Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA

ANAK JALANAN DAN GELANDANGAN

DI SUSUN OLEH :

KELOMPOK 6

ANGGI CAHYA PUTRI 142012017050


EMA ERFIYANTI 142012017064
FENO MAELANI 142012017065
M ARIEL NOVRIZKY 142012017073
SISKA WAHYU DAMAYANTI 142012017083
SRI AJENG YULIANTIKA 142012017084
ULFA RUSIYANA 142012017088

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PRINGSEWU LAMPUNG (UMPRI)
LAMPUNG
2019
KATA PENGANTAR

Asslamualaikum, Wr.Wb
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan Makalah yang berjudul “anak jalanan” guna sebagai tugas mata kuliah keperawatan jiwa.
Dalam Makalah ini, penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis
menyampaikan rasa terimakasih yang tulus kepada :
1. sebagai dosen mata kuliah keperawatan jiwa.
2. Semua pihak yang telah membantu dalam menyusun Makalah secara langsung maupun tidak langsung.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa membalas kebaikan serta bantuan yang telah diberikan hingga saya dapat
menyelesaikan tugas ini.
Penulis menyadari bahwa Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan
kritik dan saran dari semua pihak. Akhirnya penulis berharap Makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan
pembaca.
Wassalamualaikum, Wr.Wb

Pringsewu, november 2019


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................... i


KATA PENGANTAR ............................................................................................ ii
DAFTAR ISI......................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang..................... .............................................................................. 1
B. Rumusan Masalah.............. ................................................................................ 1
C. Tujun Penulisan......... ........................................................................................ 1

BAB II TINJAUAN TEORI


A. .......................................................................................................................... 11
B. .......................................................................................................................... 11
C. .......................................................................................................................... 11
D. .......................................................................................................................... 11

BAB III PENUTUP


A. KESIMPULAN ................................................................................................. 14

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keperawatan kesehatan mental dan psikiatrik adalah suatu bidang spesialisasi praktek
keperawatan yang menerapkan teori perilaku manusia sebagai ilmunya dan penggunaan diri
sendiri secara terapeutik sebagai kiatnya (ANA). Semuanya didasarkan pada diagnosis dan
intervensi dari adanya respons individu akan masalah kesehatan mental yang actual maupun
potensial. Pelayanan yang menyeluruh difokuskan pada pencegahan penyakit mental,
menjaga kesehatan, pengelolaan atau merujuk dari masalah kesehatan fisik dan mental,
diagnosis dan intervensi dari gangguan mental dan akibatnya, dan rehabilitasi. Keperawatan
jiwa / mental diharapkan mampu mengkaji secara komprehensif, menggunakan ketrampilan
memecahkan masalah secara efektif dengan pengambilan keputusan klinik yang komplek
(advokasi), melakukan kolaborasi dengan profesi lain, peka terhadap issue yang mencakup
dilema etik, pekerjaan yang menyenangkan, tanggung jawab fiskal. Kesehatan Jiwa adalah
Perasaan Sehat dan Bahagia serta mampu mengatasi tantangan hidup, dapat menerima orang
lain sebagaimana adanya serta mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain.
Keperawatan jiwa bukan hanya berfokus pada individu dengan gangguan jiwa melainkan
juga terhadap individu dengan masalah psikososial dan kejiwaan. Salah satu individu dengan
masalah psikososial adalah anak jalanan dan gelandangan.

A. Tujuan Penulisan

B. Tujuan Umum

Untuk memenuhi tugas salah satu mata kuliah Keperawatan Jiwa serta mengetahui
bagaimana bentuk keperawatan kesehatan jiwa di masyarakat.
C. Tujuan Khusus:

Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan jiwa di masyarakat khususnya pada anak


jalanan dan gelandangan
D. Manfaat
Manfaat yang diharapkan oleh penulis adalah sebagai berikut :

E. Untuk masyarakat

Sebagai bahan informasi untuk menambah pengetahuan kesehatan

F. Untuk Mahasiswa

Sebagai bahan pembanding tugas serupa

G. Untuk tenaga kesehatan

Makalah ini bisa di jadikan bahan acuan untuk melakukan tindakan asuhan keperawatan
pada kasus keperawatan kesehatan jiwa masyarakat.
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Keperawatan Kesehatan Jiwa

