Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Infeksi nasokomial saat ini merupakan salah satu penyebab meningkatnya
angka kesakitan (morbidiity) dan angka kematian (mortality) di rumah sakit
sehingga dapat menjadi masalah kesehatan baru, baik di negara berkembang
maupun di negara maju (Darmadi, 2008). Infeksi nosokomial merupakan infeksi
yang didapat pasien setelah 3x24 jam setelah dilakukan perawatan di rumah sakit.
Salah satu jenis infeksi nosokomial yang sering terjadi adalah Infeksi Saluran
Kemih (ISK). Infeksi nosokomial saluran kemih paling sering disebabkan oleh
pemasangan kateter yaitu sekitar 40%. Dalam beberapa studi prospek, telah
dilaporkan bahwa tingkat ISK yang berhubungan dengan pemasangan kateter
berkisar antara 9% - 23%. Menurut literatur lain didapatkan pemasangan kateter
mempunyai dampak terhadap 80% terjadinya ISK (Heather M, Hannie G, 2001).
Pada negara-negara berkembang termasuk Indonesia, kejadian infeksi
nosokomial jauh lebih tinggi. Menurut penelitian yang dilakukan pada 2 kota
besar di Indonesia didapatkan angka kejadian infeksi nosokomial sekitar 39%-
60%. Pada negara-negara berkembang tingkat kejadian infeksi nosokomial begitu
tinggi. Hal ini disebabkan karena kurangnya pengawasan, praktek pencegahan
yang buruk, dan begitu banyaknya jumlah pasien yang dirawat (Sumaryono.
2005).
Di rumah sakit sering kali dilakukan pemasangan kateter urethra pada
kasus-kasus adanya retensi urin baik yang disebabkan trauma ataupun non trauma.
Kateter yang terpasang pada pasien bila tidak dilakukan perawatan yang baik
dapat menyebabkan pertumbuhan bakteri dan menimbulkan infeksi nosokomial
berupa ISK. Hal inilah yang membuat peneliti untuk melihat pola variasi bakteri

1
2

pada pasien dengan pemasangan kateter urethra di Rumah Sakit Umum Anutapura
Palu.

B. Rumusan Masalah
Bedasarkan latar belakang di atas, maka dirumuskan suatu permasalahan
yaitu jenis bakteri apa saja yang terdapat pada urin pasien yang menggunakan
kateter urethra di Rumah Sakit Umum Anutapura Palu.

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai
adalah mengetahui berbagai variasi bakteri yang terdapat pada urin pasien
yang menggunakan kateter urethra di Rumah Sakit Umum Anutapura Palu.

2. Tujuan khusus
a. Untuk mengetahui frekuensi bakteri urin pada pasien yang
menggunakan kateter urethra
b. Untuk mengetahui variasi bakteri pada pasien yang menggunakan
kateter urethra berdasarkan jenis penyakit yang sedang diderita pasien
c. Untuk mengetahui variasi bakteri pada pasien yang menggunakan
kateter urethra berdasarkan jenis kelamin
d. Untuk mengetahui variasi bakteri pada pasien yang menggunakan
kateter urethra berdasarkan usia

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi peneliti
a. Dapat mengaplikasikan ilmu yang didapatkan pada saat kuliah ke
dalam praktek lapangan, dengan demikian dapat menambah
pengalaman peneliti.
3

b. Dapat memperoleh pengalaman belajar dan pengetahuan dalam


melakukan penelitian di bidang kesehatan, sehingga dapat menambah
wawasan peneliti.
2. Bagi instansi kesehatan
a. Dapat mengetahui langkah pencegahan penyebab dari infeksi
pemasangan kateter urethra tersebut.
b. Dapat sebagai data penunjang untuk Rumah Sakit Anutapura Palu
dalam meningkatkan pelayanannya kepada masyarakat.
3. Bagi pendidikan
Untuk bidang pendidikan, penelitian ini dapat menjadi salah satu bahan
referensi untuk penelitian selanjutnya.

E. Keaslian Penelitian
Penelitian tentang karakteristik variasi mikroba pada urin pasien yang
menggunakan kateter urethra telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya.
Menurut Hardi Hasibuan (2008), dalam penelitian tentang pola kuman pada urin
penderita yang menggunakan kateter urethra di ruang perawatan intensif dan
bangsal bedah. Penelitian tersebut menggunakan pendekatan cross sectional yang
dilakukan pada 40 subjek penelitian pada keleompok perawatan intensif dan 40
subjek penelitian pada bangsal bedah di rumah sakit H Adam Malik dengan kurun
waktu Maret 2007 sampai Juni 2007. Hasilnya dijumpai 11 subjek penelitian pada
kelompok bangsal bedah dan 6 subjek penelitian pada kelompok ruang perawatan
intensif yang mengalami ISK. Bila dinyatakan dalan persen maka didapatkan
27,5% subjek penelitian mengalami ISK pada kelompok bangsal bedah dan 15%
subjek penelitian pada kelompok ruang perawatan intensif. Diperlihatkan 7
spesimen kuman pada kelompok bangsal bedah dan 3 spesies kuman pada
kelompok ruang perawatan intensif. Penyebab ISK terbanyak adalah oleh
Staphylococcus epidermis (35,2%) diikuti oleh Staphylococcus aureus (23,5%)
dan Escherechia coli (17,7%).
4

