Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pergeseran budaya dapat dilihat sebagai bentuk reaksi terhadap modernisasi


yang mengagungkan pengetahuan, intelektual dan rasio. Kemunculan masa
postmodern ditandai dengan bangkitnya seluruh agama di dunia dimana memberikan
dampak bahwa agama tidak lagi berbicara mengenai kemutlakan doktrin namun
segala hal menjadi relative. Fokus utama yang menjadi sorotan hanyalah perdamaian,
keadilan dan cinta kasih, (Subsada,2014).

Berada dalam era postmodern, Indonesia sebagai negara berkembang


mengalami banyak dampak negatif salah satunya adalah kemerosotan moral. Setiap
orang lebih mencintai dirinya sendiri dan mulai tidak menghidupi nilai kebangsaan
maupun keagamaan. Untuk menghadapi era ini, sangat diperlukan dukungan dan
kegerakan dari kaum intelektual yang merupakan generasi penerus bangsa yang
berakhlak tinggi dan berwawasan luas, (Weinita,1996). Pemuda juga harus turut serta
secara aktif dalam upaya memperbaharui moral bangsa, menciptakan semangat kerja
positif dengan meningkatkan kedisiplinan, kejujuran dan semangat pengabdian yang
berdedikasi tinggi.

Perkembanan dan keberadaan umat Kristen tidak lepas dari keberadaan kaum
muda sebagai generasi penerus. Pergeseran budaya saat ini membawa dampak bagi
kaum muda, mengakibatkan banyaknya kaum intelektual muda jatuh dalam hal
negatif dan menganggap bahwa keberadaan bangsa merupakan tanggung jawab dari
gereja, pendeta, orang tua dan pemerintah saja. Untuk itu, diperlukan suatu kegerakan
dari kaum intelektual muda yang memiliki nilai spiritual, intelektual dan moralitas
tinggi.

Jumlah penduduk agama Kristen dan Khatolik di Provinsi Riau sebanyak


624.288 jiwa atau setara dengan 10.28% dari jumlah keseluruhan penduduk Riau
6.074.100 jiwa berdasarkan hasil sensus sosial dan budaya yang dilakukan pada tahun
2018. Angka tersebut meningkat dari tahun ke tahun dan memiliki sebanyak 2800
lembaga keagamaan. Dengan pesatnya pertumbuhan agama Kristen, maka diperlukan
fasilitas yang dapat membina para kaum muda intelektual untuk dapat
bertransformasi dan bertumbuh secara integral dibidang kognitif dan spiritual
sehingga dapat memberi dampak yang baik ditengah keluarga, masyarakat, bangsa
dan negara. Kaum intelektual muda yang terdiri dari mahasiswa dan siswa dengan
latar belakang gereja yang berbeda – beda menyebabkan gereja sulit menjangkau
kaum muda tersebut. Oleh karena itu, diperlukan suatu fasilitas yang dapat membina
para kaum intelektual muda dengan prinsip oikume. Prinsip oikumene itu sendiri
merupakan prinsip yang berdasarkan pengajaran Alkitab tanpa adanya doktrin,
sehingga dapat merangkul para kaum intelektual muda dengan latar belakang gereja
yang berbeda tersebut.

