Anda di halaman 1dari 4

Pengaruh Ketebalan Membran Kitosan pada Filtrasi Direct Black 38

Ariya Cahya (16614050)


Zainal Arifin, S.T., M.Eng dan Andri Kurniawan, S.Pd., M.A
Program Studi Diploma III Petro dan Oleo Kimia Jurusan Teknik Kimia

I. Pendahuluan diperoleh adalah membran dengan konsentrasi


Kitosan merupakan modifikasi dari senyawa kitin kitosan 3% dalam waktu kontak 60 menit karena
yang banyak terdapat dalam kulit luar hewan mampu menurunkan kadar fosfat total dalam air
golongan Crustaceae seperti udang dan kepiting limbah deterjen hingga 97,40%. Penelitian tentang
(Agustina dkk., 2015). Dinas Perikanan dan Kelautan kitosan hidrogel sebagai penyerap zat warna Direct
Provinsi Kalimantan Timur mendata bahwa hasil Black telah dilakukan oleh Arifin dkk (2017) dengan
budidaya udang di Kalimantan Timur pada tahun memvariasikan massa kitosan hidrogel dan waktu
2018 mencapai 21,048 ton. Kandungan kitin yang adsorpsi. Hasil terbaik yang diperoleh ialah
terdapat pada kulit udang berkisar antara 60 – 70%. penggunaan massa kitosan hidrogel 0,34 gram dan
Apabila kitin kulit udang dikonversi menjadi kitosan waktu pengadukan 360 menit karena mampu
akan menghasilkan yield 15 – 20% (Wardaniati dan menurunkan konsentrasi DB 38 hingga 92,42%.
Setyaningsih, 2009). Maka dapat diperkirakan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan
potensi kitosan di Kalimantan Timur pada tahun 2018 Arifin dkk (2017) dapat diketahui bahwa kitosan
mencapai 2,394 ton. hidrogel dapat menurunkan konsentrasi zat warna
Zat warna merupakan polutan yang memiliki nilai jenis Direct Black 38. Sedangkan penelitian
estetika yang dapat mencemari perairan. Kitosan Kusumawati dan Tania (2012) dan Ramadhanur dan
dinyatakan dapat menjerap zat warna pada perairan Sari (2015) membuktikan bahwa kitosan yang
tersebut (Rout, 2001). Untuk meningkatkan daya dimodifikasi menjadi membran dapat digunakan
jerap kitosan terhadap zat warna, kitosan untuk menurunkan konsentrasi zat warna jenis
dimodifikasi dalam bentuk membran (Sulistyawati Rhodamin B dan dapat menurunkan kadar fosfat yang
dkk., 2018). terkandung dalam air limbah deterjen. Sejauh ini,
Membran dapat dipreparasi dengan menggunakan belum dilakukan penelitian mengenai pengaplikasian
metode inversi fasa. Inversi fasa adalah proses membran kitosan pada zat warna jenis Direct Black
dimana polimer diubah dari bentuk larutan menjadi 38 dimana membran kitosan dibuat dengan
bentuk padatan secara terkontrol (Kim and Lee, melarutkan kitosan dengan asam asetat 1% karena
1998). kitosan memiliki daya larut yang tinggi terhadap
Teknologi membran mempunyai berbagai asam asetat 1% sehingga mudah untuk mendapatkan
keunggulan dibandingkan metoda pemisahan yang membran setelah pelarutnya diuapkan (Meriatna,
konvensional, di antaranya proses dapat dilakukan 2008).
secara kontinyu, tidak memerlukan zat kimia Pada penelitian ini, pembuatan membran kitosan
tambahan, konsumsi energi rendah, mudah dalam akan dilakukan dengan memvariasikan massa larutan
scale up, tidak membutuhkan kondisi yang ekstrim kitosan yang akan dicetak karena diduga membran
(pH dan temperatur), material membran bervariasi kitosan yang terbentuk akan memiliki ketebalan yang
dan mudah dikombinasikan dengan proses pemisahan berbeda – beda. Parameter utama kualitas membran
lainnya (Kusumawati dan Tania, 2012). kitosan yang diperoleh yaitu permeabilitas dan
Penelitian kitosan membran sebagai penyaring zat permselektivitas pada proses penyerapan zat warna
warna jenis Rhodamin B telah dilakukan oleh jenis Direct Black 38 dan diharapkan membran
Kusumawati dan Tania (2012), dengan kitosan dapat menyaring Direct Black 38 dengan
memvariasikan konsentrasi kitosan dan tekanan pada lebih baik dibandingkan kitosan hidrogel.
alat “dead-end”. Hasil terbaik yang diperoleh adalah
membran dengan konsentrasi kitosan 3% pada II. Metodologi
tekanan 1 kg/cm2 karena memiliki penurunan Pada percobaan ini digunakan alat – alat gelas,
konsentrasi sebesar 88,27%. Selain itu, penelitian antara lain gelas kimia, labu ukur, gelas ukur, corong
kitosan membran sebagai filtrasi fosfat dalam limbah butchner, erlenmeyer vakum dan kaca arloji.
detergen telah dilakukan oleh Ramadhanur dan Sari Pemindahan larutan dilakukan dengan buret dan pipet
(2015), dengan memvariasikan konsentrasi kitosan volume. Selain itu, alat – alat yang juga digunakan
dan waktu kontak pada filtrasi. Hasil terbaik yang adalah neraca analitik, pengaduk motor, oven, pompa
2

