Anda di halaman 1dari 65

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena berkat
dan rahmatNya makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah dengan
judul “Patient Safety, etika dan kewenangan bidan serta evidence based dalam asuhan
kebidanan kehamilan.” ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Asuhan
Kebidanan Kehamilan di Prodi DIV Alih Jenjang Kebidanan Tasikmalya Politeknik
Kesehatan Tasikmalaya.

Kami menyadari dalam proses penyusunan laporan ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun agar meningkatkan kualitas penulisan laporan selanjutnya. Untuk itu
Kami menyampaikan rasa terimakasih kepada setiap pihak yang telah membantu
Kami dalam menyelesaikan laporan ini. Akhirnya semoga Tuhan senantiasa
memberkati kita semua.

Tasikmalaya, 1 Oktober 2019

Penyusun

i
DAFAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................................. i


DAFAR ISI .............................................................................................................................. ii
DAFTAR TABEL .................................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................................ 1
1.1. Latar Belakang .......................................................................................................... 1
1.2. Tujuan ....................................................................................................................... 2
1.2.1. Tujuan Umum ................................................................................................... 2
1.2.2. Tujuan Khusus .................................................................................................. 2
BAB II TINJAUAN TEORI ................................................................................................... 3
2.1. Patient Safety dan Pencegahan Infeksi dalam Asuhan Kehamilan ........................... 3
2.1.1. Patient Safety dalam Asuhan Kehamilan .......................................................... 3
2.1.2. Pencegahan Infeksi dalam Asuhan Kehamilan ............................................... 11
2.2. Etika dan Kewenangan Bidan dalam Asuhan Kehamilan....................................... 22
2.2.1 Etika dalam Asuhan Kehamilan ...................................................................... 22
2.2.2 Kewenangan Bidan dalam Asuhan Kehamilan ............................................... 28
2.3. Evidence Based dalam Asuhan Kehamilan dan Kajian Jurnal ................................ 38
2.3.1. Evidence Based dalam Asuhan Kehamilan ..................................................... 38
2.3.2. Kajian Jurnal ................................................................................................... 45
2.3. 3. Contoh Kasus .................................................................................................. 45
BAB III PENUTUP ............................................................................................................... 58
3.1. Kesimpulan ............................................................................................................. 58
3.2. Saran ....................................................................................................................... 59
DAFTAR PUSTAKA

ii
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Distribusi Tindakan Yang Memerlukan Sarung Tangan. .......................... 15

Tabel 2.2 Distribusi Efektifitas Tindakan dalam Pemrosesan Alat Bekas Pakai ....... 20

Tabel 2.3 Skrining Imunisasi TT ............................................................................... 44

Tabel 2.4 Interval dan Masa Perlindungan TT........................................................... 45

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Bidan muncul sebagai wanita terpercaya dalam mendampingi dan
menolong ibu melahirkan. Bidan adalah profesi yang diakui secara nasional
maupun internasional oleh sejumlah praktisi diseluruh dunia. Pengertian bidan
dan bidang praktiknya secara internasional telah diakui oleh International
Confederation of Midwife (ICM), Federation International Of Gynaecologist
and Obstertrian (FIGO) dan World Health Organization (WHO) sedangkan
secara nasional telah diakui oleh Ikatan Bidan Indonesia (IBI) sebagai
organisasi profesi bidan di Indonesia. Peran bidan dimasyarakat sangat
dihargai dan dihormati karena tugasnya yang sangat mulia, memberi
semangat, membesarkan hati dan mendampingi, serta menolong ibu
melahirkan dan merawat bayinya dengan baik.
Praktik kebidanan merupakan suatu praktik penuh risiko. Tindakan
diagnostik maupun terapetik tidak pernah lepas dari kemungkinan cedera,
syok hingga meninggal. Selain itu, pada umumnya hasil suatu pengobatan
tidak dapat diramalkan secara pasti. Seorang bidan dikatakan melakukan
malpraktik jika ia melakukan praktik kebidanan sedimikian buruknya, berupa
kelalaian besar, kecerobohan yang nyata atau kesengajaan yang tidak
mungkin dilakukan oleh bidan pada umumnya dan bertentangan dengan
undang-undang, sehingga pasien mengalami kerugian.
Untuk itu menjadi bidan yang profesional dan bertanggung jawab
harus selalu memperhatikan sekecil apapun yang berkaitan dengan
keselamatan pasien. Sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Hampir setiap tindakan medis menyimpan potensi risiko. Banyaknya
jenis obat, jenis pemeriksaan dan prosedur, serta jumlah pasien dan staf yang

1
cukup besar, merupakan hal yang potensial bagi terjadinya kesalahan medis
(medical errors).
WHO mencanangkan World Alliance for Patient Safety, program
bersama dengan berbagai negara untuk meningkatkan keselamatan pasien di
rumah sakit. Di Indonesia, telah dikeluarkan pula Kepmen nomor
496/Menkes/SK/IV/2005 tentang Pedoman Audit Medis di Rumah Sakit,
yang tujuan utamanya adalah untuk tercapainya pelayanan medis prima di
rumah sakit yang jauh dari medical error dan memberikan keselamatan bagi
pasien. Perkembangan ini diikuti oleh Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh
Indonesia (PERSI) yang berinisiatif melakukan pertemuan dan mengajak
semua stakeholder rumah sakit untuk lebih memperhatian keselamatan pasien.

1.2.Tujuan
1.2.1. Tujuan Umum
Untuk menjelaskan mengenai patient safety, etika dan
kewenangan bidan serta evidence based dalam asuhan kebidanan
kehamilan.
1.2.2. Tujuan Khusus
1. Menjelaskan patient safety dan pencegahan infeksi dalam asuhan
kehamilan
2. Menerangkan etika dan kewenangan bidan dalam asuhan
kehamilan
3. Menunjukan evidence based dalam asuhan kehamilan dan kajian
jurnal

2
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1. Patient Safety dan Pencegahan Infeksi dalam Asuhan Kehamilan


2.1.1. Patient Safety dalam Asuhan Kehamilan
1. Definisi
Menurut Depkes RI 2006 Patient safety atau keselamatan
pasien adalah suatu sistem yang membuat asuhan klien di rumah sakit
menjadi lebih aman. Sistem ini mencegah terjadinya cedera yang
disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau
tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil.
2. Tujuan
1) Terciptanya budaya keselamatan pasien di rumah sakit
2) Meningkatkan akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan
masyarakat
3) Menurunkan KTD
4) Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi
pengulangan KTD
3. Langkah-langkah
Pelaksanaan patient safety meliputi:
1) Sembilan solusi keselamatan pasien di RS (who Collaborating
Center for Patient Safety, 2 Mei 2007) yaitu:
a. Perhatikan nama obat, rupa dan ucapan miring
b. Pastikan identifikasi pasien
c. Komunikasi secara benar saat serah terima pasien
d. Pastikan tindakan yang benar pada sisi tubuhbyang benar
e. Kendalikan cairan elektrolit pekat
f. Pastikan akurasi pemberian obat pada penglihatan pelayanan
g. Hindari salah kateter dan salah sambung slang

3
h. Gunakan alat injeksi sekali pakai
i. Tingkatkan kebersihan tangan untuk pencegahan infeksi
nasokomial
2) Tujuh Standar Keselamatan Pasien (Mengacu pada Hospital Patient
Safety Standards yang di keluarkan oleh Join Commision on
Accreditation of Health Organizations, Illinois, USA, 2002) yaitu:
a. Hak pasien
Standarnya adalah Pasien dan keluarganya mempunyai hak
untuk mendapatkan informasi tentang rencana dan hasil
pelayanan termasuk kemungkinan KTD (Kejadian Tidak
Diharapkan).
Kriterianya adalah
a) Harus ada dokter penanggung jawab pelayanan
b) Dokter penanggung jawab pelayanan wajib memberikan
penjelasan yang jelas dan benar kepadapasien dan keluarga
tentang rencana dab hasil pelayanan, pengobatan atau
prosedur untuk pasien termasuk kemuningkan terjadinya
KTD
b. Mendidik keluarga pasien
Standarnya adalah Rumah sakit harus mendidik pasien tentang
kewajiban dan tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien.
Kriterianya adalah Keselamatan dalam memberikan pelayanan
dapat di tingkatkan dengan keterlibatan pasien adalah partner
dalam proses pelayanan, karena itu di rumah sakit harus ada
sistem dan mekanisme mendidik pasien dan keluarga pasien
tentang kewajiban dan tanggung jawab pasien dalam asuhan
pasien. Dengan pendidikan tersebut diharapkan pasien dan
keluarga dapat :
a) Memberikan informasi yang jelas, lengkap dan jujur
b) Mengetahui kewajiban dan tanggung jawab

4
c) Mengajukan pertanyaan untuk hal yang tidak dimengerti
d) Memahami dan menerima konsekuensi pelayanan
e) Mematuhi instruksi dan menghormati peraturan rumah
sakit
f) Memperlihatkan sikap menghormati dan tenggang rasa
g) Memenuhi kewajiban finansial yang disepakati
c. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan
Standarnya adalah Rumah sakit menjamin kesinambungan
pelayanan dan menjamin koordinasi antar tenaga dan antar unit
pelayanan. Kriterianya adalah
a) Koordinasi pelayanan secara menyeluruh
b) Koordinasi pelayanan disesuaikan kebituhan pasien dan
kelayakan sumber daya
c) Koordinasi pelayanan mencakup peningkatan komunikasi
d) Komunikasi dan transfer informasi antar profesi
kesehatan
d. Penggunaan metode-metode peningkatan kinerja untuk
melakukan evaluasi dan program peningkatan keselamatan
pasien. Standarnya adalah Rumah sakit mendisign proses baru
atau memperbaiki proses yang ada, memonitor dan
mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data, menganalisis
secara intensif KTD dan melakukan perubahan untuk
meningkatkan kinerja serta KTD. Kriterianya adalah
a) Setiap rumah sakit melakukan rancangan (design) yang
baik sesuai dengan “Tujuh Langkah Menuju Keselamatan
Pasien Rumah Sakit”
b) Setiap rumah sakit harus melakukan pengumpulan data
kinerja
c) Setiap rumah sakit harus melakukan evaluasi intensif

5
d) Setiap rumah sakit harus menggunakan semua data
semua data dan informasi hasil analisis
e. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan
pasien.
Standarnya adalah
a) Pimpinan dorong dan jamin implementasi program
keselamatan pasien melalui “7 Langkah Menuju
Keselamatan Pasien di Rumah Sakit”
b) Pimpinan menjamin berlangsungnya program proaktif
dan indentifikasi risiko keselamatan pasien dan
mengurangi KTD
c) Pimpinan dorong dan tumbuhkan komunikasi dan
koordinasi antar unit dan individu berkaitan dengan
pengambilan keputusan tentang keselamatan pasien
d) Pemimpin mengalokasikan sumber daya yang adekuat
untuk mengukur, mengkaji dan meningkatkan kinerja
rumah sakit serta tingkatkan keselamatan pasien
e) Pemimpin mengukur dan mengkaji efektifitas konstribusi
dalam meningkatkan kinerja rumah sakit dan keselamatan
pasien
Kriterianya adalah
a) Terdapat tim antar disiplin untuk mengelola program
keselamatan pasien
b) Terdapat tim program proaktifuntuk identifikasi risiko
keselamatan dan program meminimalkan insden
c) Tersedia mekanisme kerja untuk menjamin bahwa semua
komponen dari rumah sakit terintegritas dan
berpartisipasi
d) Tersedia prosedur “cepat tanggap” terhadap insiden,
termasuk asuhankepada pasien yang terkena musibah,

6
membatasi risiko pada orang lain dan penyimpanan
informasi yang benar dan jelas untuk keperluan analisis
e) Tersedia mekanisme pelaporan internal dan eksternal
berkaitan dengan insiden
f) Tersedia mekanisme untuk menangani berbagai jenis
insiden
g) Terdapat kolaborasi dan komunikasi terbuka secara
sukarela antar unit dan antar pengelolaan pelayanan
h) Tersedia sumber daya dan sisitem informasi yang
dibutuhkan
i) Tersedia sasaran terukur dan pengumpulan informasi
menggunakan kriteria objektif untuk mengevaluasi
efektifitas perbaikan kinerja rumah sakit dan keselamatan
pasien
f. Mendidik staf tentang keselamatan pasien
Standarnya adalah
a) Rumah sakit memiliki proses pendidikan, pelatihan dan
orientasi untuk setiap jabatan mencakup keterkaitan
jabatan dnegan keselamatan pasien secara jelas
b) Rumah sakit menyelenggarakan pendidikan dan
pelatihan yang berkelanjutan untuk meningkatkan dan
memelihara kopetensi staf serta mendukung pendekatan
interdisiplin dalam pelayanan pasien
Kriterianya adalah
a) Memiliki program diklat dan orientasi bagi staf baru
yang memuat topik keselamatan pasien
b) Mengintegrasi topik keselamatan pasien dalam setiap
kegiatan inservice dan memberi pedoman yang jelas
tentang pelaporan insiden

7
c) Menyelenggarakan pelatihan tentang kerjasama
kelompok (teamwork) guna mendukung pendekatan
komunikasi dan kolaboratif dalam rangka melayani
pasien
g. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai
keselamatan pasien
Standarnya adalah
a) Rumah sakit merencanakan dan mendesign proses
manajemen informasi keselamatan pasien untuk
memenuhi kebutuhan informasi internal dan eksternal
b) Transmisi data dan informasi harus tepat waktu dan
akurat
Kriterianya adalah
a) Disediakan anggaran untuk merencanakan dan
mendesign proses manajemen untuk memperoleh data
dan informasi tentang hal-hal terkait dengan
keselamatan pasien
b) Tersedia mekanisme identifikasi masalah dan kendala
komunikasi untuk merevisi menejemen informasi yang
ada
4. Medical Error
Human error (kesalahan manusia) merupakan hal yang
Menurut Reason (1997) mendefinisikan medical error merupakan
deviasi atau penyimpangan dari proses perawatan yang mungkin (atau
tidak) dapat menyebabkan kerugian bagi pasien. Pengertian tentang
medical error ini secara eksplisit mencakup domain kunci dari
penyebab kekeliruan (omission, commission, perencanaan dan
pelaksanaan).

