Anda di halaman 1dari 11

Nama : Muhammad Rizky Zaenuddin

NPM : 1706977600
Tugas Mata Kuliah Filsafat Hukum (Kelas C, Program Reguler)

Rangkuman

Classical Positivism and Pure Theory of Law dan Modern Analytical and Normative
Jurisprudence

Bibliography
1. Bentham, J: A Fragment on Government;
2. Bentham, J: An Introduction to the Principles of Morals Legislation;
3. Bentham, J: Of Laws in General;
4. Austin, J.: The Province of Jurispurdence Determined
5. Rees, W.j.: The Theory of Sovereignty Re-stated;
6. Kelsen, H.: The Pure Theory of Law
7. Kelsen, H.: General Theory of Law and State;
8. Kelsen, H.: Causality and Imputation;
9. Kelsen, H.: Professor Stone and the Pure Theory of Law;
10. Kelsen, H.: The Function of a Constitution;
11. Raz, J.: The Purity of the Pure Theory;
12. Llyod, D. And Freeman: Introduction to Jurisprudence, pp. 205-290
13. Hart, H.L.A.: Positivism and the Separation of Law and Moral;
14. Fuller, L.L.: Positivism and Fidelity to Law;
15. Hart, H.L.A.: Definition and Theory in Jurisprudence;
16. MacCormick, N.: Contemporary Legal Philosophy: the Rediscovery of Practical
Reason;
17. Raz, J.: The Problem about the Nature of Law;
18. Raz, J.: Practical Reason and Norms;
19. Dworkin, R.: Is Wealth a Value?;
20. Posner, R.A.; Dworkin’s Critique of Wealth Maximisation;
21. Markovits, R.S.: Second-Best Theory and the Standard Analysis of Monopoly Rent
Seeking;
22. Rawis, J.: A Theory of Justice;
23. Rawis, J.: Political Liberalism;
24. Raws, J.: The Law of Peoples;
25. Nozick, R.: Anarchy, State and Utopia;
26. Hohfeld, W.N.: Fundamental Legal Conception as Applied in Judical Reasoning;
27. MacCormick, N.: The Ethics of Legalism;
28. Llyod, D. & Freeman: Introduction to Jurisprudence, pp. 339-392.
Classical Positivism and Pure Theory of Law

