Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM DASAR – DASAR BIOKIMIA

PERCOBAAN 1
ANALISIS AIR: ANALISIS COD, BOD, pH, DAN DETEKSI E. COLI

Disusun oleh:
Nama : Novena Tesalonika Rasuh
NIM : 171444008
Shift/Kelompok : A1/01

Dosen Pengampu:
Risnita Vicky Listyarini, M.Sc

Asisten Dosen:
1. Maria Eva Kristiana
2. Margaretha Arihta Lestari

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA, YOGYAKARTA
SEMESTER GANJIL 2019/2020
PERCOBAAN 1
ANALISIS AIR: ANALISIS COD, BOD, pH, DAN DETEKSI E. COLI

A. Judul Praktikum
Analisis Air: Analisis COD, BOD, pH, dan deteksi E. Coli
B. Hari dan Tanggal Praktikum
Jumat, 13 September 2019
C. Tujuan Praktikum
1. Memahami DO (Oksigen terlarut) pada kualitas air.
2. Memahami faktor-faktor peningkatan dan penurunan DO dalam air.
3. Memahami metode eksperimental menggunakan Biochemical Oxygen Demand
(BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), analisis pH, dan deteksi dari E. coli.
D. Landasan Teori
Analisis air dapat dilakukan dengan melakukan beberapa metode analisis, seperti
Chemistry Oxygen Demand (COD), Biology Oxygen Demand (BOD), pH, dan deteksi
bakteriologis. Analisis COD merupakan suatu kegiatan oksidasi kimia dengan bantuan
kalium dikromat (K2Cr2O7) yang dipanaskan dengan asam sulfat pekat (H2SO4).
Analisis COD ini menggambarkan secara detil karakteristik yang ada dalam air dan
memperlihatkan tingkat pencemaran air oleh limbah organik. COD termasuk parameter
penting dalam pengelolaan air dan lebih baik dalam mendeteksi keberadaan limbah
organik dalam air ketimbang BOD (Fardiaz, 1992).
Adapun analisis BOD yang menggunakan mikroorganisme air untuk mendeteksi
keberadaan bahan organik didalamnya. Analisis BOD ini mengarah pada banyaknya
oksigen yang digunakan mikroorganisme air untuk menguraikan bahan organik pada
suhu 20 ℃. Pengukuran BOD biasa dilakukan selama 5 hari dengan kesempurnaan
reaksi 60 – 70 % karena proses oksidasi biokimia ini memerlukan waktu (Mulyono,
2001).
Proses analisis BOD tidak mengukur secara langsung banyaknya bahan organik
dalam air, tetapi pengukuran dilakukan pada jumlah oksigen yang dipakai untuk
mengoksidasi bahan-bahan organik menggunakan mikroorganisme. Suatu
mikroorganisme air mengonsumsi oksigen yang ada dalam air, sehingga terjadi
pengurangan oksigen terlarut dalam air. Semakin banyak oksigen yang dikonsumsi,
maka bahan organik di dalam air juga semakin banyak (Kristianto, 2002).

1
Analisis air juga dapat menggunakan pengukuran derajat keasaman (pH) air.
Pengukuran pH ini dilakukan untuk menentukan sifat asam atau basa suatu sampel.
Perubahan pH dalam air sangat mempengaruhi seluruh kegiatan didalamnya, baik itu
fisika, kimia, maupun biologi. Derajat keasaman dapat dipengaruhi oleh sifat racun
limbah pencemar atau kelarutan gas (Wardhana, 2004).
Selain bahan organik, bakteri juga menjadi salah satu faktor yang mencemari air.
Analisis bakteriologis diperlukan untuk mengidentifikasi keberadaan suatu bakteri yang
berbahaya untuk kesehatan. Umumnya, kehadiran bakteri yang mencemari air
digolongkan dalam kelompok koliform dengan ciri-cirinya yang berbentuk batang, tidak
membentuk spora, aerobik atau anaerobik fakultatif yang melakukan fermentasi laktosa
dengan memproduksi asam dan gas (Dwidjoseputro, 2005).
E. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Gelas kimia d. Pipet tetes
b. pH meter e. Waterbath
c. Pipet ukur
2. Bahan
a. Larutan KMnO4 0,025 N i. NH4Cl (Amonium klorida)
b. Larutan Na2C2O4 0,025 N 1,7 g
c. Larutan H2SO4 j. MgSO4.7H2O 22,5 g
d. Bubuk Ag2SO4 k. CaCl2 27,5 g
e. Akuades l. FeCl3.6H2O 0,25 g
f. K2HPO4 (Kalium Hidrogen m. Sampel A (Air Kos Putri
Fosfat) 21,75 g Palem)
g. KH2PO4 (Kalium n. Sampel B (Air sekitaran
Dihidrogen Fosfat) 8,5 g Prambanan)
h. Na2HPO4.7H2O (Natrium
hidrogen fosfat) 33,4 g

