Anda di halaman 1dari 10

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Saat ini energi menjadi salah satu kebutuhan primer manusia. Salah satu bentuk
pemenuhan kebutuhan energi adalah ketersediaan bahan bakar. Namun bahan bakar yang ada
seringkali tidak memenuhi aspek lingkungan. Contohnya penggunaan bahan bakar fosil seperti
minyak bumi, gas alam, dan batubara juga menimbulkan isu lingkungan dalam hal emisi CO 2.
Untuk itu diperlukan bahan alam untuk menggantikan bahan bakar fosil sebagai sumber energi
terbarukan. Salah satu bahan-bahan alam tersebut adalah biomassa. Konversi biomassa menjadi
energi dapat dilakukan dengan beberapa metode, yakni metode termal (pembakaran, pirolisis,
dan gasifikasi), serta metode non-termal (fermentasi dan bio-digestion).
Serbuk gergaji kayu jati dan tongkol jagung merupakan limbah biomassa yang
keberadaannya melimpah di Indonesia. Penggunaan langsung sebagai bahan bakar hanya
menghasilkan nilai kalor yang rendah karena biomassa ini mengandung kadar air yang cukup
tinggi. Berdasarkan fakta tersebut, penelitian ini mencoba untuk mempelajari alternatif konversi
limbah biomassa tanpa harus melakukan proses pengeringan terlebih dahulu, yakni dengan
metode thermal yang disebut dengan hydrothermal treatment.
Proses hydrothermal treatment dilakukan dengan memanfaatkan air bersuhu tinggi. Dalam
proses tersebut biomassa akan terdegradasi menjadi komponen padat (hydrochar), cair (minyak
dan air) dan gas. Kemudian produk padat (hydrochar) yang dihasilkan akan dilakukan
serangkaian analisis untuk menguji kemampuannya sebagai bahan bakar.
1.2 Keaslian Penelitian
Kalderis dkk. (2014) melakukan karakterisasi dari hydrochar yang diproduksi dari proses
hidrotermal yang berasal dari sekam padi. Yuliansyah dkk. (2010) melakukan produksi bahan
bakar padat dari limbah agrikultural industri minyak sawit dengan hydrothermal treatment.
Penelitian tentang penentuan koefisien korelasi untuk memprediksi nilai kalor untuk proses
pembakaran, gasifikasi, dan pirolisis telah dilakukan oleh Parikh dkk. (2005).
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh temperatur dan komposisi campuran
biomassa terhadap karakteristik hydrochar dari proses hydrothermal treatment biomassa serbuk
gergaji dan serbuk tongkol jagung serta menentukan persamaan regresi multivariat untuk
menentukan nilai kalor hydrochar berdasarkan analisis proksimat.

1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Serbuk gergaji kayu jati terdiri dari selulosa, lignin, dan hemiselulosa sebagai
penyusunnya. Menurut Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan (2004) komponen kimia
yang terkandung dalam biomassa serbuk gergaji kayu jati antara lain: selulosa (47,5%), lignin
(29,9%), hemiselulosa (14,4%), abu (1,4%), silika (0,4%), dan komponen air (6,4%). Tongkol
jagung dapat diklasifikasikan sebagai material lignoselulosa, dimana secara umum terdiri dari
selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Foley et al. (1978) melaporkan biomassa tongkol jagung
terdiri dari 45,6% selulosa, 39,8% hemiselulosa, dan 6,7% lignin (dalam basis kering),
mengingat pentosa terdiri dari 38% hemiselulosa dan xylan 87% dari fraksi pentosa.
Hydrothermal carbonization (HTC) yang lebih dikenal dengan hydrothermal treatment
adalah teknik konversi bahan secara termokimia dimana dalam prosesnya menggunakan air
subcritical sebagai media untuk reaksi konversi biomassa basah. Untuk menghasilkan solid
biofuel, hydrothermal treatment tersebut dilakukan dengan kondisi operasi pada kisaran suhu
180oC-350oC, high autogenous pressure (mencapai 2,4 MPa) pada sistem tertutup. Komposisi
produk hasil hydrothermal treatment adalah padatan (50-80%), cairan (5-20%), dan gas (2-5%)
(Child, 2014).
Mekanisme yang terjadi selama hydrothermal treatment adalah pertama biomassa
menerima panas secara konduksi dari media air. Air akan menghidrolisis molekul pada
biomassa. Hal tersebut menyebabkan gugus hidroksil, karboksil, ester, dan eter akan terurai dan
rasio C/O dan C/H di padatan akan meningkat (Irsyad, dkk, 2014). Parameter-parameter penting
yang dianalisis pada produk padat adalah solid yield, energy densification ratio, dan energy yield
(Yuliansyah, 2010). Solid yield, energy densification ratio, dan energy yield dihitung menurut
persamaan berikut:
massa dari produk padat kering
Yield padatan = massa dari material bahan baku kering x 100% (2.1)
nilai kalor produk
Ratio energi densifikasi = nilai kalor (2.2)
material bahan baku