Keberadaan positivisme hukum tidak dapat dilepaskan dari kehadiran negara


modern. Sebelum abad ke 18 pikiran itu talah hadir, dan menjadi semakin kuat sejak
kehadiran negara modern. Selain itu, pemikiran positivisme hukum adalah bagian yang tidak
dapat dilepas dari pengaruh perkembangan positivisme (ilmu). Berbeda dengan pemikiran
hukum kodrat yang sibuk dengan permasalahan validasi hukum buatan manusia, maka pada
positivisme hukum, aktivitasnya justru diturunkan kepada permasalahan konkrit. Jawaban
terhadap permasalahan konkrit tersebut, berdasarkan prinsip-prinsip dasar yang ada dalam
positivisme, yakni:
1. Suatu tata hukum negara berlaku bukan karena mempunyai dasar dalam kehidupan sosial
(Comte dan Spenser), bukan pula bersumber pada jiwa bangsa (Savigny) dan bukan juga
karena dasar-dasar hukum alam, melainkan mendapatkan bentuk postifnya dari instansi
yang berwenang.
2. Hukum harus dipandang semata-mata dalam bentuk formalnya; bentuk hukum formal
dipisahkan dari bentuk hukum material.
3. Isi hukum (material) diakui ada, tetapi bukan bahan ilmu hukum karena dapat merusak
keberadaan ilmiah ilmu hukum.
Secara epistimologi kata “positif” diturunkan dari bahasa Latin ponere-posui-
positus yang berati meletakan. Kata “meletakan” menunjukkan bahwa dalam positivisme
adalah sesuatu yang sudah tersaji (given). Dalam bidang hukum, sesuatu yang tersaji itu
adalah sumber hukum positif, yang sudah diletakkan oleh penguasa politik.
Argumen-argumen dari mazhab positivism selalu mereferensi pada hal-hal yang
empiris dan berupa analisis akan fakta sosial yang objektif. Bagi aliran ini hukum adalah
fenomena-fenomena sosial yang lainnya yang hanya dapat dibentuk, diadakan dan diterapkan
dalam ruang lingkup tertentu, walaupun hukum tidak dapat dilepaskan dari faktor-daktor lain
seperti moralitas, agama, etika, dan lain sebagainya.
Satjipto Rahardjo menjelaskan bahwa proses pembentukan negara modern merupakan
bagian dari sejarah “deferensiasi” kelembagaan, yang menunjukan bagaimana fungsi-fungsi
utama dalam masyarakat itu tampak ke depan sepanjang berlangsungnya proses tersebut. Dari
situ akan terlihat terjadinya pengotganisasian masyarakat yang semakin meningkat, melalui
berbagai elaborasi dari fungsi-fungsi tersebut.
Pemikiran pokok tentang hukum John Austin dituangkan terutama dalam karyanya
berjudul The Province of Jurisprudence Determined. Karya tersebut paling lengkap dan
penting mengenai usaha untuk menerapkan sistem positivisme analitis dalam negara-negara
modern, bahkan Austin sering disebut sebagai pembentuk legal positivism. Dalam
memberikan rumusan tentang hukum, Austin menggantikan “cita-cita tentang keadilan
(ideaof justice) dengan “perintah yang berdaulat” (comend of sovereign) sebagaimana
dijelaskan oleh Austin “Positif law… is the set by sovereign person, or a sovereign body of
person, to members of independent political society wherein that person or bady is sovereign
pr supreme”.
Menurut Austin, filsafat hukum memiliki dua tugas penting. Kegagalan membedakan
keduanya, akan menimbulkan kekaburan baik intelektual maupun moral. Kedua tugas ini
berkaitan dengan dua dimensi dari hukum yakni yurisprudensi analitis dan yurisprudensi
normatif.
1. Yurisprudensi analitis (analytical jurisprudence), berkaitan dengan tugas filsafat hukum
adalah melakukan analisis tentang konsep dasar dalam hukum dan struktur hukum
bagaimana adanya. Pertanyaan tentang apa itu hukum, tanggungjawab hukum, hak dan
kewajiban hukum, misalnya adalah contoh pertanyaan-pertanyaan khas yang diajukan
filsuf atau pemikir hukum sebagai titik tolak dalam menganalis dan mencoba memahami
konsep dasar tersebut.
2. Yurisprudensi normatif (normative jurisprudence) berusaha mengevaluasi atau
mengkritik hukum dengan berangkat dari konsep hukum sebagaimana seharusnya.
Pertanyaan-pertanyaan pokok yang diajukan antara lain mengapa hukum disebut hukum,
mengapa kita wajib mentaati hukum, manakah basis validitas hukum, dan sebagainya.
Dengan demikian, dimensi yang kedua ini berurusan dengan dimensi ideal dari hukum.
Seorang jurist positivism yaitu Jeremy Bentham menolak mazhab natural law dan
nilai yang berasal dari pandangan yang subjektif, kedua hal tersebut ia ganti dengan suatu
standard norma yang berdasarkan dari keuntungan, kesenangan dan kepuasan manusia
(advantages, pleasure and satisfaction) yang sekarang dikenal dengan teori Utilitarianisme.
Teori utilitarianisme mengatakan bahwa prinsip moralitas yang paling tinggi adalah untuk
meningkatkan kebahagiaan, menyeimbangkan secara keseluruhan antara kenikmatan dan
kesengsaraan, hal tersebut terjadi karena rasa kebahagiaan dan kesengsaraan adalah tuan dari
kedaulatan kita (sovereign master), dalam hukum tidak ada masalah kebaikan atau
keburukan, atau hukum yang tertinggi atau yang terendah dalam ukuran nilai. Kebahagiaan
dan kesengsaraan mengendalikan kita disetiap kali kita melakukan sesuatu hal dan
menentukan apa yang seharusnya dilakukan.
Bentham juga mengatakan bahwa perlindungan dari pembunuhan bukan berasal dari
hak yang berasal dari alam (natural rights) yang abstrak dan juga bagi kemerdekaan dan hak
milik karena hak itu muncul dari penegakan hukum secara legal yang berasal dari
kebahagiaan masyarakat (because the security resulting form legally enforced duties leads to
general happiness.

