Anda di halaman 1dari 51

MAKALAH MATERNITAS II

Asuhan Keperawatan pada Kehamilan Resiko Tinggi: Hiperemesis


Gravidarum, Molahidatidosa, Hipertensi dalam kehamilan (pre ekalampsia &
ekslampsia), dan Kehamilan Ganda

Dosen Pengampu : Widia Lestari, M.Kep

OLEH

Alifia Salsabila 1811113547 Nursyahfitri Rizky 1811112505


Ani Ayu Lita 1811111494 Nurul Asikin 1811110446
Christiadi 1811110239 Nur Fitriani 1811112456
Fadhilla Putri Fertycia 1811110426 Reflina Milenia 1811112546
Hajar Adhara 1811112450 Rizka Dwi Ramadhani 1811111090
Herliana Syafitri 1811112729 Selvi Gustina 1811110451
Mirna Nuralita Sari 1811113725 Silva Friscilla 1811113153
Naimi Syifa Urrahma 1811125268 Siska Afrilya Diartin 1811125091
Nirmala Ayu Derryanti 1811110987 Yanni Rizkia Amlina 1811112407
Nurgrianing Putri 1811110471

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS RIAU

2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas
anugerah, petunjuk serta hidayah-Nya lah sehingga makalah ini dapat terselesaikan
meskipun memiliki banyak sekali kekurangan. Tak lupa pula penulis mengucapkan
terima kasih kepada Ibu Widia Lestari, M.Kep selaku dosen pembimbing dalam mata
kuliah Keperawatan Maternitas II.

Makalah berjudul Asuhan Keperawatan pada Kehamilan Resiko Tinggi:


Hiperemesis Gravidarum, Molahidatidosa, Hipertensi dalam kehamilan (pre
ekalampsia & ekslampsia), dan Kehamilan Ganda ini tentunya masih banyak sekali
kekurangan dan kesalahan di dalam pembuatan makalah ini. Oleh karena keterbatasan
ilmu dan referensi yang kami jadikan sebagai acuan untuk menyusun makalah ini
ataupun karena hal-hal lain. Namun, karena adanya niat untuk belajar, maka dengan
antusias dan semangat yang tinggi, akhirnya makalah ini dapat terselesaikan. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan kita semua umumnya.

Oleh karena itu kritik dan saran dari pembaca sangat penulis harapkan agar
makalah ini menjadi lebih sempurna. Atas kritik dan sarannya diucapkan terimakasih.

Pekanbaru, 12 Februari 2020

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................................. 2


DAFTAR ISI............................................................................................................................. 3
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................................... 4
A. Latar Belakang ............................................................................................................ 4
B. Rumusan Masalah ...................................................................................................... 5
C. Tujuan Pembelajaran ................................................................................................. 6
BAB II ISI ................................................................................................................................. 8
A. Hiperemesis Gravidarum ........................................................................................... 8
B. Mola hidatidosa ......................................................................................................... 19
C. Hipertensi dalam Kehamilan (Pre-ekalampsia & ekalampsia) ............................ 33
D. Kehamilan Ganda ..................................................................................................... 42
BAB III PENUTUP ................................................................................................................ 49
A. Kesimpulan ................................................................................................................ 49
B. Saran .......................................................................................................................... 49
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 51

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Angka Kematian Ibu (AKI) masih menjadi masalah yang serius di Indonesia.
AKI di Indonesia menempati urutan tertinggi di ASEAN yaitu 307 per 100.000
kelahiran hidup, artinya lebih dari 18.000 ibu tiap tahun atau dua ibu tiap jam
meninggal oleh sebab yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan, dan nifas.
Upaya penurunan AKI difokuskan pada penyebab langsung kematian ibu yang
terjadi 90 % pada saat persalinan dan segera setelah persalinan yaitu perdarahan
28 %, eklamsi 24 %, infeksi 11 %, komplikasi purperium 8 %, partus macet 5 %,
abortus 5 %, trauma obstetrik 5 %, emboli 3 % dan lain-lain.
Kehamilan merupakan proses yang fisiologis, namun kehamilan yang normal
dapat berubah menjadi patologis/abnormal. Risiko kehamilan bersifat dinamis,
karena ibu hamil yang normal secara tiba-tiba dapat menjadi berisiko tinggi.
Kehamilan risiko tinggi menurut Poedji Rochjati adalah kehamilan dengan satu
atau lebih satu faktor risiko, baik dari pihak ibu maupun janinnya yang memberi
dampak kurang menguntungkan baik bagi ibu maupun janinnya, memiliki risiko
kegawatan tetapi tidak darurat.
Kehamilan berisiko adalah kehamilan yang akan menyebabkan terjadinya
bahaya dan komplikasi yang lebih besar, baik terhadap ibu maupun terhadap janin
yang dikandungnya selama masa kehamilan, melahirkan ataupun nifas bila
dibandingkan dengan kehamilan persalinan dan nifas normal (Haryati N., 2012).
Kehamilan risiko tinggi adalah suatu proses kehamilan yang kehamilannya
mempunyai risiko lebih tinggi dan lebih besar dari normal umumnya kehamilan
(baik itu bagi sang ibu maupun sang bayinya) dengan adanya risiko terjadinya
penyakit atau kematian sebelum atau pun sesudah proses persalinanya kelak
Kehamilan risiko tinggi adalah kehamilan yang menyebabkan terjadinya bahaya
dan komplikasi yang lebih besar baik terhadap ibu maupun terhadap janin yang

4
dikandungnya selama masa kehamilan, persalinan, ataupun nifas bila
dibandingkan dengan kehamilan persalinan dan nifas normal.
Dalam makalah ini kami membahas masalah kesehatan yang dapat
menjadikan kehamilan memilki resiko tinggi, beberapa diantaranya yaitu
Hipertensi Gravidarum, Molahidatidosa, Hipertensi Dalam Kehamilan
(Prekalampsia dan ekslampsia), Kehamilan Ganda.

B. Rumusan Masalah
1. Hipertensi Gravidarum
a. Definisi Hipertensi Gravidarum
b. Etiologi Hipertensi Gravidarum
c. Manifestasi Klinis Hipertensi Gravidarum
d. Klasifikasi Hipertensi Gravidarum
e. Web of causation Pathway Hipertensi Gravidarum
f. Penatalaksanaan Hipertensi Gravidarum
g. Pencegahan Hipertensi Gravidarum
h. Asuhan Keperawatan Hipertensi Gravidarum
2. Molahidatidosa
a. Definisi Molahidatidosa
b. Etiologi Molahidatidosa
c. Manifestasi Klinis Molahidatidosa
d. Klasifikasi Molahidatidosa
e. Web of causation/ Pathway Molahidatidosa
f. Pemeriksaan Klinis Molahidatidosa
g. Penatalaksanaan Molahidatidosa
h. Asuhan Keperawatan Molahidatidosa
3. Hipertensi Dalam Kehamilan (Prekalampsia dan ekslampsia)
a. Definisi Hipertensi Dalam Kehamilan (Prekalampsia dan ekslampsia)
b. Etiologi Hipertensi Dalam Kehamilan (Prekalampsia dan ekslampsia)

5
c. Manifestasi Klinis Hipertensi Dalam Kehamilan (Prekalampsia dan
ekslampsia)
d. Klasifikasi Hipertensi Dalam Kehamilan (Prekalampsia dan
ekslampsia)
e. Web of causation/ Pathway Hipertensi Dalam Kehamilan
(Prekalampsia dan ekslampsia)
f. Pemeriksaan Klinis Hipertensi Dalam Kehamilan (Prekalampsia dan
ekslampsia)
g. Penatalaksanaan dan atau Pencegahan Hipertensi Dalam Kehamilan
(Prekalampsia dan ekslampsia)
4. Kehamilan Ganda
a. Definisi Kehamilan Ganda
b. Etiologi Kehamilan Ganda
c. Manifestasi Klinis Kehamilan Ganda
d. Klasifikasi Kehamilan Ganda
e. Web of causation/ Pathway Kehamilan Ganda
f. Pemeriksaan Klinis Kehamilan Ganda
g. Penatalaksanaan Kehamilan Ganda

C. Tujuan Pembelajaran
1. Untuk memahami definisi Hipertensi Gravidarum, Molahidatidosa,
Hipertensi Dalam Kehamilan (Prekalampsia dan ekslampsia), Kehamilan
Ganda.
2. Untuk memahami klasifikasi Hipertensi Gravidarum, Molahidatidosa,
Hipertensi Dalam Kehamilan (Prekalampsia dan ekslampsia), Kehamilan
Ganda.
3. Untuk memahami etiologi Hipertensi Gravidarum, Molahidatidosa,
Hipertensi Dalam Kehamilan (Prekalampsia dan ekslampsia), Kehamilan
Ganda.

6
4. Untuk memahami manifestasi klinis Hipertensi Gravidarum, Molahidatidosa,
Hipertensi Dalam Kehamilan (Prekalampsia dan ekslampsia), Kehamilan
Ganda.
5. Untuk memahami patofisiologi Hipertensi Gravidarum, Molahidatidosa,
Hipertensi Dalam Kehamilan (Prekalampsia dan ekslampsia), Kehamilan
Ganda.
6. Untuk memahami web of caution Hipertensi Gravidarum, Molahidatidosa,
Hipertensi Dalam Kehamilan (Prekalampsia dan ekslampsia), Kehamilan
Ganda.
7. Untuk memahami asuhan keperawatan Hipertensi Gravidarum,
Molahidatidosa, Hipertensi Dalam Kehamilan (Prekalampsia dan
ekslampsia), Kehamilan Ganda.

