Anda di halaman 1dari 8

Laporan Kasus

Seorang perempuan berusia 22 tahun datang ke klinik spesialis Konservasi Gigi


RSGM FKG UNPAD dengan keluhan gigi depan kiri rahang atas tambalanya berubah
warna, dan ingin diperbaiki tambalan giginya. Dari hasil anamnesis diketahui gigi
tersebut ditambal 2 tahun yang lalu, pernah ada riwayat bengkak setelah ditambal
kemudian minum obat dari puskesmas dan kemudian hilang.
Pemeriksaan subyektif terlihat gigi 21 terdapat tambalan yang cukup luas di
bagian mesial dan distal mahkota sampai lebih dari setengah mahkota gigi 21.
Pemeriksaan objektif gigi 21 menunjukkan tes dingin negatif, palpasi, perkusi dan tekan
positif, mobilitas negatif. Pemeriksaan radiografis menunjukkan gigi 21 karies profunda
pada bagian mesial dan distal mahkota gigi 21, terlihat adanya radiolusensi di periapikal.
Diagnosis gigi insisif pertama kiri atas adalah Nekrosis pulpa dengan lesi periapikal.
Prognosisnya baik, dan rencana perawatannya adalah perawatan saluran akar nekrosis,
dengan restorasi akhir yaitu pemasangan pasak fiber dan pembuatan mahkota jaket
porselen.

Gambar 1. Foto Diagnosis gigi 21

Tata Laksana Kasus


Kanjungan pertama pasca perawatan endodontik (27 April 2010)
Pada kunjungan ini pasien dilakukan foto kontrol pengisian saluran akar. Pasien
tidak merasakan adanya keluhan, gigi 21 dilakukan tes palpasi, perkusi, dan tekan
negatif. Tidak terlihat adanya kelainan pada intra oral.
Gambar 2. Foto kontrol pengisian

Tambalan sementara glass ionomer dibuka orifis dicari sampai terlihat ujung guta
perca kemudian dengan menggunakan peeso reamer dengan kecepatan rendah nomor 1,5
sesuai dengan ukuran pasak yang digunakan. Peeso reamer dipasang stop dengan
panjang 10 mm sehingga guta percha yang tertinggal 6 mm pada akar gigi 21, hal ini
berdasarkan pajang kerja yaitu sepanjang 25 mm. Selama preparasi menggunakan peeso
reamer dilakukan irigasi saluran akar menggunakan khlorheksidin untuk menghilangkan
sisa guta percha yang terlepas dan debri dentin. Setelah panjang kerja untuk pasak
didapat dilakukan irigasi untuk membersihkan saluran akar.
Pasak yang telah ditandai dengan stop karet sepanjang 12 mm dimasukkan ke
dalam saluran akar yang telah dipreparasi untuk mengetahui apakah panjang dan
ukurannya telah sesuai. Setelah preparasi saluran akar dinilai cukup untuk ditempatkan
pasak kemudian saluran akar diirigasi kembali dan dikeringkan menggunakan paper
point. Penyemanan pasak menggunakan self adhesive resin cement, yang memerlukan
beberapa pre treatment terlebih dahulu sebelum sementasi. Setelah saluran akar bersih
dan kering diaplikasikan etsa (asam fosfor 35%) selama 15 detik kemudian dibilas
menggunakan semprotan air. Setelah dilakukan pembilasan saluran akar kembali
dikeringkan menggunakan semprotan angin dan paper point kemudian diaplikasikan
bahan adhesive pada saluran akar dan pasak kemudian disemprot udara ringan selama 5
detik dan disinar dengan light curing unit selama 20 detik. Setelah itu pasta base dan
katalis diaduk pada mixing pad dan diaplikasikan pada saluran akar menggunakna jarum
lentula dan pasak. Pasak kemudian dimasukkan kedalam saluran akar secara perlahan-
lahan. Setelah pasak sudah pada posisi yang seharusnya kemudian dilakukan penyinaran
pada ujung pasak agar sinar dapat dapat diteruskan melalui pasak ke bagian apikal
saluran akar dan pada sekeliling pasak untuk mendapatkan polimerisasi resin semen yang
sempurna. Sisa-sisa semen yang keluar dipermukaan gigi dan yang menempel pasak
dibersihkan.

