Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH

DISKUSI KELOMPOK

SKENARIO 2

Fasilitator : Dr.drg. Cut Soraya, M.Pd, Sp.KG

Disusun Oleh :

1. Fadia Melfany (1813101010008)


2. Naviatul Ulfa (1813101010026)
3. Raihan Putri Kahar (1813101010047)
4. Cut Syahla Nazilla (1813101010039)
5. Muhammad Findzi E (1813101010023)
6. Shafayanur Amala (1813101010052)
7. Sofie Nastiti (1813101010027)
8. Nur Rizka Alfira Husna (1813101010044)
9. Pocut Dara Meutuah (1813101010054)
10. Cut Qusnul Zakia (1813101010015)

Program Studi Pendidikan Dokter Gigi

Fakultas Kedokteran Gigi

Universitas Syiah Kuala

2020

1
DAFTAR ISI

Cover ................................................................................................................ 1

Daftar Isi........................................................................................................... 2

Kata Pengantar ................................................................................................. 4

BAB I Pendahuluan

1.1. Latar Belakang ................................................................................... 5

1.2. Rumusan Masalah .............................................................................. 6

1.3. Tujuan Belajar .................................................................................... 6

BAB II Pembahasan

2.1. Cemas dan takut ................................................................................. 8

2.1.1. Definsi ..................................................................................... 8

2.1.2. Pengalaman medis dan dental ................................................. 8

2.1.3. Cara mengatasi ........................................................................ 10

2.2. Perilaku anak

2.2.1. Klasifikasi ................................................................................ 11

2.2.2. Faktor yang mempengaruhi ..................................................... 12

2.2.3. Komunikasi ............................................................................. 13

2.2.3.1. Jenis ........................................................................... 13

2.2.3.2. Segitiga Perawatan Gigi Anak .................................. 15

2.3. Tumbuh Kembang Biopsikososial ..................................................... 16

2
2.4. Penyakit sistemik dan herediter ......................................................... 19

2.5. Sistem rujukan multidisiplin .............................................................. 24

BAB III Penutup

3.1. Kesimpulan ........................................................................................ 28

3.2. Saran .................................................................................................. 28

DAFTAR PUSTAKA

3
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
berkat rahmat dan karunia-Nya, makalah ini dapat kami selesaikan dengan baik.
Makalah ini merupakan hasil diskusi Tutorial 1 dengan skenario 2 pada blok 10
ini. Kami telah berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan yang terbaik
melalui makalah ini. Namun, sebagai manusia biasa yang tak luput dari
kesalahan, tentu masih terdapat kesalahan di dalam makalah ini dan kami
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata kesempurnaan. Untuk itu,
kami mengharapkan kritik dan saran dari staf pengajar, dan teman-teman yang
membaca laporan ini.
Ucapan terima kasih kami ucapkan pada fasilitator kami Dr. drg. Cut
Soraya, M.Pd.,Sp.KG dan Dr. drg. Munifah Abdat, MARS. Ucapan terima kasih
juga kami ucapkan pada serta seluruh anggota tutorial 1 yang telah berkontribusi
secara maksimal dalam penyusunan makalah ini serta pihak-pihak lain yang telah
turut membantu dalam penyusunan makalah ini.
Akhir kata, kami mengharapkan laporan ini dapat bermanfaat dan dapat
digunakan sebagaimana mestinya.

Banda Aceh, 22 Februari 2020

Penyusun

4
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kecemasan didefinisikan sebagai sebuah perasaan yang tidak spesifik pada


sebuah penangkapan, ketakutan dan penyebab atau sumbernya tidak jelas atau tidak
diketahui (Agarwal dan Das, 2013). Survey dari beberapa belahan dunia menunjukan
prevalensi dental anxiety pada anak dan remaja bervariasi dari 5% hingga 20%
(Klingberg et al., 2009). Kecemasan anak terhadap perawatan gigi telah menjadi
sebuah keprihatinan selama beberapa tahun (Buchanan dan Niven, 2002), hal tersebut
menyebabkan beberapa kerugian, seperti waktu perawatan yang lebih lama, masalah
pengaturan tingkah laku, dan penolakan terhadap perawatan gigi, tetapi etiologinya
belum diketahui seluruhnya (Agarwal dan Das, 2013).
Seperti pada setiap cabang ilmu kedokteran gigi, praktek ilmu kedokteran gigi
anak harus dikelola dengan suatu filosofi yang sederhana tetapi mendasar: rawat
pasiennya, bukan hanya giginya. Apa yang terkandung dalam filosofi ini adalah suatu
tekad untuk mempertimbangkan perasaan anak, membentuk rasa percaya dan
kerjasama anak untuk melakukan perawatan dengan cara simpatik dan baik serta
tidak hanya memberikan perawatan yang diberikan sekarang tetapi juga
mengusahakan masa depan kesehatan gigi anak dengan membentuk sikap dan tingkah
laku yang positif terhadap perawatan gigi. Mengatur pasien anak dapat dianggap
sebagai perwujudan perasaan, berdasarkan pengalaman sebelumnya tetapi tanpa
mengetahui psikologi formal anak (Andlaw dan Rock, 1992).
Salah satu aspek utama dalam mengatur anak saat di kursi gigi adalah
mengatur kecemasan, sebuah masalah mendunia dan barrier universal untuk
mendapatkan perawatan gigi. Dalam merawat pasien anak, dokter gigi hampir selalu
menilai satu aspek dari tingkah laku dan kekooperatifan. Perilaku kooperatif
merupakan kunci untuk memberikan perawatan (Sharath et al., 2009).

