Anda di halaman 1dari 11

ANALISA HEAT TREATMENT

(HARDENING)

DI SUSUN OLEH
NAMA : ABDUL LATIF
NIM : 5201417006
ROMBEL :1
PRODI : PENDIDIKAN TEKNIK MESIN

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG


SEMARANG
2017
HEAT TREATMENT

A. PENGERTIAN HEAT TREATMENT


Heat Treatment ( perlakuan panas ) adalah salah satu proses untuk mengubah
struktur logam dengan jalan memanaskan specimen pada elektrik terance ( tungku ) pada
temperature rekristalisasi selama periode waktu tertentu kemudian didinginkan pada
media pendingin seperti udara, air, air faram, oli dan solar yang masing-masing
mempunyai kerapatan pendinginan yang berbeda-beda.
Sifat-sifat logam yang terutama sifat mekanik yang sangat dipengaruhi oleh
struktur mikrologam disamping posisi kimianya, contohnya suatu logam atau paduan
akan mempunyai sifat mekanis yang berbeda-beda struktur mikronya diubah. Dengan
adanya pemanasan atau pendinginan degnan kecepatan tertentu maka bahan-bahan logam
dan paduan memperlihatkan perubahan strukturnya.
Perlakuan panas adalah proses kombinasi antara proses pemanasan aatu
pendinginan dari suatu logam atau paduannya dalam keadaan padat untuk mendaratkan
sifat-sifat tertentu. Untuk mendapatkan hal ini maka kecepatan pendinginan dan batas
temperature sangat menetukan.
Menurut Anonim (2015) Secara umum perlakuan panas (heat treatment)
diklasifikasikan dalam 2 jenis :
1. Near Equilibrium (Mendekati Keseimbangan)
2. Non Equilibrium (Tidak Seimbang)
Menurut Yulianto (2015) Perlakuan panas (heat treatment) adalah proses
pemanasan dan pendinginan material yang terkontrol dengan maksud merubah sifat fisik
untuk tujuan tertentu. Secara umum proses perlakuan panas adalah sebagai berikut :
1. Pemanasan material samapi suhu tertentu dengan kecepatan tertentu pula
2. Mempertahankan suhu untuk beberapa waktu sehingga temperaturnya merata
3. Pendinginan dengan media pendingin seperti air, oli, dan udara.
Pengertian lain dari heat treatment menurut johnsinit yaitu :

”Heat treatment is the heating and cooling of metals to change their physical and
mechanical properties, without letting it change its Heat Treatment shape. Heat treatment
could be said to be a method for strengthening materials but could also be used to alter
some mechanical properties such as improving formability, machining, etc. The most
common application is metallurgical but heat treatment can also be used in manufacture
of glass, aluminum, steel and many more materials. The process of heat treatment
involves the use of heating or cooling, usually to extreme temperatures to achieve the
wanted result. It is very important manufacturing processes that can not only help
manufacturing process but can also improve product, its performance, and its
characteristics in many ways”
Artinya :
”Perlakuan panas adalah pemanasan dan pendinginan logam untuk mengubah
sifat fisik dan mekaniknya, tanpa membiarkannya mengubah bentuk Heat Treatment.
Perlakuan panas dapat dikatakan sebagai metode untuk memperkuat bahan tetapi juga
dapat digunakan untuk mengubah beberapa sifat mekanik seperti meningkatkan
kemampuan formabilitas, permesinan, dan lain-lain. Aplikasi yang paling umum adalah
metalurgi namun perlakuan panas juga dapat digunakan dalam pembuatan kaca,
aluminium. , baja dan masih banyak bahan lainnya. Proses perlakuan panas melibatkan
penggunaan pemanasan atau pendinginan, biasanya sampai suhu ekstrim untuk mencapai
hasil yang diinginkan. Proses manufaktur sangat penting yang tidak hanya dapat
membantu proses pembuatan tapi juga dapat meningkatkan produk, kinerjanya, dan
karakteristiknya dalam banyak hal”.

A. TUJUAN HEAT TREATMENT


Tujuan dari perlakuan panas atau heat treatment tersebut meliputi :
1. Meningkatnya kekuatan dan kekerasannya;
2. Mengurangi tegangan;
3. Melunakkan;
4. Mengembalikan pada kondisi normal akibat pengaruh pengerjaan sebelumnya; dan
5. Menghaluskan butir kristal yang akan berpengaruh terhadap keuletan bahan, serta
beberapa maksud yang lain.

