Anda di halaman 1dari 70

ASUHAN KEPERAWATAN KELOMPOK USIA LANJUT

DI PANTI GRIYA ASIH RUMAH ANAK DAN LANSIA

DESA SUMBERPORONG KECAMATAN LAWANG

KABUPATEN MALANG

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 4B, 5B, 6B

ANGKATAN 2017

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
JURUSAN KEPERAWATAN
PRODI D3 KEPERAWATAN LAWANG
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Asuhan Keperawatan Kelompok Usia Lanjut Dengan Masalah Asam


Urat Di Rumah Asuh Anak dan Lansia Griya Asih Lawang – Malang, disahkan
pada:

Hari : __________________________
Tanggal : __________________________
LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN JIWA INI TELAH DISETUJUI

Lawang,...................................
Ketua Kelompok

( )

Pembimbing Institusi, Pembimbing Klinik/CI,

( ) ( )

NIP. NIP.

Mengetahui

Kepala Ruang…………………………..

( )

NIP.

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah S.W.T, karena atas berkat dan

rahmat-Nya penulis dapat menyusun dan menyelesaikan Asuhan Keperawatan

Kelompok Usia Lanjut di Panti Griya Asih Rumah Anak Dan Lansia Desa

Sumberporong Kecamatan Lawang Kabupaten Malang sebagai syarat untuk

kelulusan Praktik Klinik Keperawatan Gerontik Program studi D-III Keperawatan

Lawang Poltekkes Kemenkes Malang.

Penulis menyadari bahwa tanpa bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak

sangatlah sulit untuk menyelesaikan Asuhan Keperawatan ini. Oleh karena itu

pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua

pihak yang selalu memberikan dorongan dan bantuannya dalam penyelesaian

Asuhan Keperawatan ini. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Asuhan

Keperawatan ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu penulis mengharapkan

kritik dan saran yang membangun dalam membantu memperbaiki penyusunan

Asuhan Keperawatan yang akan datang.

Singosari, 7 Februari 2020

Penulis

ii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN………………………………………………………i
KATA PENGANTAR …….ii
DAFTAR ISI iii
LAPORAN PENDAHULUAN KONSEP LANSIA ........................................... 1
A. Definisi Lansia .............................................................................................. 1
B. Batasan Lansia .............................................................................................. 3
C. Tipe-tipe Lansia ............................................................................................ 3
D. Teori-teori Proses Penuaan ........................................................................... 3
LAPORAN PENDAHULUAN KONSEP ASAM URAT ................................. 4
A. Definisi Asam Urat ........................................................................................ 4
B. Klasifikasi Asam Urat ................................................................................... 4
C. Etiologi Asam Urat ........................................................................................ 6
D. Patofisiologi Asam Urat ..................................................................................
E. Manisfestasi Klinis Asam Urat...................................................................... 8
F. Pemeriksaan Penunjang ................................ Error! Bookmark not defined.
G. Diagnosa ....................................................... Error! Bookmark not defined.
H. Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan .... Error! Bookmark not defined.
I. Komplikasi ................................................... Error! Bookmark not defined.
J. Asuhan Keperawatan .................................... Error! Bookmark not defined.
ASKEP DENGAN MASALAH RESIKO CEDERA ......... Error! Bookmark not
defined.
A. Data Umum .................................................. Error! Bookmark not defined.
B. Data Inti ........................................................ Error! Bookmark not defined.
C. Data Subsistem ............................................. Error! Bookmark not defined.
D. Pengkajian Fokus ........................................................................................ 36
E. Daftar Diagnosa Keperawatan ..................................................................... 37
F. Intervensi atau Perencanaan ........................................................................ 37

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 41

iii
iv
LAPORAN PENDAHULUAN
KONSEP LANJUT USIA (LANSIA)
A. Definisi Lansia

Menurut UU no 4 tahun 1945 Lansia adalah seseorang yang

mencapai umur 55 tahun, tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk

keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain

(Wahyudi, 2000). Usia lanjut adalah sesuatu yang harus diterima sebagai

suatu kenyataan dan fenomena biologis. Kehidupan itu akan diakhiri

dengan proses penuaan yang berakhir dengan kematian (Hutapea, 2005).

Usia lanjut adalah suatu proses alami yang tidak dapat dihindari (Azwar,

2006).

Menua secara normal dari system saraf didefinisikan sebagai

perubahan oleh usia yang terjadi pada individu yang sehat bebas dari

penyakit saraf “jelas” menua normal ditandai oleh perubahan gradual dan

lambat laun dari fungsi-fungsi tertentu (Tjokronegroho Arjatmo dan

Hendra Utama,1995).

Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya secara

perlahan lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau

mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat

bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita

(Constantinides 1994). Proses menua merupakan proses yang terus

menerus (berlanjut) secara alamiah dimulai sejak lahir dan umumnya

dialami pada semua makhluk hidup (Nugroho Wahyudi, 2000).

B. Batasan Lansia

Menurut WHO, batasan lansia meliputi:

1
2

1. Usia Pertengahan (Middle Age), adalah usia antara 45-59 tahun

2. Usia Lanjut (Elderly), adalah usia antara 60-74 tahun

3. Usia Lanjut Tua (Old), adalah usia antara 75-90 tahun

4. Usia Sangat Tua (Very Old), adalah usia 90 tahun keatas

Menurut Dra.Jos Masdani (psikolog UI), mengatakan lanjut usia

merupakan kelanjutan dari usia dewasa. Kedewasaan dapat dibagi menjadi

4 bagian:

1. Fase iuventus antara 25dan 40 tahun

2. Verilitia antara 40 dan 50 tahun

3. Fase praesenium antara 55 dan 65 tahun

4. Fase senium antara 65 tahun hingga tutup usia

C. Tipe-tipe Lansia

Pada umumnya lansia lebih dapat beradaptasi tinggal di rumah

sendiri daripada tinggal bersama anaknya. Menurut Nugroho W ( 2000)

adalah:

1. Tipe Arif Bijaksana: Yaitu tipe kaya pengalaman, menyesuaikan diri

dengan perubahan zaman, ramah, rendah hati, menjadi panutan.

2. Tipe Mandiri: Yaitu tipe bersifat selektif terhadap pekerjaan,

mempunyai kegiatan.

3. Tipe Tidak Puas: Yaitu tipe konflik lahir batin, menentang proses

penuaan yang menyebabkan hilangnya kecantikan, daya tarik jasmani,

kehilangan kekuasaan, jabatan, teman.


3

4. Tipe Pasrah: Yaitu lansia yang menerima dan menunggu nasib baik.

5. Tipe Bingung: Yaitu lansia yang kehilangan kepribadian,

mengasingkan diri, minder, pasif, dan kaget.

D. Teori-teori Proses Penuaan

(1). Teori Biologi

 Teori genetic dan mutasi (Somatik Mutatie Theory)

Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik

untuk spesies-spesies tertentu. Menua terjadi sebagai akibat dari

perubahan biokimia yang terprogramoleh molekul-molekul atau

DNA dan setiap sel pada saatnya akan mengalami mutasi.

 Teori radikal bebas

Tidak setabilnya radikal bebas mengakibatkan oksidasi-

oksidasi bahan organik yang menyebabkan sel-sel tidak dapat

regenerasi.

 Teori autoimun

Penurunan sistem limfosit T dan B mengakibatkan

gangguan pada keseimbangan regulasi system imun (Corwin,

2001). Sel normal yang telah menua dianggap benda asing,

sehingga sistem bereaksi untuk membentuk antibody yang

menghancurkan sel tersebut. Selain itu atripu tymus juga turut

sistem imunitas tubuh, akibatnya tubuh tidak mampu melawan

organisme pathogen yang masuk kedalam tubuh.Teori meyakini


4

menua terjadi berhubungan dengan peningkatan produk

autoantibodi.

 Teori stress

Menua terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa

digunakan tubuh. Regenerasi jaringan tidak dapat mempertahankan

kesetabilan lingkungan internal, dan stres menyebabkan sel-sel

tubuh lelah dipakai.

 Teori telomer

Dalam pembelahan sel, DNA membelah denga satu arah.

Setiap pembelaan akan menyebabkan panjang ujung telomere

berkurang panjangnya saat memutuskan duplikat kromosom, makin

sering sel membelah, makin cepat telomer itu memendek dan

akhirnya tidak mampu membelah lagi.

 Teori apoptosis

Teori ini disebut juga teori bunuh diri (Comnit Suitalic) sel

jika lingkungannya berubah, secara fisiologis program bunuh diri

ini diperlukan pada perkembangan persarapan dan juga diperlukan

untuk merusak sistem program prolifirasi sel tumor. Pada teori ini

lingkumgan yang berubah, termasuk didalamnya oleh karna stres

dan hormon tubuh yang berkurang konsentrasinya akan memacu

apoptosis diberbagai organ tubuh.


5

(2). Teori Kejiwaan Sosial

 Aktifitas atau kegiatan (Activity theory)

Teori ini menyatakan bahwa pada lanjut usia yang sukses adalah

mereka yang aktif dan ikut bnyak kegiatan social.

 Keperibadian lanjut (Continuity theory)

Teori ini menyatakan bahwa perubahan yang terjadi pada seseorang

yang lanjut usia sangat dipengaruhi tipe personality yang

dimilikinya.

 Teori pembebasan (Disengagement theory)

Dengan bertambahnya usia, seseorang secara berangsur-angsur

melepaskan diri dari kehidupan sosialnya atau menarik diri dari

pergaulan sekitarnya. Keadaan ini mengakibatkan interaksi lanjut

usia menurun, baik secara kualitas maupun kuantitas.

(3). Teori Lingkungan

 Exposure theory: Paparan sinar matahari dapat mengakibatkat

percepatan proses penuaan.

 Radiasi theory: Radiasi sinar y, sinar xdan ultrafiolet dari alat-alat

medis memudahkan sel mengalami denaturasi protein dan mutasi

DNA.

 Polution theory: Udara, air dan tanah yang tercemar polusi

mengandung subtansi kimia, yang mempengaruhi kondisi epigenetik

yang dpat mempercepat proses penuaan.


6

 Stress theory: Stres fisik maupun psikis meningkatkan kadar kortisol

dalam darah. Kondisi stres yang terus menerus dapat mempercepat

proses penuaan.

Perubahan Yang Terjadi Pada Lansia:

Banyak kemampuan berkurang pada saat orang bertambah tua.

