Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH SISTEM PENCERNAAN HEWAN VERTEBRATA

Makalah Teori
Untuk Memenuhi tugas Matakuliah Struktur Perkembangan Hewan 1
Yang dibina oleh Dra. Amy Tenzer, M.S. dan Nur'aini Kartikasari, S.Si., M.Sc.
Disajikan pada Selasa, tanggal 25 Februari 2020

Disusun Oleh :
Kelompok 3 Offering H 2019

Alfi Maghfirah Putri 190342621240


Zulfa Rosyidah 190342621299

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Februari 2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan
hidayat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah kami yang berjudul “Sistem Pencernaan
Hewan Vertebrata”dengan baik. Shalawat serta salam tidak lupa kami haturkan kepada
Rasullullah SAW yang telah menuntun umatnya ke jalan yang baik.

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Struktur perkembangan
Hewan 1, Prodi Biologi Universitas Negeri Malang. Terimakasih kami ucapkan kepada
pihak-pihak yang telah mendukung kami dalam proses penyusunan makalah ini. Harapan
kami semoga makalah ini dapat memberikan manfaat dan pengetahuan kepada pembacanya
terkait “Sistem Pencernaan Hewan Vertebrata”. Kami menyadari bahwa masih banyak
kekurangan dalam penyusunan maupun makalah ini sendiri, sehingga kritik dan saran yang
membangun sangat kami butuhkan untuk penyusunan makalah selanjutnya.

Malang, 23 Februari 2020


Penulis

2
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL......................................................................................................1

KATA PENGANTAR ..................................................................................................... 2

DAFTAR ISI.................................................................................................................... 3

I. PENDAHULUAN ......................................................................................... 4
1. Latar Belakang .............................................................................................. 4
2. Rumusan Masalah ......................................................................................... 4
3. Tujuan ........................................................................................................... 4

II. KAJIAN PUSTAKA ..................................................................................... 5

2.1 Histologi Saluran Pencernaan ......................................................................... 5

2.2 Struktur dan Fungsi Saluran Pencernaan ........................................................ 6

III. PENUTUP ................................................................................................... 22

3.1 Simpulan ....................................................................................................... 22

3.2 Saran .............................................................................................................. 22

DAFTAR RUJUKAN ................................................................................................... 23

3
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Sistem Pencernaan merupakan bagian penting dalam organisme. Pada


vertebrata, sistem pencernaan berfungsi untuk menerima makanan, menyimpan
makanan, mereduksi makanan secara fisis dan kimiawi, mengarbsorbsi sisa makanan
serta menahan sisa makanan yang tidak digunakan agar dapat dibuang keluar tubuh
(Tenzer,1993). Hewan tidak bisa langsung mencerna bahan anorganik yang
diperlukan oleh selnya, namun dapat menguraikan bahan tersebut melalui tanaman,
atau melalui hewan pemakan tanaman. Dengan kata lain, hewan adalah heterotrof
yang tidak dapat memproduksi makanannya sendiri. Makanan yang dimakan oleh
hewan akan diserap didalam sistem pencernaan. Sistem pencernaan akan mereduksi
molekul-molekul kompleks menjadi lebih sederhana, yang pada akhirnya akan diserap
melalui dinding-dinding organ pencernaan (Atwood, 1955). Selain itu, hewan terbagi
atas Herbivora yaitu pemakan tumbuhan, karnivora, pemakan hewan lainnya, dan
omnivora yang dapat memakan segalanya. Pengelompokan ini ialah berdasarkan
struktur dalam sistem pencernaannya, yang akan dibahas lebih lanjut dalam makalah
ini.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimanakah histologi dari saluran pencernaan ?
2. Bagaimana Fungsi dan struktur saluran pencernaan ?

1.3 Tujuan
1. Menjelaskan histologi saluran pencernaan.
2. Menjelaskan fungsi dan struktur saluran pencernaan.

4
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Histologi Saluran Pencernaan