Jiwa adalah unsur manusia yang bersifat nonmateri, tetapi fungsi dan manifestasinya
sangat terkait pada materi, jiwa bersifat abstrak dan tidak berwujud benda. Hal ini karena
jiwa memang bukan berupa benda, melainkan sebuah sistem perilaku, hasil olah pemikiran,
perasaan, persepsi, dan berbagai pengaruh lingkungan sosial. Semua ini merupakan
manifestasi sebuah kejiwaan seseorang. Oleh karena itu, untuk mempelajari ilmu jiwa dan
keperawatannya, pelajarilah dari manifestasi jiwa terkait pada materi yang dapat diamati
berupa perilaku manusia.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sehat adalah dalam keadaan bugar dan
nyaman seluruh tubuh dan bagian-bagiannya. Bugar dan nyaman adalah relatif, karena
bersifat subjektif sesuai orang yang mendefinisikan dan merasakan.
World Health Organization (WHO) pada tahun 2008 menjelaskan kriteria orang yang
sehat jiwanya adalah orang yang dapat melakukan hal berikut:
a. Menyesuaikan diri secara konstruktif pada kenyataan, meskipun kenyataan itu buruk.

b. Merasa bebas secara relatif dari ketegangan dan kecemasan.

c. Memperoleh kepuasan dari usahanya atau perjuangan hidupnya.

d. Merasa lebih puas untuk memberi dari pada menerima.

e. Berhubungan dengan orang lain secara tolong-menolong dan saling memuaskan.

f. Mempunyai daya kasih sayang yang besar.

g. Menerima kekecewaan untuk digunakan sebagai pelajaran di kemudian hari.

h. Mengarahkan rasa permusuhan pada penyelesaian yang kreatif dan konstruktif.

Menurut WHO, kesehatan jiwa adalah berbagai karakteristik positif yang


menggambarkan keselarasan dan keseimbangan kejiwaan yang menceerminkan
kedewasaan kepribadiannya. UU Kesehatan Jiwa No. 3 Tahun 1966 tentang Upaya
Kesehatan Jiwa, memberikan batasan bahwa upaya kesehatan jiwa adalah suatu kondisi
dapat menciptakan keadaan yang memungkinkan atau mengizinkan perkembangan fisik,
intelektual, dan emosional yang optimal pada seseorang, serta perkembangan ini selaras
dengan orang lain. Menurut UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, pada Bab IX
tentang kesehatan jiwa menyebutkan Pasal 144 ayat 1 “Upaya kesehatan jiwa ditujukan
untuk menjamin setiap orang dapat menikmati kehidupan kejiwaan yang sehat, bebas dari
ketakutan, tekanan, dan gangguan lain yang dapat mengganggu kesehatan jiwa”. Ayat 2,
“Upaya kesehatan jiwa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas preventif,
promotif, kuratif, rehabilitatif pasien gangguan jiwa, dan masalah psikososial”.

B. Definisi Gelandangan dan Anak Jalanan

a). Definisi Gelandangan

Gelandangan sebagai entitas sosial merupakan orang-orang yang hidup dalam


keadaan yang tidak sesuai dengan norma kehidupan yang layak dalam masyarakat
setempat, serta tidak mempunyai tempat tinggal dan pekerjaan yang tetap di wilayah
tertentu dan hidup mengembara di tempat umum (PP No. 31 tahun 1980 tentang
Penanggulangan Gelandangan dan Pengemis).
b). Definisi Anak Jalanan
Anak jalanan atau sering disingkat anjal adalah sebuah istilah umum yang
mengacu pada anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi di jalanan, namun masih
memiliki hubungan dengan keluarganya. Menurut Departmen Sosial RI (1999),
pengertian tentang anak jalanan adalah anak-anak di bawah usia 18 tahun yang karena
berbagai faktor, seperti ekonomi, konflik keluarga hingga faktor budaya yang membuat
mereka turun ke jalanan.
UNICEF memberikan batasan tentang anak jalanan, yaitu Street Child are those who
have abandoned their homes, school and immediate communities before they are
sixteen
years of age, and have drifted into a nomadic streat life. Berdasarkan hal tersebut, maka
anak jalanan adalah anak-anak berumur di bawah 16 tahun yang sudah melepaskan diri
dari keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat terdekantnya, larut dalam kehidupan
berpindah-pindah di jalan raya.
C. Definisi Anak Jalanan dan Gelandangan Psikotik

Gelandangan psikotik adalah penderita gangguan jiwa kronis yang keluyuran


dijalan jalan umum, sehingga dapat mengganggu ketertiban umum dan merusak keindahan
lingkungan.

