Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

UPAYA REVITALISASI PANCASILA DALAM KONTEKS


PERUBAHAN SOSIAL-POLITIK INDONESIA MODERN

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah “Pendidikan Pancasila”


Dosen : Soeparman Nata, S.I.P., Kol (Purn).

Disusun Oleh:
Dhimas Hanung Putra 23 2017 032
Program Studi Teknik Geodesi
Kelas : B

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN


INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL
BANDUNG
2017
KATA PENGANTAR

Bismillahirrohmaanirrohiim
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan
rahmat, serta hidayah-Nya kepada kami, sehingga dapat menyelesaikan makalah
yang berjudul “Upaya Revitalisasi Pancasila Dalam Konteks Perubahan Sosial
Politik Indonesia Modern” dengan baik dan lancar tanpa hambatan yang begitu
berarti.
Tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Soeparman Nata, S.I.P.,
Kol (Purn). selaku dosen pembimbing Pendidikan Pancasila yang membimbing
serta memberikan tugas kepada kami, sehingga kami dapat melatih menyelesaikan
permasalahan secara ilmiah. Semoga apa yang kami sajikan ini dapat bermanfaat
bagi pembaca pada umumnya serta bagi penulis pada khususnya. Kami menyadari
bahwa dalam pembuatan makalah ini masih terdapat begitu banyak kekurangan dan
juga kesalahan, maka dari itu kami menerima kritik dan saran yang membangun
dari pembaca makalah ini.

Bandung, 06 Desember 2017

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang 1

1.2 Rumusan Masalah 2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pancasila

2.2 Pengertian Revtalisasi

2.3 Permasalahan

2.4 Upaya Penyeesaian Masalah

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Setiap Negara harus mempunyai dasar negara. Dasar
negara merupakan fundamen atau pondasi dari bangunan negara. Kuatnya
fundamen negara akan menguatkan berdirinya negara itu. Kerapuhan fundamen
suatu negara, berakibat lemahnya negara tersebut. Sebagai dasar negara Indonesia,
Pancasila sering disebut sebagai dasar falsafah negara (filosofische gronslag dari
negara), Staats fundamentele norm, weltanschauung dan juga diartikan sebagai
ideologi negara (staatsidee). Fundamen negara ini harus tetap kuat dan kokoh serta
tidak mungkin diubah. Indonesia kini berada dalam kekrisisan yang teramat parah
kita bisa lihat itu dari kesejahteraan rakyanya yang sampai kini menjadi sebuah
agenda pembenahan bagi pemerintahan yang masih berusaha untuk memperbaiki
kesengsaraan rakyatnya dengan berbagai program-program yang diharapkan bisa
membantu meringankan beban kehidupan rakyatnya.
Masalah satu demi satu belum terselesaikan mulai dari pemerintahan yang
carut marut moralitas dan lemahnya ketegasan konstitusi yang menjadiujung
tombak hukum Negara ini.
Kini indonesa berada pada kekrisisan dalam segala bidang mulai dari
ideology hingga padatataran praktis atau implementasian dari ideology tersebut,
oleh karenanya makalah ini akan membahas factor-faktor penyebab hancurnya
Negara Indonesia. Meskipun pembahasanya hanya sedikit apabila dibandingkan
dengan permasalahan Indonesia yang begitu rumit dan tidak terpecahkan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian pancasila?
2. Apa pengertian revitalisasi?
3. Apa pengertian revitalisasi pancasila?
4. Bagaimana Aktualisasi Pengalaman Pancasila Dalam Bidang
Politik?
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pancasila

Pancasila adalah falsafah hidup bersama, consensus bagi seluruh penduduk


Indonesia. Ia adalah nilai dasar yang disepakati untuk menjadi alasan pijak bagi
kemajemukan Indonesia. Memang, masyarakat yang plural, yang beragam, yang
majemuk itu rentan untuk mengalami konflik. Heterogenitas itu mengandung
potensi untuk bisa menyulut konflik ketegangan, saling tidak mengerti satu dengan
yang lain, miskomunikasi. Oleh karena itu harus ada perekat sosial. Ada sosial
soildarity yang kuat. Nah, sosial solidariti itu bisa dibangun antara lain melalui,
pertama adalah simbol. Simbol itu misalnya gagasan atau ideologi. Gagasan itu
harus merasa dimiliki bersama, diambil dan prinsip-prinsip yang diakui bersama.
Tidak bisa ide ini kita ambil dan salah satu pojok agama atau keyakinan tertentu.
Pancasila sebagai dasar negara sering disebut dasar falsafah negara (dasar
filsafat negara/philosophische grondslag) dari negara, ideologi negara (staatsidee).
Dalam hal ini Pancasila dipergunakan sebagai dasar mengatur pemerintahan
negara. Dengan kata lain, Pancasila digunakan sebagai dasar untuk mengatur
penyelenggaraan negara.

