Anda di halaman 1dari 3

11.

Pratika Lawrence Sasube


1865050050

RHINITIS OZAENA (Rhinitis Atrofi)

1. Definisi
Rhinitis atrofi adalah penyakit hidung kronik yang khas ditandai dengan atrofi mukosa
hidung progresif, krusta, fetor dan perluasan rongga hidung.

2. Etiologi
Etiologi rhinitis atrofi dibagi menjadi primer dan sekunder. Rhinitis atrofi primer adalah
rhinitis atrofi yang terjadi pada hidung tanpa kelainan sebelumnya, sedangkan rhinitis atorfi
sekunder merupakan komplikasi dari suatu tindakan atau penyakit. Rhinitis atrofi primer
adalah bentuk klasik dari rhinitis atrofi dimana penyebab pastinya belum diketahui namun pada
kebanyakan kasus ditemukan klebsiella ozaenae.
Rhinitis atrofi sekunder kebanyakan disebabkan oleh operasi sinus, radiasi, trauma,
penyakit infeksi, dan penyakit granulomatosa atau. Operasi sinus merupakan penyebab 90%
rhinitis atrofi sekunder. Prosedur operasi yang diketahui berpengaruh adalah turbinektomi
parsial dan total (80%), operasi sinus tanpa turbinektomi (10%), dan maksilektomi (6%).
Selain itu, rhinitis atrofi juga dapat disebabkan karena infeksi kronik spesifik oleh
Stafilokokus, Streptokokus dan Pseudomonas aeruginosa, Kokobasilus, Bacillus mucosus,
Diphteroid bacilli, dan Cocobacillus foetidus ozaena, defisiensi zat besi dan vitamin A,
sinusitis kronik dan ketidakseimbangan hormon esterogen.

3. Gejala Klinis
Keluhan penderita rinitis atrofi (ozaena) biasanya berupa hidung tersumbat, gangguan
penciuman (anosmi), ingus kental berwarna hijau, adanya krusta (kerak) berwarna hijau, sakit
kepala, epistaksis dan hidung terasa kering. Keluhan subjektif lain yang sering ditemukan pada
pasien biasanya napas berbau (sementara pasien sendiri menderita anosmia) jadi penderita
sendiri (-), orang lain (+) penciumannya. Pasien mengeluh kehilangan indra pengecap dan tidak
bisa tidur nyenyak ataupun tidak tahan udara dingin.
4. Prinsip tatalaksana
Pengobatan bersifat simtomatis. Pengobatan yang diberikan dapat bersifat konservatif
atau kalau tidak dapat menolong dilakukan pembedahan jika tidak ada perbaikan.
Pengobatan konservatif diberikan antibiotik spektrum luas atau sesuai dengan uji
resistensi kuman, dengan dosis yang adekuat. Lama pengobatan bervariasi tergantung dari
hilangnya tanda klinis berupa sekret purulen kehijauan.
Untuk menghilangkan bau busuk akibat hasil proses infeksi serta sekret purulen dan
krusta, dapat dipakai obat cuci hidung. Lrutan yang dapat digunakan adalah larutan garam
hipertonik.
NaCL + Na4CL + NaHCO3 + Aqua
Larutan tersebut di encerkan dengan perbandingan 1 sendok makan larutan dicampur 9 sendok
makan air hangat. Larutan dihirup dimasukan kedalam rongga hidung dan dikeluarkan lagi
dengan dihembuskan kuat-kuat. Hal ini dilakukukan 2 kali dalam sehari.
Pemberian Antibiotik Amoksisilin :
Indikasi : Dapat diberikan untuk kuman gram (-) atau pun (+)
Farmakodinamik : Menghambat sintesis mekopeptida yang diperlukan untuk pembentukaan
dinding sel bakteri.
Efek samping :
1. Reaksi alergi
2. Reaksi toksik dan iritasi lokal
3. Gangguan GIT : mual, muntah, diare
4. Syok anafilaktik
Sediaan :
Kapsul/Tablet : 125 mg, 250mg, 500mg
Sirup : 125mg/5 ml
waktu paruh 8 jam.

Resep
. Pratika Lawrence Sasube
1865050050
Jl. Jaani Nasir No.100 RT 7 RW 10 Cawang
Jakarta Timur
021 (880332)

Jakarta, 21 Febuari 2020

R/ Amoksisilin tab 500 mg No. XV


S 3 dd I tab (Habiskan)

R/ NaCL 0,9
Na4Cl
NaHCO 3
Aqua ad 300 cc
S imm

Pro Tn. R