5
Banyak anak-anak yang merasa kunjungan ke dokter gigi sebagai hal yang
menegangkan, ini karena didalamnya terdapat berbagai komponen yang
menyebabkan stres, seperti bertemu dengan beberapa orang dewasa yang tidak
dikenal, bertemu dokter gigi, suara dan rasa yang asing, keharusan untuk berbaring,
ketidaknyamanan, dan bahkan rasa sakit. Perilaku yang tidak kooperatif dan reaksi
ketakutan merupakan sebuah hal umum yang harus dihadapi dalam situasi klinis
sehari-hari (Klingberg et al., 2009).

1.2. Rumusan Masalah


1. Apa itu behavior management?
2. Apa saja klasifikasi perilaku anak?
3. Bagaimana proses tumbuh kembang anak aspek biopsikososial?
4. Apa saja faktor - faktor yang mempengaruhi peilaku anak?
5. Bagaimana segitiga perawatan gigi anak?
6. Bagaimana cara pendekatan pada perilaku anak ?
7. Apa saja kelainan sistemik yang mempengaruhi perawatan gigi anak?
8. Apa saja kelainan herediter yang mempengaruhi perawatan gigi anak?
9. Bagaiamana proses rujukan pada pasien?

1.3. Tujuan Belajar

1. Untuk mengetahui apa itu behavior management?


2. Untuk mengetahui apa saja klasifikasi perilaku anak?
3. Untuk menjelaskan bagaimana proses tumbuh kembang anak aspek
biopsikososial?
4. Untuk mengetahui apa saja faktor - faktor yang mempengaruhi peilaku
anak?
5. Untuk menjelaskan bagaimana segitiga perawatan gigi anak?
6. Untuk menjelaskan bagaimana cara pendekatan pada perilaku anak ?
7. Untuk mengetahui apa saja kelainan sistemik yang mempengaruhi
perawatan gigi anak?

6
8. Untuk mengetahui apa saja kelainan herediter yang mempengaruhi
perawatan gigi anak?
9. Untuk menjelaskan bagaiamana proses rujukan pada pasien?

7
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Cemas dan Takut

2.1.1. Definisi Cemas dan Takut1

Kecemasan erat terjadi dengan sifat sifat temperamental seperti rasa malu, ada
kendala dan emosi negative.
Ketakutan merupakan reaksi normal bagi kecil, terutama dalam situasi asing
dimana mereka tidak memiliki control atau merasakan potensi rasa sakit.
Seiring bertambahnya usia anak, dengan meningkatnya kemampuan untuk
mengantisipasi, memahami dan mengendalikan implus, ketakutan dapat berkurang.
Tetapi, jika ketakutan/kecemasantidak sesuai dengan situasi, kemungkinan terjadi
pengalaman yang tidak menyenangkan dan mungkin jadi tidak kooperatif dan
menunjukkan perilaku yang menggangu.
Penelitian menunjukkan kolerasi yang signifikan antara kecemasan ibu dan
perilaku kooperatif anak pada kujungan gigi pertama. Kecemasan yang ringan pada
orang tua cenderung mempengaruhi perilaku anak secara negative. Anak dari segala
usia dapat dipengaruhi oleh kecemasan ibunya, terapi efek paling besar pada usia
kurang dari 4 tahun.

2.1.2. Pengalaman Medis dan Dental pada Anak1

Pengalaman medis adalah variable kompleks yang diperdebatkan selama


bertahun tahun. Akan tetapi, ada persamaan persepsi yakni anak anak yang melihat
pengalaman medis secara positif akanlebih kooperatif dengan dokter gigi. Kualitas
kunjungan sebelumnya lebih berpengaruh daripada jumlah kunjungan. Anak anak
dengan kebutuhan medis akan berperilaku berbeda dengan anak anak lain. Kondisi
kronis medis (tanpa hambatan perkembangan) dapat menjadi lebih dewasa. rasa takut
selama perawatan medis sebelumnya adalah hal lain yang dipertimbangkan pada
pengalaman medis anak. rasa sakit dapat sedang atau parah, nyata ataupun imajinasi

8
keyakinan orang tua tentang rasa sakit medis dimasa lampau/sebelumnya berkolerasi
signifikan pada kooperatif anak dilingkungan dental.