D. Psikotik

Psikotik adalah bentuk disorder mental atau kegalauan jiwa yang dicirikan
dengan adanya disintegrasi kepribadian dan terputusnnya hubungan jiwa dengan Realita.
Kriteria Psikotik adalah sebagai berikut:
a) Psikotik organik sikotik yang penyebabnya adalah gangguan pada susunan syaraf pusat
dan psikotik yang disebabkan oleh kondisi fisik, gangguan metabolisme dan intoksikasi
obat.
b) Psikotik Fungsional

Psikotik yang disebabkan oleh gangguan pada kepribadian seseorang yang


bersifat psikogenetik yaitu skizofrenia (perpecahan kepribadian) seperti psikotik paranoid
dan curiga.

Berikut faktor penyebab psikotik, antara lain:

a) Tekanan-tekanan kehidupan ( emosional)

b) Kekecewaan yang tidak pernah terselesaikan

c) Adanya hambatan yang terjadi pada masa tumbuh kembang

d) Kecelakaan yang menyebabkan kerusakan gangguan otak

e) Tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan masyarakat.

Menurut UU no 23 tentang kesehatan jiwa menyebutkan penyebab munculnya anak jalanan


dan gelandangan psikotik adalah:
1. Keluarga tidak perduli
2. Keluarga malu

3. Keluarga tidak tahu

4. Obat tidak diberikan

5. Tersesat ataupun karena Urbanisasi

E. Tanda dan Gejala Anak Jalanan dan Gelandangan Psikotik

a) Orang dengan tubuh yang kotor sekali,

b) Rambutnya seperti sapu ijuk

c) Pakaiannya compang-camping dengan membawa bungkusan besar yang berisi


macammacam barang
d) Bertingkah laku aneh seperti tertawa sendiri

e) Sukar diajak berkomunikasi

f) Pribadi tidak stabil

g) Tidak memiliki kelompok

F. Layanan yang dibutuhkan oleh anak jalanan dan gelandangan psikotik

a) Kebutuhan fisik, meliputi kebutuhan makan, pakaian, perumahan dan kesehatan

b) Kebutuhan layanan psikis meliputi terapi medis psikiatris. keperawatan dan psikologis

c) Kebutuhan sosial seperti rekreasi, kesenian dan olah raga

d) Layanan kebutuhan ekonomi meliputi ketrampilan usaha, ketrampilan kerja dan


penempatan dalam masyarakat.
e) Kebutuhan rohani

G. Asuhan Keperawatan Pada Anak Jalanan Dan Gelandangan

a. Pengkajian
b. Faktor predisposisi=

genetik

Neurobiologis : penurunan volume otak dan perubahan sistem neurotransmiter.

Teori virus dan infeksi

Sosial kutural

Psikologis
c. Faktor presipitasi
Biologis
= sosial kultural
= psikologis
d. Penilaian terhadap sterssor

Respon adaptif Respon mal adaptif


a) Berfikir logis a) Pemikiran g) Gangguan
b) Persepsi akurat sesekali pemikiran
c) Emosi konsisten b) Terdistorsi h) Waham atau
dengan c) Ilusi halusinasi
pengalaman d) Reaksi emosi i) Kesulitan
d) Prilaku sesuai berlebih dan tidak pengolahan
e) Berhubungan bereaksi j) Emosi
sosial e) Prilaku aneh k) Prilaku kacau
f) Penarikan tidak dan
bisa berhubungan isolasisosial
soaial

e. Sumber koping

Disonasi kognitif ( gangguan jiwa aktif )


