Anda di halaman 1dari 5

Jurnal Keperawatan, Volume XIII, No.

2, Oktober 2017 ISSN 1907 - 0357

PENELITIAN
PENGARUH TEHNIK RELAKSASI GUIDE IMAGERY
TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PASIEN PREOPERASI
KATARAK
Budi Antoro*, Gustop Amatiria**
*Dosen Prodi Keperawatan STIKes Mitra Lampung
**Dosen Jurusan Keperawatan Poltekkes Tanjungkarang
e-mail: budiantoro@umitra.ac.id

Jumlah penderita katarak di dunia tahun 2013 sebesar 17 juta orang. Prevalensi katarak di Indonesia tahun
2013 adalah 1,8 %, di Provinsi Lampung prevalensi katarak adalah 1,5%. Penatalaksanaan yang sering
dilakukan pada katarak adalah dengan pembedahan. Di Indonesia, sekitar 80% dari pasien yang akan
menjalani pembedahan melaporkan mengalami kecemasan. Teknik relaksasi yang biasanya digunakan
adalah teknik relaksasi dengan imajinasi terbimbing (guided imagery). Tindakan operasi katarak di
Rumah Sakit Mata Permana Sari meningkat jumlahnya dari tahun 2015 sebanyak 725 orang menjadi 952
orang pada tahun 2016. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh teknik relaksasi guide imagery
dengan teknik relaksasi nafas dalam terhadap tingkat kecemasan pasien preoperasi katarak. Rancangan
penelitian ini adalah pretest-postest with control group design, jenis penelitian kuantitatif. Populasi dalam
penelitian ini adalah seluruh pasien preoperasi katarak di RS. Permana Sari Bandar Lampung, dengan
sampel sebanyak 42 responden. Uji hipotesis digunakan analisis uji T (Dependen Sample T-Test). Hasil
penelitian diperoleh ada pengaruh teknik relaksasi guide imagery dalam penurunan tingkat kecemasan (p-
value =0,000). Saran bagi tenaga kesehatan untuk dapat menerapkan teknik relaksasi guide imagery
dalam asuhan keperawatan untuk menurunkan tingkat kecemasan pasien pre operasi katarak.

Kata kunci : Guided Imagery, Kecemasan, Preoperasi Katarak

LATAR BELAKANG jumlah penderita katarak mencapai 2,4 juta


orang. Pertambahan penderita katarak
Kesehatan mata sangatlah penting setiap tahun sekitar 240 ribu. Pertumbuhan
karena penglihatan tidak dapat digantikan penderitanya sudah melebihi angka 1%
dengan apapun, maka mata memerlukan dari jumlah penduduk. Berdasarkan data
perawatan yang baik. Kebutaan yang Riset Kesehatan dasar (Riskesdas) Tahun
diakibatkan karena katarak merupakan 2013, prevalensi katarak semua umur
masalah kesehatan secara global yang tahun 2013 adalah 1,8 persen, sedangkan
harus segera ditangani, karena di Provinsi Lampung prevalensi katarak
mengabaikan masalah mata dan adalah 1,5% (Kemenkes RI, 2013).
penglihatan dapat mengakibatkan kebutaan Penatalaksanaan yang sering
dan kehilangan fungsi mata. Penyakit dilakukan pada katarak adalah dengan
umum pada mata dapat digolongkan dalam pembedahan. Metode operasi yang umum
beberapa kelompok, salah satu penyebab dipilih untuk katarak adalah meninggalkan
dari kebutaan di seluruh dunia adalah bagian posterior kapsul lensa sehingga
katarak. Katarak adalah dimana keadaan dikenal sebagai ekstraksi katarak
suatu lensa mata yang pada awalnya jernih ekstrakapsular. Penanaman lensa
menjadi keruh (Sidarta, dalam intraokular merupakan bagian dari
Wahyuningtyas 2016). prosedur ini (Vaughan & Asbury, 2007).
Katarak yang merupakan penyebab Pada pelaksanaan metode ini, pasien
utama berkurangnya penglihatan di dunia praoperatif dapat mengalami berbagai
diperkirakan jumlah penderita kebutaan ketakutan. Takut terhadap anastesi, takut
katarak di dunia saat ini sebesar 17 juta terhadap nyeri atau kematian, takut tentang
orang dan akan meningkat menjadi 40 juta ketidak tahuan atau takut tentang
pada tahun 2020. Sedangkan di Indonesia deformitas atau ancaman terhadap citra