Gambar 3. Pasak diinsersikan pada gigi 21

Setelah sementasi pasak fiber selesai, kelebihan pasak dipotong dengan


menggunakan bor dioamond, kemudian dilanjutkan dengan pembuatan inti mahkota
menggunakan resin komposit. Setelah core built up menggunakan komposit dilakukan
preparasi inti untuk restorasi jaket all porselen. Preparasi mahkota jaket dilakukan
menggunakan bor diamond fissure panjang dan untuk akhiran preparasi dibuat berbentuk
chamfer.
Untuk mempermudah preparasi di daerah gingival digunakan retraction cord
pada sekeliling servikal gigi, setelah itu dilakukan pencetakan dengan teknik double
impression dan pencatatan gigitan. Pada mulanya kita mencetak menggunakan bahan
putty, diaduk merata menggunakan tangan membentuk silindris diletakan pada sendok
cetak kemudian dicetakan pada gigi dengan tekanan ringan setelah mengeras selanjutnya
di sekitar daerah preparasi dikerok untuk memberi tempat bagi bahan light body yaitu
bahan yang memiliki viskositas lebih rendah. Setelah siap, light body diaplikasikan ke
gigi yang telah dipreparasi dan daerah yang sudah dikerok, selanjutnya dicetakkan
kembali ke dalam mulut pasien hingga pengerasannya sempurna, kemudian cetakan
dikeluarkan dan mulut pasien. Cetakan di cor menggunakan gips batu, batas akhiran
preparasi diberi tanda dengan pensil kemudian dikirim ke Laboratorium Tehnik. Pasien
diminta datang satu minggu kemudian.
Gambar 4. Preparasi mahkota jaket porselen

Kunjungan kedua pasca perawatan endodontik (14 mei 2010)


Pasien tidak merasakan adanya keluhan, gigi 21 tidak ada kelainan jaringan lunak,
perkusi, tekan negatif. Setelah dilakukan try in mahkota porselen dan pasien sudah tidak
merasakan adanya kontak premature dan interference. Setelah itu mahkota porselen
diinsersikan dengan menggunakan self adhesive resin cement.

Gambar 5. Sebelum perwatan gigi 21 Gambar 6. Setelah perawatan gigi 21

Kunjungan ketiga pasca perawatan endodontik (Tanggal 25 mei 2010)


Dilakukan kontrol satu minggu kemudian setelah insersi mahkota porselen, hasil
perawatan dan restorasi baik, tidak terdapat keluhan, dan gingiva di sekitar gigi normal.
Gigi 21 dilakukan tes palpasi, perkusi, dan tekan negatif. Gigi dapat berfungsi dengan
baik dan pasien merasa puas.

