Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN MINI RISET

Matakuliah : Filsafat Pendidikan

Dosen Pengampu : Silvia Mariah Handayani. S.Pd., M.Pd

NIP : 198601102008122002

Nama Penyusun : 1 Islamiah Tri Adinda (3183131032)

2. Putrida Elmega Octavia Br Sinamo (3183331032)

3. Uci Ramayani (3183131056)


Kelas :B

JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2018
Kata Pengantar
Puji syukur diucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
rahmat-Nya makalah Laporan Mini Riset ini dapat diselesaikan tepat pada
waktunya, laporan Mini Riset ini dilakukan di SMK Swasta PAB 2 Helvetia
dan ditulis sesuai dengan format yang diberikan oleh dosen pengampu. Penulis
berterima kasih kepada Ibu Dosen Pengampu Silvia Mariah Handayani, S.Pd.,
M.Pd yang telah memberikan bimbingannya.
Penyusunan Laporan Mini Riset ini merupakan tugas dan persyaratan untuk
menyelesaikan tugas mata kuliah di Jurusan Pendidikan Geografi FIS Universitas
Negeri Medan dan harapannya dapat menjadi bahan referensi untuk kedepannya.
Dalam tugas Laporan Mini Riset ini, penulis menyadari bahwa tugas ini
masih banyak kekurangan oleh karena itu penulis meminta maaf jika ada
kesalahan dalam penulisan dan penulis juga mengharapkan kritik dan saran yang
membangun guna kesempurnaan tugas ini.

Wassalam,
Medan, 29 Oktober 2018

Penyusun

2
DAFTAR ISI
Kata Pengantar.........................................................................................................................2
Daftar Isi..................................................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang....................................................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah...............................................................................................................5
1.3 Tujuan.................................................................................................................................5
1.4 Manfaat...............................................................................................................................5
BAB II LANDASAN TEORI
2.1 Tujuan Pustaka...................................................................................................................6
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Lokasi Penelitian...............................................................................................................11
3.2 Metode Penelitian.............................................................................................................11
3.3 Subjek Penelitian...............................................................................................................11
3.4 Hasil dan Pembahasan......................................................................................................11
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan.......................................................................................................................18
4.2 Saran.................................................................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................19
LAMPIRAN..........................................................................................................................20

3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Filsafat sebagai teori umum pendidikan dapat diterapkan dalam penentuan
kurikulum, metode, tujuan, serta kedudukan dan peran guru atau pendidik juga
anak didiknya. Adanya berbagai aliran dalam filsafat pendidikan juga
menyebabkan berbeda-bedanya kurikulum, metode, tujuan, serta kedudukan guru
dan siswa tersebut dalam struktur pendidikan. Mereka dituntut untuk memiliki
kurikulum yang relevan dengan pendidikan ideal, juga disesuaikan dengan
perkembangan jaman dan menekankan pada aspek kognitif, afektif, dan
pertumbuhan yang normal.
Metode pendidikan yang digunakan juga harus mengandung nilai-nilai
instrinsik dan ekstrinsik yang sejalan dengan mata pelajaran dan secara fungsional
dapat direalisasikan dalam kehidupan. Selain itu, tujuan pendidikan tidak hanya
terpaku pada salah satu pihak semata, melainkan untuk seluruh pihak yang
terlibat dalam pendidikan. Kedudukan guru dan siswa harus benar-benar
dimengerti oleh keduanya sehingga dapat menjalankan peranannya masing-masing
dengan baik.
Filsafat membahas tentang manusia, misalnya tentang bagaimana peran
pendidik, peserta didik, dan masyarakat dalam konteks tujuan pendidikan dan
bagaimana upaya mencapai tujuan dan menunaikan kewajibannya dengan benar.
Peranan filsafat pendidikan bagi guru, dengan filsafat metafisika guru
mengetahui hakekat manusia, khususnya anak sehingga tahu bagaimana cara
memperlakukannya dan berguna untuk mengetahui tujuan pendidikan. Dengan
filsafat epistemologi guru mengetahui apa yang harus diberikan kepada siswa,
bagaimana cara memperoleh pengetahuan, dan bagaimana cara menyampaikan
pengetahuan tersebut. Dengan filsafat aksiologi guru memahami yang harus
diperoleh siswa tidak hanya kuantitas pendidikan tetapi juga kualitas kehidupan
karena pengetahuan tersebut. Yang menentukan filsafat pendidikan seorang guru
adalah seperangkat keyakinan yang dimiliki dan berhubungan kuat dengan
perilaku guru, yaitu: Keyakinan mengenai pengajaran dan pembelajaran, siswa,
pengetahuan, dan apa yang perlu diketahui.

