Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI

ANESTESI LOKAL

DosenPembimbing : dr. M. Ali Sobirin, PhD

Kelompok : A1
Anggota :
1. Audia Nahjul Hidayat NIM 22010217120001
2. Fransiska Megatri Pardosi NIM 22010217120002
3. Nadia Salsabila NIM 22010217120003
4. Rizaldi Fauzan Lazarefo NIM 22010217120004
5. Anindita Yasmine Bagaskarina NIM 22010217120005
6. IsyaFerischaHimawan NIM 22010217120006
7. Tenia Yohana Oktaviana NIM 22010217120007
8. Natalia Prisca Ibrahim1 NIM 22010217120008
9. Sistianingsih NIM 22010217120009
10. AiluulAlmaaAdiwangsa NIM 22010217120010
11. Galland Guritma M NIM 22010217110011
12. Luthfia Nuraini NIM 22010217120012

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2018
Kelompok : A1
Anggota :
1. Audia Nahjul Hidayat NIM 22010217120001
2. Fransiska Megatri Pardosi NIM 22010217120002
3. Nadia Salsabila NIM 22010217120003
4. Rizaldi Fauzan Lazarefo NIM 22010217120004
5. Anindita Yasmine Bagaskarina NIM 22010217120005
6. Isya FerischaHimawan NIM 22010217120006
7. Tenia Yohana Oktaviana NIM 22010217120007
8. Natalia Prisca Ibrahim NIM 22010217120008
9. Sistianingsih NIM 22010217120009
10. AiluulAlmaaAdiwangsa NIM 22010217120010
11. Galland Guritma M NIM 22010217110011
12. LuthfiaNuraini NIM 22010217120012

I. Nama Percobaan : Anestesi Lokal


II. Tanggal : Jumat, 18 Mei 2018

III. Tujuan Percobaan :


A. TujuanUmum
Memahami prinsip kerja dan melatih melakukan teknik anestei lokal
sederhana.
B. TujuanKhusus
 Melakukan tindakan anestesi permukaan pada manusia.
 Melakukan tindakan anestesi infiltrasi pada manusia.

IV. Alat dan Bahan :


A. Alat :

Spuit tuberkulin 1 ml

B. Bahan :

o Kapas ; alkohol 70 %
o Obat : larutan procain; larutan lidokain; larutan lidokain cum adrenalin;

Etil klorida 100 gram dalam botol sprayer.


o Orang percobaan : mahasiswa dengan keadaan sehat dan

tidakmempunyai riwayat alergi obat-obat tersebut.

V. Rencana kerja
A. Anestesi permukaan
1. Ambil kloretil (etil klorida) spray semprotkan hingga membasahi

permukaan voler lengan bawah.


2. Bila sudah terbentuk salju putih segera cobakan sensasi nyeri dan raba

secara serentak dan cepat dikarenakan efek etil klorida yang cepat sekali

hilang. Sensasi raba : dengan ujung jari sentuh pada bagian yang terkena
etil klorida. Sensasi nyeri : dengan ujung bolpoint tekan pada bagian

yang terkena etil klorida .


3. Catat onset waktu dan durasi kerja obat masing-masing sensasi.

B. Anestesi infiltrasi
1. Lakukan swab dengan kapas alcohol pada permukaan voler lengan

bawah.
2. Dengan spuit tuberculin ambil larutan prokain sebanyak 0,5 ml.
3. Suntikkan secara intrakutan pada tempat swab tadi hingga timbul

benjolan pada tempat suntikan.


4. Pada daerah sekitar penyuntikan lakukan percobaan sensasi seperti

diatas.
5. Catat onset waktu dan durasi kerja obat masing-masing sensasi.
6. Lakukan pada probandus berikutnya dengan menggunakan larutan

lidokain dan lidokain cum adrenalin.

