,
yaitu yang dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran
behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana
cara mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati.[6]
Teori Thorndike ini disebut pula dengan teori koneksionisme, bentuk paling dasar dari
proses belajar adalah trial-and-error learning (belajar dengan uji coba), atau yang disebutnya
sebagai selecting and connecting (pemilihan dan pengaitan). Dia mendapatkan ide dasar ini
melalui eksperimen awalnya, dengan memasukkan hewan ke dalam perangkat yang telah ditata
sedemikian rupa sehingga ketika hewan itu melakukan jenis respon tertentu ia bisa keluar dari
perangkat itu.
Waktu yang dibutuhkan hewan untuk memecahkan problem sebagai fungsi dari jumlah
kesempatan yang harus dimiliki hewan untuk memecahkna problem.Setiap kesempatan adalah
usaha coba-coba, dan upaya percobaan berhenti saat si hewan mendapatkan solusi yang
benar.Dengan mencatat penurunan gradual dalam waktu untuk mendapatkan solusi
(membebaskan diri) sebagai fungsi percobaan suksesif (kesempatan untuk membebaskan diri),
Dengan kata lain, belajar dilakukan dalam langkah-langkah kecil yang sistematis, bukan
langsung melompat ke pengertian yang mendalam.
Thorndike menolak campur tangan nalar dalam belajar dan ia lebih mendukung tindakan
seleksi langsung dan pengaitan dalam belajar. Penentangan terhadap arti penting nalar dan ide
dalam belajar ini menjadi awal dari apa yang kemudian menjadi gerakan behavioristik di
Amerika Serikat. Banyak orang yang terganggu oleh pandangan Thorndike bahwa semua
proses belajar adalah langsung dan tidak dimediasi oleh ide-ide, dan juga terutama karena dia
juga menegaskan bahwa proses belajar semua mamalia, termasuk manusia, mengikuti kaidah
yang sama. Menurut Thorndike, tidak ada proses khusus yang perlu dipostulatkan dalam
rangka menjelaskan proses belajar manusia.[7]
b. Teori Belajar Menurut Watson
Menurut Watson, Belajar sebagai proses interaksi antara stimulus dan respon, namun
stimulus dan respon yang dimaksud harus dapat diamati (observable) dan dapat diukur. Jadi
walaupun dia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama
proses belajar, namun dia menganggap faktor tersebut sebagai hal yang tidak perlu
diperhitungkan karena tidak dapat diamati. Watson adalah seorang behavioris murni, karena
kajiannya tentang belajar disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperi Fisika atau Biologi yang
sangat berorientasi pada pengalaman empirik semata, yaitu sejauh mana dapat diamati dan
diukur.
c. Teori Belajar Menurut Clark Hull
Menurut Clark Hull, Belajar merupakan perubahan tingkah laku melalui kekuatan
kebiasaan. Dalam teori Hull mengatakan bahwa kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan
biologis adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia,
sehingga stimulus dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis,
walaupun respon yang akan muncul mungkin dapat bermacam-macam bentuknya.
Clark Hull juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respon untuk
menjelaskan pengertian belajar.Namun dia sangat terpengaruh oleh teori evolusi Charles
Darwin. Bagi Hull, seperti halnya teori evolusi, semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama
untuk menjaga agar organisme tetap bertahan hidup. Oleh sebab itu Hull mengatakan
kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan biologis adalah penting dan menempati posisi
sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus (stimulus dorongan) dalam
belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang akan
muncul mungkin dapat berwujud macam-macam.