vakum dan cawan petridish. Instrumen yang 20 0,0595 3,82


digunakan untuk analisis pada penelitian ini, meliputi 25 0,2421 19,43
Scanning Electron Microscope (SEM) dan 0,24725 19,86
30
spektrofotometri UV-Vis.
Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini 35 0,28725 23,29
adalah kitosan dan direct black 38. Selain itu bahan
analisis dan pembantu yang digunakan meliputi asam IV. Hasil dan Pembahasan
asetat (CH3COOH), Natrium Hidroksida dan Sintesis membran kitosan yang dilakukan pada
Aquades. penelitian ini adalah dengan teknik inversi fasa.
Pembuatan membran kitosan dilakukan dengan Inversi fasa adalah metode yang paling banyak
melarutkan 3 gram kitosan dalam 100 mL CH3COOH digunakan dalam pembuatan membran polimer untuk
1% (v/v) pada suhu ruang. Bahan yang telah proses pemisahan (Kim and Lee, 1998). Dalam
dicampur diaduk dengan pengaduk motor selama ± teknik ini, sintesis membran terbagi menjadi dua
24 jam hingga homogen sehingga diperoleh larutan tahap yaitu pembuatan larutan kitosan dan
kitosan 3%, kemudian dituangkan dalam cawan pencetakan membran.
petridish sebanyak (5, 10, 15, 20, 25, 30 dan 35 Pemilihan komposisi sangat penting untuk
gram) kemudian mendiamkannya selama 24 jam. menentukan karakteristik suatu membran. Pada
Selanjutnya, membran dimasukkan kedalam oven penelitian ini dilakukan variasi massa larutan kitosan
pada suhu 60℃ selama 5 jam. Memastikan membran dimana sejumlah polimer kitosan dilarutkan pada
kering sempurna, cetakan didiamkan selama 24 jam sejumlah tertentu asam asetat untuk mendapatkan
diudara terbuka. Lalu, membran yang telah kering larutan kitosan. Konsentrasi asam asetat yang
direndam dalam NaOH 4% selama ± 5 jam, digunakan adalah 1%, hal ini berdasarkan penelitian
kemudian melepas membran dari cetakan dengan hati yang dilakukan oleh Ramadhanur dan Sari, 2015.
– hati. Untuk menghilangkan NaOH dilakukan Asam asetat merupakan pelarut yang sesuai untuk
pencucian pada membran secara berulang – ulang melarutkan kitosan, yang mana dalam pembentukan
menggunakan aquades. larutan kitosan tersebut, akan terjadi perpanjangan
Membran yang akan diuji ditaruh di dalam corong ikatan antar monomer pada polimer kitosan akibat
Buchner sampai menutupi seluruh lingkar dalam adanya pengaruh asam, sehingga larutan tersebut
corong. Larutan Direct Black 38 (112 ppm) dituang dapat dibentuk menjadi film tipis yang disebut
menggunakan corong sebanyak 50 mL ke dalam membran (Rohman, Baroroh, dan Utami, 2009).
buret, kemudian alirannya diatur agar jatuh tepat Pembuatan larutan kitosan melibatkan proses
ditengah – tengah corong Buchner yang telah pengadukan selama ± 24 jam. Tujuan dari
dipasang membran kitosan. Proses filtrasi dilakukan pengadukan ini adalah agar semua komponen dapat
dengan menggunakan pompa vakum. Permeat yang larut secara homogen. Setelah proses pengadukan,
diperoleh setiap 1 dan 2 jam diambil, selanjutnya larutan yang telah homogen tersebut didiamkan
permeat tersebut dianalisis dengan spektrofotometer selama beberapa jam untuk menghilangkan
UV-Vis (λ = 591 nm). gelembung – gelembung udara yang mungkin timbul
ketika dilakukan pengadukan karena gelembung
III. Hal yang telah dicapai udara yang terperangkap pada saat pencetakan
membran dapat mengakibatkan lubang pada
Tabel 1. Karakteristik Membran
membran, selain itu juga dapat menutupi pori
Massa Volume membran (Kusumawati dan Tania, 2012). Kemudian,
Ketebalan
Larutan Permeat 2 larutan tersebut telah siap untuk dicetak menjadi
(mm)
Kitosan jam (mL) membran. Larutan kitosan yang homogen dan telah
5 0,05 9,6 didiamkan berwarna kuning jernih.
10 0,05 0,6 Untuk melepas membran dari cetakan, diperlukan
15 0,10 2,6 perendaman dengan larutan NaOH 4%. Larutan
20 0,20 1,8 NaOH dalam hal ini berfungsi sebagai larutan non –
pelarut yang dapat berdifusi ke bagian bawah
25 0,25 1,5 membran yang berhimpitan dengan permukaan
30 0,30 0,2 cetakan sehingga membran tersebut akan terdorong
35 0,60 0,2 ke atas dan terkelupas. Membran yang telah dilepas
Tabel 2. Analisa Filtrasi dari cawan petri dicuci berulang – ulang dengan
Massa akuades untuk menghilangkan sisa NaOH.
Konsentrasi Pengukuran nilai fluks dilakukan untuk
Larutan Absorbansi
(ppm) mengetahui kemampuan membran dalam melewatkan
Kitosan
sejumlah volume umpan. Hal tersebut dikarenakan
5 0,31655 25,79
fluks merupakan standar dalam mengevaluasi kinerja
10 0,1444 11,08 membran sebelum dan sesudah digunakan.
15 0,08345 5,87
3