Selanjutnya terkait Theory of Law, Ide mengenai Teori Hukum Murni (the Pure
Theory of Law) diperkenalkan oleh seorang filsuf dan ahli hukum terkemuka dari Austria
yaitu Hans Kelsen (1881-1973). The pure theory of law yang mempresentasikan hukum
sebagaimana adanya tanpa mempertahankan dengan menyebutnya adil, atau menolaknya
dengan menyebut tidak adil. Teori ini mencari hukum yang riil dan mungkin, bukan hukum
yang benar. Berikut ini merupakan pokok-pokok dari pemikiran Pure Theory of Law yang
dikemukakan Kelsen sebagaimana telah dituangkan dan dianalisis lebih lanjut dalam buku
karya Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie dalam bukunya Teori Hans Kelsen Tentang Hukum yang
diterbitkan pada tahun 2006.

The pure theory of law ini sendiri menekankan pada pembedaan yang jelas antara
hukum empiris dan keadilan transedental dengan mengeluarkannya dari lingkup kajian
hukum. Hukum bukan merupakan manifestasi dari otoritas super-human, tetapi merupakan
suatu teknik social yang spesifik berdasarkan pengalaman manusia.
Menurut the pure theory of law, hukum harus dibersihkan dari unsur-unsur yang non-
yuridis, seperti unsur sosiologis, politis, histories, bahkan etis. Hans Kelsen memahami
teorinya ini sebagai teori kognisi hukum, teori pengetahuan hukum. Dan satu-satunya tujuan
dari adanya teori the pure theory of law ini adalah kognisis atau pengetahuan tentang
objeknya, tepatnya ditetapkan sebagai hukum itu sendiri.

Adapun yang menjadi dasar-dasar esensial dari pemikiran Kelsen menurut Friedmann
adalah sebagai berikut :

1. Tujuan teori hukum, setiap tiap ilmu pengetahuan, adalah untuk mengurangi
kekacauan dan kemajemukan menjadi kesatuan.
2. Teori hukum adalah ilmu pengetahuan mengenai hukum yang berlaku (das
sollen) bukan mengenai hukum yang seharusnya (das sein).
3. Hukum adalah ilmu pengetahuan normative, bukan ilmu alam.
4. Teori hukum sebagai teori tentang norma-norma, tidak ada hubungannya
dengan daya kerja norma-norma hukum.
5. Teori hukum adalah formal, suatu teori tentang cara menata, mengubah isi
dengan cara yang khusus, hubungan antara teori hukum dan sistem yang khas
dari hukum positif ialah hubungan apa yang menjadi mungkin dengan hukum
yang nyata.

Modern Trends In Analitical And Normative Jurisprudence


A.Nozick and The Minimal State
Konsep keadilan “Entitlement Theory” (Teori Hak Yang Adil), barang-barang
ekonomi sudah tumbuh sejalan dengan hak terhadap kepemilikan. Secara moral minimal state
adalah sah dan tujuan anarkis terbukti salah (disangkal). Nozick memperkuat pengertian
“Minimal State” dan “Individual Anarchist”, bahwa apabila monopoli Negara menggunakan
kekuatan dalam wilayahnya dan menghukum pihak lain yang melanggar monopoli
negaranya, Negara bermoral dimana minimal state adalah sah dan tujuan anarkis terbukti
salah.

Kepemilikan seseorang adalah adil apabila didapat melalui perolehan asli yang adil
atau melalui pemindhan hak yang adil atau melalui perolehan terhadap ketidakadilan dalam
arti pertama dan kedua.