Melalui observasi yang dilakukan oleh di Pekanbaru pada bulan September


2019, terdapat sebanyak 24 pelayanan mahasiswa Kristen di Pekanbaru, Provinsi
Riau terkait kegiatan pembinaan dan pengembangan mahasiswa Kristen (Tabel 1.1) .
Pelayanan mahasiswa Kristen ini bertujuan untuk membentuk kaum intelektual muda
Kristen , namun selama ini belum ada fasilitas yang mewadahi semua pelayanan
tersebut dan menjawab semua kebutuhan dalam pelayanan. Sementara, pengaruh
kehidupan modern terus berkembang dan memberi beraneka dampak, dari pemikiran
– pemikiran bebas yang telah masuk dan berkembang membuat beberapa orang
beranggapan bahwa belajar hal tentang pelayanan dan spiritual itu adalah sesuatu
yang membosankan dibanding dengan kenyaman hati dalam menikmati teknologi.
Oleh sebab itu, dibutuhkan sebuah pusat fasilitas pelayanan mahasiswa Kristen untuk
meningkatkan nilai spiritual dan terjun langsung ke masyarakat dalam hal pelayanan
dan mengerjakan panggilan Allah dalam hidup seperti tertulis dalam Matius 5 : 13-
16. Fasilitas pelayanan mahasiswa Kristen ini akan dikerjakan oleh para mahasiswa
sebagai kaum intelektual muda dalam melakukan pelayanan spiritual kepada
mahasiswa lain dan kepada siswa yang merupakan kaum intelektual muda Kristen.
Fasilitas pusat pelayanan mahasiswa Kristen di Pekanbaru dengan
pertimbangkan memiliki banyak kampus dan sekolah. Fasilitas ini dirancang dengan
pendekatan arsitektur simbolik dengan tujuan dapat merepresentasikan niai – nilai
kekristenan ke dalam bentuk bangunan tersebut. Menurut Charles Jenks (2005)
ungkapan simbolis dalam arsitektur erat kaitannya dengan fungsi arsitektur sendiri
yang melayani dan memberi arti khusus bagi relasi antar manusia dengan
lingkungannya. Tanpa disadari relasi antar manusia dengan lingkungan dan bangunan
adalah suatu hal yang berkaitan dan akan menghasilkan suatu output yang berkaitan

Penerapan arsitektur simbolik dalam mengembangkan perancangan fasilitas


pusat pelayanan mahasiswa Kristen ini ditujukan dengan keberadaan bangunan yang
mengangkat prinsrip oikumene yaitu berdasarkan prinsip Alkitab tanpa pengaruh
aliran dari gereja manapun mengingat bahwa para kaum intelektual muda Kristen
berasal dari latar belakang gereja yang berbeda – beda, dengan demikian fungsi
utama dari bangunan ini akan saling sinkron dengan kebutuhan sehingga akan
muncul nuansa kekristenan yang disimbolkan dalam massa bangunan dan lanskap.

Tabel 1.1 Pelayanan Kaum Intelektual Muda di Pekanbaru


Sumber : Observasi Penulis
No Nama Instansi Nama Pelayanan
1 Fakultas Teknik 1. Komunikasi Mahasiswa Kristen Fakultas
Universitas Riau Teknik
2. Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia
Fakultas Teknik
2 Fakultas Pertanian 1. Komunikasi Mahasiswa Kristen Fakultas
Universitas Riau Pertanian
2. Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia
Fakultas Pertanian
3 Fakultas Matematika 1. Komunikasi Mahasiswa Kristen Fakultas
dan Ilmu Pengetahuan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Alam Universitas Riau 2. Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam
4 Fakultas Perikanan 1. Ikatan Keluarga Kristen Fakultas Perikanan
dan Ilmu Kelautan dan Ilmu Kelautan
Universitas Riau 2. Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
5 Fakultas Keguruan 1. Komunikasi Mahasiswa Kristen Fakultas
dan Ilmu Pendidikan Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
Universitas Riau Riau
2. Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Riau
6 Fakultas Ekonomi dan 1. Komunikasi Mahasiswa Kristen Fakultas
Bisnis Universitas Ekonomi dan Bisnis
Riau 2. Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
7 Fakultas Ilmu Sosial 1. Komunikasi Mahasiswa Kristen Fakultas
dan Ilmu Politik Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Riau 2. Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
8 Fakultas Hukum 1. Persekutuan Mahasiswa Kristen Fakultas
Universitas Riau Hukum
2. Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia
Fakultas Hukum
9 Universitas Riau 1. Persekutuan Oikumene Mahasiswa Kristen
Universitas Riau
10 Universitas Islam Riau 1. Persekutuan Mahasiswa Kristen Universitas
Islam Riau
11 Universitas Lancang 1. Persekutuan Mahasiswa Kristen Universitas
Kuning Lancang Kuning
12 Politeknik Caltex Riau 1. Persekutuan Mahasiswa Kristen Politeknik
Caltex Riau
13 Politeknik Kesehatan 1. Persekutuan Mahasiswa Kristen Politeknik
Provinsi Riau Kesehatan Riau
14 Persekutuan Kristen 1. Persekutuan Mahasiswa Kristen Pekanbaru
Antar Kampus 2. Tim Pelayanan Pendampingan Siswa
(PERKANTAS) 3. Tim Pelayanan Pendampingan Mahasiswa
Provinsi Riau