Saluran pencernaan pada umumnya memiliki ciri umum yaitu terdiri atas lumen
dengan diameter yang bervariasi, dikelilingi oleh dinding yang terdiri atas 4 lapisan
utama, yaitu sebagai berikut :
1. Tunika mukosa yang terdiri atas,
a. Epitelium,
b. Lamina Propia yang tersusun atas jaringan ikat longgar yang kaya akan
pembuluh darah, pembuluh limfe, otot polos, dan terkadang juga mengandung
kelenjar,
c. Muscularis mucosae, yang terdiri atas selapis otot polos yang memisahkan
mukosa dengan submukosa.
2. Tunika submukosa, tersusun atas jaringan ikat padat yang kaya akan pembuluh
darah, pembuluh limfe,dan simpul saraf meissner.
3. Tunika muskular, terdiri atas jaringan otot polos yang terbagi dalam 2 lapisan.
Yaitu lapisan dalam yang tersusun atas otot polos sirkuler di sebelah dalam dan
otot polos longitudinal di sebelah luar. Pada jaringan ikat diantara lapisan otot
tersebut terdapat pembuluh darah dan limfe serta pleksus saraf mienterikus.
Pleksus ini dan pleksus submukosa (meissner) bersama membentuk sistem saraf
enteric yang bekerja secara independen dari susunan saraf pusat (SSP)
4. Tunika Serosa, merupakan lapisan tipis dari jaringan ikat longgar (areolar) yang
mengandung pembuluh darah, limfe, jaringan lemak, serta selapis epitel gepeng
sebagai epitel pelapis (mesotel).

5
2.2 Struktur dan Fungsi Saluran Pencernaan

Sistem Pencernaan terdiri atas saluran pencernaan yang dimulai dari mulut, faring,
esophagus, lambung, usus halus, usus besar, rectum, dan anus serta kelenjar yang
terkait dalam system pencernaan yaitu kelenjar ludah, hati, dan pankreas. Terdapat
juga organ-organ tambahan seperti gigi dan lidah. Fungsi utama dari sistem
pencernaan adalah mendapatkan nutrisi atau molekul yang diperlukan bagi makanan,
untuk pertahanan, pertumbuhan, dan kebutuhan energi tubuh (Mescher, 2011)
Sistem pencernaan pada vertebrata berfungsi untuk ingesti, atau menerima makanan,
digesti atau proses pemecahan makanan menjadi molekul yang dapat diabsorbsi oleh
tubuh. Absorbs merupakan proses penyerapan zat makanan ke dalam tubuh. Dan
eliminasi adalah proses pembuangan sisa-sisa makanan yang diperlukan tubuh.

6
Pada vertebrata, struktur saluran pencernaan disesuaikan dengan bentuk tubuh.
Hewan yang besar akan memiliki sistem perususan yang panjang pula. Pada umunya
hewan karnivora memiliki perususan yang lebih pendek daripada hewan herbivore.
Hal ini kemungkinan besar dikarenakan oleh jenis makanannya, dimana hewan
karnivora yang memakan daging, akan lebih mudah dalam menyerap makanannya
daripada hewan herbivora (Tenzer, 1993).
a. Mulut dan Rongga Mulut.
Mulut adalah bagian ujung anterior dari saluran pencernaan. Rongga muut merupakan
istilah yang lebih luas namun memiliki makna yang sama. Mulut berfungsi sebagai
penerima makanan atau pengambil makanan dan sebagai sistem pencernaan awal
secara mekanis maupun kimiawi. Mulut terletak pada posisi terminal, keculali pada
elasmobranchia yang terletak pada posisi ventral. Rongga mulut dimulai dari muut
dan berakhir pada faring. Pada pisces, rongga mulutnya sangat pendek, namun pada
tetrapoda lebih panjang. Dalam rongga mulut juga menghasilkan kelenjar mucus yang
berfungsi membasahi dan melicinkan makanan, namun hal ini sangat jarang
ditemukan pada pisces karena jenis makanan pisces yang selalu basah. Pada kelelawar
pemakan darah, kelenjar pada mulutnya menghasilkan zat anti koagulan (Tenzer,

7
1993). Rongga mulut dilapisi oleh epitel berlapis pipih, berlapis tanduk (keratin) atau
tanpa lapis tanduk. Dalam organ mulut juga terdapat organ lain yang berperan dalam
sistem pencernaan yaitu gigi, lidah, dan kelenjar ludah.
b. Gigi
Gigi sejati hanya ditemukan pada vertebrata saja. Umumnya vertebrata rendah
mempunyai jumlah gigi yang sangat banyak. Pada pisces, gigi terdapat pada tulang
rahang, palatin, dan faring. Pada amphibian, giginya melekat pada tulang vomer,
rahang atas, dan tulang palatin. Gigi reptilia kebanyakan terdapat pada tulang palatin,
atau pada rahang atas maupun bawah. Mamalia memiliki jumlah gigi yang paling
sedikit dan giginya tertanam dibagian rahang atas dan rahang bawah. Selain itu, masih
ada golongan ikan, katak, aves, dan kura-kura yang tidak bergigi (Tenzer,1993).

