Anda di halaman 1dari 19

KETENTUAN UMUM

A. Nama-nama Sediaan
1. Caps, Capsul = Kapsul
2. Cr, Cream = Krim
3. Larutan untuk Telinga
 Acne Cream = Krim Jerawat
 Night Cream = Krim Malam
 Vanishing Cream = Krim Pembersih
4. Larutan untuk Hidung
 Sol Otic, Solution Otic = Obat Cuci Telinga
 Gtt Auric, Guttae Auric = Tetes Telinga
5. Larutan untuk Mulut
 Collutorium = Obat Cuci Mulut
 Gargarisma, Gargle = Obat Kumur
 Litus Oris = Obat Oles Bibir
 Gtt Oris, Guttae Oris = Obat Tetes Mulut
6. Larutan Oral
 Potio = Obat Minum
 Syrup = Sirup
 Elixir = Eliksir
7. Larutan Topikal
 Lot, Lotio, Lotion = Obat Cuci / Pembasuh
8. Lin, Liniment = Obat Gosok

B. Signa (Aturan Pakai)


SINGKATAN KEPANJANGAN ARTI
Ad ad Ana ad Sama banyak hingga
Ads Auris dexter sinistra Telingan kanan dan kiri
Adhib adhibitur Digunakan
As Auris sinistra Telinga kiri
Appl / applic Applicandum Gunakan
C Cochlear Sendok makan (15 ml)
Cth Cochlear thea Sendok the (5 ml)
d.i.2plo Da in duplo Berikan dua kalinya
Dil / dilute Dilutum Encer / cair
Gtt Gutthae Tetes
Haust Haustus Diminum sekaligus
M et V Mane et Vespere Pagi dan Sore / Petang
s. 1-0-1 c I Signa 1-0-1 cochlear 1 Pagi satu sendok makan
dan malam satu sendok
makan
T Ter Tiga
C. Zat-zat yang q.s ( SECUKUPNYA )
1. Adeps Lanae q.s = 2 %
2. Bentonit q.s = 5 %
3. Bentonit Magma q.s = 25 % ( Bentonit 5 %, Air = 95 % )
4. CMC / CMC Na q.s = 2 % + air panas 20 X
5. Oleum q.s = 1 – 2 tetes
6. Pewangi / parfum q.s = 1 – 2 tetes ( Ol. Citri, Ol. Rossae dll )
7. PGA q.s = tergantung bobot minyak
8. PGS q.s = 2 %

D. Kelarutan
Istilah Kelarutan Singkatan Jumlah bagian pelarut
diperlukan untuk
melarutkan 1 bagian zat
Sangat mudah larut Sml Kurang dari 1
Mudah larut Ml 1 sampai 10
Larut L 10 sampai 30
Agak sukar larut Asl 30 sampai 100
Sukar larut Sl 100 sampai 1000
Angat sukar larut Ssl 1000 sampai 10.000
Praktis tidak larut Ptl Lebih dari 10.000

E. Cara Menghitung Dosis Pemakaian


Perhitungan dosis untuk satu kali pemakaian untuk sediaan larutan obat dalam
5 mL
Untuk 1 cth = × berat zat aktif yang dihitung DM nya
𝑣 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛
2 × 5 mL
Untuk 2 cth = × berat zat aktif yang dihitung DM nya
𝑣 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛

Urutan untuk mencapai DM :


 FI edisi III
 Ekstra Farmakope
 FI edisi II
 FI edisi I
SOLUTIONES – ELIXIRA

( LARUTAN – ELIKSIR )

 Larutan adalah sediaan cair yang mengandung bahan kimia terlarut, sebagai
pelarut digunakan air suling kecuali dinyatakan lain.
 Perbedaan potio dan larutan adalah potio merupakan sediaan cair untuk
konsumsi obat secara oral, sedangkan larutan merupakan sediaan cair yang
bisa digunakan secara oral, topical dan parenteral.
 Klasifikasi larutan berdasarkan pemberiannya :
- Larutan oral adalah sediaan cair yang dibuat untuk pemberian oral,
mengandung satu atau lebih zat dengan atau tanpa bahan pengaroma,
pemanis, atau pewarna yang larut dalam air atau cairn konsolven.