Kesalahan dental
Anak anak yang datang ke dokter gigi terkadang tahu bahwa mereka meiliki
masalah dental. masalah gigi dapat serius seperti abses kronis atau sederhana seperti
straining ekstrinsik pada dentition. Meskipun demikian, sikap negatif pada kunjungan
dental pertama ketika anak sadar bahwa masalah gigi itu ada. sehingga dokter gigi
perlu melakukan edukasi dan pentingnya motivasi orang tua agar merawat gigi
anaknya. Hal hal ini akan meningkatkan sikap positif pada kunjungan dental
berikutnya.
Anak yang mempunyai pengalaman buruk, terhadap kunjungan terakhir ke
rumah sakit atau perawat medis atau kunjungan dokter gigi. akan lebih cemas
terhadap perawatan gigi. ketika menganamnesis riwayat penyakit, penting untuk
bertanya kepada orang tua tentang bagaimana perawatan sebelumnya dan respon anak
terhadap perawatan tersebut. pertanyaan ini dapat mengidentifikasi timbulnya
kecemasan yang berhubungan dengan perilaku dan memberikan dokter gigi untuk
menggunakan strategi perilaku yang tepat.
Pengalaman medis dan dental pada anak dalam beberpa kasus mencerminkan
kunjugan yang tidak memuaskan yang menghasilkan masalah manajemen pada anak.
menurut wright (1973) menunjukkan bahwa keterlibatan emosional yang ditimbulkan
dari pengalaman medis dan sikap anak yang umumnya buruk tentang pertolongan
medis jelas dapat membentuk dan memoengaruhi yang tidak diinginkan anak.
Dalam studi yang sama hal tersebut dapat menunjukkan bahwa perilaku
negatif secara signifikan dapat timbul dari pengalaman medis dan dental sebelumnya
atau dapat timbul dengan adanya kecemasan dari ibunya yang dapt menunjukkan
perilaku tidak kooperatif dari anaknya. kecemasan yang tinggi pada orang tua
cenderung mempengaruhi perilaku anak-anak mereka. Meskipun analisis data ilmiah
meyatakan bahwa anak anak dari segala usia dapat dipengaruhi oleh kecemasan ibu
mereka dan memberi pengaruh paling besar pada mereka yang berusia kurang dari 4
tahun.

9
2.1.3. Cara Mengatasi Takut dan Cemas pada Anak2
Berikut ini merupakan beberapa teknik manajemen perilaku yang umum
dilakukan untuk mengatasi rasa takut pada anak. Dokter gigi akan memilih teknik
yang paling tepat tergantung pada kebutuhan pasien. Teknik mungkin dapat
digunakan dengan kombinasi.

1. Desensitisasi
Yaitu teknik manajemen perilaku berdasarkan pemahaman bahwa relaksasi
dan kecemasan tidak dapat ada pada individu di saat yang bersamaan.
Desensitisasi sistemik membantu individu untuk mengatasi ketakutan atau
fobia tertentu melaui kontak yang berulang. Dalam praktiknya, untuk
manajemen kecemasan dental, stimulus penghasil rasa takut dibangun,
dilakukan dalan bentuk urutan peningkatan kecemasan, dan dilanjutkan
dengan stimulus yang lebih tinggi ketika anak tersebut dapat menerima
stimulus yang sebelumnya dalam keadaan rileks.
2. Tell-Show-Do
Teknik yang digunakan untuk memperkenalkan pasien anak-anak dengan
prosedur perawatan secara bertahap, sambil meminimalkan rasa takut. Dokter
gigi menjelaskan kepada pasien apa yang akan dilakukan dengan Bahasa yang
mudah dipahami dan dimengerti oleh anak, lalu dokter gigi menunjukkan alat
yang akan digunakan dan dilakukan perawatan. Tujuan dari tell-show-do ini
adalah untuk menunjukkan anak belajar memahami prosedur perawatan gigi.
3. Pembentukan Perilaku
Teknik ini merupakan bentuk modifikasi perilaku yang didasarkan pada
prinsip-prinsip pembelajaran social. Prosedur ini secara bertahap akan
mengembangkan perilaku dengan memperkuat perilaku social. Pembentukan
perilaku dilakukan dengan cara perhatikan tingkat pemahaman anak dengan
menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh anak.
4. Distraction
Distraction bertujuan untuk mengalihkan perhatian anak menjauh dari
prosedur dental. Pengalihan bisa berupa dalam bentuk musik, kartun, atau

10
cerita. Metode lain yang dikenal baik yaitu ketika dokter gigi berbicara
kepada pasien saat mereka bekerja sehingga pasien mendengarkan dokter gigi
bicara daripada berfokus pada perawatan.

2.2. Perilaku Anak

2.2.1. Klasifikasi Perilaku Anak3

Banyak sistem telah dikembangkan untuk mengklasifikasikan perilaku anak-


anak di lingkungan kedokteran gigi. Dokter harus mengklasifikasikan perilaku anak
(secara mental) untuk membantu pendekatan manajemen.

Salah satu yang pertama dijelaskan oleh Wilson (1993), yang mendata empat
kelas perilaku, normal atau berani, malu-malu, histeris, dan memberontak. Pada tahun
yang sama, Sands menuliskan ada lima tipe, hipersensitif atau waspada, gelisah,
takut, tidak sehat secara fisik, dan keras kepala. Sistem ini mengidentifikasi perilaku
selama prosedur gigi yang terutama membatasi keberhasilan perawatan.

Salah satu sistem yang paling banyak digunakan dikenalkan oleh Frankl et al
(1962), disebut sebagai “skala penilaian perilaku Frankl”. Merupakan gold standard
dalam skala penilaian klinis, terutama sebagai hasil dari penggunaan yang luas dan
penerimaan dalam penelitian kedokteran gigi anak.

Kategori perilaku Frankl:

 Peringkat 1: Pasti negatif (--)


Penolakan terhadap perawatan, menangis, ketakutan.
 Peringkat 2: Negatif (-)
Menolak untuk menerima pengobatan, tidak kooperatif, bukti sikap negatif
tetapi tidak diucapkan, seperti: cemberut dan menarik diri.
 Peringkat 3: Positif (+)
Menerima pengobatan, terkadang hati-hati, kooperatif, kadang-kadang
keberatan atau menolak tetapi mengikuti petunjuk dokter gigi secara
kooperatif.