2
F. Prosedur Kerja
1. Pengukuran COD
a. Larutan COD
Larutan COD dibuat dengan menggunakan larutan KMnO4, larutan
H2C2O4, larutan H2SO4, dan padatan Ag2SO4. Pada mulanya, larutan 0,025 N
KMnO4 (0,8 g) ditambahkan akuades sampai volume total 1 L. Larutan tersebut
disimpan dalam botol coklat yang telah dibersihkan. Untuk larutan 0,025 N
H2C2O4 ditimbang sebanyak 1,5759 g dan ditambahkan akuades sampai volume
total 1 L. Larutan H2SO4 pekat sebanyak 33 mL ditambahkan ke dalam 50 mL
akuades dan diencerkan sampai 100 mL. Terakhir, padatan Ag2SO4 juga
disiapkan oleh praktikan.
b. Metode Pengukuran
Sampel A dan Sampel B masing-masing sebanyak 15 mL dimasukkan ke
dalam dua labu Erlenmeyer 100 mL dan ditambahkan akuades hingga tepat 50
mL. Pada tahap ini, sampel kontrol (Akuades) sebanyak 50 mL juga
diberlakukan perlakuan yang sama. Setelah 5 mL H2SO4 ditambahkan ke
masing-masing sampel, sekitar 0,2 g Ag2SO4 dicampur dan dikocok kuat sampai
bereaksi selama 10 menit. Lalu, larutan 0,025 N KMnO4 ditambahkan ke
campuran sebelumnya. Hasil campuran ini dipasnakan dalam waterbath 92 ℃
selama 30 menit. Setelah itu, campuran didinginkan selama 5 menit di suhu
ruang dan dipanaskan kembali selama 10 menit dalam waterbath 70 ℃. Setelah
pemanasan, larutan 0,025 N H2C2O4 ditambahkan sebanyak 5 mL ke campuran
dan dikocok hingga menjadi tidak berwarna. Reaksi ini ditunggu selama 5 menit.
Setelah itu, 5 mL sampel dititrasi dengan 0,025 N KMnO4 dengan pengulangan
sebanyak dua kali hingga sampel menjadi merah muda pucat. Volume titik akhir
titrasi dicatat dan digunakan dalam penentuan kualitas air dengan menghitung
nilai COD tiap sampel menggunakan persamaan berikut.
COD (ppm) = (b - a) x f x (1000/v) x 0,2
Ket.
a = Jumlah larutan 0,025 N KMnO4 yang dibutuhkan dalam titrasi kontrol (mL)
b = Jumlah larutan 0,025 N KMnO4 yang dibutuhkan selama titrasi sampel (mL)
f = Faktor larutan 0,025 N KMnO4 ditentukan secara eksperimental
v = Jumlah sampel yang digunakan dalam percobaan (mL)