d. Teori Belajar Menurut Edwin Guthrie
Edwin Guthrie mengemukakan teori kontiguiti yang memandang bahwa belajar
merupakan kaitan asosiatif antara stimulus tertentu dan respon tertentu.Guthrie juga
menggunakan variabel hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses
belajar. Belajar terjadi karena gerakan terakhir yang dilakukan mengubah situasi stimulus
sedangkan tidak ada respon lain yang dapat terjadi. Penguatan sekedar hanya melindungi hasil
belajar yang baru agar tidak hilang dengan jalan mencegah perolehan respon yang
baru.Hubungan antara stimulus dan respon bersifat sementara, oleh karenanya dalam kegiatan
belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberi stimulus agar hubungan stimulus dan
respon bersifat lebih kuat dan menetap.hukuman (punishment) memegang peranan penting
dalam proses belajar, hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu mengubah
tingkah laku seseorang. Saran utama dari teori ini adalah guru harus dapat mengasosiasi
stimulus respon secara tepat, siswa harus dibimbing melakukan apa yang harus dipelajari,
dalam mengelola kelas guru tidak boleh memberikan tugas yang mungkin diabaikan oleh
anak.[8]
Konsep yang dikemukakan oleh Guthrie ini berisi makna bahwa belajarpada diri siswa
terjadi tidak harus mengulang-ulang urutan antara hubungan stimulus dengan respons, serta
tidak memerlukan adanya hadiah. Dia menyatakanbahwa belajar itu akan terjadi oleh karena
adanya contiguity (hubungan kontak
antara stimulus dengan respons). Tidak menjadi soal apakah respons didapatselama latihan
dengan stimulus atau dengan cara lain, sepanjang stimulusdan respons terjadi secara bersama-
sama, maka belajar itu terjadi.[9]
e. Teori Belajar Menurut Skiner
Konsep yang dikemukakan Skinner tentang belajar lebih mengungguli konsep para
tokoh sebelumnya.Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana, namun lebih
komprehensif. Menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui
interaksi dengan lingkungannya, yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku,
tidaklah sesederhana yang dikemukakan oleh tokoh tokoh sebelumnya. Menurutnya respon
yang diterima seseorang tidak sesederhana itu, karena stimulus-stimulus yang diberikan akan
saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus itu akan mempengaruhi respon yang dihasilkan,
respon yang diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi yang nantinya mempengaruhi
munculnya perilaku. Oleh karena itu dalam memahami tingkah laku seseorang secara benar
harus memahami hubungan antara stimulus yang satu dengan lainnya, serta memahami konsep
yang mungkin dimunculkan dan berbagai konsekuaensi yang mungkin timbul akibat respon
tersebut, dengan menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan
tingkah laku hanya akan menambah rumitnya masalah. Sebab setiap alat yang digunakan perlu
penjelasan lagi, demikian seterusnya.[10]
3. Aplikasi teori belajar behavioristik dalam kegiatan pembelajaran PAI di
sekolah/madrasah
Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar,
dengan model hubungan stimulus responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai
individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode drill atau
pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan reinforcement dan
akan menghilang bila dikenai hukuman.
Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal
seperti: tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik pelajar, media Dan fasilitas
pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori behavioristik
memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah
terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar
adalah memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) ke orang yang belajar, siswa
diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan.
Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid.
Demikian halnya dalam pembelajaran, Siswa dianggap sebagai objek pasif yang selalu
membutuhkan motivasi dan penguatan dari pendidik. Oleh karena itu, para pendidik
mengembangkan kurikulum yang terstruktur dengan menggunakan standar-standar tertentu
dalam proses pembelajaran yang harus dicapai oleh para siswa. Begitu juga dalam proses
evaluasi belajar pembelajar diukur hanya pada hal-hal yang nyata dan dapat diamati sehingga
hal-hal yang bersifat tidak teramati kurang dijangkau dalam proses evaluasi. Implikasi dari
teori behavioristik dalam proses pembelajaran dirasakan kurang memberikan ruang gerak yang
bebas bagi siswa untuk berkreasi, bereksperimentasi dan mengembangkan kemampuannya
sendiri. Karena sistem pembelajaran tersebut bersifat otomatis-mekanis dalam
menghubungkan stimulus dan respon sehingga terkesan seperti kinerja mesin atau
robot.Akibatnya siswa kurang mampu untuk berkembang sesuai dengan potensi yang ada pada
diri mereka.Pembiasaan dan disiplin menjadi sangat esensial dalam belajar, sehingga
pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan disiplin.Kegagalan atau
ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu
dihukum dan keberhasilan belajar atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku
yang pantas diberi hadiah.
Evaluasi hasil belajar menuntut jawaban yang benar.Maksudnya bila siswa menjawab
secara benar sesuai dengan keinginan guru, hal ini menunjukkan bahwa siswa telah
menyelesaikan tugas belajarnya.Teori ini menekankan evaluasi pada kemampuan pembelajar
secara individual. Langkah-langkah pembelajarannya meliputi:
a. Menentukan tujuan-tujaun pembelajaran.
b. Menganalisis lingkungan kelas yang ada
c. Menentukan materi pembelajaran
d. Memecah materi pelajaran menjadi kecil-kecil
e. Menyajikan materi pelajaran
f. Memberikan stimulus
g. Mengamati dan mengkaji respons yang diberikan siswa
h. Memberikan penguatan ataupun hukuman
i. Memberikan stimulus baru
j. Mengamati dan mengkaji respons yang diberikan siswa
k. Memberikan penguatan lanjutan atau hukuman
l. Demikian seterusnya
m. Evaluasi hasil belajar[11]
Bahwa perilaku manusia selalu dikendalikan oleh faktor luar (faktor lingkungan,
rangsangan, dan stimulus). Dilanjutkan bahwa dengan memberikan ganjaran positif, suatu
perilaku akan ditumbuhkan dan dikembangkan. Sebaliknya, jika diberikan ganjaran negatif
suatu perilaku akan dihambat.[12] Dalam situasi belajar PAI, hukuman dapat mengatasi
tingkah laku yang tidak diinginkan dalam waktu singkat, untuk itu perlu disertai dengan
reinforcement langsung. Hukuman menunjukkan apa yang tidak boleh dilakukan oleh murid.