B. Pengertian Revitalisasi

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, Revitalisasi berarti proses, cara, dan
perbuatan menghidupkan kembali suatu hal yang sebelumnya kurang terberdaya.
Sebenarnya revitalisasi berarti menjadikan sesuatu atau perbuatan menjadi vital.
Sedangkan kata vital mempunyai arti sangat penting atau perlu sekali (untuk
kehidupan dan sebagainya). Pengertian melalui bahasa lainnya revitalisasi bisa
berarti proses, cara, dan atau perbuatan untuk menghidupkan atau menggiatkan
kembali berbagai program kegiatan apapun. Atau lebih jelas revitalisasi itu adalah
membangkitkan kembali vitalitas. Jadi, pengertian revitalisasi ini secara umum
adalah usaha-usaha untuk menjadikan sesuatu itu menjadi pen Revitalisasi
termasuk di dalamnya adalah konservasi-preservasi merupakan bagian dari upaya
perancangan kota untuk mempertahankan warisan fisik budaya masa lampau yang
memiliki nilai sejarah dan estetika-arsitektural. Atau tepatnya merupakan upaya
pelestarian lingkungan binaan agar tetap pada kondisi aslinya yang ada dan
mencegah terjadinya proses kerusakan.Tergantung dari kondisi lingkungan binaan
yang akan dilestarikan, maka upaya ini biasanya disertai pula dengan upaya
restorasi, rehabilitasi dan/atau rekonstruksi.
Jadi, revitalisasi adalah upaya untuk memvitalkan kembali suatu kawasan atau
bagian kota yang dulunya pernah vital/hidup, akan tetapi kemudian mengalami
kemunduran/degradasi.

C. Revitalisasi Pancasila Sebagai Dasar Negara

Revitalisasi Pancasila dapat diartikan sebagai usaha mengembalikan


Pancasila kepada subjeknya yaitu sebagai pedoman bagi para penyelenggara
pemerintahan.
Untuk merevitalisasi, maka Pancasila perlu diajarkan dalam kaitannya dengan
pembuatan atau evaluasi atas kebijakan publik selain dibicarakan sebagai dasar
negara.
Pancasila dapat dihidupkan kembali sebagai nilai-nilai dasar yang memberi
orientasi dalam pembuatan kebijakan publik. Pancasila adalah solusi alternatif bagi
terwujudnya Negara Kesatuan Indonesia, yang telah teruji semenjak masa
kemerdekaan sampai dengan masa reformasi. Meskipun kita juga tidak bisa
memungkiri bahwa dalam perjalanannya ada berbagai macam cobaan dan
tantangan yang senantiasa datang dan mengiringi dalam setiap gerak dan langkah
dinamika bangsa ini. Pancasila adalah ideologi yang tidak ada bandingannya untuk
bangsa Indonesia karena Pancasila adalah alat permersatu bagi seluruh komponen
yang berbeda-beda, sehingga setiap upaya untuk menggantinya selalu akan
berhadapan dengan seluruh kekuatan Indonesia secara menyeluruh. Merevitalisasi
Pancasila adalah sebuah keniscayaan mutlak ketika kondisi bangsa semakin jauh
dari keadilan sosial, kemakmuran, kemajuan dan lain sebagainya.
Membiarkan kondisi bangsa dalam keterpurukan sama halnya kita sengaja
menjadikan Pancasila hanya sebagai alat politisasi untuk melanggengkan
kekuasaan seperti yang pernah terjadi pada masa Orde Baru di bawah pemerintahan
Soeharto. Kita tahu, pada periode ini Pancasila selalu dijadikan alat legitimasi serta
dipolitisir untuk meraih serta mempertahankan kekuasaan. Mereka yang
berseberangan dengan pemerintah akan dengan mudah di beri label anti Pancasila,
maka dengan mudah mereka yang anti Pancasila akan masuk penjara tanpa proses
hukum yang jelas.
Sebenarnya permasalahan yang menyebabkan Indonesia dalam keadaan seperti
ini adalah buruknya komunikasi antara pemerintahan dan rakyat indonesianya dan
juga melemahnya pemersatu bangsa ini yaitu pancasila, ideologi yang kita junjung
tinggi dengan berasaskan pancasila sebenarnya Indonesia bisa menaklukan dunia
dengan mudahnya.
Pembukaan UUD 1945 dengan nilai-nilai luhurnya menjadi suatu kesatuan
integral-integratif dengan Pancasila sebagai dasar negara. Jika itu diletakkan
kembali, maka kita akan menemukan landasan berpijak yang sama, menyelamatkan
persatuan dan kesatuan nasional yang kini sedang niengalami disintegrasi.
Revitalisasi Pancasila sebagai dasar negara mengandung makna bahwa Pancasila
harus diletakkan utuh dengan pembukaan, di-eksplorasi-kan dimensi-dimensi yang
melekat padanya.
Bangsa Indonesia dihadapkan pada perubahan, tetapi tetap harus menjaga
budaya-budaya lama. Sekuat-kuatnya tradisi ingin bertahan, setiap bangsa juga
selalu mendambakan kemajuan. Setiap bangsa mempunyai daya preservasi dan di
satu pihak daya progresi di lain pihak. Kita membutuhkan telaah-telaah yang
kontekstual, inspiratif dan evaluatif.

