Anda di halaman 1dari 42

LAPORAN EVALUASI PROGRAM POKOK PUSKESMAS

PELAKSANAAN PROGRAM KESEHATAN LINGKUNGAN INSPEKSI


SANITASI RUMAH SEHAT DI PUSKESMAS WANGON II

Disusun Oleh :
Nurul Afifah Munaya G4A018033

Pembimbing Lapangan :
dr. Dewi Astuti

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


JURUSAN KEDOKTERAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
2019
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN EVALUASI PROGRAM POKOK PUSKESMAS


PELAKSANAAN PROGRAM KESEHATAN LINGKUNGAN INSPEKSI
SANITASI RUMAH SEHAT DI PUSKESMAS WANGON II

Disusun untuk memenuhi syarat dari Kepaniteraan Klinik Ilmu


Kedokteran Komunitas /
Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal
Soedirman

Disusun oleh:
Nurul Afifah Munaya G4A018033

Telah dipresentasikan dan disetujui


Tanggal, April 2019

Pembimbing Lapangan

dr. Dewi Astuti


NIP. 19790711 201001 2 007
DAFTAR ISI

I. PENDAHULUAN................................................................................................. 1
A. Latar Belakang ................................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................................ 2
C. Tujuan Penulisan .............................................................................................. 2
D. Manfaat Penulisan ............................................................................................ 2
II. ANALISIS SITUASI ............................................................................................ 4
A. Gambaran Umum Puskesmas Wangon II ........................................................ 4
B. Capaian Program dan Derajat Kesehatan Masyarakat ..................................... 6
C. Capaian Program dan Derajat Kesehatan Masyarakat ................................... 13
III. ANALISIS POTENSI DAN IDENTIFIKASI PERMASALAHAN .................. 23
A. Analisis Sistem ............................................................................................... 23
B. Analisis SWOT............................................................................................... 30
IV. PEMBAHASAN ................................................................................................. 34
A. Pembahasan Isu Strategis ............................................................................... 34
B. Alternatif Pemecahan Masalah ....................................................................... 36
V. PENUTUP ........................................................................................................... 37
A. Kesimpulan..................................................................................................... 37
B. Saran ............................................................................................................... 38
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 39
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit berbasis lingkungan masih menjadi permasalahan hingga saat ini.
ISPA dan diare yang merupakan penyakit berbasis lingkungan selalu masuk dalam
10 besar penyakt dihampir seluruh Puskesmas di Indonesia. Penyakit berbasis
lingkungan adalah suatu kondisi patologis berupa kelainan fungsi atau morfologi
suatu organ tubuh yang disebabkanoleh interaksi manusia dengan segala sesuatu
disekitarnya yang memiliki potensi penyakit (Purnama, 2016).
Pervalensi salah satu penyakit berbasis lingkungan yaitu diare masih
merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang seperti di
Indonesia, karena morbiditas dan mortalitas-nya yang masih tinggi. Survei
morbiditas yang dilakukan oleh Subdit Diare, Departemen Kesehatan dari tahun
2000 s/d 2010 terlihat kecenderungan insidens naik. Pada tahun 2008 terjadi KLB
di 69 Kecamatan dengan jumlah kasus 8133 orang, kematian 239 orang (CFR
2,94%). Tahun 2009 terjadi KLB di 24 Kecamatan dengan jumlah kasus 5.756
orang, dengan kematian 100 orang (CFR 1,74%), sedangkan tahun 2010 terjadi
KLB diare di 33 kecamatan dengan jumlah penderita 4204 dengan kematian 73
orang (CFR 1,74 %.) (Depkes RI, 2011).
Sanitasi sudah selayaknya merupakan prioritas peningkatan pelayanan publik,
mengingat sebagian besar penduduk Indonesia belum dapat menikmati sarana
sanitasi yang memadai, terutama masyarakat yang berada di lingkungan padat,
kumuh,dan miskin. Rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan terkait erat
dengan penyakit berbasis lingkungan. Menurut Depkes RI (2012) bahwa rumah
sehat merupakan rumah yang memenuhi kriteria minimal : akses air minum, akses
jambansehat, lantai, ventilasi, dan pencahayaan.
Pencapaian rumah sehat di Indonesia sebesar 68,69%.Pencapaian tertinggi
rumah sehat terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Bara tsebesar 98,99% dan s apaian
terendah rumah sehat terdapat di Sulawesi Tenggara sebesar 18,35%; Sedangkan
capaian rumah sehat di Jawa Tengah sebesar 65,70% (Depkes RI, 2012). Pada
Puskesmas Wangon II capaian rumah sehat adalah 0,78% dari target inepeksi
sanitasi rumah sehat yaitu 73%, artinya belum mencapai target. Capaian rumah

1
sehat di Puskesmas Wangon II masih sangat rendah dari target, sehingga peneliti
tertarik untuk melakukan penelitian tentang program inspeksi sanitasi rumah sehat
di Puskesmas Wangon II.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana permasalahan yang terjadi dalam program inspeksi sanitasi rumah
sehatdi Puskesmas Wangon II?
2. Bagaimana cakupan dan target program inspeksi sanitasi rumah sehatdi
Puskesmas Wangon II ?
3. Bagaimana upaya yang sebaiknya dilakukan untuk meningkatkan cakupan
program inspeksi sanitasi rumah sehat di Puskesmas Wangon II?
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengetahui masalah-masalah yang terjadi di Puskesmas Wangon II terkait
pelaksanaan program inspeksi sanitasi rumah sehat.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui permasalahan yang terjadi dalam program inspeksi sanitasi
rumah sehatdi Puskesmas Wangon II.
b. Mengetahui cakupan dan target program inspeksi sanitasi rumah sehatdi
Puskesmas Wangon II.
c. Mengetahui upaya yang dilakukan untuk meningkatkan inspeksi sanitasi
rumah sehatdi Puskesmas Wangon II.
D. Manfaat
1. Manfaat Praktis
a. Memberikan informasi kepada pembaca tentang pentingnya pengelolaah
rumah sehat pada lingkungannya masing-masing.
b. Sebagai bahan pertimbangan bagi puskesmas, khususnya pemegang
program kerja inspeksi sanitasi rumah sehat dalam melakukan evaluasi
dalam kinerja program inspeksi sanitasi rumah sehatdi Puskesmas
Wangon II.
c. Sebagai bahan untuk perbaikan program kerja inspeksi sanitasi rumah
sehatkearah yang lebih baik guna mengoptimalkan mutu pelayanan kepada

2
masyarakat pada umumnya dan individu khususnya di wilayah kerja
Puskesmas Wangon II.
2. Manfaat Teoritis
a. Menjadi dasar untuk penelitian selanjutnya bagi pihak yang membutuhkan
b. Sebagai bahan untuk pembelajaran dalam menentukan pemecahan
permasalahan kesehatan pada program pokok puskesmas

3
II. ANALISIS SITUASI

A. Gambaran Umum Puskemas Wangon II


1. Keadaan Geografis
Puskesmas Wangon II merupakan salah satu UPTD Dinas Kesehatan
yang terletak di wilayah Kecamatan Wangon dan merupakan salah satu dari
dua puskesmas yang ada di Kecamatan Wangon. Luas wilayah kerja
Puskesmas Wangon II adalah 21,4 km2 terdiri dari 5 desa yaitu Windunegara,
Wlahar, Cikakak, Jambu, Jurangbahas. Desa Jambu merupakan desa yang
memiliki wilayah paling luas yaitu 6,1 km2, sedangkan Desa Wlahar
merupakan desa yang memiliki wilayah paling sempit yaitu 2,7 km2.
Letak geografis Puskesmas Wangon II terletak di antara 1° 29’ 36.31”
BT dan sekitar 109° 07’ 17.53” LS, berbatasan dengan beberapa kecamatan,
yaitu :
a. Sebelah Timur : Kecamatan Purwojati
b. Sebelah Barat : Kecamatan Lumbir
c. Sebelah Utara : Kecamatan Ajibarang
d. Sebelah Selatan : Kecamatan Wangon dan Wilayah
kerja Puskesmas Wangon II
Topografi wilayah kerja Puskesmas Wangon II terdiri dari 60% daratan
dan 40% pegunungan. Jarak Puskesmas Wangon II ke ibukota kabupaten 24
km, jarak kantor kecamatan dari puskesmas adalah 6,4 km. Semua pusat
pemerintah desa dapat terjangkau dengan kendaraan roda dua dan empat.
2. Keadaan Demografi
a. Pertumbuhan Penduduk dan Persebaran Penduduk
Berdasarkan hasil pendataan yang didapatkan dari setiap desa tahun
2018 jumlah penduduk di wilayah Puskesmas Wangon II adalah 24.413
jiwa terdiri dari 12.360 jiwa laki-laki dan 12.053 jiwa perempuan
tergabung dalam 8.325 rumah tangga/KK.