Pengukuran nilai fluks pada penelitian ini dilakukan didefinisikan sebagai massa molekul relatif yang
dengan mengalirkan larutan Direct Black 38 melalui dapat direjeksi sebesar 95% oleh membran
membran pada selang waktu 2 jam dan tekanan (Widyaningsing dan Senny, 2003). Dari hasil
vakum 0,8 mbar. Hasil yang diperoleh setiap variasi pengukuran koefisien rejeksi membran kitosan, nilai
massa larutan kitosan dapat dilihat pada gambar 1. MWCO tercapai pada variasi massa kitosan 20 gram
sehingga pada membran kitosan dengan massa 20
0.8 gram dapat dikatakan telah mencapai kondisi
0.6361 optimum pada proses filtrasi.
Fluks (L/m2.jam)

0.6
V. Kesimpulan Sementara
0.4
0.1723 Kesimpulan yang diperoleh berdasarkan hasil
0.11930.0994
0.2 0.0397 penelitian yaitu semakin besar ketebalan membran
0.01320.0132
maka menghasilkan fluks yang kecil, serta pada
0
ketebalan membran 20 gram merupakan ketebalan
0 10 20 30 40
optimum untuk melakukan filtrasi Direct Black 38,
Massa Larutan Kitosan (gram) membran mampu menurunkan konsentrasi Direct
Black 38 hingga 96,59% dalam waktuk kontak 2 jam.
Gambar 1. Hubungan Massa Larutan Kitosan
terhadap Fluks
VI. Rencana Selanjutnya
Hasil penelitian menunjukkan bahwa massa Menunggu hasil analisa morfologi membran
larutan kitosan yang dicetak mempengaruhi karakter kitosan menggunakan SEM, lalu membuat
membran yang terbentuk. Semakin banyak massa pembahasan mengenai morfologi membran
larutan kitosan yang dicetak maka membran yang
kitosan tersebut.
dihasilkan akan semakin padat sehingga fluks
membran semakin kecil, seperti yang terlihat pada
gambar 4.1. Tetapi pada variasi massa larutan kitosan VII. Daftar Pustaka
10 gram, fluks yang diperoleh lebih rendah daripada
variasi massa larutan kitosan 15 gram. Hal ini dapat Agustina, S., Swantara, M. D., & Suartha, I. N.
terjadi karena pada pembuatan membran 10 gram, (2015). Isolasi Kitin,Karakterisasi,dan Sintesis
masih terdapat gelembung udara yang terperangkap Kitosan dari Kulit Udang. Jurnal Kimia, 9(1),
sehingga dapat menutupi pori pada membran 271–278.
(Kusumawati & Tania, 2012). Arifin, Z., Kasim, M., & Irawan, Y. (2017). Adsorpsi