11
 Peringkat 4: Pasti positif (++)
Hubungan dengan dokter gigi selama prosedur baik, tertarik pada prosedur
gigi, tertawa dan menikmati situasi.

Untuk anak dibawah 8 tahun memiliki kapasitas kognitif yang terbatas


bergantung pada keakuratan pelaporan mereka, sehingga risiko untuk informasi yang
salah lebih besar. Sehingga dapat dilakukan metode yang bernama laporan diri. Untuk
meningkatkan informasi tentang skala penilaian diri untuk anak kecil, beberapa
peneliti telah menggunakan ikon kecil dari situasi yang berhubungan dengan
kedokteran gigi. Secara umum skala analog visual (VAS) paling efektif dengan anak
kecil, dengan “sangat kooperatif” dan “tidak kooperatif” sebagai titik akhir klinis.

2.2.2. Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Anak4

 Medical History (Riwayat kesehatan)


Kualitas dari kunjungan medis pada waktu lampau sangat penting. Jika
terdapat ketidaknyamanan, ini akan mempengaruhi sikap seseoraang anak
ketika kunjungan selanjutnya ke dokter gigi. Sakit yang dirasakan ketika
prosedur yang lampau sering menjadi penyebab.
 Kecemasan Ibu (Maternal anxiety)
Ditemukan bahwa seorang ibu yang cemas memiliki kemungkinan lebih besar
untuk memiliki anak yang tidak kooperatif ketika ke dokter gigi. Namun
sekarang lingkungan keluarga telah berubah, Ibu tidak selalu menemani
anaknya ke dokter gigi.
 Memerlukan Perawatan (Need for treatment)

12
Jika seorang anak sadar bahwa ada masalah pada giginya, maka ada
kemungkinan lebih besar bahwa kecemasan anak tersebut akan meningkat.
Yang dan rekannya pada tahun 2011 meneliti 195 anak-anak usia 3-7 tahun,
merasa menemukan korelasi yang signifikan antara anak dan karies gigi
dengan perilaku tidak kooperatif. Setelah ada pemahaman tentang faktor-
faktor yang dapat mempengaruhi perilaku anak, barulah membuat rencana
perawatan. Beberapa pasien anak mungkin perlu waktu extra dalam
mempersiakan diri mereka untuk apa yang akan terjadi, terutama mereka yang
memiliki ketakutan dan kecemasan kronis. Pasien yang berperilaku agresif
membutuhkan penjelasan yang jelas dan pendekatan yang sangat terstruktur
selama kunjungan ke dokter gigi. Memahami kebutuhan anak dalam rencana
perawatan kemungkinan akan meningkatkan kesuksesan hasil.

2.2.3. Jenis Komunikasi5

a. Membangun Komunikasi
Melibatkan anak dalam percakapan tidak hanya memungkinkan dokter gigi
mempelajari pasiennya, namun juga membantu menenangkan pasien. Ada
banyak cara memulai komunikasi verbal, dan efektivitas pendekatan ini
berbeda sesuai dengan usia anak. Apapun taktik verbal yang digunakan untuk
komunikasi verbal, sebaiknya hindari pertanyaan yang hanya menghasilkan
jawaban “iya” dan “tidak”.
b. Kejelasan Pesan
Pesan yang disampaikan oleh dokter gigi harus jelas dan mudah dipahami
oleh anak. Dokter gigi sering menggunakan eufisme untuk menjelaskan
prosedur ataupun alat. Eufisme seperti bahasa kedua untuk meningkatkan
kejelasan saat berkomunikasi dengan anak. Hal ini merupakan syarat penting
bagi dokter gigi untuk membangun komunikasi yang baik dengan anak.
c. Komunikasi Multisensor
Pesan nonverbal juga daoat membangun komunikasi yang baik antara dokter
gigi dengan anak. Kontak tubuh dapat menjadi bentuk komunikasi nonverbal.

13
Membelai tangan anak, kontak mata dan senyum mengomunikasikan perasaan
hangat. Tindakan lainnya seperti menempatkan tangan di bahu anak sambal
duduk di samping juga membantu membuat anak menjadi lebih rileks,
terutama pada anak berusia 7-10 tahun. Media seperti desain ruangan dan
music latar belakang juga menjadi bagian dari komunikasi nonverbal.
d. Kontrol Suara
Kontrol suara dibutuhkan untuk mendapatkan perhatian anak. Perintah yang
tegas dan tiba-tiba digunakan untuk mendapat perhatian atau menghentikan
perilaku anak yang tidak diinginkan. Bentuk lain dari kontrol suara yaitu
irama suara yang lambat dan direndahkan dapat berfungsi seperti musik untuk
menenangkan hati anak. Teori Chambers menyatakan kontrol suara
merupakan hal yang efektif untuk berkomunikasi dengan baik.
e. Komunikasi yang Meyakinkan
Dokter gigi harus yakin dengan segala sesuatu yang disampaikan kepada
pasien. Berbicara dengan percaya diri dapat meyakinkan anak dan membuat
anak menjadi kooperatif.
f. Aktif Mendengar
Mendengar penting dalam perawatan semua anak. Mendengar aktif atau
reflektif mendengar memiliki efek positif meyakinkan anak. Mendengar aktif
mencerminkan emosi yang dikomunikasikan. Dengan demikian anak merasa
diperhatikan dan menjadi percaya diri sehingga menjadi kooperatif.
Sensitivitas terhadap emosi yang diungkapkan juga dapat meyakinkan anak
dan mendorong komunikasi yang tulus.
g. Masalah pada Diri
Dalam situasi yang sulit dikendalikan, terkadang dokter gigi lupa bahwa
mereka membimbing perilaku anak sehingga menjadi tidak terkontrol. Kata-
kata menyudutkan seperti “Kamu harus segera berhenti menangis!” akan
menyebabkan anak menjadi tidak percaya diri dan akan menjadi hambatan
dalam berkomunikasi. Nash menyebutkan bahwa kalimat perintah dengan