4
1.2.Rumusan Masalah
1. Bagaimana proses pembelajaran pada peserta didik kelas X Akuntansi
SMK Swasta PAB 2 Helvetia?
2. Apa saja kendala yang dihadapi pendidik dalam proses pembelajaran?
3. Apa saja aliran filsafat yang dipakai pendidik dalam proses pembelajaran
dikelas?
4. Bagaimana metode, model, dan strategi Pendidik dalam mengembangkan
pembelajaran dalam kelas?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui bagaimana proses pembelajaran dikelas X Akuntansi di
SMK Swasta PAB 2 Helvetia.
2. Untuk mengetahui metode, model, dan strategi dalam proses pembelajaran
dikelas X Akuntansi di SMK Swasta PAB 2 Helvetia.
3. Untuk mengetahui aliran filsafat pendidikan apa yang diterapkan oleh
guru dalam proses pembelajaran dikelas X Akuntasi di SMK Swasta
PAB 2 Helvetia.
4. Untuk mengetahui kendala yang muncul dalam proses pembelajaran di
kelas X Akuntansi di SMK Swasta PAB 2 Helvetia
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Dapat mengetahui bagaimana proses pembelajaran, metode, model, dan
strategi proses pembelajaran yang digunakan oleh guru, serta untuk
mengetahui apa saja kendala yang muncul dalam proses pembelajaran di
kelas X Akuntasi di SMK Swasta PAB 2 Helvetia.
2. Laporan penelitian ini dapat digunakan sebagai sumber literasi bagi para
pembaca.
3. Sebagai evaluasi dan pembelajaran bagi mahasiswa sebagai calon guru di
masa depan bagaimana proses pembelajaran yang baik dan efektif serta
menerapkan aliran filsafat pendidikan dalam proses pembelajaran.

5
BAB II
LANDASAN TEORITIS
2.1 Tinjauan Pustaka
1. Pengertian Siswa (Peserta Didik)
Siswa merupakan satu-satunya subjek yang menerima apa saja yang
diberikan oleh guru saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Siswa
digambarkan sebagai sosok yang membutuhkan bantuan orang lain untuk
memperoleh ilmu pengetahuan. Selain memperoleh ilmu pengetahuan siswa juga
mengalami perkembangan serta pertumbuhan dari kegiatan pendidikan tersebut.
Sehingga dapat dikatakan bahwa siswa merupakan salah satu anggota masyarakat
yang memiliki potensi serta usaha untuk mengembangkan dirinya
Seorang peserta didik akan diajarkan bagaimana cara bersikap yang baik
serta etika yang sopan untuk berinteraksi pada masyarakat lainnya. Tentu saja
hal tersebut tidak dapat melupakan peran pendidik sebagai sumber ilmu dan
salah satu unsur terpenting dari pendidikan. Seorang pendidik harus memahami
dengan betul karakter yang ada pada peserta didiknya. Pendidik juga harus
mengerti bagaimana cara mengasah potensi yang ada pada peserta didiknya.
Menurut pasal 1 ayat 4 UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan
nasional “Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha
mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan pada jalur jenjang dan jenis
pendidikan tertentu.”
Salah satu pengamat pendidikan ia mengungkapkan bahwa peserta didik
atau siswa merupakan individu yang belum bisa dikatakan dewasa. Ia
memerlukan usaha, bantuan, serta bimbingan dari seseorang untuk mencapai
tingkat kedewasaannya. Dengan demikian siswa atau peserta didik dapat dikatakan
orang yang mempunyai fitrah atau potensi dasar yang ada dalam dirinya berupa
fisik maupun psikis yang perlu dikembangakan melalui pendidikan.
UU RI No. 20 thn 2003 telah mencantumkan bahwa peserta didik memilki
kewajiban sebagai berikut :
a. Menjaga norma-norma pendidikan untuk menjamin keberlangsungan proses dan
keberhasilan pendidikan.
b. Ikut menanggung biaya pendidikan kecuali bagi yang dibebaskan dari
kewajiban tersebut
.