1.2 Rumusan Masalah


Adapun permasalahan pada perancangan Fasilitas Pusat Pelayanan Mahasiswa
Kristen di Pekanbaru adalah sebagai berikut:
1. Apa saja fasilitas yang terdapat pada Pusat Pelayanan Mahasiswa Kristen
di Pekanbaru ?
2. Bagaimana penataan massa bangunan pada Pusat Pelayanan Mahasiswa
Kristen di Pekanbaru ?
3. Bagaimana menerapkan prinsip simbolik arsitektur Kristen kedalam
perancangan Fasilitas Pusat Pelayanan Mahasiswa Kristen di Pekanbaru?
4. Bagaimana merumuskan konsep desain Fasilitas Pusat Pelayanan
Mahasiswa Kristen di Pekanbaru?

1.3 Tujuan
Berdasarkan permasalahan yang dipaparkan, hal yang menjadi tujuan adalah :
1. Mendeskripsikan fasilitas yang dibutuhkan Pusat Pelayanan Mahasiswa
Kristen di Pekanbaru untuk mewadahi kegiatan didalamnya.
2. Menjelaskan penataan massa bangunan pada Fasilitas Pusat Pelayanan
Mahasiswa Kristen di Pekanbaru.
3. Merumuskan penerapan prinsip simbolik arsitektur Kristen kedalam
perancangan Fasilitas Pusat Pelayanan Mahasiswa Kristen di Pekanbaru.
4. Merumuskan konsep desain Fasilitas Pusat Pelayanan Mahasiswa Kristen
di Pekanbaru.

1.4 Lingkup dan Batasan


1.4.1 Lingkup
Kajian ini memfokuskan pada penerapan prinsip oikumene kedalam
perancangan Fasilitas Pusat Pelayanan Mahasiswa Kristen di Pekanbaru yang
berfungsi sebagai wadah pembinaan bagi para kaum intelektual muda Kristen untuk
dapat bertransformasi dan bertumbuh secara integral dibidang kognitif dan spiritual
lewat pelayanan – pelayanan kaum intelektual yang ada di Pekanbaru. Selain itu,
kajian ini juga membahas bagaimana penerapan arsitektur simbolik dapat
merepresentasikan nilai – nilai kekristenan dan memfasilitasi mahasiswa dalam
mengerjakan pelayanannya.
1.4.2 Batasan
Batasan yang diberikan dalam penerapan arsitektur simbolik dalam
perancangan fasilitas pusat pelayanan mahasiswa Kristen di Pekanbaru adalah
sebagai berikut :
1. Batasan Objek
Kajian ini membahas tentang penerapan arsitektur simbolik dalam
perancangna fasilitas pusat pelayanan mahasiswa Kristen di Pekanbaru
dengan lebih memfokuskan pada bentukan massa bangunan, berbagai
fasilitas didalam bangunan serta tampilan lanskap.
2. Batasan Pengguna
Kajian ini membahas tentang penerapan arsitektur simbolik dalam
perancangan fasilitas pusat pelayanan mahasiswa Kristen di Pekanbaru
dengan sasaran penggunan adalah kaum intelektual muda Kristen dari
Provinsi Riau.
3. Batasan Aturan
Kajian ini membahas tentang perancangan fasilitas pusat pelayanan
mahasiswa Kristen di Pekanbaru dengan penerapan prinsip arsitektur
simbolik yang sesuai dengan aturan perundang – undangan yang berlaku
di Indonesia, khususnya di Pekanbaru Provinsi Riau.
1.5 Kerangka Berpikir

