Anda di halaman 1dari 7

FAKTOT BAHAYA LINGKUNGAN KERJA

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tenaga kerja merupakan modal utama dalam pengembangan usaha, sehingga mereka harus
mendapatkan perlindungan keselamatan kerja dari perusahaan. Selain itu, untuk menunjang
terciptanya suasana dan lingkungan pekerjaan yang aman dan sehat, perusahaan harus
melaksanakan beberapa program untuk mencapai tujuan tersebut. Setiap tempat kerja
selalu mengandung berbagai potensi bahaya yang dapat mempengaruhi kesehatan tenaga
kerja atau dapat menyebabkan timbulnya penyakit akibat kerja. Potensi bahaya adalah
segala sesuatu yang berpotensi menyebabkan terjadinya kerugian, kerusakan, cidera, sakit,
kecelakaan atau bahkan dapat mengakibatkan kematian yang berhubungan dengan proses
dan sistem kerja.

Lingkungan kerja beserta semua faktor-faktornya dapat merugikan kesehatan pekerja


apabila tidak dikelolah dengan baik. Penyakit akibat kerja timbul karena pekerja terpapar
pada lingkungan kerja yang mengandung bermacam-macam bahaya kesehatan baik yang
bersifat kimia, fisik, biologi, fisiologi dan mental psikologi.

Bahaya tidak hanya berhenti pada satu tempat saja, bahaya akan muncul dimana dan kapan
saja. Identifikasi bahaya, pemeliharaan dan pemantauan terhadap lingkungan/kesehatan
kerja harus dilaksanakan secara terus-menerus sesuai dengan peraturan perundangan yang
berlaku.

Keselamatan, kesehatan dan lingkungan kerja merupakan satu kesatuan yang saling
berkaitan, sehingga dalam prakteknya, ketiga komponen tersebut harus sinergi dan terpadu.

B. Tujuan
Untuk mengetahui faktor-faktor bahaya lingkungan kerja terhadap kesehatan, seperti
bahaya kimia, fisik, biologi, fisiologi dan mental psikologi.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Pengertian
Lingkungan kerja adalah kondisi lingkungan tempat kerja yang meliputi faktor fisik,
kimia, biologi, ergonomi, dan psikososial yang mempengaruhi pekerjaan dalam
melaksanakan pekerjaannya.

Kesehatan lingkungan kerja adalah ilmu dan seni yang ditunjukkan untuk mengenal,
mengevaluasi dalam mengendalikan semua faktor-faktor dan stres lingkungan di tempat
kerja yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan, kesejahteraan, kenyamanan dan
efisiensi dikalangan pekerjaan dan masyarakat.

Tujuan utama dari kesehatan lingkungan kerja adalah melindungi pekerja dan
masyarakat sekitar suatu RS atau perusahaan dari bahaya-bahaya yang mungkin timbul.
Untuk dapat mengantisipasi dan mengetahui kemungkinan bahaya lingkungan kerja
yang diperkirakan dapat menimbulkan penyakit akibat kerja, utamanya terhadap
pekerja, ditempuh tiga langkah utama yaitu: pengenalan, penilaian dan pengendalian
dari berbagai bahaya dan resiko kerja.

B. Ruang Lingkup Keselamatan Kerja


Keselamatan kerja termasuk dalam perlindungan teknis, yaitu perlindungan terhadap
pekerja/buruh agar selamat dari bahaya yang dapat ditimbulkan oleh alat kerja atau
bahan yang dikerjakan. Keselamatan kerja tidak hanya memberikan perlindungan
kepada pekerja/buruh, tetapi juga kepada pengusaha dan pemerintah :

1) Bagi pekerja/buruh, adanya jaminan perlindungan keselamatan kerja akan


menimbulkan suasana kerja yang tenteram sehingga pekerja/buruh akan dapat
memusatkan perhatiannya pada pekerjaannya semaksimal mungkin tanpa khawatir
sewaktu-waktu akan tertimpa kecelakaan kerja.

2) Bagi pengusaha, adanya pengaturan keselamatan kerja di perusahaannya akan


dpat mengurangi terjadinya kecelakaan yang dapat mengakibatkan pengusaha harus
memberikan jaminan social.