Gigi yang berganti secara terus menerus disebut polifidionti, gigi yang
berganti dua kali disebut difidionti, terdapat pada mamalia, terdiri atas gigi susu
(dentes decidualis) dan gigi permanen (dentes permanentes). Gigi yang tidak berganti,
disebut monofidionti, terdapat pada platypus (Tenzer, 1993). Pada manusia dewasa,
memiliki 32 gigi permanen yang tersusun simetris bilateral. Setiap gigi mempunyai
mahkota gigi yang menonjol dibagian atas, dan akar gigi yang tertanam pada kantong
tulang yang disebut alveoli. Mahkota gigi ditutupi oleh email yang sangat keras dan
akar gigi ditutupi oleh sementum, kumpulan jaringan yang menyerupai tulang. Bagian
terbesar pada gigi yaitu materi berkapur yang disebut dentin, yang mengelilingi ruang
berisi jaringan ikat lunak yang dikenal sebagai rongga pulpa. Rongga pulpa

8
menyempit di akar sebagai kanal radiks, yang meluas ke apeks setiap radiks, tempat
terdapatnya sebuah lubang (foramen apikal) yang memungkinkan pembuluh darah,
pembuluh limfe, dan saraf keluar masuk rongga pulpa. Gigi direkatkan dengan kuat
pada alveolar oleh ligamen periodontal (Mescher, 2011).

Dentin merupakan struktur berkapur yang terdiri atas 70% kalsium


hidroksiapatit yang membuatnya lebih keras daripada tulang. Dentin berasal dari
odontoblas, yang merupakan sel terpolarisasi panjang yang berasal dari mesenkim
rongga pulpa yang berkembang. Odontoblas akan menyintesis kolagen sehingga
membentuk matriks kaya kolagen yang disebut predentin. Kira-kira pada hari pertama
sekresi, predentin akan mengalami mineralisasi menjadi dentin. Struktur lainnya
berupa email adalah komponen tubuh yang terdiri atas sedikitnya 2 protein, yaitu
amelogenin dan enamelin, tetapi tanpa kolagen. Walaupun begitu, email gigi adalah
komponen tubuh manusia yang paling keras, terdiri atas 98% mineral dan materi
organik lainnya. . pada bakal gigi, email disekresi oleh sel ameloblas, yang
merupakan sel tinggi terpolarisasi dengan banyak mitokondria. Email dihasilkan dari
sel-sel ektodermal sementara struktur lainnya dihasilkan oleh sel sel mesodermal,
bersamasama, sel-sel tersebut menghasilkan serangkaian struktur gigi. Email terdiri
atas batang atau prisma email yang tergabung secara solid dengan lebih banyak email.

9
Struktur bakal gigi

Bentuk gigi yang berbeda-beda disebut heterodonti, dan bentuk gigi yang
serupa disebut homodonti. Gigi mamalia terdiri dari insisivus (gigi seri), kaninus (gigi
taring), premolar (gigi geraham depan), dan molar (gigi geraham belakang). Pada
hewan pengerat terdapat bagian rahang tak bergigi karena tidak memiliki gigi taring,
disebut diasterma. Ular memiliki gigi khusus pada rahang atas yang disebut gigi racun
(poison fang). Gading gajah merupakan modifikasi dari gigi serinya. Dan gading
walrus merupakan modifikasi dari taring (Tenzer,1993).
c. Lidah
Lidah adalah massa otot rangka yang ditutupi oleh suatu membran mukosa dengan
struktur yang bervariasi sesuai daerahnya (Mescher, 2011). Lidah dalam sistem
pencernaan berfungsi untuk mengaduk makanan, membantu menelan makanan,
mengontrol suara dan membantu dalam pengucapan kata-kata pada manusia. Pada
pisces dan urodela, lidahnya merupakan lidah primer, yaitu lidah yang tidak
berdaging dan relatif tidak bergerak. Lidah katakm ular, dan kadal terdiri dari bagian
primer yaitu pangkal yang melekat pada lantai faring dan bagian berdaging,

10
ujunganya bercabang dan dapat dijulurkan untuk menangkap mangsanya. Aves
mempunyai lidah yang dilapisi oleh zat tanduk (Tenzer, 1993). Pada mamalia,
permukaan atas lidah mengandung banyak tonjolan yang disebut papila, papila
merupakan peninggian membran mukosa yang memiliki berbagai bentuk dan fungsi
terdapat empat macam papila, yaitu :
1) Papila filiformis, terdapat dibagian posterior, jumlahnya cukup banyak, berbentuk
kerucut dan memiliki banyak lapis zat tanduk, sehingga terlihat keabuan.
Berfungsi secara mekanis sebagai permukaan yang kasar yang dapat
mempermudah pergerakan makanan selama mengunyah, papila ini tidak memiliki
kuncup kecap.
2) Papila fungiformis, jumlahnya lebih sedikit daripada papila filiformis,
permukaannya sedikit bertanduk dan berbentuk seperti jamur. Terdapat sebaran
kuncup kecap pada bagian atasnya. Papila filiformis terdapat dibagian anterior.
3) Papila foliate, terdapat pada pangkal lidah bagian lateral. Pada orang dewasa
papilla ini kurang berkembang. Terdiri atas rigi (ridge) dan alur paralel pada
permukaan lidah dengan kuncup kecap.
4) Papila sirkumvalate, berjumlah paling sedikit namun merupakan papila terbesar di
lidah. Terdapat melintang pada pangkal lidah, serta memiliki lebih dari separuh
kuncup kecappada lidah manusia. Duktus dari sejumlah kelenjar liur (ebner)
serosa bermuara kedalam alur yang mengelilingi setiap papila vallata.