Pencapaian wawasan

Kognitif yang konstan

Bergerak menuju prestasi kerja

f. Mekanisme koping

Regresi( berhubungan dengan masalah dalam proses informasi dan pengeluaran


sejumlah besar tenaga dalam upaya mengelola anxietas)
Proyeksi ( upaya untuk menjelaskan presepsi yang membingungkan dengan
menetapkan tanggung jawab kepada orang lain)
Menarik diri

Pengingkaran

g. Diagnosa Keperawatan

1. Harga Diri Rendah

2. Isolasi Sosial

3. Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi

4. Resiko perilaku kekerasan/Perilaku kekerasan

5. Gangguan Proses Pikir: Waham

6. Resiko Bunuh Diri

7. Defisit Perawatan Diri

h. Intervensi Keperawatan

Diagnosa 1. Harga Diri Rendah

Tujuan umum : klien tidak terjadi gangguan interaksi sosial, bisa berhubungan dengan
orang lain dan lingkungan.
Tujuan khusus :
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan :
i. Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalan diri,

j. Jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang,

k. Buat kontrak yang jelas (waktu, tempat dan topik pembicaraan)

l. Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya

m. Sediakan waktu untuk mendengarkan klien

n. Katakan kepada klien bahwa dirinya adalah seseorang yang berharga dan

bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri

2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki Tindakan

Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki


o. Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien,

p. Utamakan memberi pujian yang realistis

q. Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki

3. Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan Tindakan :

r. Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki

s. Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang ke rumah

4. Klien dapat menetapkan / merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang

Dimiliki

Tindakan :

t. Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai
kemampuan
u. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien

v. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan


5. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuan Tindakan :
Beri kesempatan mencoba kegiatan yang telah direncanakan

w. Beri pujian atas keberhasilan klien

x. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah

6. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada


Tindakan :
 Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien
 Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat
 Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah
 Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga

Diagnosa 2: Menarik diri

Tujuan Umum :Klien dapat berinteraksi dengan orang lain

Tujuan Khusus :

1. Klien dapat membina hubungan saling percaya Tindakan :


Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi
terapeutikdengan cara :
 Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal
 Perkenalkan diri dengan sopan
 Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai
 Jelaskan tujuan pertemuan
 Jujur dan menepati janji
 Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya
 Berikan perhatian kepada klien dan perhatian kebutuhan dasar klien
2. Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri Tindakan:

 Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tanda-tandanya.


 Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan penyebab
menarik diri atau mau bergaul
 Diskusikan bersama klien tentang perilaku menarik diri, tanda-tanda serta

 penyebab yang muncul

 Berikan pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya


3. Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian
tidak berhubungan dengan orang lain.
Tindakan :

 Identifikasi bersama klien cara tindakan yang dilakukan jika terjadi


halusinasi ( tidur, marah, menyibukkan diri dll)

 Kaji pengetahuan klien tentang manfaat dan keuntungan berhubungan


dengan orang lain
 Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan tentang
keuntungan berhubungan dengan prang lain
 Diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubungan dengan orang lain

 Beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan


tentang keuntungan berhubungan dengan orang lain
 Kaji pengetahuan klien tentang kerugian bila tidak berhubungan dengan
orang lain

 beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan dengan


orang lain
 diskusikan bersama klien tentang kerugian tidak berhubungan dengan
orang lain

 beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan


tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain
4. Klien dapat melaksanakan hubungan sosial Tindakan:
 Kaji kemampuan klien membina hubungan dengan orang lain
 Dorong dan bantu kien untuk berhubungan dengan orang lain melalui
tahap :

 K–P
 K – P – P lain
 K – P – P lain – K lain
 K – Kel/Klp/Masy
 Beri reinforcement positif terhadap keberhasilan yang telah dicapai.
 Bantu klien untuk mengevaluasi manfaat berhubungan
 Diskusikan jadwal harian yang dilakukan bersama klien dalam mengisi
waktu
 Motivasi klien untuk mengikuti kegiatan ruangan
 Beri reinforcement positif atas kegiatan klien dalam kegiatan ruangan

5. Klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah berhubungan dengan orang lain


Tindakan:

 Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya bila berhubungan


dengan orang lain
 Diskusikan dengan klien tentang perasaan masnfaat berhubungan dengan
orang lain.
 Beri reinforcement positif atas kemampuan klien mengungkapkan
perasaan manfaat berhubungan dengan oranglain