4
Jumlah penduduk tahum 2018 yang tertinggi di Desa Jambu sebanyak
7.947 jiwa, sedangkan terendah di Desa Jurangbahas 2.620 jiwa.
b. Kepadatan Penduduk
Kepadatan penduduk wilayah kerja Puskesmas Wangon II tahun
2018 sebesar 1.141 jiwa/km2. Kepadatan penduduk tertinggi di Desa
Wlahar sebesar 1.659,62 jiwa/km2, sedangkan kepadatan penduduk
terendah pada Desa Jurangbahas sebesar 847,05 jiwa/km2.
c. Status Sosial Ekonomi
1) Tingkat Pendidikan
Berdasarkan data profil kesehatan Puskesmas Wangon II tahun
2018 jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan adalah sebagai
berikut.
Tabel 2.1 jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan
No. Jenis Pendidikan Persentase
1. Tidak Memiliki Ijazah SD 8.382 (40,21%)
2. SD/MI 8.877 (42,58%)
3. SMP/MTS 3.197 (18,79%)
4. SMA/SMK/MA 2.745 (13,17%)
5. AK/DIPLOMA II & III 186 (0,89%)
6. UNIVERSITAS/S1/S2 306 (1,47%)

Dari tabel tersebut tingkat pendidikan paling banyak adalah


SD/MI diikuti dengan yang tidak memiliki ijazah SD, SMP/MTS,
SMA/SMK/MA, UNIVERSITAS/S1/S2, dan AK/DIPLOMA II & III.
2) Mata Pencaharian
Berdasarkan data yang diperoleh dari kecamatan dalam tahun
2018, mata pencaharian di wilayah Puskesmas Wangon II adalah sesuai
urutan sebagai berikut : Petani (27,96%), Industri (23,50%),
Perdagangan (18,20%), Konstruksi (11,44%), Jasa-Jasa (10,47%),
Angkutan dan Komunikasi (5,86%), Pertambangan dan Penggalian
(1,6%), Listrik, Gas, dan Air (0,5%), dan Lembaga Keuangan (0,35%).

5
3. Petugas Kesehatan
Berikut rasio tenaga kesehatan di Puskesmas Wangon II per 100.000
penduduk pada tahun 2018 :
a. Rasio Dokter Umum sebesar 8,19
b. Rasio Dokter Gigi sebesar 4,096
c. Rasio Apoteker sebesar 4,096
d. Rasio Tenaga Gizi sebesar 4,096
e. Rasio Perawat sebesar 24,58
f. Rasio Perawat Gigi sebesar 4,096
g. Rasio Tenaga Kesehatan Masyarakat sebesar 8,19
h. Rasio Tenaga Kesehatan Lingkungan sebesar 4,096
i. Rasio Bidan sebesar 61, 44

B. Capaian Program dan Derajat Kesehatan Masyarakat


Untuk memberikan gambaran derajat kesehatan masyarakat wilayah
Puskesmas Wangon II pada tahun 2018 disajikan situasi mortalitas dan
morbiditas sebagai berikut.
1. Angka Kematian
a. Angka Kematian Bayi
Angka Kematian Bayi (AKB) adalah jumlah kematian bayi (0-12
bulan) per 1000 kelahiran hidup dalam kurun waktu 1 tahun. AKB
menggambarkan tingkat permasalahan keseatan masyarakat yang
berkaitan dengan faktor kematian bayi, tingkat pelayanan antenatal,
status gizi ibu hami, tingkat keberhasilan program KIA dan KB, serta
kondisi lingkungan dan sosial ekonomi. Bila AKB tinggi berarti status
kesehatan di wilayah tersebut rendah.
AKB di wilayah kerja Puskesmas Wangon II sebesar 2, yaitu di
Desa Wlahar dan Desa Jurangbahas. Gambaran perkembangan AKB
selama 5 tahun terakhir adalah sebagai berikut.

6
30
25
20
15
10
5
0
2014 2015 2016 2017 2018
AKB 14,2 25 6 18 2

Gambar 2.1 Grafik Angka Kematian Bayi Puskesmas Wangon II


b. Angka Kematian Ibu
Angka Kematian Ibu (AKI) mencerminkan risiko yang dihadapi
ibu-ibu selama kehamilan, melahirkan, dan nifas yang dipengaruhi baik
oleh penyebab langsung maupun tidak langsung. Penyebab langsung
kematian ibu terbesar adalah komplikasi obstetric (90%) yang dikenal
dengan trias seperti perdarahan, infeksi dan preeklampsia, atau
komplikasi pada saat kehamilan, kelahiran, dan selama nifas yang tidak
tertangani dengan baik dan tepat waktu. Penyebab kematian ibu tidak
langsung merupakan akar permasalahan yang erat hubungannya dengan
masalah sosial budaya seperti kebiasaan, keyakinan, kepercayaan, sikap
dan perilaku masyarakat terhadap perawatan kehamilan, kelahiran,
serta nifas.
AKI di wilayah kerja Puskesmas Wangon II pada tahun 2018
sebanyak 1 kasus yaitu pada ibu usia 38 tahun yang disebabkan oleh
eklampsia. Pada tahun 2017 tidak ada kasus kematian ibu. Tahun 2016
terdapat 2 kasus kematian ibu, hal ini disebabkan ibu mempunyai
riwayat sakit jantung. Pemantauan telah dilakukan oleh bidan dan sudah
dirujuk ke Rumah Sakil Lanjutan.
Program kesehatan ibu dan anak sudah berjalan. Berbagai strategi
opeasional KIA seperti buku KIA, P4K dengan stiker, K1 dan K4, kelas
ibu hamil, penambahan pelayanan persalinan 24jam di puskesmas.

7
c. Angka Kematian Balita
Angka Kematian Balita (AKABA) merupakan jumlah
kematian balita (1 - 5 tahun) per 1.00 kelahiran hidup dalam kurun
waktu 1 tahun. AKABA menggambarkan tingkat permaalahan anak
balita, tingkat pelayanan KIA, tingkat keberhasilan program KIA, dan
kondisi lingkungan.
Berdasarkan profil kesehatan tahun 2018 AKABA sebanyak 0.
Tahun 2017 tidak ditemukan angka kematian balita, namun tahun 2016
AKABA sebanyak 3 balita. Berdasarkan otopsi verbal yang dilakukan
kematian disebabkan karena tersedak dan febris.
Upaya yang telah dilakukan dalam rangka menurunkan AKABA
adalah pengembangan upaya kesehatan bersumber masyarakat seperti
posyandu, penanggulangan kurang energy protein, penyuluhan, dan
pendidikan gizi, penyediaan sarana air bersih dan sanitasi dasar serta
pemberantasan penyakit melalui surveilans dan imunisasi.
2. Angka Kesakitan
a. Acute Flaccid Paralysis (AFP)
Puskesmas Wangon II dari tahun 2014-2018 belum/tidak
menemukan kasus AFP. Pemberian Imuniasasi Polio rutin padaanak
balita merupakan salah satu cara pemerintahuntuk mencegah kasus
polio. Surveilans P2M termasuk AFP dilakukan untuk mengamati dan
menjaring semua kelumpuhan yang terjadi secara mendadak dan
bersifat layuh seperti kelumpuhan pada poliomyelitis.
b. Kesembuhan Penderita TB Paru BTA (+)
Kegagalan pengobatan TB Paru sebagian besar karena berobat
yang tidak teratur. PMO sangat diperlukan guna memotivasi penderita
untuk minum obat secara teratur. Penemuan kasus baru BTA (+) di
Puskesmas Wangon II tahun 2018 sebanyak 1 orang. Sedangkan tahun
2017 sebanyak 5 orang dengan jumlah seluruh kasus TB 20 orang dan
kasus TB anak 0-14 tahun sebanyak 3 kasus, total CNR kasus TB per
100.000 penduduk sebesar 70,68 sampai dengan saat ini sudah
memenuhi target CDR yaitu >70%. Hal tersebut karena Puskesmas

8
Wangon II belum secara aktif melakukan penemuan kasus BTA (+).
Kasus TB BTA (+) dari pemeriksaan di puskesmas dan kiriman dari
sarana kesehatan yang lain.
c. Persentase Balita dengan Pneumonia Ditangani
Cakupan penemuan penderita pneumonia balita adalah penemuan
dan tata laksana penderita pneumonia balita yang mendapatkan
antibiotik secara standar atau pneumonia berat dirujuk ke Rumah Sakit
dalam satu wilayah kerja dalam kurun waktu tertentu. Cakupan
penemuan penderita pneumonia balita di wilayah kerja Puskesmas
Wangon II pada tahun 2018 sebesar 64,605 % meningkat dibandingkan
tahun 2017 sebesar 35,79 % yang juga meningkat dibandingkan tahun
2016 yaitu 10,92%. Diharapkan dengan pelaksanaan MTBS secara aktif
akan dapat menjaring kasus pneumonia di wilayah kerja Puskesmas
Wangon II , juga diperlukan suatu upaya yang optimal baik dari tenaga
kesehatan yang ada di desa dan di puskesmas untuk secara aktif
melakukan atau melacak penemuan kasus penderita pneumonia.

70
60
50
40
30
20
10
0
2014 2015 2016 2017 2018
CAKUPAN 9,9 11 10,92 35,79 64,605

Gambar 2.2 Cakupan Penemuan Kasus Pneumonia Balita Puskesmas


Wangon II Tahun 2014-2018
d. Prevalensi HIV
Penemuan kasus HIV/AIDS di wilayah kerja Puseksmas II
Wangon pada tahun 2018 tidak ditemukan kasus HIV/AIDS. Dalam
kurun waktu 2014-2018 tidak ditemukan laporan kasus penderita HIV-
AIDS. Untuk penemuan kasus Puskesmas mendapatkan Laporan dari
Rumah Sakit yang kemudian akan di tindak lanjuti dari Dinas
kesehatan. Kasus HIV/AIDS merupakan fenomena gunung es dimana

9
kasus yang dilaporkan hanya sebagian kecil dari masyarakat.
e. Angka Kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD)
Kasus DBD biasanya disebabkan adanya iklim yang tidak stabil
dan curah hujan yang cukup banyak pada musim hujan sehingga
nyamuk aedse Aegypty mudah berkembang biak dan juga di dukung
dengan kurang maksimalnya kegiatan PSN di masyarakat.
Angka Kesakitan/Incidence Rate (IR) di Wilayah kerja
Puskesmas Wangon II pada tahun 2018 naik menjadi 20,5 per
100.000 penduduk dari tahun 2017 yaitu 3,9 per 100.000
penduduk yang turun dari tahun 2016 yaitu 201,0 per 100.000
penduduk. Angka kematian/Case Fatality Rate (CFR) pada tahun 2018
adalah 0 %.