 Beberapa contoh sediaan larutan oral


 Sirup adalah sediaan pekat dalam air dari gula dengan atau tanpa penambahan
bahan pewangi dan zat – zat obat.
- Komponen dari sirup :
1. Gula, biasanya sukrosa atau pengganti gula yang digunakan untuk
memberi rasa manis dan kental.
2. Pengawet antimikroba.
3. Pembau.
4. Pewarna.

- Ada 3 macam sirup, yaitu :


1. Sirup simpleks, mengandung 65% gula dalam larutan nipagin 0,25%
b/v.
2. Sirup obat, mengandung satu atau lebih jenis obat dengan atau tanpa
zat tambahan digunakan untuk pengobatan.
3. Sirup pewangi, tidak mengandung obat tetapi mengandung zat
pewangi atau penyedap lain. Penambahan sirup ini bertujuan untuk
menutup rasa atau bau obat yang tidak enak.

 Eliksir adalah larutan hidroalkohol yang jernih dan manis dimasukan untuk
penggunaan vital, dan biasanya diberi rasa untuk menambah kelezatan.
Dibandingkan dengan sirup eliksir biasanya kurang manis dan kurang kental
karena mengandung kadar gula yang lebih rendah dan akibatnya kurang efektif
dibanding sirup dalam menutupi rasa dalam senyawa obat.

 Larutan topical adalah larutan yang biasanya mengandung air, tetapi seringkali
mengandung pelarut lain seperti etanol dan poliol untuk penggunaan pada
kulit, atau larutan lidokain oral topical untuk penggunaan pada mukosa mulut.
- Sediaan yang termasuk larutan topikal :
1. Gargarisma / obat kumur mulut adalah sediaan berupa larutan
umumnya dalam keadaan pekat yang harus diencerkan terlebih dahulu
sebelum digunakan dimaksudkan untuk digunakan sebagai pencegahan
atau pengobatan infeksi tenggorokan contohnya betadin gargle.
2. Guttae nasalis / tetes hidung adalah obat yang digunakan untuk hidung
dengan cara meneteskan obat ke dalam rongga hidung, dapat
mengandung zat pensuspensi, pendapat da pengawet. Minyak lemak
atau minyak mineral tidak boleh digunakan sebagai cairan pembawa.

- Larutan dibagi berdasarkan sistem pelarut dan zat pelarut :


1. Tingtur yaitu larutan mengandung etanol atau hidroalkohol yang dibuat
dari bahan tumbuhan atau senyawa kimia.
2. Air aromatik adalah larutan jernih dan jenuh dalamair, dari minyak
mudah menguap atau senyawa aromatik, atau bahan penguap lainnya.

- Hal yang perlu diperhatikan dalam membuat larutan :


a. Kelarutan zat aktif harus jelas dan bisa larut
b. Kestabilan zat aktif dalam larutan / pelarut maupun konsolven harus
baik
c. Dosis takaran tepat
d. Penyimpanan yang sesuai

- Keuntungan bentuk larutan :


a. Merupakan campuran yang homogen
b. Dosis dapat dirubah – rubah dalam pembuatan
c. Dapat diberikan dalam larutan encer, sedangkan kapsul dan tablet sulit
diencerkan
d. Kerja awal lebih cepat karena obat cepat di absorpsi
e. Volume bentuk larutan lebih besar
f. Mudah diberikan pemanis, bau – bauan, pewarna dll.
EMULSA

( Emulsi )

 Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau cairan obat terdispersi
dalam cairan pembawa di stabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok.
 Emulsi merupakan sediaan yang mengandung dua zat yang tidak tercampur biasanya
air dan minyak, dimana cairan yang satu terdispersi menjadi butir – butir kecil dalam
cairan yang lain.
 Zat pengemulsi (emulgator) merupakan komponen yang paling penting agar
memperoleh emulsa yang baik.
 Semua emulgator bekerja dengan membentuk lapisan di sekeliling butir – butir
tetesan yang terdispersi dan lapisan ini berfungsi agar mencegah terjadinya dan
terpisahnya cairan dispers sebagai fase terpisah. Terdapat dua macam tipe emulsi
yaitu tipe M/A dimana tetes minyak terdispersi dalam fase air dan tipe A/M dimana
fase inern air dan fase ekstern adalah minyak.
 Emulgator (Bahan Pengemulsi) :
1. Emulgator alam dari tumbuh – tumbuhan :
a. Gom
- Sangat baik untuk emulgator tipe O/W dan untuk obat minum.
- Lemak-lemak padat : PGA sama banyak.
Contoh : oleum cacao sebelumnya dilebur dulu di WB sampai meleleh
- Minyak atsiri : PGA sama banyak dengan minyak atsiri.
- Minyak lemak cair : PGA ½ × berat minyak
Kecuali oleum ricini, PGA : 1/3 × minyak
Oleum icoris, PGA : 3/10 × minyak
b. PGS
1 gr PGS = 49 PGA, untuk minyak kurang halus, sehingga PGS digunakan
untuk serbuk – serbuk yang tidak larut dalam air.
Berat PGS = 2% dari volume larutan = + air 7 × nya
c. Agar – agar
Berat agar-agar = 1 – 2%
Agar-agar + air mendidih qs, dinginkan pelan-pelan sampai suhu 45˚C
d. Emulgator lain ( pektin, metilselulosa, CMC 1 – 2% )
o Zat-zat protein seperti : gelatin, kuning telur dan adeps lanae. Bahan-bahan ini
menghasilkan emulsi tipe M/A.

2. Emulgator buatan :
a. Sabun
Untuk pemakaian luar, dapat sebagai emulgator tipe o/w atau w/o
b. Tween 20 ; 40 ; 60 ; 80
c. Span 20 ; 40 ; 80
 Cara Pembuatan Emulsi :
1. Metode gom kering
Emulsi dibuat dengan jumlah komposisi minyak dengan ½ jumlah volume air dan
¼ jumlah emulgator. Sehingga diperoleh perbandingan 4 bagian minyak, 2 bagian
air dan 1 bagian emulgator.
- Pertama-tama gom didispersikan ke dalam minyak, lalu ditambahkan air
sekaligus dan diduk/digerus dengan cepat dan searah hingga terbentuk
korpus emulsi.
2. Metode gom basah
Disebut pula sebagai metode inggris, cocok untuk penyiapan emulsi dengan
musilago atau melarutkan gom sebagai emulgator dan menggunakan perbandingan
4 ; 2 ; 1 sama seperti gom kering. Metode ini dipilih jika emulgator yang
digunakan harus dilarutkan terlebih dahulu ke dalam air, misalnya metilselulosa 1
bagian gom ditambahkan 2 bagian air lalu diaduk dan ditambahkan minyak
sedikit-sedikit.
3. Metode botol
- Metode ini digunakan untuk emulsi dari bahan-bahan menguap dan
minyak-minyak dengan kekentalan rendah.
- Dalam botol kering emulgator yang digunakan ¼ dari jumlah minyak.
Ditambahkan dua bagian air lalu dikocok kuat-kuat suatu volume air yang
sama banyak dengan minyak ditambahkan sedikit demi sedikit sambil
terus dikocok, setelah emulsi utama terbentuk dapat di encerkan dengan air
sampai volume yang tepat.

 Alat yang digunakan untuk pembuatan emulsi yang baik :


- Moertir dan stamper
- Botol
- Mixer atau blender
- Homogenizer
- Colloid mill

Contoh resep

Dr. Dema Naufarrel


SIP : 737/DN – 73 / I /2007
Jl. Raya Cigugur No. 28 Kuningan

No. ..... tgl. ....................

R/ Oleum cacao 5
Camph 2
Sir. Simplex 15
S t dd 1 C
Pro. Farhan (14 th)
Alamat : Jl. Langit Biru II / 73 Bandung
Penyelesaian :

- Oleum cacao dilelehkan dan dilarutkan camphora ke dalamnya.