Latar Belakang
1. Pergeseran budaya memberi dampak yang negative dalam kehidupan berbangsa dan bernegara khususnya bagi kaum muda
sebagai generasi penerus bangsa
2. Meningkatnya angka kejahatan dan semua orang hidup menurut keinginan hati masing – masing
3. Kaum muda intelektual harus dibina dalam hal spiritual sebagai generasi penerus bangsa
4. Provinsi Riau , khususnya kota Pekanbaru belum mempunyai fasilitas pusat pelayanan mahasiswa Kristen untuk mewadahi
pelayanan mahasiswa yang saat ini telah ada.
5. Fasilitas pusat pelayanan mahasiswa kristen di Pekanbaru bukan hanya menambah kognitif para kaum muda intelektual
namun juga membina mengubahkan cara berpikir dan mengalami pertumbuhan dalam hal iman agar dapat melakukan
pelayanan kembali kepada orang lain
6. Penggunaan pendekatan arsitektur simbolik mampu merepresentasikan nilai – nilai kekristenan sehingga para mahasiswa
dapat semakin mengalami pertumbuhan iman secara integral

Permasalahan
1. Apa saja prinsip – prinsip oikumene simbolik Kristen yang dapat diterapkan pada Fasilitas
Pusat Pelayanan Mahasiswa Kristen di Pekanbaru?
2. Bagaimana prinsip oikumene dapat direpresentasikan kedalam desain bangunan fasilitas pusat
pelayanan mahasiswa Kristen ?
3. Bagaimana kebutuhan ruang yang mampu memperlengkapi para mahasiswa untuk belajar
kerohanian?
4. Bagaimana Fasilitas Pusat Pelayanan Mahasiswa dengan pendekatan arsitektur simbolik dapat
memenuhi kebutuhan mahasiswa dalam belajar kerohanian dan melakukan pelayanan?

Tujuan Lingkup
1. Merumuskan konsep desain dari penerapan prinsip Pendekatan arsitektur simbolik dalam
oikumene pada Fasilitas Pusat Pelayanan Mahasiswa
perancangan fasilitas pusat pelayanan
Kristen dengan pendekatan arsitektur simbolik
mahasiswa Kristen di Pekanbaru
2. Merancang fasilitas pusat pelayanan mahasiswa Kristen
yang mampu menjawab permasalahan kemerosotan berfungsi sebagai wadah pembinaan
moral era post modern di Indonesia dengan menerapkan kaum muda intelektual
prinsip – prinsip oikumene simbolik Kristen. Batasan
3. Menentukan fasilitas yang sesuai dengan berbagai
1. Batasan Objek
kegiatan pembelajaran kerohanian Fasilitas Pelayanan
2. Batasan Pengguna
Mahasiswa Kristen di Pekanbaru
3. Batasan Aturan

Analisis Fungsional
Observasi Pengumpulan Data Analisis Tapak
Studi empiris Analisis Eksisting
Analisis Tema
Wawancara Analisis
Analisis Tampilan Fisik
Dokumentasi Bangunan
Konsep
Transformasi Desain

Desain Akhir Pengembangan Desain


1.6 Sistematika Pembahasan

Pada laporan seminar dengan judul Fasilitas Pusat Pelayanan Mahasiswa


Kristen dengan pendekatan Arsitektur Simbolik di Pekanbaru menggunakan
sistematika penulisan sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini membahas tentang latar belakang, identifikasi masalah, tujuan, lingkup dan
batasan, kerangka pikir, sistematika penulisan dan keaslian penulisan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini mengemukakan teori tentang Arsitektur Simbolik dan Fasilitas Pusat
Pelayanan Mahasiswa Kristen

BAB III METODE PERANCANGAN

Bab ini menjelaskan mengenai paradigma pada perancangan berupa strategi


perancangan dan metode pengumpulan data, tinjauan lokasi berupa latar belakang
pemilihan lokasi dan building coverage, serta bagan alur perancangan bangunan.