250
200
150
100
50
0
2014 2015 2016 2017 2018
CFR 0 0 0 0 0
IR 12,5 21,25 201 3,9 20,5

Gambar 2.3 Angka Kesakitan dan Kematian DBD Puskesmas


Wangon II tahun 2014-2018
f. Penanganan Kasus DBD
Penderita kasus DBD yang ditangani merupakan penderita DBD
yang penanganannya sesuai standar di satu wilayah kerja pada kurun
waktu tertentu. Cakupan penderita DBD yang ditangani pada tahun
2018 sebesar 100%.
g. Penanganan Diare pada balita
Kasus penyakit Diare yang ditangani di wilayah kerja Puskesmas
Wangon II tahun 2018 99,8%, meningkat dibandingkan tahun 2017
42,3%.

10
120
100
80
60
40
20
0
2014 2015 2016 2017 2018
PENANGAN DIARE 34,6 68,2 7,7 42,3 99,8

Gambar 2.4 Penanganan diare Puskesmas Wangon II tahun 2014-


2018
h. Persentase Penderita Kusta selesai berobat
Penyakit Kusta merupakan salah satu penyakit menular, yang
dapat menimbulkan masalah tidak hanya dari segi medis akan tetapi
sosial ekonomi. Pada tahun 2018 tidak ditemukan kasus kusta di
wilayah kerja Puskesmas Wangon II yaitu dari Desa Jambu, dari hasil
tersebut angka penemuan kasus baru (NCDR) per 100.000 penduduk
yaitu 3,95.
i. Kasus Penyakit Filariasis ditangani
Jumlah Penemuan kasus filariasis di wilayah kerja Puskesmas
Wangon II tidak ditemukan. Periode 2014-2018 Puskesmas Wangon II
tidak menemukan kasus Filariasis.
3. Angka Status Gizi Masyarakat
a. Persentase Kunjungan Neonatus
Kunjungan Neonatus adalah kunjungan yang dilakukan oleh
petugas kesehatan ke rumah ibu bersalin untuk memantau dan memberi
pelayanan kesehatan untuk ibu dan bayinya. Cakupan Kunjungan
Neonatus di Wilayah Kerja Puskesmas Wangon II pada tahun 2018
mencapai 100 %, pada tahun 2017 adalah sebesar 94% menurun dari
tahun 2016 yaitu sebesar 100%, menurun dibanding 2013 adalah
sebesar 99,7%, dan tahun 2012 sebesar 98,9%. Hal ini menunjukkan
kurang tingginya kesadaran ibu dalam pemantauan perkembangan dan
kesehatan neonatus.

11
102
100
98
96
94
92
90
2014 2015 2016 2017 2018
Kunj Neonatus 100 100 100 94 100

Gambar 2.5 Kunjungan Neonatus Puskesmas Wangon II tahun 2014-


2018
b. Persentase Kunjungan Bayi
Kunjungan bayi adalah bayi yang memperoleh pelayanan
kesehatan sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan paling sedikit 4
kali di luar kunjungan neonatus. Cakupan kunjungan bayi di wilayah
kerja Puskesmas Wangon II pada tahun 2018 sebesar 101,6%,
meningkat dibanding tahun 2017 sebesar 100 %, dengan tahun 2016
sebesar 101.9%, tahun 2015 sebesar 100% meningkat dari tahun 2014
sebesar 95,89% dan tahun 2013 sebesar 93,5%. Berdasarkan Target
SPM maka angka tersebut sudah memenuhi target yaitu 90%.
c. Persentase BBLR ditangani
Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi yang lahir dengan berat
badan kurang dari 2500 gram. Penyebab terjadi BBLR antara lain
karena ibu hamil mengalami anemia, kurang asupan gizi waktu dalam
kandungan atau lahir premature.
Presentase BBLR di Wilayah Kerja Puskesmas Wangon II pada
tahun 2018 sebesar 9,0 %. Pada tahun 2017 sebesar 6,9 % menurun
dibandingkan tahun 2016 sebesar 10.3 % meningkat dibanding tahun
2015 yaitu sebesar 7,7%. Cakupan pada tahun 2014 sebesar 6,34% dan
tahun 2013 terjadi peningkatan presentase sebesar 2,6%. Bayi dengan
BBLR mendapat penanganan dari petugas kesehatan 100%.
d. Balita dengan Gizi Buruk
Balita dengan gizi buruk dapat dipantau melalui pemantauan
tumbuh kembang Balita di Posyandu, pemantauan status gizi.
Perawatan yang baik dapat meningkatkan status gizi balita.
12
Berdasarkan table profile Puskesmas Wangon II pada tahun 2018
ditemukan 6 kasus gizi buruk, menurun dibandingkan dengan tahun
2017. Ditemukan 4 kasus di Desa Windunegara, 1 kasus di Desa Jambu,
dan 1 kasus di Desa Jurangbahas.
Pada tahun 2017 ditemukan 17 kasus gizi buruk yaitu 3 di Desa
Windunegara, 3 di Desa Wlahar, 5 di Desa Cikakak, dan 6 di Desa
Jambu. Meningkat dibandingkan dengan tahun 2016 ditemukan 2
kasus gizi buruk yaitu di Desa Windunegara 1 orang, Desa Wlahar 1
orang, dan sudah mendapatkan penanganan dengan pemberian PMT
Pemulihan selama 90 hari. Pada tahun 2014 kasus balita gizi buruk
sebesar 0,22% dibandingkan tahun 2013 mengalami peningkatan
jumlah kasus balita dengan gizi buruk sebesar 0,07%.
18
16
14
12
10
8
6
4
2
0
2014 2015 2016 2017 2018
BALITA GIBUR 0,22 0,17 2 17 6

Gambar 2.6 Balita dengan Gizi Buruk Puskesmas Wangon II tahun


2014 – 2018
C. Situasi Upaya Kesehatan
1. Pelayanan Kesehatan Dasar
Upaya pelayanan kesehatan dasar merupakan langkah awal yang
sangat penting dalam memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat.
Dengan pemberian pelayanan kesehatan dasar secara tepat dan cepat
diharapkan sebagian besar masalah kesehatan masyarakat sudah dapat diatasi.

13
Berbagai pelayanan kesehatan dasar yang dilaksanakan oleh Puskesmas adalah
sebagai berikut :
a. Pelayanan Kesehatan Ibu
1) Cakupan Kunjungan Ibu Hamil
Kunjungan ibu hamil sesuai standar adalah pelayanan yang
mencakup standar minimal. Pemeriksaan yang teratur dapat
mencegah secara dini segala sesuatu yang akan membahayakan ibu
dan janin yang dikandungnya..
Kunjungan mencakup 1. Timbang badan dan ukur tinggi
badan, Ukur Tekanan Darah, 3. Skrining status imunisasi tetanus
(dan pemberian Tetanus Toxoid), 4. Ukur tinggi Fundus Uteri, 5.
Pemberian Tablet Besi, 6. Temu wicara (pemberian komunikasi
interpersonal dan konseling), 7. Tes HB dan Urine serta HbsAg,
Sifilis, HIV, Malaria dan TBC di Laboratorium. Cakupan pelayanan
lengkap ibu hamil (K4) di wilayah kerja Puskesmas Wangon II pada
tahun 2018 sebesar 87,9%, menurun dibandingkan tahun 2017
sebesar 89,3% meningkat dibandingkan tahun 2016 sebesar 83,41%
turun dibanding tahun 2015 mencapai 103,9%. Cakupan K4
menggambarkan tingkat kesehatan yang berkaitan dengan status gizi
ibu hamil, pelayanan antenatal, kondisi sosial ekonomi serta tingkat
keberhasilan KB dan KIA. Untuk Cakupan K1 sebesar 100%.
Standar pelayanan Minimal Cakupan Kunjungan Ibu Hamil
K4 sebesar 95%. Dengan demikian Puskesmas Wangon II belum
memenuhi target SPM.
2) Persalinan yang ditolong oleh Tenaga Kesehatan (Nakes)
Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki
kompetensi kebidanan adalah ibu bersalin yang mendapat
pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki
kompetensi kebidanan. Cakupan pertolongan persalinan oleh nakes
di wilayah kerja Puskesmas Wangon II pada tahun 2018 sebesar
100% sama dengan tahun 2017. Meningkat dibandingkan tahun 2016
sebesar 88,24% menurun dibanding tahun 2015 yaitu sebesar

14
110.7%. Tahun 2014 sebesar 91,9% dan pada tahun 2013 mencapai
102,7%. Berdasarkan SPM Kesehatan maka cakupan tersebut
memenuhi standar pelayanan minimal yaitu sebesar 90%.
3) Pelayanan Ibu Nifas
Cakupan pelayanan pada ibu nifas di Puskesmas Wangon II
pada tahun 2018 sebesar 99,7%, turun dibandingkan tahun 2017
yaitu sebesar 100 % meningkat dibanding tahun 2016 sebesar 87.7%
menurun dibanding tahun 2015 mencapai 110.7%. Pada tahun 2014
mencapai 100% sedangkan tahun 2013 sebanyak 102,7%. Pelayanan
Ibu Nifas meliputi pemberian VIT A dosis tinggi ibu nifas,
pemeriksaan kesehatan paska persalinan. Kunjungan ini biasanya
dilakukan bersamaan dengan kunjungan neonatus.
4) Ibu Hamil Mendapat Fe
Penanggulangan Anemi pada ibu hamil dilakukan dengan
kegiatan pemberian tablet Fe bagi ibu hamil selama periode
kehamilannya. Cakupan ibu hamil yang mendapat Fe 1 pada tahun
2018 sebesar 100% sama dengan tahun 2017 sebesar 100% meningkat
dibandingkan tahun 2016 sebesar 90.73 menurun dibanding tahun
2015 sebesar 108,4% dan Fe 3 89,3% meningkat disbanding tahun
2016 yaitu 83,41%, naik disbanding tahun 2015 sebesar 101 % .
Bersasarkan SPM Kesehatan maka cakupan tersebut belum
mencapai target yaitu 90%.
b. Pelayanan Keluarga Berencana
1) Peserta KB Baru
Pasangan Usia Subur (PUS) yang baru pertama kali
menggunakan salah satu cara/alat dan/atau PUS yang menggunakan
kembali salah satu cara/alat kontrasepsi setelah mereka berakhir
masa kehamilannya di sebut Peserta KB Baru.