Melisa et al (2014) menjelaskan dalam penelitiannya tentang pola bakteri


pada urin pasien yang menggunakan kateter urethra di ruang perawatan intensif
RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado bahwa penelitian ini bersifat prospektif
dan dilakukan menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan cross-sectional
untuk mendapatkan gambaran bakteri pada urin pasien yang menggunakan kateter
di ruang perawatan intensif RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Penelitian ini
dilakukan pada periode Desember 2013 sampai Januari 2014. Penelitian
menggunakan 20 sampel urin yang diambil dari pasien berusia >18 tahun yang
menggunakan kateter di ruang perawatan intensif RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou
Manado. Hasil dari penelitian ini menunjukan pola bakteri yang berhasil
diidentifikasi yakni Staphylococcus aureus, Candida, Streptococcus, Diplococcus,
Proteus vulgaris, Lactobacillus, Bacillus subtilis, Enterobacter aglomerans,
Citrobacter freundii dan Shigella.
Jemmi et al (2014) dalam penelitiannya dengan judul pola bakteri pada urin
pasien yang menggunakan kateter urethra di instalasi rawat inap RSUP Prof. Dr.
R. D. Kandou Manado. Menjelaskan bahwa penelitiannya bersifat prospektif dan
dilakukan menggunakan metode deskriptif. Penelitian ini dilakukan pada periode
November 2013 sampai Januari 2014. Penelitian menggunakan 20 sampel urin.
Hasil penelitian memperlihatkan umur 61-70 tahun merupakan insidensi tertinggi.
Jumlah sampel laki-laki dengan bakteriuria lebih banyak dibandingkan
perempuan. Bakteri yang paling sering ditemukan adalah Escherichia coli,
Enterococcus, Klebsiella, Pseudomonas, Proteus, dan Enterobacter.
Penelitian yang akan dilakukan dengan judul “pola variasi bakteri pada
pasien yang menggunakan kateter urethra di ruang perawatan garuda Rumah Sakit
Anutapura Palu”, hampir memiliki kesamaan dengan desain penelitian
sebelumnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif. Perbedaan
penelitian terletak pada tujuan penelitian, waktu penelitian, tempat penelitian,
sampel penelitian. Sehingga keaslian penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Telaah Pustaka
1. Infeksi Saluran Kemih
a. Definisi
Infeksi saluran kemih (ISK) adalah keadaan klinis akibat
berkembangnya mikroorganisme yang menyebabkan inflamasi pada
saluran kemih dan menimbulkan bakteriuria (105 colony forming
units/ml) (Mangatas SM, 2004).
b. Sistem Saluran Kemih

Sistem saluran kemih adalah suatu sistem dimana terjadinya


proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak
dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih
dipergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh
larut dalam air dan dikeluarkan berupa urin (air kemih). Sistem
saluran kemih terdiri dari ginjal, ureter, kandung kemih (vesika
urinaria) dan urethra. Sistem saluran kemih pada manusia dapat dilihat
pada gambar berikut: (Snell R, 2006)

Gambar 2.1 Sistem saluran kemih pada manusia


Sumber: Snell (2006: 279)
5
6

a. Ginjal (Ren)
Ginjal terletak pada dinding posterior di belakang
peritoneum pada kedua sisi vertebra torakalis ke-12
sampai vertebra lumbalis ke-3. Bentuk ginjal seperti biji
kacang. Ginjal kanan sedikit lebih rendah dari ginjal kiri,
karena adanya lobus hepatis dextra yang besar. Fungsi
ginjal adalah memegang peranan penting dalam
pengeluaran zat-zat toksis atau racun, mempertahankan
suasana keseimbangan cairan, mempertahankan
keseimbangan kadar asam dan basa dari cairan tubuh, dan
mengeluarkan sisa-sisa metabolisme akhir dari protein
ureum, kreatinin dan amoniak (Snell R, 2006).
b. Ureter
Terdiri dari 2 saluran pipa masing-masing
bersambung dari ginjal ke vesika urinaria. Panjangnya
±25-34 cm, dengan penampang 0,5 cm. Ureter sebagian
terletakpada rongga abdomen dan sebagian lagi terletak
pada rongga pelvis. Lapisan dinding ureter menimbulkan
gerakan-gerakan peristaltik yang mendorong urin masuk
ke dalam kandung kemih. Pada laki-laki ureter memasuki
cavitas pelvis dengan menyilang bifurcatio arteria iliaca
communis di depan articulatio sacroiliaca. Selanjutnya
masing-masing ureter berjalan ke bawah pada dinding
lateral pelvis di depan arteri iliaca interna ke regio spina
ischiadica dan berbelok ke depan untuk masuk sudut
lateral vesica urinari. Dekat di bagian terminal, ureter
disilang oleh ductus deferens. Sedangkan pada wanita
ureter berjalan ke bawah dan belakang di depan arteria
iliaca interna dan di belakang ovarium sampai ureter
mencapai spina ischiadica kemudian ureter berjalan ke
7

depan, lateral terhadap fornix vaginae pars lateralis dan


selanjutnya masuk ke vesica urinaria (Snell R, 2006).
c. Vesica Urinaria
Kandung kemih adalah kantong yang terbentuk dari
otot tempat urin mengalir dari ureter. Ketika kandung
kemih kosong atau terisi setengahnya kandung kemih
tersebut terletak di dalam pelvis, ketika kandung kemih
terisi lebih dari setengahnya maka kandung kemih tersebut
menekan dan timbul ke atas dalam abdomen di atas pubis.
Dinding kandung kemih terdiri dari lapisan sebelah luar
(peritonium), tunika muskularis (lapisan otot), tunika
sabmukosa, dan lapisan mukosa (lapisan bagian dalam).
Pada laki-laki, vesica urinaria terletak tepat di belakang
pubis karena terdapat prostat. Sedangkan vesica urinaria
pada perempuan terletak lebih rendah di bandingkan
dengan vesica urinari pada pelvis laki-laki, dan collum
vesicae terletak langsung di facies superior diaphragma
urogenital (Snell R, 2006).
d. Urethra
Bagian akhir saluran keluar yang menghubungkan
kandung kemih dengan luar tubuh ialah urethra. Urethra
pria sangat berbeda dari urethra wanita. Pada laki-laki,
sperma berjalan melalui urethra waktu ejakulasi. Urethra
pada laki-laki merupakan tuba dengan panjang kira-kira
20 cm dan memanjang dari kandung kemih ke ujung
penis. Urethra pada laki-laki mempunyai tiga bagian yaitu:
urethra prostatika, urethra membranosa dan urethra
spongiosa. Urethra wanita jauh lebih pendek daripada pria,
karena hanya 4 cm panjangnya dan memanjang dari
kandung kemih ke arah ostium diantara labia minora kira-
8

kira 2,5 cm di sebelah belakang klitoris. Urethra ini


menjalar tepat di sebelah depan vagina. Lapisan urethra
wanita terdiri dari tunika muskularis (sebelah luar), lapisan
spongiosa dan lapisan mukosa (lapisan sebelah dalam)
(Snell R, 2006).