d. Kelenjar Ludah

11
Kelenjar ludah menghasilkan mukus (lendir) dan enzim amilase yang mengkatalis
perubahan glikogen menjadi maltose. Kelenjar ludah tidak ditemukan pada amfibi
akuatis, pisces, burung, dan mamalia air seperti paus. Pada anjing laut, berang-berang
dan sejenisnya, kelenjar ludah ditemukan untuk menahan ranting-ranting pada sarang
mereka. Pada katak terdapat kelenjar mukosa multiseluler yang muncul di mulut dan
dibagian posterior nasal. Reptil mempunyai palatin, sublingual, premaxillary, dan
labial glands. Kelenjar yang menghasilkan racun pada ular dikembangkan dari labials
superior (atwood,1955). Pada mamalia terdapat 3 pasang kelenjar ludah berdasarkan
tempatnya yaitu:
1) Kelenjar bawah telinga (Glandula Parotid) bermuara di dekat gigi molar atas yang
kedua. Bentuk kelenjar asiner bercabang majemuk dan disusun oleh sel serous.
Kelenjar parotid merupakan kelenjar ludah terbesar pada manusia, sel serous
mengsekresikan ptialin dan terkadang maltase (Atwood,1955).
2) Kelenjar bawah rahang (Glandula mandibularis) bermuara didekat pangkal lidah.
Bentuk kelenjar tubuloasiner bercabang majemuk. Tersusun atas sel serous dan sel
mukus. Kelenjar ini menghasilkan mucin dan ptialin.
3) Kelenjar bawah lidah (glandula sublingualis) bermuara didekat pangkal lidah.
Bentuk kelenjar tubuloasiner bercabang majemuk, tersusun atas sel mukus yang
menghasilkan mucin dan ptialin juga.

Sel serous berinti agak bulat dan sitoplasmanya mengandung butir-butir


zimogen. Sementara sel mukus berinti pipih dan terletak di bagian basal
(Tenzer,1993)

12
e. Faring
Faring merupakan rongga peralihan antara rongga mulut, sistem pernafasan
dan sistem pencernaan, merupakan daerah komunikasi antara hidung dan laring
(Mescher,2011). Faring vertebrata terletak pada daerah di antara bagian belakang
rongga mulut hingga permulaan esofagus. Faring pada tetrapoda umunya pendek,
sedangkan pada ikan, lebih luas dan berhubungan dengan celah-celah insang.
Kontraksi otot faring dalam keadaan naik dan epligotis tertutup akan membuat
makanan masuk ke esofagus (Tenzer, 1993)
f. Esofagus
Esofagus merupakan saluran berotot yang berfungsi meneruskan makanan ke
lambung. Esofagus dilapisi oleh epitel pipih berlapis banyak dengan sel-sel punca
yang tersebar diseluruh lapisan basal (Mescher,1955). Pada pisces dan amfibi bentuk
esofagusnya pendek atau bahkan tidak ada. Pada karnivora, esofagus cenderung
pendek dan lebar, dan panjang pada vegetarian (Atwood,1955). Pada aves terdapat
tembolok (crop) yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan makanan sementara.
Pada lapisan submukosa terdapat pula kelenjar esofagus dengan sekret yang
mempermudah transpor makanan dan melindungi mukosa esofagus. Di bagian ujung
distal esofagus terdapat kelenjar kardia yang juga mensekresikan mukus. Tunika
muskularis eksterna terdiri dari otot sirkuler disebelah dalam dan otot longitudinal di
sebelah luar. Otot pada mamalia adalah lurik pada anterior, lurik dan polos dibagian
tengah dan polos pada bagian posterior, hal ini yang menyebabkan penelanan
makanan dapat dikendalikan di awal, namun diakhiri dengan gerakan peristaltis
involunteer (Tenzer,1993).

g. Lambung (gaster/gastrium)