15
Jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) yang memakai KB baru wilayah
kerja Puskesmas Wangon II pada tahun 2018 sebesar 4,2% dengan
jumlah PUS 4.813 dengan peserta KB baru 203, dengan
menggunakan alat kontrasepsi sebagai berikut :
a) Metode Kontrasepsi Jangka Panjang
IUD 18,7%, MOW 1,5%, Implant 48,3%, MOP 0%.
b) NON MKJP
Suntik 31,5%, Pil 0%, Kondom 0%, Obat vaginal 0%, cara lain
0%.
Berdasarkan data di atas dapat diketahui bahwa peserta KB
baru lebih banyak menggunakan sistem MKJP sebanyak 68,5 %
2) Peserta KB Aktif
Peserta KB Aktif adalah Akseptor yang pada saat ini memakai
kontrasepsi untuk menjarangkan kehamilan atau mengakhiri
kesuburan. Cakupan peserta KB aktif Puskesmas Wangon II tahun
2018 sebesar 89% yaitu 4.283 peserta:
a) MKJP
IUD 1,1%, MOP 0%, MOW 0%, Implant 2%.
b) NON MKJP
Suntik 90,4 %, Pil 6,4%, Kondom 0,2%, Obat vaginal dan cara
lainnya 0% Pemakaian kontrasepsi NON MKJP 96,9% lebih banyak
dibanding kontrasepsi MKJP sebesar 3,1%. Jumlah PUS pada tahun
2018 sebanyak 5.661.

16
Cakupan KB aktif pada tahun 2017 mengalami meningkatan yakni
sebesar 74,33% dengan gambaran tiap desa sebagai berikut:
Tabel 2.2. Cakupan KB Aktif tahun 2017 di Wilayah Kerja
Puskesmas Wangon II
No Nama Desa Cakupan
KB Aktif
1. Cikakak 104,4%
2. Windunegara 103,8%
3. Jurangbahas 93,17%
4. Wlahar 71,03%
5. Jambu 42,3%
6. Puskesmas 74,33%

Jumlah PUS di wilayah Puskesmas Wangon II pada tahun 2018


sebesar 4.809. Cakupan KB aktif pada pada bulan Januari-Oktober
tahun 2018 mengalami sebesar 70,57% dengan gambaran tiap desa
sebagai berikut:

Tabel 2.3. Cakupan KB Aktif bulan Januari-Oktiber tahun 2018 di


Wilayah Kerja Puskesmas Wangon II
No Nama Desa Cakupan
KB Aktif
1. Cikakak 128,12%
2. Windunegara 103,43%
3. Jurangbahas 85,29%
4 Wlahar 55,8%
5. Jambu 41,55%
6. Puskesmas 70,57%

17
c. Pelayanan Imunisasi
1) Persentase Desa yang mencapai UCI
Pencapaian Desa UCI pada tahun 2018 sebesar 100% sama
dengan tahun 2017, 2016, dan 2015. Pelayanan Imunisasi merupakan
kegiatan imunisasi rutin yang diberikan pada bayi 0-1 tahun.
2) Cakupan Imunisasi Bayi
Cakupan Imunisasi Bayi Puskesmas Wangon II pada tahun
2018 adalah sebagai berikut : Hb<7 hari 97,10%, BCG 92,46%,
DPT-HB3 96%, Polio 4 101,57%, dan Campak 95,298%, dan
Imunisasi Dasar Lengkap mencapai 97,492%. Saat ini sertifikat LIL
merupakan pendukung kelengkapan imunisasi dasar lengkap pada
bayi sehingga dapat menunjang pencapaian target cakupan imunisasi
bayi.
2. Pelayanan Kesehatan Rujukan dan Penunjang
a. Akses Ketersediaan Darah Untuk Ibu Hamil dan Neonatus di Rujuk
Untuk akses ketersediaan darah untuk ibu hamil dan neonatus
saat ini Puskesmas Wangon II belum mendapatkan data yang akurat
sehingga tidak dapat menggambarkan akses ketersediaan darah
tersebut.
b. Komplikasi kebidanan yang ditangani
Komplikasi kebidanan yang ditangani adalah kesakitan pada
ibu hamil, ibu bersalin dan ibu yang dapat mengancam jiwa ibu
dan/atau bayi. Jumlah ibu hamil resti/komplikasi di Puskesmas
Wangon II pada tahun 2018 sebesar 124 kasus (169,863%) .
c. Neonatus dengan komplikasi yang ditangani
Neonatus dengan komplikasi yang ditangani adalah neonatus
komplikasi yang mendapat pelayanan oleh tenaga kesehatan yang
terlatih, dokter dan bidan di sarana pelayanan kesehatan.
Pada Tahun 2018 perkiraan bayi dengan komplikasi bila di
hitung dari banyaknya sasaran bayi maka jumlahnya sebanyak 52
bayi. Dari perkiraan tersebut yang mendapat penaganan oleh tenaga
kesehatan sebesar 75,4%. Jumlah tersebut belum memenuhi target

18
cakupan sebesar 80% (Target SPM).
3. Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan
a. Cakupan Rawat Jalan
Cakupan rawat jalan adalah cakupan kunjungan rawat jalan
baru di sarana pelayanan kesehatan pemerintah dan swasta di satu
wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Cakupan kunjungan rawat
jalan Puskesmas Wangon II pada tahun 2018 sebesar 94,1 % .
4. Pembinaan Kesehatan Lingkungan dan Sanitasi Dasar
Lingkungan sehat merupakan salah satu pilar utama dalam
pencapaian Indonesia Sehat. Lingkungan merupakan faktor yang sangat
berpengatruh terhadap derajat kesehatan, disamping perilaku dan
pelayanan kesehatan.
a. Penyediaan Air Bersih dan Sanitasi
1) Akses sarana air bersih
umlah penduduk dengan ases berkelanjutan terhadap air
minum berkualitas yang menggunakan Sumur Gali Terlindung
sebanyak tahun 2018 adalah 7.365 penduduk dengan jumlah
sarana 6.119 sarana. Untuk persentase kualitas air minum di
penyelengara air minun yang memenuhi syarat sebesar 81,48%.
2) Sarana Sanitasi Dasar
Kepemilikan sarana sanitasi dasar yang dimiliki oleh
keluarga untuk jenis sarana jamban leher angsa sebanyak 7.180
pengguna dengan jumlah sarana yang memenuhi syarat yaitu
5.914 sarara yaitu 82,37% penduduk pengguna.
b. Pengawasan dan Pemeliharaan Kualitas Lingkungan
1) Pengawasan TTU dan TPM
Persentase TTU tahun 2018 yang memenuhi syarat
kesehatan untuk SD mencapai 100%, Kesehatan 100%, SMP
100%. Untuk TPM yang memenuhi syarat hygiene sanitasi
mencapai 82,35% meningkat dibandingkan dengan tahun 2017
yaitu 50 %.