Energi yield = yield padatan x ratio energi densifikasi (2.3)

Untuk mengetahui karakteristik bahan sebelum dan sesudah dilakukan hydrothermal


treatment maka perlu dilakukan analisis terhadap bahan baku dan produk hydrochar. Terdapat
dua metode analisis yang umum dilakukan untuk menganalisis biomassa dan produk bahan bakar
padat, yaitu analisis proksimat dan analisis ultimat. Analisis proksimat digunakan untuk
2
menganalisis kadar air, kadar abu, volatile matter, dan fixed carbon. Sedangkan analisis ultimat
digunakan untuk mengetahui kadar karbon, hidrogen, sulfur serta nilai kalor suatu biomassa dan
produk bahan bakar padat (Kartika, 2015).

BAB III METODOLOGI PENELITIAN


3.1 Alat dan Bahan Penelitian
Bahan: Biomassa yang digunakan adalah serbuk gergaji kayu jati dan tongkol jagung yang
diperoleh dari Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta Air sebagai pelarut dan
reagen menggunakan akuades yang diperoleh dari CV General Labora, Jalan Kesehatan,
Daerah Istimewa Yogyakarta.
Alat : Rangkaian alat yang digunakan pada penelitian ini disajikan pada Gambar 1 dibawah ini.

Keterangan:
1. Heater
2. Presure Release Valve
3. Presure Gauge
4. Pengaduk
5. Reactor Cap
6. Autoclave
7. Gas inlet
8. Thermocouple
9. Electrical wires
10. Temperature controller
11. Tabung N2

Gambar 1. Rangkaian Alat


3.2 Prosedur Penelitian
3.2.1 Persiapan Bahan Baku

Preparasi bahan baku dimulai dengan menghaluskan serbuk gergaji dengan menggunakan
grinder. Serbuk gergaji kemudian diayak menggunakan ayakan ASTM 20 Mesh dan 28 Mesh
sehingga diperoleh serbuk gergaji dengan ukuran -20+28 Mesh. Tongkol jagung dibersihkan dan
dipotong hingga cukup kecil kemudian dihaluskan dengan grinder dan diayak dengan ayakan
yang sama sehingga didapatkan serbuk tongkol jagung dengan ukuran -20+28 Mesh.
Analisis bahan baku serbuk gergaji dan serbuk tongkol jagung meliputi analisis proksimat
(fixed carbon, volatile matter, kadar air dan kadar abu), kandungan lignoselulosa (selulosa,
hemiselulosa, lignin), nilai kalor, dan kadar kalium.
3.2.2 Tahap Hydrothermal Treatment
3
Umpan autoclave sebanyak 15 gram berupa serbuk gergaji dan akuades disiapkan. Serbuk
gergaji berukuran -20+28 Mesh ditimbang sebesar 15 gram dan dicampur dengan air sebanyak
150 mL sehingga didapat campuran biomassa dan air dengan perbandingan 1:10. Campuran
tersebut dimasukkan ke dalam autoclave kemudian autoclave ditutup hingga rapat.
Gas N2 kemudian dialirkan ke dalam autoclave hingga indikator tekanan menunjukkan
angka 5 bar. Setelah mencapai tekanan 5 bar, valve yang mengarah ke tangki N 2 ditutup,
sedangkan valve purge dibuka hingga indikator tekanan menunjukkan angka 0 bar (gauge).
Kemudian valve purge ditutup dan autoclave kembali diisi dengan gas N2 kembali. Setelah 3 kali
pencucian dengan gas N2, gas N2 kembali dialirkan ke dalam autoclave hingga indikator tekanan
menunjukkan angka 10 bar. Kemudian pemanas dinyalakan dan diatur pada suhu 200oC.
Pengaduk dinyalakan. Setelah mencapai suhu yang diinginkan, proses dipertahankan selama 30
menit, kemudian pemanas dimatikan.
Selanjutnya dilakukan pendinginan pada autoclave hingga suhu kurang dari 40oC dan
penurunan suhu tersebut setiap 5 menit sekali dicatat. Slurry diambil dari dalam autoklaf dan
dipisahkan antara produk padat dan cairnya menggunakan kertas saring dan proses vacum untuk
mempercepat proses pemisahan. Padatan yang diperoleh kemudian dioven pada suhu 105oC
selama 4 jam untuk mendapatkan produk akhir. Langkah yang sama dilakukan untuk proses
hydrothermal serbuk gergaji dan serbuk tongkol jagung ukuran -20+28 Mesh pada suhu operasi
250°C, 270°C, 300°C dan 330°C.
1.3.1 Analisis Hasil
Produk padatan hasil hydrothermal treatment (hydrochar) dilakukan serangkaian analisis
yang meliputi analisis proksimat (fixed carbon, volatile matter, kadar air dan kadar abu), analisis
ultimat, analisis nilai kalor, kadar kalium dan analisis FTIR.
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Pengaruh Temperatur
Temperatur merupakan variabel yang paling penting di dalam hydrothermal treatment
karena perubahan temperatur akan mempengaruhi stabilitas termal dari biomassa. Studi tentang
pengaruh temperatur terhadap kualitas hydrochar ini dilakukan pada kondisi operasi residence
time 30 menit dan perbandingan biomassa-air 1:10.
4.1.1 Nilai Kalor dan Yield Hydrochar