8
Definisi tersebut menggambarkan bahwa setiap tindakan yang
dilaksanakan tetapi tidak sesuai dengan rencana atau prosedur sudah
dianggap sebagai medical error.
Dampak medical error sangat beragam mulai dari yang ringan
dan sifatnya refersible hingga yang berat berupa kecacatan atau
bahkan kematian, sebagian penderita terpaksa harus dirawat di rumah
sakit lebih lama (prolonged hospitalization) yang akhirnya berdampak
pada biaya perawatan yang lebih besar. (Dwiprahasto, 2004)
1) Tipe-Tipe Medical Error
Secara teknis medical error dapat dibagi menjadi 2, yaitu :
a) Error of omission. Hal yang termasuk dalam error of
omission adalah kesalahan dalam mendiagnosis,
keterlambatan dalam penanganan pasien atau tidak
meresepkan obat. Dalam keseharian, daftar error of
omission tentu akan sangat panjang jika diidentifikasi satu
persatu. Melakukan apandiktomi tanpa disertai dengan
pemeriksaan patologi anatomi termasuk error of omission
yang sering terjadi.
b) Error of commission. Hal yang termasuk error of
commission adalah kesalahan dalam memutuskan pilihan
terapi, memberikan obat yang salah atau obat diberikan
melalui cara pemberian yang keliru. Kebiasaan untuk
meresepkan antibiotika pada penyakit-penyakit ringan
(minor ailment) atau memberikan obat per injeksi padahal
pemberian secara oral lebih aman termasuk dalam kategori
error of commission.
Berdasarkan proses terjadinya medical error dapat digolongkan
sebagai:
(1) Diagnostik, antara lain berupa: kesalahan atau keterlambatan
dalam menegakkan diagnosis, tidak melakukan suatu

9
pemeriksaan padahal ada indikasi untuk itu, penggunaan uji atau
pemeriksaan atau terapi yang sudah tergolong usang atau tidak
dianjurkan lagi.
(2) Treatment, diantaranya adalah kesalahan (error) dalam
memberikan obat, dosis terapi yang keliru, atau melakukan terapi
secara tidak tepat (bukan atas indikasi).
(3) Preventive, dalam kategori ini termasuk tidak memberikan
profilaksi untuk situasi yang memerlukan profilaksi dan
pemantauan atau melakukan tindak lanjut terapis secara tidak
adikuat
(4) Lain-lain, misalnya kegagalan dalam komunikasi, alat medik
yang digunakan tidak memadai atau kesalahan akibat kegagalan
sistem (system failure).
Penyebab Medical Error
1) Human Error
Paling sering terjadi dalam kasus medical error. Human error
dapat terjadi karena kurang telitinya tenaga medis dalam
memberikan pelayanan kesehatan. Selain itu dapat dikarenakan
karena kurang terlatihnya tenaga medis tersebut.
2) Faktor organization
Faktor organization atau instansi kesehatan dapat menjadi
penyebab medical error karena dalam instansi peralatan medis
yang digunakan tidak layak pakai atau tidak steril. Selebihnya
medical error dapat terjadi karena aturan-aturan yang ketat dari
instansi yang menjadikan pasien tidak segara mendapatkan
pertolongan. Selain itu keterlambatan mengambil keputusan dari
pihak instansi juga dapat menjadi penyebab medical error.

10
2.1.2. Pencegahan Infeksi dalam Asuhan Kehamilan
1. Definisi
Pencegahan infeksi adalah bagian esensial dari asuhan lengkap yang
diberikan kepada ibu dan bayi baru lahir dan harus dilaksakan secara
rutin pada saat menolong persalinan dan kelahiran bayi,saat memberikan
asuhan dasar selama kunjungan antenatal atau pasca persalinan/bayi
baru lahir atau saat menatalaksana penyulit. Tindakan ini harus
diterapkan dalam setiap aspek asuhan untuk melindungi ibu, bayi baru
lahir, keluarga, penolong persalinan dan tenaga kesehatan lainnya. Juga
upaya-upaya menurunkan resiko terjangkit atau terinfeksi
mikroorganisme yang menimbulkan penyakit-penyakit berbahaya
(Wiknjosastro,G, 2008).
2. Prinsip Pencegahan Infeksi
Pencegahan infeksi yang efektif didasarkan pada prinsip-prinsip berikut:
1) Setiap orang (ibu, bayi baru lahir, penolong persalinan) harus
dianggap dapat menularkan penyakit karena infeksi yang terjadi
bersifat asimptomatik (tanpa gejala)
2) Setiap orang harus dianggap beresiko terkena infeksi
3) Permukaan tempat pemeriksaan, peralatan dan benda-benda lain yang
akan dan telah bersentuhan dengan kulit tak utuh/selaput mukosa
atau darah, harus diangap terkontaminasi sehingga setelah selesai
digunakan harus dilakukan proses pencegahan infeksi secara benar.
4) Jika tidak diketahui apakah permukaan, peralatan atau benda lainnya
telah diproses dengan benar, maka semua itu harus dianggap masih
terkontaminasi.
5) Resiko infeksi tidak bisa dihilangkan secara total, tapi dapat
dikurangi hingga sekecil mungkin dengan menerapkan tindakan-
tindakan pencegahan infeksi yang benar dan konsisten.
(Wiknjosastro, G, 2008)

11
3. Penatalaksanaan Pencegahan Infeksi
Ada berbagai praktek pencegahan infeksi yang membantu mencegah
mikroorganisme berpindah dari satu individu ke individu lainnya (ibu,
bayi baru lahir, dan para penolong persalinan) sehingga dapat memutus
rantai penyebar infeksi, penatalaksanaan pencegahan infeksi antara lain
sebagai berikut :
1) Cuci tangan
Cuci tangan adalah prosedur yang paling penting dari pencegahan
penyebaran infeksi yang menyebabkan kesakitan dan kematian ibu
dan bayi baru lahir. Cuci tangan harus dilakukan :
a. Segera setelah tiba ditempat kerja
b. Sebelum melakukan kontak fisik secara langsung dengan ibu
atau bayi baru lahir
c. Setelah kontak fisik langsung dengan ibu atau bayi baru lahir
d. Sebelum memakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau
steril
e. Setelah melepaskan sarung tangan (kontaminasi melalui lubang
atau robekan sarung tangan)
f. Setelah menyentuh benda yang mungkin terkontaminasi oleh
darah atau cairan tubuh lainnya atau setelah menyentuh selaput
mukosa (misalnya hidung, mulut, mata, vagina) meskipun saat
itu sedang menggunakan sarung tangan
g. Setelah kekamar mandi
h. Sebelum pulang kerja
Prosedur cuci tangan :
a. Lepaskan perhiasan di tangan dan pergelangan.
b. Basahi tangan dengan air bersih dan mengalir
c. Gosok dengan kuat kedua tangan, gunakan sabun biasa atau
yang mengandung anti mikroba selama 15 sampai 30 detik

12
(pastikan menggosok sela – sela jari). Tangan yang terlihat
kotor harus dicuci lebih lama.
d. Bilas tangan dengan air bersih yang mengalir.
e. Biarkan tangan kering dengan cara diangin – anginkan atau
keringkan dengan kertas tisu yang bersih dan kering atau
handuk pribadi yang bersih dan kering.
f. Bila menggunakan sabun padat (misalnya sabun batangan),
gunakan dalam potongan-potongan kecil dan tempatkan sabun
dalam wadah yang berlubang-lubang untuk mencegah air
menggenangi sabun tersebut.
g. Jangan mencuci tangan dengan jalan mencelupkannya ke dalam
wadah berisi air meskipun air tersebut sudah ditambah larutan
antiseptik. Mikroorganisme dapat bertahan hidup dan
berkembang biak dalam larutan tersebut.
h. Bila tidak tersedia air mengalir :
(1) Gunakan ember tertutup dengan keran yang bisa ditutup
pada saat mencuci tangan dan dibuka kembali jika akan
membilas.
(2) Gunakan botol yang sudah diberi lubang agar air bisa
mengalir.
(3) Minta orang lain menyiramkan air ke tangan.
(4) Gunakan pencuci tangan yang mengandung anti mikroba
berbahan dasar alkohol (campurkan 100 mL 60-90%
alcohol dengan 2 mL gliserin. Gunakan kurang lebih 2 mL
dan gosok kedua tangan hingga kering, ulangi tiga kali).
i. Keringkan tangan anda dengan handuk bersih dan kering.
Jangan menggunakan handuk yang juga digunakan oleh orang
lain. Handuk basah/ lembab adalah tempat yang baik untuk
mikroorganisme berkembang biak.

13
j. Bila tidak ada saluran air untuk membuang air yang sudah
digunakan, kumpulkan air di baskom dan buang ke saluran
limbah atau jamban dikamar mandi. (Wiknjosastro, G, 2008).
2) Memakai sarung tangan dan perlengkapan pelindung lainnya
Pakai sarung tangan sebelum menyentuh sesuatu yang basah
(kulit tak utuh, selaput mukosa, darah atau cairan tubuh lainnya)
atau peralatan, sarung tangan atau sampah yang terkontaminasi.
Jika sarung tangan diperlukan, ganti sarung tangan untuk
menangani setiap ibu atau bayi baru lahir setelah terjadi kontak
langsung untuk menghindari kontaminasi silang atau gunakan
sarung tangan yang berbeda untuk situasi yang berbeda pula.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemakaian sarung
tangan:
a. Gunakan sarung tangan steril atau disinfeksi tingkat tinggi
untuk prosedur apapun yang akan mengakibatkan kontak
dengan jaringan dibawah kulit seperti persalinan, penjahitan
vagina atau pengambilan darah
b. Gunakan sarung tangan periksa yang bersih untuk menangani
darah atau cairan tubuh
c. Gunakan sarung tangan rumah tangga atau tebal untuk
mencuci peralatan, menangani sampah, juga membersihkan
darah atau cairan tubuh.
Sarung tangan sekali pakai lebih dianjurkan, tapi jika sarananya
sangat terbatas, sarung tangan bisa digunakan berulang kali jika
dilakukan dekontaminasi, cuci dan bilas, desinfeksi tingkat tinggi
atau sterilisasi. Jika sarung tangan sekali pakai digunakan berulang
kali, jangan diproses lebih dari tiga kali karena mungkin telah
terjadi robekan / lubang yang tidak terlihat atau sarung tangan dapat
robek pada saat sedang digunakan.

14
Tabel 2.1 Distribusi Tindakan yang Memerlukan Sarung
Tangan
Prosedur/Tindakan Sarung Sarung Sarug
Tangan Tangan Tangan
DTT Steril
Memeriksa tekanan darah Tidak Tidak Tidak
atau suhu, menyuntik.
Mengambil contoh Ya Ya Tidak
darah/pemasangan IV
Memegang dan Ya Ya Tidak
membersihkan peralatan
yang terkontaminasi
Memegang sampah yang Ya Tidak Tidak
terkontaminasi
Membersihkan cairan darah Ya Tidak Tidak
atau cairan tubuh

3) Menggunakan teknik asepsis dan aseptik


Teknik aseptik meliputi beberapa aspek :
a. Penggunaan perlengkapan pelindung pribadi. Perlengkapan
pelindung pribadi mencegah petugas terpapar
mikroorganisme penyebab infeksi dengan cara menghalangi
atau membatasi (kaca mata pelindung, masker wajah, sepatu
boot atau sepatu tertutup, celemek) petugas dari cairan
tubuh, darah atau cedera selama melaksanakan prosedur
klinik. Masker wajah dan celemek plastik sederhana dapat
dibuat sesuai dengan kebutuhan dan sumber daya yang
tersedia di masing-masing daerah jika alat atau
perlengkapan sekali pakai tidak tersedia.