C. MACAM – MACAM HEAT TREATMENT


Pada perlakuan panas terdapat beberapa proses yang dikenal atau dilakukan pada
pemanasan logam seperti:
a) Annealing
Proses annealing atau proses pelunakan baja merupakan proses dimana proses
pemanasan samapi di atas suhu temperatur kristalnya. Selanjutnya dibiarkan sampai
beberapa lama, samapai temperatur merata, disusul dengan pendinginan secara perlahan-
lahan dalam tungku dan dijaga agar temperatur bagian dalma tungku dan kira-kira sama
sehingga diperoleh struktur yang diinginkan.
b) Normalizing
Merupakan proses pemanasan logam sampai mencapai fasa austenik yang
kemudian didinginkan dengan media pendingin udara. Hasil pendinginannya berupa
penit atau ferit. Namun lebih halus dibandingkan annealing.
c) Tempering
Merupakan proses pemanasan logam (baja) yang telah dikeraskan sampai
temperatur tertentu untuk mengurangi kekerasan baja, struktur martensit yang sangat
keras, sehingga terlalu getas. Pada proses ini mengunakan temperatur di bawah
temperatur kritis kemudian suhunya.
d) Hardening
Merupakan proses pemanasan logam sampai atau lebih diatas temperatur
kritisnya (723°C) kemudian didinginkan dengan cepat dengan media pendingin yang
telah disiapkan.

D. PEMBAHASAN HARDENING

Dalam tugas ini, akan lebih dibahas lebih tentang hardening (pengerasan). Dalam
karya tulis yang ditulis oleh Johnsinit :
”Hardening involves heating of steel, keeping it at an appropriate temperature
until all pearlite is transformed into austenite, and then quenching it rapidly in water or
oil. The temperature at which austentizing rapidly takes place depends upon the carbon
content in the steel used. The heating time should be increased ensuring that the core will
also be fully transformed into austenite. The microstructure of a hardened steel part is
ferrite, martensite, or cementite”. Yang artinya :
Pengerasan melibatkan pemanasan baja, menjaga agar tetap pada suhu yang
sesuai sampai semua perlit diubah menjadi austenit, dan kemudian memadamkannya
dengan cepat ke dalam air atau minyak. Suhu dimana austentizing berlangsung dengan
cepat bergantung pada kandungan karbon pada baja yang digunakan. Waktu pemanasan
harus ditingkatkan memastikan bahwa inti juga akan sepenuhnya berubah menjadi
austenit. Struktur mikro dari bagian baja yang mengeras adalah ferit, martensit, atau
sementit.
Dalam buku Engineers Edge, LLC www.engineersedge.com menjelaskan
hardening adalah :
“The heating and quenching of certain iron-base alloy from a temperature above
the critical temperature range for the purpose of producing a hardness superior to that
obtained when the alloy is not quenched. this term is usually restricted to the formation of
martensite”. Yang artinya :
Pemanasan dan pendinginan dari paduan dasar besi tertentu dari suhu di atas
kisaran suhu kritis untuk tujuan menghasilkan kekerasan yang lebih tinggi dari yang
diperoleh saat paduan tidak padam. Istilah ini biasanya terbatas pada pembentukan
martensit.

E. PROSES HARDENING ATAU PENGERASAN


Proses pengerasan atau hardening adalah suatu proses perlakuan panas yang
dilakukan untuk menghasilkan suatu benda kerja yang keras, proes ini dilakukan pada
temperature tinggi yaitu pada temperature austenisasi yang digunakan untuk melarutkan
sementit dalam austenite yang kemudian di quench.
Pada tahap ini akan menghasilkan terperangkapnya karbon yang akan menyebabkan
bergesernya atom-atom sehingga terbentuk struktur body center tetragonal atau struktur
yang tidak setimbang yang disebut martensit yang bersifat keras dan getas.
a. Temperature Pengerasan untuk Baja Hipoeutektoid
Temperature yang digunakan adalah sekitar 20derajat – 50derajat celcius diatas
garis A3. Misalkan sebagai contoh apabila baja dengan sruktur ferit da perlit
dipanaskan sampai temperature A1, maka pemanasan tersebut tidak akan mengubah
struktur awal dari baja tersebut. Apabila pemanasan sampai tempertur A1 tetapi
masih dibawah garis A3 akan mengubah perlit menjadi austenite tanpa terjadi
perubahan apa-apa feritnya.
Jika baja dipanaskan pada temperature sedikit di atas A3 dan ditahan pada
temperature teersebut untuk jangka waktu tertentu agar dijamin proses difusi yang
homogen, maka struktur baja akan bertransformasi menajdi austensit dengan ukuran
butir yang relative kecil. Quenching dari temperature austensit akan menghasilkan
martensite dengan harga kekerasan yang mkasimum.
Memanaskan sampai ke temperature E cenderung menghasilkan ukursn butir
austensit. Quenching dari temperature seperti itu akan menghasilkan strukur
martensit, tetapi sifatnya, bahkan setelah di temper sekalipun akan memiliki harga
impak yang rendah. Disamping itu juga mungkin timbul retak pada saat diquench.