Sedangkan reward menunjukkan apa yang mesti dilakukan oleh murid. Sebagai contoh murid
yang tidak menghafalkan pelajaran Qur’an Hadits selalu disuruh berdiri didepan kelas oleh
gurunya. Sebaliknya jika ia sudah hafal maka ia disuruh duduk kembali dan dipuji oleh
gurunya. Lama-kelamaan anak itu belajar menghafal setiap pelajaran Qur’an Hadits.

4. Desain pembelajaran berbasis teori belajar behavioristik


Istilah pengembangan sistem instruksional (instructional system development) dan
desain instruksional (instructional design) sering dianggap sama, atau setidak-tidaknya tidak
dibedakan secara tegas dalam penggunaannya, meskipun menurut arti katanya ada perbedaan
antara desain dan pengembangan. Kata desain berarti membuat sketsa atau pola atau outline
atau rencana pendahuluan. Sedang pengembangan berarti membuat tumbuh secara teratur
untuk menjadikan sesuatu lebih besar, lebih baik, lebih efektif dan sebagainya.[13]
Desain pembelajaran adalah keseluruhan proses analisis kebutuhan dan tujuan belajar
serta pengembangan teknik mengajar dan materi pengajarannya untuk memenuhi kebutuhan
tersebut. Termasuk di dalamnya adalah pengembangan paket pembelajaran, kegiatan mengajar,
uji coba, revisi dan kegiatan mengevaluasi hasil belajar.[14]
Desain pembelajaran berhubungan dengan pemahaman, perbaikan, dan penerapan
metode-metode pembelajaran. Desain pembelajaran merupakan proses penentuan metode
pembelajaran yang tepat untuk menghasilkan perubahan yang diinginkan dalam diri siswa yang
berkaitan dengan pengetahuan dang keterampilan sesuai dengan isi pembelajaran dan siswa
tertentu.
Teori behaviorisme yang menekankan adanya hubungan antara stimulus(S) dengan
respons (R) secara umum dapat dikatakan memiliki arti yang pentingbagi siswa untuk meraih
keberhasilan belajar. Caranya, guru banyak memberikanstimulus dalam proses pembelajaran,
dan dengan cara ini siswa akan meresponssecara positif apa lagi jika diikuti dengan adanya
reward yang berfungsi sebagai
reinforcement (penguatan terhadap respons yang telah ditunjukkan).
Beberapa prinsip umum yang harus diperhatikan, yaitu :
a) Teori ini beranggapan bahwa yang dinamakan belajar adalah perubahan
tingkah laku, seseorang dikatakan telah belajar sesuatu jika yang
bersangkutan dapat menunjukkan perubahan tingkah laku tertentu.
b) Teori ini beranggapan bahwa yang terpenting dalam belajar adalah adanyastimulus dan
respon, sebab inilah yang dapat diamati. Sedangkan apa yang terjadi di antaranya dianggap
tidak penting karena tidak dapat diamati.
c) Reinforcement, yakni apa saja yang dapat menguatkan timbulnya respon,merupakan faktor
penting dalam belajar. Agar guru dapat mendeteksi atau menyimpulkan bahwa proses
pembelajaran itu telah berhasil, maka harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1) Guru hendaknya paham tentang jenis stimulus apa yang tepat untuk diberikan kepada siswa.
2) Guru mengerti jenis respons apa yang akan muncul pada diri siswa.
3) Untuk mengetahui apakah respons yang ditunjukkan siswa ini benar-benar sesuai dengan apa
yang diharapkan, maka guru harus mampu :
Ø Menetapkan bahwa respons itu dapat diamati (observable)
Ø Respons yang ditunjukkan oleh siswa dapat pula diukur (measurable)
Respons yang diperlihatkan siswa hendaknya dapat dinyatakan secara eksplisit atau
jelas kebermaknaannya (eksplisit).[15] Agar respons itu dapat senantiasa terus terjadi atau setia
dalam ingatan/tingkah laku siswa, maka diperlukan sekali adanya semacam hadiah (reward).

D. KESIMPULAN
1. Istilah imbalan (reward) dan penguatan (reinforcement) kerap dianggap sama, namun
setidaknya ada dua alasan mengapa anggapan itu kurang tepat. suatu penguat (reinforcer)
didefinisikan sebagai unconditioned stimulus, yakni setiap stimulus yang menimbulkan reaksi
alamiah dan otomatis dari suatu organisme. Stimulus ini bisa disebut sebagai penguat, namun
sulit untuk dianggap sebagai imbalan, jika imbalan itu dianggap sebagai suatu yang
diinginkan. Penganut Skinnerian juga tidak mau menyamakan penguat dengan imbalan.