4
10 85 10 60

Nilai Kalor (KKal/gram)


Nilai Kalor (KKal/gram)

Yield hydrochar (%)


Yield Hydrochar (%)
8 75 8 55
6 65 6 50
4 55 4 45
2 45 2 40
0 35 0 35
170 270 370 170 270 370
Temperatur (oC) Temperatur (oC)
nilai kalor yield nilai kalor yield
(a) (b)
Gambar 1. Nilai Kalor dan Yield Hydrochar Variasi Temperatur (a) Serbuk Gergaji Kayu
Jati (b) Serbuk Tongkol Jagung
Berdasarkan Gambar 1 hubungan yield dan temperatur adalah berbanding terbalik.
Semakin tinggi temperatur proses maka yield hydrochar yang dihasilkan akan semakin kecil atau
mengalami penurunan. Hal ini dapat terjadi karena semakin tinggi temperatur proses maka akan
semakin banyak kadar volatile matter dalam sampel yang hilang atau ter-leaching ke dalam fase
cairan. Selain itu, reaksi eliminasi dan dehidrasi akan semakin sempurna terjadi sehingga
mengakibatkan penurunan berat dan jumlah produk hydrochar itu sendiri (Nizamuddin, 2016).
4.1.2 Analisis Proksimat Hydrochar
Tabel 1. Analisis Proksimat Bahan Baku dan Hydrochar Variasi Temperatur

Bahan Variasi Temperatur (oC)


Sifat
Baku 200 240 270 300 330
(a) Serbuk gergaji
- Kadar air (%) 12.258 4.094 4.377 4.604 3.073 1.971
- Kadar abu (%) 1.231 0.564 0.841 0.885 0.636 1.111
- Volatile Matter (%) 73.731 73.965 72.010 68.978 63.585 42.985
- Fixed Carbon (%) 26.269 26.035 27.990 32.080 36.415 57.015
Yield hydrochar - 75.275 70.620 63.132 57.075 45.968
Ratio Energi Densifikasi - 1.056 1.131 1.179 1.194 1.358
Energi Yield - 79.522 79.898 74.456 68.163 61.179
(b) Tongkol jagung
- Kadar air (%) 10.352 4.048 3.421 3.306 3.844 2.321
- Kadar abu (%) 1.282 0.382 0.366 0.437 0.120 0.637
- Volatile Matter (%) 75.165 73.803 68.379 63.750 56.535 36.067
- Fixed Carbon (%) 24.835 26.197 31.621 36.250 43.642 63.933
Yield hydrochar - 54.444 49.449 47.665 42.313 38.817
Ratio energi densifikasi - 1.037 1.192 1.252 1.520 1.549
Energi yield - 56.439 58.940 59.665 64.321 60.128