[239]
Jurnal Keperawatan, Volume XIII, No. 2, Oktober 2017 ISSN 1907 - 0357

tubuh dapat menyebabkan ketidaktenangan merupakan satu-satunya rumah sakit di


atau ansietas (Smeltzer & Bare, 2007). Provinsi Lampung yang di khususkan bagi
Kecemasan (ansietas) merupakan pasien dengan gangguan kesehatan mata.
reaksi normal terhadap stres dan ancaman Berdasarkan data yang diperoleh dari
bahaya. Kecemasan merupakan reaksi rekam medik, jumlah pasien dengan
emosional terhadap persepsi adanya tindakan operasi katarak meningkat
bahaya, baik yang nyata ataupun yang jumlahnya dari tahun 2015 sebanyak 425
dibayangkan. Kecemasan merupakan orang menjadi 552 orang pada tahun 2016.
reaksi yang umum terhadap penyakit Berdasarkan fenomena yang terjadi pada
karena penyakit dirasakan sebagai suatu pasien preoperasi katarak sebagian besar
ancaman umum terhadap kehidupan, mengalami kecemasan. Hasil presurvey
kesehatan, dan keutuhan tubuh (Smeltzer dengan melakukan wawancara terhadap 10
& Bare, 2007). orang pasien preoperasi katarak, terdapat 8
Data di Indonesia, sekitar 80% dari orang (80%) mengalami gejala kecemasan
pasien yang akan menjalani pembedahan seperti jantung berdebar, gelisah, perasaan
melaporkan mengalami kecemasan. tegang, dan sering berkemih, sedangkan
Kecemasan dapat berakibat pada 2 orang (20%) tidak merasakan gejala
peningkatan tekanan darah ataupun gula kecemasan tersebut saat menghadapi
darah pasien operasi. Persiapan yang baik rencana operasi. Kemudian berdasarkan
selama periode operasi membantu hasil wawancara kepada perawat di
menurunkan resiko operasi dan ruangan tersebut, bahwa tidak pernah
meningkatkan pemulihan pasca bedah dilakukan penatalaksanaan kecemasan
(Sobur, 2008). dengan tindakan nonfarmakologi salah
Persiapan prabedah penting sekali satunya adalah teknik relaksasi guide
untuk mengurangi faktor resiko, karena imagery. Penelitin ini bertujuan untuk
hasil akhir dari suatu pembedahan sangat mengetahui pengaruh teknik relaksasi
bergantung pada penilaian keadaan guide imagery terhadap tingkat kecemasan
penderita. Secara mental, penderita harus pasien preoperasi katarak.
dipersiapkan untuk menghadapi
pembedahan, karena selalu ada rasa cemas
atau takut terhadap penyuntikan, nyeri METODE
luka, bahkan terhadap kemungkinan cacat
atau mati (Sobur, 2008). Rancangan penelitian ini adalah
Hasil riset tentang intervensi pretest-postest with control group design.
keperawatan terhadap stres dan kecemasan Jenis penelitian yang digunakan adalah
yang dilakukan sejak 1980-1990, Snyder penelitian kuantitatif. Penelitian telah
dan Egan menemukan teknik relaksasi dilaksanakan pada bulan 17 Juni s.d 17 Juli
sebagai metode utama untuk 2017 di Kamar Tunggu RS. Permana Sari
menghilangkan stresor. Tujuan latihan Bandar Lampung. Populasi dalam
relaksasi adalah untuk menghasilkan penelitian ini adalah seluruh pasien
respon yang dapat memerangi respon preoperasi katarak di RS. Permana Sari
terhadap stresor. Teknik relaksasi yang Bandar Lampung, dengan rata-rata 46
biasanya digunakan adalah teknik relaksasi orang/ bulan, dalam penelitian ini sampel
dengan imajinasi terbimbing (guided dibagi menjadi menjadi dua kelompok
imagery) (Brunner & Suddarth, 2007). yaitu untuk kelompok intervensi sebanyak
Teknik relaksasi imajinasi 21 responden, dan untuk kelompok kontrol
terbimbing (guided imagery) merupakan sebanyak 21 orang.
penggunaan imajinasi dengan sengaja Teknik pengambilan sampel dalam
untuk memperoleh relaksasi dan penelitian ini menggunakan accidental
menjauhkan dari sensasi yang tidak sampling. Variabel penelitian yang
diinginkan (Brunner & Suddarth, 2007). digunakan dalam penelitian ini yaitu
Rumah Sakit Mata Permana Sari variabel bebas (independent) yaitu