c. Etiologi
Pada keadaan normal urin adalah steril. Umumnya ISK
disebabkan oleh kuman gram negatif. Escherichia coli merupakan
penyebab terbanyak baik pada yang simtomatik maupun yang
asimtomatik yaitu 70 - 90%. Enterobakteria seperti Proteus mirabilis
(30 % dari infeksi saluran kemih pada anak laki-laki tetapi kurang dari
5 % pada anak perempuan ), Klebsiella pneumonia dan Pseudomonas
aeruginosa dapat juga sebagai penyebab. Organisme gram positif
seperti Streptococcus faecalis (enterokokus), Staphylococcus
epidermidis dan Streptococcus viridans jarang ditemukan. Pada
uropati obstruktif dan kelainan struktur saluran kemih pada anak laki-
laki sering ditemukan Proteus species. Pada ISK nosokomial atau ISK
kompleks lebih sering ditemukan kuman Proteus dan Pseudomonas
(Lumbanbatu SM, 2003).
Tabel 2.1 Etiologi ISK di Indonesia (Mangatas SM, 2004)
Bakteri Frekuensi (%)
Escherichia coli 29,4
Proteus mirabilis 17,6
Alkaligenes faecalis 14,7
Cytrobacter freundii 14,7
Pseudomonas aeruginosa 11,8
Klebsiella pneumoniae 8.8
Serratia marcescens 2.9
9

d. Patogenesis
Patogenesis bakteriuria asimtomatik dengan presentasi klinis
ISK tergantung dari patogenitas dan status pasien sendiri (host).
Mikroorganisme dapat memasuki saluran kemih melalui cara:
ascending, hematogen, limfogen dan langsung dari organ sekitar yang
mengalami infeksi (Purnomo BB, 2003).
Pada instrumensi kateter urethra, ISK yang terjadi akibat
ascending mikroorganisme dari kantong penampung urin ke dalam
kandung kemih dan kemampuan dari beberapa mikroorganisme yang
berkembang dan tumbuh pada permukaan luar dan dalam dari kateter
urethra (Wilson, W. 2001).
Kateter urethra merupakan target berkembangnya formasi
biofilm permukaan luar dan dalam dari kateter memberikan keadaan
yang menguntungkan untuk melekatkan mikroorganisme. Penggunaan
antibiotik sistemik mungkin tidak dapat mencegah terjadinya formasi
biofilm (Conway et al, 2010).
Tata cara pemasangan kateter dengan teknik aseptik dan
atraumatik merupakan syarat mutlak untuk tindakan ini agar infeksi
yang mungkin terjadi dapat dicegah. Meskipun sedemikian
sempurnanya cara pemasangan kateter, infeksi masih bisa saja terjadi
sebesar 2% pada penggunaan kateter pertama kali. 10% pada
penggunaan berulang dan 95-100% pada penggunaan menetap (Staf
pengajar FK-UGM, 2013).

e. Diagnosa
Diagnosa ISK dibuat berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan
fisik dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan yang penting ialah
biakan urin sebagai baku emas diagnosa. Pemeriksaan biakan urin
diindikasikan pada penderita dengan tanda dan gejala ISK, pasien
10

dengan instrumensasi saluran kemih terutama kateterisasi urethra, dan


pasien dengan nefrapati atau uropati obstruksi (Mangantas SM, 2004).

2. Kateterisasi urethra
a. Definisi
Kateterisasi urin adalah penyisipan kateter ke dalam kandung
kemih pasien yang digunakan di Rumah Sakit untuk mempertahankan
proses pengeluaran urin pada pasien yang menjalani operasi, pasien
yang sakit kritis, pasien yang terbatas pada tempat tidur dan
merupakan pilihan pengobatan untuk pasien dengan beberapa jenis
inkontinensia urin termasuk retensi urin dan obstruksi kandung kemih
(Better Health Channel, 2012).
b. Jenis-jenis Kateter
Pemasangan kateter dengan dapat bersifat sementara atau
menetap. Pemasangan kateter sementara atau intermiten catheter
(Straight kateter) dilakukan jika pengosongan kandung kemih
dilakukan secara rutin sesuai dengan jadwal, sedangkan pemasangan
kateter menetap atau indwelling catheter (folley kateter) dilakukan
apabila pengosongan kateter dilakukan secara terus menerus (Hidayat
A, 2006).
1) Kateter sementara (straight catheter)
Pemasangan kateter sementara dilakukan dengan cara kateter
lurus yang sekali pakai dimasukkan sampai mencapai kandung
kemih yang bertujuan untuk mengeluarkan urin. Tindakan ini
dapat dilakukan selama 5 sampai 10 menit. Pada saat kandung
kemih kosong maka kateter kemudian ditarik keluar,
pemasangan kateter intermitten dapat dilakukan berulang jika
tindakan ini diperlukan, tetapi penggunaan yang berulang
meningkatkan resiko infeksi (Potter dan Perry, 2005).
Pemasangan kateter sementara dilakukan jika tindakan untuk
11

mengeluarkan urin dari kandung kemih pasien dibutuhkan. Efek


samping dari penggunaan kateter ini berupa pembengkakan pada
urethra, yang terjadi saat memasukkan kateter dan dapat
menimbulkan infeksi (Wagenlehner et al, 2011).
2) Keteter menetap (foley catheter)
Kateter menetap digunakan untuk periode waktu yang lebih
lama. Kateter menetap ditempatkan dalam kandung kemih untuk
beberapa minggu pemakaian sebelum dilakukan pergantian
kateter. Pemasangan kateter ini dilakukan sampai pasien mampu
berkemih dengan tuntas dan spontan atau selama pengukuran
urin akurat dibutuhkan. Kateter menetap terdiri atas foley kateter
(double lumen) dimana satu lumen berfungsi untuk mengalirkan
urin dan lumen yang lain berfungsi untuk mengisi balon dari
luar kandung kemih. Tipe triple lumen terdiri dari tiga lumen
yang digunakan untuk mengalirkan urin dari kandung kemih,
satu lumen untuk memasukkan cairan ke dalam balon dan lumen
yang ketiga dipergunakan untuk melakukan irigasi pada
kandung kemih dengan cairan atau pengobatan (Potter dan
Perry, 2005)

