Anda di halaman 1dari 3

Nama : Monica Salim

NIM : 1765050354

Program Indonesia Sehat merupakan salah satu program dari Agenda ke-5 Nawa Cita,
yaitu Meningkatkan Kualitas Hidup Manusia Indonesia. Program ini didukung oleh program
sektoral lainnya yaitu Program Indonesia Pintar, Program Indonesia Kerja, dan Program
Indonesia Sejahtera. Program Indonesia Sehat selanjutnya menjadi program utama
Pembangunan Kesehatan yang kemudian direncanakan pencapaiannya melalui Rencana
Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2015-2019, yang ditetapkan melalui Keputusan
Menteri Kesehatan R.I. Nomor HK.02.02/Menkes/ 52/2015.

Sasaran dari Program Indonesia Sehat adalah meningkatnya derajat kesehatan dan
status gizi masyarakat melalui upaya kesehatan dan pemberdayaan masyarakat yang didukung
dengan perlindungan finansial dan pemerataan pelayanan kesehatan. Sasaran ini sesuai dengan
sasaran pokok RPJMN 2015-2019, yaitu: (1) meningkatnya status kesehatan dan gizi ibu dan
anak, (2) meningkatnya pengendalian penyakit, (3) meningkatnya akses dan mutu pelayanan
kesehatan dasar dan rujukan terutama di daerah terpencil, tertinggal dan perbatasan, (4)
meningkatnya cakupan pelayanan kesehatan universal melalui Kartu Indonesia Sehat dan
kualitas pengelolaan SJSN kesehatan, (5) terpenuhinya kebutuhan tenaga kesehatan, obat dan
vaksin, serta (6) meningkatnya responsivitas sistem kesehatan.

Program Indonesia Sehat dilaksanakan dengan menegakkan tiga pilar utama, yaitu: (1)
penerapan paradigma sehat, (2) penguatan pelayanan kesehatan, dan (3) pelaksanaan jaminan
kesehatan nasional (JKN). Penerapan paradigma sehat dilakukan dengan strategi
pengarusutamaan kesehatan dalam pembangunan, penguatan upaya promotif dan preventif,
serta pemberdayaan masyarakat. Penguatan pelayanan kesehatan dilakukan dengan strategi
peningkatan akses pelayanan kesehatan, optimalisasi sistem rujukan, dan peningkatan mutu
menggunakan pendekatan continuum of care dan intervensi berbasis risiko kesehatan.
Sedangkan pelaksanaan JKN dilakukan dengan strategi perluasan sasaran dan manfaat
(benefit), serta kendali mutu dan biaya. Kesemuanya itu ditujukan kepada tercapainya
keluarga-keluarga sehat.

