Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT DALAM

ACUTE PYELONEPHRITIS PADA KUCING

Oleh :
Muammar Khodafi, SKH B94174432

Dibimbing Oleh :
Drh Agus Wijaya, MSc PhD

BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM


PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2018
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Saluran kemih merupakan salah satu jalur untuk mengekresikan sisa
metabolisme tubuh dalam bentuk cairan. Ginjal mempunyai peran penting sebagai
organ utama dalam sistem urinaria untuk menyaring darah hingga terbentuknya urin
yang siap disekresikan. Begitu banyak serangkian proses dalam sistem urinaria
hingga resiko infeksi mikroorganisem dapat mengakibatkan terjadinya berbagai
ancaman penyakit. Salah satu penyakit yang dapat menyerang sistem urinaria
adalah Pyolonephritis. Mikroorganisme yang menginfestasi saluran kemih dapat
mengakibatkan peradangan. Pyelonephritis merupakan peradangan pada pyelum
ginjal yang merupakan akibat dari proliferasi dari mikroorganisme tersebut.
Pyelonephritis pada banyak kasus juga dapat disebabkan oleh bakteri yang
menginfeksi yang masuk ke sistem urinari melalui kontamisasi pada saluran kemih.
Setelah itu bakteri akan menyebar secara sistemik melalui pembuluh darah.
Pyelonephritis dapat bersifat akut yang dicirikan adanya gangguan sistemik serta
timbul gejala klinis yang tidak spesifik seperti demam dan adanya rasa sakit pada
daerah lumbal. Uremia juga dapat terlihat dari pyelonephritis akut ini, uremia dapat
mengakibatkan terjadinya anorexia, letargi, muntah dan diare. Pada kasus yang
krinis, pyelonephritis tidak menimbulkan gejala yang sistemik sehingga butuh
kejelian dalam mendiagnosa panyakit tersebut. (Bouillon et al. 2017).

Tujuan
Tujuannya dilakukan kegiatan ini adalah agar mahasiswa PPDH dapat belajar
cara mendiagnosa yang benar serta dapat menentukan tindakan terapi yang dapat
diberikan serta mengetahui manjemen post-terapi yang diberikan terhadap kasus
yang didapat.

Pemeriksaan Fisik Hewan


Anamnesis
Seekor kucing yang bernama Kimmy dengan ras domestic short hair datang
ke Rumah Sakit Hewan Pendidikan FKH IPB dengan keluhan tidak nafsu makan
yang disertai kondisi tubuh yang lemas semenjak dua hari yang lalu. Kimmy juga
sering urinasi dengan beberapa kali ditemukan adanya muntah.
Signalement
Nama : Kimmy
Jenis hewan/spesies : Kucing
Ras/Breed : Domestic Short Hair
Warna rambut : Putih hitam
Jenis kelamin : Betina
Berat badan : 4,1 kg
Umur : 6 tahun

Status Present
Keadaan Umum
Perawatan : Baik
Habitus/tingkah laku : Tulang punggung lurus
Gizi : Baik
Pertumbuhan badan : Baik
Sikap berdiri : Tegak pada empat kaki
Suhu : 38.1 oC
Frekuensi napas : 48 kali/menit
Frekuensi jantung : 148 kali/menit

Adaptasi Lingkungan : Baik


Kepala dan Leher
Inspeksi
Ekspresi wajah : Tenang, Baik
Pertulangan kepala : Kompak, simetris
Posisi tegak telinga : Tegak keduanya
Posisi kepala : Tegak

Mata dan orbita kanan


Palpebrae : Membuka dan menutup sempurna
Cilia : Keluar sempurna
Konjungtiva : Rose, mengkilat, basah
Membrana niktitans : Tersembunyi

Mata dan orbita kiri


Palpebrae : Membuka dan menutup sempurna
Cilia : Keluar sempurna
Konjungtiva : Rose, mengkilat, basah
Membrana niktitans : Tersembunyi

Bola mata kanan


Sklera : Putih bening
Kornea : Bening
Iris : Tidak ada perlekatan
Limbus : Datar
Pupil : Membuka lebar
Refleks pupil : Ada
Vasa injeksio : Tidak ada

Bola mata kiri


Sklera : Tidak ada perubahan
Kornea : Bening
Iris : Tidak ada perlekatan
Limbus : Datar
Pupil : Membuka lebar
Refleks pupil : Ada
Vasa injeksio : Tidak ada

Mulut dan rongga mulut


Rusak/luka bibir : Tidak ada
Mukosa : Rose, licin, basah
Gigi geligi : Incicivus lengkap, caninus lengkap, premolar
lengkap, molar lengkap
Lidah : Merah, basah