6. Klien dapat memberdayakan sistem pendukung atau keluarga Tindakan:


a. Bina hubungan saling percaya dengan keluarga :
 Salam, perkenalan diri
 Jelaskan tujuan
 Buat kontrak
 Eksplorasi perasaan klien
b. Diskusikan dengan anggota keluarga tentang :
 Perilaku menarik diri
 Penyebab perilaku menarik diri
 Akibat yang terjadi jika perilaku menarik diri tidak ditanggapi
 Cara keluarga menghadapi klien menarik diri
c. Dorong anggota keluarga untukmemberikan dukungan kepada klien untuk
berkomunikasi dengan orang lain.
d. Anjurkan anggota keluarga secara rutin dan bergantian menjenguk klien minimal
satu kali seminggu
e. Beri reinforcement positif positif atas hal-hal yang telah dicapai oleh keluarga

Diagnosa 3: Perilaku kekerasan

TujuanUmum : Klien terhindar dari mencederai diri, orang lain dan lingkungan.

Tujuan Khusus:

1. Klien dapat membina hubungan saling percaya.

Tindakan:

 Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, empati, sebut nama


perawat dan jelaskan tujuan interaksi.
 Panggil klien dengan nama panggilan yang disukai.

 Bicara dengan sikap tenang, rileks dan tidak menantang.

2. Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan.

Tindakan:

 Beri kesempatan mengungkapkan perasaan.

 Bantu klien mengungkapkan perasaan jengkel / kesal.

 Dengarkan ungkapan rasa marah dan perasaan bermusuhan klien dengan


sikap tenang.

3. Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan.


Tindakan :

 Anjurkan klien mengungkapkan yang dialami dan dirasakan saat


jengkel/kesal.

 Observasi tanda perilaku kekerasan.

 Simpulkan bersama klien tanda-tanda jengkel / kesal yang dialami klien.

4. Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.

Tindakan:

 Anjurkan mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.

 Bantu bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan yang biasa


dilakukan.

 Tanyakan "apakah dengan cara yang dilakukan masalahnya selesai?" 5)


Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan.
Tindakan:

 Bicarakan akibat/kerugian dari cara yang dilakukan.

 Bersama klien menyimpulkan akibat dari cara yang digunakan.

 Tanyakan apakah ingin mempelajari cara baru yang sehat.

5. Klien dapat mengidentifikasi cara konstruktif dalam berespon terhadap kemarahan.

Tindakan :

 Beri pujian jika mengetahui cara lain yang sehat.

 Diskusikan cara lain yang sehat.Secara fisik : tarik nafas dalam jika sedang
kesal, berolah raga, memukul bantal / kasur.
 Secara verbal : katakan bahwa anda sedang marah atau kesal / tersinggung

 Secara spiritual : berdo'a, sembahyang, memohon kepada Tuhan untuk


diberi kesabaran.
6. Klien dapat mengidentifikasi cara mengontrol perilaku kekerasan.

Tindakan:

 Bantu memilih cara yang paling tepat.

 Bantu mengidentifikasi manfaat cara yang telah dipilih.

 Bantu mensimulasikan cara yang telah dipilih.

 Beri reinforcement positif atas keberhasilan yang dicapai dalam simulasi.

 Anjurkan menggunakan cara yang telah dipilih saat jengkel / marah.

7. Klien mendapat dukungan dari keluarga.

Tindakan :

 Beri pendidikan kesehatan tentang cara merawat klien melalui pertemuan


keluarga.

 Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga.

8. Klien dapat menggunakan obat dengan benar (sesuai program).

Tindakan:

 Diskusikan dengan klien tentang obat (nama, dosis, frekuensi, efek dan
efek samping).
 Bantu klien mengunakan obat dengan prinsip 5 benar (nama klien, obat,
dosis, cara dan waktu).
 Anjurkan untuk membicarakan efek dan efek samping obat yang
dirasakan.

