Anda di halaman 1dari 6

Nama : Rahmad Edi Sembiring

Nim : 061101025

LAPORAN TUGAS

Peran Perawat Dalam Pemberian Obat

 Perawat terampil & tepat saat memberikan obat.


 Tidak sekedar memberikan pil untuk diminum atau injeksi obat melalui pembuluh darah,
namun juga mengobservasi respon klien terhadap pemberian obat tersebut.
 Pengetahuan tentang manfaat dan efek samping obat sangat penting untuk dimiliki
perawat.
 Perawat memiliki peran yang utama dalam meningkatkan dan mempertahankan dengan
mendorong klien untuk proaktif jika membutuhkan pengobatan.

Dengan demikian : perawat membantu klien membangun pengertian yang benar dan jelas
tentang pengobatan, mengkonsultasikan setiap obat yang dipesankan, dan turut bertanggung
jawab dalam pengambilan keputusan tentang pengobatan bersama tenaga kesehatan lainnya.

Obat adalah substansi yang berhubungan fungsi fisiologis tubuh dan berpotensi mempengaruhi
status kesehatan. Pengobatan / medikasi adalah obat yang diberikan untuk tujuan terapeutik /
menyembuhkan. Obat dapat diklasifikasikan melalui beberapa cara, antara lain berdasarkan :
bahan kimia penyusunnya, efek yang ditimbulkan baik didalam laboratorium maupun tubuh
manusia.

Pemberian Obat. Perawat harus memperhatikan hal berikut :

 Interpretasikan dengan tepat resep obat yang dibutuhkan


 Hitung dengan tepat dosis obat yang akan diberikan sesuai dengan resep
 Gunakan prosedur yang sesuai dan aman, ingat prinsip 5 benar dalam pengobatan
 Setelah memvalidasi dan menghitung dosis obat dengan benar, pemberian obat dengan
akurat dapat dilakukan berdasarkan prinsip 5 benar.

PRINSIP 5 BENAR PENGOBATAN :

1. Benar Klien
2. Benar Obat
3. Benar Dosis Obat
4. Benar Waktu Pemberian
5. Benar Cara Pemberian
1. Benar Klien

 dipastikan dengan memeriksa identitas klien, dan meminta klien menyebutkan namanya
sendiri
 hak klien untuk mengetahui alasan pemberian obat,
 hak klien untuk menolak penggunaan sebuah obat

2. Benar Obat

 berarti klien menerima obat yang telah diresepkan


 tanggung jawab perawat untuk mengikuti perintah yang tepat
 menghindari kesalahan, label obat harus dibaca tiga kali :

1. pada saat melihat botol atau kemasan obat,


2. sebelum menuang / mengisap obat dan
3. setelah menuang / mengisap obat

3. Benar Dosis Obat

 Dosis yang diberikan untuk klien tertentu.


 Dalam kebanyakan kasus, dosis diberikan dalam batas yang direkomendasikan untuk
obat yang bersangkutan.
 Perawat harus menghitung setiap dosis obat secara akurat, dengan mempertimbangkan
variable berikut :
 tersedianya obat dan dosis obat yang diresepkan (diminta),
 dalam keadaan tertentu, berat badan klien juga harus dipertimbangkan, misalnya 3
mg/KgBB/hari.

4. Benar Waktu Pemberian

 saat dimana obat yang diresepkan harus diberikan.


 dosis obat harian diberikan pada waktu tertentu dalam sehari, seperti b.i.d ( dua kali
sehari ) , t.i.d ( tiga kali sehari ), q.i.d ( empat kali sehari ), atau q6h ( setiap 6 jam ),
sehingga kadar obat dalam plasma dapat dipertahankan.
 jika obat mempunyai waktu paruh (t ½ ) yang panjang, maka obat diberikan sekali sehari.
Obat-obat dengan waktu paruh pendek diberikan beberapa kali sehari pada selang waktu
yang tertentu .
 beberapa obat diberikan sebelum makan dan yang lainnya diberikan pada saat makan atau
bersama makanan
5. Benar Cara Pemberian

 perlu untuk absorpsi yang tepat dan memadai


 rute yang lebih sering dari absorpsi adalah :

1. oral ( melalui mulut ): cairan , suspensi ,pil , kaplet , atau kapsul . ;


2. sublingual ( di bawah lidah untuk absorpsi vena ) ;
3. topikal ( dipakai pada kulit ) ;
4. inhalasi ( semprot aerosol ) ;
5. instilasi ( pada mata, hidung, telinga, rektum atau vagina ) ;
6. empat rute parenteral : intradermal , subkutan , intramuskular , dan intravena.