Gambar 2.2 Jenis-jenis kateter


Sumber: Conway (2010)

c. Indikasi dan kontraindikasi pemasangan kateter


Kateterisasi sementara digunakan pada penatalaksanaan jangka
panjang pasien yang mengalami cidera medulla spinalis, degenerasi
12

neuromuscular, atau kandung kemih yang tidak kompeten,


pengambilan spesimen urin steril, pengkajian residu urin setelah
pengosongan kandung kemih dan meredakan rasa tidak nyaman akibat
distensi kandung kemih (Perry dan Potter, 2005). Kateterisasi
sementara diindikasikan pada pasien yang tidak mampu berkemih 8-
12 jam setelah operasi, retensi akut setelah trauma urethra, tidak
mampu berkemih akibat obat sedatif atau analgesik, cedera pada
tulang belakang, degerasi neuromuscular secara progresif dan
pengeluaran urin residual. Kateterisasi menetap (foley Catheter)
digunakan pada pasien paskaoperasi urethra dan struktur di sekitarnya,
obstruksi aliaran urin, obstruksi urethra, dan pada pasien disorientasi
berat (Hidayat A, 2006).
Kateterisasi kandung kemih khususnya kateterisasi urethra tidak
boleh dilakukan pada penderita yang mengalami cedera urethra dan
atau pasien yang mampu untuk berkemih spontan (Brunner dan
Suddarth, 2002).
3. Bakteri
a. Definisi
Bakteri adalah salah satu golongan organisme prokariotik (tidak
mempunyai selubung inti). Bakteri sebagai makhluk hidup tentu
memiliki informasi genetik berupa DNA, tapi tidak terlokalisasi dalam
tempat khusus (nukleus) dan tidak ada membran inti. DNA pada
bakteri berbentuk sirkuler, panjang dan biasa disebut nukleoid. DNA
bakteri tidak mempunyai intron dan hanya tersusun atas ekson saja.
Bakteri juga memiliki DNA ektrakromosomal yang tergabung
menjadi plasmid yang berbentuk kecil dan sirkuler (Jawetz, 2007).
b. Klasifikasi Bakteri
Bakteri diklasifikasikan sebagai tanaman perimitif karena:
mempunyai dinding sel seperti tanaman, beberapa jenis bakteri dan
semua bakteri hijau bersifat fotosintetik. Bakteri, fungi, dan algae
13

ditempatkan dalam suatu kingdom yang disebut prokariota, sementara


binatang dan tumbuhan masuk dalam kingdom eukariota. Terdapat
beberapa cara penggolongan bakteri diantaranya berdasarkan dinding
sel bakteri dan morfologi bakteri (Gani A, 2008)
1) Dinding sel
Dinding se bakteri relatif kuat, sehingga dapat mempertahankan
bentuk bakteri itu sendiri, walaupun tekanan osmotiknya tinggi,
sel bakteri tidak pecah. Dalam garis besarnya didnding sel
bakteri dikelompokkan kedalam 2 jenis yaitu:
a) Dinding sel gram positif
Lapisan peptidoglikan sangat tebal yang terdiri dari rantai
polisakarida biasanya N-acetyl-D-glucosamine (NAG) dan
N-acetyl – D- muramic acid (NAM). Komponen lain dari
dinding sel gram positif adalah teochoic acid dan
lipoteichoic acid, dimana kedua komponen ini merupakan
hal yang unik bagi dinding sel gram positif. Misalnya
bakteri Micrococcus, Staphylococcus, Leuconostoc,
Pediococcus dan Aerococcus (Gani A, 2008).
b) Dinding sel gram negatif
Terdiri dari 2 lapisan, bagian dalam adalah lapisan
peptidoglikan yang lebih tipis dari dinding sel gram
positif, bagian dalam sebelum murein terdapat periplasmic
space yang tidak dimiliki oleh bakteri gram positif,
sedangkan lapisan bagian luar terdiri dari protein dan
lipopolisakarida. Misalnya bakteri Escherichia,
Citrobacter, Salmonella, Shigella, Enterobacter, Vibrio,
Aeromonas, Photobacterium, Chromabacterium,
Flavobacterium (Gani A, 2008).
Disamping itu ada sekelompok bakteri misalnya Mycobacterium
sp yang mempunyai dinding sel yang tahan asam, karena adanya
14

lapisan lilin dari glukolipid dan asam mikolat yang tersusun bagian
luar dari dinding selnya, sehingga berwarna merah pada pengecatan
Ziehl Neelsen (Gani A, 2008).
2) Morfologi bakteri
a) Kokus (coccus)
Ada coccus yang berdiri sendiri (Micrococcus), ada yang duduk
berdua berpasangan dan berbentuk biji kopi atau diplococcus (N.
Gonorrhoeae), ada yang berbentuk seperti rantai (streptococcus)
dan ada pula yang bergerombol seperti buah anggur
(Staphylococcus) (Gani A, 2008).
b. Batang (basil)
Bakteri yang berbentuk batang bermacam-macam, mulai dari
yang paling pendek/ coccobacilli (Gardnerella), sel bakteri
basil tunggal. (Eschericcia coli), bentuk batang dengan
bermacam-macam bentuk dan ukuran (Salmonella, Shigella),
batang dengan ujung yang lancip (Fusiformis) (Gani A, 2008).
c) Spirokhaeta (spiral)
Berbentuk spiral halus, elastis dan fleksibel sehingga dapat
bergerak dengan aksial filamen. Bentuk sel bergelombang,
misalnya Thiospirillopsis floridina. Bentuk sel seperti tanda
baca koma , misalnya Vibrio cholera. Bentuk sel seperti sekrup,
misalnya Treponema pallidum (Gani A, 2008).
c. Identifikasi bakteri
Dalam laboratorium, bakteri dikembangkan melalui dua metode,
solid dan liquid. Media pertumbuhan solid seperti piring agar
digunakan untuk mengisolasi kultur murni dari bakteri yang
diinginkan. Jika kita menginginkan biakan dalam jumlah yang besar,
maka kita bisa menggunakan metode liquid. Dalam media
pertumbuhan ini, sel biakan dapat dengan mudah berkembang biak
(membelah diri) dibandingkan dengan media solid, meskipun cukup
15