Tidak sepakat atas teori distribusi peradilan. Hak untuk kebebasan didasarkan pada
referensi pada hak untuk kepemilikan. Nozick hanya menunjuk pada kebebasan pasar,
bersatu, secara sukarela dan adanya kedermawanan pribadi. Menyampingkan pertumbuhan
peranan dari Negara dalam era kapitalisme, tetapi juga secara radikal pre-sosilogis tanpa
struktur sosial atau sosial atau ketetapan budaya dan hambatan dalam tindakan yang bebas
dan juga pertukaran kegiatan individual.
B.Hohfeld’s Analysis of Rights
Mengakui ketidakpastian akan penggunaan kata Rights (hak), dimana dihubungkan
dengan masalah pengertian “Normatif” dan segi hukum lainnya “Correlative, Opposite atau
Class Compliments”. Rights dalam arti sempit mencerminkan “Corelative Duty”, tetapi tidak
setiap “Duty” mencerminkan “Corelative Rights”. Kekuatan identik dengan control Tujuan
penelitian ini untuk memperoleh kemudahan “Legal Transaction” secara sederhana, tepat dan
dapat diakui secara universal.

C.R.Nozick Anarchy, State and Utopia (Anarki, Negara dan Harapan) 1974
Minimal State secara moral itu sah, dimana proses peralihan harus dilaksanakan
secara sah dan bermoral juga. Prinsip pemberian kompensasi mengatur dimana operator
mempunyai hak melarang. Apabila proteksi merupakan suatu kewajiban, maka proteksi harus
ada meskipun harus ada biaya tambahan. Secara kenyataan monopoli tumbuh sendirinya
dengan cara proses bermoral yang diizinkan, tanpa hak sesorang dilanggar dan tanpa ada
suatu gugatan khusus bagi orang lain. Kompensasi perlu diberikan untuk proteksi.

D.W.N Hohfeld “Fundamental Legal Conceptions Applied in Judicial Reasoning


(Konsep Hukum Mendasar Yang Diterapkan Dalam Pertimbangan-Pertimbangan
Hukum) 1923.
Penyelesaian masalah hukum dapat dipersempit pada analisa Hak (Rights) dan
Kewajiban (Duties), dimana dalam menerapkan prosedurnya dengan mengelompokkan
hubungan hukum yang diterapkan dalam kasus yang diteliti.
Privilages and No Right, lawan dari duty dan merupakan persamaan dari No Right.
Power and Liability, perubahan hubungan hukum dapat disebabkan oleh:

a. Faktor-faktor tambahan yang berada diluar control manusia;

b. Faktor tambahan yang berada dibawah control manusia yang memiliki kekuatan untuk
merubah suatu hubungan hukum.

Immunities and Disabilities, lawan dari dapat mempertanggungjawabkan ganti rugi dan
korelasi dari ketidakmampuan memberikan ganti rugi. Tujuannya bukan hanya mempelajari
arti dan ruang lingkup saja, tetapi juga hubungan satu dengan lainnya dan metode bagaimana
penerapannya dalam mencari alasan hukum mengatasi persoalan nyata dalam proses
peradilan. Membahas aliran Neopositivisme, aliran positivis yang mengkritik kritikan aliran
positivisme lama.

I.Pengertian Ilmu Hukum Menurut Hart


Sistem hukum adalah system dari peraturan-peraturan sosial yaitu : a. Sistem hukum
mengatur sikap tindak anggota masyarakat b. Sistem hukum berasal dari praktek-praktek
masyarakat.
Intinya adanya suatu kesatuan peraturan primer (peraturan yang menimbulkan beban,
tugas maupun kewajiban) dan peraturan sekunder (peraturan yang memberikan kekuatan
atau kewenangan). Ada 3 macam peraturan sekunder yaitu; a) Rule of Adjudication
(kewenangan hakim dalam kasus penegakan hukum); b) Rule of Change (peraturan
perubahan dengan memberikan kewenangan untuk memberlakukan undang-undang sesuai
prosedur); c) Rule of Recognition (aturan yang menentukan kriteria yang mempengaruhi
validitas peraturan yang ada).Sistem hukum efektif apabila memenuhi dua kondisi; 1)
Peraturan-peraturan tingkah laku tersebut sah menurut criteria validitas harus dipatuhi oleh
masyarakat; 2) Peraturan sekunder harus dipatuhi pembentuk atau pejabat hukum sebagai
standar bagi menciptakan peraturan.