6. Dokumentasikan. Pemberian obat sesuai dengan standar prosedur yang berlaku di rumah sakit.

Fungsi dan efek samping obat-obat Tuberkulosis

Terapi medikamentosa yang dipakai dalam first line drugs of choice adalah Isoniazid
(INH), rifampicin, pirazinamid, etambutol dan streptomycin. Sementara second line drugs of
choice antara lain PAS, viomisin, sikloserin, etionamid dan kapriomisin, yang digunakan jika
terjadimultidrug resistance (MDR). INH dan rifampicin adalah obat pilihan utama ditambah
dengan etambutol dan streptomisin. Macam-macam OAT dan efek samping :

First line drugs of choice

a. Isoniazid (INH)

Isoniazid atau isonikotinil hidrazid yang disingkat dengan INH. Isoniazid secara in vitro bersifat
tuberkulostatik (menahan perkembangan bakteri) dan tuberkulosid (membunuh bakteri).

Mekanisme kerja isoniazid memiliki efek pada lemak, biosintesis asam nukleat,dan glikolisis.
Efek utamanya ialah menghambat biosintesis asam mikolat (mycolic acid) yang merupakan
unsur penting dinding sel mikobakterium. Isoniazid menghilangkan sifat tahan asam dan
menurunkan jumlah lemak yang terekstrasi oleh metanol dari mikobakterium.

Efek samping

Mual, muntah, anoreksia, letih, malaise, lemah, gangguan saluran pencernaan lain, neuritis
perifer, neuritis optikus, reaksi hipersensitivitas, demam, ruam, ikterus, diskrasia darah, psikosis,
kejang, sakit kepala, mengantuk, pusing, mulut kering, gangguan BAK, kekurangan vitamin B6,
penyakit pellara, hiperglikemia, asidosis metabolik, ginekomastia, gejala reumatik, gejala mirip
Systemic Lupus Erythematosus.
b. Rifampisin
Rifampisina adalah antibiotika oral yang mempunyai aktivitas bakterisida terhadap
Mycobacterium tuberculosis dan Mycobacterium leprae.

Mekanisme kerja rifampisina dengan jalan menghambat kerja enzim DNA-dependent RNA
polymerase yang mengakibatkan sintesa RNA mikroorganisme dihambat. Untuk mempercepat
penyembuhan dan mencegah resistensi kuman selama pengobatan, rifampisina sebaiknya
dikombinasikan dengan antituberkulosis lain seperti INH atau Etambutol. Dengan antibiotika
lain rifampisina tidak menunjukkan resistensi silang.

Efek samping
Efek samping rifampisin yang berat tetapi jarang terjadi adalah Sindrom respirasi yang ditandai
dengan sesak nafas, kadang disertai kolaps atau syok sehingga perlu penanganan darurat.
Purpura, anemia hemolitik akut, syok dan gagal ginjal. Bila salah satu dari gejala ini terjadi maka
hentikan pengobatan dengan rifampisin meskipun gejalanya sudah hilang.
Efek samping rifampisin yang ringan adalah Sindrom kulit seperti gatal-gatal kemerahan,
Sindrom flu berupa demam, menggigil, nyeri tulang, Sindrom perut berupa nyeri perut, mual,
muntah kadang-kadang diare serta warna kemerahan pada air seni.

Efek samping ringan sering terjadi pada pemberian berkala dan dapat sembuh sendiri atau hanya
memerlukan pengobatan simtomatis.

c. Etambutol
Memiliki aktivitas bakteriostatik, dapat mencegah timbulnya resistensi terhadap obat-obat lain.
EMB dapat bersifat bakteriosid, jika diberikan dengan dosis tinggi dengan terapi intermiten.
Resistensi akan timbul bila obat diberikan secara tunggalsehingga selalu diberikan bersama
dengan obat antituberkulosis yang lain.