BAB IV ANALISIS DAN KONSEP

Bab ini membahas tentang analisa perancangan yang meliputi analisis tapak, analisis
fungsional, analisis eksisting, analisis sistem utilitas, analisis tampilan fisik bangunan
dan analisis lain yang diperlukan serta membahas konsep massa bangunan dan
lanskap.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini berisikan kesimpulan dan saran yang didapat dari hasil perancangan
bangunan.
1.7 Keaslian Penulisan

Berdasarkan penelusuran mengenai judul perancangan pada arsitektur dengan


konsep pendekatan arsitektur simbolik pada perancangan bangunan Kristen,
setidaknya terdapat 10 yang memiliki keterkaitan. Kesepuluh judul tersebut adalah :

A. Pusat Kegiatan Komunitas Kristen (Christian Centre) di Jakarta


dengan tema Arsitektur Simbolik

Judul ini merupakan tugas akhir milik andrian dari Program Studi
Arsitektur Universitas Trisakti. Metodologi yang digunakan dalam
perancangan adalah :
1) Tahap pengumpulan data dilakukan dengan metode studi literature,
survey lapangan dan observasi tapak, wawancara dengan narasumber
dan studi banding terhadap bangunan dengan tema sejenis.
2) Tahap analisis dilakukan dengan menggunakan metode pemrograman
dari Geoffrey Broadbent dalam buku “Desain in architecture” melalui
3 aspek perancangan yaitu perancangan manusia, tapak dan
perancangan bangunan.

Tugas akhir ini menjelaskan mengenai pertumbuhan umat Kristen di


Jakarta dan kebutuhannya akan pusat kegiatan komunitas Kristen. Setelah
dilakukan tahap pengumpulan data, diperoleh bahwa gereja – gereja yang
ada saat ini tidak memenuhi kebutuhan jemaat dalam hal kerohanian secara
keseluruhan karena fasilitas gereja yang kurang memadai. Komunitas
Kristen di Jakarta sebagai fasilitas dalam pembinaan dan pengembangan
umat dirancang dengan prinsip oikumene yaitu menggunakan symbol –
symbol kekristenan yang terdapat didalam Alkitab dan diakui oleh semua
umat Kristen dengan latar belakang gereja yang berbeda – beda berupa
symbol Alfa dan Omega, symbol Salib dan Simbol Merpati. Melalui
penggunaan prinsip oikumene ini dapat menghilangkan denominasi gereja
sehingga menuju kesatuan sebagai umat Kristen.

B. Manado Christian Centre “Arsitektur Simbolisme, Penekanan Simbol


– Simbol Kristiani, Filosofi Oikumene”

Judul ini merupakan hasil tugas akhir milik Romel Rouland Pandel
dari Program Studi Arsitektur S1 Universitas Sam Ratulangi. Metode yang
digunakan adalah metode deskriptif dengan tahap pengumpulan data,
analisis data dan transformasi konsep melalui pendekatan :
1) Pendekatan tipologis
Dimulai dari pemahaman terhadap tipologi objek lebih mengacu pada
tipologi fungsi, tipologi kultural histori dan tipologi geometri.
2) Pendekatan tematik
Dalam pendekatan tematik, konsep rancangan lebih mengoptimalkan
prinsip simbolisme dalam perancangan arsitektural.
3) Pendekatan lokasi dan tapak
Dalam pendekatan ini, dilakukan analisis pemilihan lokasi dan analisis
tapak terpilih yang akan digunakan beserta lingkungan sekitar tapak.

Dalam tugas akhir ini dijelaskan bahwa Manado sebagai daerah yang
memiliki pertumbuhan umat Kristen sangat pesat dan sebagai umat Kristen
juga ikut andil dalam sumbangsih sumber daya manusia yang berkualitas
memerlukan suatu Pusat Komunitas Kristen di Manado yang sekaligus
dapat menjadi salah satu lokasi wisata religius di Manado. Dalam
perancangan ini menggunakan aristektur simbolik sebagai pendekatan
dengan menggunakan filosofi oikumene, menggunakan symbol – simmbol
Kristen yang ada di Alkitab berupa symbol Mezbah korban bakaran,
symbol Tabut Perjanjian dan symbol 2 Loh Batu yang berisi kesepuluh
Firman Tuhan. Dalam penzoningan pada rancangan ini juga menggunakan
simbolik Kristen yaitu symbol tabernakel yang menjelaskan mengenai
ruang maha kudus, ruang kudus dan pelataran.
C. Fasilitas Pembinaan Pemuda Remaja Gereja Kristen Indonesia di
Surabaya

Judul ini merupakan hasil tugas akhir milik Cynthia D. Hadiwijaya


dari Program Studi S1 Arsitektur Universitas Kristen Petra. Metode yang
digunakan yaitu dengan melakukan kajian tipologi objek, kajian tema serta
kajian tapak dan lingkungannya. Proses perancangan kerangka piker
dilakukan dengan 3 gagasan utama yaitu objek, tapak dan tema. Dimulai
dari pemahaman objek perancangan dengan identifikasi masalah dan
perumusan masalah lalu mengkaji objek, tapak dan tema berdasarkan
substansi perancangan objek yang dirancang. Kajian yang telah
dikumpulkan menjadi satu data dan dianalisis berdasarkan studi literature
dan kasus.