Hart, menolak setiap jenis hukum yang semata-mata hanya berdasarkan perintah-
perintah paksaan, karena semata-mata berasal dari pola hukum criminal yang tidak dapat
diterapkan pada bagian yang besar sistem hukum modern, melibatkan publik dan kekuatan
pribadi. Hart dalam “Positivism and Separation of Law and Morals” 5 ciri positivism; 1)
Hukum suatu perintah yang datangnya dari manusia; 2) Tidak ada hubungan mutlak hukum
dan kesusilaan, hukum yang berlaku dengan hukum yang dicita-citakan; 3)Analisa pengertian
hukum; 4)Sistem hukum adalah system logika yang tertutup, hukum yang benar dapat
diperoleh dengan alat logika peraturan-peraturan hukum sebelumnya tanpa memperhatikan
tujuan sosial, politik, moral dan lainnya;5) Pertimbangan kesusilaan tidak dapat dibuktikan
atas argumentasi dan bukti logika.

II.Aspek Internal Hukum


Hart, hukum selain bergantung pada tekanan sosial eksternal, hukum juga bergantung
pandangan dalam masyarakat sendiri, dimana peraturan tertentu menimbulkan kewajiban-
kewajiban. Ia memperkenalkan aspek internal hukum dengan membedakan hukum dan
kebiasaan, menolak penafsiran semata atas bentuk luar tingkah laku, namun digantungkan
pandangan dari dalam yaitu manusia menuju kearah peraturan yang digambarkan sebagai
tanggung jawab.

III.Pandangan Antara Hukum dan Moral


Hart, tidak percaya hukum berasal dari moral, ketidaksahihan hukum berbeda dengan
tidak bermoral. Moral mengenai batin manusia saja, sedangkan hukum dari sumber hukum
isinya moral maupun immoral. Moral adalah sebab-akibat, bagian hukum untuk
membenarkan perbedaan.

IV. Petunjuk Pengenal (The Rule Of Recognition)


Selalu terdapat suatu norma pengenal yang terakhir, norma dasar yang mendasari
berlakunya norma lain (ultimate rule of recognition). Norma didapati dengan bertanya terus
mengenai berlakunya suatu aturan.
Norma hukum hanya berlaku berasal dari kenyataan yang telah ditandai kaidah yang
lebih tinggi sebagai sumber norma hukum, selain itu juga mencari suatu sumber norma-
norma hukum, sampai pada norma dasar yang bersifat kenyataan saja.
V.Teori Keadilan John Rawls
Dalam masyarakat yang diatur menurut prinsip utilitarisme orang-orang akan
kehilangan harga diri, pelayanan demi perkembangan bersama akan lenyap. Terdapat 3 (tiga)
syarat supaya manusia sampai pada posisi aslinya yaitu: 1.) Tidak diketahui posisi manakah
yang akan diraih seorang pribadi tertentu; 2) Prinsip keadilan dipilih dengan semangat
keadilan;3)Tiap-tiap orang pertama-tama suka mengejar kepentingan individualnya baru
kepentingan umum. Kecenderungan keuntungan individual tidak menjadi penghalang
menntukan prinsip keadilan, bahkan menjadi titik tolak pembagian yang merata.

Prinsip Fundamental Keadilan meliputi: a).Prinsip Kesamaan, seluruh keuntungan


masyarakat dibagi rata diantara anggota-anggota masyarakat yang sama, pemerataan
kebebasan peluang berkembang, pendapatan dan kekayaan;b).Prinsip Ketidaksamaan,
terjadi dengan syarat: a)menjamin maximum minimorum, bagian golongan yang paling
lemah; b) Ketidaksamaan diikat pada jabatan yang terbuka bagi semua orang.

Teori Utilitarisme membawa kearah suatu maksimum penggunaan barang bagi suatu
komunitas serta Teori posisi asli membawa kearah suatu maksimum penggunaan barang
secara merata dengan tetap memperhatikan kepribadian tiap-tiap orang.

VI.Keadilan Distributif & Political Liberalism


Rawls, tidak mendukung egalitarianism, dan Teori Rawls berbeda dngan paham
Utilitarialisme. Ia menganggap warga Negara yang bertentangan dalam dasar demokrasi yang
berlawanan demikian tidak dapat didamikan, konsep kebaikan menjadikan dasar kesepakatan
politik logis atas kesepakatan tumpang tindih dan menggunakan pengertian keadilan.
Tiga cara menjawab kealamian hukum oleh Raz:

1.Cara Linguistik, mengkonsentrasikan pada kata”hukum”, yaitu Legal Condition, “ semua


pernyataan legal diatur oleh penggunaan kalimat dalam bentuk Peraturan secara legal”.