- PGA yang digunakan adalah sama berat oleum cacao dan camphora selanjutnya dibuat
korpus emulsi dan seterusnya.
SUSPENSIONES

( Suspensi )

 Suspensi adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus dan
tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa. Zat yang terdispersi harus halus, tidak
boleh cepat mengendap, dan bila dikocok perlahan endapan harus segera terdispersi
kembali. Dapat ditambahkan zat tambahan untuk menjamin stabilitas tetapi
kekentalan suspensi harus menjamin sediaan mudah dikocok dan dituang.
 Menurut FI edisi III, suspensi merupakan sediaan yang mengandung bahan obat padat
dalam bentuk halus dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa.
 Menurut FI edisi IV, suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat
tidak larut yang terdispersi dalam fase cair.
 Menurut Formularium Nasional edisi II, suspensi adalah sediaan cair yang
mengandung obat padat, tidak melarut dan terdispersikan sempurna dalam cairan
pembawa atau sediaan padat terdiri dari obat dalam bentuk serbuk halus, dengan atau
tanpa zat tambahan yang akan terdispersikan sempurna dalam cairan pembawa yang
ditetapkan.
 Faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitas suspensi :
- Ukuran partikel
- Sedikit banyaknya bergerak partikel (viskositas)
- Tolak-menolak antar partikel karena adanya muatan listrik
- Kadar partikel terdispersi
 Ciri-ciri sediaan suspensi :
- Terbentuk dua fase yang heterogen
- Berwarna keruh
- Mempunyai diameter partikel > 100 nm
- Dapat disaring dengan kertas saring biasa
- Akan memisah jika didiamkan
 Syarat-syarat suspensi :
 Menurut FI edisi III adalah :
 Zat terdispersi harus halus dan tidak boleh mengendap
 Jika dikocok harus segera terdispersi kembali
 Dapat mengandung zat dan bahan menjamin stabilitas suspensi
 Kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi agar mudah dikocok atau
sedia dituang
 Karakteristik suspensi harus sedemikian rupa sehingga ukuran partikel
dari suspensi tetap agak konstan untuk jangka penyimpanan yang lama.
 Menurut FI edisi IV adalah :
 Suspensi tidak boleh di injeksikan secara intravena dan intratekal
 Suspensi yang dinyatakan untuk digunakan untuk cara tertentu harus
mengandung anti mikroba
 Suspensi harus dikocok sebelum digunakan.

 Berikut ini bahan-bahan yang dapat digunakan sebagai suspending agent, antara lain
yaitu :
1. Golongan Gom, terdiri dari :
a. PGS : 2% + air 7× PGS
b. Chondrus
c. Tragakan
d. Algin
- 1 – 2%
- Dipasaran dalam bentuk garamnya, yaitu natrium alginat.
2. Bahan pensuspensi alam bukan gom, terdiri dari :
a. Bentonit
b. Hectorite
c. Veegum
3. Bahan pensuspensi sintetis
a. Derivat selulosa :
- Metil selulosa
- Karboksimetil selulosa ( CMC ) : 1% + air 20× nya
- Hidroksimetil selulosa
b. Golongan organik polimer : Carbophol 934

 Berikut ini adalah cara pembuatan suspensi, ada 2 cara yaitu :


1. Metode Dispersi
Serbuk bahan obat dimasukkan dalam mucilago yang telah terbentuk, kemudian
baru diencerkan.
 CMC/PGS + air untuk CMC/PGS, gerus homogen, + zat yang tidak larut
dalam air, kemudian gerus sampai terbentuk massa yang putih, + sirup-sirup
( kalau ada ), encerkan dengan air secukupnya, + zat-zat yang sudah
dicairkan dalam air, masukkan ke dalam botol + aquadest sampai batas
kalibrasi.
2. Metode Presipitasi
Zat yang hendak didispersikan dilarutkan dahulu ke dalam pelarut organik (etanol,
propilengglicol dan polietilen glicol) yang hendak dicampur dengan air. Setelah
larut dalam pelarut organik, larutan zat ini kemudian diencerkan dengan larutan
pensuspensi dalam air sehingga akan terjadi endapan halus, tersuspensi dengan
bahan pensuspensi.
 CMC/PGS + zat yang tidak larut dalam air, gerus homogen, + air untuk
CMC/PGS, gerus sampai terbentuk massa putih, + sirup-sirup ( kalau ada ),
encerkan dengan air secukupnya, + zat-zat yang sudah dihaluskan dalam air,
masukkan dalam botol, + aquadest sampai batas kalibrasi.
Jika dalam R/ ada oleum MP ( minyak atsiri ) sebagai pewangi maka diganti dengan aqua MP
dengan ketentuan sbb :