19
2) Rumah Sehat
Pada tahun 2018 dari 7.180 rumah, data yang diperoleh dari desa
untuk rumah yang memenuhi syarat rumah sehat sebanyak 6.907
rumah (96,20%) dan yang belum memenuhi syarat sebanyak 273
rumah. Data yang dicari oleh petugas puskemas untuk rumah
yang memenuhi rumah sehat kurang dari 500 rumah (6,96%).
5. Perbaikan Gizi Masyarakat
a. Pemantauan Pertumbuhan Balita
1) Partisipasi masyarakat dalam penimbangan
Penimbangan terhadap bayi dan balita yang dilakukan di
Posyandu merupakan upaya masyarakat memantau
perkembangan bayi dan balita. Partisipasi masyarakat dalam
penimbangan di posyandu digambarkan dalam perbandingan
jumlah balita yang ditimbang (D) dengan jumlah balita
seluruhnya (S). Semakin tinggi partisipasi masyarakat dalam
penimbangan di posyandu maka semakin baik pula seluruhnya
pada tahun 2018 sebesar 1.513 dan yang ditimbang 1.333 balita
(88,1%). Dibutuhkan partisipasi aktif baik dari kader dan tenaga
kesehatan di desa untuk meningkatkan kunjungan penimbangan
balita di desa.
2) Status Gizi Balita
Status gizi balita tahun 2017 dengan status BGM sebesar
31 orang (2,5%). Dan balita dengan gizi buruk sebanyak 17
orang. Balita yang menderita gizi buruk tekah mendapatkan
PMT pemulihan dan dilakukan perawatan.
b. Pelayanan Gizi
1) Bayi dan Balita Mendapat Kapsul Vitamin A
Salah satu program penanggulangan KVA yang telah
dijalankan adalah dengan suplementasi kapsul Vitamin A dosis
tinggi 2 kali per tahun pada balita dan ibu nifas untuk
mempertahankan bebas buta karena KVA dan mencegah
berkembanganya kembali masalah Xerofthalmia dengan segala

20
manifestasinya (gangguan penglihatan, buta senja dan bahkan
kebutaan sampai kematian). Cakupan pemberian kapsul Vitamin
A dosis tinggi pada bayi dan balita wilayah kerja Puskesmas
Wangon II tahun 2018 sebesar 100%.
2) Ibu Nifas mendapat Kapsul Vitamin A
Suplementasi Vitamin A pada ibu nifas merupakan salah
satu program penanggulangan kekurangan Vitamin A. Cakupan
ibu nifas mendapat kapsul Vitamin A adalah cakupan ibu nifas
yang mendapat kapsul Vitamin A dosis tinggi (200.000 SI) pada
periode 40 hari setelah melahirkan. Cakupan ibu nifas mendapat
kapsul Vitamin A di Puskesmas Wangon II pada tahun 2018
sebesar 100%.
3) Balita Gizi Buruk mendapat perawatan
Balita Gizi buruk mendapat perawatan adalah balita
dengan gizi buruk yang ditangani di sarana pelayanan kesehatan
dan atau di rumah oleh tenaga kesehatan sesuai tatalaksanan
gizi buruk di satu wilayah
kerja pada kurun waktuntertentu. Jumlah balita gizi buruk yang
di temukan di wilayah kerja Puskesmas Wangon II pada tahun
2018 sebanyak 6 balita dan sudah mendapat perawatan (100%).
6. Perilaku Hidup Masyarakat
a. Persentase Rumah Tangga Berperilaku Hidup Bersih dan Sehat
Perilaku hidup bersih dan sehat di rumah tangga merupakan
upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar sadar, mau
dan mampu melakukan PHBS dalam memelihara dan meningkatkan
kesehatannya, mencegah resiko terjadinya penmyakit dan
melindungi diri dari ancaman penyakit serta berperan aktif dalam
gerakan kesehatan masyarakat.
Presentase Rumah Tangga ber Perilaku Hidup Bersih dan
Sehat (PHBS) Puskesmas Wangon II pada tahun 2018 sebesar 100%.
Peran serta Masyarakat dalam hal ini kader PHBS sangat berperan
dalam menigkatkan pendataan PHBS rumah tangga. Dari 7.400

21
rumah tangga yang diperiksa sebanyak 7.400 rumah dengan PHBS
(100%).
b. Persentase Posyandu Aktif
Posyandu merupakan salah satu bentuk UKBM yang dikelola
dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam
penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna memberdayakan
masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam
memperoleh pelayanan kesehatan dasar.
1) Posyandu Mandiri
Pada tahun 2018 tidak terdapat Posyandu Strata Mandiri.
2) Posyandu Purnama
Posyandu Purnama adalah posyandu yang sudah dapat
melaksanakan kegiatan lebih dari 8 kali per tahun, dengan rata
rata jumlah kader sebanyak lima orang atau lebih, cakupan
kelima kegiatan utamanya lebih dari 50%, mampu
menyelenggarakan program yang dikelola oleh masyarakat yang
peertanya masih terbatas yakni kurang dari 50% KK di wilayah
kerja Posyandu. Pada tahun 2018 terdapat 8 posyandu dengan
Strata Purnama atau sebesar 22,22%.
3) Posyandu Madya
Posyandu yang sudah mencapai Strata Madya pada tahun
2018 sebanyak 28 posyandu atau sebesar 77,78%.
c. Bayi yang Mendapat ASI Eksklusif
Bayi yang mendapat ASI Ekslusif adalah bayi yang diberikan
ASI secara terus menerus mulai dari umur 0-6 bulan tanpa diganti
dengan Pengganti ASI. Berdasarkan data yang diperoleh pada tahun
2018 cakupan Pemberian ASI Ekslusif mencapai 73,6% meningkat
disbanding tahun 2017sebesar 52,8%, pada tahun 2016 sebesar 40%, dan
dibanding tahun 2015 yaitu sebesar 51,9 % . Perlu Akselerasi yang
optimal dalam pencapaian Pemberian ASI Ekslusif bagi bayi guna
petrumbuhan dan perkembangan bayi yang optimal

22
III. ANALISIS POTENSI DAN IDENTIFIKASI ISU STRATEGIS

A. Analisis Sistem
Analisis penyebab masalah dilakukan berdasarkan pendekatan sistem
sehingga dilihat apakah output (skor pencapaian suatu indikator kinerja)
mengalami masalah atau tidak. Apabila ternyata bermasalah, penyebab masalah
tersebut dapat kita analisis dari input dan proses kegiatan tersebut. Analisis
program kesehatan dilakukan dengan metode berikut:
1) Input
a. Man
1) Tenaga Kesehatan
1) Dokter atau Dokter Layanan Primer
Dokter yang ada di sarana kesehatan dalam wilayah Puskesmas
Wangon II terdapat 3 orang dokter umum. Tidak terdapat dokter
layanan primer maupun dokter spesialis di Puskesmas Wangon II.
Menurut standar Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 tahun 2014,
puskesmas kawasan pedesaan non rawat inap setidaknya memiliki
satu dokter atau dokter layanan primer. Hal tersebut menunjukkan
bahwa jumlah tenaga dokter di Puskesmas Wangon II telah
memenuhi standar ketenagaan puskesmas.
2) Dokter Gigi
Jumlah tenaga dokter gigi yang terdapat di Puskesmas Wangon II
sebanyak satu orang dokter gigi. Menurut standar Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 75 tahun 2014, puskesmas kawasan pedesaan non
rawat inap setidaknya memiliki satu orang dokter gigi. Hal tersebut
menunjukkan bahwa jumlah tenaga dokter gigi di Puskesmas
Wangon II telah memenuhi standar ketenagaan puskesmas.
3) Tenaga Perawat
Tenaga perawat kesehatan yang terdapat di Puskesmas Wangon II
sebanyak 7 orang. Standar Peraturan Menteri Kesehatan No. 75 tahun
2014, puskesmas kawasan pedesaan non rawat inap setidaknya

23
memiliki lima orang perawat, sehingga jumlah perawat di Puskesmas
Wangon II telah memenuhi standar ketenagaan puskesmas.
4) Bidan
Jumlah tenaga bidan di Puskesmas Wangon II sebanyak 15 orang,
terdiri dari 4 bidan Puskesmas, 6 bidan desa, dan 5 bidan kontrak.
Bidan Puskesmas menjadi pemegang program KIA, KB, dan kamar
bersalin. Selain itu, bidan Puskesmas juga rutin mendampingi
kegiatan yang sudah terbagi dalam wilayah kerja (bina wilayah).
Bidan Desa memiliki kewenangan yakni pelayanan KIA dan KB di
desa binaannya, termasuk upaya promotif, preventif, pemberdayaan
masyarakat, dan deteksi dini dan pengobatan awal terkait kesehatan
ibu dan anak. Kebutuhan bidan berdasarkan standar Peraturan
Menteri Kesehatan No. 75 tahun 2014, ketenagaan bidan pada
puskesmas non rawat inap di kawasan pedesaan setidaknya memiliki
4 orang bidan. Hal tersebut menunjukkan jumlah bidan di Puskesmas
Wangon II telah memenuhi standar ketenagaan puskesmas.
2) Tenaga Kesehatan Masyarakat
Terdapat 1 orang tenaga kesehatan masyarakat di Puskesmas Wangon
II. Berdasar standar Peraturan Menteri Kesehatan No. 75 tahun 2014,
puskesmas kawasan pedesaan non rawat inap setidaknya memiliki satu
orang tenaga kesehatan masyarakat. Hal tersebut menujukkan jumlah
tenaga kesehatan masyarakat di Puskesmas Wangon II telah memenuhi
standar ketenagaan puskesmas.
3) Tenaga Kesehatan Lingkungan
Terdapat satu orang tenaga kesehatan lingkungan / sanitarian di
Puskesmas Wangon II. Berdasar standar Peraturan Menteri Kesehatan
No. 75 tahun 2014, puskesmas kawasan pedesaan non rawat inap
setidaknya memiliki satu orang tenaga kesehatan lingkungan. Hal tersebut
menujukkan jumlah tenaga kesehatan lingkungan di Puskesmas Wangon
II telah memenuhi standar ketenagaan puskesmas.
4) Ahli Teknologi Laboraturium Medik
Terdapat 1 orang ahli teknologi laboratorium medik di Puskesmas