Diagnosa 4: Gangguan Proses Pikir : Waham


Tujuan umum : klien tidak terjadi gangguan proses fikir yang berhubungan dengan
gangguan konsep diri (harga diri rendah/klien akan meningkat harga dirinya)
Tujuan khusus :

Pasien dapat berorientasi kepada realitas secara bertahap

Pasien dapat memenuhi kebutuhan dasar

Pasien mampu berinteraksi dengan orang lain dan


lingkungan Pasien menggunakan obat dengan prinsip 5
benar.
1. Dapat membina hubungan saling percaya Tindakan :
 Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalan diri, jelaskan
tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas
(waktu, tempat dan topik pembicaraan)
 Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya

 Sediakan waktu untuk mendengarkan klien

 Jangan membantah dan mendungkung waham klien, katakan perawat


menerima keyakinan klien “saya menerima keyakinan anda” disertai
ekspresi menerima, katakana perawat tidak mendukung disertai ekspresi
ragu dan empati, tidak membicarakan isi waham klien.
 Katakan kepada klien bahwa dirinya adalah seseorang yang berharga dan
bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri

2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki Tindakan :

 Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki

 Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien, utamakan


memberi pujian yang realistis
 Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.

3. Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan Tindakan :

 Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki


 Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang ke
rumah

4. Klien dapat menetapkan / merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang


dimiliki

Tindakan :

 Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari


sesuai kemampuan
 Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien

 Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan

5. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuan


Tindakan :
 Beri kesempatan mencoba kegiatan yang telah direncanakan

 Beri pujian atas keberhasilan klien

 Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah

6. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada


Tindakan :
 Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien

 Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat

 Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah

 Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga

Diagnosa 5 : Defisit Perawatan Diri : kebersihan diri, berdandan, makan, BAB/BAK Tujuan
Umum : Pasien tidak mengalami defisit perawatan diri kebersihan diri, berdandan,
makan, BAB/BAK.
Tujuan Khusus :
Pasien mampu melakukan kebersihan diri secara
mandiri Pasien mampu melakukan
berhias/berdandan secara baik
Pasien mampu melakukan makan dengan baik

Pasien mampu melakukan BAB/BAK secara mandiri

Intervensi

1. Melatih pasien cara-cara perawatan kebersihan diri

 Menjelasan pentingnya menjaga kebersihan diri.

 Menjelaskan alat-alat untuk menjaga kebersihan diri

 Menjelaskan cara-cara melakukan kebersihan diri

 Melatih pasien mempraktekkan cara menjaga kebersihan diri

2. Melatih pasien berdandan/berhias

 Untuk pasien laki-laki latihan meliputi:

 Berpakaian

 Menyisir rambut

 Bercukur

3. Untuk pasien wanita, latihannya meliputi :

 Berpakaian

 Menyisir rambut

 Berhias

4. Melatih pasien makan secara mandiri

 Menjelaskan cara mempersiapkan makan

 Menjelaskan cara makan yang tertib


 Menjelaskan cara merapihkan peralatan makan setelah makan

 Praktek makan sesuai dengan tahapan makan yang baik

5. Mengajarkan pasien melakukan BAB/BAK secara mandiri

 Menjelaskan tempat BAB/BAK yang sesuai

 Menjelaskan cara membersihkan diri setelah BAB dan BAK

 Menjelaskan cara membersihkan tempat BAB dan BAK

Diagnosa 6: perubahan persepsi sensorik : Halusinasi berhubungan dengan menarik

diri

Tujuan Umum : klien mampu mengontrol halusinasinya


Tujuan khusus :
Klien mampu membina hubungan saling percaya

Klien dapat mengenal halusinasinya

Klien dapat mengotrol halusinasinya

Klien dapat menggunakan obat dengan benar

TUK 1

1. Pasien dapat membina hubungan saling percaya

 Sapa pasien dengan ramah baik verbal maupun non verbal

 Perkenalkan nama, nama panggilan dan tujuan perawat berkenalan

 Tanyakan nama lengkap dan panggilan yang disukai

 Buat kontrak yang jelas

 Tunjukkan sikap jujur dan menunjukkan sikap empati serta menerima apa
adanya
 Beri perhatian kepada pasien dan perhatikan kebutuhan dasar pasien