1 gtt oleum MP = 19 mg ( Ph.Ned; 79 )

Kadar aqua MP = 0,5% ( FI II, 69 )

= 0,5 = 0,5 gram = 500 mg zat dalam 1000 mL pelarut

19 𝑚𝑔
Maka 1 tetes oleum MP = × 1000 mL = 38 mL aqua MP
500 𝑚𝑔

Untuk sirup-sirup dalam sediaan larutan / potio, hitung kadar sirupnya yakni :

- Jika kadar sirup > 16% maka DM 1 sendok × 1,3 ( untuk seluruh zat )
- Jika kadar sirup < 16% maka DM 1 sendok × 1 ( untuk seluruh zat )

Contoh : R/ Sir. Thymi 20


Codein HCl 0,1
Aqua ad 100 mL
Mds 3 dd 1 cth

Perhitungan penimbangan :

20
Kadar sirup thymi = × 100% = 20% ( >16% )
100
5 𝑚𝐿
Maka 1 cth codein HCl = × 1,3 × 0,1 = 0,0065 gr = 6,5 mg
100 𝑚𝐿

Codein diganti dengan codein HCl sebanyak 1,17× nya


GUTTAE

( Obat Tetes )

 Guttae adalah sediaan cair berupa larutan, semulsi atau suspensi, dimaksudkan untuk
obat dalam atau luar, digunakan dengan cara meneteskan menggunakan penetes yang
menghasilkan tetesan setara dengan tetesan yang dihasilkan penetes baku dalam
Farmakope Indonesia. Sediaan obat tetes itu dapat berupa :
- Guttae = obat tetes
- Guttae Oris = tetes mulus
- Guttae Auriculares = tetes telinga
- Guttae Nasales = tetes hidung
- Guttae Ophtalmicae = tetes mata
 Guttae, jika disebutkan guttae tanpa penjelasan lebih lanjut, dimaksudkan obat tetes
untuk obat dalam, obat tetes untuk obat dalam digunakan dengan cara di teteskan ke
dalam minuman atau makanan.
 Guttae Oris adalah obat tetes yang diperuntukan untuk kumur-kumur, sebelum
digunakan diencerkan terlebih dahulu dengan air dan tidak untuk ditelan.
 Guttae Auriculares adalah obat tetes yang digunakan dengan cara meneteskan obat
tetes ke dalam telinga. Bila tidak dinyatakan lain cairan pembawa yang digunakan
harus mempunyai kekentalan yang sesuai agar obat mudah menempel pada dinding
telinga, biasanya digunakan gliserin dan propilenglikol. Selain tersebut dapat pula
digunakan etanol, heksilenglikol dan minyak lemak nabati. Bila sediaan berupa
suspensi sebagai zat pensuspensi digunakan sorbitan, polisorbat atau surfaktan lain
yang cocok. Kecuali dinyatakan lain PHb tetes telinga adalah 5,0 – 6,0 dan disimpan
dalam wadah tertutup rapat.
 Guttae Nasales adalah obat bebas yang digunakan dengan cara meneteskan obat ke
dalam rongga hidung yang mengandung zat pensuspensi, pendapar dan pengawet.
Sebagai cairan pembawa umumnya digunakan air. PH cairan pembawa sedapat
mungkin antara 5,5 – 7,5 dengan kapasitas dapar sedang, isotonis atau hampir
isotonis. Tidak boleh menggunakan cairan pembawa minyak mineral atau minyak
lemak.
 Guttae Ophtalmicae adalah sediaan steril berupa larutan atau suspensi yang digunakan
dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata dan
bola mata. Tetes mata harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan yaitu :
1. Steril
2. Sedapat mungkin isohidris
3. Sedapat mungkin isotonis
Resep Pertemuan ke – 1

Dr. Dewi Anjarwati Dr. Sandi J


SIP : No. 376/DKK-DN/II/2015 SIP : No. 115/KW/2009
Jl. Buah Batu No.115 Bandung Jl. Paskal No.501 Bandung
Telp. 022-3558190 Telp. 022-3558190
No. 1A Bandung, No. 1A Bandung,
Tgl. Tgl.