Leher
Perototan Leher : Otot teraba dan tidak ada reaksi sakit
Trakhea : Teraba, tidak ada reaksi batuk
Esofagus : Teraba, kosong

Telinga
Posisi : Tegak
Bau : Khas serumen
Permukaan daun telinga : Halus
Krepitasi : Tidak ada
Refleks panggilan : Ada

Toraks: Sistem Pernapasan


Inspeksi
Bentuk rongga toraks : Simetris
Tipe pernapasan : Costo-abdominal
Ritme : Teratur
Intensitas : Dangkal
Frekuensi : 48 kali/menit

Perkusi
Lapangan Paru-paru : Tidak sakit
Gema perkusi : nyaring

Auskultasi
Suara pernapasan : Bronchial jelas
Suara ikutan : Tidak ada

Toraks: Sistem Peredaran Darah


Inspeksi
Ictus cordis : Tidak ada

Auskultasi
Frekuensi : 148 kali/menit
Intensitas : Kuat
Ritme : Teratur
Suara sistol dan diastol : Jelas
Ekstraksistolik : Tidak terdengar
Sinkron pulsus dan jantung : Tidak sinkron

Abdomen dan Organ Pencernaan


Inspeksi
Besarnya : Tidak ada perubahan
Bentuknya : Simetris

Palpasi
Epigastrikus : Terdapat respon sakit
Mesogastrikus : Tidak ada reaksi sakit
Hipogastrikus : Tidak ada reaksi sakit
Isi usus besar : Tidak ada reaksi sakit
Isi usus kecil : Kosong

Anus
Sekitar anus : Bersih
Refleks sphincter ani : Ada
Kebersihan daerah perineal : Bersih

Urogenital
Mukosa vagina : tidak ada peradangan
Kelenjar mamae
Besar : Mengecil
Letak : Sesuai
Bentuk : tidak ada perubahan
Kesimetrisan : Simetris
Konsistensi kelenjar : Kenyal

Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang dilakukan untuk memperteguh diagnosis.
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan dalam kasus ini adalah pemeriksaan
Complate Blood Count (CBC) kimia darah dan ultrasonografi (USG). Pemeriksaan
CBC bertujuan untuk mengetahui status kesehatan pasien, dapat melihat perjalanan
penyakit, mengetahui kinerja paska pemberian treatment selama rawat inap serta
dapat digunakan untuk melihat kondisi fisiologis pasien pre operasi. Pemeriksaan
kimia darah ditujukan untuk mengetahui fungsi dari organ tertentu. Sedangkan
pemeriksaan USG bertujuan untuk mengetahui gambaran organ pada lapisan
internal sehingga dapat lebih mengetahui kejadian serta fungsi dari organ tersebut.
Pemeriksaan dilakukan berdasarkan pertimbangan dari gejala klinis dan
pemeriksaan fisik. Hasil pemeriksaan hematologi dan kimia darah disajikan dalam
Tabel 1 dan Tabel 2.
Tabel 2 Hasil pemeriksaan CBC pada kucing Kimmy
Pemeriksaan Hasil Satuan Litelatur Keterangan
9
WBC 7,08 10 /µL 5.5-19.5 Normal
Limfosit (LY) 1,05 109/µL 1.5-7 Menurun
Monosit (Mon) 0,37 109/µL 0-1.5 Normal
Neutrofil (Neu) 5,07 109/µL 2.5-14.0 Normal
Eosinofil (Eos) 0,58 109/µL 0.0-1.0 Normal
Basofil (Bas) 0,02 109/µL 0.0-0.2 Normal
9
RBC 7,91 10 /µL 5.0-10.0 Normal
HGB 10,7 g/dL 8.0-15.0 Normal
HCT 31,81 % 24-45 Normal
Keterangan: MCV=Mean CorpuscularVolume; MCH=Mean Corpuscular Haemoglobin;
MCHC= Mean Corpuscular Haemoglobin Consentration;RDW=Red Cell
Distribution Width; PCT= Platelet Crit;MPV= Mean Platelet Volume; PDW=
Platelet Distribution Width.
Tabel 2 Hasil pemeriksaan kimia darah pada kucing Manchi