Lambung biasanya berupa kantung yang berbentuk huruf-J yang mempunyai fungsi
utama menyimpan dan secara mekanis mengaduk makanan dan persiapan hidrolisis
enzimatik protein. Pada Lampre, ia tidak mempunyai lambung dan tiadanya alat ini
diperkirakan merupakan suatu ciri khas dari nenek moyang vertebrata. Karena pada
vertebrata purba mungkin merupakan hewan pemakan penyaring yang secara terus
menerus memakan partikel makanan yang hanya diserap oleh usus (Villee, C. A et al.
1984). Tetapi, pada Pisces dan Amphibia, mempunyai lambung yang relative lurus dan
sederhana. Pada Reptilian lambung tetap lurus dan sedikit melengkung, tetapi pada buaya

13
membulat dan berotot sangat kuat. Lambung aves pemakan biji-bijian terbagi menjadi
dua. Bagian anterior disebut Proventikulus atau lambung kelenjar, untuk mencerna
makanan secara kimiawi dengan bantuan enzim pencernaan. Bagian posterior disebut
Ventrikulus atau lambung pengunyah. Untuk mencerna makanan secara mekanis dengan
bantuan kerikil yang masuk bersama makanan. Ventrikulus berotot kuat dan tebal.
Lambung mamalia berbentuk kantong, dapat dibedakan menjadi tiga bagian, bagian
anterior disebut kardila, bagian tengah fundus, dan bagian posterior pylorus. (pada burung
: proventrikulus berasal dari fundus; ventrikulus dari pylorus). (Tenzer, A. 1993)

Struktur histologi lambung seperti struktur saluran pencernaan pada umumnya. Epitel
mukosa merupakan epitel berlapis tunggal sillindris. Permukaan tunika mukosa
membentuk lekukan-lekukan kea rah lamina propia, disebut fovea gastrika (rugae).

14
Tunika muskularis eksterna terdiri dari tiga lapis otot polos : sebelah luar longitudinal,
tengah sirkuler, dan sebelah dalam laring (Tenzer, A. 1993). Pada saat makanan telah
masuk ke dalam lambung, maka sfingter kardia di ujung anterior dan sfingter pylorus di
ujung posterior lambung menutup. Kontraksi otot lambung mengaduk-aduk makanan itu
dan secara mekanik memecahkan serta mencampurnya dengan getah lambung yang
dihasilkan oleh kelenjar lambung yang berbentuk tabung. Getah lambung mengandung
asam hidrokolar dan enzim proteolitik pepsin. Di samping itu, pada mamalia muda
terdapat sejumlah besar renin yang menyebabkan protein susu kasein berkoagulasi dan
tinggal di lambung cukup lama sehingga pepsin dapat bekerja pada zat itu. Pada waktu
makanan itu berubah menjadi kekuningan, yang disebut kimus (bubur usus), gerakan
pengadukan kea rah belakang membuka sebentar sfingter pylorus. Makanan yang bersifat
asam itu masuk ke dalam usus dengan pancaran sebanyak 1-3 mL (pada manusia) dan
dengan cepat dinetralkan oleh sekresi alkali dari hati dan pancreas. (Villee, C. A et al.
1984).

Kelenjar lambung terdapat pada bagian kardila, fundus maupun pylorus, terbanyak
ada bagian fundus. Bentuk kelenjar lambung adalah tubuler bercabang sederhana.
Kelenjar kardia mengandung banyak butir musigen, inti agak pipih berada di dekat dasar.
(Tenzer, A. 1993).

Kelenjar fundus mengandung sel-sel kelenjar sebagai berikut :

1. Sel musigen : terdapat pada bagian atas kelenjar;menhasilkan musigen untuk


melindungi lambung dari getahan yang bersifat aam dari sel parietal.
2. Sel parietal : bentuk membulat, terdapat di sepanjang dinding kelenjar; menggetahkan
HCL.
3. Sel zigomen (sel utama) sel berwarna gelap, terdapat di 1/3 bagian bawah dinding
kelenjar. Fungsi menghasilkan pepsinogen yang dengan bantuan HCL akan berubah
menjadi pepsin, suatu enzim yang aktif;menghasilkan renin dan menghasilkan faktor
intristik yang memudahkan enyerapn vitamin B12 dalam usus.
4. Sel argentaffin (enterokhromatin), paling sedikit jumlahnya, terletak didasar kelenjar.
Sitoplasma mengandung banyak butir getahan, sehingga berwarna gelap. Tergolong
sel endokrin. (Tenzer, A. 1993).

Kelenjar pylorus : sel-sel kelenjar yang terdapat di dalamnya terutama :

1. Sel musigen : mengetahkan lender.

15
2. Sel gastrin : menggetahkan hormone gastrin yang merangsang pengetahuan HCL oleh
sel-sel parietal. (Tenzer, A. 1993).