7
BAB II
ISI

A. Hiperemesis Gravidarum
1. Definisi
Hiperemesis Gravidarum adalah kondisi mual dan muntah yang berat
selama kehamilan, yang terjadi pada 1%-2% dari semua kehamilan atau 1-20
pasien per 1000 kehamilan.
Hiperemesis Gravidarum adalah mual dan muntah yang berlebihan
pada wanita hamil sampai mengganggu pekerjaan sehari-hari karena keadaan
umumnya menjadi buruk karena terjadi dehidrasi.
Hiperemesis Gravidarum adalah keadaan dimana penderita mual dan
muntah lebih dari 10 kali dalam 24 jam,sehingga mengganggu kesehatan dan
pekerjaan sehari-hari (Arief.B, 2009).
Hiperemesis gravidarum adalah keluhan mual dan muntah hebat lebih
dari 10 kali sehari dalam masa kehamilan yang dapat menyebabkan
kekurangan cairan, penurunan berat badan, atau gangguan elektrolit, sehingga
menganggu aktivitas sehari-hari dan membahayakan janin dalam kandungan.
Mual dan muntah berlebihan yang terjadi pada wanita hamil sehingga
menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan kadar elektrolit, penurunan berat
badan (lebih dari 5% berat badan awal), dehidrasi, ketosis, dan kekurangan
nutrisi. Hal tersebut mulai terjadi pada minggu keempat sampai kesepuluh
kehamilan dan selanjutnya akan membaik pada usia kehamilan 20 minggu,
namun pada beberapa kasus dapat terus berlanjut sampai pada kehamilan
tahap berikutnya (Runiari, 2010).

2. Etiologi
Hingga saat ini penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara
pasti dan multifaktorial. Walaupun beberapa mekanisme yang diajukan bisa

8
memberikan penjelasan yang layak, namun bukti yang mendukung untuk
setiap penyebab hiperemesis gravidarum masih belum jelas.
Beberapa faktor predisposisi yang ditemukan :
a. Sering terjadi pada primigravida, mola hidatidosa dan kehamilan ganda
hal ini menimbulkan dugaan bahwa faktor hormon memegang peranan,
karena pada kedua keadaan tersebut hormon Khorionik gonadotropin
dibentuk berlebihan
b. Faktor organik, karena masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal
dan perubahan metabolik akibat hamil serta resistensi yang menurun dari
pihak ibu tehadap perubahan ini.Alergi juga disebut sebagai salah satu
faktor organik karena sebagai salah satu respon dari jaringan.ibu terhadap
anak
c. Faktor psikologik memegang peranan yang penting pada penyakit ini
walaupun hubungannya dengan terjadinya hiperemesis gravidarum belum
diketahui dengan pasti,takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut
terhadap tanggung jawab sebagai ibu, dapat menyebabkan konflik mental
yang dapat memperberat mual dan muntah. Tidak jarang dengan
memberikan suasana yang baru sudah dapat membantu mengurangi
frekuensi muntah klien.
d. Faktor endokrin lainnya: hipertiroid, diabetes, dan lain-lain.

3. Manifestasi Klinis
Ada beberapa tingkatan gejala klinis hyperemesis gravidarum yaitu:
a. Tingkat I (Ringan)
Mual muntah terus menerus menyebabkan penderita lemah tidak mau
makan, berat badan turun, dan rasa nyeri di epigastrium; nadi sekitar 100
kali per menit, tekanan darah turun, turgor kulit berkurang, lidah kering,
dan mata cekung.

9
b. Tingkat II (Sedang)
Mual muntah yang hebat menyebabkan keadaan umum penderita
lebih parah: lemah, apatis, turgor kulit mulai jelek, lidah kering dan
kotor; nadi kecil dan cepat suhu badan naik (dehidrasi), ikterus ringan,
berat badan turun, mata cekung, tensi turun, hemokonsentrasi, oliguri
dan konstipasi. Dapat pula terjadi asetonuria dan dari nafas keluar bau
aseton .
c. Tingkat III ( Berat)
Keadaan umum jelek, kesadaran sangat menurun, somnolen sampai koma,
nadi kecil, halus dan cepat; dehidrasi hebat, suhu badan naik, dan tensi
turun sekali, ikterus. komplikasi yang dapat berakibat fatal terjadi pada
susunan saraf pusat (ensefalopati Wernicke) dengan alatnya: nistagmus
diplopia, perubahan mental.

4. Klasifikasi
Hiperemesis gravidarum, menurut berat ringannya gejala dapat dibagi ke
dalam 3 tingkatan :
a. Tingkatan I
Muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita, ibu
merasa lemah, nafsu makan tidak ada, berat badan menurun dan merasa
nyeri pada epigastrum. Nadi meningkat ssekitar 100 per menit, tekanan
darah sistolik menurun, turgor kulit mengurang, lidah mengering dan mata
cekung.
b. Tingkatan II
Penderita tampak lebih lemah dan apatis, turgor kulit lebih mengurang,
lidah mengering dan nampak kotor, nadi kecil dan cepat, suhu kadang-
kadang naik dan mata sedikit ikteris. Berat badan turun dan mata menjadi
cekung, tensi turun, hemokonsentrasi, oligouria dan konstipasi. Aseton
dapat tercium dalam hawa pernapasan, karena mempunyai aroma yang
khas dan dapat pula ditemukan dalam kencing.

10
c. Tingkatan III
Keadaan umum lebih parah, muntah berhenti, kesadaran menurun dari
somnolen sampai koma, nadi kecil dan cepat, suhu meningkat dan tensi
menurun. Komplikasi fatal terjadi pada susunan saraf yang dikenal sebagai
ensefalopatiwernicke, dengan gejala: nistagmus diplopia dan perubahan
mental. Keadaan ini adalah akibat sangat kekurangan zat makanan,
termasuk vitamin B kompleks. Timbulnya ikterus menunjukkan adanya
payah hati. (Wiknjosastro, 2005)

5. Web Of Caution

6. Penatalaksanaan
a. Obat-obatan
Apabila dengan cara tersebut di atas keluhan dan gejala tidak mengurang
maka diperlukan pengobatan. Tetapi perlu diingat untuk tidak
memberikan obat yang teratogen. Sedativa yang sering diberikan adalah
phenobarbital. Vitamin yang dianjurkan adalah B1 dan B6. Anti

11
histaminika juga dianjurkan, seperti dramamin, avomin. Pada keadaan
lebih berat diberikan antiemetik, seperti disiklominhidrokhlorid atau
khlorpromasin. Penanganan hiperemesis gravidarum yang lebih berat
perlu dikelola di rumah sakit.
b. Isolasi
Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang, terapi cerah dan
peredaran udara yang baik. Catat cairan yang keluar dan masuk. Hanya
dokter dan perawat yang boleh masuk ke dalam kamar penderita, sanpai
muntah berhenti dan penderita mau makan. Tidak diberikan
makanan/minum dan selama 24 jam. Kadang-kadang dengan isolasi saja
gejala-gejala akan berkurang atau hilang tanpa pengobatan.
c. Terapi psikologik
Perlu diyakinkan kepada penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan,
hilangkan rasa takut oleh karena kehamilan, kurangi pekerjaan serta
menghilangkan masalah dan konflik, yang kiranya dapat menjadi latar
belakang penyakit ini.
d. Cairan parenteral
Berikan cairan parenteral yang cukup elektrolit, karbohidrat dan protein
dengan glukose 5% dalam cairan garam fisiologik sebanyak 2-3 liter
sehari. Bila perlu dapat ditambah kalium, dan vitamin, khususnya vitamin
B kompleks dan vitamin C dan bila ada kekurangan protein, dapat
diberikan pula asam amino secara intravena. Dibuat daftar kontrol cairan
yang masuk dan yang dikeluarkan. Air kencing perlu diperiksa sehari-hari
terhadap protein, aseton, khlorida dan bilirubin. Suhu dan nadi diperiksa
setiap 4 jam dan tekanan darah 3 kali sehari. Dilakukan pemeriksaan
hematokrit pada permulaan dan seterusnya menurut keperluan. Bila
selama 24 jam penderita tidak muntah dan keadaan umum bertambah baik
dapat dicoba untuk memberikan minum dan dapat ditambah dengan
makanan yang tidak cair. Dengan penanganan di atas, pada umumnya
gejala-gejala akan berkurang dan keadaan akan bertambah baik.

