Anda di halaman 1dari 13

TUGAS PELAYANAN KEFARMASIAN

(UU 72 tahun 2016 TENTANG STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI


RUMAH SAKIT), NARKOTIKA DAN PSIKOTROPIK

NAMA : RAZAN MAHDA LINA


NPM : 1943700128
KELAS : PAGI C

PROFESI APOTEKER FAKULTAS FARMASI


UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945
JAKARTA
2019
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 72 TAHUN
2016
TENTANG STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI RUMAH SAKIT

Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit meliputi standar :


a. Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai; dan
b. Pelayanan farmasi klinik.

 Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
a. pemilihan; f. pendistribusian;
b. perencanaan kebutuhan; g. pemusnahan dan penarikan;
c. pengadaan; h. pengendalian; dan
d. penerimaan; i. administrasi.
e. penyimpanan;

 Pelayanan farmasi klinik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi:
a. pengkajian dan pelayanan Resep;
b. penelusuran riwayat penggunaan Obat;
c. rekonsiliasi Obat;
d. Pelayanan Informasi Obat (PIO);
e. konseling;
f. visite;
g. Pemantauan Terapi Obat (PTO);
h. Monitoring Efek Samping Obat (MESO);
i. Evaluasi Penggunaan Obat (EPO);
j. dispensing sediaan steril; dan
k. Pemantauan Kadar Obat dalam Darah (PKOD).
I. OBAT LASA dan High Alert
Rumah Sakit harus menyusun kebijakan terkait manajemen pengunaan Obat yang efektif.
Kebijakan tersebut harus ditinjau ulang sekurang- kurangnya sekali setahun. Peninjauan ulang
sangat membantu Rumah Sakit memahami kebutuhan dan prioritas dari perbaikan sistem mutu
dan keselamatan penggunaan Obat yang berkelanjutan.
Rumah Sakit perlu mengembangkan kebijakan pengelolaan Obat untuk meningkatkan
keamanan, khususnya Obat yang perlu diwaspadai (high- alert medication). High-alert
medication adalah Obat yang harus diwaspadai karena sering menyebabkan terjadi
kesalahan/kesalahan serius (sentinel event) dan Obat yang berisiko tinggi menyebabkan Reaksi
Obat yang Tidak Diinginkan (ROTD). Kelompok Obat high-alert diantaranya:
1. Obat yang terlihat mirip dan kedengarannya mirip (Nama Obat Rupa dan Ucapan
Mirip/NORUM, atau Look Alike Sound Alike/LASA).
2. Elektrolit konsentrasi tinggi (misalnya kalium klorida 2meq/ml atau yang lebih pekat,
kalium fosfat, natrium klorida lebih pekat dari 0,9%, dan magnesium sulfat =50% atau
lebih pekat).
3. Obat-Obat sitostatika.
Terkait Penyimpanannya :
Elektrolit konsentrasi tinggi tidak disimpan di unit perawatan kecuali untuk kebutuhan klinis
yang penting. Elektrolit konsentrasi tinggi yang disimpan pada unit perawatan pasien
dilengkapi dengan pengaman, harus diberi label yang jelas dan disimpan pada area yang
dibatasi ketat (restricted) untuk mencegah penatalaksanaan yang kurang hati-hati.
(LASA, Look Alike Sound Alike) tidak ditempatkan berdekatan dan harus diberi penandaan
khusus untuk mencegah terjadinya kesalahan pengambilan Obat.