sulit (Sacher, 2004). Adapun metode dalam melakukan indentifikasi


bakteri adalah:
1) Pewarnaan
Prinsip kerja reaksi gram adalah berdasarkan atas
pewarnaan pada sel. Sifat zat warna yang digunakan terdiri atas
garam-garam. Zat warna asam tidak mewarnai sel-sel,
sedangkan zat warna basa akan mewarnai secara merata. Prinsip
kerja pewarnaan gram tersebut adalah sebagai berikut: (Hasyim,
2005).
a. Rekatkan sediaan dengan pemanasan di atas api.
b. Tutupi sediaan dengan kristal ungu selama satu menit.
c. Cuci dengan air dan jangan menggunakan kertas/tissue
untuk mengeringkannya. Biarkan saja sehingga kering
dengan sendirinya.
d. Tutupi/tetesi dengan iodium selama satu menit.
e. Cuci lagi, dengan cara seperti pada no.3.
f. Hilangkan warna dengan menggerak-gerakkan secara hati-
hati dalam campuran aceton (30%) dan alkohol (70%)
selama 10 sampai dengan 30 detik.
g. Cuci lagi, dengan cara seperti pada no.3.
h. Tutup dengan safranin (25%) dalam alkohol selama 10
sampai dengan 30 detik.
i. Kemudian dicuci dengan air.

Klasifikasi bakteri berdasarkan gram merupakan hasil dari


pewarnaan yang ditunjukkan, dari hasil akhir : apabila hasil
akhir menunjukkan warna biru keunguan, berarti bakteri
tersebut adalah gram positif (+), dan apabila dari hasil akhir
menunjukkan warna merah, berarti bakteri tersebut adalah gram
16

negatif (-). Jadi dapat diklasifikasikan sebagai berikut (Hasyimi,


2010).
Tabel 2.2 Bakteri Berdasarkan Bentuk dan Pewarnaan Gram
Sumber: Hasyimi (2010: 26)
Gram Gram
Bentuk
Positif Negatif Contoh
Staphylococcus
+ Streptococcus

Cocci Pneumococcus

Neisseria gonorrhoeae
-
Neisseria meningitides

Corynebacterium diphteriae
Bacillus anthraxis
Clostridium
+
Mycobacterium
tuberculosae
Mycobacterium leprae

Pseudomonas
Basil Proteus
Salmonella
Shigella

- Escherichia
Haemophilus
Spirochaeta
Treponema pallidum
Leptopspira
17

2) Media untuk pertumbuhan bakteri


Media atau perbenihan adalah bahan yang digunakan untuk
perkembangbiakan bakteri di laboratorium secara invitro.
Adapun perbenihan yang digunakan dilaboratorium adalah:
(Gani A, 2008)
a) Nutrient media
Adalah perbenihan yang lebih kompleks karena telah
ditambahkan ekstrak daging atau bahan tertentu
kedalamnya, misalnya Nutrient broth dan Trypticase soy
broth
b) Ecriched media (Supported media)
Perbenihan ini telah ditambahkan faktor-faktor
pertumbuhan seperti darah, vitamin, ekstrak ragi dll,
sehingga bakteri yang sulit ditumbuhakan dapat dibiak
pada perbenihan ini, misalnya: agar darah dan agar coklat.
c) Selective media
Pada Perbenihan ini hanya bakteri tertentu yang dapat
tumbuh dengan baik, sedangkan bakteri lainnya dapat
terhambat pertumbuhannya, karena telah ditambahkan
zat/bahantertentu yang bersifat menghambat, misalnya:
Mac Conkey agar, Salmonella Shigella agar.
d) Differential agar
Yaitu media yang dapat memperlihatkan perbedaan hasil
metabolik sebagai akibat pertumbuhan bakteri pada
perbenihan tersebut, sehingga dapat dibedakan kelompok
atau spesies dari bakteri yang bersangkutan, misalnya:
KIA, MR-VP medium, dan LIA medium
e) Transport media
Untuk mencegah agar bakteri yang ada dalam spesimen
tidak mati dan tidak mengadakan multipikasi,
18

digunakanlah transport media; misalnya Stuart medium,


Amies medium dan Cary-Blair transport medium
3) Uji reaksi biokimia
Bakteri memliki berbagai aktivitas biokimia dengan
menggunakan nutrisi yang diperoleh dari lingkungan sekitarnya.
Transformasi biokimia dapat timbul didalam dan diluar dari
bakteri yang diatur oleh katalis biologis yang dikenal sebagai
enzim.Setiap bakteri memiliki kemampuan dalam menggunakan
enzim yang dimilikinya untuk degradasi karbohidrat, lemak,
protein, dan asam amino. Metabolisme atau penggunaan dari
molekul organik ini biasanya menghasilkan produk yang dapat
digunakan untuk identifikasi dan karakterisasi bakteri (Hasyimi,
2010).
4) Uji fermentasi karbohidrat
Kemampuan memfermentasikan berbagai karbohidrat dan
produk fermentasi yang dihasilkan merupakan ciri yang sangat
berguna dalam identifikasi mikroorganisme. Fermentasi ini
merupakan proses oksidasi biologi dalam keadaan anaerob
dimana yang bertindak sebagai substrat adalah karbohidrat.
Dimana hasil dari fermentasi ini berbeda- beda bergantung pada
jenis bakterinya misalnya asam laktat, asam cuka, co2 dan asam
tertentu lainnya. (Hasyimi, 2010).
Berikut ini beberapa jenis bakteri yang mampu melakukan
fermentasi terhadap karbohidrat serta hasil fermentasinya:
(Hasyimi, 2010).
a. Fermentasi asam laktat : bakteri asam laktat (streptococcus,
lactobacillus).
b. Fermentasi alkohol : zygomonas saccharomycetes.
c. Fermentasi asam propionate : bakteri asam propionate
(propionibacterium).
19