[240]
Jurnal Keperawatan, Volume XIII, No. 2, Oktober 2017 ISSN 1907 - 0357

pelaksanaan teknik relaksasi guided Tabel 2: Rata-Rata Tingkat Kecemasan


imagery. Serta variabel terikat (dependent) sesudah diberikan tehnik relaksasi
yaitu tingkat kecemasan. Alat pengumpul Guided Imagery pada Pasien
data pada penelitian ini adalah dengan Preoperasi Katarak
menggunakan lembar observasi
berdasarkan hasil cek list terhadap 20 soal. Variabel Mean Median SD Min-Max
Penilaian yang dilakukan untuk menilai Intervensi 8,57 8 2,181 3-13
tingkat kecemasan dengan rentang skor 0- Kontrol 8,62 9 2,636 4-13
20.
Analisis data terdiri dari analisa Berdasarkan tabel di atas dapat
univariat untuk melihat distribusi frekuensi diketahui bahwa tingkat kecemasan pada
variabel dependent dan variabel pasien mengalami penurunan setelah diberi
independent yang akan menghasilkan intervensi teknik guided imagery menjadi
mean, median dan simpangan baku dan 8,57, dengan nilai minimum 3 dan nilai
persentasi di setiap variabel penelitian. maksimum 13. Kemudian pada kelompok
Kemudian analisa bivariat dilakukan untuk kontrol tingkat kecemasan pasien
melihat pengaruh teknik relaksasi guide mengalami penurunan menjadi 8,62
imagery terhadap tingkat kecemasan dengan nilai minimum 4 dan nilai
pasien preoperasi katarak di RS. Permana maksimum 13.
Sari Bandar Lampung Tahun 2017. Rumus
yang digunakan analisis uji T (Dependen Analisis Bivariat
Sample T-Test).
Tabel 3: Hasil Uji Paired Sample t-Test
Teknik Guided Imagery Terhadap
Penurunan Tingkat Kecemasan
HASIL
Pada Pasien Pre-Operasi Katarak
Analisis Univariat
p-
Variabel Mean SD SE n
value
Tehnik Relaksasi
4,905 2,119 0,462 0,000 21
Tabel 1: Rata-Rata Tingkat Kecemasan guided imagery
sebelum diberikan tehnik
Berdasarkan tabel di atas dapat
relaksasi Guided Imagery pada
diketahui bahwa hasil uji paired sample t-
Pasien Preoperasi Katarak
test pada hasil skore tingkat kecemasan
pada kelompok intervensi dan kontrol
Variabel Mean Median SD Min-Max diperoleh nilai signifikasi p-value =0,000
Intervensi 13,48 14 2,482 9-17 (p-value< α(0,05), maka dapat disimpulkan
Kontrol 13,05 14 2,711 8-17 bahwa terdapat pengaruh teknik guided
imagery dalam penurunan tingkat
Berdasarkan tabel di atas dapat kecemasan pada pasien pre-operasi di RS.
diketahui bahwa tingkat kecemasan pada Permana Sari Bandar Lampung Tahun
pasien pre-operasi katarak sebelum 2017.
dilakukan teknik relaksasi guided imagery
memiliki skor rata-rata 13,48, dengan nilai
minimum 9 dan nilai maksimum 17. PEMBAHASAN
Kemudian tingkat kecemasan pada pasien
kontrol memiliki skor rata-rata 13,05, Berdasarkan hasil penelitian
dengan nilai minimum 8 dan nilai diperoleh bahwa tingkat kecemasan pada
maksimum 17. pasien pre-operasi katarak sebelum
dilakukan teknik relaksasi guided imagery
memiliki skor rata-rata 13,48, dengan nilai
minimum 9 dan nilai maksimum 17.
Kemudian tingkat kecemasan pada pasien