3) Bagi pemerintah (dan masyarakat), dengan adanya dan ditaatinya peraturan


keselamatan kerja, maka apa yang direncanakan pemerintah untuk menyejahterakan
masyarakat akan tercapai dengan meningkatnya produksi perusahaan baik kualitas
maupun kuantitasnya.

Untuk mewujudkan perlindungan keselamatan kerja, maka pemerintah telah melakukan


upaya pembinaan norma di bidang ketenagakerjaan. Dalam pengertian pembinaan
norma ini sudah mencakup pengertian pembentukan, penerapan dan pengawasan
norma itu sendiri.
Ditinjau dari segi keilmuan, keselamatan dan kesehatan kerja diartikan sebagai ilmu
pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya
kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Keselamatan dan kesehatan kerja harus
diterapkan dan dilaksanakan di setiap tempat kerja.
(perusahaan). Tempat kerja adalah setiap tempat yang di dalamnya terdapat 3 (tiga) unsur,
yaitu :
1) Adanya suatu usaha, baik itu usaha yang bersifat ekonomis maupun social.
2) Adanya sumber bahaya.
3) Adanya tenaga kerja yang bekerja di dalamnya, baik secara terus menerus maupun
hanya sewaktu-waktu.

C. Faktor-faktor Bahaya Lingkungan Kerja


Bahaya di lingkungan kerja dapat didefinisikan sebagai segala kondisi yang dapat
memberi pengaruh yang merugikan terhadap kesehatan atau kesejahteraan orang yang
bekerja. Faktor bahaya di lingkungan kerja meliputi faktor Kimia, Biologi, Fisika, Fisiologi
dan Psikologi.
1. Bahaya kimia
Jalan masuk bahan kimia ke dalam tubuh: Pernapasan (inhalation), Kulit (skin
absorption), Tertelan (ingestion). Racun dapat menyebabkan efek yang bersifat
akut,kronis atau kedua-duanya.
a. Korosi : Bahan kimia yang bersifat korosif menyebabkan kerusakan
pada permukaan tempat dimana terjadi kontak. Kulit, mata dan sistem
pencernaan adalah bagain tubuh yang paling umum terkena. Contoh :
konsentrat asam dan basa , fosfor.
b. Iritasi : iritasi menyebabkan peradangan pada permukaan di tempat
kontak. Iritasi kulit bisa menyebabkan reaksi seperti eksim atau
dermatitis. Iritasi pada alat-alat pernapasan yang hebat dapat
menyebabkan sesak napas, peradangan dan oedema (bengkak).
Contoh : Kulit : asam, basa,pelarut, minyak. Dan pernapasan :
aldehydes, alkaline dusts, amonia, nitrogen dioxide, phosgene,
chlorine ,bromine, ozone.
c. Kanker : Karsinogen pada manusia adalah bahan kimia yang secara
jelas telah terbukti pada manusia. Kemungkinan karsinogen pada
manusia adalah bahan kimia yang secara jelas sudah terbukti
menyebabkan kanker pada hewan .
Contoh:
- Terbukti karsinogen pada manusia : benzene ( leukaemia);
vinylchloride ( liver angiosarcoma); 2-naphthylamine, benzidine
(kanker kandung kemih ); asbestos (kanker paru-paru ,
mesothelioma);
- Kemungkinan karsinogen pada manusia : formaldehyde, carbon
tetrachloride, dichromates, beryllium.

d. Racun Sistemik : Racun sistemik adalah agen-agen yang menyebabkan


luka pada organ atau sistem tubuh.

Contoh :

- Otak : pelarut, lead,mercury, manganese


- Sistem syaraf peripheral : n-hexane,lead,arsenic,carbon disulphide

- Sistem pembentukan darah : benzene,ethylene glycol ethers

- Ginjal : cadmium,lead,mercury,chlorinated hydrocarbons

- Paru-paru : silica,asbestos, debu batubara (pneumoconiosis).