6
2. Pengertian Guru
Guru dalam bahasa jawa adalah menunjuk pada seorang yang harus digugu
dan ditiru oleh semua murid dan bahkan masyarakat. Harus digugu artinya
segala sesuatu yang disampaikan olehnya senantiasa dipercaya dan diyakini
sebagai kebenaran oleh semua murid. Sedangkan ditiru artinya seorang guru
harus menjadi suri teladan (panutan) bagi semua muridnya. Adapun pengertian
guru menurut para ahli:
a. Menurut Noor Jamaluddin (1978: 1) Guru adalah pendidik, yaitu orang dewasa yang
bertanggung jawab memberi bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam
perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasaannya, mampu berdiri
sendiri dapat melaksanakan tugasnya sebagai ciptaan Tuhan di muka bumi, sebagai
makhluk sosial dan individu yang sanggup berdiri sendiri.
b. Menurut Peraturan Pemerintah, Guru adalah jabatan fungsional, yaitu kedudukan
yang menunjukkan tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak seorang PNS dalam
suatu organisasi yang dalam pelaksanaan tugasnya didasarkan keahlian atau keterampilan
tertentu serta bersifat mandiri.
c. Menurut Keputusan MenPan Guru adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas,
wewenang dan tanggung jawab oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan
pendidikan di sekolah.
d. Menurut Undang-undang No. 14 tahun 2005 Guru adalah pendidik profesional dengan
tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan
mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal,
pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
Peran guru yang beragam telah diidentifikasi dan dikaji oleh Pullias dan
Young (1988), Manan (1990) serta Yelon dan Weinstein (1997). Adapun peran-
peran tersebut adalah sebagai berikut :
a. Guru Sebagai Pendidik
Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan dan identifikasi bagi
para peserta didik, dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru harus memiliki
standar kualitas tertentu, yang mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri dan
disiplin. Peran guru sebagai pendidik (nurturer) berkaitan dengan meningkatkan
pertumbuhan dan perkembangan anak untuk memperoleh pengalaman-pengalaman
lebih lanjut seperti penggunaan kesehatan jasmani, moralitas tanggung jawab
kemasyarakatan, pengetahuan dan keterampilan dasar, persiapan, untuk perkawinan

7
dan hidup berkeluarga, pemilihan jabatan, dan hal-hal yang bersifat personal dan
spiritual. Guru sebagai penanggung jawab pendisiplinan anak harus mengontrol
setiap aktivitas anak-anak agar tingkat prilaku anak tidak menyimpang dengan
norma-norma yang ada.

b. Guru Sebagai Pengajar


Peranan guru sebagai pengajar dan pembimbing dalam kegiatan belajar
peserta didik dipengaruhi oleh berbagai factor, seperti motivasi, kematangan,
hubungan peserta didik dengan guru, kemampuan verbal, tingkat kebebasan, rasa
aman dan keterampilan guru dalam berkomunikasi. Jika factor-faktor di atas
dipenuhi, maka melalui pembelajaran peserta didik dapat belajar dengan baik.
Guru harus berusaha membuat sesuatu menjadi jelas bagi peserta didik dan
terampil dalam memecahkan masalah.