Tugas akhir ini menjelaskan bahwa remaja merupakan keadaan yang


masih labil dan memiliki banyak hal yang dinamis dalam diri remaja.
Keadaan pembinaan remaja sangat berpengaruh dalam membentuk remaja
tersebut, agar terhindar dari kenalakan remaja. Kenakalan remaja terjadi
karena seorang remaja dalam masa mencari jati diri tidak diarahkan dengan
baik dan benar. Keadaan ini menjabarkan bahwa remaja perlu kawasan
untuk membentuk jati diri lewat ruangan dan fasilitas yang ada
disekitarnya. Fasilitas ini menggunakan arsitektur simbolik dalam
pengembangan desain, menggunakan symbol yang dinamis berupa garis
dan ruang untuk menggambarkan sifat remaja yang masih labil dan
dinamis dalam mencari jati diri.

D. Fasilitas Komunitas Kristen di Pekanbaru dengan Pendekatan


Arsitektur Simbolik

Judul ini merupakan hasil tugas akhir milik Yohanes Sitorus dari
program studi Arsitektur S1 Universitas Riau. Metode yang digunakan
lewat studi banding perancangan dengan melakukan wawancara pada pihak
yang terkaita dalam keagaaman, penggunaan internet sebagai media
referensi dan melakukan observasi pada tapak perancangan untuk
menyesuaikan fungsi yang akan dibangun dengan tapak.

Tugas akhir ini menjelaskan bahwa pemuda sebagai generasi penerus


bangsa perlu dibina dan diperlukan fasilitas komunitas Kristen untuk
melakukan pembinaan kepada umat Kristen yang ada di Pekanbaru
terkhusus kaum muda. Rancangan dalam bangunan ini menggunakan
pendekatan arsitektur simbolik dengan menggunakan konsep oikumene
sebagai wujud kerohanian yang menjelaskan nilai – nilai filosofi ajaran
kristiani secara universal. Pemakaian konsep tersebut digunakan dalam
orientasi, sirkulasi dan pembagian zona – zona utama dalam desain dengan
menggunakan symbol trinitas, symbol tabut perjanjian Allah dan symbol
ikan yang menggambarkan Yesus Kristus.

E. Manado Christian Community Centre “Arsitektur Simbolik”

Judul ini merupakan hasil tugas akhir milik Keren Esteria


Manaroinsong dari Program Studi Arsitektur S1 Universitas Sam Ratulagi.
Metode yang digunakan adalah studi literature, observasi lapangan dan
analisa meliputi pendekatan tematik, pendekatan tipologi objek dan
pendekatan tapak dan lingkungannya. Melalui metode tersebut penulis
mendeskripsikan objek perancangannya sehingga memperoleh prospok dan
fisibilitas sebagai berikut:

1) Prospek
Prospek perancangan ini adalah menjadikan Manado Christian
Community Center sebagai tempat yang mewadahi kegiatan
masyarakat Kristen dan menjadi tempat untuk berelasi dan bertukar
pikiran, edukasi dan sumber informasi dan pengetahuan serta
menjadikan nya sebagai sarana yang menunjang dalam perkembangan
Kota Manado dalam bidang ekonomi dan ilmu pengetahuan tentang
kekristenan.
2) Fisibilitas
Perancangan Manado Christian Community Center yang verfungsi
sebagai tempat bertemu dan saling bertukar pikiran, tempat rekreasi
dan edukasi tentang kekristenan bagi masyarakat kota manado
sehingga, mampu menghasilkan masyarakat yang kompetitif dalam
bidang kerohanian. Dengan demikian, kualitas masyarakat semakin
menignkat dan dapat menjadi generasi penerus bangsa dan
membangun kota Manado.