2.Cara pandang Pengacara, Basic Institution yaitu hukum berkaitan dengan konsiderasi
yang sesuai untuk pengadilan untuk memutuskan keputusan mereka. Seorang pengacara
harus memperkuat intuisi dasar dengan pengetahuan, hukum berkaitan dengan alasan judicial
tidak menentukan alasan dari pandangan profesionalnya untuk menghentikan pengenalan
teori hukum dengan teori keputusan.

3.Cara pendekatan Institusi, menyajikan analisa pusat institusi politik yang seharusnya
diterima sebagai analisa hukum. Tiga ciri khas pengadilan hukum: a) Mereka berurusan
dengan penolakan tujuan dalam memecahkan masalah; b) Mempermasalahkan peraturan dan
kewenangan yang memutuskan penolakan; c) Mereka terikat untuk dipandu konsiderasi yang
berwenang.
Kritisme Praktek atas Teori
Teori praktek terhalang oleh tiga kelumpuhan fatal yaitu, tidak menjelaskan
peraturan-peraturan yang bukan praktek, gagal membedakan antara peraturan sosial, dan
merampas peraturan-peraturan karakter normative mereka.

Teori Keadilan
Pemikiran keadilan John Rawls didasarkan pada konsep pemikiran kaum
Utilitarianisme, dalam pandangannya hukum bertujuan untuk memberikan manfaat bagi
seluruh orang meskipun disadari kemanfaatan yang diberikan secara adil kepada semua orang
merupakan satu cita-cita belaka. Prinsip-prinsip keadilan yang mendasar menurut rawls
dalam hal tercapai posisi asli dibedakan menjadi dua yaitu :

1. Prinsip yang sama sebesar besarnya, dalam prinsip ini setiap orangnya mempunyai
hak yang sama atas seluruh keuntungan masyrakat.
2. Prinsip ketidaksamaan yang menyatakan bahwa kondisi social ekonomi harus
diberikan aturan sedemikian rupa sehingga memberikn keuntungan bagi golongan
yang lemah.

Adapun untuk mencapai suatu posisi asli, Rawls memberikan beberapa syarat yaitu :
1. Diandaikan bahwa tidak diketahui posisi yang akan diraih seorang individu tertentu
dikemudian hari.
2. Diandaikan bahwa prinsip keadilan dipilih dengan semangat keadilan dengan
kesediaan untuk tetap berpegangan teguh pada prinsip-prinsip keadilan yang telah
dipilihnya.
3. Diandaikan bahwa tiap-tiap orang pertama tama suka mengejar kepentingan
individualnyadan baru kemudian kepentingan umum.

Jadi menurut Rawls melalui hukum kebebasan manusia dibatasi akan tetapi tujuan
supaya kebebasanya dipertahankan. Teori posisi asli dari Rawls membawa kearah
penggunaan secara maksimum barang-barang secara merata dengan tetap memperhatikan
kepribadian tiap-tiap orang , sedangkan menurut kaum utilisme, keadila membawa kearah
maksimum penggunaan barang secara merata. Prinsip keadilan yang dikemukanan Rawls ini
harus mengerjakan dua hal yaitu :

1. Memberikan penilaian konkrit tentang adil tidaknya institusi-institusi dan praktek-


praktek institusional.
2. Membimbing kebijakan dan hukum untuk mengoreksi ketidakadilan dalam struktur
dasar masyarakat tertentu.