c. Guru Sebagai Pembimbing


Guru dapat diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan, yang bertanggung
jawab atas kelancaran perjalanan itu tidak hanya menyangkut fisik tetapi juga
perjalanan mental, emosional, kreatifitas, moral dan spiritual yang lebih dalam dan
kompleks. Sebagai pembimbing perjalanan guru memerlukan kompetensi yang tinggi
untuk melaksanakan empat hal berikut:
1) Guru harus merencanakan tujuan dan mengidentifikasi kompetensi yang hendak
dicapai.
2) Guru harus melihat keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran, tidak hanya
secara jasmaniah, tetapi mereka harus terlibat secara psikologis.
3) Guru harus memaknai kegiatan belajar.
4) Guru harus melaksanakan penilaian.
e. Guru Sebagai Pemimpin.
Guru diharapkan mempunyai kepribadian dan ilmu pengetahuan. Guru menjadi
pemimpin bagi peserta didiknya. Ia akan menjadi pembibing atas segala sifat peserta
didik kedepannnya.
f. Guru Sebagai Pengelola Pembelajaran.
Guru harus mampu menguasai berbagai metode pembelajaran. Selain itu,
guru juga dituntut untuk selalu menambah pengetahuan dan keterampilan agar
supaya pengetahuan dan keterampilan yang dirnilikinya tidak ketinggalan jaman.

8
g. Guru Sebagai Model dan Teladan
Sebagai teladan, tentu saja pribadi dan apa yang dilakukan guru akan
mendapat sorotan peserta didik serta orang disekitar lingkungannya yang
menganggap atau mengakuinya sebagai guru. Ada beberapa hal yang harus
diperhatikan oleh guru: sikap dasar, bicara dan gaya bicara, kebiasaan bekerja,
sikap melalui pengalaman dan kesalahan, pakaian, hubungan kemanusiaan, proses
berfikir, perilaku neurotis, selera, keputusan, kesehatan, gaya hidup secara umum.
Guru yang baik adalah yang menyadari kesenjangan antara apa yang
diinginkan dengan apa yang ada pada dirinya, kemudian menyadari kesalahan ketika
memang bersalah. Kesalahan harus diikuti dengan sikap merasa dan berusaha
untuk tidak mengulanginya.

3. Tujuan Belajar dan Pembelajaran


a. Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran pada hakekatnya adalah rumusan tentang perilaku hasil
belajar (kognitif, psikomotor, dan afektif ) yang diharapkan untuk dimiliki
(dikuasai) oleh peserta didik setelah peserta didik mengalami proses belajar
dalam jangka waktu tertentu. Yang menjadi kunci dalam rangka menentukan tujuan
pembelajaran adalah kebutuhan siswa, mata ajaran, dan guru itu sendiri.
Berdasarkan kebutuhan siswa dapat ditetapkan apa yang hendak dicapai dan
dikembangkan dan dia presiasikan. Berdasarkan mata ajaran yang ada dalam
petunjuk kurikulum dapat ditentukan hasil-hasil pendidikan yang diinginkan. Guru
sendiri adalah sumber utama tujuan bagi para siswa dan dia harus mampu
menulis dan memilih tujuan pendidikan yang bermakna dan dapat diukur. Suatu
tujuan pembelajaran sebaiknya memenuhi kriteria sebagai berikut:
1) Tujuan itu menyediakan situasi atau kondisi untuk belajar, misalnya: dalam
situasi bermain peran.
2) Tujuan mendefinisikan tingkah laku siswa dalam bentuk dapat diukur dan
dapat diamati.
3) Tujuan menyatakan tingkat minimal perilaku yang dikehendaki, misalnya pada
peta pulau jawa, siswa dapat mewarnai dan memberi label pada sekurang-
kurangnya tiga gunung utama.