Tugas akhir ini menjelaskan pertumbuhan umat Kristen di Manado


terus melaju dengan pesat. Keberadaan umat Kristen di Manado yang terus
meningkat perlu komunitas untuk bertumbuh. Christian Community Centre
di Manado ini dirancang dengan menggunakan tema arsitektur simbolik
maka bangunan ini akan dirancang mengacu pada symbol – symbol
kekristenan dengan estetika interior dan struktur bangunan yang akan
menjelaskan fungsi dari bangunan itu sendiri. Bangunan ini dirancang
dengan menggunakan symbol – symbol kekristenan yaitu :

a) Alfa dan Omega


b) Salib
c) Burung Merpati
d) Alkitab
F. Fasilitas Retret Pemuda Kristen di Batu
Judul ini merupakan hasil tugas akhir dari Michelle Mimosa Mimosa
dari Program Studi Arsitektur S1 Universitas Kristen Petra Surabaya.
Metode yang digunakan dalam desain ini adalah methapore intangible
dengan tema arsitektur simbolik. Dalam perancangan ini menyimbolkan
kehidupan rasul Paulus yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain
dengan segala keberadaan menjadi Rasul menyatakan Yesus Kristus yang
digambarkan kedalam desain bangunan supaya kaum muda dapat sejenak
meninggalkan hiruk pikuk kehidupan.
Dalam tugas akhir ini dijelaskan bahwa fasilitas retret ini merupakan
fasilitas bagi kaum muda yaitu pemuda dan remaja Kristen di wilayah Jawa
Timur. Hal ini dikarenakan kesadaran akan pentingnya perisai agama
terutama bagi para kaum muda guna menangkal pengaruh negative.
Fasilitas ini memenuhi kebutuhan kegiatan retret menjadi saran pemuda
untuk berdoa, refleksi dan intropeksi diri apakah tujuan hidup selama ini
telah sesuai dengan tujuan Allah. Fasilitas ini dirancang dengan
menggunakan tema arsitektur simbolik dengan tujuan menerapkan nilai –
nilai kekristenan kedalam fasilitas ini lewat perjalan rasul Paulus.

G. Gereja Kristen Indonesia Solo Baru

Judul ini merupakan hasil tugas akhir Dimas Cristianto Wibowo dari
Program Studi Arsitektur S1 Universitas Kristen Petra Surabaya. Metode
yang digunakan dalam peracangannya adalah deskriptif dan studi literature.
Tujuan merancang gereja ini adalah untuk memberikan tempat ibadah yang
nyaman bagi jemaat GKI di wilayah Solo Baru dan sekitarnya.

Dalam tugas akhir ini dijelaskan bahwa gereja Kristen Indonesia yang
ada di Solo Baru kurang memfasilitasi para jemaat dalam beribadah dan
membina iman jemaat. Gereja ini dirancang menggunakan arsitektur
simbolik Kristen dengan menggunakan symbol gereja Kristen Indonesia
sebagai konsep perancangan. Dalam perancangan pengolahan bentuk
didasarkan pada keadaan lingkungan, arah mata angin dan sirkulasi
kendaraan pada jalan umum. Setelah itu bangunan dirancang sesuai dengan
elemen yang terdapat dapat logo Gereja Kristen Indonesia yaitu
1) Elemen gelombang
2) Elemen perahu
3) Elemen salib