b. Temperature Pengerasan untuk Baja Hipereutektoid


Temperature yang digunakan adalah sekitar 30˚-50˚ C diatas temperature A13
yang beraa pada daerah austensit. Struktur hasil proses quench memiliki kekerasan
yang sangat tinggi dibandingkan dengan martensit karena adanya karbida-karbida
yang tidak larut yang memiliki kekerasan diatas martensit.
Jumlah karbida yang dapat larut pada austensit sebanding dengan temperature
austensisasinya. Jumlah karbida yang larut meningkat jika temperature austensinya
dinaikan, demikian juga dengan ukuran butir disertai dengan penurunan kekerasan
austensinya. Jika karbida yang terlarut terlalu besar, akan terjadi peningkatan ukuran
butir disertai dengan penuruna kekerasan dan ketangguhan. Dalam hal ini
pertumbuhan butir akan lebih besar, akibatnya martensit yang akan dihasilkannya
akan lebih kasar. Proses diatas akan menghasilkan kekerasan martensit yang rendah
karena adanya austensit yang tersisa pada struktur quench dan tidak adanya karbida
yang dihasilkan.

c. Tahapan Pekerjaan yang Harus Dilakukan Sebelum Proses Pengerasan Baja


Tahapan yang perlu dilakukan sebelum melakukan proses pengerasan atau
(hardening) yaitu :
1. Bebas dari terak (scale), oli, dan sebagainya agar dihasilkan kekerasan yang
diinginkan dengan kata lain benda kerja harus bersih.
2. Benda kerja yang memiliki lubang, jika perlu terutama pada baja perkakas harus
ditutup dengan tanah liat, asbes atau baja insert sehingga tidak terjadi pengerasan
pada bagian lubang tersebut. Hal ini tidak perlu dilakukan jika ukuran lubang relative
besar.
3. Benda kerja harus ditempatkan pada fixture yang layak sebelum diletakkan di
dalam tungku. Hal ini adalah dilakukan untuk mencegah timbulnya distorsi. Benda
kerja yang kecil yang relative dapat diletakkan dalam suatu keranjang yang didesain
khusus untuk itu agar dijamin kekerasan yang homogent.
4. Baja karbon dan baja paduan rendah dapat dipanaskan langsung ketemperatur
pemanasannya tanpa memerlukan adanya pemanasan awal (pre-heat). Sedangkan
benda kerja yang besar dan bentuknya rumit dapat dilakukan pemanasan awal untuk
mencegah distorsi dan retak akibat tidak homogennya temperature di bagian tengah
dengan dibagian permukaan. Pemanasan awal biasanya dilakukan untuk baja-baja
perkakas karena konduktifitas panas baja tersebut sangat rendah, temperature awal
yang dilakukan adalah 500 derajat sampai 800 derajat.
5. Benda kerja yang akan dikeraskan harus mempunyai struktur yang homogeny dan
halus, karena apabila dari struktur logam tersebut kasar maka akan diperoleh struktur
logam yang tidak homogen, distorsi, retak pada saat dipanaskan maupun pada saat
diquench. Untuk itu struktur logam yang kasar sebelum dipanaskan harus normalkan
terlebih dahulu dengan temperature 780 derajat sampai 800 derajat.

Untuk menghindari cacat yang akan terjadi dapat dilakukan upaya-upaya sebagai
berikut :
• Menutupi atau menambah perkuatan bagian ramping semenjak pemanasan.
• Bahan pengejut yang tepat, sesuai dengan jenis baja dan kekerasan yang dituntut.
• Sikap pengejutan yang menguntungkan.
• Sering-sering mengembalikan benda kerja dan menggerakannya didalam medium
pengejut (quench)
• Perlengkapan pengencangan benda yang dikeraskan harus dipasang sedemikian
rupa sehingga tidak merintangi penyejukan cepat pada tempat yang dikeraskan.

d. Lama Pemanasan
Waktu yang diperlukan untuk mencapai temperatr pemanasan tergantung dengan
beberapa factor seperti jenis tungku dan jenis elemen pemanasannya. Laju pemanasan
dari tungku garam relative lebih ceoet dibandingksn dengan atmosfir karena
perpindahan panas dari air ke padat dengan laju yang lebih cepat.
Pemeriksaan visual dilakukan untuk mengetahui apakah benda kerja telah mencapai
temperature yang diinginkan dan bisa dilakukan dengan cara membandingkannya
dengan warna dinding tuku. Setelah benda kerja telah mencapai suhu yang diinginkan
kemudian quench untuk mendapatkan sruktur yang martensit.
Pada umumnya setelah proses quenching dilakukan pemanasan kembali menuju
suhu tertentu dengan penyejukan lambat laun sesudahnya. Proses untuk menghindari
kerapuhan dan teganga kejutan disebut dengan penemperan. Sebelum dilakukan
proses pemanasan pendahuluan yang ikut menentukan bagi terbentuknya hasil
pengerasan yang bebas rengatan. Dan salah satu caranya adalah dengan tidak
memasukkan benda yang akan dipanaskan dakam keadaan dingin. Pemanasan awal
biasanya dilakukan pada suhu 150 derajat dibawah temperature pengerasan yang
digunakan. Salah satu penyebab sering terbentuknya rengatan pengerasan ialah
karena pemanasan tidak merata pada benda yang dikeraskan.