1
0,2 = Setara nilai oksigen (0,025 x 8 mg) dari larutan 0,025 N KMnO4
Perhitungan faktor f (KMnO4)
5
𝑓=
𝑋
Ket.
f = Faktor Larutan KMnO4
X = Volume Titrasi (mL)
2. Pengukuran BOD
Reagen A, B, C, dan D dibuat dan dipersiapkan terlebih dahulu. Reagen A dibuat
menggunakan larutan buffer fosfat untuk 50 mL (K2HPO4 21,75 g; KH2PO4 8,5 g;
Na2HPO4.7H2O 33,4 g; dan NH4Cl 1,7 g). Reagen B dibuat dengan larutan
Magnesium Sulfat (MgSO4.7H2O 22,5 g) sebanyak 50 mL. Reagen C dibuat dengan
larutan Kalsium Klorida (CaCl2 27,5 g) sebanyak 50 mL. Terakhir, reagen D dibuat
dengan larutan Besi Klorida (FeCl3.6H2O 0,25 g) sebanyak 50 mL. Reagen-reagen
tersebut dicampur menjadi satu dalam labu ukur untuk digunakan dalam pengukuran
BOD.
Sampel A, sampel B, dan sampel kontrol dimasukkan ke dalam gelas ukur 100
mL. Nilai DO setiap sampel diukur menggunakan DO meter. Pengukuran dilakukan
sebanyak 3 kali pengulangan. Setelah itu, sampel disegel dan diinkubasi pada suhu
20 ℃ selama 5 hari. Pada hari kelima, nilai DO sampel diukur kembali dengan
menggunakan DO meter. Nilai DO yang didapatkan digunakan untuk menghitung
nilai BOD. Berikut adalah persamaannya.
BOD = DO0 – DO5
Ket.
BOD = Biological Oxygen Demand (mg/L)
DO0 = Nilai DO sampel hari-0 (mg/L)
DO5 = Nilai DO sampel hari-5 (mg/K)
3. Pengukuran pH
Sebelum pengukuran pH terhadap sampel, pH meter dikalibrasi dengan
menggunakan 3 larutan buffer, yaitu larutan buffer 4, larutan buffer 7, dan larutan
buffer 10. Saat pengukuran, pH meter dibilas dengan akuades untuk mencegah
adanya kontaminan dalam sampel. Nilai pH tiap sampel diukur dan dicatat dalam

2
data pengamatan. Setelah selesai, pH meter dibersihkan dengan akuades dan
direncam dalam buffer penyimpanan.
4. Uji Kualitas Air Bakteriologis
Sebanyak 100 μL sampel dioleskan pada piring agar MacConkey. Sampel
diinkubasi selama 16 jam pada suhu 27 ℃. Seluruh prosedur dilakukan dalam
keadaan steril (lampu alkohol menyala).
G. Data Pengamatan
Sampel A : Air Kos sekitar Universitas Sanata Dharma
Sampel B : Air perumahan Prambanan
Tabel 1. Pengukuran COD terhadap Sampel A dan Sampel B
Sampel V1 (mL) V2 (mL) V3 (mL) Vrata-rata (mL) Nilai COD (ppm)
A 0,2 0,1 0,1 0,13 123,07
B 0,1 0,1 0,1 0,10 100

Tabel 2. Pengukuran BOD terhadap Sampel A dan Sampel B


Nilai DO (mg/L)
Sampel Nilai BOD (mg/L)
H0 H0 rata-rata H5 H5 rata-rata
9,6 4,9
A 10,1 9,97 5,1 5,00 4,97
10,2 5,0
11,3 4,3
B 11,4 11,37 4,6 4,67 6,70
11,4 5,1

Tabel 3. Pengukuran pH terhadap Sampel A dan Sampel B


Sampel pH1 pH2 pH3 pH rata-rata
A 7,2 7,2 7,2 7,2
B 7,0 7,0 7,0 7,0

3
Tabel 4. Uji Kualitas Air Bakteriologis terhadap Sampel A dan Sampel B
Bakteri E.
Sampel Hasil Pengamatan
Coli
Ada bulatan-bulatan kecil berwarna kekuningan dan agarnya
A Tidak Ada
berubah warna dari merah muda menjadi kekuningan
Ada bulatan-bulatan yang berkoloni berwarna kekuningan
B dan agar berubah warna dari merah muda menjadi Tidak Ada
kekuningan