D. Aktualisasi Pengamalan Pancasila Dibidang Politik

Sebagai suatu paradigma, Pancasila merupakan model atau pola berpikir


yang mencoba memberikan penjelasan atas kompleksitas realitas sebagai manusia
personal dan komunal dalam bentuk bangsa. Pancasila yang merupakan satuan dari
sila-silanya harus menjadi sumber nilai, kerangka berfikir, serta asas moralitas bagi
pembangunan.
Aktualisasi pancasila dapat dibedakan atas dua macam yaitu aktualisasi
secara obyektif dan subyektif. Aktualisasi pancasila secara obyektif yaitu
aktualisasi pancasila dalam berbagai bidang kehidupan kenegaraan yang meliputi
kelembagaan Negara, bidang politik, bidang ekonomi dan bidang hukum.
Sedangkan aktualisasi pancasila secara subyektif yaitu aktualisasi pancasila pada
setiap individu terutama dalam aspek moral dalam kaitannya dengan kehidupan
bernegara dan bermasyarakat.
Para founding father kita dengan cerdas dan jitu telah merumuskan formula
alat perekat yang sangat ampuh bagi negara bangsa yang spektrum kebhinekaannya
teramat lebar (multfi-facet natio state) seperti Indonesia. Alat perekat tersebut tiada
lain daripada
Pancasila yang berfungsi pula sebagai ideologi, dasar negara serta jatidiri
bangsa. Pancasila tidak akan dapat memberi manfaat apapun manakala
keberadannya hanya bersifat sebagai konsep atau software belaka. Untuk dapat
berfungsi penuh sebagai perekat bangsa, Pancasila harus diimplementasikan dalam
segala tingkat kehidupan, mulai dari kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara (Pancasila), dan dalam segala aspek meliputi politik, ekonomi,
budaya, hukum dan sebagainya. Landasan aksiologis (sumber nilai) system politik
Indonesia adalah dalam pembukaan UUD 1945 alenia IV “….. maka disusunlah
Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-undang dasar Negara
Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang
Berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa,
Kemasusiaan yang adil dan beradab,
Persatuan Indonesia dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan, serta dengan mewujudkan
suatu keadilan social bagi seluruh rakyat indonesia”.Sehingga system politik
Indonesia adalah Demokrasi pancasila. Dimana demokrasi pancasila itu merupakan
system pemerintahan dari rakyat dalam arti rakyat adalah awal mula kekuasaan
Negara sehingga rakyat harus ikut serta dalam pemerintahan untuk mewujudkan
suatu cita-cita. Organisasi sosial politik adalah wadah pemimpin-pemimpin bangsa
dalam bidangnya masing-masing sesuai dengan keahliannya, peran dan tanggung
jawabnya. Sehingga segala unsur-unsur dalam organisasi sosial politik seperti para
pegawai Republik Indonesia harus mengikuti pedoman pengamalan Pancasial agar
berkepribadian Pancasila karena mereka selain warga negara Indonesia, juga
sebagai abdi masyarakat, dengan begitu maka segala kendala akan mudah dihadapi
dan tujuan serta cita-cita hidup bangsa Indonesia akan terwujud.
Nilai dan ruh demokrasi yang sesuai dengan visi Pancasila adalah yang
berhakikat:
1. kebebasan, terbagikan/terdesentralisasikan, kesederajatan,
keterbukaan, menjunjung etika dan norma kehidupan;
2. kebijakan politik atas dasar nilai-nilai dan prinsip-prinsip
demokrasi yang memperjuangkan kepentingan rakyat , kontrol
publik;
3. Pemilihan umum yang lebih berkualitas dengan partisipasi rakyat
yang seluasluasnya;
4. supremasi hukum;
Begitu pula standar demokrasinya yang :
1. bermekanisme ‘checks and balances’, transparan, akuntabel,
2. berpihak kepada ‘social welfare’, serta
3. meredam konflik dan utuhnya NKRI.