5
Pada Tabel 1 terlihat tren seiring dengan kenaikan temperatur, kadar volatile matter pada
hydrochar akan mengalami penurunan sedangkan kadar fixed carbon akan mengalami kenaikan.
Hal ini terjadi karena semakin tinggi temperatur operasi maka akan semakin banyak kadar
hidrokarbon volatile dalam biomassa yang menguap dan terleaching didalam produk cairan,
sedangkan fixed carbon mengalami kenaikan karena kadar hidrokarbon volatile dalam biomassa
yang menguap semakin banyak dan menyisakan kadar karbon tetap pada hydrochar. Maka
hubungan volatile matter dan fixed carbon adalah berbanding terbalik. Melalui data ini dapat
disimpulkan bahwa temperatur minimum yang diperlukan untuk memproduksi bahan bakar
padat dari biomassa dengan kualitas yang lebih baik daripada batubara lignit adalah 300oC.
4.1.3 Kadar Kalium Hydrochar
7000 6572
6000
serbuk gergaji kayu jati
5000 serbuk tongkol jagung
4000
3000
1828
2000 1344.78 1357.5
990.25 1028.6
1000 273.58 266.21 258.18 253.21 472.42
154.64
0
bahan baku 200oC 240oC 270oC 300oC 330oC

Gambar 2. Kadar Kalium Hydrochar Variasi Temperatur


Berdasarkan data pada Gambar 2 dapat disimpulkan bahwa kadar kalium hydrochar
menurun secara signifikan pada hydrothermal treatment. Kadar kalium bahan baku serbuk
gergaji kayu jati dan serbuk tongkol jagung berturut-turut adalah 1828 mg/kg dan 6572 mg/kg.
Kadar kalium produk hydrochar mengalami tren penurunan seiring dengan kenaikan temperatur.
4.2 Pengaruh Komposisi Campuran Biomassa
Pada penelitian ini dilakukan studi tentang pengaruh komposisi campuran biomassa
terhadap kualitas hydrochar. Tujuan studi pengaruh komposisi campuran biomassa ini adalah
untuk mengetahui apakah dihasilkan hydrochar dengan kualitas lebih baik apabila biomassa
serbuk gergaji kayu jati dan serbuk tongkol jagung dicampurkan dengan persentase tertentu atau
diproses masing-masing secara hydrothermal treatment. Campuran biomassa yang digunakan
adalah serbuk gergaji kayu jati dan serbuk tongkol jagung dengan perbandingan komposisi
serbuk tongkol jagung dibanding serbuk gergaji kayu jati adalah 100%:0%; 25%:75%;
50%:50%; 75%:25%; dan 0%:100%.
6
4.2.1 Nilai Kalor dan Yield Hydrochar
Yield Hydrochar (%) 80 5500

Nilai Kalor (Kal/gram)


5400 5346
70 5402
68.1 5300
63.8 5200
60 62.1 5160
5100
50 53.9 5000 4982
47.2 4900
4857
40 4800
75%:25% 25%:75% 100%:0% 50%:50% 0%:100%
100%:0% 50%:50% 0%:100%
75%:25% 25%:75%
Komposisi Campuran Biomassa
(Serbuk Tongkol Jagung : Serbuk Gergaji Kayu Komposisi Campuran Biomassa
Jati) (serbuk tongkol jagung:serbuk gergaji kayu jati)

(a) (b)
Gambar 3. (a) Yield Hydrochar Variasi Komposisi Campuran Biomassa (b) Nilai Kalor
Hydrochar Variasi Komposisi Campuran Biomassa
Berdasarkan Gambar 3 (a) dapat diketahui bahwa yield hydrochar variasi komposisi
campuran biomassa mengalami peningkatan menurut kenaikan persentase biomassa serbuk
gergaji kayu jati. Kenaikan yield hydrochar seiring dengan kenaikan persentase bahan baku
serbuk gergaji kayu jati terjadi karena serbuk gergaji kayu jati mengandung selulosa 8,66% lebih
banyak dibandingkan dengan serbuk tongkol jagung. Menurut Yuliansyah (2010), selulosa dan
hemiselulosa merupakan komponen yang relatif lebih mudah terdegradasi dibandingkan lignin.
Berdasarkan penelitian tersebut, hemiselulosa akan mengalami dekomposisi pada temperatur
<200oC, sedangkan selulosa akan berangsur-angsur terdegradasi pada temperatur yang lebih
tinggi yaitu setelah treatment pada temperatur 270oC. Studi pengaruh komposisi campuran
biomassa ini dilakukan pada temperatur 250oC, sehingga belum semua selulosa mengalami
degradasi.
Berdasarkan Gambar 3 (b) diketahui bahwa nilai kalor hydrochar dari campuran biomassa
mengalami kenaikan seiring dengan bertambahnya komposisi biomassa serbuk gergaji kayu jati.
Hydrochar dengan komposisi 100% serbuk gergaji kayu jati memiliki nilai kalor tertinggi yaitu
5402 kal/gram. Komposisi campuran biomassa 25% serbuk tongkol jagung dan 75% serbuk
gergaji kayu jati merupakan komposisi campuran biomassa yang optimal karena dengan
komposisi ini akan mengurangi 25% limbah biomassa serbuk tongkol jagung dan menaikkan
nilai kalor hydrochar 3.6% dibandingkan dengan hydrochar dari biomassa serbuk tongkol
jagung murni.