e. Tungku Mengeraskan Baja


Tungku yang diperlukan untuk mengeraskan baja harus dilengkapi dengan
peralatan pengendali temperature yang akurat dan pengendali atmosfir tungku agar
proses yang sedang dilaksanakan terjamin. Perlu diperhatikan bahwa atmosfir yang
digunakan selama proses pemanasan harus netral dan tidak menimbulkan dekarburasi
atau karburasi pada permukaan baja yang dproses. Adanya lapisan dekrburasi dapat
menyebabkan rendahnya kekerasan sehingga dapat menimbulkan kekeliruan dalam
memilih temperature tempering. Dekarburasi juga dapat pula menjadi penyebab
timbulnya retak pada jenis baja perkakas.
Jenis – jenis tungku yang digunakan pada proses perlakuan panas antara lain
adalah: Tungku garam, Tungku “muffle”, Tungku Vakum dan Tungku “fluidized
Bed”. Tungku – tungku tersebut dinamai seperti itu disesuaikan dngan jenis medium
pemanas yang digunakan. Perlu diketahui bahwa kecermatan proses pengerasan
sangat tergantung pada penyiapan medium pengerasan yang tepat.

f. Cara Menguench
Cara – cara quench adalah sebagai berikut :
1. Quench langsung
Cara ini dilakukan dengan menggunakan medium air atau oli dimana benda kerja
ditahan pada tenperatur pengerasannya untuk jangka waktu tertentu.
2. Martempering
Dengan cara ini benda kerja dipanaskan sampai ketemperatur pengerasannya dengan
cara yang biasa, medium yang digunakan adalah cairan garam.
3. Austempering
Proses ini dilakukan dengan cara mengquench baja dari temperature austensisasinya
ke dalam garam cair yang bertemperatur sedikit diatas temperaturnya.
4. Quench yang ditunda (Delay quenching)
Proses ini dilakukan dengan benda kerja yang sudah dipanaskan dan dikeluarkan dari
tungku pada temperature pengerasannya dibiarkan beberapa saat sebelum diquench.
5. Time Quench
Metode ini dilakukan dengan baja-baja yang memiliki mampu keras yang rendah
yang memerlukan quenching ke dalam air atau pada baja-baja yang memiliki mampu
keras yang tinggi tetapi ukuran benda kerjanya kasar.
6. Die Quench
Metode ini dilakukan dengan menggunakan medium yang mampu menyerap panas.
Atas dasar hal tersebut selama proses quench benda kerja dapat diproses sehingga
secara mekanik kemungkinan distorsi dapat diperkecil.

g. Medium Quenching
Tujuan utama dari proses pengerasan adalah agar diperoleh struktur martensit yang
keras. Hal ini hanya dapat dicapai jika menggunakan medium yang efektif sehingga
baja di dinginkan pada suatu laju yang dapat mencegah terbentuknya struktur yang
lebih lunak seperti perlit dan bainit.
Untuk baja karbon, medium quenching yang digunakan adalaha air , sedangkan baja
menggunakan medium oli, cairan polimer atau garam. Untuk baja-baja paduan tinggi
disarankan agar menggunakan medium cairan garam.
Medium yang digunakan pada proses quenching diantaranya, adalah :
1) Air
2) Oli
3) Garam netral
4) Gas quenching
5) Quenchant polimer
6) Fluidized bed

Referensi :

 C.S. Roberts, B.L. Auerbach. and M. Cohen, The Mechanism and Kinetics of the
Fit Stage of Tempering. Trarrs. ASM, Vol35. 1953, p 576-60-I
 G. L . Huyett, Engineering Handbook, 1906
 Engineers Edge, LLC diakses di halaman, www.engineersedge.com pada tanggal
23 Oktober 2017 04.30
 Anonim. Heat Treatment.di web
:http://industri.ums.ac.id.web/site/default/faile/materi/Heat%20treatment
%20Dg%20kondisi%20equilibrium.pdf, diakses pada 23 Oktober 2017 05:40
 Yuliyanto, Ari. 2015. Studi Pengaruh Perlakuan Panas Terhadap Struktur Mikro
dan Sifat Mekanis Baja ASSAB 705 M yang Digunakan pada Komponen Stud
Pin Winder. Surakarta : Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Anda mungkin juga menyukai