Dari ujung rambut sampai ujung kaki mengalami perubahan dengan

makin bertambahnya umur. Menurut Nugroho (2000) perubahan

yang terjadi pada lansia adalah sebagai berikut:

1. Perubahan Fisik

a. Sel

Jumlahnya menjadi sedikit, ukurannya lebih besar,

berkurangnya cairan intra seluler, menurunnya proporsi

protein di otak, otot, ginjal, dan hati, jumlah sel otak

menurun, terganggunya mekanisme perbaikan sel.

b. Sistem Persyarafan

Respon menjadi lambat dan hubungan antara

persyarafan menurun, berat otak menurun 10-20%,

mengecilnya syaraf panca indra sehingga

mengakibatkan berkurangnya respon penglihatan dan

pendengaran, mengecilnya syaraf penciuman dan

perasa, lebih sensitive terhadap suhu, ketahanan tubuh

terhadap dingin rendah, kurang sensitive terhadap

sentuhan.

c. Sistem Penglihatan.
7

Menurun lapang pandang dan daya akomodasi mata,

lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa) menjadi

katarak, pupil timbul sklerosis, daya membedakan

warna menurun.

d. Sistem Pendengaran.

Hilangnya atau turunnya daya pendengaran, terutama

pada bunyi suara atau nada yang tinggi, suara tidak

jelas, sulit mengerti kata-kata, 50% terjadi pada usia

diatas umur 65 tahun, membran timpani menjadi atrofi

menyebabkan otosklerosis.

e. Sistem Cardiovaskuler.

Katup jantung menebal dan menjadi kaku,Kemampuan

jantung menurun 1% setiap tahun sesudah berumur 20

tahun, kehilangan sensitivitas dan elastisitas pembuluh

darah: kurang efektifitas pembuluh darah perifer untuk

oksigenasi perubahan posisidari tidur ke duduk (duduk

ke berdiri)bisa menyebabkan tekanan darah menurun

menjadi 65mmHg dan tekanan darah meninggi akibat

meningkatnya resistensi dari pembuluh darah perifer,

sistole normal ±170 mmHg, diastole normal ± 95

mmHg.

f. Sistem pengaturan temperatur tubuh

Pada pengaturan suhu hipotalamus dianggap bekerja

sebagai suatu thermostat yaitu menetapkan suatu suhu


8

tertentu, kemunduran terjadi beberapa factor yang

mempengaruhinya yang sering ditemukan antara lain:

Temperatur tubuh menurun, keterbatasan reflek

menggigildan tidak dapat memproduksi panas yang

banyak sehingga terjadi rendahnya aktifitas otot.

g. Sistem Respirasi.

Paru-paru kehilangan elastisitas, kapasitas residu

meningkat, menarik nafas lebih berat, kapasitas

pernafasan maksimum menurun dan kedalaman nafas

turun. Kemampuan batuk menurun (menurunnya

aktifitas silia), O2 arteri menurun menjadi 75 mmHg,

CO2 arteri tidak berganti.

h. Sistem Gastrointestinal.

Banyak gigi yang tanggal, sensitifitas indra pengecap

menurun, pelebaran esophagus, rasa lapar menurun,

asam lambung menurun, waktu pengosongan menurun,

peristaltik lemah, dan sering timbul konstipasi, fungsi

absorbsi menurun.

i. Sistem Genitourinaria.

Otot-otot pada vesika urinaria melemah dan

kapasitasnya menurun sampai 200 mg, frekuensi BAK

meningkat, pada wanita sering terjadi atrofi vulva,

selaput lendir mongering, elastisitas jaringan menurun


9

dan disertai penurunan frekuensi seksual intercrouse

berefek pada seks sekunder.

j. Sistem Endokrin.

Produksi hampir semua hormon menurun (ACTH, TSH,

FSH, LH), penurunan sekresi hormone kelamin

misalnya: estrogen, progesterone, dan testoteron.

k. Sistem Kulit

Kulit menjadi keriput dan mengkerut karena kehilangan

proses keratinisasi dan kehilangan jaringan lemak,

berkurangnya elastisitas akibat penurunan cairan dan

vaskularisasi, kuku jari menjadi keras dan rapuh,

kelenjar keringat berkurang jumlah dan fungsinya,

perubahan pada bentuk sel epidermis.

l. System Muskuloskeletal.

Tulang kehilangan cairan dan rapuh, kifosis, penipisan

dan pemendekan tulang, persendian membesar dan

kaku, tendon mengkerut dan mengalami sclerosis, atropi

serabut otot sehingga gerakan menjadi lamban, otot

mudah kram dan tremor.

2. Perubahan Mental

Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental adalah:

a. Perubahan fisik.

b. Kesehatan umum.

c. Tingkat pendidikan.
10

d. Hereditas.

e. Lingkungan.

f. Perubahan kepribadian yang drastis namun jarang terjadi

misalnya kekakuan sikap.

g. Kenangan, kenangan jangka pendek yang terjadi 0-10

menit.

h. Kenangan lama tidak berubah.

i. Tidak berubah dengan informasi matematika dan perkataan

verbal, berkurangnya penampilan, persepsi, dan

ketrampilan, psikomotor terjadi perubahan pada daya

membayangkan karena tekanan dari factor waktu.

3. Perubahan Psikososial

a. Perubahan lain adalah adanya perubahan psikososial yang

menyebabkan rasa tidak aman, takut, merasa penyakit selalu

mengancam sering bingung panic dan depresif.

b. Hal ini disebabkan antara lain karena ketergantungan fisik

dan sosioekonomi.

c. Pensiunan, kehilangan financial, pendapatan berkurang,

kehilangan status, teman atau relasi

d. Sadar akan datangnya kematian.

e. Perubahan dalam cara hidup, kemampuan gerak sempit.

f. Ekonomi akibat perhentian jabatan, biaya hidup tinggi.

g. Penyakit kronis.
11

h. Kesepian, pengasingan dari lingkungan social.

i. Gangguan syaraf panca indra.

j. Gizi

k. Kehilangan teman dan keluarga.

l. Berkurangnya kekuatan fisik.

Menurut Hernawati Ina MPH (2006) perubahan pada lansia ada 3 yaitu

perubahan biologis, psikologis, sosiologis.

1. Perubahan biologis meliputi:

a. Massa otot yang berkurang dan massa lemak yang

bertambah mengakibatkan jumlah cairan tubuh juga

berkurang, sehingga kulit kelihatan mengerut dan

kering, wajah keriput serta muncul garis-garis yang

menetap.

b. Penurunan indra penglihatan akibat katarak pada usia

lanjut sehingga dihubungkan dengan kekurangan

vitamin A vitamin C dan asam folat, sedangkan

gangguan pada indera pengecap yang dihubungkan

dengan kekurangan kadar Zn dapat menurunkan nafsu

makan, penurunan indera pendengaran terjadi karena

adanya kemunduran fungsi sel syaraf pendengaran.

c. Dengan banyaknya gigi geligih yang sudah tanggal

mengakibatkan ganguan fungsi mengunyah yang

berdampak pada kurangnya asupan gizi pada usia lanjut.


12

d. Penurunan mobilitas usus menyebabkan gangguan pada

saluran pencernaan seperti perut kembung nyeri yang

menurunkan nafsu makan usia lanjut. Penurunan

mobilitas usus dapat juga menyebabkan susah buang air

besar yang dapat menyebabkan wasir

e. Kemampuan motorik yang menurun selain

menyebabkan usia lanjut menjadi lanbat kurang aktif

dan kesulitan untuk menyuap makanan dapat

mengganggu aktivitas/ kegiatan sehari-hari.

f. Pada usia lanjut terjadi penurunan fungsi sel otak yang

menyebabkan penurunan daya ingat jangka pendek

melambatkan proses informasi, kesulitan berbahasa

kesultan mengenal benda-benda kegagalan melakukan

aktivitas bertujuan apraksia dan ganguan dalam

menyusun rencana mengatur sesuatu mengurutkan daya

abstraksi yang mengakibatkan kesulitan dalam

melakukan aktivitas sehari-hari yang disebut dimensia

atau pikun.

g. Akibat penurunan kapasitas ginjal untuk mengeluarkan

air dalam jumlah besar juga berkurang. Akibatnya dapat

terjadi pengenceran nutrisi sampai dapat terjadi

hiponatremia yang menimbulkan rasa lelah.

h. Incotenensia urine diluar kesadaran merupakan salah

satu masalah kesehatan yang besar yang sering


13

diabaikan pada kelompok usia lanjut yang mengalami

IU sering kali mengurangi minum yang mengakibatkan

dehidrasi.

2. Kemunduran psikologis

Pada usia lanjut juga terjadi yaitu ketidak mampuan untuk

mengadakan penyesuaian–penyesuaian terhadap situasi yang

dihadapinya antara lain sindroma lepas jabatan sedih yang

berkepanjangan.

3. Kemunduran sosiologi

Pada usia lanjut sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan

dan pemahaman usia lanjut itu atas dirinya sendiri. Status social

seseorang sangat penting bagi kepribadiannya di dalam pekerjaan.

Perubahan status social usia lanjut akan membawa akibat bagi

yang bersangkutan dan perlu dihadapi dengan persiapan yang baik

dalam menghadapi perubahan tersebut aspek social ini sebaiknya

diketahui oleh usia lanjut sedini mungkin sehingga dapat

mempersiapkan diri sebaik mungkin.

Perawatan Lansia

Perawatan pada lansia dapat dilakukan dengan melakukan

pendekatan yaitu:

a. Pendekatan Psikis

Perawat punya peran penting untuk mengadakan edukatif

yang berperan sebagai support system, interpreter dan

sebagai sahabat akrab.


14

b. Pendekatan Sosial

Perawat mengadakan diskusi dan tukar pikiran, serta

bercerita, memberi kesempatan untuk berkumpul bersama

dengan klien lansia, rekreasi, menonton televise, perawat

harus mengadakan kontak sesama mereka, menanamkan

rasa persaudaraan.

c. Pendekatan Spiritual

Perawat harus bisa memberikan kepuasan batin dalam

hubungannya dengan Tuhan dan Agama yang dianut lansia,

terutama bila lansia dalam keadaan sakit.


DAFTAR PUSTAKA

1. Darmawan. 2008.Lansia Sebaiknya Jangan Kelebihan atau Kekurangan

gizi.www. Keluarga Berencana & Kependudukan.com tanggal 5 januari 2009

jam 14.00.