9
4. Penerapan Filsafat Pendidikan
Sesuai yang tercantum dalam UU RI No.20 tahun 2003 pasal 1 ayat 1
tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu yang dimaksud dengan pendidikan
adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat,
bangsa, dan negara. Usaha di sini berarti kegiatan atau perbuatan dengan
mengerahkan tenaga, pikiran, atau badan untuk mencapai suatu maksud. Sadar
adalah insyaf, yakin, tahu, dan mengerti. Sedangkan terencana adalah menyusun
sistem dengan landasan tertentu untuk kemudian dilaksanakan. Dan penerapan
filsafat pendidikan di dalamnya merupakan faktor yang ikut menentukan dan
membantu para pelaku pendidikan tersebut.
Filsafat sebagai teori umum pendidikan dapat diterapkan dalam penentuan
kurikulum, metode, tujuan, serta kedudukan dan peran guru atau pendidik juga anak
didiknya. Adanya berbagai mazhab dalam filsafat pendidikan juga menyebabkan
berbeda-bedanya kurikulum, metode, tujuan, serta kedudukan guru dan siswa
tersebut dalam struktur pendidikan. Hanya saja, dalam hal ini mereka dituntut
untuk memiliki kurikulum yang relevan dengan pendidikan ideal, juga disesuaikan
dengan perkembangan jaman dan menekankan pada aspek kognitif, afektif, dan
pertumbuhan yang normal. Metode pendidikan juga harus mengandung nilai-nilai
instrinsik dan ekstrinsik yang sejalan dengan mata pelajaran dan secara
fungsional dapat direalisasikan dalam kehidupan. Kedudukan guru dan siswa harus
benar-benar dimengerti oleh keduanya sehingga dapat menjalankan peranannya
masing-masing dengan baik.

10
BAB III
METODOLOGI dan PEMBAHASAN
3.1 Lokasi Penelitian
Obsevasi dilaksanakan di SMK Swasta PAB 2 Helvetia dengan alamat Pasar
4 Jl.Veteran, Helvetia, Labuhan Deli, Tj. Gusta, Deli Serdang, Kabupaten Deli
Serdang, Sumatera Utara. Kelas yang diobservasi adalah kelas X Akuntansi,
dengan jumlah siswa 34 anak.
Observasi dilaksanakan pada Jumat, 19 Oktober 2018, pada jam pelajaran 2,
yakni pada pukul 11.00 WIB. Dalam satu kali tatap muka adalah Satu jam
pelajaran atau 1 x 40 menit, pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Guru mata
pelajaran pada saat observasi adalah Ibu Anum, S.Pd.

3.2 Metode Penelitian


Penelitian ini dilakukan melalui metode observasi langsung pada kelas X
Akuntansi SMK Swasta PAB 2 Helvetia. Bagaimana proses pembelajaran serta
interaksi antara guru dan siswa dalam pembelajaran, serta aliran filsafat pendidikan
yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran tersebut. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, dengan mengadakan
wawancara kepada siswa dan guru serta mengisi kuesioner dalam pembelajaran
berlangsung.

3.3 Subjek Penelitian


Subjek penelitian adalah pihak-pihak yang dijadikan sebagai sampel dalam sebuah
penelitian. Subjek penelitian juga membahas karakteristik subjek yang digunakan
dalam penelitian. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X Akuntasi SMK
Swasta PAB 2 Helvetia dan Guru mata pelajaran Bahasa Indonesia Ibu Anum, S.Pd.

3.4 Hasil dan Pembahasan


Dari hasil pengamatan proses pembelajaran dikelas X Akuntansi SMK Swasta
PAB 2 Helvetia dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia, maka dilampirkanlah
hasil observasi dalam penyajian tabel berikut.

11
A. Lembar Observasi I
LEMBAR OBSERVASI AKTIVITAS SISWA SELAMA PROSES PEMBELAJARAN
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Nama Guru : Anum, S.Pd.
Materi : Teks Anekdot
Hari, tanggal : Jumat, 19 Oktober 2018

Petunjuk Pengisian:
Amatilah aktivitas siswa selama proses pembelajaran di kelas. Isilah lembar pengamatan
dengan prosedur sebagai berikut:
1. Pengamat dalam melakukan pengamatan duduk di tempat yang mungkin dapat melihat
semua aktivitas siswa
2. Setiap 150 detik, pengamat melakukan aktivitas pengamatan aktivitas siswa yang
dominan, dan 30 detik berikutnya pengamat menulis hasil pengamatan.

Aktivitas yang Hasil Keterangan


No Skor
diamati Baik Cukup Rendah

Dimana saat proses


pembelajaran
berlangsung, seluruh
Memperhatikan dan kurang perhatian siswa
mendengarkan tertuju kepada kesibukan
1 √
penjelasan oleh guru. masing-masing siswa.
5
Skor maksimal : 10 Hampir 90% siswa
melakukan aktivitas lain
yangn tidak berkaitan
dengan pembelajaran
Dalam proses
Berperan aktif dalam
pembelajaran siswa
sesi diskusi
tidak berperan aktif
pembelajaran
2 4 √ melainkan berperan
(bertanya dan
pasif, tidak ada sesi
menjawab pertanyaan
tanya jawab yang
guru)
terlihat dalam kelas.