14
kata “kamu” itu merusak karakter anak dan membuat anak memiliki perilaku
pemberontak.
Sebagai alternatif, penggunaan kata “saya” mencerminkan focus masalah ada
pada diri praktisi. Penggunaan kata “saya” tidak mengevaluasi negatif bagu
anak, namun mengidentifikasi masalah pada anak. Kalimat “saya tidak bisa
mengobati gigi kamu jika kamu menangis” menggambarkan situasu yang
perlu diubah dari anak sehingga anak akan sadar dan mengikuti instruksi
untuk mendukung perawatan dari dokter gigi.
h. Respon yang Tepat
Respon yang diberikan dalam berkomunikasi harus sesuai denga situasi.
Ketepatan respon bergantung pada tingkat dan hubungan dengan anak, usia
anak, dan evaluasi perilaku anak.

2.2.4. Segitiga Perawatan Gigi Anak6

Konsep segitiga perawatan gigi, anak-anak di puncak segitiga dan merupakan


fokus bagi dokter gigi dan orangtua. Dua jalur komunikasi yang berasal dari sudut
dokter gigi anak dan dokter gigi dewasa. Garis-garis tersebut menunjukkan bahwa
merawat anak-anak memiliki hubungan 1:2.

Panah yang berada di ujung garis menunjukkan bahwa komunikasi bersifat


timbal balik. Perawatan gigi anak merupakan hubungan dinamis antara sudut-sudut
segitiga – anak, orangtua, dokter gigi.

Pada tahun 2013, triangle pediatric mengalami perubahan. Harapan dari


masyarakat telah mempengaruhi praktik dokter gigi anak, karena itulah terdapat

15
lingkaran social. Dampak sosial terbesar pada kedokteran gigi anak adalah
persetujuan.

2.3. Tumbuh Kembang Biopsikososial Anak7

UMUR SOCIAL/EMOTIONAL KOGNITIF FISIK

 Dapat mengenali  Melihat hal terdekat  Berguling kedua


wajah dan mulai disekelilingnya arah
mengenali orang asing  Membawa barang ke  Duduk
 Suka bermain dengan mulut  Saat berdiri
yang lain, khususnya  Menunjukkan rasa menopang berat
orangtua ingin tahu tentang badan dengan
 Dapat menggapi emosi hal-hal dan mencoba kaki
6 bulan
dari orang lain dan untuk mendapatkan  Keseimbangan
sering terlihat senang hal-hal yang di luar masih terhuyung-
 Suka melihat diri jangkauan huyung
sendiri di cermin  Mulai mengoper
sesuatu dari satu
tangan ke tangan
lainnya
12  Gugup dengan orang  Jelajahi berbagai  Duduk tanpa
Bulan asing hal dengan cara bantuan
 Menangis jika ditinggal berbeda seperti  Menarik untuk
orang asing melempar berdiri &
 Mulai memiliki hal &  Menemukan hal-hal berjalan dengan
orang favorit tersembunyi dan berpegangan
 Mulai memiliki mudah pada furniture
ketakutan & situasi lain  Melihat gambar /  Melangkah
 Mengulangi suara / hal yang benar tanpa dituntun

16
tindakan untuk ketika dimakan  Berdiri sendiri
mendapatkan perhatian  Mengikuti gesture
 Meletakkan kaki / orang lain
lengan untuk  Memasukkan &
membantu berpakaian mengeluarkan
barang dari wadah
 Mengikuti orang lain,  Menemukan  Berdiri tegak
terutama orang dewasa sesuatu yang  Menendang
 Tertarik & senang disembunyikan bola
dengan anak kecil  Membedakan  Memanjat tanpa
lainnya bentuk dan warna bantuan
 Menunjukkan  Memainkan game  Melangkah
24
kebiasaannya sederhana  Melempar bola
Bulan
 Menunjukkan perilaku  Membangun yang keras
menentang menara
 Bermain dengan anak  Mengikuti intruksi
lain dua langkah
 Menyebutkan item
yang sering dilihat
 Menyalin orang  Dapat mengerjakan  Memanjat
dewasa dan teman mainan dengan dengan baik
 Menunjukkan kasih tombol, tuas, dan  Berjalan dengan
sayang kepada teman komponen bergerak mudah
36 tanpa disuruh  Bermain dengan  Mengayuh
bulan  Bergantian dalam boneka, binatang, pedal roda tiga
permainan dan orang-orang (sepeda 3-roda)
 Menunjukkan  melakukan puzzle  Berjalan naik
kepedulian terhadap dengan 3 atau 4 dan turun
teman yang menangis buah tangga, satu