II. Formularium Rumah Sakit


Formularium Rumah Sakit disusun mengacu kepada Formularium Nasional. Formularium
Rumah Sakit merupakan daftar Obat yang disepakati staf medis, disusun oleh Komite/Tim
Farmasi dan Terapi yang ditetapkan oleh Pimpinan Rumah Sakit.
Formularium Rumah Sakit harus tersedia untuk semua penulis Resep, pemberi Obat, dan
penyedia Obat di Rumah Sakit. Evaluasi terhadap Formularium Rumah Sakit harus secara rutin
dan dilakukan revisi sesuai kebijakan dan kebutuhan Rumah Sakit.
Penyusunan dan revisi Formularium Rumah Sakit dikembangkan berdasarkan pertimbangan
terapetik dan ekonomi dari penggunaan Obat agar dihasilkan Formularium Rumah Sakit yang
selalu mutakhir dan dapat memenuhi kebutuhan pengobatan yang rasional.
Tahapan proses penyusunan Formularium Rumah Sakit:
a) Membuat rekapitulasi usulan Obat dari masing-masing Staf Medik Fungsional (SMF)
berdasarkan standar terapi atau standar pelayanan medik;
b) Mengelompokkan usulan Obat berdasarkan kelas terapi;
c) Membahas usulan tersebut dalam rapat Komite/Tim Farmasi dan Terapi, jika
diperlukan dapat meminta masukan dari pakar;
d) Mengembalikan rancangan hasil pembahasan Komite/Tim
Farmasi dan Terapi, dikembalikan ke masing-masing SMF untuk mendapatkan umpan balik;
e. Membahas hasil umpan balik dari masing-masing SMF;
f. Menetapkan daftar Obat yang masuk ke dalam Formularium Rumah Sakit;
g. Menyusun kebijakan dan pedoman untuk implementasi; dan
h. Melakukan edukasi mengenai Formularium Rumah Sakit kepada staf dan melakukan
monitoring.
Kriteria pemilihan Obat untuk masuk Formularium Rumah Sakit:
a) mengutamakan penggunaan Obat generik;
b) memiliki rasio manfaat-risiko (benefit-risk ratio) yang paling menguntungkan
penderita;
c) mutu terjamin, termasuk stabilitas dan bioavailabilitas;
d) praktis dalam penyimpanan dan pengangkutan;
e) praktis dalam penggunaan dan penyerahan;
f) menguntungkan dalam hal kepatuhan dan penerimaan oleh pasien;
g) memiliki rasio manfaat-biaya (benefit-cost ratio) yang tertinggi berdasarkan biaya
langsung dan tidak lansung; dan
h) Obat lain yang terbukti paling efektif secara ilmiah danaman (evidence based
medicines) yang paling dibutuhkan untuk pelayanan dengan harga yang terjangkau.
Dalam rangka meningkatkan kepatuhan terhadap formularium Rumah Sakit, maka Rumah
Sakit harus mempunyai kebijakan terkait dengan penambahan atau pengurangan Obat dalam
Formularium Rumah Sakit dengan mempertimbangkan indikasi penggunaaan, efektivitas,
risiko, dan biaya.

III. Pemusnahan dan Penarikan (Recall Product) Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai
Pemusnahan dan penarikan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai yang tidak dapat digunakan harus dilaksanakan dengan cara yang sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Penarikan sediaan farmasi yang tidak memenuhi standar/ketentuan peraturan perundang-
undangan dilakukan oleh pemilik izin edar berdasarkan perintah penarikan oleh BPOM
(mandatory recall) atau berdasarkan inisiasi sukarela oleh pemilik izin edar (voluntary recall)
dengan tetap memberikan laporan kepada Kepala BPOM.
Penarikan Alat Kesehatan dan Bahan Medis Habis Pakai dilakukan terhadap produk yang
izin edarnya dicabut oleh Menteri. Pemusnahan dilakukan untuk Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai bila:
a. produk tidak memenuhi persyaratan mutu;
b. telah kadaluwarsa;
c. tidak memenuhi syarat untuk dipergunakan dalam pelayanan kesehatan atau
kepentingan ilmu pengetahuan; dan/atau
d. dicabut izin edarnya.
Tahapan pemusnahan terdiri dari:
a) membuat daftar Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang
akan dimusnahkan;
b) menyiapkan Berita Acara Pemusnahan;
c) mengoordinasikan jadwal, metode dan tempat pemusnahan kepada pihak terkait;
d) menyiapkan tempat pemusnahan; dan
e) melakukan pemusnahan disesuaikan dengan jenis dan bentuk sediaan serta peraturan
yang berlaku.