Efek samping
Etambutol yang sering terjadi adalah gangguan penglihatan dengan penurunan visual, buta warna
dan penyempitan lapangan pandang. Efek toksik ini lebih sering bila dosis berlebihan atau bila
ada gangguan fungsi ginjal.

d. Pirazinamid
Pirazinamid adalah analog nikotinamid yang telah dibuat sintetiknya. Obat ini tidak larut dalam
air. Pirazinamid di dalam tubuh di hidrolisis oleh enzim pirazinamidase menjadi asam pirazinoat
yang aktif sebagai tuberkulostatik hanya pada media yang bersifat asam. Pirazinamid mudah
diserap diusus dan tersebar luas keseluruh tubuh. Ekskresinya terutama melalui filtrasi
glomerulus.
Efek samping
Hepatotoksisitas termasuk demam, anoreksia, hepatomegali, splenomegali, jaundice, gagal hati;
mual, muntah,kemerahan, disuria, atralgia, anemia sideroblastik, ruam dan kadang-kadang
fotosensitivitas.

e. Streptomisin

Streptomisin bersifat bakteriosid dan bakteriostatik kuman ekstraseluler pada keadaan basal atau
netral, jadi tidak efektif membunuh kuman intraseluler. streptomisin jarang digunakan dalam
pengobatan TB, tetapi penggunaanya penting dalam pengobatan TB yang resisten-obat.

Efek samping

Sakit kepala, malaise, parestesi di muka terutama disekitar mulut, rasa kesemutan di tangan,
neurotoksin (dosis besar dan lama), ototoksik, neurotoksik, reaksi anafilaktik, agranulositosis,
anemia aplastik.

Second line drugs of choice

a. Kapreomisin

Merupakan suatu antibiotika peptida yang diperoleh dari Streptomices capreolus. Kapreomisin
diberikan 20 mg/kgBB/Hr, toksisitas serius yaitu pada ginjal, menimbulkan adanya retensi
nitrogen, dan pada saraf VIII, menimbulkan gangguan pendengaran dan keseimbangan.
Toksisitas obat akan berkurang bila 1 gr obat ini diberikan 2 atau 3 kali/minggu dan jadwal
tersebut sering digunakan.

b. Sikloserin

Dosis pemberian sikloserin pada tuberculosis 0,5 -1 gr/hari.Reaksi toksik yang paling serius
yaitu berbagai gangguan fungsi susunan saraf pusat dan reaksi psikotik. Berbagai gangguan
tersebut dapat diatasi dengan pemberian fenitoin 100 mg/ hr per oral.

c. Etionamid

Merupakan suatu zat kristalin kuning yang stabil dan hampir tidak larut dalam air. Obat ini
secara kimiawi mirip dengan isoniazid danjuga menghambat sintesis asam mikolat. Dosis
pemberian lgr/hr, dosis tersebut efekif pada pengobatan klinik dalam menangani tuberculosis
tetapi toleransinya buruk karena menimbulkan iritasi lambung dan gejala neurologik.
d. Asam Aminosalisilat (PAS)
Dahulu asam amino salisilat diberikan bersamaan dengan isoniazid atau streptomisin atau
keduanya dalam pengobatan tuberculosis jangka panjang Sekarang jarang digunakan karena
obat-obat orallainnya ditoleransi lebih baik. Dosis oral 8-12gr/hr untuk dewasa dan 300
mg/kg/hr untuk anak-anak. Gejala saluran cerna sering berkaitan dengan dosis penuh pemberian
obat ini.

e. Viomisin
Antibiotik ini dihasilkan oleh orgamsme streptomyces tertentu, dosis pemberian suntikan
intramuscular sebanyak 2 gr, 2 x perminggu. Efek toksik yang paling serius adalah rusaknya
ginjal dan gangguan sarafVIII berupa hilangnya keseimbangan dan pendengaran, efek toksik
lebih serius dari streptomisin.

f. Rifabutin
Obat ini mempunyai efektivitas yang bermakna terhadap M. avrum- intracellulare dan M.
Fortuitum, dengan dosis obat 0,15-0,5 g/hari per oral, namun peranannya dalam terapi dan
toksisitasnya belum diketahui.