H. Pembahasan
Air merupakan kebutuhan mendasar bagi seluruh makhluk di muka bumi. Air
memiliki peran penting dalam hidup manusia. Namun, berkembangnya zaman
mempengaruhi air yang digunakan untuk hidup sehari-hari masyarakat. Hal ini dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah pencemaran limbah yang
mengandung bahan organik ke suatu perairan. Oleh karena itu, percobaan ini bertujuan
untuk melakukan analisis air dengan menggunakan beberapa metode. Dalam percobaan,
terdapat dua sampel air yang diperoleh dari air kos sekitar kampus Sanata Dharma dan
air perumahan daerah Prambanan. Metode-metode analisis yang digunakan adalah
pengukuran COD, BOD, Derajat Keasaman (pH), dan Uji Bakteriologis.
1. Pengukuran COD
Chemistry Oxygen Demand (COD) merupakan teknik analisis air secara kimia
dengan mengoksidasi kalium dikromat yang dipanaskan dengan asam sulfat pekat.
Dalam hal ini, pengukuran terhadap jumlah oksigen melalui reaksi oksidasi antara
zat pengoksidasi dengan zat organik yang terkandung didalamnya. Prinsip analisis
air menggunakan COD ialah kalium dikromat atau kalium permanganat sebagai
oksidator kuat ditambahkan ke dalam sampel yang telah diberi asam pekat dan
katalis perak sulfat lalu dipanaskan (Barus, 2004).
Pengukuran COD ini menggunakan beberapa larutan, yaitu larutan KMnO4,
larutan H2C2O4, larutan H2SO4, dan larutan Ag2SO4. Dalam percobaan, sampel
ditambahkan dengan asam sulfat dan perak sulfat. Larutan asam sulfat berfungsi
sebagai pemberi suasana asam untuk melangsungkan reaksi oksidasi, sedangkan
larutan perak sulfat berfungsi sebagai katalisator agar reaksi kimia berjalan dengan
cepat. Setelah itu, larutan KMnO4 ditambahkan ke dalam campuran tadi berperan

4
sebagai agen pengoksidasi karena KMnO4 termasuk oksidator kuat. Setelah itu,
campuran dipanaskan di dalam waterbath selama 30 menit. Kegiatan pemanasan ini
akan menghasilkan kalium permanganat yang berlebih. KMnO4 inilah yang
dilanjutkan dengan kegiatan titrasi dengan asam oksalat. Penambahan asam oksalat
ini mengubah warna ungu pada larutan menjadi tidak berwarna. Berikut adalah
persamaan reaksi keduanya (Barus, 2004).
2MnO4 + 5C2O42- + 16H+  2Mn2+ + 10CO2 + 8H2O
Kegiatan titrasi dilakukan hingga titik akhir titrasi tercapai. Hasil percobaan
menunjukkan titik akhir titrasi pada kedua sampel berbeda. Pada sampel A, volume
titik akhir titrasi sebanyak 0,13 mL. Untuk sampel B, volume titik akhir titrasi
sebanyak 0,10 mL. Titik akhir titrasi ini ditandai dengan adanya perubahan warna
dari tidak berwarna menjadi merah muda pucat. Data tersebut digunakan untuk
mengukur nilai COD pada kedua sampel. Sampel A memiliki nilai COD sebesar
123,07 mg/L, sedangkan sampel B memiliki nilai COD sebesar 100 mg/L. Nilai
COD ini melebihi standar baku Indonesia, yakni maksimal nilai COD sebesar 90
mg/L. Hal tersebut menunjukkan adanya kemungkinan zat organik di dalam kedua
sampel. Nilai COD ini diukur menggunakan pengukuran pada sampel kontrol, yaitu
akuades.

Gambar 1. Hasil Titrasi Sampel dengan KMnO4


Adapun beberapa faktor yang dapat mempengaruhi nilai COD ialah oksigen
terlarut (DO), zat organik, dan sumber pencemar lainnya. Kelarutan oksigen dalam
air juga dipengaruhi oleh suhu dan tekanan oksigen dalam atmosfer (Boyd, 1990).
Berdasarkan hasil yang telah didapatkan, nilai COD pada kedua sampel melebih
batas standar baku Indonesia akan nilai BOD.