2. Maryam, S dkk, 2008. Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya .Salemba

Medika:Jakarta

3. Nugroho, W. 2008.Gerontik dan Geriatik. EGC: Jakarta

4. Nursalam.2008. Konsep & Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu

Keperawatan:

5. Zakiah, Handayani.2007. Motivasi Keluarga, Pemenuhan Gizi, Lanjut


Usia.wwwt.top gdlnode-gdl-res.com diperoleh tanggal 3 januari 2009 jam
15.19

15
LAPORAN PENDAHULUAN

KONSEP ASAM URAT

A. Definisi
Gout adalah peradangan akibat adanya endapan kristal asam urat pada

sendi dan jari (depkes, 1992). Penyakit metabolik ini sudah dibahas oleh

Hippocrates pada zaman Yunani kuno. Pada waktu itu gout dianggap sebagai

penyakit kalangan sosial elite yang disebabkan karena terlalu banyak makan,

anggur dan seks. sejak saat itu banyak teori etiologis dan terapeutik yang telah

diusulkan. Sekarang ini, gout mungkin merupakan salah satu jenis penyakit

reumatik yang paling banyak dimengerti dan usaha-usaha terapinya paling besar

kemungkinan berhasil.

Gout adalah penyakit metebolik yang ditandai dengan penumpukan asam

urat yang nyeri pada tulang sendi, sangat sering ditemukan pada kaki bagian

atas, pergelangan dan kaki bagian tengah. (Merkie, Carrie. 2005).

Gout merupakan penyakit metabolic yang ditandai oleh penumpukan asam

urat yang menyebabkan nyeri pada sendi. (Moreau, David. 2005;407).

Gout merupakan kelompok keadaan heterogenous yang

berhubungandengan defek genetic pada metabolism purin atau hiperuricemia.

(Brunner &Suddarth. 2001;1810).

Artiritis pirai (gout) merupakan suatu sindrom klinik sebagai deposit kristalasam urat di

daerah persendian yang menyebabkan terjadinya serangan inflamasi akut. Jadi, Gout atau

sering disebut ³asam urat´ adalah suatu penyakit metabolik dimana tubuh tidak

16
17

dapat mengontrol asam urat sehingga terjadi penumpukan asam urat yang

menyebabkan rasa nyeri pada tulang dan sendi.

B. Klasifikasi

Gout terbagi atas 2 yaitu :

a. Gout primer, dimana menyerang laki-laki usia degenerative,

dimanameningkatnya produksi asam urat akibat pecahan purin yang disintesis

dalam jumlah yang berlebihan didalam hati. Merupakan akibat langsung dari

pembentukan asam urat tubuh yang berlebihan atau akibat penurunan ekresi

asam urat yaitu hiperurisemia karena gangguan metabolisme purin atau

gangguan ekresi asam urat urin karena sebab genetik. Salah satu sebabnya

karena kelainan genetik yang dapat diidentifikasi, adanya kekurangan enzim

HGPRT (hypoxantin guanine phosphoribosyle tranferase) atau kenaikan

aktifitas enzim PRPP (phosphoribosyle pyrophosphate ), kasus ini yang dapat

diidentifikasi hanya 1 % saja

b. Gout sekunder, terjadi pada penyakit yang mengalami kelebihan pemecahan

purin menyebabkan meningkatnya sintesis asam urat. Contohnya pada pasien

leukemia Disebabkan karena pembentukan asam urat yang berlebihan atau

ekresi asam urat yang berkurang akibar proses penyakit lain atau pemakaian

obat tertentu. merupakan hasil berbagai penyakit yang penyebabnya jelas

diketahui akan menyebabkan hiperurisemia karena produksi yang berlebihan

atau penurunan ekskresi asam urat di urin.

C. Etiologi
18

Penyebab utama terjadinya gout adalah karena adanya deposit

/ penimbunan kristal asam urat dalam sendi. Penimbunan asam urat sering

terjadi pada penyakit dengan metabolisme asam urat abnormal dan Kelainan

metabolik dalam pembentukan purin dan ekskresi asam urat yang kurang dari

ginjal.

Beberapa factor lain yang mendukung, seperti :

a. Faktor genetik seperti gangguan metabolisme purin yang

menyebabkanasam urat berlebihan (hiperuricemia), retensi asam urat, atau

keduanya.

b. Penyebab sekunder yaitu akibat obesitas, diabetes mellitus,

hipertensi,gangguan ginjal yang akan menyebabkan :

c. Pemecahan asam yang dapat menyebabkan hiperuricemia.

d. Karena penggunaan obat-obatan yang menurunkan ekskresi asamurat

seperti : aspirin, diuretic, levodopa, diazoksid, asam nikotinat,aseta

zolamid dan etambutol.

e. Pembentukan asam urat yang berlebih

f. Gout primer metabolik disebabkan sistensi langsung yang bertambah.

g. Gout sekunder metabolik disebabkan pembentukan asam urat berlebih

karana penyakit lain, seperti leukimia.

h. Kurang asam urat melalui ginjal

i. Gout primer renal terjadi karena ekresi asam urat di tubulus distalginjal yang

sehat. Penyabab tidak diketahui. Gout sekunder renal disebabkan oleh karena

kerusakan ginjal,misalnya glumeronefritis kronik atau gagal ginjal kronik.


19

D. Patofisiologi

Peningkatan kadar asam urat serum dapat disebabkan oleh pembentukan

berlebihan atau penurunan eksresi asam urat, ataupun keduanya. Asam urat

adalah produk akhir metabolisme purin. Secara normal, metabolisme purin

menjadi asam urat dapat diterangkan sebagai berikut:

Sintesis purin melibatkan dua jalur, yaitu jalur de novo dan jalur

penghematan (salvage pathway).

1. Jalur de novo melibatkan sintesis purin dan kemudian asam urat melalui

prekursor nonpurin. Substrat awalnya adalah ribosa-5-fosfat, yang diubah

melalui serangkaian zat antara menjadi nukleotida purin (asam inosinat,

asam guanilat, asam adenilat). Jalur ini dikendalikan oleh serangkaian

mekanisme yang kompleks, dan terdapat beberapa enzim yang mempercepat

reaksi yaitu: 5-fosforibosilpirofosfat (PRPP) sintetase dan

amidofosforibosiltransferase (amido-PRT). Terdapat suatu mekanisme

inhibisi umpan balik oleh nukleotida purin yang terbentuk, yang fungsinya

untuk mencegah pembentukan yang berlebihan.

2. Jalur penghematan adalah jalur pembentukan nukleotida purin melalui basa

purin bebasnya, pemecahan asam nukleat, atau asupan makanan. Jalur ini

tidak melalui zat-zat perantara seperti pada jalur de novo. Basa purin bebas

(adenin, guanin, hipoxantin) berkondensasi dengan PRPP untuk membentuk

prekursor nukleotida purin dari asam urat. Reaksi ini dikatalisis oleh dua

enzim: hipoxantin guanin fosforibosiltransferase (HGPRT) dan adenin

fosforibosiltransferase (APRT).
20

Asam urat yang terbentuk dari hasil metabolisme purin akan

difiltrasi secara bebas oleh glomerulus dan diresorpsi di tubulus proksimal

ginjal. Sebagian kecil asam urat yang diresorpsi kemudian diekskresikan

di nefron distal dan dikeluarkan melalui urin

E. Manifestasi Klinis

Manisfestasi sindrom gout mencakup artiritis gout yang akut (serangan

rekuren inflamasi artikuler dan periartikuler yang berat), tofus (endapan kristal

yang menumpuk dalam jaringan aritukuler,jaringan oseus,jaringan lunak,serta

kartilago),nefropati gout (gangguan ginjal) dan pembentukan assam urat dalam

traktus urunarus. Ada empat stadium penyakit gout yang di kenali :

1. Hiperutisemia asimtomatik

2. Artiritis gout yang kronis

3. Gout interkritikal

4. Gout tofaseus yang kronik

Gout akut biasanya terjadi pada pria sesudah lewat masa pubertas dan

sesudah menopause pada wanita, sedangkan kasus yang paling banyak

diternui pada usia 50-60. Gout lebih banyak dijumpai pada pria, sekitar 95

persen penderita gout adalah pria. Urat serum wanita normal jumahnya

sekitar 1 mg per 100 mI, lebih sedikit jika dibandingkn dengan pria. Tetapi

sesudah menopause perubahan tersebut kurang nyata. Pada

priahiperurisemia biasanya tidak timbul sebelurn mereka mencapai usia

remaja.
21

Gout Akut biasanya monoartikular dan timbulnya tiba-tiba. Tanda-

tanda awitan serangan gout adalah rasa sakit yang hebat dan peradangan

lokal. Pasien mungkin juga menderita demam dan jumlah sel darah

putihmeningkat. Serangan akut mungkin didahului oleh tindakan

pembedahan, trauma lokal, obat, alkohol dan stres emosional. Meskipun

yang paling sering terserang mula-mula adalah ibu jari kaki, tetapi sendi

lainnya dapat juga terserang. Dengan semakin lanjutnya penyakit maka

sendi jari, lutut, pergelangan tangan, pergelangan kaki dan siku dapat

terserang gout. Serangan gout akut biasanya dapat sembuh sendiri.

Kebanyakan gejala-gejala serangan Akut akan berkurang setelah 10-14 hari

walaupun tanpa pengobatan.

Perkembangan serangan Akut gout biasanya merupakan kelanjutan

dari suatu rangkaian kejadian. Pertama-tama biasanya terdapat supersaturasi

urat dalam plasma dan cairan tubuh. Ini diikuti dengan pengendapan kristal-

kristal urat di luar cairan tubuh dan endapan dalarn dan seldtar sendi. Tetapi

serangan gout sering merupakan kelanjutan trauma lokal atau ruptura tofi

(endapan natrium urat) yang merupakan penyebab peningkatan konsentrasi

asam urat yang cepat. Tubuh mungkin tidak dapat menanggulangi

peningkatan ini dengan memadai, sehingga mempercepat proses

pengeluaran asam urat dari serum. Kristalisasi dan endapan asam urat

merangsang serangan gout. Kristal-kristal asam urat ini merangsang respon

fagositosis oleh leukosit dan waktu leukosit memakan kristal-kristal urat

tersebut maka respon mekanisme peradangan lain terangsang. Respon

peradangan mungkin dipengaruhi oleh letak dan besar endapan kristal asam
22

urat. Reaksi peradangan mungkin merupakan proses yang berkembang dan

memperbesar diri sendiri akibat endapan tambahan kristal-kristal dari

serum.