R/ OBH 100ml R/ Paracetamol 0,3


Adde Guaiafenesin 50 mg
Codein Hcl 60 mg Fenilpropanolamin Hcl 15 mg
Mf Potio Aquadest ad 5 ml
Mf Potio

S t dd I cth, Pc S b dd cth I
Da 60 ml
Pro : Aliya
Umur : Pro : Anita
Alamat : Jl. Bledak Anggur II/40 bandung Umur :
Alamat : Jl. Pasteur 28 bandung

Resep pertemuan ke – 2

Dr. Darma W Dr. Darma W


SIP : No. 13/KW/2005 SIP : No. 13/KW/2005
Jl. Jakarta No.23 Bandung Jl. Jakarta No.23 Bandung
Telp. 022-3558190 Telp. 022-3558190
No. 2A Bandung, Tgl. No. 2B Bandung, Tgl.

R/ Ephedrin Hcl 0,25 R/ Paracetamol Elixir 60 ml


Paracetamol 1,5
CTM 0,05
Sir Simplex 15 S t dd II cth
Mf Potio 60 ml

Pro : Fatia
S t dd 5 ml

Pro : Kurnia
Resep pertemuan ke – 3

Dr. Darma W Dr. Darma W


SIP : No. 13/KW/2005 SIP : No. 13/KW/2005
Jl. Jakarta No.23 Bandung Jl. Jakarta No.23 Bandung
Telp. 022-3558190 Telp. 022-3558190
No. 3A Bandung, Tgl. No. 3B Bandung, Tgl.

R/ Oleum Ricini 10 R/ CTM syr 60 ml


PGA qs Codein Hcl 12 tab
Sacch Alba 7 Mf Potio 90 ml
Aqua ad 100

S 3 dd cth 1
Mf la emulsi
S 1 dd C 1 an
Pro : Fatia
Pro : Ny. Misnah

Resep pertemuan ke – 4

Dr. Darma W Dr. Darma W


SIP : No. 13/KW/2005 SIP : No. 13/KW/2005
Jl. Jakarta No.23 Bandung Jl. Jakarta No.23 Bandung
Telp. 022-3558190 Telp. 022-3558190
No. 4A Bandung, Tgl. No. 4B Bandung, Tgl.

R/ Emulsi Minyak Ikan 60 gr R/ Neomycin 0,07


Lidocain Hcl 1%

S 3 dd 5 ml
m.f guttae auric. 20 ml

Pro : Zarima S.t d gtt ads

Pro : Ny. Susilo


Resep pertemuan ke – 5

Dr. Darma W Dr. Darma W


SIP : No. 13/KW/2005 SIP : No. 13/KW/2005
Jl. Jakarta No.23 Bandung Jl. Jakarta No.23 Bandung
Telp. 022-3558190 Telp. 022-3558190
No. 5A Bandung, Tgl. No. 5B Bandung, Tgl.

R/ Syr INH 90 ml R/ Tempra Syr 60 ml


Adde pro cth CTM tab 1/2/cth
Pyridoxin Hcl 0,010
Mf. Potio 90 ml
S mane 1 cth
S t ddcth 1 pc Vesp 1 cth

Pro : Tasya
Pro : Chelsie

Resep pertemuan ke – 6

Dr. Darma W Dr. Darma W


SIP : No. 13/KW/2005 SIP : No. 13/KW/2005
Jl. Jakarta No.23 Bandung Jl. Jakarta No.23 Bandung
Telp. 022-3558190 Telp. 022-3558190
No. 6A Bandung, Tgl. No. 6B Bandung, Tgl.

R/ Difenhydramin Hcl 0,15 R/ Liniment Amonia 50 ml


Salmiak 1 Champora 2%
Menthol 0,1
Ethanol 3 ml m.d.s.ue
Syr Thymi 12 ml
Aquadest ad 60 ml
Pro : Ratna
Mf. Potio
S 3 dd cth

Pro : Atikah
Resep Pertemuan ke – 7

Dr. Darma W Dr. Darma W


SIP : No. 13/KW/2005 SIP : No. 13/KW/2005
Jl. Jakarta No.23 Bandung Jl. Jakarta No.23 Bandung
Telp. 022-3558190 Telp. 022-3558190
No. 7A Bandung, Tgl. No. 7B Bandung, Tgl.