Gambar 1.1 Logo GKI

H. Pusat Kegiatan Komunitas Fotografi dengan Pendekatan Arsitektur


Simbolik di Jakarta
Judul ini merupakan hasil tugas akhir Ahmad Syarif Maulana dari
Program Studi Arsitektur S1 Universitas Muhammadiyah Jakarta. Metode
yang digunakan dalam perancangan ini adalah studi literature, survey
lapangan dan studi preseden. Semakin meningkatnya minat dalam hal
fotografi menjadi latarbelakang dirancangnya pusat kegiatan komunitas
fotografi ini.
Dalam tugas akhir ini dijelaskan mengenai fotografi dan komunitas
fotografi. Pusat kegiatan ini dirancang dengan menggunakan pendekatan
arsitektur simbolik dan diharapkan dapat mewadahi bakat atau minat
fotografi yang sesuai kebutuhan. Pada perancangan ini sangat diperhatikan
analisa site yang memang berpengaruh terhadap desain.
I. Penerapan Konsep Simbolik Metafora pada Perencanaan Kantor
Pusat dan Pendidikan CISCO di Jakarta
Judul ini merupakan hasil tugas akhir Rudy Thalib dari Program Studi
Arsitektur S1 Universitas Muhammadiyah Jakarta. Metode yang digunakan
dalam perancangan ini adalah metode deduksi yaitu menjelaskan hal – hal
yang bersifat umum ke hal – yang yang khusus. Bahn penulisan dan teknik
pengambilan data dilakukan dengan :
1) Studi Literatur, mempelajari teori konsep simbolik metafora untuk
gedung kantor dan pendidikan Cisco
2) Survey, dengan mendatangi langsung kantor pusat Cisco dan
merasakan bagaimana suasananya.
3) Wawancara, dengan mendatangi langsung kantor pusat Cisco dan
melakukan wawancara kepada staff yang bekerja untuk
mengumpulkan informasi dalam merancang kantor pusat yang
baru.
4) Dokumentasi, memanfaatkan gambar visual sebagai acuan
gambaran kondisi fisik dilapangan.

Dalam perancangannya, tugas akhir ini memiliki manfaat sebagai


pusat bagi masyarakat untuk dapat mengenal dan belajar mengembangkan
teknologi jaringan dengan mengikuti pelatihan. Dalam perancangannya
bangunan ini dikhususkan memiliki kenyamanan thermal dan kenyamanan
visual pengguna dengan menggunakan konsep bangunan pintar dan
menerapkan unsur – unsur simbolik Cisco dalam mengembangkan konsep
dalam perancangan.

J. Perancangan Gedung Bioskop Rita Klaten dengan Pendekatan


Arsitektur Simbolis
Judul ini merupakan hasil tugas akhir Rizky Pradana dari Program
Studi Arsitektur S1 Universitas Teknologi Yogyakarta. Metode yang
digunakan dalam perancangan ini adalah metode analisis yang dimulai
dengan mengumpulkan data terkait perencanaan gedung bioskop kemudian
melakukan analisis terhadap area site yang baru diawali dengan
mengidentifikasi kondisi eksisting, tanah, view, utilitas dan melakukan foto
pada area site.
Gedung bioskop merupakan salah satu sarana hiburan masyarakat
namun didaerah Klaten belum terdapat gedung bioskop. Oleh karena itu,
pemerintah setempat berencana membangun gedung bioskop sebagai saran
hiburan bagi masyarakat. Gedung bioskop ini dirancang dengan
menggunakan pendekatan arsitektur simbolis dengan konsep kain batik dan
kain lurik yang merupakan khas dari daerah Klaten. Konsep tersebut
ditransformasikan dalam bentuk gubahan massa, orientasi gubahan massa,
penataan site dan interior bangunan.

Dari kesepuluh judul diatas terdapat perbedaan dan persamaan dengan


seminar arsitektur yang disusun oleh penulis yang kemudian akan menjadi
bahan pembelajaran untuk memperkaya materi seminar. Dalam seminar
arsitektur, penulis memfokuskan pada penerapan prinsip oikumene melalui
arsitektur simbolik Kristen dalam merancang Fasilitas Pusat Pelayanan
Mahasiswa Kristen di Pekanbaru untuk memfasilitasi mahasiswa dalam
pembinaan iman dan pengembangan karakter. Keaslian perancangan
Fasilitas Pusat Pelayanan Mahasiswa Kristen di Pekanbaru dengan
pendekatan arsitektur simbolik dan sesuai dengan asas – asas keilmuan
yang harus dijunjung tinggi yaitu kejujuran, rasional, objektif serta terbuka.
Sebagai implikasi etis dari proses menemukan kebenaran ilmiah, dengan
demikian perancangan ini dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya
secara ilmiah, keilmuan dan terbuka untuk kritisi yang sifatnya konstruktif
(membangun).