12
e. Penghentian kehamilan
Pada sebagian kecil kasus keadan tidak menjadi baik, bahkan mundur.
Usahakan mengadakan pemeriksaan medik dan psikistrik bila keadaan
memburuk. Delirium, kebutaan, takhikardi, ikterus, anuria dan perdarahan
merupakan manifestasi komplikasi organik. Dalam keadaan demikian
perlu dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan. Keputusan untuk
melakukan abortus teraupetik sering sulit diambil, oleh karana itu di satu
pihak tidak boleh dilakukan terlalu cepat, tetapi dilain pihak tidak boleh
menunggu sampai terjadi gejala ireversibel pada organ vital.
(Wiknjosastro, 2005)

7. Pencegahan
Prinsip pencegahan adalah mengobati emesis agar ridak terjadi hyperemesis
gravidarum dengan cara :
a. Menganjurkan mengubah pola makan sehari-hari dengan makanan dalam
porsi kecil tetapi sering.
b. Waktu bangun dari tempat tidur pagi jangan segera turun dari tempat tidur
tapi sebaiknya makan roti atau biskuit dengan teh hangat manis.
c. Makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan.
d. Makanan dan minuman sebaiknya dihidangkan dalam keadaan panas atau
dingin sekali.
e. Usahakan agar dapat BAB setiap hari karena dapat menjamin
menghindarkan kekurangan karbohidrat.
f. Menganjurkan banyak makan makanan yang mengandung gula.
g. Menganjurkan kepada ibu untuk dapat menerima kehamilannya dengan
baik, menghilangkan perasaan kuatir / takut terhadap kehamilan.
h. Kurangi pekerjaan yang dapat menggangu kehamilan.
i. Hilangkan / hindari masalah dan konfilik yang kiranya dapat menjadi latar
belakang penyakit ini.
j. Menganjurkan kepada ibu agar istirahat yang cukup.

13
k. Hubungan seksual boleh dilakukan asal tidak menggangu kehamilan dan
ibu merasa nyaman melakukannya.
l. Berikan dukungan / support dari orang sekitarnya.
m. Pencegahan terhadap hypremisis gravidarum perlu dilaksanakan dengan
jalan memberikan penerapan tentang kehamilan dan persalinan sebagai
suatu proses yang fisiologik, memberikan keyakinan bahwa mual dan
muntah merupakan gejala fisiologik pada kehamilan muda dan akan
hilang setelah umur kehamilan 4 bulan. (Wiknjosastro, 2005).

8. Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian Fokus
1) Aktifitas istirahat; tekanan darah sistol menurun, denyut nadi
meningkat (>100 kali per menit)
2) Integritas ego; konflik interpersonal keluarga, kesulitan
ekonomi,perubahan persepsi tentang kondisinya, kehamilan tak
direncanakan.
3) Eliminasi; perubahan pada konsistensi, defekasi, peningkatan
frekuensi berkemih Urinalis ;peningkatan konsistensi urine.
4) Makanan/cairan; mual dan muntah yang berlebihan (4-8 minggu),
nyeri epigastrium, pengurangan berat badan (5-10 kg), membran
mukosa mulut iritasi dan merah, Hb dan Ht rendah, nafas berbau
aseton, turgor kulit berkurang, mata cekung dan lidah kering.
5) Pernafasan; frekuensi pernapasan meningkat.
6) Keamanan; suhu kadang naik, badan lemah, ikterus, dan dapat jatuh
dalam koma
7) Seksualitas; penghentian menstruasi, bila keadaan ibu membahayakan
maka dilakukan abortus terapeutik.
8) Interaksi sosial; perubahan status kesehatan/stressor kehamilan,
perubahan peran, respon anggota keluarga yang dapat bervariasi
terhadap hospitalisasi dan sakit, sistem pendukung yang kurang.

14
9) Pembelajaran dan penyuluhan; segala yang dimakan dan diminum
dimuntahkan, apalagi kalau berlangsung lama, berat badan turun lebih
dari 1/10 dari berat badan normal, turgor kulit, lidah kering, adanya
aseton dalam urine.

b. Diagnosa Keperawatan
1) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan nausea
dan vomitus yang menetap.
2) Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan akibat
vomitus dan asupan cairan yang tidak adequat.
3) Ketakutan berhubungan dengan efek hiperemesis pada kesejahteraan
janin.
4) Gangguan rasa nyaman : nyeri (perih) berhubungan dengan muntah
yang berlebihan, peningkatan asam lambung.
5) Kurang pengetahuan tentang penyakit dan pengobatan berhubungan
dengan keterbatasan informasi.
6) Resiko perubahan integritas kulit berhubungan dengan penurunan
darah dan nutrisi ke jaringan-jaringan sekunder akibat dehidrasi
7) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakadekuatan sumber
energi sekunder.

c. Intervensi Keperawatan
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
nausea dan vomitus yang menetap.

Intervensi :

1) Catat intake dan output.


Rasional: menentukan hidrasi cairan dan pengeluaran melalui muntah.
2) Anjurkan makan dalam porsi kecil tapi sering
Rasional: dapat mencukupi asupan nutrisi yang dibutuhkan tubuh.

15
3) Anjurkan untuk menghindari makanan yang berlemak
Rasional : dapat merangsang mual dan muntah.
4) Anjurkan untuk makan makanan selingan seperti biskuit, roti dan teh
(panas) hangat sebelum bagun tidur pada siang hari dan sebelum tidur.
Rasional: makanan selingan dapat mengurangi atau menghindari
rangsang mual muntah yang berlebih
5) Catal intake TPN, jika intake oral tidak dapat diberikan dalam periode
tertentu.
Rasional: untuk mempertahankan keseimbangan nutrisi.
6) Inspeksi adanya iritasi atau lesi pada mulut.
Rasional: untuk mengetahui integritas mukosa mulut.
7) Kaji kebersihan oral dan personal hygiene serta penggunaan cairan
pembersih mulut sesering mungkin.
Rasional: untuk mempertahankan integritas mukosa mulut.
8) Pantau kadar Hemoglobin dan Hemotokrit
Rasional: mengidenfifikasi adanya anemi dan potensial penurunan
kapasitas pembawa oksigen ibu. Klien dengan kadar Hb < 12 gr/dl
atau kadar Ht < 37 % dipertimbangkan anemi pada trimester I.
9) Test urine terhadap aseton, albumin dan glukosa.
Rasional: menetapkan data dasar ; dilakukan secara rutin untuk
mendeteksi situasi potensial resiko tinggi sepertiketidakadekuatan
asupan karbohidrat, Diabetik kcloasedosis dan Hipertensi (Doenges,
2001:57).

Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi

Kriteria hasil :

1) Klien akan mengkonsumsi asupan oral diet yang mengandung zat gizi
yang adequat.
2) Klien tidak mengalami nausea dan vomitus.

16
3) Klien akan menoleransi diit yang telah diprogramkan.
4) Klien akan mengalami peningkatan berat badan yang sesuai selama
hamil.

Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan


akibat vomitus dan asupan cairan yang tidak adequat.

Intervensi:

1) Tentukan frekuensi atau beratnya mual/muntah.


Rasional : Memberikan data berkenaan dengan semua kondisi.
Peningkatan kadar hormon corionik gonadotropin (HCG),
perubahan metabolisme karbohidrat dan penurunan motilitas
gastrik memperberat mual/muntah pada kehamilan.
2) Tinjau ulang riwayat kemungkinan masalah medis lain (misalnya
ulkus peptikum, gastritis).
Rasional: Membantu dalam mengenyampingkan penyebab lain
untuk mengatasi masalah khusus dalam mengidentifikasi
intervensi.
3) Kaji suhu badan dan turgor kulit, membran mukosa, TD,
input/output dan berat jenis urine. Timbang BB klien setiap hari.
Rasional: Sebagai indikator dalam membantu mengevaluasi
tingkat atau kebutuhan hidrasi.
4) Anjurkan peningkatan asupan minuman berkarbonat, makan
sesering mungkin dengan jumlah sedikit. Makanan tinggi karbonat
seperti : roti kering sebelum bangun dari tidur.
Rasional: Membantu dalam meminimalkan mual/muntah dengan
menurunkan keasaman lambung. (Doenges, 2001:61)

Tujuan : kebutuhan cairan terpenuhi

17
Kriteria hasil :

1) Keseimbangan cairan dan elektrolit akan kembali ke kondisi normal,


yang terbukti dengan turgor kulit normal, membran mukosa lembab,
berat badan stabil, tanda-tanda vital dalam batas normal; elektrolit,
serum, hemoglobin, hematokrit, dan berat jenis urin akan berada
dalam batas normal.
2) Klien tidak akan muntah lagi
3) Klien akan mengkonsumsi asupan dalam jumlah yang adequat.

Ketakutan berhubungan dengan efek hiperemesis pada


kesejahteraan janin.

Intervensi:

1) Memperlihatkan sikap menerima rasa takut klien


Rasional: Sikap yang menerima takut klien akan memungkinkan
komunikasi terbuka tentang sumber ketakutan.
2) Mendorong untuk mengungkapkan perasaan dan kekhawatirannya.
Rasional: Pengetahuan tentang risiko potensial pada janin dapat
membantunya menghilangkan rasa takut.
3) Memberi informasi yang berhubungan dengan risiko potensial yang
dapat terjadi pada janinnya.
Rasional : Strategi koping yang efektif dibutuhkan untuk
memampukan klien mengatasi penyakit yang dideritanya dan efek-
efek penyakit tersebut (bobak,2004: 273).

Tujuan : ketakutan klien teratasi

Kriteria hasil : klien memverbalisasi perasaan dan kekhawatirannya


tentang kesejahteraan janin.