IV. Komite/Tim Farmasi dan Terapi


Dalam pengorganisasian Rumah Sakit dibentuk Komite/Tim Farmasi dan Terapi yang
merupakan unit kerja dalam memberikan rekomendasi kepada pimpinan Rumah Sakit
mengenai kebijakan penggunaan Obat di Rumah Sakit yang anggotanya terdiri dari dokter yang
mewakili semua spesialisasi yang ada di Rumah Sakit, Apoteker Instalasi Farmasi, serta tenaga
kesehatan lainnya apabila diperlukan.Komite/Tim Farmasi dan Terapi harus dapat membina
hubungan kerja dengan komite lain di dalam Rumah Sakit yang berhubungan/berkaitan dengan
penggunaan Obat.
Komite/Tim Farmasi dan Terapi dapat diketuai oleh seorang dokter atau seorang Apoteker,
apabila diketuai oleh dokter maka sekretarisnya adalah Apoteker, namun apabila diketuai oleh
Apoteker, maka sekretarisnya adalah dokter. Komite/Tim Farmasi dan Terapi harus
mengadakan rapat secara teratur, sedikitnya 2 (dua) bulan sekali dan untuk Rumah Sakit besar
rapat diadakan sekali dalam satu bulan. Rapat Komite/Tim Farmasi dan Terapi dapat
mengundang pakar dari dalam maupun dari luar Rumah Sakit yang dapat memberikan masukan
bagi pengelolaan Komite/Tim Farmasi dan Terapi, memiliki pengetahuan khusus, keahlian-
keahlian atau pendapat tertentu yang bermanfaat bagi Komite/Tim Farmasi dan Terapi.
Komite/Tim Farmasi dan Terapi mempunyai tugas:
1. Mengembangkan kebijakan tentang penggunaan Obat di Rumah Sakit;
2. Melakukan seleksi dan evaluasi Obat yang akan masuk dalam formularium Rumah
Sakit;
3. Mengembangkan standar terapi;
4. Mengidentifikasi permasalahan dalam penggunaan Obat;
5. Melakukan intervensi dalam meningkatkan penggunaan Obat yang rasional;
6. Mengkoordinir penatalaksanaan Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki;
7. Mengkoordinir penatalaksanaan medication error;
8. Menyebarluaskan informasi terkait kebijakan penggunaan Obat di Rumah Sakit.

Komite/Tim lain yang terkait Peran Apoteker dalam Komite/Tim lain yang terkait
penggunaan Obat di Rumah Sakit antara lain:
1. Pengendalian Infeksi Rumah Sakit;
2. Keselamatan Pasien Rumah Sakit;
3. Mutu Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit;
4. Perawatan paliatif dan bebas nyeri;
5. Penanggulangan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndromes);
6. Direct Observed Treatment Shortcourse (DOTS);
7. Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA);
8. Transplantasi;
9. PKMRS; atau
10. Terapi Rumatan Metadon.

V. PSIKOTROPIKA (uu 5 thn 1997 tentang psikotropika)

Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang
berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan
perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Psikotropika hanya dapat diproduksi oleh
pabrik obat yang telah memiliki izin sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
 Jenis -jenis psikotropika
a. psikotropika golongan I;
b. psikotropika golongan II;
c. psikotropika golongan III;
d. psikotropika golongan IV.

 Penyaluran psikotropika hanya dapat dilakukan oleh :


a. Pabrik obat kepada pedagang besar farmasi, apotek, sarana penyimpanan sediaan
farmasi Pemerintah, rumah sakit, dan lembaga penelitian dan/atau lembaga
pendidikan.
b. Pedagang besar farmasi kepada pedagang besar farmasi lain-nya, apotek, sarana
penyimpanan sediaan farmasi Pemerintah, rumah sakit, dan lembaga penelitian
dan/atau lembaga pendidikan.
c. Sarana penyimpanan sediaan farmasi Pemerintah kepada rumah sakit Pemerintah,
puskesmas dan balai pengobatan Pemerintah.
 Penyerahan
(1) Penyerahan psikotropika dalam rangka peredaran sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 8 hanya dapat dilakukan oleh apotek, rumah sakit, puskesmas, balai
pengobatan, dan dokter.
(2) Penyerahan psikotropika oleh apotek hanya dapat dilakukan kepa-da apotek lainnya,
rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan, dokter dan kepada pengguna/pasien.
(3) Penyerahan psikotropika oleh rumah sakit, balai pengobatan, puskesmas
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan kepada
pengguna/pasien.
(4) Penyerahan psikotropika oleh apotek, rumah sakit, puskesmas, dan balai pengobatan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berdasarkan resep dokter.
(5) Penyerahan psikotropika oleh dokter sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
dilaksanakan dalam hal :
a. menjalankan praktik terapi dan diberikan melalui suntikan;
b. menolong orang sakit dalam keadaan darurat;
c. menjalankan tugas di daerah terpencil yang tidak ada apotek.