Menurut mereka, penguat akan memperkuat setiap perilaku yang secara langsung mendahului
kejadian penguat. Sebaliknya, imbalan biasanya dianggap sebagai sesuatu yang diberikan atau
diterima hanya untuk prestasi yang layak pencapaiannya membutuhkan waktu dan energi, atau
diberikan untuk tindakan yang dianggap diinginkan oleh masyarakat. Lebih jauh, karena
perilaku yang diinginkan itu biasanya sudah lama ada sebelum perilaku tersebut diakui lewat
pemberian imbalan, maka imbalan itu tidak bisa dikatakan memperkuat perilaku itu. Jadi
menurut penganut Skinnerian, penguat akan memperkuat perilaku, namun imbalan tidak.
2. Teori Behavioristik menurut beberapa Pakar.
a. Menurut Thorndike, perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit,
yaitu yang dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran
behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana
cara mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati.
b. Menurut Watson, Belajar sebagai proses interaksi antara stimulus dan respon, namun
stimulus dan respon yang dimaksud harus dapat diamati (observable) dan dapat diukur. Jadi
walaupun dia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama
proses belajar, namun dia menganggap faktor tersebut sebagai hal yang tidak perlu
diperhitungkan karena tidak dapat diamati.
c. Menurut Clark Hull, Belajar merupakan perubahan tingkah laku melalui kekuatan kebiasaan.
Dalam teori Hull mengatakan bahwa kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan biologis
adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga
stimulus dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun
respon yang akan muncul mungkin dapat bermacam-macam bentuknya.
d. Menurut Skinner dalam memahami tingkah laku seseorang secara benar harus memahami
hubungan antara stimulus yang satu dengan lainnya, serta memahami konsep yang mungkin
dimunculkan dan berbagai konsekuaensi yang mungkin timbul akibat respon tersebut, dengan
menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya
akan menambah rumitnya masalah.
3. Dalam situasi belajar PAI, hukuman dapat mengatasi tingkah laku yang tidak diinginkan
dalam waktu singkat, untuk itu perlu disertai dengan reinforcement langsung. Hukuman
menunjukkan apa yang
DAFTAR PUSTAKA
Djamarah, Syaiful Bahri . Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif (Jakarta: Rineka Cipta, 1994)
Djiwandono, Sri Esti Wuryani, Psikologi Pendidikan (Jakarta: PT Grasindo, 2002)
Hamalik, Oemar. 2002. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta : PT. Bumi Aksara.
Mulyasa, E., Menjadi kepala sekolah profesional: dalam konteks menyukseskan MBS dan KBK (Bandung
: Remaja Rosdakarya, 2003)
Nawawi, Hadari, Organisasi Sekolah dan Pengelolaaan Kelas sebagai Lembaga Pendidikan (Jakarta:
Haji Masagung, 1989)
Prayitno, Dasar teori dan praksis Pendidikan (Jakarta: Grasindo, 2009)
Purwanto, Ngalim, Psikologi pendidikan remaja (Bandung: Remaja Rosda Karya,1996)
Rosyada, Dede, Paradigma Pendidikan Demokratis: sebuah Model Pelibatan Masyarakat dalam
Penyelenggaraan Pendidikan (Jakarta: Prenada Media, 2004)
Santrock, John W., educational Psychology, Terj.Tri wibowo B.S, Psikologi Pendidikan (Jakarta:
Prenada Media Group, 2008
Slameto, Belajar dan Faktor - Faktor Belajar yang Mempengaruhi (Jakarta: rineka cipta, 1995)
Soemanto, Wasty. Psikologi Pendidikan : Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan (Edisi Baru). Jakarta :
PT Rineka Cipta, 1998
Tim Pengembang Ilmu Pendidikan, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan (Jakarta: PT. Imtima, 2007) cet.11
Suherman, Strategi Belajar Efektif (Universitas Pendidikan Indonesia: http://file.upi.edu/Direktori/FIP/
SUHERMAN/BIMB_BELAJAR_EFEKTIF)
http://makalahmajannaii.blogspot.com/2012/02/hakikat-pembelajaran-efektif.html
http://blog.umy.ac.id/sitirahmahwati/2011/12/01/pembelajaran-efektif-pendekatan-strategi-metode-
teknik-taktik-dan-model-pembelajaran/
http://zaifbio.wordpress.com/2010/01/14/konsep-dasar-strategi-pembelajaran-3/