d. Fermentasi asam campuran : bakteri enterik (escherichia,


enterobacter, salmonella, proteus).
e. Fermentasi 2,3- butanadiol : enterobacter, serralia,
bacillus.
f. Fermentasi asam butirat : clostridium.
5) Uji MRVP
Uji metil red digunakan untuk menentukan adanya
fermentasi asam campuran. Dimana beberapa bakteri dapat
memfermentasikan glukosa dan menghasilkan berbagai produk
yang bersifat asam sehingga akan menurunkan PH media
pertumbuhannya menajadi 5,0 atau lebih rendah (Hasyimi,
2010).
6) Uji katalase
katalase adalah enzim yang mengkatalisis penguraian
hidrogen peroksida ( H2O2) menjadi air dan O2. Hidrogen
peroksida terbentuk sewaktu metabolisme aerob, sehingga
mikroorganisme yang tumbuh dalam lingkungan aerob dapat
menguraikan zat toksik tersebut. Uji katalase ini dilakukan
untuk mengidentifikasikan kelompok bakteri bentuk kokus,
dalam membedakan staphylococcus dan streptococcus. Dimana
kelompok streptococcus bersifat katalase negative dan
staphylococcus bersifat katalase positif (Hasyimi, 2010).
7) Uji produksi indol
Mikroorganisme menggunakan asam amino sebagai
komponen sel dan sebagai sumber energi. Asam amino triptofan
merupakan komponen asam amino yang lazim terdapat pada
protein, dimana asam amino triptofan apabila dihidrolisis oleh
enzim triptofamase akan menghasilkan indol. Untuk uji ini,
digunakan medium cair yang kaya akan triptofan yaitu dalam
bentuk tripton 1% sebagai sumber karbon. Indol yang terbentuk
20

akan berwarna merah dengan penambahan reagen kovach atau


erlich yang mengandung P- dimetilbenzaldehid. Dikatakan
positif apabila senyawa ini menghasilkan senyawa para amino
benzaldehid yang tidak larut dalam air dan membentuk warna
merah pada permukaan medium (Hasyimi, 2010).
8) Uji sitrat
Uji sitrat merupakan salah satu pengujian dari kelompok
tes IMViC. Pengujian ini digunakan untuk melihat kemampuan
mikroorganisme menggunakan sitrat sebagai satu-satunya
sumber karbon dan energi. Untuk uji ini digunakan medium
sitrat koser (SCA) yang merupakan medium sintetik dengan Na
sitrat sebagai satu-satunya sumber karbon, NH4+ sebagai
sumber N dan indikator BTB (Brom Timol Blue) yang
merupakan indikator pH. Bila mikroba mampu menggunakan
sitrat, maka asam akan dihilangkan dari medium biakan,
sehingga menyebabkan peningkatan pH dan mengubah warna
medium dari hijau menjadi biru (Hasyimi, 2010).
9) Uji motilitas
Motilitas adalah salah satu dari ciri mahluk hidup, begitu
pula dengan mikroorganisme, namun alat geraknya masih
sederhana berupa flagella atau cilia. Bakteri melakukan
motilitas dengan menggunakan energi yang diperoleh dari ATP
yang diuraikan oleh koenzim ATP-ase membentuk fosfo
anorganik. Beberapa protein kaya akan asam amino yang
mengandung gugus sulfur seperti sistein. Jika protein ini
dihidrolisis oleh bakteri, asam amino akan dilepaskan. Sistein
dengan adanya sistein desulfurase, akan melepaskan atom
sulfur yang dengan adanya hydrogen dari air akan membentuk
gas hydrogen sulfide. gas ini juga dapat diproduksi dengan
21

reduksi senyawa anorganik yang mengandung sulfur seperti


tiosulfat, sulfat atau sulfit (Hasyimi, 2010).
10) Uji oksidasi fermentasi
Fermentasi dan oksidasi adalah dua proses penting dalam
metabolisme mikroorganisme. Dimana tujuan akhirnya adalah
akumulasi energi, baik untuk aktivitas mikroorganisme maupun
untuk proses-proses biologis lain. Oksidasi umumnya dilakukan
pada respirasi aerobic menghasilkan CO2 dan H2O, sedangkan
fermentasi menghasilkan etanol dan gas. Adapun uji ini
dilakukan untuk mengetahu kemampuan mikroorganisme untuk
menggunakan karbohidrat dengan cara fermentasi atau oksidasi
(Hasyimi, 2010).
22

B. Kerangka Teori

Pasien indikasi menggunakan kateter urethra


indweling

Pemasangan kateter Pemasangan kateter aseptik


terkontaminasi flora normal
kulit perineum

Invasi bakteri

Gerak naik bakteri ke saluran


kemih diatas urethra

Mekanisme pertahanan
sterilitas kandung kemih

Usia, jenis Inflamasi, iritasi


kelamin, dan mukosa,
Gangguan
penurunan daya pengosongan
mekanisme
tahan tubuh, landung kemih
normal
tidak lengkap dan
pertahanan
gangguan
sterilitas
metabolisme
kandung kemih