VI. Hasil percobaan

NO PERLAKUAN SENSASI RABA SENSASI NYERI

ONSET DURASI ONSET DURASI

1 Spray etil klorida 27 detik 1 mnt 25 dtk 27 detik 1 mnt 5 dtk

2 Lidokain 3 mnt 41 dtk 7 mnt 34 dtk 1 mnt 18 dtk 13 mnt 5 dtk

3 Lidokain cum 1 mnt 30 dtk 1 jam 38 mnt 1 mnt 50 dtk 2 jam 1 mnt

adrenalin

VII. Pembahasan
Anestesis dibagimenjadi dua kelompok, yaitu anestesi umum dan anestesi lokal.

Anestetis lokal bekerja menghambat penghantaran impuls saraf bila obat tersebut

dipergunakan secara lokal dan kontak langsung dengan jaringan saraf. Obat ini dapat

menyebabkan hilangnya sensasi panas, dingin, sentuh, dan nyeri tanpa menghilangkan

kesadaran umum. Rute pemberian anestetika lokal berhubungan erat dengan efek

anestesi lokal yang dihasilkan. Sebagai contoh suatu anastetis lokal yang diberikan

pada permukaan tubuh (topikal) dapat mencapai ujung saraf sensoris dan bekerja

menghambat penghantaran impuls nyeri pada serabut saraf tersebut, sehingga terjadilah

anestesi permukaan. Anestesis lokal juga dapat diberikan secara injeksi ke dalam

jaringan sehingga menyebabkan hilangnya sensasi pada struktur disekitarnya. Efek yang

dihasilkan disebut anestesis infiltrasi.

Pada praktikum ini dilakukan percobaan anastesi lokal, dimana menggunakan dua

cara kerja yaitu anastesi permukaan dengan etil klorida 100 mg disemprotkan pada

permukaan voler lengan bawah, dan anastesi infiltrasi dengan larutan lidokain dan

lidokain cum adrenalin yang disuntikkan secara intrakutan. Setelah itu, dilakukan

perobaan rasa nyeri dan raba yang masing-masing dicatat waktunya. Pada hasil

pengamatan anestesi dengan menggunakan etil klorida diperoleh waktu terjadinya onset

untuk rangsang sentuh muncul pada detik 27 dan nyeri pada detik ke 22. Sedangkan

durasi kerja anestesi etil klorida untuk rangsang sentuh lebih lama dibanding rangsang

nyeri yaitu 1 menit 25 detik untuk rangsang sentuh dan 1 menit 5 detik untuk rangsang

nyeri. Hal ini menunjukan bahwa rasa nyeri lebih cepat timbul dan terasa kembali

dibanding rangsang sentuh. Hal tersebut menandakan bahwa efek yang ditimbulkan etil

klorida tidaklah berjangka panjang karena etil klorida adalah zat kimia yang sifatnya
mendinginkan dan menyebabkan efek mati rasa sehingga dapat menghilangkan rasa

sakit namun hanya untuk sementara waktu. Tetapi efeknya juga segera menghilang

karena obat tersebut merupakan anestesi dengan bentuk cairan tak berwarna, sangat

mudah menguap, dan mudah terbakar. Etil klorida tidak digunakan jangka panjang

karena merupakan karsinogen hati dan ginjal.

Selanjutnya, menggunakan larutan lidokain yang disuntikkan secara intrakutan.

Lidokain (Xylocaine/Lignocaine) adalah obat anestesi lokal kuat yang digunakan secara

luas dengan pemberian topikal dan suntikan. Berdasarkan hasil pengamatan dengan

menggunakan lidocain onset yang ditimbulakan untuk rangsang sentuh terjadi pada

waktu 3 menit 41 detik dan pada rangsang nyeri onset muncul lebih cepat yaitu pada

waktu 1 menit 18 detik. Hal ini dikarenakan tipe serabut saraf untuk rasa nyeri sebagian

ada yang dihantarkan melalui serabut tipe C yang tidak bermielin dan cara kerja obat

anestesi akan lebih cepat diserap pada tipe serabut yang halus yaitu yang tidak bermielin

sedangkan untuk rangsang raba hanya sedikit atau sebagian kecil saja yang melalaui