5
2. Pengukuran BOD
Biology Oxygen Demand (BOD) merupakan salah satu teknik analisis yang
mengukur jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk
menguraikan senyawa organik yang terkandung dalam suatu sampel. Pengukuran
BOD ini menunjukkan bahwa semakin banyak oksigen yang dikonsumsi oleh
mikroorganisme mengindikasikan jumlah kandungan bahan organik yang juga
banyak di dalam air (Kristanto, 2002).
Percobaan ini menggunakan beberapa reagen dalam pembuatan akuades encer,
yaitu larutan buffer fosfat, larutan magnesium sulfat, larutan kalsium klorida, dan
larutan besi klorida. Penggunaan larutan akuades encer ialah untuk mengencerkan
sampel air dan memberikan nutrisi kepada mikroorganismenya agar berkembang
dan membantu proses oksidasi zat organik yang terkandung dalam sampel. Larutan
pengencer ini dicampurkan dengan sampel A dan sampel B. Setelah pencampuran
sampel dengan larutan pengencernya, kedua sampel diukur dengan DO meter untuk
melihat kandungan oksigen yang terlarut didalamnya. Hasil pengukuran
menunjukkan sampel A dan B memiliki masing-masing secara berturut-turut 9,97
mg/L dan 11,39 mg/L. Setelah pengukuran, sampel diinkubasi selama 5 hari. Proses
inkubasi selama 5 hari ini berfungsi untuk memberikan waktu kepada
mikroorganisme menguraikan senyawa organik di dalam sampel. Proses inkubasi
normalnya dilakukan minimal 5 hari dengan perkiraan 75% zat organik telah
diuraikan oleh mikroorganisme. Setelah 5 hari, kedua sampel diuji kembali dengan
DO meter yang menunjukkan terjadi penurunan nilai DO. Pada sampel A, nilai DO
yang diperoleh sebesar 5 mg/L. Sementara sampel B, nilai DO yang didapatkan
sebesar 4,67 mg/L. Penurunan nilai DO ini menunjukkan jumlah oksigen yang
semakin berkurang yang dapat disebabkan oleh mikroorganisme telah menggunakan
oksigen tersebut untuk menguraikan zat kimia di dalam sampel.

Gambar 2. Pengukuran DO Meter terhadap Sampel A dan Sampel B

6
Berdasarkan hasil pengukuran, nilai BOD dari awal hingga hari ke-5
menunjukkan peningkatan aktivitas mikroorganisme dalam mengonsumsi oksigen.
Nilai BOD pada sampel A sebesar 4,97 mg/L, sedangkan pada sampel B sebesar
6,70 mg/L. Pada hari ke-0, nilai BOD sebesar 0 karena belum ada aktivitas
mikroorganisme untuk menguraikan senyawa organik. Namun, pada hari ke-5, nilai
BOD meningkat yang menunjukkan adanya aktivitas mikroorganisme dalam
mengonsumsi oksigen untuk memecahkan zat organik pada kedua sampel.

Nilai BOD pada Sampel A dan Sampel B


8
Nilai BOD (mg/L)

6.7
6
4.97
4

0 0
0 1 2 3 4 5 6
Hari

Sampel A Sampel B

Gambar 3. Grafik Nilai BOD pada Sampel A dan Sampel B


Kedua sampel dengan nilai BOD-nya masing-masing berada dalam rentang
baku mutu nilai BOD, yaitu 75 mg/L (BSN, 2009). Hasil pengukuran pada kedua
sampel menunjukkan nilai BOD yang jauh lebih rendah dari baku mutu.
Berdasarkan analisis BOD ini, sampel A dan B berada dalam tahap yang aman untuk
dikonsumsi. Namun, ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi nilai BOD ini,
seperti berapa lama waktu inkubasi dan suhu inkubasi. Idealnya inkubasi dilakukan
pada suhu 20 ℃. Saat melakukan percobaan terdapat kemungkinan suhu inkubasi
tidak sesuai dengan suhu ideal inkubasinya. Selain itu, waktu inkubasi juga
mempengaruhi nilai BOD karena analisis BOD ini memerlukan waktu yang lama
untuk bisa menguraikan semua zat organik sampai 100%. Berdasarkan hasil
pengamatan, kedua sampel memiliki nilai BOD yang terbilang aman karena masih
jauh di bawah baku mutu Indonesia untuk kandungan BOD dalam air. Menurut
Barus (2004), faktor-faktor yang dapat mempengaruhi BOD adalah kandungan dan
jenis bahan organik, suhu, densitas plankton, oksigen terlarut (DO), nilai pH, dan
keberadaan mikroba.