Pembahasan
Pada umumnya gigi yang telah mengalami perawatan endodontik memiliki
struktur yang berbeda dibandingkan dengan gigi vital yang memerlukan suatu restorasi.
Hal ini disebabkan oleh karena gigi pasca perawatan endodontik telah banyak kehilangan
struktur gigi dan seringnya hanya sedikit dentin yang tertinggal untuk mendukung
mahkota. Selain itu terjadi pula perubahan karakteristik di dalam dentin karena pada gigi
non vital telah kehilangan sejumlah kelembaban. Atas dasar hal tersebut maka untuk
memberikan kekuatan pada gigi tersebut diperlukan beberapa tipe stabilisasi yang
melekatkan restorasi tersebut pada sisa jaringan gigi. Hal ini didapat dengan
menggunakan pasak dan inti, serta mahkota sebagai struktur penunjang sehingga
didapatkan stabilisasi mahkota akar yang baik.
Penggunaan pasak pada restorasi harus memperhatikan proporsi antara panjang
pasak pada saluran akar dengan panjang inti pasak (core) sehingga dapat mencegah
terjadinya kegagalan restorasi akibat fraktur pasak. Keadaan jaringan pendukung gigi
juga harus dievaluasi secara cermat, tulang alveolar yang menyangga restorasi setidaknya
harus sepanjang dua pertiga panjang akar gigi dan tidak dalam keadaan patologis. Hal
lain yang perlu diperhatikan dalam restorasi menggunakan pasak. Faktor yang harus
dipertimbangkan ketika merencanakan penggunaan pasak dan inti, yaitu retensi,
resistensi, dan struktur gigi. Faktor-faktor yang mempengaruhi retensi suatu pasak adalah
panjang pasak, diameter pasak, disain pasak, bahan dan metode penyemenannya, dan
bentuk saluran akar. Faktor-faktor yang mempengaruhi resistensi suatu pasak adalah
panjang pasak, kekakuan pasak, dan adanya efek ferrule dan efek anti rotasi. 2,5,6
Syarat-syarat ideal suatu pasak adalah : 2
- Dapat memberi perlindungan maksimal terhadap akar untuk menahan terjadinya fraktur.
- Dapat memberi retensi yang maksimal terhadap inti dan mahkota.
- Mudah diaplikasikan.
- Cukup kuat
- Mudah dilihat pada ro foto
- Biokompatibel
- Mudah dilepas jika diperlukan.
- Cukup estetik
- Tersedia dengan mudah dan tidak mahal
Berdasarkan pembuatannya pasak diklasifikasikan menjadi prefabricated dan
custome made. Prefabricated post terdiri dan pasak logam, pasak serat karbon, pasak
serat quartz, pasak zirconia, pasak serat kaca, dan pasak plastik. Sedangkan custom made
post terbuat dan pasak dan inti dan logam cor, dan pasak yang terbuat dan keramik. 2
Berdasarkan retensi yang dihasilkannya pasak dikiasifikasikan menjadi pasak
aktif dan pasif. Pasak aktif secara mekams menekan dinding saluran akar dan dapat
menghasilkan tekanan yang lebih berat bila dikenai beban. Pasak pasif tidak menekan
dinding saluran akar tetapi retensi didapat dan semen, dan tekanan yang dihasilkan lebih
kecil bila dikenai beban. Berdasarkan disain pasak terdiri dan tipe smooth, paralel side,
serrated, dan tapered.4
Pada kasus ini digunakan prefabricated glass fiber post, hal ini dikarenakan lebih
estetis, lebih fleksibel, dan memiliki modulus elastisitas yang menyerupai dentin.
Tekanan yang ditransmisikan oleh pasak ke dentin akar lebih rendah sehingga dapat
meminimalisir terjadinya fraktur akar.2 Pasak fiber dapat mendistribusikan tekanan
antara pasak dan dentin oleh keflexibilitasannya di bawah beban. Sekarang ini pemakaian
pasak fiber didesain sehingga tahan korosi, dapat melekat pada struktur gigi, dan lebih
mudah dikoreksi jika ada kegagalan. Selain itu pasak fiber bersifat biokompatibel.5
Sementasi pasak fiber menggunakan lutting cement jenis semen resin. Semen
resin memiliki kemampuan berikatan dengan struktur gigi ataupun restorasi sehingga
lebih tahan terhadap kebocoran. Sampai saat ini terdapat berbagai jenis semen resin yang
indikasinya dapat digunakan untuk sementasi mahkota, protesa jembatan cekat, veneer,
pasak, inlay onlay logam ataupun komposit. 6 Pada kasus ini digunakan semen resin yang
diggunakan merupakan jenis multi step yang menggunakan etsa, dan bahan adhesif secara
terpisah. Prinsipnya, untuk menciptakan ikatan antara resin dengan dentin, smear layer
harus dihilangkan dan harus didemineralisasi agar jaringan kolagen pada dentin dapat
diinfiltrasi oleh monomer dari adhesive resin untuk membentuk lapisan hybrid (hybrid