15
b. Antisepsis. Antisepsis adalah tindakan yang dilakukan untuk
mencegah infeksi dengan cara membunuh atau mengurangi
mikroorganisme pada jaringan tubuh atau kulit. Karena kulit
dan selaput mukosa tidak dapat disterilkan maka
penggunaan antiseptik akan sangat mengurangi jumlah
mikroorganisme yang akan mengkontaminasi luka terbuka
dan menyebabkan infeksi. Cuci tangan secara teratur
diantara kontak dengan setiap ibu atau bayi baru lahir, juga
membantu untuk menghilangkan sebagian besar
mikroorganisme pada kulit.
c. Menjaga tingkat sterilitas atau disinfeksi tingkat tinggi
(1) Gunakan kain steril
(2) Berhati-hati jika membuka bungkusan atau
memindahkan bendabenda ke daerah yang steril/
disinfeksi tingkat tinggi
(3) Hanya benda-benda steril disinfeksi tingkat tinggi atau
petugas dengan atribut yang sesuai yang diperkenankan
untuk memasuki daerah steril/ disinfeksi tingkat tinggi
(4) Anggap benda apapun basah, terpotong atau robek
sebagai benda yang terkontaminasi
(5) Tempatkan daerah steril/disinfeksi tingkat tinggi jauh
dari pintu atau jendela
(6) Cegah orang-orang yang tidak memakai sarung tangan
disinfeksi tingkat tinggi atau steril menyentuh peralatan
yang ada di daerah steril
4) Memproses alat bekas pakai
Pemprosesan peralatan (terbuat dari logam, plastik, dan karet) serta
benda–benda lainnya dengan upaya pencegahan infeksi,
direkomendasikan untuk melalui tiga langkah pokok yaitu :

16
a. Dekontaminasi. Dekontaminasi adalah langkah pertama yang
penting dalam menangani peralatan, perlengkapan, sarung
tangan, dan benda – benda lainnya yang terkontaminasi. Untuk
perlindungan lebih jauh, pakai sarung tangan karet yang tebal
atau sarung tangan rumah tangga dari lateks, jika menangani
peralatan yang sudah digunakan atau kotor. Segera setelah
digunakan, masukkan benda-benda yang terkontaminasi ke
dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit. Daya kerja larutan
klorin akan cepat mengalami penurunan sehingga harus diganti
paling sedikit setiap 24 jam, atau lebih cepat jika terlihat telah
kotor atau keruh.
b. Pencucian dan pembilasan. Pencucian adalah cara paling efektif
mikroorganisme pada peralatan/perlengkapan yang kotor atau
sudah digunakan. Baik sterilisasi maupun disinfeksi tingkat
tinggi menjadi kurang efektif tanpa proses pencucian
sebelumnya jika benda-benda yang terkontaminasi tidak dapat
dicuci segera setelah dikontaminasi, bilas peralatan dengan air
untuk mencegah korosi dan menghilangkan bahan-bahan
organik, lalu cuci tangan dengan seksama secepat mungkin.
Perlengkapan / bahan – bahan untuk mencuci peralatan :
(1) Sarung tangan karet yang tebal atau sarung tangan
rumah tangga dari lateks.
(2) Sikat halus (boleh menggunakan sikat gigi).
(3) Tabung suntik (minimal ukuran 10 ml, untuk
membilas bagian dalam kateter, termasuk kateter
penghisap lendir).
(4) Wadah plastik atau baja antikarat (stainless steel).
(5) Air bersih
(6) Sabun atau deterjen.

17
Tahap – tahap pencucian dan pembilasan :
a) Pakai sarung tangan karet yang tebal pada kedua
tangan.
b) Ambil peralatan bekas pakai yang sudah
didekontaminasi.
c) Agar tidak merusak benda – benda yang terbuat dari
plastic atau karet, jangan dicuci segera bersamaan
dengan peralatan yang terbuat dari logam.
d) Cuci setiap benda tajam secara terpisah dan hati – hati :
(1). Gunakan sikat dengan air dan sabun untuk
menghilangkan sisa darah dan kotoran.
(2). Buka engsel gunting dan klem.
(3). Sikat dengan seksama terutama di bagian
sambungan dan pojok peralatan.
(4). Pastikan tidak ada sisa darah dan kotoran yang
tertinggal pada peralatan.
(5). Cuci setiap benda sedikitnya tiga kali (atau lebih
jika perlu) dengan air dan sabun atau deterjen.
(6). Bilas benda – benda tersebut dengan air bersih.
e) Ulangi prosedur tersebut pada benda – benda lain.
f) Jika peralatan akan didesinfeksi tingkat tinggi secara
kimiawi tempatkan peralatan dalam wadah yang bersih
dan biarkan kering sebelum memulai proses DTT.
g) Peralatan yang akan didesinfeksi tingkat tinggi dengan
cara dikukus atau direbus, atau disterilisasi di dalam
otoklaf atau oven panas kering, tidak usah dikeringkan
sebelum proses DTT atau sterilisasi dimulai.
h) Selagi masih memakai sarung tangan, cuci sarung
tangan dengan air dan sabun dan kemudian bilas secara
seksama dengan menggunakan air bersih.

18
i) Gantungkan sarung tangan dan biarkan kering dengan
cara diangin–anginkan. Untuk mencuci kateter
(termasuk kateter penghisap lendir), lakukan tahap-
tahap berikut ini :
i. Pakai sarung tangan karet yang tebal atau sarung
tangan rumah tangga dari lateks pada kedua tangan.
ii. Lepaskan penutup wadah penampung lendir (untuk
kateter penghisap lendir).
iii. Gunakan tabung suntik besar untuk mencuci bagian
dalam kateter sedikitnya tiga kali (atau lebih jika
perlu) dengan air dan sabun atau deterjen.
iv. Bilas kateter menggunakan tabung suntik dan air
bersih.
v. Letakkan kateter dalam wadah yang bersih dan
biarkan kering sebelum dilakukan proses DTT.
c. Desinfeksi Tingkat Tinggi (DTT) dan Sterilisasi. Disinfeksi
adalah tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan hampir
semua mikroorganisme penyebab penyakit pada bendabenda
mati / instrumen. Disinfeksi Tingkat Tinggi adalah tindakan yang
dilakukan untuk menghilangkan semua mikroorganisme kecuali
endospora bakteri dengan cara merebus atau secara kimiawi.
Sterilisasi adalah tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan
semua mikroorganisme (Bakteri, jamur, parasit dan virus)
termasuk endospora bakteri pada benda-benda mati atau
instrumen. (Wiknjosastro, G, 2008)
DTT dapat dilakukan dengan cara merebus, mengukur / secara
kimiawi (Wiknjosastro, G, 2008)

19
Tabel 2.2 Distribusi Efektfitas Tindakan dalam Pemrosesan Alat Bekas Pakai

Dekontaminasi Pencucian Pencucian DTT Sterilisasi


dengan air dengan
deterjen dan
Pembilasan
Efektivitas Membunuh Hingga Hingga 95% 100%
Virus AIDS 50% 80%
dan Hepatitis
Waktu kerja Rendam Cuci Cuci hingga Rebus Kukus (20-
yang selama 10 hingga bersih Kukus 30 mnit 106
diperlukan menit bersih atau kPa, 1210C)
secara panas
kimiawi kering (60
selama menit pada
20 menit suhu 1700C)

5) Menangani peralatan tajam dengan aman


Luka tusuk benda tajam (misalnya jarum) merupakan salah satu alur
utama infeksi HIV dan Hepatitis B di antara para penolong
persalinan. Oleh karena itu, perhatikan pedoman sebagai berikut;
(1) Letakkan benda-benda tajam diatas baki steril atau
disinfeksi tingkat tinggi atau dengan menggunakan “daerah
aman” yang sudah ditentukan (daerah khusus untuk
meletakkan dan mengambil peralatan tajam).
(2) Hati- hati saat melakukan penjahitan agar terhindar dari
luka tusuk secara tidak sengaja.
(3) Jangan menutup kembali, melengkungkan, mematahkan
atau melepaskan jarum yang akan dibuang.
(4) Buang benda-benda tajam dalam wadah tahan bocor dan
segel dengan perekat jika sudah dua pertiga penuh.Jangan
memindahkan bendabenda tajam tersebut ke wadah lain.

20
Wadah benda tajam yang sudah disegel tadi harus dibakar
didalam insinerator.
(5) Jika benda-benda tajam tidak bisa dibuang secara aman
dengan cara insinerasi,bilas tiga kali dengan larutan klorin
0,5% (dekontaminasi), tutup kembali menggunakan teknik
satu tangan dan kemudian kuburkan.
6) Mengelola sampah medik, menjaga kebersihan dan sanitasi
lingkungan.
Sampah terdiri dari yang terkontaminasi dan tidak terkontaminasi.
Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai maka penelitian ini
difokuskan kepada sampah terkontaminasi (darah, nanah, urin,
kotoran manusia, dan bendabenda yang tercemar oleh cairan tubuh)
yang berpotensi untuk menginfeksi siapapun yang melakukan
kontak atau menangani sampah tersebut, termasuk anggota
masyarakat. Pengelolaan sampah terkontaminasi meliputi :
(1) Setelah selesai melakukan suatu tindakan dan sebelum
melepaskan sarung tangan, letakkan sampah terkontaminasi
(kasa, gulungan kapas, perban, dan lain – lain) ke dalam
tempat sampah kedap air / kantong plastik sebelum dibuang.
(2) Hindarkan terjadinya kontak sampah terkontaminasi dengan
permukaan luar kantong.
(3) Pembuangan benda – benda tajam yang terkontaminasi
dengan menempatkannya dalam wadah tahan bocor
(misalnya botol air mineral dari plastik atau botol infus),
kotak karton yang tebal atau wadah yang terbuat dari logam.
(4) Singkirkan sampah terkontaminasi dengan cara dibakar. Jika
hal ini tidak memungkinkan, kubur bersama wadahnya.
(5) Bersihkan percikan darah dengan larutan klorin 0,5%
kemudian seka dengan kain atau pel.

21
(6) Bungkus atau tutupi linen bersih dan simpan dalam kereta
dorong atau lemari tertutup untuk mencegah kontaminasi
debu.
(7) Bersihkan tempat tidur, meja, dan troli dengan kain yang
dibasahi klorin 0,5% dan deterjen.
(8) Seka celemek dengan klorin 0,5%.
(9) Bersihkan lantai dengan lap kering, jangan disapu. Seka
lantai dengan campuran klorin 0,5% dan deterjen.
(10) Gunakan sarung tangan karet tebal atau sarung tangan
rumah tangga dari lateks.
(11) Bersihkan dinding, gorden, dan tirai sesering mungkin untuk
mencegah terkumpulnya debu. Bila terpecik darah segera
bersihkan dengan klorin 0,5%. (Wiknjosastro, G, 2008)
2.2. Etika dan Kewenangan Bidan dalam Asuhan Kehamilan
2.2.1 Etika dalam Asuhan Kehamilan
1. Definisi Etika
Etika dalah ilmu yang mempelajari baik buruknya suatu tingkah laku.
Etika adalah pengetahuan mengenai moralitas, menilai baik buruknya
perbuatan ditinjau dari segi moral. Legal/Hukum adalah himpunan
petunjuk atas kaidah/norma yang mengatur tata tertib dalam suatu
masyarakat agar msyarakat bisa teratur.
Etika dalam pelayanan kebidanan merupakan issu utama diberbagai
tempat. Hal tersebut membutuhkan bidan yang mampu menyatu dengan
ibu dan keluarga. Bidan harus berpartisipasi dalam memberikan
pelayanan kepada ibu sejak konseling, prakonsepsi, skreming antenatal,
layanan intrapartum, perawatan intensive pada neonatal dan
pengakhiran kehamilan.
2. Fungsi Etika dan Moralitas
1) Memenuhi hak-hak pasien
2) Menjaga otonomi dari setiap individu khususnya bidan dan klien

22
Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah
otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan
dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan
perundang-undangan. Secara harfiah, otonomi daerah berasal dari
kata otonomi dan daerah. Dalam bahasa Yunani, otonomi berasal
dari kata autos dan namos. Autos berarti sendiri dan namos berarti
aturan atau undang-undang, sehingga dapat dikatakan sebagai
kewenangan untuk mengatur sendiri atau kewenangan untuk
membuat aturan guna mengurus rumah tangga sendiri. Sedangkan
daerah adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-
batas wilayah. Pelaksanaan otonomi daerah selain berlandaskan
pada acuan hukum, juga sebagai implementasi tuntutan globalisasi
yang harus diberdayakan dengan cara memberikan daerah
kewenangan yang lebih luas, lebih nyata dan bertanggung jawab,
terutama dalam mengatur, memanfaatkan dan menggali sumber-
sumber potensi yang ada di daerahnya masing-masing.
3) Melakukan tindakan kebaikan dan mencegah tindakan
merugikan/membahayakan orang lain
bidan diatur dalam etika memberikan asuhan pelayanan sesuai
standar asuhan dan dalam melakukan asuhan telah di atur dalam
standar dan menerapka etika dalam asuhannya.
4) Mejaga privasi setiap individu
Dalam melaksanakan pelayanannya bidan memang wajib
melakukan pengakuan menjaga privasi pasien yang berdasarkan
perturan yang di tetapkan dalam standar.
5) Bersikap adil dan bijaksana
Bidan di tutut bukan hanya pemberi pelayanan kesehatan melainkan
memberikan asuhan dan pendidikan, contonya seperti konseling
baik itu pada orang dewasa mau pun anak-anak untuk meberikan
pendidikan yang sesuai etika.