24
Wangon II. Berdasar standar Peraturan Menteri Kesehatan No. 75 tahun
2014, puskesmas kawasan pedesaan non rawat inap setidaknya memiliki
satu orang ahli teknologi laboratorium medik. Hal tersebut menujukkan
jumlah tenaga kesehatan masyarakat di Puskesmas Wangon II telah
standar ketenagaan puskesmas.
5) Tenaga Gizi
Terdapat satu orang tenaga gizi di Puskesmas Wangon II. Menurut
standar Peraturan Menteri Kesehatan No. 75 tahun 2014, puskesmas
kawasan pedesaan non rawat inap setidaknya memiliki satu orang tenaga
gizi. Hal tersebut menunjukkan. Puskesmas Wangon II telah memenuhi
standar ketenagaan puskesmas.
6) Tenaga Kefarmasian
Terdapat 1 orang tenaga kefarmasian di Puskesmas Wangon II.
Menurut standar Peraturan Menteri Kesehatan No. 75 tahun 2014,
puskesmas kawasan pedesaan non rawat inap setidaknya memiliki satu
orang tenaga kefarmasian. Hal tersebut menunjukkan jumlah tenaga
kefarmasian di Puskesmas Wangon II telah memenuhi standar ketenagaan
Puskesmas.
b. Money
Sumber anggaran kesehatan Puskemas Wangon II berasal dari Dana BOK
(Bantuan Operasional Kesehatan), dana Operasional Puskesmas yang berasal
dari BLUD (Badan Layanan Umum Daerah). Semua anggaran bertujuan agar
semua program kesehatan Puskemas Wangon II berjalan lancar dan mencapai
target yang telah ditentukan. Jumlah anggaran BOK yang digunakan untuk
Kesehatan Lingkungan inspeksi sanitasi lingkungan adalah sebesar Rp
2.400.000 untuk tranportasi petugas.
c. Material
Puskemas Wangon II memiliki 2 ambulans dan 1 sepeda motor yang dapat
digunakan untuk home visite atau transportasi yang menunjang dalam
kegiatan program inspeksi sanitasi rumah sehat. Material yang digunakan
untuk program kesehatan lingkungan inspeksi sanitasi rumah sehat adalah
menggunakan sanitarian kit, yaitu kumpulan beberapa alat yang dapat

25
mengukur zat berbahaya pada makanan, kelembaban, pemantauan kualitas
air, populasi lalat, serta tingkat kebisingan suara, dan lain lain. Puskesmas
Wangon II belum memiliki sanitarian kit sehingga pendataan sanitasi rumah
sehat hanya menggunakan form sesuai ketentuan kemenkes dan alat tulis
untuk mencatat.
d. Method
Metode kegiatan program inspeksi sanitasi rumah sehat adalah metode
aktif petugas puskesmas mengadakan inpeksi langsung ke rumah warga dengan
membawa form penilaian rumah sehat. Pendataan dilakukan dengan metode
wawancara dan pengamatan langsung oleh petugas. Pendataan yang dilakukan
juga sekaligus menginspeksi sanitasi lingkungan lain di daerah sekitar target
inspeksi (depot air isi ulang, rumah makan, pasar, dan lain lain). Setelah
dilakukan pendataan dilakukan konseling singkat dari petugas yang sudah
diberi pembekalan untuk memperbaiki sisi rumah yang memungkinan atau
kebiasaan di rumah agar berprilaku bersih.
e. Minute
Pelaksanaan program inspeksi sanitasi rumah sehat berupa inspeksi
langsung petugas puskesmas ke rumah warga yang diadakan setiap bulan 4 kali
dengan waktu kunjungan disesuaikan dengan jadwal petugas puskesmas.
Waktu kunjungan yang dilakukan per rumah adalah sekitar 5-10 menit. Setiap
waktu kunjungan tidak ada patokan tertentu untuk jumlah rumah yang harus
dikunjungi.
f. Market
Sasaran kegiatan program inspeksi sanitasi rumah sehat adalah seluruh
rumah yang ada di desa wilayah kerja Puskemas Wangon II. Sasaran lainnya
yaitu kader masing masing desa dengan harapan munculnya kader PHBS untuk
membantu petugas merekap sanitasi rumah sehat.
2) Proses
1) Perencanaan (P1)
Program kesehatan lingkungan termasuk kedalam program dalam
standar pelayanan minimum kesehatan, sehingga perencanaan dilakukan
dalam rapat koordinasi rencana strategis tahunan Puskesmas Wangon II

26
yang dilakukan setiap akhir tahun. Rapat program diadakan untuk
mengetahui sudah sejauh mana ketercapaian target dan mendiskusikan
masalah yang dihadapi dalam melaksanakan program. Pendanaan
program ini menggunakan dana BOK, BLUD, atau dari APBD.
Kegiatan dilakukan berdasarkan SOP program kesehatan lingkungan
yang berlaku. PP No. 66 Tahun 2014, Ttg : Kesehatan Lingkungan,
Pedoman Klinik Sanitasi,Depkes RI,2007, Permenkes R.I. No.
875/MENKES/ SK/VII/1999, Tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan.
Kegiatan direncanakan dengan cara home visite aktif dan konseling singkat
oleh petugas puskermas. Rumah sehat adalah proporsi rumah yang
memenuhi kriteria sehat minimum komponen rumah dan sarana sanitasi tiga
komponen (rumah, sarana sanitasi dan perilaku) di satu wilayah kerja pada
kurun waktu tertentu. Minimum yang memenuhi kriteria sehat pada masing-
masing parameter adalah sebagai berikut: (1) minimum dari kelompok
komponen rumah adalah langit-langit, dinding, lantai, jendela kamar tidur,
jendela ruang keluarga, ventilasi, sarana pembuangan asap dapur, dan
pencahayaan; (2) minimum dari kelompok sarana sanitasi adalah sarana air
bersih, jamban (sarana pembuangan kotoran), sarana pembuangan air
limbah (SPAL), dan sarana pembuangan sampah; (3) perilaku sanitasi
rumah adalah usaha kesehatan masyarakat yang menitikberatkan pada
pengawasan terhadap struktur fisik yang digunakan (Depkes RI, 2005)
2) Pergerakan-Pelaksanaan (P2)
Pemegang program bekerjasama secara lintas sektoral dengan kader,
Dinas Perumahan dan Pemukiman, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas
Kesehatan. Pemegang program juga bekerjasama lintas program dengan
bidang promosi kesehatan untuk dapat melakukan konseling. Kegiatan
inspeksi sanitasi rumah sehat dilaksanakan 4 kali setiap bulan ke setiap
rumah di seluruh desa. Pemegang program langsung mendatangi rumah
terkait. Inspeksi dan konseling dapat berjalan sebagai satu kegiatan sendiri
maupun berjalan dengan program dari tenaga kesehatan lain. Kegiatan
sering dilakukan pada hari-hari kerja. Petugas melakukan kunjungan
lapangan ke sasaran dengan menggunakan format inspeksi sanitasi. Inspeksi

27
sanitasi rumah sehat menilai minimum dari kelompok komponen rumah
sesuai dengan syarat rumah sehat. Dalam kunjungannya,sanitarian sedapat
mungkin mengikut sertakan perawat dan puskesmas pembantu atau bidan
setempat, bidan desa, untuk melakukan kontrol atas penyakit yang telah
diobati tersebut (semacam kegiatan PSN (Pemberantasan Sarang
Nyamuk)).Selain itu Sanitarian juga mengajak kader klinik, Ketua Pokmair,
kelompok pemakai sarana, ibu PKK (Pendidikan Kesehatan Keluarga),
LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), Perangkat Desa. tokoh masyarakat.
Maksudnya agar masyarakat turut berperan aktif memecahkan masalah
kesehatan yang timbul di lingkungan mereka sendiri.
Sangat diharapkan kelak jika timbul masalah yang lebih kurang sama.
mereka mampu menanganinya sendiri. Baik sanitarian maupun petugas
kesehatan lain yang mendampinginya dapat mamberikan penyuluhan
kepada pasien dan atau keluarganya serta tetangga-tetangga pasien tersebut.
Petugas melakukan konseling tentang rumah sehat. Materi yang
disampaikan untuk konseling hanya terkait dengan permasalahan yang
ditemukan kemudian diberikan arahan dalam perbaikan maupun
peningkatan mutu. Penyampaian data sementara dari pengisian form oleh
petugas dilakukan untuk pemilik rumah agar mengetahui gambaran tentang
keadaan rumah yang dimiliki. Petugas melakukan rekapitulasi hasil inspeksi
rumah sehat. Petugas membuat laporan hasil inspeksi sanitasi rumah sehat.
3) Pengawasan-Pengendalian-Penilaian (P3)
Pengawasan dan pengendalian terhadap program dilakukan dengan
mengadakan rapat koordinasi serta lokakarya mini yang dilaksanakan setiap
bulan yang dihadiri oleh seluruh karyawan terutama pemegang program.
Dalam rapat tersebut, pemegang program akan menjelaskan capaian
sementara serta kendala yang dihadapi untuk dilakukan evaluasi serta
penyelesaian masalahnya. Kemudian pengawasan, pengendalian, dan
penilaian program dilakukan beberapa minggu setelah kegiatan penyuluhan
dan praktik lapangan oleh kader kesehatan desa dengan meninjau kondisi
saluran pembuangan limbah di rumah warga. Hasil peninjauan yang
dilakukan oleh kader dilaporkan ke pemegang program kesehatan