layer) antara semen resin dan dentin. Lapisan hybrid inilah yang akan menentukan
kekuatan lekat antara semen resin dan jaringan gigi.
Penggunaan mahkota dengan pasak dan inti untuk merestorasi gigi sudah
dilaporkan memegang peran yang cukup signifikan dalam ketahanan suatu gigi. Inti
adalah bagian yang menggantikan struktur gigi bagian koronal yang hilang dan dibentuk
di tengah suatu restorasi yang baru. Pada kasus ini bahan yang digunakan adalah
komposit resin dengan pertimbangan estetik, biokompatibel, mampulasi mudah dan lebih
cepat, memiliki kemampuan perlekatan yang baik pada struktur gigi dan pasak. Aplikasi
resin selapis demi selapis sampai terbentuk suatu bangunan inti. Preparasi bangunan inti
dilakukan segera setelah semen resin mengeras.8
Pada mahkota jaket porselin, hanya ketebalan porselin saja tidak cukup membuat
suatu restorasi kuat, tetapi dukungan dan suatu preparasi yang tepat dan pasnya suatu
restorasi itulah yang akan memberikan kekuatan. Panjang preparasi inti adalah penting
karena beban dan arah lingual yang mengenai preparasi inti yang pendek dapat
menyebabkan kompresi pada akhiran labial sehingga menyebabkan fraktur. Preparasi di
daerah insisal membentuk suatu dataran yang rata. Sedangkan preparasi di bagian labial
dilakukan dalam 2 tahap dengan kedalaman antara 1 - 1,5 mm, pertama preparasi bagian
yang menghadap ke arah gingiva, dan selanjutnya preparasi bagian yang menghadap ke
arah insisal. Pedoman preparasi harus dengan tepat menunjukkan kedalaman preparasi
dan pinggiran gingival ke insisal. Permukaan palatinal harus dibentuk untuk
menghilangkan permukaan yang tidak rata atau sudut-sudut yang tajam, dan ketebalan
bagian lingual antara 1 - 1,5 mm dan jangan kurang dan 0,8 mm. Preparasi bagian
palatinal ini bertujuan untuk menghasilkan ketebalan yang cukup dan mempertahankan
sebagian bentuk palatinal untuk mendukung restorasi, morfologi cingulum sebaiknya
dipertahankan. Preparasi di daerah proksimal memiliki taper 6 ° - 8 ° untuk rnenghasilkan
arah pemasangan restorasi. Pengurangan bagian labial, palatinal, dan proksimal harus
berakhir pada batas akhiran chamfer yang jelas. Bentuk akhiran adalah heavy chamfer
untuk memberi ketebalan yang cukup dan penempatan akhiran di dalam sulkus gingiva
untuk tujuan estetis, akhiran ini merata lebarnya yaitu 1,0 mm. Pada akhir preparasi
semua undercut dan sudut-sudut yang tajam harus dihilangkan agar dapat memberikan
kekuatan yang cukup dan memberikan resistensi. 11,12
Pada kasus ini dilakukan pencetakan dengan bahan elastomer dan teknik double
impression. Bahan cetak elastomer memiliki keakuratan yang cukup tinggi, dan tidak
mudah sobek. Hasil cetakan akan lebih akurat, dapat disimpan untuk beberaja jam, dan
tidak mengalami distorsi. Pada mulanya kita mencetak menggunakan bahan putty,
selanjutnya di sekitar daerah preparasi dikerok untuk memberi tempat bagi bahan light
body yaitu bahan yang memiliki viskositas lebih rendah, kemudian dicetakan kembali
sampai pengerasan sempurna.
Restorasi akhir yang dipilih pada kasus mi adalah mahkota porselin dengan
pertimbangan lebih estetik, ketepatan marginal yang sangat baik, biokompatibel, tidak
terjadi iritasi termal karena konduktivitas termal yang rendah, cukup tahan terhadap
tekanan fungsional walaupun lebih kurang kekuatannya dibandingkan dengan mahkota
jaket porselin fusi dengan metal. 13
Pemeriksaan kembali secara periodik untuk memeriksa kebersihan mulut,
kenyamanan penggunaan suatu protesa yang sudah dipasang adalah penting untuk
mengevaluasi keberhasilan suatu restorasi yang kita buat.

Simpulan dan Saran


Simpulan
Gigi non vital yang telah dirawat endodontic umunya sudah kehilangan struktur
gigi karena karies, trauma, prosedur endodontic maupunprosedur restorasi sehingga
menyebabkan gigi pasca perawatan endodontic lebih rentan terhadap fraktur.
Kebanyakan sistem pasak dapat digunakan dengan tingkat keberhasilan yang
tinggi jika mengikuti prinsip-prinsip dasar yang dianjurkan, pemilihan bahan inti serta
restorasi akhir memegang peranan penting juga untuk keberhasilannya.
Saran
Sistem pasak tersedia dengan tipe yang bervariasi, hendaknya pemilihan pasak
dilakukan dengan pertimbangan secara menyeluruh pada gigi dan saluran akarnya,
sehingga didapatkan hasil yang memuaskan.