Lambung pada aves, akan bekerja 24 jam dalam sehari, karena makanan akan disimpan di
siang hari dan dicerna pada malam hari. Dalam burung pemakan biji, lambungnya
mengandung batu kerikil yang berfungsi untuk menghaluskan makanan. Pada burung
karnivor, lambungnya relatif lebih kecil dan dengan kekuatan otot yang lebih lemah. Pada
sapi, lambungnya terdiri atas 4 bagian yaitu dua bagian yang berasal dari kerongkongan,
rumen dan reticulum, dan 2 bagian lambung sebenarnya, yaitu psalterium dan abomasum.
Sapi disebut juga mamalia ruminansia karena sistem pencernaannya yang rumit. Sapi
akan menelan bahan mentah di bagian rumen dan reticulum hingga makanan tersebut
menjadi setengah dicerna.kemudian makanan “setengah dicerna” tersebut akan masuk ke
psalterium yang akan dicerna secara kimiawi dengan getah lambung, dan diteruskan ke
abomasum, hingga menjadi layak dicerna dan diteruskan ke usus. Sedangkan lambung
pada amfibi dan manusia tidak memiliki perbedaan jauh pada bentuknya. (Atwood,1955).

h. Usus halus (intestinum tenue)

Fungsinya untuk menyelesaikan proses pencernaan kimiawi dan untuk mengarbsorpsi


hasil pencernaan. Luas permukaan untuk absorbsi cukup besar karena panjangnya usus
dan lipatan-lipatan yang terdapat pada lapisannya. (Villee, C. A et al. 1984)

Struktur terinci dari usus pada vertebrata sangat berbeda-beda. Ikan-ikan primitif
mempunyai usus pendek lurus, yang menjulur dari lambung ke belakang. Pada Tetrapoda,
usus berkembang lebih lanjut menjadi usus halus di bagian depan. Pada Reptilia dan
Mamalia usus halus ini dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu duodenum, yeyenum, dan
ileum. (Villee, C. A et al. 1984).

Struktur histologi usus halus seperti struktur histologi saluran pencernaan pada
umumnya. Pada vertebrata tinggi, permukaan dalam usus halus diperluas dengan adanya
tonjolan-toniolan (jonjot) yang menjorok ke dalam lumen yang disebut villus (jamak :
villi). Setiap villus mengandung pembuluh darah dan pembuluh limfe; di tempat ini
terjadi absorbs sari makanan. Pada duodenum villi berbentuk daun menjari berlapis-lapis.
Didaerah yeyenum villi lebih pendek dan menjari, di daerah ileum villi paling pendek dan
berbentuk menjari. Epitel pada tunika mukosa terdiri dari : sel-sel epitel silindris (sel
absorbs) bermikro villi untuk absorbs untuk sari makanan, dan sel goblet yang
menggetahkan mucus bersifat asam untuk proteksi dan pelumas epitel usus. Dalam tunika

16
mukosa terdapat kelenjar-kelenjar intensin yang menjorok ke dalam atau berada di dalam
lamina propia disebut kelenjar lieberkuhn yang tersusun atas sel goblet, sel paneth dan sel
argentaffin. Pada tunika submukosa duodenum terdapat kelenjar brunner, yang
menggetahkan lender yang alkalis, dan diduga menghasilkan enzim peptidase dan
emilase. (Tenzer, A. 1993).

i. Usus Besar (intestinum krassum)

Fungsi absorbsi air dan membentuk fases. Pada pisces dan amphibian usus besar
biasanya lurus dan pendek, pada beberapa pisces bahkan tidak ada batasan yang jelas
antara usus besar dan usus halus. Pada tetrapoda, usus halus dan usus besar dipisahkan
oleh sfingter ileokolih. Usus besar pada mamalia, beberapa reptilian dan beberapa aves
dapat dibedakan menjadi kolon dan rectum. (Tenzer, A. 1993).

Secara histologi struktur usus besar sama dengan bagian saluran pencernaan yang
lain, yaitu terbagi menjadi empat lapisan. Berbeda dengan usus halus, tunika mukosa usus
besar tidak mempunyai villi. Kelenjar liberkuhn panjang-panjang dan mengandung sel
goblet. Epitelium tunika mukosa adalah epitel berlapis tunggal silindris. Kecuali + 2 cm
sebelum anus : epitelium berlapis banyak pipih. Pada tunika mulkularis, lapisan

17
longitudinal otot polos membentuk tiga gumpalan otot seperti pita, disebut tenia koli.
(Tenzer, A. 1993).