Program PIS-PK ini dilaksanakan secara bertahap, yang diawali pada 2016 di 9
provinsi, 64 kabupaten/kota, 470 puskesmas. Selanjutnya pada 2017 ini PIS-PK dilaksanakan
di 34 provinsi, 514 kabupaten/kota dengan tahapan 2.926 puskesmas, tahun depan (2018)
menjangkau 5.852 puskesmas, dan pada 2019 nanti bisa dilaksanakan di seluruh puskesmas.
Jumlah puskesmas yang melaksanakan PIS-PK di Aceh pada 2017 ini mencapai 213
puskesmas atau sekitar 63% dari total puskesmas yang ada di provinsi ini. Karena itu, kami
sangat berharap agar pelaksanaan PIS-PK di Aceh dapat berjalan dengan optimal 5, sehingga
memiliki daya ungkit untuk mencapai standar pelayanan minimal bidang kesehatan di wilayah
tersebut.
PIS-PK menetapkan 12 indikator utama sebagai penanda status kesehatan sebuah keluarga. PIS
merupakan prioritas pembangunan kesehatan pada periode 2015-2019 dan sebagai tindak
lanjutnya telah terbit Permenkes No.39 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyelenggaraan PIS-
PK. Ke-12 indikator keluarga sehat tersebut, yaitu: (1) keluarga mengikuti program Keluarga
Berencana (KB); (2) Ibu melakukan persalinan di fasilitas kesehatan; (3) Bayi mendapat
imunisasi dasar lengkap;
(4) Bayi mendapat Air Susu Ibu (ASI) eksklusif; (5) Balita mendapatkan pemantauan
pertumbuhan; (6) Penderita tuberculosis paru mendapatkan pengobatan sesuai standar; (7)
Penderita hipertensi melakukan pengobatan secara teratur; (8) Penderita gangguan jiwa
mendapatkan pengobatan dan tidak diterlantarkan; (9) Anggota keluarga tidak ada yang
merokok; (10) Keluarga sudah menjadi anggota Jaminan Kesehatan Nasional (JKN); (11)
Keluarga mempunyai akses sarana air bersih, dan; (12) Keluarga menggunakan jamban sehat.
Keluarga merupakan komponen penting dalam upaya pencegahan penyakit selain peran dari
kualitas lingkungan dan sarana serta prasarana kesehatan. Keluarga juga merupakan tempat
pertama kali kehidupan sosial dan pendidikan didapatkan oleh anak, termasuk pendidikan
terkait kesehatan. Perilaku hidup sehat yang didapatkan sejak dini akan memicu kesadaran
terhadap pentingnya kesehatan baik di keluarga maupun masyarakat. Mengingat betapa
pentingnya peran keluarga dalam mewujudkan masyarakat yang sehat sehingga muncul
program PIS-PK.
Pelatihan keluarga sehat ini sudah dilakukan di sembilan kabupaten/kota dari 23
kabupaten/kota di Aceh. Pelatihan pada gelombang kali ini diikuti 90 orang peserta pelatihan,
yang mewakili 18 puskesmas dari Kabupaten Pidie dan Bireuen. Pelatihan keluarga sehat
merupakan sarana yang sangat penting dalam mewujudkan keberhasilan pelaksanaan maupun
pencapaian target PIS dengan pendekatan keluarga.
Dalam menjalankan kebijakan PIS-PK, puskesmas sebagai ujung tombak melakukan
kegiatan-kegiatan yang terstruktur meliputi persiapan; kunjungan rumah untuk pendataan
kesehatan keluarga, analisa data, intervensi, dan analisa hasil intervensi. Kegiatan-kegiatan
tersebut dilaksanakan terintegrasi dengan manajemen puskesmas yang meliputi P1
(Perencanaan), P2 (Penggerakan-Pelaksanaan), dan P3 (Pengawasan-Pengendalian-Penilaian).
Dari hasil kunjungan rumah dan analisa data, kita akan memperoleh gambaran kesehatan di
keluarga, dan seterusnya di desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi sampai pada tingkat
nasional.
Program ini diawali dengan pendataan seluruh keluarga menggunakan formulir Profil
Kesehatan Keluarga (Prokesga) dan Paket Informasi Kesehatan Keluarga (Pinkesga). Data
tersebut, selanjutnya digunakan untuk penyusunan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi di
tingkat puskesmas. Dalam pelaksanaannya keluarga akan dibina oleh kader atau pertugas
kesehatan dari puskesmas melalui penyuluhan dan kegiatan lainnya.

Monitoring dan evaluasi

Puskesmas sebagai penentu keberhasilan dari program PIS-KIS tentang Peraturan Menteri
Kesehatan (Permenkes) RI No.39 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyelenggaraan PIS-PK,
pemerintah telah menetapkan bahwa pelaksana dari program ini adalah pusat kesehatan
masyarakat (puskesmas). Puskesmaslah ujung tombak dan penentu keberhasilan program ini.
Pelaksanaannya melalui pendekatan upaya promotif dan preventif tanpa mengabaikan upaya
kuratif dan rehabilitatif.
Monitoring serta evaluasi dari program ini dapat langsung dilihat dari puskesmas yang sudah
mengimplementasikan program PIS-PK, dengan berbagai cara untuk mengevaluasi program
ini sehingga ke depan program ini dapat berjalan dengan baik. Analisis program ini baiknya
ditinjau langsung oleh Dinas Kesehatan Provinsi Aceh agar dapat melihat sejauh mana
program PIS-PK berjalan. Dapat dilakukannya monitoring dan evaluasi melalui survei
lapangan langsung ke puskesmas-puskesmas yang sudah menjalankan program ini, melakukan
pendataan jumlah kunjungan puskesmas ke keluarga, dan melakukan FGD kepada tim atau
koordinator program PIS-PK di masing-masing puskesmas.
Ke depan, puskesmas sebagai ujung tombak dari pelayanan kesehatan milik pemerintah, harus
lebih proaktif lagi dalam melaksanakan program-program kesehatannya. Program preventif
dan promotif harus kembali digalakkan. Melalui pendekatan keluarga, diharapkan puskesmas
dapat menangani masalah-masalah kesehatan individu secara siklus hidup (life cycle).
Ini artinya penanganan masalah kesehatan dilakukan sejak fase dalam kandungan, proses
kelahiran, tumbuh kembang masa bayi-balita, usia sekolah dasar, remaja, dewasa sampai usia
lanjut. Fokusnya adalah pada kesehatan individu-individu dalam keluarga. Hal ini sesuai
dengan Rencana Strategis Kementerian Kesehatan RI Tahun 2015-2019, di mana penerapan
pelayanan kesehatan harus terintegrasi dan berkesinambungan