18
B. Mola hidatidosa
1. Definisi
Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal, dengan ciri-ciri stoma
villus korialis langka, vaskularisasi dan edematus. Janin biasanya meninggal
akan tetapi villus-villus yang membesar dan edematus itu hidup dan tumbuh
terus, gambaran yang diberikan adalah sebagai segugus buah anggur.
(Wiknjosastro, Hanifa, dkk, 2002)
Mola Hidatidosa merupakan penyakit trofoblas gestational yang
ditandai dengan abnormalitas vili koriolis yang mengalami degenerasi
hidropik sehingga terlihat seperti buah anggur yang bergerombol. Pada mola
hidatidosa terdapat poliferasi sel trofoblas yang berlebihan dan adanya edema
stroma vilus. Secara makroskopis mola hidatidosa terlihatseperti gelembung –
gelembung, transparan, dan berisi cairan jernih yang ukurannya bervariasi.
Molahidatidosa merupakan bagian dari penyakit trofoblas gestasional /
Gestational Thropoblatic Disease (GTD) yaitu kelompok penyakit yang
ditandai dengan proliferasi abnormal trofoblas pada kehamilan dengan potensi
keganasan.Spektrum keganasan dari GTD adalah dalam bentuk
koriokarsinoma.Molahidatidosa adalah neoplasma jinak dari sel
trofoblas.Pada molahidatidosa kehamilan tidak berkembang menjadi janin
yang sempurna, melainkan berkembang menjadi patologik.
Mola hidatidosa adalah chorionic villi (jonjotan/gantungan) yang tumbuh
berganda berupa gelembung-gelembung kecil yang mengandung banyak
cairan sehingga menyerupai buah anggur atau mata ikan. Karena itu disebut
juga hamil anggur atau mata ikan. (Mochtar, Rustam, dkk, 1998).

2. Etiologi
Penyebab mola hidatidosa tidak diketahui secara pasti, namun faktor
penyebabnya menurut Mochtar, Rustam, 1998 adalah:
a. Faktor ovum. Ovum memang memang sudah patologik sehingga mati,
tetapi terlambat dikeluarkan. Spermatozoa memasuki ovum yang telah

19
kehilangan nukleusnya atau dua serum memasuki ovum tersebut sehingga
akan terjadi kelainan atau gangguan dalam pembuahan.
b. Imunoselektif dari trofoblast, yaitu dengan kematian fetus, pembuluh
darah pada stroma villi menjadi jarang dan stroma villi menjadi sembab
dan akhirnya hiperplasia sel-sel trofoblast.
c. Keadaan sosio-ekonomi yang rendah. Dalam masa kehamilan, keperluan
zat-zat gizi meningkat. Hal ini diperlukan untuk memenuhi kebutuhan
pertumbuhan dan perkembangan janin. Dengan keadaan sosial ekonomi
yang rendah, maka untuk memenuhi gizi yang diperlukan tubuh kurang
sehingga mengakibatkan gangguan dalam pertumbuhan dan
perkembangan janinnya.
d. Paritas tinggi. Ibu multipara cenderung berisiko terjadi kehamilan mola
hidatidosa karena trauma kelahiran atau penyimpangan transmisi secara
genetik yang dapat diidentifikasikan dan penggunaan stimulan drulasi
secara klomifen atau menotropiris (pergonal).
e. Kekurangan protein. Protein adalah zat untuk membangun jaringan bagian
tubuh sehubungan dengan pertumbuhan janin, rahim, dan buah dada ibu.
Keperluan akan zat protein pada waktu hamil sangat meningkat. Apabila
kekurangan protein dalam makanan mengakibatkan akan lahir lebih kecil
dari normal.
f. Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum jelas. Infeksi mikroba
dapat mengenai semua orang termasuk ibu hamil. Masuk atau adanya
mikroba dalam tubuh manusia tidak selalu akan menimbulkan penyakit.
Hal ini sangat tergantung dari jumlah mikroba yang masuk virulensinya
serta daya tahan tubuh.

3. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala kehamilan dini didapatkan pada mola hidatidosa.
Kecurigaan biasanya terjadi pada minggu ke-14 sampai minggu ke-16 dimana
ukuran Rahim lebih besar dari kehamilan biasa, pembesaran Rahim yang

20
terkadang di ikuti pendarahan, dan bercak berwarna merah darah beserta
keluarnya materi seperti anggur pada pakaian dalam.
Tanda dan gejala serta komplikasi mola:
a. Mual dan muntah yang parah yang menyebabkan 10% pasian masuk
Rumah Sakit
b. Pembesaran Rahim yang tidak sesuai dengan usia kehamilan (lebih besar)
c. Gejala-gejala hipertitoidisme seperti intoleransi panas, gugup, penurunan
berat badan yang tidak dapat di jelaskan, tangan gemetar dan berkeringat,
kulit lembab
d. Gejala-gejala pre=eklampsi seperti pembengkakan pada kaki dan tungkai,
peningkatan tekanan darah, proteinuria (terdapat protein pada air seni).

4. Klasifikasi
a. Mola Hidatidosa Komplit: merupakan hasil kehamilan tidak normal tanpa
adanya embrio-janin, dengan pembengkakan hidrofik vili plasenta dan
seringkali memiliki hiperplasia trofoblastik pada kedua lapisan.
Pembengkakan vili menyebabkan pembentukan sisterna sentral disertai
penekanan jaringan penghubung matur yang mengalami kerusakan
pembuluh darah. Mola hidatidosa komplit hanya mengandung DNA
paternal sehingga bersifat androgenetik tanpa adanya jaringan janin. Hal
ini terjadi karena satu sel sperma membawa kromosom 23X melakukan
fertilisasi terhadap sel telur yang tidak membawa gen maternal (tidak
aktif), kemudian mengalami duplikasi membentuk 46XY dan 46XX
heterozigot. Secara makroskopik pada kehamilan trimester dua berbentuk
seperti anggur karena vili korialis mengalami pembengkakan secara
menyeluruh. Pada kehamilan trimester pertama, vili korialis mengandung
cairan dalam jumlah lebih sedikit, bercabang, dan mengandung
sinsitiotrofoblas dan sitotrofoblas hiperplastik dengan banyak pembuluh
darah.

21
b. Mola Hidatidosa Parsial: merupakan triploid yang mengandung dua set
kromosom paternal dan satu set kromosom maternal, tetapi pada triploid
akibat dua set kromosom maternal tidak menjadi mola hidatidosa parsial.
Seringkali terdapat mudigah atau jika ditemukan sel darah merah berinti
pada pembuluh darah vili
c. Mola Invasifvilioplasia trofoblas gestasional dengan gejala adanya vili
korialis disertai pertumbuhan berlebihan dan invasi sel-sel trofoblas.
Jaringan mola invasif melakukan penetrasi jauh ke miometrium,
kadangkadang melibatkan peritoneum, parametrium di sekitarnya atau
dinding vagina. Mola invasif terjadi pada sekitar 15% pasien
pascaevakuasi mola hidatidosa komplit.

5. Web Of Caution

22
6. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah:
a. Serum ß-HCG untuk memastikan kehamilan dan pemeriksaan ß-HCG
serial (diulang pada interval waktu tertentu).
b. Ultrasonografi (USG), melalui pemeriksaan ini, kita dapat melihat adakah
janin di dalam kantung gestasi (kantung kehamilan) dan kita dapat
mendeteksi gerakan maupun detak jantung janin. Apabila semuanya tidak
kita temukan dalam pemeriksaan USG maka kemungkinan kehamilan ini
bukanlah kehamilan normal.
c. Pada fasilitas kesehatan di mana sumber daya sangat terbatas, dapat
dilakukan: evaluasi klinik dengan fokus pada riwayat haid terakhir dan
riwayat kehamilan, perdarahan tidak teratur atau spotting, pembesaran
abnormal uterus, pelunakan serviks dan korpus uteri. Kajian uji kehamilan
dengan pengenceran urine. Pastikan tidak ada janin (ballottement) atau
DJJ sebelum upaya diagnosis dengan perasat Acosta Sisson.

7. Penatalaksaan Medis
Penanganan yang biasa dilakukan pada mola hidatidosa adalah:
a. Lakukan pengosongan jaringan mola dengan segera.
b. Antisipasi komplikasi (krisis tiroid, perdarahan hebat atau perforasi
uterus).
c. Lakukan pengamatan lanjut hingga minimal 1 tahun.
Selain dari penanganan di atas, masih terdapat beberapa penanganan
khusus yang dilakukan pada pasien dengan mola hidatidosa, yaitu:
a. Segera lakukan evakuasi jaringan mola dan sementara proses evakuasi
berlangsung berikan infus 10 IU oksitosin dalam 500 ml NaCl atau RL
dengan kecepatan 40-60 tetes per menit (sebagai tindakan preventif
terhadap perdarahan hebat dan efektifitas kontraksi terhadap pengosongan
uterus secara tepat).

23
b. Pengosongan uterus dengan aspirasi vakum lebih aman dari kuretase
tajam. Bila sumber vakum adalah tabung manual, siapkan peralatan AVM
minimal 3 set agar dapat digunakan secara bergantian hingga pengosongan
kavum uteri selesai. Kenali dan tangani komplikasi seperti tirotoksikosis
atau krisis tiroid baik sebelum, selama dan setelah prosedur evakuasi.
c. Anemia sedang cukup diberikan Sulfas Ferosus 600 mg/hari, untuk
anemia berat lakukan transfusi.
d. Kadar HCG di atas 100.000 IU/L praevakuasi menunjukkan masih
terdapat trofoblast aktif (di luar uterus atau invasif), berikan kemoterapi
MTX dan pantau ß-HCG serta besar uterus secara klinis dan USG tiap 2
minggu. Selam pemantauan, pasien dianjurkan untuk menggunakan
kontrasepsi hormonal (apabila masih ingin anak) atau tubektomi (apabila
ingin menghentikan fertilisasi).

8. Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian
1) Biodata
Mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi nama, umur,
agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan,
perkawinan ke-, lamanya perkawinan, dan alamat.
2) Keluhan Utama
Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan pervaginam
berulang.
3) Riwayat Kesehatan
a) Riwayat kesehatan sekarang
Keluhan sampai saat klien pergi ke rumah sakit atau pada saat
pengkajian seperti perdarahan pervaginam di luar siklus haid, pembesaran
uterus lebih besar dari usia kehamilan.
b) Riwayat kesehatan masa lalu
4) Riwayat Kesehatan Reproduksi

24
a) Riwayat menstruasi
b) Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas
c) Riwayat seksual
5) Riwayat Pemakaian Obat
Kaji riwayat pemakaian obat-obatan kontrasepsi oral, obat digitalis,
dan jenis obat lainnya.
6) Pola Kebiasaan Sehari-hari Menurut Virginia Henderson
a) Respirasi
b) Nutrisi
c) Eliminasi
d) Gerak dan keseimbangan tubuh
e) Istirahat/tidur
f) Kebutuhan personal hygiene
g) Akivitas
h) Kebutuhan berpakaian
i) Mempertahankan temperatur tubuh dan sirkulasi
j) Kebutuhan keamanan
k) Sosialisasi
l) Kebutuhan spiritual
m) Kebutuhan bermain dan rekreasi
n) Kebutuhan belajar
7) Pemeriksaan Fisik
a) Keadaan umum
Biasanya keadaan umum pada klien dengan mola hidatidosa lemah.
b) Tanda-tanda vital
Tekanan darah : meningkat lebih dari 120/70 mmH
Nadi : mungkin menurun
Suhu : meningkat
Respirasi : meningkat >20×/menit

25
c) Kepala
Inspeksi : bersih atau tidaknya, ada atau tidaknya lesi.
Palpasi : ada atau tidaknya nyeri tekan, krepitasi, massa.
d) Wajah
Inspeksi : tampak pucat, ada atau tidaknya edema.
e) Mata
Inspeksi : Konjungtiva tampak pucat (karena adanya
perdarahan).
f) Hidung
Inspeksi : Simetris atau tidak, ada tidaknya polip.
g) Telinga
Inspeksi : ada tidaknya peradangan dan lesi.
h) Mulut
Inspeksi : periksa apakah bibir pucat atau kering, kelengkapan
gigi, ada tidaknya karies gigi.
i) Leher
Inspeksi & : ada tidaknya pembesaran kelenjar tiroid dan limfa.
palpasi (pemeriksaan dari arah belakang klien)
j) Payudara
Inspeksi Pada puting : ukuran payudara, simetris, dan penampilan
kulit. inspeksi ukuran, bentuk, ada tidaknya ulkus dan kemerahan.
Palpasi : palpasi untuk mengetahui konsistensi dan nyeri
tekan.
k) Thorax
Inspeksi kedalaman dan retraksi : pergerakan dinding dada,
frekuensi, irama, penggunaan otot bantu pernafasan, ada tidaknya
dinding dada.
Palpasi : ada tidaknya nyeri tekan dan krepitasi vokal
fremitus.
Perkusi : kenormalan organ intrathoraks.

26
Auskultasi : ada tidaknya suara nafas tambahan.
l) Abdomen
Inspeksi : pembesaran perut sesuai kehamilan, perdarahan per
vaginam, terlihat jaringan parut pada perut, ada tidaknya jaringan hasil
konsepsi, tercium bau busuk dari vulva.
Auskultasi : bising usus normal.
Palpasi : pembesaran abdomen lebih besar dari usia
kehamilan (TFU tidak sesuai dengan usia kehamilan).
Perkusi : suara normal timpani. Untuk mengetahui suara
normalnya bila masih ada sisa hasil konsepsi yang belum dikeluarkan
maka suara akan berubah menjadi lebih pekat.
m) Genetalia
Inspeksi : kebersihan kurang, perdarahan per vaginam,
kondisi vulva lembab.
n) Ekstremitas atas
Inspeksi : ada tidaknya infus yang terpasang.
Palpasi : CRT (Capilary Refile Time) memanjang bila
perdarahan.
o) Ekstremitas bawah
Inspeksi : ada tidaknya deformitas.
Palpasi : akral (perdarahan biasanya disertai dengan akral
dingin).

b. Diagnosis Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan prosedur invasif.
2. Kurang volume cairan berhubungan dengan mual muntah berlebihan,
pengeluaran darah per vaginam disertai gelembung mola.
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan ditandai dengan
klien mengeluh tidak mampu melakukan aktivitas yang biasa dilakukan,
periode waktu tidur yang meningkat, tampak berbaring di tempat tidur.

27
4. Risiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuat pertahanan sekunder.
5. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan.
c. Rencana Keperawatan
No Dx. Kep Tujuan (NOC) Intervensi (NIC)
(1) (2) (3) (4)
1 Nyeri akut Setelah dilakukan Manajemen Nyeri (pain
berhubungan tindakan keperawatan, management):
dengan diharapkan klien dapat: a. Kaji secara
pembesaran a. Mengontrol nyeri komprehensif tentang
buah (pain control), nyeri, meliputi lokasi,
kehamilan dengan kriteria: karakteristik, onset,
ekstrauterin 1) Klien dapat durasi, frekuensi,
mengetahui kualitas, intensitas
penyebab nyeri, nyeri, dan faktor
onset nyeri. presipitasi.
2) Klien mampu b. Observasi isyarat-
menggunakan isyarat nonverbal dari
teknik ketidaknyamanan,
nonfarmakologi khususnya dalam
untuk mengurangi ketidakmampuan untuk
nyeri dan komunikasi secara
tindakan efektif.
pencegahan nyeri. c. Gunakan komunikasi
3) Klien mampu terapeutik agar klien
mengenal tanda- dapat mengekspresikan
tanda pencetus nyeri.
nyeri untuk d. Tentukan dampak dari
mencari ekspresi nyeri terhadap
pertolongan. kualitas hidup: pola

28
4) Klien melaporkan tidur, nafsu makan,
bahwa nyeri aktivitas kognisi,
berkurang dengan mood, relationship,
menggunakan pekerjaan, tanggung
manajemen nyeri. jawab peran.
b. Menunjukkan e. Berikan informas
tingkat nyeri (pain tentang nyeri seperti
level), dengan penyebab, durasi nyeri,
kriteria: dan tindakan
1) Klien melaporkan pencegahan.
penurunan nyeri f. Kontrol faktor-faktor
dan pengaruhnya lingkungan yang dapat
pada tubuh. mempengaruhi respon
2) Klien mengenal klien terhadap
skala, intensitas, ketidaknyamanan
frekuensi, dan (misalnya suhu
lamanya episode ruangan penyinaran,
nyeri. dll).
3) Klien mengatakan g. Anjurkan klien untuk
rasa nyaman memonitor sendiri rasa
setelah nyeri nyerinya.
berkurang. h. Tingkatkan tidur atau
4) Tanda-tanda vital istirahat yang cukup.
dalam batas i. Ajarkan penggunaan
normal. teknik nonfarmakologi
5) Ekspresi wajah (misalnya: relaksasi,
tenang. imajinasi terbimbing,
terapi musik, distraksi,
dan masase).

29
j. Evaluasi keefektifan
dari tindakan
mengontrol nyeri.
k. Modifikasi tindakan
mengontrol nyeri
berdasarkan respon
klien.
l. Anjurkan klien untuk
berdiskusi tentang
pengalaman nyeri
secara tepat.
m. Monitor kenyamanan
klien terhadap
manajemen nyeri.
n. Hilangkan faktor yang
dapat meningkatkan
pengalaman nyeri
(misalnya: rasa takut,
kelelahan, dan
kurangnya
pengetahuan).
o. Libatkan keluarga
untuk mengurangi
nyeri.
p. Informasikan kepada
tim kesehatan lainnya
atau anggota keluarga
saat tindakan
nonfarmakologi

30
dilakukan untuk
pendekatan preventif.
Pemberian Analgetik
(analgetic
administration):
a. Tentukan lokasi nyeri,
karakterisitik, kualitas,
dan keparahan sebelum
pengobatan.
b. Berikan obat dengan
prinsip benar.
c. Cek riwayat alergi
obat.
d. Tentukan lokasi nyeri,
karakteristik, kualitas,
dan keparahan sebelum
pengobatan.
e. Monitor tanda-tanda
vital sebelum dan
ssudah pemberian
analgetik pertama kali.
f. Berikan analgetik tepat
waktu terutama saat
nyeri hebat.
g. Evaluasi efektivitas
analgetik, tanda dan
gejala (efek samping).
2 Kurang volume Setelah dilakukan Manajemen Cairan (fluid
cairan tindakan keperawatan, management):

31
berhubungan diharapkan kebutuhan a. Pertahankan intake dan
dengan mual cairan adekuat. Status output yang adekuat.
muntah nutrisi (nutritional b. Monitor status hidrasi
berlebihan, status: food and fluid (kelembaban membran,
pengeluaran intake), dengan kriteria: nadi akurat, dan
darah per a. Tekanan darah, nadi, tekanan darah).
vaginam dan suhu dalam batas c. Monitor tanda-tanda
disertai normal. vital sesuai kebutuhan.
gelembung b. Tidak ada tanda- d. Monitor masukan
mola. tanda dehidrasi, makanan atau cairan
elastisitas turgor kulit dan hitung intake
baik, membran kalori harian.
mukosa lembab, e. Motivasi keluarga
tidak ada rasa haus untuk membantu klien
berlebihan. makan.
c. Klien dapat f. Tawarkan snack (jus
mempertahankan buah, buah segar).
output urine sesuai g. Kolaborasi dalam
dengan usia dan BB. pemberian cairan dan
makanan.
Monitor Cairan (fluid
monitoring):
a. Monitor intake dan
output.
b. Monitor membran
mukosa dan turgor
kulit.
c. Kelola cairan sesuai
kebutuhan.