7
4.2.2 Analisis Proksimat Hydrochar
Tabel 2. Analisis Proksimat Bahan Baku dan Hydrochar

Variasi Campuran Biomassa


Sifat (Serbuk Tongkol Jagung:Serbuk Gergaji Kayu Jati)
100%:0% 75%:25% 50%:50% 25%:75% 0%:100%
Analisis Proksimat
- Kadar air 3.548 3.270 3.247 3.240 3.173
- Kadar abu 0.107 0.223 0.291 0.420 0.477
- Volatile Matter (%) 65.978 68.104 68.815 69.515 70.028
- Fixed Carbon (%) 34.022 31.896 31.185 30.485 29.972
Yield hydrochar 47.196 53.898 62.125 63.788 68.125
Ratio energi densifikasi 1.119 1.109 1.057 1.034 0.988
Energi yield 52.825 59.752 65.684 65.932 67.335

Berdasarkan Tabel 2 diketahui bahwa kadar abu dan volatile matter mengalami kenaikan
seiring dengan bertambahnya komposisi campuran biomassa serbuk gergaji kayu jati.
Sebaliknya, kadar air dan fixed carbon mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya
komposisi campuran biomassa serbuk gergaji kayu jati. Secara umum, meningkatnya persentase
fixed carbon akan meningkatkan nilai kalor hydrochar.
Berdasarkan Gambar 4.16 dapat diketahui bahwa semakin besar persentase serbuk gergaji
kayu jati maka energi yield hydrochar akan semakin meningkat. Hal ini dikarenakan pada serbuk
gergaji kayu jati mengandung kadar komponen selulosa yang lebih banyak yang akan mengalami
hidrolisis sempurna pada temperatur diatas 180oC. Reaksi hidrolisis terjadi ketika hemiselulosa
dan selulosa mengalami pemutusan ikatan ester dan eter terutama pada ikatan β (1-4) glikosidik.
Pemutusan ikatan tersebut akan mengakibatkan semakin banyak rantai karbon yang terbentuk
akibat penataan ulang rantai karbon. Hal ini akan meningkatkan nilai kalor hydrochar, yield
hydrochar, dan energi yield hydrochar.
4.2.3 Kadar Kalium Hydrochar
8000
Kadar kalium (mg/kg)

6572
6000
4000 1828 2331.5 1914.71
954.5 1408.23
2000 227.79
0
serbuk serbuk 0 25 50 75 100
gergaji tongkol
kayu jati jagung
Bahan Baku dan Komposisi Campuran Biomassa…

Gambar 4. Kadar Kalium Hydrochar Variasi Komposisi Campuran Biomassa


8
Berdasarkan Gambar 4. kadar kalium terendah terdapat pada komposisi campuran
biomassa serbuk tongkol jagung dibanding serbuk gergaji kayu jati 25% banding 75% yaitu
sebesar 1408.23%. Meskipun hasil analisis kadar kalium pada variasi tersebut lebih tinggi
daripada hydrochar murni tanpa variasi komposisi campuran biomassa, namun persentase
komposisi campuran tersebut sudah menurunkan kadar kalium cukup signifikan dibandingkan
dengan bahan bakunya.
4.3 Prediksi Nilai Kalor Melalui Analisis Regresi Multivariat
Melalui perhitungan statistik dengan bantuan Menu Data Analisis pada Microsoft Excel
seri 2007 didapatkan persamaan regresi multivariat berikut:
HHV=0,837(%AC)+0,152(%VM)+0,389(%FC)–0,022(%WC) (4.1)
dimana:
HHV = nilai kalor hydrochar, dalam satuan (MJ/kg)
%AC (ash content) = kadar abu hydrochar, dalam satuan (%)
%VM (volatile matter) = volatile matter, dalam satuan (%)
%FC (fixed carbon) = fix carbon, dalam satuan (%)
%WC (water content) = kadar air hydrochar, dalam satuan (%)
Berdasarkan Persamaan 4.1, kesalahan rata-rata absolut dan kesalahan rata-rata bias dari
prediksi nilai kalor hydrochar sesuai dengan Persamaan 4.2 dan Persamaan 4.3 menurut Parikh
(2005) adalah sebagai berikut.
1 nilai kalor prediksi−nilai kalor terukur
Kesalahan rata-rata absolut=𝑛 ∑ni=1 | |x100% (4.2)
nilai kalor terukur
1 nilai kalor prediksi−nilai kalor terukur
Kesalahan rata-rata bias= 𝑛 ∑ni=1[ nilai kalor terukur
] x 100% (4.3)