Periode antara serangan gout akut dikenal dengan nama gout inter

kritikal. Pada masa ini pasien bebas dari gejala-gejala klinik. Gout kronik

timbul dalarn jangka waktu beberapa tahun dan ditandai dengan rasa nyeri,

kaku dan pegal. Akibat adanya kristal-kristal urat maka terjadi peradangan

kronik, sendi yang bengkak akibat gout kronik sering besar dan

berbentuk nodular. Serangan gout Aut dapat terjadi secara simultan diserta

gejala-gejala gout kronik. Tofi timbul pada gout kronik karena urat tersebut

relatif tidak larut. Awitan dan ukuran tofi sebanding dengan kadar urat

serum. Yang sering terjadi tempat pembentukan tofi adalah: bursa

olekranon, tendon Achilles, permukaan ekstensor dari lengan bawah, bursa

infrapatella dan helix telinga.

Tofi-tofi ini mungkin sulit dibedakan secara klinis dari rheumatoid

nodul. Kadang-kadang tofi dapat membentuk tukak dan kemudian

mengering dan dapat membatasi pergerakan sendi. Penyakit ginjal dapat

terjadi akibat hiperurisemia kronik, tetapi dapat dicegah apabila gout

ditangani secara memadai.

F. Pemeriksaan penunjang

1. Pemeriksaan Laboratorium

1) Didapatkan kadar asam urat yang tinggi dalam darah yaitu = > 6 mg

% normalnya pada pria 8 mg% dan pada wanita 7 mg%.


23

2) Pemeriksaan cairan tofi sangat penting untuk pemeriksaan diagnosa

yaitu cairan berwarna putih seperti susu dan sangat kental sekali.

3) Pemeriksaan darah lengkap

4) Pemeriksaan ureua dan kratinin

a. kadar ureua darah normal : 5-20 ,mg/dl

b. kadar kratinin darah normal :0,5-1 mg/dl

2. Pemeriksaaan fisik

G. Diagnosa

Untuk mendiagnosis artritis gout digunakan kriteria American

Rheumatism Association (ARA), yaitu:

1. terdapat kristal monosodium urat di dalam cairan sendi

2. terdapat kristal monosodium urat di dalam tofi,

3. Atau didapatkan 6 dari 12 kriteria berikut ini :

a. Inflamasi maksimum pada hari pertama

b. Serangan artritis akut lebih dari 1 kali

c. Artritis monoartikular

d. Sendi yang terkena bewarna kemerahan

e. Pembengkakan dan sakit pada sendi metatarsalfalangeal 1

f. Serangan pada sendi tarsal unilateral


24

g. Adanya tofus

h. Hiperurisemia

i. Pada gambaran radiologik, tampak pembengkakan sendi asimetris

j. Pada gambaran radiologik, tampak krista subkortikal tanpa erosi

k. Kultur bakteri cairan sendi negatif

H. Penalaktasanaan medis dan keperawatan

1. Pengobatan Fase akut

Kolkisin merupakan obat pilihan untuk mengatasi artritis gout akut.

Obat ini mempunyai efek penghambat motilitas dan asadesi netrofil,

mengurangi pelepasan eikasinoid, PGE2, dan LTB4 oleh monosit dan

netrofil dengan cara menghambat fosfolipase-A2, mengubah kemotaksis

fagosit. Kolkisin diberikan 0,5mg/jam sampai tercapainya perbaikan nyeri

dan inflamasi, atau timbul toksisitas gastrointestinal seperti muntah dan

diare, atau tercapai dosis maksimal per hari 8 mg. Pada orang dengan

gangguan fungsi ginjal kolkisin harus diturunkan.

2. Pengobatan hiperurisemia

Diet rendah purin memegang peranan penting. Obat yang dapat

menurunkan kadar asam urat darah dibagi dua, yaitu golongan urikosurik

dan golongan penghambat xantine-oksidase. Obat golongan urikosurik yang

penting adalah probenesid. Obat ini bekerja dengan cara menghambat

reabsorpsi asam urat di tubulus secara kompetitif, sehingga eksresi asam


25

urat melalui ginjal ditingkatkan. Dosis awalnya adalah 0,5mg/hari dan

secara berkala dapat ditingkatkan menjadi 1-3 mg/hari dalam dosis terbagi

2-3 kali sehari. Obat golongan ini tidak boleh diberikan bila produksi urin

kurang dari 1400ml/24 jam. Pemberian ini dikontraindikasikan bila terdapat

produksi dan eksresi asam urat berlebih, riwayat batu ginjal, volume urin

berkurang, dan hipersensitif terhadap probenesid.

Obat golongan inhibitor xantine-oksidase (alopurinol) merupakan obat

yang poten untuk mencegah konversi hipoxantine dan xantin menjadi asam

urat. Akibatnya kadar kedua zat tersebut akan meningkat dan akan dibuang

melalui ginjal.

Indikasi pemberian alopurinol adalah:

1. Penderita yang tidak memebri respon adekuat terhadap gol.

Urikosurik, misalnya pada gg. Fungsi ginjal.

2. Penderita yang hipersensitif terhadap gol.urikosurik

3. Penderita dengan batu urat di ginjal.

4. Penderita dnegan tofus yang besar, yang memerlukan perawatan

kombinasi alopurinol dengan urikosurik.

5. Hiperurisemia sekunder karena penyakit mieloproliperatif, dapat

diberikan alupurinol sebelum pemberian sitostatika.

Dosis rata-rata 300mg/hari, tetapi pada orang tua dan penderita dengan

GFR di bawah 50m/menit, dapat dimulai dnegan dosis 100mg/hari.


26

3. Komplikasi Hiperurisemia pada Ginjal

Tiga komplikasi hiperurisemia pada ginjal berupa batu ginjal, gangguan

ginjal akut dan kronis akibat asam urat. Batu ginjal terjadi sekitar 10-25%

pasien dengan gout primer. Kelarutan kristal asam urat meningkat pada

suasana pH urin yang basa. Sebaliknya, pada suasana urin yang asam,

kristal asam urat akan mengendap dan terbentuk batu.

Gout dapat merusak ginjal sehingga pembuangan asam urat akan

bertambah buruk. Gangguan ginjal akut gout biasanya sebagai hasil dari

penghancuran yang berlebihan dari sel ganas saat kemoterapi tumor.

Penghambatan aliran urin yang terjadi akibat pengendapan asam urat pada

duktus koledokus dan ureter dapat menyebabkan gagal ginjal akut.

Penumpukan jangka panjang dari kristal pada ginjal dapat menyebabkan

gangguan ginjal kronik.7

I. Komplikasi

Kelainan sistem pencernaan yang sering dijumpai adalah gastritis danulkus

peptik yang merupakan komlikasi utama penggunaan obat anti

inflamasinonsteroid (OAINS) atau obat pengubah perjalanan penyakit (

disease modifyingantirhematoid drugs, DMARD ) yang menjadi faktor

penyebab morbiditas danmortalitas utama pada arthritis reumatoid

Komlikasi saraf yang terjadi memberikan gambaran jelas , sehingga

sukar dibedakan antara akibat lesi artikuler dan lesi neuropatik. Umumnya

berhubungandengan mielopati akibat ketidakstabilan vertebra servikal dan

neuropati iskemik akibat vaskulitis


27

J. Asuhan keperwatan pada klien gout

a. Pengkajian Identitas Klien

b. Anamnesa

- Identitas Klien

- Riwayat kesehatan klien

- Keluhan utama

- Riwayat kesehatan sekarang

- Riwayat kesehatan masa lalu

- Riwayat kesehatan keluarga

- Head to toe terdiri dari:

Pemeriksaan dilakukan mulai dari kepala sampai kaki (menggunakan

Data fokus) dengan menggunakan teknik inspeksi (gerakan dada yang

tidak simetris), palpasi (terdapat getaran yang tidak simetris), perkusi, dan

auskultasi

c. Pemeriksaan penunjang

1. Pemeriksaan Laboratorium

- Didapatkan kadar asam urat yang tinggi dalam darah yaitu = >

6 mg % normalnya pada pria 8 mg% dan pada wanita 7 mg%.


28

- Pemeriksaan cairan tofi sangat penting untuk pemeriksaan

diagnosa yaitu cairan berwarna putih seperti susu dan sangat kental

sekali.

- Pemeriksaan darah lengkap

- Pemeriksaan ureua dan kratinin

2. kadar ureua darah normal : 5-20 ,mg/dl

3. kadar kratinin darah normal :0,5-1 mg/dl

d. Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri behubungan dengan kerusakan integritas jaringan sekunder tehadap gout

ditandai dengan pasien mengunkapkan ketidak nyamanan, merintih,melindungi sisi

yang sakit, meringis

Tujuan Intervensi rasional

Nyeri berkurang 1. Pantau kadar asam 1.untuk mengevaluasi


urat serum
keekfetifan terapi

2. Berikan istirahat dengan


2.Peninggian dan
kaki ditnggikan dan berikan
pemberian kantung
kantung es.
dingin membantu
mengurangi bengkak.

3. Berikan obat anti gout 3.Obat anti gout


yang diresepkan dan bekrja dengan
29

evaluasi menghambat rabsorsi


keefektipannya. asam urat di tubulus
ginjal

4. Berikan pasien untuk


minum 2 ± 3 liter cairan
setiap hari dan
meningkatknmasukan
makanan pembuatan
alkalin

2. Kurang pengetahuan tentang pengobatan dan perawatan dirumah.

Tujuan Intervensi Rasional

Pasien dan keluarga· Jelaskan pada pasien· Memberikan


dapat memahami tentang asal mula pengetahuan pasien
penggunaan obat dan penyakit sehingga pasien dapat
perawatan menghindari terjadinya
dirumah.Kriteria : serangan berulang.
· Berikan Jadwal
obat
· Pasien dan keluarga · Penjelasan ini dapat
yang harus di gunakan
menunjukkan meningkatkan koordinasi
meliputi nama obat,
pemahaman tentang dan kesadaran pasien
dosis, tujuan dan efek
kondisi prognosis dan terhadap pengobatan
samping
perawatan. yang teratur.

· Mengembangkan
rencana untuk
perawatan diri,
.
termasuk modifikasi
gaya hidup yang
konsisten dengan
30

mobilitas dan atau


pembatasan aktifitas.