32
C. Hipertensi dalam Kehamilan (Pre-ekalampsia & ekalampsia)
1. Hipertensi Dalam Kehamilan
Hipertensi dalam kehamilan adalah hipertensi yang terjadi saat
kehamilan berlangsung dan biasanya pada bulan terakhir kehamilan atau lebih
setelah 20 minggu usia kehamilan pada wanita yang sebelumnya normotensif,
tekanan darah mencapai nilai 140/90 mmHg, atau kenaikan tekanan sistolik
30 mmHg dan tekanan diastolik 15 mmHg di atas nilai normal (Junaidi,
2010).
Hipertensi pada kehamilan merupakan penyakit tidak menular
penyebab kematian maternal. Hipertensi pada kehamilan sering terjadi dan
merupakan penyebab utama kematian ibu melahirkan, serta memiliki efek
serius lainnya saat melahirkan. Hipertensi pada kehamilan terjadi pada 5%
dari semua kehamilan (Karthikeyan, 2015). Di Amerika Serikat angka
kejadian kehamilan dengan hipertensi mencapai 6-10 %, dimana terdapat 4
juta wanita hamil dan diperkirakan 240.000 disertai hipertensi setiap tahun.
Hipertensi merupakan faktor risiko stroke dan insidennya meningkat pada
kehamilan dimana 15% kematian ibu hamil di Amerika disebabkan oleh
pendarahan intraserebral (Malha et al., 2018).
Hipertensi adalah adanya kenaikan tekanan darah melebihi batas
normal yaitu tekanan darah ≥140/90 mmHg. Pengukuran tekanan darah
sekurang-kurangnya dilakukan 2 kali selang 4 jam. Kenaikan tekanan darah
sistolik ≥ 30 mmHg dan kenaikan tekanan darah diastolik ≥ 15 mmHg.
Pembagian hipertensi dalam kehamilan ialah Hipertensi kronik, Preeklamsi,
Eklamsi, Hipertensi kronik dengan superimposed preeklamsi, dan Hipertensi
gestasional.
a. Klasifikasi Hipertensi Dalam Kehamilan
Hipertensi dalam kehamilan saat ini dibedakan menurut The Working
Group of Hypertensive Disordes Complicating Pregnancy sebagai
berikut :

33
1) Hipertensi gestasional yaitu terjadinya hipertensi ringan selama
kehamilan pada ibu yang sebelumnya normotensif, tanpa disertai
proteinuria dan kelainan hasil laboratorium lain. diagnosis hipertensi
gastosional yaitu :
a) Tekanan darah ≥140/90 mmHg
b) Tidak ada riwayat hipertensi sebelum hamil, tekanan darah normal
di usia kehamilan <12 minggu
c) Tidak ada proteinuria (diperiksa dengan tes celup urin)
d) Dapat disertai tanda dan gejala preeklampsia, seperti nyeri ulu hati
dan trombositopenia
e) Diagnosis pasti ditegakkan pasca persalinan.

2) Hipertensi kronik adalah Hipertensi tanpa proteinuria yang timbul dari


sebelum kehamilan dan menetap setelah persalinan dengan diagnosis:
a) Tekanan darah ≥140/90 mmHg
b) Sudah ada riwayat hipertensi sebelum hamil, atau diketahui
adanya.
c) Hipertensi pada usia kehamilan <20 minggu
d) Tidak ada proteinuria (diperiksa dengan tes celup urin)
e) Dapat disertai keterlibatan organ lain, seperti mata, jantung, dan
ginjal.

2. Preeklamsia
Preeklampsia adalah timbulnya hipertensi yang disertai proteinuria
terjadi setelah kehamilan minggu ke-20 sampai minggu ke-6 setelah
persalinan. Proteinuria didefinisikan sebagai ekskresi protein dalam urin
dengan kadar 300 mg/dl dalam urin tampung 24 jam atau dengan pemeriksaan
kualiatif ≥ 1+ pada pengambilan sampel urin secara acak.
Berdasarkan waktu kejadiannya preeklampsia dibagi menjadi dua,
yaitu onset awal, yang terjadi pada kehamilan < 34 minggu, dan onset lanjut,

34
yang terjadi pada kehamilan ≥ 34 minggu. Preeklampsia dengan onset awal
umumnya terkait dengan pembatasan pertumbuhan janin, bentuk gelombang
dopler uterus dan arteri umbilikalis yang abnormal, dan keluaran maternal dan
perinatal yang buruk. Akan tetapi preeklampsia dengan onset lanjut sebagian
besar berhubungan dengan penyakit maternal ringan, keterlibatan janin
dengan tingkat yang lebih ringan, dengan hasil keluaran yang biasanya
menguntungkan.15 Preeklampsia berdasarkan gejala klinisnya
diklasifikasikan menjadi dua, yaitu preeklampsia ringan dan berat.
a. Klasifikasi Preeklamsia
1) Preeklamsia ringan
Preeklamsia ringan dalah suatu sindroma spesifik kehamilan dengan
menurunnya perfusi organ yang berakhibat terjadinya vasospasme
pembuluh darah dan aktivasi endotel. Sedangkan menurut ilmu
kebidanan praktis adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria
dan/atau edema setelah umur kehamilan 20 minggu atau segera setelah
persalinan. Gejala ini dapat timbul sebelum umur kehamilan 20
minggu pada penyakit trofoblas. Gejala dan tanda preeklampsia ringan
yaitu:
a) Tekanan darah sistolik 140 atau kenaikan 30 mmHg dengan
interval pemeriksaan setiap 6 iam.
b) Tekanan darah diastolik 90 atau kenaikan 15 mmHg dengan
interval pemeriksaan setiap 6 jam.
c) Kenaikan berat badan 1 kg atau lebih dalam seminggu.
d) Proteinuria 0,3 gr atau lebih dengan tingkat kualitatif plus 1
sampai 2 pada urin kateter atau urin aliran pertengahan.
2) Preeklampsia berat
Preeklamsia berat dalah suatu komplikasi kehamilan yang ditandai
dengan timbulnya hipertensi 160/110 mmhg atau lebih disertai
proteinuria dan atau edema pada kehamilan 20 minggu atau lebih
menurut ilmu kebidanan praktis. Sedangkan menurut Prawirohardjo,

35
preeklampsia dengan tekanan darah sistolik > 160 mmHg dan tekanan
darah diastolic > 110 mmHg disertai proteinuria lebih 5 g/ 24 jam.
Gejala dan tanda preeklampsia berat yaitu :
a) Tekanan darah 160/110 mmHg
b) Oliguria, urin < 400 cc/24 jam.
c) Proteinuria lebih dari 3 gr/liter.

b. Etiologi
Penyebab preeklamsia belum diketahui pasti. Namun demikian, penyakit
ini lebih sering ditemukan pada wanita hamil yang :
1. Terpajan vili korialis pertama kali (primigravida atau primipaternitas)
2. Terpajan vilikorialis berlebihan (hiperplasentosis), misalnya pada
kehamilan kembar atau mola hidatidosa
3. Mempunyai dasar penyakit ginjal atau kardiovaskuler
4. Mempunyai riwayat preeklamsia/eklamsia dalam keluarga.4

c. Gambaran klinis pre-eklamsia


Gambaran klinis mulai dengan kenaikan berat badan diikuti edema
kaki atau tangan, peningkatan tekanan darah dan terakhir terjadi
proteinuria. Pada preeklamsia ringan, gejala subjektif belum dijumpai,
tetapi pada preeklamsia berat diikuti keluhan subjectif berupa sakit kepala
terutama daerah frontalis, rasa nyeri didaerah epigastrikum, gangguan
mata, pengelihatan menjadi kabur, terdapat mual sampai
muntah,gangguan pernapasan sampai sianosis, dan terjadi gangguan
kesadaran. Dengan pengeluaran proteinuria, keadaan penyakit semakin
berat, karena terjadi gangguan fungsi ginjal.

36
d. Pathway

37
e. Pencegahan kejadian pre-eklamsia dan eklamsia
Untuk mencegah kejadian pre-eklamsia dapat diberikan nasihat tentang :
1. Diet-makanan. Makanan tinggi protein, tinggi karbohitrat, cukup
vitamin dan rendah lemak, kurangi garam apabila berat badan
bertambah atau edema, makanan beroirentasi pada empat sehat lima
sempurna, dan untuk meningkatkan jumlah protein dengan tambahan
satu butir telur setiap hari.
2. Cukup istirahat, istirahat yang cukup sesuai pertambahan usia
kehamilan berarti bekerja seperlunya dan disesuaikan dengan
kemampuan. Lebih banyak duduk atau berbaringkearah punggung
janin sehingga aliran darah menuju plasenta tidak mengalami
gangguan.
3. Pengawasan antenatal (hamil). Bila terjadi perubahan perasaan dan
gerak janin dalam rahim segera datang ketempat pemeriksaan.
Keadaan yang memerlukan perhatian:
a) Uji kemungkinan preeklamsia :
1) Pemeriksaan tekanan darah atau kenaikannya
2) Pemeriksaan tinggi fundus uteri
3) Pemeriksaan kenaikan berat badan atau edema
4) Pemeriksaan protein urin
5) Jika mungkin dilakukan pemeriksaan fungsi ginjal, fungsi hati,
gambaran darah umum, dan pemeriksaan retina mata
b) Penialaian kondisi janin dalam rahim
1) Pemantauan tinggi fundus uteri
2) Pemeriksaan janin (gerakan janin dalam rahim, denyut jantung
janin, pemantauan air ketuban)
3) Usulkan untuk melakukan pemeriksaan ultrasonografi.