serabut saraf tidak bermielin. Karena lebih banyak lidocain yang diserap oleh serabut

saraf yang menghantarkan rasa nyeri maka lidocain akan lebih berefek pula atau dapat

dikatakan efeknya akan bertahan lebih lama pada saraf penghantar rangsang nyeri

daripada sentuh. Hal ini dapat dilihat pada hasil praktikum yaitu durasi kerja obat untuk

rangsang nyeri mulai hilang pada waktu 13 menit 5 detik sedangkan untuk rangsang

sentuh hanya 7 menit 34 detik.

Pada percobaan dengan larutan lidocain cum adrenalin, Lidokain cum adrenalin

durasinya yang paling lama, dimana durasi sentuh tercatat 1 jam 38 menit, durasi nyeri

selama 2 jam 1 menit. Dan untuk cobaan nyeri, onsetnya juga lebih lama dari lidocain
dan etil klorida, yaitu 1 menit 50 detik. Dan untuk onset sentuh 1 menit 30 detik.

Bergabungnya lidocain dan adrenalin menyebabkan durasi yang sangat lama, karena

fungsi adrenalin sebagai vasokonstriktor pembuluh darah sehingga durasi obat bertahan

lebih lama. Masa kerja anestetik lokal berbanding langsung dengan waktu kontak

aktifnya dengan saraf. Akibatnya tindakan yang dapat melokalisasi obat pada saraf akan

memperpanjang waktu anestesia. Penambahan epinefrin pada larutan anestetik lokal

akan memperpanjang dan memperkuat kerja anestetik lokal. Pada umumnya, zat

vasokonstriktor diberikan dalam kadar efektif minimal, epinefrin mengurangi kecepatan

absorpsi anestetik lokal sehingga akan mengurangi kecepatan absorpsi anestetik lokal

sehingga juga akan mengurangi toksisitas sistemiknya. Sebagian vasokonstriktor

mungkin akan diserap dan bila jumlahnya cukup banyak akan menimbulkan efek

samping gelisah, takikardi, palpitasi, dan nyeri di dada. Untuk mengurangi rangsangan

adrenergik yang berlebihan perlu dipertimbangkan penggunaan obat penghambat alfa

atau beta adrenergik.

VIII. Kesimpulan

Anestetis lokal bekerja menghambat penghantaran impuls saraf bila obattersebut

dipergunakan secara lokal dan kontak langsung dengan jaringan saraf. Obat ini dapat

menyebabkan hilangnya sensasi panas, dingin, sentuh, dan nyeri tanpa menghilangkan

kesadaran umum.Pada praktikum ini dilakukan percobaan anastesi lokal, dimana

menggunakan dua cara kerja yaitu anastesi permukaan dengan etil klorida 100 mg

disemprotkan pada permukaan voler lengan bawah dan anastesi infiltrasi dengan larutan

lidokain dan lidokain cum adrenalin yang disuntikkan secara intrakutan. Efek anestesi
tercepat yaitu pada etil klorida karena sifatnya yang mudah menguap. Anestesi infiltrasi

dengan lidokain memiliki efek anestesi lebih cepat jika dibandingkan adrenalin karena

penambahan adrenalin bertujuan untuk memperlama efek anestesi. Jadi, penggunaan

anestesi lokal dengan lidokain ditambah dengan adrenalin memiliki efek anestesi yang

paling lama jika dibandingkan dengan anestesi infiltrasi lidokain dan etil klorida.