3. Gangguan mobilitas fisik burhungan dengan nyeri persendian

Tujuan Intervensi Rasional

Pasien dapat· Evaluasi pemantauan· Tingkat aktifitas /


meningkatkan aktifitas tingkat inflamasi atau latihan tergantung dari
sesuai kemampuan. rasa sakit pada sendi. perkembangan atau
Kriteria: resolusi dan proses
· Pertahankan istirahat
inflamasi
· Pasien dapat tirah baring/duduk jika
mempertahankan diperlukan. Jadwal· Istirahat yang
fungsi posisi dengan aktifitas untuk sistemik selama
tidak adanya memberikan periode eksaserbasi akut dan
pembatasan istirahat yang terus seluruh fase penyakit
kontraktur. menerus dan tidur malam yang penting untuk
hari yang tidak mencegah kelelahan,
· Pasien dapat
terganggu. mempertahankan
mempertahankan atau
kekuatan.
meningkatkan · berikan lingkungan
kekuatan dan fungsi yang aman misalnya· Menghindari cedera
dari kokompensasi menggunakan pegangan akibat kecelakaan atau
bagian tubuh. tangga pada bak atau jatuh
pancuran dan toilet
· Pasien dapat
mendemonstrasikan
tehnik atau perilaku
yang memungkinkan
melakukan aktfitas
DAFTAR PUSTAKA

Brunney & suddarjh, 2001. Keperawatan Medikal – bedah. EGC. Jakarta.

Compiement, Tim, 2002. Kumpulan Makalah Keperawaan Medikal Bedah. UGM.


Yogyakarta.

Prince, Sylvia Anderson, 1999., Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses


Penyakit., Ed. 4, EGC, Jakarta.

Carpito, Lynda juall. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Penerbit :
EGG, jakarta

31
ASUHAN KEPERAWATAN KELOMPOK LANJUT USIA
DENGAN MASALAH RESIKO CIDERA
SEHUBUNGAN DENGAN KELEMAHAN OTOT
PANTI GRIYA ASIH LAWANG MALANG
A. DATA UMUM

Nama Panti : Rumah Asuh Anak dan Lansia Griya Asih Lawang Malang

Alamat Panti : Jl. Ngamarto Selatan No 628 Lawang Malang

B. DATA INTI

a. Sejarah berdirinya Panti Werdha

Sebelum dipindah ke Lawang, Griya Asih berada di Surabaya

kemudian pada tahun 1994 Rumah Asuh lansia dan anak asuh

dijadikan satu tempat menjadi RAAL. Dan tempatnya sekarang ada di

Jalan pramuka RT 09 RW 05 Desa Ngamarto Lawang alasan dipindah

dari Surabaya ke Lawang adalah lingkungan yang lebih tenang dan

udara yang lebih segar dan menyehatkan bagi para lansia karena dulu

waktu di Surabaya tempat ini dekat dengan pabrik dan bengkel mobil.

a. Kegiatan hidup sehari-hari

Semua penghuni panti werda Griya Asih makan sebanyak 3x/ hari,

disediakan oleh panti, ekstra fooding 3x/ minggu, ekstra fooding

kacang hijau 2x/minggu dengan rincian hari pembagian susu yaitu hari

Minggu, Rabu, dan Jumat. Pola istirahat tidur rata-rata 8-10 jam/hari.

Pola eliminasi 1-2 x / hari. Seluruh penghuni diatur jadwal mandi

2x/hari dengan 10 orang yang harus dibantu oleh perawat dan sisanya

sebanyak 9 orang bisa mandi sendiri.

32
33

b. Perilaku terhadap kesehatan

Penghuni panti werda tidak ada yang merokok, alkohol, tidak

mengkonsumsi gula berlebih dan mengkonsumsi garam yang berlebih.

Ada beberapa orang yang menkonsumsi kopi tetapi tidak disediakan

oleh panti. Diet makanan penghuni panti sudah diatur oleh ahli dapur

disesuaikan dengan kondisi setiap penghuni. Penghuni panti lebih

percaya terhadap obat-obatan medis daripada pengobatan alternatif.

c. Data Sub sistem

Lingkungan fisik: konstruksi bangunan masih kuat, tetapi ada

dinding yang sedikit retak, cat tembok ada yang sudah luntur,

kebersihan lantai baik, setiap hari disapu dan dipel, lantai tidak licin

dan terbuat dari tekel, ventilasi cukup karena setiap kamar terdapat

ventilasi, pencahayaan baik. Secara umum kebersihan baik.


-
Luas bangunan: 1600 M2
-
luas tanah: 26.185 M2
-
Status tanah: Sertifikat Hak Milik GPIB
-
Keadaan lahan tertata rapi dan sebagian besar dimanfaatkan

sebagai kebun
-
Sumber Air Bersih berasal dari PDAM.
-
Sarana pembungan sampah dibuang di halaman belakang dengan di

buat lubang kemudian di bakar pada musim kemarau sedangkan

pada musim penghujan ditimbun untuk dijadikan pupuk.


-
Sarana SPAL dibuang di septic tank
34

-
Kamar mandi berjumlah 9 kamar mandi, disebelah timur 4 buah

dan sebelah barat 4 buah sedangkan 1 kamar mandi khusus untuk

perawat.

d. Pelayanan kesehatan

Total pegawai berjumal 29 orang. Jumlah pramulansia = 7 orang,

terbagi atas 2 shift pagi dan malam, tiap shift berjumlah 3 orang dan 1

libur. Tiap shift memiliki jam kerja 12 jam.

Kegiatan kegiatan di panti ini meliputi kegiatan rutin (mandi, senam

pagi, kegiatan bebas, makan pagi, ibadah pagi, berjemur, mengukur

TTV sampai menunggu makan siang, tidur siang sampai jam 3,

kemudian mandi dilanjutkan makan sore jam 5, ibadah sore, tidur atau

istirahat)

e. Transportasi, keamanan dan keselamatan

Akses jalan tergolong rusak ringan (jalan diaspal tapi berlubang)

Transportasi umum untuk menuju panti hanya samapai gang kemudian

masuk kedalam lagi harus menggunakan jasa angkutan ojek

Keamanan lingkungan dijaga oleh satpam selama 24 jam dengan 2

shift

Alat pemadam kebakaran tidak ada,kualitas air layak pakai dan udara

di lingkungan masih bersih dan sehat karena jauh dari industri dan

jalan raya. Didalam ruangan panti disediakan pegangan mobilisasi

untuk para lansia. Untuk diluar ruangan tidak ada pegangan tapi

jalanya sudah di haluskan atau di paving


35

f. Sarana komunikasi yang digunakan telepon rumah dan sebagaian kecil

ada yang menggunakan handphone. Pola komunikasi antar kelompok

berdialog secara langsung dengan sebgaian besar menggunakan bahasa

Indonesia dan sebagian kecil menggunakanan bahasa Mandarin.

Penyebaran informasi diumumkan secara lisan oleh karyawan panti.

Komunikasi dengan institusi luar menggunakan surat dari kantor atau

melalui kantor terlebih dahulu. Tingkat pendapatan tiap penghuni

sebagian besar berasal dari keluarga dan gereja yang mengirim serta

sumbangan dari donatur. Di lingkungan panti tidak ada toko dan pasar

tetapi di luar lingkungan panti ( sekitar panti) terdapat warung dan

toko.

g. Sarana Rekreasi yaitu terdapat televisi dan ada sebagian kecil

penghuni biasanya diajak keluar oleh kelurganya. Sebagian besar

penghuni panti waktu luang digunakan untuk melihat TV, merajut,

mengobrol dengan sesama penghuni panti.setiap 2x dalam satu tahun

diadakan rekreasi bersama dari panti.

b. Data Demografi
- Jumlah anggota: 19 Orang (Yang dikaji 9 lansia)
- Distribusi Lansia menurut:
 Tabel 2.1 Distribusi Frekuensi Menurut Jenis Kelamin
NO. JENIS KELAMIN JUMLAH PRESENTASE

1. P 9 100 %

2. L 0 0%

Jumlah 9 100 %

Intepretasi data :
36

Berdasarkan tabel 2.1 diketahui bahwa dari 9 lansia seluruhnya


berjenis kelamin perempuan.

 Tabel 2.2 Distribusi Menurut Umur


NO. RENTANG JUMLAH PRESENTASE
UMUR

1. 60-74 tahun 1 11,1%

2. 75-90 tahun 6 66,7 %

3. 90 tahun keatas 2 22,2 %

Jumlah 9 100%

Interpretasi data:

- Berdasarkan tabel 2.2 diketahui bahwa dari 9 lansia, yang paling


banyak lansia dengan umur 75-90 adalah 6 lansia (66,7%) dan yang
paling sedikit adalah lansia yang berumur 60-74 ke atas yaitu 1 orang
(11,1%).
 Tabel 2.3 Distribusi Menurut Status Perkawinan
NO. STATUS JUMLAH PRESENTASE
PERKAWINAN

1. Kawin 7 77,8%

2. Belum kawin 2 22,2%

Jumlah 9 100%

Interpretasi data:

Berdasarkan tabel 2.3 diketahui dari 9 lansia yang paling banyak


adalah kawin yaitu sebanyak 7 orang (77,8%) yang sudah menikah
dan yang paling sedikit lansia yang belum kawin 2 orang ( 22,2%).

Tabel 2.4 Distribusi Menurut Agama

NO. AGAMA JUMLAH PRESENTASE

1. Islam 0 0%
37

2. Kristen 9 100 %

3. Katolik 0 0%

Jumlah 9 100%

Interpretasi data:

Berdasarkan tabel 2.4 diketahui agama yang paling banyak dianut di ruang
Fransiscus adalah yang paling banyak beragama kristen yaitu 9 orang
(100%).

Tabel 2.5 Distribusi Menurut Pendidikan Terakhir

NO. PENDIDIKAN JUMLAH PRESENTASE


TERAKHIR

1. SD -

2. SMP 1 11,1%

3. SMA/SMK 5 55,6%

4. Perguruan Tinggi 1 11,11%

5. Tidak Sekolah 2 22,2%

Jumlah 9 100%

Interpretasi data:

Berdasarkan tabel 2.5 diketahui bahwa pendidikan terakhir para


lansia yang paling banyak adalah SMA yaitu sebanyak 5 orang (
55,6% ) dan yang paling sedikit pendidikan lansia adalah SMP dan
Perguruan Tinggi (11,1%).

Tabel 2.6 Distribusi Menurut Hidup Bersama:

NO. HIDUP JUMLAH PRESENTASE


BERSAMA

1. Sendiri 2 22,2%

2. Anak/Cucu 2 22,2%
38

3. Keluarga 5 55,6%

Jumlah 9 100%

Interpretasi data:

Berdasarkan tabel 2.6 diketahui bahwa lansia yang tinggal dirumah


paling banyak tinggal bersama keluarga sebanyak 5 orang ( 55,6%
) dan lansia yang paling sedikit tinggal sendiri dan anak/cucu
sebanyak 1 orng ( 11,1% ).

c. Vital Statistik
Data Status Kesehatan Kelompok Usia Lanjut:

 Masalah Kesehatan Saat ini:


Berdasarkan pengkajian yang telah dilakukan oleh kelompok, masalah
kesehatan yang lebih banyak di derita di panti griya asih adalah
Osteoporosis.