7
3. Pengukuran pH
Analisis air dapat dilihat dari nilai pH yang mengindikasikan sifat asam atau
basa air tersebut. Nilai pH air berpengaruhi penting terhadap proses-proses biologi
dan kimiawi yang terjadi didalamnya. Nilai pH menjadi parameter kualitas air yang
baik untuk digunakan. Penentuan pH pada air dapat menunjukkan kandungan racun
atau limbah kimia berbahaya bagi makhluk hidup. Pada prinsipnya, pH dapat
menyeimbangkan proporsi kandungan karbondioksida, karbonat, dan bikarbonat
yang terdapat di dalam air (Chapman, 2000).
Pengukuran pH pada sampel menggunakan pH meter yang memiliki tingkat
akurasi lebih tinggi dibandingkan indikator pH lainnya. Untuk hasil pengukuran pH
yang lebih akurat, pH perlu dikalibrasi menggunakan larutan buffer. Adapun 3
larutan buffer yang digunakan, yaitu larutan buffer 4, larutan buffer 7, dan larutan
buffer 10. Dalam pengukuran ini juga digunakan akuades untuk membilas pH meter
setiap pengukuran masing-masing sampel. Hal ini dilakukan untuk mencegah
adanya kontaminan pada sampel yang dapat mempengaruhi nilai pH-nya.
Pengukuran pH dilakukan sebanyak 3 kali pengulangan terhadap sampel A dan
sampel B. Berdasarkan hasil pengukuran, sampel A memiliki pH sebesar 7,2 dan
sampel B memiliki pH sebesar 7,0.
Skala pada pH berada pada rentang 0 – 14, yang menunjukkan sifat asam pada
pH kurang dari 7 dan sifat basa pada pH lebih dari 7. Hal tersebut menunjukkan pH
7 berada pada kondisi netral. Sampel A dan sampel B relatif bersifat netral karena
nilai pH-nya yang berada di daerah pH 7. Sampel A dan sampel B memiliki pH yang
sesuai dengan baku mutu pH air yang baik digunakan oleh masyarakat yang berada
pada rentang 6 – 9 untuk air bersih atau 6 – 8,5 untuk air minum (Hasrianti &
Nurasia, 2016). Nilai pH yang tidak berada pada rentang tersebut menandakan
kualitas air yang tidak baik. Pada pH asam (pH kurang dari 6,5), kualitas air sangat
buruk karena menaikkan sifat korosif pada benda-benda logam di sekitarnya yang
melarut dalam air dan mempengaruhi kesehatan (Sutrisno, 2006).
Ada banyak faktor yang mempengaruhi nilai pH tersebut. Nilai pH yang
bersifat basa dipengaruhi oleh adanya karbonat, bikarbonat, dan hidroksida. Untuk
nilai pH yang bersifat asam, dapat dipengaruhi oleh adanya asam pada mineral bebas
dan asam karbonat. Akibat perubahan pH ini, senyawa kimia yang terkandung dalam

8
air dapat bereaksi menjadi sesuatu yang bersifat racun untuk makhluk hidup
(Mukarromah, 2016).
Berdasarkan percobaan ini, sampel A dan sampel B memiliki baku mutu pH
yang sesuai dan aman untuk digunakan oleh masyarakat. Dari nilai pH yang
didapatkan, menunjukkan tidak adanya senyawa-senyawa kimia yang dapat
mempengaruhi nilai pH tersebut.
4. Uji Kualitas Air Bakteriologis
Selain menguji kandungan kimia, uji kualitas air juga dilakukan untuk
mendeteksi kandungan bakteri di dalam air. Pada percobaan ini, media yang
digunakan untuk mengidentifikasi kandungan bakteri dalam air ialah agar
MacConkey. Prinsip kerja media agar MacConkey ialah menghambat pertumbuhan
bakteri gram positif agar selektif dalam mengisolasi bakteri gram negatif. Agar
MacConkey merupakan media yang disusun oleh karbohidrat (laktosa), garam
empedu, dan netral merah sebagai indikator pH (Juwita dkk., 2014).
Pengujian air bakteriologis dilakukan dengan preparasi agar MacConkey
terlebih dahulu. Bubuk MacConkey sebanyak 30 gram dimasukkan ke dalam 600
mL akuades dan diaduk hingga merata. Setelah itu, agar ini dipanaskan dengan
menggunakan autoclave. Seluruh prosedur yang dilakukan berada dalam keadaan
steril untuk mencegah adanya kontaminan pada sampel. Agar MacConey
didiamkan selama beberapa saat sampai agar telah memadat. Setelah itu, sampel A
dan sampel B ditanam ke dalam agar MacConkey dengan cara mengoleskan sampel
ke atas agar secara hati-hati dan tetap steril. Setelah didiamkan selama beberapa
saat, agar MacConkey yang berwarna ungu diinkubasi selama 24 jam. Agar
MacConkey memiliki kandungan utama berupa laktosa yang menyebabkan hanya
bakteri gram positif yang dapat hidup dan memfermentasi laktosa menjadi asam
laktat. Fermentasi menjadi asam laktat ini menurunkan pH agar MacConkey yang
terlihat dari perubahan warna merah muda menjadi kekuningan. Sampel terbukti
memiliki E. Coli saat agar berwarna merah muda dengan bulatan-bulatan yang
tampak jelas berwarna merah muda juga. Pada percobaan, sampel A dan sampel B
menunjukkan agar MacConkey berwarna agak kekuningan dengan terlihat
beberapa bakteri tak berwarna yang berkoloni. Agar berwarna merah muda saat
bakteri memfermentasi laktosa dengan mengurasi pH di sekitarnya. Untuk agar
berwarna kekuningan dapat disebabkan oleh amonia yang dihasilkan oleh bakteri