23
6) Sebagai acuan dalam berperilaku sesuai norma
7) Memberikan informasi yang benar
8) Melakukan tindakan yang benar
9) Menjadi acuan dalam pemasalahan masalah etik.
10) Berperilaku sesuai dengan etika dan kode etik profesi
11) Mengatur tatacara pergaulan baik di dalam tata tertib masyarakat
maupun tata cara di dalam organisasi profesi.
3. Hak dan Kewajiban Klien
Hak Klien :
Setiap klien berhak memperoleh:
1) Informasi
2) Akses kesehatan
3) Memilih pelayanan kesehatan
4) Keamanan
5) Privasi
6) Kerahasiaan
7) Dihormati
8) Mengemukakan pendapat
9) Mendapat kenyamanan
10) Pelayanan berkelanjutan (UU Kesehatan no. 36 tahun 2009)
Hak Reproduksi :
1) Hak informasi dan pendidikan kesehatan reproduksi
2) Hak pelayanan dan perlindungan kesehatan reproduksi
3) Hak kebebasan berfikir tentang kesehatan reproduksi
4) Hak menentukan jumlah anak dan jarak kehamilan
5) Hak untuk hidup (hak untuk dilindungi dari kematian karena
kehamilan dan proses melahirkan)
6) Hak kebebasan dan keamana berkaitan dengan kesehatan
reproduksi

24
7) Hak untuk bebas dari penganiayaan dan perlakuan buruk
termasuk perlindungan dari pemerkosaan, kekerasan, penyiksaan
dan pelecehan seksual
8) Hak untuk mendapatkan manfaat dari kemajuan ilmu
pengetahuan yang terkait dengan kesehatan reproduksi
9) Hak atas kerahasiaan pribadi dengan kehidupan reproduksinya
10) Hak atas kebebasan berkumpul dan berpartisipasi dalam politik
yang berkaitan dengan system reproduksi
11) Hak untuk bebas dari segala bentuk diskriminasi dalam
kehidupan berkeluarga dan kehidupan reproduksi
Memperhatikan hak-hak tersebut diatas, maka bidan juga dituntut
memberikan informasi dengan jelas, konseling dan pendidikan
kesehatan. Bidan dalam memberikan pelayanan harus memperhatikan
keselamatan pasien (Patient safety), pelayanan prima (Sevice Excelent)
dan hak-hak klien. Pelayanan kebidanan harus memperhatikan
Evidence Based Medicine (EBM) yaitu keterpaduan antara bukti
ilmiah yang berasal dari studi yang dipercaya (Best research evidence)
dan keahlian klinik (Clinical Expertise) serta nilai-nilai yang ada pada
masyarakat untuk menemukan, menelaah, mereview dan
memanfaatkan hasil-hasil studi yang digunakan sebagai pengambil
keputusan. (Modul Midwifery Update 2016)
Kewajiban Klien :
1) Klien dan keluarganya wajib mentaati peraturan dan tata tertib
rumah sakit atau institusi pelayanan kesehatan
2) Klien berkewajiban untuk memenuhi segala instruksi dokter,
bidan dan perawat yang merawatnya
3) Klien dan atau penanggungnya berkewajiban untuk melunasi
semua imbalan atas jasa pelayanan rumah sakit atau institusi
pelayanan kesehatan, dokter, bidan dan perawat.

25
4) Klien dan atau penanggunggnya berkewajiban memenuhi hal-hal
yang disepakati/dibuatnya.
4. Hak dan Kewajiban Bidan
Hak Bidan
1) Bidan berhak mendapatakan perlindungan hukum dalam
melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya.
2) Bidan berhak untuk bekerja sesuai dengan standar profesi pada
setiap tingkat jenjang pelayanan kesehatan
3) Bidan berhak menolak keinginan pasien/klien dan keluarga yang
bertentangan dengan peraturan perundang-udangan dan kode
etik profesi.
4) Bidan berhak atas privasi/kediian dan menuntut apabila nama
baiknya dicemarkan baik oleh pasien, keluarga maupun profesi
lain
5) Bidan berhak atas kesempatan untuk meningkatkan diri baik
melalui pendidikan maupun pelatihan
6) Bidan berhak atas kesempatan untuk meningkatkan jenjan karir
dan jabatan yang sesuai.
7) Bidan berhak mendapakan kompensasi dan kesejahteraan yang
sesuai.
Kewajiban Bidan:
1) Bidan wajib mentaati peraturan sesuai dengan hubungan hukum
antara bidan tersebut dengan rumah sakit, rumah sakit bersalin
dan sarana pelayanan dimana dia bekerja
2) Bidan wajib memberikan pelayanan asuhan kebidana yang
sesuai dengan standar profesi dengan menghormati hak-hak
pasien.
3) Bidan wajib menjaga kerahasiaan identitas dan data kesehatan
pribadi pasien

26
4) Bidan wajib memberikan informasi yang berkaitan dengan
kondisi dan tindakan yang dilakukan
5) Bidan wajib meminta persetujuan terhadap tindakan yang akan
dilakukan (Permenkes 290/2008)
6) Bidan wajib membuat dan memelihara rekam medis (Permenkes
269/2008).
Hak dan Kewajiban bidan dalam permenkes no. 28 Tahun 2017 adalah
sebagai berikut :
Pasal 28
Dalam melaksanakan praktik kebidanannya, Bidan berkewajiban untuk:
a. menghormati hak pasien;
b. memberikan informasi tentang masalah kesehatan pasien dan
pelayanan yang dibutuhkan;
c. merujuk kasus yang bukan kewenangannya atau tidak dapat
ditangani dengan tepat waktu;
d. meminta persetujuan tindakan yang akan dilakukan;
e. menyimpan rahasia pasien sesuai dengan ketentuan peraturan
perundangan-undangan;
f. melakukan pencatatan asuhan kebidanan dan pelayanan lainnya
yang diberikan secara sistematis;
g. mematuhi standar profesi, standar pelayanan, dan standar prosedur
operasional;
h. melakukan pencatatan dan pelaporan penyelenggaraan Praktik
Kebidanan termasuk pelaporan kelahiran dan kematian;
i. pemberian surat rujukan dan surat keterangan kelahiran; dan
j. meningkatkan mutu pelayanan profesinya, dengan mengikuti
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui pendidikan
dan pelatihan sesuai dengan bidang tugasnya.

27
Pasal 29
Dalam melaksanakan praktik kebidanannya, Bidan memiliki hak:
a. memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan
pelayanannya sesuai dengan standar profesi, standar pelayanan,
dan standar prosedur operasional;
b. memperoleh informasi yang lengkap dan benar dari pasien
dan/atau keluarganya;
c. melaksanakan tugas sesuai dengan kompetensi dan kewenangan;
dan
d. menerima imbalan jasa profesi.
2.2.2 Kewenangan Bidan dalam Asuhan Kehamilan
1. Permenkes No. 63 tahun 1989
Wewenang bidan dibagi menjadi dua yaitu wewenang umum dan khusus
ditetapkan bila bidan elaksanakan tindakan khusus dibawah pengawasan
dokter. Pelaksanaan dari permenkes ini, bidan melaksanakan praktik
perorangan dibawah pengawasan dokter.
2. Kepmenkes No. 369/Menkes/SK/III/2007 Tentang standar profesi bidan
1) Kompetensi ke 1, Pengetahuan dan keterampilan dasar.
Bidan mempunyai persyaratan pengetahuan dan keterampilan dari
ilmu-ilmu sosial, kesehatan masyarakat dan etik yang membentuk
dasar dari asuhan yang bermutu tinggi sesuai dengan budaya, untuk
wanita, bayi baru lahir dan keluarganya.
2) Kompetensi yang ke 2, pra konsepsi, KB dan ginekologi
Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, pendidikan kesehatan
yang tanggap terhadap budaya dan pelayanan menyeluruh
dimasyarakat dalam rangka untuk meningkatkan kehidupan keluarga
yang sehat, perencanaan kehamilan dan kesiapan menjadi orangtua.

28
3) Kompetensi ke 3, asuhan dan konseling kehamilan
Bidan memberikan asuhan antenatal bermutu tinggi untuk
mengoptimalkan kesehatan selama kehamilan yang meliputi: deteksi
dini, pengobatan atau rujukan dari komplikasi tertentu.
4) Kompetensi ke 4, asuhan selama persalinan dan kelahiran bidan
memberikan asuhan yang bermutu tinggi, tanggapan terhadap
kebudayaan setempat selama persalianan, memimpin selama
persalinan yang bersih dan aman, menangani situasi kegawatdaruratan
tertentu untuk mengoptimalkan kesehatan wanita dan bayi yang baru
lahir.
5) Kompentensi ke 5, Asuhan pada ibu nifas dan menyusui
Bidan memberikan asuhan pada ibu nifas dan menyusui yang bermutu
tinggi dan tanggap terhadap budaya setempat.
6) Kompetensi ke 6, Asuhan pada bayi baru
Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, komperhensif pada
bayi barulahir sehat sampai dengan 1 bulan.
7) Kompetesi ke 7, Asuhan pada bayi dan balita
Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, komperhensif pada
bayi dan balita sehat (1bulan-5tahun).
8) Kompetensi ke 8, Kebidanan komunitas
Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi dan komperhensif
pada keluarga, kelompok dan masyarakat sesuai dengan budaya
setempat.
9) Kompetensi ke 9, Asuhan pada ibu/wanita dengan gangguan
reproduksi
Melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu/wanita dengan gangguan
sistem reproduksi.

29
3. Permenkes no. HK 02/Menkes/149/2010
Tentang layanan izin dan penyelenggaraan praktik bidan
Menurut revisi dari kepmenkes 900. Terdiri dari VII Bab, 24 Pasal yaitu :
Bab I ketentuan (pasal 1)
Bab II perizinan (pasal 2-7)
Bab III Penyelenggaraa Praktik (pasal 8-19)
Bab IV pembinaan dan pengawasan (pasal 20-21)
Bab V Ketentuan Peralihan (pasal 22)
Bab VI Ketentuan penutup (pasal 23-24)
Permenkes 149 lebih singkat dari pada Kepmenkes 900. Isinya terdapat
banyak pengurangan dan beberapa penambahan aturan tentang
pelaksanaan praktik bidan.
Alur untuk registrasi dan pelaporan bidan dibuat lebih sederhana
(BAB II, III, IV Kemenkes 900).
Kewewennangan praktik bidan dalam pelayanan reproduksi wanita
ditiadakan dan diganti dengan pelayanan keluarga berencana. (permenkes
149: BAB III pasal 8: kepmenkes 900: BAB IV Pasal 14)
Pelayanan kebidanan yang diberikan bukan pelayanan kebidanan ibu
dan anak, tetapi cukup ibu dan bayi baru lahir usia 28 hari. Pelayanan
kebidanan pada ibu yang dimakasud hanyalah kehamilan, persalianan,
nifas, dan masa menyusui normal. Bidan tidak berwewenang untuk
melakukan intervensi apapun terhadap penyulit kehamilan, persalinan dan
nifas (suntikan penyulit kehamilan, persalian, nifas, plasenta,
manual,amniotomi, infus, penyuntikkan antibiotik dan sadativa, versi
ekstraksi ditiadakan. Pengobatan yang diperbolehkan bukan obat terbebas
tetapi obat terbebas). Pelayan masa pra pernikanan,prhamil dan masa
interval dilakukan pengurang. (pemenkes 149: Bab III : Kepmenkes 900:
bab v)
Bidan sudah lagi berwewenang dalam memberikan pelayan KB
suntikan, kontrasepsi bawah kulit dan bawah rahim secara praktik

30
mandiri, melainkan harus dengan supervisi dokter dirumah sakit dalam
rangka menjalankan tugas pemerintah. Bidan hanya berwewenang
mandiri terhadap kontrasepsi pil, kondom dan konseling KB. (kepmenkes
900: Pasal 19; Permenkes 149: pasal 12).
Pasal 8
Bidan menjalankan praktik berwewenang untuk memberikan pelayanan
meliputi:
a) Pelayanan kebidanan
b) Pelayanan reproduksi perempuan dan
c) Pelayanan kesehatan masyarakat
Pasal 9
1. Pelayanan kebidanan sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 huruf a
ditujukan kepada ibu dan bayi.
2. Pelayanan kebidanan kepada ibu sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diberikan pada masa kehamilan, masa persalianan, masa nifas dan masa
menyusui.
3. Pelayanan pada bayi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan pada
bayi baru lahir normal sampai usia 28 hari
Pasal 10
1. Pelayanan kebidanan kepada ibu sebagaimana dimaksud dala pasal 9 ayat
(2) meliputi:
a. Penyuluhan dan konseling
b. Pemerikasaan fisik
c. Pelayanan antenatal pada kehamilan normal
d. Pertolongan persalinan normal
e. Pelayan ibu nifas normal
2. Pelayan kebidanan kepada bayi sebagaimana dimaksud dalam pasal 9
ayat(30) meliputi:
a. Pemeriksaan bayi barulahir
b. Perawatan tali pusat