perbaikan moral tiap individu yang berimbas pada budaya anti-korupsi serta
melaksanakan tindakan sesuai aturan yang berlaku adalah sedikit contoh
aktualisasi Pancasila secara Subjektif. Aktualisasi secara objektif seperti
perbaikan di tingkat penyelenggara pemerintahan. Lembaga-lembaga negara mesti
paham betul bagaimana bekerja sesuai dengan tatanan Pancasila. Eksekutif,
legislatif, maupun yudikatif harus terus berubah seiring tantangan zaman
(Kompas, 01 April 2003).
Penyelenggaraan negara yang menyimpang dari ideologi pancasila dan
mekanisme Undang Undang Dasar 1945 telah mengakibatkan ketidak seimbangan
kekuasaan diantara lembaga-lembaga negara dan makin jauh dari cita-cita
demokrasi dan kemerdekaan yang ditandai dengan berlangsungnya sistem
kekuasaan yang bercorak absoluth karena wewenang dan kekuasaan Presiden
berlebih (The Real Executive ) yang melahirkan budaya Korupsi kolusi dan
nepotisme (KKN) sehingga terjadi krisis multidimensional pada hampir seluruh
aspek kehidupan.
Ini bisa dilihat betapa banyaknya pejabat yang mengidap penyakit
“amoral” meminjam istilah Sri Mulyani-moral hazard. Hampir tiap komunitas
(BUMN maupun BUMS), birokrasi, menjadi lumbung dan sarang “bandit” yang
sehari-hari menghisap uang negara dengan praktik KKN atau kolusi, korupsi, dan
nepotisme.
Sejak Republik Indonesia berdiri, masalah korupsi, kolusi, dan nepotisme
selalu muncul ke permukaan. Bermacam-macam usaha dan program telah
dilakukan oleh setiap pemerintahan yang berkuasa dalam memberantas korupsi
tetapi secara umum hukuman bagi mereka tidak sebanding dengan kesalahannya,
sehingga gagal untuk membuat mereka kapok atau gentar. Mengapa tidak
diterapkan, misalnya hukuman mati atau penjara 150 tahun bagi yang terbukti.
Para elit politik dan golongan atas seharusnya konsisten memegang dan
mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila dalam setiap tindakan. Dalam era
globalisasi saat ini , pemerintah tidak punya banyak pilihan. Karena globalisasi
adalah sebuah kepastian sejarah, maka pemerintah perlu bersikap. ”Take it or
Die” atau lebih dikenal dengan istilah ”The Death of Government”. Kalau
kedepan pemerintah masih ingin bertahan hidup dan berperan dalam paradigma
baru ini maka orientasi birokrasi pemerintahan seharusnya segera diubah menjadi
public services management.
BAB IV
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Dalam kondisi kehidupan berbangsa dan bemegara yang sedang dilanda
oleh arus krisis dan disintegrasi maka Pancasila tidak terhindar dan berbagai macam
gugatan, sinisme, serta pelecehan terhadap kredibilitasnya. Namun perlu kita sadan
bahwa tanpa adanya “platform” dalam dasar negara atau ideologi maka suatu
bangsa mustahil akan dapat bertahan dalam menghadapi berbagai tantangan dan
ancaman.
Melalui revitalisasi inilah Pancasila dikembangkan dalam semangat
demokrasi yang secara konsensual akan dapat mengembangkan nilai praksisnya
yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang serba pluralistik. Selain itu
melestarikan dan mengembangkan Pancasila sebagai dasar negara sebagaimana
telah dirintis dan ditradisikan oleh para pendahulu kita semenjak tahun 1908,
merupakan suatu kewajiban etis dan moral yang perlu diyakinkan kepada para
mahasiswa sekarang
DAFTAR PUSTAKA

Mugasejati, Nunung Pamuji., Kritik Globalisasi dan Neoliberalisme, Yogyakarta,


FISIPOL UGM, 2006.

Handayani, Tri., Diktat Pendidikan Pancasila, Semarang, UNWAHAS, 2005.

http://chumyelith.blogspot.com/2010/01/aktualisasi-pancasila-di-era.html
[06 Desember 2017]

https://www.slideshare.net/salemcity/makalah-10917937
[06 Desember 2017]