 Tabel 3.1 Distribusi Masalah Kesehatan saat ini


NO. JENIS JUMLAH PRESENTASE
PENYAKIT

1. Hipertensi 5 55,6%

2. Diabetes Melitus 0 0%

3. Post Stroke 1 11,1%

4. Dermatitis 0 0%

5. Gout Arthritis 2 22,2%

6. Kontraktur 0 0%

7. Osteoporosis 1 11,1%

8. Paru-Paru 1 11,1%

Interpretasi data:
39

Berdasarkan tabel 3.1 diketahui bahwa dari 9 lansia penyakit yang


paling banyak diderita oleh lansia adalah Hipertensi yaitu sebanyak
5 orang (55,6%).

 Tabel 3.2 Distribusi Menurut Kegiatan hidup sehari-hari


PEMENUHAN
NO. KEBUTUHAN JUMLAH PRESENTASE
NUTRISI MAKAN

1. 3 kali sehari 9 100%

2 Tidak mau makan 0 0%

Jumlah 9 100%

Interpretasi data:

Berdasarkan tabel 3.2 diketahui bahwa dari 9 lansia dalam


pemenuhan kebutuhan nutrisi makan yang paling banyak adalah 3
kali sehari sebanyak 9 orang(100%). Menu makanan dipanti:
(makan pagi dan siang: nasi, lauk, sayur, buah
[pepaya/pisang/semangka], minum teh/air putih), Snack
(kentang,bubur kacang hijau,kolak).

 Tabel 3.3 Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi Minum

PEMENUHAN
NO. KEBUTUHAN JUMLAH PRESENTASE
NUTRISI MINUM

1. 5-8 gelas sehari 3 33,3%

2. 3-4 gelas sehari 4 44,4%

3. 1-2 gelas sehari 2 22,2%

Jumlah 9 100%

Interpretasi data:

Berdasarkan tabel 3.3 diketahui bahwa dari 9 lansia dalam


pemenuhan kebutuhan nutrisi minum 5-8 gelas sehari adalah
40

sebanyak 3 orang (33,3%), 3-4 gelas sehari sebanyak 4 orang


(44,4%) dan 1-2 gelas sehari sebanyak 2 orang (22,2%). Minuman
yang diberikan pada lansia berupa teh, susu, dan air putih. Namun
untuk gula agak dikurangi.

 Tabel 3.4 Pola Istirahat Tidur

NO. POLA JUMLAH PRESENTASE


ISTIRAHAT
TIDUR

1. 8-9 jam 6 66,7%

2. 6-7 jam 2 22,2%

3. 4-5 jam 1 11,1%

Jumlah 9 100%

Interpretasi data:

Berdasarkan tabel 3.4 diketahui bahwa dari 9 lansia dalam Pola


istirahat tidur yang paling banyak adalah 8-9 jam sebanyak 6 orang
(66,7%) dan yang paling sedikit adalah 4-5 jam 1 orang (11,1%).
Para lansia tidur pada siang hari pada pukul 11.00-13.00 WIB dan
pada malam hari pada pukul 18.00-03.00 WIB.

 Tabel 3.5 Pola Eliminasi Urin

NO. POLA JUMLAH PRESENTASE


ELIMINASI URIN

1. 1-3 kali sehari 5 55,6%

2. Inkontinensia urin 4 44,4%

Jumlah 9 100%

Interpretasi data:

Berdasarkan tabel 3.5 diketahui bahwa dari19 lansia dalam pola


eliminasi uri 1-3 kali sehari yang paling banyak adalah sebanyak 5
41

orang (55,6%) dan untuk inkontinensia urin (menggunakan popok


dan pampers jadi untuk melihat berapa kali eliminasi uri tidah bisa
di hitung) adalah sebanyak 4 orang (44,4%)

 Tabel 3.6 Pola Eliminasi Alvi

NO. POLA JUMLAH PRESENTASE


ELIMINASI ALVI

1. 1 kali sehari 6 66,7%

2. 2 kali sehari 1 11,1%

3. 3 kali seminggu - 0%

4. Inkontinensia alvi 2 22,2%

Jumlah 19 100%

Interpretasi data:

Berdasarkan tabel 3.6 diketahui bahwa dari 9 lansia dalam


eliminasi alvi yang paling banyak adalah 1 kali sehari sebanyak 6
orang (66,7%), 2kali sehari sebanyak 1 orang (11,1%) dan
inkontinensia alvi sebanyak 2 orang (22,2%).

 Tabel 3.7 Mandi

NO. MANDI JUMLAH PRESENTASE

1. 1 kali sehari - -

2. 2 kali sehari 8 88,9 %

3. Seka 1 11,1 %

Jumlah 9 100%

Interpretasi data:

Berdasarkan data 3.7 diketahui bahwa dari 9 lansia di ruang


Fransiscus yang paling banyak mandi 2xsehari sebanyak 8 orang
88,9% dan yang paling sedikit seka sebanyak 1 orang yaitu 11,1 %.
42

 Tabel 3.8 Distribusi Menurut Alat Bantu yang digunakan:


NO. ALAT BANTU JUMLAH PRESENTASE

1. Tanpa Bantuan 2 22,2%

2. Kursi Roda 5 55,6%

3. Tongkat 1 11,1%

4. Bedrest 1 11,1%

Jumlah 19 100%

Interpretasi data:

Berdasarkan tabel 3.8 diketahui bahwa dari 9 lansia yang paling


banyak adalah menggunakan alat bantu seperti kursi roda sebanyak
5 orang (55,6%), tanpa alat bantu tongkat sebanyak 2 orang
(22,2%) dan yang paling sedikit adalah dengan tongkat dan bedrest
sebanyak 1 orang (11,1%).

 Tabel 3.9 Tingkat Kemandirian (Indexs Barthel)


NO. ALAT BANTU JUMLAH PRESENTASE

1. Mandiri 2 22,2%

2. Parsial 5 55,6%

3. Total 2 22,2%

Jumlah 9 100%

Interpretasi data:

Berdasarkan tabel 3.9 diketahui bahwa dari 9 lansia yang paling


banyak rata-rata untuk indeks baerthel bisa melakukan aktivitas
secara parsial 5 orang (55,6%), dan yang paling sedikit secara
mandiri dan total yaitu sebanyak 2 orang (22,2%).

 Tabel 3.10 Short portable mental status questioner

NO. SPMSQ JUMLAH PRESENTASE


43

1. Fungsi Intelektual utuh 6 66,6%

2. Fungsi intelektual 1 11,1%


kerusakan ringan

3. Fungsi intelektual - 0
kerusakan sedang

4. Fungsi intelektual 2 22,2%


kerusakan berat

Jumlah 9 100%

Interpretasi data:

Berdasarkan table 3.10 diketahui bahwa dari 9 lansia yang paling


banyak adalah memiliki fungsi intelektual utuh yaitu sebanyak 6
orang (66,6%) dan yang paling sedikit yaitu mengalami fungsi
intelektual kerusakan ringan sebanyak 1 orang (11,1%).

 Table 3.11 Mini Mental Status Exam


NO. MMSE JUMLAH PRESENTASE

1. Tidak ada gangguan 6 66,6%


kognitif

2. Gangguan kognitif 1 11,1%


sedang

3. Gangguan kognitif - -
berat

4. Tidak Terkaji 2 22,2%

Jumlah 9 100%

Interpretasi data:

Berdasarkan table 3.11 diketahui bahwa dari 9 lansia yang paling


banyak adalah tidak mengalami gangguan kognitif sebanyak 6
orang (66,6%) dan yang paling sedikit adalah yang mengalami
gangguan kognitif sedang sebanyak 1 orang (11,1%) dan yang
tidak terkaji yaitu 2 orang (22,2%)
44

 Tabel 3.12 Pengkajian Keseimbangan


NO. KESEIMBANGAN JUMLAH PRESENTASE

1. Resiko jatuh tinggi 2 22,2%

2. Resiko jatuh sedang 3 33,3%

3. Resiko jatuh rendah 4 44,4%

Jumlah 9 100%

Interpretasi data:

Berdasarkan table 3.12 diketahui bahwa dari 9 lansia yang paling


banyak untuk keseimbangan adalah resiko jatuh tinggi sebanyak 2
orang (22,2%) dan yang paling sedikit resiko jatuh sedang
sebanyak 3 orang (33,3%) dan rendah sebanyak 4orang (44,4%).

 Tabel 3.13 Tekanan Darah


NO. KLASIFIKASI JUMLAH PRESENTASE

1. Normal 1 11,1%

(<140/<90 mmHg)

2. Ringan 8 88,8%

(140-160/90-100
mmHg)

3. Sedang - -

(160-180/100-110
mmHg)

4. Berat - -

(>180/>110 mmHg)

Jumlah 9 100%

Interpretasi data:

Berdasarkan table 3.13 diketahui bahwa dari 9 lansia yang


terbanyak adalah mengalami tekanan darah normal yaitu 1 orang
45

(11,1%) dan yang paling sendikit menderita tekanan darah ringan


sebanyak 8 orang (88,8%).

 Tabel 3.14 Nadi


NO. KLASIFIKASI JUMLAH PRESENTASE

1. Bradikardi - -

2. Normal 9 100%

3. Tachikardi - -

Jumlah 9 100%

Interpretasi data:

Berdasarkan table 3.14 diketahui bahwa dari 9 lansia nadi yang di


dapat berdasarkan pengukuran dalalam batas normal sebanyak 9
orang (100%)

 Table 3.15 Perilaku terhadap kesehatan


NO. PERILAKU JUMLAH PRESENTASE
TERHADAP
KESEHATAN

1. Merokok 0 -

2. Minum kopi 0 -

3. Minum alkohol 0 -

4. Suka manis 2 22,2%

5. Suka asin 5 55,5%

6. Lemak 1 11,1%

7. Tidak sama sekali 1 11,1%

Jumlah 9 100%

Interpretasi data:

Berdasarkan tabel 3.15 diketahui dari pengkajian beberapa lansia


yang berjumlah 9 orang, yang terbanyak suka makanan asin
46

sebanyak 7 orang (36,84%) dan yang paling sedikit perilaku hidup


suka makanan berlemak sebanyak 2 orang (10,23%).