Dalam kerangka stuktur dasar masyarakat, kebutuhan-kebutuhan pokok dipandang


sebagai sarana untuk mengejar tujuan dan kondisi pemikiran yang kritis serta seksama atas
tujuan dan rencana seseorang. Keadilan merupakan suatu nilai yang tidak dapat ditawar tawar
karena hanya dengan keadilanlah terdapat jaminan stabilitas hidup manusia. Adanya benturan
kepentingan pribadi dan kepentingan bersama memerlukan aturan –aturan yang dalam hal ini
adalah hukum.
Secara keseluruhan, Rawls mengemukakan tiga prinsip keadilan yaitu :

1. Kebebasan yang sama yang sebesar-besarnya


2. Perbedaan
3. Persamaan yang adil atas kesempatan.

Konsep umum, bahwa semua barang primer kebebasan dan kesempatan pendapat dan
kesejahteraan dan dasar dari penghematan didistribusikan secara sama, jika tidak demikian
maka pendristibusian yang tidak sama terhadap barang barang tersebut hanya untuk
kemanfaatan dari keinginan sebagian kecil masyarakata saja.

Liberalisme Politik (1993)


Karena tidak terdapat doktri moral, filosofi dan keagamaan yang masuk akal yang
ditegaskan oleh semua masyarakat, maka paham keadilan yang ditegaskan dalam susunan
demokratik social yang baik harus menjadi paham yang terbatas dengan apa disebut “wilayah
politik” dan nilai-nilainya. Point yang ingin ditekankan adalah bahwa masyarakat secara
individual memutuskan sendiri dalam cara paham politik umum yang ditegaskan
berhubungan dengan pandangan komprehensif mereka yang lebih jauh.

Konsensus Tumpang Tindih Tidaklah Skeptis, namun hanya berpaling dan tumpang
tindih terhadap konsepsi keadilan politik, yaitu penghindaran doktrin komprehensif dan
umum yang menyebutkan ketidak pandaian atau skeptisme sebagai konsepsi keadilan poltik
bisa menjadi benar. Reaksi dari hal ini akan fatal jika kita melihat konsepsi politik sebagai
skeptisme. Skeptisme atau ketidakpandaian akan menempatkan filosofi secara berlawanan
dengan jumlah besar doktrin komprehensif. Dan akhirnya mengalahkan tujuan dalam
mencapai konsesus tumpang tindih.

Konsepsi Politik Tidak Perlu Komprehensif, walaupun telah dikatakan bahwa


consensus tumpang tindih bukanlah modus vivensi, beberapa orang mungkin akan berkata
bahwa konsepsi politik haruslah umum dan komprehensif. Semakin dalam basis filosofi dan
konseptual pada konflik tersebut, semakin umum dna komprehensif tingkat pencerminan
filosofisnya.

Langkah Menuju Konsensus Konstitusional, ada dua langkah dalam mencapai hal
tersebut, langkah pertama berakhir dengan consensus konstitusional, kedua dengan consensus
tumpang tindih.

Tugas berikutnya adalah menjelaskan langkah-langkah dimana consensus


konstitusional pada prinsip tertentu dan hal-hal dasar politik dan kebebasan serta pada
prosedur demokrasai menjadi consensus tumpang tindih seperti yang sudah kita sebutkan,
meneybutkan beberapa hal yang berhubungan dengan kedalaman perluasan dan seberapa
tajamnya kelas konsepsi di fokuskan.
Supaya keadilan dapat menjelaskan pusat kelas, maka terdapat dua kondisi yang berperan :

1. Benar berdasarkan ide-ide fundamental sentral


2. Sangatlah stabil melihat tujuan yang mendukungnya dan didukung olehnya.\
Hukum Masyarakat (1993)
Keberadaan ide-ide keadilan liberal terhadap hukum masyarakat dalam dua tahap
yang masing-masing tahap memiliki dua cara.

Tahap pertama adalah teori idea, dimana keberadaan hukum masyarakata adalah
untuk penyusunan masyarakat liberal yang baik saja. Cara kedua dari teori ideal adalah yang
lebih sulit, dimana kita perlu mecirikan jenis masyarakat kedua yaitu masyarakat hirarki.
Tujuannya adalah untuk menerapkan hukum masyarakat kedalam masyrakat hirarki dan
untuk menunjukan bahwa meraka menerima hukum masyrakat yang sama seperti masyrakat
liberal. Oleh karena itu pembagian hukum masyrakat itu, pembagian hukum masyrakat ini
baik liberal maupun hirarki mecerminkan teori ideal.

Terdapat tiga persyaratan bagi rejim hirarki. Pertama masayrakat hirariki haruslah
damai dan meningkatkan tujuan legitimasinya melalui diplomasi dan perdagangan dan cara
damai lainnya. Doktrin keagamaan nya dianggap konvensional dan berpengaruh bagi
keamanan pemerintah.