Pada penelitian ini penurunan konsentrasi Direct Zat Warna Direct Black 38 Menggunakan
Black 38 dilakukan pada larutan umpan 112 ppm Kitosan Hidrogel.
dengan waktu kontak 2 jam. Hasil pengukuran
koefisien rejeksi pada gambar 2 menunjukkan Kim, J. ., & Lee, K. . (1998). Effet of PEG Additive
koefisien rejeksi tertinggi terjadi pada variasi massa On Membrane Formation By Phase Inversion.
larutan kitosan 20 gram yaitu 96,59%, sedangkan Journal of Membrane Science, 138, 153–163.
yang terendah terjadi pada variasi massa larutan
kitosan 5 gram yaitu 75,97%. Kusumawati, N., & Tania, S. (2012). Pembuatan Dan
Uji Kemampuan Membran Kitosan Sebagai
Membran Ultrafiltrasi Untuk Pemisahan Zat
120 96.59 Warna Rhodamin B, 7, 43–52.
90.11 94.76
100 75.97
82.65 82.27 79.2
Rejeksi (%)

80 Meriatna. (2008). Penggunaan Membran Kitosan


60 Untuk Menurunkan Kadar Logam Krom (Cr)
40 dan Nikel (Ni) Dalam Limbah Cair Industri
20 Pelapisan Logam. Universitas Sumatera Utara.
0 Ramadhanur, S., & Sari, A. M. (2015). Pengaruh
0 10 20 30 40 Konsentrasi Khitosan dan Waktu Filtrasi
Massa Larutan Kitosan (gram) Membran Khitosan Terhadap Penurunan Kadar
Fosfat Dalam Limbah Deterjen. KONVERSI,
Gambar 2. Hubungan Massa Larutan Kitosan 4(1), 40–52.
terhadap Rejeksi
Rohman, T., Baroroh, U., & Utami, L. (2009).
Pengaruh Konsentrasi Kitosan Terhadap
Kemampuan membran untuk dapat menahan
Karakter Membran Kitosan, 2(1), 14–24.
suatu spesi sering dinyatakan dengan istilah
Molecolar Weight Cut Off (MWCO). MWCO
4

Rout, S. K. (2001). Physicochemical , Functional and


Spectroscopic Analysis of Crawfish Chitin and
Chitosan as Affected by Process Modification .
Louisiana State University.
Sulistyawati, E., Wijaya, N. D., & Tantriyani. (2018).
Membran Kitosan Sebagai Adsorben Logan
Besi (Fe) pada Air Sumur di Lingkungan
Teknik Kimia UPN “Veteran” Yogyakarta. In
Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia
“Kejuangan.”
Wardaniati, R. A., & Setyaningsih, S. (2009).
Pembuatan Chitosan Dari Kulit Udang dan
Aplikasinya Untuk Pengawetan Bakso.
Universitas Diponegoro.
Widyaningsing, & Senny. (2003). Pembuatan
Membran Selulosa Asetat dari Pulp Kenaf
(Hisbiscus cannabinus).