9
yang tidak memfermentasi laktosa. Hasil pengamatan ini menunjukkan sampel A
dan sampel B memiliki bakteri yang termasuk golongan koliform (Juwita dkk.,
2014). Agar mackonkey berwarna kuning karena ada bakteri gram negative yang
tidak memfermentasi laktosa (salmonella). Agar mackonkey warna merah mudah,
berarti bakteri gram negative memfermentasi laktosa (Ecoli)

(a) (b)
Gambar 4. Sampel (a) dan sampel (b) pada agar MacConkey

I. Diskusi
1. Selidiki pengaruh polusi air terhadap biosfer.
Polusi air yang dapat disebabkan oleh beberapa faktor dapat mempengaruhi
keadaan biosfer. Hal ini dikarenakan air merupakan sumber pokok untuk seluruh
mahluk hidup di muka bumi. Polusi air dapat berdampak negatif terhadap
lingkungan karena air yang tercemar oleh limbah organik atau bakteri. Seluruh
makhluk hidup yang tinggal di air yang tercemar dapat mati. Siklusnya tidak
berhenti di situ karena makhluk daratan (termasuk manusia) mengonsumsi makhluk
hidup (ikan) yang berasal dari air, sehingga makhluk daratan juga terkena efeknya.
Polusi air juga mempengaruhi hujan yang melalui siklus air, di mana hujan yang
dihasilkan bisa bersifat asam.
2. Selidiki proses dan keterbatasan pengujian air bakteriologis.
Pengujian air bakteriologis menggunakan beberapa metode dalam
menganalisis air. Pada umumnya, pengujian air bakteriologis menggunakan
instrumen disinfeksi kuman. Penggunaan instrumen ini memerlukan ketelitian yang
tinggi untuk mengetahui jenis bakteri yang terkandung dalam sampel (Astuti dkk.,
2014).
3. Pikirkan tentang apa yang perlu anda lakukan untuk mencegah polusi air.

10
Untuk mencegah polusi air, terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan.
Hal-hal yang dapat dilakukan ialah tidak membuang bahan-bahan kimia (deterjen,
sampo, sabun, dan lainnya) ke wastafel atau toilet secara langsung, perbanyak
tanaman di sekitar tempat tinggal, kurangi penggunaan pestisida atau pupuk
anorganik yang berlebihan, dan jangan membuah sampah ke sungai atau perairan
lain.
4. Bagaimana kesimpulan anda tentang kualitas sampel-sampel air yang anda miliki?
Jelaskan!
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan terhadap sampel A dan sampel B,
hasil menunjukkan tidak memiliki kandungan bahan organik yang berbahaya untuk
manusia karena sesuai dengan standar kualitas air yang baik dan layak untuk
dikonsumsi.
J. Simpulan
Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan terhadap sampel air A dan
sampel air B dapat disimpulkan sebagai berikut.
1. Sampel A dan sampel B memiliki nilai COD yang melebih nilai COD baku mutu
Indonesia dengan masing-masing sebesar 123,07 mg/L dan 100 mg/L. Hal ini
menunjukkan adanya kandungan zat organik didalamnya.
2. Sampel A dan sampel B memiliki nilai BOD yang jauh di bawah baku mutu
Indonesia dengan masing-masing sebesar 4,97 mg/L dan 6,70 mg/L. Hasil ini
menunjukkan sampel A dan B tidak memiliki kandungan zat organik dalam air
berdasarkan analisis BOD.
3. Kedua sampel memiliki pH yang sesuai dengan rentang pH air yang aman untuk
masyarakat, di mana masing-masing sampel memiliki nilai pH sebesar 7,2 dan 7,0.
4. Sampel A dan B memiliki kandungan bakteri golongan koliform, tetapi bukan E.
coli karena agar MacConkey mengalami perubahan warna menjadi agak
kekuningan.