Kolonisasi Perlenkatan bakteri


Bakteriuria
bakteri di epithelium

Gambar 2.3 Kerangka Teori


Keterangan:
= variabel yang diteliti
= variabel yang tidak diteliti
23

C. Kerangka Konsep

kateterisasi Pola bakateri

Variabel bebas Variabel Terikat

Gambar 2.4 Kerangka konsep penelitian

D. Landasan Teori
Infeksi saluran kemih (ISK) paling sering berkaitan dengan pemakaiaan
kateter indweling dan sistem drainase kemih atau prosedur atau peralatan urologis
lainnya. Lebih dari 10% pasien rawat inap menggunakan kateter urethra indweling
dan hal ini terus menjadi faktor resiko tunggal terpenting yang menyebabkan
pasien rentan terhadap infeksi. Bakteri yang berpotensi patogenik sering dijumpai
di periurethra. Kateter indweling membentuk suatu mekanisme yang
memungkinkan bakteri tersebut masuk ke dalam kandung kemih. Setiap keadaan
yang meningkatkan kolonisasi periurethra akan meningkatkan resiko ISK terkait
kateter. Kateter indweling merusak mekanisme pertahanan normal, pengosongan
dan aliran urin di kandung kemih dan urethra, yang efektif menurunkan resiko
infeksi. Kateter indweling dapat merusak epitel kandung kemih dan menciptakan
suatu lokus infeksi. Bakteri dapat masuk ke kandung kemih pada pasien dengan
kateter melalui beberapa mekanisme: pada saat insersi kateter, melalui migrasi
retrograd di luar kateter di selaput periurethra, dan oleh refluks urin dan bakteri ke
dalam kandung kemih melalui slang. Secara umum, hal ini terjadi apabila sistem
steril terbuka dan terkontaminasi (Barbara J, 2005).
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Pada penelitian ini, jenis penelitian yang dipakai adalah jenis penelitian
kuantitatif dengan desain penelitian pendekatan observasional deskriptif.. Dalam
penelitian observasional deskriptif, penelitian diarahkan untuk mendeskripsikan
atau menguraikan suatu peristiwa, identifikasi variabel, serta mengembangkan
teori dan definisi dari variabel. Deskripsi variabel mampu menginterpretasikan
makna suatu teori yang ditemukan dan populasi yang dapat digunakan untuk
penelitian selanjutnya (Notoatmodjo, 2008).

B. Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan di ruang perawatan Garuda Rumah Sakit
Anutapura Palu dan laboratorium Kesehatan Daerah (LABKESDA) provinsi
Sulawesi Tengah. Penelitian ini mulai dilakukan pada 26 Januari 2015 – 31
Maret 2015

C. Populasi dan Sampel Penelitian


1. Populasi
a. Populasi Target
Populasi target dalam penelitian ini yakni seluruh pasien yang
berada di ruang perawatan garuda Rumah Sakit Anutapura Palu
yang menggunakan kateter urethra.
b. Populasi Terjangkau
Populasi terjangkau dalam penelitian ini yakni pasien yang berada
di ruang perawatan garuda Rumah Sakit Anutapura Palu yang

24
25

menggunakan kateter urethra pada hari ketiga penggunaannya dan


memenuhi kriteria inklusi
2. Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi terjangkau yang dapat
dipergunakan sebagai subjek penelitian melalui sampling. Sedangkan
sampling adalah proses menyeleksi porsi dari populasi yang dapat mewakili
populasi yang ada (Notoatmodjo, 2008). Sampel dalam penelitian ini adalah
pasien dengan kateter urethra di ruang perawatan garuda Rumah Sakit
Anutapura Palu yang memenuhi kriteria inklusi. Besar sampel pada
penelitian ini dihitung dengan menggunakan rumus Estimasi Proporsi
sebagai berikut:

𝑧 2
n= ( ) . p . ( 1 – p )
. 𝑒
Keterangan:
n = jumlah sampel
z = standar sekor pada tingkat konfiden tertentu
e = proporsi sampling error(derajat kemaknaan)
p = dengan proporsi (presentase kasusnya) atau insidensi kasus dalam
populasi
Dimana :
z = Derajat konfidensi 90% (1,64).
e = Proporsi sampling error 10% (0,10)
p = Proporsi kasus 9,09%

𝑧 2
n= ( ) . p . ( 1 – p )
𝑒

1,64 2
n= ( ) . 0,0909 . ( 1 – 0,0909)
0,10
26

1,64 2
n= ( ) . 0,0909 . 0,9091
0,10
n= 268,96 . 0,0909 . 0,9091

n= 22,226 ≈ 22
Jadi, jumlah sampel yang dibutuhkan adalah 22 sampel.

D. Teknik Pengambilan Sampel


Pengambilan sampel dilakukan secara non random sampling dengan cara
purposive sampling. Pada teknik ini pemilihan sampel dengan menetapkan subjek
yang memenuhi kriteria penelitian dimasukkan dalam penelitian sampai kurun
waktu tertentu, sehingga jumlah klien yang diperlukan terpenuhi (Notoatmodjo,
2008). Kriteria dalam penelitian ini ada dua yaitu kriteria inklusi dan kriteria
eksklusi.
1. Kriteria Inklusi
Pasien rawat inap yang menggunakan kateter urethra pada hari ke 3 (tiga)
penggunaan kateter tersebut.
2. Kriteria Eksklusi
a. Pasien menolak dilakukan penelitian.
b. Pasien rujukan dari rumah sakit lain yang telah terpasang kateter
urethra.