31
c. Perawatan bayi
d. Resusitasi pada bayi baru lahir
e. Pemberian imunisasi bayi dalam rangka menjalankan tugas
pemerintah
f. Pemberian penyuluhan
4. Pemenkes No 1464/Menkes/per/X/2010
1. Pasal 9
Bidan dalam menyelenggarakan praktik berwewenang untuk memberikan
pelayanan yang meliputi :
a. Pelayanan kesehatan ibu
b. Pelayanan kesehatan anak
c. Pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dalam keluarga
berencana
2. Pasal 10
a. Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimaksud dalam pasal 9
huruf a diberikan pada masa prahamil , kehamilan, masa
persalinan, masa nifas, masa menyusui, dan masa antara
kehamilan.
b. Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1)
meliputi:
1. Pelayanan konseling pada masa prahamil
2. Pelayanan antenatal pada kehamilan normal
3. Pelayanan persalinan normal
4. Pelayanan ibu nifas normal
5. Pelayanan ibu menyusui
6. Pelayanan konseling pada masa antara dua kehamilan
c. Bidan dalam memberikan pelayanan sebgaimana dimaksudkan
pada ayat (2) berwewenang untuk:
1. Episiotomi
2. Penjahitan luka jalan lahir tingkat 1 dan 2

32
3. Penanganan kegawatdaruratan, dilajutkan dengan perujukan
4. Pemberian tablet FE
5. Pemberian vitamin A dosis tinggi pada ibu nifas
6. Fasilitas/bimbingan insiasi menyusui dini dan promosi ASI
eksklusif
7. Pemberian uterotonika pada menejemen aktif kala III dan post
partum
8. Penyuluhan dan konseling
9. Bimbingan pada kelompok ibu hamil
10. Pemberian surat keterangan kematian
11. Pemberian surat keterangan cuti bersalin
3. Pasal 11
a. Pelayanan kesehatan anak sebagaimana dimaksud pada pasal 9 huruf
b diberikan kepada BBL, bayi, anak balita, dan anak prasekolah
b. Bidan dalam memberikan pelayanan kesehatan anak sebagaimana
dimaksud pada ayat 1 berwewenang untuk:
1. Melakukan asuhan bayi baru lahir normal termaksuk resusitasi,
pencegahan hipotermi, insiasi menyusu dini, ijeksi vitamin K1,
perawatan bayi baru lahir pada masa neonatal (0-28 hari) dan
perawatan tali pusat.
2. Penangan hipotermi pada bayi barulahir dan segera merujuk
3. Penangan kegawat daruratan dilanjutkan dengan perujukan.
4. Pemberian imunisasi rutin sesuai program pemerintah
5. Pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita dan anak
prasekolah.
6. Pemberian konseling dan penyuluhan
7. Pemberian surat keterangan kelahiran.
8. Pemberian surat kematian

33
4. Pasal 12
Bidan dalam memberikan pelayanan kesehatan reproduksi perempuan
dan keluarga berencana sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 huruf c
berwenang untuk :
a. Memberikan penyuluhan dan konseling kesehatan reproduksi
perempuan dan KB.
b. Memberikan alat kontrasepsi oral dan kondom.
5. Permenkes No. 28 Tahun 2017 tentang izin penyelenggaraan praktik bidan
Pasal 18
Dalam penyelenggaraan Praktik Kebidanan, Bidan memiliki kewenangan
untuk memberikan:
a. pelayanan kesehatan ibu;
b. pelayanan kesehatan anak; dan
c. pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana.
Pasal 19
(1) Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 huruf
a diberikan pada masa sebelum hamil, masa hamil, masa persalinan,
masa nifas, masa menyusui, dan masa antara dua kehamilan.
(2) Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi
pelayanan:
a. konseling pada masa sebelum hamil;
b. antenatal pada kehamilan normal;
c. persalinan normal;
d. ibu nifas normal;
e. ibu menyusui; dan
f. konseling pada masa antara dua kehamilan.
(3) Dalam memberikan pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimaksud
pada ayat (2), Bidan berwenang melakukan:
a. episiotomi;
b. pertolongan persalinan normal;

34
c. penjahitan luka jalan lahir tingkat I dan II;
d. penanganan kegawat-daruratan, dilanjutkan dengan perujukan;
e. pemberian tablet tambah darah pada ibu hamil;
f. pemberian vitamin A dosis tinggi pada ibu nifas;
g. fasilitasi/bimbingan inisiasi menyusu dini dan promosi air susu ibu
eksklusif;
h. pemberian uterotonika pada manajemen aktif kala tiga dan
postpartum;
i. penyuluhan dan konseling;
j. bimbingan pada kelompok ibu hamil; dan
k. pemberian surat keterangan kehamilan dan kelahiran.
Pasal 22
Selain kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18, Bidan memiliki
kewenangan memberikan pelayanan berdasarkan:
a. penugasan dari pemerintah sesuai kebutuhan; dan/atau
b. pelimpahan wewenang melakukan tindakan pelayanan kesehatan
secara mandat dari dokter.
Pasal 23
(1) Kewenangan memberikan pelayanan berdasarkan penugasan dari
pemerintah sesuai kebutuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22
huruf a, terdiri atas:
a. kewenangan berdasarkan program pemerintah; dan
b. kewenangan karena tidak adanya tenaga kesehatan lain di suatu
wilayah tempat Bidan bertugas.
(2) Kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperoleh Bidan
setelah mendapatkan pelatihan.
(3) Pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diselenggarakan oleh
Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah bersama organisasi profesi
terkait berdasarkan modul dan kurikulum yang terstandarisasi sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

35
(4) Bidan yang telah mengikuti pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) berhak memperoleh sertifikat pelatihan.
(5) Bidan yang diberi kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
harus mendapatkan penetapan dari kepala dinas kesehatan
kabupaten/kota
Pasal 24
(1) Pelayanan kesehatan yang diberikan oleh Bidan ditempat kerjanya,
akibat kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 harus sesuai
dengan kompetensi yang diperolehnya selama pelatihan.
(2) Untuk menjamin kepatuhan terhadap penerapan kompetensi yang
diperoleh Bidan selama pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
Dinas kesehatan kabupaten/kota harus melakukan evaluasi
pascapelatihan di tempat kerja Bidan.
(3) Evaluasi pascapelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dilaksanakan paling lama 6 (enam) bulan setelah pelatihan.
Pasal 25
(1) Kewenangan berdasarkan program pemerintah sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 23 ayat (1) huruf a, meliputi:
a. pemberian pelayanan alat kontrasepsi dalam rahim dan alat
kontrasepsi bawah kulit;
b. asuhan antenatal terintegrasi dengan intervensi khusus penyakit
tertentu;
c. penanganan bayi dan anak balita sakit sesuai dengan pedoman yang
ditetapkan:
d. pemberian imunisasi rutin dan tambahan sesuai program pemerintah;
e. melakukan pembinaan peran serta masyarakat di bidang kesehatan
ibu dan anak, anak usia sekolah dan remaja, dan penyehatan
lingkungan;
f. pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita, anak pra sekolah dan
anak sekolah;

36
g. melaksanakan deteksi dini, merujuk, dan memberikan penyuluhan
terhadap Infeksi Menular Seksual (IMS) termasuk pemberian
kondom, dan penyakit lainnya;
h. pencegahan penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif
lainnya (NAPZA) melalui informasi dan edukasi; dan
i. melaksanakan pelayanan kebidanan komunitas;
(2) Kebutuhan dan penyediaan obat, vaksin, dan/atau kebutuhan logistik
lainnya dalam pelaksanaan Kewenangan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Pasal 26
(1) Kewenangan karena tidak adanya tenaga kesehatan lain di suatu wilayah
tempat Bidan bertugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1)
huruf b tidak berlaku, dalam hal telah tersedia tenaga kesehatan lain
dengan kompetensi dan kewenangan yang sesuai.
(2) Keadaan tidak adanya tenaga kesehatan lain di suatu wilayah tempat
Bidan bertugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh
kepala dinas kesehatan kabupaten/kota setempat.
Pasal 27
(1) Pelimpahan wewenang melakukan tindakan pelayanan kesehatan secara
mandat dari dokter sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 huruf b
diberikan secara tertulis oleh dokter pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan
tingkat pertama tempat Bidan bekerja.
(2) Tindakan pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
hanya dapat diberikan dalam keadaan di mana terdapat kebutuhan
pelayanan yang melebihi ketersediaan dokter di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan tingkat pertama tersebut.

37
(3) Pelimpahan tindakan pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilakukan dengan ketentuan:
a. tindakan yang dilimpahkan termasuk dalam kompetensi yang telah
dimiliki oleh Bidan penerima pelimpahan;
b. pelaksanaan tindakan yang dilimpahkan tetap di bawah pengawasan
dokter pemberi pelimpahan;
c. tindakan yang dilimpahkan tidak termasuk mengambil keputusan
klinis sebagai dasar pelaksanaan tindakan; dan
d. tindakan yang dilimpahkan tidak bersifat terus menerus.
(4) Tindakan pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
menjadi tanggung jawab dokter pemberi mandat, sepanjang pelaksanaan
tindakan sesuai dengan pelimpahan yang diberikan.
2.3. Evidence Based dalam Asuhan Kehamilan dan Kajian Jurnal
2.3.1. Evidence Based dalam Asuhan Kehamilan
1. Pelayanan Antenatal Terintegrasi
Pelayanan kesehatan pada ibu hamil tidak dapat dipisahkan dari
pelayanan persalinan, pelayanan nifas dan pelayanan kesehatan bayi
baru lahir. Kualitas pelayanan antenatal yang diberikan akan
mempengaruhi kesehatan ibu hamil dan janinnya, ibu berslain dan bayi
baru lahir serta ibu nifas untuk mewujudkan generasi yang berkualitas.
Dalam pelayanan antenatal terintegrasi, tenaga kesehatan harus dapat
memastikan bahwa kehamilan berlangsung normal, mampu mendeteksi
dini msalah dan penyakit yang dialami ibu hamil, melakukan intervensi
secara adekuat sehingga ibu hamil siap untuk menjalani persalinan
normal.
Setiap kehamilan dalam perkembangannya mempunyai risiko
mengalami penyulit atau komplikasi. Oleh karena itu, pelayanan
antenatal harus dilakukan minimal empat kali sesuai dengan standar dan
terintegrasi untuk pelayanan antenatal yang berkualitas.

38
Pelayanan antenatal terintegrasi merupakan pelayanan kesehatan
komprehensif dan berkualitas yang dilakukan melalui:
(1) Pemberian pelayanan dan konseling kesehatan termasuk stimulasi
dan gizi agar kehamilan berlangsung sehat dan janinnya lahir sehat
dan cerdas.
a. Pola makan ibu selama hamil yang meliputi jumlah,
frekuensi, kualitas asupan makanan terkait dengan
kandungan gizinya.
b. Inisiasi menyusu dini dan asi eksklusif selama 6 bulan
c. Perawatan tali pusat
d. Penggunaaan alat kontrasepsi
e. Status imunisasi ibu hamil
f. Jumlah tablet tambah darah (tablet Fe) yang dikonsumsi ibu
hamil.
g. Obat-obatan yang dikonsumsi seperti antihipertensi,
diuretika, antivormitus, antipiretika, antibiotika, obat TB
dan sebagainya.
h. Di daerah endemis malaria, tanyakan gejala malaria dan
riwayat penggunaan obat malaria
i. Di daerah resiko tiggi IMS, tanyakan gejala IMS dan
riwayat penyakit pada pasangannya. Informasi ini penting
untuk langkah penanggulangan penyakit menular seksual.
(2) Mendeteksi dini masalah, penyakit dan penyulit/komplikasi
kehamilan
a. Muntah berlebihan. Rasa mual dan muntah bisa muncul
pada kehamilan muda terutama pada pagi hari namun
kondisi ini biasanya hilang setelah kehamilan berumur 3
bulan. Keadaan ini tidak perlu dikhawatirlkan, kecuali kalau
memang cukup berat sehingga tidak dapat makan dan berat
badan menurun terus.

39
b. Pusing. Pusing biasa muncul pada kehamilan muda. Apabila
pusing mengganggu aktivitas sehari-hari perlu diwaspadai.
c. Sakit kepala. Sakit kepala yang hebat atau yang menetap
timbul pada ibu hamil mungkin dapat membahayakan
kesehatan ibu dan janin.
d. Perdarahan. Perdarahan waktu hamil, walaupun hanya
sedikit sudah termasuk tanda bahaya sehingga ibu hamil
harus waspada.
e. Sakit perut hebat. Nyeri perut hebat dapat membahayakan
kesehatan ibu dan bayinya.
f. Demam. Demam tinggi lebih dari 2 hari atau keluarnya
cairan berlebihan dari jalan lahir dan kadang-kadang berbau
merupakan tanda bahaya pada kehamilan
g. Batuk lama. Batuk lama lebih dari 2 minggu perlu ada
pemeriksaan lanjut dan dapat dicurigai ibu hamil menderita
TB.
h. Berdebar-debar. Jantung berdebar-debar pada ibu hamil
merupakan salah satu masalah pada kehamilan yang harus
diwaspadai.
i. Cepat lelah. Dalam dua atau tiga bulan pertama kehamilan,
biasanya timbul rasa lelah, mengantuk yang berlebihan dan
pusing, yang biasanya terjadi pada sore hari. Kemungkinan
ibu mengalami kurang darah (Anemia)
j. Sesak nafas atau sukar nafas. Pada akhir bulan ke delapan
ibu hamil sering merasa sedikit sesak karena bayi menekan
paru-paru ibu. Namun apabila hal ini terjadi berlebihan
maka perlu diwaspadai.
k. Keputihan yang berbau. Keputihan yang berbau merupakan
tanda bahaya pada ibu hamil.