12
Siswa hanya mendengar
dan mengikuti arahan
dari guru saja.
Perilaku siswa dalam
pembelajaran:
- Mengerjakan
tugas yang Dalam proses
diberikan oleh pembelajaran siswa
guru. masih terlihat pasif.
- Mengikuti Dimana siswa menerima
kegiatan secara mentah-mentah
diskusi/presentasi apa yang diberikan oleh
secara aktif. guru. Sehingga kegiatan
- Siswa berperilaku diskusi tidak berjalan
kondusif dalam dengan lancar.
pembelajaran. Walaupun guru
3
- Memberikan memberikan kesempatan
pendapat/tanggap yang sama kepada setiap
an yang 42 √ siswa untuk
argumentative. berpendapat. Masih ada
- Menghargai saran beberapa siswa yang
dan pendapat tidak bekerja secara
sesama teman. mandiri dalam
- Mengerjakan pengerjaan tugas atau
setiap tugas dengan kata lain
dengan jujur dan menyontek.
disiplin.
Skor maksimal :
80
Total 51

13
B. Lembar Observasi II
OBSERVASI KEGIATAN GURU DALAM PROSES PEMBELAJARAN
Mata pelajaran : Bahasa Indonesia
Guru : Anum, S.Pd.
Materi : Teks Anekdot
Hari, tanggal : Jum’at, 19 Oktober 2018

A. Isilah kolom skor sesuai pedoman penskoran berikut:


Pedoman Penskoran Setiap Indikator
a. Skor 5 : Jika semua deskriptor muncul
b. Skor 4 : Jika tiga deskriptor muncul
c. Skor 3 : Jika dua deskriptor muncul
d. Skor 2 : Jika satu deskriptor muncul
e. Skor 1 : Jika tidak ada deskriptor yang muncul
B. Isilah kolom catatan dengan deskriptor-deskriptor yang muncul

Tahap Indikator Deskriptor Skor Catatan


1. Melakukan a. Mengucapkan salam Dalam proses
aktivitas rutin b. Mengabsen siswa pembelajaran
sehari-hari c. Menciptakan suasana guru kurang
belajar yang kondusif berperan aktif
d. Membangkitkan dan tidak dapat
keterlibatan siswa 3 mengatur kondisi
kelas, sehingga
proses
Awal pembelajaran
tidak berlangsung
dengan teratur.
2. Menyampaika a. Tujuan pembelajaran Dalam
n tujuan disampaikan di awal penyampaian
pembelajaran materi, guru
4
b. Tujuan pembelajaran sesuai sudah berperan
dengan materi dengan baik.
c. Tujuan sesuai dengan Dimana guru

14
lembar kerja memberikan
d. Tujuan diungkapkan pengantar materi
dengan bahasa yang terlebih dulu
mudah dipahami siswa bahkan sedikit
mereview
pembelajaran
sebelumnya.
3. Menentukan a. Mempertegas materi yang Dalam hal ini
materi dan akan dipelajari guru kurang
pentingnya b. Menjelaskanpentingnyamat memberikan
materi eridalampembelajaran B. penjelasan materi
Indonesia berkaitan dengan
c. Menjelaskanpentingnyamat kehidupan sehari-
5
eridalamkehidupansehari- hari, walaupun
hari penyampaian
d. Memintasiswabertanya materi sangat
baik, guru
bersikap sangat
demokratis.
4. Membangkitk a. Menanyakan pengetahuan Dalam hal ini
an atau pengalaman siswa guru cukup baik
pengetahuan tentang materi. untuk berusaha
persyaratansis b. Memancing siswa untuk menghidupkan
wa mengingat kembali materi suasan kelas
prasyarat yang dibutuhkan. menjadi
5
c. Mengaitkan pengetahuan interaktif. Guru
prasyarat dengan materi melontarkan
yang akandipelajari. beberapa
d. Memberi kesempatan siswa pertanyaan
untuk bertanya. berkaitan dengan
materi.
Dari Lembar Observasi I yaitu mengenai kegiatan siswa dalam proses pembelajaran,
dapat dilihat bahwasanya siswa kurang berperan aktif dalam pembelajaran walaupun suasana