(6) Psikotropika yang diserahkan dokter sebagaimana dimaksud pada ayat (5) hanya
dapat diperoleh dari apotek.

 Kebutuhan Tahunan dan Pelaporan


(1) Pabrik obat, pedagang besar farmasi, sarana penyimpanan sediaan
farmasPemerintah, apotek, rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan, dokter,
lembaga penelitian dan/atau lembaga pendidikan, wajib membuat dan menyimpan
catatan mengenai kegiatan masing-masing yang berhubungan dengan psikotropika.
4) Menteri melakukan pengawasan dan pemeriksaan atas pelaksanaan pembuatan dan
penyimpanan catatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

 Penggunaan Psikotropik
(1) Pengguna psikotropika hanya dapat memiliki, menyimpan, dan/ atau membawa
psikotropika untuk digunakan dalam rangka pengobatan dan/atau perawatan.
(2) Pengguna psikotropika sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mempunyai
bukti bahwa HOGVWO1234567299 dimiliki, disim-pan, dan/atau dibawa untuk
digunakan, diperoleh secara sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (2),
ayat (3), ayat (4), dan ayat (5).
Pemilikan psikotropika dalam jumlah tertentu oleh wisatawan asing atau
warga negara asing yang memasuki wilayah negara Indonesia dapat dilakukan
sepanjang digunakan hanya untuk pengobatan dan/atau kepentingan pribadi dan
yang bersangkutan harus mempunyai bukti bahwa psikotropika berupa obat
dimaksud diperoleh secara sah.

VI. NARKOTIKA (uu 36 thn 2009 tentang narkotika)


Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik
sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan
kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat
menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam golongangolongan sebagaimana
terlampir dalam Undang-Undang ini.
 Penggolongan Narkotika
a. Narkotika Golongan I;
b. Narkotika Golongan II; dan
c. Narkotika Golongan III.

 Penyimpanan dan Pelaporan


(1)sediaan farmasi pemerintah, apotek, rumah sakit, pusat kesehatan masyarakat, balai
pengobatan, dokter, dan lembaga ilmu pengetahuan wajib disimpan secara khusus.
(2) Industri Farmasi, pedagang besar farmasi, sarana penyimpanan sediaan farmasi
pemerintah, apotek, rumah sakit, pusat kesehatan masyarakat, balai pengobatan,
dokter, dan lembaga ilmu pengetahuan wajib membuat, menyampaikan, dan
menyimpan laporan berkala mengenai pemasukan dan/atau pengeluaran Narkotika
yang berada dalam penguasaannya.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyimpanan secara khusus
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan jangka waktu, bentuk, isi, dan tata cara
pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri.
(4) Pelanggaran terhadap ketentuan mengenai penyimpanan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dan/atau ketentuan mengenai pelaporan sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) dikenai sanksi administratif oleh Menteri atas rekomendasi dari Kepala
Badan Pengawas Obat dan
Makanan berupa:
a. teguran;
b. peringatan;
c. denda administratif;
d. penghentian sementara kegiatan; atau
e. pencabutan izin.
 Izin Khusus dan Surat Persetujuan Impor
(1) Menteri memberi izin kepada 1 (satu) perusahaan pedagang besar farmasi milik
negara yang telah memiliki izin sebagai importir sesuai dengan ketentuan
peraturan
perundang-undangan untuk melaksanakan impor Narkotika.
(2)Dalam keadaan tertentu, Menteri dapat memberi izin kepada perusahaan lain
dari perusahaan milik negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang
memiliki izin sebagai importir sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan untuk melaksanakan impor Narkotika.
 Penyaluran
a. pedagang besar farmasi tertentu;
b. apotek;
c. sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah
tertentu; dan
e. rumah sakit.

Sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah tertentu hanya dapat


menyalurkan Narkotika kepada:
a. rumah sakit pemerintah;
b. pusat kesehatan masyarakat; dan
c. balai pengobatan pemerintah tertentu.
 Penyerahan
(1) Penyerahan Narkotika hanya dapat dilakukan oleh:
a. apotek;
b. rumah sakit;
c. pusat kesehatan masyarakat;
d. balai pengobatan; dan
e. dokter.
(2) Apotek hanya dapat menyerahkan Narkotika kepada:
a. rumah sakit;
b. pusat kesehatan masyarakat;
c. apotek lainnya;
d. balai pengobatan;
e. dokter; dan
f. pasien.
(3) Rumah sakit, apotek, pusat kesehatan masyarakat, dan
balai pengobatan hanya dapat menyerahkan Narkotika
kepada pasien berdasarkan resep dokter.
 Label dan Produksi
(1) Industri Farmasi wajib mencantumkan label pada kemasan Narkotika, baik dalam
bentuk obat jadi maupun bahan baku Narkotika.
(2) Label pada kemasan Narkotika sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
berbentuk tulisan, gambar, kombinasi tulisan dan gambar, atau bentuk lain yang
disertakan pada kemasan atau dimasukkan ke dalam kemasan, ditempelkan, atau
merupakan bagian dari wadah, dan/atau kemasannya.
(3) Setiap keterangan yang dicantumkan dalam label pada kemasan Narkotika harus
lengkap dan tidak menyesatkan.
 Pengobatan
(1) Untuk kepentingan pengobatan dan berdasarkan indikasi medis, dokter dapat
memberikan Narkotika Golongan II atau Golongan III dalam jumlah terbatas
dan sediaan tertentu kepada pasien sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
(2) Pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat memiliki, menyimpan,
dan/atau membawa Narkotika untuk dirinya sendiri.
(3) Pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus mempunyai bukti yang sah
bahwa Narkotika yang dimiliki, disimpan, dan/atau dibawa untuk digunakan
diperoleh secara sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
 Rehabilitasi
Pecandu Narkotika dan korban penyalahgunaan Narkotika wajib menjalani
rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial.
(1) Orang tua atau wali dari Pecandu Narkotika yang belum cukup umur wajib
melaporkan kepada pusat kesehatan masyarakat, rumah sakit, dan/atau lembaga
rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial yang ditunjuk oleh Pemerintah untuk
mendapatkan pengobatan dan/atau perawatan melalui rehabilitasi medis dan
rehabilitasi sosial.
(2) Pecandu Narkotika yang sudah cukup umur wajib melaporkan diri atau
dilaporkan oleh keluarganya kepada pusat kesehatan masyarakat, rumah sakit,
dan/atau lembaga rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial yang ditunjuk oleh
Pemerintah untuk mendapatkan pengobatan dan/atau perawatan melalui
rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial.
(3) Ketentuan mengenai pelaksanaan wajib lapor sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah.
TUGAS RANGKUMAN KLASIFIKASI PCNe V.9.00 UNTUK MASALAH TERKAIT OBAT

Masalah Terkait Obat (DRP) adalah peristiwa atau keadaan yang melibatkan terapi obat yang
benar-benar atau berpotensi mengganggu hasil kesehatan yang diinginkan.
Klasifikasi ini untuk digunakan dalam penelitian tentang sifat, prevalensi, dan kejadian DRP
dan juga sebagai indicator proses dalam studi eksperimental hasil Perawatan Farmasi. Ini juga
dimaksudkan untuk membantu para profesional perawatan kesehatan untuk mendokumentasikan
informasi DRP dalam proses perawatan farmasi.
Klasifikasi Dasar :
I. Masalah :

