Anda di halaman 1dari 11

1.1.

1 PPh Pasal 4 (2)


 Tarif PPh Pasal 4 (2)
Ada beberapa jenis penghasilan yang dikenakan dengan pemotongan pajak final PPh
Pasal 4 Ayat 2. Masing-masing penghasilan memiliki tarif yang berbeda dan diatur
dalam Peraturan Pemerintah. Di bawah ini berbagai objek pajak dengan tarif masing-
masing sesuai dengan peraturan :

1. Bunga deposito dan jenis-jenis tabungan, Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan
diskon jasa giro, tarif sebesar 20% sebagaimana diatur dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 131 tahun 2000 dan turunannya Keputusan Menteri Keuangan
Nomor 51/KMK. 04/2001.
PPh ( Final) = 20% x Bruto
2. Bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggota masing-masing,
dengan tarif sebesar 10% sebagaimana diatur dalam Pasal 17 (7) dan turunannya
Peraturan Pemerintah Nomor 15 tahun 2009.

PPh ( Final) = 10% x Bruto


3. Bunga dari kewajiban, dengan berbagai tarif dari 0% sampai 20%. Penjelasan
lebih lanjut dapat ditemukan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 16 tahun 2009.
4. Dividen yang diterima oleh Indonesia Wajib Pajak orang pribadi, tarif sebesar
10% sebagaimana diatur dalam Pasal 17 (2c).
5. Hadiah lotere / undian, tarif sebesar 25% sebagaimana diatur dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 132 tahun 2000.

PPh ( Final) = 25% x Bruto


6. Transaksi derivatif dalam bentuk berjangka panjang yang diperdagangkan di
bursa, dengan tarif sebesar 2,5% sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah
Nomor 17 tahun 2009.

PPh ( Final) = 2,5% x Margin Awal

7. Transaksi penjualan saham pendiri, dan saham non-founder (bukan pendiri), tarif
sebesar 0,5% dan 0,1% masing-masing, sebagaimana diatur dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 14 tahun 1997, yang derivatif-nya berupa turunan Menteri
Keuangan No 282/KMK.04/1997, yang SE-15/PJ.42/1997 dan SE-06/PJ.4/1997.
8. Jasa konstruksi, dengan berbagai tarif dari 2% sampai 6%. Penjelasan lebih lanjut
dapat ditemukan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 51 tahun 2008 dan
turunannya Peraturan Pemerintah Nomor 40 tahun 2009.
 2% untuk Pelaksanaan Kontruksi yang dilakuka oleh penyedia jasa yang
memiliki kualifikasi usaha kecil
PPh ( Final) = 2% x Jumlah Jasa
 4% untuk pelaksanaan kontruksi yang dilakukan oleh penyedia jasa yang
tidak memiliki kualifikasi usaha

PPh ( Final) = 4% x Jumlah Jasa


 3%untuk pelaksanaan kontruksi yang dilakukan oleh penyedia jasa
selain penyedia jasa sebagaimana dimaksud dalam angka 1 dan angka 2.

PPh ( Final) = 3% x Jumlah Jasa


 4% untuk perencanaan kontruksi atau pengawasan kontruksi ynag
dilakukan oleh penyedia jasa yang tidak memiliki kualifikasi usaha

PPh ( Final) = 4% x Jumalah Jasa

 6% untuk perencanaan kontruksi atau pengawasan kontruksi yang


dilakukan oleh penyedia jasa yang tidak memiliki kualifikasi usaha

PPh ( Final) = 6% x Jumlah Jasa

9. Sewa atas tanah dan / atau bangunan, dengan tarif 10% sebagaimana diatur dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 29 tahun 1996 dan turunannya Peraturan
Pemerintah Nomor 5 tahun 2002.
10. Pengalihan hak atas tanah dan / atau bangunan (termasuk usaha real estate), tarif
sebesar 5% sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 71 tahun
2008.

PPh ( Final) = 5% x Bruto


11. Transaksi penjualan saham atau pengalihan ibukota mitra perusahaan yang
diterima oleh modal usaha, dengan tarif 0,1% sebagaimana diatur dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 4 tahun 1995.
 Contoh Perhitungan PPh Pasal 4 (2)

CONTOH PEMOTONGAN DAN PENGHITUNGAN PPh PASAL 4 AYAT (2)


ATAS PENGHASILAN DARI PERSEWAAN TANAH DAN ATAU
BANGUNAN
CV Polan (badan memiliki NPWP) membayar kepada Tuan A sebesar
Rp10.000.000,-. atas sewa toko. Besarnya PPh Pasal 4 ayat (2) yang harus dipotong
CV Polan : Rp10.000.000,- x 10% = Rp1.000.000,-

CONTOH PEMOTONGAN DAN PENGHITUNGAN PPh PASAL 4 AYAT (2)