15
kelas yang kurang kondusif. Siswa hanya menerima segala materi dari guru secara mentah-
mentah, dan tidak terlihat secara signifkan respon siswa terhadap suatu materi. Siswa tidak
memiliki sikap kritis didalam dirinya tidak terlihat siswa memberikan pertanyaan atau pun
menjawab pertanyaan dari guru, hal ini seharusnya tidak boleh tejadi pada siswa.
Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor kemungkinan, yaitu :
1. Siswa tidak memiliki semangat belajar yang tinggi.
2. Siswa tidak diberikan kesempatan untuk berpendapat oleh guru.
3. Siswa tidak memiliki rasa percaya diri.
4. Siswa belum memahami keseluruhan suatu materi.
5. Siswa tidak peduli dengan pembelajaran yang sudah berlangsung.
6. Siswa tidak diberikan arahan ataupun contoh dalam bersikap aktif dan kritis oleh orang
tua ataupun guru.
Dari Lembar Observasi II yaitu mengenai kegiatan guru dalam proses pembelajaran,
dapat dilihat bahwasanya guru menganut aliran filsafat pendidikan idealisme, dimana guru
memberikan seluruh kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif dalam proses
pembelajaran. Dan guru berusaha untuk menjadikan dirinya lebih unggul (excellent) agar
dapat dijadikan teladan bagi para siswa, dapat dilihat dari penguasaan materi oleh guru yang
sangat baik, penjelasan materi yang sangat sederhana dan mudah dimengerti, dan sikap guru
yang komunikatif terhadap siswanya. Namun hal ini tidak disambut dengan baik oleh para
siswa, guru terlihat sangat aktif sementara siswa bersikap pasif. Hal ini sangat kontras terlihat
dalam proses pembelajaran. Sehingga terlihat guru mengambil metode dari aliran filsafat
pendidikan realisme yaitu tetap memberikan kebebasan terhadap siswa tapi memberikan
beberapa peraturan untuk dipenuhi oleh siswa, dapat dibuktikan dengan teraturnya kegiatan
pembelajaran dan terciptanya suasana kelas yang sangat kondusif.
Dari hasil observasi dapat menimbulkan pertanyaan antara lain:
1. Apakah guru tersebut memahami tentang filsafat metafisika, epistemologi dan
aksiologi dalam proses pembelajaran?
2. Bagaimana guru tersebut menerapkan filsafat metafisika epistemologi dan
aksiologi dalam mempersiapkan materi pembelajaran dan memahami
perkembangan peserta didik?
3. Bagaimana peran filsafat metafisika, epistemologi dan aksiologi dalam
pemberian nilai terhadap peserta didik?
Dan berdasarkan pertanyaan diatas dapat diketahui bahwa:

16
1. Guru tersebut memahami tentang aspek-aspek yang ada dalam filsafat
metafisika, epistimologi dan aksiologi akan tetapi penerapan dalam proses
pembelajaran yang dilakukannya kurang berjalan kondusif yang diakibatkan
peserta didik yang kurang memperhatikan pembelajaran yang dibawakan oleh
guru Bahasa Indonesia.
2. Cara guru tersebut menerapkan filsafat metafisika yang berartikan mendalami
teori sesuai dan yang dapat dibuktikan dengan materi yang disampaikan
guru tersebut tampaknya sudah dipersiapkan sebelum memasuki kelas dengan
kalimat-kalimat yang disampaikan sesuai dengan pemahaman peserta didik.

Penerapan filsafat epistimologi yang berartikan mencari sumber-sumber pengetahuan


dan kebenaran dalam mempraktekkan dalam pedidikan. Setelah memperhatikan cara
penyampaian dalam kelas yang kami masuki pada jam pelajaran guru tersebut, materi
disampaikan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.