R/ Difenhydramin HCl 1% R/ Asam Salisilat 0,1


Calamin 8% Alumen 0,5
Champora 0,10% Ol. Mp gtt II
Aquadest ad 100 mL

Mf. Lotio 60 mL Mf. Gargarisma


S ue S 3× sehari dikumur

Pro : Andri Pro : Rudi


Resep Pertemuan ke – 8

Dr. Dewi Anjarwati Dr. Sandi J


SIP : No. 376/DKK-DN/II/2015 SIP : No. 115/KW/2009
Jl. Buah Batu No.115 Bandung Jl. Paskal No.501 Bandung
Telp. 022-3558190 Telp. 022-3558190
No. 8A Bandung, Tgl. No. 8B Bandung, Tgl.

R/ Aethylmorfin HCl 0,1 R/ Ol Ricini 3


Ephedrin HCl 0,1 Papaverin HCl 0,2
Etanol 90% 5% v/v Sir Simplex 20
Sir Simplex 10 Aqua ad 100 mL

Mf potio 60 mL S 2 dd 2 C M et V
S3 dd cth 1
Pro : Sultan
Pro : Krisna

Prinsip Pelaksanaan :
PGA 1/3 dari Ol Ricini
Papaverin HCl larutkan dengan aqua

Resep Pertemuan ke – 9

Dr. Dewi Anjarwati Dr. Sandi J


SIP : No. 376/DKK-DN/II/2015 SIP : No. 115/KW/2009
Jl. Buah Batu No.115 Bandung Jl. Paskal No.501 Bandung
Telp. 022-3558190 Telp. 022-3558190
No. 9A Bandung, Tgl. No. 9B Bandung, Tgl.

R/ Antazolin HCl 0,1 R/ Chlorampenicol 0,15


Procain HCl 3% Phenobarbital 0,030
Mf Gutt auric 20 mL Sir Simplex ad 5 mL
Mf potio 100 mL
S3 dd gtt II auric ds
S O 8 h cth II
Pro : Elin
Pro : Roberto

Prinsip Pelaksanaan : Prinsip Pelaksanaan :


Tanyakan bahan pembawanya apa ...... Signa tiap 8 jam 2 cth, hitung berapa kali pakai dalam
Antazolin + procain larutkan dengan bahan pembawa seharinya?
Resep Pertemuan ke – 10

Dr. Dewi Anjarwati Dr. Sandi J


SIP : No. 376/DKK-DN/II/2015 SIP : No. 115/KW/2009
Jl. Buah Batu No.115 Bandung Jl. Paskal No.501 Bandung
Telp. 022-3558190 Telp. 022-3558190
No. 10A Bandung, Tgl. No. 10B Bandung, Tgl.

R/ Oleum Iecoris aseli 20 R/ Lin Methyl Salisilat 60 mL


Cyproheptadin HCl 0,05 Mds ue
Syr Simplex 10 mL
Ol MP gtt 1

Mf Emulsi 100 mL

S t dd cth II
Pro : Rizal
Pro : Hasan

Prinsip Pelaksanaan : Prinsip Pelaksanaan :


- PGA untuk minyak ikan 3/8 Signa tiap 8 jam 2 cth, hitung berapa kali pakai dalam
- Buat corpus emulsi minyak ikan + PGA seharinya?
kemudian tambahkan aqua corpus 1,5 × PGA
- Cyproheptadin larutkan dengan aqua
- Ol MP ganti aqua MP

Resep Pertemuan ke – 11

Dr. Dewi Anjarwati Dr. Sandi J


SIP : No. 376/DKK-DN/II/2015 SIP : No. 115/KW/2009
Jl. Buah Batu No.115 Bandung Jl. Paskal No.501 Bandung
Telp. 022-3558190 Telp. 022-3558190
No. 11A Bandung, Tgl. No. 11B Bandung, Tgl.