 Beri kesempatan pasien untuk mengungkapkan perasaannya

 Dengarkan ungkapan pasien dengan penuh perhatian ada ekspresi perasaan

 pasien.
2. Pasien dapat mengenal halusinasinya

 Adakan kontak sering dan singkat secara bertahap

 Observasi tingkah laku yang terkait dengan halusinasi (verbal dan non
verbal)

 Bantu mengenal halusinasi

 Jika pasien tidak berhalusinasi, klarivikasi tentang adanya halusinasi ,


diskusikandengn pasien isi, waktu, dan frekuensi halusinasi
pagi,siang,sore, malam atau sering,
o jarang)

 Diskusikan tentang apa yang dirasakan saat terjadi halusinasi

 Diskusikan tentang dampak yang dialami jika pasien menikmati halusinasi

3. Pasien dapat mengontrol halusinasinyaIntervensi :

 Identifikasi bersama tentang cara tindakan jika terjadi halusinasi

 Diskusikan manfaat cara yang digunakan pasien

 Diskusikan cara baru untuk memutus/mengontrol halusinasi

 Bantu pasien memilih cara yang sudah dianjurkan dan latih untuk
mencobanya.

 Pantau pelaksanan tindakan yang telah dipilih dan dilatih, jika berhasil beri
pujian.

4. Pasien dapat menggunakan obat dengan benar


 Diskusikan tentang manfaat dan kerugian tidak minum obat, dosis, nama,
frekuensi,efek samping minum obat.
 Pantau saat pasien minum obat (pasien harus minum obat didepan perawat,
dan benar-

o benar meminum obat)

 Anjurkan pasien minta sendiri obatnya pada perawat

 Beri reinforcmen jika pasien menggunakan obat dengan benar

 Diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dokter

 Anjurkan pasien berkonsultasi dengan dokter/perawat jika terjadi hal-hal


yang tidakdiinginkan.

Diagnosa 7: Risiko Bunuh Diri

1. Tindakan keperawatan klien yang mengancam atau mencoba bunuh diri.

Tujuan : Klien tetap aman dan selamat

Tindakan : melindungi klien

Perawat yang dapat melakukan hal-hal berikut untuk melindungi klien yang
mengancam atau berupaya bunuh diri.

 Tetap menemani klien sampai dipindahkan ketempat yang lebih aman

 Menjauhkan semua benda yang berbahaya

 Memastikan bahwa pasien benar-benar telah meminum obatnya, jikia


pasien mendapatkan obat
 Menjelaskan dengan lembut pada pasien bahwa saudara akan melindungi
pasien sampai pasien melupakan keinginanya untuk bunuh diri.
2. Tindakan keperawatan untuk klien yang menunjukan isyarat untuk bunuh diri
Tujuan :
 Klien mendapatkan perlindungan dari lingkungannya

 Klien dapat mengungkapkan perasaanya

 Klien dapat menggunakan cara penyelesaian masalah yang baik

Tindakan

 Mendiskusikan tentang cara menagatasi keinginan bunug diri, yaitu


dengan meminta bantuan dari keluarga atau teman dekat
 Meningkatkan harga diri klien dengan memberikan kesempatan untuk
mengungkapkan perasaannya, berikan pujian untuk klien, menyakinkan
klien
 bahwa dirinya berarti untuk orang lain

 Meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah, dengan cara


mendiskusikan dengan klien cara menyesaikan masalahnya,
mendiskusikan dengan klien efektifitas masing-masing cara penyelesaian
masalah
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kesehatan Jiwa adalah Perasaan Sehat dan Bahagia serta mampu mengatasi
tantangan hidup, dapat menerima orang lain sebagaimana adanya serta mempunyai sikap
positif terhadap diri sendiri dan orang lain. Salah satu individu dengan masalah
psikososial adalah anak jalanan dan gelandangan. Anak jalanan atau sering disingkat
anjal adalah sebuah istilah umum yang mengacu pada anak-anak yang mempunyai
kegiatan ekonomi di jalanan, namun masih memiliki hubungan dengan keluarganya.
a. Diagnosa Keperawatan
 Harga Diri Rendah
 Isolasi Sosial
 Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi
 Resiko perilaku kekerasan/Perilaku kekerasan
 Gangguan Proses Pikir: Waham
 Resiko Bunuh Diri
 Defisit Perawatan Diri

DAFTAR PUSTAKA