Kategori Sub Bagian


P1 Keefektifan pengobatan  P1.1 Tidak ada efek dari terapi obat
(Ada masalah (potensial) dengan  P1.2 Efek terapi obat tidak optimal.
(tidak adanya) efek  P1.3 tidak Gejala atau Indikasi yang di obati
farmakoterapi)
P2 Keamanan pengobatan  P2.1 Kejadian obat yang merugikan (mungkin) terjadi
(Pasien menderita, atau dapat
menderita, dari kejadian obat
yang merugikan)

P3 Lainnya  P3.1 Masalah dengan efektivitas biaya


pengobatanPerawatan
 P3.2 obat yang tidak perlu
 P3.3 Masalah / keluhan yang tidak jelas. Klarifikasi
lebih lanjut diperlukan (gunakan sebagai pelarian saja)

II. Penyebab (Satu masalah dapat memiliki lebih penyebab) :

Kategori Sub Bagian


C1 Pemilihan obat  C1.1 Obat yang tidak pantas sesuai dengan pedoman /
(Penyebab DRP dapat formularium
dikaitkan dengan  C1. 2 Obat yang tidak pantas (dalam pedoman tetapi sebaliknya
pemilihan dari obat) diindikasikan)
 C1.3 Tidak ada indikasi untuk obatobat yang
 C1.4 Kombinasitidak tepat, atau obat-obatan dan obat herbal,
atau obat-obatan dan suplemen makanan
 C1.5 Duplikasi yang tidak tepat dari kelompok terapi atau aktif
bahan C1.6 ada atau pengobatan lengkap terlepas dari yang ada
indikasi
 C1.7 Terlalu banyak obat yang diresepkan untuk indikasi
C2 Bentuk obat  C2.1 Inappr bentuk obat opriate (untuk pasien ini)
(Penyebab DRP terkait
dengan pemilihan
bentuk obat)
C3 Pemilihan dosis  C3.1 Obat dosis terlalu rendah
(Penyebab DRP dapat  C3.2 Obatdosis terlalu tinggi
terkait dengan pemilihan  C3.3 Dosis rejimen tidak sering cukup
jadwal dosis)  C3.4 Regimen dosis terlalu sering
 C3.5 Instruksi dosis waktu salah, tidak jelas atau tidak ada
C4 Durasi pengobatan  C4.1 Durasi pengobatan terlalu pendek
(Penyebab DRP terkait  C4.2 Durasi perawatan terlalu lama
dengan lamanya
pengobatan)
C5 Dispensing  C5.1 Obat yang diresepkan tidak tersedia
(Penyebab DRP dapat  C5.2 Informasi yang diperlukan tidak disediakan
berhubungan dengan  C5.3 Obat yang salah, kekuatan atau dosis yang disarankan
logistik dari proses (OTC)
peresepan dan  C5.4 salah obat atau kekuatan ditiadakan
pengeluaran)

C6 Proses penggunaan  C6.1 Waktu pemberian yang tidak tepat atau interval pemberian
obat dosis
(Penyebab DRP terkait  C6.2 Obat yang kurang diberikan
dengan cara pasien  C6.3 Obat terlalu banyak diberikan
mendapatkan obat dan  C6.4 Obat tidak diberikan sama sekali
diberikan oleh  C6.5 Obat yang salah diberikan
profesional kesehatan  C6.6 Obat yang diberikan melalui rute yang salah
atau pengasuh, terlepas
dari instruksi yang tepat
(pada label)

C7 terkait Pasien  C7.1 Pasien menggunakan / menggunakan obat lebih sedikit


(Penyebab DRP dapat dari yang diresepkan atau tidak menggunakan obat sama sekali
berhubungan dengan  C7.2 Penggunaan pasien / menggunakan lebih banyak obat
pasien dan perilakunya daripada yang ditentukan
(disengaja atau tidak  C7.3 Obat penyalahgunaan pasien (berlebihan tidak diatur)
disengaja)  C7.4 Pasien menggunakan obat yang tidak perlu
 C7.5 Pasien mengambil makanan yang berinteraksi
 C7.6 Pasien menyimpan obat secara tidak
 C7.7 tepatWaktu yang tidak tepat atau interval pemberian dosis
C7.8 Pasien mengelola / menggunakan obat dengan cara yang
salah C7.9 Pasien tidak dapat menggunakan obat / bentuk
seperti yang diarahkan
 C7.10 Pasien tidak dapat memahami instruksi dengan benar