 Table 3.16 Keluhan lansia saat ini


No. Keluhan Jumlah Presentase

1. Pegal linu 6 31,58%

2. Pusing 4 15,79%

3. Batuk 1 -

4. Badan terasa lemah 1 15,79%

5. Sulit berdiri dan 6 26,31%


berjalan

6. Tidak ada keluhan - 10,53%

Jumlah 18 100%

Interpretasi data:

Berdasarkan tabel 3.16 diketahui bahwa keluhan yang saat ini para
oma yang terbanyak adalah pegel linu sebanyak 6 orang (31,58%)
dan yang sedikit adalah tidak ada keluhan yaitu sebanyak 2 orang
(10,53%)

d. Nilai dan Kepercayaan terhadap kesehatan


Sebagian besar lansia di ruang Fransiscus tidak mengetahui tentang
apa itu Posyandu Lansia, mereka juga tidak pernah mengikuti kegiatan
Posyandu Lansia, baik ditempat tinggalnya dulu maupun di panti
sekarang ini.

Untuk pemenuhan gizi para lansia, disesuaikan dengan kondisi pasien


dan diet yang sudah dianjurkan oleh dokter yaitu yang lebih banyak
untuk makanan lansia yaitu dengan rendah lemak dan tinggi kalori.
(makan pagi dan siang: nasi, lauk, sayur, buah [pepaya/pisang], minum
teh/air putih), Snack (singkong, ketela, lumpia, donat, susu, teh)  di
sesuaikan dengan diet dari penyakit, namun rata-rata di ruang
47

fransiscus sama makanannya yang terpenting rendah lemak dan tinggi


kalori.

C. DATA SUBSISTEM

1. Lingkungan Fisik

a) Sarana Perumahan

Konstruksi bangunan permanen, luas bangunan sekitar 1 hektar, lantai

bagian dalam keramik dan bagian luar dipaving untuk lantai sudah

cukup baik untuk lansia karena di desain lantai yang tidak licin dan

tidak berbahaya bagi lansia. Namun untuk warna dari keramiknya

kurang cerah sedikit sebab apabila ada air di lantai terkadang tidak

kelihatan , penerangan dan pencahayaan baik, semua ruangan dan

lorong diberi lampu, tiap ruangan memiliki beberapa ventilasi udara,

kebersihan terjaga, setiap hari di sapu dan dipel (setiap melakukan

tindakan, seperti setelah makan, setelah mandi, dll), jumlah ruangan

kamar ada 13 ruangan

b) Pekarangan

Pekarangan cukup luas, namun keadaan masih belum tertata dengan

rapi karena ada pembangunan, dan dimanfaatkan untuk menanam

tanaman hias,sayur,buah.

c) Sarana Sumber Air Bersih

Sarana air bersih memadai berasal dari PDAM dan sumur bor, namun

air yang keluar kurang jernih, tiap kamar dan tiap ruangan mempunyai

kamar mandi dan terdapat pula sarana sapitank di depan asrama


48

d) Sarana Pembuangan Sampah

Sarana pembuangan sampah baik, di depan ruangan disediakan tempat

sampah kering dan basah serta untuk tempat pembuangan sampah

terakhir dengan cara dibakar. (untuk pampers dari oma/opa) namun,

dengan adanya pembakaran akan menghasilkan asap yang bisa

menyebabkan polusi dan mengganggu pemukiman di sekitar panti.

e) Sarana Pembuangan Kotoran Manusia

Pembuangan kotoran manusia dibuang melalui kloset dan disalurkan

melalui saluran sapic tank dan sungai. Jarak sapic tank dengan sumber

air bersih kurang lebih 100 meter.

f) Sarana Mandi

Ditiap kamar mandi ruangan terdapat 1 kran air panas dan 1 kran air

dingin Kondisi kamar mandi tergolong kurang bersih karena air yang

mengalir tidak jernih dan bak mandi juga terlihat kotor, seperti jarang

dikuras. Di dalam kamar mandi, terdapat ventilasi yang memadai,

kondisi lantai tidak licin, dan terdapat pegangan di dinding kamar

mandi

g) Sarana SPAL

Tidak mempunyai sarana SPAL. Pembuangan air limbah langsung ke

sungai dibagian utara panti melalui selokan.

2. Pelayanan Kesehatan dan Sosial


49

a. Jumlah Petugas, terdiri dari

Jumlah Pegawai 29 orang yaitu: 4 orang laki-laki dan 25

perempuan

Jumlah biarawati 1 orang

b. Pengalaman petugas mengikuti pelatihan kesehatan

-Pernah: 7 orang

-Belum: 22 orang

Jenis Pelatihan: seminar keperawatan lansia

c. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan

Pagi jam 2.30 WIB para lansia mandi. Setelah itu jam 07.00

makan pagi. Setelah makan ada beberapa lansia yang berjemur.

Jam 09.30 para lansia makan makanan kecil/snack. Makan siang

jam 12. Setelah makan siang para lansia beristirahat. Jam 14.45

para lansia mandi. Jam 17.00 jadwal para lansia untuk makan.

Setelah makan para lansia beristirahat. Setiap hari minggu

dilakukan penyaluran hobi

- Fisioterapi (Jadwal ditentukan ruangan)

- Misa kebaktian (tiap hari Minggu jam 8 pagi)

- Do’a Rosario bagi yang beragama katolik (sehabis sarapan pagi)

3. Pendidikan pegawai

Tabel 3.1 Status Pendidikan


50

NO. STATUS JUMLAH PRESENTASE

PENDIDIKAN

1. SD 10 19,2%

2. SMP 17 32,7%

3. SMA/SMK 23 44,2%

4. Perguruan Tinggi 3 3,8%

5. Tidak Sekolah - -

Total 53 100%

Interpretasi Data:

Berdasarkan tabel 3.1 didapatkan data bahwa status pendidikan

pegawai dip anti werdha pangesti yang paling banyak adalah

berpendidikan sampai SMA/SMK yaitu sebanyak 23 orang (44,2%)

dan yang paling sedikit yaitu berpendidikan samapai perguruan tnggi

sebanyak 3 orang (3,8%).

4. Transportasi, Keamanan dan Keselamatan

a. Sarana jalan dan transportasi di lingkungan kelompok lansia

Sarana jalan dilingkungan kelompok lansia terlihat baik, tiap tepi

jalan diberi pegangan besi untuk memudahkan dan membantu

lansia berjalan, jalannya pun cukup luas dan lebar. Terdapat kursi

roda untuk mempermudah para lansia dalam beraktivitas.

b. Keamanan lingkungan
51

Terdapat pos satpam di bagian depan panti werdha dan selalu ada

satpam yang berjaga, ditiap sudut ruangan dan sudut kamar juga

terdapat cctv untuk mempermudah dalam menjaga para lansia.

5. Politik dan Pemerintahan

- Struktur Orgaisasi Panti Griya Asih

- Sistem Pendanaan Panti

Sistem pendanaan Panti Griya Asih Lawang ini berasal dari

Bantuan Pemerintah, Bantuan dari donatu dan juga berasal dari

keluarga dari para lansia yang ada di dalam panti.

6. Komunikasi
52

Beberapa lansia memiliki telephon genggam yang digunakan untuk

berkomunikais dengan keluarga

7. Ekonomi

 Dari Dalam Panti untuk kehidupan Lansia:

Pemasukan: Rp. 126.521.500

Pengeluaran: Rp. 125.925.573

 Status Pekerjaan Anggota Kelompok Lansia

Status pekerjaan dari para lansia bermacam-macam jenisnya,

ada yang dulunya bekerja di pabrik, pembantu, Swasta,

Wiraswasta.

 Tingkat Pendapatan Anggota Kelompok

Tingkat pendapatan setelah di dalam panti tidak ada karena

mereka tidak bekerja lagi, sehingga mereka tidak mendapatkan

uang.

 Sarana Ekonomi yang tersedia di Masyarakat

Saran ekonomi yang tersedia di dekat panti ada toko dan

warung selain itu juga dekat dengan pasar jaraknya kira-kira

3km dari panti untuk mencapai pasar.

8. Rekreasi

Pada saat waktu luang, beberapa lansia ada yang memanfaatkan untuk

berlatih berjalan, menyulam, membaca surat kabar, atau bahkan

mengobrol dengan lansia lain maupun dengan perawat. serta setiap

hari minggu diadakan kumpul-kumpul bersama. Untuk rekreasi keluar


53

panti tidak ada, yang ada hanyalah senam lansia yang dilakukan setiap

hari minggu seperti bernyanyi atau permainan lain yang bisa

menyalurkan hobi dari para lasia tersebut

Denah RAAL Griya Asih

Keterangan:

1 Kantor

2 Ruang Makan

3 Dapur

4 Ruang Kamar

5 Ruang Makan

6 Ruang Kamar
54

7 Kamar Mandi

8 Halaman Jemuran

9 Aula
55

 Jadwal Kegiatan Lansia selama 1 minggu


No Jam Hari

Senin Selasa Rabu Kamis Jum’at Sabtu Minggu

1 03.30-05.00 Mandi Pagi Mandi Pagi Mandi Pagi Mandi Pagi Mandi Pagi Mandi Pagi Mandi Pagi

05.00-07.00 Menunggu Menunggu Menunggu Menunggu Menunggu makan Menunggu makan Menunggu
makan pagi makan pagi makan pagi makan pagi pagi pagi makan pagi

07.00-07.30 Makan Pagi Makan Pagi Makan Pagi Makan Pagi Makan Pagi Makan Pagi Makan Pagi

07.30-09.30 Berdoa Berdoa Berdoa Berdoa Berdoa Berdoa Berdoa


Berjemur Berjemur Berjemur Berjemur Pemeriksaan Berjemur Berjemur
Fisioterapi Fisioterapi Fisioterapi Fisioterapi Tanda-tanda Vital Fisioterapi (sesuai Menyalurkan
(sesuai Jadwal) (sesuai Jadwal) (sesuai (sesuai Jadwal) Berjemur Jadwal) hobby
Jadwal) Fisioterapi (sesuai Potong kuku, Senam Lansia
Jadwal) potong rambut
Visite Dokter

09.30-09.45 Makan Snack Makan Snack Makan Snack Makan Snack Makan Snack Makan Snack Makan Snack
56

09.45-11.00 Kembali ke Kembali ke Kembali ke Kembali ke Kembali ke kamar Kembali ke kamar Kembali ke
kamar masing- kamar masing- kamar kamar masing- masing-masing masing-masing kamar masing-
masing masing (istirahat) masing- masing (istirahat) (istirahat) masing (istirahat)
(istirahat) masing (istirahat)
(istirahat)
11.00-11.30 Makan Siang Makan Siang Makan Siang Makan Siang Makan Siang Makan Siang Makan Siang