IX. Evaluasi
1. Buatlah skema aplikasi atau cara-cara pemberian obat-obat anastesi tersebut!
Teknik Pemberian Anestesi Lokal

Anestesi Permukaan Anestesi Infiltrasi Anestesi Blok

Diberikan pada daerah Menyuntikkan obat Obat anestesi yang di


yang superficial pada pada daerah intrakutan suntikan pada sekeliling
kulit diusapkan atau atau subkutan dengan syaraf tinggal untuk
menyemprotkan obat sasaran ujung syaraf memblokade bagian distal
untuk memberi efek untuk memblokade yang dipersyarafi.Contohnya
topikal. Diberikan pada impuls saraf dengan flexus brachialis/celliacus
kulit atau mukosa. hasil memberi efek untuk memblokade impuls
anestesi. hingga persyarafan distal
teranestesi (Anastesi Spinal
2. Jelaskan mekanisme kerja seluler obat-obat anastetik lokal!
masuk sampai sub arachnoid
Anastetik lokal mencegah pembentukan dan konduksi impuls saraf.
dan menembus duramater
sedangkan Anastesi Epidural
Tempat kerjanya terutama di membran sel. Sebagaimana diketahui, potensial
tidak sampai menembus
duramater)
aksi saraf terjadi akibat adanya peningkatan sesaat permeabilitas membran

terhadap ion Na+ akibat depolarisasi ringan pada membran. Proses inilah yang

dihambat oleh anastesi lokal. Hal ini terjadi akibat adanya interaksi langsung

antara zat anastesi lokal dengan kanal Na+ yang peka terhadap adanya

perubahan voltase muatan listrik (voltage sensitive Na+ channels). Dengan

semakin bertambahnya efek anastesi lokal di dalam saraf, maka ambang


rangsang membran akan meningkat secara bertahap, kecepatan peningkatan

potensial aksi menurun, konduksi impuls melambat dan faktor pengaman

konduksi saraf juga berkurang. Faktor-faktor tersebut yang mengakibatkan

penurunan kemungkinan menjalarnya potensial aksi, dan dengan demikian

mengakibatkan kegagalan konduksi saraf.


Anastetik lokal juga mengurangi permeabilitas membran bagi K+ dan

Na+ dalam keadaan istirahat. Sehingga hambatan hantaran tidak disertai banyak

perubahan pada potensial istirahat.


Dapat dikatakan bahwa cara kerja utama obat anastetik lokal adalah

bergabung dengan reseptor spesifik yang terdapat pada kanal Na, sehingga

mengakibatkan terjadinya blokade pada kanal tersebut, hal ini akan

mengakibatkan hambatan pergerakan ion melalui membran.

3. Apa perbedaan anastesi spinal dan anastesi epidural?


 Anestesia spinal (blokade subarakhnoid atau intratekal) merupakan

teknik anestesi blok, dimana obat anestetik diinjeksikan ke dalam cairan

serebrospinal dalam ruang subarachnoid. Sesudah penyuntikan

intratekal, yang dipengaruhi lebih dahulu yaitu saraf simpatis dan

parasimpatis, diikuti dengan saraf untuk rasa dingin, panas, raba, dan

tekanan dalam. Yang mengalami blokade terakhir yaitu serabut motoris,

rasa getar (vibratory sense) dan proprioseptif. Blokade simpatis ditandai

dengan adanya kenaikan suhu kulit tungkai bawah. Setelah anestesia

selesai, pemulihan terjadi dengan urutan yang sebaliknya, yaitu fungsi

motoris yang pertama kali pulih kembali.


 Anestesia epidural merupakan suatu anesthesia blok yang luas, yang

diperoleh dengan jalan menyuntikkan zat anestetik lokal ke dalam ruang


epidural. Dengan teknik ini anestesia bagian sensoris dapat diperluas

sampai setinggi dagu. Pada cara ini dapat digunakan dosis tunggal atau

dosis yang diberikan secara terus menerus.

4. Buatlah penggolongan obat-obat anastetik lokal!


Anastetik lokal terdiri dari senyawa amid dan senyawa ester. Senyawa ester

umumnya kurang stabil dan mudah mengalami metabolisme dibandingkan

dengan senyawa amid. Yang tergolong senyawa ester yakni

tetrakain,benzokain,kokain dan procain dengan procain sebagai prototip.

Sedangkan yang tergolong senyawa amid yaitu dibukain, lidokain, mepivakain,

dan prilocain.

X. Daftar pustaka