40
l. Gerakan janin. Gerakan bayi mulai dirasakan ibu pada
kehamilan akhir bulan keempat. Apabila gerakan janin
belum muncul pada usia kehamilan ini, gerakan janin
berkurang atau tidak ada gerakan pada janin ibu hamil harus
waspada.
m. Perilaku berubah selama hamil seperti gaduh, gelisah,
menarik diri, bicara sendiri, tidak mandi dsb. Selama
kehamilan ibu bisa mengalami perubahan perilaku yang
disebabkan karena perubahan hormonal. Pada kondisi yang
mengganggu kesehatan ibu dan janinnya maka akan
dikonsuktasikan kepada psikiater.
n. Riwayat kekerasan terhadap perempuan (KtP) selama
kehamilan. Informasi mengenai kekerasan terhadap
perempuan terutama ibu hamil seringkali sulit untuk digali.
Korban kekerasan selalu mau berterus terang pada
kunjungan pertama, yang mungkin disebabkan oleh rasa
takut atau belum mampu mengemukakan masalahnya
kepada orang lain termasuk petugas kesehatan. Dalam hal
ini, petugas kesehatan diharapkan dapat mengenali korban
dan memberikan dukungan agar mau membuka diri.
(3) Persiapan persalinan yang aman
Menanyakan kesiapan menghadapi persalinan dan menyikapi
kemungkinan terjadinya komplikasi dalam kehamilan, antara lain:
a. Siapakah yang akan menolong persalinan?
b. Dimana akan bersalin?
c. Siapakah yang mendampingi ibu selama bersalin?
d. Jelaskan tanda-tanda persalinan dan tanda-tanda bahaya
persalinan.
e. Apakah sudah disiapkan biaya untuk persalinan?

41
Suami diharapkan dapat menyiapkan dana untuk persiapan
ibu. Biaya persalinan ini dapat berupa TABULIN atau
DASOLIN yang dapat dipergunakan untuk membantu
pembiayaan mulai antenatal, persalinan dan
kegwatdaruratan.
(4) Perencanaan antisipasi dan persiapan dini untuk melakukan rujukan
jika terjadi penyulit/komplikasi
a. Deteksi dini masalah : ibu hamil, suami dan keluarga
mengenal tanda-tanda bahaya.
b. Pengambilan keputusan dalam keluarga siapa yang sangat
berperan untuk mengantisipasi dan persiapan dini dalam
melakukan tindakan rujukan jika terjadi
komplikasi/penyulit.
c. Siapa yang akan menjadi pendonor darah apabila terjadi
pendarahan? Suami, keluarga dan masyarakat menyiapkan
calon donor darah minimal 3 orang yang sewaktu-waktu
dapat menyumbangkan darahnya untuk keselamatan ibu
melahirkan.
d. Transportasi apa yang akan digunakan jika suatu saat harus
dirujuk? Alat transportasi bisa berasal dari masyarakat
sesuai dengan kesepakatan bersama yang dapat
dipergunakan untuk mengantar calon ibu bersalin ke tempat
persalinan termasuk tempat rujukan, alat transportasi
tersebut dapat berupa mobil,mojek, becak, sepeda, tandu,
perahu, dsb.
(5) Penatalaksanaan kasus serta rujukan cepat dan tepat waktu bila
diperlukan
(6) Melibatkan ibu hamil, suami dan keluarga dalam menjaga
kesehatan dan gizi ibu hamil, menyiapkan persalinan dan kesiagaan
bila terjadi penyulit/komplikasi.

42
2. Program Integrasi Pelayanan ANC
1) Maternal Neonatal Tetanus Elimination (MNTE)
Pada kunjungan pertama ANC, dilakukan skrining status imunisasi
TT pada ibu hamil, apabila diperlukan, diberikan imunisasi pada saat
pelayanan Antenatal. Tujuan :
a. Untuk mencegah Terjadinya Tetanus pada bayi baru lahir
b. Melengkapi status imunisasi TT
Tabel 2.3 Skrining Imunisasi TT
Riwayat Imunisasi Imunisasi yang Status Imunisasi
Ibu Hamil didapat
Imunisasi dasar DPT-HB 1, DPT- TT1 dan TT2
Lengkap HB 2, DPT-HB 3
Anak sekolah dasar
kelas 1 SD DT T3
Kelas 2 SD TD T4
Kelas 3 SD TD T5
Calon pengantin, TT Jika ada status T diatas
Masa hamil yang tidak terpenuhi
lanjutkan dengan urutan
T yang belum
terpenuhi, dengan
memperhatikan interval
pemberian

43
Tabel 2.4 Interval dan Masa Perlindungan TT
Imunisasi Pemberian Selang watu Masa
Imunisasi pemberian Minimal perlindungan
T1 - -
T2 4 minggu setelah T1 3 tahun
TT WUS T3 6 bulan setelah T2 5 tahun
T4 1 tahun setelah T3 10 tahun
T5 1 tahun setelah T4 25 tahun

2) Antisipasi Defisiensi Gizi dalam Kehamilan (Anemia dan KEK)


a. Pencegahan dan penatalaksanaan Anemia pada kehamilan
(1) Skrining anemi melalui pemeriksaan HB darah pada ANC
K1
(2) Pemberian tablet Fe minimal 90 tablet selama kehamilan.
b. Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada kehamilan
(1) Pengukuran LILA pada ANC K1 untuk menemukan adanya
bumil KEK
(2) Pemberian makanan tambahan (PMT) bagi ibu hamil KEK
3) Pencegahan Malaria dalam Kehamilan (PMDK)
Untuk daerah endemis malaria, pada kunjungan 1 ANC semua ibu
hamil dilakukan:
a. Pemberian kelambu berinsektisida
b. Skrining darah malaria (RDT/Mikroskopis)
c. Pemberian terapi pada ibu hamil positif malaria
4) Pencegahan Penularan HIV dari ibu ke bayi (PPIA)
Berdasarkan surat edaran menteri kesehatan no.
GK/MENKES/001/I/2013 tentang layanan pencegahan penularan
HIV dari ibu ke anak (PPIA), maka disepakati 4 prong dalam
program PPIA :

44
a. Mencegah terjadinya penularan HIV pada perempuan usia
reproduksi
b. Mencegah Kehamilan yang tidak direncanakan pada ibu
dengan HIV
c. Mencegah terjadinya penularan HIV pada ibu hamil dengan
HIV ke bayi yang dikandungnya
d. Memberikan dukungan psikologis, sosial dan perawatan
kepada ibu dengan HIV beserta bayi dan keluarga
Pada daerah epidemic meluas dan terkonsentrasi: Tes HIV dan
sifilis dilakukan untuk semua ibu hamil besamaan dengan perutinann
lainnya pada layanan antenatal terpadu, disetiap kunjungan mulai dari
K1 hingga menjelang persalinan. Sedangkan pada daerah epidemic
rendah : tes HIV dan sifilis dilakukan untuk ibu hamil dengan
indikasi adanya perilaku beresiko, keluhan gejala IMS atau infeksi
oportunistik (khususnya TBC), bersama pemeriksaan rutin lainnya
pda layanan antenatal terpadu, disetiap kunjungan mulai K1 hingga
menjelang persalinan.
5) Pencegahan pengobatan IMS/ISK dalam Kehamilan
a. Skrining IMS-Sifilis/ISK bagi ibu hami pada tiap kunjungan ANC
melalui anamnesa terarah yang dapat dilanjutka dengan
pemeriksaan fisik dan penunjang (bila sarana tersedia dan bila
dianjurkan)
b. Terapi pada ibu hamil dan bayi yang positit IMS-Sifilis/ISK.
6) Eliminasi sifilis kongenital (ESK/CSE)
7) Penatalaksanaan TB dalam kehamilan
8) Pelayanan Kesehatan Jiwa pada Ibu hamil
(Modul Midwifery Update 2016)
2.3.2. Kajian Jurnal
1. Frequency of HIV status disclosure, associated factors and outcomes
among HIV positive pregnant women at Mbarara Regional Referral

45
Hospital, southwestern Uganda (Frekuensi pengungkapan status HIV,
faktor terkait dan hasil luaran wanita hamil yang positif HIV di Rumah
Sakit Rujukan Regional Mbarara, Uganda)
Penulis : Joseph Ngonzi, Godfrey Mugyenyi, Mukasa Kivunike, Julius
Mugisha, Wasswa Salongo, Sezalio Masembe, Ronald Mayanja, Francis
Bajunirwe.
Sumber : Pan African Medical Journal melalui Pubmed. Diunduh
tanggal 1 Oktober 2019.
Publikasi : 24 April 2019
Hasil :
Pengungkapan hasil HIV positif memainkan peran penting dalam
keberhasilan pencegahan dan perawatan pasien yang terinfeksi HIV.
Pengungkapan ini memberikan manfaat sosial dan kesehatan yang
signifikan bagi individu dan masyarakat. Tidak adanya pengungkapan
adalah salah satu faktor kontekstual yang mendorong epidemi HIV di
Uganda. Tujuan penelitian: untuk menentukan frekuensi pengungkapan
HIV, faktor terkait dan hasil pengungkapan di antara wanita hamil yang
HIV positif di Rumah Sakit Mbarara, Uganda barat daya. Metode:
Penelitian cross-sectional dengan menggunakan metode kuantitatif dan
kualitatif di antara kelompok wanita hamil yang HIV-positif yang
menghadiri klinik antenatal telah dilakukan dan pengambilan sampel
secara berurutan dilakukan. Hasil: Total rekrutmen peserta adalah 103,
di mana 88 (85,4%) telah mengungkapkan status mereka dengan 57%
pengungkapan kepada mitra mereka. Sekitar 80% telah mengungkapkan
dalam waktu kurang dari 2 bulan pengujian HIV positif. Alasan
pengungkapan termasuk pasangan mereka yang telah mengungkapkan
kepada mereka (27,3%), mitra perawatan (27,3%) dan dorongan oleh
petugas kesehatan (25,0%). Setelah pengungkapan, (74%) merasa
terhibur dan 6,8% dilecehkan secara verbal. Alasan untuk tidak
diungkapkan adalah takut ditinggalkan (33,3%), dipukuli (33,3%) dan

46
kehilangan dukungan finansial dan emosional (13,3%). Faktor-faktor
yang terkait dengan pengungkapan adalah usia 26-35 tahun (OR 3,9,
95% CI 1,03-15,16), pendidikan dasar (OR 3,53, 95% CI 1,10-11,307)
dan tempat tinggal kota (OR 4,22, 95% CI 1,27-14,01) . Kesimpulan:
Peserta diungkapkan terutama kepada pasangan mereka dan dihibur dan
banyak dari mereka didorong oleh petugas kesehatan. Ada kebutuhan
untuk mengoptimalkan manfaat pengungkapan untuk memungkinkan
peningkatan partisipasi dalam program pengobatan dan dukungan.
2. Determinants of intermittent preventive treatment of malaria among
women attending antenatal clinics in primary health care centers in
Ogbomoso, Oyo State, Nigeria (Faktor-faktor pengobatan preventif
intermiten malaria pada wanita di klinik antenatal di pusat perawatan
kesehatan primer Ogbomoso, Oyo State, Nigeria)
Penulis : Adefisoye Oluwaseun Adewole, Olufunmilayo Fawole, Ike
Oluwapo Ajayi, Bidemi Yusuf, Abisola Oladimeji, Endie Waziri,
Patrick Nguku, Olufemi Ajumobi.
Sumber : Pan African Medical Journal melalui Pubmed diakses tanggal
1 Oktober 2019.
Publikasi : 11 Juni 2019
Hasil :
Meskipun efektivitas pengobatan preventif intermiten pada kehamilan
menggunakan sulphadoxine-pyrimethamine (IPTp-SP), penyerapan dan
cakupan di barat daya Nigeria rendah, jurnal ini meneliti mengenai
faktor-faktor yang mempengaruhi pemanfaatan IPTp-SP. Metode:
teknik multistage sampling digunakan untuk memilih 400 wanita hamil
dari enam pusat kesehatan primer di Negara Bagian Oyo. Data
karakteristik sosial-demografis, pengetahuan, sikap terhadap IPTp-SP
dan pemanfaatannya diperoleh dengan menggunakan kuesioner semi-
terstruktur. Data dianalisis menggunakan perangkat lunak SPSS. Focus
Group Discusssion (FGD) dan wawancara informan diadakan untuk