[241]
Jurnal Keperawatan, Volume XIII, No. 2, Oktober 2017 ISSN 1907 - 0357

pre-operasi katarak pada kelompok kontrol Penelitian ini juga sejalan dengan
memiliki skor rata-rata 13,05, dengan nilai teori yang dikemukakan oleh Smeltzer &
minimum 8 dan nilai maksimum 17. Bare (2007), guided Imagery merupakan
Sedangkan tingkat kecemasan pada teknik relaksasi menggunakan imajinasi
pasien mengalami penurunan setelah diberi seseorang dalam suatu cara yang dirancang
intervensi teknik guided imagery menjadi secara khusus untuk mencapai efek positif
8,57, dengan nilai minimum 3 dan nilai tertentu. guided imagery yang sederhana
maksimum 13. Kemudian pada kelompok adalah penggunaan imajinasi dengan
kontrol menjadi 8,62 dengan nilai sengaja untuk memperoleh relaksasi dan/
minimum 4 dan nilai maksimum 13. atau menjauhkan diri dari sensasi yang
Penelitian ini sejalan dengan teori tidak diinginkan. Hasil penelitian ini
yang dikemukakan oleh Smeltzer & Bare, sejalan dengan penelitian yang dilakukan
(2007), bahwa kecemasan (ansietas) oleh Aprianto (2015), tentang efektifitas
merupakan reaksi normal terhadap stres teknik relaksasi imajinasi terbimbing dan
dan ancaman bahaya. Kecemasan nafas dalam terhadap penurunan
merupakan reaksi emosional terhadap kecemasan pada pasien pre operasi,
persepsi adanya bahaya, baik yang nyata diperoleh hasil pada terapi imajinasi
ataupun yang dibayangkan. Kecemasan terbimbing diperoleh selisih sebelum dan
merupakan reaksi yang umum terhadap sesudah sebesar 9,07 dan pada kelompok
penyakit karena penyakit dirasakan sebagai kontrol terdapat selisih sebelum dan
suatu ancaman umum terhadap kehidupan, sesudah sebesar 8,3.
kesehatan, dan keutuhan tubuh. Selain itu, Menurut peneliti, tingkat kecemasan
menurut Stuart & Sundeen (2009), ansietas pada pasien mengalami penurunan setelah
merupakan kekhawatiran yang tidak diberi intervensi teknik guided imagery
jelas dan menyebar, yang berkaitan dikarenakan kondisi kecemasan pada
dengan perasaan tidak pasti dan tidak pasien yang akan menjalani operasi akan
berdaya. Keadaan emosi ini tidak memiliki menimbulkan masalah fisik atau
objek yang spesifik. psikologis. Masalah psikologis dapat
Hasil penelitian ini sejalan dengan berupa perasaan cemas, tegang ataupun
penelitian yang dilakukan oleh Aprianto takut yang menimbulkan ketidak
(2015), tentang efektifitas teknik relaksasi nyamanan pada diri pasien. Dengan teknik
imajinasi terbimbing dan nafas dalam relaksasi guided imagery diharapkan dapat
terhadap penurunan kecemasan pada menimbulkan perasaan nyaman bagi
pasien pre operasi, diperoleh hasil pada pasien sehingga mengurangi kecemasan.
terapi imajinasi terbimbing diperoleh rata- Berdasarkan hasil penelitian dan uji
rata skor kecemasan sebelum tindakan paired sample t-test pada skore tingkat
imajinasi terbimbing adalah 43,97 dan kecemasan pada kelompok intervensi dan
rata-rata skor kecemasan sebelum pada kontrol diperoleh nilai signifikasi p-
kelompok kontrol adalah 41,70. value=0,000 (p-value< α(0,05), maka dapat
Menurut peneliti, hasil pretest pada disimpulkan bahwa terdapat pengaruh
tingkat kecemasan responden, yaitu pasien teknik guided imagery dalam penurunan
pre operasi katarak, merupakan tingkat tingkat kecemasan pada pasien pre-operasi
kecemasan yang secara umum dialami katarak di RS. Permana Sari Bandar
ketika seseorang akan menghadapi suatu Lampung Tahun 2017.
stresor yaitu tindakan operasi. Dimana hal- Hasil penelitian ini sejalan dengan
hal yang menjadi sebab berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Guyton dan
wawancara kepada responden antara lain Hall (2008), bahwa guided imagery
takut pembiusan, takut nyeri, takut operasi merupakan suatu teknik yang menuntut
gagal serta takut biaya yang akan seseorang untuk membentuk sebuah
dikeluarkan. Semua itu akan menimbulkan bayangan/imajinasi tentang hal-hal yang
kondisi cemas pada pasien. disukai. Hal-hal yang disukai dianggap
sebagai sinyal penting oleh hipokampus