28
lingkungan Puskesmas. Setahun sekali dalam setiap desa terdapat
Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) dan Survei Mawas Diri (SMD).
Forum tersebut dapat digunakan untuk mengawasi program- program
Puskesmas termasuk kesehatan lingkungan, membahas masalah desa, dan
membuat alternatif pemecahan masalah dari warga atau tokoh masyarakat
yang hadir.
Penilaian keberhasilan program dilihat berdasarkan form yang telah
dibuat oleh pemegang program kesehatan lingkungan tingkat kabupaten
dinas kesehatan. Penilaian juga dapat dilakukan bersamaan dengan
pendataan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga
(PISPK) oleh tim yang dipandu oleh pemegang program promosi
kesehatan Puskesmas.
4) Output
Pada dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
(RPJMN) tahun 2015-2019 telah disebutkan mengenai target 100:0:100.
Target 100:0:100 meliputi 100% pelayanan air minum, 0% kawasan
permukiman kumuh, dan 100% sanitasi yang layak. Pada tahun 2018, capaian
target inspeksi sanitasi rumah sehat oleh petugas puksesmas hanya kurang
lebih 6,96% dari target minimal yaitu 73%. Sekitar 500 dari 7.180 total rumah
yang terdata dengan baik. Target triwulan pertama 2019 yaitu 6,08% dari
target kesuluruhan di tahun 2019 yaitu 73% rumah. Sedangkan pada tahun
2019 capaian inspkesi sanitasi di bulan Januari-Maret hanya 0,78% rumah
sehat dari target minimal di triwulan pertama artinya, sekitar 48 dari 7.180
total rumah yang terdata telah memenuhi kriteria rumah sehat.
5) Outcome
Dampak yang diharapkan dari pelaksanaan program adalah terciptanya
kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kesehatan lingkungan melalui
perawatan rumah agar sesuai dengan kriteria rumah sehat. Dampak yang akan
terjadi apabila rumah tidak dikelola dengan baik adalah timbulnya penyakit-
penyakit terkait kualitas lingkungan seperti diare, penyakit kulit, penyakit
paru, dan lain sebagainya yang masih menempati 10 besar penyakit di
Puskesmas Wangon II.

29
6) Lingkungan
Faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap program inpeksi sanitasi
rumah sehat yaitu kader kesehatan di desa wilayah kerja Puskesmas Wangon
II. Lingkungan fisik berupa luas wilayah kerja Puskesmas Wangon II adalah
21,4 km2 artinya wilayah cakupan kerja luas. Kebanyakan daerah jauh dan
curam karena terletak di daerah perbukitan, beberapa jalan juga banyak yang
rusak. Lingkungan non fisik di daerah Puskemas Wangon II tersebut adalah
terkait tingkat pendidikan yang paling banyak adalah SD/MI dan pekerjaan
mayoritas penduduk adalah petani (27,96%)

B. Analisis Strength, Weakness, Opportunity, Threat (SWOT)


Analisis masalah pada program kesehatan puskesmas dilakukan
berdasarkan pendekatan sistem. Sistem terdiri dari input (masukan), proses
dan output (luaran). Analisis masalah pada program kesehatan puskesmas
dilakukan dengan mengetahui masalah pada output kemudian dilakukan
analisis penyebab masalah pada input dan proses program kesehatan
puskesmas tersebut.
1) Strength
1) Man
Puskemas Wangon II memiliki 2 orang sanitarian yang berfokus dan
memiliki kompetensi yang baik pada program kesehatan lingkungan.
Pemegang program mendapatkan pelatihan dan pendidikan untuk
meningkatkan ilmu kesehatan lingkungan maupun praktek terkait
dengan inspeksi sanitasi lingkungan dengan baik.
2) Money
Pembiayaan program inspeksi sanitasi rumah sehat berasal dari
dana BOK yang dilakukan untuk home visite untuk transportasi
petugas.
3) Material
Material yang digunakan saat kegiatan adalah kendaraan berupa
1 buah motor yang mempermudah dalam transportasi untuk menuju
ke lokasi kegiatan. Adanya ruang klinik sanitasi di dalam

30
puskesmas. Material yang digunakan menggunakan form sesuai
ketentuan kemenkes dan alat tulis untuk mencatat. Form yang dibuat
sangat membantu untuk pendataan rumah sehat, karena sudah
disertai skor yang nanti dimasukkan ke dalam rumus dan diseusikan
dengan skoring rumah sehat atau tidak.
4) Method
Kegiatan inspeksi sanitasi rumah sehat dilakukan dengan cara
metode aktif petugas puskesmas yang mengadakan inpeksi langsung
ke rumah warga dengan membawa form penilaian rumah sehat. Hal
ini membuat masyarakat bisa mendapatkan pelayanan secara pribadi
sehingga tepat sasaran sesuai dengan permasalahan dan jalan keluar
yang didapatkan petugas. Pengawasan dan konseling pengetahuan
rumah sehat dapat membuat masyarakat menjadi lebih peka terhadap
kebersihan, dengan harapan melakukan perubahan ke arah yang
lebih baik.
5) Minute
Kegiatan dilakukan menyesuaikan jadwal petugas sehingga
diharapkan tidak tumpang tindih dengan jadwal lain. Lama waktu
melakukan inspeksi juga dapat disesuaikan kemampuan petugas dan
kondisi cuaca di daerah tersebut sehingga petugas bisa menjalankan
kegiatan dengan optimal.
2) Weakness
1) Man
Pemegang program dan instansi atau tenaga kesehatan lain yang
ikut melaksanakan kegiatan memiliki tanggung jawab lain sehingga
kurang fokus dan terkadang kesulitan untuk menentukan waktu
pelaksanaan kegiatan. Pemegang program maupun yang membantu
tidak sesuai perbandingannya dengan jumlah rumah yang ada di 5
desa.
2) Minute
Pembatasan kegiatan inspeksi 4 kali dalam sebulan di rasa
kurang karena beberapa kunjungan juga disertai inspeksi sanitasi

31
lingkungan lain (pasar, tempat ibadah, tempat makan, depot air
minum, dan lain-lain)
3) Money
Pendanaan dirasa belum memadai karena belum bisa memenuhi
kebutuhan petugas terkait perawatan transportasi dikarenakan jalan
ke tempat yang dituju sering rusak dan tidak bisa melakukan inspeksi
ke lebih banyak rumah karena keterbatasan dana yang diberikan.
4) Method
Pemberdayaan klinik sanitasi lingkungan di puskesmas belum
berjalan, kebanyakan pasien yang memiliki penyakit terkait
kesehatan lingkungan langsung diberi obat namun tidak di anjurkan
ke klinik sanitasi lingkungan untuk diberi edukasi dan perjanjian
untuk inspeksi sanitasi rumah.
5) Perencanaan
Penjadwalan yang fleksibel berdampak pada tidak adanya target
rumah dalam kurun waktu tertentu dengan membentuk jadwal yang
pasti, sehingga semangat untuk mencapai target kurang.
6) Opportunity
a. Adanya dukungan dari lintas sektoral, kader dan juga kepala dusun
dalam pelaksanaan program.
b. Pegawasan dinas kesehatan dengan mengadakan rapat tahunan dan
pengawasan masyarakat dengan mengadakan MMD dan SMD.
c. Pelatihan untuk petugas dalam melakukan kegiatan inspeksi sanitasi
dengan baik sesuai aturan.
d. Masyarakat yang memiliki atusias tinggi menjaga kesehatan diri
sedniri dan keluarga.
7) Threat
a. Wilayah Puskemas Wangon II yang terlalu luas.
b. Kurangnya pengetahuan sebagian masyarakat mengenai syarat rumah
sehat.
c. Kebiasaan masyarakat dalam merawat dan menjaga kebersihan rumah
masih kurang pada sebagian masyarakat desa.

32
d. Cuaca yang sering hujan menyebabkan pelaksanaan kegiatan sedikit
terhambat
e. Kader banyak yang tumpang tindih tugas kerja dan tidak ada umpan
balik material
f. Pengawasan masyarakat pada rapat yang pembahasannya jarang
mengungkit perihal kesehatan lingkungan dan perawatannya

33
IV. PEMBAHASAN ISU STRATEGIS DAN ALTERNATIF
PEMECAHAN MASALAH

A. Pembahasan Isu Strategis


Berdasarkan data Puskesmas Wangon II, menunjukan bahwa presentasi
tercapainya program inspeksi sanitasi rumah sehat Januari-Maret hanya 0,78%
rumah sehat dari target minimal di triwulan pertama yaitu 6,08% dari target
kesuluruhan di tahun 2019 yaitu 73%. Hal tersebut menunjukan bahwa target
terlaksananya program masih belum tercapai. Angka yang belum memenuhi target
merupakan salah satu masalah yang terdapat di Puskesmas Wangon II. Untuk
mendapatkan alternatif dari pemecahan masalah, sebelumnya telah dilakukan
analisa penyebab masalah dari segi strenght (kekuatan), weakness (kelemahan),
opportunity (kesempatan), dan threat (ancaman).
Berdasarkan analisis, terdapat beberapa kelemahan yang ditemukan dalam
program inepksi sanitasi rumah sehat di Puskesmas Wangon II. Beberapa
kelemahan terdiri dari pemegang program dan instansi atau tenaga kesehatan lain
yang ikut melaksanakan kegiatan memiliki tanggung jawab lain sehingga kurang
fokus dan terkadang kesulitan untuk menentukan waktu pelaksanaan kegiatan.
Pemegang program maupun yang membantu tidak sesuai perbandingannya
dengan jumlah rumah yang ada di 5 desa. Pembatasan kegiatan inspeksi 4 kali
dalam sebulan di rasa kurang karena beberapa kunjungan juga disertai inspeksi
sanitasi lingkungan lain (pasar, tempat ibadah, tempat makan, depot air minum,
dan lain-lain).
Ancaman dalam program tersebut adalah wilayah kerja Puskemas Wangon II
yang terlalu luas. Kurangnya pengetahuan sebagian masyarakat mengenai syarat
rumah sehat. Kebiasaan masyarakat dalam merawat dan menjaga kebersihan
rumah masih kurang pada sebagian masyarakat desa. Cuaca yang tidak
mendukung juga menjadi salah satu kendala dalam pelaksanaan program.
Bila kita melihat turunan dari Undang-Undang Nomor 1 tahun 2011 dalam
bentuk Peraturan Pemerintah nomor 14 tahun 2016 tentang penyelengaraan
Perumahan dan Kawasan Permukiman maka dapat kita dimaknai bahwa