13.30-14.30 Mandi Sore Mandi Sore Mandi Sore Mandi Sore Mandi Sore Mandi Sore Mandi Sore

14.30-16.00 Istirahat Istirahat Istirahat Istirahat Istirahat Istirahat Istirahat

16.00 Makan Snack Makan Snack Makan Snack Makan Snack Makan Snack Makan Snack Makan Snack

17.00-17.30 Makan Malam Makan Malam Makan Makan Malam Makan Malam Makan Malam Makan Malam
Malam
18.00-02.30 Tidur Malam Tidur Malam Tidur Malam Tidur Malam Tidur Malam Tidur Malam Tidur Malam
57

PENGKAJIAN FOKUS KEPERAWATAN KOMUNITAS

Nama Komunitas : Rumah Asuh Anak dan Lansia Griya Asih

Nama Masalah : Asam Urat

Data Fokus Masalah Etiologi

DS : Hambatan Mobilitas Fisik Penurunan rentang gerak,


kelemahan otot, nyeri pada
 Berdasarkan
gerakan, dan kekakuan
pengkajian yang
pada sendi
telah dilakukan oleh
kelompok di
dapatkan bahwa
sebagian besar
lansia mengeluh
sulit berdiri dan
berjalan sebanyak 8
orang (88,8%)
berkaitan dengan
kelemahan otot,
sehingga hanya
menggunakan kursi
roda atau walker.
DO :

 Berdasarkan pengkajian
yang telah dilakukan
didapatkan data bahwa
lansia yang
menggunakan alat bantu
58

kursi roda sebanyak 5


orang (55,5%)
 Berdasarkan pengkajian
keseimbangan yang
telah dilakukan di
dapatkan bahwa para
lansia yang memiliki
Resiko jatuh tinggi
sebanyak 2 orang
(22,2%).

DS: Resiko Cedera Kelemahan Otot

 Berdasarkan
pengkajian yang
telah dilakukan oleh
kelompok di
dapatkan bahwa
sebagian besar
lansia mengeluh
sulit berdiri dan
berjalan sebanyak 8
orang (88,8%)
berkaitan dengan
kelemahan otot,
sehingga hanya
menggunakan kursi
roda atau walker.
59

DO:

 Berdasarkan pengkajian
yang telah dilakukan
didapatkan data bahwa
lansia yang
menggunakan alat bantu
kursi roda sebanyak 5
orang (55,5%)
 Berdasarkan pengkajian
keseimbangan yang
telah dilakukan di
dapatkan bahwa para
lansia yang memiliki
Resiko jatuh tinggi
sebanyak 2 orang
(22,2%).
 Berdasarkan data yang
telah di dapat jumlah
lansia yang menderita
stroke sebanyak 1 orang.
 Barthel indeks di
dapatkan data bawa
lansia yang secara total
tidak bisa melakukan
kemandirian dalam
kehidupan sehari-hari
sebanyak 2 orang
(22,2%).
 diketahui bahwa dari 9
60

lansia di ruang
fransiscus yang
terbanyak adalah
mengalami tekanan
darah normal yaitu 8
orang (88,8%)
 diketahui bahwa dari 9
lansia nadi yang di dapat
berdasarkan pengukuran
dalalam batas normal
pada semua lansia di
ruang fransiscus
(100%).

DS: -
Kurang pengetahuan Penurunan Fungsi
Intelektual

DO: berdasarkan
pengkajian yang telah
dilakukan di dapatkan hasil:

 Usia 75-90 tahun paling


banyak di ruang
fransiscus
(mempengaruhi
pengetahuan dari para
lansia)
 Perilaku kesehatan pada
lansia di ruang
fransiscus yang tidak
61

baik, di dapatkan hasil


bahwa para lansia
menyukai makanan asin
dan berlemak sebanyak
21,05% dan 10,52%.
 Berdasarkan SPMSQ di
dapatkan data bahwa
Masing-masing pasien
yang mempunyai fungsi
intelektual kerusakan
sedang dan berat
sebanyak 26,32%,
sehingga mempengaruhi
tingkat pengetahuan
lansia mengenai
penyakit yang di derita.
 Berdasarkan MMSE
didapatkan data bahwa
15,8% lansia diruang
fransiscus mempunyai
gangguan kognitif berat
62

DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan rentang gerak,


kelemahan otot, nyeri pada gerakan, dan kekakuan pada sendi ditandai
dengan Berdasarkan pengkajian yang telah dilakukan oleh kelompok di
dapatkan bahwa sebagian besar lansia mengeluh merasapegal linu sebanyak6
orang (66,6%), dan lansia yang tidak mampu berjalan sendiri (denganalat
bantu) sebanyak 6orang (66,6%), berdasarkan data yang telah di dapat jumlah
lansia yang menderita stoke sebanyak 1 orang
2. Resiko cidera berhubungan dengan kelemahan otot, di tandai dengan
Berdasarkan pengkajian yang telah dilakukan oleh kelompok di dapatkan
bahwa sebagian besar lansia mengeluh sulit berdiri dan berjalan sebanyak
orang (73,68%) berkaitan dengan kelemahan otot, sehingga hanya
menggunakan kursi roda, Berdasarkan pengkajian keseimbangan yang telah
dilakukan di dapatkan bahwa para lansia yang memiliki Resiko jatuh tinggi
sebanyak 7 orang (36,84%) dan berdasarkan data yang telah di dapat jumlah
lansia yang menderita stoke sebanyak 7 orang.
3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan Penurunan Intelektual mengenai
penyakit Usia 75-90 tahun paling banyak di ruang fransiscus (mempengaruhi
pengetahuan dari para lansia), Perilaku kesehatan pada lansia di ruang
fransiscus yang tidak baik, di dapatkan hasil bahwa para lansia menyukai
makanan asin dan berlemak sebanyak 21,05% dan 10,52%.
63

Intervensi Keperawatan
Diagnosa Intervensi Rasional

Hambatan Setelah dilakukan 1. Kaji mobilitas yg ada dan 1. Mengethui tingkat


mobilitas tindakan observasi adanya kemampuan pasien
fisik berhubu keperawatan peningkatan kerusakan dalam melakukan
ngan dengan selama 3x24 jam
2.Anjurkan pasien aktivitas.
penurunan psien mampu
rentang melaksanakan melakuka latihan gerak aktif
gerak, aktivitas fisikpada ektremitas yang tdk 2.Gerakan aktif
sakit memberi masaa, tonus
kelemahan sesuai dengan
otot, nyeri kemampuannya. dan kekuatan otot, serta
3.Bantu pasien melakukan memperbaiki fugi
pada
KH: latihan dan perawatan diri
gerakan, dan jantung dan pernafasan.
kekakuan
 Pasien tidak 4.Kolaborasi dengn ahli 3.Untuk
pada sendi fisioterapi untuk latihan
mengalami
mempertahankan sendi
kontraktur sendi fisik pasien
sesuai kemampuanya.
 Kekuatan otot
bertambah 4.Kemampuan
mobilisasi ekstremitas
 Pasien dapat dapat ditingkatkan
melakukan
dengan latihan fisik dari
aktivitas tanpa
bantuan tim fisioterapi

Resiko KH : 1. Identifikasi defisit


cidera kognitif atau visit pasien
berhubungan 1.Kontrol risiko yang berpotensi untuk jatuh
dengan 2.Perilaku 2. Identifikasi karakteristik
kelemahan keamanan: lingkungan yang
otot pencegahan jatuh menguatkan potensi jatuh,
3.Perilaku misalnya lantai yang licin
keamanan: 3. Monitor gaya,
lingkungan fisik keseimbangan berjalan dan
dalam rumah kelemahan daya ambulasi
4.Perilaku 4. Berikan peralatan yang
keamanan : pribadi menunjang, seperti alat
bantu jalan
Status Keamanan :
5. Pertahankan penggunaan
Kejadian jatuh
alat bantu jalan
6. Ajarkan pasien cara
untuk berpindah agar
meminimalisir cedera/jatuh
64

7. Berikan tempat duduk


tinggi dengan sandaran
tangan dan punggung untuk
memudahkan pemindaha
8. Gunakan pengekangan
fisik untuk mengurangi
potensi gerakan tidak aman
Kurang Tujuan : Klien 1. Kaji tingkat pengetahuan 1. Untuk mengetahu
pengetahuan mengerti dan keluarga klien tingkat pengetahuan
berhubungan paham tentang klien
penyakitnya 2.Berikan informasi 2. Untuk mendrong
dengan terhadap pencegahan, faktor kepatuhan terhadap
Penurunan KH : penyebab, serta perawatan program terapeutik dan
Intelektual meninkatkan
1. Klien dapat 3.Beri umpan balik terhadap
mengenai pengetahuan keluarga
berpartisipasi pertanyaan yang diajukan
penyakit klien
dalam proses oleh keluarga atau klien
Usia 75-90 3. Mengetahui tingkat
belajar
tahun paling 4.Sarankan pasien pengetahuan dan
menurunkan atau membatasi pemahaman keluarga
banyak
stimulasi lingkungan atau klien
terutama selama kegiatan 4. Stimulasi yang
berfikir beragam dapat
memperbesar gangguan
proses berpikir
65

JADWAL KEGIATAN
No. Tanggal Kegiatan

1. Mengkaji mobilitas yang ada dan


mengobservasi adanya peningkatan kerusakan
(08.00 – 09.00)
Senin, 24 Februari
2. Latihan gerak aktif pada daerah ekstremitas
2020
(08.00 – 09.00)
3. Mengevaluasi dan mencatatan progress
(08.00 – 09.00)
1. Mengkaji mobilitas yang ada dan
mengobservasi adanya peningkatan kerusakan
(08.00 – 09.00)
2. Latihan gerak aktif pada daerah ekstremitas
Selasa, 25 Februari
(08.00 – 09.00)
2020
3. Melakukan rendaman air hangat (09.00 –
10.00)
4. Mengevaluasi dan mencatatan progress
(09.00 – 10.00)

1. Mengkaji mobilitas yang ada dan


mengobservasi adanya peningkatan kerusakan
(08.00 – 09.00)
Rabu, 26 Februari 2. Latihan gerak aktif pada daerah ekstremitas
2020 (08.00 – 09.00)
3. Mengevaluasi dan mencatatan progress
(08.00 – 09.00)
4. Kreativitas Lansia (09.00 – 10.00)

1.Pendidikan Kesehatan (Penanganan Asam


Kamis, 27 Februari Urat)
2020 2.Pendidikan Kesehatan (Hipertensi)
(16.00 – 17.00)

Sabtu, 29 Februari 1.Penutupan (10.00 – 11.00)


2020