[242]
Jurnal Keperawatan, Volume XIII, No. 2, Oktober 2017 ISSN 1907 - 0357

sehingga diproses menjadi memori. dengan nilai minimum 9 dan nilai


Dengan membayangkan hal-hal yang maksimum 17. Sedangkan tingkat
disukai maka homon ‘kebahagiaan’ (beta- kecemasan pada pasien mengalami
endorfin) akan berproduksi. Beta-endorfin penurunan setelah diberi intervensi teknik
kemudian akan berperan dalam guide imagery menjadi 8,57, dengan nilai
menghambat ACTH (Adrenocorticotropic minimum 3 dan nilai maksimum 13. Hasil
Hormone) yang diproduksi oleh hipofisis analisa bivariat dapat disimpulkan Ada
dan akan menghambat diproduksinya Pengaruh teknik guide imagery terhadap
kortison dan berbagai hormon stres lainnya penurunan tingkat kecemasan pada pasien
sehingga akan mengurangi stres atau pre-operasi di RS. Permana Sari Bandar
kecemasan. Lampung Tahun 2017 (p-value =0,000).
Hasil penelitian ini sejalan dengan Dari hasil penelitian disarankan
penelitian yang dilakukan oleh Aprianto untuk dapat menjadikan penelitian ini
(2015), tentang efektifitas teknik relaksasi sbagai referensi bagi penelitian selanjutnya
imajinasi terbimbing dan nafas dalam untuk melakukan penelitian yang
terhadap penurunan kecemasan pada berkaitan dengan teknik relaksasi guide
pasien pre operasi, diperoleh hasil ada imagery untuk meningkatkan hasil
pengaruh teknik relaksasi imajinasi penelitian dengan memperluas subjek
terbimbing terhadap penurunan kecemasan penelitian atau dengan mengambil variabel
pasien pre operasi di RSUD RA Kartini yang belum diteliti dalam penelitian ini.
Jepara dengan (p-value=0,000).
Menurut peneliti, pengaruh teknik
guided imagery dalam penurunan tingkat DAFTAR PUSTAKA
kecemasan pada pasien pre-operasi katarak
disebabkan karena teknik relaksasi dengan Aprianto, Dino. 2015. Efektifitas Teknik
guided imagery akan memberikan relaksasi Relaksasi Imajinasi Terbimbing Dan
terhadap perasaan cemas dan takut yang Nafas Dalam Terhadap Penurunan
dirasakan responden pada saat pre-operasi. Kecemasan Pada Pasien Pre
Guided imagery akan meningkatkan Operasi. Skripsi. Tidak diterbitkan.
perasaan tenang dan damai serta Guyton,AC. Hall, JE. 2008. Buku Ajar
memberikan kenyamanan bagi fikiran. Hal Fisiologi Kedokteran .Jakarta: EGC.
tersebut akan menciptakan kesan-kesan Kemenkes RI. 2013. Riset Kesehatan
yang dapat membawa ketenangan fikiran Dasar Tahun 2013. Jakarta.
serta membuang fikiran negatif atau Smeltzer & Bare. 2007. Keperawatan
pikiran menyimpang yang ditimbulkan Medikal Bedah vol 1. Jakarta:
akibat rencana operasi. Dengan EGC.
menerapkan teknik relaksasi dengan Sobur, Alex. 2008. Psikologi Umum.
guided imagery secara benar maka Bandung: Pustaka Setia.
perasaan seseorang akan merasa tenang Stuart & Sundeen. 2009. Buku Saku
sehingga dapat menurunkan tingkat Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.
kecemasan pada pasien pre-operasi. Vaughan & Asbury. 2007. Oftalmologi
Umum. Jakarta: EGC.
Wahyuningtyas. 2016. Hubungan Tingkat
KESIMPULAN Pengetahuan Tindakan
Phacoemulsifikasi dengan
Berdasarkan hasil penelitian Kecemasan Pada Pasien Katarak di
diperoleh hasil penelitian tingkat Rumah Sakit Mata Solo. Skripsi.
kecemasan pada pasien pre-operasi katarak Tidak diterbitkan.
sebelum dilakukan teknik relaksasi guide
imagery memiliki skor rata-rata 13,48,

[243]