Berdasarkan data analisis proksimat dan nilai kalor hydrochar serta melalui perhitungan
dengan menggunakan Persamaan 4.2 dan Persamaan 4.3 didapatkan nilai kesalahan rata-rata
absolut dan nilai kesalahan rata-rata bias berturut-turut adalah 4,11% dan 0,28%.
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa:
1. Kenaikan temperatur akan mempengaruhi kualitas hydrochar hasil hydrothermal treatment
biomassa. Kenaikan temperatur akan menurunkan yield hydrochar, menurunkan energi
yield, menaikkan ratio energi densifikasi, menaikkan nilai kalor, menurunkan kadar air,

9
menurunkan kadar abu, menurunkan kadar volatile matter, meningkatkan kadar fixed
carbon, dan menurunkan kadar kalium.
2. Komposisi campuran biomassa serbuk gergaji kayu jati dan serbuk tongkol jagung
mempengaruhi kualitas hydrochar hasil hydrothermal treatment. Semakin besar persentase
serbuk gergaji kayu jati akan menaikkan yield hydrochar, menurunkan ratio energi
densifikasi, menaikkan energi yield, menaikkan nilai kalor, menurunkan kadar air,
menurunkan kadar abu, menaikkan kadar volatile matter, menurunkan kadar fixed carbon
dan menurunkan kadar kalium.
3. Data analisis multivariat menyimpulkan bahwa analisis proksimat berpengaruh secara
signifikan terhadap nilai kalor hydrochar dengan persamaan regresi:
HHV=0,837(%AC)+0,152(%VM)+0,389(%FC)–0,022(%WC)
Persamaan regresi tersebut dapat digunakan untuk memprediksi nilai kalor biomassa apabila
dikenai perlakuan hydrothermal treatment dengan nilai kesalahan rata-rata absolut sebesar
4,11% dan nilai kesalahan rata-rata bias sebesar 0,28%.
5.2 Saran
Pengkajian proses dari segi ekonomi terhadap hydrothermal treatment biomassa diperlukan
untuk keberlanjutan penggunaan energi terbarukan.
5.3 Daftar Pustaka
Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, 2004, Atlas Kayu Indonesia, Bogor:
Departemen Kehutanan.
Child, M., 2014, Industrial-Scale Hydrothermal Carbonization of Waste Sludge Materials for
Fuel Production, Tesis: Lapperanta University of Technology.
Irsyad, A.R., Prawisudha, P., dan Pasek, A.D., 2014, Kaji Eksperimental Produksi Bahan Bakar
Padat Ramah Lingkungan dari Tandan Kosong Kelapa Sawit Menggunakan Proses
Hidrotermal, Proceeding Seminar Nasional Tahunan Teknik Mesin XIII.
Kalderis, D., Kottl, M.S., Mendez, A, and Gasco, G., 2014, Characterization of Hydrochars
Produced by Hydrothermal Carbonization of Rice Husk, Solid Earth, 5. 477-483.
Kartika, A.M., 2015, Uji Performansi Gasifikasi Biomassa pada Proses Sterilisasi Berbahan
Bakar Limbah Media Tanam Jamur Merang, Tesis: Universitas Udayana.
Nizamuddin, S., Mubarak, N.M., Tiripathi, M., Jayakumar, N.S., Sahu, J.N., and Ganesan, P.,
2016, Chemical, Dielectric and Structural Characterization of Optimized Hydrochar
Produced from Hydrothermal Carbonization of Palm Shell, Fuel 163, 88-97.
Parikh, J., Channiwala, S.A., and Ghosal, G.K., 2005, A Correlating for Calculating HHV from
Proximate Analysis of Solid Fuels, Fuel 84. 487-494.
Yuliansyah, A., Hirajima, T., Kumagai, S., Sasaki, K., 2010, Production of Solid Biofuel from
Agricultural Wastes of the Palm Oil Industry by Hydrothermal Treatment, Waste
Biomass Valor, 1. 395-405.

10