47
wanita hamil dan petugas kesehatan dan dianalisis secara tematis. Hasil:
usia rata-rata responden adalah 27,2 (SD ± 5,5) tahun. Usia kehamilan
rata-rata adalah 29,5 minggu (SD ± 5,4). Secara keseluruhan, 320
(80,0%) menggunakan SP, di mana 152 (47,5%) mengambil 2 dosis dan
112 (35,0%) menggunakan terapi yang diamati secara langsung (DOT).
Kami menemukan bahwa pemesanan awal untuk ANC, lebih dari dua
kunjungan ke ANC (rasio odds yang disesuaikan (aOR) = 5,6; 95% CI:
1,2 - 26,6), pengetahuan yang baik tentang IPTp (aOR = 9,3; 95% CI:
5,4 - 16,0) , sikap positif terhadap IPTp (aOR = 2.1; 95% CI: 1.5 - 2.9)
dan dipekerjakan (aOR = 1.4; 95% CI: 1.1 - 1.7) adalah faktor yang
terkait dengan pemanfaatan IPTp-SP. FGD dan KII mengungkapkan
bahwa obat IPTp-SP sebagian besar diambil di rumah karena kehabisan
persediaan. Kesimpulan: keterlambatan pemesanan ANC dengan stok
obat IPTpSP bertanggung jawab atas pemanfaatannya yang rendah. Ada
kebutuhan untuk mendorong wanita hamil untuk memesan lebih awal
untuk ANC. Ketaatan terhadap praktik skema DOT direkomendasikan
untuk meningkatkan pemanfaatan IPTp-SP.
3. Presentation for care and antenatal management of HIV in the UK,
2009-2014 (Presentasi perawatan dan manajemen antenatal HIV di
Inggris, 2009-2014)
Penulis : CE French, C Thorne, L Byrne, M Cortina-Borja and PA
Tookey
Sumber : Pubmed diakses tanggal 1 Oktober 2019.
Publikasi : 17 Maret 2016
Hasil :
Tingkat penularan HIV yang sangat rendah di Inggris secara
keseluruhan, tingkatnya lebih tinggi di antara perempuan yang memulai
terapi antenatal antiretroviral (ART) terlambat. Kami menyelidiki waktu
elemen kunci perawatan ibu hamil yang HIV-positif [pemesanan
perawatan antenatal, penilaian laboratorium HIV (jumlah CD4 dan viral

48
load HIV) dan inisiasi antenatal ART], untuk menilai apakah praktik
klinis berubah sesuai dengan rekomendasi, dan untuk menyelidiki
faktor-faktor yang terkait dengan keterlambatan perawatan. Metode
Kami menggunakan Studi Nasional HIV Inggris dalam Kehamilan dan
Masa Kecil untuk tahun 2009-2014. Data dianalisis dengan
menggunakan regresi logistik dan model bahaya proporsional Cox.
Hasil Total 5693 kelahiran dilaporkan; 79,5% pada wanita didiagnosis
dengan HIV sebelum kehamilan itu. Kehamilan rata-rata pada
pemesanan antenatal adalah 12,1 minggu [rentang interkuartil (IQR)
10,0-15,6 minggu] dan pemesanan secara signifikan lebih awal selama
2012-2014 vs 2009-2011 (P <0,001), meskipun hanya pada wanita yang
sebelumnya didiagnosis. Secara keseluruhan, 42,2% kehamilan
terlambat dipesan (≥ 13 minggu kehamilan). Di antara wanita yang
belum menggunakan pengobatan, ART antenatal dimulai pada median
21,4 (IQR18.1-24,4) minggu dan mulai secara signifikan lebih awal
dalam periode waktu terbaru (P <0,001). Dibandingkan dengan wanita
yang sebelumnya didiagnosis, mereka yang baru didiagnosis selama
kehamilan saat ini dipesan kemudian untuk perawatan antenatal dan
mulai ART antenatal kemudian (keduanya P <0,001). Analisis
multivariabel mengungkapkan variasi demografis dalam akses atau
pengambilan perawatan, dengan kelompok-kelompok termasuk migran
dan wanita parous yang memulai perawatan nanti. Kesimpulan
Meskipun wanita mengakses perawatan antenatal dan HIV di awal
kehamilan, beberapa tetap menghadapi hambatan untuk inisiasi
perawatan antenatal dan ART secara tepat waktu.
4. Pemberian Jus Bayam dan Tomat Untuk Meningkatkan Hemoglobin
Pada Ibu Hamil dengan Anemia di PMB Syafrida S.ST Kretek
Rowokele Kebumen
Penulis : Lintang Oktaviana, Eti Sulastri
Sumber : Jurnal Universitas Muhammadiyah Gombong

49
Publikasi : Juni, 2018
Hasil :
Anemia adalah suatu keadaan kekurangan jumlah sel darah merah atau
hemoglobin kurang dari 11 gr/dL. Masih tingginya anemia pada ibu
hamil di Indonesia sebesar 37,1%. Anemia sering disebabkan oleh
kurangnya kandungan zat besi dalam makanan, penyerapan zat besi dari
makanan yang sangat rendah, adanya zat-zat yang menghambat
penyerapan zat besi. Upayaupaya pemerintah dalam melakukan program
penanggulangan anemia pada ibu hamil yaitu dengan program
memberikan 90 tablet Fe selama periode kehamilan. Selain itu terdapat
inovasi untuk mempercepat peningkatan kadar hemoglobin yaitu dengan
cara pemberian jus bayam dan tomat. Metode : Menggunakan metode
deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Sampel yang
diambil yaitu 5 responden ibu hamil dengan anemia melalui pengkajian
menggunakan wawancara dan observasi pada ibu hamil dengan anemia.
Hasil : Setelah diberikan jus bayam dan tomat, adanya peningkatan
kadar hemoglobin pada semua partisipan dengan rata-rata 2 gr/dL
5. Pemberian Lemon Inhalasi Aromaterapy Untuk Mengurangi Mual
Muntah Pada Kehamilan Trimester I di BPM Istianatul Kabupaten
Kebumen
Penulis : Melinda Susanti, Juni Sofiana, S. ST., M.Keb
Sumber : Jurnal Universitas Muhammadiyah Gombong
Publikasi : Agustus, 2017
Hasil :
Latar belakang: Kasus mual muntah di Indonesia terdapat 50-90% kasus
yang dialami oleh ibu hamil. Masalah ini dapat menimbulkan efek yang
negatif bagi ibu hamil seperti dehidrasi, ketidak seimbangan elektrolit,
hipertensi vena dan perdarahan, rupture esofageal, dan lebih jauh lagi
mereka akan mengalami dehidrasi berat. Oleh sebab itu diperlukan
penangan yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut. Cara penangan

50
yang tepat tanpa menimbulkan efek samping yaitu dengan cara non
farmakologi, misalnya lemon inhalasi aromaterapi. Metode: Jenis
penelitian ini adalah deskriftif analitik dengan pendekatan studi kasus.
Dalam hal ini penulis menggambarkan fakta-fakta dari pengkajian yang
didapatkan dari wawancara dan observasi langsung. Hasil: Setelah
deberikan lemon inhalasi aromaterapi, terjadi penurunan frekuensi mual
muntah pada ketiga partisipan, yaitu 4 kali menjadi 2 kali (partisipan 1
dan 2), 5 kali menjadi 3 kali (parisipan 3). Kesimpulan: Pemeberian
Lemon inhalasi aromaterapi dapat menurunkan frekuensi mual muntah
pada ibu hamil trimester 1 di bpm istianatul.
6. The Effect Of Nurse Empowerment Educational Program On Patient
Safety Culture: A Randomized Controlled Trial (Efek pemberdayaan
program pendidikan perawat tentang budaya keselamatan pasien: uji
coba terkontrol secara acak)
Penulis : Maryam Amiri, Zahra Khademian and Reza Nikandish
Sumber : BMC Medical Education
Publikasi: 2 Maret 2016
Hasil :
Pada kelompok eksperimen, skor rata-rata post-test total budaya
keselamatan pasien (3,46 ± 0,26) adalah secara signifikan lebih tinggi
daripada kelompok kontrol (2,84 ± 0,37, P <0,001). Itu juga lebih tinggi
dari pretest (2,91 ± 0,4, P <0,001). Selain itu, peningkatan yang
signifikan diamati pada 5 dari 12 dimensi di kelompok eksperimen.
Namun, dimensi seperti respons non-hukuman untuk kesalahan dan
peristiwa yang dilaporkan terjadi tidak membaik secara signifikan.
Memberdayakan perawat dan supervisor dapat meningkatkan budaya
keselamatan pasien secara keseluruhan. Meskipun begitu, tindakan
tambahan diperlukan untuk meningkatkan bidang-bidang seperti
melaporkan peristiwa dan tanggapan non-hukuman untuk kesalahan.

51
7. The Long Way Ahead To Achieve An Effective Patient Safety Culture:
Challenges Perceived By Nurses (Pandangan masa depan untuk
mencapai yang efektif budaya keselamatan pasien: tantangan yang
dirasakan oleh perawat)
Penulis : Jamileh Farokhzadian, Nahid Dehghan Nayeri and Fariba
Borhani
Sumber : BMC Medica Education
Publikasi: 2018
Hasil :
Analisis data mencerminkan tema utama penelitian ini, Tema ini
mencakup empat kategori: 1) infrastruktur organisasi yang tidak
memadai, 2) efektivitas kepemimpinan yang tidak memadai, 3) upaya
yang tidak memadai untuk mengimbangi standar nasional dan
internasional, dan 4) menaungi nilai-nilai tim partisipasi. Walaupun
strategi praktis untuk menciptakan budaya keselamatan mungkin tampak
sederhana, implementasinya tidak tentu mudah. Ada beberapa tantangan
ke depan untuk menumbuhkan budaya keselamatan yang efektif dan
positif di organisasi kesehatan. Untuk mengimbangi standar
internasional, manajer layanan kesehatan harus mempekerjakan yang
modern metode manajemen untuk mengatasi tantangan yang dihadapi
oleh pelembagaan budaya keselamatan dan untuk membuat perbedaan
dalam sistem perawatan kesehatan.
8. Safety Work And Risk Management As Burdens Of Treatment In
Primary Care: Insights From A Focused Ethnographic Study Of
Patients With Multimorbidity (keselamatan kera dan manajemen risiko
sebagai beban pengobatan dalam perawatan primer: wawasan dari studi
etnografi terfokus pasien dengan multimorbiditas)
Penulis : Gavin Daker-White, Rebecca Hays, Thomas Blakeman, Sarah
Croke, Benjamin Brown, Aneez Esmail and Peter Bower.
Sumber : BMC Family Practice

52
Publikasi: 2018
Hasil :
Dua puluh enam pasien direkrut. Peristiwa yang dapat menyebabkan
kerusakan ditemukan di semua area kerangka kerja berdasarkan literatur
yang diterbitkan. Konsultasi "Under" dan "over" sebagai prekursor
kegagalan keselamatan muncul melalui analisis tematik bahan observasi
dan wawancara. Temuan lain menyangkut beban kerja (untuk dokter
dan pasien) dan keterbatasan waktu konsultasi singkat. Ada perbedaan
dalam data kesehatan yang dikumpulkan secara langsung dari pasien
versus yang ditemukan di EHRs. Contohnya termasuk referensi untuk
riwayat stroke dan diagnosa untuk CKD dan hipertensi. Analisis studi
kasus mengungkapkan masalah spesifik yang muncul secara kontekstual
untuk masalah keselamatan, sebagian besar seputar manajemen
polifarmasi dan kepatuhan minum obat. Keharusan klinis muncul di
sekitar manajemen risiko, tetapi temuan penelitian menunjukkan potensi
konflik dengan harapan pasien sekitar investigasi, diagnosis dan
perawatan. keselamatan pasien melibatkan beban lebih lanjut di atas
beban kerja yang ada untuk kedua dokter dan pasien. Dalam
konseptualisasi ini, pekerjaan keselamatan tampaknya membentuk
bagian dari umpan balik negatif dengan keselamatan pasien diri. Garis
argumen yang diambil dari triangulasi temuan dari berbagai sumber,
menunjuk pada ketegangan antara keinginan obat yang sedikit
mengganggu versus risiko keselamatan yang mungkin terkait dengan
'under' atau Konsultasi 'over'. Multimorbiditas bertindak sebagai
pembesar ketegangan dalam pemberian layanan kesehatan dan
perawatan berkualitas dalam praktik umum. Lebih banyak perhatian
harus diberikan pada desain sistem daripada perilaku pasien atau
professional.