17
 Memahami gagasan  Memahami dua kaki di setiap
"milikku" dan makna langkah
"miliknya" atau  Menyalin lingkaran
"miliknya" dengan pensil atau
 Menunjukkan berbagai krayon
macam emosi  Mengubah halaman
 Mudah dipisahkan dari buku satu per satu
ibu dan ayah  Membangun
 Dapat marah dengan menara lebih dari 6
perubahan besar dalam blok
rutinitas  Sekrup dan tutup
 Berpakaian dan botol terbuka atau
membuka pakaian memutar pegangan
sendiri pintu
48  Menikmati melakukan  Mengetahui warna  Melompat dan
bulan hal baru dan angka berdiri dengan
 Bermain rumah-  Mengerti hitungan satu kaki
rumahan  Mulai memahami  Menangkap
 Semakin kreatif waktu bola yang
 Lebih sering bermain  Mengingat cerita dilempar
dengan orang lain  Memahami “sama”  Makan sendiri
 Kooperatif dengan dan “beda”
anak lain  Mengatur apa yang
dibayangkan.
60  Ingin menyenangkan  Menghitung 10 hal  Berdiri dengan
bulan teman atau lebih satu kaki selama
 Ingin seperti teman  Dapat menggambar 10 detik atau
 Lebih cenderung seseorang dengan lebih
setuju dengan aturan setidaknya 6 bagian  Hop; mungkin

18
 Suka menyanyi, tubuh bisa melewati
menari, dan berakting  Dapat mencetak  Dapat
 Menyadari gender beberapa huruf atau melakukan
 Dapat mengetahui apa angka jungkir balik
yang nyata dan apa  Menyalin segitiga  Menggunakan
yang dipercaya dan bentuk garpu dan
 Menunjukkan lebih geometris lainnya sendok dan
banyak kemandirian  Tahu tentang hal- kadang-kadang
(misalnya, dapat hal yang digunakan pisau meja
mengunjungi tetangga setiap hari, seperti  Dapat
sebelah sendiri uang dan makanan menggunakan
[pengawasan orang toilet sendiri
dewasa masih  Ayunan dan
diperlukan) tanjakan
 Terkadang menuntut
dan terkadang sangat
kooperatif

2.4. Penyakit Sistemik dan Herediter pada Anak

2.4.1. Penyakit Sistemik8

A. Penyakit yang berkaitan dengan sirkulasi darah


1. Leukemia
Gejala: kehilangan penglihatan, anemia, demam, fatique, dan takikardia.
Gambaran Klinis: premature bone loss pada Gigi sulung, ginggiva mudah
berdarah, adhenophati, gingival hipertopi, Gigi ekstruded, kehilangan gigi
secara dini, ulserasi non spesifik, dan pembesaran kelenjar limfadenophati
Gambaran radiografi: terlihat lesi pada tulang saat dilakukan foto

19
radiografi.

Gambar 2.4.1 gambaran klinis echimoces pada permukaan lidah anak


penderita leukemia (kanan) dan gambaran klinis pethacia pada siklus
ginggiva anak (kiri).

Adapun tindakan dokter gigi pada pasien anak leukemia:

1. Diagnosis medis dini;


2. Antisipasi perawatan klinis dan prognosis;
3. Modal terapeutik kini dan di masa mendatang;
4. Keadaan status umum seseorang;
5. Status hemologik sang anak.
2. Hemofilia
Perlakuan dokter gigi pada anak:
1. Memberikan agen fibrinolitik untuk mencegah pendarahan seperti e-
aminocapriotic acid;
2. Mengontrol rasa sakit dengan analgesik;
3. Memberikan anastesi lokal jika diperlukan;
4. Memberi edukasi untuk mencegah penyakit dental pada pasien.

B. Hepatitis
Hepatitis merupakan penyakit yang menyebabkan kerusakan hati. Bagi para
penderitanya. Penyakit ini dapat menyebar melalui udara sehingga penting
bagi dokter gigi untuk memakai proteksi diri.
Gejala: letargy, nausea, sakit di perut, mual, dan kehilangan nafsu makan.

20
Gejala-gejala ini tidak dapat mematikan Hepatitis sebelum dilakukan
pemeriksaan lebih lanjut.
C. Penyakit Saluran Pernapasan
1. Asma
Gejala klinis: tingginya tingkat karies, kurangnya laju Saliva, perubahan
karakteristik oral mukosa, dan meningkatnya level gingivitis, adanya
peningkatan kemungkinan Cross bite, overjet dan perubahan panjang
muka.
Tindakan dokter gigi:
a. Mencegah pasien terpapar hal yang dapat memicu asmanya
b. Perlunya evaluasi status imun, fungsi paru-paru, dan status adrenalin
sebelum dilakukan tindakan dental.
2. Cystic Fibrosis
Adanya perubahan pada mukus paru-paru yang meningkatkan risiko
infeksi.
Gejala klinis: perubahan warna gigi karena penggunaan tetrasiklin selama
proses penentuan gigi, kemungkinan karies rendah, kapasitas buffer yang
banyak kalsium di Saliva, dan maloklusi open bite.
Perawatan dental: menghindari bahan sedatif yang dapat mempengaruhi
fungsi paru-paru.