C8 Transfer pasien  C8.1 Tidak ada rekonsiliasi obat saat pemindahan pasien.
terkait (Penyebab DRP  C8.2 Tidak ada daftar obat terbaru yang tersedia.
dapat dikaitkan dengan C8.3pengeluaran Informasi/ transfer tentang pengobatan tidak
transfer pasien antara lengkap atau tidak ada
perawatan primer,  C8.4 Informasi klinis yang tidak memadai tentang pasien.
sekunder dan tersier,  C8.5 Pasien belum menerima obat yang diperlukan saat keluar
atau transfer dalam satu dari rumah sakit atau klinik.
institusi perawatan)

C9 Lainnya  C9.1 Tidak ada atau pemantauan hasil yang tidak sesuai
(termasuk TDM)
 C9.2 Penyebab lain; sebutkan
 C9.3 Tidak ada penyebab yang jelas

III. Intervensi Terencana (Satu masalah dapat menyebabkan lebih banyak intervensi) :

Kategori Sub Bagian


I0 Tidak ada intervensi  -
I1 Pada tingkat resep  I1.1 Prescriber hanya diinformasikan
_  I1.2 Prescriber meminta informasi
 I1.3 Intervensi yang diusulkan untuk prescriber
 I1.4 Intervensi dibahas dengan prescriber
I2 Pada tingkat pasien  I2.1 Konseling pasien (obat)
 I2.2 Informasi tertulis disediakan (hanya)
 I2.3 Pasien yang dirujuk ke prescriber
 I2.4 Diucapkan kepada anggota keluarga / pengasuh
I3 Pada tingkat obat  I3.1 Obat diubah menjadi ...
 I3.2 Dosis diubah menjadi ...
 I3.3 Formulasi diubah menjadi ...
 I3.4 Instruksi penggunaan berubah menjadi ...
 I3.5 Obat dihentikan sementara atau berhenti
 I3.6 Drug mulai
I4 Lainnya  I4.1 intervensi Lainnya (sebutkan)
 I4.2 efek samping yang dilaporkan kepada pihak
berwenang

IV. Penerimaan Proposal Intervensi (Satu masalah dapat menyebabkan lebih banyak intervensi) :

Kategori Sub Bagian


A1 Intervensi diterima  A1.1 Intervensi diterima dan dilaksanakan sepenuhnya
(oleh prescriber atau pasien)  A1.2 Intervensi diterima, sebagian dilaksanakan
 A1.3 Intervensi diterima tetapi tidak dilaksanakan
 A1.4 Intervensi diterima , implementasi tidak diketahui
A2 Intervensi tidak diterima  A2.1 Intervensi tidak diterima: tidak layak
(oleh resep dokter atau pasien)  A2.2 Intervensi tidak diterima: tidak ada perjanjian
 A2.3 Intervensi tidak diterima: alasan lain (sebutkan)
 A2.4 Intervensi tidak diterima : alasan tidak diketahui
A3 Lainnya  A3.1 Intervensi diusulkan, penerimaan tidak diketahui
(tidak ada informasi tentang  A3.2 Intervensi tidak diusulkan
penerimaan)
V. Status DRP (Domain ini menggambarkan hasil intervensi. Satu masalah (atau kombinasi
intervensi) hanya dapat mengarah pada satu tingkat penyelesaian masalah) :

Kategori Sub Bagian


O0. Tidak diketahui  O0.1 Status masalah tidak diketahui
O1. Pecahkan  O1.1 Masalah sepenuhnya diselesaikan
O2. Sebagian dipecahkan  O2.1 Masalah sebagian dipecahkan
O3. Tidak dipecahkan  O3.1 Masalah tidak terpecahkan, kurangnya kerja sama
pasien
 O3.2 Masalah tidak terpecahkan, kurangnya kerja sama dari
dokter penentu
 O3.3 Masalah tidak terpecahkan, intervensi tidak efektif
 O3.4 Tidak perlu atau kemungkinan untuk menyelesaikan
masalah