ATAS PENGHASILAN DARI USAHA JASA KONSTRUKSI
CV Polan (badan memiliki NPWP) menerima penghasilan atas jasa kosntruksi yang
diserahkannya ke Dinas Pendidikan kota A sebesar Rp500.000.000,-. Besarnya PPh
Pasal 4 ayat (2) yang harus dipotong Dinas Pendidikan Kota A atas penghasilan yang
diterima CV Polan : Rp500.000.000,- x 2% = Rp10.000.000,-

CONTOH PENYETORAN SENDIRI DAN PENGHITUNGAN PPh PASAL 4


AYAT (2) ATAS PENGHASILAN DARI PENGALIHAN HAK ATAS TANAH
DAN ATAU BANGUNAN
Tuan Bonar (perseorangan memiliki NPWP) menerima penghasilan atas penjualahan
tanah berikut bangunannya sebesar Rp1.000.000.000,-. Besarnya PPh Pasal 4 ayat (2)
yang harus disetor sendiri oleh Tuan B atas penghasilan yang diterimanya :
Rp1.000.000.000,- x 5% = Rp50.000.000,
Contoh Perhitungan Pajak (PPh Pasal 4 ayat (2) Atas Bunga Deposito Dan
Tabungan Serta Diskonto Sertifikat Bank Indonesia (SBI):
Tuan Budi menyimpan uang di Bank A berbentuk deposito sebesar 100.000.000
dengan tingkat suku bunga 12 % per tahun sehingga menerima bunga setiap bulan
sebesar 1.000.000.
Atas bunga sebesar 1.000.000 dipotong PPh Pasal 4 (2) sebesar : 1.000.000 x 20 % =
200.000
Uang yang diterima tuan budi dari bunga deposito per bulan sebesar :
1.000.000-200.000 = 800.000
Tuan Aditya menyimpan uang di Bank A berbentuk deposito sebesar 7.000.000
dengan tingkat suku bunga 12 % per tahun sehingga menerima bunga setiap bulan
sebesar 70.000.
Atas bunga sebesar 70.000 tidak dipotong PPh Pasal 4 (2) karena nilai deposito kurang
dari 7.500.000
Contoh Perhitungan PPh Pasal 4 (2) Atas Hadiah Undian

Contoh :
Tuan Amir memperoleh hadiah undian dari bank berupa uang tunai sebesar
200.000.000 maka oleh bank dipotong PPh Pasal 4 (2) sebesar 200.000.000 x 25 % =
50.000.000. Jadi yang uang diterima oleh Tuan Amir sebesar 150.000.000
(200.000.000 – 50.000.000) dan bukti pemotongan PPh Pasal 4 (2) dari bank tersebut.
Tuan Sony memperoleh hadiah undian dari bank berupa mobil dengan nilai pasar
sebesar 100.000.000 maka oleh bank dipotong PPh Pasal 4 (2) sebesar 100.000.000 x
25 % = 25.000.000. Jadi yang diterima Tuan Sony adalah mobil tersebut dan bukti
pemotongan PPh Pasal 4 (2) dari bank tersebut, tetapi tuan Sony harus menyerahkan
uang sebesar 25.000.000 kepada bank untuk membayar PPh Pasal 4 (2) atas hadiah
undian tersebut .
 Penyetoran PPh Pasal 4(2)
Batas Waktu

No Jenis Pajak Penyetoran /


Pembayaran Pelaporan

tanggal 10
PPh Pasal 4 bulan tanggal 20 bulan
1 ayat (2) yang berikutnya berikutnya

dipotong oleh
Pemotong

Pajak
Penghasilan

PPh Pasal 4 tanggal 15 bulan tanggal 20 bulan


2 ayat (2) yang berikutnya berikutnya

harus dibayar
sendiri oleh

Wajib Pajak

1.1.2 PPh Pasal 4 (2)


PETUNJUK PENGISIAN FORMULIR SPT MASA PAJAK PENGHASILAN PASAL 4
AYAT (2)
(F.1.1.32.04)
Umum :

(1) Diisi dengan nama Kantor Pelayanan Pajak (KPP) tempat Pemotong/Pemungut Pajak
Terdaftar.
(2) Diisi dengan identitas lengkap (NPWP, nama, dan alamat) Pemotong/ Pemungut
Pajak.
(3) Diisi dengan masa dan tahun pajak dilakukannya pemotongan.
(4) Diisi dengan tanggal penyetoran pajak yang telah dipotong. Dalam hal penyetoran
dilakukan lebih dari satu kali, diisi dengan tanggal penyetoran yang terakhir.
(5) Beri tanda X dalam ( ) sesuai yang dilampirkan. Dalam hal SPT ditandatangani oleh
bukan Pemotong Pajak, harap dilampirkan Surat Kuasa Khusus bermaterai cukup,
atau Surat Keterangan Kematian dari instansi yang berwenang, apabila Wajib Pajak
telah meninggal dunia dan SPT di tandatangani oleh ahli waris. Daftar Bukti
Pemotongan/Pemungutan PPh Pasal 4 Ayat (2) harus dibuat dan dilaporkan oleh
Pemotong dan Yang Dipotong kecuali bagi Bank; penerima Bunga
Deposito/Tabungan, Diskonto SBI;penerima Hadiah Undian, dan pelaku transaksi
Bursa Efek.
(6) Diisi dengan tempat dan tanggal dibuatnya SPT Masa.