38
f. Indikasi perawatan aktif
1. Ibu :
a) Kehamilan > 37 minggu
b) Tanda dan gejala impending eclampsia, seperti nyeri kepala hebat,
pengelihatan kabur, nyeri ulu hati, gelisah dan hiper-refleksia,
gagal terapi konservatif, peningkatan tekanan darah dalam 6 jam
sejak terapi medisinal dimulai, dan gagal perbaikan setelah 24 jam
sejak terapi medisinal dimualai.4
2. Janin : terjadi gawat janin dan PJT (pertumbuhan janin terhambat)
3. Laboratorik : sindrom hellp (hemolysis, elevated liver enzyme, low
platelet count)

g. Penatalaksanaan
1. Obat anti kejang:
a) Terapi pilihan pada preeklamsia adalah magnesium sulfat
(MgSO4). Sebaiknya MgSO4 diberikan terus menerus secara IV
atau berkala secara IM.
Pemberian IV terus menerus menggunakan infusin pump.
1) Dosis awal : 4 gram MgSO4 20% (20 cc) dilarutkan kedalam
100 cc cairan Ringer Laktat atau Ringer Dextrose selama 15-
20 menit secara IV.
2) Dosis pemeliharaan : 10 gram MgSO4 20% dalam 500 cc
RL/RD dengan kecepatan 1-2 gram/jam

Pemberian IM berkala :

1) Dosis awal : 4 gram MgSO4 20% (20 cc) secara IV dengan


kecepatan 1 gram/menit
2) Dosis pemeliharaan : 4 gram MgSO4 40% (10 cc) IM setiap 4
jam. Tambahkan 1 cc Lidokain 2% setiap pemberian IM
untuk mengurangi nyeri dan panas.

39
Syarat-syarat pemberian MgSO4 :

1) Harus tersedia antidotum, yaitu kalsium glukonas 10% (1


gram dalam 10 cc)
2) Frekuensi pernapasan ≥ 16x/menit
3) Produksi urin ≥ 30 cc/jam (≥0.5 cc/kg berat badan/jam)
4) Refleks patella (+)

MgSO4 dihentikan pemberiannya bila:

1) Ada tanda-tanda intoksikasi


2) Setelah 24 jam pascasalin
3) Dalam 6 jam pascasalin terjadi perbaikan (normotensif)

b) Diazepam, dapat diberikan bila tidak tersedia MgSO4 sebagai obat


pilihan. Diazepam IV diberikan dengan dosis 10 mg dan dapat
diulangi setelah 6 jam.
2. Obat antihipertensi : hanya diberikan bila tekanan darah sistolik > 180
mmHg dan/atau diastolik >110 mmHg.
3. Lain-lain :
a) Diuretikum : tidak diberikan kecuali bila ada edema paru, gagal
jantung kongesif atau edema anasarka
b) Kardiotonika : bila ada tanda-tanda payah jantung
c) Anti piretik : bila ada demam
d) Antibiotik : bila ada tanda-tanda infeksi
e) Anti nyeri : bila penderita gelisah karena kesakitan.

3. Eklampsia
Eklampsia didefinisikan sebagai peristiwa terjadinya kejang pada
kehamilan ≥ 20 minggu disertai atau tanpa penurunan tingkat kesadaran 9
bukan karena epilepsi maupun gangguan neurologi lainnya.

40
Kejang eklampsia hampir selalu didahului oleh preeklampsia.
Eklampsia paling sering terjadi pada trimester ketiga dan menjadi sering saat
kehamilan mendekati aterm. Eklampsia dapat terjadi pada antepartum,
intrapartum, dan postpartum. Eklampsia postpartum umumnya terjadi dalam
waktu 24 jam pertama setelah persalinan. Pada penderita preeklampsia dapat
memberikan gejala atau tanda khas sebelum terjadinya kejang disebut tanda
prodromal. Preeklampsia yang disertai tanda prodoma ini disebut sebagai
impending eclampsia atau imminent eclampsia. Suatu kehamilan disebut
normotensi apabila mempunyai tekanan darah sistolik
Eklamsia adalah kejang yang dialami wanita hamil dalam persalinan
atau masa nifas yang disertai gejala-gejala preeklamsia (hipertensi, edema dan
proteinuria).
a. Klasifikasi
Menurut saat terjadinya, eklamsia dapat dibedakan atas :
1. Eklamsia antepartum : terjadi sebelum kehamilan
2. Eklamsia intrapartum : terjadi sewaktu persalinan
3. Eklamsia pascasalin : terjadi setelah persalinan.

Serangan kejang eklamsia dapat dibedakan kedalam 4 tingkat:

1. Tingkat invasi (tingkat permulaan) : mata terpaku, kepala dipalingkan


ke satu sisi, muka memperlihatkan kejang-kejang halus. Tingkat ini
berlangsung beberapa detik.
2. Tingkat kontraksi (tingkat kejang tonis) : seluruh badan kaku, kadang-
kadang terjadi epistotonus yang lamanya 15-20 detik.
3. Tingkat konvulsi ( tingkat kejang klonis) : kejang hilang timbul,
rahang membuka dan menutup begitu pula mata, otot-otot muka dan
otot badan berkontraksi dan berelaksai berulang. Kejang sangat kuat
sampai-sampai penderita dapat terlempar dari tempat tidur atau
menggigit lidah sendiri. Ludah berbuih bercampur darah keluar dari
mulut, mata merah dan muka biru. Kejang berangsung ± 1 menit.

41
4. Tingkat koma : setelah kejang klonis, penderita mengalami koma,
lamanya bervariasi mulai dari beberapa menit sampai berjam-jam. Bila
sadar kembali, penderita tidak ingat sama sekali apa yang telah terjadi
(amnesia retrograd).

b. Etiologi
Penyebab eklamsia belum diketahui benar. Oleh karena eklamsia
merupakan kelanjutan atau stadium akhir preeklamsis, faktor-faktor yang
memengaruhi kejadiannya sama dengan preeklamsia.

c. Pencegahan
Profilaksis/pencegahan eklamsia adalah menemukan kasus preeklamsia
sedini mungkin danmengobatinya dengan adekuat.

D. Kehamilan Ganda
1. Definisi
Kehamilan kembar ialah suatu kehamilan dengan dua janin atau lebih
yang ada didalam kandungan selama proses kehamilan. Bahaya bagi ibu tidak
begitu besar, tetapi wanita dengan kehamilan kembar memerlukan perhatian
dan pengawasan khusus bila diinginkan hasil yang memuaskan bagi ibu janin
(Wiknjosastro, 2007:286). Sedangkan menurut Mochtar Rustam (2012:259)
kehamilan ganda atau kembar adalah kehamilan dengan dua jenis janin atau
lebih.

2. Etiologi
Menurut Mochtar Rustam (2012:259) kehamilan gemelli dapat dipengaruhi
oleh beberapa faktor antara lain:
a. Faktor-faktor yang mempengaruhi adalah : bangsa, umur dan paritas
sering mempengaruhi kehamilan 2 telur

42
b. Faktor obat-obat induksi ovulasi profertil, domid dan hormon
gonadotropin dapat menyebabkan kehamilan dizigotik dan kembar lebih
dari dua
c. Faktor keturunan
d. Faktor yang lain belum diketahui

Etiologi kembaran monozigot tidak diketahui. Kembar dizygotik diduga


merupakan hasil dari ovulasi beberapa folikel yang disebabkan oleh
peningkatan kadar serum gonadotropin. Oleh karena itu, usia ibu lanjut
dikaitkan dengan peningkatan prevalensi kelahiran kembar.

Kembaran dizigotik dapat terjadi lebih sering pada beberapa keluarga. Ini
dianggap sebagai faktor sekunder akibat faktor genetik yang menyebabkan
ovulasi beberapa sel telur selama siklus menstruasi. Sebaliknya, kembaran
monozigot belum terbukti memiliki warisan keluarga.

3. Manifestasi Klinis
Menurut Dutton, dkk (2012:156) tanda dan gejala pada kehamilan kembar
adalah sebagai berikut:
a. Pada kehamilan kembar distensi uterus berlebihan, sehingga melewati
batas toleransinya dan seringkali terjadi partus prematurus. Usia
kehamilan makin pendek dan makin banyaknya janin pada kehamilan
kembar.
b. Mual dan muntah berat karena HCG meningkat
c. Palpasi abdomen mendapatkan 3 atau lebih bagian tubuh yang besar
d. Auskultasi lebih dari satu denyut jantung yang terdengar jelas dan berbeda
(nonmaternal) lebih dari 10 denyut/menit. Kecurigaan meningkat jika
keluarga memiliki riwayat kehamilan kembar
e. Penggunaan stimulator ovulasi

43
f. Kebutuhan ibu akan zat-zat makanan pada kehamilan kembar bertambah
sehingga dapat menyebabkan anemia dan penyakit defisiensi lain.
g. Frekuensi hidramnion kira-kira sepuluh kali lebih besar pada kehamilan
kembar daripada kehamilan tunggal.
h. Frekuensi pre-eklamsia dan eklamsia juga dilaporkan lebih sering pada
kehamilan kembar.
i. Solusio plasenta dapat terjadi kemudian seperti sesak nafas, sering
kencing, edema dan varises pada tungkai bawah dan vulva.