Parameter Nilai Normal Hasil Keterangan


ALT 20-100 IU/L 54 Normal
ALP 10-90 IU/L 29 Normal
BUN 10-30 mg/dl 18 Normal
Creatinin 0.3-2.1 mg/dl 0,9 Normal
Glukosa 70-150 mg/dl 98 Normal
Total Protein 5.4-8.2 g/dl 7.2 Normal
Keterangan : ALP= Alkaline phosphatase; ALT= Alanine Transaminase; TP= Total
protein
Kemudian kucing Kimmy dilanjutkan dengan pemeriksaan USG. Hasil dari
pemeriksaan USG dapat dilihat pada lampiran berkas. Berdasarkan Kesimpulan
dari pemeriksaan USG bahwa kucing Kimmy ditemukan adanya Nefrolithiasis,
cystitis dan urolithiasis.
Diagnosis
Berdasarkan Gejala klinis, hasil pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang, kucing Kimmy didiagnosis mengalami Acute Pyelonephritis.

Diferensial Diagnosis
Diferensial diagnosis dari kasus ini adalah Policystic Kidney Disease,
Hydronephrosis dan Acute renal failure.

Prognosis
Dubius – Infausta.

Terapi
Obat yang diberikan berupa Ornipural® dengan dosis pemberian 2 ml,
antibiotik Cefotaxime dengan dosis 50 mg/kg BB secara intravena, Ranitidin
dengan dosis 2 mg/kg BB dengan rute intramuscular. Antiemetik juga diberikan
yaitu Ondansentron dengan dosis 0.5 mg – 1.0 mg/kg BB serta diberikan Sucralfate
dengan doseis 0/5 mg – 1.0 mg/kg BB. Selama masa rawat inap, pasien diberikan
Aminoral® dengan dosis pemberian setengah tablet dua kali sehari.