D. Cerebral Palsy
Kerusakan otak pada penderitanya dapat menimbulkan:
3. Gangguan intelektual;
4. Kelainan seizures;
5. Kelainan atau terbatasnya fungsi sensorik;
6. Kelainan fungsi bicara;
7. Keterbatasan gerak.
Gambaran klinis mulut penderita: adanya penyakit periodontal, karies,
maloklusi, bruxism, Dan trauma (umumnya pada Gigi anterior maksila).

21
E. Herpes
Gambaran klinis: kemerahan pada gingiva, rasa tidak enak badan, pusing, adanya
vesikel putih atau kekuningan, ulser yang sakit dan ditutupi membran abu-abu pada
mukosa.
Penanganan: pemberian antiviral systemik spesifik dan analgesik sistemik (seperti
ibuprofen).
Gambaran klinis: adanya ulser pada permukaan mukosa labial penderita (kiri) dan
gigiva penderita udem dan hiperemi (kanan).
F. Diabetes Dependent Insuline

Gangguan endokrin yang dapat mempengaruhi ginggiva. Diabetes dapat


meningkatkan plak dan inflamasi. Penderita IDDM lebih rentan terkena penyakit
periodontal.

2.4.2. Penyakit Herediter9

a. Disabilitas mental
Perkembangan intelektual individu secara signifikan di bawah rata-rata dan
kemampuannya dalam beradaptasi dengan lingkungan terbatas.

22
Prosedur menghadapi kecemasan pasien:

1. Pasien diajak mengelilingi dental office sebelum perawatan dan


diperkenalkan kepada staff
2. Bicara degan perlahan dan dalam istilah yang mudah
3. Memuji pasien setelah melewati tiap prosedur dengan baik
4. Secara aktif mendengar pasien
5. Ajak orang tua untuk mendampingi dan untuk membantu dalam
komunikasi dengan pasien
6. Menjaga pertemuan dalam waktu singkatJadwalkan visit pasien lebih
awal
b. Down Syndrome
Yaitu gangguan kromosom dan adanya 3 kromosom 21. Banyak anak dengan
down syndrome yang penuh kasih sayang dan kooperatif, dan prosedur dental
dapat diberikan tanpa kompromi.
c. Learning disabilities/ ketidakmampuan belajar
Anak-anak yang menunjukkan gangguan dalam satu atau lebih proses
psikologis dasar yang terlibat dalam memahami atau menggunakan bahasa
lisan atau tulisan. Sebagian besar anak-anak dengan ketidakmampuan belajar

23
menerima perawatan gigi dan tidak menyebabkan masalah manajemen yang
tidak biasa untuk dokter gigi.
d. Sindrom X Fragile
Gen abnormal pada bagian terminal kromosom X. Perawatan gigi tergantung
pada tingkat keterlambatan perkembangan, kemampuan kognitif, dan tingkat
hiperaktif. Mereka yang memiliki kasus ringan dapat diobati dengan
menjadwalkan janji temu yang singkat dan menggunakan imobilisasi dan/atau
sedasi sadar. Individu yang terkena dampak parah harus dirawat di ruang
operasi dengan anestesi umum.
e. Fetal alcohol syndrome
Konsumsi 1-3 minuman sehari selama 2 bulan pertama kehamilan dapat
mengakibatkan kerusakan yang signifikan pada bayi yang sedang
berkembang. Terdapat maloklusi gigi dan skeletal. <5 tahun cenderung
hiperaktif. Seiring bertambah usia, anak-anak biasanya bersikap kooperatif
dan relatif mudah dirawat
f. Penyakit jantung kongenital
Penyebab cacat jantung bawaan tidak jelas. Umumnya hasil dari
perkembangan embrio menyimpang dan struktur normal atau kegagalan
struktur dalam melampaui tahap awal perkembangan embrionik. Jika orang
tua atau saudara kandung memiliki kelainan jantung bawaan, kemungkinan
anak akan dilahirkan dengan kelainan jantung sekitar 5-10 x lebih besar.
Dokter gigi harus mendapatkan riwayat medis dan gigi yang menyeluruh,
melakukan pemeriksaan fisik, merumuskan rencana perawatan lengkap dan
mendiskusikan perawatan dengan dokter anak atau ahli jantung.

2.5. Sistem Rujukan10

2.5.1. Definisi

Pelimpahan wewenang dan tanggung jawab atas masalah kesehatan


masyarakat dan kasus-kasus penyakit yang dilakukan secara timbal balik secara
vertikal maupun horizontal yang meliputi sarana, rujukan teknologi, rujukan tenaga

24
ahli, rujukan operasional, rujukan kasus, rujukan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi,
dan rujukan bahan pemeriksaan laboratorium. (PERMENKES No.V, 2012)

2.5.2. Tata Laksana Rujukan


1. Internal antar petugas di suatu rumah
2. Antar Puskesmas Pembantu & Puskesmas Induk
3. Antara masyarakat & Puskesmas
4. Antar satu puskesam dengan puskesmas lainnya
5. Antara puskesmas dengan Rumah Sakit, laboratorium, atau faslitas
pelayanan kesehatan lainnya
6. Internal antar-bagian / Unit pelayanan dalam suatu Rumah Sakit
7. Antar Rumah Sakit, laboratorium, atau fasilitas pelayanan lain dari Rumah
Sakit
2.5.3. Prosedur Merujuk Pasien
1. Prosedur Standar Merujuk Pasien
Prosedur Klinis:

 Melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang untuk


menentukan diagnosis banding
 Memberikan tindakan pra rujukan sesuai kasus berdasarkan standar
prosedur operasional
 Memutuskan Unit Pelayanan tujuan rujukan
 Untuk pasien gawat darurat harus didampingi paramedis yang
kompeten di bidangnya dan mengetahui kondisi pasien
 Apabila pasien diantar dengan ambulan / pusling, petugas dan
kendaraan harus tetap menunggu pasien di IGD sampai pasien
mendapat pelayanan dan kepastian rawat inap atau rawat jalan.
2. Sistem Rujukan Usaha Kesehatan Gigi dan Mulut (UKGM)
A. Rujukan Medik Gigi:
 Rujukan kasus dengan atau tanpa pasien untun keperluan diagnostik,
pengobatan, tindakan operatif dan pemulihan

25
 Rujukan spesimen untuk pemeriksaan penunjang
 Rujukan IPTEK dengan mendatangkan / mengirim tenaga ahli yang
kompeten di bidangnya
B. Rujukan Kesehatan Gigi
 Bantuan teknologi tepat guna dan sederhana, yang mudah di
aplikasikan serta terjangkau di masyarakat
 Bantuan sarana berupa alat-alat, buku, brosur, leaflet, poster.
 Bantuan dana operasional dan pemeliharaan peralatan kesehatan gigi
dan mulut pada Unit Pelayanan Kesehatan di poli gigi puskesmas

2.5.4. Dalam membina sistem rujukan, perlu ditentukan beberapa hal:


A. Regionalisasi
Pembagian wilayah secara administratif yang berdasarkan atas lokasi
atau mudahnya sistem rujukan dicapai. Penderita yang dapat dilayani oleh
Unit Kesehatan tersebut tidak perlu dikirim ke Unit lain yang lebih mampu.
B. Screening tiap tingkat Unit Kes
Tiap Unit Kesehatan diharapkan melakukan screening terhadap
penderita yang akan dirujuk.
C. Kemampuan unit kesehatan dan petugas tergantung pada macam petugas
dan peralatannya.
D. Mekanisme atau alur rujuk.

2 5.5. Indikasi Rujukan


Rujukan dengan atau tanpa pasien

 Dari posyandu ke puskesmas


Indikasi: semua kelainan pada jaringan keras dan jaringan lunak
rongga mulut.
 Rujukan Model
Memerlukan prothese.

26
 Rujukan Spesimen
Semua kelainan yang membutuhkan pemeriksaan penunjang
diagnostik / laboratorium berhubungan dengan kelainan rongga mulut.

27
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Dapat disimpulkan bahwa dalam merawat pasien anak-anak dibutuhkan


komunikasi atau pendekatan terhadap anak-anak khususnya terhadap anak yang
memiliki tingkat cemas dan takut yang tinggi atau anak yang memiliki masalah
dengan kooperatif agar anak tersebut mau melakukan perawatan gigi. Perilaku anak-
anak dalam praktik dokter gigi itu dipengaruhi oleh adanya beberapa faktor
diantaranya ialah pengalaman dental atau riwayat kesehatan, kecemasan ibu, dan
butuh atau tidak nya perawatan.

3.2. Saran

Kami sebagai penyusun menyadari bahwa makalah diatas banyak sekali


kesalahan dan jauh dari kesempurnaan. Kami akan memperbaiki makalah tersebut
dengan berpedoman pada banyak sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka
dari itu kami mengharapkan kritik dan saran mengenai pembahasan makalah dalam di
atas.

28
DAFTAR PUSTAKA

1. Dean JA. McDonald and Avery’s Dentistry for the Child and Adolescent. 10th
ed. Elsevier; 2016. p. 291–292
2. Wright GZ, Kupietzky A. Behavior Management in Dentistry for Children.
2nd ed. Wiley; 2014. p. 75-80
3. Wright GZ, Kupietzky A. Behavior Management in Dentistry for Children.
2nd ed. Wiley; 2014. p. 23–24
4. Wright GZ, Kupietzky A. Behavior Management in Dentistry for Children.
2nd ed. Wiley; 2014. p. 30-32
5. Wright GZ, Kupietzky A. Behavior Management in Dentistry for Children.
2nd ed. Wiley; 2014. p. 69-71
6. Wright GZ, Kupietzky A. Behavior Management in Dentistry for Children.
2nd ed. Wiley; 2014. p. 5
7. Dean JA. McDonald and Avery’s Dentistry for the Child and Adolescent. 10th
ed. Elsevier; 2016. p. 288-290
8. Dean JA. McDonald and Avery’s Dentistry for the Child and Adolescent. 10th
ed. Elsevier; 2016. p. 528-535,555
9. Dean JA. McDonald and Avery’s Dentistry for the Child and Adolescent. 10th
ed. Elsevier; 2016. p. 527-531
10. Direktorat Kesehatan Gigi, Dirjen Pelayanan Medik, Depkes RI, Pedoman
Rujukan Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut. Jakarta. 1994. p. 2-3

29