Tetrapoda mempunyai satu atau dua diverticulum (penonjolan) berbentuk kantung


disebut sekum (jamak : seka) iliokolik pada daerah pertemuan antara usus halus dan usus
besar. Fungsi sekum adalah untuk memperluas permukaan usus, penyimpanan, fermentasi
dan pengumpulan vitamin. Pada umumnya hewan karnivora memiliki sekum yang kecil,
sebaliknya herbivore bersekum besar, seperti marmot dan rodentia yang lain. Pada bagian
ujung sekum manusia, rodentia dan sejumlah mamalia yang lain terdapat appendiks
(umbai cacing). Pada kebanyakan amphibian, reptilian da naves, usus besar berakhir pada
suatu ruangan yang disebut kloaka, yang juga merupakan muara dari system urinaria dan
system reproduksi. kloaka mempunyai lubang pengeluaran yang disebut lubang kloaka.
(Tenzer, A. 1993).

Mamalia tidak berkloaka, kecuali pada Monotremata. Pada bagian rectum terdapat
katup Houston, merupakan lanjutan otot sirkuler, untuk menahan turunnya feses ke dalam
anus. Anus merupakan bagian akhir dari saluran pencernaan. Pada bagian luar lapisan
otot polos sirkuler terdapat lapisan otot lurik; kedua lapisan otot tersebut membentuk
cincin otot yang berfungsi untuk mengatur pengeluaran feses. (Tenzer, A. 1993).

Kelenjar-Kelenjar Pencernaan di Luar Saluran Pencernaan

18
j. Hati (hepar)

Hati merupakan kelenjar yang terbesar di dalam tubuh. Organ ini dimiliki oleh semua
hewan vertebrata dan mempunyai banyak fungsi antara lain menghasilkan empedu,
menyimpan lemak dan glikogenserta albumin, mensintesis plasma darah, detoksifikasi
zat-zat toksik, merombak eritrosit yang rusak, eliminasi asam amino menjadi urea,
menyimpan vitamin A dan B dan berperan dalam metabolism karbohidrat dan lemak.
Disamping menghasilkan empedu (sebagai kelenjar eksokrin), hati juga berfungsi
menghasilkan suatu hormone (sebagai kelenjar endokrin) yang belum terdetermiansi.
(Tenzer, A. 1993).

Hati terdiri atas beberapa belahan (lobus). Masing-masing lobus dibina oleh
ratusan ribu lobules yang berbentuk heksagonal. Tiap lobulus dilapisi oleh jaringan
ikat interlobular yang disebut kapsula glisson. Pada bagia tengah lobulus hati terdapat
vena sentralis, pita-pita sel hati yang bercabang atau beranstomosis tersusun radier
terhadap vena sentralis. Diantara pita-pita sel hati terdapat sinusoid-sinusoid darah
yang tampak seperti celah-celah atau rongga. Pada dinding sinusoid terdapat sel
kupffer yang tergolong sebagai makrofage. Sudut antara lobuli-lobuli yang
bersebelahan disebut segitiga kiernann yang berisi saluran porta, yaitu arteri, vena dan
saluran empeduinterlobuler. (Tenzer, A. 1993).
19
Sel hati (hepatosit) berbentuk polyhedral, berinti satu (75%) atau dua (25%).
Sitoplasma mengandung banyak butir glikogen. Sel hati inilah yang menghasilkan
empedu. Untuk sementara empedu disimpan dalam kandung empedu (vesika fellea).
Hormone kholesistokinin, mengatur pengeluaran empedu ke usus halus. Oleh duktus
sistikus, empedu disalurkan ke duktus kholedokhus yang bermuara di duodenum, dan
di tempat tersebut terjadi pengemulsian lemak. Kandungan empedu berkembang pada
kebanyakan vertebrata. (Tenzer, A. 1993).

Pada pisces, ia mempunyai hati (hepar) berwarna merah kecoklatan, letaknya di


bagian depan rongga badan mengelilingi usus, yang terdiri dari tiga lobus (gelambir)
dan berfungsi sebagai penghasil empedu (bilus). Kemudian mempunyai kantung
empedu (vesica fellea) yang berwarna hijau, terletak di sebelah kanan lambung,
berfungsi menampung atau menyimpan sementara cairan empedu dan
mengalirkannya kedalam lambung atau usus jika diperlukan. Selanjutnya pada
Amphibi yaitu Katak, bilus dihasilkan terus menerus dan kemudian ditimbun di
kantong empedu yang letaknya di antara lobus hepaticus kiri dan kanan. Kelak bilus
itu dicurahkan ke dalam duodenum melalui saluran empedu (ductus choledochus)
yang menembus jaringan pancreas. Kemudian pada Reptile hati melekat pada
lambung diperantarai lipatan tipis yang disebut omentum hepatic. Ukuran hati relative
besar, warna nya sama seperti pada pisces yaitu merah kecoklatan. Terdapat pada tiga
lobus hati, lobus dorsal, kiri, dan kanan. Dan mempunyai kelenjar empedu yang
berbentuk seperti kantung. (Kastawi, Y et al. 1991). Pada beberapa Pisces, Aves, dan
Mamalia seperti Ikan lamprey, burung, tikus dan ikan paus tidak mempunyai kandung
empedu. Hewan-hewan yang tidak mempunyai kandungan empedu hanya
mengkonsumsi sedikit lemak dalam makanannya. Manusia masih dapat hidup selama
bertahun-tahun setelah kandung empedunya dibuang melalui pembelahan dengan
syarat harus menghindari lemak dalam dietnya. (Tenzer, A. 1993).