2. Bahaya Biologi
Bahaya biologi dapat didefinisikan sebagai debu organik yang berasal dari sumber-
sumber biologi yang berbeda seperti virus, bakteri, jamur, protein dari binatang atau bahan-
bahan dari tumbuhan seperti produk serat alam yang terdegradasi. Bahaya biologi dapat
dibagi menjadi dua yaitu yang menyebabkan infeksi dan non-infeksi. Bahaya dari yang
bersifat non infeksi dapat dibagi lagi menjadi organisme viable, racun biogenik dan alergi
biogenik.
· Organisme viable dan racun biogenic
Organisme viable termasuk di dalamnya jamur, spora dan mycotoxins; Racun biogenik
termasuk endotoxins, aflatoxin dan bakteri. Perkembangan produk bakterial dan jamur
dipengaruhi oleh suhu, kelembapan dan media dimana mereka tumbuh. Pekerja yang
beresiko: pekerja pada silo bahan pangan, pekerja pada sewage & sludge treatment, dll.
Contoh : Byssinosis, “grain fever”, Legionnaire’s disease.
· Alergi Bionik
Termasuk didalamnya adalah: jamur, animal-derived protein, enzim. Bahan alergen
dari pertanian berasal dari protein pada kulit binatang, rambut dari bulu dan protein dari
urine dan feaces binatang. Bahan-bahan alergen pada industri berasal dari proses
fermentasi, pembuatan obat, bakery, kertas, proses pengolahan kayu , juga dijumpai di
bioteknologi ( enzim, vaksin dan kultur jaringan). Pada orang yang sensitif, pemajanan
alergen dapat menimbulkan gejala alergi seperti rinitis, conjunctivitis atau asma. Contoh :
Occupational asthma : wool, bulu, butir gandum, tepung bawang dsb.
· Bahaya Infeksi
Penyakit akibat kerja karena infeksi relatif tidak umum dijumpai. Pekerja yang
potensial mengalaminya yaitu pekerja di rumah sakit, laboratorium, jurumasak, penjaga
binatang, dokter hewan dll. Contoh : Hepatitis B, tuberculosis, anthrax, brucella, tetanus,
salmonella, chlamydia, psittaci.

3. Bahaya Fisik
Bahaya fisik yaitu potensi bahaya yang dapat menyebabkan gangguan-gangguan
kesehatan terhadap tenaga kerja yang terpapar, misalnya: terpapar kebisingan intensitas
tinggi, suhu ekstrim (panas & dingin), intensitas penerangan kurang memadai, getaran,
radiasi.
· Kebisingan
Kebisingan dapat diartikan sebagai segala bunyi yang tidak dikehendaki yang dapat
memberi pengaruh negatif terhadap kesehatan dan kesejahteraan seseorang maupun suatu
populasi. Aspek yang berkaitan dengan kebisingan antara lain : jumlah energi bunyi,
distribusi frekuensi, dan lama pajanan. Kebisingan dapat menghasilkan efek akut seperti
masalah komunikasi, turunnya konsentrasi, yang pada akhirnya mengganggu job
performance tenaga kerja. Pajanan kebisingan yang tinggi (biasanya >85 dBA) pada jangka
waktu tertentu dapat menyebabkan tuli yang bersifat sementara maupun kronis. Tuli
permanen adalah penyakit akibat kerja yang paling banyak di klaim . Contoh : Pengolahan
kayu, tekstil, metal, dll.
· Getaran
Getaran mempunyai parameter yang hampir sama dengan bising seperti: frekuensi,
amplitudo, lama pajanan dan apakah sifat getaran terus menerus atau intermitten. Metode
kerja dan ketrampilan memegang peranan penting dalam memberikan efek yang berbahaya.
Pekerjaan manual menggunakan “powered tool” berasosiasi dengan gejala gangguan
peredaran darah yang dikenal sebagai ”Raynaud’s phenomenon” atau ”vibration-induced
white fingers” (VWF). Peralatan yang menimbulkan getaran juga dapat memberi efek negatif
pada sistem saraf dan sistem musculo-skeletal dengan mengurangi kekuatan cengkram dan
sakit tulang belakang. Contoh : Loaders, forklift truck, pneumatic tools, chain saws.
· Pencahayaan
a) Tujuan pencahayaan : Memberi kenyamanan dan efisiensi dalam melaksanakan
pekerjaan dan memberi lingkungan kerja yang aman.
b) Efek pencahayaan yang buruk: mata tidak nyaman, mata lelah, sakit kepala,
berkurangnya kemampuan melihat, dan menyebabkan kecelakaan.
c) Keuntungan pencahayaan yang baik : meningkatkan semangat kerja, produktivitas,
mengurangi kesalahan, meningkatkan housekeeping, kenyamanan lingkungan kerja,
mengurangi kecelakaan kerja.