4. Klasifikasi
Kehamilan kembar dibagi menjadi 3 macam, menurut Mochtar,
Rustam (2012:260-261) adalah sebagai berikut:
a. Gemelli dizigotik (= kembar dua telur , heterolog, biovuler dan fraternal ),
kedua telur berasal dari:
1) 1 ovarium dan dari 2 Folikel de Graff
2) 1 ovarium dan dari 1 folikel de Graff
3) 1 dari ovarium kanan dan 1 dari ovarium kiri
b. Gemeli monozigotik = kembar satu telur, homolog, uniovuler, identik
dapat terjadi karena :
1) Satu telur dengan 2 inti, hambatan pada tingkat blastula
2) Hambatan pada tingkat segmentasi
3) Hambatan setelah amnion dibentuk, tetapi sebelum primitive streak.
c. Conjoined twins, superfekkundasi 2 superfetasi
Conjoined twins atau kembar siam adalah kembar dimana janin
melengket satu dengan yang lainnya. Misalnya torakopagus (dada dengan
dada), abdominopagus (perlengketan antara kedua abdomen), kraniopagus
(kedua kepala) dan sebagainya. Banyak kembar siam telah dapat
dipisahkan secara operatif dengan berhasil.

44
Superfekundasi adalah pembuahan dua telur yang dikeluarkan dalam
ovulasi yang sama pada dua kali koitus yang dilakukan pada jarak waktu
yang pendek.
Hal inı dilaporkan oleh Archer (1910) seorang wanita kulit putih
melakukan koitus berturut-turut dengan seorang kulit putih dan kemudian
dengan pria kulit hitam melahirkan bayi kembar: satu bayi putih dan satu
bayi kulit hitam (mulatto).
Superfetasi adalah kehamilan kedua yang terjadi beberapa minggu
atau bulan setelah kehamilan pertama. Belum pernah dibuktikan pada
manusia, namun dapat ditemukan pada kuda

45
5. Web Of Caution
Etiologi: Anamnesa: Pemeriksaan:

1. Faktor bangsa, 1. Keluhan 1. Tiga bagian


umur dan subyektif besar
paritas (sesak nafas, 2. Dua
2. Faktor obat- sering kencing, ballotement
obat induksi gerak banyak, 3. Djj berbeda 10
ovulasi edema varises) denyut/menit
profertil, 2. Keluhan 4. Diagnosa pasti
domid dan obyektif a. USG
hormon (hiperemesis, b. Foto
gonadotropin pre eklsmsi- abdomen
3. Faktor eklamsi,

Kehamilan Kembar

Kembar Monozigotik Kembar Dizigotik

Komplikasi Kehamilan Kembar

Hidramnion Persalinan Pervaginam atau SC

Kelainan Letak Persalinan Pervaginam atau SC

Solusio Plasenta Persalinan SC

Prematurus Persalinan Pervaginam atau SC

Plasenta Previa Persalinan SC

46
6. Pemeriksaan Klinis
Untuk mendiagnosa adanya suatu kehamilan kembar menurut Mochtar
(2012:263) dapat dilakukan pemeriksaan-pemeriksaan sebagai berikut:
a. Anamnesa
1) Perut lebih buncit dari semestinya tua kehamilan
2) Gerakan janin lebih banyak dirasakan ibu hamil
3) Uterus terasa lebih cepat membesar
4) Pernah hamil kembar atau ada sejarah keturunan.
b. Inspeksi dan palpasi
1) Pada pemeriksaan pertama dan ulang ada kesan uterus lebih besar dan
cepat tumbuhnya dari biasa.
2) Teraba gerakan-gerakan janin lebih banyak
3) Banyak bagian-bagian kecil teraba
4) Teraba 3 bagian besar janin
5) Teraba 2 balotemen
c. Auskultasi
Terdengar 2 denyut jantung janin pada 2 tempat yang agak berjauhan
dengan perbedaan kecepatan sedikitnya 10 denyut per menit atau sama-
sama dihitung dan berselisih 10.
d. Rontgen foto abdomen, tampak gambaran 2 janin.
e. Ultrasonografi
Tampak 2 janin, 2 jantung yang berdenyut telah dapat ditentukan pada
triwulan I.
f. Elektrokardiogram fetal Diperoleh dua EKG yang berbeda dari kedua
janin

47
7. Penatalaksanaan

KEHAMILAN KEMBAR

Anamnesa

1. Keluhan subyektif
a. Sesak nafas
Pemeriksaan
b. Sering kencing
c. Gerak banyak 1. Tiga bagian besar
d. Edema varises 2. Dua ballotemen
2. Keluhan obyektif 3. Djj berbeda 10 denyut
a. Hiperemesis 4. Diagnosis pasti
b. Pre eklamsia- a. Ultrasonografi
eklamsi b. Foto abdomen
c. Hidramnion

KOMPLIKASI KEHAMILAN
1. Hidramnion 4. Plasenta previa
2. Prematuritas 5. Solusio plasenta
3. Kelainan letak 6. Monster fetus

PERTOLONGAN SIKAP MERUJUK


SETEMPAT

PERSALINAN PERVAGINAM PRIMER SEKSIO SESAREA


1. Anak pertama pervaginam 1. Distres janin
2. Anak kedua 2. Prolapsus funikuli labour
a. Spontan 3. Plasenta previa
b. Ekstrasi forcep dan 4. Prolong
vakum

KOMPLIKASI PP
PENGOBATAN

1. Atonia uteri 1. Infus dan transfuse


2. Retensio plasenta 2. Pemberian
uterotonika

48
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Upaya pencegahan diperlukan untuk mengurangi angka kematian ibu.
Deteksi awal pada kehamilan dapat dijadikan sebagai salah satu upaya untuk
meningkatkan pengetahuan ibu tentang kehamilannya. Banyak faktor yang
menjadi penyebab keadaan tersebut diantaranya minimnya pengetahuan
tentang kehamilan resiko tinggi. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap
tingginya angka kematian ibu adalah kurangnya pengetahuan ibu tentang
kehamilannya (Puri, 2014). Beberapa kelainan yang menyebabkan calon ibu
mengalami kehamilan resiko tinggi adalah Hipertensi Gravidarum,
Molahidatidosa, Hipertensi Dalam Kehamilan (Prekalampsia dan ekslampsia)
dan Kehamilan Ganda. Seperti yang sudah kami jelaskan pada makalah ini,
tentang bagaimana asuhan keperawatan yang baik untuk ibu hamil dengan
kondisi tersebut, yang dimulai dari pembahasan definisi, definisi, etiologi,
manifestasi klinis, klasifikasi, web of causation/ pathway, pemeriksaan klinis,
penatalaksanaan dan atau pencegahan, hingga asuhan keperawatan yang harus
dilakukan, diharapkan dapat menambah wawasan ibu hamil mengenai
kehamilan resiko tinggi dan dapat mengurangi angka kematian ibu.

B. Saran
1. Bagi Ibu Hamil
Diharapkan dapat menambah pengetahuan ibu hamil tentang kehamilan
resiko tinggi, sehingga ibu hamil dapat mendeteksi kehamilan resiko
tinggi.
2. Bagi Tenaga Kesehatan
Diharapkan agar para pembaca baik teman mahasiswa maupun perawat
lebih meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuannya
dalam memberikan Asuhan Keperawatan pada ibu hamil yang memiliki

49
resiko tinggi seperti masalah Hipertensi Gravidarum, Molahidatidosa,
Hipertensi Dalam Kehamilan (Prekalampsia dan ekslampsia) dan
Kehamilan Ganda sesuai teori dan dapat mengaplikasikannya pada saat
berhadapan dengan pasien.
3. Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini dapat menambah kepustakaan dan sebagai sumber
referensi mahasiswa tentang pengetahuan kehamilan resiko tinggi dan
sebagai dasar untuk penelitian selanjutnya.

50
DAFTAR PUSTAKA

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di


Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan, edisi 1. Jakarta; 2013.

Mansjoer,Arif dkk : Kapita Selekta Kedokteran.Jakarta,2001

Fitriani R. 2009. Mola hidatidosa. Jurnal Kesehatan Fakultas Kedoteran UIN


Alauddin Makassar. II(4);3-6.

Johnson & Taylor, 2005. Buku Ajar Praktik Kebidanan. EGC. Jakarta

Carpenito, Lynda, (2001), Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Penerbit Buku


Kedokteran EGC, Jakarta

Mansjoer, Arif, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid I. Media


Aesculapius.Jakarta

Aspiani, R. Y. (2017). Asuhan Keperawatan Maternitas, Aplikasi NANDA, NIC dan


NOC. Jakarta: TIM.

Norwitz, E. R., dan John O. S. 2006. At a Glance Obstetri dan Ginekologi, Edisi
Kedua. Diterjemahkan oleh Diba Artsiyanti E. P. 2008. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Manuaba, IAC., I Bagus, dan IB Gde. 2010. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan
dan KB untuk Pendidikan Bidan. Edisi kedua. Jakarta: EGC.

51