Persyaratan fundamental kedua menggunakan ide-ide Philip Soper yang mana


memiliki beberapa bagian. Pertama system hukum masyrakat hirarki harus menerapkan
kewajiban dan tugas moral pada semua individu dalam semua wilayah kekuasannya. System
hukumnya dipandu oleh konsensi keadilan umum yang baik.

Persyaratan kedua ini dapat disebutkan dengan menambahkan bahwa institusi politik
dan masyarakat hirarki meliputi konsulasi hirarki yang beralasan termasuk badan
representative atau perkumpulan-perkumpulan lain, yang tugasnya untuk menjaga pentingnya
tujuan dari semua element masyrakat. Walaupun dalam masyrakat hirarki setiap individu
tidak digolongkan sebagai masyrakat yang bebas dan sama seperti dengan masyarakat yang
bebas dan sama seperti masyarakat yang liberal, mereka terlihat sebagai anggota masyarakat
yang bertangungjawab yang dapat mengenali kewajiban dan tugas moral dan memainkan
peran mereka dalam kehidupan social.

Hak Asasi Manusia


Ciri hak asasi manusia yaitu, pertama hak-hak ini tidak bergantung pada doktrin
komprehensif moral tertentu atau konsepsi filosofis terhadap kealamian manusia, contohnya
manusia adalah makhluk bermoral dan memiliki kesamaan nilai dan atau mereka memiliki
beberapa moral tertentu dan kekuatan intelektual yang menggabungkan mereka pada hak-hak
ini.

Hal uama yang dijelaskan disini adalah bahwa semua hak asasi manusia seperti yang
dijelaskn di atas dapat dilindungi dalam Negara bagaian hirarki yang memiliki pemerintahan
yang baik dengan komunikasi hirarkinya yang memegang skema hak-hak politik hegel yang
mencakup untuk semua hak. System hukumnya dapat memenuhi kondisi yang ada dan
memahami hak untuk hidup dan keamanan, bagi kekayaan pribadi dan element-element
peraturan hukum, seperti hak kebebasan berpendaat dan berkumpul yang juga memastikan
hak-hak ini bagi individu sebagai anggota 10kepti bagian dan bukan sebagai penduduk. Tapi
itu bukanlah masalah. Hak-hak tersebu dijamin dan bahwa system hukum harus memberikan
hak-hak moral maka kewajibanpun terpenuhi.
Hak asasi manusia memiliki tiga peran :

1. Merupakan kondisi yang penting bagi legitimasi rejim dan bagi kelayakan peritah
hukumnya.
2. Dengan penggunaan yang tepat, hak asasi manusia juga cukup untuk mengeluarkan
pembenaran dan paksaan intervensi dari orang lain, contohnya oleh sanksi ekonomi.
3. Hak asasi manusia menetukan batasan terhadap pluralisme di dalam masyrakat.

Kesimpulan
Aliran positivisme klasik dan pemikiran modern mengenai kemampuan analisis serta
normatif yurisprudensi adalah satu kesatuan rangkaian yang tidak bisa dihindari. Aliran
positivisme klasik yang merupakan hukum asli itu sendiri, menggambarkan hukum tidak lagi
memikirkan mengenai hal-hal yang bersifat filosofis mengenai keberadaan hukum, atau
tujuan daripada hukum itu. Melainkan, aliran positivisme klasik menekankan bahwa hukum
itu berasal dari adanya kebutuhan manusia yang bersifat konkret serta dibentuk oleh adanya
lembaga yang berwenang. Sedangkan, pemikiran modern mengenai kemampuan analisis
serta normatif yurisprudensi melihat bahwa adanya perkembangan pemikiran modern yang
menganggap kebutuhan manusia yang semakin kompleks, sehingga dengan melihat adanya
preseden terkait beberapa disiplim ilmu, maka terkadang terjadi percampuran pemikiran
dengan disiplin ilmu lainnya, seperti munculnya konsep liberalisme politik, hukum dan
masyarakat, dan konsep hak asasi manusia.

Anda mungkin juga menyukai