E. Variabel dan Definisi Operasional


1. Identifikasi Variabel
a. Variabel Bebas
Variabel bebas (Independen) dalam penelitian ini adalah kateterisasi
urethra
b. Variabel Terikat
27

Variabel terikat (Dependen) dalam penelitian ini adalah pola variasi


bakteri.
2. Defenisi Operasional
Definisi operasional adalah mendefinisikan variabel secara
operasional berdasarkan karateristik yang diamati (Nursalam, 2008). Dalam
penelitian ini terdapat beberapa defini operasional sebagai berikut:
1. Kateterisasi urin adalah penyisipan kateter ke dalam kandung kemih
pasien yang digunakan di Rumah Sakit untuk mempertahankan proses
pengeluaran urin pada pasien yang menjalani operasi, pasien yang sakit
kritis, pasien yang terbatas pada tempat tidur dan merupakan pilihan
pengobatan untuk pasien dengan beberapa jenis inkontinensia urin
termasuk retensi urin dan obstruksi kandung kemih (Better Health
Channel, 2012).
Dalam penelitian ini urin pasien yang di ambil adalah urin pasien
dengan pemasangan kateter selama 3 hari
2. Bakteriuria asimtomatik (asymtomatic bacteriuria) adalah terdapatnya
bakteri dalam saluran kemih tanpa menimbulkan manifestasi klinis.
Umumnya diagnosis bakteriuria asimtomatis ditegakkan pada saat
melakukan biakan urin (Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2011).
3. Kultur bakteri adalah perkembangbiakan mikroorganisme atau sel
jaringan hidup pada media yang menyebabkan pertumbuhannya
(Dorland, 2010).
4. Pola bakteri adalah jenis bakteri yang diperoleh pada sampel yang di
ambil dari kateter urethra secara aspiraasi setelah dilakukan isolasi dan
identifikasi. Kemudian dilanjutkan dengan uji biokimiawi yang
dicocokkan dengan table perbandingan karakteristik dari masing-masing
bakteri (Dorland, 2010).
28

F. Alat dan Bahan Penelitian


Menurut Gani A (2008) adapun alat dan bahan yang dibutuhkan adalah sebagai
berikut:

1. Alat
a. Disposible 3 cc
b. Wadah penampung urin
c. Pipet
d. Lampu Bunsen
e. Inkubator
f. Tabung reaksi
g. Glass slide
h. Rak tabung
i. Mikroskop
j. Cawan petri
2. Bahan Penelitian
a. Agar Mc Conkey
b. Agar darah
c. Brian Heart Infusion Broth (BHIB)
d. Larutan pewarnaan gram
e. Alkohol 70%
f. Mudium (Sulfur, Indol, Motility) SIM
g. Kligler Iron Agar (KIA)
h. Bahan uji biokimia
i. Brian Heart Infusion Agar

G. Prosedur Penelitian
Menurut Gani A, 2008, langkah dalam melakukan kultur bakteri adalah sebagai
berikut:
29

1. Pengambilan sampel

a. Melakukan disenfeksi pada kateter urethra dengan menggunakan


alkohol 70% sebelum pengambilan sampel urin.

b. Melakukan pengambilan sampel urin sebanyak 3 ml melalui aspirasi


kateter dengan jarum suntik yang berjarak 10 - 15 cm dari muara
uretrha eksterna.

c. Urin di tampung pada wadah yang steril kemudian di tuangkan pada


BHIB sebagai media pertumbuhan bakteri. Kemudian dikultur selama
24 jam pada suhu 37oC.

2. Isolasi dan Identifikasi Bakteri

BHIB yang terdapat pertumbuhan bakteri di isolasi. Bakteri gram


positif di tanam pada media isolasi agar darah. Sedangkan bakteri gram
negatif di tanam pada media agar Mc.Conkey. Kedua media tersebut
diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37ºC dan untuk uji biokimia

H. Jenis dan Sumber Data Penelitian


Jenis data yang dikumpulkan adalah :
1. Data primer, yaitu data yang dikumpulkan dari pasien yang menggunakan
kateter pada hari ke 3 di ruang perawatan garuda Rumah Sakit Anutapura
Palu.
2. Data sekunder, yaitu data pasien yang diperoleh dari Ruang perawatan
Rumah Sakit Anutapura Palu.

I. Analisis Data
Dalam penelitian ini data akan di analisis menggunakan analisis deskriptif
dan akan di tampilkan dalam bentuk gambar ataupun tabel.
30

J. Penyajian Data
Data-data yang akan diperoleh dari hasil penelitian ini akan disajikan dalam
bentuk tabel dan grafik.

K. Etika Penelitian
Dalam melakukan penelitian ini, peneliti memandang perlu adanya
rekomendasi dari pihak institusi dengan mengajukan permohonan izin kepada
instansi tempat penelitian dilaksanakan. Setelah mendapat persetujuan tersebut,
barulah dilakukannya penelitian dengan menekankan masalah etika penelitian
sebagai berikut (Yurisa, 2008)
1. Informed Consent (lembar persetujuan)
Lembar persetujuan yang diberikan kepada responden oleh peneliti
dengan menyertakan judul penelitian agar subjek mengerti maksud dan
tujuan penelitian. Bila subjek menolak, maka peneliti tidak akan memaksa
dan tetap menghargai atau menghormati hak-hak yang dimiliki responden
(subjek).
2. Anonymity (tanpa nama)
Untuk menjaga kerahasiaan, peneliti tidak akan mencantumkan nama
responden tetapi lembar tersebut diberikan kode.

3. Confidentiality (kerahasiaan)
Kerahasiaan informasi yang telah dikumpulkan dijamin
kerahasiaannya oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan
dilaporkan sebagai hasil penelitian.
31

L. Alur Penelitian
Pengusulan Judul Proposal Penelitian, Verifikasi Judul Proposal
Penelitian, dan Melengkapi Syarat Administrasi Proposal Penelitian

Menyerahkan Judul Proposal Penelitian Yang Telah Disetujui Oleh


Pembimbing Materi & Pembimbing Metodologi ke Sub Bagian
Akademik dan Kemahasiswaan

Penulisan Proposal Penelitian (Dibimbing Dosen Pembimbing)

Seminar Proposal Penenelitian

Mengajukan Permohonan Izin Penelitian ke RSU Anutapura Palu


Melalui Surat Izin Yang Dikeluarkan Oleh FKIK UNTAD

Pelaksanaan Penelitian (Pengumpulan Data di ruang perawatan


garuda RSU Anutapura Palu Yang Telah Memenuhi Kriteria
Pemilihan Sampel Penelitian dan melakukan isolasi dan identifikasi
bakteri)

Analisis Data Penelitian di komputer

Seminar Hasil Penenelitian

Ujian Skripsi

Pengumpulan Skripsi dan Publikasi Naskah Skripsi

Gambar 3.1 Alur Penelitian