34
penyelenggaraan Perumahan dan Kawasan Permukiman perlu dilakukan
perencanaan, dibangun dengan baik, dimanfaatkan, dan dikendalikan dengan baik
termasuk didalamnya mengenai kelembagaan, pendanaan dan sistem pembiayaan
serta peran serta masyarakat yang terpadu dan terkoordinasi dengan baik. Dalam
hal ini maka dapat disimpulkan bahwa kegiatan perumahan rakyat dan kawasan
permukiman mempunyai tahapan-tahapan yang dikoordinir oleh pemerintah agar
arah dan tujuan pemenuhan perumahan dan kawasan permukiman berjalan dan
terintegrasi.
Belum optimalnya perencanaan berakibat pada lemahnya arah kebijakan
pengembangan, tumpang tindihnya rencana aksi pengembangan antar lini, dan
tidak terfokusnya prioritas pengembangan dan pemenuhan perumahan rakyat dan
kawasan pemukiman. Konsep perencanaan yang terintegrasi yang salah satunya
adalah menyusun dokumen Rencana Pembangunan dan Pengembangan
Perumahan dan Permukiman Daerah ( RP4D ) Dessa, dokumen data base
kampung kumuh, singkronisasi program untuk pencapaian Target 100-0-100,
yaitu 100% akses air minum, 0% kawasan kumuh, dan 100% akses sanitasi yang
mengakomodasi perkembangan wilayah, perkembangan permukiman yang
semakin intensif tetapi tetap memperhatikan lingkungan yang keberlanjutan
(sustainable development). Dengan adanya dokumen-dokumen pendukung
tersebut, diharapkan arah kebijakan pengembangan/ Development policy tentang
perumahan dan pemukiman dapat menumbuhkan lingkungan hidup perumahan
yang lebih sehat dan terkendali serta terintegrasi.
Peluang atau opportunity dalam program tersebut salah satunya adalah
pegawasan dinas kesehatan dengan mengadakan rapat tahunan dan pengawasan
masyarakat dengan mengadakan MMD dan SMD. Adanya dukungan dari lintas
sektoral, kader dan juga kepala dusun dalam pelaksanaan program. Dari rapat ini
diharapkan ada pembahasan lebih mendalam tentang kesehatan lingkungan,
sehingga dana desa bisa dialokasikan untuk pembangunan perumahan yang baik.
Apabila dibutuhkan suatu perbaikan atau pembangunan sarana sanitasi dasar
dengan biaya besar, seperti pembangunan sistim perpipaan, yang kurang terjangkau
oleh masyarakat setempat. Sanitarian akan mengusulkan kegiatan terebut kepada
instansi terkait (misalnya : Kantor Cabang PU (Pekerjaan Umum) Kecamatan,

35
Dinas PU Kabupaten). Perlu diingat bahwa kegiatan bantuan tersebut seharusnya
berupa stimulan dan masyarakat harus dimotivasi untuk berswadaya sehingga
menjadi bangunan sarana sanitasi dasar yang lengkap (Depkes RI, 2002:4).

B. Alternatif Pemecahan Masalah


Berdasarkan analisis SWOT, beberapa alternatif pemecahan masalah yang
dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Memanfaatkan kegiatan musyawarah desa (dalam pengawasan dari desa
seperti MMD/ SMD) untuk bisa mengalokasikan dana desa untuk merawat
dan mengembangkan kebersihan lingkungan dengan memberdayakan
sanitarian agar bisa memberikan inovasi untuk melakukan program dalam
meningkatkan inspeksi sanitasi rumah sehat.
2. Mengadakan pelatihan petugas dalam pengisian form maupun cara memakai
alat-alat sanitasi. Dalam pelatihan juga diadakan penambahan sumber daya
manusia (kader, bidan desa, ibu PKK, dll) per desa agar beban kerja rumah
yang di inspeksi sesuai dengan jumlah tenaga kerja namun tetap sesuai
dengan aturan yang berlaku.
3. Meningkatkan penggunaan klinik sanitasi lingkungan di dalam puskesmas
setelah pasien memeriksakan diri ke dokter setelah didiagnosis terkena
penyakit akibat kesehatan lingkungan. Kebanyakan masyarakat antusias
untuk memeriksakan kesehatannya, sehingga apa yang disarankan oleh
petugas akan dilakukan. Hal ini memudahkan sanitarian untuk melakukan
inspeksi sanitasi lingkungan tepat sasaran.
4. Memanfaatkan pegawasan dinas kesehatan oleh petugas dengan mengadakan
rapat tahunan yang pembahasannya sudah dipersiapkan oleh pihak
puskesmas sesuai dengan kemampuan puskesmas sehingga, dapat
menetapkan jadwal inspeksi yang jelas, menetapkan target yang konkrit, dan
menciptakan SOP yang jelas untuk melakukan inspeksi sanitasi lingkungan.
5. Metode aktif home visite petugas diadakan lebih banyak dan mengedukasi
masyarakat lewat konseling, hal ini agar pengetahuan dan kebiasaan
masyarakat semakin meningkat tentang kesehatan lingkungan

36
V. PENUTUP

A. Kesimpulan
Pemilihan program inspeksi sanitasi rumah sehat sebagai salah satu masalah di
Puskemas Wangon II karena angka pencapaian program tersebut belum
memenuhi target. Pada tahun 2018, capaian target inspeksi sanitasi rumah sehat
oleh petugas puksesmas hanya kurang lebih 6,96% dari target minimal yaitu 73%.
Sekitar 500 dari 7.180 total rumah yang terdata dengan baik. Target triwulan
pertama 2019 yaitu 6,08% dari target kesuluruhan di tahun 2019 yaitu 73%
rumah.Sedangkan pada tahun 2019 capaian inspkesi sanitasi di bulan Januari-
Maret hanya 0,78% rumah sehat dari target minimal di triwulan pertama artinya,
sekitar 48 dari 7.180 total rumah yang terdata telah memenuhi kriteria rumah
sehat.
Kendala yang dihadapi pada program tersebut antara lain karena pemegang
program dan instansi atau tenaga kesehatan lain yang ikut melaksanakan kegiatan
memiliki kegiatan dan tanggung jawab lain sehingga kurang fokus dan terkadang
kesulitan untuk menentukan waktu pelaksanaan kegiatan, selain itu belum
terbentuknya jadwal yang pasti mengenai pelaksanaan kegiatan. Pengetahuan dan
kebiasaan masyarakat masih belum baik dalam berprilaku bersih dalam kesehatan
lingkungan.
Upaya yang dapat dilakukan dalam mengoptimalkan program inspeksi sanitasi
rumah sehat adalah memanfaatkan kegiatan musyawarah desa (dalam pengawasan
dari desa seperti MMD/ SMD) untuk bisa mengalokasikan dana desa untuk
merawat dan mengembangkan kebersihan. Mengadakan pelatihan petugas dalam
pengisian form maupun cara memakai alat-alat sanitasi dan menambah sumber
daya manusia. Meningkatkan penggunaan klinik sanitasi lingkungan di dalam
puskesmas setelah pasien memeriksakan diri ke dokter. Memanfaatkan
pegawasan dinas kesehatan oleh petugas dan menghasilkan SOP yang kelas.
Metode aktif home visite petugas diadakan lebih banyak dan mengedukasi
masyarakat lewat konseling,

37
B. Saran
1. Pemegang program kesehatan lingkungan disarankan dapat mengatur jadwal
setiap program agar dapat fokus dan kegiatan berjalan dengan baik, terutama
pada inspeksi sanitasi lingkungan.
2. Membuat target kegiatan inspeksi sanitasi ysng telah disesuaikan dengan
kondisi desa dan tenaga kerja.
3. Memberdayakan sistem pada pemeriksaan pasien agar bisa mendayagunakan
ruang klinik kesehatan lingkungan .
4. Bekerjasama, mengawal, dan menjalin hubungan yang baik dengan perangkat
desa agar bsia memanfaatkan alokasi dana kesehatan pemerintah untuk desa
sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

38
DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. 2011. Situasi Diare di Indonesia. Buletin Jendela Data dan Informasi
Kesehatan. Jakarta.
Depkes RI. 2012. Modul Kursus Higiene dan Sanitasi Makanan dan Minuman,
Departemen Kesehatan Republik Indonesia Ditjen PPM & PLP, Jakarta.
Depkes RI. 2005. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta.
Depkes RI. 2007. Pedoman Klinik Sanitasi. Jakarta.
Permenkes R.I. No. 875/MENKES/ SK/VII/1999
PP No. 66 Tahun 2014 Kesehatan Lingkungan.
Peraturan Menteri Kesehatan RI (Permenkes RI). 2015. Penyelenggaraan
Pelayanan Kesehatan Lingkungan di Puskesmas. Jakarta : Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia.
Purnama, Nursya,bani. 2006. Manajemen Kualitas Perspektif Global. Edisi
Pertama, Cetakan Pertama. Penerbit Ekonisia Kampus Fakultas Ekonomi
UII Yogyakarta.
Puskemas Wangon II 2019. Profil Kesehatan Puskemas Wangon II Kabupaten
Banyumas Tahun 2019. Purwokerto : Dinas Kesehatan Kabupaten
Banyumas.

39