11
DAFTAR PUSTAKA

Astuti, S. D., Suhartono., dan Suwondo, A. (2014). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan
Angka Kuma dalam Air Produk Air Minum Isi Ulang di Pemalang. Jurnal Kesehatan
Lingkungan Indonesia. 13(1): 20 – 25.
Badan Standardisasi Nasional. (2009). SNI 6869.72:2009 Cara Uji Kebutuhan Oksigen
Biologi (Biology Oxygen Deman/BOD).
Barus, T. A. (2004). Faktor-Faktor Lingkungan Abiotik dan Keanekaragaman Plankton
sebagai Indikator Kualitas Perairan Danau Toba. Jurnal Manusia dan Lingkungan.
11(2).
Boyd, C. E. (1990). Water Quality in Ponds for Aquaculture, Alabama Agricultural
Experiment Station. Alabama: Alabama University.
Chapman, D. (2000). Water Quality Assesment – A Guide to Use of Biota, Sediments and
Water in Environmental Monitoring. England: Cambridge University Press.
Dwidjoseputro. (2005). Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Djambatan.
Fardiaz, S. (1992). Polusi Air dan Udara. Yogyakarta: Kanisius Press.
Hasrianti dan Nurasia. (2016). Analisis Warna, Suhu, pH, dan Salinitas Air Sumur Bor di
Kota Palopo. Prosiding. 2(1): 744 – 753.
Juwita, U., Haryani, Y., dan Jose, C. (2014). Jumlah Bakteri Coliform dan Deteksi
Echerichia coli pada Daging Ayam di Pekan Baru. JOM FMIPA. 1(2): 48 – 55.
Kristanto, P. (2002). Ekologi Industri. Yogyakarta: Ando Offtest.
Mukkarromah, R. (2016). Analisis Sifat Fisis dalam Studi Kualitas Air di Mata Air Sumber
Asem Dusun Kalijeruk, Desa Siwuran, Kecamatan Garung, Kabupaten Wonosobo.
Skripsi. Universitas Negeri Semarang. Semarang.
Mulyono. (2001). Kamus Kimia. Yogyakarta: Bumi Aksara.
Sutrisno, T. (2006). Teknologi Penyediaan Air Bersih. Jakarta: Rineka Cipta.
Wardhana, W. (2004). Dampak Pencemaran Lingkungan. Yogyakarta: ANDI.

12
LAMPIRAN

1. Perhitungan Nilai COD pada Sampel A dan Sampel B


COD (ppm) = (b - a) x f x (1000/v) x 0,2
a (vol sampel kontrol) = 0,05 mL
Sampel A
5
f =𝑋
5
= 0,13 𝑚𝐿

COD (ppm) = (b - a) x f x (1000/v) x 0,2


5
= (0,13 mL – 0,05 mL) x 0,13 𝑚𝐿 x (1000/5 mL) x 0,2

= 123,07 ppm
Sampel B
5
f =𝑋
5
= 0,10 𝑚𝐿

COD (ppm) = (b - a) x f x (1000/v) x 0,2


5
= (0,10 mL – 0,05 mL) x 0,10 𝑚𝐿 x (1000/5 mL) x 0,2

= 100 ppm

2. Perhitungan Nilai BOD pada Sampel A dan Sampel B


BOD = DO0 – DO5
Sampel A
BOD = DO0 – DO5
= 9,97 mg/L – 5,00 mg/L
= 4,97 mg/L
Sampel B
BOD = DO0 – DO5
= 11,37 mg/L – 4,67 mg/L
= 6,70 mg/L

13
14