4. Bahaya Psikologi
Bahaya yang berasal atau ditimbulkan oleh kondisi aspek-aspek psikologis
ketenagakerjaan yang kurang baik atau kurang mendapatkan perhatian seperti :
penempatan tenaga kerja yang tidak sesuai dengan bakat, minat, kepribadian, motivasi,
temperamen atau pendidikannya, sistem seleksi dan klasifikasi tenaga kerja yang tidak
sesuai, kurangnya keterampilan tenaga kerja dalam melakukan pekerjaannya sebagai akibat
kurangnya latihan kerja yang diperoleh, serta hubungan antara individu yang tidak harmoni
dan tidak serasi dalam organisasi kerja. Kesemuanya tersebut akan menyebabkan terjadinya
stress akibat kerja.
· Stress adalah tanggapan tubuh (respon) yang sifatnya non-spesifik terhadap setiap
tuntutan atasnya. Manakala tuntutan terhadap tubuh itu berlebihan, maka hal ini
dinamakan stress.
· Gangguan emosional yang di timbulkan : cemas, gelisah, gangguan kepribadian,
penyimpangan seksual, ketagihan alkohol dan psikotropika.
· Penyakit-penyakit psikosomatis antara lain : jantung koroner, tekanan darah tinggi,
gangguan pencernaan, luka usus besar, gangguan pernapasan, asma bronkial, penyakit kulit
seperti eksim,dll.

5. Bahaya Fisiologi
Potensi bahaya yang berasal atau yang disebabkan oleh penerapan ergonomi yang
tidak baik atau tidak sesuai dengan norma-norma ergonomi yang berlaku, dalam melakukan
pekerjaan serta peralatan kerja, termasuk : sikap dan cara kerja yang tidak sesuai,
pengaturan kerja yang tidak tepat, beban kerja yang tidak sesuai dengan kemampuan
pekerja ataupun ketidakserasian antara manusia dan mesin.
Pembebanan Kerja Fisik
· Beban kerja fisik bagi pekerja kasar perlu memperhatikan kondisi iklim, sosial ekonomi
dan derajat kesehatan.
· Pembebanan tidak melebihi 30 – 40% dari kemampuan kerja maksimum tenaga kerja
dalam jangka waktu 8 jam sehari.
· Berdasarkan hasil beberapa observasi, beban untuk tenaga Indonesia adalah 40 kg. Bila
mengangkat dan mengangkut dikerjakan lebih dari sekali maka beban maksimum tersebut
harus disesuaikan.
· Oleh karena penetapan kemampuan kerja maksimum sangat sulit, parameter praktis
yang digunakan adalah pengukuran denyut nadi yang diusahakan tidak melebihi 30-40
permenit di atas denyut nadi sebelum bekerja.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Faktor bahaya lingkungan kerja terhadap kesehatan, seperti :
· Bahaya Kimia, seperti : korosi, kanker, iritasi, dan racun sistemik
· Bahaya Biologi, seperti : bahaya infeksi, alergi bionik, dan Organisme viable dan racun
biogenic.
· Bahaya fisik, seperti : pencahayaan, getaran, dan kebisingan.
· Bahaya Psikologi, seperti : stress, gangguan emosional, dan Penyakit-penyakit
psikosomatis.
· Bahaya Fisiologi, seperti : jangka waktu, beban kerja fisik, dll.

B. Saran
Untuk menghindari hazard kesehatan kerja atau bahaya terhadap keselamatan kerja
sebaiknya setiap jenis tempat kerja memperhatikan alat pelindung diri dari para tenaga kerja
agar terhindar dari bahaya terhadap keselamatan kerja.