R/ Calamin Lotion 60 mL R/ Polymyxin B Sulfat 50.000 Ui/mL


Mds ue Chloramfenicol 5%
Mf Gutt auric 10 mL

S 4 dd gtt II ads

Pro : Yulia Pro : Roger

Prinsip Pelaksanaan : Prinsip Pelaksanaan :


Resep Pertemuan ke – 12

Dr. Dewi Anjarwati Dr. Sandi J


SIP : No. 376/DKK-DN/II/2015 SIP : No. 115/KW/2009
Jl. Buah Batu No.115 Bandung Jl. Paskal No.501 Bandung
Telp. 022-3558190 Telp. 022-3558190
No. 12A Bandung, Tgl. No. 12B Bandung, Tgl.

R/ Codein HCl 0,3


R/ Tetes Telinga Hidrogen Peroksida 20 mL Luminal Na 0,5
Syr Aurantii 80 mL
Mds sns gtt I – II
S 3 dd cth I – II

Pro : Fatimah Pro : Ariel

Prinsip Pelaksanaan : Prinsip Pelaksanaan :


Hidrogen peroksida dilutum (3%) Luminal Na dalam larutan akan terurai membentuk
Label jangan dikocok ammonia maka diganti dalam bentuk basanya (ambil
Luminal) dan dibuat sediaan suspensi
Signa 3 kali sehari 1 sampai 2 sendok takar mg

Resep Pertemuan ke – 13

Dr. Dewi Anjarwati Dr. Sandi J


SIP : No. 376/DKK-DN/II/2015 SIP : No. 115/KW/2009
Jl. Buah Batu No.115 Bandung Jl. Paskal No.501 Bandung
Telp. 022-3558190 Telp. 022-3558190
No. 13A Bandung, Tgl. No. 13B Bandung, Tgl.

R/ Diphenhydramin HCl 0,3 R/ Bycolen Syr 100 mL


Amm Chlorida 2,5
Na Citrat 1,1
Menthol 0,05 S 3 dd cth I
Alkohol 90% 5%

Mf Potio 100 mL
S 3 dd cth I – II
Pro : Marlina
Pro : Ida

Prinsip Pelaksanaan : Prinsip Pelaksanaan :


Kalibrasi Botol 100 mL R/ Standart
Menthol larutkan dengan alkohol
Diphenhydramin + Na Citras larutkan dengan aqua
DM :
Diphenhydramin HCl kadar dalam 1 C (15 mL) 0,3 ×
15/100 = 0,45
Amm Chlorida kadar dalam 1 C (15 mL) 2,5 × 15/100
= 0,375
Resep Pertemuan ke – 14

Dr. Dewi Anjarwati Dr. Sandi J


SIP : No. 376/DKK-DN/II/2015 SIP : No. 115/KW/2009
Jl. Buah Batu No.115 Bandung Jl. Paskal No.501 Bandung
Telp. 022-3558190 Telp. 022-3558190
No. 14A Bandung, Tgl. No. 14B Bandung, Tgl.

R/ Luminal 0,25 R/ Lotio Kumerfeldi 100 mL


Extr Belladon 0,15 Adde
Syr Thymi 15 Camphora 0,5%
Aqua ad 75 mL
Mf Potio Mds vesp aplic

S Mane cth I
Vesp cth II Pro : Donna

Pro : Vian

Prinsip Pelaksanaan : Prinsip Pelaksanaan :


Luminal tidak larut, sehingga dibuat suspensi Emulgator menggunakan natrium setosterilalkohol

Resep Pertemuan ke – 15

Dr. Dewi Anjarwati Dr. Sandi J


SIP : No. 376/DKK-DN/II/2015 SIP : No. 115/KW/2009
Jl. Buah Batu No.115 Bandung Jl. Paskal No.501 Bandung
Telp. 022-3558190 Telp. 022-3558190
No. 15A Bandung, Tgl. No. 15B Bandung, Tgl.

R/ Camphora 1 R/ Dionin 0,06


Ol Olivae 5 Tinct Belladon 6
Syr Simplex 10 SASA 6
PGA qs Syr Thymi 30
Aqua ad 75 mL
S Vesp C I Mf Potio 100 mL
S 3 dd cth II
Pro : Melinda
Pro : Yusuf

Prinsip Pelaksanaan : Prinsip Pelaksanaan


PGA Camphora 1 Sinonim Dionin ....
PGA Ol Olivae ½
Camphora + Ol Olivae gerus homogen + PGA gerus
Tambahkan aqua corpus ad terbentuk corpus emulsi