k. Pankreas

Pancreas merupakan kelenjar pencernaan yang penting, dan menghasilkan


sejumlah enzim yang bekerja pada karbohidra, protein dan lemak. (Villee, C. A et al.
1984). Kelenjar ini hanya terdapat pada vertebrata dan semua hewan vertebrata
memilikinya. Pada pisces, amphibia, dan reptilian pancreas terletak di antara lambung

20
dan duodenum; sedangkan pada aves dan mamalia terletak diantara pars asenden dan
desenden duodeni. (Tenzer, A. 1993).

Pancreas merupakan organ mejemuk, karena mempunyai fungsi sebagai kelenjar


eksokrin maupun sebagai kelenjar endokrin. Bagian eksokrin merupakan kumpulana
sini pancreas. Tiap asini berlumen sempit, dengan sel-sel sektori berbentuk pyramid.
Bagian ini menghasilkan enzim protease, nuclease, amylase dan lipase. Bagian
endokrin merupakan pulau-pulau Langerhans, tersebar diantara kelenjar eksokrin.
Bagian ini terbentuk oleh sel A, dan sel B. sel tersebut tersusun dalam pita-pita sel
yang bercabang-cabang dan beranastomosis. Diantara pita-pita sel terdapat kapiler
darah yang menyerupai sinusoid pada hati. Sel A dipinggir berukuran lebih besar
daripada sel B tetapi jumlah lebih sedikit. Sel B terletak di tengah, berukuran lebih
kecil, tetapi lebih banyak dari sel A. sebagai kelenkjar endokrin, pulau-pulau
Langerhans menghasilkan hormone. Sel A menghasilkan hormone glukogen yang
mengubah glikogen menjadi glukosa. Sel B menghasilkan hormone insulin yang
mengubah glukosa menjadi glikogen. Pancreas mengalihkan getahnya yang berupa
enzim ke dalam duodenum untuk membantu proses pencernaan makanan ditempat itu.
(Tenzer, A. 1993).

21
PENUTUP

3.1 Simpulan

Sistem pencernaan berfungsi dalam ingesti, digesti, absorpsi, dan eliminasi


makanan. Secara umum sistem pencernaan pada vertebrata meliputi mulut/rongga
mulut, didalamnya terdapat gigi dan lidah. Lalu faring, tempat pertemuan antara jalur
udara dan pernafasan. Dilanjutkan dengan esofagus, lambung, usus halus, usus besar
dan terakhir kloaka atau anus. Setiap hewan vertebrata memiliki struktur yang
berbeda-beda, disesuaikan dengan bentuk tubuhnya. Contohnya hewan karnivora
memiliki perususan yang pendek daripada herbivora. Selain organ-organ pencernaan,
terdapat pula kelenjar pencernaan diluar saluran pencernaan yaitu hati (hepar) dan
pankreas.

3.2 Saran

Sebagai manusia, hendaknya kita lebih memahami diri kita sendiri, termasuk
apa yang baik kita makan maupun tidak. Dengan mempelajari sistem pencernaan, kita
dapat mengetahui bagaimana makanan dicerna dalam tubuh, juga mengetahui
bagaimana sistem pencernaan pada hewan lainnya. Hal ini dapat menambah wawasan
kita, sehingga menambah pengetahuan kita akan lingkungan dan ekosistem.

22
DAFTAR RUJUKAN

Atwood, William Henry. 1955. Comparative Anatomy. United States of America : C.V.
Mosby Company

Villee, C.A et al. 1984. General Zoology sixth Edition. CBS college Publishing.

Kastawi, Y et al. 1991. Vertebrata Bagian I. Malang : Institut Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Malang.

Kastawi, Y et al. 1991. Vertebrata Bagian II. Malang : Institut Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Malang.

Tenzer, A. 1993. Struktur Hewan Bagian I. Malang : Institut Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Malang.

Mescher, Anthony L. 2011. Histologi Dasar Junquiera : Teks dan Atlas. Jakarta : EGC

23