53
9. The German Version Of The Highperformance Work Systems
Questionnaire (HPWS-G) In The Context Of Patient Safety: A
Validation Study In A Swiss University Hospital (Versi Jerman dari
kuesioner sistem kerja berkinerja tinggi (HPWS-G) dalam konteks
keselamatan pasien: a studi validasi di rumah sakit universitas Swiss)
Penulis : Juliane Mielke, Sabina De Geest, Sonja Beckmann, Lynn
Leppla, Xhyljeta Luta, Raphaelle-Ashley Guerbaai, Sabina Hunziker
and René Schwendimann
Sumber : BMC Health service Research
Publikasi: 2019
Hasil :
Sebanyak 281 kuesioner selesai (tingkat respons: 35,9%). Secara
keseluruhan, 10-item HPWS-G kuesioner menunjukkan validitas konten
yang baik (I-CVI = 0,83-1; S-CVI = 0,86) dan konsistensi internal
(Cronbach's α = .853). Skor HPWS-G berkorelasi signifikan dengan
iklim keselamatan (rs = .657, p <.01) dan iklim kerja tim (rs = .615, p
<.01). Model 1-faktor yang diusulkan diterima dengan
mempertimbangkan hasil dari peringkat minimum yang diterapkan
analisis faktor; analisis faktor konfirmasi menunjukkan kesesuaian
model yang dapat diterima dan baik (GFI = .968; CFI = .902;
RMSEA=.043) HPWS-G menunjukkan sifat psikometrik yang baik.
Dalam praktek klinis dapat digunakan untuk menilai Praktik HPWS dan
untuk pembandingan dalam dan antar rumah sakit. Beberapa adaptasi
kecil terhadap kata-kata bisa dibuat serta menilai kembali sifat
psikometrik di situs klinis lainnya.
10. Effect Of Prenatal Yoga On Anxiety, Blood Pressure, And Fetal Heart
Rate In Primigravida Mothers (Pengaruh Program Yoga Terhadap
Kecemasan, Tekanan Darah, dan Tingkat Jantung Fetal pada Ibu
Primigravida)

54
Penulis : Hamdiah, Ari Suwondo, Triana Sri Hardjanti, Ariawan
Soejoenoes, M Choiroel Anwar
Sumber : Belitung Nursing Journal
Publikasi: 18 Februari 2017
Hasil :
Ada perbedaan yang signifikan secara statistik yoga prenatal pada
kecemasan (P = 0,005), tekanan darah sistolik (P = 0,045), dan denyut
jantung janin (P = 0,010). Namun, tidak ada perbedaan yang signifikan
dari yoga prenatal pada tekanan darah diastolik dengan p-value 0,586 (>
0,05). Ada efek signifikan yoga prenatal pada tingkat kecemasan,
tekanan darah sistolik, dan detak jantung janin pada ibu primigravida.
Temuan penelitian ini dapat menjadi pengobatan alternatif bagi bidan
untuk mengatasi kecemasan selama kehamilan, dan masukan pada
program kelas ibu hamil untuk meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan
janin.
2.3.3. Contoh Kasus Patient Safety

Kasus dugaan malpraktek kembali terjadi. Di Jember Jawa Timur,


seorang ibu muda mengalami luka robek dibagian anusnya, sehingga
tidak bisa buang air. Diduga korban yang kini harus buang air besar
melalui organ kewanitaannya, disebabkan kelalaian bidan yang masih
magang dipuskesmas setempat menangani persalinannya. Kini kasus
dugaan malpraktek ini ditangani Dinas Kesehatan Kota Jember.
Kasus dugaan malpraktik ini dialami Ika Agustinawati, warga
Desa Semboro Kidul, Kecamatan Semboro, Jember. Ibu muda berusia
22 tahun ini menjadi korban dugaan malpraktek, usai menjalani proses
persalina anak pertamanya, Irza Raditya Akbar, yang kini berusia 1
bulan.
Diduga karena kecerobohan yang masih magang saat menolong
persalinannya di Puskesmas Tanggo, Ika mengalami luka robek

55
dibagian organ vital hingga kebagian anus. Akibatnya, selain terus-
terusan mengalami kesakitan, sejak sebulan lalu korban terpaksa buang
kotoran melalui alat kelaminnya.
Saat menjalani proses persalinan 4 Februari lalu, korban dibantu
oleh beberapa bidan magang, atas pengawasan bidan Puskesmas.
Namun, salah seorang bidan magang diduga melakukan kesalahan saat
menggunting dinding kemaluan korban.
Terkait kasus ini Puskesmas Tanggo saat ini belum memberikan
keterangan resmi. Namun Kepala Dinas Kesehatan Kota Jember tengah
menangani kasus ini.
Jika terbukti terjadi malpraktek, Dinas Kesehatan berjanji akan
menjatuhkan sanksi terhadap petugas persalinan tersebut, sesuai
ketentuan yang berlaku.
Pada kasus diatas seorang bidan yang menangani pasien namun
tidak mementingkan keselamatan pasien atau patient safety.
Berdasarkan teknisnya kasus tersebut termasuk tipe dari medical error
yaitu error of pmission. Medical error dalam kasus tersebut disebabkan
oleh human error yaitu kelalaian bidan dalam pengontrolan postpartum.
Sedangkan menurut proses terjadinya, kasus tersebut termasuk ke dalam
tipe preventive karena bidan seharusnya melakukan pemantauan kepada
ibu postpartum.
Pada kasus tersebut bidan seharusnya mengetahui tentang keadaan
pasien. Selain itu, jika bidan salah menggunting organ korban hingga
kebagian anus, seharusnya bidan melakukan rujukan ke RS karena bidan
hanya berwenang melakukan penjahitan sampai dengan derajat 2
sehingga bisa menghindari hal yang tidak diinginkan seperti kasus
diatas. Kemudian kesalahan bidan dalam kasus tersebut adalah tidak
mengontrol keadaan pasien setelah melahirkan. Pengontrolan pasien
setelah melahirkan dimulai 2 jam setelah postpartum untuk mengetahui

56
kondisi ibu termasuk luka episiotominya sehingga bidan dapat
mengetahui lebih dini tentang gejala yang timbul.
Pada kasus tersebut dapat dilihat sisi positifnya, bidan magang
ingin membantu persalinan ibu tersebut dengan begitu ia akan
mendapatkan pengalaman yang lebih banyak. Sedangkan sisi
negatifnya, bidan tersebut kurang hati-hati karena kelalaian dan
kecerobohannya sehingga terjadi kesalahan.

57
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
1. Patient safety atau keselamatan pasien adalah suatu sistem yang membuat
asuhan klien di rumah sakit menjadi lebih aman. Pencegahan infeksi adalah
bagian esensial dari asuhan lengkap yang diberikan kepada ibu dan bayi
baru lahir dan harus dilaksakan secara rutin pada saat menolong persalinan
dan kelahiran bayi,saat memberikan asuhan dasar selama kunjungan
antenatal atau pasca persalinan/bayi baru lahir atau saat menatalaksana
penyulit.
2. Etika dalam pelayanan kebidanan merupakan issu utama diberbagai
tempat. Hal tersebut membutuhkan bidan yang mampu menyatu dengan
ibu dan keluarga. Bidan harus berpartisipasi dalam memberikan pelayanan
kepada ibu sejak konseling, prakonsepsi, skreming antenatal, layanan
intrapartum, perawatan intensive pada neonatal dan pengakhiran
kehamilan. Bidan dalam menyelenggarakan praktik berwewenang untuk
memberikan pelayanan yang meliputi : Pelayanan kesehatan ibu, Pelayanan
kesehatan anak, Pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dalam
keluarga berencana.
3. Evidence based dalam asuhan kehamilan diantaranya adalah pelayanan
antenatal terintegrasi dengan berbagai program disesuaikan dengan
kebutuhan ibu hamil. Ada banyak kajian jurnal mengenai Asuhan
Kehamilan terbaru, salah satunya adalah factor-faktor yang mempengaruhi
pengungkapan HIV, Pengobatan malaria pada ibu hamil, presentasi
kejadian HIV di UK, pemberian jus bayam tomat untuk meningkatkan HB
pada ibu hamil serta pemberian inhalasi lemon untuk mengurangi mual
muntah.

58
3.2.Saran
Diharapkan mahasiswa kebidanan dapat dan mau mengkaji lebih banyak jurnal
mengenai asuhan kebidanan terbaru, baik jurnal berbahasa Indonesia maupun
jurnal dengan sumber Negara lain, agar bisa diaplikasikan dan memberikan
pelayanan asuhan kehamilan yang lebih baik sesuai dengan kebutuhan klien.

59
DAFTAR PUSTAKA

Adewole, dkk. 2019. Determinants of intermittent preventive treatment of malaria


among women attending antenatal clinics in primary health care centers in
Ogbomoso, Oyo State, Nigeria. Pan African Medical Journal.
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6713488/pdf/PAMJ-33-101.pdf.
Diunduh Tanggal 1 Oktober 2019.

Aiken, L. H., Walter, S., Den, H. K. Van, M, S. D., Reinhard, B., Martin, M.,
Strømseng, I. 2012. Patient safety, satisfaction, and quality of hospital care:
cross sectional surveys of nurses and patients in 12 countries in Europe and the
United States. BMJ, 1717(March), 1–14. https://doi.org/10.1136/bmj.e1717\

Amiri, Maryam dkk. 2016. The Effect Of Nurse Empowerment Educational Program
On Patient Safety Culture: A Randomized Controlled Trial. BMC Medical
Education.
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6029022/pdf/12909_2018_Artic
le_1255.pdf Diakses pada 9 Oktober 2019

Brown, J. K. 2016. Relationship between Patient Safety Culture and Safety Outcome
Measures among Nurses. ProQuest Dissertations Publishing, 1–80.

CE French, dkk. 2019. Presentation for care and antenatal management of HIV in the
UK, 2009-2014. Jurnal Pubmed.
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5298001/pdf/HIV-18-161.pdf
Diunduh Tanggal 1 Oktober 2019

Dapertemen Kesehatan. 2006. Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit


(Patient Safety). Jakarta: Depkes RI

Dwiprahasto, I. 2004. Medical Error di Rumah Sakit dan Upaya Meminimalkan


Risiko. JMPK Vol. 07/No.01/Maret/2004.

Gavin, dkk. 2018. Safety Work And Risk Management As Burdens Of Treatment In
Primary Care: Insights From A Focused Ethnographic Study Of Patients With
Multimorbidity. BMC Family Practice.
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6128995/pdf/12875_2018_Artic
le_844.pdf diakses pada 9 Oktober 2019

Hadi, Dadi Anwar. dkk. 2005.Etika Kebidanan dan Hukum Kesehatan. Jakarta: Buku
Kedokteran EGC.

60
Hamidah, dkk. 2017. Effect Of Prenatal Yoga On Anxiety, Blood Pressure, And Fetal
Heart Rate In Primigravida Mothers. Belitung Nursing Jurnal.
http://belitungraya.org/BRP/index.php/bnj/ Diakses Pada 1 Oktober 2019.

Jamileh, dkk. 2018. The Long Way Ahead To Achieve An Effective Patient Safety
Culture: Challenges Perceived By Nurses. BMC Medical Education.
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6106875/pdf/12913_2018_Artic
le_3467.pdf diakses pada 9 Oktober 2019

Kemenkes Republik Indoneasia. 2008. Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit.

Latiff, A., Yunus, M., Din, C., Ma’on, N. 2013. Patient Satisfaction and Service
Quality with Access to 1Malaysia Clinic. Scientific & Academic Publishing.
https://doi.org/10.5923/j.mm.20130302.01.

Mielke, dkk. 2019. The German Version Of The Highperformance Work Systems
Questionnaire (HPWS-G) In The Context Of Patient Safety: A Validation Study
In A Swiss University Hospital. BMC Health Service Research.
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6555712/pdf/12913_2019_Artic
le_4189.pdf diakses pada 9 Oktober 2019

Ngonzi, Jhosep dkk. 2019. Frequency of HIV status disclosure, associated factors
and outcomes among HIV positive pregnant women at Mbarara Regional
Referral Hospital, southwestern Uganda. Pan African Medical Journal.
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6620078/pdf/PAMJ-32-200.pdf.
Diakses Tanggal 1 Oktober 2019.

Oktaviana, Lintang. 2018. Pemberian Jus Bayam dan Tomat Untuk Meningkatkan
Hemoglobin Pada Ibu Hamil dengan Anemia di PMB Syafrida S.ST Kretek
Rowokele Kebumen. Jurnal Universitas Muhammadiyah Gombong.
http://elib.stikesmuhgombong.ac.id/934/1/LINTANG%20OKTAVIANA%20NI
M.%20B1501289.pdf Diakses tanggal 1 Oktober 2019.

Pengurus Daerah Ikatan Bidan Indonesia. 2016. Modul Midwifery Update.

PMK RI. Peraturan menteri kesehatan RI nomor 11 tahun 2017 tentang keselamatan
pasien 2017. Jakarta, Indonesia.

Susanti, Melinda. 2017. Pemberian Lemon Inhalasi Aromaterapy Untuk Mengurangi


Mual Muntah Pada Kehamilan Trimester I di BPM Istianatul Kabupaten
Kebumen. Jurnal Universitas Muhammadiyah Gombong.

61
http://elib.stikesmuhgombong.ac.id/433/1/MELINDA%20SUSANTI%20NIM.%
20B1401182.pdf diakses tanggal 1 Oktober 2019

WHO. 2013. Patients for patient safety partnerships for safer health care (2nd ed.).
Geneva

Wiknjosastro. 2008. Ilmu Kebidanan. Edisi 4. Cetakan 1. Jakarta: PT. Bina Pustaka.

62

Anda mungkin juga menyukai