(7) Coret yang tidak perlu.


(8) Diisi dengan tanda tangan, nama dan cap Pemotong Pajak atau Pemungut
Pajak/Kuasa atau Ahli Warisnya.

Khusus :
SPT disampaikan oleh Pemungut pajak atas transaksi-transaksi yang terutang PPh sesuai
dengan ketentuan yang berlaku. Penyetoran dan pelaporan pajak dilakukan dengan
menggunakan SSP ke Bank Persepsi atau Kantor Pos & Giro :
Bunga Deposito/ Transaksi Hadiah Undian Persewaan Atas Tanah Jasa Konstruksi (Bagi WP
Tabungan Penjualan Dan/Atau Bangunan Sebagai Pemotong dan WP
Diskonto SBI Saham dan (Bagi WP Sebagai Yang Bergerak Dibidang
Obligasi Pemotong dan WP Usaha Jasa Konstruksi
Yang bergerak
Dibidang Persewaan
Tanah Dan/Atau
Bangunan)
Penyetoran Paling Lambat Paling lambat 15 Paling lambat Paling lambat tgl 10 (WP Paling lambat tgl 10 (WP
tanggal 10 bln hari setelah akhir tanggal 10 bulan Sbg Pemotong) atau tgl Sbg Pemotong) dan tgl 15
berikutnya setelah bulan saat berikutnya setelah 15 (WP Usaha (WP Usaha Jasa Konstruksi)
Masa Pajak pemotongan pajak bulan saat Persewaan) bln bulan berikutnya setelah
berakhir. (Obligasi) Paling terutangnya pajak berikutnya setelah Masa Masa Pajak Berakhir.
lambat tanggal 20 Pajak berakhir.
bln berikutnya
setelah bulan
terjadinya
transaksi
penjualan saham
(Saham)
Pelaporan Paling lambat 20 Paling lambat 20 Paling lambat 20 Paling lambat 20 hari Paling lambat 20 hari setelah
hari setelah Masa hari setelah akhir hari setelah Masa setelah Masa Pajak Masa Pajak berakhir.
Pajak Berakhir. bulan saat Pajak berakhir. berakhir.
pemotongan pajak
(Obligasi) Paling
lambat tgl 25
bulan berikutnya
setelah bulan
terjadinya
transaksi
penjualan saham
(Saham)
Kolom (1) Cukup jelas
Kolom (2) Kode Mata Anggaran Penerimaan (MAP)/Kode Jenis Pajak dan Kode Jenis Setoran yang harus diisi pada Surat Setoran
Pajak (SSP).
Kolom (3) Diisi dengan Diisi dengan Diisi dengan jumlah Diisi dengan bruto Nilai Diisi dengan jumlah bruto
jumlah bungan jumlah bruto nilai bruto Hadiah Sewa yang dipotong Imbalan yang dipotong
Deposito transaksi Undian yang /dibayarkan. /dibayarkan.
Berjangka, bunga penjualan atas dibayarkan
Sertifikat semua transaksi
Deposito, bungan penjualan
SBI, bunga saham/obligasi
Tabungan dan
Jasa Giro
Kolom (4) Cukup jelas
Kolom (5) Diisi dengan Diisi dengan Diisi dengan jumlah Diisi dengan jumlah PPh Diisi dengan jumlah PPh
jumlah PPh yang jumlah PPh yang PPh yang yang dipotong/ dibayar yang dipotong/ dibayar
dipotong yaitu dipungut yaitu dipotong/dipungut yaitu sebesar PPh yang sebesar Tarif x Jumlah Bruto
sebesar Tarif x sebesar Tarif x yaitu Tarif x jumlah dipotong/ dibayar yaitu Imbalan
Nilai Obyek Nilai Transaksi Bruto nilai sebesar Tarif x Jumlah
Pajaknya Penjualan hadiah/nilai pasar Bruto Nilai Sewa
hadiah berupa
natura/kenikmatan
yang diserahkan
Contoh Kertas Pengisian SPT :

Sumber : www.infopajak.com/formulir/formulir2002/ppf2002/p113202.doc
Sumber :www.infopajak.com/formulir/formulir2002/ppf2002/p113202.doc
Sumber : www.infopajak.com/formulir/formulir2002/ppf2002/p113202.doc
DAFTAR PUSTAKA

http://www.online-pajak.com/id/berita-dan-tips/pajak-penghasilan-pph-pasal-4-ayat-2-tarif

http://www.wibowopajak.com/2012/02/batas-waktu-pembayaranpenyetoran-dan.html

www.infopajak.com/formulir/formulir2002/ppf2002/p113202.doc

Prof. Dr. Mardiasmo, MBA., AK .Perpajakan Edisi Revisi 2011,Andi Yogyakarta