PEMBAHASAN
Kimmy adalah seekor kucing domestic short hair yang berwarna putih hitam
berjenis kelamin betina dengan usia 6 tahun. Kimmy datang ke Rumah Sakit
Pendidikan (RSHP) FKH IPB dengan keluhan tidak nafsu makan, polyuria dan
terkadang muntah. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan suhu tubuh Kimmy
sebesar 38,1 °C. Suhu tubuh tersebut tergolong normal, yaitu masih berkisar antara
37.5–39.2 °C (Dwiningrum et al. 2016). Frekuensi denyut jantung Kimmy yaitu
148 kali/ menit dan frekuensi napas 48 kali/ menit. Frekuensi detak jantung normal
pada kucing berkisar antara 60–160 kali/ menit sedangkan frekuensi napas kucing
berkisar antara 15–30 kali/ menit (Dwiningrum et al. 2016). Frekuensi napas
tergolong tinggi, hal ini disebabkan karena saat dilakukan pemeriksaan fisik kucing
agak berontak serta sempat loncat dari meja periksa sehingga mengakibatkan
frekuensi napasnya agak tinggi. Hasil pemeriksaan fisik selanjutnya ditemukan
adanya respon rasa sakit pada epigastrikus abdomen ketika dipalpasi. Berdasarkan
gejala klinis yang terlihat dan hasil pemeriksaan fisik kemudian dilakukan
pemeriksaan penunjang untuk memperteguh diagnosis.
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan berupa pemeriksaan complate blood
count (CBC), kimia darah dan ultrasonografi (USG). Hasil dari pemeriksaan CBC
ditemukan adanya limfositopenia. Menurut Colquhoun et al. (2008), terjadinya
limfositopenia tidak dapat diartikan sebagai perubahan klinis yang signifikan.
Adanya penurunan limfosit bisa saja karena kucing terekspos terhadap obat-obatan
golongan steroid (SAID) atau bisa saja karean kerja dari sel T tidak sedang
terganggu. Hasil dari pemeriksaan kimia darah dari setiap parameter yang diukur
masih tergolong normal. Berdasarkan hasil pemeriksaan USG abdomen terlihat
adanya massa hyperechoic pada panggal uretra. Massa ini berupa batuan sehingga
membuat adanya peradangan pada lapisa pyelum ginjal. Kemudian ditemukan
adanya penebalan pada dinding vesika urinaria (VU). Hal ini menunjukkan adanya
peradangan pada VU atau cystitis. Selain itu terdapat adanya endapan massa
hyperechoic di dalam VU. Massa hyperechoic ini diduga endapan batuan maupun
kristal yang terdeposit di VU. Berdasarkan hasil pemeriksaan USG ditemukan
adanya nephrolithiasis, cystitis yang disertai adanya urolithiasis sehingga.
Berdasarkan hasil pemeriksaan penunjang tersebut Kimmy didiagnosis mengalami
Acute Pyelonephritis.
Acute pyelonephritis merupakan respon terhadap adanya infeksi bakteri yang
menyerang saluran pencernaan. Kasus ini sering dijumpai bersamaan dengan
adanya cystitis maupun gangguan disepanjang saluran pencernaan seperti urethritis
bahkan urolithiasis. Bakteri yang sering menginfeksi dari kasus ini adalah
Escherichia coli, faktor lain yang dapat menjadi predisposisi adalah adanya
imunosupresi (Brown SA, 2019). Gejala klinis yang sering timbul pada kondisi akut
adalah adanya Uremia sehingga kucing menunjukkan muntah, lemas serta
menurunnya nafsu makan. Sedangkan pada kasus kronis terdapat adanya
peningkatan kadar BUN yang sangat tinggi, poliuria dan polidypsia sering terjadi
serta terdapat kerusakan pada struktur ginjal, hal ini dapat ditentukan melalui
pemeriksaan USG. Berdasarkan hasil pemeriksaan USG struktur ginjal Kimmy
masih tergolong baik, kelainan yang ditemukan cuma terbatas pada adanya
peradangan serta massa di daerah sekitar pyelum. Kondisi ini tidak sampai merusak
bentuk dan struktur dari lapisan ginjal ini. Selain itu terdapat beberpa reaksi
peradangan pada saluran kemih seperti adanya penebalan pada VU. Hal ini
menunjukkan infeksi bakteri masih akut dan dapat menyebar ke pembuluh darah
(bakteremia). Kucing Kimmy juga menimbulkan gejala muntah dan tidak nafsu
makan. Akan tetapi muntah yang terlihat menurut keterangan client jarang terjadi.
Hal ini bisa saja diakibatkan karena kadar ureum yang tidak stabil sehingga sesekali
mengakibatkan kucing merasa mual hingga muntah.
Terapi yang dilakukan pada kasus Kimmy berupa pemberian Ornipural®
dengan dosis pemberian 2 ml, antibiotik Cefotaxime dengan dosis 50 mg/kg BB
secara intravena, Ranitidin dengan dosis 2 mg/kg BB dengan rute intramuscular.
Antiemetik juga diberikan yaitu Ondansentron dengan dosis 0.5 mg – 1.0 mg/kg
BB serta diberikan Sucralfate dengan doseis 0/5 mg – 1.0 mg/kg BB. Selama masa
rawat inap, pasien diberikan Aminoral® dengan dosis pemberian setengah tablet dua
kali sehari. Antibiotik yang digunakan merupakan broadspektrum yang diberikan
melalui rute intravena sehingga cepat menangani peradangan yang terjadi di
berbagai organ. Selain itu pemberian fluid therapy juga disarankan pada kucing
yang mengalami dehidrasi, anoreksi dan uremia. Untuk mengrecovery kondisi
ginjal diberikan pakan khusu veterinary diet terhadap renal, sehingga selam masa
rawat inap Kimmy diberikan pakan royal canine veterinary diet renal®. Pengobatan
terhadap gejala symtomatis juga diberikan seperti antiemetik berupa ondansentron
dan sucralfate.

SIMPULAN
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang
kucing Kimmy didiagnosa mengalami Acute Pyelonephritis. Terapi yang dilakukan
berupa pemberian Cefotaxime sebagai antibiotik, Ondansentron, sucrafate dan
ornipural sebagai antiemetik serta. Setelah Kimmy dirawat selama 7 hari, kondisi
kucing Kimmy semakin membaik.
DAFTAR PUSTAKA
Bouillon J, Snead F, Caswell J, Feng C, Helie P, Lemetayer J. 2017.
Pyelonephritis in dog : Retrospective Study of 47 Histologically Diagnosed
Cases (2005-2015). J Vet Intern Med. 32(1): 249-259.
Colquhoun D, Cray M, Ikram R, Jensen P, Kyle C, Leathart C, McBain L, Reith
D, Tilyard M. 2008. Complate Blood Count in Primary Care. New York
(US): bpac nz better medicine.
Brown SA. 2019. Pyelonephritis in Small Animal. [internet] [diunduh pada: 12
september 2019]. Tersedia pada: https://www.msdvetmanual.com/urinary-
system/infectious-diseases-of-the-urinary-system-in-small-
animals/pyelonephritis-in-small-animals.
Dwiningrum KM, Wardhita AAGJ, Pemayun IGAGP. 2016. Perubahan klinik
pada anjing lokal selama teranestesi ketamine dengan berbagai dosis
premedikasi xilazin secara subcutan. Indonesia Medicus Veterinus. 5 (3):
215–225.