Aksiologi yang berartikan penekanan pendidikan dalam praktek pelaksanaannya


berlandasankan nilai dan budaya. Setelah diamati dalam observasi minggu lalu guru
tersebut telah mempraktekkan metode pembelajaran sesuai dengan nilai-nilai yang
ada dalam masyarakat.
3. Peran pemberikan penilaian terhadap siswa menurut ketiga filsafat tersebut yaitu
siswa mampu merespon bagaimana guru bidang studinya memberikan pembelajaran
yang disampaikan kepada para peserta didiknya

17
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dari hasil observasi mengenai proses pembelajaran siswa dikelas X
Akuntansi SMK Swasta PAB 2 Helvetia, pada mata pelajaran Bahasa Indonesia
dengan materi Teks Anekdot dengan guru bidang studi Anum, S.Pd. bahwasanya
untuk mewujudkan suasana kelas yang kondusif dan efektif diperlukan kerja
sama yang baik antara guru dan siswa. Dimana guru dan siswa harus sama-
sama bersikap aktif dalam proses pembelajaran berlangsung, siswa harus bersikap
kritis dalam setiap hal yang baru diterimanya baik itu berupa materi
pembelajaran. Dan guru juga harus unggul dan menguasai materi dengan baik
dan memiliki metode pengajaran yang tepat sesuai dengan karakter siswa. Dan
proses pembelajaran yang efektif belum terlihat dikelas X Akuntasi SMK Swasta
PAB 2 Helvetia, dikarenakan siswa yang tidak bersikap aktif dan kritis dalam
proses pembelajaran tersebut, padahal guru memiliki sikap aktif dan bersifat
demokratis.
Aliran filsafat pendidikan menawarkan metode pengajaran dalam dunia
pendidikan yang dapat diterapkan oleh guru. Dalam hal ini guru harus bijaksana
dalam menerapkan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakter siswa serta
kondisi kelas tersebut. Guru juga bisa menggabungkan metode pembelajaran dari
beberapa yang ditawarkan oleh aliran-aliran filsafat pendidikan, namun perlu
ditekankan penerapan metode pembelajaran harus sesuai dengan karakter siswa dan
kondisi kelas.

4.2 Saran
Sebaiknya sebagai guru harus senantiasa berkreasi dan inovatif dalam kegiatan
mengajar, sehingga siswa tidak merasa jenuh atau bosan dalam kegiatan
pembelajaran tersebut. Dan guru harus menerapkan metode pembelajaran yang
disesusaikan dengan kondisi serta karakter siswa, dalam dunia pendidikan khususnya
proses belajar mengajar hendaknya selalu dilakukan pembaharuan menuju yang
lebih baik.

18
DAFTAR PUSTAKA
1. Departemen Pendidikan Nasional, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat
Pendidikan Lanjutan Pertama. 2002. Pendekatan Konsektual ( Contextual Teaching and
Learning (CTL))
2. HL Tasaik, P Tuasikal - Metodik Didaktik, 2018 - ejournal.upi.edu
3. Dimyati, Mudjiono.2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
4. CD SURYA - etheses.iainponorogo.ac.id
5. Purba, Edward, dan Yusnadi. 2018. Filsafat Pendidikan. Medan: Unimed Press.

19
LEMBAR LAMPIRAN
PROFIL SEKOLAH

1. Nama Sekolah : SMK Swasta PAB 2 Helvetia


2. Kepala Sekolah : Ahmad Nasution
3. NPSN : 10214052
4. Status : Swasta
5. Bentuk Pendidikan : SMK
6. Status Kepemilikan : Lainnya
7. SK Pendirian Sekolah : 082/ I.05/ A.85
8. Tanggal SK Pendirian : 1985-05-01
9. SK Izin Operasional : 421/1322/PDM/2016
10. Tanggal SK Izin Operasional : 2016-02-16
BIODATA NARASUMBER

1. Nama : Anum., S.Pd.


2. Usia : 26 tahun
3. Pendidikan Terakhir : S1 Prodi Bahasa Indonesia UMSU
4. Status Pendidik : Honorer
5. Lama Mengajar : 2 Tahun

20

Anda mungkin juga menyukai